FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI

DI INDONESIA PERIODE TAHUN
1985 – 2004



SKRIPSI





Oleh:



Nama : Dadang Firmansyah
Nomor Mahasiswa : 01313207
Program Studi : Ilmu Ekonomi


UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS EKONOMI
YOGYAKARTA
2008




FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI
DI INDONESIA PERIODE TAHUN
1985 – 2004

SKRIPSI


Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna
memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1
Program Studi Ilmu Ekonomi,
pada Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia


Oleh:

Nama : Dadang Firmansyah
Nomor Mahasiswa : 01313207
Program Studi : Ilmu Ekonomi




UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
FAKULTAS EKONOMI
YOGYAKARTA
2008



PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME


“Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah
ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang merupakan
penjiplakan karya orang lain seperti dimaksud dalam buku pedoman penyusunan
skripsi Program Studi Ilmu Ekonomi FE UII. Apabila dikemudian hari terbukti
bahwa pernyataan ini tidak benar maka Saya sanggup menerima hukuman/sanksi
apapun sesuai peraturan yang berlaku.”











Yogyakarta, Februari 2008
Penulis,




Dadang Firmansyah




PENGESAHAN

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Investasi
Di Indonesia Priode Tahun 1985 – 2004




Nama : Dadang Firmansyah
Nomor Mahasiswa : 01.313.207
Program Studi : Ilmu Ekonomi



Yogyakarta, 25 Februari 2008
Telah disetujui dan disahkan oleh
Dosen Pembimbing,


Diana Wijayanti, Dra.,M.Si





HALAMAN MOTTO




Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih,
namun kegagalan yang anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda
tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi.
(Orison Swett Marden)

Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah.
Hidup adalah sebuah lagu, maka nyanyikanlah.
Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah.
Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah.
Dan hidup adalah cinta, maka nikmatilah.
(Bhagawan Sri Sthya Sai Baba)

Tak ada rahasia untuk menggapai sukses.
Sukses itu dapat terjadi karena persiapan, kerja keras,
dan mau belajar dari kegagalan.
(General Colin Powell)

Maka, bertanyalah pada ahli ilmu pengetahuan apabila kamu semua
tidak mengerti (Q.S an-nahl; 16:43)






HA|AMAN PEPSEMBAHAN















Kapersem|al|aa s|r|ps| |a| |lasas aata| .
A¡alaaáa H. Sarjaá| Pa|sa (Alm) áaa ||aaáa Hj. Hamáaaal terc|ata ¡aag selala meag|r|ag|
set|ap laag|al|a áeagaa áa'a, |as|l sa¡aag, áaa peagar|aaaa ¡aag t|aáa leat|-leat|a¡a.
Keáaa Ka|a-|a|a|a terc|ata, Ka E|a áaa Ka \a¡aa. Ma|as|l ¡al atas áa|aagaa áaa
saraaa¡a selama |a|, taapa |al|aa maag||a a|a |lm jaá| sarjaaa.
Semaa saaáara|a áaa sala|at|a ¡aag selala mem|aata|a jaga |er|ag| áalam segala lal.





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.wb
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan hanya
kepada Allah (Subhanahu Wata’ala) yang telah memberikan kesehatan,
kesabaran, kekuatan serta tak lupa juga ilmu pengetahuan yang Kau
limpahkan. Atas perkenaan-Mu jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan judul : “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Investasi Di
Indonesia Periode Tahun 1985–2004.”. Alhamdulillah asykuruka ya Allah.
Sholawat serta salam “Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad” juga
penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Seiring terselesaikannya skripsi ini, penulis menyadari bahwa masih
terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan di dalamnya. Untuk itu penulis
sangat mengharapkan berbagai kritik dan saran dikemudian hari. Selain itu,
skripsi juga merupakan hasil karya dan kerjasama dari banyak pihak, walaupun
yang terlihat dimuka mungkin hanyalah sebuah nama. Oleh sebab itu
perkenankan penulis dalam kesempatan dan kesempitan ini mempersembahkan
ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dengan segala
kerendahan hati, atas bimbingan dan bantuannya kepada:
1. Ibu Dra. Diana Wijayanti, M.Si, selaku Sekertaris Prodi Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia sekaligus dosen
pembimbing yang telah dengan sabar memberi pengarahan dan
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan dukungan. Tanpa
itu semua, skripsi ini tidak akan berarti dalam proses penyusunan skripsi
ini. Ibu makasih banyak pisan........
2. Bapak Drs. Asmai Ishak, M.Bus.,Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.
3. Bapak Drs. Jaka Sriyana, M.Si, Ph.D, selaku Ketua Prodi Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.
4. Bapak Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec selaku Dosen Pembimbing
Akademik.
5. Ayahanda (Alm) dan Ibunda atas cinta, sayang dan pengorbanannya yang
sangat besar selama hidupku ini. Juga kedua Kaka-Kakaku , Ka Eka dan
Ka Yuyun (Makasih atas dukungan dan sarannya, dan makasih banyak
atas bantuan dari segi materinya. Tanpa itu semua entah apa jadinya
hidupku di Yogya).
6. Keluarga Besar di Samarinda dan Cirebon.
7. Semua Dosen yang telah mau berbagi ilmu dengan penulis di Ekonomi
UII : Bu Diana Wijayanti, Bapak Agus Widarjono, Bapak Suharto, Bapak
Rokhedi, Bapak Hendrie, Bapak Munrokhim, Bu Indah Susantun, Bapak
Edi Suandi hamid, Bapak Eko Atmaji, Bu Sarastri, Bapak Jaka Sriyana,
Bapak Nur Feriyanto, Bapak Priyonggo, dan Bu Ari Rudatin. Terima
kasih atas ilmu dan pengetahuannya.
8. Seluruh staf dan karyawan FE UII yang telah membantu Penulis selama
masa perkuliahan di FE UII.
9. Karyawan BPS yang telah membantu dalam pengumpulan data.
10. Anak Nongkrong Community, (Angga “Daeng”, Xubil’s “Bintang di
Surga”, Lily “Lele”, Rani “Pinky”, Rudi “Kubong” (Thanx sepatunya n
analisisnya), Sunaidi “Sungai”, Thomas “Aa Tom”, Jadun “ja-ja” dan
Zadie) kalian adalah sahabat yang selalu ada di dalam hidupku, aku
berharap semoga kita menjadi orang yang SUKSES semua, Amin... cuy
akhirnya gw bisa lulus juga..... Thank For All yaa....
11. Rekan-rekan seperjuangan di Ilmu Ekonomi : Kancil’o (Thank ya ja buat
latihan tanya jawab pendadarannya and skripsinya juga utangannya, cepat
nyusul ya... Jangan Abidin Terus...), Om Rozi ( om akhirnya qt lulus
yah..... terus berjuang yah om),Ipank, Zaky, Kepetz, Sari, Yaya, Eko,
Anshor, Agung, Umar, Mamet, Desu, Hendra, Daus, Ade Vika, Venny
(Pe2n), Ana 03 ( Makasih yah atas ngeprint nyah.... ama
konsultasinya...),Lutfie, Shiva, Bengky, dan anak-anak kelas C 01 (Sorry
ya kagak bisa saya sebutkan satu-satu, panjang euy...), Angkatan 98, 99,
dan 00, Thank all Pisan...!!!
12. Rekan-rekan Fe Uii, Ganda, Didi (pak’cie), Doni, Oncom, Anas, Nida,
Aan, San-san, Ki-kie, Sawiet, tika, alien, Ari (gendut n tinggi), Farida
(makasih Tumpangan n curhatnya.... kayaknya aku masih ada utang
dech), Arip centil, Cie-ci, Gusti, Dina (dinul), Novie (minyak), Novie
(BM 10 vy) wendi, dan temen-temen yang blm kesebut namanaya, maaf
ya.... pokoknya mah maksih banyak dah...!!!
13. Anak-anak Wahana Disc Utara, Kang Yogi, Fara, Ambon, Yety, Tere,
Mba dewi, Eva, selly, Hendra, Enggo, Daya, Mas Embul, Rudy, Anas, All
Team Dota Maniac, Sekali lagi Hatur nuhun pisan pokokna mah...!!!
14. Barack Kost : Adit ( si bungsu), Shodik (Muka-nyuk), Chandra (Papua),
Tetep Semangat yah... Perjalanan masih panjang, pokoknya mah jangan
disia-siakan dah... Thank For All...!!!
15. Kota Jogjakarta tercinta yang telah menampung aku selama 7 tahun untuk
menimba ilmu dan kenangannya yang terindah dalam perjalanan
hidupku, semuanya dech ada di sini.
16. Semua pihak yang telah membantu baik selama penulis menjalani kuliah
maupun saat menulis skripsi, terima kasih atas segalanya.












Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi
semua pihak dalam proses menerapkan ilmu yang penulis dapatkan di
bangku kuliah, paling tidak skripsi ini diharapkan mampu membantu
kemajuan ilmu pengetahuan, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi
ini masih jauh dari sempurna, untuk lebih menyempurnakan skripsi ini
dimasa mendatang penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari
semua pihak dengan harapan agar dapat bermanfaat bagi yang
berkepentingan
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.








Yogyakarta, Maret 2008
Penulis

(Dadang Firmansyah)



DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL DEPAN SKRIPSI ............................................. i
HALAMAN JUDUL SKRIPSI................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME....................... iii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................. iv
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN.................................................... v
HALAMAN MOTTO ............................................................................. vi
HALAMAN PERSEMBAHAN.............................................................. vii
KATA PENGANTAR............................................................................. viii
DAFTAR ISI ........................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL................................................................................... xvi
DAFTAR GAMBAR............................................................................... xvii
ABSTRAKSI........................................................................................... xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah................................................ 1
1.2. Perumusan Masalah....................................................... 8
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian...................................... 8
1.3.1. Tujuan Penelitian..................................................... 8
1.3.2. Manfaat Penelitian................................................... 8
1.4. Batasan Masalah ........................................................... 9
1.5. Sistematika Penulisan ................................................... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. KAJIAN PUSTAKA .................................................... 12
2.1.1. Aditya Prewatyo (1996) ........................................ 12
2.1.2. M. Sofyan Setiawan (2000) ................................... 13
2.2. LANDASAN TEORI ................................................... 14
2.2.1. Teori Investasi ....................................................... 14
2.2.2. Teori Konsep Marginal Efficiency of Capital ....... 17
2.2.3. Pentingnya Investasi dalam Pertumbuhan ............. 18
2.2.4. Pengertian Penanaman Modal Dalam Negeri ........ 21
2.3. Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) ................ 22
2.3.1. Pengaruh PDB terhadap Investasi ......................... 27
2.4. Pengaruh Tenaga Kerja terhadap Investasi .................. 28
2.5. Pengaruh Infrastruktur Khususnya Jumlah Panjang Jalan
Terhadap Investasi ........................................................ 30
2.6. Hipotesis ....................................................................... 32
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian.......................................................... 33
3.1.1. Jenis dan Sumber Data ........................................... 33
3.1.2. Definisi Variabel .................................................... 33
3.2. Metode Analisis Data .................................................... 35
3.2.1. Metode Regresi Kuadrat Terkecil .......................... 35
3.2.2. Pemilihan Model Regresi ....................................... 36
3.2.3. Uji Statistik............................................................. 37
3.2.4. Uji Asumsi Klasik .................................................. 39

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Analisis Hasil regresi dan Pengujian Hipotesis............ 43
4.1.1. Pemilihan Model regresi........................................ 43
4.1.2. Hasil regresi........................................................... 47
4.1.3. Koefisien Determinasi ........................................... 47
4.1.4 Pengujian t-Statistik ............................................. 48
4.1.5 Pengujian F-Statistik ............................................. 53
4.2. Pengujian Asumsi Klasik ............................................ 54
4.2.1. Multikolinieritas .................................................... 55
4.2.2. Autokorelasi .......................................................... 56
4.2.3. Heteroskedastisitas ................................................ 56
4.3. Interpretasi hasil regresi ............................................... 58
4.3.1 Produk Domestik Bruto (PDB) ............................. 58
4.3.2 Jumlah Tenaga Kerja ............................................ 58
4.3.3 Infrastruktur ........................................................... 59
4.3.4 Variabel Dummy (Krisis Ekonomi) ...................... 59
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
5.1. Kesimpulan..................................................................... 61
5.2. Implikasi ......................................................................... 63
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel
Halaman

1.1. Data Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia ................................ 6
3.1. Uji Statistik Durbin – Watson ................................................................... 40
4.1. Hasil Uji MWD ......................................................................................... 46
4.2. Hasil Regresi Log Linier ........................................................................... 47
4.3. Hasil Uji t - statistik ................................................................................... 49
4.4. Hasil Pengujian Multikoliniearitas ............................................................ 55
4.5. Hasil Uji LM .............................................................................................. 56
4.6. Hasil Uji White Test .................................................................................. 57












DAFTAR GAMBAR

Gambar
Halaman
2.1. Pengeluaran Investasi .............................................................................. 16
3.1. Darerah Autokorelasi ............................................................................... 40
4.1. Kurva Uji t Variabel Produk Domestik Bruto ......................................... 50
4.2. Kurva Uji t Variabel Tenaga Kerja ......................................................... 51
4.3. Kurva Uji t Variabel Infrastruktur ........................................................... 52
4.4. Kurva Uji t Variabel Dummy .................................................................. 53





















ABSTRAKSI

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Produk
Domestik Bruto (PDB), Jumlah Tenaga Kerja yang Bekerja, Infrastruktur
(Jumlah Panjang Jalan), dan krisis Ekonomi (Dm) terhadap pertumbuhan
Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia priode tahun 1985-2004 dengan
menggunakan alat uji regresi log linier. Penelitian ini menggunakan uji
Mackinnon, White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan
apakah model yang akan digunakan berbentuk linier atau log linier. Jadi metode
yang digunakan dalam menganalisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi
di Indonesia adalah regresi log linier. Berdasarkan hasil estimasi tersebut
Variabel Produk Domestik Bruto (PDB) tidak berpengaruh terhadap PMDN,
Tenaga Kerja berpengaruh terhadap PMDN, Infrastruktur (Jumlah Panjang Jalan)
tidak berpengaruh terhadap PMDN, dan Krisis Ekonomi (Dm) berpengaruh
terhadap PMDN. Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan
mengenai Penanaman Modal Dalam Negeri maka dapat di simpulkan bahwa
Produk Domestik Bruto (PDB), Tenaga kerja yang Bekerja, Infrastruktur (
Jumlah Panjang Jalan) dan Krisis Ekonomi (Dm) secara serempak mempunyai
pengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.

1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Walaupun satu atau dua tahun setelah krisis ekonomi 1998, ekonomi
Indonesia sudah kembali menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif,
namun hingga saat ini pertumbuhannya rata-rata per tahun relatif masih
lambat dibandingkan negara-negara tetangga yang juga terkena krisis
seperti Korea Selatan dan Thailand, atau masih jauh lebih rendah
dibandingkan pertumbuhan rata-rata per tahun yang pernah dicapai oleh
pemerintahan Orde Baru (ORBA), khususnya pada periode 1980-an hingga
pertengahan 1990-an. Salah satu penyebabnya adalah masih belum
intensifnya kegiatan investasi, termasuk arus investasi dari luar negeri
maupun dalam Negeri terutama dalam bentuk penanaman modal dalam
negeri (PMDN). Padahal era ORBA membuktikan bahwa investasi,
khususnya PMDN, merupakan faktor pendorong yang sangat krusial bagi
pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Terutama
melihat kenyataan bahwa sumber perkembangan teknologi, perubahan
struktural, diversifikasi produk, dan pertumbuhan ekspor di Indonesia
selama ORBA sebagian besar karena kehadiran PMDN itu sendiri.
Banyak sekali faktor-faktor yang sebagian besar saling terkait satu
sama lainnya dengan pola yang sangat kompleks yang menyebabkan
lambatnya pemulihan investasi di Indonesia hingga saat ini. Faktor-faktor
tersebut mulai dari yang sering disebut di media masa yakni masalah
2
keamanan, tidak adanya kepastian hukum, dan kondisi infrastruktur yang
buruk, hingga kondisi perburuhan dan tenaga kerja yang semakin buruk.
Di negara-negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia
tidak mempunyai sumber dana yang cukup guna membiayai pembangunan
negrinya. Terbatasnya akumulasi berupa kapital tabungan di dalam negeri.
Selain itu dikarenakan oleh rendahnya produktivitas, dan tingginya
konsumsi. Sejalan dengan sasaran pembangunan bahwa sasaran
pembangunan di titik beratkan di bidang ekonomi yaitu penataan
swastanisasi nasional yang mengarah pada penguatan, peningkatan,
perluasan dan penyebaran sektor swasta keseluruh wilayah Indonesia, maka
investasi ke sektor swasta adalah pendukung pembangunan nasional untuk
mencapai tujuan-tujuan pembangunan nasional. Kebijakan pembangunan
Indonesia mencakup pengembangan iklim usaha dan investasi, peningkatan
swasta nasional pengembangan usaha kecil dan menengah .
Secara umum, sesuai dengan strategi pembangunan ekonomi yang
telah di rumuskan dalam GBHN 1999-2004, kebijakan industri,
perdagangan dan investasi di arahkan untuk meningkatkan daya saing
global. Sebagai penjabarannya, dalam proses 2000-2004 telah dirumuskan
strategi untuk membangun industri berdasarkan prinsip efisiensi yang di
dukung oleh peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan tekhnologi
untuk memperkuat landasan pembangunan meningkatkan daya saing
nasional. Strategi tersebut meliputi : pengembangan ekspor, pengembangan
industri berkeunggulan kompetitif, penguatan industri pasar, pengembangan
3
pariwisata, dan peningkatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Khusus
untuk program pengembangan Investasi, dalam jangka pendek kebijakan
diarahkan untuk menurunkan hambatan prosedural dan permasalahan
likuiditas dan memperluas investasi nonkuota. Dalam jangka menengah-
panjang, kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kualitas prasarana dan
sarana pengembangan investasi untuk mendukung kegiatan produksi dan
distribusi dalam negeri ke sisistem perdagangan bebas international.
Dalam pelaksanaannya berbagai kebijakan tersebut belum banyak
memberikan hasil yang diharapkan.pencanangan tahun 2003 sebagai tahun
investasi Indonesia oleh pemerintah belum mampu mendorong kegiatan
investasi secara berarti. Berbagai permasalahan masih dihadapi oleh dunia
usaha, seperti masalah regulasi ketenagakerjaan yang kurang konduktif,
kebijakan investasi dan sektoral yang tumpang tindih, baik antara daerah
maupun antar pusat dan daerah yang terutama terkait sengan penerapan
otonomi daerah, keunggulan insentif bagi investor, termasuk insentif
perpajakan, kondisi keamanan yang belum konduktif dibeberapa daerah
tertentu, ekonomi biaya tinggi, serta prosedur birokrasi yang panjang dan
berbelit. Kondisi ini di perburuk oleh minimnya pengembangan
infrastruktur akibat keterbatasan dana pemerintah. Hal lain yang perlu
segera di benahi adalah masalah kepastian hukum diberbagai tingkatan,
antara lain yang terkait dengan upaya peningkatan kinerja pengadilan niaga
dan penyelesaian RUU penanaman modal.
4
Penggairahan iklim investasi di Indonesia dimulai dengan
diundangkannya Undang-Undang No. 6/Tahun 1968 tentang Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN). Pemberlakuan kedua undang-undang ini
menyusul tampilnya rejim orde baru memegang tampuk pemerintahan.
Sebelumnya, dalam pemerintahan orde lama, Indonesia sempat menentang
kehadiran investasi dari luar negeri. Ketika itu tertanam keyakinan bahwa
modal asing hanya akan menggerogoti kedaulatan negara. Undang-undang
tadi kemudian dilengkapi dan disempurnakan pada tahun 1970. UU No.
6/Tahun 1968 tentang PMDN disempurnakan dengan UU No.12/Tahun
1970. Perbaikan iklim penanaman modal tak henti-hentinya dilakukan
pemerintah, terutama sejak awal pelita IV atau tepatnya tahun 1984.
Melalui berbagai paket kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi
dilakukan penyederhanaan mekanisme perijinan, penyederhanaan tata cara
impor barang modal, pelunakan syarat-syarat investasi, serta perangsangan
investasi untuk sektor-sektor dan di daerah-daerah tertentu. Dewasa ini
kesempatan berinvestasi di Indonesia semakin terbuka, terutama bagi
penanam modal asing. Disamping dalam rangka menarik investasi
langsung, keterbukaan ini sejalan pula dengan era paerdagangan bebas yang
akan dihadapi mulai tahun 2020 kelak.
Semenjak diberlakukannya Undang-Undang No. 6/Tahun 1968 jo.
No. 12/Tahun 1970 tentang PMDN, investasi cenderung terus meningkat
dari waktu ke waktu. Walaupun demikian, pada tahun-tahun tertentu sempat
juga terjadi penurunan. Kecenderungan peningkatan bukan hanya
5
berlangsung pada investasi oleh kalangan masyarakat atau sektor swasta,
baik PMDN maupun PMA, namun juga penanaman modal oleh pemerintah.
Ini berarti pembentukan modal domestik bruto meningkat dari tahun ke
tahun.
Penanaman modal oleh dunia usaha meningkat pesat terutama dalam
dasawarsa 1980-an sesudah pemerintah meluncurkan sejumlah paket
kebijaksaan deregulasi dan debirokratisasi. Dalam dasawarsa 1970-an
bagian terbesar dari penanaman modal dalam negeri berasal dari sektor
pemerintah. Keadaan tersebut sekarang telah berbalik. Selama paruh
pertama dasawarsa 1990-an sebagian besar investasi domestik berasal dari
dunia usaha dan masyarakat. Investasi oleh pemerintah sendiri juga tetap
bertambah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan
prasarana serta pelayanan dasar lainnya.
Dilihat dari periode sebelum dan sesudah krisis moneter peran
investasi baik yang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami
penningkatan yang pesat dan juga mengalami penurunan di tahun – tahun
tertentu. Ini dapat dilihat dari table Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) di Indonesia.





6
Tabel 1.1
Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia
Tahun 1985-2004 (Miliar Rp)
TAHUN PMDN
1985 3830.3
1986 4126
1987 11404
1988 15681
1989 21907
1990 59878.4
1991 41084.8
1992 29341.7
1993 39450.4
1994 53289.1
1995 69853
1996 100715
1997 119873
1998 60749.3
1999 53550
2000 93327.7
2001 58816
2002 25307.6
2003 50092.1
2004 34140.4
Sumber : Badan Pusat Statistik
Proporsi Penanaman Modal Dalam Negeri di dalam PDB dan
pesatnya pertumbuhan investasi tidak berarti pembangunan ekonomi
berjalan dengan baik dan begitu pula sebaliknya, karena yang penting
bukan besarnya investasi dalam nilai uang atau jumlah proyek, tetapi
bagaimana efisiensi atau produktivitas dari investasi tersebut.
Investasi merupakan kegiatan untuk mentransformasikan sumber
daya potensial menjadi kekuatan ekonomi riil. Sumber daya alam yang ada
di masing-masing daerah diolah dan dimamfaatkan untuk meningkatkan
kemakmuran seluruh rakyat secara adil dan merata. Namun dalam
7
memanfaatkan sumberdaya alam perlu memperhatikan kelestarian dan
keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan. Peranan investasi di
indonesia cedung meningkat sejalan dengan banyaknya dana yang di
butuhkan untuk melanjutkan pembangunan nasional. Investasi merupakan
suatu faktor yang kursial bagi kelangsungan proses pembangunan ekonomi,
atau pertumbuhan ekonomi jangka panjang pembangunan ekonomi
melibatkan kegiatan-kegiatan produksi di semua sektor ekonomi.
Jadi dari uraian di atas, pokok permasalahan yang menjadi
pembahasan utama dari tulisan ini adalah iklim investasi yang sangat
kompleks, yang implikasinya adalah bahwa kebijakan investasi tidak bisa
berdiri sendiri. Dalam kata lain, bagaimanapun bagusnya suatu kebijakan
investasi, efektivitas dari kebijakan tersebut akan tergantung pada banyak
faktor lain di luar wilayah kebijakan investasi, karena faktor-faktor tersebut
sangat mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan investasi atau
membukan usaha baru di Indonesia. maka penulis dalam penelitian ini akan
mengambil judul “FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
INVESTASI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1985-2004”.






8
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, maka dapatlah dirumuskan
permasalahan yaitu :
1. Apakah PDB berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia?
2. Apakah Tenaga Kerja berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia?
3. Apakah Infrastruktur berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia?
4. Apakah krisis ekonomi berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia?
5. Apakah PDB, Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy
krisis ekonomi secara bersama-sama berpengaruh terhadap PMDN
di Indonesia?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis hubungan antara Produk Domestik Bruto (PDB)
dengan PMDN di Indonesia.
2. Menganalisi hubungan antara Jumlah Tenaga Kerja yang
Bekerja dengan PMDN.di Indonesia.
3. Menganalisis hubungan antara Infrastuktur ( Jumlah Panjang
Jalan) dengan PMDN di Indonesia.
2. Menganalisis hubungan antara Variabel Dummy ( Krisis
Ekonomi) dengan PMDN di Indonesia.


9
1.3.2. Manfaat Penelitian
1. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi
pemerintah di dalam mengambil keputusan untuk menentukan
kebijaksanaan dalam pengembangan Penanaman Modal Dalam
Negeri di Indonesia.
2. Bagi Penulis merupakan tambahan wawasan terhadap dunia
praktisi perbankan khususnya, yang diaktualisasikan dengan
didasarkan pada pengetahuan teoritis yang yang diperoleh dari
bangku kuliah.
3. Sebagai tambahan informasi untuk penelitian-penelitian lebih
lanjut.
4. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana
ekonomi pada jurusan Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia.
1.4. Batasan Masalah

mengingat banyak faktor yang mempengaruhi turun naiknya
Investasi asing di Indonesia, maka agar permasalahan tidak meluas, dalam
penelitian ini pembahasannya dibatasi pada: periode yang di teliti adalah
pada tahun 1985 sampai dengan 2006. periode ini diambil karena periode
ini investasi khususnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di
Indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis dikarenakan dampak
dari krisis moneter pada tahu 1998-sampai sekarang ini, dan variable-
variabel yang mempengaruhi Investasi itu tersebut yaitu sebagai berikut :
10
1. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam penelitian ini adalah PDB
atas dasar harga konstan 2000.
2. Tenaga Kerja adalah Jumlah Penduduk Yang bekerja.
3. Infrastruktur adalah Panjang jalan.
4. Variabel Dummy yang digunakan adalah kondisi sebelum dan
sesudah Krisis moneter pada tahun 1998.

1.5. Sistematika penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
• Bagian dari bab ini membahas dan menguraikan dari latar
belakang permasalaahan, perumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian, batasan masalah dan sistematika
penulisan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
• Bab ini berisi pendokumentasian atau pengkajian hasil dari
penelitian-penelitian yang pernah dilakukan pada area
yang sama dan landasan teori. Landasan teori ini berisi
teori-teori sebagai hasil dari studi pustaka. Teori-teori yang
didapat akan menjadi landasan bagi penulisan untuk
melakukan pembahasan dan pengambilan kesimpulan
mengenai judul yang penulis pilih.


11
BAB III : METODE PENELITIAN
• Bab ini akan menguraikan penjelasan satu pembahasan
mengenai metode analisa yang digunakan dalam penelitian
dan jenis data-data yang digunakan beserta sumber data.

BAB IV : ANALISA DAN PEMBAHASAN
• Bab ini berisi semua temuan-temuan yang dihasilkan
dalam penelitian dan analisa statistik.
BAB V : SIMPULAN DAN IMPLIKASI
• Bab ini akan menjelaskan kesimpulan dari analisa yang
dilakukan dan implikasi yang muncul dari hasil simpulan
sebagai jawaban atas rumusan masalah sehingga dapat
ditarik benang merah apa implikasi dari penelitian yang
dilakukan.









12
BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI



2.1. KAJIAN PUSTAKA

Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah


2.1.1. Aditya Prawatyo (1996), dengan Penelitiannya “ Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Investasi Swasta di Indonesia “ dalam
penelitiannya tersebut Aditya menganalisis pengaruh variabel-
variabel Produk Domestik Bruto PDB), Impor Barang Modal dan
Bahan Baku (MB,MBB), ditingkat sukubunga didalam negri
(SBD), jumblah uang yang beredar (JUB), pengeluaran
pemerintah (PP), serta kebijaksanaan deregulasi pemerintah (D)
terhadap investasi swasta (PMDN + PMA). Dari penelitian
tersebut di peroleh hasil sebagai berikut: variabel (PDB)
berpengaruh secaranyata terhadap investasi swasta di Indonesia.
Variabel impor barang modal dan bahanbaku tidak signifikan
mempengaruhi investasi swasta. Hal tersebut di sebabkan karena
nilai impor sesungguhnya sudah tercakup didalam Produk
Domestik Bruto. Sedangkan tingkat suku bunga dalam negri
berpengaruh secara negatif dan elastis terhadap investasi swasta
tanah air. Sebaliknya kenaikan suku bunga di luar negeri akan
berdampak positif bagi investasi swasta di Indonesia. Dan ternyata
pemerintah masih berperan penting sebagai motor penggerak
13
investasi di Indonesia, hal ini di tunjukan dengan pengaruh
pengeluaran pemerintah yang signifikan mempengaruhi investasi
swasta.

2.1.2. M. Sofyan Setiawan (2000), dengan penelitiannya “Analisis
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi Antar Daerah-daerah
di Indonesia pada Periode Tahun 1996”, dengan menggunakan
pendapatan perkapita, jumlah panjang jalan di tiap propinsi,
sebagai variabel-variabel pembantu untuk menganalisis penelitian
tersebut.
Sedangkan hasil analisis dari penelitian tersebut adalah :
1. Pendapatan perkapita berpengaruh positif terhadap investasi
yang berarti semakin tinggi pendapatan perkapita maka
investasi akan meningkat.
2. Jumlah panjang jalan juga berpengaruh secara nyata positif
terhadap investasi yang berarti pertumbuhan penduduk yang
tinggi mengakibatkan peningkatan investasi.
3. Hasil uji serempak dimana F
hitung
> F
tabel
, maka ketimpangan
investasi secara keseluruhan dipengaruhi oleh pendapatan
perkapita, jumlah panjang jalan, jumlah telepon dan jumlah
penduduk.
4. Pada uji asumsi klasik tidak terdapat Autokorelasi,
Multikolinieritas dan Heteroskedastisitas.
14
2.2. LANDASAN TEORI
2.2.1. Teori Investasi
Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk
meningkatkan atau mempertahankan stok barang-barang modal yang
terdiri dari mesin-mesin, pabrik, kantor dan produk-produk tahan lama
lainnya yang digunakan dalam proses produksi.
Menurut Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, investasi
adalah pengeluaran yang dilakukan oleh para penanam modal yang
menyangkut penggunaan sumber-sumber seperti peralatan, gedung,
peralatan produksi dan mesin-mesin baru lainnya atau persediaan yang
diharapkan akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut.
Komarudin (1983) memberikan pengertian investasi yaitu:
a. Suatu tindakan membeli barang-barang modal.
b. Pemanfaatan dana yang tersedia untuk produksi dengan
pendapatan dimasa yang akan datang.
c. Suatu tindakan untuk membeli saham, obligasi atau surat
penyertaan lainnya.
Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun
sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif,
maka output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan
ekonomi jangka panjang juga akan meningkat. Jelas dengan demikian
bahwa investasi memainkan peranan penting dalam menentukan jumlah
output dan pendapatan.
15
Kekuatan ekonomi utama yang menentukan investasi adalah
hasil biaya investasi yang ditentukan oleh kebijakan tingkat bunga dan
pajak, serta harapan mengenai masa depan (Paul A. Samuelson dan
William D. Nordhaus, 1993, 183).
Faktor penentu investasi sangat tergantung pada situasi di masa
depan yang sulit untuk diramalkan, maka investasi merupakan
komponen yang paling mudah berubah.
Usaha untuk mencatat nilai penanaman modal dilakukan dalam
satu tahun tertentu yang digolongkan sebagai investasi, meliputi
pengeluaran atau pembelanjaan untuk:
a. Seluruh pembelian para pengusaha atas barang modal dan
membelanjakan untuk mendirikan industri-industri.
b. Pengeluaran masyarakat untuk mendirikan tempat tinggal.
c. pertambahan dalam nilai stok barang-barang perusahaan yang
berupa bahan mentah, barang yang belum diproses dan barang
jadi.
Adam smith menyatakan bahwa investasi dilakukan karena para
pemilik modal mengharapkan untung dan harapan masa depan
keuntungan bergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada
keuntungan nyata. Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan
adanya kemajuan ekonomi. Pada waktu laju pemupukan modal
meningkat, persaingan yang meningkat antar pemilik modal akan
menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan.
16
Menurut Harrod-Domar pengeluaran investasi (I) tidak hanya
mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat (Z), tetapi juga
terhadap penawaran agregat (S) melalui pengauhnya terhadap kapasitas
produksi. Dalam prespektif waktu yang lebih panjang ini. I menambah
stok kapital (misalnya, pabrik-pabrik, jalan-jalan dan sebagainya). Jadi
I=AK, dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Ini berarti pula
peningkatan kapasitas produksi masyarakat dan selanjutnya berarti
bergesernya kurva S ke kanan.

Gambar 2.1.
Pengeluaran Investasi

P S
0
S
1

b
a


Z
1



Z
0



0 Q



a : AI menggeser Z lewat proses multiplier(jangka pendek).
b: AI menggeser S lewat pertambahan kapasitas produksi(jangka panjang)


17
2.2.2 Teori Konsep Marginal Efficiency of Capital
Dalam teori makro Keynes keputusan apakah suatu Investasi
akan di laksanakan atau tidak, tergantung pada perbandingan antara
besarnya keuntungan yang di harapkan (yang menyatakan dalam
persentase satuan waktu waktu) di suatu pihak dan biaya penggunaan
dana atau tingkat bunga di pihaklain. Apabila tingkat bunga yang
berlaku di pasar uang sebesar 2% setiap bulan (atau 24% setahun),
sedangkan keuntungan yang di harapkan sebesar 50% maka investasi
tersebut masih menguntungkan karena keuntungan (kotor) yang di
harapkan 50% jadi melebihi ongkos pendanaan dapat di katakana 50%-
24% = 26% pertahun untuk 10 tahun. Maka jika pengusaha tersebut
“rasional” investasi tersebut akan dilaksanakan Secara ringkas :
1. Jika keuntungan yang diharapkan (MEC) lebih besar dari pada
tingkat bunga, maka investasi di laksanakan.
2. jika MEC lebih kecil dari pada tingkat bunga maka investasi
tidak dilaksanakan.
3. Jika MEC = tingkat bunga maka investasi bias di laksanakan
dan bias juga tidak
Dari uraian di atas, di ketahui bahwa berapa tingkat pengeluaran
investasi yang di harapkan oleh para investasi di tentuakan oleh dua hal
yaitu tinkat suku bunga yang berlaku dan marginal efficiency of capital.
Perilaku makro para investor ini biasanya di ringkas dalam satu bentuk
fungsi marginal efficiency of capital atau fungsi investasi.
18
Tiga hal yang perlu di garis bawahi mengenai fungsi investasi
pertama funsi tersebut mempunyai slope, yang negative, artinya
semakin rendah tingkat bunga semakin besar pula tingkat pengeluaran
investasi yang di inginkan. Kedua, dalam kenyataan fungsi tersebut sulit
untuk di peroleh sebab posisinya sangat stabil (mudah berubah dalam
jangka waktu yang sangat singkat). Kelebihan fungsi investasi ini akan
segera dapat di pahami karena posisinya sangat tergantung pada nilai
MEC dari proyek-proyek yang ada dan bahwa MEC adalah keuntungan
yang di harapkan oleh investor. Ketiga, yang perlu ditekankan adalah
hubungan teori Keynes dengan kenyataan, khususnya masalah
tersedianya dana investasi.
2.2.3. Pentingnya Investasi dalam Pertumbuhan
Pada setiap moment, persediaan modal adalah determinan output
perekonomian yang penting, karena persediaan modal bisa berubah
sepanjang waktu, dan perubahan itu bisa mengarah ke pertumbuhan
ekonomi. Biasanya, terdapat dua kekuatan yang mempengaruhi
persediaan modal: investasi dan depresiasi. Investasi mengacu pada
pengeluaran untuk perluasan usaha dan peralatan baru, dan hal itu
menyebabkan persediaan modal bertambah. Depresiasi mengacu pada
penggunaan modal, dan hal itu menyebabkan persediaan modal
berkurang.(Mankiw N. Gregory, 2003, 178)
Pabrik-pabrik, mesin-mesin, peralatan, dan barang-barang baru
akan meningkatkan stok modal (capital stock) fisikal suatu negara
19
(yaitu jumlah nilai riil bersih dari semua barang-barang modal produktif
secara fiskal) sehingga pada gilirannya akan memungkinkan negara
tersebut untuk mencapai tingkat output yang lebih besar. Investasi jenis
ini sering diklasifikasikan sebagai investasi di sektor produktif (directly
productive aktivities). Investasi-investasi lainnya yang dikenal dengan
sebutan infrastruktur sosial dan ekonomi (social overhead capital) yaitu
jalan raya, listrik, air, sanitasi, dan komunikasi akan mempermudah dan
mengintegrasikan kegiatan-kegiatan ekonomi.(Lincolin Arsyad, 1999,
214)
Selain itu, ada juga investasi tidak langsung. Pembangunan
fasilitas-fasilitas irigasi akan dapat memperbaiki kualitas lahan
pertanian melalui peningkatan produktivitas per hektar. Jika 100 hektar
lahan beririgrasi bisa menghasilkan output yang sama dengan 200
hektar lahan tak beririgrasi (dengan catatan penggunaan input-input
lainnya sama), maka fasilitas irigasi itu nilainya sama dengan dua kali
luas lahan tanpa irigasi. Penggunaan pupuk-pupuk kimia dan
pemabasmian hama penyakit dengan pestisida juga akan bermanfaat
untuk meningkatkan produktivitas lahan. Semua bentuk investasi ini
merupakan cara-cara untuk memperbaiki kualitas sumberdaya tanah
yang ada.
Sama halnya dengan investasi tak langsung di atas, investasi
insani (human invesment) juga dapat memperbaiki kualitas sumberdaya
manusia dan juga akan mempunyai pengaruh yang sama atau bahkan
20
lebih besar terhadap produksi. Sekolah-sekolah formal, sekolah-sekolah
kejuruan, dan program-program latihan kerja serta berbagai pendidikan
informal lainnya semuanya diciptakan secara lebih efektif untuk
memperbesar kemampuan manusia dan sumberdaya-sumberdaya
lainnya sebagai hasil dari investasi langsung dalam pembangunan
gedung-gedung, peralatan dan bahan-bahan (buku-buku, proyektor,
peralatan penelitian, alat-alat latihan kerja, mesin-mesin, dan lain-lain).
Latihan-latihan tingkat lanjutan yang relevan bagi tenaga pendidik,
demikian pula dengan buku-buku pelajaran ekonomi yang baik, bisa
membuat perubahan yang sangat besar dalam mutu, kepemimpinan, dan
produktivitas tenaga kerja yang ada. Oleh karena itu investasi insani
sama dengan memperbaiki mutu sekaligus meningkatkan produktivitas
sumberdaya-sumberdaya tanah melalui investasi yang strategis
tersebut.(Ibid, 1999, 215)
Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada tenaga kerja dan
jumlah kapital. Investasi akan menambah jumlah daripada kapital.
Tanpa investasi maka tidak akan ada pabrik/mesin baru, dan dengan
demikian tidak ada ekspansi. Pengertian investasi mencakup investasi
barang-barang tetap pada perusahaan (business fixed invesment),
persediaan (inventory) serta perumahan (residential).(Nopirin, 1987,
133)


21
2.2.4. Pengertian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk
meningkatkan atau mempertahankan stok barang modal yang terdiri dari
mesin, pabrik, kantor dan produk-produk tahan lama lainnya yang
digunakan dalam proses produksi (Mulyadi, 1990, hal.268).
Investasi merupakan penundaan konsumsi sekarang untuk
digunakan didalam produksi yang efisien selama periode waktu yang
tertentu (Jogiyanto, 2003, hal: 5). Selain itu investasi dapat juga
diartikan sebagai pengeluaran oleh sektor produsen swasta untuk
pembelian barang-barang atau jasa-jasa guna penambahan stok barang
dan peralatan perusahaan (Boediono, 1986, hal.40).
Faktor-faktor penentu investasi sangat tergantung pada situasi
dimasa depan yang sulit untuk diramalkan, maka investasi merupakan
komponen yang paling mudah berubah. Usaha untuk mencatat nilai
penanaman modal yang dilakukan dalam satu tahun tertentu yang
digolongkan sebagai investasi, meliputi pengeluaran atau pembelanjaan
untuk:
1. Seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang modal dan
membelanjakan untuk mendirikan industri-industri.
2. Pengeluaran masyarakat untuk mendirikan tempat tinggal.
3. Pertambahan dalam nilai stok barang-barang perusahaan yang
berupa bahan mentah, barang yang belum diproses dan barang
jadi.
22
Penanaman modal dalam negeri memberikan peranan dalam
pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang hal ini
terjadi dalam berbagai bentuk. Modal Investasi mampu mengurangi
kekurangan tabungan dan melalui pemasukan peralatan modal dan
bahan mentah, dengan demikian menaikkan laju pemasukan modal.
Selain itu tabungan dan investasi yang rendah mencerminkan kurangnya
modal di negara keterbelakangan teknologi. Bersamaan dengan modal
uang dan modal fisik, modal Investasi yang membawa serta
keterampilan teknik, tenaga ahli, pengalaman organisasi, informasi
pasar, teknik-tekink produksi maju, pembaharuan produk dan lain-lain.
Selain itu juga melatih tenaga kerja setempat pada keahlian baru. Semua
ini pada akhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi negara
terbelakang.
2.2.5. Pengertian Produk Domestik Bruto ( PDB )
Salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari PDB
(Produk Domestik Bruto). Produk Domestik Bruto adalah produk
barang dan jasa total yang dihasilkan dalam perekonomian suatu negara
di dalam masa satu tahun. PDB didalamnya merupakan pendapatan
faktor produksi milik bangsa Indonesia yang berada di dalam negeri
ditambah milik bangsa asing di dalam negeri. PDB dihitung biasanya
dengan menggunakan dua keterangan menurut patokan harga yang
dipakai yaitu:

23
Harga Konstan
PDB
HKX
=
X
HBX
IHK
PDB * 100

Harga Berlaku
PDB
HBX
=
100
*
X HKX
IHK PDB

Dimana:
Hk
X
: Harga Konstan
HB
X
: Harga Berlaku
IHK : Indeks Harga Konsumen
100 : Indeks Harga Konsumen Tahun Dasar
X : Tahun tertentu.
PDB menurut harga berlaku, nilai barang dan jasa dihitung
berdasarkan pada tahun yang bersangkutan, yang berarti termasuk kenaikan
harga-harga. Sedangkan menurut harga konstan, nilai barang dan jasa yang
dihasilkan dihitung berdasarkan pada tahun dasar tertentu, cara perhitungan
atas dasar harga konstan ini menghilangkan pengaruh inflasi yang dikatakan
menunjukkan nilai riil (nyata).
PDB dapat dipahami melalui cara penghitungan pendapatan
nasional seperti berikut dibawah ini (Suseno Triyanto, 1983, hal.16)
GNP = GDP + F
NNP = GNP – D
NI = NNP – Nit
24

Dimana:
GNP : Produk nasional bruto = PNB
GDP : Produk domestic bruto = PDB
NI : Produk nasional neto = PNN
F : Pendapatan neto terhadap luar negeri atas faktor-faktor produksi,
yaitu selisih antara pendapatan orang-orang Indonesia yang
bekerja di luar negeri dan orang-orang asing yang bekerja di
Indonesia.
D : Penyusutan
Nit : Pajak tak langsung neto, yaitu selisih antara pajak tak langsung
dengan subsidi.
NI : Pendapatan nasional (Y)
Jika ketiga persamaan tersebut digabungkan, akan didapat persamaan
sebagai berikut:
GDP = NI + Nit + D – F
Kenaikan pendapatan perkapita mungkin menaikkan standar
hidup riil masyarakat. Bisa terjadi bahwa sementara pendapatan riil
perkapita meningkat, akan tetapi konsumsi perkapita menurun.
Meningkatnya pendapatan masyarakat akan mengakibatkan tingkat
tabungan meningkat. Hal ini akan menjadikan salah satu bentuk
akumulasi modal melalui tabungan masyarakat yang pada akhirnya akan
digunakan pemerintah dalam membiayai pembangunan di negaranya.
25
Christopher Pass dan Bryan Lowes mengemukakan GDP (Gross
Domestic Product) [Produk Domestik Bruto/PDB] yaitu total nilai uang
dari semua barang (Goods), jasa (Service) yang diproduksi dalam suatu
perekonomian selama satu tahun. PDB dapat diukur dengan tiga cara,
yaitu:
1. Jumlah nilai tambah dari industri dalam memproduksi output
dalam satu tahun (metode output).
2. Jumlah semua pendapatan yang diterima dari hasil produksi output
selama satu tahun (metode pendapatan).
3. Jumlah semua pengeluaran domestik untuk barang dan jasa selama
satu tahun (metode pengeluaran).
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi
di suatu negara dalam suatu periode tertentu adalah data PDB (Produk
Domestik Bruto) berdasarkan harga konstan (riil) yang digunakan untuk
menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap
sektor dari tahun ke tahun menggunakan komponen pengeluaran
konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi
dan ekspor neto (ekspor dikurangi impor) atau dengan perolehan
perhitungan sebagai berikut: PDB=(C+G+I+(X-M)). Dimana
petumbuhan ekonomi tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang
sangat mempengaruhi penanaman modal asing ke dalam negeri.
Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang
dapat digunakan, yaitu:
26
1) Menurut Pendekatan Produksi, PDB adalah jumlah nilai tambah
atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi
di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya
satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini
dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu: 1.
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan, 2. Pertambangan
dan Penggalian, 3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, Gas dan Air
bersih, 5. Bangunan, 6. Perdagangan, Hotel dan restoran, 7.
Pengangkutan dan Komunikasi, 8. Keuangan, Persewan dan Jasa
Perusahaan, 9. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah.
Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.
2) Menurut Pendekatan Pendapatan, PDB merupakan jumlah balas
jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta
dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu
tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang
dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan
keuntungan, semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan
pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini PDB mencakup juga
penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung
dikurangi subsidi)
3) Menurut Pendekatan Pengeluaran, PDB adalah semua komponen
permintaan akhir yang terdiri dari: 1. Pengeluaran konsumsi
rumahtangga dan lembaga swasta nirlaba, 2. konsumsi
27
pemerintah, 3. pembentukan modal tetap domestik Bruto, 4.
Perubahan stok, 5. ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor
dikurangi impor).
Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan
angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah
barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama dengan jumlah
pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDB yang dihasilkan dengan
cara ini disebut sebagai PDB yang dihasilkan atas dasar harga pasar,
karena didalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.
2.3. Hubungan antara Variabel Dependen dengan Variabel Independen
2.3.1. Pengaruh Produk Domestik Bruto terhadap investasi
Dalam pengertian investasi riel dibedakan antara investasi bruto
dan investasi netto, investasi swasta dan investasi pemerintah, serta
investasi domestik dan investasi asing. Dua pasangan pengertian
investasi riel yang terakhir jelas merupakan pembedaan dari segi
pemiliknya saja yaitu apakah merupakan milik serta dilakukan
pemerintah atau oleh swasta, dan merupakan milik serta dilakukan oleh
orang asing atau oleh warga negara sendiri. Istilah investasi bruto
swasta domestik menunjukkan investasi pada mesin-mesin, peralatan
serta gedung-gedung yang habis dikonsumsi dalam proses produksi
pada tahun berjalan ditambah dengan tambahan netto persediaan
barang-barang kapital. Konsumsi pemakaian barang-barang kapital
merupakan penyusutan. Jadi investasi bruto adalah investasi pengganti
28
ditambah investasi bersih atau investasi tambahan. Pertumbuhan
ekonomi suatu negara bisa dilihat dari investasi nettonya, bila investasi
bruto melebihi penyusutan atau investasi penggantinya maka terdapat
investasi netto dan perekonomian negara tersebut mengalami perluasan.
Perekonomian suatu negara mengalami stagnasi atau penurunan bila
investasi netto negatif atau dimana investasi bruto lebih kecil daripada
investasi pengganti.(Faried Wijaya, 1997, 25)
Dunia usaha mengadakan investasi didorong oleh pertimbangan
ekspektasi keuntungan jangka panjang yang dipengaruhi oleh kemajuan
teknologi, pertumbuhan penduduk serta faktor-faktor lain. Investasi
bervariasi secara langsung dengan pendapatan, hal ini karena investasi
berhubungan dengan keuntungan, dan sebagian besar investasi dibiayai
secara internal dari keuntungan perusahaan. Bila pendapatan naik,
keuntungan juga naik dan demikian pula tingkat investasi. Bila tingkat
pendapatan atau output rendah, ini berarti dunia usaha mempunyai
cukup banyak kelebihan kapasitas produksi hingga tak ada dorongan
membeli barang barang-barang kapital baru.(ibid, 1997, 77)
2.3.2. Pengaruh Tenaga Kerja Yang Bekerja terhadap Investasi
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi keadaan
ketenagakerjaan, yaitu faktor permintaan dan penawaran. Faktor
permintaan dipengaruhi oleh dinamika pembangunan ekonomi,
sedangkan faktor penawaran ditentukan oleh perubahan struktur umur
penduduk. Sesuai dengan Konvensi International Labour Organization
29
(ILO), batasan penduduk usia kerja yang digunakan di sini adalah
penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. Penduduk usia kerja dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan
Kerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang aktif secara ekonomi,
yaitu mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan, sedangkan bukan
angkatan kerja adalah penduduk yang tidak aktif secara ekonomi
dengan kegiatan antara lain, sekolah, mengurus rumahtangga dan
lainnya.
Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (diatas
8%) maka penciptaan lapangan kerja baru akan mampu memenuhi
tambahan angkatan kerja, ini yang terjadi di Indonesia sebelum tahun
1990 s/d 1997. Dan semakin banyaknya permintaan Investasi maka
semakin banyak juga lapang kerja yang di hasilkan ini sangat
berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang akan bekerja. Karna
banyaknya perusahaan – perusahaan baru dan perusahaan yang ingin
mengembangkan usahanya yang lebih berkembang.
Dalam segi ekonomi Investasi merupakan pengeluaran untuk
pembelian kapital yang digunakan untuk menambah kapasitas produksi
nasional. Seperti diketahui peranan investasi dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dapat dilihat dari
dua sisi . Pertama, investasi dari sisi permintaan merupakan salah satu
komponen pengeluaran yang menetukan besar kecilnya
output/pendapatan nasional. Fluktuasi komponen investasi
30
mengakibatkan fluktuasi output nasional dalam jangka pendek. Kedua,
dari sisi penawaran investasi sangat besar peranannya dalam
menentukan produksi jangka menengah dan panjang. Pengeluaran
investasiakan mempengaruhi kapasitas produksi suatu perekonomian
dalam menghasilkan barang dan jasa-jasa. Variabel investasi inilah yang
menjamin keseimbangan permintaan dan penawaran barang dan jasa
dalam jangka menengah dan panjang.(Lembaga Penelitian Ekonomi
IBII, 2003, hal 31)
2.3.3. Pengaruh Infrastruktur khususnya Jumlah Panjang Jalan
terhadap Investasi
Dalam pengertiannya Jumlah Panjang Jalan adalah merupakan
prasarana pengangkut darat yang penting untuk mempelancar kegiatan
perekonomian, tersedianya jalan yang berkualitas akan meningkatkan
usaha pembangunan Khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas
penduduk dan mempelancar lalu lintas barang dari satu daerah ke
daerah lain. (Indikator Ekonomi)
Seperti dilakukan banyak negara di dunia, pemerintah
mengundang investor guna berpartisipasi menanamkan modalnya di
sektor-sektor infrastruktur, seperti jalan tol, sumber energi listrik,
sumber daya air, pelabuhan, dan lain-lain. Partisipasi tersebut dapat
berupa pembiayaan dalam mata uang rupiah atau mata uang asing.
Melihat perkembangan makro-ekonomi saat ini, terutama
31
memperhatikan kecenderungan penurunan tingkat bunga, untuk saat ini
pembiayaan rupiah masih merupakan alternatif yang lebih baik.
Pembangunan kembali infrastruktur tampaknya menjadi satu
alternatif pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah dalam rangka
menanggulangi krisis. Pembangunan infrastruktur akan menyerap
banyak tenaga kerja yang selanjutnya akan berpengaruh pada
meningkatnya gairah ekonomi masyarakat. Dengan infrastruktur yang
memadai, efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan makin besar dan
investasi yang didapat semakin meningkat .














32
2.4. Hipotesis
1. Diduga PDB berpengaruh positif terhadap terhadap PMDN di
Indonesia.
2. Diduga Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap PMDN di
Indonesia.
3. Diduga Infrastruktur berpengaruh positif terhadap PMDN di
Indonesia.
4. Diduga dummy variabel krisis ekonomi berpengaruh negatif
terhadap terhadap PMDN di Indonesia.
5. Diduga secara bersama - sama PDB, Tenaga Kerja dan
Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh
secara bersama-sama terhadap terhadap PMDN di Indonesia.












33
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian
3.1.1 Jenis dan Sumber Data
Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian
data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan teori-teori dari
buku-buku bacaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Data-
data tersebut dikeluarkan oleh Bank Indonesia (Statistik Keungan Ekonomi
Indonesia) dan BPS. Data yang digunakan bersifat tahunan dan meliputi
kurun waktu 1985-2004.
3.1.2. Definisi Variabel.
a. Investasi.
Seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang modal dan
pembelanjaan untuk mendirikan industri-industri. Investasi dilakukan
dengan motif memperoleh keuntungan bersih dari investasi tersebut.
Data Investasi yang dipilih yaitu PMDN tahun 1985 – 2004.
b. Produk Domestik Bruto Riil.
Produk domestik bruto adalah nilai output akhir barang dan jasa
pada pada tahun tertentu dan menggunakan tahun dasar 2000. Produk
domestik bruto sering digunakan sebagai indikator ekonomi mengenai
taraf hidup dan tingkat kemajuan pembangunan suatu Negara. Data
operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang
34
dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan perhitungan tahunan
dan dinyatakan dalam bentuk Juta Rupiah.
c. Tenaga Kerja.
Merupakan perbandingan angkatan kerja dengan populasi orang
dewasa. Angkatan kerja adalah jumlah dari orang yang bekerja dan
orang yang menganggur. Populasi dewasa adalah jumlah penduduk
yang termasuk kriteria angkatan kerja dan penduduk di luar definisi
angkatan kerja seperti pelajar dan pensiunan.
d. Infrastruktur
Infrastruktur yang digunakan adalah Jumlah Panjang jalan yang
merupakan prasarana pengangkut darat yang penting untuk
mempelancar kegiatan perekonomian, tersedianya jalan yang
berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan Khususnya dalam
upaya memudahkan mobilitas penduduk dan mempelancar lalu lintas
barang dari satu daerah ke daerah lain.
e. Krisis Ekonomi (Variabel Dummy).
Variabel Dummy yang digunakan adalah kondisi krisis ekonomi,
dimana sebelum tahun 1998 adalah kondisi sebelum krisis ekonomi dan
sesudah tahun 1998 adalah sesudah krisis ekonomi.




35
3.2. Metode Analisis Data
3.2.1. Metode Regresi Kuadrat Terkecil.
Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat
Terkecil/OLS (ordinary least square), dengan fungsi Investasi = f (PDB,
Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi),
maka persamaan regresi liniernya adalah :
Y = µ
0
+ µ
1
X
1
+ µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ Dm

X
4
+ e

Keterangan:
Y = Penanaman Modal Dalam Negeri (Miliar Rp)
X
1
= PDB atas dasar harga konstan 2000 (Miliar Rp).
X
2
= Tenaga Kerja (Ribu Jiwa).
X
3
= Infrastruktur (Km)
Dm = Variabel Dummy (krisis Ekonomi)
0 = Sebelum krisis ekonomi
1 = Sesudah krisis ekonomi
µ
0
= Konstanta regresi
µ
1
, µ
2
, µ
3
= Koefisien regresi
Dm = Variabel Dummy (krisis Ekonomi)
e

= Kesalahan pengganggu



36
3.2.2. Pemilihan Model Regresi.
Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon, White and
Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang
akan di gunakan berbentuk linier atau log linier.
Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier
adalah sebagai berikut :
• Linier Y = µ
o
+ µ
1
X
1
+ µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ Dm X
4
+e
• Log Linier lnY = α
o
+ α
1
X
1
lnX
1
+ α
2
lnX
2
+ α
3
lnX
3
+ Dm lnX
4
+e
Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa
Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier)
H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier)
Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut :
1. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan
selanjutnya dinamai F
1
.
2. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya, dan
selanjutnya dinamai F
2
.
3. Dapatkan nilai Z
1
= ln F
1
-F
2
dan Z
2
= antilog F
2
-F
1

4. Estimasi persamaan berikut ini :
Y = µ
o
+ µ
1
X
1
+ µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ Dm X
4
+e

Jika Z
1
signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis
nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan
sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis nul dan
model yang tepat digunakan adalah model linier
37
5. Estimasi persamaan berikut :
Y = α
0
+ α
1
ln

x
1
+ α
2
lnx
2
+ α3 lnx
3
+ Dm lnx
4

5
z
2
+ e
Jika Z
2
signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak hipotesis
alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier
dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif
dan model yang tepat untuk digunakan adalah model linier. (Agus
Widarjono, 2005).

3.2.2. Uji Statistik
Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan
beberapa pengujian : (Gujarati, 2003)
a. Uji t Statistik
Uji t statistik melihat hubungan atau pengaruh antara variabel
independen secara individual terhadap variabel dependen.
1. Hipotesis yang digunakan :
a. Jika Hipotesis positif
Ho : µi _ 0
Ha : µi > 0
b. Jika Hipotesis negatif
Ho : µi _ 0
Ha : µi < 0


38
2. Pengujian satu sisi
Jika T tabel _ t hitung, Ho diterima berarti variabel
independen secara individual tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependen.
Jika T tabel < t hitung, Ho ditolak berarti variabel
independen secara individu berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
b. Uji F statistik
Pengujian ini kan memperlihatkan hubungan atau pengaruh
antara variabel independen secara bersama-sama terhadap
variabel dependen, yaitu dengan cara sebagai berikut :
Ho : µi = 0, maka variabel independen secara bersama-sama
tidak mempengaruhi variabel independen.
Ha : µi 0, maka variabel independen secara bersama-sama
mempengaruhi variabel dependen.
Hasil pengujian adalah :
Ho diterima ( tidak signifikan ) jika F hitung < F tabel
df = (n1 = k-1), ( n2 = n – k)
Ho ditolak ( signifikan ) jika F hitung > F tabel
df = (n1 = k-1), ( n2 = n – k)
Dimana : K : Jumlah variabel
N : Jumlah pengamatan

39
c. Koefisien Determinasi (R
2
)


R
2
menjelaskan seberapa besar persentasi total variasi variabel
dependen yang dijelaskan oleh model, semakin besar R
2
semakin besar pengaruh model dalam menjelaskan variabel
dependen.
Nilai R
2
berkisar antara 0 sampai 1, suatu R
2
sebesar 1 berarti
ada kecocokan sempurna, sedangkan yang bernilai 0 berarti
tidak ada hubungan antara variabel tak bebas dengan variabel
yang menjelaskan.

3.3. Pengujian asumsi klasik
Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah model yang diteliti
akan mengalami penyimpangan asumsi klasik atau tidak, maka pengadaan
pemeriksaan terhadap penyimpangan asumsi klasik tersebut harus
dilakukan:
a. Autokorelasi
Adalah keadaan dimana faktor-faktor pengganggu yang satu
dengan yang lain saling berhubungan, pengujian terhadap
gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin-
Watson (DW), yaitu dengan cara membandingkan antara DW
statistik ( d ) dengan d
L
dan d
U
, jika DW statistik berada
diantara d
U
dan 4- d
U
maka tidak ada autokorelasi.

40
Gambar 3.1
Daerah Autokorelasi
Kriteria Pengambilan Keputusan :
auto-
korelasi
positif



Daerah
keragu-raguan
Tidak ada
autokorelasi
Daerah
keragu-raguan
auto-
korelasi
negatif



Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dengan
jelas dalam gambar 3.1 berikut ini :
Tabel 3.1 Uji Statistik Durbin-Watson
Nilai Statistik Hasil

0<d<dl Menolak hipotesis nul; ada autokorelasi positif
dl≤d≤du Daerah keragu-raguan; tidak ada keputusan
du≤d≤4-du Menerima hipotesis nul; tidak ada autokorelasi
positif/negatif
4-du≤d≤4-dl Daerah keragu-raguan; tidak ada keputusan
4-dl≤d≤4 Menolak hipotesis nul; ada autokorelasi negatif


Agus Widarjono, 2005)
Atau dengan cara lain untuk mendeteksi adanya autokorelasi
dalam model bisa dilakukan menggunakan uji LM atau
Lagrange Multiplier. Salah satu cara untuk menghilangkan
pengaruh autokorelasi tersebut adalah dengan memasukkan
lag variabel dependen kedalam model regresi. Misalnya pada
model regresi :
Y = a + b
1
X
1
+ b
2
X
2
+b
3
X
3
+ DmX
4
+e
4 4-dl du 0 4-du dl
41
yang diyakini terdapat autokorelasi, untuk menghilangkan
pengaruh autokorelasi dalam model regresi tersebut dapat
dilakukan dengan memasukkan lag variabel dependen (Y) ke
dalam model sehingga model regresi tersebut menjadi:
Y = a + b
1
X
1
+ b
2
X
2
+ b
3
X
3
+ DmX
4
+b
5
Y
(t-1)
(Gujarati , 2003)

b. Multikolinearitas
Adalah hubungan yang terjadi diantara variabel-variabel
independen, pengujian terhadap gejala multikolinearitas
dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien
determinasi parsial, (r
2
) dengan koefisien determinasi
majemuk (R
2
) regreasi awal atau yang disebut dengan
metode Klein rule of Thumbs. Jika r
2
< R
2
maka tidak ada
multikolineraitas.
( Gujarati, 2003).

c. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan
tidak memiliki varian yang sama. Pengujian terhadap gejala
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan
White Test, yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat (
Ui
2
) dengan variabel bebas, variabel bebas kuadrat dan
perkalian variabel bebas. Dapatkan nilai R
2
untuk
42
menghitung ¿2, di mana ¿2 = Obs*R square (Gujarati,
2003).
Uji White Test
Uji Hipotesis untuk menentukan ada tidaknya
heterokedastisitas.
· Ho : p
1
= p
2
= ....= p
q
= 0 , Tidak ada heterokedastisitas
· Ha : p
1
= p
2
=....= p
q
= 0 , Ada heterokedastisitas
Perbandingan antara Obs*R square ( ¿2
–hitung
)dengan ¿2

tabel
, yang menunjukkan bahwa Obs*R square ( ¿2
-hitung
)<
¿2
–tabel
, berarti Ho tidak dapat ditolak. Dari hasil uji White
Test tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada
heterokedastisitas. Sedangkan jika nilai Obs*R square ( ¿2
-hitung
) > ¿2
–tabel
, berarti Ho dapat ditolak. Dari hasil uji
White Test tersebut dapat disimpulkan bahwa ada
heterokedastisitas








43
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Hasil Regresi dan Pengujian Hipotesis
4.1.1. Pemilihan Model Regresi
Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon, White
and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model
yang akan di gunakan berbentuk linier atau log linier.
Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log
linier adalah sebagai berikut :
• Linier Y = µ
o
+ µ
1
X
1
+ µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ µ
4
X
4
+ e
• Log Linier lnY = α
o
+ α
1
X
1
lnX
1
+ α
2
lnX
2
+ α
3
lnX
3

4
lnX
4
+ e
Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa
Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier)
H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log
linier)
Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut :
6. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value)
dan selanjutnya dinamai F
1
.
7. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya, dan
selanjutnya dinamai F
2
.
8. Dapatkan nilai Z
1
= ln F
1
-F
2
dan Z
2
= antilog F
2
-F
1


44
9. Estimasi persamaan berikut ini :
Y = µ
o
+ µ
1
X
1
+ µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ µ
4
X
4

5
Z
1 +
e

Jika Z
1
signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak
hipotesis nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log
linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis
nul dan model yang tepat digunakan adalah model linier
10. Estimasi persamaan berikut :
Y = α
0
+ α
1
ln

x
1
+ α
2
lnx
2
+ α
3
lnx
3

4
lnx
4
+ α
4
z
2
+ e
Jika Z
2
signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak
hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model
log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima
hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model
linier.
Adapun aplikasi metode MWD dalam kasus regresi Faktor –
Faktor yang mempengaruhi Investasi di Indonesia periode 1985 sampai
dengan 2004 dimana Pendapatan Domestik Bruto, Tenaga Kerja,
Infrastruktur dan variabel dummy yang digunakan adalah kondisi sebelum
dan sesudah krisis moneter merupakan varabel independen, sehingga kita
mempunyai persamaan sebagai berikut :
• Linier Y = µ
o
+ µ
1
X1 + µ
2
X
2
+ µ
3
X
3
+ µ
4
X
4
+ e
• Log Linier lnY = α
o
+ α
1
X
1
lnX
1
+ α
2
lnX
2
+ α
3
lnX
3

4
lnX
4
+ e
Y = PMDN ; X1 = PDB ; X2 = Jumlah tenaga kerja, X3 = Infrastruktur ;
45
X4 = Variabel Dummy; dan e adalah residual masing-masing model
regresi.
Hasil estimasi masing-masing model adalah sebagai berikut:
o Hasil regresi linier
\ ~ -2¯¯392,1 - 0,000896 X
1
- 0,005034 X
2
- 0,20864¯ X
3
- 52488,36 X
4

t-hitung ~ ,-2,985969, ,-0,302583, ,0,005034, ,-0,651216, ,-3,160962,
R
2
~ 0,633166

o Hasil regresi log-linier
\ ~-146,0944 - 0.21928¯ lnX1 - 6,223639 lnX2 - 3,18922¯ lnX3 - 1,11¯303 lnX4
t-hitung ~ ,-3,881384, ,0.91244¯, ,2,050543, ,1,523555, ,-3.339502,
R
2
= 0,826622

Untuk memutuskan bentuk model dengan metode MWD kita
harus menjalankan langkah nomor 1 sampai 3. Adapun langkah ke 4
metode MWD yakni melakukan regresi sebagaimana persamaan yang
terdapat pada prosedur di atas yang menghasilkan informasi persamaan
regresi sebagai berikut :
Y = -202521.9 - 0.002119 X
1
+ 0,005658 X
2
- 0,572414 X
3
- 47774.72 X
4

- 47905.49 Z
1

t-hitung ~ ,-0.¯59155, ,-0.400339, ,3.0251¯5, ,-0.¯19930, ,-1.¯¯9952,
,-0.63498¯,
Prob ~ ,0,4613, ,0,6954, ,0,0098, ,0,4843, ,0,0985, ,0,5365,
R
2
~ 0,630829
46
Nilai Probabilitas koefisien Z
1
pada persamaan diatas adalah
0,5365. Dengan demikian variabel Z
1
tidak signifikan secara statistik.
Sehingga hipotesis nul yang menyatakan bahwa model fungsi regresi
yang benar adalah bentuk linear diterima. Sedangkan hasil regresi pada
langkah 5 mempunyai persamaan sebagai berikut:
lnY = - 140,1949 + 0,225839 lnX
1
+ 5,671004lnX
2
+ 3,508275 lnX
3

- 1,084480lnX
4
- 7,86E-06Z
2

t-hitung ~ ,-3,496469, ,0,916044, ,1,¯314¯1, ,1,5¯6511, ,-3,114612, ,-0,53¯545,
Prob ~ ,0,0036, ,0,3¯52, ,0,1053, ,0,13¯2, ,0,00¯6, ,0,5993,
R
2
~ 0,830128
Nilai Probabilitas koefisien Z
2
pada persamaan diatas adalah
0,5993. Dengan demikian variabel Z
2
tidak signifikan secara statistik.
Sehingga hipotesis nul yang menyatakan bahwa model fungsi regresi
yang benar adalah bentuk log linear diterima. Hasil kedua regresi
menunjukan bahwa model fungsi linier maupun log linear bisa digunakan
untuk menjelaskan tentang Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Investasi
Di Indonesia.
Hasil estimasi dari uji MWD dapat dilihat dibawah ini:
Tabel 4.1
Hasil Uji MWD
Variabel Nilai Statistik t Nilai Tabel t α (=5%) Probabilitas
Z1 -0.634987 1,812 0.5365
Z2 -0.875739 1,812 0.3950
Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran)


47
4.1.2. Hasil Regresi
Analisis hasil regresi ini menggunakan alat bantu yaitu program
komputer Eviews. Hasil regresi log linier berganda yang di dapat adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.2
Hasil Regresi Loglinear
Dependent Variable: LOG(Y)
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 10:44
Sample: 1985 2004
Included observations: 20
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
LOG(X1) 0.219287 0.240329 0.912447 0.3760
LOG(X2) 6.223639 3.035118 2.050543 0.0582
LOG(X3) 3.189227 2.093280 1.523555 0.1484
DM -1.117303 0.334572 -3.339502 0.0045
C -146.0944 37.63977 -3.881384 0.0015
R-squared 0.826622 Mean dependent var 10.45224
Adjusted R-squared 0.780388 S.D. dependent var 0.950961
S.E. of regression 0.445647 Akaike info criterion 1.433737
Sum squared resid 2.979014 Schwarz criterion 1.682670
Log likelihood -9.337372 F-statistic 17.87907
Durbin-Watson stat 1.329218 Prob(F-statistic) 0.000014

4.1.3. Koefisien Determinasi (R
2
)
Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur proporsi atau
prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan
oleh model regresi. R
2
dalam regresi sebesar 0.826622. Ini berarti variabel
Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia dapat dijelaskan oleh PDB,
Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi
sebesar 82.66 persen sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

48
4.1.4. Pengujian t-Statistik
Uji t-statistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara
masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
Pengujian t-statistik dilakukan dengan cara membandingkan antara t-
hitung dengan t-tabel. (Gujarati, 2003)
t-tabel = { u ; df ( n-k ) }
t-hitung =
) (bi Se
bi
=
Keterangan :
u = Level of significance, atau probabilitas menolak hipotesis yang
benar.
n = Jumlah sampel yang diteliti.
K = Jumlah variabel independen termasuk konstanta.
Se = Standar error.
Uji t-statistik yang dilakukan menggunakan uji satu sisi (one tail
test), dengan u = 5 %.
Jika t-tabel < t-hitung berarti Ho ditolak atau variabel Xi
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, tetapi jika t-tabel _ t-
hitung berarti Ho diterima atau variabel Xi tidak berpengaruh terhadap
variabel dependen.



49
Tabel 4.3
Hasil Uji T-Statistik

Variabel Koefisien t-hitung t-tabel Keterangan
X1
0.219287 0.912447
1,753 Tidak signifikan
X2
6.223639 2.050543
1,753 Signifikan
X3
3.189227 1.523555
1,753 Tidak Signifikan
Dm
-1.117303 -3.339502
1,753 Signifikan
Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran)



1. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel PDB riil (µ
1
)
Hipotesis pengaruh variabel PDB riil terhadap variabel
Penanaman Modal Dalam Negeri Di Indonesia yang digunakan adalah :

Ho : µ
1
< 0 , berarti variabel PDB riil tidak berpengaruh terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.
Ha : µ
1
> 0, berarti variabel PDB riil berpengaruh positip terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X
1
= 0.912447
sedangkan t-tabel = 1,753 ( df ( n-k ) 20-5 = 15 , = 0,05 ), sehingga
t-hitung > t-tabel
(0.912447 < 1.753). Perbandingan antara t-hitung dengan t-tabel, yang
menunjukkan bahwa t-hitung < t-tabel, Ho diterima sehingga dapat
50
disimpulkan bahwa variabel PDB riil positif dan tidak signifikan terhadap
Penanaman Modal Dalam Negeri.

Gambar 4.1
Kurva Uji t Parameter Variabel Produk domestic Bruto









2. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel Tenaga Kerja (µ
2
)
Hipotesis pengaruh variabel Tenaga Kerja terhadap variabel
Penanaman Modal Dalam Negri Di Indonesia yang digunakan adalah :
Ho : µ
1
< 0 , berarti variabel Tenaga Kerja tidak berpengaruh terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri..
Ha : µ
1
> 0, berarti variabel Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri..

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X
2
= 2.050543
sedangkan t-tabel = 1,753 ( df ( n-k ) 20-5 = 15 , = 0,05 ), sehingga t-
hitung > t-tabel (2.050543 > 1,753 ). Perbandingan antara t-hitung dengan
t-tabel, yang menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel, Ho ditolak sehingga
1,753
Daerah
Ho ditolak
Daerah
Ho diterima
0.912447
51
dapat disimpulkan bahwa variabel Tenaga Kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.

Gambar 4.2
Kurva Uji t Parameter Variabel Tenaga Kerja






3. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel Infrastruktur (µ
3
)
Hipotesis pengaruh variabel inflasi terhadap variabel Penanaman
Modal Dalam Negri Di Indonesia yang digunakan adalah :
Ho : µ
3
< 0 , berarti variabel Infrastruktur tidak berpengaruh terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.
Ha : µ
3
> 0, berarti variabel Infrastruktur berpengaruh positif terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X
3
= 1.523555
sedangkan t-tabel = 1,753 ( df ( n-k ) = 15 , = 0,05 ), sehingga t-hitung
< t-tabel (1.523555 < 1,753 ). Perbandingan antara t-hitung dengan t-
tabel, yang menunjukkan bahwa t-hitung < t-tabel, Ho diterima sehingga
1,753
2.050543
Daerah
Ho ditolak
Daerah
Ho diterima
52
dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur positif dan tidak
signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.

Gambar 4.3
Kurva Uji t variabel Infrastruktur








4. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel dummy krisis ekonomi (Dm)
Hipotesis pengaruh variabel dummy krisis ekonomi terhadap
variabel Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia yang digunakan
adalah :
Ho : µ
4
_ 0 , berarti variabel dummy krisis ekonomi tidak berpengaruh
terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.
Ha : µ
4
< 0, berarti variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh negatif
terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.
Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X
4
= -3.339502
sedangkan t-tabel = -1,753 ( df ( n-k ) = 15 , = 0,05 ), sehingga t-
hitung > t-tabel
Daerah
Ho ditolak

1,753

Daerah
Ho diterima
1.523555
53
(-3.339502 > -1,753 ). Perbandingan antara t-hitung dengan t-tabel, yang
menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel, Ho ditolak sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.

Gambar 4.4
Kurva Uji t Parameter Variabel Dummy







4.1.5. Pengujian F-Statistik
Uji F-statistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara
variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
Pengujian F-statistik ini dilakukan dengan cara membandingkan antara
F-hitung dengan F-tabel. (Damodar Gujarati, 2003)
F-hitung =
) /( ) 1 (
) /(
2
2
k n R
I k R
− −


F-tabel = ( : k-1, n-k ) = 5 %, ( 5-1= 4 ; 20-5 =15 )
Jika F-tabel < F-hitung berarti Ho ditolak atau variabel
independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
Daerah
Ho diterima
- 1,753
- 3.339502
54
variabel independen, tetapi jika F-tabel _ F-hitung berarti Ho diterima
atau variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh
signifikan terhadap variabel dependen.
Hipotesis yang digunakan adalah :

· Ho : µ
1
= µ
2
= µ
3
= 0, berarti variabel independen secara
keseluruhan tidak berpengaruh terhadap variabel independen.
· Ha : µ
1
= µ
2
= µ
3
= 0, berarti variabel independen secara
keseluruhan berpengaruh terhadap variabel independen.

Hasil perhitungan yang didapat adalah F-hitung = 17.87907
sedangkan F-tabel = 3,06 (u = 0,05 ; 4 ; 15), sehingga F-hitung > F-
tabel (17.87907 > 3,06). Perbandingan antara F-hitung dengan F-tabel
yang menunjukkan bahwa F-hitung > F-tabel, menandakan bahwa
variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen, sehingga bahwa variabel PDB riil (X1),
Tenaga Kerja (X2) dan Infrastruktur (X3) serta variabel dummy krisis
ekonomi (Dm) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia.

4.2. Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik ini meliputi 3 macam pengujian, yaitu
pengujian multikolinieritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas.
55
4.2.1. Multikolinieritas.
Multikolinieritas adalah hubungan yang terjadi diantara variabel-
variabel independen atau variabel independen yang satu fungsi dari
variabel independen yang lain.
Pengujian terhadap gejala multikolinieritas dapat dilakukan
dengan membandingkan koefisien determinasi parsial (r
2
) dengan
koefisien determinasi majemuk (R
2
), jika r
2
lebih kecil dari R
2
maka
tidak ada multikolinieritas.

Tabel 4.4
Hasil Pengujian Mulitkolinearitas


LOG(Y) LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM
LOG(Y)
1.000000 0.899125 -0.590526 0.175954 0.727249
LOG(X1)
0.899125 1.000000 -0.563601 0.054222 0.617674
LOG(X2)
-0.590526 -0.563601 1.000000 0.308542 -0.127670
LOG(X3)
0.175954 0.054222 0.308542 1.000000 0.250008
DM
0.727249 0.617674 -0.127670 0.250008 1.000000
Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran)


Dari uji miltikolinearitas tersebut diatas menunjukkan bahwa
apabila hasilnya < 0.85 yang berarti bahwa volume impor tidak terdapat
adanya penyakit asumsi klasik (multikolinearitas).
Meskipun ada 1 (Log X1) variabel yang terkena
multikolinieritas, hasil regresi Log Linier pada penelitian ini masih
termasukkategori BLUE (Best Linier Unbiase Estimation) karena
untukmemperoleh estimator yang BLUE tidak mensyaratkan asumsi
56
tidak adanya korelasi antar variabel independen (Agus Widarjono,
2005: 139)

4.2.2. Autokorelasi.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi digunakan uji
serial correlation LM test dengan menggunakan lag 1 yang hasilnya
dapat dilihat pada tampilan dibawah ini.
Dari uji autokorelasi tersebut diatas menunjukan bahwa
ditemukan nilai X²-hitung = 3.019884< X²-tabel = 3.84146 dengan df =
1 dan u = 0.05, dengan demikian hasil uji dengan menggunakan uji
serial correlation LM test tidak terdapat adanya penyakit asumsi klasik
(autokorelasi)

Tabel 4.5
Uji LM

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 2.326546
Probability
0.158167
Obs*R-squared 3.019884
Probability
0.082249

4.2.3. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan
tidak memiliki varian yang sama. Pengujian terhadap gejala
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan White Test, yaitu
dengan cara meregresi residual kuadrat ( Ui
2
) dengan variabel bebas,
57
variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebas. Dapatkan nilai R
2

untuk menghitung ¿2, di mana ¿2 = Obs*R square ( Gujarati, 2003 ).
Uji White Test

Uji Hipotesis untuk menetukan ada tidaknya heterokedastisitas.
· Ho : p
1
= p
2
= ....= p
q
= 0 , Tidak ada heterokedastisitas
· Ha : p
1
= p
2
=....= p
q
= 0 , Ada heterokedastisitas

Hasil perhitungan yang didapat adalah Obs*R square ( ¿2
-hitung
)
= 6.084865 sedangkan ¿2
-tabel
= 14.0671 ( df = 7 , = 0,05 ), sehingga
¿2
-hitung
< ¿2
–tabel
(6.084865 < 14.0671). Perbandingan antara ¿2
-hitung

dengan ¿2
–tabel
, yang menunjukkan bahwa ¿2
-hitung
< ¿2
–tabel
, berarti Ho
tidak dapat ditolak. Dari hasil uji White Test tersebut dapat disimpulkan
bahwa tidak ada heterokedastisitas

Tabel 4.6
Hasil Uji White Test

White Heteroskedasticity Test:
F-statistic 0.947448 Probability 0.495214
Obs*R-squared 6.084865 Probability 0.413751



58
4.3. Interpretasi Ekonomi
4.3.1. Produk Domestik Bruto (PDB riil)
Hasil regresi yang di dapat bahwa Produk Domestik Bruto
(PDB) riil tidak berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) di Indonesia. Hal tersebut disababkan kondisi sosial
politik dan keamanan Indonesia yang belum stabil pasca krisis
moneter yang melanda Indonesia mulai awal tahun 1997. kondisi
tersebut menyebabkan investor enggan untuk berinvestasi mereka
lebih memulih untuk berinvestasi dalam bentuk deposito apalagi
pada pada tahun 1997 tingkat suku bunga deposito di indonesia
mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Hal tersebut bias dilihat
dari tahun sebelum terjadinya krisis yaitu sebesar rata-rata 12% per
tahun meningkat menjadi 44% pada tahun 1997.
4.3.2. Jumlah Tenaga Kerja
Hasil regresi yang di dapat bahwa jumlah tenaga kerja (JTK)
berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di
Indonesia. Itu berarti kenaikan tenaga kerja akan menaikkan
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia, begitu juga
sebaliknya.
Hasil regresi menunjukkan nilai koefisien TK adalah
6,223639. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1% tenaga
kerja, variabel lain tidak berubah (ceteris paribus) mengakibatkan
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia naik sebesar
59
6,223639 %. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam
penelitian ini, dimana tenaga kerja dan Penanaman Modal Dalam
Negeri mempunyai pengaruh positif. Jadi adanya kenaikan jumlah
tenaga kerja akan berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) di Indonesia. Tenaga kerja merupakan salah satu
faktor penting dalam berproduksi. Adanya peningkatan jumlah
tenaga kerja akan meningkatkan kapasitas produksi. Oleh karena itu
hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja
dengan mengembangkan sistem keterpaduan antara dunia
pendidikan, pelatihan keterampilan yang sepadan dengan kebutuhan
pasar tenaga kerja, perkembangan pembangunan dan teknologi.
4.3.3. Infrastruktur
Hasil regresi yang di dapat bahwa Infrastruktur tidak
berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di
Indonesia. Hal tersebut juga disebabkan karena faktor sosial politik
dan keamanan di indonesia yang tidak kondusif pasca krisis
moneter, dan juga dapat dilihat dari segi kondisi kualitas jalan yang
masih belum memadai.
4.3.4. Variabel Dummy (Krisis Ekonomi)
Hasil regresi yang di dapat bahwa krisis ekonomi (dm)
berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia.
Hal ini sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini,
dimana krisis ekonomi dan penanaman modal dalam negeri
60
mempunyai pengaruh negatif. Jadi adanya krisis ekonomi akan
berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia.
Krisis ekonomi yang terjadi pertengahan 97 dan puncaknya
pada tahun 1998 telah memberikan pengaruh yang luas kepada
perekonomian. Dampak krisis ekonomi terhadap perekonomian
ditandai dengan pertumbuhan yang negatif, tingginya tingkat inflasi
dan tingginya tingkat pengganguran serta berpengaruh negatif
terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Adanya
krisis ekonomi tersebut menciptakan adanya kelesuan usaha.
Sehingga para investor enggan untuyk berinvestasi hal tersebut
dikarenakan ketakutan para investor akan kondisi stabilitas politik
dan keamanan indonesia yang masih belum stabil yang di akibatkan
oleh krisis ekonomi yang melanda indonesia.










61
BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI



5.1. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan
mengenai penanaman modal dalam negeri maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:

1. Produk domestik bruto, Jumlah Tenaga Kerja, Infrastruktur dan
variable dummy secara serempak mempunyai pengaruh terhadap
penanaman modal dalam negeri di Indonesia.
2. Hasil pengujian secara individual terhadap faktor - faktor yang
mempengaruhi Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia
dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PDB tidak berpengaruh
terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Hal
tesebut di sebabkan oleh kondisi sosial politik dan keamanan
Indonesia yang belum stabil paska krisis monener yang
melanda Indonesia pada tahun 1997.
b. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja
berpengaruh terhadap terhadap Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) di Indonesia. Jadi adanya kenaikan jumlah
tenaga kerja akan berpengaruh terhadap Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Tenaga kerja
62
merupakan salah satu faktor penting dalam berproduksi.
Adanya peningkatan jumlah tenaga kerja akan meningkatkan
kapasitas produksi. Oleh karena itu hal yang harus dilakukan
adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja dengan
mengembangkan sistem keterpaduan antara dunia
pendidikan, pelatihan keterampilan yang sepadan dengan
kebutuhan pasar tenaga kerja, perkembangan pembangunan
dan teknologi.
c. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Infrastruktur (Jumlah
Panjang Jalan) tidak berpengaruh terhadap penanaman
modal dalam negeri di Indonesia. Hal tesebut di sebabkan
oleh kondisi sosial politik dan keamanan Indonesia yang
tidak kondusif paska krisis moneter yang melanda Indonesia
pada tahun 1997 dan juga kondisi kualitas jalan yang kurang
memadai.
d. Hasil pengujian menunjukkan bahwa krisis ekonomi (Dm)
mempunyai pengaruh negatif terhadap terhadap Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Jadi adanya
krisis ekonomi akan berpengaruh terhadap Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia.



63
5.2. Implikasi
Kesimpulan hasil penelitian diatas memberi implikasi sebagai berikut
1. Sebagai indikator tingkat pertumbuhan ekonomi. PDB tetap perlu
ditingkatkan untuk meningkatkan penanaman Modal Dalam
Negeri dalam tingkat yang wajar karena dengan laju Penanaman
Modal Dalam Negeri yang wajar, sektor riil akan tetap bergairah
dan memberikan peluang-peluang peningkatan mutu kesejartaan
masyarakat, dan perlu di perhatikan juga dari tingkat sosial politik
dan keamanan di Indonesia yang belum stabil yang
mengakibatkan para investor dalam negeri berpikir dua kali untuk
menanamkan investasinya di indonesia.
2. Jumlah Tenaga kerja berpengaruh terhadap Penanaman Modal
Dalam Negeri di Indonesia. Hal ini dikarenakan Tenaga keja
merupakan salah satu faktor yang penting dalam sebuah produksi.
Peningkatan kualitas tenaga kerja akan meningkatkan daya saing
dalam meningkatkan kapasitas produksi. Oleh karena itu
sebaiknya pemerintah menyediakan pengembangan sistem terpadu
seperti dunia pendidikan, pelatihan keterampilan yang sepadan
dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
3. Infrastruktur tidak berpengaruh terhadapa Penanaman Modal
Dalam Negeri di Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh kondisi dari
kualitas jalan itu sendiri yang kurang memadai. Sebagai prasarana
transportasi yang penting untuk mempelancar kegiatan
perekonomian, tersedianya jalan yang berkualitas akan
64
meningkatkan usaha pembangunan khususnya dalam upaya
memudahkan lalulintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Di
sini sebaiknya pembangunan kembali Infrastruktur sangat penting
bagi Penanaman Modal Dalam Negeri. Dengan Infrastruktur yang
memadai, efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan semakin
besar dan investasi yang didapat semakin meningkat.
4. Untuk mengendalikan laju Penanaman Modal Dalam Negeri,
pemerintah harus memperkuat struktur perekonomiannya sehingga
tidak rentan terhadap goncangan. Selain itu pemerintah juga harus
meningkatkan kestabilan sosial politik dan keamanan karena laju
inflasi sangat rentan terhadap hal ini.













65

DAFTAR PUSTAKA




Andriani, Gita, Model Kredit Investasi Pada Sektor Industri Oleh Bank-bank
Pemerintah Tahun 19981-1997,Skripsi,Fakultas Ekonomi, Universitas
Islam Indonesia, 2001

Arief, Sritua, Metodologi Penelitian Ekonomi, Jakarta : UI PRESS, 1993.

Badan Pusat Statistik, Indikator Ekonomi Indonesia, Berbagai edisi, 1984-2005.

, , Statistik Ekonomi Indonesia, Berbagai edisi, 1984-2005.

BI, Statistik Keuangan Indonesia,Berbagai Edisi, 1984-2006.

Gujarati, Damodar,Ekonometrika Dasar, Terjemahan, Cetakan Ketiga, Erlangga
Jakarta,1993

Hakim, Abdul, Ekonomi Pembangunan, UII Press, Yogyakarta, 2001.

Jati ,Kuntjoro , Ekonomi Politik di Asia Pasifik, Jakarta, Erlangga,1995

Jogiyanto, Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi ketiga.
Yogyakarta : BPFE UGM, 2003.

Prawatyo Aditya,Factor-faktor yang Mempengaruhi Investasi Swasta di
Indonesia,Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia,1996

Rahardjo, Dawam, “Tren Ekonomi 2000 Antara Optimisme dan Pesimisme”,
Bernas, 31 oktober 2000.

Sagi, Soeharto, Ekonomi Indonesia, Gagasan, Pemikiran dan Polemik,
IQRA,Bandung,1982

Sumarno, Heri, Manajemen Pemasaran Internasional, Jakarta, Salemba
Empat,2000.

Widarjono,Agus, Ekonometrika, edisi 2, Ekonisia, yogyakarta, 2005

66



















67

Lampiran 1 : Data Penelitian

TAHUN Y X1 X2 X3 X4
1985 3830.3 660496.5 62.457.138 207.363 0
1986 4126 742061.4 68.338.187 224.211 0
1987 11404 777416.2 70.402.443 227.344 0
1988 15681 824234.8 72.816.834 254.934 0
1989 21907 886405.2 73.908.204 271.176 0
1990 59878.4 949837.8 75.850.580 288.727 0
1991 41084.8 1015854 76.423.179 319.370 0
1992 29341.7 1081472 78.518.372 325.441 0
1993 39450.4 1151729 79.200.542 344.892 0
1994 53289.1 1238569 80.110.060 356.878 0
1995 69853 1340379 85.701.813 327.227 0
1996 100715 1445173 87.049.756 336.377 0
1997 119873 1513094 87.672.449 341.467 0
1998 60749.3 1314474 88.816.859 355.363 1
1999 53550 1324873 89.837.730 355.951 1
2000 93327.7 1389770 90.807.417 355.951 1
2001 58816 1442985 91.647.166 361.782 1
2002 25307.6 1506124 90.784.917 368.362 1
2003 50092.1 1579559 93.722.036 370.516 1
2004 34140.4 1660579 94.948.118 372.929 1
Sumber : Badan Pusat Statistik
Dimana :
Y = Penanaman Modal Dalam Negeri (Miliar Rp)
X1 = Produk Domestik Bruto (Miliar Rp)
X2 = Jumlah Tenaga Kerja (Ribu Jiwa)
X3 = Infrastuktur (Jumlah Panjang Jalan) (Km)
X4 = Variabel Dummy
X4 = 0 ( Sebelum Krisis Ekonomi)
X4 = 1 ( Sesudah Krisis Ekonomi)
68


Lampiran 2 : Uji MWD linier
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 10:56
Sample(adjusted): 1986 2004
Included observations: 19 after adjusting endpoints
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -202521.9 266772.8 -0.759155 0.4613
X1 -0.002119 0.005292 -0.400339 0.6954
X2 0.005658 0.001870 3.025175 0.0098
X3 -0.572414 0.795098 -0.719930 0.4843
DM -47774.72 26840.45 -1.779952 0.0985
Z1 -47905.49 75443.32 -0.634987 0.5365
R-squared 0.630829 Mean dependent var 49609.82
Adjusted R-squared 0.488841 S.D. dependent var 30801.28
S.E. of regression 22021.50 Akaike info criterion 23.08952
Sum squared resid 6.30E+09 Schwarz criterion 23.38776
Log likelihood -213.3504 F-statistic 4.442814
Durbin-Watson stat 1.125399 Prob(F-statistic) 0.014002

Lampiran 3 : Uji MWD Log Linier
Dependent Variable: LOG(Y)
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 13:24
Sample: 1985 2004
Included observations: 20
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
LOG(X1) 0.225839 0.246537 0.916044 0.3752
LOG(X2) 5.671004 3.275252 1.731471 0.1053
LOG(X3) 3.508275 2.225341 1.576511 0.1372
DM -1.084480 0.348191 -3.114612 0.0076
Z2 -7.86E-06 1.46E-05 -0.537545 0.5993
C -140.1949 40.09615 -3.496469 0.0036
R-squared 0.830128 Mean dependent var 10.45224
Adjusted R-squared 0.769460 S.D. dependent var 0.950961
S.E. of regression 0.456600 Akaike info criterion 1.513308
Sum squared resid 2.918772 Schwarz criterion 1.812027
Log likelihood -9.133076 F-statistic 13.68303
Durbin-Watson stat 1.417128 Prob(F-statistic) 0.000057

69


Lampiran 4 : Uji Regresi Linier

Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 15:45
Sample: 1985 2004
Included observations: 20
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
X1 -0.000896 0.002963 -0.302583 0.7664
X2 0.005034 0.001755 2.867851 0.0117
X3 -0.208647 0.320396 -0.651216 0.5248
DM -52488.36 16605.19 -3.160962 0.0065
C -277392.1 92898.51 -2.985969 0.0092
R-squared 0.633166 Mean dependent var 47320.85
Adjusted R-squared 0.535344 S.D. dependent var 31679.25
S.E. of regression 21594.38 Akaike info criterion 23.01057
Sum squared resid 6.99E+09 Schwarz criterion 23.25950
Log likelihood -225.1057 F-statistic 6.472612
Durbin-Watson stat 1.204980 Prob(F-statistic) 0.003112






Lampiran 5 : Uji Regresi Log Linier

Dependent Variable: LOG(Y)
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 15:44
Sample: 1985 2004
Included observations: 20
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
LOG(X1) 0.219287 0.240329 0.912447 0.3760
LOG(X2) 6.223639 3.035118 2.050543 0.0582
LOG(X3) 3.189227 2.093280 1.523555 0.1484
DM -1.117303 0.334572 -3.339502 0.0045
C -146.0944 37.63977 -3.881384 0.0015
R-squared 0.826622 Mean dependent var 10.45224
Adjusted R-squared 0.780388 S.D. dependent var 0.950961
S.E. of regression 0.445647 Akaike info criterion 1.433737
Sum squared resid 2.979014 Schwarz criterion 1.682670
Log likelihood -9.337372 F-statistic 17.87907
Durbin-Watson stat 1.329218 Prob(F-statistic) 0.000014


70


Lampiran 6 : Uji LM
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 1.299283 Probability 0.273471
Obs*R-squared 1.698489 Probability 0.192486

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 11:55
Presample missing value lagged residuals set to zero.
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
LOG(X1) 0.069672 0.245691 0.283576 0.7809
LOG(X2) 0.540443 3.042456 0.177634 0.8616
LOG(X3) -0.000402 2.072704 -0.000194 0.9998
DM -0.100220 0.342752 -0.292397 0.7743
C -10.83725 38.46337 -0.281755 0.7823
RESID(-1) 0.349163 0.306321 1.139861 0.2735
R-squared 0.084924 Mean dependent var -8.51E-15
Adjusted R-squared -0.241888 S.D. dependent var 0.395967
S.E. of regression 0.441266 Akaike info criterion 1.444989
Sum squared resid 2.726023 Schwarz criterion 1.743708
Log likelihood -8.449885 F-statistic 0.259857
Durbin-Watson stat 1.977400 Prob(F-statistic) 0.927610








71


Lampiran 7 : Uji white
White Heteroskedasticity Test:

F-statistic 0.947448 Probability 0.495214
Obs*R-squared 6.084865 Probability 0.413751


Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 01/25/08 Time: 12:00
Sample: 1985 2004
Included observations: 20

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 606.1926 1266.426 0.478664 0.6401
LOG(X1) -10.38367 23.50763 -0.441715 0.6660
(LOG(X1))^2 0.350199 0.786798 0.445094 0.6636
LOG(X2) 1.174011 3.482024 0.337163 0.7414
LOG(X3) -87.56965 183.3798 -0.477532 0.6409
(LOG(X3))^2 3.480131 7.264280 0.479074 0.6398
DM 0.090786 0.324930 0.279401 0.7843

R-squared 0.304243 Mean dependent var 0.148951
Adjusted R-squared -0.016875 S.D. dependent var 0.188842
S.E. of regression 0.190429 Akaike info criterion -0.209856
Sum squared resid 0.471423 Schwarz criterion 0.138651
Log likelihood 9.098557 F-statistic 0.947448
Durbin-Watson stat 3.228565 Prob(F-statistic) 0.495214


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1985 – 2004

SKRIPSI

Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1 Program Studi Ilmu Ekonomi, pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Oleh:

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Dadang Firmansyah : 01313207 : Ilmu Ekonomi

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2008

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

“Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa skripsi ini telah ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang merupakan penjiplakan karya orang lain seperti dimaksud dalam buku pedoman penyusunan skripsi Program Studi Ilmu Ekonomi FE UII. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka Saya sanggup menerima hukuman/sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, Februari 2008 Penulis,

Dadang Firmansyah

PENGESAHAN

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Investasi Di Indonesia Priode Tahun 1985 – 2004

Nama Nomor Mahasiswa Program Studi

: Dadang Firmansyah : 01.313.207 : Ilmu Ekonomi

Yogyakarta, 25 Februari 2008 Telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing,

Diana Wijayanti, Dra.,M.Si

Dan hidup adalah cinta. maka hadapilah. (Bhagawan Sri Sthya Sai Baba) Tak ada rahasia untuk menggapai sukses. maka nyanyikanlah. bertanyalah pada ahli ilmu pengetahuan apabila kamu semua tidak mengerti (Q. maka sadarilah. Hidup adalah sebuah mimpi. maka nikmatilah. dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi. Sukses itu dapat terjadi karena persiapan. maka mainkanlah. Hidup adalah sebuah lagu. (General Colin Powell) Maka.HALAMAN MOTTO Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih. namun kegagalan yang anda hadapi. (Orison Swett Marden) Hidup adalah sebuah tantangan. kerja keras.S an-nahl. Hidup adalah sebuah permainan. dan mau belajar dari kegagalan. 16:43) .

! $ ( $ %& ' # ' " $' ) ' $ $% # $ $ ( $ $ $ $ $ $ $ .

Diana Wijayanti. kekuatan serta tak lupa juga ilmu pengetahuan yang Kau limpahkan. Selain itu. Untuk itu penulis sangat mengharapkan berbagai kritik dan saran dikemudian hari. Ibu Dra. Oleh sebab itu perkenankan penulis dalam kesempatan dan kesempitan ini mempersembahkan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dengan segala kerendahan hati. Seiring terselesaikannya skripsi ini. walaupun yang terlihat dimuka mungkin hanyalah sebuah nama. kesabaran. Sholawat serta salam “Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad” juga penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.Si. Atas perkenaan-Mu jualah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Investasi Di Indonesia Periode Tahun 1985–2004. selaku Sekertaris Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia sekaligus dosen pembimbing yang telah dengan sabar memberi pengarahan dan meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan dukungan.wb Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan hanya kepada Allah (Subhanahu Wata’ala) yang telah memberikan kesehatan. Tanpa .KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Alhamdulillah asykuruka ya Allah. skripsi juga merupakan hasil karya dan kerjasama dari banyak pihak.”. M. atas bimbingan dan bantuannya kepada: 1. penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan di dalamnya.

sayang dan pengorbanannya yang sangat besar selama hidupku ini. Seluruh staf dan karyawan FE UII yang telah membantu Penulis selama masa perkuliahan di FE UII. Bapak Hendrie. Karyawan BPS yang telah membantu dalam pengumpulan data.. Terima kasih atas ilmu dan pengetahuannya.. Semua Dosen yang telah mau berbagi ilmu dengan penulis di Ekonomi UII : Bu Diana Wijayanti. Bapak Munrokhim.Si.. Dr. 9. . 5.Ec selaku Dosen Pembimbing Akademik. Bapak Agus Widarjono.. Bapak Rokhedi.Ph. Ayahanda (Alm) dan Ibunda atas cinta. 4. 2. dan Bu Ari Rudatin. M. Jaka Sriyana.D. Tanpa itu semua entah apa jadinya hidupku di Yogya). Edy Suandi Hamid. Bapak Drs.Bus. skripsi ini tidak akan berarti dalam proses penyusunan skripsi ini. Bu Sarastri. Ka Eka dan Ka Yuyun (Makasih atas dukungan dan sarannya. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Bapak Drs. Bapak Suharto. Bu Indah Susantun. 8. dan makasih banyak atas bantuan dari segi materinya. 6.itu semua. Juga kedua Kaka-Kakaku ..D. Bapak Priyonggo. 3. Ibu makasih banyak pisan. M. Keluarga Besar di Samarinda dan Cirebon.. Bapak Jaka Sriyana.. Bapak Prof. Bapak Nur Feriyanto. M.. Bapak Edi Suandi hamid. Ph. Bapak Eko Atmaji. Asmai Ishak. 7. selaku Ketua Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

San-san. Rani “Pinky”. Rudi “Kubong” (Thanx sepatunya n analisisnya). Bengky. alien. Gusti.. Novie (minyak). Oncom.. Daus. dan anak-anak kelas C 01 (Sorry ya kagak bisa saya sebutkan satu-satu.. Sari. cepat nyusul ya.. Rekan-rekan Fe Uii.. Angkatan 98.)..!!! . Hendra.... Shiva. Cie-ci. pokoknya mah maksih banyak dah. Farida (makasih Tumpangan n curhatnya. panjang euy. Aan. Venny (Pe2n). Amin.. Thomas “Aa Tom”.. Ari (gendut n tinggi)... maaf ya. (Angga “Daeng”..... 11.. Umar.). terus berjuang yah om). Lily “Lele”.Ipank....).... Sawiet. Thank For All yaa. Doni. aku berharap semoga kita menjadi orang yang SUKSES semua. Thank all Pisan. Ade Vika.. Yaya. Rekan-rekan seperjuangan di Ilmu Ekonomi : Kancil’o (Thank ya ja buat latihan tanya jawab pendadarannya and skripsinya juga utangannya. Nida. Ganda. Zaky. dan 00. ama konsultasinya..10. Xubil’s “Bintang di Surga”. Dina (dinul). Desu..!!! 12.. Novie (BM 10 vy) wendi. Anas. tika.. cuy akhirnya gw bisa lulus juga. Mamet.. Anshor.. Ki-kie. Arip centil. Om Rozi ( om akhirnya qt lulus yah. Agung. Eko. 99. Jangan Abidin Terus. Anak Nongkrong Community.. Jadun “ja-ja” dan Zadie) kalian adalah sahabat yang selalu ada di dalam hidupku.Lutfie. Didi (pak’cie). dan temen-temen yang blm kesebut namanaya. Kepetz. kayaknya aku masih ada utang dech). Sunaidi “Sungai”. Ana 03 ( Makasih yah atas ngeprint nyah...

Perjalanan masih panjang. Shodik (Muka-nyuk).... Yety. Mas Embul. Ambon. terima kasih atas segalanya. Sekali lagi Hatur nuhun pisan pokokna mah.. Enggo. selly. Rudy. Fara. Kota Jogjakarta tercinta yang telah menampung aku selama 7 tahun untuk menimba ilmu dan kenangannya yang terindah dalam perjalanan hidupku. . Chandra (Papua)... Tetep Semangat yah. Anas. All Team Dota Maniac. Semua pihak yang telah membantu baik selama penulis menjalani kuliah maupun saat menulis skripsi. Anak-anak Wahana Disc Utara.. 16. Mba dewi.!!! 14. Barack Kost : Adit ( si bungsu). pokoknya mah jangan disia-siakan dah. Eva. Kang Yogi.!!! 15. Daya.13. semuanya dech ada di sini. Thank For All.. Hendra. Tere.

Wb. paling tidak skripsi ini diharapkan mampu membantu kemajuan ilmu pengetahuan. Maret 2008 Penulis (Dadang Firmansyah) . untuk lebih menyempurnakan skripsi ini dimasa mendatang penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari semua pihak dengan harapan agar dapat bermanfaat bagi yang berkepentingan Wassalamu’alaikum Wr. penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Yogyakarta.Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak dalam proses menerapkan ilmu yang penulis dapatkan di bangku kuliah.

.................... HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME............................................................................. Perumusan Masalah............................................................................................ DAFTAR ISI .................. HALAMAN PENGESAHAN ......................3.......................... KATA PENGANTAR............. Batasan Masalah ...............................................................4.... 1................................ Latar Belakang Masalah ...................................................3.................................................................................................. 1.... HALAMAN PERSEMBAHAN............. 1..............................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL DEPAN SKRIPSI ............5...... HALAMAN MOTTO .....................2......... Manfaat Penelitian......... BAB I PENDAHULUAN 1........................ Tujuan dan Manfaat Penelitian................................................... Tujuan Penelitian............................. 1...1.................. HALAMAN PENGESAHAN UJIAN........................................................................2....... HALAMAN JUDUL SKRIPSI.......................1...................... DAFTAR GAMBAR.......................................................... 1...................... ABSTRAKSI............. DAFTAR TABEL ..................................................................... i ii iii iv v vi vii viii xiii xvi xvii xviii 1 8 8 8 8 9 10 ........................ 1.................................. Sistematika Penulisan ..3..........................................................................

.................2.......4....................................3........3.2. Aditya Prewatyo (1996) ....3........................................ 2............. Pentingnya Investasi dalam Pertumbuhan ..............................................1....... Teori Konsep Marginal Efficiency of Capital ..2....................2......1................... Jenis dan Sumber Data . Sofyan Setiawan (2000) ..2............... 3..1..1......................1.....2............ Produksi Domestik Regional Bruto (PDRB) ........... M...1............ 30 32 12 12 13 14 14 17 18 21 22 27 28 BAB III METODE PENELITIAN 3..... Metode Regresi Kuadrat Terkecil .....BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2........ 2..... 2.2............... Pengertian Penanaman Modal Dalam Negeri . 3.............1.....................1. Pemilihan Model Regresi ......... 3...................... Teori Investasi .. Pengaruh PDB terhadap Investasi ....3........................ 2.......2.... LANDASAN TEORI ................ 2................ 2......... KAJIAN PUSTAKA ...2............4.............. 2...2... Pengaruh Infrastruktur Khususnya Jumlah Panjang Jalan Terhadap Investasi ........................ Hipotesis ............................................. 3...1...................1....... 3....2......... 2..................... Metode Analisis Data .................................. 2... 2....... 2................ Pengaruh Tenaga Kerja terhadap Investasi ........ 3.... 33 33 33 35 35 36 37 .....6........................2......1..... Uji Statistik ............. Definisi Variabel ............. 2..............2..5. Metode Penelitian........

.............3........4....................1....... 4..............1 Produk Domestik Bruto (PDB) ...... 4.........3................................................... 4..2.. 4.........1..1.................3.. 4......................... Interpretasi hasil regresi ... 4............... 4......................1......3............................ 39 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4...................2.......2..............2.......... 43 43 47 47 48 53 54 55 56 56 58 58 58 59 59 BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5................. 4....................................1........ 4................................3 Infrastruktur ......2...... Heteroskedastisitas ..... Autokorelasi ............4 Pengujian t-Statistik ......................... Uji Asumsi Klasik . Analisis Hasil regresi dan Pengujian Hipotesis.1.................... 61 63 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ...........................2............ Pengujian Asumsi Klasik ...3...... 4.................... Pemilihan Model regresi.......4 Variabel Dummy (Krisis Ekonomi) ........2................. Multikolinieritas ...... Implikasi .....1. 4...................................3................................................................................... Hasil regresi....3.................1.... 4.... 4........................2 Jumlah Tenaga Kerja ................................3... 4. Koefisien Determinasi ..........2.......... Kesimpulan............5 Pengujian F-Statistik ............ 5.....1...................................

............ 3.......... Hasil Pengujian Multikoliniearitas ......................................... 4.1. Hasil Uji LM ............................................. 4.........6................................................................................................... 4.............. 6 40 46 47 49 55 56 57 ....... 4... 4.................... Hasil Uji MWD ....................2............................................... Hasil Uji t ........... Uji Statistik Durbin – Watson .............................................................................5..4.......................... Hasil Uji White Test .......3..................statistik ...................1............... 4..............................DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.......................... Hasil Regresi Log Linier ......1......................... Data Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia .........

............ Kurva Uji t Variabel Infrastruktur ............................................ 3................................1................. 4..................3........... 16 40 50 51 52 53 .................. Kurva Uji t Variabel Dummy .......... 4.........................DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2................................................................................1....... Kurva Uji t Variabel Tenaga Kerja ....... 4.....2........ 4.............1.. Pengeluaran Investasi .......... Darerah Autokorelasi .................. Kurva Uji t Variabel Produk Domestik Bruto ..................................4......................

Infrastruktur (Jumlah Panjang Jalan). Penelitian ini menggunakan uji Mackinnon. White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan digunakan berbentuk linier atau log linier. Tenaga kerja yang Bekerja. Jumlah Tenaga Kerja yang Bekerja. Berdasarkan hasil estimasi tersebut Variabel Produk Domestik Bruto (PDB) tidak berpengaruh terhadap PMDN. Infrastruktur ( Jumlah Panjang Jalan) dan Krisis Ekonomi (Dm) secara serempak mempunyai pengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.ABSTRAKSI Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Produk Domestik Bruto (PDB). Tenaga Kerja berpengaruh terhadap PMDN. Jadi metode yang digunakan dalam menganalisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi di Indonesia adalah regresi log linier. Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan mengenai Penanaman Modal Dalam Negeri maka dapat di simpulkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB). Infrastruktur (Jumlah Panjang Jalan) tidak berpengaruh terhadap PMDN. dan Krisis Ekonomi (Dm) berpengaruh terhadap PMDN. . dan krisis Ekonomi (Dm) terhadap pertumbuhan Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia priode tahun 1985-2004 dengan menggunakan alat uji regresi log linier.

atau masih jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan rata-rata per tahun yang pernah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru (ORBA). Faktor-faktor tersebut mulai dari yang sering disebut di media masa yakni masalah . Padahal era ORBA membuktikan bahwa investasi. Banyak sekali faktor-faktor yang sebagian besar saling terkait satu sama lainnya dengan pola yang sangat kompleks yang menyebabkan lambatnya pemulihan investasi di Indonesia hingga saat ini.1. merupakan faktor pendorong yang sangat krusial bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. khususnya PMDN. dan pertumbuhan ekspor di Indonesia selama ORBA sebagian besar karena kehadiran PMDN itu sendiri. Salah satu penyebabnya adalah masih belum intensifnya kegiatan investasi. Terutama melihat kenyataan bahwa sumber perkembangan teknologi. khususnya pada periode 1980-an hingga pertengahan 1990-an. diversifikasi produk.1 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Walaupun satu atau dua tahun setelah krisis ekonomi 1998. termasuk arus investasi dari luar negeri maupun dalam Negeri terutama dalam bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN). perubahan struktural. ekonomi Indonesia sudah kembali menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif. namun hingga saat ini pertumbuhannya rata-rata per tahun relatif masih lambat dibandingkan negara-negara tetangga yang juga terkena krisis seperti Korea Selatan dan Thailand.

pengembangan . Kebijakan pembangunan Indonesia mencakup pengembangan iklim usaha dan investasi. dan tingginya konsumsi. peningkatan. hingga kondisi perburuhan dan tenaga kerja yang semakin buruk. sesuai dengan strategi pembangunan ekonomi yang telah di rumuskan dalam GBHN 1999-2004. maka investasi ke sektor swasta adalah pendukung pembangunan nasional untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan nasional. pengembangan industri berkeunggulan kompetitif. Di negara-negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia tidak mempunyai sumber dana yang cukup guna membiayai pembangunan negrinya. peningkatan swasta nasional pengembangan usaha kecil dan menengah .2 keamanan. dalam proses 2000-2004 telah dirumuskan strategi untuk membangun industri berdasarkan prinsip efisiensi yang di dukung oleh peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan tekhnologi untuk memperkuat landasan pembangunan meningkatkan daya saing nasional. Sebagai penjabarannya. perdagangan dan investasi di arahkan untuk meningkatkan daya saing global. Strategi tersebut meliputi : pengembangan ekspor. Sejalan dengan sasaran pembangunan bahwa sasaran pembangunan di titik beratkan di bidang ekonomi yaitu penataan swastanisasi nasional yang mengarah pada penguatan. penguatan industri pasar. perluasan dan penyebaran sektor swasta keseluruh wilayah Indonesia. tidak adanya kepastian hukum. dan kondisi infrastruktur yang buruk. Secara umum. Selain itu dikarenakan oleh rendahnya produktivitas. Terbatasnya akumulasi berupa kapital tabungan di dalam negeri. kebijakan industri.

termasuk insentif perpajakan. ekonomi biaya tinggi. Kondisi ini di perburuk oleh minimnya pengembangan infrastruktur akibat keterbatasan dana pemerintah. dan peningkatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hal lain yang perlu segera di benahi adalah masalah kepastian hukum diberbagai tingkatan. keunggulan insentif bagi investor. kebijakan investasi dan sektoral yang tumpang tindih. Berbagai permasalahan masih dihadapi oleh dunia usaha. Khusus untuk program pengembangan Investasi. dalam jangka pendek kebijakan diarahkan untuk menurunkan hambatan prosedural dan permasalahan likuiditas dan memperluas investasi nonkuota. serta prosedur birokrasi yang panjang dan berbelit. Dalam jangka menengahpanjang. Dalam pelaksanaannya berbagai kebijakan tersebut belum banyak memberikan hasil yang diharapkan. seperti masalah regulasi ketenagakerjaan yang kurang konduktif. . kondisi keamanan yang belum konduktif dibeberapa daerah tertentu.3 pariwisata.pencanangan tahun 2003 sebagai tahun investasi Indonesia oleh pemerintah belum mampu mendorong kegiatan investasi secara berarti. baik antara daerah maupun antar pusat dan daerah yang terutama terkait sengan penerapan otonomi daerah. antara lain yang terkait dengan upaya peningkatan kinerja pengadilan niaga dan penyelesaian RUU penanaman modal. kebijakan diarahkan untuk meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pengembangan investasi untuk mendukung kegiatan produksi dan distribusi dalam negeri ke sisistem perdagangan bebas international.

Ketika itu tertanam keyakinan bahwa modal asing hanya akan menggerogoti kedaulatan negara. penyederhanaan tata cara impor barang modal. Dewasa ini kesempatan berinvestasi di Indonesia semakin terbuka. 6/Tahun 1968 jo. 6/Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).4 Penggairahan iklim investasi di Indonesia dimulai dengan diundangkannya Undang-Undang No. Disamping dalam rangka menarik investasi langsung. Sebelumnya. Undang-undang tadi kemudian dilengkapi dan disempurnakan pada tahun 1970. Kecenderungan peningkatan bukan hanya . 12/Tahun 1970 tentang PMDN. terutama sejak awal pelita IV atau tepatnya tahun 1984. 6/Tahun 1968 tentang PMDN disempurnakan dengan UU No. Indonesia sempat menentang kehadiran investasi dari luar negeri. investasi cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu. terutama bagi penanam modal asing. Perbaikan iklim penanaman modal tak henti-hentinya dilakukan pemerintah. Pemberlakuan kedua undang-undang ini menyusul tampilnya rejim orde baru memegang tampuk pemerintahan. pelunakan syarat-syarat investasi. serta perangsangan investasi untuk sektor-sektor dan di daerah-daerah tertentu. dalam pemerintahan orde lama. Walaupun demikian. pada tahun-tahun tertentu sempat juga terjadi penurunan. No. Semenjak diberlakukannya Undang-Undang No. keterbukaan ini sejalan pula dengan era paerdagangan bebas yang akan dihadapi mulai tahun 2020 kelak.12/Tahun 1970. UU No. Melalui berbagai paket kebijaksanaan deregulasi dan debirokratisasi dilakukan penyederhanaan mekanisme perijinan.

baik PMDN maupun PMA.5 berlangsung pada investasi oleh kalangan masyarakat atau sektor swasta. Selama paruh pertama dasawarsa 1990-an sebagian besar investasi domestik berasal dari dunia usaha dan masyarakat. Ini dapat dilihat dari table Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Ini berarti pembentukan modal domestik bruto meningkat dari tahun ke tahun. namun juga penanaman modal oleh pemerintah. Dalam dasawarsa 1970-an bagian terbesar dari penanaman modal dalam negeri berasal dari sektor pemerintah. . Keadaan tersebut sekarang telah berbalik. Investasi oleh pemerintah sendiri juga tetap bertambah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan sarana dan prasarana serta pelayanan dasar lainnya. Penanaman modal oleh dunia usaha meningkat pesat terutama dalam dasawarsa 1980-an sesudah pemerintah meluncurkan sejumlah paket kebijaksaan deregulasi dan debirokratisasi. Dilihat dari periode sebelum dan sesudah krisis moneter peran investasi baik yang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami penningkatan yang pesat dan juga mengalami penurunan di tahun – tahun tertentu.

4 1990 41084.3 1998 53550 1999 93327.4 1993 53289.8 1991 1992 29341.3 1985 4126 1986 1987 11404 15681 1988 21907 1989 59878. tetapi bagaimana efisiensi atau produktivitas dari investasi tersebut. karena yang penting bukan besarnya investasi dalam nilai uang atau jumlah proyek.4 2004 Sumber : Badan Pusat Statistik Proporsi Penanaman Modal Dalam Negeri di dalam PDB dan pesatnya pertumbuhan investasi tidak berarti pembangunan ekonomi berjalan dengan baik dan begitu pula sebaliknya.7 39450.1 Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia Tahun 1985-2004 (Miliar Rp) TAHUN PMDN 3830. Sumber daya alam yang ada di masing-masing daerah diolah dan dimamfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran seluruh rakyat secara adil dan merata.7 2000 58816 2001 25307. Investasi merupakan kegiatan untuk mentransformasikan sumber daya potensial menjadi kekuatan ekonomi riil.6 Tabel 1. Namun dalam .6 2002 50092.1 1994 69853 1995 100715 1996 119873 1997 60749.1 2003 34140.

Jadi dari uraian di atas. Investasi merupakan suatu faktor yang kursial bagi kelangsungan proses pembangunan ekonomi. . yang implikasinya adalah bahwa kebijakan investasi tidak bisa berdiri sendiri. Dalam kata lain.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVESTASI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1985-2004”. Peranan investasi di indonesia cedung meningkat sejalan dengan banyaknya dana yang di butuhkan untuk melanjutkan pembangunan nasional. efektivitas dari kebijakan tersebut akan tergantung pada banyak faktor lain di luar wilayah kebijakan investasi. maka penulis dalam penelitian ini akan mengambil judul “FAKTOR . atau pertumbuhan ekonomi jangka panjang pembangunan ekonomi melibatkan kegiatan-kegiatan produksi di semua sektor ekonomi. bagaimanapun bagusnya suatu kebijakan investasi.7 memanfaatkan sumberdaya alam perlu memperhatikan kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup bagi pembangunan. pokok permasalahan yang menjadi pembahasan utama dari tulisan ini adalah iklim investasi yang sangat kompleks. karena faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan investasi atau membukan usaha baru di Indonesia.

Apakah PDB berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia? Apakah Tenaga Kerja berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia? Apakah Infrastruktur berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia? Apakah krisis ekonomi berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia? Apakah PDB. 2.di Indonesia. Menganalisis hubungan antara Variabel Dummy ( Krisis Ekonomi) dengan PMDN di Indonesia. Menganalisi hubungan antara Jumlah Tenaga Kerja yang Bekerja dengan PMDN. 5. Menganalisis hubungan antara Produk Domestik Bruto (PDB) dengan PMDN di Indonesia.1. Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi secara bersama-sama berpengaruh terhadap PMDN di Indonesia? 1. 3. Menganalisis hubungan antara Infrastuktur ( Jumlah Panjang Jalan) dengan PMDN di Indonesia. 2. . 4. Tujuan Penelitian 1. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. 3.8 1. Perumusan Masalah Berdasarkan dari latar belakang diatas.2. 2. maka dapatlah dirumuskan permasalahan yaitu : 1.3.3.

maka agar permasalahan tidak meluas.3.2. 3.4. dan variablevariabel yang mempengaruhi Investasi itu tersebut yaitu sebagai berikut : . dalam penelitian ini pembahasannya dibatasi pada: periode yang di teliti adalah pada tahun 1985 sampai dengan 2006. 1. Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada jurusan Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah di dalam mengambil keputusan untuk menentukan kebijaksanaan dalam pengembangan Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia. Batasan Masalah mengingat banyak faktor yang mempengaruhi turun naiknya Investasi asing di Indonesia. Sebagai tambahan informasi untuk penelitian-penelitian lebih lanjut. 2. 4. Bagi Penulis merupakan tambahan wawasan terhadap dunia praktisi perbankan khususnya. Manfaat Penelitian 1. yang diaktualisasikan dengan didasarkan pada pengetahuan teoritis yang yang diperoleh dari bangku kuliah.9 1. periode ini diambil karena periode ini investasi khususnya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis dikarenakan dampak dari krisis moneter pada tahu 1998-sampai sekarang ini.

Infrastruktur adalah Panjang jalan. Teori-teori yang didapat akan menjadi landasan bagi penulisan untuk melakukan pembahasan dan pengambilan kesimpulan mengenai judul yang penulis pilih.5. 4. 2. Variabel Dummy yang digunakan adalah kondisi sebelum dan sesudah Krisis moneter pada tahun 1998. 3. perumusan masalah. tujuan dan manfaat penelitian. Produk Domestik Bruto (PDB) dalam penelitian ini adalah PDB atas dasar harga konstan 2000. Sistematika penulisan BAB I : PENDAHULUAN • Bagian dari bab ini membahas dan menguraikan dari latar belakang permasalaahan. Tenaga Kerja adalah Jumlah Penduduk Yang bekerja. . BAB II : KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI • Bab ini berisi pendokumentasian atau pengkajian hasil dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan pada area yang sama dan landasan teori. 1.10 1. batasan masalah dan sistematika penulisan. Landasan teori ini berisi teori-teori sebagai hasil dari studi pustaka.

BAB V : SIMPULAN DAN IMPLIKASI • Bab ini akan menjelaskan kesimpulan dari analisa yang dilakukan dan implikasi yang muncul dari hasil simpulan sebagai jawaban atas rumusan masalah sehingga dapat ditarik benang merah apa implikasi dari penelitian yang dilakukan.11 BAB III : METODE PENELITIAN • Bab ini akan menguraikan penjelasan satu pembahasan mengenai metode analisa yang digunakan dalam penelitian dan jenis data-data yang digunakan beserta sumber data. BAB IV : ANALISA DAN PEMBAHASAN • Bab ini berisi semua temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian dan analisa statistik. .

Sebaliknya kenaikan suku bunga di luar negeri akan berdampak positif bagi investasi swasta di Indonesia. ditingkat sukubunga didalam negri (SBD). Variabel impor barang modal dan bahanbaku tidak signifikan mempengaruhi investasi swasta. Dari penelitian tersebut di peroleh hasil sebagai berikut: variabel (PDB) berpengaruh secaranyata terhadap investasi swasta di Indonesia.MBB). Hal tersebut di sebabkan karena nilai impor sesungguhnya sudah tercakup didalam Produk Domestik Bruto. Aditya Prawatyo (1996). Dan ternyata pemerintah masih berperan penting sebagai motor penggerak .1. KAJIAN PUSTAKA Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah 2.12 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1. Sedangkan tingkat suku bunga dalam negri berpengaruh secara negatif dan elastis terhadap investasi swasta tanah air. dengan Penelitiannya “ Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi Swasta di Indonesia “ dalam penelitiannya tersebut Aditya menganalisis pengaruh variabelvariabel Produk Domestik Bruto PDB). serta kebijaksanaan deregulasi pemerintah (D) terhadap investasi swasta (PMDN + PMA).1. pengeluaran pemerintah (PP). jumblah uang yang beredar (JUB). Impor Barang Modal dan Bahan Baku (MB.

13 investasi di Indonesia. Multikolinieritas dan Heteroskedastisitas. sebagai variabel-variabel pembantu untuk menganalisis penelitian tersebut. Sedangkan hasil analisis dari penelitian tersebut adalah : 1. 2. Sofyan Setiawan (2000). maka ketimpangan investasi secara keseluruhan dipengaruhi oleh pendapatan perkapita. M. Pada uji asumsi klasik tidak terdapat Autokorelasi. 4. hal ini di tunjukan dengan pengaruh pengeluaran pemerintah yang signifikan mempengaruhi investasi swasta. . 3. dengan penelitiannya “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi Antar Daerah-daerah di Indonesia pada Periode Tahun 1996”. dengan menggunakan pendapatan perkapita. jumlah telepon dan jumlah penduduk. jumlah panjang jalan.2. Hasil uji serempak dimana Fhitung > Ftabel. Jumlah panjang jalan juga berpengaruh secara nyata positif terhadap investasi yang berarti pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan peningkatan investasi.1. Pendapatan perkapita berpengaruh positif terhadap investasi yang berarti semakin tinggi pendapatan perkapita maka investasi akan meningkat. 2. jumlah panjang jalan di tiap propinsi.

peralatan produksi dan mesin-mesin baru lainnya atau persediaan yang diharapkan akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut. c. LANDASAN TEORI 2.1. Samuelson dan William D. Suatu tindakan untuk membeli saham.2. maka output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang juga akan meningkat. gedung. Jelas dengan demikian bahwa investasi memainkan peranan penting dalam menentukan jumlah output dan pendapatan. . obligasi atau surat penyertaan lainnya. Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif. b.14 2. investasi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh para penanam modal yang menyangkut penggunaan sumber-sumber seperti peralatan. Pemanfaatan dana yang tersedia untuk produksi dengan pendapatan dimasa yang akan datang. kantor dan produk-produk tahan lama lainnya yang digunakan dalam proses produksi.2. Nordhaus. pabrik. Teori Investasi Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk meningkatkan atau mempertahankan stok barang-barang modal yang terdiri dari mesin-mesin. Menurut Paul A. Komarudin (1983) memberikan pengertian investasi yaitu: a. Suatu tindakan membeli barang-barang modal.

Usaha untuk mencatat nilai penanaman modal dilakukan dalam satu tahun tertentu yang digolongkan sebagai investasi. maka investasi merupakan komponen yang paling mudah berubah. Pada waktu laju pemupukan modal meningkat. pertambahan dalam nilai stok barang-barang perusahaan yang berupa bahan mentah. Adam smith menyatakan bahwa investasi dilakukan karena para pemilik modal mengharapkan untung dan harapan masa depan keuntungan bergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. .15 Kekuatan ekonomi utama yang menentukan investasi adalah hasil biaya investasi yang ditentukan oleh kebijakan tingkat bunga dan pajak. 183). b. persaingan yang meningkat antar pemilik modal akan menaikkan upah dan sebaliknya menurunkan keuntungan. Seluruh pembelian para pengusaha atas barang modal dan membelanjakan untuk mendirikan industri-industri. c. Faktor penentu investasi sangat tergantung pada situasi di masa depan yang sulit untuk diramalkan. barang yang belum diproses dan barang jadi. Smith yakin keuntungan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Nordhaus. Pengeluaran masyarakat untuk mendirikan tempat tinggal. meliputi pengeluaran atau pembelanjaan untuk: a. Samuelson dan William D. 1993. serta harapan mengenai masa depan (Paul A.

1. Dalam prespektif waktu yang lebih panjang ini. tetapi juga terhadap penawaran agregat (S) melalui pengauhnya terhadap kapasitas produksi. Pengeluaran Investasi P S0 S1 b a Z1 Z0 0 Q a : I menggeser Z lewat proses multiplier(jangka pendek). Ini berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat dan selanjutnya berarti bergesernya kurva S ke kanan. pabrik-pabrik. jalan-jalan dan sebagainya). dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Jadi I= K. I menambah stok kapital (misalnya. b: I menggeser S lewat pertambahan kapasitas produksi(jangka panjang) .16 Menurut Harrod-Domar pengeluaran investasi (I) tidak hanya mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat (Z). Gambar 2.

Maka jika pengusaha tersebut “rasional” investasi tersebut akan dilaksanakan Secara ringkas : 1.2 Teori Konsep Marginal Efficiency of Capital Dalam teori makro Keynes keputusan apakah suatu Investasi akan di laksanakan atau tidak. Jika MEC = tingkat bunga maka investasi bias di laksanakan dan bias juga tidak Dari uraian di atas. Jika keuntungan yang diharapkan (MEC) lebih besar dari pada tingkat bunga. di ketahui bahwa berapa tingkat pengeluaran investasi yang di harapkan oleh para investasi di tentuakan oleh dua hal yaitu tinkat suku bunga yang berlaku dan marginal efficiency of capital. Apabila tingkat bunga yang berlaku di pasar uang sebesar 2% setiap bulan (atau 24% setahun). tergantung pada perbandingan antara besarnya keuntungan yang di harapkan (yang menyatakan dalam persentase satuan waktu waktu) di suatu pihak dan biaya penggunaan dana atau tingkat bunga di pihaklain. Perilaku makro para investor ini biasanya di ringkas dalam satu bentuk fungsi marginal efficiency of capital atau fungsi investasi. sedangkan keuntungan yang di harapkan sebesar 50% maka investasi tersebut masih menguntungkan karena keuntungan (kotor) yang di harapkan 50% jadi melebihi ongkos pendanaan dapat di katakana 50%24% = 26% pertahun untuk 10 tahun.2. 3. 2.17 2. maka investasi di laksanakan. . jika MEC lebih kecil dari pada tingkat bunga maka investasi tidak dilaksanakan.

dan perubahan itu bisa mengarah ke pertumbuhan ekonomi. peralatan. Investasi mengacu pada pengeluaran untuk perluasan usaha dan peralatan baru. dan hal itu menyebabkan persediaan modal berkurang. 2. 178) Pabrik-pabrik. terdapat dua kekuatan yang mempengaruhi persediaan modal: investasi dan depresiasi. Depresiasi mengacu pada penggunaan modal. karena persediaan modal bisa berubah sepanjang waktu. persediaan modal adalah determinan output perekonomian yang penting. dalam kenyataan fungsi tersebut sulit untuk di peroleh sebab posisinya sangat stabil (mudah berubah dalam jangka waktu yang sangat singkat).3. yang negative. Biasanya. Kedua. Pentingnya Investasi dalam Pertumbuhan Pada setiap moment. 2003. yang perlu ditekankan adalah hubungan teori Keynes dengan kenyataan. mesin-mesin.(Mankiw N. dan hal itu menyebabkan persediaan modal bertambah.2. Kelebihan fungsi investasi ini akan segera dapat di pahami karena posisinya sangat tergantung pada nilai MEC dari proyek-proyek yang ada dan bahwa MEC adalah keuntungan yang di harapkan oleh investor. artinya semakin rendah tingkat bunga semakin besar pula tingkat pengeluaran investasi yang di inginkan. khususnya masalah tersedianya dana investasi.18 Tiga hal yang perlu di garis bawahi mengenai fungsi investasi pertama funsi tersebut mempunyai slope. dan barang-barang baru akan meningkatkan stok modal (capital stock) fisikal suatu negara . Ketiga. Gregory.

Pembangunan fasilitas-fasilitas irigasi akan dapat memperbaiki kualitas lahan pertanian melalui peningkatan produktivitas per hektar.19 (yaitu jumlah nilai riil bersih dari semua barang-barang modal produktif secara fiskal) sehingga pada gilirannya akan memungkinkan negara tersebut untuk mencapai tingkat output yang lebih besar. Investasi-investasi lainnya yang dikenal dengan sebutan infrastruktur sosial dan ekonomi (social overhead capital) yaitu jalan raya. dan komunikasi akan mempermudah dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan ekonomi.(Lincolin Arsyad. Penggunaan pupuk-pupuk kimia dan pemabasmian hama penyakit dengan pestisida juga akan bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas lahan. Jika 100 hektar lahan beririgrasi bisa menghasilkan output yang sama dengan 200 hektar lahan tak beririgrasi (dengan catatan penggunaan input-input lainnya sama). sanitasi. maka fasilitas irigasi itu nilainya sama dengan dua kali luas lahan tanpa irigasi. investasi insani (human invesment) juga dapat memperbaiki kualitas sumberdaya manusia dan juga akan mempunyai pengaruh yang sama atau bahkan . 214) Selain itu. Investasi jenis ini sering diklasifikasikan sebagai investasi di sektor produktif (directly productive aktivities). 1999. air. Sama halnya dengan investasi tak langsung di atas. listrik. ada juga investasi tidak langsung. Semua bentuk investasi ini merupakan cara-cara untuk memperbaiki kualitas sumberdaya tanah yang ada.

20

lebih besar terhadap produksi. Sekolah-sekolah formal, sekolah-sekolah kejuruan, dan program-program latihan kerja serta berbagai pendidikan informal lainnya semuanya diciptakan secara lebih efektif untuk memperbesar kemampuan manusia dan sumberdaya-sumberdaya

lainnya sebagai hasil dari investasi langsung dalam pembangunan gedung-gedung, peralatan dan bahan-bahan (buku-buku, proyektor, peralatan penelitian, alat-alat latihan kerja, mesin-mesin, dan lain-lain). Latihan-latihan tingkat lanjutan yang relevan bagi tenaga pendidik, demikian pula dengan buku-buku pelajaran ekonomi yang baik, bisa membuat perubahan yang sangat besar dalam mutu, kepemimpinan, dan produktivitas tenaga kerja yang ada. Oleh karena itu investasi insani sama dengan memperbaiki mutu sekaligus meningkatkan produktivitas sumberdaya-sumberdaya tersebut.(Ibid, 1999, 215) Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada tenaga kerja dan jumlah kapital. Investasi akan menambah jumlah daripada kapital. Tanpa investasi maka tidak akan ada pabrik/mesin baru, dan dengan demikian tidak ada ekspansi. Pengertian investasi mencakup investasi barang-barang tetap pada perusahaan (business fixed invesment), persediaan (inventory) serta perumahan (residential).(Nopirin, 1987, 133) tanah melalui investasi yang strategis

21

2.2.4. Pengertian Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk

meningkatkan atau mempertahankan stok barang modal yang terdiri dari mesin, pabrik, kantor dan produk-produk tahan lama lainnya yang digunakan dalam proses produksi (Mulyadi, 1990, hal.268). Investasi merupakan penundaan konsumsi sekarang untuk digunakan didalam produksi yang efisien selama periode waktu yang tertentu (Jogiyanto, 2003, hal: 5). Selain itu investasi dapat juga diartikan sebagai pengeluaran oleh sektor produsen swasta untuk pembelian barang-barang atau jasa-jasa guna penambahan stok barang dan peralatan perusahaan (Boediono, 1986, hal.40). Faktor-faktor penentu investasi sangat tergantung pada situasi dimasa depan yang sulit untuk diramalkan, maka investasi merupakan komponen yang paling mudah berubah. Usaha untuk mencatat nilai penanaman modal yang dilakukan dalam satu tahun tertentu yang digolongkan sebagai investasi, meliputi pengeluaran atau pembelanjaan untuk: 1. Seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang modal dan membelanjakan untuk mendirikan industri-industri. 2. 3. Pengeluaran masyarakat untuk mendirikan tempat tinggal. Pertambahan dalam nilai stok barang-barang perusahaan yang berupa bahan mentah, barang yang belum diproses dan barang jadi.

22

Penanaman modal dalam negeri memberikan peranan dalam pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang hal ini terjadi dalam berbagai bentuk. Modal Investasi mampu mengurangi kekurangan tabungan dan melalui pemasukan peralatan modal dan bahan mentah, dengan demikian menaikkan laju pemasukan modal. Selain itu tabungan dan investasi yang rendah mencerminkan kurangnya modal di negara keterbelakangan teknologi. Bersamaan dengan modal uang dan modal fisik, modal Investasi yang membawa serta keterampilan teknik, tenaga ahli, pengalaman organisasi, informasi pasar, teknik-tekink produksi maju, pembaharuan produk dan lain-lain. Selain itu juga melatih tenaga kerja setempat pada keahlian baru. Semua ini pada akhirnya akan mempercepat pembangunan ekonomi negara terbelakang. 2.2.5. Pengertian Produk Domestik Bruto ( PDB ) Salah satu ukuran pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari PDB (Produk Domestik Bruto). Produk Domestik Bruto adalah produk barang dan jasa total yang dihasilkan dalam perekonomian suatu negara di dalam masa satu tahun. PDB didalamnya merupakan pendapatan faktor produksi milik bangsa Indonesia yang berada di dalam negeri ditambah milik bangsa asing di dalam negeri. PDB dihitung biasanya dengan menggunakan dua keterangan menurut patokan harga yang dipakai yaitu:

23

Harga Konstan PDB =
100 * PDBHBX IHK X

HKX

Harga Berlaku PDB =

HBX

PDBHKX * IHK X 100

Dimana: Hk X : Harga Konstan HB X : Harga Berlaku IHK : Indeks Harga Konsumen 100 : Indeks Harga Konsumen Tahun Dasar X : Tahun tertentu.

PDB menurut harga berlaku, nilai barang dan jasa dihitung berdasarkan pada tahun yang bersangkutan, yang berarti termasuk kenaikan harga-harga. Sedangkan menurut harga konstan, nilai barang dan jasa yang dihasilkan dihitung berdasarkan pada tahun dasar tertentu, cara perhitungan atas dasar harga konstan ini menghilangkan pengaruh inflasi yang dikatakan menunjukkan nilai riil (nyata). PDB dapat dipahami melalui cara penghitungan pendapatan nasional seperti berikut dibawah ini (Suseno Triyanto, 1983, hal.16) GNP = GDP + F NNP = GNP – D NI = NNP – Nit

Hal ini akan menjadikan salah satu bentuk akumulasi modal melalui tabungan masyarakat yang pada akhirnya akan digunakan pemerintah dalam membiayai pembangunan di negaranya. D : Penyusutan Nit : Pajak tak langsung neto. . akan tetapi konsumsi perkapita menurun. yaitu selisih antara pendapatan orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dan orang-orang asing yang bekerja di Indonesia. Meningkatnya pendapatan masyarakat akan mengakibatkan tingkat tabungan meningkat. akan didapat persamaan sebagai berikut: GDP = NI + Nit + D – F Kenaikan pendapatan perkapita mungkin menaikkan standar hidup riil masyarakat. NI : Pendapatan nasional (Y) Jika ketiga persamaan tersebut digabungkan. yaitu selisih antara pajak tak langsung dengan subsidi.24 Dimana: GNP : Produk nasional bruto = PNB GDP : Produk domestic bruto = PDB NI F : Produk nasional neto = PNN : Pendapatan neto terhadap luar negeri atas faktor-faktor produksi. Bisa terjadi bahwa sementara pendapatan riil perkapita meningkat.

pengeluaran konsumsi pemerintah.25 Christopher Pass dan Bryan Lowes mengemukakan GDP (Gross Domestic Product) [Produk Domestik Bruto/PDB] yaitu total nilai uang dari semua barang (Goods). Jumlah semua pengeluaran domestik untuk barang dan jasa selama satu tahun (metode pengeluaran). yaitu: 1. yaitu: . Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan. PDB dapat diukur dengan tiga cara. 3. Dimana petumbuhan ekonomi tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang sangat mempengaruhi penanaman modal asing ke dalam negeri. jasa (Service) yang diproduksi dalam suatu perekonomian selama satu tahun. Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu adalah data PDB (Produk Domestik Bruto) berdasarkan harga konstan (riil) yang digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun menggunakan komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga. Jumlah nilai tambah dari industri dalam memproduksi output dalam satu tahun (metode output). investasi dan ekspor neto (ekspor dikurangi impor) atau dengan perolehan perhitungan sebagai berikut: PDB=(C+G+I+(X-M)). 2. Jumlah semua pendapatan yang diterima dari hasil produksi output selama satu tahun (metode pendapatan).

Gas dan Air bersih. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor. Keuangan. Listrik. 9. Pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga swasta nirlaba. semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. bunga modal dan keuntungan. Persewan dan Jasa Perusahaan. PDB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). sewa tanah.26 1) Menurut Pendekatan Produksi. 7. Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji. Hotel dan restoran. PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). 8. Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu: 1. PDB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari: 1. 3. 6. Pertanian. 2. Dalam definisi ini PDB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi) 3) Menurut Pendekatan Pengeluaran. 5. Pertambangan dan Penggalian. Pengangkutan dan Komunikasi. 4. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Industri Pengolahan. 2) Menurut Pendekatan Pendapatan. Kehutanan dan Perikanan. Perdagangan. Bangunan. konsumsi . 2. Peternakan.

Perubahan stok. investasi swasta dan investasi pemerintah. karena didalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto. 5.3. jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDB yang dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDB yang dihasilkan atas dasar harga pasar. ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).3. Pengaruh Produk Domestik Bruto terhadap investasi Dalam pengertian investasi riel dibedakan antara investasi bruto dan investasi netto.1. peralatan serta gedung-gedung yang habis dikonsumsi dalam proses produksi pada tahun berjalan ditambah dengan tambahan netto persediaan barang-barang kapital. Hubungan antara Variabel Dependen dengan Variabel Independen 2.27 pemerintah. serta investasi domestik dan investasi asing. Jadi investasi bruto adalah investasi pengganti . 4. Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. dan merupakan milik serta dilakukan oleh orang asing atau oleh warga negara sendiri. Jadi. 2. pembentukan modal tetap domestik Bruto. Konsumsi pemakaian barang-barang kapital merupakan penyusutan. 3. Istilah investasi bruto swasta domestik menunjukkan investasi pada mesin-mesin. Dua pasangan pengertian investasi riel yang terakhir jelas merupakan pembedaan dari segi pemiliknya saja yaitu apakah merupakan milik serta dilakukan pemerintah atau oleh swasta.

Pengaruh Tenaga Kerja Yang Bekerja terhadap Investasi Terdapat dua faktor yang mempengaruhi keadaan ketenagakerjaan.3. Investasi bervariasi secara langsung dengan pendapatan.2. Bila tingkat pendapatan atau output rendah. 77) 2. Bila pendapatan naik. pertumbuhan penduduk serta faktor-faktor lain. keuntungan juga naik dan demikian pula tingkat investasi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa dilihat dari investasi nettonya. hal ini karena investasi berhubungan dengan keuntungan. 1997. Sesuai dengan Konvensi International Labour Organization . Perekonomian suatu negara mengalami stagnasi atau penurunan bila investasi netto negatif atau dimana investasi bruto lebih kecil daripada investasi pengganti. dan sebagian besar investasi dibiayai secara internal dari keuntungan perusahaan. Faktor permintaan dipengaruhi oleh dinamika pembangunan ekonomi.(ibid. yaitu faktor permintaan dan penawaran.(Faried Wijaya. bila investasi bruto melebihi penyusutan atau investasi penggantinya maka terdapat investasi netto dan perekonomian negara tersebut mengalami perluasan. 1997. sedangkan faktor penawaran ditentukan oleh perubahan struktur umur penduduk.28 ditambah investasi bersih atau investasi tambahan. ini berarti dunia usaha mempunyai cukup banyak kelebihan kapasitas produksi hingga tak ada dorongan membeli barang barang-barang kapital baru. 25) Dunia usaha mengadakan investasi didorong oleh pertimbangan ekspektasi keuntungan jangka panjang yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.

Dalam segi ekonomi Investasi merupakan pengeluaran untuk pembelian kapital yang digunakan untuk menambah kapasitas produksi nasional. Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (diatas 8%) maka penciptaan lapangan kerja baru akan mampu memenuhi tambahan angkatan kerja.29 (ILO). Fluktuasi komponen . Dan semakin banyaknya permintaan Investasi maka semakin banyak juga lapang kerja yang di hasilkan ini sangat berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang akan bekerja. Seperti diketahui peranan investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dapat dilihat dari dua sisi . yaitu mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan. Penduduk usia kerja dibedakan menjadi dua kelompok. investasi dari sisi permintaan merupakan salah satu komponen pengeluaran yang menetukan besar kecilnya investasi output/pendapatan nasional. Pertama. batasan penduduk usia kerja yang digunakan di sini adalah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas. mengurus rumahtangga dan lainnya. Angkatan kerja adalah penduduk yang aktif secara ekonomi. Karna banyaknya perusahaan – perusahaan baru dan perusahaan yang ingin mengembangkan usahanya yang lebih berkembang. ini yang terjadi di Indonesia sebelum tahun 1990 s/d 1997. sedangkan bukan angkatan kerja adalah penduduk yang tidak aktif secara ekonomi dengan kegiatan antara lain. yaitu Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. sekolah.

Melihat perkembangan makro-ekonomi saat ini. pemerintah mengundang investor guna berpartisipasi menanamkan modalnya di sektor-sektor infrastruktur. pelabuhan. sumber energi listrik.30 mengakibatkan fluktuasi output nasional dalam jangka pendek. sumber daya air. tersedianya jalan yang berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan Khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas penduduk dan mempelancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. dan lain-lain. Variabel investasi inilah yang menjamin keseimbangan permintaan dan penawaran barang dan jasa dalam jangka menengah dan panjang. seperti jalan tol. (Indikator Ekonomi) Seperti dilakukan banyak negara di dunia. Pengaruh Infrastruktur khususnya Jumlah Panjang Jalan terhadap Investasi Dalam pengertiannya Jumlah Panjang Jalan adalah merupakan prasarana pengangkut darat yang penting untuk mempelancar kegiatan perekonomian. Pengeluaran investasiakan mempengaruhi kapasitas produksi suatu perekonomian dalam menghasilkan barang dan jasa-jasa.3. Kedua.(Lembaga Penelitian Ekonomi IBII. hal 31) 2. Partisipasi tersebut dapat berupa pembiayaan dalam mata uang rupiah atau mata uang asing. 2003.3. terutama . dari sisi penawaran investasi sangat besar peranannya dalam menentukan produksi jangka menengah dan panjang.

untuk saat ini pembiayaan rupiah masih merupakan alternatif yang lebih baik. Pembangunan infrastruktur akan menyerap banyak tenaga kerja yang selanjutnya akan berpengaruh pada meningkatnya gairah ekonomi masyarakat. Pembangunan kembali infrastruktur tampaknya menjadi satu alternatif pilihan yang dapat diambil oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi krisis.31 memperhatikan kecenderungan penurunan tingkat bunga. Dengan infrastruktur yang memadai. . efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan makin besar dan investasi yang didapat semakin meningkat .

Hipotesis 1. 5.sama PDB. Diduga dummy variabel krisis ekonomi berpengaruh negatif terhadap terhadap PMDN di Indonesia. .32 2. 2. Diduga PDB berpengaruh positif terhadap terhadap PMDN di Indonesia. berpengaruh positif terhadap PMDN di 3. 4. Diduga Tenaga Kerja Indonesia. Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh secara bersama-sama terhadap terhadap PMDN di Indonesia. Diduga secara bersama .4. Diduga Infrastruktur berpengaruh positif terhadap PMDN di Indonesia.

1. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data yang . Investasi. Produk Domestik Bruto Riil. Data Investasi yang dipilih yaitu PMDN tahun 1985 – 2004. a. Produk domestik bruto sering digunakan sebagai indikator ekonomi mengenai taraf hidup dan tingkat kemajuan pembangunan suatu Negara.1 Jenis dan Sumber Data Untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam penelitian data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan teori-teori dari buku-buku bacaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. 3.2. Metode Penelitian 3.1.1. b. Definisi Variabel. Investasi dilakukan dengan motif memperoleh keuntungan bersih dari investasi tersebut. Produk domestik bruto adalah nilai output akhir barang dan jasa pada pada tahun tertentu dan menggunakan tahun dasar 2000.33 BAB III METODE PENELITIAN 3. Seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang modal dan pembelanjaan untuk mendirikan industri-industri. Data yang digunakan bersifat tahunan dan meliputi kurun waktu 1985-2004. Datadata tersebut dikeluarkan oleh Bank Indonesia (Statistik Keungan Ekonomi Indonesia) dan BPS.

d.34 dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta Rupiah. Krisis Ekonomi (Variabel Dummy). Merupakan perbandingan angkatan kerja dengan populasi orang dewasa. Populasi dewasa adalah jumlah penduduk yang termasuk kriteria angkatan kerja dan penduduk di luar definisi angkatan kerja seperti pelajar dan pensiunan. Infrastruktur Infrastruktur yang digunakan adalah Jumlah Panjang jalan yang merupakan mempelancar prasarana kegiatan pengangkut darat yang penting jalan untuk yang perekonomian. e. Variabel Dummy yang digunakan adalah kondisi krisis ekonomi. dimana sebelum tahun 1998 adalah kondisi sebelum krisis ekonomi dan sesudah tahun 1998 adalah sesudah krisis ekonomi. c. . Tenaga Kerja. tersedianya berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan Khususnya dalam upaya memudahkan mobilitas penduduk dan mempelancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Angkatan kerja adalah jumlah dari orang yang bekerja dan orang yang menganggur.

Metode Regresi Kuadrat Terkecil.1. = Konstanta regresi 3= Koefisien regresi Dm e = Variabel Dummy (krisis Ekonomi) = Kesalahan pengganggu . maka persamaan regresi liniernya adalah : Y= 0 + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + Dm X4 + e Keterangan: Y = Penanaman Modal Dalam Negeri (Miliar Rp) X1 = PDB atas dasar harga konstan 2000 (Miliar Rp). 2. Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi).2.35 3. Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat Terkecil/OLS (ordinary least square). dengan fungsi Investasi = f (PDB.2. X3 = Infrastruktur (Km) Dm = Variabel Dummy (krisis Ekonomi) 0 = Sebelum krisis ekonomi 1 = Sesudah krisis ekonomi 0 1. Metode Analisis Data 3. X2 = Tenaga Kerja (Ribu Jiwa).

3.2. Estimasi persamaan berikut ini : Y= o+ 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + Dm X4 +e Jika Z1 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis nul dan model yang tepat digunakan adalah model linier . Dapatkan nilai Z1 = ln F1-F2 dan Z2 = antilog F2-F1 4. 2. Pemilihan Model Regresi. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya. dan selanjutnya dinamai F2. Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier adalah sebagai berikut : • Linier • Log Linier Y = o+ 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + Dm X4 +e lnY = αo + α1 X1 lnX1 + α2 lnX2 + α3 lnX3 + Dm lnX4 +e Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier) H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier) Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut : 1.2.36 3. White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di gunakan berbentuk linier atau log linier. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan selanjutnya dinamai F1. Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon.

Uji t Statistik Uji t statistik melihat hubungan atau pengaruh antara variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Jika Hipotesis positif Ho : i 0 Ha : i > 0 b. (Agus Widarjono. Hipotesis yang digunakan : a.2. 3. Uji Statistik Selanjutnya untuk mengetahui keakuratan data maka perlu dilakukan beberapa pengujian : (Gujarati. Estimasi persamaan berikut : Y = α0 + α1 ln x1 + α2 lnx2 + α3 lnx3 + Dm lnx4 +α5 z2 + e Jika Z2 signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model linier. 2005). Jika Hipotesis negatif Ho : i 0 Ha : i < 0 .2.37 5. 2003) a. 1.

( n2 = n – k) Dimana : K : Jumlah variabel N : Jumlah pengamatan . Ha : i 0. ( n2 = n – k) Ho ditolak ( signifikan ) jika F hitung > F tabel df = (n1 = k-1). Pengujian satu sisi Jika T tabel t hitung. maka variabel independen secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel independen. b.38 2. Ho ditolak berarti variabel independen secara individu berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Hasil pengujian adalah : Ho diterima ( tidak signifikan ) jika F hitung < F tabel df = (n1 = k-1). yaitu dengan cara sebagai berikut : Ho : i = 0. Uji F statistik Pengujian ini kan memperlihatkan hubungan atau pengaruh antara variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. maka variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen. Ho diterima berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Jika T tabel < t hitung.

pengujian terhadap gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan uji DurbinWatson (DW).dU maka tidak ada autokorelasi. suatu R2 sebesar 1 berarti ada kecocokan sempurna. Autokorelasi Adalah keadaan dimana faktor-faktor pengganggu yang satu dengan yang lain saling berhubungan. Koefisien Determinasi (R2) R2 menjelaskan seberapa besar persentasi total variasi variabel dependen yang dijelaskan oleh model.39 c. maka pengadaan pemeriksaan terhadap penyimpangan asumsi klasik tersebut harus dilakukan: a.3. jika DW statistik berada diantara dU dan 4. . semakin besar R2 semakin dependen. besar pengaruh model dalam menjelaskan variabel 3. yaitu dengan cara membandingkan antara DW statistik ( d ) dengan dL dan dU. Nilai R2 berkisar antara 0 sampai 1. Pengujian asumsi klasik Pengujian ini digunakan untuk melihat apakah model yang diteliti akan mengalami penyimpangan asumsi klasik atau tidak. sedangkan yang bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel tak bebas dengan variabel yang menjelaskan.

tidak ada keputusan Menolak hipotesis nul. 2005) Atau dengan cara lain untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam model bisa dilakukan menggunakan uji LM atau Lagrange Multiplier.40 Gambar 3. Misalnya pada model regresi : Y = a + b1X1 + b2X2 +b3X3 + DmX4+e . tidak ada keputusan Menerima hipotesis nul.1 berikut ini : Tabel 3. ada autokorelasi positif Daerah keragu-raguan. Salah satu cara untuk menghilangkan pengaruh autokorelasi tersebut adalah dengan memasukkan lag variabel dependen kedalam model regresi.1 Uji Statistik Durbin-Watson Nilai Statistik 0<d<dl dl≤d≤du du≤d≤4-du 4-du≤d≤4-dl 4-dl≤d≤4 Hasil Menolak hipotesis nul.1 Daerah Autokorelasi Kriteria Pengambilan Keputusan : Daerah Daerah autoTidak ada korelasi keragu-raguan autokorelasi keragu-raguan positif autokorelasi negatif 0 dl du 4-du 4-dl 4 Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dengan jelas dalam gambar 3. tidak ada autokorelasi positif/negatif Daerah keragu-raguan. ada autokorelasi negatif Agus Widarjono.

pengujian terhadap gejala multikolinearitas dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien determinasi parsial. Dapatkan nilai R2 untuk . Jika r2 < R2 maka tidak ada multikolineraitas. Multikolinearitas Adalah hubungan yang terjadi diantara variabel-variabel independen. (r2) dengan koefisien determinasi majemuk (R2) regreasi awal atau yang disebut dengan metode Klein rule of Thumbs. 2003). 2003) b. ( Gujarati. Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan White Test. c. variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebas. yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat ( Ui2 ) dengan variabel bebas.41 yang diyakini terdapat autokorelasi. untuk menghilangkan pengaruh autokorelasi dalam model regresi tersebut dapat dilakukan dengan memasukkan lag variabel dependen (Y) ke dalam model sehingga model regresi tersebut menjadi: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + DmX4+b5Y (t-1) (Gujarati . Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama.

.42 menghitung 2003). Dari hasil uji White Test tersebut dapat disimpulkan bahwa ada heterokedastisitas ..= . Sedangkan jika nilai Obs*R square ( 2 -hitung) > 2 –tabel. q q= 0 . 2. Tidak ada heterokedastisitas 1 0 .... di mana 2 = Obs*R square (Gujarati.. Ho : Ha : 1 = 2 2 = . Dari hasil uji White Test tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada heterokedastisitas. Uji White Test Uji Hipotesis untuk menentukan ada tidaknya heterokedastisitas. berarti Ho dapat ditolak. Ada heterokedastisitas –hitung Perbandingan antara Obs*R square ( 2 tabel. berarti Ho tidak dapat ditolak. )dengan 2 -hitung – yang menunjukkan bahwa Obs*R square ( 2 )< 2 –tabel.

1. 7. 8. White and Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di gunakan berbentuk linier atau log linier. Pemilihan Model Regresi Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon.1. Analisis Hasil Regresi dan Pengujian Hipotesis 4.1. dan selanjutnya dinamai F2.43 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4. Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier adalah sebagai berikut : • Linier • Log Linier Y = o+ 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + e lnY = αo + α1 X1 lnX1 + α 2 lnX2 + α3 lnX3 +α 4 lnX4 + e Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier) H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier) Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut : 6. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan selanjutnya dinamai F1. Dapatkan nilai Z1 = ln F1-F2 dan Z2 = antilog F2-F1 . Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya.

Estimasi persamaan berikut ini : Y = o+ 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 Z1 +e Jika Z1 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis nul dan model yang tepat digunakan adalah model linier 10. Tenaga Kerja. Adapun aplikasi metode MWD dalam kasus regresi Faktor – Faktor yang mempengaruhi Investasi di Indonesia periode 1985 sampai dengan 2004 dimana Pendapatan Domestik Bruto.44 9. Estimasi persamaan berikut : Y = α0 + α1 ln x1 + α2 lnx2 + α3 lnx3 +α4 lnx4 + α4 z2 + e Jika Z2 signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model linier. X2 = Jumlah tenaga kerja. X3 = Infrastruktur . sehingga kita mempunyai persamaan sebagai berikut : • Linier • Log Linier Y = o+ 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + e lnY = αo + α1 X1 lnX1 + α 2 lnX2 + α3 lnX3 +α 4 lnX4 + e Y = PMDN . . Infrastruktur dan variabel dummy yang digunakan adalah kondisi sebelum dan sesudah krisis moneter merupakan varabel independen. X1 = PDB .

45 X4 = Variabel Dummy.49 Z1 ! .0.47905.0.572414 X3 . dan e adalah residual masing-masing model regresi.47774. Adapun langkah ke 4 metode MWD yakni melakukan regresi sebagaimana persamaan yang terdapat pada prosedur di atas yang menghasilkan informasi persamaan regresi sebagai berikut : Y = -202521.002119 X1 + 0.9 .72 X4 .005658 X2 .826622 Untuk memutuskan bentuk model dengan metode MWD kita harus menjalankan langkah nomor 1 sampai 3. Hasil estimasi masing-masing model adalah sebagai berikut: o Hasil regresi linier o Hasil regresi log-linier R2 = 0.

084480lnX4 .812 -0.86E-06Z2 ! Nilai Probabilitas koefisien Z2 pada persamaan diatas adalah Dengan demikian variabel Z2 tidak signifikan secara statistik.1.46 Nilai Probabilitas koefisien Z1 pada persamaan diatas adalah Dengan demikian variabel Z1 tidak signifikan secara statistik.7.1949 + 0.1 Hasil Uji MWD Variabel Nilai Statistik t Nilai Tabel t α (=5%) -0.3950 .225839 lnX1 + 5. Sehingga hipotesis nul yang menyatakan bahwa model fungsi regresi yang benar adalah bentuk log linear diterima.140.5365 0.812 Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) Probabilitas 0.634987 Z1 1.671004lnX2 + 3. Sehingga hipotesis nul yang menyatakan bahwa model fungsi regresi yang benar adalah bentuk linear diterima. Sedangkan hasil regresi pada langkah 5 mempunyai persamaan sebagai berikut: lnY = . Hasil estimasi dari uji MWD dapat dilihat dibawah ini: Tabel 4. Hasil kedua regresi menunjukan bahwa model fungsi linier maupun log linear bisa digunakan untuk menjelaskan tentang Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Investasi Di Indonesia.508275 lnX3 .875739 Z2 1.

0. Ini berarti variabel Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia dapat dijelaskan oleh PDB.66 persen sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.339502 -3.47 4. R2 dalam regresi sebesar 0.334572 37.189227 -1.1.826622.45224 0.0015 10. Hasil regresi log linier berganda yang di dapat adalah sebagai berikut : Tabel 4. . dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 4.950961 1. Error 0.2.093280 0.780388 0.240329 3.912447 2.881384 Prob. Koefisien Determinasi (R2) Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur proporsi atau prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model regresi.0582 0. Tenaga Kerja dan Infrastruktur serta variabel dummy krisis ekonomi sebesar 82. Hasil Regresi Analisis hasil regresi ini menggunakan alat bantu yaitu program komputer Eviews.979014 -9.3.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.0045 0.63977 t-Statistic 0.523555 -3.329218 Std.1484 0.219287 6.433737 1.000014 Mean dependent var S.050543 1.87907 0.2 Hasil Regresi Loglinear Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 10:44 Sample: 1985 2004 Included observations: 20 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C R-squared Adjusted R-squared S.682670 17.445647 2.1.223639 3.D.826622 0.035118 2.337372 1.117303 -146.3760 0.0944 0.

4. dengan = 5 %. Jika t-tabel < t-hitung berarti Ho ditolak atau variabel Xi berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.1. Pengujian t-Statistik Uji t-statistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. (Gujarati.48 4. Pengujian t-statistik dilakukan dengan cara membandingkan antara thitung dengan t-tabel. tetapi jika t-tabel t- hitung berarti Ho diterima atau variabel Xi tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. . Uji t-statistik yang dilakukan menggunakan uji satu sisi (one tail test). Se = Standar error. K = Jumlah variabel independen termasuk konstanta. n = Jumlah sampel yang diteliti. df ( n-k ) } t-hitung = bi = Se(bi) Keterangan : = Level of significance. atau probabilitas menolak hipotesis yang benar. 2003) t-tabel ={ .

Perbandingan antara t-hitung dengan t-tabel. yang menunjukkan bahwa t-hitung < t-tabel.523555 -3.219287 6.753 1. Ha : 1 > 0.753 Keterangan Tidak signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) 1.753).753 ( df ( n-k ) 20-5 = 15 . berarti variabel PDB riil berpengaruh positip terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.912447 sedangkan t-tabel = 1. sehingga t-hitung > t-tabel (0.189227 -1.223639 3.05 ).753 1.912447 2. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel PDB riil ( 1) Hipotesis pengaruh variabel PDB riil terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri Di Indonesia yang digunakan adalah : Ho : 1 < 0 .117303 t-hitung 0.49 Tabel 4.912447 < 1.339502 t-tabel 1.3 Hasil Uji T-Statistik Variabel Koefisien X1 X2 X3 Dm 0. berarti variabel PDB riil tidak berpengaruh terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri. Ho diterima sehingga dapat . = 0.050543 1.753 1. Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X1 = 0.

753 ). yang menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel. = 0.753 2.753 ( df ( n-k ) 20-5 = 15 . Perbandingan antara t-hitung dengan t-tabel. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel Tenaga Kerja ( 2) Hipotesis pengaruh variabel Tenaga Kerja terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negri Di Indonesia yang digunakan adalah : Ho : 1 < 0 . berarti variabel Tenaga Kerja tidak berpengaruh terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri. Ho ditolak sehingga .1 Kurva Uji t Parameter Variabel Produk domestic Bruto Daerah Ho diterima 0. Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X2 = 2.050543 > 1.50 disimpulkan bahwa variabel PDB riil positif dan tidak signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri. Ha : 1 > 0. sehingga thitung > t-tabel (2.050543 sedangkan t-tabel = 1.05 ).912447 Daerah Ho ditolak 1. berarti variabel Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri... Gambar 4.

berarti variabel Infrastruktur berpengaruh positif terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri. = 0.523555 < 1. Perbandingan antara t-hitung dengan ttabel. sehingga t-hitung < t-tabel (1.05 ). Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X3 = 1. Ha : 3 > 0.51 dapat disimpulkan bahwa variabel Tenaga Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri. Ho diterima sehingga .753 ( df ( n-k ) = 15 . Gambar 4.753 ). berarti variabel Infrastruktur tidak berpengaruh terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.050543 3. yang menunjukkan bahwa t-hitung < t-tabel. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel Infrastruktur ( 3) Hipotesis pengaruh variabel inflasi terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negri Di Indonesia yang digunakan adalah : Ho : 3 < 0 .2 Kurva Uji t Parameter Variabel Tenaga Kerja Daerah Ho diterima 1.523555 sedangkan t-tabel = 1.753 Daerah Ho ditolak 2.

= 0. Ha : 4 < 0.3 Kurva Uji t variabel Infrastruktur Daerah Ho diterima Daerah Ho ditolak 1.753 4. sehingga thitung > t-tabel . berarti variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh negatif terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri. Gambar 4.52 dapat disimpulkan bahwa variabel Infrastruktur positif dan tidak signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.523555 1.339502 sedangkan t-tabel = -1. Uji t-Statistik terhadap parameter Variabel dummy krisis ekonomi (Dm) Hipotesis pengaruh variabel dummy krisis ekonomi terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia yang digunakan adalah : Ho : 4 0 . Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X4 = -3.05 ).753 ( df ( n-k ) = 15 . berarti variabel dummy krisis ekonomi tidak berpengaruh terhadap variabel Penanaman Modal Dalam Negeri.

Gambar 4.753 4. (Damodar Gujarati.1.4 Kurva Uji t Parameter Variabel Dummy Daerah Ho diterima . ( 5-1= 4 .5.339502 > -1. Pengujian F-statistik ini dilakukan dengan cara membandingkan antara F-hitung dengan F-tabel. 2003) F-hitung = F-tabel = ( R 2 /(k − I ) (1 − R 2 ) /( n − k ) : k-1.753 ). yang menunjukkan bahwa t-hitung > t-tabel. 20-5 =15 ) Jika F-tabel < F-hitung berarti Ho ditolak atau variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap . Pengujian F-Statistik Uji F-statistik digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen.1. n-k ) = 5 %.53 (-3. Ho ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel dummy krisis ekonomi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri.3. Perbandingan antara t-hitung dengan t-tabel.339502 .

Tenaga Kerja (X2) dan Infrastruktur (X3) serta variabel dummy krisis ekonomi (Dm) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia. Ha : 1 2 3 0. Pengujian Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik ini meliputi 3 macam pengujian. Hasil perhitungan yang didapat adalah F-hitung = 17.87907 sedangkan F-tabel = 3. menandakan bahwa variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.2.54 variabel independen. tetapi jika F-tabel F-hitung berarti Ho diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. 15). berarti variabel independen secara keseluruhan berpengaruh terhadap variabel independen. sehingga F-hitung > Ftabel (17.05 . 4.06 ( = 0. 4 .87907 > 3. berarti variabel independen secara keseluruhan tidak berpengaruh terhadap variabel independen. . sehingga bahwa variabel PDB riil (X1). yaitu pengujian multikolinieritas. Perbandingan antara F-hitung dengan F-tabel yang menunjukkan bahwa F-hitung > F-tabel. Hipotesis yang digunakan adalah : Ho : 1 = 2 = 3 = 0.06). autokorelasi dan heteroskedastisitas.

000000 0.563601 1. hasil regresi Log Linier pada penelitian ini masih termasukkategori BLUE (Best Linier Unbiase Estimation) karena untukmemperoleh estimator yang BLUE tidak mensyaratkan asumsi .899125 -0.000000 0.899125 1. Meskipun ada 1 (Log X1) variabel yang terkena multikolinieritas.127670 0.000000 LOG(Y) LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran) Dari uji miltikolinearitas tersebut diatas menunjukkan bahwa apabila hasilnya < 0.000000 0.2.617674 -0.127670 0. Pengujian terhadap gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan membandingkan koefisien determinasi parsial (r2) dengan koefisien determinasi majemuk (R2).727249 0.590526 -0.308542 1.308542 -0.175954 0.727249 0.175954 0.590526 0.250008 1.000000 -0. Multikolinieritas adalah hubungan yang terjadi diantara variabelvariabel independen atau variabel independen yang satu fungsi dari variabel independen yang lain.1.054222 0. Multikolinieritas. Tabel 4.563601 0.55 4.617674 -0. jika r2 lebih kecil dari R2 maka tidak ada multikolinieritas.054222 0.4 Hasil Pengujian Mulitkolinearitas LOG(Y) LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM 1.85 yang berarti bahwa volume impor tidak terdapat adanya penyakit asumsi klasik (multikolinearitas).250008 0.

yaitu dengan cara meregresi residual kuadrat ( Ui2 ) dengan variabel bebas. Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi digunakan uji serial correlation LM test dengan menggunakan lag 1 yang hasilnya dapat dilihat pada tampilan dibawah ini. dengan demikian hasil uji dengan menggunakan uji serial correlation LM test tidak terdapat adanya penyakit asumsi klasik (autokorelasi) Tabel 4.2. Pengujian terhadap gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan White Test.2.84146 dengan df = 1 dan = 0.019884< X²-tabel = 3.3.2. .326546 Probability 3.05. Autokorelasi. Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak memiliki varian yang sama.082249 0.5 Uji LM Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.019884 Probability 0.56 tidak adanya korelasi antar variabel independen (Agus Widarjono. 2005: 139) 4.158167 4. Dari uji autokorelasi tersebut diatas menunjukan bahwa ditemukan nilai X²-hitung = 3.

0671).495214 0.05 ).0671 ( df = 7 ...57 variabel bebas kuadrat dan perkalian variabel bebas.084865 sedangkan 2 2 -hitung -tabel = 14....413751 .. Ho : Ha : 1 = 2 2 = . Tidak ada heterokedastisitas 1 0 . sehingga -hitung < 2 –tabel (6. Perbandingan antara 2 dengan 2 –tabel. yang menunjukkan bahwa 2 -hitung < 2 –tabel.= . Uji White Test Uji Hipotesis untuk menetukan ada tidaknya heterokedastisitas. q q= 0 . Ada heterokedastisitas Hasil perhitungan yang didapat adalah Obs*R square ( 2 -hitung ) = 6. Dapatkan nilai R2 untuk menghitung 2. Dari hasil uji White Test tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada heterokedastisitas Tabel 4. berarti Ho tidak dapat ditolak.084865 Probability Probability 0. 2003 ). di mana 2 = Obs*R square ( Gujarati.6 Hasil Uji White Test White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 0.084865 < 14. = 0.947448 6.

58 4. kondisi tersebut menyebabkan investor enggan untuk berinvestasi mereka lebih memulih untuk berinvestasi dalam bentuk deposito apalagi pada pada tahun 1997 tingkat suku bunga deposito di indonesia mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Hal tersebut disababkan kondisi sosial politik dan keamanan Indonesia yang belum stabil pasca krisis moneter yang melanda Indonesia mulai awal tahun 1997. Itu berarti kenaikan tenaga kerja akan menaikkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Jumlah Tenaga Kerja Hasil regresi yang di dapat bahwa jumlah tenaga kerja (JTK) berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia.2. Hasil regresi menunjukkan nilai koefisien TK adalah 6.223639.3. Interpretasi Ekonomi 4. Produk Domestik Bruto (PDB riil) Hasil regresi yang di dapat bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) riil tidak berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia.1.3.3. 4. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap kenaikan 1% tenaga kerja. Hal tersebut bias dilihat dari tahun sebelum terjadinya krisis yaitu sebesar rata-rata 12% per tahun meningkat menjadi 44% pada tahun 1997. variabel lain tidak berubah (ceteris paribus) mengakibatkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia naik sebesar . begitu juga sebaliknya.

Hal tersebut juga disebabkan karena faktor sosial politik dan keamanan di indonesia yang tidak kondusif pasca krisis moneter. dan juga dapat dilihat dari segi kondisi kualitas jalan yang masih belum memadai. Jadi adanya kenaikan jumlah tenaga kerja akan berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia.3. 4. Variabel Dummy (Krisis Ekonomi) Hasil regresi yang di dapat bahwa krisis ekonomi (dm) berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini. dimana krisis ekonomi dan penanaman modal dalam negeri .223639 %. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini.3. Infrastruktur Hasil regresi yang di dapat bahwa Infrastruktur tidak berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Oleh karena itu hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja dengan mengembangkan sistem keterpaduan antara dunia pendidikan.59 6.3. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor penting dalam berproduksi. perkembangan pembangunan dan teknologi. Adanya peningkatan jumlah tenaga kerja akan meningkatkan kapasitas produksi.4. dimana tenaga kerja dan Penanaman Modal Dalam Negeri mempunyai pengaruh positif. pelatihan keterampilan yang sepadan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. 4.

.60 mempunyai pengaruh negatif. tingginya tingkat inflasi dan tingginya tingkat pengganguran serta berpengaruh negatif terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Sehingga para investor enggan untuyk berinvestasi hal tersebut dikarenakan ketakutan para investor akan kondisi stabilitas politik dan keamanan indonesia yang masih belum stabil yang di akibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda indonesia. Adanya krisis ekonomi tersebut menciptakan adanya kelesuan usaha. Dampak krisis ekonomi terhadap perekonomian ditandai dengan pertumbuhan yang negatif. Jadi adanya krisis ekonomi akan berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Krisis ekonomi yang terjadi pertengahan 97 dan puncaknya pada tahun 1998 telah memberikan pengaruh yang luas kepada perekonomian.

Hal tesebut di sebabkan oleh kondisi sosial politik dan keamanan Indonesia yang belum stabil paska krisis monener yang melanda Indonesia pada tahun 1997. 2.1. Infrastruktur dan variable dummy secara serempak mempunyai pengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh terhadap terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan mengenai penanaman modal dalam negeri maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Jadi adanya kenaikan jumlah tenaga kerja akan berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Produk domestik bruto.61 BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 5. Hasil pengujian secara individual terhadap faktor . Jumlah Tenaga Kerja.faktor yang mempengaruhi Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Hasil pengujian menunjukkan bahwa PDB tidak berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. b. Tenaga kerja .

Oleh karena itu hal yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas tenaga kerja antara dengan dunia mengembangkan sistem keterpaduan pendidikan.62 merupakan salah satu faktor penting dalam berproduksi. Jadi adanya krisis ekonomi akan berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. d. Hasil pengujian menunjukkan bahwa krisis ekonomi (Dm) mempunyai pengaruh negatif terhadap terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Infrastruktur (Jumlah Panjang Jalan) tidak berpengaruh terhadap penanaman modal dalam negeri di Indonesia. Adanya peningkatan jumlah tenaga kerja akan meningkatkan kapasitas produksi. . pelatihan keterampilan yang sepadan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Hal tesebut di sebabkan oleh kondisi sosial politik dan keamanan Indonesia yang tidak kondusif paska krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 dan juga kondisi kualitas jalan yang kurang memadai. c. perkembangan pembangunan dan teknologi.

pelatihan keterampilan yang sepadan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Hal ini dikarenakan Tenaga keja merupakan salah satu faktor yang penting dalam sebuah produksi. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah menyediakan pengembangan sistem terpadu seperti dunia pendidikan. Implikasi Kesimpulan hasil penelitian diatas memberi implikasi sebagai berikut 1. PDB tetap perlu ditingkatkan untuk meningkatkan penanaman Modal Dalam Negeri dalam tingkat yang wajar karena dengan laju Penanaman Modal Dalam Negeri yang wajar. sektor riil akan tetap bergairah dan memberikan peluang-peluang peningkatan mutu kesejartaan masyarakat. Infrastruktur tidak berpengaruh terhadapa Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia. Sebagai prasarana transportasi yang penting untuk jalan mempelancar yang kegiatan akan perekonomian. 2. Sebagai indikator tingkat pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan oleh kondisi dari kualitas jalan itu sendiri yang kurang memadai. dan perlu di perhatikan juga dari tingkat sosial politik dan keamanan di Indonesia yang belum stabil yang mengakibatkan para investor dalam negeri berpikir dua kali untuk menanamkan investasinya di indonesia. Jumlah Tenaga kerja berpengaruh terhadap Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia. Peningkatan kualitas tenaga kerja akan meningkatkan daya saing dalam meningkatkan kapasitas produksi. 3.63 5. tersedianya berkualitas .2.

4. efisiensi yang dicapai oleh dunia usaha akan semakin besar dan investasi yang didapat semakin meningkat. pemerintah harus memperkuat struktur perekonomiannya sehingga tidak rentan terhadap goncangan. . Untuk mengendalikan laju Penanaman Modal Dalam Negeri. Selain itu pemerintah juga harus meningkatkan kestabilan sosial politik dan keamanan karena laju inflasi sangat rentan terhadap hal ini. Di sini sebaiknya pembangunan kembali Infrastruktur sangat penting bagi Penanaman Modal Dalam Negeri.64 meningkatkan usaha pembangunan khususnya dalam upaya memudahkan lalulintas barang dari satu daerah ke daerah lain. Dengan Infrastruktur yang memadai.

Fakultas Ekonomi.Factor-faktor yang Mempengaruhi Investasi Swasta di Indonesia. Ekonometrika. Gagasan. IQRA. Metodologi Penelitian Ekonomi. Indikator Ekonomi Indonesia.Skripsi.Berbagai Edisi. 2003. 1984-2005. Model Kredit Investasi Pada Sektor Industri Oleh Bank-bank Pemerintah Tahun 19981-1997. Ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik. Gujarati. Ekonomi Politik di Asia Pasifik. Universitas Islam Indonesia.1996 Rahardjo. Jati .1995 Jogiyanto.1982 Sumarno. Sritua. . 1993. Heri.2000. 31 oktober 2000. 1984-2006. Widarjono. yogyakarta.Fakultas Ekonomi. Pemikiran dan Polemik. BI. Abdul.Kuntjoro . .65 DAFTAR PUSTAKA Andriani. Dawam.Agus. Ekonisia. Berbagai edisi. Jakarta. Statistik Ekonomi Indonesia. 2001 Arief. 2001. Ekonomi Pembangunan. 2005 . Cetakan Ketiga.Ekonometrika Dasar. Yogyakarta : BPFE UGM. Universitas Islam Indonesia. Terjemahan. Sagi. Edisi ketiga. Soeharto. Statistik Keuangan Indonesia.Skripsi. Jakarta. 1984-2005.1993 Hakim. Bernas. Berbagai edisi. Jakarta : UI PRESS.Bandung. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Damodar. Prawatyo Aditya. Manajemen Pemasaran Internasional. “Tren Ekonomi 2000 Antara Optimisme dan Pesimisme”. Salemba Empat. Erlangga. UII Press. Erlangga Jakarta. Gita. Yogyakarta. edisi 2.

66 .

727 319.816.784.402.878 327.211 227.8 1991 41084.948.834 73.443 72.934 271.344 254.2 1988 15681 824234.176 288.3 660496.782 368.929 X4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 .518.441 344.457.363 224.187 70.813 87.8 1015854 1992 29341.036 94.6 1506124 2003 50092.7 1081472 1993 39450.1 1238569 1995 69853 1340379 1996 100715 1445173 1997 119873 1513094 1998 60749.423.204 75.859 89.908.362 370.110.67 Lampiran 1 : Data Penelitian TAHUN Y X1 1985 3830.647.892 356.701.580 76.516 372.672.951 361.227 336.138 68.8 1989 21907 886405.730 90.372 79.4 1660579 Sumber : Badan Pusat Statistik Dimana : Y X1 X2 X3 X4 = Penanaman Modal Dalam Negeri (Miliar Rp) = Produk Domestik Bruto (Miliar Rp) = Jumlah Tenaga Kerja (Ribu Jiwa) = Infrastuktur (Jumlah Panjang Jalan) (Km) = Variabel Dummy X4 = 0 ( Sebelum Krisis Ekonomi) X4 = 1 ( Sesudah Krisis Ekonomi) X2 62.816.363 355.118 X3 207.807.4 949837.3 1314474 1999 53550 1324873 2000 93327.200.850.4 1987 11404 777416.060 85.951 355.377 341.370 325.2 1990 59878.166 90.179 78.049.7 1389770 2001 58816 1442985 2002 25307.417 91.917 93.338.837.4 1151729 1994 53289.542 80.449 88.1 1579559 2004 34140.467 355.722.5 1986 4126 742061.756 87.

000057 Mean dependent var S.916044 1.731471 1.246537 3.08952 23.795098 26840.002119 0.5993 0.125399 Std.1053 0.50 6.456600 2. Error 0.014002 Mean dependent var S.8 0.E.830128 0.09615 t-Statistic 0.634987 Prob.114612 -0. Error 266772. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Lampiran 3 : Uji MWD Log Linier Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 13:24 Sample: 1985 2004 Included observations: 20 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM Z2 C R-squared Adjusted R-squared S.86E-06 -140. 0.4613 0.225341 0.49 0.225839 5.537545 -3.576511 -3.3504 1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -202521.005292 0.005658 -0.513308 1.0098 0.719930 -1.D.488841 22021.1372 0.918772 -9.769460 0.630829 0.025175 -0.001870 0.0036 10.28 23. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.442814 0. 0.496469 Prob.38776 4.3752 0.572414 -47774.9 -0.0076 0.72 -47905.133076 1.759155 -0.45 75443.E.508275 -1.417128 Std.D.0985 0.400339 3.82 30801.32 t-Statistic -0.671004 3.084480 -7.950961 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .68303 0.1949 0.348191 1.45224 0.275252 2.4843 0.6954 0.46E-05 40.68 Lampiran 2 : Uji MWD linier Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 10:56 Sample(adjusted): 1986 2004 Included observations: 19 after adjusting endpoints Variable C X1 X2 X3 DM Z1 R-squared Adjusted R-squared S.812027 13.5365 49609.30E+09 -213.779952 -0.

985969 Prob. Error 0.433737 1.0015 10.472612 0.651216 -3.523555 -3.950961 1.334572 37. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .5248 0.45224 0.99E+09 -225.001755 0.050543 1.204980 Std. 0.25 23.302583 2.51 t-Statistic -0.979014 -9.0944 0.117303 -146.682670 17.826622 0.7664 0.219287 6.D.000014 Mean dependent var S.3760 0.912447 2.87907 0.320396 16605.535344 21594.E.1484 0.0117 0.445647 2.003112 Mean dependent var S.339502 -3.19 92898.0065 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient -0.000896 0.329218 Std.240329 3.25950 6.1057 1.36 -277392.0092 47320.E.223639 3.337372 1.69 Lampiran 4 : Uji Regresi Linier Dependent Variable: Y Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 15:45 Sample: 1985 2004 Included observations: 20 Variable X1 X2 X3 DM C R-squared Adjusted R-squared S.D.633166 0.208647 -52488.63977 t-Statistic 0.38 6.0582 0. Error 0.881384 Prob.1 0.005034 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.867851 -0.780388 0.035118 2.160962 -2.01057 23. 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Lampiran 5 : Uji Regresi Log Linier Dependent Variable: LOG(Y) Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 15:44 Sample: 1985 2004 Included observations: 20 Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C R-squared Adjusted R-squared S.002963 0.0045 0.093280 0.189227 -1.85 31679.

245691 3.7809 0.46337 0.306321 t-Statistic 0.8616 0.177634 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.283576 0.139861 Prob.E.977400 Std.9998 0.259857 0.51E-15 0.D.7823 0.292397 -0.349163 0. Error 0.069672 0.072704 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) .698489 Probability Probability 0.299283 1.000402 -0.444989 1.441266 2.395967 1.726023 -8.70 Lampiran 6 : Uji LM Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 1.83725 0. Variable LOG(X1) LOG(X2) LOG(X3) DM C RESID(-1) R-squared Adjusted R-squared S.449885 1.540443 -0. 0.100220 -10.084924 -0.2735 -8.342752 38.927610 Mean dependent var S.241888 0.7743 0.000194 -0.192486 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 11:55 Presample missing value lagged residuals set to zero.743708 0.281755 1.273471 0.042456 2.

098557 3.6398 0.324930 t-Statistic 0.495214 0.1926 -10.479074 0.7414 0.38367 0.441715 0.7843 0.084865 Probability Probability 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) . of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 606.478664 -0.190429 0.D.477532 0.016875 0.138651 0.6401 0. Error 1266.209856 0. 0.947448 0.786798 3.264280 0.148951 0.6409 0.279401 Prob.495214 Mean dependent var S.174011 -87.E.6660 0.50763 0.482024 183.413751 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 01/25/08 Time: 12:00 Sample: 1985 2004 Included observations: 20 Variable C LOG(X1) (LOG(X1))^2 LOG(X2) LOG(X3) (LOG(X3))^2 DM R-squared Adjusted R-squared S.188842 -0.6636 0.56965 3.337163 -0.350199 1.090786 0.426 23.471423 9.445094 0.71 Lampiran 7 : Uji white White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 0.947448 6.228565 Std.480131 0.304243 -0.3798 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful