P. 1
Utang Luar Negeri Indonesia

Utang Luar Negeri Indonesia

|Views: 564|Likes:
Published by deddyyque

More info:

Published by: deddyyque on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2014

pdf

text

original

UTANG LUAR NEGERI INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan tahapan proses yang mutlak dilakukan oleh suatu bangsa untuk dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat bangsa tersebut. Pembangunan ekonomi suatu negara tidak dapat hanya dilakukan dengan berbekal tekad yang membaja dari seluruh rakyatnya untuk membanngun, tetapi lebih dari itu harus didukung pula oleh ketersediaan sumberdaya ekonomi, baik sumberdaya alam; sumberdaya manusia; dan sumberdaya modal, yang produktif. Dengan kata lain, tanpa adanya daya dukung yang cukup kuat dari sumberdaya ekonomi yang produktif. Maka pembangunan ekonomi mustahil dapat dilaksanakan dengan baik dan memuaskan. Adapun kepemilikan terhadap sumberdaya ekonomi ini oleh negara-nagara dunia ketiga tidaklah sama. Ada negara yang memiliki kelimpahan pada jenis sumberdaya ekonomi tertentu, ada pula yang kekurangan. Pada banyak negara dunia ketiga, yang umumnya memilki tingkat kesejahteraan rakyat yang relatif masih rendah, mempertinggi tingkat pertumbuhan ekonomi memang sangat mutlak diperlukan untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dari negara-negara industri maju. Oleh karena masih relatif lemahnya kemanpuan partisipasi swasta domestik dalam pembangunan ekonomi, mengharuskan pemerintah untuk mengambil peran sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Seoalah-olah segala upaya dan strategi pembangunan difokuskan oleh pemerintah untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dari tahun ke tahun. Sehingga, seringkali hal tersebut dilakukan melebihi kemampuan dan daya dukung sumberdaya ekonomi didalam negeri yang tersedia pada waktu itu. Akibatnya, pemerintah negara-negara tersebut harus mendatangkan sumberdaya ekonomi dari luar negara-nagara lain untuk dapat memberikan dukungan yang cukup bagi pelaksanaan program pembangunan ekonomi nasionalnya. Dengan dukungan sumberdaya ekonomi dari luar negara tersebut, maka bukanlah sesuatu yang mustahil, apabila di beberapa nagara dunia ketiga atau negara yang sedang berkembang, laju pertumbuhan ekonomi dapat melebihi laju pertumbuhan ekonomi negara-negara industri maju. Sumberdaya modal merupakan sumberdaya ekonomi yang paling sering didatangkan oleh pemerintah negara-negara sedang berkembang untuk mendukung pembangunan nasionalnya. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan sumberdaya modal dalam negeri. Sumberdaya modal didatangkan dari luar negeri, yang umunya dari negara-negara industri maju, ini wujudnya bisa beragam, seperti penanaman modal asing (direct invesment), berbagai

bentuk investasi portofolio (portofolio invesment) dan pinjaman luar negeri. Dan tidak semuanya diberikan sebagai bantuan yang sifatnya cuma-cuma (gratis). Tetapi dengan berbagai konsekuensi baik yang bersifat komersil maupun politis. Pada satu sisi, datangnya modal dari luar negeri tersebut dapat digunakan untuk mendukung program pembangunan nasional pemerintah, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat meningkat. Tetapi pada sisi lain, diterimanya modal asing tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah dalam jangka panjang, baik ekonomi maupun politik, bahkan pada beberapa negara-negara yang sedang berkembang menjadi beban yang seolah-olah tak terlepaskan, yang justru menyebabkan berkurangnya tingkat kesejahteraan rakyatnya. <!--[if !supportLists]-->1.2 <!--[endif]--> Permasalahan <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Bagaimanakah perkembangan utang luar negeri pemerintah Indonesia dari dari tahun ke tahun? <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Apakah yang dimaksud dengan krisis utang dan faktor-faktor penyebabnya? <!--[if !supportLists]-->· <!--[endif]-->Dampak apa sajakah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya krisis utang bagi Negara sedang berkembang khususnya Bangsa Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN MASALAH <!--[if !supportLists]-->2.1 <!--[endif]--> Utang Luar Negeri <!--[if !supportLists]-->2.1.1 <!--[endif]-->Indikator dan Pengertian Utang Luar negeri Tidak semua negara yang digolongkan dalam kelompok negara dunia ketiga, atau negara yang sedang berkembang, merupakan negara miskin, dalam arti tidak memiliki sumberdaya ekonomi. Banyak negara dunia ketiga yang justru memiliki kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Masalahnya adalah kelimpahan sumberdaya alam tersebut masih bersifat potensial, artinya belum diambil dan didayagunakan secara optimal. Sedangkan sumberdaya manusianya yang besar, belum sepenuhnya dipersiapkan, dalam arti pendidikan dan keterampilan, untuk mampu menjadi pelaku pembangunan yang berkualitas dan berproduksi tinggi. Pada kondisi yang seperti itu, maka sangatlah dibutuhkan adanya sumberdaya modal yang dapat digumakan sebagai katalisator pembangunan, agar pembangunan ekonomi dapat berjalan dengan lebih baik, lebih cepat, dan berkelanjutan. Dengan adanya sumberdaya modal, maka semua petensi kelimpahan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia dimungkinkan untuk

lebih didayagunakan dan dikembangkan. Tetapi, pada banyaknya negara yang sedang berkembang, ketersediaan sumberdaya modal seringkali menjadi kendala utama. Dalam beberapa hal, kendala tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat pemobilisasian modal di dalam negeri, beberapa penyebabnya antara lain (1) pendapatan per kapita penduduk yang umumnya relatif rendah, menyebabkan tingkat MPS (marginal propensity to save) rendah, dan pendapatan pemerintah dari sektor pajak, khususnya penghasilan, juga rendah. (2) Lemahnya sektor perbankan nasional menyebabkan dana masyarakat, yang memang terbatas itu, tidak dapat didayagunakan secara produktif dan efisien untuk menunjang pengembangan usaha yang produktif. (3) Kurang berkembangnya pasar modal, menyebabkan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah, sehingga banyak perusahaan yang kesuliatan mendapatkan tambahan dana murah dalam berekspansi. Dengan kondisi sumberdaya modal domestik yang sangat terbatas seperti itu, jelas tidak dapat diandalkan untuk mampu mendukung tingkat pertumbuhan output nasional yang tinggi seperti yang diharapkan. Solusi yang dianggap bisa diandalkan untuk mengatasi kendala rendahnya mobilisasi modal domestik adalah dengan mendatangkan modal dari luar negeri, yang umumnya dalam bentuk hibah (grant), bantuan pembangunan (official development assistance), kredit ekspor, dan arus modal swasta, seperti bantuan bilateral dan multilateral; investasi swasta langsung (PMAP); portofolio invesment; pinjaman bank dan pinjaman komersial lainnya; dan kredit perdagangan (eksper/impor)/ modal asing ini dapat diberikan baik kepada pemerintah maupun kepada pihak swasta. Banyak pemerintah di negara dunia ketiga menginginkan untuk mendapatkan modal asing dalam menunjang pembangunan nasionalnya, tetapi tidak semua berhasil mendapatkannya, kalau pun berhasil jumlah yang didapat akan bervariasi tergantung pada beberapa faktor antara lain (ML. Jhingan : 1983, halaman 643-646) : <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Ketersediaan dana dari negara kreditur yang umumnya adalah negara-negara industri maju. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Daya serap negara penerima (debitur). Artinya debitur akan mendapat bantuan modal asing sebanyak yang dapat diguankan untuk membiayai investasi yang bermanfaat. Daya serap mencakup kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan proyel-proyek pembangunan, mengubah struktur perekonomian, dan mengaplikasikan kembali resources. Struktur perekonomian yang simultan dengan pendayagunaan kapasitas nasional yang akan menjadi landasan penting bagi daya serap suatu negara. <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Ketersediaan sumber daya alam dan sumberdaya manusia si negara penerima, karena tanpa ketersediaan yang cukup dari kedua sumberdaya tersebut dapat menghambat pemanfaatan modal asing secara efektif.

kebanyakan utang yang diterima oleh NSB dalam bentuk US$.1. bahwa utang luar negeri telah menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan perekonomian nasioanal yang cukup penting bagi sebagian besar negara yang sedang berkembang. termasuk Indonesia. telah mengisi sektor penerimaan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (goverment budget) yang selanjutnya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan proyek-proyek pembangunan negara atau investasi pemerintah di sektor publik. baik yang bersifat grant. soft loan. Bahkan. Sehingga peranan modal asing sebenarnya adalah sebagai sarana efektif untuk memobilisasi keinginan suatu negara. <!--[if !supportLists]-->2. sayangnya kemampuan finansial yang dimiliki pemerintah masih terbatas atau kurang mendukung. kecuali jika disertai dengan usaha untuk memanfaatkan dengan benar oleh negara dibuat di dalam negeri. <!--[endif]-->Kemampuan negara penerima bantuan untuk membayar kembali (re-payment).<!--[if !supportLists]-->4. Beban utang ini disebabkan karena : pertama. Dengan mengingat bahwa peran pemerintah yang masih menjadi penggerak utama perkonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. Pinjaman luar negeri adalah semua pinjaman yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri baik dalam valuta asing maupun dalam Rupiah. termasuk dalam bidang finansial.2 <!--[endif]-->Karakteristik krisis Utang dan Pembentukan Utang Utang bagi NSB bukan lagi membantu dalam pembangunannya bahkan menjadi beban. maka pinjaman (utang) luar negeri pemerintah menjadi hal yang sangat berarti sebagai modal bagi pembiayaan pembangunan perekonomian nasional. <!--[if !supportLists]-->5. sedangkan jumlah US$ yang tersedia dipasar internasional relatif lebih sedikit dari mata uang asing lainnya seperti Yen. . Deutschmark atau poundsterling sehingga NSB mengalami kesulitan dalam memperoleh US$. Utang yang diterima lebih banyak dinyatakan dalam bentuk mata uang asing dan bukan dalam bentuk mata uang dalam negeri sehingga rentan terhadap fluktuasi di pasar moneter internasional. Dengan demikian. Kedua. Sekarang ini dengan semakin mengglobalnya perekonomian dunia. Pada banyak negara yang sedang berkembang. Khusus modal asing dalam bentuk pinjaman luar negeri kepada pemerintah. menyebabkan pemerintah membutuhkan banyak modal untuk membangun berbagai prasarana dan sarana. Modal yang diterima dari luar negeri tidak dengan sendirinya memberikan hasil. maupun hard loan. menyebabkan arus modal asing semakin leluasa keluar masuk suatu negara. beberapa negara saling berlomba untuk dapat menarik modal asing sebanyak-banyaknya dengan cara menyediakan berbagai fasilitas yang menguntungkan bagi para investor dan kreditur. Bahkan dapat dikatakan. <!--[endif]-->Kemampuan dan usaha negara penerima untuk membangun. modal asing seolah-olah telah menjadi salah satu modal pembangunan yang diandalkan.

<!--[endif]-->Persentase utang terhadap GNP (debt to GNP ratio).8 51.2%. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[if !supportLists]-->1) <!--[endif]-->Kurangnya tabungan dalam negeri ( saving-investment gap ) Kekurangan tabungan ini tidak lain karena rendahnya tingkat pendapatan penduduk di samping sistem keuangan yang belum memadai. Di sisi lain negara-negara tersebut tidak mampu menyediakan dana yang cukup. Aspek tersebut yaitu: <!--[if !supportLists]-->1.Untuk mengukur sampai sejauh mana tingkat utang membebani suatu negara dapat kita lihat dari beberapa aspek. tetapi jika persentase terhadap GNP relatif besar. Sehingga contoh tingkat DSR Brazil dan korea selatan pada tahun 1982 masing-masing sebesar 81% dan 2. Menurut pengalaman di banyak negara batas aman untuk DSR adalah 20%. 1. Konsentrasi Utang Tahun 1982 (% terhadap total utang) Negara Sub-Sahara Afrika Asia Tenggara Amerika latin dan Karibia Afrika Utara dan Timur Tengah Sumber : Bank Dunia Sebagaimana diketahui untuk membangunan suatu negara diperlukan adanya dana yang cukup untuk membiayai kegiatan investasi. hal ini akan memberatkan negara tersebut. <!--[if !supportLists]-->2) <!--[endif]-->Kurangnya kemampuan untuk menghasilkan devisa ( foreign exchange ) Untuk melakukan transaksi perdagangan internasional diperlukan devisa. sementara kemampuan NSB dalam menghasilkan devisa masih rendah.3 11.1 . % 10. Berdasarkan Tabel. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah alasan apa yang mendasari negara-negara tersebut untuk meminjam uang/utang? Tabel. <!--[endif]-->Tingkat Debt service Ratio.8 26. Meskipun secara absolut jumlahnya kecil. Kedua indikator tersebut dalam penggunaannya tergantung dari permasalahan yang dihadapai oleh masing-masing negara. Ini berarti Brazil menggunakan 81% dari ekspornya untuk membayar utangnya sedangkan Korea selatan hanya 2.2%. yaitu perbandingan antara pembayaran bunga plus cicilan utang terhadap penerimaan ekspor suatu negara. 1 terlihat bahwa sebagian besar utang terserap oleh negara-negara di wilayah Amerika latin dan Karibia serta Asia Tenggara. Ketidakmampuan ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor sebagai berikut.

tidak mengherankan apabila mengalir arus modal dari Negara industry ke Negara sedang berkembang (NSB). investasi portofolio dan kredit ekspor. sebagaimana ditunjukan oleh Gambar 1 dapat dibagi dalam modal yang tidak dan yang harus dibayar kembali (Pattisiana. Keadaan tersebut semakin diperburuk dengan tingkat bunga pinjaman yang tinggi. Gambar. Negara yang tidak mempunyai tabungan dalam negeri yang cukup untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Klasifikasi Arus Modal dari Negara Industri Ke NSB Arus Modl dari Industri ke NSB Yang tidak harus dibayar kembali Bantuan-bantuan Pembangunan Bantuan Pembangunan dalam bentuk jasa Yang Harus Dibayar Kembali Pemerintah . Dengan demikian.1982:881-899). <!--[if !supportLists]-->2. tergantung dari sumber arus modal tersebut. rendahnya harga barang-barang ekspor yang dihasilkan oleh NSB (sebagian penghasil bahan mentah). Faktor-faktor tersebut semakin mempersulit bagi NSB untuk membayar utangnya. umumnya menutup kesenjangan pembiayaan dengan mencari sumber-sumber dari luar negeri.3 <!--[endif]-->Modal Asing Dalam Pembangunan Sejarah mencatat.1. 1. apakah ke sector pemerintah atau swasta di Negara industry. tanpa suatu ekspor modal balasan dari Negara tersebut. Dalam kelompok arus modal yang pertama biasanya mengalir modal dari sektor pemerintah negara industri ke sektor yang sama di NSB. yang terakhir adalah mengenai investasi langsung. Keseluruhan arus modal asing. Yang pertama tadi meliputi pengertian kredit dan pembiayaan dari proyek-proyek pembangunan. Sebaliknya dalam kelompok arus modal yang harus dibayar kembali terdapat arus balik berupa ekspor modal dari NSB.Kedua faktor itulah yang pada akhirnya mendorong NSB untuk meminjam dana dari luar negeri dalam bentuk mata uang asing dan bukan mata uang domestik. dan rendahnya tingkat permintaan terhadap produk-produk NSB.

Swasta Investasi Langsung Investasi Portofolio Investasi Portofolio Pinjaman Kredit Pembiayaan dari proyek pembangunan <!--[if !vml]--> <!--[endif]--> Sumber : Rubinsterin (1975 : 50) dalam Pattisiana (1982 : 883) <!--[if !supportLists]-->2.3.1.1 <!--[endif]-->Aliran Modal ke Sektor Pemerintah .

Bank Dunia (1992) mengklasifikasikan total utang luar negeri menjadi : utang jangka pendek . Gambar.Karena sifatnya. Stok Utang Luar negeri dan Komponen-komponennya <!--[if !vml]--> <!--[endif]--> Utang Jangka Pendek <!--[endif]--><!--[if ! mso]--> <!--[endif]--> Total Utang Luar Negeri Penggunaan Kredit IMF <!--[if !mso]--> <!--[endif]--><!--[if !mso & !vml]--> <!--[endif]-><!--[if !vml]--> <!--[if !vml]--> Utang Jangka Panjang <!--[endif]--> . namun lebih popular disebut bantuan luar negeri (foreign aid) Karena bantuan luar negeri banyak yang harus dibayar kembali maka umumnya disebut utang luar negeri. Aliran konsesional ini secara teknis disebut bantuan pembangunan resmi (ODA=Official Development Assistance). Penggunaan kredit IMF merupakan kewajiban yang dapat dibeli kembali (repurchase obligations) atas srmua penggunaan fasilitas IMF. Artinya dapat berupa hibah (grants) atau pinjaman lunak (soft loans). arus modal asing yang harus sibayar kembali juga disebut tabungan luar negeri. 1983:365-366). Tabungan luar negeri meliputi tabungan resmi ke sector pemerintah (official savings) dan tabungan swasta (private savings) (Gillis. 2. utang jangka panjang dan penggunaan kredit IMF ( lihat gambar 2). Sebagian besar tabungan resmi berwujud konsesional. Utang jangka panjang umumnya berjangka waktu lebih dari satu satu. Utang jangka pendek adalah utang dengan jatuh tempo satu tahun atau kurang. yang biasanya berbunga rendah dengan jangka waktu pengembalian yang lebih lama.

<!--[if !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--> <!--[endif]-->Menurut Debitur Utang swasta yang tidak dijamin Utang sector Publik & Oleh Pemerintah Dijamin <!--[if !vml]--> <!--[endif]--> <!--[if !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--> <!--[endif]--><!--[if !vml]--> Menurut Kreditur Kreditur swasta <!--[endif]--> Bank-bank komersial Obligasi Lain-lain Kredit Resmi Multilateral .

Utang luar negeri yang berasal dari kreditur swasta bisa pula berwujud pinjaman dari bank-bank komersial.Bilateral <!--[if !vml]--> <!--[endif]--> Sumber : Word Bank (1992) Utang yang berjangka panjang dapat diperinci menurut jenis utangnya. Utang swasta yang nonguaranteed debt adalah utang yang dilakukan oleh swasta. departemen. dan lain-lain. dan pemasok . yang diberikan/dipinjamkan ke NSD. misalnya bantuan pemerintah Jepang kepada pemerintah Indonesia. dan utang pemerintah dan utangyang dijamin oleh pemerintah (public and publicly guaranteed debt). yaitu utang swasta yang tidak dijamin oleh pemerintah (private Nonguaranteed debt). Bnk Dunia. obligasi. yaitu pinjaman dan kredit dari lembaga keungan internasional seperti PBB. Obligasi dikeluarkan oleh lembaga pemerintah maupun swasta. IGGI. Bentuk lain adalah kredit dari perusahaan manufaktur. dimana utang tersebut tidak dijamin oleh institusi pemerintah. Di lain pihak. Risiko ini tidak dijumpai untuk harus menanggung akibatnya. Utang yang publicly guaranteed merupakan utang utang yang dilakukan swasta namun dijamin pembayarannya oleh suatu lembaga pemerintah. Bagi kebanyakan NSB. danlembaga pemerintah yang otonom. dan (2) pinjaman multilateral. Pinjaman dari bank-bank komersial adalah pinjaman dari bank-bank swasta dan lembanga keuangan swasta lainnya. yaitu pinjaman antarpemerintah dan lembaga pemerintah (termasuk bank sentral). Selama ini kreditur (pihak yang memberikan utang) dapat bersal dari sumber resmi maupun swasta. utang pemerintah adalah utang yang dilakukan oleh pemerintah termasuk pemerintah pusat. Utang luar negeri yamh bersal dari sumber resmi dibagi menjadi: (1) Pinjaman bilateral. bank-bank pembangunan regional. Utang yang tergolong public and publicly guaranteed dapat diperinci menurut krediturnya. eksportir. jenis utang yang public and publicy guaranteed yang perlu lebih mendapat perhatian karena apabila NSB tidak mampu membayar kembali utang tersebut maka pemerintah negara tersebutlah yang menanggung akibatnya.

Pertama. Namun ternyata jumlah utang luar negeri dari ketiga sumber itulah yang paling banyak tidak dapat dicairkan.194.099.824 2.019 96.785. Tabel.108.309. 2. Posisi Utang Luar Negeri Pemerintah Termasuk yang Tidak Dicairkan pada 31 Desember 2000 (dalam ribuan dolar AS) Posisi Utang (debt Outstanding) Jenis kreditur yang Tidak Dicairkan dicairkan Total (Disbursed (Undisbursed) ) 35. Yang pasti. yaitu investasi keuangan yang dilakukan di luar negeri.1.000 3.395 24. Waktu dan besarnya laba dapat dtentukan sebelumnya berdasarkan atas besarnya bunga yang diperoleh.124 <!--[if !supportLists]-->2. dan pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan.001.365.898 10.589.483.876 874. investasi portofolio. Investor membeli utang atau ekuitas. Menariknaya.110.barang lain. investasi langsung (PMA) oleh penduduk atau perusahaam asing.564 9. multilateral.167.383 15.430 64.198.267 971. serta kredit bank yang ditutup dengan jaminan lembaga kredit ekspor.712 976.723 742.179 Total Sumber : Word Bank 69.164 14.985 39. Table ini menunjukan bahwa porsi terbesar utang luar negeri pemerintah berupa pinjaman bilateral.074 11.149 711. PMA tidak selalu dilakukan oleh perusahaan transnasional. dengan harapan mendapat manfaat financial dari investasi tersebut.432 4.393 971.3. Bagaimana dengan Indonesia? Posisi utang luar negeri yang masuk ke sektor pemerintah Indonesia pada akhir tahun 2000 dapat dilihat pada table 2.2 <!--[endif]-->Aliaran Modal ke Sektor Swasta Tabungan swasta asing terdiri atas empat komponen.979.315 19. Bentuk investasi .576 15.195.876 834.000 3. justru utang luar negeri dalam wujud obligasi dan nasionalisasi ternyata 100 persen malah dicairkan.804.799.816 19. Kedua.398 9. PMA selalu berupa control penuh atau parsia melalui partisipasi dalam modal dan manajemen.289.198 6.357 81.464 31.379 Nilai sekarang (present Value) • Pinjaman Bilateral • Obligasi • Kredit ekspor • Lembaga Keuangan • Pinjaman Multilateral • Nasonalisasi • Kredit Pemasok 41.083.

1. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh NSB sebagai dasar untuk mempercepat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kedua. PMA memainkan peran yang penting di Hongkong dan Singapura (lebih dari setengah hingga 2/3 daritotal modal asing). kredit ekspor merupakan pembiayaan muka dari arus barangbarang yang ditawarkan oleh eksportir dan bank-bank komersialnya ke Negara pengimpor sebagai salah satu cara promosi penjualan. peringkat tertinggi pangsa PMA terhadap total arus modal asing dipegang NIB dan Negara-negara Asia Tenggara.portofolio yang sering ditemui adalah pembeliaan obligasi/saham dalam negeri oleh orang/ perusahaan asing. Keempat. Faktor utama yang menarik PMA ke NIB dan Asia Tenggara adalah kinerja ekonomi yang dinamis seperti tingginya pertumbuhan PDB. kebutuhan akan modal asing menjadi menurun segera setelah perubahan structural benar-benar terjadi ( meskipun modal asing di masa selanjutnya lebih produktif). Data ini juga memperlihatkan. pemikiran mereka sebagai berikut (Chenery dan Charter. Secara garis besar. <!--[if !supportLists]-->2. sementara di Indonesia dan Taiwan pangsannya sekitar seperempat dari total modal asing. Kajian yang dilakukan oleh Rana ( 1987) memperlihatkan. tanpa control manajemen. Studi empiris mengenai dampak modal asing terhadap pertumbuhan umunya difokuskan dengan mengestimasi fungsi Neo-Klasik. pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan perubahanstruktur produksi dan perdagangan. masing-masing sekitar 32% dan 16%. melimpahnya minyak dan sumber daya alam lain ( Indonesia dan Malaysia). Filipina. pinjaman dari bank komersial (commercial bank lending) kepada pemerintah dan perusahaan NSB. Hasil studi secara umum memberikan indikasi bahwa arus masuk modal asing telah menimbulkan . Thailand). Korea. Rendahnya aliran modal ke Negara Asia Selatan dan Pasifik Selatan mencerminkan rendahnya kinerja ekonomi. Pertama. Ketiga. Ketiga.3. Negara-negara industry baru (NIB) dan Negara-negara Asia Tenggara tercatat berhasil menarik hamper 95% dari arus unvestasi asing (PMA). Re. masih kecinya PMA dalam pembentukan domestic bruto. serta kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan ekspor produk pengolahan (Hongkong. dan relative sedikitnya sumber daya alam dan manusia. Singapura). Sementara Negara-negara di Asia selatan dan pasifik selatan hanya memperoleh sisanya (Rana. dalam negeri atau luar negeri. seperti modal dan tenaga kerja.459-68). lemahnya infratruktur. yang kemudian diikuti kelompok Pasifik Selatan (8%) dan Asia Selatan (1%).3 <!--[endif]-->Polemik Mengenai Modal Asing Peranan modal asing dalam pembangunan telah lama diperbincangkan oleh para ahli ekonomi pembangunan. Faktor-faktor produksi ini selanjutnya dapat dipisah menurut asalnya. 1987:Tabel 1 dan 2). modal asing dapat berperan penting dalam mobilisasi dana maupun transformasi structural. 1973. pasar domestik yang relative luas (Indonesia. Selama 1977-1983. Keempat. yang menggambarkan bagaimana pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh akumulasi faktor-faktor produksi. daei 18 negara.

(a) studi-studi terdahulu umumnya tidaknya memasukan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi selain modal asing. Atau seballiknya. Sri lanka. nepal. Singapura. sementar sebagian besar digunakan untuk manambah konsumsi. untuk menelusur dampak arus masuk modal asing dibandingkan ekspor. pertumbuhan angkatan kerja. Cardoso. Republik Korea. seperti kinerja ekspor. Dengan asumsi ini dan incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang stabil. dimungkinkan untuk menghitung dampak modal asing yang masuk terhadap pertumbuhan ekonomi. 1975 : 11-26 . Dos Santos adalah nama-nama yang sering disebut sebagai pendukung utama teori ini. (b) makin banyak negara bergantung pada PMA dan bantuan luar negeri makin besar perbedaan pengahasilan dan pada gilirannya pemerintah tidak tecapai. Lepas dan perbedaan visi dan hipotesis dari pendukung teori dependencia dan neo-Klasik. tingkat dan struktur tabungan. Para penganut teori ketergantungan (dependensia) agaknya sependapat dengan yang terakhir ini. ada beberapa catatan yang kiranya menarik untuk diperhatikan dalam setiap studi mengenai dampak arus modal asing. (b) studi-studi yang pernah dilakukan tidak berhasilan menunjukan hubungan dua arah antara tabungan domestik dan pertumbuhan ekonmi. Samir Amin. <!--[if !supportLists]-->2. Prebish.1. Rana dan Dowling (1988) mencoba menyusun suatu model lomprehensif berdsarkan sistem persamaan simultan. India. Berangkat dari dua kelemahan utama inilah. Dowling dan Hienmenz. filipina. Keunikan model mereka adalah kemampuannya untuk memisahkan dampak langsung dan dampak total modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan domestik. dapat dihitung berapa modal asing yang diperlukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonmi tertentu. namun dalam jangka panjang (5-20 tahun) menghambat pertumbuhan ekonomi. Hipotesis utama teori ketergantungan adalah: (a) PMA dan Bantuan luar negeri dalam jangka pendek memperbesar pertumbuhan ekonomi. Gunder Frank. Pemikiran yang mendukung bahwa modal asing berpengaruh positif terhadap tabungan domestik dan pembiayaan impor. Asumsi dasar yang melatarbelakangi kenaikan satu dolar impor dan investasi (Papanek. 1983). RRC. Thailand). Model ini telah diuji untuk menelusur dampak arus modal asing di sembilan negara Asia (Birma. laju pertumbuhan angkatan kerja. sekaligus menunjukan hubungan timbal balik antara pertumbuhan ekonomi dan tabungan domestik. Mereka beerkesimpulan. 1972 : 934). mendapat banyak tentangan dari kubu ahli ekonomi pembangunan yang lain.4 <!--[endif]-->Motivasi Negara Donor . sistem perpajakan.dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomidi NSB kawasan Asia dan Pasifik (Stoneman. Paul Baran. hanya sebagian kecil modal asing berpengaru positif terhadap tabungan domestik dan pertumbuhan ekonomi.

rekor pertumbuhan ekonomi tersebut didukung terutama oleh strategi pembangunan yang semakin outward-looking. Bagi negara donor. Tanggung jawab moral negara kaya kepada negara miskin dilandasi premis bahwa interdependensi ekonomi dan politik internasional berartimemperluas keadilan sosial dari lingkup nasional ke Internasional. NICs terutama Mexico. Dari sudut kepentingan politik dan geostrategik nampaknya tidak perlu diragukan ini terlihat. yang pada gilirannya diharapkan dapat mengangkat mereka dari jurang kemiskinan. Brazil. dari negara donor. pembangunan infrastruktur seperti jaringan transportasi dan instalasi listrik di NSB akan menimbulkan permintaan akan peralatan baru. Mereka menggenjot ekspor dan impor barang modal secara agresif. Saat itu terjadi peningkatan pinjaman internasional yang luar biasa. sampai seberapa jaun bantuan luar negeri itu efektif dan menyentuh kelompok sasaran? <!--[if !supportLists]-->2. dilandasi tanggung jawab moral dari penduduk negara kaya kepada negara miskin. Misalnya. Namun. Venezuela.1. Ini tercermin dari bantuan kepada negara berkembang yang harus ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) bagi sebagian besar rakyatnya. Yang terakhir ini terbukti dari tingginya elastisitas permintaan akan impor barang dan jasa dari negara donor. setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi negara donor bersedia memberikan bantuan: Pertama. diterimanya argumen ini tidak berarti menjawab pertanyaan. serta . misalnya. di sisi lain juga menimbulkan dampak perluasan permintaan barang dan jasa dari negara donor.Mungkin pertanyaan yang muncul adalah apa yang mendorong negara atau pinjaman luar negeri? Menurut pengalaman di banyak negara. pemberian bantuan akan memperkuat ikatan keuangan antara negara donor dengan negara penerima bantuan. yang sebagian disebabkan oleh lonjakan harga minyak pada tahun 1974 dan kebutuhan mengejar pertumbuhan ekonomi. Argentina memang tingkat pertumbuhan ekonominya di atas ratarata negara berkembang.5 <!--[endif]-->Penyebab Timbulnya Krisis Utang Benih-benih krisis sebenarnya sudah mulai terlihat pada periode 1974-1979. bantuan teknis untuk pembangunan penggilingan gandum dan industri pengolah bibit sering ditafsirkan sebagai peningkatan permintaan akan pangan dan bibit dari negara donor. sebagaiman disimpulkan oleh Ruttan (1989). setidaknya mengganti peralatan yang telah usang. Hal seperti ini sering dijumpai pada bantuan-bantuan yang bersifat mengikat (tied aid). yang membantu program pembangunan kembali Eropa Barat dan Jepang setelah Perang Dunia II. di satu sisi bantuan luar negeri dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi negara penerima bantuan. dilandasi kepentingan ekonomi dan strategis. merupakan contoh betapa kentalnya kepentingan politik dan strategis untuk menangkis ekspansi ideologi komunis. Meskipun demikian. Dengan kata lain. bantuan pangan dan kerjasama ekonomi Amerika Serikat merupakan bagian intergral dan tidak terpisahkan dengan kebijakan luar negerinya. Kedua. Hampir senada dengan itu. Rencana Marshall.

Ketika terjadi lonnjakan harga minyak yang kedua tahun 1979. Hanya sayangnya struktur industri mereka kebanykan masih mengandung komponen impor yang tinggi. keadaan mulai berbalik dengan mulai meningkatnya tingkat bunga Internasional secara drastis. Di banyak NSB. rasio kredit dan persaingan antara bank. sistem moneter Internasional. yaitu: pertama.1 Sistem Moneter Internasional Adanya ketergantungan antarnegara dalam hal ini antara Negara yang mempunyai surplus dalam neraca pembayaran dengan Negara yang mengalami defisit dalalm neraca pembayarannya. sistem perbankan swasta internasional. yang ditandai antara lain dengan semakin menurunnya peran IMF dalam menyelesaikan kesenjangan antara Negara yang mengalami surplus dalam neraca pembayarannya dengan Negara yang mengalami defisit dalam neraca pembayarannya.1. dan penurunan penerimaan ekspor negara berkembang akibat kombianasi turunya pertumbuhan ekonomi di negera maju dan penurunan harga ekspor komoditi primer lebih dari 20 persen. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana pihak bank memutuskan besarnya pinjaman yang diberikan kepada Negara-negara peminjam? Ada dua hal yang dujadikan pertimbangan bagi bank-bank swasta dalam memberikan pinjman. Konferensi di Bretton Woods pada bulan juli 1944 berhasil membentuk satu badan moneter internasional yaitu IMF (Internasional Monetery Fund).5. Rasio kredit antarnegara peminjam dibedakan berdasarkan atas risiko dari Negara peminjam. Proses perputaran dana lebih banyak dilakukan melalui mekanisme pasar sehingga semakin mempersulit posisi NSB selaku Negara yang mengalami defisit. Badan ini bertanggung jawab untuk menyelesaikan kesulitan-kesulitan dalam memutarkan dana dari Negara-negara surplus ke Negara-negara defisit. Menurut Gibson dan Tsakalator (1992). Kedua. Ketiga. 2. 2. keadaan ini diperparah dengan modal yang terbang ke luar negeri (capital flight) dan defisit transaksi berjalan (current account) yang substansial. Yang terakhir ini disebabkan oleh kebijakan stabilisasi ekonomi di negara maju. Pada tahun 1070an hingga awal 1980-an system ini mulai tidak berjalan.5.mengundang bantuan luar negeri secara berlebihan. penyebab timbulnya krisis utang dapat ditinjau dari tiga hal: pertama.1. Semakin tinggi risiko Negara tersebut semakin tinggi pula . di tambah lagi dengan kewajiban membayar bunga dan cicilan utang luarr negeri di masa lampau dan mulai jatuh tempo pinjaman komersial. System ini berjalan dengan baik pada tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an. memerlukan suatu system moneter internasionalnya yang mampu memutarkan dana dari Negara yang mengalami surplus dengan Negara yang mengalami defisit.2 Sistem Perbankan Swasta Internasional Mekanisme pasar dalam melakukan perpuaran dana mengijinkan peran dari bank komersial swasta internasional untuk memberikan pinjaman kepada Negara-negara yang mengalami defisit. negara peminjam itu sendiri.

6%. Spread yang dikenakan terhadap Negara mengekspor minyak hanya 1. Tingginya tingkat DSR menimbulkan adanya spekulasi yang mendorong adanya modal yang mengalir ke luar negeri. sedangkan Spread yang dikenakan pada oengimpot minyak sebesar 1.3 Faktor Dari Negara Peminjam Dua faktor utama yang dianggap sebagai penyebab timbulnya krisis utang yang berasal dari Negara peminjam Yaitu: <!--[if !supportLists]-->1. yang berakibat pada rendahnya output nasional. persaingan yang ketat antarbank kadang-kadang menyebabkan pihak penerbangan kurang hati=hati dalam memberikan pinjaman. Ketatnya persaingan antarbank dapat dilihat dari semakin banyaknya jumlah bank devisa yang beroperasi. dengan mengguanakan tingkat bunga LIBOR (suku bunga antar bank di London). <!--[if !supportLists]-->2. Di sis lain. <!--[if !supportLists]-->2. di samping itu tenggang waktu pengembaliannyaoun lebih . Perbedaan tersebut didasarkan atas komposisi jenis utangnya. pendidikan) tetapi tidak cukup mampu untuk menciptakan kemampuan untuk membayar kembali utang-utangnya. di mana devisa dari ekspor diharapkan dapat digunakan untuk membayar utang-utangnya. 2.1.bank kecil untuk sekedar mengikuti tindakan yang dilakukan oleh bankbank besar dalam meminjamkan uangnya tanpa melihat atau memperhitungkan kembali risikonya. Adapun jenis utang yang dimaksud di sini adalah utang pemerintah dengan utang komersial. Di samping itu. Demikian seterusnya sehingga proses yang berjalan merupakan vicious circle. artinya kebijakanyang diterpkan disetiap Negara tidak selalu sama. <!--[endif]-->Hubungan antara Peminjam dan Investasi Investasi yang dilakukan dengan menggunakan dan pinjaman secara kuantitas mengalami peningkatan tetapi secara kualitas tidak.85%. investasi yang dilakukan tidak mampu mendorong baik secara langsung maupun tidak langsung pendapatan nagara dari ekspor. Sebagai contoh pada tahun 1977.1. Di samping itu semakin besar risiko suatu Negara senakin kekcil jumlah pinjaman yang dapat diperolehnya. Ketatnya persaingan antarbank menyebabkan adanya kecenderungan bagi bank. <!--[endif]-->Adanya Aliran Dana Ke Luar Negeri ( Capital Flight ) Banyaknya aliran dana ke luar negeri disebabkan karena alasan spekulasi (antisipasi adanya devaluasi) atau ketidakstabilan dalam bidang ekonomi dan politik.rasio kredit yang harus ditanggung oleh Negara tersebut.5. Rendahnya output nasional berakibat meningkatnya tingkat DSR.6 <!--[endif]-->Manajemen Krisis Utang Pendekatan yang digunakan dalam menangani krisis uang ini adalah pendekatan case-by case. Meskipun investasi yang dilakukan memberikan tambahan nilai social ( in vestasi di bidang infrastuktur. Adanya capital flight mengakibatkan turunya investasi dalam negeri. Utang komersial biasanya tingkat bunganya lebih tinggi dibandingkan utang pemerintah.

beberapa NSB melaksanakan beberapa kebijakan sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[if !supportLists]-->2. baik terhadap utang pemerintah maupun utang komersial. Tujuan pembentukan dari Organisasi ini adalah untuk membantu NSB yang mengalami kesulitan dalam pembayaran kembali utamg-utangnya. Hanya jenis kebijakannya berbeda antara penjadwalan kembali untuk utang swasta dengan penjadwalan kembali untuk utang komersial. Bentuk perjanjian penjadwalan kembali untuk utang-utang pemerintah berupa perpanjangan tenggang waktu pengembalian. Kebijakan ini diharapkan mampu menyeimbangkan neraca pembayaran dengan menurunkan impor dan meningkatkan ekspor. keringanan utang termasuk diantaranya penghapusan utang itu sendiri. Untuk mengatasi kecenderungan net transfer yang negatif . <!--[endif]-->Pemberian pinjaman baru dengan tingkat bunga yang berlaku di pasar. Perjanjian penjadwalan kembali pada utang pemerintah biasanya dilakukan melalui perantara “Club Paris” yang dibentuk oleh beberapa Negara Eropa pada tahun 1956. hanya tingkat bunga yang diterapkan lebih tin ggi dari tingkat bunga yang berlaku di pasar. <!--[if !supportLists]-->3. diwujukan dalam kebijakan penjadwalan kembali utang. <!--[endif]-->Melakukan devaluasi terhadap nilai tukar uang domestic Devaluasi berakibat pada naiknya harga barang-barang impor. Di samping itu kebijakan ini akan menurunkan tingkat inflasi. Bentuk perjanjian kembali untuk utang-utang komersial berupa: <!--[if !supportLists]-->1. Manajemen yang diterpkan dalam krisis utang.pendek. <!--[endif]-->Paket kebijakan IMF yaitu pelaksanaan paket kebijakan yang telah ditetapkan IMF sebelum perjanjian penjadwalan kembalian disetujui oleh kedua pihak. <!--[endif]-->Pembatasan ekspansi kredit Kebijakan ini diharapkan mampu membatasi supalai uang. Pinjaman ini biasanya dijamin oleh pemerintah USA atau Bank for Internasional Settlement (BIS). <!--[endif]-->Bridging loan. <!--[endif]-->Penundaan pembayaran dengan mengenakan tingkat bunga tertentu. pengurangan tingkat bunga pinjaman. Pihak peminjam dapat menunda pembayaran utang pokoknya dan hanya membayar bunganya saja. yaitu pinjaman sementara yang diberikan untuk membiayai masa krisis hingga diperoleh dana baru dari IMF atau bank-bank komersial lainya. <!--[if !supportLists]-->2. Keterbatasan dana yang ada di masyarakat diharapkan akan menurunkan permaintaan masyarakat terutama permintaan atas barang-barang impor. <!--[if !supportLists]-->4. . pengunduran waktu pengembalian. sedangkan barang-barang ekspor relatif lebih murah.

sejumlah negara yang meminjam dari sistem perbankan komersial dengan tingkat bunga mengambang ( floating rate of interest). dan bukan masalah insolvensi. terutama kebijakan fiskal Amerika Serikat. meskipun kebijakan ini akan memperpanjang masa krisis selama investasi yang ditanamkan belum memberikan hasil. kebijakan tersebut memerlukan biaya tersendiri. tapi juga krisis sistem perbankan internasional (komersial) dan krisis ekonomi dunia karena berakibat arus pinjaman internasional menjadi menciut. krisis utang luar negeri sebenarrnya mencakup tidak hanya krisis negara pengutang. Dengan demikian. Keempat kebijakan diatas dalam jangka pendek telah berhasil mendorong terciptanya surplus dalam transaksi berjalan sehingga memungkinkan bagi NSB untuk membayar utang nya.1. Untuk memecahkan masalah tersebut diperlukan solusi lain untuk mengatasi krisis utang internasional. Negara donor cenderung menuding krisis utang akibat kesalahan kebijakan negara pengutang. <!--[endif]-->Melaksanakan pembangunan dangan sebagian dananya berasal dari utang luar negeri. <!--[if !supportLists]-->4. Pinjaman dihamburkan untuk menutup inefisiensi perusahaan negara. khususnya di afrika. Kedua. tujuan mendasar yang hendak dicapai oleh NSB adalah bagaimana mengurangi utangnya secara substantif serta tersedianya dana untuk membiayai proses pembangunannya. Meraka menyalhkan kebijakan makro negara donor. yaitu biaya social ekonomi serta turunya tingkat pertumbuhan perekonomian. menurut Thirwall. terutama pada barang-barang publik. <!--[endif]-->Penghapusan subsidi harga. sejumlah kecil negara miskin yang tergantung pada ekspor komoditas primer. terutama penurunan pengeluaran pemerintah. 1987 : Bab 1): Pertama. Berdasarkan uraian sebelumnya. Ada tiga solusi yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[if !supportLists]-->2. sementara pada waktu bersamaan pasar ekspornya baru anjlok. Di sisi lain. Pemerintah di negara pengutang lebih jauh berpendapat bahwa diperlukan semacam “penyesuaian” dengan cara pembayaran kembali utang mereka diperingan (debt relief). negara donor dan negara pengutang saling menyalahkan (sachs. <!--[endif]-->Menurunkan defisit dalam anggaran pemerintah. Dalam forum internasional. Indikator utama adanya krisis adalah tingginya DSR (debt-service ratio) yang biasanya di atas rata-rata negara berkembang sekaligus juga mengalami kesulitan ekspor. 1989 : Bab 1). Cakupan krisis ini.7 <!--[endif]-->Solusi Krisis Utang Internasional Krisis Utang luar negeri pada hakekatnya adalah krisis likuiditas di suatu negara. pada dasarnya dapat dikategorikan dua (Shahadan & Idris. di mana bank komersial tidak terlibat. . Sementara negara pengutang berpendapat munculnya krisis disebabkan oleh naiknya suku bunga internasional pada awal 1980-an.<!--[if !supportLists]-->3. atau dilarikan oleh oknum penguasa ke luar negeri (capital flight).

atau memang uang yang mondar mandir ke pasar uang dan modal internasional mencari return yang lebih tinggi. 1989). krisis utang yang melanda banyak negara tidak akan terselesaikan dengan tuntas tanpa menghilangkan sebab-sebab larinya modal dari negara-negara tersebut kenegara-negara maju. kinerja perekonomian yang “di bawah satandar”. <!--[endif]-->Mengubah sistem keuangan internasional yang memungkinkan bagi NSB untuk lebih mengontrol negara industri dan bankbank swasta. nampaknya perlu ditekankan bahwa pelarian modal bukan “penyakit” namun lebih merupakan gejala dari “penyakit” (Giancarlo Perasso. Kendati demikian. Kedua. yang sering disertai kurs mata uang NSB yang tidak stabil. Pelarian modal di Argentina. Secara langsung bila dalam persaingan antarbank. daya sedot ini dapat bekerja secara langsung dan tidak langsung. hal tersebut diyakini ada. <!--[if !supportLists]-->3. yang paling susah diatasi adalah daya sedot pasar modal di Negara maju. khususnya di kawasan EuroDolarYen. Hadar. dan sering disertai dengan situasi polotik dan sosial yang tidak kondusif (misalnya perang). Hal yang sering diperdebatkan adalah: apa yang dapat dikategorikan sebagai pelarian modal keluar negeri? Nampaknya belum ada kesepakatan mengenai apa yang dimaksud dengan capital flight ( Mahyudidin. untuk menghambat pelarian modal ke luar negeri.<!--[if !supportLists]-->2. 1989. pemerintah Negara-negara industri dalam upaya . Banyak yang sependapat. Dengan kata lain. Ini merupakan hasil kombinasi antara manajemen makro ekonomi yyang kacau. telah menambah akumulasi utang luar negerinya sekitar 20 persen selama 1979-84. Masalahnya tidak mudah menghilangkan penyebab larinya modal keluar negeri. Secara umum. 1989). Menurut Hadar (1989). Lepas dari perbedaan arti capital flight. Pertama. <!--[if !supportLists]-->2.1. Dengan kata lain. di mana institusi internasional dalam membiayai pembangunan di NSB. dan biasanya digunakan untuk tujuan spekulatif. misalnya. diartikan sebagai arus modal keluar negeri dalam jangka pendek. bisa pula dalam wujud transfer keuntungan dari pengusaha domestik ke pengusaha asing dalam sebuah perusahaan patungan. Secara tidak langsung. bila misalnya. <!--[endif]-->Kombinasi dari keduanya.8 <!--[endif]-->Capital Flight Masalah pelarian modal ke luar negeri (capital flight) merupakan agenda permasalahan yang senantiasa hangat dibicarakan selain krisis utang. Ia bisa berupa “uang panas” (uang hasil korupsi atau untuk menghindari pajak) yang ditransfer ke bank di negara maju atas nama pribadi (misalnya kasus komisi Thahir). mereka menawarkan berbagai iming-iming untuk menarik nasabah. suku bunga di NSB yang tidak “realistis”. penentuan suku bunga dalam negeri harus memperhitungkan suku bunga diluar negeri dan prakiraan laju depresiasi mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Banyak yang berpendapat bahwa masalah ini merupakan salah satu sumber terus meningkatnya utang NSB. setidaknya ada dua sebab utama yang diduga keras merupakan sumber pelarian modal. di sisi lain bankbank swasta juga diberikan wewenang dalam penyediaan dana.

<!--[endif]-->Pelarian modal menimbulkan erosi dalam basis pajak(erosion of the tax base). Modal ini dilarikan ke luar negeri yang menimbulkan dampak negative terhadap tersefianya devisa yang dibutuhkan untuk mengimpor input-output yang diperlukan untuk menopang produk domestic. Modal ang dilarikan keluar negeri tidak memberikan konstribusi sama sekali terhadap investasi domestik yang diperlukan untuk membiayai pertumbuhan ekonomi. Khusus mengenai Negara-negara Amerika latin dilaporkan bahwa selama periode 1973-1985 sebesar 40 persen dari tambahan utang luar negeri Negara-negara ini. <!--[if !supportLists]-->2. secara kumulatif sebesar 9. Filipina. Indonesia. mexico. 1990). Dalam hal ini. kolombia. yang diiringi dengan peningkatan utang luar negeri Negara-negara sebesar 451 miliar dolar AS. Malaysia. selam periode itu telah digunakan untuk membiayai pelarian modalnya yang nilainya 151 miliar dolar AS (Pastor. chili. Dalam hal ini. Uruguay.menyeimbangkan defisit anggaran belanjanya turut campur tangan dalam pasar modal dengan menaikkan tingkat bunga bank. <!--[endif]-->Pelarian modal menimbulkan apa yang disebut growth coctc. afrika selatan.2 <!--[endif]--> Utang Indonesia . yaitu membatasi potensi pertumbuhan ekonominasional. peru. termasuk produsik domestic yang menghsilkan barang-barnag ekspor untuk memperoleh devisa yang pada ronde berilutnya digunakan untuk membiayai impor yang diperlukan.4 miliar AS atau 51 persen dari pertambahan utang luar negeri Indonesia yang nilainya 18. Situasi ini terutama dihadapi oleh negarnegar berkembang yang menganut prinsip “tempat asal” (origin). Sementara study yang dolakuakan boyce (1992) mengenai pelarian modal dari Filipina dalam periode 1982-1986 menunjukan pengaruh yang signifikan yang ditimbulkan pelarian modal dalam peningkatan utang luar negeri Filipina pada tahun 1986. bukan prinsip “domisili” (residence) dalam system perpajakannya. Thailand. ekuador. Nigeria. Selama periode 1988-1991 sebesar 11. Studi Morgan Guaranty Trust Company (1986) yang meliputi 18 negara berkembang menujukan bahwa selama periode 1975-1986 telah terjadi pelarian modal dari Negara-negara ini sebanyak 198 miliar dolar AS. Negara-negara berkembang itu meliputi Argentina. <!--[if !supportLists]-->b. 1999): <!--[if !supportLists]-->a. korea selatan. dan Venezuala. Berdasarkan penemuan-penemuan empiris tersebut. boliva.7 miliar dolar AS atau 42 persen dari pertambahan utang luar negeri Indonesia telah digunakan untuk membiayai pelarian modal. setidaknya ada tiga dampak negatif negara-negara tersebut (Arief. brazil. india. Selama periode 1970-1980. Sedangkan untuk kasus di Indonesia diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Mubarik akhmad (1993). pada umumnya tidakada bukti-bukti bahwa telah terjadi repatriasi keuntungan investasi yang dilakukan di luar negeri ke dalam Negaranegara berkembang yang mengalami pelarian modal.26 miliar dolar AS telah digunakan untuk membiayai pelarian modal.

tidak disertai dengan penurunan jumlah utang luar negeri (growth with prosperity). baik secara bilateralmaupun multilateral (IGGI dan CGI).1 <!--[endif]-->Perkembangan Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dunia ketiga. pinjaman luar negeri besyarat lunak menjadi semakin terbatas diberikan. melalui peningkatan minat investasi di berbagai sektor . menyebabkan target pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi tersebut tidak cukup dibiayai dengan modal sendiri.<!--[if !supportLists]-->2. Sayangnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dalam beberapa tahun tersebut. Sejalan dengan semakin meningkatnya kontribusi swasta domestik dalampembangunan ekonomi nasional. Pada awalnya. Fenomena tersebut akhirnya menyebabkan struktur utang luar negeri indonesia juga mengalami banyak perubahan selama kurun waktu tiga dasawarsa terakhir. Indonesia memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan dorongan kepada peran serta swasta dalam pembangunan perekonomian Indonesia. menyebabkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah deregulasi di berbagai sektor pembangunan. Sebelum terjadinya krisis moneter di kawasan Asia Tenggara. pemerintah mulai menggunakan pinjaman komersial dan obligasi dari kreditur swasta internasional. yang menempatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebagai target prioritas pembangunan ekonomi nasional. Pinjaman pemerintah tersebut diterima dalam bentuk hibeh serta Soft loan dari negar-negara sahabat dan lembaga-lembaga supra nasional. Karena semakin pesatnya pembangunan dan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk secara terus menerus menjadi penggerak utama pembangunan nasional. utang luar negeri Indonesia lebih banyak dilakukan oleh pemerintah. Hal tersebut sejalan dengan strategi pembangunan ekonomi yang dicanangkan oleh pemerintah pada waktu itu. sehinggauntuk keprluamkeperluan tertentu dan dalam jumlah yang terbatas. maka peran pemerintah pun menjdi semakin berkurang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak akhir tahun 1970-an selalu positif. Selanjutnya seiring dengan semakin berkembangnya perekonomian Indonesia. kecuali pada tahun 1994/1995 sampai 1995/1996 (lihat tabel 1). terutama sejak krisis harga minyak dunia awal tahun 1980-an.2. Hal ini menandakan adanya korelasi yang positif antara keberhasilan pembangunan ekonomi pada tingkat makro dan peningkatan jumlah utang luar negeri pemerintah (growth with indebtedness). tetapi harus ditunjang dengan menggunakan bantuan modal asing. tanpa disertai dengan peningkatan kemampuan untuk memobilisasi modal di dalam negeri. serta tingkat pendapatan per kapita yang relatif rendah. Pemerintah pada awalnya menjadi motor utama pembangunan terus bertambah utang luar negerinya agar dapat diguanakan untuk membiayai penbangunan ekonomi nasional guna mencapai target tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut.

023 1998/19 36.97%-nya dibiayai oleh pinjaman luar negeri. Tabel 2.47% dari anggaran tahun sebelumnya.130 milyar. dari total realisasi penerimaan APBN RI yang sebesar Rp. utang luar negeri pemerintah masih menjadi hal perlu diperhatikan mengingat dampaknya terhadap APBN yang sangat besar.pembangunan yang diizinkan.130 126. baik suku bunga maupun jangka waktu pembayaran kembali. Penyumbang terbesar kenaikan pengeluaran pemerintah yang sedemikian besar tersebut adalah kenaikan pada pos pembayaran cicilan utang luar negeri dan bunganya yang jatuh tempo menjadi sebesar Rp.009 TOTAL PINJAMAN PENERIMAAN APBN (realisasi) 215. 55.900 9.386 11.578 trilyun atau meningkat 88. juga untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir jumlah utang luar negeri pemerintah yang sedemikian banyak pada tahun anggaran tersebut digunakan untuk menutup defisit anggaran yang besar.320 14.97% 11. menyebabkan pemerintah kembali harus menjadi penggerak utama untuk menyelamatkan perekonomian nasional yang terancam kebangkrutan. akibat terjadinya krisis skonomi di Indonesia yang menyebabkan pengeluaran total pemerintah meningkat 68.25% pada sektor penerimaan APBN RI. Terjdinya krisis ekonomi di Indonesia. tapi tanpa didukung oleh sumber-sumber dana investasi di dalam negeri.386 11. Bahkan pada tahun anggaran 19971998.98% TAHUN PINJAMAN PROGRAM (realisasi) PINJAMAN PROYEK (realisasi) 25. Meskipun telah terjadi perubahan pada struktur utang luar negeri Indonesia.403 99 0 1997/19 0 98 1996/19 0 62.900 9.96% 10. menggantikan peranan sektor swasta yang merosot setelah beberapa tahun sebelum krisis sempat mendominasi perekonomian nasional.530 82. Pinjaman Pemerintah Dan Penerimaan APBN ( dalam milyar rupiah ) % Total Pinjaman terhadap Penerimaan APBN 28. yang tentu saja pada umumnya dengan persyaratan pinjaman yang tidak lunak (bersifat komersial). baik dalam bentuk pinjaman komersial maupun investasi portofolio.009 .917 14.36% 11. 215. Dengan semakin besarnya minat investasi swasta. sebagai akibat dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Dari data tabel 2 dapat diketahui. pemerintah membutuhkan tambahan dana yang besar untuk membiayai peningkatan pengeluarannya.661 99. bahwa selama kurun waktu tahun 1984 sampai dengan tahun 1998 pinjaman luar negeri pemerintah rata-rata menyumbang 19. 28. Sehingga.55% dari pos yang sama pada anggaran tahun sebelumnya.

53% 20. BadanPusat Statistik.422 7.9 milyar.85% 18.65% 17. yang diperoleh dari pinjaman komersial dan pinjaman non komersial (non-ODA dan ODA). maka jalan alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan berusaha memperoleh tambahan dana pinjaman dari luar negeri.751 3.041 93 728 1991/19 92 1.572 3. atau 44.866 59.269 11.961 51.892 22.794 3.256 66.590 8.158 5.581 8.97 0 9.384 12.27% 15.961 21.409 9. <!--[if !supportLists]-->2.957 1990/19 69 91 69 1989/19 90 1988/19 89 1987/19 88 1986/19 87 1985/19 86 1984/19 85 Sumber : APBN – Statistik Indonesia.503 3.451 38.84% 26.03% 24.838 11.28% 22.430 3.94% 1995/19 517 96 517 1994/19 1.169 32.563 95 1993/19 1.32 milyar.478 76.825 19.995 26.508 8. sebab beban ekonomi yang diterima rakyak sudah begitu berat akibat krisis ekonomi.153 9.007 1992/19 2.397 94 1.098 10.905 9.950 5.752 10. diolah Oleh karena untuk meningkatkan penerimaan dalam negeri secara drastis maupun melakukan pinjaman dalam negeri (internal debt) tidak memungkinkan.429 9.90% 16.2 <!--[endif]-->Sumber-Sumber Pembiayaan Pembangunan Indonesia . Hingga pada akhir tahun 1998 posisi utang luar negeri pemerintah selurunya telah mencapai US $ 67.838 10.994 49.70% 30.51% 19.61% dari total utang luar negeri Indonesia yang mencapai US $ 150.991 6.2.

2. ekspor nonmigas meningkat lebih dari 31% dari total penrimaan ekspor. pangsanya dalam total ekspor menurun menjadi sekitar 25%.8% dari total ekspor. dalam bentuk bantuan bantuan luar negeri dan PMA. Bantuan luar negeri juga digunakan untuk menutup defisit anggaran negara (APBN). Arus masuk modal asing mencapai sekitar seperempat penerimaan devisa sebelumnya 1973. Dalam neraca pembayaran. Pada umunya transaksi berjalan selalu defisit. Pada empat tahun pertama pelita I. situasi ekonomi Indonesia dan prospeknya demikian terikat dengan perkembangan pasar minyak.1 <!--[endif]-->Ekspor Sebagai penganut sistem ekonomi terbuka. mengalirlah bantuan luar negeri. telah mengubah profit ekspor secara drastis. bantuan luar negerri dan perekonomian Indonesia ibarat segitiga sama sisi dalam masa orde baru. namun posisi tersebut berubah setelah adanya oil boom pada awal tahun 1974. Di lain pihak. mencapai di atas 60%. Adanya lonjakan harga minyak yang pertama 1974.1% pada tahun 1984.7% pada tahun 1984. Tabungan domestik waktu itu begitu rendah dan tidak dapat diharapkan meningkat dalam waktu singkat. yang hanya 19. kecuali tahun 1979/80 dan tahun 1980/81. dalam bentuk pinjaman lunak (loan) dan hibah.2 <!--[endif]-->Bantuan Luar Negeri Dimasa awal Orde Baru. Jalan keuaarnya adalah pembiayaan pembangunan dari sumber-sumber luar negeri. Defisit tersebut ditutp dengan pemasukan modal pemerintah dan pemasukan modal swasta (apabila bernilai positif). Pada dasawarsa 1970-an. <!--[if !supportLists]-->2. tersedianya bantuan serta pinjaman luar negeri dan meningkatnya pajak . ekspor nonmigas merupakan sumber utama penerimaan devisa Indonesia . dan ivestasi asing ke Indonesia. yang menyumbang hampir 80% dari penerimaan ekspor. para penentu kebijakan menghadapi kelangkaan modal dan sumber pembiayaan pembangunan. bantuan luar negeri tercatat sebagai pemasukan modal pemerintah. Seberapa jauh peran peran perdagangan luar negeri terlihat dari rasio antara ekspor ditambah impor terhadap PDB. Tak pelak lagi.2. Selepas 1973 penerimaan dari ekspor minyak dan gas menjadi begitu dominan sebagai sumber penerimaan devisa. Pada tahun 1985.2. <!--[if !supportLists]-->2.2.. Sementara peranan ekspor terhadap PDB melonjak dari 10. Selama 1973-1981 arus modal asing ini menyumbang 10% penerimaan devisa.2% pada tahun 1969 menjadi 26. peranan ekspor nonmigas kembali meningkat akibat menurunnya harga minyak dan volume produksi. Sejak itu. Meskipun ekspor non-migas meningkat dua kali lipat nilainya selama 1971-1975. lalu lintas perdagangan internasional berperanan penting dalam perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Dengan demikian.6% pada tahun 1959 menjadi 42. Setelah 1981 kontribusi migas mulai menurun hingga tahun 1985 menjadi 68. bantuan luar negeri adalah sumber utama pembiayaan pembangunan. yang ketiganya bertalian secara erat dan berhubungan satu sama lain. Peran migan sebagai sumber penerimaan negara berlangsung hingga tahun 1981.Minyak bumi. sedang investasi asing dimasukan sebagai pemasukan swasta.

011 -926 1. Other cappital (net).686 -4.076 -11.510 -6. Current account (1+2+3) 6. including -1. artinya ekspor jasa lebih kecil dibandingkan impor jasa. Tabel 3 dan 4 memperlihatkan perkembangan Indonesia selama 1979/801995/96 dan 1997-2001.159) 524 .perseroan migas telah sekaligus membantu untuk menutup ketiga defisit / kesenjangan ekonomi Indonesia. yang dicatat dalam pos neraca modal.795 5. bantuan program yang terdiri atas bantuan devisa kredit dan bantuan pangan. bantuan luar negeri yang masuk ke Indonesia berupa : pertama.232 575 806 4.638 3. pinjaman tunai berupa obligasi dan pinjaman dari kelompok bank.327 994 1. 1989).561 -7. Keempat.052 1. bantuan proyek ini merupakan jasa konsultan dan tenaga teknisi yang membantu merencanakan dan melaksanakan pembangunan proyek. Net LNG export 3. Amortisation -692 7. Ditinjau dari macam-macamnya. Nonoil export (net).516 5.187 5.635 -5. baik untuk mengendalikan inflasi maupun stabilisasi kurs Rupiah.704 -2.039 -4.129 -3.943 5.167 -7. pinjaman setengah lunak dan komersial.311 1.051 -5.755 5.284 11. Tabel 3.884 (1.777 2. yaitu kesenjangan antara pengeluaran investasi dengan tabungan swasta nasional.378 1987 1990 1993 1996 1.158 1.426 2.840 -6.472 5. Net oil Export 2. Kedua. Ketiga. Sejarah neraca pembayaran Indonesia mencatat bahwa: (1) Neraca perdagangan Indonesia selalu surplus dari tahun ke tahun.d 8) 2.599 -2. Hasil penjualan tersebut setelah dikurangi biaya pemasaran.478 2.230 -14.690 from IGGI (CGI) & Non-IGGI 6. Terlihat bahwa modal asing.205-6. defisit anggaran negara. including services 4. merupakan penerimaan pemerintah dari bantuan program. serta defisit neraca pembayaran luar negeri (Nasution. termasuk didalamnya kredit ekspor. Penjualan devisa serta komoditi pangan dan non-pangan yang dari bantuan program dipergunakan untuk mencapai sasaran stabilisasi ekonomi jangka pendek. Neraca Pembayaran Indonesia 1979/80-1995/96 (dalam juta dolar AS) 1979/ 1980 1.308 667 -4.312 direct investment 8. (3) neraca modal umumnya positif (surplus) berarti arus modal asing yang masuk keindonesia lebih banyak dibanding arus modal yang keluar.788 1. (2) Neraca transaksi berjalan umumnya defisit (kecuali tahun 1979/90 dan 1980/81) akibat defisit pada transaksi jasa. Official capital disbursements 2.198 1982/ 1986/ 1989/ 1992/ 1995/ 1983 5. Total (4 s. talah berperan dalam menutup defisit transaksi berjalan Indonesia salama ini.188 2. artinya ekspor barang lebih banyak dibanding impor barang.600 2.

<!--[endif]-->Error & Omission.459 1. merch (net) <!--[if !supportLists]-->4.292 3. <!--[endif]-->Gas. <!--[endif]-->Current account 1997 3.861 -9.205 4.783 4.679 4.355 2001/b 14.445 -3. Neraca Pembayaran Indonesia: 1997. <!--[endif]-->Total (4+7) <!--[if !supportLists]-->9.314 5.266 1.280 738 -248 -1. <!--[endif]-->Capital account (5+6) <!--[if !supportLists]-->8.516 -7.975 2.528 -9.9. <!--[endif]-->Monetary movement/a -5.075 <!--[endif]-->Official capital <!--[if !supportLists]-->6.249 <!--[if !supportLists]-->5. merch (net) <!--[if !supportLists]-->3.329 -5.739 589 4.923 -4. <!--[endif]-->Oil.988 -2.256 -1. dan 2001 (dalam juta dolar AS) Komponen <!--[if !supportLists]-->1.146 -1. -338 <!--[endif]-->Private Capital <!--[if !supportLists]-->7. merc net <!--[if !supportLists]-->2.150 /a : Sejak 1998 monetary Movemant berdasarkan pada Gross Foreign Assets (GFA) repl . -15.628 -2.439 -2.570 1.262 -558 3. Monetary Movementͨ -1.121 -1.041 Sumber: Bank Indonesia dalam Word Bank (1996) Tabel 4.015 -14.001 5.213 2.956 1. Error & Omissions 10. <!--[endif]-->Non Oli/gas. 1999.199 -1.129 1999 14.470 2. net –(8+10) <!--[if !supportLists]-->10.079 -3.

Indonesia telah menjadi importir modal. yang merupakan selisih antara penerimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin.5 9. Hanya terjadi satu kali arus modal keluar (net capital outflw) pada tahun 1975 sering dengan adanya krisis Pertamina. Tabungan masyarak merupakan akumulasi dari Tabanas.2.3 . Namun bila ditelusur lebih dalam sumber defisitnya berasal dari sektor swasta dan BUMN. Umumnya. Perkembangan tabungan. <!--[if !supportLists]-->2. porsi terbesar PMA sialokasikan si sektor pertambangan dan minyak. Pemerintah pusat nampaknya selalu dapat membiayai investasinya dari tabungan pemerintah.2 -3. dan Deposito Berjangka. Investasi.4 30. namun dalam beberapa tahun. Pangsanya hampir 1/3 dari arus total. sementara di sektor manufaktur hampir dibatasinya kiprah modal asing di sektor ini. Tabel 5. 1988:81).3 <!--[endif]-->Investasi Asing (PMA) Selama periode yang diamati. Berdasarkan pada perubahan cadangan aset sebagai pengganti GFA.5 9. Tanda negatif berarti surplus dan positif berarti defisit. /b : Proyeksi Sumber : Word Bank (2001) <!--[if !supportLists]-->2. PMA tercatat sedikit di atas 10% dari arus total. Kesenjangan antara tabungan dengan investasi (saving-investment gap) ditutup dengan masuknya arus modal asing ke sektor pemerintah maupun swasta. Taska.2 -4.4 -1. Tabungan. Tabungan pemerintah yang dimaksud adalah tabungan pemerintah dalam APBN.4 <!--[endif]-->Tabungan Domestik Tabungan domestik diperoleh dari sektor pemerintah dan sektor masyarakat.9 1995 31. Selama periode 1967-85 sektor migas menerima 78% dari investasi total.2.9 1997 34. Secara umum saving-investment gap nilainya negatif.1 1996 33.2.Sejak 2000. Tabungan ini dibutuhkan untuk membiayai investasi.7 9.1 -3. dan saving-investment gap sebagai proporsi terhadap PDB disajikan dalam Tabel 5.2. Arus masuk modal asing (net capital inflows) meningkat dari hampir 300 juta dolar AS per Tahun pada akhir 1960-an hingga lebih dari 3 milliar dolar AS pada tahun 1984.3 28. sedang peringkat kedua disektor manufaktur (Hill.3 28.5 30. investasi.0 29. terytaman awal pelita I. dan Saving-Investment Gap: 1994-1997 (sebagai persentase terhadap PDB) 1994 Investasi Bruto Tabungan Nasional bruto Saving Investmen Gap Pemerintah Pusat 9.

9 d Sumber : Word Bank.5 8.9 1995 29.2 -3.8 Sumber: Word Bank (1996:26) <!--[if !supportLists]-->2.8 18.1 19.5 -2.6 1996 36. Debt Service Ratio : Indonesia dan Beberapa Negara ASEAN (%) Negara 1980 Indones ia Korsel 21. Data dari Word Debt Tables menunjukan bahwa indikator beban utang LN. selalu di atas 200% sejak tahun 1986.8 2000 44. Demikian juga.5 1998 57.3 a Filipina 26.6 11.5 15.1 18.1 1985 28. http.9 0.3 25.2 10.6 3. yang merupakan rasio antara pembayaran bunga dan cicilan utang terhadap penerimaan ekspor. masih bertengger pada angka di atas 31% sejak tahun 1986. yang masing-masing 20%.wordbank. 200%.8 3. yaitu DSR.6 23. Bagaimana beban utang LN Indonesia dibanding negara-negara tetangga kita di lingkungan ASEAN? Tabel 6.Investasi bruto Tabungan Pemerintah Saving-Investment Gap Sektor swasta Dan BUMN Investasi Bruto Tabungan Saving-Investment Gap 9.6 12.9 2.DER (debt export ratio).0 Thailan 18.6 1997 44. dengan DGNP (debt GNP ratio).2 -5.2 1999 56.3 <!--[endif]-->Sudahkah Indikator Utang Luar Negeri Mencapai Overborrowing? Kita harus mewaspadai bahwa indikator beban utang LN Indonesia sudah menunjukan sampai pada taraf overborrowing.5 20.5 11.9 31.1 6. telah melebihi batas yang dianggap aman.//www.1 12.0 1. DER.6 7.6 18.7 11.0 0. telah di atas 40% bahkan sejak 1985.2 19.9 12.3 11.8 3. dan DGNP.1 8.2.3 -6. yaitu antara total utang LN dengan penerimaan ekspor.1 21.5 18.5 11.7 27.8 - Malaysi 6.9 15. yang merupakan rasio antara total utang LN terhadap Produk Nasional Bruto.org .3 31. dan 40% DSR (debt service ratio).

9 1995 64. namun begitu krisis berlangsung.3 62.5 51.0 ia Korsel 48. krisis.7 50.8 persen.3 42. terlihat bahwa semenjak tahun 1994 rasio utang terhadap ekspor Indonesia selalu berfluktuasi dan berada di atas batas aman. yakni sebesar 261.6 41.5 1996 58. negara-negara tetengga kita di lingkungan ASEAN Indonesia ternyata mampu mempertahankan rasio utangnya dibawah 100 persen mulai dari periode prakrisis.4 62.7 Thailan 25.2 28.0 65. Bank dunia menetapkan batas aman rasio utang terhadap ekspor sebesar 130-220 persen.3 44.3 22. http.3 persen pada 1998 dan 103.9 d Sumber : Word Bank. tampaknya mempunyai tren yang sama. Ternyata setelah tahun 1997 DSR mengalami puncaknya yang melebihi sekitar 2.0 46.4 1999 103. rasio utang terhadap GDP masih termasuk dalam batas aman Bank Dunia. Tabel 7.1 2000 99 - Malaysi 28. Rasio total utang terhadap GDP tampaknya juga mempunyai tren yang sama. karena semenjak fase tersebut DSR berangsur-angsur turun hingga pada akhir di tahun 2003 sudah mendekati batas aman yakni sebesar 27. total utang secara nasional meningkat cepat secara signifikan (lihat Tabel 8).6 17.8 1998 146. Pada tahun1994 sampai menjelang krisis. yakni sebesar 57. namun berangsur-angsur menurun masuk dalam kriteria batas aman. sedangkan Indonesia memiliki beban utang paling tinggi di kalangan negara ASEAN semenjak tahun1980 hingga 2000. Batas aman yang diterapkan Bank Dunia terhadap DSR yakni 20 persen.3 persen pada tahun 1999.7 55.org Ketika krisis menimpa Indonesia pada tahun 1997. Pada fase ini tampaknya merupakan titik balik dari tren DSR Indonesia.9 89.0 a Filipina 53.1 45.dan pasca krisis. tampak pada tahun 1998 rasio utang terhadap GDP meningkat pesat menjadi .6 69.4 51.4 1997 62.9 pada tahun 1998.Rasio utang terhadap GNP negara Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN terlihata pada tabel 6. Namun apabila kita cermati.1 persen saja.//www.8 53. Bahkan semenjak krisis beban utang Indonesia telah lebih dari 100 persen.5 1985 44.wordbank.3 49. Negara-negara ASEAN selama fase tahun krisis memiliki kecenderungan yang sama yakni mengalami lonjakan rasio utang terhadap GNP yang terlihat pada tahun 1998. Puncaknya tercapai pada fase krisis (1997 menuju 1998).0 64.5 kali dari batas aman.3 70. Dilihat dari rasio utang terhadap ekspor Indonesia.9 49. yakni sebesar 146.3 42. Debt to GNP Ratio: Indonesia dan beberapa negara ASEAN (%) Negara 1980 Indones 28.1 76.

9 persen saja. maka Indonesia digolongkan sebagai negara pengutang besar (severely indebted country) (Word Bank.1) Peru (US$24.6). Struktur Pinjaman Bersih Per Sektor Terhadap GDP 1994-2003 (%) Sektor Rata. pertanyaan yang muncul adalah : apakah Indonesia akan mengalami krisis utang LN (masuk dalam debt trap).146. Berarti masih dibawah Chile (US$13. bantuan LN bersih (net disbursement of ODA from all sources) per kapita untuk Indonesia sebesar US$ 10.7 to GDP 64.5). Berapakah? utang LN yang ditanggung oleh setiap penduduk Indonesia? Pada tahun 1993 saja.5). Tabel 9 menunjukan bahwa 83 persen utang LN berjangka waktu menengah dan panjang.9 188.8 65.1 20 Total Debt 230.2 146. BUMS.3 35. ternyata 52 persen adalah utang pemerintah dan 48 persen merupakan utang swasta.9 50-80 Sumber : Bank Indonesia dalam Goeltom (2005:261) Dari sisi total utang.1 191 To Export Total Debt 55. Brazil (US$1. Dengan posisi ini dan nilai sekarang dari utang (present value of debt) lebih besar dari 220 persen ekspor maupun lebih besar dari 80 persen GNI.7 227.4 22. Total Utang Luar Negeri Indonesia (dalam persen) Kriteria Indikat 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Word or Bank Debt Servic 35.8 252.1 62.3 105 200.9 e Ratio 30.3 persen.8.7 193.1 76 62.2 232. Yang paling banyak berutang di sektor swasta adalah PMA. namun melebihi Meksiko (US$4.5 57.4). Tabel 8. 2001).1997 rata 941998 1999 2000 2001 2002 2003 . Setelah fase tersebut rasio berangsur-angsur ditahun 2003 yang hanya sebesar 62.6 130220 93.9 44.9). diikuti PMDN. Indonesia menduduki peringkat keempat di antara negara pengutang terbesar di dunia. Bila dibedakan utang LN yang masuk ke sektor pemerintah dan swasta.5). dan perbankan.9 56. ataukah tetap mampu mempertahankan momentum pembangunan? Tabel 9.3 261.9 207.8 91.3). Bolivia (US$80.1 27. dan Argentina (US$8. dan mendapat “medali perak” di Asia sebagai negara pengutang terbesar. Costa Rica (US$30. Korea (US$21. Dalam konstelasi semacam ini.1 41. menurut catatan Word Development Report 1995. Posisi total utang luar negeri Indonesia pada tahun 2001 mencapai hampir 140 miliar dolar AS.8 41.

89) 4.79 (1.92 -2.88 ah -0.93 1.17 2.56 0.79 (5.43) (3.22 7.84 0. Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai .109.897.23 -0.Non -3.77 1.434627.28 -0.01 0. Pemerint -8.96 A.40 0.50 0.44) (5.07 (6. Finansial 4.67 -2. Rumah Tangga B.53 0.37 2.49 -0.09 1.03 -1.99 (3. Eksterna l TOTAL GDP (Miliar Rp.93 (0.07) 2.66) (1.64) 0.43 -12.10 4.086.15 0.57 11.8 -1.) Sumber : Biro Statistik dalam Goeltom (2005:247) -7.05 4.97 3.695955.07 (0.1 <!--[endif]--> Kesimpulan Perkembangan jumlah utang luar negeri Indonesia dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan.45 2.67 456. Perusah an 2.75 9 0 1 0 8 BAB III PENUTUP <!--[if !supportLists]-->3.03) 1.31 4.03 4.27 -8 3.87 2.17 3.69 0.42 -0.07 0.60 0.89 -13.45) (2.89. Non Bank C.28 1.7531.72 0.50 4.2 Swasta 3.03 3.00) 2.44 -2.91 2.69 7.28 0.09 3.74 finansial 1.83) 0.86 0.684.00) 0.74 1.71 (1.31 0.33) (0.73 -10.16) 1.51 6.44 0.16 2.11) (1.06 5.12 -10. Bank 5.80 2.05 (0.97 1.83) (2.97 -0.1 BUMN 2.

bertambah berat bila dihitung berdasarkan nilai mata uang rupiah. yang didahului oleh krisis moneter di Asia Tenggara. karena pada saat krisis ekonomi penerimaan rutin pemerintah. artinya menjadi tanggung jawab para wajib pajak.konsekuensi bagi bangsa Indonesia. negara peminjam itu sendiri Semakin bertambahnya utang luar negeri pemerintah. terutama dengan modal yang bersifat jangka pendek (portofolio investment). Ironisnya. yang artinya sama saja dengan utang baru. Penyebab utama terjadinya krisis ekonmi di Indonesia. yang relatif fluktuatif. Sehingga. terutama dari sector pajak. tidak dapat ditingkatkan sebanding dengan kebutuhan anggaran belanjanya. penggunaan utang luar negeri yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan tanpa prinsip kehati-hatian. . penyebab timbulnya krisis utang dapat ditinjau dari tiga hal: pertama. apabila terjadi rush akan mengancam posisi cadangan devisa Negara. Kedua. akhirnya akan mengakibatkan terjadinya krisis nilai tukar mata uang nasional terhadap valuta asing. maka dalam jangka panjang pembayaran utang luar negeri oleh pemerintah Indonesia sama artinya dengan mengurangi tingkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia masa mendatang. sistem perbankan swasta internasional. termasuk Indonesia. karena utang luar negeri tersebut harus dibayarkan beserta dengan bunganya. juga sebagian negara-negara ASEAN. untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Menurut Gibson dan Tsakalator (1992). Defisit current account ditutup dengan surplus capital account. Adalah suatu hal yang tepat. Hal inilah yang menyebabkan beban utang luar negeri Indonesia. sistem moneter Internasional. termasuk utang luar negeri pemerintah. Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Ketiga. baik dalam periode jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan demikian. adalah ketimpangan neraca pembayaran internasional. telah banyak merusakkan sendi-sendi perekonomian Negara yang telah dibangun selama PJP 1 dan awal PJP II. dalam jangka panjang utang luar negeri justru akan menjerumuskan negara debitur kedalam krisis utang luar negeri yang berkepanjangan. utang luar negeri itu harus dibayar dengan menggunakan bantuan dana dari luar negeri. Dalam jangka panjang akumulasi dari utang luar negeri pemerintah ini tetap saja harus dibayar melalui APBN. bila utang luar negeri dapat membantu pembiayaan pembangunan ekonomi di negara-negara dunia ketiga. semasa krisis ekonomi. Dalam periode jangka pendek. berarti juga semakin memberatkan posisi APBN RI. tingkat pendapatan per kapita masyarakat bertumbuh selama taga dasawarsa sebelum terjadi krisis ekonomi. yang sangat membebani masyarakat karena adanya akumulasi utang luar negeri yang sangat besar. utang luar negeri harus diakui telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pembiayaan pembangunan ekonomi nasional sehingga dengan terlaksananya pembangunan ekonomi tersebut. Tetapi.

yang sangat membebani masyarakat karena adanya akumulasi utang luar negeri yang sangat besar. Mengawasi sumber pendapatan nasional yang mungkin bisa sepenuhnya membiayai pembangunan nasional. bahwa utang luar negeri telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan di negara berkembang termasuk negara kita negera Indonesia yaitu pembiayaan pembangunan ekonomi nasional sehingga terlaksananya pembangunan ekonomi.<!--[if !supportLists]-->3. penggunaan utang luar negeri yang yang tidak dilakukan dengan bijaksana dan tanpa prinsip kehati-hatian. atau dari petugas dari dirjen pajaknya yang melakukan kongkalikong dengan wajib pajaknya. <!--[endif]-->lihat sumber pendapatan nasional kita banyak sekali yang belum tergali misalnya pajak penghasilan atau pajak-pajak lainya. karena bila kita li <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Jadilah negara yang mandiri dan tidak tergantung pada utang luar negeri untuk pembiayaan pembangunan nasional karena bila terus tergantung akan membentuk watak / karakter bangsa yang lemah dan selalu menjadi bangsa yang di dikte oleh negara yang maju yang notabene menjadi negara kreditur. Masih banyak wajib pajak yang tidak melaporkan dengan riil penghasilan kena pajaknya.2 <!--[endif]--> Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan makalah ini. Tetapi. Diposkan oleh cooler_guyz di 03:14 Label: utang luar negeri . Oleh karena itu penulis merekomendasikan agar pemerintah membuat kebijakan utang luar negerinya yang tepat yaitu: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Mengawasi juga penggunaan utang luar negeri dan pendapatan nasional apakah sudah sesuai dengan apa yang menjadi skala prioritas pembangunan nasional? Karena masih ada yang belum tepat sasaran pembangunan atau masih ada pejabat yang korupsi uang negara yang notabene untuk pembangunan nasional. Dan selalu ada dalam bayang-bayang utang luar negeri yang berimbas pada anak dan cucu kita yang harus mengemban utangnya. dalam jangka panjang akan menjerumuskan negara debitur kedalam krisis utang luar negeri yang berkepanjangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->