GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS.

Posted on 25 December 2008 by mangsholeh

KELAINAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA NERVUS CRANIALIS. 1)Saraf Olfaktorius. (N.I) Kelainan pada nervus olfaktovius dapat menyebabkan suatu keadaan berapa gangguan penciuman sering dan disebut anosmia, dan dapat bersifat unilatral maupun bilateral. Pada anosmia unilateral sering pasien tidak mengetahui adanya gangguan penciuman. Proses penciuman dimulai dari sel-sel olfakrorius di hidung yang serabutnya menembus bagian kribiformis tulang ethmoid di dasar di dasar tengkorak dn mencapai pusat penciuman lesi atau kerusakan sepanjang perjalanan impuls penciuman akan mengakibatkan anosmia. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan penciuman berupa: Agenesis traktus olfaktorius Penyakit mukosa olfaktorius bro rhinitis dan tumor nasal Sembuhnya rhinitis berarti juga pulihnya penciuman, tetapi pada rhinitis kronik, dimana mukosa ruang hidung menjadi atrofik penciuman dapat hilang untuk seterusnya. Destruksi filum olfaktorius karena fraktur lamina feribrosa. Destruksi bulbus olfaktorius dan traktus akibat kontusi “countre coup”, biasanya disebabkan karena jatuh pada belakang kepala. Anosmia unilateral atau bilalteral mungkin merupakan satu-satunya bukti neurologis dari trauma vegio orbital. Sinusitas etmoidalis, osteitis tulang etmoid, dan peradangan selaput otak didekatnya. Tumor garis tengah dari fosa kranialis anterior, terutama meningioma sulkus olfaktorius (fossa etmoidalis), yang dapat menghasilkan trias berupa anosmia, sindr foster kennedy, dan gangguan kepribadian jenis lobus orbitalis. Adenoma hipofise yang meluas ke rostral juga dapat merusak penciuman. Penyakit yang mencakup lobus temporalis anterior dan basisnya (tumor intrinsik atau ekstrinsik). Pasien mungkin tidak menyadari bahwa indera penciuman hilang sebaliknya, dia mungkin mengeluh tentang rasa pengecapan yang hilang, karena kemampuannya untuk merasakan aroma, suatu sarana yang penting untuk pengecapan menjadi hilang. 2)Saraf Optikus (N.II) Kelainan pada nervus optikus dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Gangguan penglihatan dapat dibagi menjadi gangguan visus dan gangguan lapangan pandang. Kerusakan atau terputusnya jaras penglitan dapat mengakibatkan gangguan penglihatan kelainan dapat terjadi langsung pada nevrus optikus itu sendiri atau sepanjang jaras penglihatan yaitu kiasma optikum, traktus optikus, radiatio optika, kortek penglihatan. Bila terjadi kelainan berat makan dapat berakhir dengan kebutaan.

Tumor serebri (kraniofaringioma. hipertensi stadium IV. Jika seluruh otot mengalami paralisis secara akut. kelopak mata akan jatuh ( ptosis) Kelumpuhan okulomotorius lengkap memberikan sindrom di bawah ini: 1.Neuritis optik. dengan pupil ke arah bawah dan lateral. c. Trombosis vena sentralis retina. meningitis basalis.Atrofi optik Dapat disebabkan oleh papiledema kronik atau papilus. 2. b). astrositoma) 3.Infeksi. famitral. tak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi. Gambaran kliniknya berupa buta ipsilateral. disebabkan oleh paralisis otot levator palpebra dan tidak adanya perlawanan dari kerja otot orbikularis okuli yang dipersarafi oleh saraf fasialis. meningioma. karena tak adanya perlawanan dari kerja otot rektus lateral dan oblikus superior. misal: retinitis pigmentosa. dapat disebabkan oleh lesi desak ruang. maka buta semacam itu dinamakan hemiopropia. sehingga kalau lumpuh. 4)Saraf Troklearis (N.Orang yang buta kedua sisi tidak mempunyai lapang pandang. Juga mengakibatkan gangguan fungsi parasimpatis untuk kontriksi pupil dan akomodasi. kebawah dan keluar. IV) Kelainan berupa paralisis nervus troklearis menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak kebawah . glaukoma. Perubahan tersebut seperti tertera pada gambar 1. 3)Saraf Okulomotorius (N. 3. Pada pemeriksaan funduskopi dapat dilihat hal-hal sebagai berikut: a. 4.Kelainan pembuluh darah Misalnya pada trombosis arteria katotis maka pangkal artera oftalmika dapat ikut tersumbat jug. hipertensi intakranial benigna.Ptosis. ataksia friedrich. sehingga reaksi pupil akan berubah.Pupil yang melebar. Infark seperti pada arteritis dan diabetes. Apabila lapang pandang kedua mata hilang sesisi. paralisis otot tunggal menandakan bahwa kerusakan melibatkan nukleus okulomotorius. ke atas dan lateral.III) Kelainan berupa paralisis nervus okulomatorius menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke medial. antara lain hidrocefalus. istilah untuk buta ialah anopia atau anopsia. N. iskemia. kerusakan biasanya terjadi di perifer.Trauma Kepala 2. Kelainan atau lesi pada nervus optikus dapat disebabkan oleh: 1. tumor hipfise. a). Penyebab kerusakan diperifer meliputi. karsinoma nasofaring dan lesi orbital. penyakit leber. b. Lesi kompresif seperti tumor serebri.Papiledema (khususnya stadium dini) Papiledema ialah sembab pupil yang bersifat non-infeksi dan terkait pada tekanan intrakkranial yang meninggi. Berbagai macam perubahan pada bentuk lapang pandang mencerminkan lesi pada susunan saraf optikus. III juga menpersarafi otot kelopak mata untuk membuka mata.Fiksasi posisi mata.

. meliputi tumor. Gangguan nervus trigeminus yang paling nyata adalah neuralgia trigeminal atau tic douloureux yang menyebabkan nyeri singkat dan hebat sepanjang percabangan saraf maksilaris dan mandibularis dari nervus trigeminus. fraktur basis kranialis. mata yang paralisis bergerak ke medial dan ke atas karena predominannya otot oblikus inferior. ketika pasien melihat ke arah nasal.dan kemedial. Pada fosa posterior. Jika ketiga saraf motorik dari satu mata semuanya terganggu. biasanya karena jatuh pada dahi atu verteks. Janeta (1981) menemukan bahwa penyebab tersering dari neurolgia trigeminal dicetuskan oleh pembuluh darah. Penyebab paling sering dari paralisis nukleus adalah ensefelaitis. Penyebab yang paling sering dari kelumpuhan otot-otot mata perifer adalah meningitis. dan meningitis kronik. meliputi neuroma akustik. mata yang sakit teradduksi dan tidak dapat digerakkan ke lateral. dan rasa baal pada wajah sebagai tanda-tanda dini. dan otitis media. VI) Kelainan pada paralisis nervus abdusens menyebabkan bola mata tidak bisa bergerak ke lateral. 5)Saraf Abdusens (N. neurosifilis. 7)Saraf Fasialis (N. Paralisis bilateral dari otot-otot mata biasanya akibat kerusakan nuklear. Kelainan berapa lesi ensefalitis akut di pons dapat menimbulkan gangguan berupa trismus. trombosis sinus kavernosus. Paling sering oleh arteri serebelaris superior yang melingkari radiks saraf paling proksimal yang masih tak bermielin. mononeuritis multipleks. mutiple sklerosis. Jika pasien melihat kebawah dan ke medial. yaitu spasme tonik dari otot-otot pengunyah. anevrisma arteri karotis interva atau arteri komunikantes posterior. ketika pasien melihat lurus ke atas. sinusistis. mata tampak melihat lurus keatas dan tidak dapat digerakkan kesegala arah dan pupil melebar serta tidak bereaksi terhadap cahaya (oftalmoplegia totalis). VII) Kelainan yang dapat menyebabkan paralis nervus fasialis antara lain: Lesi UMN (supranuklear) : tumor dan lesi vaskuler. meningioma. sumbu dari mata yang sakit lebih tinggi daripada mata yang lain. fraktur. Lesi LMN : Penyebab pada pons. Penyebab kelumpuhan fasialis bilateral antara lain Sindrom Guillain Barre. lesi vaskuler dan siringobulbia. Karena tegangan abnormal yang kuat pada otot ini mungkin pasien tidak bisa membuka mulutnya. 6)Saraf Trigeminus (N. Pada pars petrosa os temporalis dapat terjadi Bell’s palsy. sindroma Rumsay Hunt. mata berotasi dipopia terjadi pada setiap arah tatapan kecuali paralisis yang terbatas pada saraf troklearis jarang terjadi dan sering disebabkan oleh trauma. perdarahan dan tumor. Ketika pasien melihat lurus kedepan atas. V) Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nerus trigeminus antara lain : Tumor pada bagian fosa posterior dapat menyebabkan kehilangan reflek kornea.

Degenerasi misal presbiaksis. Pada lobus temporalis meliputi epilepsi dan iskemia. X menyebabkan persarafan otot-otot menelan menjadi lemah dan lumpuh. sindv rubella kongenital dan sifilis kongenital. ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir. Kelainan yang dapat menjadi penyebab antara lain : Lesi batang otak (Lesi N IX dan N. mabuk kendaraan. otitis media. Kelainan yang dapat menimbulkan gangguan pada nervus VIII antara lain: Gangguan pendengaran. X) Syringobulbig (cairan berkumpul di medulla oblongata) Pasca operasi trepansi serebelum Pasca operasi di daerah kranioservikal . misal neuroma akustik. bibir tertarik kesisi yang sehat. Penyebab hilangnya rasa kecap unilateral tanpa kelainan lain dapat terjadi pada lesi telinga tengah yang meliputi Korda timpani atau nervus lingualis. terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Gangguan Keseimbangan dengan penyebab kelainan vestibuler Pada labirin meliputi penyakit meniere. Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi. Tuli konduktif dapat disebabkan oleh serumen. Pada vestibuler meliputi semua penyebab tuli saraf ditambah neuronitis vestibularis. Kehilangan refleks ini pada pasien akan menyebabkan pneumonia aspirasi. Trauma. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. sudut mulut turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit. IX dan N. streptomisin atau alkohol. otoskleroris dan penyakit Paget. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. IX) dan Saraf Vagus (N. Gangguan nervus IX dan N. Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada. berupa : Tuli saraf dapat disebabkan oleh tumor. infeksi misal. X dapat mengakibatkan hilangnya refleks menelan yang berisiko terjadinya aspirasi paru. labirinitis akut. 9)Saraf Glosofaringeus (N. X) Gangguan pada komponen sensorik dan motorik dari N. tetapi ini sangat jarang. gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis).dan keganasan parotis bilateral. Pada batang otak meliputi lesi vaskuler. Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah. sepsis dan adult respiratory distress syndome (ARDS) kondisi demikian bisa berakibat pada kematian. 8)Saraf Vestibulokoklearis Kelainan pada nervus vestibulokoklearis dapat menyebabkan gangguan pendengaran dan keseimbangan (vertigo). intoksikasi streptomisin. kelopak mata tidak bisa ditutup. toksisitas misal aspirin. Cairan atau makanan tidak dapat ditelan ke esofagus melainkan bisa masuk ke trachea langsung ke paruparu. gangguan air mata dan ludah. misal fraktur pars petrosa os temporalis. tumor serebelum atau tumor ventrikel IV demielinisasi.

XII) Kerusakan nervus hipoglossus dapat disebabkan oleh kelainan di batang otak. gangguan menelan dan gangguan bicara (disatria) jalan nafas dapat terganggu apabila lidah tertarik ke belakang. kelainan pembuluh darah. menarik atau mengangkat lidahnya. XI mengakibatkan kelemahan otot bahu (otot trapezius) dan otot leher (otot sterokleidomastoideus).10)Saraf Asesorius (N. Saat istirahat lidah membelok ke sisi yang sehat di dalam mulut. tumor dan syringobulbia. Kelainan pada nervus asesorius dapat berupa robekan serabut saraf. XII pasien tidak dapat menjulurkan. Pasien akan menderita bahu yang turun sebelah serta kelemahan saat leher berputar ke sisi kontralateral. gangguan menelan dan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. Pada lesi unilateral. tumor dan iskemia akibatnya persarafan ke otot trapezius dan otot stemokleidomastoideus terganggu. . Pada kerusakan N. Kelainan tersebut dapat menyebabkan gangguan proses pengolahan makanan dalam mulut. 11)Saraf Hipoglossus (N. lidah akan membelok kearah sisi yang sakit saat dijulurkan. XI) Gangguan N.

oleh karena nucleus motorius N. Nervus alveolaris inferior ke gigi mandibularis berasal dari cabang mandibularis nervus trigeminus. seperti sengatan listrik. Nervus ini mengandung serat-serat branchiomotorik dan aferen somatik umum (yang terdiri atas komponen ekteroseptif dan komponen proprioseptif). atau nyeri yang menusuk-nusuk. Masticatores tidak mngelami gangguan fungsi. DEFINISI NEURALGIA TRIGEMINAL Secara harfiah. V. Dicirikan dengan suatu nyeri yang muncul mendadak. nyeri berkurang saat malam hari. V yang relatif kasar. Sebagai tambahan terhadap fungsi cutaneus. ke soket di mana gigi tersebut berasal nervus alveolaris superior ke gigi maxillaris berasal dari cabang maxillaris nervus trigeminus. Pada kebanyakan penderita. berat. nyeri dan raba pada daerah inervasi N. Nucleus Motorius Nervi Trigemini Dari Nucleus ini keluar serat-serat branchiomotorik yang berjalan langsung ke arah ventrolateral menyilang serat-serat pedunculus cerebellaris medius (fibrae pontocerebellares) dan pada akhirnya akan melayani m. Nervus maxillaris memberikan inervasi sensorik ke gigi maxillaris. mm. V yang halus yang mengantarkan impuls-impuls eksteroseptif nyeri dan suhu. Mylohyoideus. cabang maxillaris dan mandibularis penting pada kedokteran gigi. telinga atau langit-langit mulut dapat pula terserang. biasanya pada satu sisi rahang atau pipi. B. dan pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. sehingga gigi-gigi pada rahang bawah menekan pada gigi-gigi rahang atas. Beberapa orang merasakan sakit ringan. sedangkan nucleus spinalis N. Dito Anurogo | 14-Apr-2008. ANATOMI NERVUS TRIGEMINUS Nervus Trigeminus merupakan nervus cranialis yang terbesar dan melayani arcus branchialis pertama. Nucleus Pontius. Neuralgia Trigeminal adalah suatu keadaan yang memengaruhi N. V terdiri atas sel-sel neuron kecil dan menerima seratserat N. mata. Pada kerusakan unilateral neuron motor atas. C. palatum. dan gingiva. atau pada saat penderita berbaring. Variasi nervus yang memberikan persarafan ke gigi diteruskan ke alveolaris. yang menghantarkan rasa nyeri menuju ke wajah. Masticatores melalui rami motori nervi mandibularis dan m. misalnya dengan menyuruh penderita menutup kedua rahangnya dengan rapat. Pada beberapa penderita. Masseter dan m. Fungsi otot pengunyah dapat diperiksa. lidah. b. dengan nuclei sebagai berikut : a.NEURALGIA TRIGEMINAL: Tinjauan Pustaka (Bagian II) Oleh : Dr. Cabang mandibularis memberikan persarafan sensorik ke gigi mandibularis. Nervi Trigemini dan Nucleus Spinalis Nervi Trigemini Kedua Nucleus ini menerima impuls-impuls eksteroseptif dari daerah muka dan daerah calvaria bagian ventral sampai vertex. yang mengantarkan impuls-impuls rasa raba. FISIOLOGI NERVUS TRIGEMINUS Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui pemeriksaan rasa suhu. Neuralgia Trigeminal berarti nyeri pada nervus Trigeminus. pemeriksaan refleks kornea. Gambaran Klinis Neuralgia Trigeminal Serangan Trigeminal neuralgia dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai semenit. 22:18:17 WIB TINJAUAN PUSTAKA A. Temporalis dapat dipalpasi dengan mudah. dan gingiva. berat. nervus kranialis terbesar. sementara m. Sementara yang lain merasakan nyeri yang cukup kerap. seperti nyeri saat kena setrum listrik. V (daerah muka dan bagian ventral calvaria). Penderita . Di antara kedua nucleus di atas terdapat perbedaan fungsional yang penting : di dalam nucleus Pontius berakhir serat-serat aferan N. Tensor Veli Palatini serta m. kadang terasa seperti ditusuk. V menerima fibrae corticonucleares dari kedua belah cortex cerebri.

dan 6. Umumnya ada stimulus 'trigger' yang dibawa melalui aferen berdiameter besar (bukan serabut nyeri) dan sering melalui divisi saraf kelima diluar divisi untuk nyeri. Bisa jadi dalam sehari tidak ada rasa sakit.Trigeminal neuralgia yang berat menggambarkan rasa sakitnya seperti ditembak. bisa juga sakit menyerang setiap hari atau sepanjang Minggu. Trigeminal neuralgia biasanya hanya terasa di satu sisi wajah. Bentuk-bentuk neuralgia ini harus dibedakan dari nyeri wajah idiopatik (atipikal) serta kelainan lain yang menyebabkan nyeri kranio-fasial. 5. 2. walau sudah sangat banyak penelitian dilakukan. semua teori tentang mekanisme harus konsisten dengan: 1. pasien ini sering mempunyai gejala dan/atau tanda defisit saraf kranial. sista epidermoid. Pada kebanyakan pasien yang dioperasi untuk NT ditemukan adanya kompresi atas ‘nerve root entry zone' saraf kelima pada batang otak oleh pembuluh darah (45-95% pasien). NT Atipikal. kena pukulan jab. NT karena Sklerosis Multipel. . Jarang sekali terasa di kedua sisi wajah dlm waktu bersamaan. Terjadinya NT pada pasien yang mempunyai kelainan demielinasi sentral (terjadi pada 1% pasien dengan sklerosis multipel) Kenyataan ini tampaknya memastikan bahwa etiologinya adalah sentral dibanding saraf tepi. Lalu. dan beberapa tanpa patologi yang jelas. NT Sekunder. atau pada tingkat sinaps sentralnya. Berbagai keadaan patologis menunjukkan penyebab yang mungkin pada kelainan ini. dengan interval bebas nyeri yang lama. 4. Otopsi menunjukkan banyak kasus dengan keadaan penekanan vaskuler serupa tidak menunjukkan gejala saat hidupnya. D. Kompresi nonvaskuler saraf kelima terjadi pada beberapa pasien. E. Hal ini meningkat sesuai usia karena sekunder terhadap elongasi arteria karena penuaan dan arteriosklerosis dan mungkin sebagai penyebab pada kebanyakan pasien. tidak sakit lagi selama beberapa waktu. 2. 3. Sifat nyeri yang paroksismal. neuroma akustik. Kesimpulan Wilkins. ETIOLOGI (PENYEBAB) Neuralgia Trigeminal Mekanisme patofisiologis yang mendasari NT belum begitu pasti. NT Tipikal. Penyebab lain yang mungkin. atau ada kawat di sepanjang wajahnya. Paroksisme nyeri analog dengan bangkitan dan yang menarik adalah sering dapat dikontrol dengan obat-obatan anti kejang (karbamazepin dan fenitoin). berasal dari sepanjang traktus sentral saraf kelima. AVM) dan kompresi oleh tulang (misal sekunder terhadap penyakit Paget). 4. Kenyataan bahwa suatu lesi kecil atau parsial pada ganglion gasserian dan/ atau akar-akar saraf sering menghilangkan nyeri. termasuk cedera perifer saraf kelima (misal karena tindakan dental) atau sklerosis multipel. Tampaknya sangat mungkin bahwa serangan nyeri mungkin menunjukkan suatu cetusan 'aberrant' dari aktivitas neuronal yang mungkin dimulai dengan memasukkan input melalui saraf kelima. KLASIFIKASI Neuralgia Trigeminal (NT) dapat dibedakan menjadi: 1. Serangan ini hilang timbul. Tidak seperti kebanyakan pasien dengan NT. 3. tetapi bisa juga menyebar dengan pola yang lebih luas. NT Paska Trauma. Failed Neuralgia Trigeminal. 1-8% pasien menunjukkan adanya tumor jinak sudut serebelopontin (meningioma. Namun.

Dengan peningkatan usia. yaitu discharge neuronal yang berlebihan dan pengurangan inhibisi. dan seterusnya. Tentang mengapa nyeri pasca herpes masih bertahan sampai waktu cukup lama dikatakan karena setelah sembuh dan selama masa regenerasi masih tetap terbentuk zat pembawa nyeri hingga kurun waktu yang berbeda. Sebagai contoh dikemukakan bahwa adanya iritasi kronis pada saraf ini. Bila tidak terbendung akhirnya akan menimbulkan serangan nyeri. Menurut Fromm. ataupun vertigo. hemifacial spasm. neuralgia Trigeminal bisa mempunyai penyebab perifer maupun sentral. Mengapa terjadi perpanjangan dan pembelokan pembuluh darah. tinnitus. tampaknya yang menjadi etiologi adalah adanya kompresi oleh salah satu arteri di dekatnya yang mengalami pemanjangan seiring dengan perjalanan usia. maka otak akan bergeser atau jatuh ke arah caudal di dalam fossa posterior dengan akibat makin besarnya kontak neurovaskuler yang tentunya akan memperbesar kemungkinan terjadinya penekanan pada saraf yang terkait. PATOFISIOLOGI Neuralgia Trigeminal dapat terjadi akibat berbagai kondisi yang melibatkan sistem persarafan trigeminus ipsilateral. sudah bisa menimbulkan neuralgia. dianggap bahwa lesi pada saraf akan mengaktifkan nociceptors yang berakibat terjadinya nyeri. atau pada nukleus sensorik utama nervus trigeminus. pemeriksaan dan test neurologis (misalnya CT scan) tak begitu jelas. Keadaan ini. bisa menimbulkan kegagalan pada inhibisi segmental pada nukleus/ inti saraf ini yang menimbulkan produksi ectopic action potential pada saraf Trigeminal. waktu ini relatif singkat. Efek terapeutik yang efektif dari obat yang diketahui bekerja secara sentral membuktikan adanya mekanisme sentral dari neuralgi. semua saraf yang digolongkan pada sindroma ini mempunyai satu kesamaan: mereka semuanya terletak pada pons atau medulla oblongata serta dikelilingi oleh banyak arteri dan vena. misalnya dengan diameter 50-100 um saja. Menurut dia.F. Peter Janetta menggolongkan neuralgia glossopharyngeal dan hemifacial spasm dalam kelompok "Syndromes of Cranial Nerve Hyperactivity". Pada nyeri Trigeminal pasca infeksi virus. pola diet. Pada kebanyakan kasus. dikatakan bahwa mungkin sebabnya terletak pada predisposisi genetik yang ditambah dengan beberapa faktor pola hidup. Akan tetapi. Kompresi pembuluh darah yang berdenyut. terdapat dua proses yang sebenarnya merupakan proses penuaan yang wajar: 1. Walaupun hanya kecil. 2. Misalnya. Lima sampai delapan persen kasus disebabkan oleh adanya tumor benigna pada sudut serebelo-pontin seperti meningioma. atau neurinoma akustik. Letak kompresi berhubungan dengan gejala klinis yang timbul. Bila dilakukan microvascular decompression secara benar. Umumnya. Ada sebagian kasus yang tidak diketahui sebabnya. kompresi pada bagian rostral dari nervus trigeminus akan mengakibatkan neuralgia pada cabang oftalmicus dari nervus trigeminus. yaitu merokok. Stimulus yang sederhana pada daerah pencetus mengakibatkan terjadinya serangan nyeri. Aksi potensial antidromik ini dirasakan oleh pasien sebagai serangan nyeri trigerminal yang paroksismal. adalah penyebab utamanya. sekitar 90% dari neuralgia Trigeminal penyebabnya adalah adanya arteri "salah tempat" yang melingkari serabut saraf ini pada usia lanjut. Tentang bagaimana multipel sklerosis bisa disertai nyeri Trigeminal diingatkan akan adanya demyelinating plaques pada tempat masuknya saraf. Pembuluh darah yang menekan tidak harus berdiameter besar. apapun penyebabnya. Ada kemungkinan terjadi kompresi vaskuler sebagai dasar penyebab umum dari sindroma saraf kranial ini. Memanjang serta melingkarnya arteri pada dasar otak. dan sebagainya. tumor epidermoid. DIAGNOSIS Kunci diagnosis adalah riwayat. Nyeri mulai pada distribusi divisi 2 atau 3 saraf . pada usia lanjut nyeri bisa berlangsung sangat lama. mengakibatkan jalur sensorik yang hiperaktif. baik dari arteri maupun vena. Pada orang usia muda. Kira-kira 2-3% kasus karena sklerosis multipel. Pemberian antiviral yang cepat dan dalam dosis yang adekuat akan sangat mempersingkat lamanya nyeri ini. Faktor riwayat paling penting adalah distribusi nyeri dan terjadinya 'serangan' nyeri dengan interval bebas nyeri relatif lama. Menurut Calvin. Pada genesis dari sindroma hiperaktif ini. tepat pada pangkal tempat keluarnya saraf ini dari batang otak. misalnya pasca herpes. keluhan akan hilang. karena terjadinya atrofi. G.

Tidak terdapat gangguan sensorik pada neuralgi Trigeminal murni. deviasi dagu). serangan nyeri timbul mendadak. Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti CT-scan kepala atau MRI dilakukan untuk mencari etiologi primer di daerah posterior atau sudut serebelo-pontin. · Menentukan waktu dimulainya neuralgia Trigeminal dan mekanisme pemicunya. Sebaliknya. Keadaan ini perlu dibedakan dengan gerak otot muka yang bisa menyertai neuralgi biasa. · Menilai EOM.kelima. akhirnya sering menyerang keduanya. · Menentukan interval bebas nyeri. Nyeri seringkali terpancing bila suatu daerah tertentu dirangsang (trigger areaatau trigger zone). dan dirasakan pada satu bagian dari saraf Trigeminal. anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan sebagai berikut: Anamnesis · Lokalisasi nyeri. efek samping. Pemeriksaan Fisik · Menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral (termasuk refleks kornea). Pemeriksaan neurologik pada neuralgi Trigeminal hampir selalu normal. Tic convulsive yang disertai nyeri hebat lebih sering dijumpai di daerah sekitar mata dan lebih sering dijumpai pada wanita. Biasanya. untuk menentukan cabang nervus trigeminus yang terkena. Rangsang dengan cara lain. Trigger zones sering dijumpai di sekitar cuping hidung atau sudut mulut. Suatu varian neuralgia Trigeminal yang dinamakan tic convulsive ditandai dengan kontraksi sesisih dari otot muka yang disertai nyeri yang hebat. · Menilai fungsi mengunyah (masseter) dan fungsi pterygoideus (membuka mulut. · Menanyakan riwayat penyakit herpes. tidak dapat memancing terjadinya serangan neuralgi. misalnya dengan menggunakan panas. walaupun menyebabkan nyeri pada tempat itu. misalnya bagian rahang atau sekitar pipi. durasinya pendek (kurang dari satu menit). · Menentukan lama. dosis. sangat hebat. yang dinamakan tic douloureux. Beberapa kasus mulai pada divisi 1. dan respons terhadap pengobatan. Secara sistematis. Dilaporkan adanya gangguan sensorik pada neuralgia Trigeminal yang menyertai multiple sclerosis. Yang unik dari trigger zone ini adalah rangsangannya harus berupa sentuhan atau tekanan pada kulit atau rambut di daerah tersebut. sekitar 1-2% pasien dengan MS juga menderita neuralgia Trigeminal yang dalam hal ini bisa bilateral. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful