P. 1
MATERI EVALUASI PENGAJARAN

MATERI EVALUASI PENGAJARAN

|Views: 1,174|Likes:
Published by apersijaplover_s

More info:

Published by: apersijaplover_s on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • CARA MENGOLAH SKOR/NILAI DAN MENCARI NILAI AKHIR
  • EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN 1. Pendahuluan

Validitas Alat Evaluasi

By ishaq madeamin on Minggu, 05 Juni 2011

Salah satu komponen terpenting yang menentukan hasil dari pelaksanaan
evaluasi adalah kualitas alat evaluasi yang digunakan. Baik digunakan dalam
proses penelitian yang menggunakan metode kuantitatif maupun evaluasi
dalam proses bukan dalam bentuk penelitian.

Alat evaluasi yang digunakan dalam proses-proses yang disebutkan di atas
(termasuk instrumen tes) dapat disebut berkualitas apabila memenuhi
beberapa kriteria, diantaranya:
1.Validitas,
2.Reliabilitas, [baca 1 dan baca 2]
3.Objektivitas dan Kepraktisan [baca]

Validitas

Validitas memiliki pengertian valid, sahih, atau tepat. Suatu alat evaluasi
dikatakan valid (sahih) jika alat evaluasi tersebut mampu mengevaluasi apa
yang seharusnya dievaluasi. Atau, dengan kata lain alat evaluasi (instrumen)
tersebut memiliki tingkat kevalidan apabila memiliki ketepatan dalam
melakukan evaluasi.
Bahasa sederhananya "alat evalusi atau instrumen-instrumen yang
digunakan bertujuan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur."

Dalam menganalisis tingkat validitas alat evaluasi (termasuk instrumen)
tergantung jenis alat evaluasi yang digunakan. Misalkan alat evaluasi dalam
bentuk buku siswa, LKS, dan sbg. maka lebih cocok diukur tingkat
kesahihannya dengan menggunakan pendapat pakar atau jika alat evalusi
dalam bentuk tes lebih baik menggunakan validator siswa dalam hal ini
dilakukan uji coba kepada siswa.

Beberapa jenis validasi berdasarkan cara-cara melakukan pengukuran
tingkat validitas sebuah alat evaluasi, yaitu validitas teoritik (validitas logika)
dan validitas empirik (validitas kriterium).

1.Validitas Teoritik (Validitas Logika)
Validitas teoritik atau validitas logika lebih menekankan pada tingkat
ketepatan alat evaluasi ditinjaui dari isi (materi) alat evaluasi tersebut.
Oleh karena itu validitas teoritik lebih tepat dilakukan dengan meminta
pertimbangan para pakar. Tentunya pakar yang dimaksud adalah
orang-orang yang memiliki keahliaan pada bisangnya. Misalnya
mengukur validitas sebuah media pembelajaran komputer, maka
pakar yang dimaksud adalah ahli yang berkecimpung pada dunia
media pembelajaran baik dari segi pekerjaan atau keahlian
berdasarkan gelar tingkat pendidikan. Berikut jenis-jenis validitas
teoritik:

○Validitas Isi

Validitas isi berkenan dengan tingkat ketepatan alat evaluasi
tersebut ditinjau dari segi materi. Suatu alat evaluasi dikatakan
memiliki validitas isi jika mengukur tujuan khusus tertentu yang
sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang dievaluasi.
○Validitas Konstruksi
Validitas konstruksi berkenan dengan kesesuaian butir dengan
tujuan pembelajaran khusus (atau indikator hasil belajar). Suatu
alat evalusi dikatakan memiliki validitas konstruksi jika butir-
butir pertanyaan atau pernyataan pada alat evaluasi tersebut
mengukur tujuan pembelajaran khusus (atau indikator hasil
belajar) yang telah ditetapkan
Beberapa diantaranya yang diukur validitasnya dalam validitas teoritik
adalah tujuan, isi materi, bahasan, dll. Beberapa format validitas
(lembaran penilaian) untuk/dari validator biasanya digabungkan antara
validitas isi maupun validitas konstruksi.

2.Validitas Empirik (Validitas Kriterium)
Validitas empirik atau validitas kriterium adalah validitas yang
bertujuan untuk mengukur ketepatan sebuah alat evalusi berdasarkan
kriterium tertentu. Validitas kriterium lebih banyak menggunakan
validator dari subjek walaupun tidak menutup kemungkinan
menggunakan (validatornya) adalah ahli. Validitas kriterium juga
memliki dua jenis, yaitu:
○Validitas Banding
Validitas banding disebut demikian jika alat evaluasi tersebut
tepat mengukur dengan berdsarakan pengalaman.
○Validitas Ramalan
Validitas ramalan adalah validitas yang tepat mengukur dalam
memprediksi kejadian di masa mendatang.
Jika proses pengumpulan data hasil penilaian validator maka selanjutnya
adalah menganalisis hasil penilaian tersebut. Analisis tersebut dimaksudkan
untuk menentukan korelasi antara skor yang dikumpulkan melalui alat
evaluasi tersebut dengan skor yang telah ada atau melalui alat ukur lainnya,
tentunya alat ukur yang telah dibakukan dan diasumsikan memiliki tingkat
validitas yang tinggi.
Beberapa jenis analisis yang dapat digunakan untuk menentukan koefisien
validitasnya, antara lain:
1.Korelasi Product Moment dengan Simpangan
Korelasi Product Moment, dengan persamaan:

Keterangan:

rxy adalah koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
x adalah selilih antara X dengan X rata-rata (x =X-Xrata-rata)
y adalah selilih antara X dengan X rata-rata (y =Y-Yrata-rata)
2.Korelasi Product Moment dengan Angka Kasar
Korelasi Product Moment dengan Angka Kasar, dengan persamaan:

Keterangan, N adalah banyaknya subjek
3.Korelasi Metode Ranking
Korelasi Metode Ranking, dengan persamaan:

Keterangan: N adalah jumlah subjek dan d adalah selisih rangking
antara X dan Y
Hasil analisis data dalam menentukan koefisien validitasnya selanjutnya
dicocokan dengan kriteria validitas dari alat evaluasi tersebut, yaitu:

Koefisien
validitas

Kriteria

0,80 - 1,00

Sangat tinggi

0,60 - 0,80

Tinggi

0,40 - 0,60

Sedang

0,20 - 0,40

Rendah

0,00 - 0,20

Sangat rendah

< 0,00

Tidak valid

Apakah dengan kriteria Sangat Rendah, Rendah, dan Sedang masuk
pada kategori valid atau tidak?,
Untuk menghindari rendahnya tingkat validitas terutama pada kategori valid
Rendah dan Sangat Rendah atau berada pada koefisien validitas di
bawah nilai 0,40
dikategorikan tidak valid hal ini bertujuan untuk
mempertahankan tingkat kesahihan alat evaluasi tersebut, sedangkan pada
koefisien validitas 0,40-0,60 (kriteria sedang) dikategorikan valid setelah
sebelumnya diadakan revisi terhadap alat evaluasi tersebut.

Rabu, 07 Juli 2010

OBYEK, SUBYEK DAN ALAT-ALAT EVALUASI

A.OBYEK EVALUASI PENDIDIKAN

Yang dimaksud dengan obyek atau sasaran evaluasi pendidikan adalah
segala sesuatu yang bertalian dengan kegiatan atau proses pendidikan,
yang dijadikan titik pusat perhatian atau pengamatan, karena pihak penilai
(evaluator) ingin memperoleh informasi tentang kegiatan atau proses
pendidikan tersebut (Anas Sudijono : 2003). Sedangkan Suharmi Arikunto
menjelaskan Obyek atau sasaran Penilaian adalah segala sesuatu yng
menjadi titik pusat pengamatan karena penilai ingin informasi tentang
sesuatu tersebut.

Salah satu cara untuk mengenal atau mengetahui obyek dari evaluasi adalah
dengan cara menyoroti dari tiga segi, yaitu dari segi Input, Transpormasi,
dan Output.
Dibawah ini akan diuraikan secara rinci tentang obyek dari evaluasi
pendidikan.

1.Input

Dalam dunia Pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran
disekolah, input atau bahan mentah yang siapa untuk diolah, tidak lain
adalah para calon peserta didik, seperti calon siswa, calon mahasiswa dan
sebagainya. Dilihat dari segi input ini, maka obyek evaluasi pendidikan

meliputi empat aspek, yaitu (1) kemampuan, (2) kepribadian, (3) sikap, dan
(4) inteligensi.

a. Kemampuan

Untuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga atau sekolah
atau institusi, maka calon peserta didik harus memiliki kemampuan yang
sesuai atau memadai, sehingga dalam mengikuti proses pembelajaran pada
program pendidikan tertentu itu nantinya, peserta didik tidak akan
mengalami banyak hambatan atau esulitan. Alat Ukur yang digunakan untuk
mengukur kemapuan ini disebut tes kemampuan atau aptitude test (Anas
Sudijono : 2003).

b. Kepribadian

Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri seseorang
manusia dan menampakan bentuk dalam tingkah laku. Sebelum mengikuti
program pendidikan tertentu, para calon peserta didik perlu terlebih dahulu
dievaluasi kepribadiannya masing-masing, sebab baik buruknya kepribadian
mereka secara psikologis akan dapat mempengaruhi keberhasilan mereka
dalam mengikuti program pendidikan tertentu. Alat untuk mengetahui
kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau personality test.

c. Sikap

Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia
sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun
karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat
dibutuhkan dalam pergaulan, maka banyak orang yang mengiginkan
informasi khusus tentangnya. Karena itu maka aspek sikap perlu dinilai atau
dievaluasi terlebih dahulu bagi para calon tenaga pendidik sebelum
mengikuti program pendidian tertentu. Untuk menilai sikap tersebut
digunaan alat berupa tes sikap (attitude test), atau sering dikenal dengan
skala sikap (attitude scale), sebabb test tersebut berbentuk skala.

d. Inteligensi

Untuk megetahui tingkat inteligensi ini menggunakan tes inteligensi
yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Dalam hal ini yang terkenal
adalah tes buatan Binet dan Simon yang dikenal dengan test Binet-Simon.
Selain itu ada juga tes lainya seperti SPM, Tintum dan sebagainya. Dari hasil
tes akan diketahui IQ (inteligensi Quotien) orang tersebut. IQ bukanlah

inteligensi. IQ berbeda dengan inteligensi karena IQ hanyalah angka yang
memberikan petunjuk tinggi rendahnya inteligensi seseorang.

2.Transpormasi

Apabila disoroti dari segi transpormasi, maka obyek dari evaluasi pendidikan
itu meliputi:
a. Kurikulum atau materi pelajaran

b. Metode mengajar atau teknik penilaian

c. Sarana atau media pendidikan

d. Sistem administrasi

e. Guru atau unsure-unsur personal lainnya yang terlibat dalam proses
pendidikan.

Transpormasi dapat di ibaratkan sebagai “mesin pengolah yang
bertugas untuk mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi”, aan
memegang peranan yang sangat penting. Ia dapat menjadi faktor penentu
yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam upaya
pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan, karena itu obyek-
obyek yang termasuk dalam transformasi itu perlu dinilai atau dievaluasi
secara berkesinambungan. Kurikulum yang tidak sejalan dengan tujuan
pendidikan yang ingin dicapai, dapat menyebabkan terjadinya kegagalan
dalam pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Penggunaan metode-metode
mengajar yang kurang tepat, teknik penilaian yang tidak memperhatikan
memperhatikan prinsip-prinsip dasar evaluasi itu sendiri, sarana pendidikan
yang tidak atau kurang memadai, sistim administrasi yang bersifat acak-
acakan, pimpinan lembaga pedidikan, tenaga pengajar atau karyawan yang
tidak professional, semua itu akan sangat mempengaruhi proses “
pengolahan bahan mentah” menjadi “bahan jadi yang siap untuk dipakai”.

3.Output

Adapun yang dari segi output yang menjadi sasaran evaluasi pendidikan
adalah tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang behasil diraih oleh
masing-masing peserta didik, setelah mereka terlibat dalam proses
pendidikan selama jangka waktu yang telah ditentukkan.
Untuk mengetahui seberapa jauh tingkat pencapaian atau prestasi belajar
yang diraih oleh peserta didik itu, digunakan alat yang berupa Test Prestasi

Belajar atau Test Hasil Belajar, yang biasa dikenal dengan istilah tes
pencapaian (achievement test).

B. SUBYEK EVALUASI PENDIDIKAN

Subyek atau pelaku evaluasi pendidikan adalah orang yang
melakuakan pekerjaan evaluasi dalam bidang pendidikan. Dalam kegiatan
evaluasi pendidikan dimana sasaran evaluasinya adalah prestasi belajar,
maka subyek evaluasinya adalah guru atau dosen yang mengasuh mata
pelajaran tertentu. Jika evaluasi yang dilakuakn tersebut sasarannya adalah
sikap peserta didik, maka subyek evaluasinya adalah guru atau petugas
yang sebelum melaksanakan evaluasi tentang sikap itu, terlebih dahulu telah
memperoleh pendidikan atau latihan (training) mengenai cara-cara menilai
sikap seseorang.adapun apabila yang dievaluasi adalah kepribadian peserta
didik, dimana pengukuran tentang kepribadian itu dilakukan dengan
instrument berupa tes yang sifatnya baku (standardized test), maka subbyek
evaluasinya tidak bias lain kecuali seorang psikolog; yaitu seorang yang
memang telah dididik untuk menjadi tenaga ahli yang professional dibidang
psikolog. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa disamping alat-alat
evaluasi yang digunakan untuk mengukur kepribadian seseorang itu sifatnya
rahasia, juga hasil-hasil pengukuran yang diperoleh dari tes kepribadian itu,
hanya dapat diiinterpretasikan dan disimpulkan oleh para psikolog tersebut,
tidak mungkin dapat dikerjakan oleh orang lain.

C. ALAT-ALAT EVALUASI

Secara gasir besar, maka alat-alat evaluasi yang digunakan dapat
digolongkan menjadi dua macam, yaitu tes dan non tes. Dibawah ini akan
dijelaskan secara rinci macam-macam tes dan non tes

1.Teknik Test

Dibawah ini ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai pengertian tes.
a. Dalam bukunya “ Evaluasi Pendidikan”, Drs. Amin Daien Indrakusuma
mengatakan bahwa tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan
obyektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang
diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan
cepat.

b. Dalam bukunya “ Teknik-teknik Evaluasi”, mucthar Bukhori mengatakan
tes ialah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau

tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok
murid.

c. Dalam buku “Encyclopedia of Educational Evaluation”, Scarvia B. Anderson
mengatakan Test is comprehensive assessment of an individual or to an
antire program evaluation effort (tes adalah penilaian yang kompherensif-
terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program.

Test berfungsi untuk mengukur siswa dan untuk mengukur
keberhasilan program pengajaran. Tes hasil belajar dibedakan atas beberapa
jenis. Dan pembagian jenis-jenis tes ini dapat ditinjau dari beberapa sudut
pandang.

Berdasarkan atas jumlah peserta atau pengikut tes, maka tes
dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1) Tes individual

2) Tes kelompok

Ditinjau dari segi penyusunannya, tes dibedakan atas tiga jenis yaitu:

1) Tes buatan guru

2) Tes buatan orang lain yang tidak distandarisasi

3) Tes standar atau tes yang sudah distandarisasi

Ditinjau dari bentuk pertanyan yang diberikan tes dapat dibedakan atas

dua jenis, yaitu:

1)Tes subjektif

Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang
terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang
bersifat uraian dan atau penjelasan. Secara umum tes uraian ini adalah
pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan,
penjelasan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk
lain sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-
kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut
kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa
tulisan.

Kebaikan tes essay

Dapat untuk mengukur hasil belajar yang kompleks antara lain :

a. Aplikasi Prinsip

b. Interpretasi hubungan

c. Mangenal dan menyatakan informasi

d. Mengenal relevansi dari suatu informasi

e. Merumuskan dan mengenal hipotesis

f. Merumuskan dan mengenal kesimpulan yang sahih

g. Mengindentifikasi asumsi yang mendasarkan suatu kesimpulan

Kelemahan tes essay

a. Reliabilitas rendah

b. Perlu banyak waktu

c. Jawaban erkadang seenaknya dan juga banyak membaca sehingga
mubazir

d. Jawaban peserta tes tidak mampu mewakili aspek tingkah laku atau sikap
sebagai hasil belajar

Penggunaan tes essay yang tepat :

1. Jumlah siswa relative sedikit

2. Jika waktu/ kesempatan untuk memprsiapkan soal-soal terbatas / sanggat
mendesak

3. Jika mengiginkan informasi tentang sikap, nilai atau pendapat dari peserta
tes

4. Jika ingin memperoleh pengalaman belajar dari siswa

2) Tes obyektif

Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan
secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatsi kelemahan-
kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes- objektif ini jumlah
soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay.
Tes objektif disebut juga dengan istilah short answer test atau new type test.
Yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih diantara
alternatif jawaban yang dianggap benar dan paling benar.

Tes obyektif ada beberapa jenis, yaitu:

True-False (benar Salah)¬

Multiple choice (pilihan ganda)¬

Matching (mencocokan)¬

Completion (penyelesaian)¬

Kebaikan tes obyektif

a. Tes obyektif item-item yang dapat dijawab dengan memilih alternative-
alternatif yang telah tersedia, maka tes obyektif dapat dijawab dengan
cepat.

b. Reliabilitas skor yang diberikan terhadap perkerjaan anak-anak dapat
dijamin sepenuhnya.

c. Dapat dikoreksi dengan cepat, dengan kunci jawaban yang sudah ada.

Kelemahan tes obyektif

a. Siswa akan menerka-nerka dalam menjawab soal.

b. Di butuhkan biaya yang cukup besar untuk mencetak atau menstensil tes
tersebut

Ditinjau untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas tiga macam test,
yaitu :

1)Tes Diagnostik

Tes Diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-
kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut
dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.

1)Tes Formatif

Dari kata “from” yang merupakan dasar dari istilah “foematif” maka evaluasi
formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentu
setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti
ini tes formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada akhir
pelajaran.

Evaluasi formatif mempunyai manfaat baik bagi siswa, guru, maupun bagi
program itu sendiri.

a)Manfaat bagi siswa
Untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program
secara menyeluruh.
Merupakan penguatan (reinforcement) bagi siswa.
Usaha perbaikan.
Sebagai diagnose.

a)Manfaat bagi guru
Mengetahui sejauh mana bahan yang diajarkan sudah dapat diterima
oleh siswa.
Mengetahui bagian mana dari bahan pelajaran yang belum pelajaran
yang belum menjadi milik siswa.
Dapat meramalkan sukses atau tidaknya seluruh program yang akn
diketahui.

a)Manfaat bagi program itu

Setelah diadakan test formatif maka diperoleh hasil. Dari hasil tersebut
dapat diketahui.

Apakah program yang diberikan merupakan program yang tepat dalam
arti sesuai dengan kecakapan anak.
Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan
prasyarat yang belum diperhitungkan.
Apakah diperlukan alat, sarana dan prasarana untuk mempertinggi
hasil yang akan dicapai.
Apakah metode, pendekatan dan alat evaluasi yang digunakan sudah

tepat.

1)Tes Sumatif

Evaluasi sumatif atau tes sumatif merupakan tes yang dilaksanakan setelah
berakhirnya sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar.

Manfaat test sumatif, ialah:

Untuk menentukan nilai.
Untuk menentukan seorang anak dapat atau tidaknya mengikuti
kelompok dalam menerima program berikutnya.

Ditinjau jenis tes hasil belajar dari segi bentuk jawaban atau bentuk respon,
maka tes hasil belajar dibedakan atas dua jenis yaitu ;

2. Tes tidakan, yaitu apabila jawaban atau respon yang diberikan oleh anak
itu berbentuk tingkah laku.
3. Tes verbal, yaitu apabila jawaban atau respon yang diberikan oleh anak
berbentuk bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memilki
persyaratan tes, yaitu memiliki:
1) Validitas

Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa
yang hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses
belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu
ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada
pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
guru dalam arti relevan pada permasalahannya.

1)Reliabilitas

Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat
dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila
diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes
tersebut menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka:
Validitas adalah ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan.

2)Objektivitas

Sebuah dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu
tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada
sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas
menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas
menekankan ketetapan dalam hasil tes.

3)Prakitikabilitas

Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut
bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah
yang: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan
petunjuk-petunjuk yang jelas.

4)Ekonomis

Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan
waktu yang lama.

1.Teknik Non Tes

Yang tergolong teknik non tes adalah:

–Skala bertingkat (rating scala)
–Kuesioner (questioner)
–Daftar cocok (check-list)
–Wawancara (interview)
–Pengamatan (observation)
–Riwayat hidup

Dibawah ini akan diuraikan secara rinci macam-macam teknik non test.

a.Skala bertingkat (rating scala)

Skala menggambaran suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu
hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan “Rating gives a
numerical value to some kind of judgement”, maka suatu skala selalu
disajikan dalam bentuk angka. Atau dengan kata lain yang dimaksud dengan
skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk
mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya
penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan

b.Kuesioner (questioner)

Kuesioner (questioner) juga sering dikenal sebagai angket. Pada
dasarnya, kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh
orang yang akan diukur (responden. Dengan kuesioner ini ini orang dapat
diketahui tentang keadaan/data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap atau
pendapatnya dan lain-lain.

Kuesioner dapat dibagi menjadi beberapa macam yang dapat dilihat dari
beberapa segi,, yaitu:

1) Ditinjau dari segi siapa yang menjawab

• Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang
yang diminta jawabannya.
• Kuesioner tidak langsung adalah kuesioner tidak langsung dijawab oleh
secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab

seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang
yang buta huruf maka- dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota
keluarganya.

2) Ditinjau dari segi cara menjawab

• Kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab
diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci
sesuai dengan apa yang ia ketahui.
• Kuesioner tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih
jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√)
pada awaban yang ia anggap sesuai.

c.Daftar cocok (check-list)

Daftar cocok adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan
dijawab dengan membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah
disediakan.

d.Wawancara (interview)

Wawancara adalah semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau
lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang
lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya.

e.Pengamatan (observation)

Pengamatan adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti
secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat
dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa disekolah.
Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek
pribadi siswa, maka pengamtan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes
lainnya.
Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu :

1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok
yang diamati.

2) Observasi sistematik, pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang
diamati.

3) Observasi eksperimental, pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok.

f. Riwayat hidup

Riwayat hidup adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data
pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari
riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dpat menarik suatu kesimpulan
tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.

PROSEDUR PENYUSUNAN HASIL BELAJAR

Posted on 30 Juni 2008 by Abdul Majid

1. Langkah-Langkah dalam Penyusunan Tes Hasil Belajar

Adapun beberapa Langkah-langkah dalam penyusunan tes hasil belajar
adalah :

1.mendefinisikan tujuan-tujuan pembelajaran dan lingkup bahan ajar
yang mestinya diungkap
2.menyusun kisi-kisi
3.membuat atau menulis soal sekaligus dengan kunci jawaban.
Mengadakan pemeriksaan terhaadap butir soal secara rasional.
4.mengorganisasikan tes menurut tipe-tipe soal yang dibuat.
5.membuat petunjuk pengerjaan soal.
6.mengadakan uji coba (try out)
7.merevisi soal
8.mengorganisasikan kembali soal dalam bentuk final
9.memperbanyak soal

2. Jenis Tes Hasil Belajar

Secara garis besar terdapat tiga jenis hasil belajar yakni : tes tertulis, tes
lisan dan tes tindakan.
Dalam tes tertulis ada dua perangkat alat yang harus disediakan yakni
lembar soal yang sudah lengkap dengan petunjuk pegerjaannya dan lembar
jawaban yang akan diisi oleh siswa. Sedangakan didalalam tes lisan
dilakukan dalam suatu komunikasi langsung antara tester dan testi. Pada tes
ini tester mengajukan persoalan secara lisan dan testi harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan secara lisan pula. Perangkat yang digunakan adalah
pokok-pokok pertanyaan yang akan diajukan dan pedoman penyekoran
jawaban.
Berdeda dengan kedua tes diatas, isi uji dalam tes tindakan tidak disajikan
dalam bentuk pertannyaan melainkan dalam bentuk tugas. Dalam hal ini
testi melakukan suatu kegiatan berdasarkan intruksi atau petunjuk tertentu
dan tester mengamati keterampilan testi dalam menyelesaikan tugas
tersebut. Hal yang harus disiapkan disini adalah petunjuk atau intruksi
tentang kegiatan yang harus dilakukan, dan perlengkapan atau alat-alat
praktek yang diperlukan, serta pedoman pengamatan (pedoman penilaian).
Lazimnya tes tindakan ini disebut ujian praktek.
Pemiihan jenis-jenis ts yang harus digunakan tergantung pada banyak factor
yang perlu dipertimbangkan:

Pertama : pertimbangan terhadap aspek perilaku atau bahan ajar yang akan
diungkap.
Kedua : pertimbangan terhadapa waktu yang tersedia.
Ketiga : pertimbangan jumblah peserta tes.
Keempat : pertimbangan terhadap kelengkapan fasilitas yang dibutuhkan.

3. Penyusunan Tes Hasil Belajar
a. Peryusunan Tes Tertulis

Pada dasarnya ada dua bentuk soal tes tertulis yang lazim kita gunakan
yakni: tes uraian dan tes objektif.
1. Tes Uraian
Tes uraian merupakan suatu bentuk soal yang harus dijawab atau
dipecahkan oleh testi dengan cara mengemukan pendapat secara terurai.
Dalam tes ini memungkinkan timbulnya variasi dalam jawaban yang
diberikan oleh testi (siswa) karena jawaban yang diberikan bersifat subjektif.
Tes uraian biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang
relative tinggi dan kompleks.
Adapun keunggulan dan kelemahan tes uraian yaitu:
Keunggulan :

a.Dapat mengungkap aspek-aspek pengetahuan atau perilaku yang
kompleks secara leluasa
b.Menuntut siswa untuk mengintegrasikan pengetahuan dalam
menjawab persoalan
c.Menunutut kreatifitas siswa untuk mengorganisasikan sendiri
jawabannya.
d.Dapat melihat jalan pikiran siswa dalam menjawab persoalan.
e.Tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk menebak jawaban.

Kelemahan:

a.Ruang lingkup yang diungkap sangat terbatas.
b.Memungkinkan timbulnya keragaman dalam memberikan jawaban
sehingga tidak ada rumusan benar yang pasti.
c.Lebih memberikan peluang untuk bersifat subjektif
d.Proses penyekoran sering terganggu oeh factor-faktor lain diluar
maksut pengukuran, misalnya keindahan dan kerapian tulisan.

2. Tes Objektif

Berbeda dengan tes uraian, tugas-tugas dan persoalan-pesoalan dalam tes
objektif sudah terstruktur, sehingga jawaban terhadap soal-soal tersebut
sudah dapat ditentukan secara pasti.
Adapun keunggulan-keunggulan dan kelemahan-kelemahan tes objektif
adalah :
Keunggulan :

a.Waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat
b.Panjang pendeknya suatu tes (banyak sedikitnya butir soal) bisa
berpengaruh terhadap kadar reliabilitas
c.Proses pensekoran dapat dilakukan secara mudah karena kunci
jawaban dapat dibuat secara pasti
d.Proses penilaian dapat dilakukan secara objektif karena kunci jawaban
sudah dapat ditentukan secara pasti.

Kelemahan :

a.Terdapat kemungkinan untuk dapat menebak jawaban dengan tepat.
Tidak dapat mengetahui jalan pikiran testi dalam menjawab suatu
pesoalan.
b.Membatasi kreativitas siswa dalam menyusun jawaban sendiri.
c.Bahan ajar yang diungkap dengan ts objektif, pada umumnya lebih
terbatas pada hal-hal yang factual.

b. Penyusunan Tes Lisan

Pada dasarnya tes lisan sama dengan tes uraian, perbedaannya terletak
pada pelaksanaannya. Tes lisan dilakukan dalam suatu komunikasi langsung
antara tester dan testi.
Tes lisan digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar berupa kemampuan
untuk mengemukakan pendapat-pendapat atau gagasan-gagasan secara
lisan. Jika bahan ajar yang diajukan sama maka ideal sekali kalau siswa
mendapat perangkat soal yang sama, tetapi hal ini sulit untuk dilakukan
secara serempak terhadap semua testi oleh tester yang sama.
Adapun keunggulan-keunggulan dan kelemahan dari tes lisan adalah :
Keunggulan :
a.

1.Mengukur kemampuan berpikir taraf tinggi secara lebih leluasa.

2.Memungkinkan untuk melakukan pengecekan
3.Tak ada kesempatan untuk menyontek

Kelemahan :

1.Lebih memungkinkan untuk terjadinya ketidakadilan
2.Memungkinkan penguji untuk menyimpang dari lingkup bahan ajar
yang diujikan
3.Membutuhkan waktu yang relative lebih lama
4.Memerlukan banyak format intrumen
5.Peluang subjektivitas dalam penilaian lebih terbuka.

c. Penyusunan Tes Tindakan

Tes tindakan dimaksutkan untuk mengukur keterampilan siswa dalam
melakukan suatu kegiatan. Dalam tes tindakan persoalan disajikan dalam
bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh testi. Pada intinya ada dua unsur
yang yang bisa dijadikan bahan penilaian dalam tes tidakan yaitu: proses
dan produk.
Adapun keunggulan dan kelemahan dari tes tindakan ini adalah :
Keunggulan :

1.Cocok untuk mengukur aspek perilaku psikomotor
2.Dapat digunakan untuk mengecek kesesuaian antara pengetahuan,
teori, dan keterampilan mempraktekkannya.
3.Tak ada kesempatan untuk menyontek

Kelemahan :

1.Lebih sulitdalam mengadakan pengukuran
2.Memerlukan biaya yang relative lebih besar
3.Memerlukan waktu yang relatif

Menganalisis Hasil Test

Posted on 20 Juni 2008 by Masyhuri Arifin

MENGANALISIS HASIL TES
1.Menilai tes yang dibuat sendiri
Guru yang sudah banyak berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal
tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh
karena itu cara yang paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang
diperoleh oleh siswa.
Ada 4 cara untuk menilai tes, yaitu:
a.Meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang
dapat diperoleh jawaban tentang ketidak jelasan perintah atau bahasa,
taraf kesukaran, dan lain-lain keadaan soal tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:
1)Apakah banyaknya soal untuk tiap topik sudah seimbang ?
2)Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan ?
3)Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan yang
membingungkan (dapat disalah tafsirkan) ?
4)Apakah soal itu tidak sukar untuk dimengerti ?
5)Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa ?
a.Mengadakan analisis soal (item analysis). Analisis soal adalah suatu

prosedur
Yang sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang
sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun.
Faedah mengadakan analisis soal:
1)Membantu kita dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.
2)Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk
menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.
3)Memperoleh gambaran secara selintas tentang keadaan yang kita

susun.

a.Mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes

buatan
Guru adalah validitas kurikuler.

b.Mengadakan checking reliabilita. Salah satu indikator untuk tes yang
Mempunyai realibilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal
tes itu mempunyai daya pembeda yang tinggi.
1.Analisis Butir Soal (Item Analysis)
Tiga masalah yang berkaitan dengan analisis soal, yaitu :
a.Taraf kesukaran
Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar.
Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha
memecahkannya. Sabaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan
siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba
lagi karena di luar jangkauannya.
Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut
indeks kesukaran (difficulty index) dengan simbol P ”proporsi”. Besarnya
indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks kesukaran
menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran 0,0
menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0
menunjukkan bahwa soalnya terlalu mudah.
Rumus mencari P adalah :
Dimana :
P = indeks kesukaran
B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Latihan :
Ada 20 orang dengan nama kode A s.d. T yang mengajarkan tes yang terdiri
dari 20 soal. Jawaban tesnya dianalisis dan jawaban tertera seperti berikut
ini.
(1 = jawaban betul; 0 = jawaban salah)
SISWA Nomor Soal Skor Siswa
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
A 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 13
B 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 11
C 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 14
D 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 9
E 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 14
F 0 0 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 0 8

G 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 13
H 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 1 9
I 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 17
J 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 13
K 1 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 10
L 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 4
M 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 13
N 0 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 16
O 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 12
P 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 1 1 10
Q 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 1 1 9
R 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 11
S 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 14
T 0 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 10
JUMLAH 10 14 4 9 15 6 18 17 3 11 10 18 20 10 9 7 10 14 13 13
Contoh penggunaan
Misalnya jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 orang. Dari 40
orang siwa tersebut 12 orang yanh dapat mengerjakan soal nomor 1 dengan
betul. Maka indeks kesukarannya adalah :
Dari tabel yang disajikan tersebut, dapat ditafsirkan bahwa:
- Soal nomor 1 mempunyai taraf kesukaran
- Soal nomor 9 adalah soal yang tersukar karena hanya dapat dijawab betul
oleh 2 orang
Indeks kesukaran sering diklasifikasikan sbb:
- Soal dengan P 1,00 sampai 0,30 adalah soal sukar
- Soal dengan P 0,30 sampai 0,70 adalah soal sedang
- Soal dengan P 0,70 sampai 1,00 adalah soal mudah
b.Daya Pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan
antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh
(berkemampuan rendah).
Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi (D). Kisaran indeks diskriminasi antara 0,00 sampai 1,00. Tetapi
indeks kesukaran tidak mengenal tanda (-), dan indeks diskriminasi ada
tanda negatif.Tanda negatif ini digunakan jika suatu soal ”terbalik”
menunjukkan kualitas testee.Yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak
bodoh disebut pandai.

Ada tiga titik daya pembeda yaitu:
-1,00 0,00 1,00
Daya pembeda daya pembeda daya pembeda tinggi
Negatif rendah (positif)
Cara menentukan daya pembeda ( nilai D)
Untuk ini perlu dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari 100) dan
kelompok besar (100 orang ke atas).
a). Untuk kelompok kecil
Seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar, 50 % kelompok atas dan 50
% kelompok bawah. Kemudian seluruh pengikut tes ,dideretkan mulai dari
skor teratas sampai terbawah, lalu dibagi 2.
b). Untuk kelompok besar
Untuk kelompok besar biasanya hanya diambil kedua kutubnya saja yaitu 27
% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27 % skor terbawah sebagai
terbawah (JB).
Rumus Mencari D (Indeks diskriminasi) adalah :
Keterangan :
J = Jumlah peserta tes
JA = banyaknya peserta kelomppok atas
JB = banyaknya peserta kelompok bawah
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan
benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan
benar
PA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar.
c.Pola jawaban soal
Pola jawaban soal adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan
jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan
menghitung banyaknya testee yang memilih jawaban a,b,c, , atau datau
yang tidak memilih pilihan manapun (blangko).
Dengan melihat pola jawaban soal , dapat diketahui :
1)Taraf kesukaran soal.
2)Daya pembeda soal.

3)Baik dan tidaknya distraktor.
Sesuatu distraktor dapat diperlakukan dengan tiga cara :
a.Diterima, karena sudah baik.
b.Ditolak, karena tidak baik.
c.Ditulis kembali, karena kurang baik.

BAB 1
PENDAHULUAN

Guru tidak dapat efektif jika tidak dapat mengukur secara akurat pencapaian
siswanya. Mengukur secara akurat ini penting sebab guru tidak dapat
membantu siswanya secara efektif jika tidak mengetahui pengetahuan dan
ketrampilan yang dikuasai siswanya dan pelajaran apa yang masih menjadi

masalah bagi siswanya. Hal yang sama pentingnya adalah guru tidak dapat
memperbaiki jika tidak memperoleh indikasi efektifitas dalam mengajar.

MENGUKUR PENCAPAIAN

Yang dimaksud dengan pencapaian adalah pengetahuan, pengertian, dan
ketrampilan yang dikuasai sebagai hasil pengalaman pendidikan khusus. Kita
mengartikan pengetahuan sebagai bagian tertentu dari informasi.
Pengertian mempunyai implikasi kemampuan mengekspresikan
pengetahuan ini ke berbagai cara, melihat hubungan dengan pengetahuan
lain, dan dapat mengaplikasikannya ke situasi baru, contoh dan masalah.
Ketrampilan kita artikan mengetahui bagaimana mengerjakan sesuatu .
Mengapa mengukur
Kita mengukur untuk menggambarkan pengetahuan dan ketrampilan siswa
atau sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Terdapat beberapa alasan
mengapa mengukur pencapaian siswa.
Umpan Balik
Fungsi penting pada tes pencapaian adalah memberikan umpan balik
dengan mempertimbangkan efektifitas pembelajaran. Pengetahuan pada
performance siswa membantu guru untuk mengevaluasi pembelajaran
mereka dengan menunjuk area dimana pembelajaran telah efektif dan area
dimana siswa belum menguasai. Informasi ini dapat dignakan untuk
merencanakan pembelajaran selanjutnya dan memberikan nasehat untuk
metode pembelajaran alternatif. Umpan balik memberikan beberapa fungsi.
Pertama menginformasikan kepada guru dan siswa mengenai tingkat
performance siswa pada suatu pembelajaran. Kedua memberikan informasi
diagnostic yang dapat digunakan untuk merencanaka pembelajaran
selanjutnya, dan atau remedial. Ketiga dengan mempertimbangkan hasil
beberapa tes, kita dapat memperoleh pengukuran kemajuan dan perbaikan
siswa.
Selain sebagai umpan balik alasan mengukur pencapaian adalah untuk
memberikan motivasi, menentukan peringkat, profisiensi adalah
memberikan sertifikat bahwa siswa telah mencapai tingkat kemampuan
(minimal ) dalam suau bidang tertentu.. Hasil pencapaian tes dapat juga
digunakan pada evaluasi pembelajaran.

Kapan mengukur pencapaian

· Pada permulaan pembelajaran
Untuk merencanakan pembelajaran yang efektif kita harus
mempertimbangakan kemampuan dan karakteristik siswa. Informasi ini

dapat diperoleh dari tes pencapaian. Selain itu informasi yang diperoleh
adalah penguasaan materi prasyarat. Hal lain yang dapat disaring dari tes
pencapaian ini adalah mengukur pengetahuan siswa mengenai materi yang
telah diajarkan.
· Selama pembelajaran.
Tes yang diberikan selama pembelajaran digunakan untuk menentukan
bagaimana kemajuan pembelajaran. Informasi ini kemudian dapat digunakn
unuk memodifikasi pembelajaran langsung dan belajar. Dan hal ini
digunakan sebagai evaluasi formative.
· Pada akhir pembelajaran
Tes ini akan mengukur seberapa bagus materi telah dipelajari dengan
membandingkan satu siswa dengan siswa lain atau dengan beberapa
profisiensi standar. Untuk guru pengukuran ini digunakan sebagi evaluasi
sumatif. Biasanya evaluasi ini digunakan sebagai dasar penentuan tingkatan
( grade ).
Bagaimana mengukur pencapaian
Beberapa metode yang tersedia adalah Informal dan metode Observasional
contohnya pengetahuan yang terlihat dari performance verbal dalam kelas,
menjawab pertanyaan, kontribusi dalam diskusi, pertanyaan yang diajukan
dsb. ; guru membuat tes sendiri contoh dengan kuis mingguan, pop kuis, tes
unit dsb. ; dan tes standar.

MERENCANAKAN TES

Dalam merencanakan tes kita harus mengetahui karakteristik instrumen
mengukur yang baik. Apa tujuan tes dan informasi apa yang ingin diperoleh
dalam tes sangat penting diperhatikan dalam merencanakan tes. Hal- hal
yang harus diperhatikan dalam merencanakan tes adalah :
· Relevansi
Tes harus mengukur hasil yang merefleksikan pencapaian tujuan dan tujuan
khusus suatu kursus. Tes harus mengandung materi yang telah
diajarkan,selain tu tes juga mengukur hanya pengetahuan dan ketrampilan
yang telah diajarkan dalam kursus
· Pengambilan sampel yang tepat.
Setiap item tes harus merefleksikan hasil pembelajaran yang diinginkan. Jika
hal ni tidak mungin maka tes harus mencakup sampling representatitif hasil
pembelajaran ang penting.
· Kondisi standar
Jika pengguna tes tidak menggunakan tes dibawah kondisi yang sama
( waktu yang diberikan sama, tingkat kesukaran dan content sama dsb ),

perbedaan faktor akan mempengaruhi performance sehingga skor mereka
tidak dapat langsung dibandingkan.
· Kesukaran yang sesuai
Kesukaran item didefinisikan sebagai persentase manusia yang menjawab
item dengan benar.Kesukaran item ditentukan beberapa hal antara lain
umur siswa. Dalam mastery testing item yang bagus akan dijawab benar
oleh siswa yang menguasai materi. Dalam keadaan lain kesukaran item
digunakan untuk menentukan grade, tujuan testing untuk membedakan
antara siswa yang memiliki berbagai tingkat pengetahuan mengenai suatu
subyek.
· Konsistensi
Konsistensi atau reliability adalah hal penting dalam tes karena jika tes tidak
menguur secar konsisten skor individu akan bervariasi dari waktu ke waktu.s
· Skor yang penuh arti
Skor akan memberikan informasi yang berguna, skor yang akurat akan
menggambarkan pencapaian siswa dan dapat digunakan untuk mengambil
keputusan.
Dalam merencanakan suatu tes terdapat tiga metode. Metode I
merencanakan tes content/ skill. Pengukuran pencapaian disini dengan
memperhatikan pengetahuan (dimensi isi) dan proses kognitif (dimensi skill).
Jika kita akan mengembangkan dimensi skill dalam perencanaan kita harus
dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kognitif skill. Klasifikasi yang
diberikan menggunakan Taxonomy of Educational Objectives : Cognitive
Domain dari Bloom : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
evaluasi. Metode ke II adalah sampling objective yang mengukur pencapaian
hasil pembelajaran yang diinginkan dan lebih menekankan kepada tujuan
khusus perilaku. Pendekatan ketiga adalah pendekatan kombinasi dengan
mengembangkan content/skill tes dengan mengidentifikasi perilaku yang
tepat pada setiap sel konten/ skill.
ALTERNATIVE - CHOICE ITEM; SHORT ANSWER, ESSAY, AND PROBLEM ITEMS
Ketika membuat tes guru dapat memilih bermacam-macam tipe item seperti
true false, short answer, multiple choice, essay, problem. Format yang
diseleksi tergantung pada subyek, siswa, tujuan kursus, dan tujuan tes.
Untuk menghasilkan item yang bagus harus : mengambil materi penting,
item harus jelas dan sederhana, yakin bagaimana siswa merespon, item
harus independen, flexibel, item yang jelek harus di edit dan direvisi.

Multiple choice item
Multiple choice item terdiri dari stem dan nomor respon yang mungkin. Stem
mungkin kalimat yang tidak lengkap atau pertanyaan. Jika stem merupakan

kalimat yang tidak lengkap, tugas siswa adalah melengkapi dengan
pernyataan yang paling tepat. Jika item merupakan pertanyaan, kita harus
memberikan alternatif jawaban yang mungkin. Siswa disuruh memilih
alternatif yang benar atau paling tepat. Alternatif jawaban terdiri dari
jawaban yang benar dan beberapa pengecoh.

True -False item
True False item adalah kalimat deklarative, siswa menilai pernyataan yang
disajikan benar atau salah. Erdapat beberapa argumen mengenai True-False
item ini; pertama True-False item ini hanya dapat mengukur pengetahuan
saja. Argumen kedua True-False item bersifat ambigo. Seringkali ke ambigo-
an ini dirasakan oleh siswa yang tidak mempunyai pengetahuan yang
dibutuhkan untuk menjawapab item. Argumen ketiga pendidik yakin bahwa
siswa dapat memperoleh skor tinggi dengan menebak, karena hanya dua
pilihan maka siswa mempunyai kesempatan 50 % untuk mendapatkan
jawaban benar atau salah dengan menebak.

Matching Item
Matching terdiri dari dua paralel daftar, yang satu berisi stimulus atau stem
yang lain berisi respon yang mngkin.Tugas siswa adalah mencocokkkan
bentuk dari dua daftar, hal ini adalah menyeleksi respon ang paling cocok
untuk setiap stimulus. Stimulus dapat menggunakan pernyataan verbal.
Bagaimanapun, matching item cocock untuk beberapa tipe materi.

Short answer
Short answer memberikan beberapa tipe item yang akan direspon siswa
dengan kata, phrase, kalimat, simbol atau nomer. Short-answer item yang
sering digunakan adalah melengkapi item dengan kalimat atau beberapa
kata yang hilang.

Essay Question.
Essai question terdiri dari pernyataan, seringkali beberapa kalimat panjang
yang menggambarkan situasi dan atau problem. Tugas siswa adalah menulis
essay untuk menjawab problem yang dituju. Jawaban ini mungkin satu
paragraf atau beberapa halaman. Perbedaan antara short answer dengan
essay question adalah panjangnya respon yang dibutuhkan. Pada essay
question lebih ditekankan pada mengorganisasikan dan menggabungkan
materi. Problem dapat dilakukan pendekatan dengan berbagai cara.

Problems

Dalam beberapa cara problem memberikan fungsi yang sama dalam kursus
matematika dan science sebagai essay question yang dikerjakan dalam studi
sosial dan kursus humanity. Situasi dan atau beberapa informasi disajikan
dan tugas siswa adalah memberikan solusi.

Mengadministrasikan dan Mensekor test
Mempersiapkan tes

Setelah anda menulis item, bebrapa langkah tambahan harus dilengkapi
sebelum tes diadministrasikan : 1) menyeleksi bagian item untuk dirangkum
pada tes dan menyusun dalam bentuk yang akan diberikan kepada siswa; 20
mempersiapkan lembar jawaban; 3) menulis tujuan tes; 4) menentukan
batasan waktu; 5) mengembangkan prosedur skoring dan aturan.

Menyusun Tes

Memilih item dimana konten dan skill atau tujuan khusus mewakili proporsi
seperti yang diinginkan. Setelah itu yang perlu difikirkan adalah bagaimana
menyajikan item kepada siswa.
Lembar jawaban
Terdapat pilihan antara merespon pada tes itu sendiri atau pada lembar
jawaban terpisah.Menjawab pada lembar tes hanya drekomendasikan pada
siswa yang masih kecil, karena ini akan mengurangi jawaban yang salah dan
tidak membuat bingung anak-anak. Menggunakan jawaban yang terpisah
akan memberi keuntungan, dimana guru dapat mengecek jawaban tanpa
harus melihat materi tes.
Petunjuk
Jika siswa tidak mengenal prosedur testing, petunjuk harus diberikan pada
permulaan tes.

Batasan Waktu

Ketika mengukur pencapaian, kita lebih menginginkan keuatan tes dari pada
kecepatannya. Sebagai implikasinya siswa harus memperoleh cukup waktu
untuk menyelesaikan tes.

Mengadministrasikan Tes

· Setting fisik.
Tes akan diadministrasikan dalam kelas. Kondisi sama yang mendukung
efektifitas belajar harus dilanjutkan selama tes. Ruang harus tenang, lampu
terang, ventilasi bagus dan bebas interupsi.
· Iklim Psikologi
Membuat iklim positif dalam atmosfer kelas, sehingga siswa dapat
menghadapi situasi tes dengan relax. Hal ini dapat dilakukan dengan

memberi pengertian alasan tes dilakukan dan meyakinkan siswa bahwa
persiapan tes yang bagus akan membantu siswa.

Menskor Tes

Ketika menskor tujuannya adalah memperoleh tujuan dan skor yang
adil.Seluruh proses harus dirancang untuk memberikan informasi apa yang
dapat dilakukan siswa untuk membimbing mereka menuju studi selanjutnya.
Bimbingan dan saran yang dibuat harus membantu pencapaian tujuan.

ANALISA TES ITEM INDIVIDU

Tujuan analisa item adalah mengevaluasi kualitas item tes. Dengan
mengobservasi bagaimana siswa merespon berbagai item, kita dapat
mengetahui mana soal yang sukar mana item yang mudah. Analisa item
secara umum berkaitan dengan tiga aspek item. Pertama adalah kesukaran
item. Index kesukaran item didefinisikan sebagai proporsi siswa yang
menjawab item dengan benar. Komponen yang kedua adalah menentukan
kekuatan item. Index pembeda item menyatakan apakah item membedakan
antara siswa yang mempunyai pengetahuan banyak dan siswa dengan
pengetahuan sedikit pada materi yang di tes kan. Komponen ketiga dari
analisa item adalah evaluasi distraktor. Analisa ini tepat digunakan pada
pilihan ganda dan mencocokkan item.

RELIABILITAS DAN VALIDITAS.

Realibilitas

Reliabilitas tes memberikan konsistensi pada apa yang diukur. Reliabilitas
berkaitan dengan pertanyaan selanjutnya. Apakah siswa akan mendapat
skor yang sama jika diberikan tes pada dua kejadian yang berbeda/; apakah
siswa mendapat skor sama jika diberikan dua bentuk tes yang berbeda;
seberapa stabil skor yang didapat. Dalam mengukur konsistensi dikenal
standar kesalahan pengukuran dimana hal ini sebagai index terdapat
seberapa kesalahan pengukuran pada skor individu.

Validitas

Disini dikenal konten validitas yang berkaitan dengan seberapa bagus
contoh item tes mendefinisikan domain pengetahuan, ketrampilan atau
kemampuan. Validitas konstruk berkaitan dengan seberapa bagus tes
mengukur variabel psikologi. Validitas yang berhubungan dengan criterion
yang berkaitan dengan seberapa bagus skor tes memprediksi kinerja (nn
tes).Tipe validitas yang relevan dengan tes pencapaian dalam kelas adalah
konten validitas, yang memberikan spesifikasi mengenai pengetahuan dan
ketrampilan apa yang ingin diukur.

METODE LAIN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENGUKUR PENCAPAIAN

Selain menggunakan tes secara tertulis, guru dapat menilai pencapaian
siswa. Metode ini digunakan untk melihat kemampuan dan ketrampilan yang
tidak dapat diukur secara efektif dengan tes tertulis. Metode yang dilakukan
dengan melakukan observasi. Observasi ini akan mengenalkan kita pada
proses atau metode dalam mempertunjukkan kinerja , mengenalkan pada
hasil, dimana hal itu akan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk
memperbaiki kinerja siswa dan memfasilitasi belajar mereka.

STANDAR PENCAPAIAN TES

Norm Reference Tes
Pada norm reference tes skor diinterpretasikan dengan membandingkan
kinerja individu pada skor yang didapat pada peserta tes lain.Kelompok
orang yang digunakan untuk pembanding dinamakan kelompok norma.
Content Referenced Test
Pendekatan ini mempunyai beberapa nama seperti criterion reference,
objective referenced, domain referenced. Faktor penting yang ditekankan
disini adalah skor diinterpretasikan kedalam terms tingkat penguasaan siswa
pada konten domain spesifik. Pada CRT kita membuat beberapa item untuk
mengukur setiap tujuan yang penting, tidak hanya contoh item yang
menyajikan konten domain.

GRADING (memberikan peringkat)

Walaupun penentuan peringkat yang digunakan pada saat ini jauh dari
sempurna, hal ini memberikan bukti yang dibutuhkan untuk membuat
beberapa keputusan penting dalam pendidikan. Semua prosedur disarankan,
termasuk mengeliminasi peringkat. Apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki
proses penentuan peringkat, adalah menspesifikasi secara lebih jelas dasar
dan arti dari peringkat dan prosedur lembaga untuk meyakinkan bahwa
berbagai instruktur menggunakan prosedur yang dapat dibandingkan dalam
penentuan peringkat. Jika standar prosedur diikuti, penentuan peringkat
akan dengan bagus mengukur pencapaian relatif siswa atau penguasaan isi.

MENGGUNAKAM TES PENCAPAIAN DALAM PMBELAJARAN

Mengukur pencapaian adalah memperoleh informasi pada pembelajarab
individu siswa., apa yang mereka tahu, apa yang dapat mereka lakukan,
bagaimana kemajuan belajarnya dan sebagainya.
Poin pertama dalam proses pembelajaran adalah kita membutuhkan
informasi mengenai individu siswa pada permulaan pembelajaran. Informasi
ini dapat digunakan untuk membantu kita merencanakan pembelajaran,
agar siswa lebih mudah beradaptasi pada pembelajaran kita yang berkaitan
dengan kemampuan, pengetahuan, dan ketrampilannya. Infomasi kedua

yang dibutuhkan adalah penguasaan pengetahuan prasyarat dan
ketrampilan. Informasi ketiga yang dibutuhkan adalah materi apa dalam
pelajaran yang sudah diketahui siswa.

Evaluasi Pembelajaran.

Tes pencapaian yang paling banyak digunakan adalah mengukur belajar
individu sisiwa. Tetapi untuk tujuan lain dapat juga digunakan untuk
mengukur efektifitas metode pembelajaran, materi dan instruktur.
Dalam evaluasi formatif, kita dapat menentukan materi apa yang telah
dikuasai siswa, kesalahan apa yang dibuat siswa, dan problem belajar apa
yang dialami siswa. Karena tujuan utama dari evaluasi formatif adalah
mengidentifikasi problem belajar dan memodifikasi pembelajaran untuk
membantu siswa belajar, penugasan dan tes harus mengacu pada content
reference/ citerion reference.Hal ini difokuskan pada penguasaan
siswaterhadap materi tujuan khusus, tidak membandingkan siswa dengan
siswa lain.
Pada evaluasi sumatif , instrumen pengukuran biasanya akan ditentukan
oleh tujuan pembelajaran pada suatu kursus. Jika tujuannya adalah
mengajarkan motor skill, tes performance akan lebih tepat. Jika tujuannya
adalah menilai kemampuan siswa untuk mengorganisasikan dan
mengintegrasikan materi, essay test akan lebih tepat.
Jika tujuan anda adalah merangking siswa, tes harus dibuat lebih luas, harus
mempunyai distribusi skor yang luas, dan harus diinterpretasikan dengan
cara norma refference.

Komentarku (My comment)

Setelah membaca buku Frederick. G. Brown yang berjudul Measuring
Classroom Achievement dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa buku ini
memberikan suatu gambaran umum mengenai pengukuran pencapaian
siswa dalam kelas. Pembahasan mengenai pengukuran pencapaian ini
dimulai dari mengapa, kapan, dan bagaimana mengukur pencapaian
tersebut hingga bagaimana merencanakan sebuah tes, jenis-jenis tes,
bagaimana menskor, menganalisa skor, standar tes pencapaian tes,
penentuan peringkat dan penggunaan tes pencapaian dalam pembelajaran.
Secara umum buku ini cukup bagus digunakan sebagai pegangan untuk
orang- orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, seperti dosen,
guru, mahasiswa pendidikan dan orang-orang yang mempunyai perhatian
terhadap dunia pendidikan. Untuk orang-orang yang tidak mempunyai latar
belakang ilmu pendidikan dan membuat langkah baru dalam dunia
pendidikan, buku ini akan sangat bermanfaat karena meskipun buku ini
termasuk buku lama(1981) tetapi bahasa yang digunakan mudah di pahami

serta mencakup substansi materi yang cukup luas.

Jika dibandingkan dengan buku- buku lain seperti buku yang ditulis oleh
Norman E. Grondlund dalam bukunya Constructing Achievement Tes serta
buku Evaluation to Improve Learning yang ditulis Benyamin S. Bloom, materi
yang membahas mengenai tes pencapaian seperti bagaimna merencanakan
tes, menyusun tes, jenis-jenis tes, kriteria yang digunakan, bagaimana
menskor, menganalisa dan mengevaluasinya, ke tiga buku tersebut
memberikan penjelasan yang hampir sama walaupun menggunakan bahasa
yang berbeda, hanya untuk poin- pon tertentu saja mereka mempunyai
sedikit perbedaan. Jika terdapat pertanyaan buku manakah yang terbagus
dari tiga buku tersebut maka saya akan mengatakan bahwa yang terbaik
adalah jika kita menggabungkan inti materi yang terdapat pada ketiga
materi tersebut dimana kita mengambil hal-hal yang cocok dengan pendapat
kita.

Norman E. Gronlund dalam bukunya Constructing Achievement Tests
mengatakan bahwa objective tes seperti multiple choice, true- False, short
answer hanya bagus untuk mengukur hasil belajar pada tingkat
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, dan analisis, tetapi tidak tepat untuk
sintesa dan evaluasi. Sedangkan dalam buku Measuring Classroom
Achievement dikatakan bahwa adalah salah jika ada pendapat bahwa
multiple choice yang merupakan salah satu jenis dari objective tes hanya
dapat digunakan untuk tes pengetahuan dan materi faktual. Multiple choice
dapat digunakan untuk mengukur level cognitive skill yang lebih tinggi yaitu
dengan menggunakan pernyataan yang merupakan situasi baru, informasi
maupun contoh. Saya setuju dengan pendapat yang disampaikan oleh
Frederick G. Brown tersebt bahwa semua jenis tes yang termasuk dalam
kategori objective tes sebenarnya dapat digunakan untuk mengetahui hasil
belajar siswa baik pada tingkat pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisa
sistesa maupun evaluasi. Banyak guru mengatakan bahwa di Indonesia
untuk siswa tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas guru
membuat tes hasil belajar hanya untuk mengukur pengetahuan,
pemahaman, dan aplikasi saja, karena multiple choice hanya bisa mengukur
tiga level kognitif itu saja. Menurut saya semua jenis tes obyektif dapat
mengukur 6 tingkat cognitive skill, hanya yang perlu dipertimbangkan
adalah efisien dan efektifkah tes tersebut digunakan untuk mengukur tingkat
cognitive yang diinginkan. Ketrampilan dalam membuat stem pada soal- soal
tes multiple choice akan sangat menentukan apakah tes tersebut dapat
digunakan untuk mengukur tingkat cognitif skill yang lebih tinggi atau tidak

karena membuat tes untuk mengetahi hasil belajar pada tingkat
pengetahuan akan lebih mudah.

Dalam membandingkan antara objective tes dan essay tes Frederick G.
Brown dan Norman E. Grondlund memberikan pandangan yang sama bahwa
dalam obyektif tes item yang digunakan bisa lebih luas dengan mengambil
sampel konten yang mewakili, sedangkan dalam essay tes item yang
digunakan lebih terbatas sukar untuk mengambil sampel yang mewakili
seluruh materi sehingga respon yang didapat akan lebih mendalam pada
area yang ditanyakan. Dalam memberikan skoring objective tes lebih
obyektif, sederhana, dan reliabilitasnya tinggi, sedangkan essay tes
penilaiannya lebih subyektif misalnya panjangnya respon, kualitas tulisan,
akan menentukan penilaian. Karena faktor tersebut maka penilaian dalam
essay tes tidak reliabel.
Untuk mengadakan evaluasi formatif multile choice kurang cocok digunakan.
Ketidak tepatan ini disebabkan tes multiple choice tidak mengukur
kedalaman materi sehingga memberi kesempatan kepada siswa untuk
menebak jawaban saja. Sedangkan dalam evaluasi formatif ini guru ingin
mengetahui apa yang telah dicapai siswa dengan cara menggali lebih dalam
kompetensi siswa yang merupakan manifestasi dari hasil belajar. Dengan
mengetahui kompetensi siswa, maka kelemahan dan kekuatan akan dapat
terdeteksi. Kemajuan siswa, kemampuan minimum siswa , kemampuan guru
mengajar akan terlihat dalam evaluasi ini sehingga baik atau buruknya
proses belajar akan terlihat disini. Evaluasi formatif ini berfungsi sebagai
umpan balik bagi guru dan siswa, jika hasil belajar siswa bagus maka akan
diadakan pembelajaran selanjutnya tetapi jika hasil belajar siswa buruk
maka akan diadakan perbaikan dalam pembelajaran. Evaluasi formatif
sangat cocok menggunakan tes essay karena tes ini akan mengukur
kemampuan /kinerja siswa disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Sehingga untuk materi yang akan diukur siswa akan memberikan respon
yang tak terbatas sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang
dimilikinya karena jawaban yang diberikan tidak terstruktur. Karena
memberikan kemungkinan jawaban yang yang tidak menuju kesatu arah
saja/ konvergen serta memberi kesempatan kepada siswa untuk merespon
tanpa dibatasi maka tes essay ini dapat digunakan untuk mengukur
cognitive pada level analisis, sintesis dan evaluasi, dimana hal ini sangat
sukar dilakukan dalam tes multiple choice. Akan tetapi penggunaan tes
essay ini mempunyai kelemahan yaitu hanya mungkin memberikan materi
yang terbatas serta butir soal yang tidak terlalu banyak mengingat
jawabannya yang tak terstruktur. Dalam penilaiannyapun cenderung besifat

subyektif contohnya jika seorang guru mempunyai murid kesayangan maka
nilai yang diberikan akan tinggi, atau jika dengan melihat tulisan yang jelek
saja guru sudah enggan memerikasa sehingga nilai yang diperoleh siswa
akan tidak memadai walaupun jawaban tersebut mencerminkan kompetensi
siswa yang tinggi. Oleh karena itulah esay tes ini kurang reliabel
dibandingkan multiple choice.

Dalam kaitannya dengan EBTANAS atau UMPTN dimana evaluasi yang
dilakukan berguna untuk pengambilan keputusan maka evaluasi yang cocok
digunakan adalah evaluasi sumatif. Untuk mengukur kemampuan siswa tes
yang paling tepat digunakan adalah multiple choice, karena dalam tes
multiple choice memberikan kemungkinan pemberian materi yang banyak,
selain itu butir soal yang banyakpun tidak akan bermasalah. Pemberian
materi serta butir soal yang banyak ini sangat diperlukan mengingat dalam
evaluasi sumatif ini bertujuan untuk verifikasi apakah siswa akan lulus atau
tidak lulus sehingga butir pertanyaan akan mencakup seluruh materi
pelajaran yang sudah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam evaluasi sumatif
ini tidak perlu melihat kedalaman materi yang dikuasai siswa, yang
terpenting bahwa siswa menguasai seluruh materi yang tercakup dalam
kurikulum meskipun tidak secara mendalam karena respon yang harus
diberikan pun terbatas, sehingga tidak membutuhkan pemikiran yang lebih
meluas dan kreatif/divergen. Karena tes multiple choice membutuhkan
pemikiran yang konvergen/menuju ke satu arah maka akan sangat sukar
untuk mengukur cognitive pada level analisis, sintesis, dan evaluasi. Dalam
penilaian, tes multiple choice akan lebih mudah dilakukan karena sudah
terdapat kunci jawaban sehingga penilaian akan lebih bersifat obyektif dan
dengan sendirinya akan lebih reliabel dibandingkan dengan essay tes.

Dalam kaitannya dengan kriteria penilaian, evaluasi formatif akan tepat
menggunakan Criterion Refference dimana penilaian dilakukan tidak dengan
membandingkan individu satu dengan individu lain dalam satu kelompok,
tetapi mengukur kompetensi minimum anak dalam satu area tertentu.
Contoh: jika seorang anak mampu mengerjakan 6 soal dari 10 soal, maka
anak tersebut dapat menguasai materi sebanya 60 %. Dengan emikian anak
tersebut dapat melanjutkan pembelajaran selanjutnya karena dianggap telah
mencapai kompetensi minimum dalam pembelajaran tersebut. Tetapi
seandainya anak hanya dapat mengerjakan 3 soal dari 10 soal yang ada,
maka anak tersebut hanya menguasai 30 % saja dari materi pembelajaran
tersebut, sehingga dianggap belum mempunyai kompetensi minimum dalam
materi pembelajaran tersebut, sehingga perlu dilakukan program perbaikan/

remedial.

Untuk evaluasi sumatif, kriteria penilaian yang tepat adalah Norm
Refference, dimana kedudukan siswa satu dibandingkan dengan siswa lain
dalam kelas. Contoh : seorang anak dengan nilai 9 belum tentu merupakan
anak yang terpintar dikelas, karena teman- teman dalam kelompoknya
mendapat nilai 10 semua. Seperti dalam penerimaan mahasiswa melalui
UMPTN kriteria yang digunakan adalah Norm Refference serta evaluasi yang
digunakan adalah evaluasi sumatif. Karena yang dilakukan adalah
menyeleksi saja maka tidak akan mencerminkan kompetensi siswa pada
bidang/ fakultas yang dipilihnya.

Kriteria penilaian dengan menggunakan Criterion Refference dapat juga
dilakukan untuk tes penempatan yaitu untuk mengukur prerequisit entry skill
dimana sample mencakup prerequisit entry behavior dimana tes yang
digunakan adalah tes yang mudah. Tes penempatan juga digunakan untuk
menentukan entry performance pada tujuan kursus dengan cara menyeleksi
sample yang representative pada tujuan kursus, disini tipe item yang
digunakan lebih luas dan lebih sukar serta dengan menggunakan kriteria
penilaian Norm Reference.
Dalam tes diagnostik kriteria penilaian yang digunakan adalah Criterion
Refference. Jenis tes yang digunakan adalah tes obyektif dan tes essay
dimana tujuannya adalah untuk menentukan kesukaran belajar sedangkan
sample yang digunakan mencakup sampel tugas yang berdasar pada
sumber kesalahan belajar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->