P. 1
eeg

eeg

|Views: 183|Likes:
Published by Daniel Zaputra

More info:

Published by: Daniel Zaputra on Dec 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Dalam melakukan fungsinya sehari-hari, neuron-neuron yang ada diotak menghantarkan impuls saraf

satu dengan yang lain, baik dari korteks serebri ke perifer maupun sebaliknya. Aktifitas listrik ini bersifat ritmik, terus menerus dan diduga berasal dari talamus yang berfungsi semacam pacemaker, yang dipancarkan ke korteks serebri melalui neuron dan sinapssinapsnya.1 Intensitas kegiatan listrik ini berubah sesuai dengan tingkat aktivitas otak, tetapi selalu terdapat aktivitas listrik dasar yang bersumber dari talamus tadi. Untuk merekam aktivitas listrik tersebut, dipakai alat Elektroensefalografi (EEG) yang dapat merekam aktivitas listrik setelah sampai di korteks. Otak manusia merupakan sumber dari segala pikiran, emosi, persepsi dan tingkah laku. Otak terdiri dari jutaan elemen mikroskopik yang disebut saraf yang menggunakan bahan kimia dalam mengatur aktivitas listrik di dalam otak. Tahapan embrional yang penting dalam perkembangan otak adalah neurulasi, proliferasi, migrasi, mielinisasi dan sinatogenesis. Keadaan mulai lahir sampai usia 5 tahun akan terjadi pertumbuhan fisik yang cepat diikuti dengan perkembangan otak. Maturitas dari otak yang paling tinggi pada batang otak dan terakhir pada kortek serebri. Setelah usia 5 tahun maka pertumbuhan otak berjalan lambat, dan progresivitasnya untuk mencapai usia pertengahan masa kanak-kanak biasanya antara usia 6-8 tahun. Sinaptogenesis terjadi secara cepat pada kortek serebri saat 2 tahun dari kehidupan. Myelinisai paling cepat saat usia 2 tahun pertama kemudian berlangsung lebih lambat setelah itu. Neuron- neuron yang berhubungan (fungsi motorik, sensorik dan kognitif) mengalami mielinisasi yang besar dimulai saat usia anak masuk sekolah (6 tahun) dan sel saraf area ini terjadi mielinisasi yang lengkap antara usia 6-12 tahun. Lebih jauh lagi hal ini dekat sekali hubungannya dengan maturasi hipokampus di mana terjadi mielinisasi pada anak-anak.1,2 BAB II ELEKTROENSEFALOGRAFI 2.1 Sejarah Elektroensefalografi Richard Caton (1842-1926), seorang dokter yang bekerja di Liverpool, memperkenalkan temuan tentang fenomena listrik dari belahan otak kelinci dan monyet dalam British Medical Journal pada 1875. Pada tahun 1890, Adolf Beck, seorang ahli fisiologi,menerbitkan penelitiannya mengenai aktivitas listrik spontan dari otak kelinci dan anjing termasuk tentang perubahan osilasi ritmik dengan bantuan cahaya. 1,2 Seorang fisiolog dan psikiater dari Jerman yang bernama Hans Berger (1873-1941), yang bekerja di kota Jena, memulai studinya mengenai EEG pada manusia di tahun 1920. Hans melanjutkan penelitian sebelumnya oleh Richard Caton, Hans Berger kemudian , mengumumkan bahwa sangatlah mungkin untuk merekam arus listrik yang lemah yang dihasilkan oleh otak, tanpa membuka tengkorak, dan hasilnya dapat dilihat di kertas. Hans menamakan format perekaman penemuannya dengan nama elektroensefalogram. Karyanya kemudian dikembangkan oleh Edgar Douglas Adrian. Pada tahun 1934. Fisher dan Lowenback merupakan orang pertama yang menunjukkan gambaran lonjakan epileptiform. Selanjutnya, pada tahun 1936, Jasper Gibbs melaporkan lonjakan interiktal sebagai tanda fokus epilepsi. Pada tahun yang sama, laboratorium EEG pertama dibuka di Massachusetts General Hospital. 2,3

Offner Franklin (1911-1999), profesor biofisika di Northwestern University mengembangkan sebuah prototipe dari EEG yang tergabung dalam inkwriter piezoelektrik yang disebut Crystograph (seluruh perangkat ini biasanya dikenal sebagai Dynograph Offner). Pada tahun 1947, society EEG Amerika didirikan dan kongres pertama EEG Internasional diadakan. Pada tahun 1953 Aserinsky dan Kleitmean menjelaskan mengenai gelombang REM saat tidur. Terkesan dengan berbagai kemungkinan untuk membangun peta bidimensional menyangkut aktivitas EEG di atas permukaan otak maka pada tahun 1950, William Grey Walter mengembangkan topografi otak dengan nama toposkop. Alat ini memungkinkan untuk melakukan pemetaan aktivitas listrik di permukaan otak. Toposcope adalah suatu alat yang kompleks. Toposcope mempunyai 22 tabung sinar katoda (yang serupa dengan tabung TV), masing-masing di antara tabung sinar katoda itu dihubungkan ke sepasang elektroda yang dipasang ke tengkorak.. Elektroda diatur di dalam suatu susunan geometri, sehingga masingmasing tabung bisa melukiskan intensitas dari beberapa irama yang menyusun EEG di dalam area otak tertentu. Susunan tabung CRT ini, sedemikian rupa sehingga display phosphorescent spiral menunjukkan secara serempak irama yang menunjukkan bagian tertentu dari otak. 2.2 Pengertian EEG Electroencephalogram ( EEG) adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan aktivitas elektrik otak. Sedangkan menurut dr. Darmo Sugondo membedakan antara Electroencephalogram dan Electroencephalografi. Electroencephalografi adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat pencatatan yang peka sedangkan grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram. Jadi Aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut Elektro-Ensefalografi (EEG). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. 6,7 Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14 siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital. Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, kalau subyek membuka matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14 siklus/detik). Gelombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek. Formasio retikularis terletak di substansi abu otak dari daerah medulla sampai midbrain dan talamus. Neuron formasio retikularis menunjukkan hubungan yang menyebar. Perangsangan formasio retikularis midbrain membangkitkan gelombang beta, individu seperti dalam keadaan bangun dan terjaga. Lesi pada formasio retikularis midbrain mengakibatkan orang dalam stadium koma, dengan gambaran EEG gelombang delta. Jadi formasio retikularis midbrain merangsang ARAS (Ascending Reticular Activating System), suatu proyeksi serabut difus yang menuju bagian area di forebrain. Nuklei reticular thalamus juga masuk dalam ARAS, yang juga mengirimkan serabut difus kesemua area di kortek serebri. ARAS mempunyai proyeksi non spesifik dengan depolarisasi global di kortek, sebagai kebalikan dari proyeksi sensasi spesifik dari thalamus yang mempunyai efek eksitasi kortek secara khusus untuk tempat tertentu. Eksitasi ARAS umum memfasilitasi respon kortikal spesifik ke sinyal sensori spesifik dari thalamus. Dalam keadaan normal, sewaktu perjalanan ke kortek, sinyal sensorik dari serabut sensori aferen menstimulasi ARAS melalui cabang-cabang

kolateral akson. Jika sistem aferen terangsang seluruhnya (suara keras, mandi air dingin), proyeksi ARAS memicu aktivasi kortikal umum dan terjaga.7

Gambar 1. Perangkat EEG 2.3 Tujuan EEG Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk diagnosa penyakit yang berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun penggunaan teknik modern seperti CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG tetap berguna mengingat sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan sangat murah harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain, sinyal EEG dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang terhadap rangsangan luar. 2.4 Indikasi EEG EEG dilakukan untuk : Mendiagnosa dan mengklasifikasikan Epilepsi Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak, Parkinson Mendiagnosa Lesi desak ruang lain Mendiagnosa Cedera kepala Periode keadaan pingsan atau dementia Narcolepsy Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anesthesia umum perawatan Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit Sebagai tambahan EEG juga dapat digunakan untuk membantu dalam memonitoring beberapa tindakan seperti : 1. 2. 3. 4. Untuk memantau kedalaman proses anestesI Sebagai indicator langsung dari perfusi otak pada endarterektomi karotiS Monitoring efek amobarbital selama tes WADA Untuk monitoring kerusakan otak sekunder pada SAH.

a. b. c. d. e. f. g. h.

a. b. c.

d. e. f.

g. h.

i. j.

k.

2.5 Persiapan Pasien Sebelum melakukan tindakan EEG, maka pasien ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, diantaranya yaitu :7,8 Identitas penderita harus dicatat lengkap Tingkat kesadaran penderita harus dicatat, untuk menghindari salah interpretasi EEG Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus diidentifikasi, oleh karena beberapa obatobatan tertentu yang dapat mempengaruhi frekuensi maupun bentuk gelombang otak. -Saat terbaik perekaman adalah pada saat bebas obat sehingga gelombang otak yang didapat adalah gelombang otak yang bebas dari pengaruh obat Premedikasi, dosis dan berapa lama sebelum perekaman harus diidentifikasi dengan jelas. Pasien dalam keadaan tenang dan rileks Kulit kepala dalam keadaan bersih, bebas kotoran, debu, minyak dan kulit yang mati. sampolah rambut serta membilas dengan air bersih saat mandi sore atau pagi hari sebelum di lakukan test Perhatikan adanya bekas luka, bekas kraniotomi Hindari makanan yang mengandung kafein ( seperti kopi, teh, cola, dan coklat) sedikitnya 8 jam sebelum test. Makanlah dalam porsi kecil sebelum test, sebab gula darah rendah ( hypoglycemia) dapat menghasilkan test abnormal Tidur dapat mempengaruhi hasil EEG maka ushakan agar pasien tidak tertidur saat dilakukan test, jika anak-anak akan di EEG coba untuk tidur sebentar tepat sebelum dilakukan test Penyuluhan penderita sebelum perekaman tentang tujuan dilakukannya EEG, apa yang dilakukan teknisi terhadap dirinya sebelum dan saat perekaman, apa yang harus dilakukan penderita saat perekaman dan apa yang akan dirasakan oleh penderita saat perekaman Identifikasi hasil neuroimaging yang sudah dilakukan.

2.6 Sinyal Electroencephalogram (EEG) Pada pembacaan hasil EEG perlu diperhatikan : a. Lokasi / distribusi b. Frekuensi c. Pola / gambaran khas d. Usia e. Bangun f. Tidur Sinyal EEG dapat diketahui dengan menggunakan elektroda yang dilekatkan pada kepala. Tegangan sinyalnya berkisar 2 sampai 200 μV, tetapi umumnya 50 μV. Frekuensinya bervariasi tergantung pada tingkah laku. Daerah frekuensi EEG yang normal rata-rata dari 0,1 Hz hingga 100 Hz, tetapi biasanya antara 0,5 Hz hingga 70 Hz. Variasi dari sinyal EEG yang terkait dengan frekuensi dan amplitudo mempengaruhi diagnostik. Daerah frekuensi EEG dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian untuk analisis EEG, yaitu :9,10 1. Gelombang di posterior : a. Gelombang Alpha Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik. Gelombang alfa terlihat normal pada saat bangun dan mata tertutup (tidak tertidur)

Distribusi : bagian posterior kepala (oksipital, parietal dan temporal posterior) dapat meluas ke sentral, verteks dan midtemporal Karakteristik : sinusoidal, waxes and wanes, Amplitudo : 20 – 70 uV ( Ka>Ki) Reaktivitas : Amplitudo berkurang saat buka mata, aktivitas mental sedangkan frekuensi berkurang saat mengantuk Anak : Frekuensi tergantung usia 3-4 bln : 3.5 – 4.5 Hz 3 thn : 8 Hz 12 bln : 5 – 6 Hz 9 thn : 9 Hz 24 bln : 7 Hz 15 thn: 10 Hz

Gambar 2. Gelombang Alpha b. Gelombang lambda Karakteristik : dapat terlihat saat bangun, buka mata, polaritas positif, asimetri (normal), di daerah oksipital, jelas terlihat usia 2 – 15 thn, dan jarang terlihat pada usia tua . Gelombang Lambda mempunyai amplitudo : 20 – 50 uV . Reaktivitas : gelombang ini tampak jika melihat suatu objek,dan menghilang saat tutup mata. Gambar 3. Gelombang Lambda 2. Gelombang Mu Gelombang ini sering disebut juga comb rhythm, rolandic alpha. Frekuensi seperti Alpha (8-10 Hz) terdapat pada 20 % orang dewasa, sering pada usia 8 – 16 tahun dan lokasinya di daerah sentral, dapat tampak unilateral atau bilateral. Karakteristik : Bentuk lengkung, amplitudonya 20 – 60 uV, gelombang ini akan menurun frekuensinya atau hilang dengan gerakan aktif, pasif atau stimulus taktil kontralateral, maupun berpikir tentang gerakan. Gelombang ini berasal dari korteks sensorimotor. Gambar 4. Gelombang Mu 3. Gelombang Beta Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik. Gelombang ini secara normal ditemukan ketika siaga atau menjalani pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines atau pengobatan anticonvulsants. Distribusi terutama frontal dan central dengan amplitudo : 10 – 20 uV (dewasa) dan 60 uV (anak usia 12-18 bulan). Gelombang Beta dapat lebih jelas terlihat saat mengantuk, maupun atas pengaruh obat-obatan (barbiturat, benzodiazepin). Perbedaan amplitude kanan dan kiri lebih dari 35 % merupakan suatu abnormalitas. Gambar 5. Gelombang Beta 4. Gelombang Theta

Gelombang Theta mempunyai frekuensi : 4 – 7 Hz, di daerah frontal atau fronto-central (tutup mata) , dan Temporal (4 – 7 Hz) biasanya pada orang tua .Gelombang theta jelas terlihat saat hiperventilasi,mengantuk dan tidur. Amplitudo : 30 – 80 uV

5. Gelombang Delta Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus per detik. Gelombang secara normal ditemukan hanya pada saat sedang tidur dan anak-anak muda

2.

Aktivasi Selama pemeriksaan EEG, dilakukan aktivasi yang bertujuan untuk mempermudah mendapatkan gambaran EEG yang khas maupun yang abnormal. Aktivasi yang digunakan adalah Hiperventilasi dan stimulasi fotik.

a.

Hiperventilasi Aktivasi ini digunakan untuk melihat gambaran EEG pada kejang bentuk Lena (absance). Saat hiperventilasi pasien di suruh untuk nafas dalam, anak – anak biasanya disuruh untuk meniup balon, atau kertas. Lama hiperventilasi ini 3 menit, tetapi bila kemumngkinan kejang bentuk lena, dilakukan selama 5 menit. Gambaran normal akan terlihat gelombang lambat yang menyeluruh (Theta sampai Delta). Hati-hati bila dilakukan pada pasien usia tua, kelainan serebrovaskuler, tumor otak dan tekanan tinggi intra kranial.

b. Stimulasi Fotik. Saat rekaman EEG diberikan stimulasi cahaya dengan frekuensi 1 – 20 kali / detik. Respon yang akan didapat adalah photic driving yang terlihat di bagian oksipital bilateral. Bila photic driving tidak ada, tidak dikatakan bahwa abnormal.

3.

EEG Saat Tidur Pada rekaman EEG diperlukan gambaran EEG saat bangun maupun saat tidur. Rekaman EEG saat tidur dapat ditemukan gelombang yang abnormal, karena itu di dalam setiap rekaman EEG diusahakan pasien dapat tidur. Gelombang Normal saat tidur perlu dikenali oleh para pembaca EEG, agar tidak keliru dengan gelombang yang abnormal.

a. Gelombang Verteks ( gelombang) Amplitudo maksimum di Central, monofasik, durasi 100 – 200 msec, amplitudo : 40 – 100 uV, terlihat pada saat tidur stadium 1. Pada anak mulai terlihat saat usia 5 bulan .

b. Gelombang K Kompleks Komponen gelombang sharp (gelombang tajam) diikuti gelombang lambat yang menyeluruh, maksimum di Fronto-central, bifasik , durasi lebih atau sama dengan 500 msec, amplitudo lebih dari 100 µV, bersamaan dengan spindle, merupakan respon terhadap rangsang sensorik yang tiba-tiba (suara, dibangunkan), tampak saat tidur stadium 2. c. Gelombang Spindel Frekuensi : 14 – 15 Hz, bilateral, sinkron, ritmis, terutama di Verteks, sentral juga Frontal. Pada anak usia 2 bulan dapat asinkron dan asimetris, tetapi saat anak berusia 18 bulan gel spindel sinkron bilateral, dan saat usia 2 tahun, sudah seperti dewasa. Durasi 0.5 – 1 detik, jelas terlihat saat tidur stadium 2. d. Gelombang Post Gelombang tajam, monofasik dengan amplitudo : 20 – 70 µV, merupakan gelombang positif dengan distribusi di oksipital bilateral, snkron, frekuensi 4-5 Hz, dan terlihat saat tidur stadium 1. e. Hipnagogik Hipersinkroni Saat transisi tidur – bangun berupa akktivitas Theta – delta, dengan amplitudo tinggi, menyeluruh, maksimum di fronto-central, sinkron, ritmik. Terutama anak usia 1-5 thn, jarang setelah 11 thn

Tidur Stadium 1

Aktivitas Beta meningkat di Fronto-central dan tampak pula aktivitas Theta di posterior dan temporal. Gelombang Verteks dan POSTs juga terlihat

Tidur Stadium 2 Gelombang yang tanpak saat tidur stadium 1 adalah : Spindel, K kompleks, Beta di frontocentral, aktivitas theta di posterior dan temporal, dijumpai gelombang Vertex, POSTs. Aktivitas alpha tidak terlihat.

Tidur Stadium 3 Dan 4 Pada tidur stadium 3, 20 – 50 % terdiri dari gelombang dgn frekuensi < 2 Hz, amplitude > 75 µV. Pada tidur stadium 4, lebih dari 50 % terdiri dari gelombang dengan frekuensi kurang dari 2 Hz, tampak pula gelombang Spindel, dan K kompleks. Tidak tampak gelombang Alpha , gelombang verteks dan POSTs .

2.7 Prinsip Kerja dari EEG Elektroda EEG ukurannya lebih kecil daripada elektroda ECG. Elektroda EEG dapat diletakkan secara terpisah pada kulit kepala atau dapat dipasang pada penutup khusus yang dapat diletakkan pada kepala pasien.11,12

Untuk meningkatkan kontak listrik antara elektroda dan kulit kepala digunakan elektroda jelly atau pasta. Bahan elektroda yang umumnya digunakan adalah perak klorida. EEG direkam dengan cara membandingkan tegangan antara elektroda aktif pada kulit kepala dengan elektroda referensi pada daun telinga atau bagian lain dari tubuh. Tipe merekam ini disebut monopolar. Tetapi tipe merekam bipolar lebih populer dimana tegangan dibandingkan antara dua elektroda pada kulit kepala. Berikut ini diperlihatkan blok diagram dari peralatan EEG.

a.

Amplifier Amplifier digunakan karena EEG harus memiliki penguatan yang tinggi dan karakteristik noise yang rendah sebab amplitudo tegangan EEG sangat rendah. Amplifier yang digunakan harus

bebas dari interferensi sinyal dari kabel listrik atau dari peralatan elektronik yang lain. Noise sangat berbahaya di dalam kerja EEG karena gelombang elektroda yang dilekatkan pada kulit kepala hanya beberapa mikrovolt ke amplifier. Amplifier digunakan untuk meningkatkan amplitudo hingga beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali dari sinyal yang lemah yang hanya beberapa mikrovolt. b. Kontrol Sensitivitas Keseluruhan sensitivitas dari sebuah alat EEG adalah penguatan dari amplifier dikalikan dengan sensitivitas dari alat penulisan. Jika sensitivitas alat penulisan adalah 1 cm/V, amplifier harus mempunyai keseluruhan penguatan 20.000 untuk 50 μV sinyal untuk memantulkan untuk menghasilkan nilai penguatan diatas. Langkah-langkahnya adalah kapasitor digabungkan. Sebuah alat EEG mempunyai dua tipe dari kontrol penguatan. Pertama adalah variabel kontinu dan digunakan untuk menyamakan sensitivitas semua channel. Kedua adalah kontrol beroperasi sejalan dan dimaksudkan untuk meningkatkan atau mengurangi sensitivitas dari suatu channel oleh sesuatu yang dikenal. Kontrol ini biasanya dikalibrasi dalam desibel. Penguatan amplifier normalnya diset sehingga sinyalnya sekitar 200 μV dipantulkan pena diatas daerah linearnya. c. Filter Ketika direkam oleh elektroda, EEG mungkin berisi kerusakan otot dalam kaitannya dengan kontraksi dari kulit kepala dan otot leher. kerusakannya besar dan tajam sehingga menyebabkan kesulitan besar dalam klinik dan interpretasi otomatis EEG. Cara paling efektif untuk mengurangi kerusakan otot adalah dengan menyarankan pasien untuk rileks, tapi ini tidak selalu berhasil. Kerusakan ini umumnya dihilangkan menggunakan low pass filter. Filter pada alat EEG mempunyai beberapa pilihan posisi yang biasanya ditandai dengan tetapan waktu. Suatu nilai satuan tetapan waktu yang diset untuk kontrol frekuensi rendah adalah 0,03; 0,1; 0,3; dan 1,0 detik. Tetapan waktu ini sesuai dengan 3 dB menunjuk pada frekuensi 5,3; 1,6; 0,53; dan 0,16 Hz. Di atas frekuensi cut-off dan dikontrol dengan filter high-frekuensi. Beberapa nilai dapat dipilih, diantaranya adalah 15, 30, 70, dan 300 Hz. d. Sistem Penulisan Sistem penulisan pada EEG umumnya menggunakan sistem ink writing tipe direct-writing ac recorder yang menyediakan respon frekuensi hingga 60 Hz pada 40 mm puncak ke puncak. Tipe umum dari direct-recorder adalah tipe stylus yang langsung menulis pada kertas yang digerakkan di bawahnya. Pada umumnya di dalam sistem direct-writing recorder, digunakan galvanometer yang mengaktifkan lengan penulis yang disebut pen atau stylus. Mekanismenya dimodifikasi dari pergerakan D’Arsonval meter. Sebuah kumparan dari kawat tipis berputar pada suatu bingkai aluminium segi-empat dengan ruang udara antara kutub suatu magnet permanen. Poros baja yang dikeraskan dikaitkan dengan bingkai kumparan sedemikian sehingga kumparan berputar dengan friksi

minimum. Paling sering, jewel dan poros digantikan oleh taut-band sistem. Suatu pen ringan terikat dengan kumparan. Spring berkait dengan bingkai mengembalikan pen dan kumparan selalu ke suatu titik acuan. Ketika listrik mengalir sepanjang kumparan, suatu medan magnet timbul yang saling berhubungan dengan medan magnet dari magnet permanen. Hal itu menyebabkan kumparan mengubah sudut posisinya seperti pada suatu motor listrik. Arah perputaran tergantung dari arah aliran arus di dalam kumparan. Besar defleksi dari pen adalah sebanding dengan arus yang mengalir melalui kumparan. Penulisan stylus dapat mempunyai tinta di ujungnya atau dapat mempunyai suatu ujung yang menjadi kontak dengan suatu sensitif elektro, tekanan yang sensitif atau panas kertas sensitif. Jika suatu penulisan lengan dari panjang yang ditetapkan digunakan, sumbu koordinat akan menjadi kurva. Dalam rangka mengkonversi kurva linier dari ujung penulisan ke dalam kurva gerak lurus, berbagai mekanisme telah dipikirkan untuk mengubah panjang efektif dari lengan penulisan sehingga bergerak ke tabel perekaman. Instrumen taut-band lebih disukai dibandingkan dengan instrumen poros dan jewel karena lebih menguntungkan untuk meningkatkan sensitivitas listrik, mengeliminasi friksi, lebih baik pengulangannya dan meningkatkan daya tahannya. e. Noise Amplifier EEG dipilih untuk level minimum derau yang dinyatakan dalam kaitan dengan ekuivalen tegangan masuk. Dua mikrovolt sering dinyatakan dapat diterima oleh perekam EEG. Noise berisi komponen dari semua frekuensi dan perekaman noise dapat meningkatkan bandwith dari sistem. Oleh karena itu, penting untuk membatasi bandwith yang dibutuhkan untuk menghasilkan sinyal. f. Penggerak Kertas Hal ini disediakan oleh suatu motor sinkron. Sebuah mekanisme penggerak kertas yang stabil dan akurat perlu dan normal untuk mempunyai beberapa kecepatan kertas yang tersedia untuk dipilih. Kecepatan pada 15, 30, dan 60 mm/s penting. Beberapa mesin juga menyediakan kecepatan di luar daerah ini. g. Saluran EEG direkam secara serempak dari sebuah susunan yang terdiri atas banyak elektroda. Elektroda dihubungkan untuk memisahkan amplifier dan sistem penulisan. Mesin EEG komersial dapat memiliki sampai 32 saluran, walaupun 8 atau 16 saluran lebih umum.

Sebelum melakukan prosedur perekaman EEG sebaiknya diketahui Standard Minimal. Perekaman EEG menurut The American EEG Society Guidelines in EEG, yaitu memakai minimal

16 channel/elektrode pencatat yang bekerja secara simultan. Setiap area di otak bisa memberikan pola yang sama atau berbeda pada waktu yang bersamaan, dan menurut pengalaman diperlukan perekaman pada minima l8 area di otak secara simultan untuk mendapatkan distribusi pola EEG. Perekaman dengan 8 channel secara simultan diperkirakan cukup mencakup permukaan otak untuk menghindari misinterpretasi. Semua elektroda ini harus mencakup area frontal, central, parietal, oksipital, temporal, auricular atau mastoid, vorteks dan elektroda ground. Kedua system monopolar (referensial) dan bipolar (diferensial) harus digunakan secara rutin. Setiap system montage mempunyai keunggulan dan kekurangan, sehingga penggunaan kedua system sekaligus adalah esensial untuk mendapatkan informasi yang akurat. Di dalam pelaksanaan EEG, harus ada prosedur buka tutup mata. Aktifitas alfa dapat memberi informasi tentang fungsi abnormal otak. Aktifitas paroksismal dapat pula dicetuskan oleh prosedur ini. Mesin EEG harus dikalibrasi di awal dan di akhir rekaman. Perubahan setting alat selama perekaman harus dicatat. Lama perekaman minimal 15-20 menit pada penderita sadar. Bila ada prosedur stimulasi fotik, hiperventilasi dan tidur maka lama perekaman harus ditambah. EEG adalah sample waktu dari kehidupan seseorang, dan waktu 20 menit adalah waktu yang sangat singkat untuk menarik suatu kesimpulan dari suatu kerja atau suatu fungsi otak seseorang. Oleh karena itu semakin lama perekaman maka semakin besar kemungkinan kita untuk menemukan abnormalitasnya. EEG pada umumnya berlangsung selama 2 jam. Setelah test, pasien boleh beraktivitas seperti biasa. Pasien dalam posisi tiduran berbaring pada suatu tempat tidur atau relax di kursi dengan mata tertutup. Electroda EEG ditempelkan ke tempat berbeda di atas kepala dengan menggunakan suatu pasta lengket agar electroda dapat menempel. Electroda dihubungkan lewat kawat suatu mesin yang memperkuat suara dan arsip aktivitas dalam otak . Arsip aktivitas elektrik sebagai rangkaian berbentuk ombak/keriting yang digambar oleh suatu baris pena pada kertas atau sebagai suatu gambaran pada layar komputer.7,8 Coba untuk tenang, dengan mata tertutup sepanjang perekaman, dan yang melakukan perekaman akan mengamati pasien secara langsung untuk memberi intruksi agar pasien : a. Bernafas dengan cepat ( hyperventilasi). Pada umumnya lama pernapasan kurang lebih 20 x per menit Melihat cahaya terang untuk rangsangan stroboscopic atau photic Tidur, Jika pasien tidak mampu untuk tertidur maka akan diberi suatu obat penenang, dengan tujuan untuk mengevaluasi masalahpada saat tidur.

b. c.

2.8 Fisologi Terjadinya Rekaman Pada EEG EEG Normal adalah gambaran EEG tanpa adanya pola abnormal yang berhubungan dengan kelainan secara klinik. EEG normal tidak menjamin fungsi dan struktur serebral yang

normal, karena tidak semua kelainan struktur dan fungsi otak menyebabkan abnormalitas pada EEG. Sedangkan EEG Abnormal tidak selalu menggambarkan abnormalitas serebral.12. Aktivitas listrik merupakan salah satu karakteristik dari semua sel hidup, termasuk selsel saraf. Walaupun demikian, tidak keseluruhan sel saraf yang berjumlah 2,6 x 109 itu dianggap menyebabkan gelombang-gelombang listrik di permukaan sebagaimana terekam dengan EEG. Jadi yang dapat mengakibatkan gelombang-gelombang EEG adalah sel-sel saraf di korteks, walaupun diketahui juga bahwa struktur-struktur subkortikal, seperti talamus dan formatio retikularis mempunyai pengaruh yang kuat terhadap gelombang-gelombang kortikal itu. Dari ketiga jenis bentuk sel-sel kortikal (spindle, stellatum dan piramidal), sel-sel piramidallah yang dianggap merupakan sumber potensial listrik dari gelombang-gelombang permukaan. Dari berbagai penyelidikan disimpulkan bahwa terdapat bukti kuat yang menyarankan bahwa gelombang-gelombang permukaan itu merupakan penjumlahan (summation) daripada potensial listrik pascasinaptik, baik yang bersifat inhibisi atau eksitasi, yang berasal dari soma dan dendrit-dendrit besar sel piramidal. Potensial listrik pascasinaptik itu timbul akibat aktifitas neurotransmiter yang dilepaskan oleh ujung presinaptik, yang melepaskannya setelah menerima tanda-tanda listrik dari hubungan-hubungannya. Acetilkholin dianggap sebagai transmiter eksitasi yang penting, dan GABA sebagai transmiter inhibisi yang terpenting di otak. Ujung-ujung presinaptik menerima lepas muatan listrik dari sel-sel di thalamus. Menurut penyelidikan bahwa inti-inti nonspesifik di talamus merupakan the probable pacemaker dari pada potensial listrik sel-sel pyramidal. Lepas muatan yang timbul pada soma dan dendrit-dendrit besar itu kemudian melalui cairan dan jaringan tubuh sampai pada elektroda-elektroda EEG. Dengan demikian jelaslah bahwa rekaman yang dihasilkan oleh electrode kulit kepala merupakan contoh dari pada aktivitas dekat permukaan, yang tentunya telah banyak mengalami pelemahan, penyebaran, penyimpangan dalam perjalanannya yang melalui cairan jaringan, jaringan otak, cairan serebrospinal, tulang tengkorak dan kulit kepala itu.12,13

Salah satu penemuan Hans Berger adalah bahwa kebanyakan EEG orang dewasa normal mempunyai irama dominant dengan frekuensi 10 siklus per detik, yang di sebutnya sebagai irama alfa. Pada umumnya kini yang dimaksud dengan iarama alfa adalah irama dengan frekuensi antara 8-13 spd, yang paling jelas terlihat di daerah parieto-oksipital, dengan voltase 10-150 mikrovolt, berbentuk sinusoid, relative sinkron dan simetris antara kedua hemisfer. Suatu asimetri ringan dalam voltase adalah normal, mengingat adanya dominasi hemisfer. Pada umumnya suatu perbedaan voltase 2 : 3 adalah dalam batas-batas normal, asalkan voltase yang lebih tinggi terlihat pada hemisfer non dominant. Yang lebih penting maknanya adalah bila terdapat perbedaan frekwensi antara kedua hemisfer. Suatu perbedaan frekwensi yang konsisten dari 1 spd atau lebih antara kedua hemisfer mungkin sekali diakibatkan suatu proses patologis di sisi dengan frekwensi yang lebih rendah.12

Irama alfa terlihat pada rekaman individu dalam keadaan sadar dan istirahat serta mata tertutup. Pada keadaan mata terbuka irama alfa akan menghilang, irama yang terlihat adalah irama lamda yang paling jelas terlihat bila individu secara aktif memusatkan pandangannya pada suatu yang menarik perhatiannya. Ditinjau dari irama alfanya dapat dibedakan tiga golongan manusia, sekelompok kecil yang memperlihatkan sedikit sekali atau tidak mempunyai irama alfa, sekelompok kecil lagi yang tetap memperlihatkan irama alfa walaupun kedua mata dibuka, dan diantara kedua ekstrem ini terletak sebagian besar manusia yang menunjukkan penghilangan irama alfa ketika membuka mata. Berturut-berturut ketiga kelompok ini disebut sebagai kelompok alfa M (minimal atau minus), alfa P (persisten), alfa R (responsive). Suatu irama yang lebih cepat dari irama alfa ialah irama beta yang mempunyai frekuensi di atas 14 spd, dapat ditemukan pada hamper semua orang dewasa normal. Biasanya amplitudonya daopat mencapai 25 mikrovolt, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih tinggi. Pada keadaan normal terlihat terutama di daerah frontal atau presentral. Irama yang lebih lambat dari irama alfa adalah tidak jarang pula ditemukan pada orang dewasa normal. Irama teta mempunyai frekuensi antara 4-7 spd. Suatu irama yang lebih pelan dari teta disebut irama delta adalah selalu abnormal bila didapatkan pada rekaman bangun, tetapi merupakan komponen yang normal pada rekaman tidur. Frekuensi irama delta ialah ½ - 3 spd. Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG. Perhatian cenderung untuk menghapuskan irama alfa, merendahkan voltase secara umum dan mempercepat frekuensi. Termasuk perhatian ini adalah usaha introspeksi dan kerja mental (misalnya berhitung). Demikian pula setiap stimulus visual, auditorik dan olfaktorik akan merendahkan amplitudo dan menimbulkan ketidak teraturan irama alfa. Penurunan kadar O2 dan atau CO2 darah cenderung menimbulkan perlambatan, sebaliknya peninggian kadar CO2 menimbulkan irama yang cepat. Faktor usia juga mempunyai pengaruh penting pula dalam EEG. Rekaman dewasa sebagaimana digambarkan di atas pada umumnya dicapai pada usia 20-40 tahun. Rekaman neonatus berusia di bawah satu bulan memperlihatkan amplitude yang rendah dengan irama delta atau teta. Antara usia 1-12 bulan terlihat peninggian voltase, walaupun irama masih tetap delta atau teta. Antara 1-5 tahun terlihat amplitudo yang tinggi, irama teta yang meningkat dan mulai terlihat irama alfa, sedangkan irama delta mengurang. Antara 6-10 tahun amplitude menjadi sedang, irama alfa menjadi lebih banyak, teta berkurang, delta berkurang sampai hilang. Antara 11-20 tahun voltase terlihat sedang sampai tinggi, dominsi alfa mulai jelas, teta minimal, delta kadang-kadang masih terlihat di daerah belakang. Di atas 40 tahun mulai lagi terlihat gelombang lambat 4-7 spd di daerah temporal dan di atas 60 tahun rekaman kembali melambat seperti rekaman anak-anak. Perubahan tahap-tahap tidur berpengaruh besar pula terhadap rekaman EEG. Dalam keadaan mengantuk terlihat pengurangan voltase dan timbul sedikit perlambatan. Pada keadaan tidur sangat ringan dapat terlihat adanya gelombang-gelombang mirip paku bervoltase tinggi, bifasik dengan frekuensi 3-8 spd, simetris dan terjelas di daerah parietal (parietal humps). Gambaran ini paling jelas pada usia 3-9 tahun dan terus terlihat

sampai usia 40 tahun. Pada keadaan tidur ringan terdapat (sleep spndle) terdapat gelombang tajam berfrekuensi 12-14 spd yang sifatnya simetris. Pada keadaan tidur sedang sampai dalam rekaman didominir oleh gelombnag-gelombang lambat tak teratur dengan frekuensi ½ - 3 spd.

2.9 Hasil Pada pemeriksaan EEG Normal a. Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa dari aktivitas elektrik b. Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari aktivitas elektrik dan tidak ada gelombang yang lambat c. Jika pasien dirangsang dengan cahaya (photic) selama test maka hasil gelombang tetap normal. Abnormal a. Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak serupa dari aktivitas elektrik b. EEG menunjukkan gambaran gelombang abnormal yang cepat atau lambat, hal ini mungkin disebabkan oleh tumor otak, infeksi/peradangan, injuri, strok, atau epilepsi. Ketika seseorang mempunyai epilepsi dengan pemeriksaan EEG ini bisa diketahui daerah otak bagian mana yang aktivitas listriknya tidak normal. Namun pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab EEG diambil selalu pada saat tidak ada serangan kejang bukan pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jadi EEG dengan sendirinya tidak cukup untuk mendiagnosa penyakit neurology tetapi perlu dengan pemeriksaan yang lain c. Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG. EEG yang abnormal dapat disebabkan kelainan di dalam otak yang tidak hanya terbatas pada satu area khusus di otak, misalnya intoksikasi obat, infeksi otak (ensefalitis), atau penyakit metabolisme (Diabetik ketoasidosis) d. EEG menunjukkan grlombang delta atau gelombang teta pada orang dewasa

yang terjaga. Hasil ini menandai adanya injuri otak e. EEG tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam otak ( a “ flat/” atau “ garis lurus” ). Menandai fungsi otak telah berhenti, yang mana pada umumnya disebabkan oleh tidak adanya (penurunan) aliran darah atau oksigen di dalam otak. Dalam beberapa hal, pemberian obat penenang dapat menyebabkan gambaran EEG flat. Hal ini juga dapat dilihat di status epilepsi setelah pengobatan diberikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->