KEBIJAKAN LAND CAPPING SEBAGAI INSTRUMEN PEMBIAYAAN PEMBEBASAN LAHAN UNTUK PEMBANGUNAN JALAN TOL P E N D A H U L U A N ”Proyek pembangunan jalan

tol terkendala oleh pembebasan lahan”, demikian headline yang sering menghiasi berita-berita di media massa. Kendala pembebasan lahan akibat naiknya harga tanah secara ekstrim sesungguhnya bukanlah hal baru, namun sejauh ini, Pemerintah belum juga berhasil menemukan formula yang tepat dalam memecahkan masalah klasik ini. Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak berlangsungnya reformasi bidang jalan pasca lahirnya UU No. 38/2004 tentang jalan, banyak didiskusikan secara terbuka mengenai instrumen land capping untuk mengatasi kendala pembebasan lahan dalam realisasi pembangunan jalan tol. Ketidakpastian mengenai pembebasan lahan dan penetapan tarif tol merupakan 2 (dua) faktor utama yang menyebabkan tingginya resiko investasi pembangunan jalan tol. Ketidakpastian dalam pembebasan lahan sendiri mencakup harga tanah, waktu pembebasan, serta status kepemilikan. Untuk itu, kajian ini mencoba melihat secara lebih dekat mengenai konsep land capping dan kendala dalam penerapannya. Selain itu akan dikaji pula beberapa tinjauan teoritik mengenai faktor-faktor yang menentukan harga tanah, serta pilihan-pilihan solusi yang dimiliki Pemerintah untuk mengatasinya. KONSEP LAND CAPPING: KEPASTIAN INVESTASI DAN RISK SHARING Land capping telah banyak digunakan oleh negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, untuk mengatasi persoalan pembebasan lahan sekaligus mengakselerasi penyelesaian proyek-proyek jalan tol. Sementara itu di Indonesia land capping lahir sebagai bagian dari reformasi penyelenggaraan pembangunan jalan tol pasca UU No. 38/2004, dimana pembebasan lahan menjadi tanggungjawab Pemerintah. Filosofi dasar dari land capping ini adalah pembagian resiko yang adil antara Pemerintah dan investor (operator) yang bertujuan untuk memberikan kepastian investasi. Dalam hal ini Pemerintah telah memutuskan untuk menerapkan instrumen land capping dimana Pemerintah akan menanggung perubahan harga tanah di atas 110% dari nilai yang disepakati dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT).

Sasaran pemberlakuan land capping adalah untuk realisasi perjanjian proyek-proyek jalan tol lama yang terhenti (halted projects) pada saat krisis ekonomi berlangsung (pasca 1998), sedangkan proyek-proyek baru telah memasukkan harga wajar tanah aktual ke dalam kontrak PPJT sehingga tidak terjadi kenaikan harga tanah yang ekstrim. Selain land capping terdapat instrumen lain yang dapat digunakan oleh Pemerintah secara simultan dengan land capping, seperti: land freezing (pembekuan lahan sepanjang koridor tol pasca penetapan kebijakan pembangunan dilakukan pemerintah); land price (penetapan harga tanah oleh auditor independen); dan land fund (dana talangan bergulir yang dikelola Badan Layanan Umum/BLU untuk membantu kerja investor pada tahap awal investasi/bilamana terjadi kelambatan (delay). Dengan model ’prepaid’ ini, dana talangan harus dikembalikan secara bertahap kepada Pemerintah pada saat jalan tol telah beroperasi). Namun demikian, dalam menerapkan instrumen land capping ini, terdapat beberapa persoalan yang tidak sederhana, antara lain: 1. Besarnya resiko yang harus dibagi antara Pemerintah dan investor. Sampai berapa % Pemerintah akan menanggung kelebihan biaya tanah dalam pembebasan lahan? Besaran prosentase land capping tersebut menunjukkan tingkat accepted risks sehingga tidak terlalu membebani anggaran Pemerintah; 2. Apakah Pemerintah memiliki keleluasaan anggaran untuk memenuhi komitmen yang diberikan pada investor tersebut? Sejauh ini, Departemen Keuangan belum memberikan alokasi yang pasti mengenai besaran anggaran dalam APBN untuk penggunaan instrumen land capping ; 3. Metode ini dapat memicu terjadinya moral hazard yang lebih besar (kolusi antara aparat pemerintah dan spekulan, bahkan mungkin juga melibatkan investor jalan tol) yang akan ’menguji’ sejauh mana daya tahan keuangan Pemerintah. Kolusi ini sangat berbahaya karena mereka pun sangat memahami keinginan besar Pemerintah untuk mewujudkan pembangunan jalan tol (sebagai salah satu program prioritas setidaknya hingga 2009), di samping adanya harapan besar masyarakat terhadap layanan infrastruktur ini. Apabila tidak berhati-hati, Pemerintah hanya akan menjadi obyek dari money game yang akan menguntungkan sekelompok kecil orang saja. PENENTUAN HARGA TANAH: ANTARA TEORI DAN PRAKTEK Pemerintah seringkali menyampaikan hipotesa bahwa praktek profiteering dan spekulasi lahan tidak dapat dibenarkan secara moral dan hukum, karena praktek ini jelas-jelas menghambat pembangunan infrastruktur untuk kepentingan masyarakat luas (kepentingan nasional). Namun dalam era demokrasi dewasa ini, Pemerintah perlu lebih mencermati dengan seksama serta memahami alasan mengapa harga tanah meningkat antara 100% hingga 500% kali dari NJOP saat investor hendak merealisasikan rencana investasi sesuai dengan kontrak PPJT. Sebagai gambaran, komponen biaya pembebasan tanah (land acquisition cost) dalam keseluruhan investasi awal (capital investment) jalan tol berkisar antara 20-25%, namun akibat spekulasi lahan biaya pembebasan tanah bisa membengkak hingga 30-40%. Beberapa teori berupaya menjelaskan penentuan harga tanah oleh pemegang hak atas tanah sebagai berikut: (1) harga tanah didasarkan atas kesuburan tanah (teori Ricardo-Marx); (2) harga tanah didasarkan atas jarak metrik ke pusat kegiatan sosial-ekonomi (teori von Thunen); dan (3)

bahkan. Hak Pemerintah ini disebut dengan ”Empirium”. Lancaster. kepemilikan tanah di tempat tertentu tidak dapat diukur dengan uang (non-estimable). Permintaan tanah yang tinggi (dengan koridor jalan yang cenderung statis. Bagi beberapa suku tertentu di tanah air. dapat ditarik kesimpulan bahwa fenomena tingginya harga penawaran tanah pada dasarnya mengikuti logika pasar yang rasional. dan Rosen) dimana harga tanah ditentukan oleh faktor intrinsik (luas tanah. khususnya pasal 33 ayat (3) yang berbunyi ”Pembangunan prasarana dan sarana bagi kepentingan umum memberikan hak prioritas pertama bagi pemerintah untuk menerima pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah. Pemerintah menerjemahkan hak ’empirium’ tersebut. landscape. status).” Namun demikian. Kenyataan ini menunjukkan sulitnya penerapan aturan hukum serta lemahnya institusi pemerintah dalam merealisasikan kebijakan yang telah ditetapkan. sehingga tidak dapat ditransaksikan. Namun. Namun ketiga teori di atas perlu dilengkapi dengan faktor ’persepsi masyarakat’ terhadap ’tanah’ yang begitu kental. kenyataan menunjukkan bahwa kelengkapan peraturan serta banyaknya unsur pemerintah yang terlibat dalam eksekusi pengadaan tanah (melalui auditor independen memberikan masukan nilai wajar tanah bagi Panitia Pembebasan Tanah. Tanah sejak lama diidentikkan dengan unsur kesejahteraan dimana kepemilikan tanah menunjukkan tingkat kesejahteraan (sign of richness). Persepsi ini mendorong sekelompok orang untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya sejak awal investasi (profiteering) – sementara sebagian lainnya dipicu oleh ulah para spekulan.teori nilai hedonis (Muth. Polisi. Fenomena yang terjadi kemudian mengikuti hukum ekonomi klasik. melalui penerbitan Perpres No. 67/2005 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum atau UU No. kolektif. dimana pengakuan atas hakhak kepemilikan tanah (individu. harus di lokasi tersebut) akan mendongkrak harga tanah yang tinggi pula. maupun adat) diakui secara penuh (sacred) dan tidak dapat diganggu-gugat oleh siapapun (unviolated). KPK. ADAKAH OPSI SOLUSI KE DEPAN BAGI PEMERINTAH ? Rezim pertanahan di Indonesia mengadopsi sistem Eropa daratan. paling tidak untuk kasus di Indonesia. Dalam konteks ini. atas nama keselamatan dan/atau kepentingan umum Pemerintah dapat menggunakan haknya untuk mengambil alih hak atas tanah tersebut melalui mekanisme kompensasi yang layak. faktor persepsi masyarakat terhadap value jalan tol sangat menentukan besarnya kenaikan harga tanah. 26/2007 tentang Penataan Ruang. . dsb). termasuk land capping). dsb) tidaklah cukup untuk mencegah berlangsungnya praktek profiteering dan spekulasi tanah. misalnya. faktor lokasi dan faktor lingkungan sekitarnya. Persepsi lain yang berkembang adalah ’jalan tol’ dibangun oleh investor dengan motif bisnis (profit-oriented) untuk kepentingan kelompok masyarakat kaya yang memiliki kendaraan. faktor lokasi (kedekatan ke pusat kegiatan/fasilitas sosial-ekonomi) dan faktor lingkungan sekitarnya (polusi. yakni keseimbangan antara supply dan demand. bising. etnis. seringkali melebihi harga wajar tanah yang lebih ditentukan oleh faktor intrinsik. termasuk unsur Pemerintah Provinsi dan Kab/Kota) serta terlibat dalam pengawasannya (seperti BPK. Dengan demikian. mengingat ketersediaan lahan yang tidak bertambah (luas konstan) dan kemampuan daya beli investor yang tinggi (didukung dengan regulasi Pemerintah. Hak ini dikenal dengan istilah ”Dominium”.

misalnya instrumen penatagunaan tanah (land-use control) dan instrumen yang menjamin manakala terjadi kegagalan proyek (project default). seperti kejadian pada awal krisis moneter yang lalu. dengan mendorong peran Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota terkait) yang lebih aktif. Pada satu titik dimana negosiasi mengenai harga tanah mengalami kebuntuan.Dengan densitas keterlibatan unsur pemerintah dalam proses pembebasan lahan pun belum cukup meyakinkan KKPPI (termasuk DepKeu di dalamnya) untuk mengeluarkan ‘angka resmi’ mengenai kisaran pagu yang dapat dimanfaatkan untuk land capping ini.apabila disertai dengan proses komunikasi yang baik antar pihak yang berkepentingan. namun harus didampingi oleh instrumen regulasi yang lebih solid dan diimplementasikan secara konsisten. Belum adanya kepastian atas dua hal di atas menjadi dasar keragu-raguan kreditor (konsorsium bank yang belakangan mulai menunjukkan ketertarikannya untuk turut berpartisipasi dalam investasi jalan tol) dalam mengucurkan kreditnya kepada para investor jalan tol. Selain itu. prosedur ekspropriasi ini dimungkinkan. Solusi terbaik untuk mengatasi persoalan pembebasan lahan adalah tercapainya kata mufakat dalam proses negosiasi untuk pelepasan hak atas tanah tersebut dari pemilik kepada investor. Instrumen land capping akan efektif – tidak membebani anggaran pemerintah . Pemerintah perlu meninjau kembali aturan-aturan pembebasan lahan jalan tol sehingga menjadi lebih sederhana namun tegas. Pemerintah perlu mengefektifkan instrumen/prosedur terakhir yang sifatnya final untuk mengkompensasi pengalihan hak atas tanah sesuai dengan pagu harga tertinggi sesuai dengan masukan tim auditor independen. SOLUSI TERBAIK Dengan penjelasan di atas. Pemerintah dapat memahami bahwa masalah land capping hanyalah salah satu solusi dari persoalan pembiayaan pembebasan lahan jalan tol yang sangat kompleks. Skema sederhana pada gambar 1 di bawah ini menunjukkan bagaimana densitas keterlibatan unsur pemerintah dan peraturan yang tersedia dalam pembebasan lahan tetap tidak efektif dalam mencegah praktek profiteering dan spekulasi lahan. Secara hukum. Komunikasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman yang utuh bahwa pembangunan jalan tol adalah program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat dan tidak semata-mata bermotif bisnis. Kajian Strategis. (Pustra. Pemerintah pun belum bulat untuk memberikan jaminan bilamana proyek-proyek tersebut macet di tengah jalan (kondisi default). Instrumen land capping tidak dapat berdiri sendiri. 020309) Gambar 1 Skema Densitas unsur Pemerintah dan regulasi dalam proses pembebasan lahan .

Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum. Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. upah tenaga kerja. 2007) 2. 3. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi. yaitu biaya transportasi. (Hoover dan Giarratani. bahan baku yang dapat dipindahkan (transferred input). pemilihan lokasi oleh suatu unit aktivitas ditentukan oleh beberapa faktor seperti: bahan baku lokal (local input). dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. dan permintaan luar (outside demand). Weber merumuskan indeks material (IM). sedangkan biaya tenaga kerja sebagai . makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. serta hubungannya atau pengaruhnya terhadap lokasi berbagai macam usaha atau kegiatan lain (activity). Tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Secara umum. Von Thunen (1826) mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). Atau dapat juga diartikan sebagai ilmu tentang alokasi secara geografis dari sumber daya yang langka. Weber (1909) menganalisis tentang lokasi kegiatan industri. Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan. permintaan lokal (local demand). Teori lokasi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi. Hasilnya adalah suatu pola penggunaan lahan berupa diagram cincin. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Menurut Von Thunen tingkat sewa lahan adalah paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum.1. Perkembangan dari teori Von Thunen adalah selain harga lahan tinggi di pusat kota dan akan makin menurun apabila makin jauh dari pusat kota.

dan keuntungan aglomerasi sebagai hal yang utama dalam pengambilan keputusan lokasi. Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat besarnya daya tarik dari suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. dan distribusinya di dalam satu wilayah. 5. Ketidaksempurnaan pengetahuan dan ketidakpastian biaya dan pendapatan di masa depan pada tiap lokasi. Tidak ada sebuah teori tunggal yang bisa menetapkan di mana lokasi suatu kegiatan produksi (industri) itu sebaiknya dipilih. berbeda dengan Weber yang melihat persoalan dari sisi penawaran (produksi). Teori Christaller (1933) menjelaskan bagaimana susunan dari besaran kota. Dalam hal ini. 8.M. D. Isard (1956) menekankan pada faktor-faktor jarak. Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Selisih antara average revenue dikurangi average cost adalah tertinggi maka itulah lokasi yang memberikan keuntungan maksimal. Smith memperkenalkan teori lokasi memaksimumkan laba dengan menjelaskan konsep average cost (biaya rata-rata) dan average revenue (penerimaan rata-rata) yang terkait dengan lokasi. Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold. Model ini sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut. Teori Lokasi dari August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar). McGrone (1969) berpendapat bahwa teori lokasi dengan tujuan memaksimumkan keuntungan sulit ditangani dalam keadaan ketidakpastian yang tinggi dan dalam analisis dinamik. jumlah kota. Richardson (1969) mengemukakan bahwa aktivitas ekonomi atau perusahaan cenderung untuk berlokasi pada pusat kegiatan sebagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam keputusan yang diambil guna meminimumkan risiko. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau di dekat pasar. 6. konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Untuk menetapkan lokasi suatu industri (skala besar) secara komprehensif diperlukan gabungan dari berbagai pengetahuan dan disiplin. 10. . Model Christaller ini merupakan suatu sistem geometri. biaya relokasi yang tinggi.salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane). aksesibilitas. Dengan asumsi jumlah produksi adalah sama maka dapat dibuat kurva biaya rata-rata (per unit produksi) yang bervariasi dengan lokasi. Makin jauh dari tempat penjual. 4. di mana angka 3 yang diterapkan secara arbiter memiliki peran yang sangat berarti dan model ini disebut sistem K = 3. Menurut Isard (1956). masalah lokasi merupakan penyeimbangan antara biaya dengan pendapatan yang dihadapkan pada suatu situasi ketidakpastian yang berbeda-beda. dan pertimbangan lain membuat model maksimisasi keuntungan lokasi sulit dioperasikan. 9. baik kenyamanan (amenity) maupun keuntungan aglomerasi merupakan faktor penentu lokasi yang penting. preferensi personal. yang menjadi daya tarik lokasi karena aglomerasi bagaimanapun juga menghasilkan konsentrasi industri dan aktivitas lainnya. 7. Model ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang optimal.

kebersamaan.Berbagai faktor yang ikut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi. 3. METODE 1. Telaah Kasus 2. Sumber Buku Ekonomi Regional Karya D." Modal sosial tiba-tiba tampil menjadi kata kunci menanggap tiga agenda pokok konferensi: mengurangi kemiskinan. Jika pun ada pergeseran pandang masalah kemiskinan. modal sosial menunjuk pada nilai dan norma yang dipercayai dan dijalankan oleh sebagian besar anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-hari." tak ubahnya seperti penjabaran di era Adam Smith. Peserta memahami bahwa penguatan modal sosial akan membawa adanya perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat adat. apa fungsinya dan peluang apa yang dapat kita ambil. POKOK BAHASAN D. Di dalam masyarakat kita. 2. Ekonomi lantas cenderung dibaca sebagai "ekonomi-politik. Peserta meyakini bahwa setiap daerah mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk dapat mengembangkan modal sosial di dalam masyarakatnya.ikatan/jaringan sosial yang ada dalam masyarakat. Modal sosial didefinisikan sebagai institusi sosial yang melibatkan jaringan (networks). Diskusi kelompok kecil 3. dan norma yang mendorong produktivitas komunitas. B. Priyarsono PENGUATAN DAN PENGEMBANGAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT ADAT Mefi Hermawanti dan Hesti Rinandari A. dan kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial (koordinasi dan kooperasi) untuk kepentingan bersama. D. baik di negara maju maupun berkembang. Menanggap diskursus/situasi yang berlangsung. Bahkan lebih jauh." Jenis modal inilah yang selama ini luput dari pertimbangan penyelenggara pemerintahan yang umumnya terkesima bahkan terhanyut dalam ritus ideologisasi atas apa yang mereka percayai sebagai "pembangunan. Tulisan di atas mengingatkan kembali bahwa adalah penting untuk mengkaji ulang tentang apa modal sosial. umumnya masih bersikukuh menerapkan kebijakan yang berupaya mengendalikan penuh roda ekonomi masyarakat. jenis kelamin dan lain-lain). dan meningkatkan integrasi sosial. Pasalnya modal sosial memberikan pencerahan tentang makna kepercayaan. jaminan keamanan. menciptakan angkatan kerja yang produktif. Peserta menyadari pentingnya penguatan modal sosial. modal sosial ini menjadi suatu alternatif pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. dan aksesibilitas dari tempat produksi ke wilayah pemasaran yang dituju (terutama aksesibilitas pemasaran ke luar negeri). Namun ternyata hal ini tidak lagi relevan. bisa dikembangkan atau dipilih salah satu sesuai dengan kondisi forum (jumlah peserta. daya serap pasar lokal. variasi pendidikan. . Ide pembangunan ekonomi akhirnya luruh dan muncul ide tentang partisipasi masyarakat dan Modal Sosial yang memberikan tawaran baru terhadap dunia akademis dan praktisi yang terbukti memberi kontribusi yang sangat besar terhadap negara. yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup individu dan keberlangsungan komunitas masyarakat. padat karya.S. Pengantar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pembangunan Sosial yang telah dilaksanakan di Kopenhagen 12 Maret 1995 menyentil kita dengan sebuah kosa kata yang seolah baru: "modal sosial. stabilitas politik suatu negara dan. toleransi dan partisipasi sebagai pilar penting pembangunan masyarakat sekaligus pilar bagi demokrasi dan good governance (tata pemerintahan yang baik) yang sedang marak dipromosikan.1 Apakah Modal Sosial Itu? Sebagai salah satu elemen yang terkandung dalam masyarakat sipil. Diskusi kelompok besar Dari ketiga metode yang ditawarkan diatas. pengangguran dan disintegrasi sosial yang mulai dimengerti sebagai masalah "ekonomi sosial" pemahamannya baru terealisasikan pada tataran kebijakan berciri karikatif. norma-norma (norms). kebijakan daerah (peraturan daerah). fasilitas penunjang. Berikut beberapa definisi tentang modal sosial: w Robert Putnam (1993) mendefinisikan modal sosial sebagai suatu nilai mutual trust (kepercayaan) antara anggota masyarakat dan masyarakat terhadap pemimpinnya. Mengingat sebenarnya masyarakat kita sangatlah komunal dan mereka mempunyai banyak sekali nilai-nilai yang sebenarnya sangat mendukung pengembangan dan penguatan modal sosial itu sendiri. upah buruh. tidak hanya yang memberi desireable outcome (hasil pendapatan yang diharapkan) melainkan juga undesirable outcome (hasil tambahan). Putnam melonggarkan pemaknaan asosiasi horisontal. Hal ini juga mengandung pengertian bahwa diperlukan adanya suatu social networks (“networks of civic engagement”) . antara lain ketersediaan bahan baku. TUJUAN MODUL: 1. para penyelenggara pemerintahan. C.

Bourdieu (1970) juga menegaskan tentang modal sosial sebagai sesuatu yang berhubungan satu dengan yang lain. serta kebebasan sipil dan politik.w Pierre Bourdieu mendefinisikan modal sosial sebagai ―sumber daya aktual dan potensial yang dimiliki oleh seseorang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain: keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif‖. w Sedangkan dari hasil konferensi yang dilakukan oleh Michigan State University. hubungan otoritas. D. Pendapatnya menegaskan tentang modal sosial mengacu pada keuntungan dan kesempatan yang didapatkan seseorang di dalam masyarakat melalui keanggotaannya dalam entitas sosial tertentu (paguyuban. North (1990) dan Olson (1982) menekankan pula lingkungan sosial politik sebagai modal sosial. hukum. Ini memperlihatkan . Di sini aspirasi masyarakat mulai terakomodasi. Sangsi ini bisa bersifat ringan atau berat. Ada keterkaitan dan saling mengisi sebagai sebuah alat analisa penampakan modal sosial di masyarakat. rejim politik. BAGAIMANA SEJARAH DAN BENTUK MODAL SOSIAL? Sejarah Modal Sosial Modal sosial awalnya dipahami sebagai suatu bentuk di mana masyarakat menaruh kepercayaan terhadap komunitas dan individu sebagai bagian didalamnya. Mereka membuat aturan kesepakatan bersama sebagai suatu nilai dalam komunitasnya. Pengalaman Modal Sosial di NTT Ø Adanya kesatuan masyarakat hukum. dimana potensi dan preferensial itu tidak bisa muncul dalam hubungan sosial yang bersifat egois‖. potensi informasi. asosiasi tertentu). w Dari sudut pandang lain. Ada aturan tertentu yang mengatur Misalnya jika sapi masuk tapi pagar lebih rendah maka ada kesepakatan sapi yang masuk tersebut akan dibunuh dan dibagikan kepada seluruh warga. Berbagai pandangan tentang modal sosial itu bukan sesuatu yang bertentangan. Dalam pengertian ini. Modal sosial bisa berwujud sebuah mekanisme yang mampu mengolah potensi menjadi sebuah kekuatan riil guna menunjang pengembangan masyarakat. Amerika Serikat. Ø Di NTT misalnya ada pengaturan. § Dimana masyarakat adat punya hukum adat yang tertulis dan tidak tertulis maupun kesepakatan adat. maupun bentuk-bentuk social capital (modal sosial) berupa institusi lokal maupun kekayaan Sumber Daya Alamnya. seperti pertetanggaan. w Menurut Bardhan (1995). ada daerah pengembalaan dan ada mamar. Jika pandangan Putnam dan Coleman hanya menekankan pada asosiasi horisontal dan vertikal. pertemanan. atau kekeluargaan. § Ini memperlihatkan adanya perintah dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat adat. Berikut akan dipaparkan pengalaman-pengalaman modal sosial di empat daerah penelitian. Ø Sangsi pada warga adat bagi masyarakat adat yang melanggar. § Sangsi pada warga adat bagi masyarakat adat yang melanggar sehingga menimbulkan kepatuhan/social orde. Misalnya.r. sistem peradilan. komunitas dan jaringan lokal teradaptasi sebagai suatu modal pengembangan komunitas dan pemberdayaan masyarakat. dimana masyarakat adat punya hukum adat yang tertulis dan tidak tertulis maupun kesepakatan adat. tentang modal sosial dapat didefinisikan pengertian modal sosial sebagai ―simpati atau rasa kewajiban yang dimiliki seseorang atau kelompok terhadap orang lain atau kelompok lain yang mungkin bisa menghasilkan potensi keuntungan dan tindakan preferensial. North & Olson menambahkan peran struktur dan hubungan institusional yang lebih formal. norma dan sanksi yang efektif. Ø Di Timor adat menguasai konsep Euis Pah sebagai penguasa alam semesta. bentuk-bentuk modal sosial berupa kewajiban dan harapan. kelompok arisan. baik ekonomi. Jika masyarakat adat tidak memenuhi biasanya akan ada sangsi untuk ini. 2. Misalnya ada sinoman di Bali untuk mewartakan berita atau NTT dengan kaki ringan. seperti pemerintah. w James Coleman mendefinisikan modal sosial sebagai ―sesuatu yang memiliki dua ciri. serta dimana pembuatan keputusan dan kebijakan dilakukan. serta organisasi sosial yang bisa digunakan secara tepat dan melahirkan kontrak sosial. yaitu merupakan aspek dari struktur sosial serta memfasilitasi tindakan individu dalam struktur sosial tersebut‖. Pengalaman Modal Sosial di Kalimantan Barat § Adanya adat sebagai kesatuan masyarakat hukum adat. modal sosial dipahami pula sebagai serangkaian norma. menjadi hubungan yang bersifat jangka panjang yang diwarnai oleh perasaan kewajiban terhadap orang lain. jaringan dan organisasi dimana masyarakat mendapat akses pada kekuasaan dan sumberdaya. budaya. Dalam sistem ini ada aturan sendiri yang dilakukan oleh adat dan ada sistem pengambilan keputusan . Dalam pengertian ini modal sosial menekankan pentingnya transformasi dari hubungan sosial yang sesaat dan rapuh. Faktor lingkungan berpengaruh pada peluang bagi norma untuk mengembangkan dan membentuk struktur sosial.

Kultur. hubungan genealogis. Jika masyarakat adat tidak memenuhi biasanya akan ada sangsi untuk ini. nagari harus memenuhi syarat jumlah penduduk dan luas wilayah. Di sini. Budaya ini kemudian hancur seiring dengan diterapkannya UU No. Perlu ditegaskan bahwa ciri penting modal sosial sebagai sebuah kapital. kesamaan kepercayaan politik atau agama. yaitu relasi sosial itu dianggap sinergi atau kompetisi dimana kemenangan seseorang hanya dapat dicap di atas kekalahan orang lain. perda yang dihasilkan pemda di tingkat propinsi. sehingga akhirnya tingkah laku mereka menjadi cocok satu sama lain.3. Mekanisme: Tingkahlaku kerjasama. sebutan baru untuk lembaga adat yang pernah ada dengan mengadopsi konsep negara modern. Jaringan ini bisa dibentuk karena berasal dari daerah yang sama. Adanya Kemandirian pengelolaan keamanan yang dilakukan secara internal daerah. Jadi. Untuk detailnya dikembalikan pada pemerintah kabupaten. Pengalaman Modal Sosial di Sumatera Selatan · Di Sumatera Selatan demokrasi dan modal sosial itu sesungguhnya pernah ada terutama pada masa berlaku sistem marga dengan kepemimpinan pasirah. D. dan lain-lain. Persepsi: Simpati.5 Tahun 1979. · Adanya beberapa institusi baru yang lahir. Kerjasama sendiri adalah upaya penyesuaian dan koordinasi tingkah laku yang diperlukan untuk mengatasi konflik ketika tingkah laku seseorang atau kelompok dianggap menjadi hambatan oleh orang atau kelompok lain. · Adanya kesatuan masyarakat hukum adat. . sinergi Nilai.adalah asal usulnya yang bersifat sosial. Berdasarkan eksplorasi diatas kita bisa menemukan komponen modal sosial dalam tiga level yaitu pada level nilai. atau sekelompok orang yang dihubungkan oleh perasaan simpati dan kewajiban serta oleh norma pertukaran dan civic engagement. Kini sebagian praktik demokrasi dan modal sosial masih ada namun dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan mereka. Akan tetapi yang terpenting adalah bahwa jaringan sosial tersebut diorganisasikan menjadi sebuah institusi yang memberikan perlakuan khusus terhadap mereka yang dibentuk oleh jaringan untuk mendapatkan modal sosial dari jaringan tersebut. kita bisa mendapatkan pengertian modal sosial yang lebih luas yaitu berupa jaringan sosial. institusi. Komponen Modal Sosial Menyimak tentang berbagai pengertian modal sosial yang sudah dikemukakan di atas. gerakan kembali ke adat bukan kembali pada adat yang lama. dan mekanisme. dibandingkan dengan bentuk kapital lainnya . dan kepercayaan Institusi: Ikatan yang terdapat dalam komunitas lokal.dan asosiasi. Pengalaman Modal Sosial di Sumatera Barat · Persoalan gerakan Kembali ke Nagari. Secara ringkas hubungan ketiga level modal sosial tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.adanya perintah dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat adat. jaringan. dalam level mekanismenya modal sosial dapat mengambil bentuk kerjasama.

Dari modal sosial yang eksklusif dalam suatu kelompok menjadi modal sosial yang inklusif yang merupakan esensi penting dalam sebuah masyarakat yang demokratis. Dia bisa bekerja lintas kelompok etnis. Disini masih berlaku adanya sistem kekerabatan dengan sistem klen. Kalimantan sampai dengan Papua) Keanggotaannya lebih luas dan tidak hanya berbasis pada kelompok tertentu. Hal ini berakibat akan adanya social order/keteraturan dalam masyarakat . Namun ada juga sangsi non formal yang akan diberikan masyarakat kepada anggota masyarakatnya berupa pengucilan. Ia bisa muncul karena adanya berbagai macam kelemahan yang ada disekitarnya sehingga mereka memutuskan untuk membangaun suatu kekuatan dari kelemahan yang ada. Rule of law/aturan main merupakan aturan atau kesepakatan bersama dalam masyarakat. Woolcock (2001) Membedakan Tiga Tipe Modal Sosial: 1. Adat-istiadat (custom) merupakan tata kelakuan yang kekal serta memiliki integrasi yang kuat dengan pola-pola perilaku masyarakat. Modal sosial dalam hal ini bisa berfungsi memelihara adanya integrasi sosial sekaligus mengatasi konflik dalam masyarakat. kebanyakan anggota keluarga mempunyai hubungan kekerabatan dengan keluaraga yang lain. yang mempunyai kekuatan untuk mengikat dengan beban sanksi bagi pelanggarnya. Tradisi atau adat-istiadat (custom) yang juga masih tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat desa. resiprositas. Dalam kehidupan sehari-hari.Social Bridging. Yang mungkin masih berada dalam satu etnis. Di banayk daerah Klen masih berlaku. dan jaringan. . Stephen Aldidgre menggambarkannya sebagai ―pelumas sosial‖. Yang pelu diingat bahwa modal sosial ada yang memberikan pengaruh yang baik dan ada yang memberikan pengaruh yang kurang baik. Kultur. Sebagai alat untuk mengatasi konflik yang ada di dalam masyarakat dapat dilihat dari adanya hubungan antara individi atau kelompok yang ada di dalam masyarakat yang bisa menghasilkan trust. Klen merupakan kelompok kerabat tradisional. yaitu pelancar dari roda-roda penghambat jalannya modal sosial dalam sebuah komunitas. maupun kelompok kepentingan. norma-norma itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari. modal sosial juga berfungsi sebagai alat untuk menyelesaikan konflik yang ada di dalam masyarakat. asosiasi. Social Bridging bisa juga dilihat dengan adanya keterlibatan umum sebagai warga negara (civic engagement). Ini menimbulkan ketakutan dari setiap anggota masyarakat yang tidak melaksanakan bagian dari tanggung jawabnya. Pengertian Klen disini sangatlah berbeda maknanya dengan leneage (kelompok kerabat unilateral yang masih bisa ditelususri hubungannya saja. Social Bounding Nilai. tipe modal sosial denga karakteristik adanya ikatan yang kuat (adanya perekat sosial) dalam sustu sistem kemasyarakatan. 2. Misalnya. bentuk aturan ini bisa formal dengan sanksi yang jelas seperti aturan Undang-Undang. rasa berkewajiban. Tradisional karena klen juga meliputi warga atau kerabat yang tidak bisa lagi ditelusuri hubungannya. Wilayah kerjanya lebih luas dari pada social bounding. Persepsi dan Tradisi atau adat-istiadat (custom) Pengertian social bounding adalah. Hubungan kekerabatan ini bisa menyebabkan adanya rasa empati/kebersamaan. Hal ini kembali berkait pada karakteristik sosio-psikologis masyarakat desa yang masih meyakini suatu kepercayaan tertentu secara homogen. Disebut Eksogam karena perkawinan dalam klan tidak dibenarkan. bisa berupa Institusi maupun Mekanisme Social Bridging (jembatan sosial) merupakan suatu ikatan sosial yang timbul sebagai reaksi atas berbagai macam karakteristik kelompokknya. norma pertukaran serta civic engagement yang berfungsi sebagai perekat sosial yang mampu mencegah adanya kekerasan. seperti diungkapkan sebelumnya. Atau suku /stam (kesatuan tertinggi yang mempersatukan kelompok kerabat). Namun demikian perlu dicatat bahwa dalam kehidupan yang positif diperlukan adanya perubahan di dalam masyarakat. Ia juga memberikan kontribusi tersendiri bagi terjadinya integrasi sosial. Unilateral karena garis keturunan diperhitungkan mulai garis patrilineal saja atau matrilineal saja. baik di Sumatra. Misalnya ―Asosasi Masyarakat Adat Indonesa (kelompok ini bisa beranggotakan seluruh masyarakat adat yang ada di Indonesia. unilateral dan eksogam. pengakuan timbal balik nilai kebudayaan yg mereka percaya. Bisa juga menwujudkan rasa simpati. Disintegrasi sosial terjadi karena potensi konflik sosial yang tidak dikelola secara efektif dan optimal. rasa percaya.Dari hasil penelitian Fisipol UGM. sehingga termanifest dengan kekerasa. rasa tidak hormat bahkan dianggap tidak ada dalam suatu lingkungan komunitasnya. Tujuannya adalah mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat agar masyarakat mampu menggali dan memaksimalkan kekuatan yang mereka miliki baik SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) dapat dicapai.

Robert Putnam. dan mekanisme) yang dapat memfasilitasi dan menjadi arena dalam hubungan antar warga dan antar kelompok berasal dari latar belakang berbeda. yaitu upaya penyesuaian dan koordinasi tingkah laku yang diperlukan untuk mengatasi konflik ketika tingkah laku seseorang atau kelompok dianggap menjadi hambatan oleh orang atau kelompok lain. seperti keikutsertaan dalam organisasi paduan suara di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani. institusi. Misalnya dengan adanya lembaga arisan.Ketercapaiannya melalui interaksi sosial sebagai modal utama. Elite politik membutuhkan massa untuk mendapatkan susra dan mendukungnya. Upaya pembentukan masyarakat madani lebih bertumpu pada kesediaan setiap anggotanya berpartisipasi ketimbang pada keberadaan materi. institusi. 3. Misalnya: Hubungan antara elite politik dengan masyrakat umum. Kapasitas modal sosial termanifestasikan dalam ketiga bentuk modal sosial tersebut (nilai. yang sering dikatagorikan sebagai rotating saving and credit associations. agama. Ia dapat digunakan dan dijadikan pendukung sekaligus penghambat dalam ikatan sosial tergantung bagaiman individu dan masyarakat memaknainya Perjalanan seribu mil selalu dimulai dengan langkah pertama. Social Linking (hubungan/jaringan sosial) (Akan dibahas dalam modul tersendiri) Merupakan hubungan sosial yang dikarakteristikkan dengan adanya hubungna di antara beberapa level dari kekuatan sosial maupun status sosial yang ada dalam masyarakat. Robert Putnam menyebutkan kemampuan ini sebagai social capital alias modal sosial. dan mekanisme bersifat lintas kelompok akan membuat masyarakat yang bersangkutan tidak mampu mengembangkan modal sosial untuk membangun integrasi sosial. Pada dasarnya ketiga tipe modal sosial ini dapat bekerja tergantung dari keadaannya. maupun tingkatan sosial ekonomi. Sementara masyrakat berusaha mendapatkan orang yang dipercaya bisa menjadikan penyalur aspirasi dan merek percaya sebagai wakilnya. Namun mereka sama-sama mempunya lkepentingan untuk mengadakan hubungan. sehingga akhirnya tingkah laku mereka menjadi cocok satu sama lain. Interaksi yang terjalin bisa berwujud kerjasama atau sinergi antar kelompok. pakar sosialpolitik dari Universitas Harvard. telah membuktikan bahwa kemampuan orang ramai dalam membentuk masyarakat madani dapat dilihat dari hal yang sederhana. dan peka terhadap aspirasi rakyatnya. Dengan demikian institusi sosial tetap eksis sebagai tempat artikulasi kepentingan bagi masyarakat. dan mempunyai status sosial darai pada masyarakat kebanyakan. (Dalam hal ini elite politik yang dipandang khalayak sebagai public figure/tokoh. Ia dapat bekerja dalam kelemahan maupun kelebihan dalam suatu masyarakat. Merupakan asosiasi yang menyediakan fasilitas menabung secara periodik dan menyediakan fasilitas kredit bagi anggota-anggotanya. Semakin banyak keterlibatan penduduk sebuah kawasan dalam kegiatan berbagai organisasi kemasyarakatannya—seperti paduan suara tadi—semakin tinggi kemampuan untuk membentuk sistem pemerintahan yang bersih. Partisipasi itu tidak harus yang muluk-muluk. . baik dari sudut etnis. efektif. Ketidakmampuan untuk membangun nilai.

toleransi juga bukan berarti diam tidak berpendapat. Kesediaan orang untuk berkorban. kearifan mendengar suara rakyat merupakan salah satu bentuk toleransi dan penghargaan negara terhadap masyarakat. ―Mahluk apakah social capital itu?‖ Berwujud apakah dia sehingga banyak membuat orang terinspirasi oleh pentingnya kehadiran modal sosial sebagai pendukung pemberdayaan masyarakat. Namun ada satu hal yang hampir terlupakan yaitu tentang ―kesediaan mendengar pendapat orang lain‖. Di sana digambarkan. kerjasama dan hubungan sosial dalam masyarakat. Penghargaan terhadap nilai lokal ini memunculkan kebersamaan antar anggota masyarakat yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya. selalu menabung cemburu satu sama lain. Kekuasaan seperti ini haruslah direformasi. memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara serta menyadari bahwa pada dasarnya setiap orang mempunyai kepentingan yang berbeda. Apa yang berkembang di dalam masyarakat sebagai suara rakyat haruslah ditampung. Dalam masyarakat kita hal ini sudah ada. Suatu masyarakat. APA WUJUD NYATA DARI MODAL SOSIAL? Modal sosial terkadang merupakan sesuatu yang sangat tidak riil dan tampaknya sangat susah untuk sekedar dibayangkan. sebelum menginjak ke arah yang lebih runyam ketiadaan kepercayaan. pendukung demokrasi termasuk sebagai salah satu pilar penting dalam pengembangan good governance yang dewasa ini banyak diperbincangkan masyarakat kita. Jaringan Sosial dan Kepemimpinan Sosial Jaringan sosial terbentuk berdasarkan kepentingan atau ketertarikan individu secara prinsip atau pemikiran. dan ini sangat mendukung perkembangan masyarakat ke arah yang lebih demokratis karena sistem sosial seperti ini akan mensuramkan titik-titik korupsi dan manipulasi di kalangan masyarakat adat sendiri. 4. .D. 8. disimak dan dipahami untuk mengkaji ulang kebijakan–kebijakannya. Kejujuran Merupakan salah satu hal pokok dari suatu keterbukaan atau transparansi. budaya tersebut kita akui tidak semua bersifat demokratis. dan tidak menjalankan kedaulatan rakyat. betapa suasana yang tercipta adalah kepercayaan yang tinggi. Kesediaan untuk mendengar Dalam belajar berdemokrasi kita sangat tidak asing dengan upaya seperti menghormati pendapat orang lain. Bentuk ini mempunyai nilai positif karena masyarakat mempunyai keadilan sosial di lingkungannnya. Adat dan nilai budaya lokal Ada banyak adat dan kultur yang masih terpelihara erat dalam lingkungan kita. Hubungan sosial Merupakan suatu bentuk komunikasi bersama lewat hidup berdampingan sebagai interaksi antar individu. 5. Toleransi bukan berati tidak boleh berbeda. banyak sekali nilai dan budaya lokal yang bisa kita junjung tinggi sebagai suatu modal yang menjunjung tinggi kebersamaan. Begitu juga dalam bernegara. Namun toleransi bermakna sebagai penghargaan terhadap orang lain. suka menaruh kecewa kepada unit masyarakat yang lain. hubungan personal atau keagamaan. 3. 4. Kearifan lokal dan pengetahuan lokal Merupakan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat sebagai pendukung nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Francis Fukuyama mengeksplorasi modal sosial itu guna mendeskripsikan betapa masyarakat yang telah memiliki modal sosial. deskripsi Fukuyama relevan untuk dikemukakan. Kekuasaan yang tidak mampu lagi mendengar suara anggotanya adalah kekuasaan yang tidak lagi inspiratif. Mungkin inilah yang oleh Fukuyama diistilahkan dengan zero trust society. 7. Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat kita. ini mengingatkan kita kepada zaman revolusi. Dalam demokrasi yang dominan adalah adu konsep rasional dan gagasan terhadap suatu kemajuan. 1. Sebaliknya. dengan kepercayaan tinggi. 2. Seluruh kepemimpinan sosial muncul dari proses demokrasi. adalah indikasi rendahnya kepercayaan (low-trust society) di masyarakat. 6. toleransi dan lain-lain. Sikap ini juga yang pada akhirnya dijadikan sebagai salah satu prinsip demokrasi. Toleransi Toleransi atau menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu kewajiban moral yang harus dilakukan oleh setiap orang ketika ia berada atau hidup bersama orang lain. sikap saling curiga. Kepercayaan Merupakan hubungan sosial yang dibangun atas dasar rasa percaya dan rasa memiliki bersama. masyarakat bersatu padu demi masyarakat keseluruhan. dijamin sukses menjalankan visi dan misinya (high-trust society). Dalam buku Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity (1985). ada juga budaya-budaya dalam masyarakat yang terkadang sangat feodal bahkan sangat tidak demokratis. Dalam soal ini. Ini diperlukan sebab interaksi antar individu membuka kemungkinan campur tangan dan kepedulian individu terhadap individu yang lain. Sementara itu kepemimpinan sosial terbentuk dari kesamaan visi.

Kemandirian Keikutsertaan masyarakat dalam setiap pengambilan keputusan yang ada dalam masyarakat dan keterlibatan mereka dalam institusi yang ada dilingkungannya sebagai rasa empati dan rasa kebersamaan yang mereka miliki bersama. 6. Self Governing Community. modal sosial menjadi kekuatan bagi masyarakat supaya tidak tergantung dan dapat mengelola kepentingannya sendiri. Membangun ketrampilan berdemokrasi. modal sosial dapat menjadi lem perekat masyarakat yang dimaknai sebagai koherensi internal sosial-budaya dalam masyarakat. Menguatkan jaringan sosial. 3. 7. Partisipasi masyarakat Kesadaran dalam diri seseorang untuk ikut terlibat dalam berbagai hal yang berkaitan dengan diri dan lingkungannya. oleh rakyat dan untuk rakyat. modal sosial dapat meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mencegah atau merespon goncangan. Karena setiap orang adalah rentan terhadap resiko. dari aspek politis. dengan segala kekurangannya modal sosial dapat membangun kesadaran kelompok sehingga orang merasa menjadi bagian dari masyarakatnya 4. Penguatan otonomi. APA TUJUAN PENGUATAN MODAL SOSIAL: 1. 12. 11. modal sosial tidak akan membuat masyarakat kaku dalam menghadapi dinamika. 5. Pengelolaan/Pemerintahan yang diatur dan disepakati oleh komunitas adat sendiri. dengan modal sosial elemen-elemen masyarakat saling membantu dan mengelola resiko. Toleransi. modal sosial juga akan diperkaya oleh dinamika jaman. 1. dan yang lain didasarkan pada organisasi formal ditingkat masyarakat maupun negara. Menemukan identitas asli dari masyarakat adat sendiri. Tanggung jawab sosial Merupakan rasa empati masyarakat terhadap perkembangan lingkungan masyarakat dan berusaha untuk selalu meningkatkan ke arah kemajuan. dengan memanfaatkan nilai-nilai lokal yang ada di dalamnya.6. 8. Modal sosial akan mengisi dan memberi arah dinamika.9. karena dalam proses pembangunan berprinsip dari rakyat. 5. pengambilan keputusan. 2. bahkan menjadikannya semakin lentur. Membentuk solidaritas sosial masyarakat dengan pilar kesukarelaan. dan pelaksanaan. Dalam konteks yang demikian egaliter. Penguatan dalam hal kerjasama. MENGAPA MODAL SOSIAL ITU PENTING? Fungsi dan Peran Modal Sosial Dari uraian di atas dapat disebutkan beberapa fungsi dan peran modal sosial sebagai berikut. maka diharapkan tidak ada kelompok yang mendominasi. Menerima pluralisme. baik dalam perencanaan. 10. modal sosial bermanfaat untuk membangun dan mengembangkan budaya demokratis. yang didasarkan pada hubungan sosial informal. D. . D. modal sosial membantu masyarakat mampu mengelola resiko sosial. Kebersamaan dan Kesetiaan Perasaan ikut memiliki dan perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas.

APA IMPLIKASI MODAL SOSIAL TERHADAP KEBIJAKAN? Modal sosial secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi dan saling mendukung antara masyarakat dengan pengambil kebijakan ada tiga level: 1. Sebagai bagian dari mekanisme manajemen konflik. Hal ini bisa berdampak positif dan bisa negatif. 7. modal sosial adalah kemampuan warga untuk mengatasi masalah publik dalam iklim demokratis. Palangkaraya post 21 Des 2002 . Putnam prihatin atas kecenderungan runtuhnya jalinan sosial masyarakat Amerika. 9. Sebagai Pilar demokrasi. Mencegah disintegrasi sosial yang mungkin lahir karena potensi konflik sosial tidak dikelola secara optimal sehingga meletus menjadi konflik kekerasan.8. 8. 12. 6. Memulihkan masyarakat akibat konflik. Menyelesaikan konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat. yaitu guna menciptakan dan memfasilitasi proses rekonsiliasi dalam masyarakat pasca konflik. 5. Adanya televisi memberikan kontribusi bagi terciptanya 'couch potato syndrome". norma pertukaran. 10. Kebiasaan orang Amerika 'nongkrong' di depan layar televisi berjam-jam sebagai cerminan hidup yang sangat individualistik. Modal sosial yang berasal dari hubungan antar individu dan kelompok bisa menghasilkan trust. Penyeimbang hubungan sosial dalam masyarakat . Individu · Pada tingkat ini modal sosial memberikan dukungan sebagai: · Alat pendekatan antara pengambil kebijakan dengan masyarakat · Aspirasi masyarakat · Dukungan dan pendampingan 2. Membangun partisipasi masyarakat . Menurut Putnam (1993). Komunitas · Promosi pengembangan institusi lokal yang ada di daerah · Jaringan kerjasama antar komunitas · Pengembangan informasi bersama komunitas 3. PROBLEM PENGEMBANGAN MODAL SOSIAL Fenomena kontemporer masyarakat adat 1. Banyaknya pendatang (Masyarakat yang tidak lagi homogen) Semakin banyaknya pendatang dalam suatu masyarakat. D. dll. Agar masyarakat mempunyai bargaining position (posisi tawar) dengan pemerintah. 11. Membangkitkan keswadayaan dan keswasembadaan ekonomi. 3. 4. Ini bertentangan dengan apa yang dikemukakan oleh Schaft dan Brown (2002) mengatakan bahwa modal sosial adalah norma dan jaringan yang melancarkan interaksi dan transaksi sosial sehingga segala urusan bersama masyarakat dapat diselenggarakan dengan mudah. engagement sehingga dapat berfungsi menjadi perekat sosial yang mampu mencegah konflik kekerasan. Nasional · Wujud pengembangan kebijakan yang partisipastif · Pengembangan jaringan pelayanan masyarakat. serta civic 13. D.7. maka satu hal yang tidak mungkin dihindarkan adalah adanya segegrasi sosial di dalam masyarakat sendiri.2. Memelihara dan membangun integrasi sosial dalam masyarakat yang rawan konflik.

Misalnya dalam beberapa kasus. adanya acara kekeluargaan arisan. membuat penilaian yang cenderung under estimate (penilaian negativ) terhadap desa. Prinsip yang bagus untuk membangun modal sosial namun salah kaprah. Dengan modal sosial yang kuat. Karena kenyataan yang ada tidak seperti yang mereka bayangkan. mengungkapkan bahwa ternyata teori modernisasi telah gagal menjalankan tugasnya sebagai akar pemikiran sosial dalam memahami realitas politik masyarakat pedesaan. Kebijakan pemerintah yang tidak akomodatif terhadap Masyarakat adat. Karena sikap toleran tersebut. pelanggaran itu terus berlangsung sehingga tercipta suatu kerja sama korupsi antarinstansi dan . Padahal sebagai bagian dari masyarakat secara keseluruhan masyarakat juga berkait dengan permasalahan politik. mereka tak mengeluarkan sepeser pun untuk berusaha.2. Bates. Ungkapan yang dimunculkan pada tahun 1960-an ini telah membuat mereka tersingkir dari perdebatan analisis tentang pembangunan politik di negara agraris. Seringkali pembicaran tentang desa diidentikkan dengan ketertinggalan. SDM/SDA Masyarakat adat yang masih lemah Fenomena ini sering membuat masyarakat adat teralienasi di dalam lingkungannya sendiri. Robert H. Misalnya yang sering kita jumpai di dalam masyarakat. Siapa bilang orang desa tidak paham tentang demokrasi? Siapa bilang orang desa tidak mengerti tentang good governance? Sekalipun semuanya dilakukan tidak secara instan yang jelas mereka siap dengan perubahan itu. Adanya asumsi konvensional yang mengandaikan masyarakat desa berbeda dengan masyarakat kota. salah satu penganut pemikiran ortodoks. Mereka terpinggirkan oleh pendatang yang mampu mengolah resources/sumber daya alam di sekitar mereka dengan SDM yang kompeten. 3. 'Anak babe' memperoleh secara mudah tiga faktor Paldam tentang modal sosial karena status mereka. Benih praktik mafia tumbuh dari prinsip seperti 'kita harus berbaik sangka' atau 'jangan makan tulang kawan'. Desa mampu menarik perhatian banyak intelektual untuk melakukan pengamatan bahkan intervensi atas berbagai dinamika yang terjadi. tetapi juga perjalanan politik mereka. Perbincangan tentang dinamika desa mencuat dan memunculkan perdebatan antar penganut berbagai aliran intelektualitas. bukan saja dalam pemikiran sosial ekonomi.Desa sebagai arena pertarungan berbagai kepentingan (politik. Modal sosial negatif tumbuh subur karena kita asyik dengan teori pertumbuhan ekonomi. Indikasi nyata dari gejala ini adalah naiknya peringkat kebusukan praktik korupsi. 4. Mereka mampu mengalirkan revolusi dan kekuatan besar dalam masyarakat pedesaan serta menentukan arah perubahan dalam masyarakat. dan mau menerima pembaruan. Menurut Walter Isard (1997). Dalam perkembangannya masyarakat desa dan petani bukanlah masyarakat yang pasif. Contohnya adalah dominasi praktik kolusi-nepotisme dan berbagai bentuk praktik mafia. Lancarnya transaksi sosial berarti penghematan besar dalam transaksi ekonomi. kebijakan ekonomi tidak akan efektif tanpa memasukkan faktor sosial-budaya. sekaligus sebagai obyek sejarah. Banyak yang tahu persis kapan seseorang mulai memanipulasi jabatan. Akar praktik kolusi-nepotisme adalah kuatnya tradisi 'anak babe' (anak penguasa) yang selalu mendapat kemudahan berusaha karena jaringan kekuasaan yang dibangun oleh orang tua mereka. ekonomi) Desa seringkali hanya dimaknai sebagai sebuah entitas sosial. Desa cenderung dianggap sebagai kawasan tertinggal. Hal ini membuat masyarakat tidak mempunyai bargaining position dan melemahkan kearifan lokal mereka sendiri. status hutan adat yang tidak lagi dikelola oleh adat sangat memojokkan masyarakat adat dan seringkali menimbulkan adanya disobedience (pembangkangan/perlawanan) di kalangan masyarakat adat sendiri oleh karena ketidakberdayaan mereka menghadapi kebijakan yang sangat top down dari pemerintah. Modal sosial yang salah kaprah (berkembang dalam sisi gelapnya) Modal sosial di Indonesia justru berkembang dalam sisi gelapnya.

Namun. arisan yang berubah karena pola hidup konsumtif dan kesemuan gotong royong akibat tekanan hubungan vertikal. peran dominan birokrat agak tergeser oleh para wakil rakyat. BAGAIMANA MENGUATKAN MODAL SOSIAL MASYARAKAT ? Kontektualisasi Modal Sosial Seperti yang telah diungkapkan di depan bahwa dalam realitas modal sosial merupakan spirit atau kekuatan terwujudnya demokrasi itu sendiri. Dalam contoh tersebut. Dalam arisan. perlu pengamatan yang jeli untuk lebih memperbaiki modal sosial yang salah kaprah. Begitu halnya gotong royong kebersihan kampung. Tujuannya adalah untuk membuka partisipasi dan keiikutsertaan masyarakat secara langsung dalam pembagunan. kebersamaan. Penggalian kembali potensi dan sumber daya yang ada di desa. Padahal. Namun. Empat tahun sejak masa pemilu pertama yang disebut-sebut sebagai pemilu yang demokratis. dimana kelompok sukarelawan. Pada masa lalu. . Hal ini menunjukkan betapa kuatnya modal sosial negatif tersebut sehingga mampu menjalarkan pengetahuan korupsi dalam waktu singkat. Upaya membangun modal sosial ini dapat dimulai dari masyarakat sipil. cara korupsi sudah sangat jelas terlihat semua orang sehingga yang belum kebagian hanya menunggu waktu. kegiatan ini dilakukan spontan oleh masyarakat. terjadi perubahan karena dorongan kompetisi dalam perlombaan kebersihan nasional atau gotong royong yang dipaksakan kepala desa dalam rangka menyambut kunjungan pejabat tinggi. . Hasil akhirnya adalah kebersihan untuk perlombaan. Hal penting yang harus digaris bawahi disini sebenarnya mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebab. keterampilan korupsi telah merata. dll). Meletakkan masyarakat sebagai motor pembangunan dengan modal yang mereka miliki (kepercayaan. modal sosial positif justru membuka peluang pembangunan ekonomi (Kinsley. 9. 1997). § Kedua. D. kepemimpinan. jaringan sosial. terlihat bahwa faktor eksternal lebih kuat dalam mendorong modal sosial. Konflik internal Masyarakat Adat Hal ini biasanya berkaitan dengan perebutan resources yang terjadi antara masyarakat adat sendiri. dan gotong-royong. Praktik korupsi ala mafia ini begitu parah sehingga penggantian seluruh pegawai negeri dan wakil rakyat sekaligus tidak akan mengatasi masalah ini. Untuk itu puing-puing retak ini sudah selayaknya kita kaji. dan bangun kembali. Langkah untuk mewujudkan optimisme di atas setidaknya ada 4 hal yang dapat kita lakukan. bahkan muncul 'arisan tender". digunakan sebagai kosmetik kebijaksanaan pembangunan.lembaga. gerakan dan warganegara mencoba mengartikulasikan nilai-nilai solidaritas serta berani memperjuangkan kepentingannya. 5. kerap dihasilkan kesepakatan bersama untuk melakukan sesuatu. § Pertama. Arisan dan gotong royong telah bergeser dari makna dasarnya. Penggalian ini meliputi 2 hal yaitu SDA dan SDM. bukan kebersihan untuk kesehatan. tradisi arisan ini telah 'melenceng' menjadi sarana pamer kekayaan. Namun terkadang campur tangan pihak luar baik investor maupun pemerintah membuat adat terkadang menjadi retak dan menghancurkan kearifan lokal yang sebenarnya sudah menjadi awal kesepakatan bersama antara mereka. Semangat arisan adalah untuk menjalin hubungan antaranggota sambil menggilir dana yang dapat meringankan beban seorang anggotanya. Karena itu. baik yang belum maksimal maupun potensi yang belum tergali sama sekali. Dalam era reformasi ini. Misalnya.

dan pembenahan untuk merevitalisasi kembali modal sosial dengan dukungan pemerintah. lingkup desa yang tidak begitu luas. memfungsikan komunitas lokal. Tujuannya adalah agar tercipta kembali demokrasi sosial di desa. Dampak negatifnya adalah lemahnya struktur organisasi yang ada didalamnya. Dan yang terpenting posisi memulai di tingkat lokal adalah masyarakatnya yang belum terkontaminasi lebih jauh oleh kepentingan elite. adanya interaksi sosial yang membawa mekanisme ekonomi pembangunan dalam masyarakat. § Kelima. Memberi penjelasan singkat tentang tujuan pokok bahasan ini dan proses yang akan dilalui. melibatkan masyarakat secara langsung dalam perencanaan. sebutkan! (dengan round robin) . Untuk direnungkan: Siapa sajakah dari cerita tersebut yang saudara anggap sebagai ―Penghambat Modal Sosial desa‖ dan siapa yang saudara anggap sebagai orang yang memelopori modal sosial di desa yang hampir punah tersebut. Sehingga permasalahannya adalah bagaimana membuat masyarakat menjadi berdaya? § Keenam. Diharapkan nantinya kesepakatan-kesepakatan yang disepakati oleh institusi lokal dapat langsung ditampung melalui lembaga-lembaga sosial ataupun BPD dan dikomunikasikan dengan pembuat kebijakan. membangun jaringan bersama antara masyarakat sebagai tempat berdiskusi. lumbung paceklik desa. Dengan kembalinya hubungan sosial yang ada di desa akan membawa dampak vertikal bagi anggotanya. Ini sangat diperlukan karena masyarakat sebagai sumber informasi sekaligus pelaksana pembangunan itu sendiri. Jika ditinjau secara administratif. Fasilitator/Pemandu membentuk kelompok-kelompok kecil untuk mendiskusikan pandangan mereka terhadap kasus tersebut.§ Ketiga. memudahkan untuk mengontrol jaringan yang dibangun pada level dibawahnya. E. pelaksanaan dan evaluasi terhadap pembanguan yang ada di sekitar mereka. dan menuliskan di kertas pertanyaan yang telah diajukan. · Kedua. desa sebagai basis intermediary (penghubung antara masyarakat dengan pemerintah) untuk mengembangkan potensi lokal serta mempengaruhi pembuat kebijakan diatasnya. Untuk terwujudnya idealisme di atas tentunya sangat diperlukan kearifan dari pemerintah. menghidupkan dan membangun kembali hubungan sosial di desa. Kearifan ini dapat terwujud dengan keberpihakan pemerintah terhadap kepentingan rakyat. selapanan dan lain-lain. Antisipasi ke depan. RT. desa sebagai asosiasi institusi lokal yang paling banyak ditemukan. seperti RW. BPD ataupun lembaga lain yang berfungsi sebagai tempat artikulasi kepentingan massa. § Keempat. tukar pengalaman dan pengetahuan. Walaupun sebenarnya pembangunan ekonomi hanya salah satu bagian dari modal sosial. Fasilitator membagi bahan bacaan yang dibacakan kepada peserta dan meminta mereka mempelajarinya. yaitu hubungan yang bersifat hierarki dan kekuasaan yang mutlak bagi anggota. 2. Fasilitator membacakan bahan : ―Cerita dari lereng gunung‖ dengan intonasi yang menawan sehingga menarik di dengar oleh peserta . · Keempat. kelompok Shalawatan. Apakah: · Kepela desa yang mewajibkan masyarakatnya melakukan gotong-royong. · Pertama. 3. Fasilitator memberiakn kesempatan untuk merenungkan lembar bacaan yang telah diedarkan kepada peserta. Karena itu tidaklah mengherankan jika modal sosial seringkali diidentikkan dengan pembangunan ekonomi. seperti arisan. atau dengan kata lain untuk mengatasi masalah ketidakberdayaan masyarakat ditawarkan pendekatan melalui struktur atau lembaga mediasi. karena institusi lokal semacam ini lebih dikenal dan lebih memasyarakat serta dapat diterima oleh semua lapisan.PROSES FASILITASI: 1. Dengan demikian identitas personal desa dapat kembali teraktualisasi dan dapat dicapai kesepakatan yang berimbang dengan membawa kepentingan masyarakat. nasional maupun internasional. Diba. dan dusun. pembangunan wacana demokrasi melalui revitalisasi modal sosial yang dimulai di tingkat desa karena beberapa alasan. · Ketiga. Ini dapat dilakukan pada tingkat lokal. Sedangkan jika harus memulai di tingkat elite akan membutuhkan waktu yang panjang untuk membuat masyarakat kembali percaya. bahkan mengenakan denda berupa ‗uang‘ di dalam kondisi masyarakat yang masih miskin? · Perangkat desa yang ikut mendukung kebijakan sang kepala desa? · Masyarakat yang melakukan penolakan terhadap kebijakan tersebut dan melakukan protes · Peniliti yang ikut campur dalam urusan intern desa Ada beberapa hikmah yang di dapat dari cerita di atas. 4. Pendekatan ini tampaknya lebih memadai ketimbang harus memulainya di tingkat elite. Michael Colleman menyepakati hal ini sebagai salah satu dampak positif dari pemberdayaan masyarakat.

mana yang akan dikembangkan dan mana yang tidak. warga di . Mempersilahkan salah seorang wakil anggota kelompok untuk membacakan hasil diskusi kelompoknya dengan memberikan waktu yang cukup agar semua wakil kelompoknya semua selesai mempresentasikannya baru dibahas bersama. 7. § Institusi yang egaliter dan yang totaliter. Modal sosial dipilah ke dalam: § Nilai-nilai yang bagus dan yang tidak. Setiap harinya disudut-sudut jalan yang belum beraspal secara bergantian berkumpul sekelompok warga yang giat bekerja mengangkut dan memecah bebatuan dan kemudian menatanya di atas jalan-jalan tanah tersebut. Perubahan apa yang ingin dicapai dari Modal Sosial? · Adanya partisipasi · Self Governing Community · Menerima pluralisme · Mandiri secara ekonomi · Toleransi Fasilitator juga harus menjelaskan kelemahan modal sosial. Meskipun demikian perlu diingat bahwa modal sosial juga bisa menyebabkan pendorong atau penghambat demokrasi. sehingga yang penting diajukan adalah bagaimana cara kita bisa merubah karakter atau mentalitas dari problem mendasi suatu potensi. Fasilitator menanyakan ―Bagaimana tanggung jawab negara untuk ikut merealisasikan Penguatan Modal Sosial dalam kasus tersebut?‖ · 30% nalar dan 70 % modul (Seni mempenggaruhi masyarakat melalui paparan ilustrasi). 6.5.dll?)—yang penting bagaimana merekayasa ilustrasinya. Fasilitator dan peserta bersama-sama menyimpulkan hasil diskusi pada sesi ini Cerita Desa ‘Entah Berantah’ Dari Lereng Gunung Tersebutlah sebuah desa entah berantah yang ada di wilayah terpencil di lereng gunung yang jauh dari perkotaan sebuah desa yang cukup terkenal. Bahkan terkadang terlihat anak-anak turut bekerja diantara mereka. Masyarakat yang kuat itu seperti apa? 9. Mereka bekerja dari pagi hingga sore hari. misalnya struktur adat yang terkadang sangat feodal. Keterkenalan desa itu bukan karena kemakmuran penduduknya. Bisa dipilih beberapa modal sosial dari berbagai daaerah yang potensial apa saja? 10. Perlu di buat riview atau penjelasan singkat tentang: · Apa itu modal sosial? · Bagaimana Modal sosial yang kuat ? · Pada level apa modal sosial dapat bekerja? · Apa fungsinya bagi masyarakat? · Bagaimana cara melihat nodal sosial yang ada dalam masyrakat kita (fasilitator mencoba menyimpulkan dari cerita yang sedang dibahas atau dengan melihat kondisi masyarakat setempat. 11. Di era reformasi dimana dikebanyakan tempat lain masyarakat sudah mulai kritis dengan kepemimpinan seorang kepala desa. aspek apa yang bisa dijadikan contoh) 8. seringkali diantaranya adalah orang-orang yang sudah lanjut usia. Di desa tersebut berkuasa seorang kepala desa yang sangat dihormati dan disegani oleh penduduknya. Kelompok warga tersebut tidak saja terdiri dari laki-laki namun juga perempuan. namun keterkenalannya dikarenakan desa yang cukup terpencil dengan kesejahteraan penduduk di bawah garis rata-rata tersebut mempunyai jalanjalan desa yang sebagian besar telah rata beraspal. · Metode (Bagaimana mengahadapi masyarakat yang nilai toleransinya rendah/Mutual trustnya rendah. § Mekanisme:Hubungan warga dengan adat dalam suatu institusi.

Sudjito. Richard. mendefinisikan modal sosial sebagai ―sesuatu yang memiliki dua ciri. Wilk. Klen Mitos dan Kekuasaan. Buletin STPMD ―APMD‖. The World Bank. Hermawanti. IRE Yogyakarta. Kepala desa pun memberikan ijin dengan harapan bahwa nantinya keberhasilannya membangun desa akan semakin dikenal oleh orang luar daerah. Laporan Need Assesment Pemberdayaan Masyarakat Adat di Sumatera Selatan. Warga desa yang miskin tersebut tidak ada yang berani melanggar kewajiban itu karena kepala desa akan memberikan sanksi berupa denda sejumlah uang kepada keluarga yang melanggar perintah tersebut dan mereka pun tidak mempunyai uang untuk membayar denda apabila perintah itu dilanggar. Grafity Pers Jakarta. 4.desa tersebut masih tetap saja menuruti semua titah sang kepala desa tanpa berani banyak bertanya. Itulah mengapa sering terlihat orang-orang yang sudah lanjut usia dan juga anak-anak kecil dalam rombongan gotong royong itu. Hudayana. Colorado: Westview Press. Rombongan tamu tersebut meminta ijin untuk mengadakan penelitian di wilayah itu. Rombongan peneliti yang terdiri dari orang-orang muda itu pun segera menjalankan aktivitasnya. 1996. Mereka bahkan ikut mensosialisasikan program tersebut kepada masyarakat banyak. Bambang.A. Kepala desa yang berkuasa pun mendapat simpati yang cukup besar dari atasannya. Bahkan kebijakannya didukung oleh semua bawahan dan perangkat desa yang lain (entah karena rasa takut atau segan). 1985. 2002. Modal sosial sebagai ―sumber daya aktual dan potensial yang dimiliki oleh seseorang berasal dari jaringan sosial yang terlembagakan serta berlangsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbal balik (atau dengan kata lain: keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbagai bentuk dukungan kolektif‖. Pembangunan fisik yang sangat bagus di desa tersebut ditambah dengan tingkat swadaya masyarakat yang sangat tinggi membuat desa tersebut sering memperoleh hadiah dari pemerintah daerah setempat. Beberapa hari setelah berada dengan sukarela secara bergantian meninggalkan pekerjaan sehari-hari untuk bergotong royong membangun jalan-jalan desa. Struktur Sosial Indonesia Bagian Timur. 2002. 1996. "Making Social Science Work Across Space and Time: A Critical Reflection on Robert Putnam's making Democracy Work" American Political Science Review. 2001. potensi informasi. Penyusunan Konsep Perumusan Pengembangan Kebijakan Pelestarian Nilai-Nilai Kemasyarakatan (Social Capital) Untuk Integrasi Sosial. Arie. Economies and Cultures.3 Tarrow. Dalam pengertian ini. norma dan Pierre Bourdieu James Coleman . IRE Yogyakarta. Pada suatu ketika desa tersebut kedatangan serombongan tamu dari luar daerah. Sidney. (Kisah ini adalah kisah nyata di suatu desa di Jawa Tengah) Catatan Pustaka: Grootaert. norma-norma (norms).E van Wouden. F. dan kepercayaan sosial (social trust) yang mendorong pada sebuah kolaborasi sosial (koordinasi dan kooperasi) untuk kepentingan bersama. Social Capital Initiative. Dan untuk mempertahankan keharuman namanya kepala desa selalu membelanjakan hadiah dari pemerintah daerah itu dengan wujud aspal ataupun semen dan pasir untuk segera menyelesaikan jalan-jalan yang telah tertata bebatuan menjadi jalan beraspal. Kepala desa tersebut dengan bangga selalu menceritakan keberhasilannya membangun desa tersebut kepada tamu-tamu dari luar desa yang berkunjung. Working Paper no. IRE Yogyakarta. Setiap KK (kepala keluarga) pada setiap jadwalnya bergotong royong harus hadir dan mengerjakan kewajibannya. karena adanya peraturan bahwa apabila kepala keluarganya berhalangan hadir dapat digantikan oleh anggota keluarga yang lain. 90 (2): 380-397. Merajut Modal Sosial Untuk Perdamaian dan Integrasi Sosial. yaitu merupakan aspek dari struktur sosial serta memfasilitasi tindakan individu dalam struktur sosial tersebut‖. Akhirnya dari mulut warga yang ketakutan dan tidak berdaya itupun terkorek informasi bahwa selama ini mereka dikenakan kewajiban oleh kepala desa untuk secara bergantian bergotong royong membangun jalan-jalan di desa mereka. 2002. bentuk-bentuk modal sosial berupa kewajiban dan harapan. Chirstiaan. Volume I. mereka terpaksa menggantikannya dengan anak-anaknya atau anggota keluarga lainnya. agustus 2002. Fisipol UGM. Laporan Need Assesment Pemberdayaan Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur. Hal 5-8 LAMPIRAN DEFINISI MODAL SOSIAL Robert Putnam modal sosial sebagai suatu nilai mutual trust antara anggota masyarakat dan masyarakat terhadap pemimpinnya. 1998. Laporan Need Assesment Pemberdayaan Masyarakat Adat di Kalimantan Barat. No. Fisipol UGM. JENDELA. Modal sosial didefinisikan sebagai institusi sosial yang melibatkan jaringan (networks). Diceritakannya pula bagaimana jiwa gotong royong penduduknya masih begitu tinggi sehingga mereka rela secara bergantian bergotong royong membangun jalan-jalan didesanya. Social Capital: The Missing Link. Sehingga karena merasa tidak akan mampu membayar denda seorang kepala keluarga yang pada gilirannya bergotong royong tidak dapat hadir karena sakit atau sesuatu hal yang lain. 2001. Mevi.

Modal sosial dipahami sebagai serangkaian norma. dan sistem peradilan. Bardhan North dan Olson Copyright ©2003. Amerika Serikat pengertian modal sosial sebagai ―simpati atau rasa kewajiban yang dimiliki seseorang atau kelompok terhadap orang lain atau kelompok lain yang mungkin bisa menghasilkan potensi keuntungan dan tindakan preferensial.sanksi yang efektif. Institute For Research And Empowerment (IRE) . hubungan otoritas. serta dimana pembuatan keputusan dan kebijakan dilakukan. Kaliurang Km. seperti pemerintah. menekankan pula lingkungan sosial politik sebagai modal sosial. rejim politik. 5. North & Olson menambahkan peran struktur dan hubungan institusional yang lebih formal. Hasil konferensi yang dilakukan oleh Michigan State University. jaringan dan organisasi dimana masyarakat mendapat akses pada kekuasaan dan sumberdaya. Faktor lingkungan berpengaruh pada peluang bagi norma untuk mengembangkan dan membentuk struktur sosial.5 Karangwuni Blok B/9A Yogyakarta 55281 Telp/Fax (0274) 581068 .Pemberdayaan Masyarakat Adat Jl. serta organisasi sosial yang bisa digunakan secara tepat dan melahirkan kontrak sosial. dimana potensi dan preferensial itu tidak bisa muncul dalam hubungan sosial yang bersifat egois‖. hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful