Modul Pemrosesan Sinyal

MODUL PEMPROSESAN SINYAL

Di Susun Oleh: Natasha Kusuma Wardhani 091910201010

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL JURUSAN TEKNIK ELEKTRO STRATA 1 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER 2011

Modul Pemrosesan Sinyal

DAFTAR ISI

1. Pemprosesan Sinyal
2. Teori Dasar Sinyal Kontinu dan Sinyal Diskrit 2.1 Teori Dasar

1. 2.

Sinyal Kontinu Sinyal Diskrit

3. Menampilkan Sinyal Kontinu dan Sinyal Diskrit pada MATLAB 4. Proses perubahan sinyal kontinu (analog) menjadi digital (diskrit) 5. Teori Dasar Operasi Dasar Sinyal
4.1 Teori Dasar

1. Atenuasi 2. Amplifikasi 3. Delay 4. Penjumlahan 5. Perkalian 6. Menampilkan Operasi Dasar Sinyal pada MATLAB 7. Daftar Pustaka

Biasanya sinyal ini berbentuk tanda-tanda. Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain. maka diperlukan pengolahan sinyal dengan menggunakan suatu sistem elektronika analog maupun yang digital. mungkin menggunakan waktu. Contoh sinyal: sinyal ucapan. Agar sinyal dapat bermanfaat sesuai kebutuhan manusia dengan efisien dan optimal. ECG.Modul Pemrosesan Sinyal BAB I PEMROSESAN SINYAL Sinyal adalah besaran fisis yang berubah menurut waktu. antara lain : . atau variabelvariabel bebas lainnya. yaitu besaran yang di kontrol dari plan yang di gerakkan oleh sinyal input. lampu-lampu. ruang. Dalam istilah teknik sinyal itu ialah besaran yang berubah dalam waktu dan atau dalam ruang. suara-suara. dll. Diambil dari berbagai sumber. Secara matematis. keahlian dan sumber daya lainnya yang menghasilkan suatu hasil. sinyal adalah fungsi dari satu atau lebih variabel independen. Proses ini dilakukan melalui pemodelan sinyal. Sinyal output adalah sinyal respon sistem yang sebenarnya atau variable dinamis yang di inginkan . ruang. dan membawa suatu informasi. pengertian sinyal sangat bermacam. dan EEG. Sinyal terdiri dari sinyal kontinu (analog) dan sinyal diskrit (digital).

BAB II TEORI DASAR SINYAL Sinyal merupakan sebuah fungsi yang berisi informasi mengenai keadaan tingkah laku dari sebuah sistem secara fisik. Selain itu sinyal juga merupakan fungsi yang memiliki nilai real pada setiap waktunya. • fungsi yang memiliki nilai real pada setiap waktunya.Modul Pemrosesan Sinyal • Fungsi satu variabel atau lebih yang menunjukkan informasi dalam fisik fenomena alam. Pada sinyal kontinyu. variable independent (yang berdiri sendiri) terjadi terus-menerus dan kemudian sinyal dinyatakan sebagai sebuah kesatuan nilai dari variable independent. tetapi sinyal ini mudah terpengaruh oleh noise. dll. Contoh dari sinyal kontinyu adalah sinyal analog. Sinyal merupakan media penghubung informasi yang memiliki variabel-variabel yang berdiri sendiri. • Suatu impuls elektronik atau gelombang radio yang dikirim atau diterima • Suatu kuantitas/besaran yang berubah-ubah.1 Sinyal Kontinu Sinyal kontinyu adalah sinyal yang memiliki nilai real pada setiap waktu. maka jangkauan transmisi data dapat mencapai jarak yang jauh. 2. Sinyal kontinyu merupakan suatu sinyal yang berbentuk gelombang sinusoidal dan merupakan variable yang berdiri sendiri. cahaya. Dengan menggunakan sinyal analog. Pada sinyal kontinyu meliputi media-media yang dapat dialiri oleh sinyal itu sendiri seperti intensitas bunyi. • Sistem berupa arus data yang mengalir melalui jalur transmisi • Suatu indikator yang digunakan sebagai alat komunikasi • Suatu impuls atau fluktuasi besaran listrik seperti tegangan. Gelombang pada sinyal analog yang . • media penghubung informasi yang memiliki variabel-variabel yang berdiri sendiri. arus. tekanan. kuat medan listrik. yang mengkodekan informasi.

Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: r(t)= pada unit ramp. frekuensi dan phase.  Frekuensi adalah jumlah gelombang sinyal analog dalam satuan detik. Dan untuk t < 0 maka akan bernilai 0. Fungsi Step Fungsi step adalah suatu fungsi sinyal kontinyu yang memiliki nilai amplitudo u(t) bernilai 1 untuk t > 0. Sinyal kontinu itu sendiri memiliki 4 fungsi.Modul Pemrosesan Sinyal umumnya berbentuk gelombang sinus memiliki tiga variable dasar. Fungsi Ramp Fungsi ramp merupakan suatu fungsi dari sinyal kontinyu yang memiliki bentuk menanjak secara stabil. jika nilai t ≥ 0 (kemiringan) semua akan bernilai 1. yaitu amplitudo. Sehingga akan bernilai t apabila t > 0. yaitu: 1. jika t < 0 maka akan bernilai 0.  Phase adalah besar sudut dari sinyal analog pada saat tertentu. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: U(t)= 2. .  Amplitudo merupakan ukuran tinggi rendahnya tegangan dari sinyal analog. Pada kondisi inilah tepat disebut sebagai fungsi ramp.

Fungsi impuls berguna untuk menguji respon yang berubah dalam waktu yang sangat singkat. Secara matematis fungsi impuls dapat ditulis sebagai berikut: .Modul Pemrosesan Sinyal 3. Fungsi Impuls Fungsi impuls adalah suatu fungsi sinyal yang akan bernilai 1 saat t = 0.

Sinyal diskrit hanya memiliki dua nilai yaitu 0 dan 1. Dan fungsi periodik ini ditetapkan sebagai suatu nilai real positif. Fungsi Periodik Fungsi Periodik adalah suatu fungsi sinyal kontinyu yang memiliki inputan berbentuk sinusoidal. 2. Pada sinyal diskrit ada 5 fungsi yaitu: . Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: x(t) = A cos(ωt + θ) Dimana: A = amplitudo ω = frekuensi dalam radian per detik (rad/detik) θ= fase dalam radian. sehingga nilai inilah yang membentuk sinyal diskrit sebagai bentuk satuan data.Modul Pemrosesan Sinyal 4. Sinyal waktu diskrit (discrete time) adalah sinyal dengan variable independen bernilai integer.2 Sinyal Diskrit Sinyal diskrit ada suatu sinyal analog yang dirubah menjadi sinyal digital berupa data. sinyal diskrit hanya menyatakan waktu diskrit dan mengakibatkan variabel independent hanya merupakan himpunan nilai diskrit. Merubah sinyal analog menjadi diskrit menggunakan alat yang disebut analog-digital converter.

Dan merupakan hasil proses sampling dari impuls kontinu dimana terdapat pengambilan sampel dari beberapa titik. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: . Sekuen konstan Fungsi sekuen konstan adalah suatu fungsi yang bernilai 1 pada semua kondisi waktu. Sekuen impuls Sekuen impuls diskrit adalah suatu fingsi sinyal diskrit yang akan muncul sinyal diskrit pada titik n=0.Modul Pemrosesan Sinyal 1. Secara matematis dapat ditulis dabagai berikut: f(nT) = 1 untuk semua nilai n 2.

namun yang membedakan keduanya adalah pada sekuen step merupakan proses sampling dari unit step pada sinyal kontinyu. Sekuen step itu sendiri adalah fungsi sinyal waktu diskrit yang memiliki nilai amplitudo u(t) bernilai 1 untuk n > 0. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: U(n)= 4. Sekuen Retangular Sekuen rectangular adalah suatu fungsi sinyal waktu diskrit yang berbentuk deretan persegi dari titik-titik tiap periodik. Sekuen step Sekuen step sama dengan unit step pada sinyal waktu kontinu. Sehingga pada sekuen step terdapat titik-titik pilihan dari proses sampling. Sekuen rectangular memiliki nilai L (lebar) dan P (panjang) sebesar n.Modul Pemrosesan Sinyal 3. Sehingga secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: .

parameter di ruas kanan dikenal dengan nama: • • • A : Amplitudo ω : Frekuensi θ : Phasa . −∞ < n< ∞ dimana n adalah indeks sample. Secara matematis memiliki persamaan yang sama seperti sinusoidal pada waktu kontinu yaitu: x( n) = Acos(ωn +θ ) . Sehingga tidak pada semua titik itu di jadikan sampel. Sinyal sinus diskrit ini memiliki bentuk yang sama dari sinyal sinusoidal waktu kontinyu namun yang membedakan adalah pada waktu diskrit sinyal terbentuk dari pengambilan titik-titik sampel dari tiap-tiap periode. Hanya pada saat titik-titik tertentu saja.Modul Pemrosesan Sinyal Pada ssekuen rectanguler sinyal muncul mulai pada titik 0 dengan bernilai 0 dilanjutkan bernilai 1 pada periode berikutnya dan diakhiri pada nilai 0 (tidak ada sinyal). Sinyal sinus diskrit Sinus diskrit adalah bentuk sinyal periodik atau sinusoidal yang terbentuk dari proses sampling sinyal sinus pada sinyal waktu kontinyu. 5. Untuk sinyal seperti ini.

MATLAB menggabungkan komputasi. dan pemrograman dalam satu kesatuan yang mudah digunakan di mana masalah dan penyelesaiannya diekspresikan dalam notasi matematik yang sudah dikenal. Pemakaian MATLAB meliputi : . visualisasi.Modul Pemrosesan Sinyal BAB III MENAMPILKAN SINYAL KONTINU DAN DISKRIT PADA MATLAB Setelah kita mengetahui jenis-jenis sinyal selanjutnya kita akan merepresentasikan bentuk sinyal-sinyal tersebut pada MATLAB. MATLAB adalah sebuah bahasa dengan kemampuan tinggi untuk komputasi teknis.

ones(1. plot(n. seperti graphical user interface (GUI).1).2).Modul Pemrosesan Sinyal · Matematika dan komputasi · Pengembangan algoritma · Akuisisi data · Pemodelan. stem(n.1).000001 2] u=[zeros(1. Ada dua cara untuk memunculkan gambaran sinyal menggunakan MATLAB. simulasi dan prototype · Grafik saintifik dan engineering · Perluasan pemakaian.2)] subplot(2. Sinyal Impuls a. Namun kita membentuknya dari nilai frekuensi dan periode yang ada.1.ones(1. proses dimana kita memasukkan suource (input) lalu fungsi dari sinyal tersebut dan di tampilkan menggunakan scoope.zeros(1.1).2).u) b. n=-2:2. Pertama menggunakan simulink.zeros(1.1.2). sesuai soal yang diminta. menggunakan command window pada MATLAB.u) n=[-2 -0.2)] subplot(2. Berikut contoh fungsi dan gambaran dari sinyal kontinu dan diskrit yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya: 1. Ini digunakan apabila kita tidak mengetahui persamaan fungsi dari sinyal tersebut. u=[zeros(1.000001 0 0. Maka hasilnya adalah Ketiklah fungsi ini . Dan cara yang kedua.

n=-3:6.Modul Pemrosesan Sinyal 2.2). y=cos(pi*n/10). plot(n.1. Unit Step Ketik fungsi ini .1). stem(n.y) Ketiklah fungsi ini 3.1. a. Sinyal Sinusoidal a.y) subplot(2. subplot(2. n=-8:8.

ones(1.4).1).Modul Pemrosesan Sinyal u=[zeros(1.00001 0 1 2 3 4 5 6] u=[zeros(1.u) 4. plot(n.1). stem(n.1.u) n=[1 2 3 4 5] u=[ones(1. n=1:5.5)] subplot(2. Konstan Diskrit a.7)] subplot(2.2).3).2).u) Ketiklah fungsi dibawah ini .1.ones(1. stem(n.7)] subplot(2. u=[ones(1.1.5)] subplot(2. plot(n.1.u) n=[-3 -2 -1 -0.

Komponen utama system ini berupa sebuah processor digital yang mampu bekerja apabila inputnya berupa sinyal digital.ones(1.1.zeros(1.1). Untuk sebuah input berupa sinyal analog perlu proses awal yang bernama digitalisasi melalui perangkat yang bernama .5).1)] subplot(2.2).Modul Pemrosesan Sinyal 5.u) n=[-3 -2.1.1). plot(n. n=-3:3.2)] subplot(2.00001 3] u=[zeros(1.00001 -2 -1 0 1 2 2.zeros(1.5).u) Ketiklah fungsi dibawah ini BAB IV PROSES PERUBAHAN SINYAL KONTINU (ANALOG) MENJADI DIGITAL (DISKRIT) Proses pengolahan sinyal secara digital memiliki bentuk sedikit berbeda.2). Rectangular Diskrit a. u=[zeros(1. stem(n.ones(1.

Dalam representasi yang baru inilah sinyal diolah. Frekuensi sampling minimal adalah 2 kali dari frekuensi harmonis dari sinyal. Sampling itu sendiri adalah Proses mengubah representasi sinyal yang tadinya berupa sinyal kontinyu menjadi sinyal diskrit. yaitu Ts. Dalam proses sampling ini diasumsikan kita menggunakan waktu cuplik yang sama dan konstan. Berikut contoh gambar prosas sampling: . Parameter cuplik ini menentukan dari frekuensi harmonis tertinggi dari sinyal yang masih dapat ditangkap oleh proses cuplik ini. Keuntungan dari metoda ini adalah pengolahan menjadi mudah dan dapat memanfaatkan program sebagai pengolahnya. dan tahapan yang selanjutnya itu tergantung pada proses dari pengolahan sinyal itu sendiri. Demikian juga output dari processor digital harus melalui perangkat digital-to-analog conversion (DAC) agar outputnya kembali menjadi bentuk analog. Secara ckematis dapat du gambarkan sebagai berikut: Sinyal Analog Sinyal Digital ADC DAC Sinyal Digital Sinyal Analog Proses pengolahan sinyal waktu kontinu menjadi diskrit sendiri terdiri dari berbagai tahadapan. selain itu ada juga proses kuantisasi. quantizing dan coding. Disini akan dijelaskan mengenai teori sampling-kuantisasi-pengkodean (proses perubahan sinyal waktu kontinu menjadi waktu diskrit). Sacara umum tahapan yang pertama adalah sampling. Sinyal input asli yang tadinya berupa sinyal kontinyu. x(T) akan dicuplik dan diquantise sehingga berubah menjadi sinyal diskrete x(kT). Dapat juga diibaratkan sebagai sebuah saklar on/off yang membuka dan menutup setiap periode tertentu (T). contohnya ada proses coding.Modul Pemrosesan Sinyal analog-to-digital conversion (ADC). dimana sinyal analog harus melalui proses sampling.

sinyal tersebut akan dikonversi menjadi sinyal diskrit atau sinyal digital yang diwakili oleh sejumlah nilai di setiap titik periode dengan jumlah tertentu. Setelah proses sampling dan kuantisasi proses yang selanjutnya adalah pengkodean.Modul Pemrosesan Sinyal Fs > 2 Finmax Setelah disampling. Gambar diatas adalah contoh proses kuantisasi yang menggunakan empat level. Sehingga salah satu solusi untuk memperbaiki kesalahan yang ada dengan cara memperbanyak level kuantisasi sehingga kesalahan yang terdapat pada level 1 pun di minimalisir. Pengkodean adalah suatu proses menetapkan bilangan biner tertentu pada tiap level kuantisasi. Demikian pula pada level 1. Sehingga apabila kita memiliki level kuantisasi sebanyak L maka kita membutuhkan bilangan biner minimal sejumlah L juga. Dapat dilihat pada level 4 terdapat empat buah sinyal yang menempati level yang sama. Maka: eq(n) = xq(n) – x(n) Jarak antara level kuantisasi disebut resolusi. Proses seperti ini disebut dengan proses kuantisasi. Kuantisasi merupakan proses yang tidak dapatdibalik sehingga menyebabkan distorsi sinyal yang tidak dapat diperbaiki. . artinya keempat sinyal tersebut dikelompokkan menjadi level yang sama walaupun tingginya berbeda. Selisih antara nilai kuantisasi dengan sinyal sebenarnya disebut kesalahan kuantisasi (error quantization).

Modul Pemrosesan Sinyal Dari gambar diatas diketahui bahwa level kuantisasi yang awalnya hanya berupa bilangan real kini telah berubah menjadi bilangan biner. 10. terdapat lima konsep dasar operasi sinyal. BAB V DASAR OPERASI SINYAL Pada sinyal kontinu dan sinyal diskrit sering kita lihat bentuk sinyal input dan output itu berbeda. 01. Pada dasar operasi sinyal. 11. 11. 01. yaitu: • Penguatan (Amplifikasi) . 00. 01. 00. 11. 00. 11. Perbedaan bentuk sinyal tersebut pada mata kuliah pemrosesan sinyal ini di pelajari pada sub bab dasar operasi sinyal. 01. 11. Sehingga sinyal tersebut memiliki kode biner 10.

Media transmisi ini biasanya berupa kabel atau kawat. 2. Jika jarak semakin jauh.Modul Pemrosesan Sinyal • • • • Pelemahan (Attenuasi) Pergeseran (Delay) Penjumlahan Perkalian 1. dan penguatan sinyal seringkali dinyataklan dalam besaran deci Bell. Dan energi yang besar ini akan menimbulkan panas yang akan diserap . dll. yang didefinisikan sebagai: amp_dB = 10 log(output/input) alat yang digunakan untuk menguatkan sinyal ini disebut amplifier atau opamp. tape. apabila nilai Rf > Ri maka sinyal tersebut akan menguat. Selain itu melemahnya sinyal juga bisa di akibatkan oleh jarak. Proses penguatannya yaitu sinyal input lalu di proses pada rangkaian op-amp. Pelemahan (Attenuasi) Atenuasi adalah proses melemahnya sinyal yang diakibatkan terdapat gangguan pada media transmisi. Penguatan (Amplifikasi) Penguatan sinyal sering kita jumpai pada peralatan elektronik seperti. radio. Secara matematis penguatan dapat ditulis sebagai berikut: y(t)= amp x(t) y(t) = sinyal output amp = konstanta penguatan sinyal x(t) = sinyal input Besarnya nilai konstanta sinyal amp >1. maka makin jauh pula jarak yang akan di tempuh oleh sinyal tersebut sehingga mengakibatkan energi yang dikeluarkan makin besar.

sehingga muncul satu buah sinyal output. 3. Berikut diagram dari pelemahan sinyal: Dalam bentuk operasi matematik sebagai pendekatannya.Modul Pemrosesan Sinyal oleh media transmisi. dapat menaikkan level tegangan atau menurunkan level tegangannya tergantung komponen yang dijumlahkan. sehingga mengakibatkan sinyal yang masuk menjadi melemah saat keluar. Sehingga secara matematis dapat ditulis : 4. Sehingga pada bagian penerima akan mendapatkan sinyal . Sinyal yang dikirimkan oleh pemancar setelah melewati medium tertentu misalnya udara akan mendapat pengaruh kanal. Proses penjumlahan siyal biasa terjadi pada proses transimi melalui suatu media. Selain itu penyebab dari melemahnya sinyal adalah frekuensi yang semakin tinggi dan amplitudo yang semakin kecil sehingga menyebabkan sinyal yang keluarpun semakin melemah. Penjumlahan Pada penjumlahan sinyal terdapat dua bentuk sinyal input yang lalu dijumlahkan menjadi satu. Pergeseran (Delay) Pergeseran sinyal adalah sinyal input u(t) yang digeser sejauh n. yang merupakan konstanta pelemahan yang terjadi. peristiwa ini dapat diberikan sebagai berikut: y(t)= att x(t) Dalam hal ini nilai att < 1.

Munculnya noise ini pun bisa diperbaiki menggunakan prinsip dasar operasi penjumlahan sinyal. Aplikasi dari penjumlahan sinyal bisa kita jumpai pada kompensator. . 5. Aplikasi dari perkalian bisa kita jumpai pada televisi. Caranya yaitu dengan menjumlahkan sinyal asli yang terdistorsi dengan sinyal kebalikan dari sinyal distorsi sehingga sinyal tersebut kembali normal. Gambar dan RF amp suara.Modul Pemrosesan Sinyal sebagai hasil jumlahan sinyal asli dari pemancar dengan sinyal yang terdapat pada kanal tersebut. Secara umum caranya sama dengan cara menampilkan sinyal menggunakan MATLAB yang telah dijelaskan pada bab III. Pada televisi ini terdapat dua buah inout sinyal yang berasal dari proses video dan proses audio. Namun yang membedakan adalah bentuk sinyal yang keluar. Lalu kedua buah sinyal ini di mixing dengan osilator sehingga menghasilkan RF amp.lalu dijumlahkan sehingga muncullah gambar yang bergabung dengan suara menjadi satu pada satu tempat. Perkalian Proses perkalian sinyal hampir sama dengan penjumlahan. Secara matematis dapat diberikan sebagai berikut: y(t) = x1(t) + x2(t) Pada sebuah alat elektronik biasanya muncul noise (gangguan pada komponen alat elektronika) sehingga menyebabkan sinyal itu terganggu. BAB VI MENAMPILKAN OPERASI DASAR SINYAL PADA MATLAB Pada bab ini akan dijelaskan cara menampilkan sinyal dari proses dasar sinyal yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. yaitu dua buah sinyal input yang lalu dikalikan (mixer) supaya menghasilkan satu bentuk sinyal output.

kita di ajarkan cara untuk membuat sinyal dalam bentuk kontinu dan diskrit. t1=t/T.y2) Dari gambar diatas diketahui sinyal asli yang berwarna biru melemah sebesar 0. y1=sin(2*pi*f*t1).Modul Pemrosesan Sinyal Jika pada BAB III. Namun pada BAB VI ini. t=0:100. y2=a*sin(2*pi*f*t1). . T=200. t1=t/T. t=0:100.2 sehingga sinyal output yang muncul yaitu yang berwarna hijau. Penguatan M – File MATLAB f=10. a=1/5. plot(t1. kita di ajarkan untuk mengolah sinyal kontinu atau diskrit tersebut sesuai dengan proses dasar sinyal yang telah dijelaskan sebelumnya.t1. a=5. T=200. Berikut contoh hasil olahan sinyal sesuai dengan proses yang telah ditentukan: 1. y1=sin(2*pi*f*t1). Pelemahan M – File MATLAB: f=10.y1. 2.

Modul Pemrosesan Sinyal y2=a*sin(2*pi*f*t1).t1. plot(t1. T=200.1.1) . t1=t/T. subplot(3.y2) dari gambar diatas diketahui sinyal asli yang berwarna biru yang pada awalnya memiliki tinggi gelombang sebesar 1.y1. Penjumlahan M – File MATLAB: f1=10. y1=sin(2*pi*f1*t1). 3. f2=5. t=0:100. kini mengalami penguatan sampai 5x sehingga memiliki tinggi gelombang sebesar 5.

t1=t/T.1.y2) y3=y1+y2. subplot(3.y1) y2=sin(2*pi*f2*t1).1) plot(t1. subplot(3. Perkalian M – File MATLAB f1=5. subplot(3. 4.5*pi. T=100. pha=1. t=0:100. Lalu kedua buah sinyal input tersebut dijumlahkan sehingga muncul satu buah bentuk gelombang sinyal output. f2=2.1.1.1.y3) Dari gambar diatas terlihat bahwa terdapat dua buah sinyal input yang memiliki nilai frekuensi berbeda sehingga panjang gelombang dari kedua sinyal input itu pun tampak berbeda.2) .y1) y2=sin(2*pi*f2*t1+pha).Modul Pemrosesan Sinyal plot(t1. subplot(3.2) plot(t1.3) plot(t1. y1=sin(2*pi*f1*t1).

Lalu kedua buah sinyal input tersebut dikalikan sehingga muncul satu buah bentuk gelombang sinyal output.y2) y3=y1. .1.*y2.3) plot(t1. subplot(3.Modul Pemrosesan Sinyal plot(t1.y3) Dari gambar diatas terlihat bahwa terdapat dua buah sinyal input yang memiliki nilai frekuensi berbeda sehingga panjang gelombang dari kedua sinyal input itu pun tampak berbeda.