GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS.

Posted on 25 December 2008 by mangsholeh

KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. 1)Saraf Olfaktorius. (N.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa: Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre coup”, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman. Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. 2)Saraf Optikus (N.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan.

penyakit leber. misal: retinitis pigmentosa. kebawah dan keluar.Fiksasi posisi mata. b.Tumor serebri (kraniofaringioma. Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. kerusakan biasanya terjadi di perifer. sehingga kalau lumpuh. hipertensi intakranial benigna. 4)Saraf Troklearis (N. karsinoma nasofaring dan lesi orbital. meningitis basalis. istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. hipertensi stadium IV. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi. ataksia friedrich. 3)Saraf Okulomotorius (N. paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. famitral. astrositoma) 3.Ptosis. b). Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi. disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis.Infeksi. ke atas dan lateral. Trombosis vena sentralis retina.Trauma Kepala 2. 4. a).Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah . Lesi kompresif seperti tumor serebri. karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior.Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus. maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia. iskemia. dapat disebabkan oleh lesi desak ruang. Infark seperti pada arteritis dan diabetes. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: 1. 3.Neuritis optik. antara lain hidrocefalus.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial. dengan pupil ke arah bawah dan lateral. tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi.Pupil yang melebar. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral. c. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: a. tumor hipfise. kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1. Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1. Penyebab kerusakan diperifer meliputi.Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi. 2. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata. sehingga reaksi pupil akan berubah. glaukoma. meningioma. N.Kelainan pembuluh darah Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug.

mutiple sklerosis. 7)Saraf Fasialis (N. mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. ketika pasien melihat ke arah nasal. biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma. mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). . yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. dan meningitis kronik. Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy.dan kemedial. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus. lesi vaskuler dan siringobulbia. V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. Lesi LMN : Penyebab pada pons. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre. sinusistis. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral. Pada fosa posterior. mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral. 5)Saraf Abdusens (N. 6)Saraf Trigeminus (N. dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. mononeuritis multipleks. neurosifilis. dan otitis media. trombosis sinus kavernosus. meliputi neuroma akustik. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. perdarahan dan tumor. Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. fraktur basis kranialis. VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu. meliputi tumor. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis. anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior. fraktur. ketika pasien melihat lurus ke atas. meningioma. sindroma Rumsay Hunt.

tetapi ini sangat jarang. Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi. misal neuroma akustik. Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit. tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi. gangguan air mata dan ludah. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. labirinitis akut. toksisitas misal aspirin. mabuk kendaraan. Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen. 9)Saraf Glosofaringeus (N. bibir tertarik kesisi yang sehat. IX dan N. otitis media. sudut mulut turun. Gangguan nervus IX dan N.dan keganasan parotis bilateral. misal fraktur pars petrosa os temporalis. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis. kelopak mata tidak bisa ditutup. otoskleroris dan penyakit Paget. streptomisin atau alkohol. ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paruparu. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. 8)Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). berupa : Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor. gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal . infeksi misal. Degenerasi misal presbiaksis. intoksikasi streptomisin. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran. Trauma. Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler Pada labirin meliputi penyakit meniere. IX) dan Saraf Vagus (N.

Pada lesi unilateral. tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. menarik atau mengangkat lidahnya. tumor dan syringobulbia. . gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus). XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak. XII pasien tidak dapat menjulurkan. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut. Pada kerusakan N. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf. 11)Saraf Hipoglossus (N.10)Saraf Asesorius (N. XI) Gangguan N. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. kelainan pembuluh darah.

nyeri dan raba pada daerah inervasi N. misalnya dengan menyuruh penderita menutup kedua rahangnya dengan rapat. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang mandibularis nervus trigeminus. Nervi Trigemini dan Nucleus Spinalis Nervi Trigemini Kedua Nucleus ini menerima impuls-impuls eksteroseptif dari daerah muka dan daerah calvaria bagian ventral sampai vertex. palatum. sehingga gigi-gigi pada rahang bawah menekan pada gigi-gigi rahang atas. Di antara kedua nucleus di atas terdapat perbedaan fungsional yang penting : di dalam nucleus Pontius berakhir serat-serat aferan N. V (daerah muka dan bagian ventral calvaria). nyeri berkurang saat malam hari. Nucleus Motorius Nervi Trigemini Dari Nucleus ini keluar serat-serat branchiomotorik yang berjalan langsung ke arah ventrolateral menyilang serat-serat pedunculus cerebellaris medius (fibrae pontocerebellares) dan pada akhirnya akan melayani m.NEURALGIA TRIGEMINAL: Tinjauan Pustaka (Bagian II) Oleh : Dr. Pada kebanyakan penderita. berat. V. Penderita . Masticatores tidak mngelami gangguan fungsi. V terdiri atas sel-sel neuron kecil dan menerima seratserat N. yang menghantarkan rasa nyeri menuju ke wajah. Nervus maxillaris memberikan inervasi sensorik ke gigi maxillaris. sedangkan nucleus spinalis N. b. DEFINISI NEURALGIA TRIGEMINAL Secara harfiah. yang mengantarkan impuls-impuls rasa raba. nervus kranialis terbesar. Nucleus Pontius. Neuralgia Trigeminal berarti nyeri pada nervus Trigeminus. dengan nuclei sebagai berikut : a. lidah. Pada beberapa penderita. ANATOMI NERVUS TRIGEMINUS Nervus Trigeminus merupakan nervus cranialis yang terbesar dan melayani arcus branchialis pertama. Fungsi otot pengunyah dapat diperiksa. C. kadang terasa seperti ditusuk. V yang halus yang mengantarkan impuls-impuls eksteroseptif nyeri dan suhu. biasanya pada satu sisi rahang atau pipi. FISIOLOGI NERVUS TRIGEMINUS Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui pemeriksaan rasa suhu. Masseter dan m. oleh karena nucleus motorius N. dan gingiva. Nervus ini mengandung serat-serat branchiomotorik dan aferen somatik umum (yang terdiri atas komponen ekteroseptif dan komponen proprioseptif). berat. atau nyeri yang menusuk-nusuk. V menerima fibrae corticonucleares dari kedua belah cortex cerebri. Tensor Veli Palatini serta m. Cabang mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi mandibularis. pemeriksaan refleks kornea. Gambaran Klinis Neuralgia Trigeminal Serangan Trigeminal neuralgia dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai semenit. B. Beberapa orang merasakan sakit ringan. Pada kerusakan unilateral neuron motor atas. Temporalis dapat dipalpasi dengan mudah. dan pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. atau pada saat penderita berbaring. cabang maxillaris dan mandibularis penting pada kedokteran gigi. seperti sengatan listrik. sementara m. mata. Dicirikan dengan suatu nyeri yang muncul mendadak. Masticatores melalui rami motori nervi mandibularis dan m. telinga atau langit-langit mulut dapat pula terserang. Dito Anurogo | 14-Apr-2008. ke soket di mana gigi tersebut berasal nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus trigeminus. Variasi nervus yang memberikan persarafan ke gigi diteruskan ke alveolaris. Sementara yang lain merasakan nyeri yang cukup kerap. seperti nyeri saat kena setrum listrik. mm. V yang relatif kasar. Mylohyoideus. Sebagai tambahan terhadap fungsi cutaneus. dan gingiva. Neuralgia Trigeminal adalah suatu keadaan yang memengaruhi N. 22:18:17 WIB TINJAUAN PUSTAKA A.

Berbagai keadaan patologis menunjukkan penyebab yang mungkin pada kelainan ini. Bisa jadi dalam sehari tidak ada rasa sakit. Otopsi menunjukkan banyak kasus dengan keadaan penekanan vaskuler serupa tidak menunjukkan gejala saat hidupnya. NT Paska Trauma. 1-8% pasien menunjukkan adanya tumor jinak sudut serebelopontin (meningioma. Terjadinya NT pada pasien yang mempunyai kelainan demielinasi sentral (terjadi pada 1% pasien dengan sklerosis multipel) Kenyataan ini tampaknya memastikan bahwa etiologinya adalah sentral dibanding saraf tepi. KLASIFIKASI Neuralgia Trigeminal (NT) dapat dibedakan menjadi: 1. termasuk cedera perifer saraf kelima (misal karena tindakan dental) atau sklerosis multipel. ETIOLOGI (PENYEBAB) Neuralgia Trigeminal Mekanisme patofisiologis yang mendasari NT belum begitu pasti. Kesimpulan Wilkins. Lalu. 5. Namun. Serangan ini hilang timbul. dan beberapa tanpa patologi yang jelas. 4. Jarang sekali terasa di kedua sisi wajah dlm waktu bersamaan. AVM) dan kompresi oleh tulang (misal sekunder terhadap penyakit Paget). sista epidermoid. 2. Sifat nyeri yang paroksismal. semua teori tentang mekanisme harus konsisten dengan: 1. Kompresi nonvaskuler saraf kelima terjadi pada beberapa pasien. NT Atipikal. Penyebab lain yang mungkin. 4. D. atau ada kawat di sepanjang wajahnya. walau sudah sangat banyak penelitian dilakukan. atau pada tingkat sinaps sentralnya. pasien ini sering mempunyai gejala dan/atau tanda defisit saraf kranial. Pada kebanyakan pasien yang dioperasi untuk NT ditemukan adanya kompresi atas ‘nerve root entry zone' saraf kelima pada batang otak oleh pembuluh darah (45-95% pasien). tidak sakit lagi selama beberapa waktu. 2. NT karena Sklerosis Multipel. Kenyataan bahwa suatu lesi kecil atau parsial pada ganglion gasserian dan/ atau akar-akar saraf sering menghilangkan nyeri. Umumnya ada stimulus 'trigger' yang dibawa melalui aferen berdiameter besar (bukan serabut nyeri) dan sering melalui divisi saraf kelima diluar divisi untuk nyeri. 3. NT Tipikal. Trigeminal neuralgia biasanya hanya terasa di satu sisi wajah. 3. bisa juga sakit menyerang setiap hari atau sepanjang Minggu. E. Paroksisme nyeri analog dengan bangkitan dan yang menarik adalah sering dapat dikontrol dengan obat-obatan anti kejang (karbamazepin dan fenitoin). dengan interval bebas nyeri yang lama. Hal ini meningkat sesuai usia karena sekunder terhadap elongasi arteria karena penuaan dan arteriosklerosis dan mungkin sebagai penyebab pada kebanyakan pasien. tetapi bisa juga menyebar dengan pola yang lebih luas. neuroma akustik. Bentuk-bentuk neuralgia ini harus dibedakan dari nyeri wajah idiopatik (atipikal) serta kelainan lain yang menyebabkan nyeri kranio-fasial. Tidak seperti kebanyakan pasien dengan NT. . kena pukulan jab. Failed Neuralgia Trigeminal. Tampaknya sangat mungkin bahwa serangan nyeri mungkin menunjukkan suatu cetusan 'aberrant' dari aktivitas neuronal yang mungkin dimulai dengan memasukkan input melalui saraf kelima. dan 6.Trigeminal neuralgia yang berat menggambarkan rasa sakitnya seperti ditembak. NT Sekunder. berasal dari sepanjang traktus sentral saraf kelima.

mengakibatkan jalur sensorik yang hiperaktif. Menurut dia. baik dari arteri maupun vena. yaitu merokok. Pemberian antiviral yang cepat dan dalam dosis yang adekuat akan sangat mempersingkat lamanya nyeri ini. semua saraf yang digolongkan pada sindroma ini mempunyai satu kesamaan: mereka semuanya terletak pada pons atau medulla oblongata serta dikelilingi oleh banyak arteri dan vena. sekitar 90% dari neuralgia Trigeminal penyebabnya adalah adanya arteri "salah tempat" yang melingkari serabut saraf ini pada usia lanjut. Ada sebagian kasus yang tidak diketahui sebabnya. dianggap bahwa lesi pada saraf akan mengaktifkan nociceptors yang berakibat terjadinya nyeri. Tentang bagaimana multipel sklerosis bisa disertai nyeri Trigeminal diingatkan akan adanya demyelinating plaques pada tempat masuknya saraf. sudah bisa menimbulkan neuralgia. Aksi potensial antidromik ini dirasakan oleh pasien sebagai serangan nyeri trigerminal yang paroksismal. tampaknya yang menjadi etiologi adalah adanya kompresi oleh salah satu arteri di dekatnya yang mengalami pemanjangan seiring dengan perjalanan usia. apapun penyebabnya. Akan tetapi. neuralgia Trigeminal bisa mempunyai penyebab perifer maupun sentral. Walaupun hanya kecil. Bila dilakukan microvascular decompression secara benar. Tentang mengapa nyeri pasca herpes masih bertahan sampai waktu cukup lama dikatakan karena setelah sembuh dan selama masa regenerasi masih tetap terbentuk zat pembawa nyeri hingga kurun waktu yang berbeda. yaitu discharge neuronal yang berlebihan dan pengurangan inhibisi. DIAGNOSIS Kunci diagnosis adalah riwayat. kompresi pada bagian rostral dari nervus trigeminus akan mengakibatkan neuralgia pada cabang oftalmicus dari nervus trigeminus. Menurut Calvin. Misalnya. Stimulus yang sederhana pada daerah pencetus mengakibatkan terjadinya serangan nyeri. karena terjadinya atrofi. Faktor riwayat paling penting adalah distribusi nyeri dan terjadinya 'serangan' nyeri dengan interval bebas nyeri relatif lama. misalnya pasca herpes. pemeriksaan dan test neurologis (misalnya CT scan) tak begitu jelas. Mengapa terjadi perpanjangan dan pembelokan pembuluh darah. PATOFISIOLOGI Neuralgia Trigeminal dapat terjadi akibat berbagai kondisi yang melibatkan sistem persarafan trigeminus ipsilateral. Lima sampai delapan persen kasus disebabkan oleh adanya tumor benigna pada sudut serebelo-pontin seperti meningioma. maka otak akan bergeser atau jatuh ke arah caudal di dalam fossa posterior dengan akibat makin besarnya kontak neurovaskuler yang tentunya akan memperbesar kemungkinan terjadinya penekanan pada saraf yang terkait. misalnya dengan diameter 50-100 um saja. Umumnya. tinnitus. dan sebagainya. pola diet. Kira-kira 2-3% kasus karena sklerosis multipel. dikatakan bahwa mungkin sebabnya terletak pada predisposisi genetik yang ditambah dengan beberapa faktor pola hidup. dan seterusnya. pada usia lanjut nyeri bisa berlangsung sangat lama. Pembuluh darah yang menekan tidak harus berdiameter besar. Peter Janetta menggolongkan neuralgia glossopharyngeal dan hemifacial spasm dalam kelompok "Syndromes of Cranial Nerve Hyperactivity". Menurut Fromm. Pada genesis dari sindroma hiperaktif ini. terdapat dua proses yang sebenarnya merupakan proses penuaan yang wajar: 1. waktu ini relatif singkat. Pada orang usia muda. keluhan akan hilang. Keadaan ini. G. atau pada nukleus sensorik utama nervus trigeminus. hemifacial spasm. bisa menimbulkan kegagalan pada inhibisi segmental pada nukleus/ inti saraf ini yang menimbulkan produksi ectopic action potential pada saraf Trigeminal. atau neurinoma akustik. Pada nyeri Trigeminal pasca infeksi virus. Kompresi pembuluh darah yang berdenyut. Memanjang serta melingkarnya arteri pada dasar otak. adalah penyebab utamanya. ataupun vertigo. Bila tidak terbendung akhirnya akan menimbulkan serangan nyeri. Efek terapeutik yang efektif dari obat yang diketahui bekerja secara sentral membuktikan adanya mekanisme sentral dari neuralgi. 2.F. Letak kompresi berhubungan dengan gejala klinis yang timbul. Pada kebanyakan kasus. Ada kemungkinan terjadi kompresi vaskuler sebagai dasar penyebab umum dari sindroma saraf kranial ini. tepat pada pangkal tempat keluarnya saraf ini dari batang otak. Nyeri mulai pada distribusi divisi 2 atau 3 saraf . Sebagai contoh dikemukakan bahwa adanya iritasi kronis pada saraf ini. tumor epidermoid. Dengan peningkatan usia.

yang dinamakan tic douloureux. Biasanya. Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti CT-scan kepala atau MRI dilakukan untuk mencari etiologi primer di daerah posterior atau sudut serebelo-pontin. Sebaliknya. · Menilai EOM. dosis. Tidak terdapat gangguan sensorik pada neuralgi Trigeminal murni. Dilaporkan adanya gangguan sensorik pada neuralgia Trigeminal yang menyertai multiple sclerosis. anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan sebagai berikut: Anamnesis · Lokalisasi nyeri. tidak dapat memancing terjadinya serangan neuralgi. untuk menentukan cabang nervus trigeminus yang terkena. Rangsang dengan cara lain. misalnya dengan menggunakan panas. walaupun menyebabkan nyeri pada tempat itu. · Menentukan interval bebas nyeri. Pemeriksaan neurologik pada neuralgi Trigeminal hampir selalu normal. serangan nyeri timbul mendadak. · Menilai fungsi mengunyah (masseter) dan fungsi pterygoideus (membuka mulut. Keadaan ini perlu dibedakan dengan gerak otot muka yang bisa menyertai neuralgi biasa. deviasi dagu). · Menentukan waktu dimulainya neuralgia Trigeminal dan mekanisme pemicunya. Secara sistematis. Suatu varian neuralgia Trigeminal yang dinamakan tic convulsive ditandai dengan kontraksi sesisih dari otot muka yang disertai nyeri yang hebat. · Menanyakan riwayat penyakit herpes. Yang unik dari trigger zone ini adalah rangsangannya harus berupa sentuhan atau tekanan pada kulit atau rambut di daerah tersebut. · Menentukan lama. dan respons terhadap pengobatan. . efek samping. Beberapa kasus mulai pada divisi 1. durasinya pendek (kurang dari satu menit). Tic convulsive yang disertai nyeri hebat lebih sering dijumpai di daerah sekitar mata dan lebih sering dijumpai pada wanita. sekitar 1-2% pasien dengan MS juga menderita neuralgia Trigeminal yang dalam hal ini bisa bilateral. akhirnya sering menyerang keduanya. Trigger zones sering dijumpai di sekitar cuping hidung atau sudut mulut.kelima. misalnya bagian rahang atau sekitar pipi. sangat hebat. Pemeriksaan Fisik · Menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral (termasuk refleks kornea). Nyeri seringkali terpancing bila suatu daerah tertentu dirangsang (trigger areaatau trigger zone). dan dirasakan pada satu bagian dari saraf Trigeminal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful