P. 1
EPISTEMOLOGI

EPISTEMOLOGI

|Views: 148|Likes:
Published by Fiqih Wijaya Kusuma

More info:

Published by: Fiqih Wijaya Kusuma on Dec 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

A. EPISTEMOLOGI 1.Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.

Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menenatapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O. Kattsoff, 2004 Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi, juga ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Ontologi adalah teori tentang “ada”, yaitu tentang apa yang dipikirkan, yang menjadi objek pemikiran. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. Oleh karena itu, ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan, mulai dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan, ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi), lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi), kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi). Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendirisendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Hal ini akan lebih jelas lagi, jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran, tetapi jika tidak didapatkan cara-cara

berpikir, maka objek pemikiran itu akan “diam”, sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. Begitu juga, seandainya objek pemikran sudah ada, cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu, maka hanya akan sia-sia. Jadi, ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). Namun demikian, ketika kita membicarakan epistemologi disini, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. Oleh karena itu, kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi, mulai dari pengertian, ruang lingkup, objek, tujuan, landasan, metode, hakikat dan pengaruh epistemologi • PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan juga pada substansi persoalannya. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep, meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya, pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). Demikian pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan

diungkapkan oleh Dagobert D. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan.Hardono Hadi menyatakan. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Sedangkan.Suriasumantri. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. hal. yaitu realisme dan idealisme. Selanjutnya. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. 2).Runes. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. P. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan D. struktur. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sementara . Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. Dalam Epistemologi. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.epistemologi itu. 2003. 3). pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. pengandaian-pengendaian dan dasarnya. 2005). metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. dalam Jujun S. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. dan logos berarti teori. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengertian lain. Dia menyatakan. metode-metode dan validitas pengetahuan. struktur.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Menurut Musa Asy’arie.32). Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Secara etimologi. 1965.

Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. pengandaian. • RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. M. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. apakah ilmu itu. struktur. Akan tetapi. dan refleksi selalu bersifat kritis. tumpuan. seperti proses maupun tujuan. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. sumber. dasar. tumpuan. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. apa kebenaran itu. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. sasaran. A. validias. Bahkan. apa sumbernya. dari mana asalnya.M Saefuddin menyebutkan. batas. karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. sebagaimana diuraikan tersebut. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. . bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. yaitu hakikat. meliputi hakekat. sumber dan validitas pengetahuan. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. batas. metode. Sidi Gazalba. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. pengertian. Jelasnya. keaslian. unsur. macam. hakikat. Bahkan menurut.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. apa hakikatnya. struktur. Azyumardi Azra menambahkan. sebab pernyataan-pernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. apa yang dapat kita ketahui. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. unsur. Filsafat merupakan refleksi. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. dan sampai dimanakah batasannya.itu. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. dan sasaran pengetahuan. kodrat. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. tetapi cakupannya luas sekali. macam. Sebenarnya masingmasing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus.

tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. khususnya bidang epistemologi. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. ontologi sebagai objek pemikiran.maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. Kenyataannya. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. Aspek-aspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. melainkan bisa juga sebaliknya. M. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. dan pembentukan pengetahuan. Hanya saja. ternyata hanya aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. Namun. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. baik yang bercorak positif maupun negatif. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. sebagaimana diuraikan di atas. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. akan . seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Lebih dari itu. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. Kenyataan ini kembali mempertegas. Sementara itu. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptualfilosofis. Amin Abdullah menilai. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi.

. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Artinya. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. sosiologi. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran.tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. Secara global. Misalnya. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. • OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Objek material adalah sarwayang-ada. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. Jadi. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Sebaliknya. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Oleh karena itu. dan juga pengusaha. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan mengamati itu berbeda-beda. tujuan baru dapat diperoleh. seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. Meskipun berbeda. baik untuk membangun psikologi. pedagogi. sedangkan objeknya adalah kepalanya. Manusia misalnya. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran. bilogi. bisa juga dadanya atau perutnya. jika telah melalui objek lebih dulu. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. tujuannya adalah pembunuhan. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. ekonomi. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. ilmu hukum dan sebagainya. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. perekayasa. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. mendorong kreativitas seseorang. Jika diamati secara cermat. Dewasa ini. antropologi. Dengan kata lain. hakikat alam dan hakikat manusia.

siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. Proses menjadi tahu atau “proses pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. bahkan hafal. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. Seseorang yang mengetahui prosesnya. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. Selanjutnya. karena tidak pernah .Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. sehingga siswa benar-benar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada). apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. pemahaman dan pengembangan-pengembangannya. apakah saya dapat tahu. tetapi dia tetap hanya apriori semata. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. sebaliknya tanpa suatu tujuan. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. mustahil tujuan bisa terealisir.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. acapkali tidak mengetahui prosesnya. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil.Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. Tanpa suatu sasaran. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. Namun. Sebagai sub sistem filsafat. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. Hal ini menunjukkan. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. dua kali tiga didapatkan hasil enam.

Di dalam filsafat pengetahuan. konsep dan teorinya. semuanya tergantung pada titik tolaknya. termasuk juga ide. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. gagasa. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. . alasan dan motif ini belum dikenali. Demikian juga dengan epistemologi. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. Sebaliknya. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Faktor. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. maka gudang itu akan segera dibuka. jika memiliki landasan yang kokoh. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. alasanalasan yang melatar belakangi. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. Jadi. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan demikian. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. sehingga dia dapat memakluminya. sebab ia merupakan tempat berpijak. Dengan demikina. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. Dengan membawa kuncinya. maupun motif-motif yang mendasarinya. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. • LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. alasan dan motif tersebut. Ketika faktor.membuktikan.

Dengan istilah lain. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman dalam menyusun. sedangkan substansisnya relatif sama. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. antara metode. dan sebagainya. METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitan-kaitannya. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. Untuk mengetahui peta masing- . Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. sistematis. objektif. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. Hal ini perlu penegasan. • HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. Pada bagian lain. juga sering disebut ilmu dan sains. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. sumbersumbernya. melaikan termasuk wilayah filsafat. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). atau pengalaman sehari-hari. yaitu rasio dan fakta secara integrative. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). batas-batasanya. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. tetapi tidak empiris. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain.Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. logis dan empiris. metodologi dan epistemologi. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya.

Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan demikian. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. Secara sederhana dapat dikatakan. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. lingkaran kecil berupa epistemologi. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. epistemologi mencakup bahasan metodologis. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Posisi masing-masing istilah ini. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi.Senn mengemukakan. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. Implikasinya. metode merupakan perwujudan dari metodologi. dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara epistemologi.masing dari ketiga istilah ini. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. Padahal mestinya dia harus benar-benar memahami. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Oleh karena itu. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). Lebih jauh lagi Peter R. tetapi . Jadi.

unsur. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. kecuali ciri-cirinya. seperti: hakikat. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Secara lebih khusus. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. struktur. sasaran dan dasar pengetahuan. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok Wina. mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. baik dalam aspek parsial atau total. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Apalagi hakikat epistemologi. karena ada bahasan lain. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. melainkan termasuk dalam kajian psikologi.bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. batas. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metodemetode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. validitas. Lebih jelas lagi. yaitu ontologi dan aksiologi. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan . bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. lagi-lagi terasa sulit. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. karena ita tidak bisa menangkapnya. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. macam. Dalam filsafat. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. sumber. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. kendatipun tidak bisa dipisahkan. Kemudian jika diingat. • HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. tumpuan. karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. maka dia harus mengacu pada metodologi. the workings of human mind. tentu lebih sulit lagi.

Honer dan Thomas C. Selain itu. Di samping itu. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. padahal realitasnya banyak sekali. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia.pikiran manusia. Oleh karena itu. Suriasumatri. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. Sejak semula. diluar epistemologi sama sekali. Ada yang menyatakan. Jujun S. Menurut. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. apakah logika itu bagian dari epistemologi. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika.Hunt yang menilai. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Sementara itu. bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masing-masing. logika itu sendiri patut dipertanyakan. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh . Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. Selanjutnya. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenunganperenungan secara filosofis dan analitis. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya. epistemologi dan aksiologi. ontologi dan aksiologi). bahwa posisi logika berada diluar ontologi. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. kecuali psikologi.

. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. yaitu masa lampau yang telah dilalui. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. maka menimbulkan pemahaman. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang samasama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. Oleh sebab itu. meskipun memungkinkan untuk diketahui. yakni pikiran dan indera. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. Pada bagian lain dikatakan. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. maka tindakannya itu justru merugikan. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. baruk ditarik kesimpulan secara umum. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. Sebaliknya. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. sehingga tidak perlu diketahui. atau deduktif dengan induktif). sehingga tidak mungkin bisa diketahui. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Hal ini juga bisa dikatakan. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah.pengetahuan manusia. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. sehingga selalu membutuhkan kajiankajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris.

bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Proses ini lebih penting daripada hasil. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. Akhirnya. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. pada gilirannya juga menghasilkan . terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda.• PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. Implikasinya. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. Tetapi. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Kendati terhadap satu persoalan. Penguasaan epistemologi. ide atau gagasan. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. maka suatu temuan dianggap benar. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. Popper. Dalam filsafat. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). Perbedaan hasil teman dalam masalah yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. Mohammad Arkoun menyebutkan. akan kehilangan kekhasannya.

Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan.pemikiran yang berbeda. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. berupa faktor-faktor penyebabnya. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. . Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. dan sebagainya. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. maka epistemologi bukan hanya mungkin. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembanganpengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. melainkan mutlak perlu dikuasai. tidak ada yang aneh sama sekali. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Suatu peradaban. tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan.

Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis[1]. memberi nilai atau dinilai. yangakan melahirkan filsafat social politik. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (1995:19) aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. 3. serta penerapan ilmu. menarik dan bagus. Socio-politcal life. etika dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian.B. yaitu kehidupan social politik. Menurut Wibisono aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran. yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika. Dari definisi aksiologi di atas. yaitu tindakan moral. benar dan salah (right and wrong). Estetic expression. terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama adalah mengenai nilai. serta tentang cara dan tujuan (means and and). bidang ini melahirkan keindahan 3. kajian tentang nilai-nilai khususnya etika. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban.Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. Berikut ini dijelaskan beberapa definisi aksiologi. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak. Menurut Bramel Aksiologi terbagi tiga bagian : 1. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Dalam Encyslopedia of philosophy dijelaskan aksiologi disamakan dengan value and valuation : 1. Aksiologi bisa juga disebut sebagai the theory of value atau teori nilai. seperti nilainya atau nilai dia. 2. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik. AKSIOLOGI Menurut bahasa Yunani. Jadi Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan buruk (good and bad). 2. kebenaran dan kesucian. Nilai juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. . Menurut Suriasumantri (1987:234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh. Moral Conduct. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai.

menghargai profesionalisasi. analitis sebagai lawan dari legalitas. bersikap positif terhadap keluarga kecil. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. orientasinya pada ilmu dan teknologi. jika ternyata putih katakan putih. Sebaliknya.Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. Semiawan. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. 1986. 2000:36). Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam. (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. terorganisasikan dalam kehidupannya. Suriasumantri. yang mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. . menghargai prestasi. antara Sedangkan yang baik secara dan ontologi yang dan aksiologis. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. 2000:36). serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama. Sebuah keniscayaan.C 1993). pada ilmuwan hakikatnya hams manrpu ntenilai buruk. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. Suriasumantri. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik. dan penuh perhitungan. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. efisien menghargai waktu. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat.

Pada masanya. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. dan kemungkinan. hubungan sebab akibat. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. het zijn). Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. pluralisme dengan berbagai nuansanya. ruang. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme. sifat. empirisme. yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.C. waktu. Plato. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadiidealisme atau spiritualisme. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Cabang utama metafisika adalah ontologi. Ontologi Meliputi apa hakikat ilmu itu. naturalisme. . Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. termasuk keberadaan. Objek telaah ontologi adalah yang ada. (2) Paham dualisme. atau dalam rumusan Lorens Bagus. Ontologi membahas tentang yang ada. kebendaan. yakni realisme. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. menampilkan pemikiran semesta universal. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat ilmu tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada” itu (being Sein. Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. merupakan paham ontologik. Studi tentang yang ada. kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. dan Aristoteles. merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari. Paham dualisme. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya.

Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. yaitu : abstraksi fisik. dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. naturalisme. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Bagi pendekatan kuantitatif. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. atau hylomorphisme. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. abstraksi bentuk. idealisme. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. tealaahnya akan menjadi kualitatif.1. dan abstraksi metaphisik. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. 2. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. badan itu fana’ (Tt-P) (S-Tt) (S-P) . realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas.

Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. . Sementara Jujun S. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->