P. 1
Kota Layak Anak

Kota Layak Anak

|Views: 131|Likes:

More info:

Published by: Wahyu Kartika Sulistyani Putri on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2012

pdf

text

original

Kota Layak Anak

Terakhir Diperbaharui (Kamis, 17 September 2009 08:23) Ditulis oleh Administrator Senin, 12 Januari 2009 18:15
Hamid Patilima Abstrak Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak sejak 5 September 1990. Hal ini merupakan komitmen Indonesia dalam menghormati dan memenuhi hak anak. Komitmen ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 B (2), dan operasionalnya pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Untuk mentransformasikan hak anak ke dalam proses pembangunan, pemerintah mengembangkan kebijakan Kota Layak Anak.
Abstract Indonesia had ratification Convention on the Rights of the Child since 5th September 1990. It constitutes Indonesia commitment in respect and pock right for child. This commitment most decants in Constitution 1945 Sections 28 b (2 ), and its operational on Number law 23 Years 2002 about protection Child. To transform right for child into process development, government develops policy `City Fit for Children‟. Kunci: Anak, Kota, Perlindungan Anak, Kota Ramah Anak. Pendahuluan Kota Layak Anak[1] merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui Kebijakan Kota Layak Anak. Karena alasan untuk mengakomodasi pemerintahan kabupaten, belakangan istilah Kota Layak Anak menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak dan kemudian disingkat menjadi KLA. Dalam Kebijakan tersebut digambarkan bahwa KLA merupakan upaya pemerintahan kabupaten/kota untuk mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan intervensi pembangunan seperti kebijakan, institusi, dan program yang layak anak. Kota Layak Anak[2] dan atau Kota Ramah Anak[3] kadang-kadang kedua istilah ini dipakai dalam arti yang sama oleh beberapa ahli dan pejabat dalam menjelaskan pentingnya percepatan implementasi Konvensi Hak Anak ke dalam pembangunan sebagai langkah awal untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan anak. Pemekaran Daerah Pemekaran kabupaten dan kota merupakan buah dari otonomi daerah. Gejala ini sudah terasa sejak berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 2001. Tercatat sampai Agustus 2008 terdapat 471 kabupaten dan kota + 12 dalam proses pemekaran. Tujuan akhir dari pemekaran ini adalah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makna dari tujuan akhir ini tersirat bahwa „perlindungan anak‟ menjadi salah satu urusan wajib[4] yang diserahkan oleh pemerintah ke pemerintah kabupaten dan kota akan semakin terwujud. Namun yang menjadi pertanyaan apakah „anak‟ menjadi pusat pembangunan di kabupaten dan kota? Karena selama ini pemerintahan kabupaten dan kota lebih memusatkan pada bidang ekonomi, politik dan infrastruktur, tanpa mempertimbangkan unsur kepentingan terbaik anak dalam pengambilan

Sedangkan pada sebagian orangtua „anak‟ sebagai „aset keluarga‟ dan „anak harus mengerti orangtua[8]‟. Tantangan Pembentukan Kota Layak Anak Delapan belas tahun yang lalu. tetapi sekaligus sebagai kelompok penduduk yang paling rentan karena sering diabaikan dan dikorbankan dalam proses pembangunan itu sendiri. penuh kasih dan pengertian. akan tetapi forum tersebut masih banyak intervensi orang dewasa.[5] Sejak itu tercapailah kemajuan besar. wali. PhD bahwa “Salah satu paradoks pembangunan manusia modern adalah diakuinya anak-anak sebagai masa depan kemanusiaan.keputusan. dan terjadwal. belum mendapat perhatian dan perlindungan secara khusus. serta tumbuh dan berkembangnya terabaikan. anak korban perdagangan. serta mereka yang berada di lembaga pemasyarakatan. mendidik dan mengembangkan anak terletak pada keluarga.[6] lebih banyak anak bersekolah dibandingkan di masa sebelumnya. dan berbagai kendala pun masih tetap ada. Irwanto. Meskipun di beberapa kabupaten dan kota sudah ada Forum Anak. Keluarga sebagai unit dasar dari masyarakat yang menjadi penentu keberhasilan dalam mempercepat terwujudnya komitmen negara belum mendapat bantuan dan bimbingan secara teratur. Namun hasil yang dicapai ini tidak merata. karena kemiskinan itu sangat mendera mereka untuk tumbuh dan berkembang. Ketika ekonomi membaik dan pembangunan di segala bidang bergairah. Seharusnya hal ini mendapat perhatian dan sokongan dari pemerintah dan masyarakat. Seharusnya lembaga tersebut menghormati hak anak dan menjamin kesejahteraan anak serta memberikan bantuan dan bimbingan yang layak bagi orangtua. Akan tetapi segenap lembaga pemerintah dan masyarakat belum banyak membantu. Masa depan cerah bagi anak barulah merupakan „khayalan‟ semata. Indonesia menyatakan komitmen untuk menjamin setiap anak diberikan masa depan yang lebih baik dengan ratifikasi Konvensi Hak Anak. terutama di beberapa kabupaten dan kota yang tertinggal. ketersediaan mikro-kredit sampai investasi di bidang infrastruktur. anak korban eksploitasi ekonomi dan seksual. sebagaimana tercantum dalam laporan Pemerintah Indonesia mengenai Pelaksanaan Konvensi Hak Anak ke Komite Hak Anak. terorganisasi. Hal yang sama juga dialami oleh lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak tersebut kurang mendapat pembinaan dan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat. ada pemahaman yang berbeda-beda di kalangan orangtu mengenai arti anak. dan pencapaian itu pada umumnya kurang memenuhi kewajiban pemerintah dan komitmen negara. anak pengungsi. eksploitasi ekonomi dan seksual. Selain itu. Hal ini ditandai oleh belum berkembangnya wadah-wadah partisipasi anak yang dibangun di kabupaten dan kota guna mendengarkan dan menyuarakan pendapat dan harapan anak sebagai bentuk partisipasi anak dalam proses pembangunan. Anak-anak adalah warga yang paling terpukul oleh kemiskinan. keluarga. Pada sebagian orangtua memahami anak sebagai „amanah‟ dan „titipan‟ yang harus dilindungi dan dihargai. melindungi dan menghormati hak anak. dan pihak-pihak yang mengasuh anak supaya dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan stabil serta suasana yang bahagia. dan sudah tersusun pula peraturan perundang-undangan penting yang melindungi anak. anak jalanan. Akan tetapi.[7] Kondisi ini menjadi point penting dalam mempercepat pembentukan KLA. Padahal pembentukan wadah tersebut sudah menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah 2004-2009. upaya untuk mengatasi persoalan ini di berbagai kabupaten dan kota belum terencana dengan baik dari penciptaan lapangan kerja. Menurut Prof. Jenewa. Pemahaman yang terakhir ini kadang-kadang anak menjadi korban perdagangan anak. dan anak yang tergusur dari tempat tinggalnya. misalnya anak yatim piatu. Tanggung jawab utama untuk melindungi. kepentingan anak . lebih banyak anak mulai terlibat aktif dalam keputusan menyangkut kehidupan mereka. Sejumlah besar anak-anak hidup tanpa bantuan orangtua. Persoalan lain yang cukup dasar adalah kemiskinan yang menjadi satu-satunya kendala terbesar yang merintangi upaya memenuhi kebutuhan.

Semua kesepakatan itu tersimpan rapi di lemari dan laci para Delegasi Indonesia yang sesungguhnya mereka itu juga mempunyai keterbatasan dari segi keilmuan. antara lain kepentingan pemenuhan tugas akhir sebagai mahasiswa. secara nyata yang perlu dipahami oleh kita adalah penerimaan terhadap berbagai komitmen internasional yang disepakati oleh Negara untuk kemajuan anak Indonesia. sangat berdampak pada pemenuhan hak anak. masyarakat. dan seslau kalah bersaing dengan isu-isu politik yang mendominasi pemeberitaan di media. Sebut saja Deklarasi Dunia dan Rencana Aksi dari World Summit for Children. baik sebagai warga kota maupun pengguna ruang kota. namun. manakala ekonomi memburuk. turunnya angka kelulusan baik di SD dan SMP maupun SMA/sederajat di beberapa kabupaten dan kota. seperti meningkatnya kasus gizi buruk. orangtua. dan yang terakhir Deklarasi dan Rencana Pembangunan Berkelanjutan dari World Summit on Sustainable Development. Namun dari sederetan persoalan yang mendera anak. jika kita tidak segera berinisatif. Muncul berbagai persoalan. . Padahal masalah bukan hanya anak. perancang. Karena mereka pada dasarnya belum mengetahui dan memahami apa yang sesungguhnya telah menjadi komitmen Negara di tingkat dunia. pendidikan. kabupaten/kota. Dari uraian di atas. dikhawatirkan kepentingan terbaik bagi anak terabaikan. perencana kota. masyarakat. tergambar bahwa ada tantangan besar untuk mempercepat implementasi hak anak di tingkat orangtua. psikolog. Bila ditelusuri. Deklarasi Millennium Development Goals. Hal ini wajar saja.tidak menjadi prioritas. masyarakat. Dokumen-dokumen tersebut belum tersosialisasi kepada pemerintah. dan nasional pada masa kini dan masa datang. yang akan berujung pada hilangnya satu generasi bangsa. dan pemerintah kabupaten atau kota untuk “memenuhi hak anak” sesuai dengan Konvensi dan komitmen Negara. dan kriminolog yang berkaitan dengan anak dan kota. Sehingga hal ini melahirkan kesenjangan informasi di antara pihak yang terkait dengan komitmen internasional dengan perencana dan penyusun program di lapangan. Dari sekian persoalan di atas yang unik adalah otonomi daerah. Sejak urusan wajib di bidang kesehatan. dan anak. The Dakar Framework: Education For All dari World Education Forum. Isu-isu anak selalu kalah dalam berebut „kapling‟ atau ruang di media masa. Konsekuensi logisnya adalah bahwa opini dan pemahaman publik terhadap isu-isu anak tertinggal sangat jauh dari yang semestinya. hak tumbuh dan berkembang mereka kurang optimal. Kota dan Anak Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para arsitek. dan kepentingan organsiasi atau lembaga dalam rangka proyek dan atau pembangunan kota.[9] Penelitian tersebut dilakukan dengan beberapa alasan. jika kita menemukan pemahaman yang berbeda-beda di kalangan orangtua. Bila ditemui media yang mengangkat isu anak dalam segmen acara ataupun porsi pemberitaannya kesan yang timbul justru potensi pelecehan terhadap hak anak. termasuk „perlindungan anak‟ dan lainnya diserahkan oleh pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten dan kota. penguasaan isu anak sampai komunikasi. Media masa belum mengambil peran secara proporsional. sosiolog. Karena menempatkan anak sebagai obyek program sehingga sangat banyak ditemui pemberitaan dan program dalam media masa yang justru menjauhkan anak-anak dari originalitas budayanya dan bahkanmembuat anak-anak Indonesia terkontaminasi oleh budaya asing. konflik berkecamuk. Deklarasi dan Rencana Aksi World Fit for Children. karena semua kesepakatan internasional tersebut belum menjadi rujukan dalam perencanaan dan kebijakan program pembangunan. keluarga. anak menjadi korban atau dijadikan tumbal untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa”. keluarga. provinsi. Artinya. penelitian tentang anak dan kota telah berlangsung sejak tahun 1970-an sampai sekarang. cetak maupun elektronik. Akan tetapi. kekacauan sosial berkembang di mana-mana. pemerintah daerah.

Penelitian dengan judul ”Persepsi anak terhadap ruang”[11] dilaksanakan di 4 kota – Melbourne. seperti halnya orang dewasa. komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas. Selain itu dapat dilakukan pula pelatihan terhadap orang-tua. polisi dan petugas lapangan tentang perlindungan dan hak anak. dengan menggunakan metode pengamatan. Anak akan memperoleh pengalaman yang tak ternilai dari pelibatan mereka. adanya pemberian kesempatan pada anak. Anak dan Lingkungan Tempat Tinggal Untuk menjadi akrab dengan lingkungan tempat tinggal anak perlu dipertimbangkan bahwa: a. yaitu dengan melakukan modifikasi dan perbaikan di lingkungan tempat tinggal. dapat diajak kerjasama dan mengatasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan lingkungan kota (Adams & Ingham. rumah itu berada di lingkungan yang bebas polusi. Syarat rumah layak huni adalah status kepemilikan jelas (milik sendiri. 2002). Warsawa. Selanjutnya. dan memperbaiki konstruksi pagar. bebas dan demokratis secara seimbang dan konsisten. Berikut ini beberapa harapan dan kebutuhan anak yang mereka sampaikan terekam secara apik dalam laporan penelitian Hamid Patilima dengan judul “Persepsi Anak mengenai Lingkungan Kota: Studi Kasus Kelurahan Kwitang. sewa. ketenangan dan kenyaman penghuni. ahli perkotaan dari City University Of New York dan The International Institute For Environment And Development. Anak dapat membantu pemerintah dalam mendapatkan data mengenai lingkungan tempat tinggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai: komuniti yang kuat secara fisik dan sosial. dan dapat mengidentifikasi persoalan yang ada untuk didiskusikan dan dipecahkan bersama. wawancara dan menggambar. kemudahan akses ke air. karena mereka mempunyai persepsi. Ibid). London (Bartlett. Untuk mewujudkan kebutuhan anak tersebut. tembok dan lain-lain. mendesain kompor dan dapur yang aman. rumah yang layak huni adalah rumah yang menjamin keamanan. Jakarta Pusat”. pelayanan transportasi dan pelayanan kesehatan. perlu adanya intervensi pencegahan terjadinya bahaya terhadap anak di tempat tinggal mereka. lingkungan sekolah. keluarga perlu mempertimbangkan penerapan kombinasi pola asuh antara otoriter. Upaya perbaikan lain menurut Bartlett.Penelitian yang sangat berpengaruh pada implementasi Konvensi Hak Anak dan kemudian diadopsi oleh UNICEF dan UNHABITAT melalui “Child Friendly City Inniciative”[10] adalah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch. pandangan dan pengalaman mengenai lingkungan kota tempat mereka tinggal. mengumpulkan sampah agar tidak menumpuk sehingga bibit-bibit penyakit tidak berkembang biak. lingkungan masyarakat. Salta. supaya kepercayaan diri anak tinggi. adanya pengelolaan sampah dan perawatan saluran pembuangan air kotor. . menumpang). listrik. Dari sejumlah penelitian tersebut. arsitek dari Massachusetts Institute of Technology. Melalui kegiatan pelibatan ini anak menjadi berfikir mengenai persoalan lingkungannya. yang sangat menarik bahwa anak. dan Mexico City. pemerintah dan para pemangku kepentingan di bidang anak dapat menemukan kebutuhan atau aspirasi mereka untuk mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak dan komitmen Negara lainnya di bidang anak. Mereka juga dapat memberikan kontribusi dalam proses perencanaan dan pengembangan kota yang mereka harapkan (Adams & Ingham. 1998:51). menurut Sheridan Bartlett. b. Modifikasi atau perbaikan tersebut antara lain: menggunakan penerangan listrik daripada lilin atau minyak tanah yang mempunyai resiko besar terhadap terjadinya kebakaran. agar terhindar dari asap dan kebakaran. dan fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka. Pemerintah dapat berkonsultasi dengan mereka. tempat bermain. perlu didukung oleh suatu program kampanye penyadaran[12] tentang pentingnya perlindungan keselamatan anak kepada orang-tua dan orang dewasa. Dari mereka.

Dengan demikian akan melindungi anak-anak perempuan dari pelecehan seksual. assosiasi masyarakat dan pemerintah kota. contoh. karena energi yang berkurang dan udara panas mempengaruhi daya serap anak terhadap pelajaran. 1996:3-44) menjadi bercirikan individualisme tinggi. . jelas ada sanksinya. menjaga sanitasi lingkungan. terutama terhadap anak-anak yang rentan terhadap berbagai resiko yang ditimbulkan oleh lingkungan. pemerintah kota perlu melakukan perbaikan-perbaikan. d. Anak memiliki potensi dalam menyusun peraturan dan tata tertib yang menyangkut kehidupan sendiri. sehingga memiliki legitimasi yang kuat saat diterapkan dan ditegakkan. anak-anak memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka di lingkungannya. Untuk menjadikan lingkungan masyarakat sebagai tempat yang baik untuk anak tumbuh dan kembang. dan menghargai pendapat orang lain. dan siskamling. waktu sekolah pagi dan petang dipertimbangkan untuk diterapkan secara bergantian. Perlu ada perbaikan. e. untuk itu perlu dipertimbangkan bahwa: a. Anak-anak keberatan jika ruang WC anak perempuan dan anak laki-laki disatukan. Anakanak merekomendasikan dan memprioritaskan hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian dari orang dewasa. Warga kota dengan ciri ini sangat sukar untuk diajak bekerjasama. karena sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar dan kualitas murid. perlu diterapkan agar anak-anak terlatih mengemukakan pendapat atau gagasan-gagasannya. c. Sebagian besar murid-murid sekolah petang kurang optimal mengikuti pelajaran. bebas bau sampah. pada penyusunan peraturan dan tata tertib sekolah. Anak dan Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah yang diharapkan anak adalah sebagai berikut: a. sehingga perlu dipertimbangkan keberadaan dan kebutuhannya. diharapkan anak dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat. karena berdampak langsung pada kesehatan lingkungan. dan jika ada yang melanggar. tempat bermain dan rekreasi yang aman dan lengkap dengan menerangan. Menurut Bartlett. sehingga anak-anak terlatih untuk mendiskusikan suatu persoalan. Untuk memperbaiki masyarakat mereka. toilet yang tidak bau. seperti kerja bakti (membersihkan sampah dan saluran pembuangan air kotor). melalui bermain mereka menyusun peraturan yang disepakati dan dijalankan bersama. perlu ada inisiatif dan kemauan keras ketua RT dan RW untuk menjalankan organisasi dengan membentuk kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung pada warga. pimpinan sekolah dan guru perlu mengikutsertakan murid-murid. bersama anak menentukan lokasi yang sesuai untuk tempat bermain yang dekat dengan rumah dan sekolah. khususnya anak-anak. menurut Prof. Tanpa inisiatif dan kemauan tersebut. mempunyai ruang WC yang menjadi salah satu fasilitas yang penting di sekolah. Metode CBSA atau metode lain yang memberi kesempatan anak untuk berdiskusi. dan memasang pengumuman tentang pemberian perlindungan terhadap anak dari kekerasan dan penelantaran terhadap anak. b. Parsudi Suparlan (Suparlan. dan perlu melakukan pengamanan yang ekstra di lingkungan yang berpendapatan rendah. warga kota. desain bangunan sekolah bertingkat perlu dilengkapi ruang bermain yang memungkinkan anak-anak dari setiap lantai saling bertemu dan bersosiliasai. b. Kegiatan ini melatih anak-anak mengenai kehidupan berdemokrasi yang saling mendengar. perawatan dan pembaharuan terhadap saluran air.Anak dan Lingkungan Masyarakat Pada lingkungan masyarakat. metode belajar mengajar tidak hanya metode klasikal. Contoh lain adalah pembagian tugas piket kebersihan yang mereka susun bersama ketua kelas. dijalankan secara bersama-sama.

Pemerintah kota perlu mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan di tempat bermain. Menurut Sheridan Bartlett. perencana dan perancang perlu mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan terhadap anak. juga dapat meningkatkan gizi anak. secara efisien. Anak dan Lingkungan Bermain Pemerintah perlu mempelajari cara anak memenuhi hasratnya mendapatkan tempat bermain dengan mengikuti cara anak. 1998:292) meskipun Pemerintah Kota Curitiba menghadapi kesulitan ketika membangun sistem pelayanan transportasi berkelas dunia.makan di sekolah perlu dipertimbangkan menjadi suatu program sekolah. selain mengembalikan energi anak yang terpakai selama belajar. Selain itu menjadi ajang anak-anak saling bersosialisasi baik dengan teman sekelas atau lain kelas. Di beberapa negara seperti Inggris. atau mengkaji sistem transportasi di Curitiba. tetapi mereka sanggup mewujudkannya dengan perencanaan yang hati-hati. Selain itu. Brazil. Belgia dan Belanda. pusat perdagangan. perkantoran. Ada dua persoalan yang terkait dengan keselamatan anak: a. Untuk mewujudkan transportasi seperti itu. jaringan jalan. Persoalan ini menyangkut kasus kekerasan terhadap anak. dengan mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan terhadap tempat bermain anak. Menurut Robert Cervero (Cervero. dengan keputusan yang tepat. dibangun jaringan yang menghubungkan jaringan busway dengan jaringan transit di tempat yang kurang padat penduduk. tempat bersejarah dan ruang publik.[13] karena banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan ini. meningkatkan keselamatan anak di tempat bermain. dan termasuk melakukan kampanye terhadap larangan penggunaan bahan berbahaya pada alat-alat permainan. dibutuhkan tindakan pencegahan dan tenaga profesional yang berpengalaman untuk menjamin bahwa ruangan terbebas dari hal-hal berbahaya yang bisa menyebabkan anak-anak mendapatkan luka serius. orang dewasa. Menurut Hendricks (Hendricks: 2002:14) perencanaan taman bermain yang ramah terhadap anak harus mempertimbangkan hasil konsultasi dengan anak. khususnya orang-tua anak dan pengawas tempat bermain diduga juga berpotensi untuk membahayakan keselamatan anak dan membuat anak takut. Proses konsultasi dengan anak harus dilakukan dengan baik seperti yang dilakukan terhadap orang dewasa. Dengan mengkaji dan mengadopsi dua contoh sistem transportasi serta berkonsultasi dengan warga kota termasuk anak mengenai kebutuhan transportasi. Sistem transportasi Curitiba dibangun dengan menggabungkan semua jaringan mulai dari jaringan rumah. dan bersedia bekerjasama dengan mereka untuk menata ruang yang ada. Anak dan Pelayanan Transportasi Pemerintah kota agar menyediakan layanan transportasi yang mempertimbangkan kebutuhan anak. . seperti bagaimana mereka menggunakan ruang dan apa yang mereka ingin lakukan. yang mungkin di rumah kurang memperoleh asupan makan yang bergizi. dengan semangat kepemimpinan. telah banyak contoh konsultasi yang dilakukan dengan anak mengenai tempat bermain (Hendricks: 2002:14). Topik penting yang perlu diperhatikan oleh perencana dan perancang ketika melakukan diskusi dengan anak mengenai pembangunan taman bermain adalah masalah keselamatan anak. dapat dibayangkan kabupaten/kota di Indonesia akan memiliki sistem transportasi yang layak bagi anak. sehingga dalam proses pengembangannya tidak perlu melakukan pengekangan terhadap anak. Selain itu. sehingga memungkinkan mereka merasa tenang dan nyaman. pemerintah dapat mengkaji dan mempelajari sistem transportasi di Singapura yang memberikan pelayanan kepada beragam keadaan penduduknya. b.

Hardoy. David Satterthwaite. 2002:85) perlu: a.” adalah pencegahan penyakit yang disebabkan oleh resiko lingkungan. c. jenis dan ukuran transportasi umum. 2002:1-2) adalah. Tindakannya dapat dilakukan di dua tingkatan yakni rumah tangga dan masyarakat. menyediakan fasilitas WC yang bersih. belajar (sekolah) dan bermain (masyarakat) (WHO. Menurut WHO. pembuangan sampah toxic dan degradasi lingkungan. memberikan pengawasan. menurut Jill Swart Kruger dan Louise Chawla (Kruger. sedangkan tanah dan air merupakan perantara infeksi cacing. Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah. penulis buku “Environmental Problems in an Urbanizing World: Finding Solution for Cities in Africa. Bahaya lain adalah kecelakaan dan kekerasan. mempertimbangkan pembuatan tiket tunggal untuk semua jenis transportasi umum. Karena itu. taman. sanitasi buruk. perumahan. manajemen sampah. Bagi masyarakat perkotaan. e. serta mempertimbangkan tanggung jawab terhadap anak: . sekolah. Kehidupan anak berpusat pada rumah. permukiman yang padat. Selain itu. dan Latin America. 2002:7). tak jarang tempat-tempat itu tidak aman bahkan menjadi penyebab timbulnya penyakit bagi anak. namun sangat disayangkan program ini tidak dikonsultasikan dengan anak. sebagian besar penyakit anakanak berhubungan erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal (rumah). Selain itu. ventilasi yang buruk. mempercepat penyebaran berbagai penyakit (UNICEF & UNEP. menyediakan air bersih. dkk. London (Satterthwaite. Tingkat rumah tangga yang dapat dilakukan dengan: a. sanitasi. jenis penyakit dan upaya pencegahannya. Sedangkan tindakan di masyarakat hampir sama dengan tindakan di rumah tangga. polusi udara. memperkenalkan jarak. bisa pula menjadi sebuah ancaman.Selain itu pemerintah kota dalam membuat kebijakan mengenai transportasi umum. b. mempertimbangkan penggunaan bus khusus pada hari minggu dan libur untuk anak dan keluarganya ke tempat rekreasi. 1990:25). perlu dipetimbangkan untuk mengalang komuniti sekolah untuk membangun „Rute Aman ke Sekolah‟. Asia. dan terkesan program tersebut dipaksakan. sekolah dan lingkungan sekitarnya. resiko juga ditimbulkan dari kekurang hati-hatian dalam menggunakan bahan kimia yang berbahaya. supaya mereka mengetahui sumber penyakit. mengatur pembuangan sampah dan air buangan. transportasi umum. saluran air. b. Gagasan ini sebetulnya sudah mulai berkembang di beberapa kabupaten dan kota di Indonesia melalui Program Zona Aman Sekolah oleh Departemen Perhubungan. dan kurang air bersih untuk mencuci. Kenyataan. melakukan kampanye dengan menyebarkan poster atau leaflet tentang desain kompor dan dapur. d. Resiko lainnya ditimbulkan oleh serangga yang menjadi perantara bibit penyakit. sehingga program ini belum mendapat tanggapan yang serius dari orangtua dan masyarakat. Anak dan Pelayanan Kesehatan Informasi mengenai kesehatan anak merupakan hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang anak. dan higiene makanan yang buruk. Pemakaian zat kimia yang tidak aman untuk produk rumah tangga dan alat permainan anak seperti boneka. menurut Dr. c. wilayah tersebut harus menjadi tempat yang aman dan sehat bagi anak. dari International Institute for Environment and Development. tempat penampungan/tanki air selalu dibersihkan untuk menjaga higiene. tetapi sifatnya lebih ditingkatkan pada pengawasan dan penyediaan fasilitas yang tidak tersedia di tingkat rumah tangga seperti sumur umum dan MCK. Resiko utama ditimbulkan oleh lingkungan seperti air yang kurang bersih. Upaya kesehatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko lingkungan terhadap kesehatan anak dan warga kota lainnya menurut Jorge E. perlindungan terhadap anak dan melakukan tindakan pada sektor air.

mempunyai hak untuk tempat tinggal – pasal 27 menegaskan hak setiap anak atas kehidupan untuk pengembangan fisik. mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat – sanitasi buruk. Akan tetapi. bahwa anak (Save the Children. tbc. kurangnya fasilitas toilet. dan moral. g. Untuk itu orang tua bertanggung jawab mengupayakan kondisi kehidupan yang diperlukan untuk mengembangkan anak sesuai dengan kemampuan. b. ada semacam suatu pra-syarat untuk mencapainya. mempunyai hak untuk bermain – ini artinya tersedia areal hijau dan ruang terbuka untuk bermain. mental. Adanya Kemauan dan komitmen pimpinan daerah: membangun dan memaksimalkan kepemimpinan daerah dalam mempercepat pemenuhan hak dan perlindungan anak yang dicerminkan dalam dokumen peraturan daerah. bukanlah hal yang mudah dan bukanlah hal yang sulit. diare. Keadaan ini dapat kurangi bila orang tua peduli terhadap keluarganya. dan banyaknya sampah memberi dampak yang serius terhadap kesehatan anak. b. c. meluasnya kekejaman dan kejahatan mempunyai dampak yang kuat terhadap anak dan remaja. sehingga dampaknya adalah perasaan tertekan dan ketegangan pada diri anak. 1996:13-15): a. f. spritual. dan penyakit lain yang sering dialami oleh warga yang tinggal di wilayah kumuh. Kondisi seperti ini sangat berbeda yang dialami oleh anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal dan terputus dengan orang tua. Perumahan padat dapat menjadi salah satu faktor dalam perlakuan buruk terhadap anak atau kekejaman dan perlakuan salah secara seksual. mempunyai hak untuk mendapatkan keleluasaan pribadi – tempat tinggal padat dan tumpang tindih di kota menjadikan anak merasa terganggu keleluasaan pribadinya. untuk mewujudkan KLA. d. e. sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah kota kepada anak-anak yang tinggal di tempat illegal. begitu juga dengan anak yang ada di wilayah kumuh biasanya kualitas sekolahnya sangat buruk. peraturan mengenai air dan sanitasi yang dapat menjadi sumber penyakit diare dan infeksi cacing. Kondisi kota seperti ini menghadapi masalah serius terhadap tumbuh kembang anak. karena tempat mereka tidak dilengkapi sekolah. d. kurangnya air bersih. ispa. mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan transportasi umum – mengakses tranportasi umum yang baik untuk semua merupakan hal yang esensial. Untuk memenuhi hak anak.a. mempunyai hak untuk mendapatkan rasa aman – keamanan fisik dan psikososial merupakan hal penting bagi anak yang ada di kota. institusi bertanggung jawab terhadap peraturan tentang polusi yang bisa merusak perkembangan otak dan tubuh anak. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh anak-anak yang berasal dari keluarga miskin di kota. karena mereka muda terjangkit penyakit cacar. Lemahnya penegakan hukum. Prasyarat Mewujudkan KLA Bertitik dari uraian penelitian di atas. Lokasi tempat bermain dengan rumah khususnya untuk anak kecil dan anak dengan kecacatan. bagaimana pun transportasi yang aman adalah berjalan kaki. pemerintah bertanggungjawab terhadap keadaan jalan yang bisa menimbulkan kecelakaan dan luka. Pra-syarat yang dimaksud adalah: a. c. polisi mengatur taman dan tempat umum lain yang banyak dikunjungi anak. naik sepeda atau mengakses transportasi yang tidak menghasilkan polusi dan ramah anak. Catatan lain yang perlu juga direnungkan apabila merujuk pada Konvensi Hak Anak. mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan – setiap anak mempunyai hak dan kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. .

Fakta di lapangan menunjukkan. perlu mengajukan pertanyaan “Apakah sudah ada kepentingan terbaik bagi anak di dalamnya?” Jika belum ada. Partisipasi anak: tersedia wadah untuk mempromosikan kegiatan yang melibatkan anak dalam program-program yang akan mempengaruhi mereka. f. terlindungi dari eksploitasi. agama. Sosialisasi hak anak: menjamin penyadaran hak-hak anak pada anak dan orang dewasa.b. dapat mengekspresikan pendapatnya mengenai kota yang mereka inginkan. Baseline data: tersedia sistem data dan data dasar yang digunakan untuk perencanaan. Produk hukum yang ramah anak: tersusunnya sedia peraturan perundangan mempromosikan dan melindungi hak-hak anak. bahwa anak belum menjadi pertimbagan utama dalam proses penyusunan dan perencanaan pembangunan. tanpa memperhatikan suku bangsa. d. h. berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial. e. b. dan k. berarti anak: a. dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga. e. g. dampak pembangunan kurang optimal untuk mempersiapkan suatu generasi yang tangguh. keputusannya mempengaruhi kotanya. dan sosial. c. Sebagai warga kota. d. sebelum mengambil dan memutuskan kebijakan. dan kecacatan. penyusunan program. Kemitraan dan jaringan: adanya kemitraan dan jaringan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. dapat bertemu dan bermain dengan temannya. j. gender. Arus ini menghendaki seluruh orang dewasa yang ada di setiap pemangku kepentingan (stakeholders) dalam proses penyusunan dan perencanaan pembangunan. h. Sehingga. harus adanya pengarustamaan hak anak dalam pembangunan. maka proses tersebut perlu ditinjau ulang. . merasa aman berjalan di jalan. Ada dua arus yang berkembang pada saat kita menyusun dan merancang kota layak bagi anak. hidup di lingkungan yang bebas polusi. Pemberdayaan keluarga: adanya program untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan perawatan anak. dapat mengakses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. namun upaya untuk mewujudkannya. dan evaluasi. Pertama. mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkannya dalam proses pembuatan keputusan. harus menjadi pertimbangan utama. Penyediaan infrastruktur perkotaan masih mengabaikan kepentingan terbaik anak. i. Kunci sukses untuk mewujudkan kota layak bagi anak adalah adanya keikhlasan dan ketulusan orang dewasa mengutamakan kepentingan terbaik anak. kekerasan dan penelantaran. f. komuniti. g. Pembangunan bidang infrastruktur belum menyentuh pada pemenuhan kebutuhan anak dan atau kelompok yang rentan. kekayaan. sehingga diketemukan adanya „kepentingan terbaik bagi anak‟. c. secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan. Institusi Perlindungan Anak: Adanya kelembagaan yang mengkoordinasikan semua upaya pemenuhan hak anak. Hal ini tidak sederhana. Pembangunan bidang pendidikan belum sinkron dengan pembangunan bidang kebutuhan pasar ketenagakerjaan. dapat mengakses air minum segar dan tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang baik. Mewujudkan KLA KLA adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. pemantauan.

Pemerintah Kabupaten/Kota . Untuk itu. Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan .APKSI/APEKSI sebagai jaringan komunikasi antar kabupaten/kota mempunyai posisi strategis untuk wadah bertukar pengalaman dan informasi antar anggota untuk memperkuat pelaksanaan KLA di masing-masing kabupaten/kota. Selain itu pemerintah juga melakukan koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan KLA. Hal ini didasarkan pada pemikiran.Pemerintah bertanggung jawab dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan nasional dan memfasilitasi kebijakan KLA. pemantauan. Asosiasi Pemerintahan Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia . Kemitraan yang terbangun dapat saling berintegrasi dan bersinergi menjadi suatu kesatuan yang saling mengisi dan membutuhkan satu dengan lainnya. Fase yang dimaksud seperti terlihat pada gambar berikut: Selanjutnya adalah pembagian peran apa yang dapat dilakukan oleh setiap individu dan institusi yang ada di perkotaan untuk mewujudkan KLA.Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab dalam membuat kebijakan dan menyusun perencanaan. seperti uraian berikut: a. Sehingga pada saat pengambilan keputusan sesuai dengan kepentingan anak. Peran dari para pihak ini perlu dipertegas. pelaporan. dan memobilisasi potensi sumber daya untuk pengembangan KLA. pihak yang mengetahui „kepentingan terbaik anak‟ adalah anak. Peran yang dimaksud harus sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh setiap individu dan atau institusi. evaluasi. b. d. Pemerintah . berkomunikasi secara efektif dengan anak untuk menggali kebutuhan anak. Upaya yang perlu ditempuh untuk menggali kebutuhan adalah melalui partisipasi anak.Sektor swasta dan dunia usaha merupakan kelompok potensial dalam masyarakat yang memfasilitasi dukungan pendanaan yang . Selain itu melalui kemitraan dan partisipasi ini akan mendorong pemanfaatan segala jalur partisipasi untuk mensejahterahkan dan meningkatkan perlindungan hak anak. c. Sektor Swasta dan Dunia Usaha .Kedua. pelaksanaan. Kemitraan ini menurut the International Union of Local Authorites membentuk suatu lingkaran projek dengan proses perencanaan dan pelaksanaan melalui fase. para pemangku kepentingan di bidang anak.Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan mempunyai peran penting dalam menggerakkan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KLA. bahwa yang paling tahu dan paham kepentingan anak adalah anak itu sendiri. Kemitraan dan Partisipasi Untuk mewujudkan „KLA‟ perlu diperkokoh kemitraan pemerintah dengan para pelaku lain yang akan memberikan kontribusi yang unik. e.

Kota Yogyakarta dan Kota Banjar. Kabupaten Sragen (Jawa Tengah). Anak – anak merupakan unsur utama dalam pengembangan KLA perlu diberi peran dan tanggung jawab sebagai agen perubah.49 Autumn 1998. Kabupaten OKI (Sumatera Selatan). Philadelphia: The Falmer Press. Kabupaten Sidoarjo di Provinsi Jawa Timur. Health Policy and Planning. Kota Padang (Sumatera Barat). Lembaga Internasional .Keluarga merupakan wahana pertama dan utama memberikan pengasuhan.” Daftar Kepustakaan Adams. perawatan. Changing Places: Children‟s Participation in Environmental Planning. Jordan”. monitoring. dan menghormati hak anak. Ahier. Lampung Selatan (Lampung). Kota Bogor. Bartlett. Sedangkan pada tahun 2007 ditunjuk 10 kabupaten/kota. Ahmad. Kabupaten Karawang (Jawa Barat). Kota Malang (Jawa Timur). bimbingan. KLA juga diinisiasi di Kota Semarang dan Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah atas dukungan NGO Internasional (CCF). (2002). menghargai. Saudi Arabia: King Saud University. dan evaluasi program KLA dengan memberikan masukan berupa informasi yang obyektif dalam proses monitoring dan evaluasi. dan terakhir Kabupaten Gorontalo di Provinsi Gorontalo. g. Tahun 2006 konsep KLA diujicobakan di 5 kabupaten/kota. Kabupaten Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur. .Masyarakat bertanggung jawab mengefektifkan pelaksanaan. London. Menurut Almarhum Dr. “The problem of children‟s injuries in low-income countries: a review”. Kota Surakarta (Solo) di Provinsi Jawa Tengah. dan Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur). i. Industry Children and the Nation: an Analysis of National Identity in School Textbooks. No.bersumber dari alokasi Corporate Social Responsibility untuk mendukung terwujudnya KLA. (1998). Yang nyaring terdengar dan banyak tersosialisasi adalah bagaimana membantu orang dewasa untuk memfasilitasi. Y. New York. Australian Institute of Family Studies Family Matters. (1988). Komuniti (Masyarakat) . Catatan Akhir Kata kunci dalam proses mewujudkan KLA adalah ketulusan dan keikhlasan orang dewasa menerima kehadiran anak di tiap proses pembangunan kota dan pemberian kesempatan oleh orang dewasa kepada mereka. Eillen & Sue Ingham. John. yaitu Aceh Besar (Nanggroe Aceh Darussalam). Sheridan. “About Growing Up”. bahwa “Pembangunan dan perubahan sosial belum meletakkan anak sebagai subyek. Kota Manado (Sulawesi Utara). Al-Zoabi. Kota Pontianak (Kalimantan Barat). Kabupaten Kuningan.Lembaga internasional sebagai lembaga memfasilitasi dukungan sumber daya internasional dalam rangka mempercepat terwujudnya KLA. f. “Children‟s Mental Maps and Neighborhood Design of Abu-Nusier. DR. dan pendidikan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. h. London: The Children‟s Society. Mansour Fakih. Selain itu atas inisiatif Pemda sendiri KLA telah diperkenalkan di Kota Bandung. (2002). Keluarga . (1998). atau paling tidak memperhitungkan anak dalam arah pembangunan. Inisiatif KLA Inisiatif KLA ini telah diadaptasi oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. yaitu Kota Jambi di Provinsi Jambi.

W. Erikson. PhD. Oktober No. Prof. Barbara. Hamid. Environment & Urbanization Vol.2002). Children on Their Housing. Art. “We Know Something Someone doesn‟t Know: Children Speak Out on Local Conditions in Johannesburg”. Jakarta. Children on Their Housing. (2003). di Brescia: Ordine degli Achitetti. London: Earth-scan Publication Hendricks. Amman. & J. Swedia: Radda Barnen. “City Governance for and with Children”. 2 October.). Penulis buku Metode Penelitian Kualitatif yang diterbitkan oleh Alfabeta Bandung (2005 dan 2007) . (diktat). Chawla. Amman. (2001). Italy: UNICEF Innocenti Research Centre. Suparlan. Jordan: International Conference on Children and The City. PLA Notes. Jakarta Pusat. ”Evaluating Children‟s Participation: Seeking Areas of Concensus”. Norton & Co. The Life Cycle Completed. Sheridan. Antropologi FISIP UI. Louise.. (2002). (2002) “Child Friendly Environments in the City”. (1996). Kruger. (No. (1996). Erikson. Depok: Jur.W. Poverty and Exclusion Among Urban Children. Children in the City Home. Innocenti Digest. Jakarta: Kajian Pengembangan Perkotaan. “Urban Children and the Physical Environment”. ”Kondisi Lingkungan Bermain Anak di Kota-kota Besar Sebagai Dampak Proses Urbanisasi”. Neighbourhood and Community.42. Jordan: International Conference on Children and The City. & Latin America. Partnership to Create Child Friendly City: Programming for Child Rights with Local Authorities. Merina. (2008). Florence – Italy: UNICEF Innocenti Research Centre. Hardoy. and Media (2007) sekaligus menjadi Pelatih untuk Master Trainner SCREAM. Burhan. Dr. Prof. (1996). (Tesis). Asia. Satterthwaite.Bartlett. Menjadi Pengasuh Mata Kuliah Pendalaman Metode Penelitian Kualitatif di Program Pendidikan Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan. Pascasarjana Universitas Indonesia Save the Children. Mengarusutamakan Hak-Hak Anak Dalam Pembangunan Nasional: Perspektif Ekologi Perilaku Manusia. Parsudi. Patilima. (2002)... (2001). Jorge E. Universitas Negeri Jakarta (2008). (2004). Environmental Problems in an Urbanizing World: Finding Solution for Cities in Africa. Diana & David Satterthwaite (2001). Antropologi Perkotaan. (2002). Hamid Patilima Alumni Kajian Pengembangan Perkotaan – Program Pascasarjana Universitas Indonesia Bekerja di Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Menjadi Konsultan di Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan untuk Pengembangan Kota Layak Anak Dipercaya oleh UNICEF untuk menjadi Konsultan dalam penyusunan Laporan Indonesia Pelaksanaan Konvensi Hak-Hak Anak Periode Ketiga dan Keempat (2007) dan Laporan Pelaksanaan A World Fit for Children Periode 2002-2006 (2006) Dipercaya oleh ILO sebagai Konsultan Nasional untuk Adaptasi Modul Supporting Child Right Through Education. Universitas Atmajaya. New York & London: Routledge Falmer.2-Nov. (1999). Christencen. Save the Childern. Jill Swart & Louise Chawla. IULA&UNICEF. David. Tokyo: Tokyo Institute of Technology. Irwanto. Eric H. (1987).14 No.M. Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota – Studi Kasus Di Kelurahan Kwitang. Swedia: Radda Barnen. Pia & Margaret O‟Brien (edit.

dan anggaran yang responsive terhadap kebutuhan dan kepentingan terbaik bagi anak. untuk memperkuat peran pemerintah kabupaten/kota. prasarana dan metode yang ada pada pemerintah. dunia usaha di pemerintahan kabupaten/kota dalam mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan anak. kegiatan. Margaret O‟Brien. II (1992-1997). [8] Dhadhi anak. 2002 yang juga merupakan lanjutan dari pertemuan City Summit Istanbul Turki 1996. Urban Space and Citizenship: Child-sensitive Urban Regeneration”. untuk menyusun perencanaan dan melaksanakan strategi. masyarakat. III dan IV (19972007). [4] Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.). untuk melaksanakan kebijakan kabupaten/kota yang layak anak. untuk memobilisasi dan mengintegrasikan sumberdaya manusia. keuangan. Louise Chawla dari the Children and Environment Program of the Norwegian Centre for Child Research . dan Undang-Undang lainnya terkait dengan anak. sarana.[1] Tujuan dari inisitif KLA adalah untuk mengintegrasikan hak-hak anak ke dalam pembangunan kabupaten/kota. 2003:144-145) memaparkan hasil penelitiannya tentang “The Childhood. Pemerintahan Daerah Provinsi. masyarakat dan dunia usaha dalam rangka menciptakan kabupaten/kota yang dapat memenuhi hak-hak anak. .Trondheim. mesti ngerti karo wong tuo [9] Dr. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota [5] Ratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990. ahli psikologi sosial dari University of East Anglia dalam tulisannya “Regenerating children‟s neighborhoods: What do children want?” (Christensen (ed. [6] Laporan Indonesia Pelaksanaan Konvensi Hak Anak Periode I (1990-1992). Norwegia tahun 1994. [3] Bersumber dari Child Friendly City Inniciative yang diperkenalkan oleh UNICEF dan UNHABITAT pada City Summit Istanbul Turki 1996. untuk mempercepat kemampuan keluarga. dalam menyatukan tujuan pembangunan daerah di bidang perlindungan anak. [2] Terinspirasi dari dokumen World Fit for Children. program. [7] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28 B Ayat (2). dan untuk menyusun dan memantau kerangka kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang layak anak dengan mekanisme berkelanjutan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

program pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia. psikolog lingkungan dari Kentucky State University melakukan penelitian tentang “Four-site study of children‟s needs and priorities”. Ahmad Y. sosiolog dari London School of Economical and Political Science (Christensen (ed. Hamid Patilima. Jakarta Pusat mengenai lingkungan kota. 1996. Al-Zoabi. Penelitian ini menggunakan suatu desain studi kasus yang menghasilkan gambaran persepsi anak mengenai lingkungan kota. Istanbul Turki. [13] Di Indonesia.” yang bertujuan untuk menguji bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan tetangga mereka dan bagaimana perencana dan perancang dapat memperoleh informasi pertama dari anak-anak tentang kegunaan dan kebutuhan mereka seperti ruang komuniti. khususnya anak-anak di Kelurahan Kwitang. yang bertujuan terperoleh gambaran kognitif anak-anak di Indonesia. pamflet. Jill Swart Kruger.net/index.). program ini pernah dilaksanakan melalui program PMTAS. arsitek dan perencana dari King Saud University. melakukan penelitian tentang ”Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota: Studi Kasus Kelurahan Kwitang.Virginia Morrow. pada umumnya anak-anak menggambarkan kota dan lingkungan mereka secara negatif.ykai. [10] City Summit. antropolog dan arkeolog dari University of South Africa dan Louise Chawla. [12] Program kampanye dapat memanfaatkan berbagai media. [11] Laporan penelitian tersebut telah diterbitkan oleh Cambrigde. brosur dan lain-lain. Program makan siang di sekolah semacam itu juga dilaksanakan oleh sekolahsekolah seperti di Jepang dan Malaysia. tetapi dihentikan sejalan dengan berakhirnya program JPS-P. seperti media massa – koran dan televisi. Jordan. MA: MIT Press tahun 1977 dengan judul “Growing Up in Cities”.php?view=article&id=97%3Akota-layak-anak&option=com_content . melakukan penelitian tentang “Children‟s Mental Maps and Neighborhood Design of Abu-Nusier. Jakarta Pusat). http://www. 2003:169) melalui tulisannya “Improving the neighborhood for children” dalam penelitiannya dengan pendekatan kualitatif diungkapkan bahwa.

yakni Aceh Besar. 22 Juni 2011 16:09 wib 3 50Email0 Image: corbis. kita harus menghargainya dengan menerapkan sistem pendidikan yang akan mendukung tumbuh kembang anak dan bebaskan anak dari tindak kekerasan.” Seto mengimbuhkan. dan Kupang sebagai tempat uji coba Kota Layak Anak. Jambi. Malang. Surakarta. setiap kota harus mampu memberikan anak suasana yang nyaman dan gembira dalam menimba ilmu.” katanya di Hotel Bumi Wiyata. dan Gorontalo. Sidoarjo. Salah satu kota yang bertekad menjadi Kota Layak Anak di Jawa Barat yakni Kota Depok. Manado. Ketua DPRD .com DEPOK – Sejak 2006. Kota juga harus mampu memberikan mereka ruang terbuka untuk dapat tumbuh kembang serta melindungi dan menghindari mereka dari berbagai tindak kekerasan.Inilah Syarat Kota Layak Anak Marieska Harya Virdhani Rabu. kata Seto. Rabu (22/6/2011). seluruh kota harus mampu mewujudkan kota yang ramah terhadap kehidupan anak. kurikulum pendidikan di daerah masing-masing harus ramah anak dan tidak ada diskriminasi pada anak. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah menunjuk Kota Padang. “Salah satu contohnya kota Padang Panjang yang sudah menjadi kota layak anak dengan membebaskan anak dari rokok dan segala bentuk iklan rokok. Menurut Pemerhati Anak Seto Mulyadi. Depok. Menurutnya. Sementara untuk tingkat kabupaten. Untuk memenuhi kriteria tersebut. “Semua anak pada dasarnya cerdas karena senang belajar. Untuk mendukung kecerdasan mereka.

(rfa) http://kampus.okezone. kita bisa sempurnakan jika warga turut aktif. salah satunya menyediakan anak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan bebas polusi. “Semua impian memang tidak dapat kita wujudkan secara seratus persen.Kota Depok Rintis Yanto mengatakan bahwa anak harus diberikan perlindungan dan perluasan tumbuh kembang sehinga kota layak anak bisa terwujud sesuai dengan impian.” Rintis menandaskan.com/read/2011/06/22/373/471431/inilah-syarat-kota-layak-anak .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->