Undang-Undang No.

23 Tahun 2004 terdiri dari 10 Bab dan 56 Pasal, berikut ini adalah poin-poin penting yang diatur dalam UndangUndang ini : 1. Apa sih Kekerasan dalam Rumah Tangga itu? Undang-Undang PKDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).

2. Siapa saja yang termasuk lingkup rumah tangga? Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi (Pasal 2 ayat 1): a. Suami, isteri, dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri); b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga (mertua, menantu, ipar dan besan); dan/atau c. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut (Pekerja Rumah Tangga). 3. Apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga? Bentuk-bentuk KDRT adalah (Pasal 5):

dsb 4. mencolek.a. hilangnya kemampuan untuk bertindak. dsb d. Kekerasan psikis. adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. menghina. menjual tubuhisteri atau anaknya. adalah segala tindakan yang menyasar atau ditujukan untuk menyakiti tubuh atau fisik misalnya memukul. Kekerasan seksual. merendahkan. rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7) 6. hilangnya rasa percaya diri. misalnya : menghardik. adalah segala tindakan yang ditujukan untuk membatasi. hilangnya rasa percaya diri. memarahi. misalnya : tidak menafkahi isteri. rasa tidak berdaya. melecehkan. mengeksploitasi. perkosaan. Apa yang dimaksud dengan kekerasan psikis? Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. memeras pasangannya. menendang. mencabuli. jatuh sakit atau luka berat (Pasal 6). menjambak. dsb c.mencekik. adalah pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga ataupemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan misalnya : komersil dan atau untuk tujuan tertentu. hilangnya kemampuan untuk bertindak. Apa yang dimaksud dengan kekerasan fisik? Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. Apa yang dimaksud kekerasan seksual? . Penelantaran rumah tangga. mengurangi atau mengabaikan hak-hak perempuan untuk menikmati sumber ekonominya. 5. dsb b. Kekerasan fisik.menempeleng.

penetapan kejaksaan. Perlindungan sementara dari pihak keluarga. pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/atau tidak disukai. Apakah UU PKDRT ini mengatur mengenai hak-hak korban? Tentu.Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual. atau pemeliharaan kepada orang tersebut. 8. atau pihak lainnya baik maupun berdasarkan perlindungan dari pengadilan. korban berhak mendapatkan (pasal 10): a. b. lembaga sosial. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. . kepolisian. pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual meliputi (pasal 8): a. Selain itu. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. penelantaran juga berlaku bagi setiap orang cara yang mengakibatkan dan/atau ketergantungan ekonomi dengan membatasi melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9). perintah pengadilan. advokat. Berdasarkan UU ini. perawatan. Apa yang dimaksud dengan penelantaran rumah tangga? Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. 7.

pemerintah dan pemerintah daerah dapat melakukan upaya: . c. dan edukasi tentang kekerasan dalam rumah tangga. c. Pelayanan bimbingan rohani Selain itu. Pembimbing rohani. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitif jender dan isu kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standar dan akreditasi pelayanan yang sensitif jender. dan e. untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap korban. b. dan d. korban juga berhak untuk mendapatkan pelayanan demi pemulihan korban dari (pasal 39): a. Relawan pendamping. Apakah UU PKDRT ini mengatur mengenai kewajiban pemerintah? Ya. Melalui Undang-Undang ini pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga. dan/atau d. c. b. Untuk itu pemerintah harus (pasal 12): a. Merumuskan kebijakan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban. Tenaga kesehatan. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis. Menyelenggarakan komunikasi informasi.b. Pekerja sosial. d. Selain itu. Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi tentang kekerasan dalam rumah tangga. 9. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

tenaga kesehatan. Namun untuk kejahatan kekerasan psikis dan fisik ringan serta kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi antar suami istri. dan d. pekerja sosial dan pembimbing rohani. Penyediaan kepolisian. saksi. Memberikan pertolongan darurat. b. wali. Maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada kepolisian (pasal 26 ayat (1)). melihat. c. keluarga dan teman korban. Mencegah berlangsungnya tindak pidana. pengasuh atau anak yang bersangkutan (pasal 27). Bagaimana dengan kewajiban masyarakat? Undang-Undang ini juga menyebutkan bahwa setiap orang yang mendengar. Memberikan perlindungan bagi pendamping. laporan dapat dilakukan oleh orang tua. Penyediaan aparat.a. . Namun korban dapat memberikan kuasa kepada keluarga atau orang lain untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak kepolisian (pasal 26 ayat 2). Pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerjasama program pelayanan yang mudah diakses korban. Memberikan perlindungan kepada korban. c. ruang pelayanan khusus (RPK) di kantor b. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. d. Dalam hal korban adalah seorang anak. atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk (pasal 15): a. maka yang berlaku adalah delik aduan. 10.

000. Bagaimana dengan ketentuan pidana yang akan dikenakan pada pelaku? Ketentuan pidana penjara atau denda diatur dalam Bab VIII mulai dari Pasal 44 – Pasal 53.000. melainkan hanya mengatur hukuman maksimal. Dalam proses pengesahan UU ini. Kedua pasal tersebut mengatur mengenai kekerasan seksual. gugur atau matinya janin dalam kandungan. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan pidana penjara paling lama 20 tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000 atau denda paling banyak Rp 300. bab mengenai ketentuan batas pidana sempat dipermasalahkan Sehingga karena tidak menentukan batas hukuman minimal. Pasal 47. berbunyi sebagai berikut: “Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf (b) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan pidana penjara paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp 12.000” Pasal 48 berbunyi sebagai berikut: “Dalam hal perbuatan kekerasan seksual yang mengakibatkan korban mendapatkan luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali.000 dan denda paling banyak Rp 500. atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi. dikhawatirkan seorang pelaku dapat hanya dikenai hukuman percobaan saja. ada dua pasal yang mengatur mengenai hukuman minimal dan maksimal yakni Pasal 47 dan Pasal 48. Lama waktu penjara dan juga besarnya denda berbeda-beda sesuai dengan tindak kekerasan yang dilakukan. mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 minggu terus menerus atau 1 tahun tidak berturut-turut.000.11. Meskipun demikian.000.000” .

e. Surat. Keterangan terdakwa. Bagaimana mengenai pembuktian kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga? Dalam UU ini dikatakan bahwa sebagai salah satu alat bukti yang sah.12. b. Petunjuk. apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya (pasal 55). keterangan seorang saksi korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah. c. Keterangan ahli. Keterangan saksi. Alat bukti yang sah berdasarkan pasal 184 KUHAP adalah: a. d. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful