GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS.

Posted on 25 December 2008 by mangsholeh

KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. 1)Saraf Olfaktorius. (N.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa: Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre coup”, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman. Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. 2)Saraf Optikus (N.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan.

Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus. Infark seperti pada arteritis dan diabetes. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi.Trauma Kepala 2. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi. tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi. hipertensi stadium IV. 2. b). istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia.Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi. disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis. sehingga kalau lumpuh.Infeksi. ke atas dan lateral. karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior. meningitis basalis. Penyebab kerusakan diperifer meliputi. Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata. kerusakan biasanya terjadi di perifer. maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia. meningioma. sehingga reaksi pupil akan berubah.Fiksasi posisi mata.Tumor serebri (kraniofaringioma.Kelainan pembuluh darah Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah . Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: 1. paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. Lesi kompresif seperti tumor serebri. karsinoma nasofaring dan lesi orbital. b.Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang. 3. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral.Pupil yang melebar. kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1. dapat disebabkan oleh lesi desak ruang.Ptosis. 3)Saraf Okulomotorius (N. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut.Neuritis optik. iskemia. astrositoma) 3. 4)Saraf Troklearis (N. dengan pupil ke arah bawah dan lateral. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: a. a). misal: retinitis pigmentosa. antara lain hidrocefalus. penyakit leber. ataksia friedrich. hipertensi intakranial benigna. c. N. Trombosis vena sentralis retina. 4. tumor hipfise. kebawah dan keluar. famitral. glaukoma.

Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. meliputi neuroma akustik. mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. dan meningitis kronik. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus. sindroma Rumsay Hunt. mutiple sklerosis.dan kemedial. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis. dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. mononeuritis multipleks. yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. Pada fosa posterior. V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea. anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior. Lesi LMN : Penyebab pada pons. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu. ketika pasien melihat ke arah nasal. Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. fraktur. sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. lesi vaskuler dan siringobulbia. trombosis sinus kavernosus. mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral. sinusistis. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. neurosifilis. 5)Saraf Abdusens (N. VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. 6)Saraf Trigeminus (N. 7)Saraf Fasialis (N. Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy. meningioma. perdarahan dan tumor. biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral. mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma. . Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. ketika pasien melihat lurus ke atas. dan otitis media. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre. fraktur basis kranialis. meliputi tumor. mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas.

Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. otoskleroris dan penyakit Paget. IX) dan Saraf Vagus (N. misal fraktur pars petrosa os temporalis. misal neuroma akustik. bibir tertarik kesisi yang sehat. gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). toksisitas misal aspirin. Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. Trauma. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi. X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal . gangguan air mata dan ludah. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler. berupa : Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor.dan keganasan parotis bilateral. 8)Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). kelopak mata tidak bisa ditutup. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran. 9)Saraf Glosofaringeus (N. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Degenerasi misal presbiaksis. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. sudut mulut turun. Gangguan nervus IX dan N. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis. streptomisin atau alkohol. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit. tetapi ini sangat jarang. Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler Pada labirin meliputi penyakit meniere. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paruparu. terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir. sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. mabuk kendaraan. Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen. otitis media. intoksikasi streptomisin. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. labirinitis akut. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi. sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. infeksi misal. IX dan N. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N.

gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. 11)Saraf Hipoglossus (N. tumor dan syringobulbia. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak. Pada kerusakan N. XI) Gangguan N. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus).10)Saraf Asesorius (N. Pada lesi unilateral. menarik atau mengangkat lidahnya. . gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf. Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. kelainan pembuluh darah. XII pasien tidak dapat menjulurkan. tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu.

kadang terasa seperti ditusuk. nyeri berkurang saat malam hari. Penderita . Temporalis dapat dipalpasi dengan mudah. V terdiri atas sel-sel neuron kecil dan menerima seratserat N. dan gingiva. V. dengan nuclei sebagai berikut : a.NEURALGIA TRIGEMINAL: Tinjauan Pustaka (Bagian II) Oleh : Dr. sementara m. atau pada saat penderita berbaring. cabang maxillaris dan mandibularis penting pada kedokteran gigi. B. mata. biasanya pada satu sisi rahang atau pipi. Nucleus Pontius. ANATOMI NERVUS TRIGEMINUS Nervus Trigeminus merupakan nervus cranialis yang terbesar dan melayani arcus branchialis pertama. Nervi Trigemini dan Nucleus Spinalis Nervi Trigemini Kedua Nucleus ini menerima impuls-impuls eksteroseptif dari daerah muka dan daerah calvaria bagian ventral sampai vertex. sedangkan nucleus spinalis N. Dicirikan dengan suatu nyeri yang muncul mendadak. berat. pemeriksaan refleks kornea. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang mandibularis nervus trigeminus. sehingga gigi-gigi pada rahang bawah menekan pada gigi-gigi rahang atas. dan pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. Tensor Veli Palatini serta m. Neuralgia Trigeminal berarti nyeri pada nervus Trigeminus. Masseter dan m. mm. yang menghantarkan rasa nyeri menuju ke wajah. Fungsi otot pengunyah dapat diperiksa. Sebagai tambahan terhadap fungsi cutaneus. Sementara yang lain merasakan nyeri yang cukup kerap. Mylohyoideus. misalnya dengan menyuruh penderita menutup kedua rahangnya dengan rapat. Dito Anurogo | 14-Apr-2008. nyeri dan raba pada daerah inervasi N. Cabang mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi mandibularis. seperti nyeri saat kena setrum listrik. seperti sengatan listrik. lidah. Gambaran Klinis Neuralgia Trigeminal Serangan Trigeminal neuralgia dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai semenit. Masticatores melalui rami motori nervi mandibularis dan m. palatum. V yang halus yang mengantarkan impuls-impuls eksteroseptif nyeri dan suhu. yang mengantarkan impuls-impuls rasa raba. 22:18:17 WIB TINJAUAN PUSTAKA A. V (daerah muka dan bagian ventral calvaria). Di antara kedua nucleus di atas terdapat perbedaan fungsional yang penting : di dalam nucleus Pontius berakhir serat-serat aferan N. Pada beberapa penderita. dan gingiva. Nucleus Motorius Nervi Trigemini Dari Nucleus ini keluar serat-serat branchiomotorik yang berjalan langsung ke arah ventrolateral menyilang serat-serat pedunculus cerebellaris medius (fibrae pontocerebellares) dan pada akhirnya akan melayani m. nervus kranialis terbesar. C. V yang relatif kasar. Nervus ini mengandung serat-serat branchiomotorik dan aferen somatik umum (yang terdiri atas komponen ekteroseptif dan komponen proprioseptif). Variasi nervus yang memberikan persarafan ke gigi diteruskan ke alveolaris. atau nyeri yang menusuk-nusuk. Pada kerusakan unilateral neuron motor atas. Pada kebanyakan penderita. Beberapa orang merasakan sakit ringan. Neuralgia Trigeminal adalah suatu keadaan yang memengaruhi N. FISIOLOGI NERVUS TRIGEMINUS Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui pemeriksaan rasa suhu. telinga atau langit-langit mulut dapat pula terserang. berat. V menerima fibrae corticonucleares dari kedua belah cortex cerebri. DEFINISI NEURALGIA TRIGEMINAL Secara harfiah. Nervus maxillaris memberikan inervasi sensorik ke gigi maxillaris. b. oleh karena nucleus motorius N. ke soket di mana gigi tersebut berasal nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus trigeminus. Masticatores tidak mngelami gangguan fungsi.

neuroma akustik. Kompresi nonvaskuler saraf kelima terjadi pada beberapa pasien. bisa juga sakit menyerang setiap hari atau sepanjang Minggu. . 2. dan beberapa tanpa patologi yang jelas. Umumnya ada stimulus 'trigger' yang dibawa melalui aferen berdiameter besar (bukan serabut nyeri) dan sering melalui divisi saraf kelima diluar divisi untuk nyeri. Pada kebanyakan pasien yang dioperasi untuk NT ditemukan adanya kompresi atas ‘nerve root entry zone' saraf kelima pada batang otak oleh pembuluh darah (45-95% pasien). Sifat nyeri yang paroksismal. atau ada kawat di sepanjang wajahnya. Serangan ini hilang timbul. Penyebab lain yang mungkin. walau sudah sangat banyak penelitian dilakukan. Tidak seperti kebanyakan pasien dengan NT. Berbagai keadaan patologis menunjukkan penyebab yang mungkin pada kelainan ini. Terjadinya NT pada pasien yang mempunyai kelainan demielinasi sentral (terjadi pada 1% pasien dengan sklerosis multipel) Kenyataan ini tampaknya memastikan bahwa etiologinya adalah sentral dibanding saraf tepi. Namun. AVM) dan kompresi oleh tulang (misal sekunder terhadap penyakit Paget). 2. semua teori tentang mekanisme harus konsisten dengan: 1. Tampaknya sangat mungkin bahwa serangan nyeri mungkin menunjukkan suatu cetusan 'aberrant' dari aktivitas neuronal yang mungkin dimulai dengan memasukkan input melalui saraf kelima. Bentuk-bentuk neuralgia ini harus dibedakan dari nyeri wajah idiopatik (atipikal) serta kelainan lain yang menyebabkan nyeri kranio-fasial. pasien ini sering mempunyai gejala dan/atau tanda defisit saraf kranial. Paroksisme nyeri analog dengan bangkitan dan yang menarik adalah sering dapat dikontrol dengan obat-obatan anti kejang (karbamazepin dan fenitoin). berasal dari sepanjang traktus sentral saraf kelima. Kenyataan bahwa suatu lesi kecil atau parsial pada ganglion gasserian dan/ atau akar-akar saraf sering menghilangkan nyeri.Trigeminal neuralgia yang berat menggambarkan rasa sakitnya seperti ditembak. Otopsi menunjukkan banyak kasus dengan keadaan penekanan vaskuler serupa tidak menunjukkan gejala saat hidupnya. Hal ini meningkat sesuai usia karena sekunder terhadap elongasi arteria karena penuaan dan arteriosklerosis dan mungkin sebagai penyebab pada kebanyakan pasien. 3. NT Atipikal. Kesimpulan Wilkins. 3. 5. Trigeminal neuralgia biasanya hanya terasa di satu sisi wajah. Lalu. Bisa jadi dalam sehari tidak ada rasa sakit. 4. sista epidermoid. 1-8% pasien menunjukkan adanya tumor jinak sudut serebelopontin (meningioma. dan 6. NT Paska Trauma. 4. tidak sakit lagi selama beberapa waktu. termasuk cedera perifer saraf kelima (misal karena tindakan dental) atau sklerosis multipel. ETIOLOGI (PENYEBAB) Neuralgia Trigeminal Mekanisme patofisiologis yang mendasari NT belum begitu pasti. NT Tipikal. D. kena pukulan jab. Jarang sekali terasa di kedua sisi wajah dlm waktu bersamaan. dengan interval bebas nyeri yang lama. NT karena Sklerosis Multipel. KLASIFIKASI Neuralgia Trigeminal (NT) dapat dibedakan menjadi: 1. tetapi bisa juga menyebar dengan pola yang lebih luas. atau pada tingkat sinaps sentralnya. E. NT Sekunder. Failed Neuralgia Trigeminal.

Pada genesis dari sindroma hiperaktif ini. Letak kompresi berhubungan dengan gejala klinis yang timbul. Pada nyeri Trigeminal pasca infeksi virus. waktu ini relatif singkat. 2. apapun penyebabnya. yaitu discharge neuronal yang berlebihan dan pengurangan inhibisi. Pembuluh darah yang menekan tidak harus berdiameter besar. Kira-kira 2-3% kasus karena sklerosis multipel. Peter Janetta menggolongkan neuralgia glossopharyngeal dan hemifacial spasm dalam kelompok "Syndromes of Cranial Nerve Hyperactivity". dikatakan bahwa mungkin sebabnya terletak pada predisposisi genetik yang ditambah dengan beberapa faktor pola hidup. pemeriksaan dan test neurologis (misalnya CT scan) tak begitu jelas. semua saraf yang digolongkan pada sindroma ini mempunyai satu kesamaan: mereka semuanya terletak pada pons atau medulla oblongata serta dikelilingi oleh banyak arteri dan vena. maka otak akan bergeser atau jatuh ke arah caudal di dalam fossa posterior dengan akibat makin besarnya kontak neurovaskuler yang tentunya akan memperbesar kemungkinan terjadinya penekanan pada saraf yang terkait. atau pada nukleus sensorik utama nervus trigeminus. pada usia lanjut nyeri bisa berlangsung sangat lama. atau neurinoma akustik. Menurut Calvin. Bila tidak terbendung akhirnya akan menimbulkan serangan nyeri. sudah bisa menimbulkan neuralgia. Ada sebagian kasus yang tidak diketahui sebabnya. bisa menimbulkan kegagalan pada inhibisi segmental pada nukleus/ inti saraf ini yang menimbulkan produksi ectopic action potential pada saraf Trigeminal. adalah penyebab utamanya. Kompresi pembuluh darah yang berdenyut. tumor epidermoid. dan sebagainya. sekitar 90% dari neuralgia Trigeminal penyebabnya adalah adanya arteri "salah tempat" yang melingkari serabut saraf ini pada usia lanjut. ataupun vertigo. kompresi pada bagian rostral dari nervus trigeminus akan mengakibatkan neuralgia pada cabang oftalmicus dari nervus trigeminus. yaitu merokok. Aksi potensial antidromik ini dirasakan oleh pasien sebagai serangan nyeri trigerminal yang paroksismal. Keadaan ini. dan seterusnya. Akan tetapi. baik dari arteri maupun vena. misalnya dengan diameter 50-100 um saja. misalnya pasca herpes. Pada orang usia muda. Sebagai contoh dikemukakan bahwa adanya iritasi kronis pada saraf ini. Menurut Fromm. karena terjadinya atrofi. Faktor riwayat paling penting adalah distribusi nyeri dan terjadinya 'serangan' nyeri dengan interval bebas nyeri relatif lama. Stimulus yang sederhana pada daerah pencetus mengakibatkan terjadinya serangan nyeri. PATOFISIOLOGI Neuralgia Trigeminal dapat terjadi akibat berbagai kondisi yang melibatkan sistem persarafan trigeminus ipsilateral. Nyeri mulai pada distribusi divisi 2 atau 3 saraf . Bila dilakukan microvascular decompression secara benar. Memanjang serta melingkarnya arteri pada dasar otak. Umumnya. Pada kebanyakan kasus. Tentang bagaimana multipel sklerosis bisa disertai nyeri Trigeminal diingatkan akan adanya demyelinating plaques pada tempat masuknya saraf. dianggap bahwa lesi pada saraf akan mengaktifkan nociceptors yang berakibat terjadinya nyeri. tampaknya yang menjadi etiologi adalah adanya kompresi oleh salah satu arteri di dekatnya yang mengalami pemanjangan seiring dengan perjalanan usia. Tentang mengapa nyeri pasca herpes masih bertahan sampai waktu cukup lama dikatakan karena setelah sembuh dan selama masa regenerasi masih tetap terbentuk zat pembawa nyeri hingga kurun waktu yang berbeda. Ada kemungkinan terjadi kompresi vaskuler sebagai dasar penyebab umum dari sindroma saraf kranial ini. Lima sampai delapan persen kasus disebabkan oleh adanya tumor benigna pada sudut serebelo-pontin seperti meningioma. DIAGNOSIS Kunci diagnosis adalah riwayat. terdapat dua proses yang sebenarnya merupakan proses penuaan yang wajar: 1. Menurut dia. Dengan peningkatan usia. tinnitus. G. Mengapa terjadi perpanjangan dan pembelokan pembuluh darah. Walaupun hanya kecil. mengakibatkan jalur sensorik yang hiperaktif. keluhan akan hilang. Pemberian antiviral yang cepat dan dalam dosis yang adekuat akan sangat mempersingkat lamanya nyeri ini. Misalnya. neuralgia Trigeminal bisa mempunyai penyebab perifer maupun sentral. tepat pada pangkal tempat keluarnya saraf ini dari batang otak. hemifacial spasm. pola diet. Efek terapeutik yang efektif dari obat yang diketahui bekerja secara sentral membuktikan adanya mekanisme sentral dari neuralgi.F.

Suatu varian neuralgia Trigeminal yang dinamakan tic convulsive ditandai dengan kontraksi sesisih dari otot muka yang disertai nyeri yang hebat. Biasanya. · Menilai fungsi mengunyah (masseter) dan fungsi pterygoideus (membuka mulut. Sebaliknya. Tic convulsive yang disertai nyeri hebat lebih sering dijumpai di daerah sekitar mata dan lebih sering dijumpai pada wanita. Trigger zones sering dijumpai di sekitar cuping hidung atau sudut mulut. durasinya pendek (kurang dari satu menit). Keadaan ini perlu dibedakan dengan gerak otot muka yang bisa menyertai neuralgi biasa. · Menentukan interval bebas nyeri. efek samping. sekitar 1-2% pasien dengan MS juga menderita neuralgia Trigeminal yang dalam hal ini bisa bilateral. walaupun menyebabkan nyeri pada tempat itu. Dilaporkan adanya gangguan sensorik pada neuralgia Trigeminal yang menyertai multiple sclerosis. · Menilai EOM. akhirnya sering menyerang keduanya. yang dinamakan tic douloureux.kelima. dosis. anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan sebagai berikut: Anamnesis · Lokalisasi nyeri. tidak dapat memancing terjadinya serangan neuralgi. Nyeri seringkali terpancing bila suatu daerah tertentu dirangsang (trigger areaatau trigger zone). · Menentukan waktu dimulainya neuralgia Trigeminal dan mekanisme pemicunya. misalnya bagian rahang atau sekitar pipi. Pemeriksaan Fisik · Menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral (termasuk refleks kornea). Tidak terdapat gangguan sensorik pada neuralgi Trigeminal murni. Pemeriksaan neurologik pada neuralgi Trigeminal hampir selalu normal. serangan nyeri timbul mendadak. . Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti CT-scan kepala atau MRI dilakukan untuk mencari etiologi primer di daerah posterior atau sudut serebelo-pontin. untuk menentukan cabang nervus trigeminus yang terkena. Rangsang dengan cara lain. · Menentukan lama. Yang unik dari trigger zone ini adalah rangsangannya harus berupa sentuhan atau tekanan pada kulit atau rambut di daerah tersebut. Secara sistematis. misalnya dengan menggunakan panas. dan respons terhadap pengobatan. dan dirasakan pada satu bagian dari saraf Trigeminal. Beberapa kasus mulai pada divisi 1. deviasi dagu). · Menanyakan riwayat penyakit herpes. sangat hebat.