DPR Setujui UU Perseroan Terbatas [20/7/07] Rapat Paripurna DPR menyetujui RUU Perseroan Terbatas untuk disahkan menjadi Undang

-Undang. Rapat Paripurna, Jum'at (20/7) dipimpin Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar. Tak ada satu pun dari 10 fraksi yang menyatakan keberatan atas RUU dimaksud. Sebagian besar Fraksi menyinggung soal corporate social responsibility (CSR) yang dalam Undang-Undang ini diwajibkan kepada perusahaan tertentu.

Klausul CSR Tidak Menabrak UUD 1945 UU Perseroan Terbatas [21/7/07] Pemerintah bersama DPR sepakat mengesahkan Undang-Undang Perseroan Terbatas. Masih belum beranjak, titik perhatian tetap tertuju pada tanggung jawab sosial perusahaan. Perseroan yang berbisnis syariah wajib membentuk Dewan Pengawas Syariah. Tunai sudah tugas pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merampungkan satu lagi UndangUndang. Kali ini, mereka melahirkan Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT). Peraturan tinggi negara yang hendak merevisi UU 1/1995 ini disetujui untuk segera disahkan, dalam Sidang Paripurna DPR, Jumat (20/7). Sepuluh fraksi sepakat bulat mengesahkan UU PT. Sidang tersebut juga mengesahkan UU Cukai sekaligus menutup masa sidang keempat. Selanjutnya, DPR reses hingga ramai kembali pada 16 Agustus mendatang. Revisi UU PT ini merupakan usulan pemerintah. “UU 1/1995 sudah tidak memadai menampung berbagai perkembangan hukum dan masyarakat. Khususnya dinamika perekonomian yang pesat seiring kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi,” ungkap Ketua Panitia Khusus PT (Pansus) Mohammad Akil Mochtar dalam laporannya. Rupanya RUU PT ini sudah menjadi program legislasi nasional (Prolegnas) sejak 2005. Akil menambahkan adanya UU PT ini untuk menciptakan iklim usaha dan perdagangan yang sehat dan maju. Selain itu, Akil juga berharap para pemodal asing sudi melirik Indonesia sebagai negara tujuan investasi. “Kami tak mau masyarakat menganggap DPR sebagai penghambat investasi lantaran tak kunjung selesai membuat peraturan perundangan,” imbuhnya di sela sidang.

poin ini merupakan ketentuan baru yang tertuang dalam Bab V Pasal 74. DPR menggelar 6 kali RDP yang melibatkan tak kurang dari 23 lembaga. 19 Mei 2006. Maklum. Itu masih di bawah Departemen Perdagangan. registrasi dan pemberian status badan hukum nantinya. UU PT harus diselaraskan denga ketentuan lainnya. Sepuluh fraksi sepakat bulat.” tukas Akil yang dari Fraksi Partai Golkar (FPG). Hermansyah Nazirun dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) mengingatkan pendirian sebuah perseroan bisa menggurita menjadi akumulasi modal. “Makanya. Rumah sakit pun wajib CSR karena dia membuang limbah. • 20 Juli 2007. 22 November 2005. semangat CSR supaya jangan timbul keserakahan. Kronologi Perjalanan UU PT • • • • • • 12 Oktober 2005 Pemerintah menyampaikan RUU PT kepada DPR. 9 Februari 2006. Sidang Paripurna DPR mengesahkan pembentukan Pansus PT.” .” ungkap Yudo. Pemerintah dan DPR setuju segera mengundangkan RUU PT. merupakan wewenang penuh Departemen Hukum dan HAM. dalam Sidang Paripurna. Pembicaraan Tingkat I untuk menyerap pandangan fraksi. “Tapi. Raker pertama DPR dengan Pemerintah yang diwakili oleh Menkumham. dan 109 (Dewan Pengawas Syariah). Terdapat 813 butir Daftar Inventarisasi Masalah (DIM). Pokoknya semua usaha yang berhubungan dengan lingkungan. Sumber: Laporan Ketua Pansus PT dalam Sidang Paripurna DPR. 77 (RUPS via teleconference). bahwa Timus telah menyelesaikan Pasal 74 (CSR). 20 Juli 2007 Masih Seputar CSR Rupanya semua fraksi masih memusatkan perhatian pada klausul tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility. UU PT terdiri dari 14 bab (termasuk Ketentuan Penutup) serta 161 pasal. masih ada UU 3/1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan. Pasal ini mewajibkan perusahaan yang berhubungan dengan sumber daya alam menyisihkan sejumlah dananya guna melakukan program CSR.Anggota Pansus asal Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) Yudo Paripurno menjelaskan. Sementara itu. “Jangan hanya dilihat core business-nya. 16 Juli 2007. Tim Perumus (Timus) melaporkan kepada Panitia Kerja (Panja). Maklum. CSR).

Namun.” ujar Akil. Saya harap tiga bulan setelah UU PT diundangkan. Pasal dan Ayat Terpilih Pasal 74 (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Menanggapi hal tersebut. “Program CSR bersifat penuh toleransi dan tidak semena-mena. “Apakah kewajiban yang bagus seperti ini bertentangan dengan UUD 1945? Kan tidak melanggar konstitusi. kegiatan CSR ini bukan berarti untuk mengganti kerugian lingkungan. “Silakan saja. Terpisah. Ketentuan itu kan lebih berat daripada UU PT. PP inilah yang akan merinci usaha mana saja yang wajib melakukan CSR. (3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hermansyah menambahkan. Bahkan. Akil tidak khawatir.” ujar Akil dengan nada heran.” tutur anggota Komisi III (Bidang Hukum dan HAM) tersebut. uji materi sebuah UU hanya untuk ketentuan yang diduga menyalahi UUD 1945. Kalau CSR.” Akil pun sependapat.Meski bersifat wajib. banyak pelaku bisnis yang menentang keras keberadaan kewajiban CSR. Termasuk juga sanksi dan tata caranya. Sebelumnya. (2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutuan dan kewajaran. “Secepatnya. “CSR sesuai dengan asas kepatutan dan kewajaran. ketentuan ini bukan bermaksud membebani perusahaan. anggota Konsultan Hukum Pasar Modal Sutito menjelaskan CSR memang perlu. Menurut Akil. lebih bersifat sukarela.” sambung Akil. “Perusahaan yang mencemari lingkungan memang harus bertanggung jawab. Politisi Partai Golkar ini merasa masygul lantaran para pebisnis justru tidak mempermasalahkan kewajiban CSR dalam UU Penanaman Modal (UU PM). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.” Akil menandaskan. Tapi itu namanya corporate responsibility. Kok mereka tidak protes?” ujarnya sambil menggelengkan kepala. . kita menghormati keinginan pihak yang mau maju ke MK. “Detilnya akan diatur di dalam PP. “Lihat saja Pasal 15 dan 34.” UU PT. Akil dan anggota DPR lainnya mendesak pemerintah segera membuat peraturan penerapan CSR yang berupa Peraturan Pemerintah (PP). Sebagai bentuk demokrasi. mereka berniat mengajukan uji materi (judicial review) di muka Mahkamah Konstitusi (MK).

“Lihat saja. “Nah. (3) Dewan pengawas syariah bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan perseroan agar sesuai dengan prinsip syariah. Mereka sudah punya sistem penegakan hukum yang bagus. Kalau di Indoensia. Belum Semapan Eropa Akil menyadari ada satu ketentuan yang masih mengganjal. bukan layaknya swasta. untuk BUMN dikecualikan karena sudah ada UU tersendiri. hal ini karena sistem hukum Indonesia belum sedewasa Benua Biru. Dewan Pengawas Syariah Ketentuan baru lainnya adalah kewajiban perusahaan membentuk dewan pengawas syariah.” tukasnya. (2) Dewan pengawas syariah terdiri atas seorang ahli atau lebih yang diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia. jangan sampai anggota dewan ini baru mengajukan sertifikasi setelah diangkat oleh para pemegang saham. “Kita memang masih mewajibkan kepemilikan saham minimal dua orang. Bahkan pola CSR mereka sudah rinci aturan pelaksananya. “Makanya. hanya bisa dilakukan oleh perusahaan yang sudah listing di lantai bursa. lewat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). memberi saran kepada direksi serta mengawasi jalannya perseroan.” tutur Akil. Yakni. Tugasnya. Sutito mengusulkan anggota dewan pengawas syariah mengantongi sertifikat dari MUI. perusahaan milik negara (BUMN) sudah menerapkan CSR yang diwajibkan oleh UU 19/2003 tentang BUMN. kita juga kudu menengok . Kita belum seperti Eropa yang sudah membolehkan satu pihak mendirikan sebuah PT. Mereka kan perusahaan yang dimiliki oleh negara. “Bagi perusahaan yang menjalankan usahanya dengan prinsip syariah. Untuk buy-back saham. Era kita memang belum sampai ke sana. menurut Akil.” sambung Akil.” Menurut Akil. jujur saja. dewan ini semacam dewan komisaris. “Sebelum ditunjuk oleh RUPS. keharusan minimal dua pihak pemegang saham. Sementara itu. Anggota lembaga ini diangkat oleh RUPS atas rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).Pasal 109 (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai dewan komisaris wajib mempunyai dewan pengawas syariah.” Akil juga sedikit menerangkan seluk-beluk saham. Menurut Sutito yang bekerja sebagai lawyer di SGS Consulting. banyak orang yang bikin PT hanya untuk bobol bank. dia harus memperoleh sertifikat dari MUI. Mata uang pun bisa satu untuk sekawasan. Dalam ketentuan tersebut.

Berbeda dengan Indonesia. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan UU No. Kegiatan Sukarela yang Wajib Diatur [1/3/08] Di beberapa negara kegiatan CSR sudah lazim dilakukan oleh suatu korporasi. Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan secara sukarela itu. Di sini. Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibilty (CSR) mungkin masih kurang populer dikalangan pebisnis nasional. “Karena itulah. Jika tidak. Di Indonesia. atau tetap berdikari. Dalam Pasal 15 huruf b disebutkan. Adalah Pasal 74 UU PT yang menyebutkan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. kegiatan CSR baru dimulai beberapa tahun belakangan. melainkan untuk menjaga hubungan baik dengan stakeholders. Pilihannya. Kegiatan ini makin ngetop tatkala DPR mengetuk palu tanda disetujuinya klausul CSR masuk ke dalam Undangundang No. Apakah pemerintah akan tunduk kepada gurita korporasi asing. atau harus menyunat jumlah modal. hanya boleh menggenggamnya hingga tiga tahun. setiap perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam harus melakukan CSR yang sebenarnya merupakan kegiatan sukarela.” ujar Idham. Namun. kepemimpinan adalah kuncinya. maka dapat . (Ycb/IHW) CSR. setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. maka perseroan tersebut bakal dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. sudah biasa dilakoni oleh perusahaan-perusahaan multinasional ratusan tahun lalu. 25/2007 tentang Penanaman Modal (UU PM). Jika tidak dilakukan.” Perusahaan yang membeli sahamnya kembali dari publik. Bukan karena diatur oleh pemerintahnya. Aturan lebih tegas sebenarnya juga sudah ada di UU PM.peraturan pasar modal. Sementara itu juru bicara Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) Idham mengingatkan UU PT kali ini memberi ruang kewenangan yang luas bagi pemerintah. tidak bagi pelaku usaha asing. saham buy-back itu harus dijual kembali.

Standar itu nantinya akan dikenal sebagai ISO 26000 Guidance on Social Responsibility. Yang jelas. Jika diatur. kegiatan CSR tidak hanya diwajibkan bagi perusahaan yang bergerak dibidang atau berkaitan dengan sumber daya alam saja. CSR juga akan memberi beban baru kepada dunia usaha. ketentuan itu baru muncul saat pembahasan ditingkat panja dan pansus DPR. Apalagi munculnya Pasal 74 yang terdiri dari empat ayat itu sempat mengundang polemik. selain bertentangan dengan prinsip kerelaan. Syahdan. tidak ada pengaturan soal CSR. Hidayat mengatakan. Begitu juga waktu rapat dengar pendapat DPR dengan sejumlah pelaku usaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Bahkan sebenarnya. pajak atas keuntungan dan standar lingkungan hidup. masuknya beleid tentang CSR dalam UU PT dan UU PM hingga kini masih menuai kritikan. Hidayat belum lama ini dalam suatu seminar UU PT di Jakarta. Pada konsep awal yang diajukan pemerintah. pasal itu lebih “gila” lagi sebelum disahkan. Apalagi kalau bukan menggerus keungan suatu perusahaan. CSR kini sudah masuk dalam bagian dari UU PT. ISO sendiri saat ini tengah menggodok konsep baru tentang standar CSR yang diperkirakan rampung akhir 2009. atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal (Pasal 34 ayat (1) UU PM). proses regulasi yang menyangkut kewajiban perusahaan berjalan lama dan hati-hati. Dimana. sambungnya. Ia beralasan. Bahkan. . Namun. tetapi juga untuk semua perusahaan. baru berdiri maupun dalam kondisi merugi. pembatasan kegiatan usaha. baik yang dikeluarkan oleh bank dunia (The World Bank) maupun International Organization for Standardization (ISO) 26000. sehingga kegiatan sukarela itu menjadi wajib dan harus dipertanggung jawabkan secara hukum. Apalagi. CSR adalah kegiatan di luar kewajiban perusahaan yang umum dan sudah ditetapkan dalam perundang-undangan formal. di negara-negara Eropa yang secara institusional jauh lebih matang dari Indonesia. nasi sudah menjadi bubur.dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis. seperti: ketertiban usaha. kata dia. lingkup dan pengertian CSR yang dimaksud dalam Pasal 74 berbeda dengan pengertian CSR dalam pustaka maupun definisi resmi. Disamping itu. “Kenapa CSR harus diatur?” tanya Ketua Umum Kadin Mohamad S. European Union – sebagai kumpulan negara yang paling menaruh perhatian terhadap CSR – telah menyatakan sikapnya bahwa CSR bukan sesuatu yang akan diatur. tak terkecuali perusahaan berskala UKM. Tentu saja kedua beleid tersebut membuat fobia sejumlah kalangan terutama pelaku usaha lokal. pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Kebijakan Publik. sebatas jangkauan masyarakat sekitarnya. sebagai sebuah tanggung jawab sosial.gagasan CSR dimasukan ke dalam undang-undang bakal mengalami distorsi serius. Atau bahkan lebih jauh lagi. jelas memberangus sekaligus ruang-ruang pilihan yang ada. Keadaan ini. tanggung jawab sesungguhnya adalah tanggung jawab setiap subjek hukum termasuk perusahaan. Dengan demikian. Pertama. memberikan ketidakpastian dan dapat menguragi minat investasi akibat bertambahnya beban perseroan. Pasal 74 membuka peluang munculnya perda-perda multi interpretasi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap iklim investasi baik bagi perseroan yang sudah ada maupun yang akan masuk ke Indonesia. dan kemauan bertindak. Dengan menempatkan kewajiban proteksi dan rehabilitasi lingkungan dalam domain tanggung jawab sosial. berikut kesempatan masyarakat mengukur derajat pemaknaannya dalam praktik. adanya kebebasan. sehingga hanya menyisakan budaya ketergantungan selepas program. dari sisi keterkaitan peran. Hariyadi B. Pasal 74 telah mengabaikan sejumlah prasyarat yang memungkinkan terwujudnya makna dasar CSR. yakni sebagai pilihan sadar. lanjutnya. mengungkapkan. katanya. Lalu ketiga. dengan kewajiban itu. belum lama ini. sementara negara menjadi mandor pengawas yang siap memberikan sanksi atas pelanggaran yang terjadi. justru bisa terjadi penggandaan tanggung jawab suatu perusahaan secara sosial (UU PT) dan secara hukum (UU Lingkungan Hidup). Kemudian yang keempat. “Dunia usaha berharap agar RPP yang akan dikeluarkan pemerintah justru tidak memperburuk iklim investasi. Jika terjadi kerusakan lingkungan akibat aktivitas usahanya. Banyak perusahaan lepas tanggung jawab Jika memang ternyata pengaturan CSR bakal menghambat iklim investasi dikemudian hari. Sukamdani. Perpajakan. Kedua. maka kata Hidayat. konsekuensinya CSR akan bermakna parsial sebatas upaya pencegahan dan penanggulangan dampak sosial dan lingkungan dari kehadiran sebuah perusahaan. katanya. Sistim Fiskal & Moneter dan Kepabeanan & Cukai. “Mewajibkan CSR.” paparnya. kewajiban yang digariskan UU PT menempatkan perusahaan sebagai pelaku dan penanggung jawab tunggal program CSR.” tuturnya. lalu kenapa DPR waktu itu tetap ngotot untuk memasukan beleid tersebut? . “Masyarakat seakan menjadi objek semata. bentuk program CSR hanya terkait langsung dengan bisnis utama perusahaan.” tegasnya dalam sebuah seminar tentang CSR di Jakarta. hal itu jelas masuk dalam ranah hukum. apa pun alasannya. akan cenderung mereduksi makna keselamatan lingkungan sebagai kewajiban legal menjadi sekedar pilihan tanggung jawab sosial.

dan sebagainya. Di Indonesia ini kan sesuatu yang diatur saja masih ditabrak.” tuturnya. kami berpikir bahwa perusahaaan yang ada di Indonesia sudah waktunya turut serta memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan dimana perusahaan itu berada.Ketua Panitia Khusus UU PT Akil Mochtar menjelaskan. Di Inggris dan Belanda misalnya. seperti: perusakan lingkungan. konflik masyarakat Aceh dengan Exxon Mobile yang mengelola gas bumi di Arun. kalau di luar. Perusahaan-perusahaan pelat merah itu. dan menindas buruh. “Di Indonesia. seperti: lumpur Lapindo di Porong. Untuk itu. lalu konflik masyarakat Papua dengan PT Freeport Indonesia.” tandasnya. disamping penilaian dari publik sendiri. Anggota Komisi III DPR yang juga terlibat dalam penyusunan UU PT ini mengatakan CSR lahir dari desakan masyarakat atas prilaku perusahaan yang mengabaikan tanggung jawab sosial. tren perkembangan globalisasi menunjukan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan sudah menjadi hal yang mendesak bagi kepentingan umat manusia secara keseluruhan. kami mencoba mengatur dalam suatu regulasi yang menjadi kewajiban bersama. kata dia. Lalu. Menurut Gayus. Alasan lainnya adalah kewajiban CSR juga sudah diterapkan pada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kewajiban itu (CSR) haruslah ada. kebanyakan perusahaan juga cenderung membuat jarak dengan masyarakat sekitar. wajib memberikan bantuan kepada pihak ketiga dalam bentuk pembangunan fisik.” ujarnya. eksploitasi sumber daya alam. “Kalau perusahaan itu tidak pernah melakukan CSR justru kinerja saham dia di bursa saham kurang bagus. “Pengalaman menunjukan. mesti diatur. “ngemplang” pajak. CSR menjadi sebuah penilaian hukum oleh otoritas pasar modal. “Oleh karena itu. Karena ketaatan orang terhadap hukum masih sangat rendah. Dia juga setuju jika hal itu diwajibkan bagi . lepas dari tanggung jawabnya dalam mengelola lingkungan. apalagi kalau tidak diatur. DPR sebagai bagian representatif masyarakat sangat concern dan mendukung sepenuhnya terhadap pengaturan tanggung jawab sosial. Kewajiban itu diatur dalam Keputusan Menteri BUMN maupun Menteri Keuangan sejak tahun 1997. bahwa banyak sekali perusahaan yang hanya melakukan kegiatan operasional tetapi kurang sekali memberikan perhatian terhadap kepentingan sosial seperti itu. Pernyataan Akil diamini Gayus Lumbuun. tetapi itu bukan merupakan suatu pemberatan toh. Jadi.” ujarnya. Disamping itu. pencemaran lingkungan oleh Newmont di Teluk Buyat. Ia lantas mencontohkan beberapa kasus. kewajiban CSR terpaksa dilakukan lantaran banyak perusahaan mutinasional yang beroperasi di Indonesia.

dalam kondisi ekonomi yang makin mengglobal. Anggota Komisi VI DPR.” jelas profesor yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR ini. khususnya dengan para stakeholdernya. namun merusak lingkungan juga.” tandas notaris senior ini. “CSR tak sekadar community development. imbuhnya. sekaligus dapat menjalankan misi sosialnya untuk kepentingan masyarakat. “CSR ini memang benar-benar kewajiban.” Konseptor UU PT. Otomatis perusahaan yang tidak memenuhi perundang-undangan dapat diberi sanksi. Ia juga membantah pendapat Ketua Umum Kadin Indonesia yang menyatakan CSR identik dengan kegiatan sukarela.setiap perseroan. sangat tepat apabila CSR diberlakukan sebagai kewajiban yang sifatnya mandatory dan harus dijalankan oleh pihak perseroan selama masih beroperasi. kata dia. Dengan demikian.” Ia mengaku geram karena masih banyak perusahaan yang mengaku telah bertanggung jawab kepada masyarakat. “Tanggung jawab perusahaan yang semula adalah tanggung jawab non hukum (responsibility) akan berubah menjadi tanggung jawab hukum (liability). CSR merupakan sarana untuk meminimalisir dampak negatif dari proses produksi bisnis terhadap publik. sekolah. melainnya sudah fardhu. Demikian pula pemerintah sebagai agen yang mewakili kepentingan publik. Menurut dia. “Sudah sepatutunya mereka (pemerintah) memiliki otoritas untuk melakukan penataan atau meregulasi CSR. CSR harus dimaknai sebagai instrumen untuk mengurangi praktek bisnis yang tidak etis. pemangku kepentingan (stakeholder) sebuah perusahaan bukan hanya pemegang saham (shareholder). Maka dari itu. “Lebih luas lagi.” ungkap anggota Pansus dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP). keberadaan perusahaan akan menjadi sangat bermanfaat. stakeholder adalah masyarakat dan lingkungan. atau rumah sakit. Aria Bima menilai CSR tak hanya sekadar kedermawanan sebuah perusahaan. anggota Pansus dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP). Partomuan Pohan menambahkan. Senda dengan Aria. bangun jalan. Yudo Paripurno mengatakan CSR itu hukumnya bukan sunnah lagi. Aria mengingatkan. sehingga dapat menjalankan misinya untuk meraih optimalisasi profit. (Sut/Ycb) .

. kategori-kategori untuk mengklarifikasikan kegiatan perusahaan haruslah stabil dalam kurun waktu tertentu. Menurutnya proses audit sosial memerlukan komitmen yang kuat dari orang-orang kunci di perusahaan. apalagi kalau sudah diimplementasikan. Begitu juga dengan bentuk pelaporannya. pendiri. adalah merumuskan variabel dan indikator CSR yang tepat dan dapat diterapkan kepada seluruh sektor. audit CSR adalah audit yang meliputi aspek lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat. melainkan CSR juga telah menjadi program sosial yang beragam wajah. katanya. audit program CSR dirasa perlu oleh sejumlah kalangan. selain memiliki kemampuan dalam menerapkan berbagai metoda penelitian. Analis kebijakan sosial dan konsultan CSR Edi Suharto mengatakan. hingga kini belum ada definisi CSR yang mudah diukur secara operasional. Pasalnya. klien.” ujarnya dalam diskusi bertajuk ‘Menggagas Standar Audit CSR: Implementasi UU PT’ yang diselenggarakan Asosiasi Auditor Internal (AAI). tanggung jawab sosial atau corporate social resposibility (CSR) tampaknya masih diselimuti kabut misteri. tak semudah membalikan telapan tangan. Yang jelas. kontraktor. audit sosial melibatkan aspek lingkungan dan sosial yang relatif lebih sulit dirumuskan dan diukur. perlu dua syarat yang harus dipenuhi dalam mengaudit CSR. Kusulitan itu.Perseroan Perlu Standar Audit CSR [27/3/08] Peraturan Pemerintah soal tanggung jawab sosial perusahaan mungkin masih diawang-awang. Edi Suharto mengatakan. Pasalnya. Kedua. Begitu juga dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang juga tak kunjung terbit. sejumlah auditor internal selangkah lebih maju. Akibatnya. Kamis (27/3). “Bayak tantangannya. Untuk itu. Mereka tengah memikirkan standar audit program CSR bagi suatu perseroan. Meski sedang naik daun. Biasanya yang melakukan audit semacam ini adalah pekerja sosial dan konsultan atau analis kebijakan sosial. termasuk pekerja. di Jakarta. Tapi. upaya itu. audit ini juga memerlukan ahli yang memiliki kompetensi yang komperhensif di bidang lingkungan dan sosial. ketimbang mengaudit keuangan. supplier dan penduduk setempat. sehingga perbandingan historis dapat dilakukan. audit ini juga memerlukan keterlibatan stakeholder. bukan saja CSR menjadi sulit diaudit. kata dia. definisi kategori harus dapat diterapkan terhadap semua perusahaan. seperti komisaris dan direksi. Selain itu. industri dan sistem sosial yang memungkinkan analisis komparatif dapat dilakukan. Pertama. Standar operasional mengenai bagaimana mengevaluasi kegiatan CSR juga masih diperdebatkan. relawan. Namun.

Contoh lainnya . “Memang lingkungan tidak dirusak. “Kita juga sedang menunggu terbitnya ISO 26000. mengenai kiprah waralaba minimarket yang tengah menjamur hingga ke pelosok desa. perusahaan yang kontra dengan kebijakan CSR sudah pasti akan terbebani. Apalagi jika perusahaan itu tak punya soal dengan kerusakan lingkungan. maka tentu kita akan pertimbangkan penggunakan ISO tersebut.Ketua Umum Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) Ali Darwin mengatakan. Erie Sudewo mengkritik sejumlah pengusaha yang menentang kewajiban CSR. Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT Aneka Tambang Tbk. Organisasi yang beranggotakan 154 badan standarisasi di negara maju maupun berkembang ini. Jika sudah keluar. tak jarang laporan seperti itu mendapat kritikan. “Di dalam laporan keuangan perusahaan. laporan yang biasa disebut triple bottom line reports ini masih memiliki format yang beragam. Hanya. laporan tersebut bisa disajikan dalam berbagai bentuk antara lain: laporannya terpisah dengan laporan keuangan perusahaan (stand alone report) atau disatukan dalam laporan tahunan (annual report) –sesuai dengan ketentuan Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (BPK-LK) serta UU PT. Maraknya minimarket tersebut menurutnya telah menghancurkan warung-warung rakyat. selain audit. nantinya menamakan standar CSR sebagai ISO 26000 Guidance Standar on Social Responsibility. sambungnya. Adalah organisasi perumus standar internasional (International Organization for Standardization atau ISO) yang sedang menyusun standardisasi CSR. beberapa negara sudah menetapkan keharusan perusahaan untuk mempublikasikan laporan CSR. bentuk penyajian laporan CSR (sustainability reporting) juga harus jelas. terutama soal biaya CSR. tapi mustahilkah jika ada pengusaha yang prilakunya tak kalah buruk dengan perusak lingkungan?” tanya Erie. kata dia. Tak ubahnya BLBI Pada saat yang sama.” tandas Syahrir Ika. program CSR harusnya dimasukan ke dalam poss tersendiri. Selain itu. Supaya lebih pas. Menurutnya. Sehingga. serta bisa juga dalam bentuk sepotong-potong dalam surat kabar (edisi khusus). banyak perusahaan multinasional yang menyewa auditor eksternal untuk membuat laporan program CSR-nya di dalam annual report-nya. Edi Suharto menjelaskan. yaitu CSR cost. Syahrir Ika. laporannya juga dapat dipublikasikan dalam website perusahaan. karena laporan semacam ini masih benuansa “lip service” semata. Menurut pendiri CSR Forum ini. saat ini sedang menggodok konsep dan standaridisasi CSR. Saat ini. setuju jika program CSR dibuat laporan pertanggungjawabannya.” jelasnya. Masyarakat internasional sendiri. Ia mencontohkan. Rencananya standar CSR berskala internasional ini baru diterapkan pada 2010.

Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan mengalami perkembangan.” imbuh Technical Assistance Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) ini. namun sebagian pengusaha itu tetap tak rela CSR diambil dari laba perusahaannya. kata dia. Belum rancangan peraturan ini lahir. “Bagaimana kalau perusahaan baru? perusahaan yang merugi? Dan belum punya untung?” tanya Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia M. Beleid yang acap disebut RPP CSR ini beberapa hal sudah disepakati pada 11 Maret. ada lima pengusaha yang menolak kewajiban CSR yang juga merupakan penerima dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). “Persis saat dulu butuh BLBI. sudah ada pemerintah daerah yang mengadopsi pewajiban tanggung jawab sosial. Apalagi. mereka pun harus bedol desa”. ada 22 asosiasi yang terkait dengan dunia usaha. Artinya. red) selamat oleh government social responsibility (GSR). untuk CSR pun mereka mengadu ke Wapres.adalah perubahan lahan jadi real estate. Program CSR bisa membebani pengusaha. Syarat itu tak lain adalah memasukan CSR dalam cost recovery. draf berisi sembilan pasal itu sudah disepakati pada Maret lalu. RPP ini merupakan implementasi dari Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. “Mereka sepakat bisa terima CSR sebagai kewajiban. Lama tak terdengar kabarnya. tapi tetap ada syaratnya. Bakal bertambah dua pasal baru. jika perusahaan itu tidak ada kaitannya dengan kerusakan lingkungan. CSR tetap akan dibebankan kepada pemerintah. Begitu juga dengan pebisnis yang merusak lingkungan. Parahnya lagi. Pembahasan lanjutan pada medio Juli ini. (Sut) Ini Dia Jeroannya RPP CSR: [8/7/08] Apa kabar Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tanggung Jawab Sosial? Lama tak terdengar gaungnya. tapi terusik saat diminta sisihkan laba. CSR merupakan singkatan dari corporate social responsibility. Ini sungguh tragis. “Mereka (penerima dana BLBI. kata Hidayat. maka kewajiban CSR patut dipertanyakan.S Hidayat dalam berbagai kesempatan. Sekedar mengingatkan. Kendati untung pengusaha dari pertambangan bergunung-gunung. . Alasannya ya itu tadi. menolak beleid CSR.” ujar Erie. Erie berujar “warga bukan hanya dikerjai makelar tanah dan aparat.” sesal pria yang menyebut dirinya sebagai social entrepreneur ini.

UU Kehutanan (UU 41/1999). Namun. menteri kelautan dan perikanan. Laporan masyarakat itu disampaikan secara tertulis. Nah. Anggaran itu disusun dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran serta diperhitungkan sebagai biaya perseroan. UU Sumberdaya Air (UU 7/2004). RPP ini tak merinci jenis dan besaran sanksinya. Karena itulah. UU Ketenagakerjaan (UU 13/2003). serta bidang lainnya. Tak ada berapa persen "tarif" CSR dalam beleid itu. CSR harus dirancang dalam rencana kerja tahunan. Sederet Undang-Undang itu antara lain UU Ketentuan Pokok Pertambangan (UU 11/1967). Nah. Sebaliknya. perusahaan yang mbalelo tak mau melaksanakan CSR. Tindakan itu terpulang pada sejumlah Undang-Undang. Perseroan yang telah melaksanakan CSR melebihi kewajiban dasar dapat diberi penghargaan. Nah. UU Antimonopoli (UU 5/1999).Bahwa. Pelaksanaan CSR ini harus dimuat dalam laporan tahunan untuk dipertanggungjawabkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kedua. dan keselamatan kerja bagi para pekerja (K3). bakal dikenai sanksi. masyarakat boleh komplain jika perseroan itu tak melaksanakan CSR sebagaimana mestinya. ada dua golongan perseroan yang bertalian dengan SDA. memang benar-benar bergerak di bidang SDA. perseroan punya kewajiban hukum bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usaha di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam (SDA). CSR ini ada dua jenis. setiap perseroan selaku subjek hukum punya tanggung jawab sosial dan lingkungan. sesuai dengan jenisnya. Bisa menteri energi dan sumber daya mineral. menteri negara lingkungan hidup. CSR di dalam lingkungan perseroan misalnya keamanan. dan kelautan. pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup. RPP ini secara tersurat memberi contoh rumah sakit dan industri tekstil. Rencana ini juga perlu mencantumkan anggaran yang dibutuhkan. UU Hak Asasi Manusia (UU 39/1999). Sedangkan CSR di luar lingkungan perseroan misalnya community development. UU Lingkungan Hidup (UU 23/1997). kehutanan. Pertama. RPP ini eksplisit mencontohkan kegiatan pertambangan. klausul "kepatutan dan kewajaran" menurut RPP ini adalah sesuai dengan kemampuan keuangan perseroan dan potensi risiko serta tanggung jawab yang harus ditanggung oleh perseroan sesuai dengan kegiatan usahanya. . Yakni keluar dan ke dalam. kegiatan usaha yang berdampak pada fungsi kemampuan SDA. Penghargaan itu akan ditentukan oleh menteri yang membidangi kegiatan usaha perseroan itu. serta UU BUMN (19/2003). pengelolaan limbah. Dalam teknis pelaksanaannya. kesehatan.

Pengusaha tetap ogah Kubu pebisnis justru tak antusias menyambut beleid ini." ujarnya dengan menyerahkan perihal ini kepada Kepala Subdirektorat Perancangan dan Pembahasan Hadi Suprapto. pertambangan.Kubu Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) masih irit bicara soal RPP ini. Sejak awal para pengusaha menolak klausul CSR menjadi kewajiban." pungkasnya menutup pembicaraan. "Masih dibahas dan kita akan ketemu pada 15 Juli." ujarnya dari sambungan telepon (8/7). pemerintah daerah sudah coba memasukkan klausul tanggung jawab sosial itu menjadi kewajiban." Sofjan berjanji secepatnya menyorongkan materi judicial review itu. Namun dia enggan menjelaskan dua klausul tambahan itu. "Kami punya penasihat hukum yang terus mengkaji klausul ini. demikian laporan situs berita Harian Global edisi 4 Juni. Ketika ditanya mengapa bidang kehutanan. "Saya baru mulai masuk setelah cuti menyusun disertasi. Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Syamsuddin Manan Sinaga tidak mengangkat hapenya ketika dihubungi. Provinsi Sumatra Utara. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sebenarnya diajak Depkumham terlibat dalam tim kecil pembahasan draf ini. dan kelautan yang wajib melakukan CSR. Sofjan tak mau ambil pikir. Sofjan dan kawan-kawan kini fokus pada rencana uji materi Pasal 74 UU PT ke Mahkamah Konstitusi. Demikian halnya anak buahnya. Contohnya." ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi. secara filosofis maupun teknis. Direktur Perencanaan Peraturan Perundang-undangan Suhariyono mengaku belum in-charge mengikuti perkembangan. Perda gelandangan Belum kelar RPP CSR diketuk palu. Hadi pada dasarnya menilai bidang sumberdaya alam ini tidak ada sekat-sekat atau penggolongan. CSR bersifat sukarela. "Hanya Indonesia yang hebat membuat CSR jadi wajib. sinyal (hape) jelek nih. "Awalnya kita ingin isi materi RPP ini lebih lunak dan mengakomodasi kepentingan kita. Baru saja pemprov dan DPRD Sumut mengesahkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. . "Waduh. Perda yang masih "panas dari oven" ini disahkan pada Juni lalu. Bagaimana nasib perseroan kecil yang belum sanggup?" Meski pembahasan RPP CSR ini jalan terus. Hadi juga menandaskan komposisi yang kini terdiri dari sembilan pasal itu bakal bertambah jadi sebelas pasal. Direktur Perdata Cholilah. Namun pembahasan ini alot hingga kini tak kelar. Menurut mereka. Hadi menyergap. yang juga turut di Kadin. Menurut Hadi. posisi RPP ini belum final.

dan Febry Latief (Presdir PT Kreasi Tiga Pilar). Tiga hakim konstitusi. Majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang diketuai Mahfud MD menolak permohonan uji materi Pasal 74 UU No. memang menolak kewajiban CSR karena CSR yang berlaku secara universal di negara-negara lain hanya bersifat sukarela. dalam permohonannya. Pasal itu berbunyi. Dan baru saja beleid ini disahkan lewat Sidang Paripurna DPRD Sumut di tangan Gubernur Syamsul Arifin. (Ycb/Mon) Perusahaan Tetap Harus Jalankan CSR Putusan MK: [16/4/09] Mayoritas hakim konstitusi berpendapat diwajibkannya CSR atau tanggung jawab sosial lingkungan dalam UU PT lebih memberi kepastian hukum.” ujar Hakim Konstitusi Abdul Mukthie Fadjar saat membaca pertimbangan Mahkamah. melalui dissenting opinionnya. Coba tengok Pasal 16 yang mengatur peran dunia usaha. lebih setuju CSR dilakukan secara sukarela.” ujarnya di ruang sidang MK. Pemohon. MK seakan membedakan antara TJSL yang diatur dalam UU PT dengan corporate social responsibility (CSR) yang diatur secara umum. Mahkamah juga berpendapat kewajiban TJSL merupakan wujud dari demokrasi ekonomi. “Bahwa pengaturan TJSL dengan kewajiban hukum (legal obligation) lebih mempunyai kepastian hukum jika dibandingkan dengan CSR yang bersifat sukarela (voluntary). Perda ini sudah disiapkan oleh gubernur terdahulu. Ketiga pemohon itu adalah Hariyadi Sukamdani (Presdir PT Lili Panma). dan kekayaan alam yang terkandung di . Rudolf Matzoka Pardede pada 2007. air.Gelandangan dan pengemis? Jangan salah. Benny Soetrisno (Presdir PT Aspac Centra Centertex). 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) yang mengatur ketentuan tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) bagi perusahaan yang bidang usahanya berkaitan dengan sumber daya alam. pemohon V. dan pemohon VI untuk seluruhnya. Mukthie menegaskan dengan kewajiban tersebut diharapkan perusahaan dapat memberikan kontribusi untuk ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Menyatakan menolak permohonan pengujian materiil pemohon IV. Rabu (15/4). “Bumi. Dalam putusannya." Perda tersebut sudah jadi wacana setidaknya dua tahun silam. "Setiap dunia usaha berkewajiban mendukung usaha penanggulangan gelandangan dan pengemis dengan menerapkan prinsip Corporate Social Responsibility (CSR) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yan berlaku.

Namun. tapi belum ada satu definisi pun yang telah disepakati.” jelas Mukthie. Arsyad mengatakan istilah CSR memang telah dikenal di berbagai negara di dunia. Sedangkan Maria Farida memberedel definisi TJSL dalam UU PT. “Pelaksanaan tanggung jawab sosial sangat erat kaitannya dengan masalah etis. dan kepatutan. “Ada beberapa pihak yang memahami dan menerjemahkan CSR dengan istilah Tanggung Jawab Sosial. paham individualisme dan liberalisme dalam ekonomi sebaiknya dibuang jauh-jauh.” ujar Mukthie lagi. moral. Mereka adalah Maria Farida Indrati. Maruarar Siahaan. . ketiga hakim tersebut berpendapat pengaturan CSR harusnya hanya bersifat sukarela. komunitas setempat. 2. Pengaturan CSR dengan suatu kewajiban hukum merupakan suatu cara pemerintah untuk mendorong perusahaan ikut serta dalam pembangunan ekonomi masyarakat. 3. akan tetapi tak sedikit yang memahami dan menerjemahkan CSR dengan istilah Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).” ujar Arsyad. baik bagi perseroan sendiri. Putusan MK ini tak dibuat dengan suara bulat. Ketentuan yang Diuji Pasal 74 UU PT 1. sehingga bersifat voluntary. Tiga hakim konstitusi menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion). dan M Arsyad Sanusi. Pasal 1 angka 3 UU itu menyebutkan 'Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat.dalamnya tidak hanya untuk kemakmuran segelintir pengusaha yang bermodal. bukan merupakan kewajiban bagi perusahaan.” tambah Arsyad. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. apapun definisi yang dianut. kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. maupun masyarakat pada umumnya'. tetapi justru untuk kemakmuran rakyat. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Karenanya. “Mahkamah berpendapat prinsip dasar perekonomian di Indonesia adalah bersifat kerakyatan.

Erwin Aksa mengaku kecewa dengan putusan ini. “Sekarang masuk tahap sosialisasi. permohonan pengujian ini diajukan oleh dua kelompok. “Ini menimbulkan adanya ketidakpastian hukum. Sehingga. namun berasal dari luar diri yang melakukan (bersifat memaksa). Implementasi Pasal 74 itu yang kemudian diwujudkan dalam RPP CSR. Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) telah merampungkan pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan. Karenanya. MK menyatakan yang mempunyai legal standing atau kedudukan hukum dalam menggugat CSR adalah perseroan. (Ali) Ini Dia RPP CSR Teranyar [12/6/09] Rancangan akhir menghilangkan pasal yang mengatur hak complain masyakat terhadap perseroan yang tidak melaksanakan CSR. Hariyadi Sukamdani pun berpendapat senada. Ia malah khawatir putusan MK ini dijadikan dasar pemerintah dalam membuat peraturan teknis. ia menjelaskan suatu komitmen selalu berasal dari diri yang akan melakukannya. Mudah-mudahan ini tak mempengaruhi investasi yang akan datang ke Indonesia.Maria menggaris bawahi kata 'komitmen'. seperti Peraturan Pemerintah mengenai CSR ini yang merugikan pengusaha. Erwin Aksa (Ketua Umum HIPMI) dan Fahrina Fahmi Idris (Ketua Umum IWAPI). 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (PT). “Di negara lain tak ada kewajiban CSR. Sedangkan kelompok kedua adalah Hariyadi Sukamdani (Presdir PT Lili Panma). M Sulaiman Hidayat (Ketua Umum Kadin). Kelompok pertama terdiri dari para pengurus organisasi pengusaha. maka hal itu bukan lagi berasal dari dalam diri (bersifat sukarela). Bab itu memuat Pasal 74 yang mewajibkan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Sehingga apabila komitmen tersebut kemudian ditetapkan sebagai 'kewajiban'. bukan organisasi pengusaha. bukan berasal dari luar. Maria melihat ada sebuah ketidaksinkronan atau contradictio in terminis ketika Pasal 1 angka 3 menyebut TJSL sebagai 'komitmen' dengan Pasal 74 yang mewajibkan TJSL. RPP itu bertajuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sesuai dengan judul Bab V UU No. Dalam putusannya. Benny Soetrisno (Presdir PT Aspac Centra Centertex). Lebih lanjut.” tegasnya. biasa orang menyebutnya dengan istilah corporate social responsibility (CSR).” tuturnya. Ditemui usai sidang. istilah 'komitmen' sama sekali tidak mengindikasikan suatu kewajiban yang diharuskan oleh negara. Sekedar mengingatkan.” jelasnya. “Dari segi makna kata.” ujar Direktur Perancangan . permohonan ketiga perwakilan organisasi pengusaha itu dinyatakan tidak dapat diterima. dan Febry Latief (Presdir PT Kreasi Tiga Pilar).

RPP ini berisi delapan pasal. Kamis (11/6). ketentuan CSR lahir untuk meningkatkan kesadaran perseroan terhadap pelaksanaan tangung jawab sosial dan lingkungan di Indonesia. pemulihan lokasi yang memenuhi standar kelayakan lingkungan hidup. Hasilnya. 7/2004 tentang Sumber Daya Air dan UU No. UU No. peraturan-perundangan yang dimaksud adalah UU No. CSR ini ada dua jenis. Termasuk kegiatan usaha yang berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan. Pembahasan RPP ini sempat tertunda-tunda lantaran timbul polemik seputar kewajiban CSR bagi perusahaan. CSR ke dalam lingkungan perseroan misalnya keamanan. pengelolaan limbah. CSR dilaksanakan setiap perseroan selaku subjek hukum punya tanggung jawab sosial dan lingkungan. dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi). Yakni. CSR merupakan kewajiban hukum bagi perseroan yang menjalankan usahanya di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam. Yakni keluar dan ke dalam lingkungan perseroan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Suhariyono. misalnya laundry. Kamar Dagang dan Industri (Kadin). 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. 19/2003 tentang BUMN. Dalam penjelasan disebutkan. UU No. UU No. Sedangkan CSR di luar lingkungan perseroan misalnya community development. UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. UU No. Para pengusaha berpendapat CSR seharusnya dilaksanakan secara sukarela. 39/1999 tentang HAM. Dalam RPP disebutkan. majelis hakim konstitusi menolak permohonan itu. Bagi perseroan yang tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan akan dikenakan sanksi. saat dihubungi via telepon. Berdasarkan dokumen RPP yang diterima hukumonline. Yakni. Hukuman itu mengacu pada delapan Undang- . 5/1984 tentang Perindustrian. industri tekstil. kegiatan usaha yang mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam sesuai peraturan perundang-undangan. rancangan akhir menghilangkan pasal yang mengatur hak complain masyakat terhadap perseroan yang tidak melaksanakan CSR. Tak jauh berbeda dengan rancangan awal.Perundang-undangan Depkumham. bukan diwajibkan. Sebelumnya. UU No. 41/1999 tentang Kehutanan. RPP CSR memuat sembilan pasal. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Majelis hakim konstitusi berpendapat diwajibkannya CSR dalam UU PT lebih memberi kepastian hukum. kesehatan. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Hanya satu pasal yang dihilangkan justru merupakan pasal yang dianggap penting. dan keselamatan kerja bagi para pekerja (K3). rumah sakit atau hotel. Pasal 74 UU PT bahkan sempat di-judicial review ke Mahkamah Konstitusi oleh tiga organisasi pengusaha. Sesuai penjelasan dalam RPP. Selebihnya tak jauh beda.

Dapat Insentif Pelaksana dari CSR adalah direksi perseroan atas persetujuan dewan komisaris sesuai dengan Anggaran Dasar Perseroan. jika peraturan perundang-undangan menentukan bahwa persertujuan rencana kerja diberikan oleh oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam teknis pelaksanaannya. maka anggaran dasar tidak dapat menentukan rencana kerja disetujui oleh Dewan Komisaris atau sebaliknya. Rencana ini juga perlu mencantumkan anggaran yang dibutuhkan. Artinya. . Kemudian bagi perseroan yang melaksanakan CSR. CSR harus dirancang dalam rencana kerja tahunan. berupa insentif fasilitas atau bentuk penghargaan lainnya. Hal itu sesuai dengan Pasal 66 ayat (2) huruf c UU PT.Undang tersebut. Yang dimaksud dengan kepatutan dan kewajaran adalah sesuai dengan kemampuan keuangan perseroan. plus potensi resiko yang mengakibatkan tanggung jawab yang harus dipikul perseroan sesuai kegiatan usahanya. Anggaran itu disusun dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran serta diperhitungkan sebagai biaya perseroan. kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang. Pelaksanaan CSR ini harus dimuat dalam laporan tahunan untuk dipertanggungjawabkan kepada RUPS. dapat diberikan penghargaan oleh instansi yang berwenang.