P. 1
KEBUDAYAAN KEDIRI

KEBUDAYAAN KEDIRI

|Views: 65|Likes:
Published by Phatoer Rozier

More info:

Published by: Phatoer Rozier on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2012

pdf

text

original

TUGAS ANTROPOLOIGI PENDIDIKAN

BUDAYA KOTA KEDIRI

DOSEN PEMBIMBING : Bpk. Yusuf Sobri

DISUSUN OLEH Nama Jurusan Kelas : Moh. Fatur Rozier : Administrasi Pendidikan :B 100131404718

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN DESEMBER 2011

terampil dan trengginas dalam olah keprajuritasn. Sementara itu di Kerajaan Bantar Angin yang dipimpin oelh Prabu Kelono Sewandono. Sonngolangit mempunyai adik laki-laki yang berparas tampan. Tidak mengherankan kalau kecantikan Songgolangit tersohor di seantero jagad sehingga banyak raja dari luar daerah Kediri yang ingin mempersuntingnya. Kedatangan Pujonggo Anom untuk melamar membuat terkejut Songgolangit. bernama Raden Tubagus Putut. Raden Tubagus Putut berminat mengabdi/Suwito. ia mengetahui bahwa itu adiknya sendiri. asal muasal seni jaranan atau jaran kepang diangkat dari dongeng rakyat tradisional Kediri tepatnya pada Pemerintahan Prabu Amiseno yaitu Kerajaan Ngurawan. Sebelum berangkat ke Kediri Pujonggo Anom memohon petunjuk kepada Sang Dewata agar dirinya tidak diketahui oleh ayahandanya maupun kakaknya. KESENIAN JARANAN Jaranan atau jaran kepang adalah seni tradisional yang diyakini sebagai kesenian asli Kediri. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan Raden Tubagus Putut mohon pamit pada ayahandanya untuk berkelana dan menyamar sebagai masyarakat biasa. Songgolangit menghadap ayahandanya menyampaikan bahwa Pujonggo Anom itu putranya sendiri. Konon sang Prabu berputera seorang putrid yang sangat cantik nan rupawan tiada banding yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata yang diberi nama Dyah Ayu Songgolangit. Berkat kemampuannya dalam olah keprajuritan ia diangkat menjadi patih kerajaan dan diberi gelar Patih Pujonggo Anom. Mendengar . Di kerajaan Ngurawan banyak berdatangan para pelamar diantaranya Prabu Singo Barong dari Lodoyo yang didampingi patihnya Prabu Singokumbang. salah satu kerajaan yang terletak di Kediri sebelah timur Sungai Brantas. Prabu Kelono Sewandono mendengar kecantikan Dyah Ayu Songgo Langit dan ingin meminangnya. karena meskipun Pujonggoanom memakai topeng. Meskipun begitu tak banyak orang Kediri yang mengetahui secara pasti sejarah terciptanya Jaranan Sejarah Jaranan Menurut sejarah. maka diutuslah Patih Pujonggo Anom untuk melamar ke Kediri.

Akhirnya pasukan prajurit penunggang kuda dari Bantar Angin menuju Kerajaan Kediri dengan diiringi tetabuhan bisa menjadi tontonan yang belum pernah dilihat oelh masyarakat Kediri. Pujonggo Anom melaporkan permintaan Songgolangit kepada Prabu Kelono Sewandono. Tarian tersebut diiringi oleh satu unit musik gamelan jawa berupa ketuk. terompet. Pujonggo Anom mengatakan pada Songgolangit bahwa lamarannya itu sebetulnya untuk rajanya yaitu Prabu Kelono Sewandono. kempol. Dewata memberikan bahan berupa bantang bamboo. Dengan bergabungnya Singo Barong dan patihnya Singo Kumbang (celeng) maka genaplah penari jaranan berjumlah enam orang hingga sekarang ini. dan bilamana digelar dapat meramaikan jagad.penuturan itu maka murkalah sang ayah. Akhirnya Songgolangit mengeluarkan suatu Patembaya (sayembara) yang isinya: Dia menginginkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah. kendang dan angklung. lempengan besi dijadikan bahan tetabuhan yang enak didengar. Maka mulailah kesenian itu diberi nama Tari Jaran Kepang yang terdiri dari empat orang sebagai penari yang menggambarkan punggawa kerajaan ang sedang menunggang kuda dalam tugas mengawal raja. Barang siapa dapat membuat tontonan yang belum ada di jagad ini. serta Pengarak manten menuju ke Kediri harus nglandak sahandape bantala (lewat bawah tanah) dengan diiringi tetabuhan. Singo Barong pasrah kepada Kelono Sewandono dan sanggup menjadi pelengkap dalam pertunjukkan jaranan yang digelar di Kerajaan Kediri. Kelono Sewandono unggul dalam peperangan berkat pecut Samandiman. Di lain pihak Prabu Singo Barong merasa kedahuluan oleh Prabu Kelono Sewandono. Karena merasa cukup sulit. Barang siapa yang bisa memenuhi permintaan tersebut maka si pencipta berhak mempersunting Dewi Songgolangit sebagai permaisuri. Dalam waktu singkat Kelono Sewandono beserta Pujonggo Anom sudah bisa memenuhi patembaya Dewi Songgolangit. Kemudian sang Prabu mengutuk Pujonggo Anom bahwa topeng yang dikenakan pada wajahnya tidak bisa dilepas dari wajahnya. lempengan besi serta sebuah cambuk yang disebut Pecut Samandiman. pagelaran jaranan juga membutuhkan sesaji yang harus . maka marahlah Singo Barong dan terjadilah perang. Adapun batang bamboo digunakan untuk membuat kuda kepang yang melambangkan sebuah titian yang tidak berpijak pada tanah. akhirnya keduanya bersemedi memohon petunjuk Sang Dewata Agung. gong suwukan. Selain seperangkat gamelan. karena pada dasarnya mereka sangat menyukai musik gamelan. kenong.

tembakau dan kapur yang dilumatkan menjadi satu lalu diadu dengan tembakau). Ulung-ulung (berupa seekor ayam jantan yang sehat). mengandung filosofi atau pitutur yang tinggi. harus bisa tahan terhadap segala godaan. Di Kediri kesenian Jaranan sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu penting. Pangarih merupakan penari pengiring yang berada di belakang Panglaras atau orang yang medapatkan sampur. Sementara simbol yang mengajak kepada kebaikan di perankan oleh Pangarih. Siapa yang mempunyai cita-cita. . Kesenian Tayub. dalam bahasa Jawa kesenian Tayub mengandung makna ”sapa kang duwe gegayuhan lamun bisa nyingkirake ing panggoda utowo pepalang bakal bisa kasembadan ing sedya”. jaranan diberi makan kembang dan minum air dicampur dengan bekatul bahkan ada yang lazim makan pecahan kaca semprong.disediakan dari sang dalang jaranan yang lazim disebut Gambuh antara lain Dupa (kemenyan yang dicampur dengan minyak wangi tertentu kemudian dibakar). Panglareh. Kembang Boreh (berisi kembang kanthil dan kembang kenongo). suruh. Kinangan (berupa satu unit gambir. Sementara. terlebih untuk acara yang berlangsung pada bulan Suro  KESENIAN TAYUB Tayub merupakan salah satu kesenian yang adiluhung. Pangarih berperan untuk mengajak Panglaras agar tidak terpengaruh godaan dan mengajak kepada kebaikan. Selanjutnya sang gambuh dengan mulut komat-kamit membaca mantera sambil duduk bersila di depan sesaji mencoba untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan meminta agar menyusup ke raga salah satu penari jaranan. Sambil menari. Godaan disini dilambangkan dengan penari utama yang disebut Tledek dan penari pengiring yang berada dibelakang tledek yang disebut. acara peresmian maupun pesta-pesta keluarga. satu buah kelapa dan satu sisir pisang raja). Arti dalam Bahasa Indonesia. Setelah roh yang dikehendaki oleh Sang gambuh itu hadir dan menyusup ke raga salah satu penari maka penari yang telah disusupi raganya oleh roh tersebut bisa menari dibawah sadar hingga berjam-jam lamanya karena mengikuti kehendak roh yang menyusup di dalam raganya. Buceng (berisi ayam panggang jantan dan beberapa jajan pasar. Tledek dan Panglareh akan menggoda Panlaras. Penari Tledek dan Panglaras akan menari berhadap-hadapan.

kesenian Tayub jarang dipentaskan.” katanya. Dengan mabuk. Mondokan dan Ngrampal. Selanjutnya kesenian tayub mengalami perkembangan di daerah Sragen. Cium. Akhirnya Tayub ditetapkan sebagai tari Pasrawungan di masyarakat.  KESENIAN TAYUB Seni Tiban menampilkan aksi penari yang saling mencambuki tubuh mereka sampai berdarah sebagai bentuk pengorbanan dan ritual untuk meminta hujan kepada Yang Maha Kuasa. bertengkar. Sejak saat itulah penilaian terhadap tayub menjadi negatif. Sewaktu pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono ke IV. Sukodono. Pada waktu Jaman Kerajaan Demak. Namun disayangkan. Tayub yang telah terkena pengaruh negatif dari penjajah belanda terus terpelihara hingga pemerintahan dipegang oleh Sunan Pakubuwono III. Di daerah Sragen sendiri. Wonogiri dan Purwodadi. orang kemudian bisa gampang tersinggung. Dengan demikian muncul kesan bahwa penayub itu ”murahan”. Citra kesenian tayub pada waktu itu. beliau tidak berkenan dengan adanya pengaruh negatif tersebut. Seiring berjalannya waktu. Diyakini oleh masyarakat setempat darah yang keluar dari tubuh penari akan jatuh menimpa bumi dan mampu mendatangkan hujan. Gesi. ”Dalam tarian tersebut dimasukkan minuman keras. kesenian ini mulai digali kembali. Dulu. dan sebagainya. Tetapi. . sejak berdirinya kerajaan Pajang dan Mataram.Sejarah Kesenian Tayub Tayub mulai dikenal sejak jaman Kerajaan Singosari. di era sekarang hal semacam itu sudah amat jarang terjadi. Malahan pada waktu itu Tayub dijadikan Tarian Beksan di Keraton yang digelar hanya pada waktu acara-acara khusus. para penari ini biasa memberi sawer dengan cara memasukkannya ke kemben atau kain penutup dada. Kemudian Tayub berkembang ke Kerajaan Kediri dan Mojopait. penjajah Belanda memasukkan unsur negatif yang dikenal dengan 3C. kesenian Tayub hanya dapat dijumpai di daerah pedesaan-pedesan yang jauh dari pusat kota kerajaan. tujuannya agar mengacaukan rasa persatuan. Pada Jaman Kerajaan Demak. diperburuk ulah para penari pria atau penonton. Pertama kali digelar pada waktu Jumenengan Prabu Tunggul Ametung. kesenian Tayub banyak berkembang di Kecamatan Jenar. Ciu dan Colek.

Tiban muncul ketika kerajaan Kediri mengalami bencana kekeringan. Saat itu Raja Kertajaya meminta rakyatnya mau melakukan pengorbanan agar segera dibebaskan dari bencana. Upacara pengorbanan ini dilakukan di bawah terik matahari dengan jalan menyiksa diri dengan menggunakan pecut yang terbuat dari Sodo Aren. Cucuran darah yang keluar dari tubuh rakyat sebagai wujud persembahan inilah yang kemudian dianggap mampu mendatangkan hujan di bumi. .Hingga saat ini upacara minta hujan masih berlangsung karena diyakini mampu menghindarkan rakyat Kediri dari bencana kekeringan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->