Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. atau dalam hal tertangkap tangan.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. pencurian yang didahului. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia.7 juta. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Dalam kasus ini. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. perintah palsu. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. disertai. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. Dari tempat kejadian perkara. di jalan umum. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. terhadap orang. 4. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. 2. Berikut unsur – unsur pencurian. atau pakaian jabatan palsu. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. > Unsur – Unsur Objektif berupa : . dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 3. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia.

2. Sedangkan melawan hukum materiil. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Berdasarkan hal tersebut. Maksud untuk memiliki. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. dan kedua unsur memiliki. yaitu pertama melawan hukum formil. dan kedua melawan hukum materiil. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. 1979:79-80). Melawan hukum. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. jika benda berada pada pelaku. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis.1. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. cukup sebagian saja. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. 3. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). Unsur benda. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. 2. ia sudah mengetahui. . yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. 1:52 atau Lamintang. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). berupa unsur kesalahan dalam pencurian. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil.

karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. mereka lalu melarikan diri. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. sehingga masih bisa diadili. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. dalam keadaan sadar. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. diancam karena pencurian. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain.Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Dilihat dari sisi umur. Selain .

Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Seperti yang telah disebutkan di atas. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Kesimpulan Kesimpulannya. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. artinya menurut hukum Indonesia. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). epilepsy dan lain sebagainya.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. jumlah pelaku lebih dari seorang. Jika melihat kasus diatas lagi. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. seperti orang gila atau epilepsy. yaitu pertanggungjawaban. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. tapi bukan pengaduan. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. ancaman kekerasan. . maka tetap bisa dilakukan penuntutan. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Semua unsur. Pada kasus pemerasan. mulai dari pencurian. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil.

Solo: Seorang pemuda asal Sumber.blogspot. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan. Jika tidak dituruti. 117-121 · [2] ibid..(BJK/ANS) . Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. S.H. ia hanya bisa tertunduk lesu. Rabu (7/7). Atas perbuatannya. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. 135-142 Assalamualaikum wr. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja.com. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. Bandung : Armico. Solo. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras.H. Dari pengakuan tersangka.com excellentlawyer.blogspot. Selain menangkap tersangka. Dari keterangan saksi. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. S. Banjarsari. Jawa Tengah. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Hal.. 1995. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Hal. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Bandung : Armico. 1995. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖.

Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. pelaku. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain).. yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain. maka berlaku hukum pidana Indonesia . Supaya memberi hutang. 3. Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. 5. diancam. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. untuk memberikan sesuatu barang. karena pemerasan. 2. Dengan maksud. 4. atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. Orang lain. >>> Unsur subyektif.setiap minggu. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri.Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.000. yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. yang meliputi unsur-unsur : 1. 6. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. . 2. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Ketentuan Pasal 365 ayat (2). Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Memaksa . 2. Untuk menghapus piutang. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas).

apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Unsur “supaya memberi hutang”. Artinya. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Pemerasan dianggap telah terjadi. pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Barang yang diserahkan adalah uang. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku.Berkaitan dengan unsur itu. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. . berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. 3. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Unsur “untuk menghapus hutang”. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150. Dilihat dari sisi umur. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. 4. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut.2. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi.-. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas. 5. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. tetapi cukup apabila dapat dibuktikan. Jadi.000. korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras. persoalan yang muncul adalah. baik yang subjektif maupun yang obyektif. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.

delik umum (gemeen delict). 2. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. 8. 5.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. delik komisi (commissie delict). Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. 6. Dalam hal ini. 7. delik rampung (aflopend delict). karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. perbuatannya adalah pemerasan. sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. maka polisi pun menangkap pelaku. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. 9. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Atas laporan korban. karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. delik tunggal (enkelvoudig delict). 3. 4. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu. delik umum (delicta communia). Pada kasus ini. delik aduan (klacht delict). pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. delik kesengajaan (doleus delict). Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Dalam kasus ini. sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. . karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. delik formal (formeel delict). dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP.

Awalnya. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. Dalam kasus ini.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04. Petugas jaga lainnya. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas).Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. dengan maksud .7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dari tempat kejadian perkara. KOMPAS. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. tetapi tidak bisa berkutik. 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. disertai. mulut dan mata diplakban. serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Keduanya sempat melawan. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Keduanya diringkus pelaku. pencurian yang didahului. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2).7 juta. Nawawi. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. Selain kalah banyak. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik.7 juta di laci. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. terhadap orang.

yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. atau dalam hal tertangkap tangan. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. 4. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. 2. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. 1979:79-80). jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. Berikut unsur – unsur pencurian.untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. 1:52 atau Lamintang. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. cukup sebagian saja. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. di jalan umum. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Unsur benda. 3. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. Berdasarkan hal tersebut. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. perintah palsu. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). jika benda berada pada pelaku. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. 2. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. . Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. atau pakaian jabatan palsu. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. 3.

sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). dan kedua unsur memiliki. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. 2. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. Sedangkan melawan hukum materiil. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. dan kedua melawan hukum materiil. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Dilihat dari sisi umur. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. diancam karena pencurian. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. . Maksud untuk memiliki. Melawan hukum. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. yaitu pertama melawan hukum formil. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. ia sudah mengetahui. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud.

Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. sehingga masih bisa diadili. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. yaitu pertanggungjawaban. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. dalam keadaan sadar. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. epilepsy dan lain sebagainya. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. mereka lalu melarikan diri. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan.Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. seperti orang gila atau epilepsy. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Jika melihat kasus diatas lagi. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. artinya menurut hukum Indonesia. .7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

maka tetap bisa dilakukan penuntutan. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. mulai dari pencurian. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. S.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. jumlah pelaku lebih dari seorang.Seperti yang telah disebutkan di atas.H. tapi bukan pengaduan. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil... Kesimpulan Kesimpulannya. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. 1995. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Hal. 135-142 . yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. Hal. sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. 117-121 · [2] ibid.blogspot.blogspot. Pada kasus pemerasan. Semua unsur. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan.H. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. S. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Bandung : Armico. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum.com excellentlawyer. ancaman kekerasan. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. 1995. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). Bandung : Armico.

Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. Kota Batam.Fahmi. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. 10 Maret lalu. lalu saya sembunyi di sumur. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. AKP Suka Irawanto. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Batam Kota. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Kelurahan Baloi Permai. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. ―Dia bangun dan ikut saya. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. Setelah membunuh. Dengan posisi itu. ―Saya pukul pakai martil sekali. terus saya belah perutnya. Atas perbuatannya itu. Pada awalnya.Liputan6. Saat kotak yang panjangnya 1. ―Dia langsung jatuh. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. pelaku menyimpan mayat korban. ujar Harun. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Harun pura-pura mundur. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. nggak pake baju‖. Saat itu. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. kepala Polsekta Batam Kota. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita.5 meter dibuka. Dari hasil pemeriksaan. kawasan Legenda Malaka. Oktober 2009 silam.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi.‖ kata Novita. Tegal. leluasa memukuli kepala Fahmi. 3 Maret silam.com. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Kepulauan Riau. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. Setelah cuci muka. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Jawa Tengah. Selain itu. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. darahnya kena muka saya. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat.‖ Sehari kemudian. ungkap Harun. sempat teriak sekali. ―Di betis juga terdapat irisan.

Sengaja. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). Menurut doktrin. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana .com Analisis Kasus I. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Barangsiapa. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal.(BOG) Sumber : Liputan6. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person.com dan klip21. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). diancam. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). yaitu : a. yaitu manusia.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga.

maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Dalam kasus. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Dengan rencana lebih dahulu.1. karena pembunuhan dengan rencana (moord). namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. Berdasarkan tempus dan locus delicti . dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. yaitu : 1. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. diancam. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. paling lama dua puluh tahun ― I. 1.

Dalam kasus. Berdasarkan kasus. yaitu alat yang tidak bekerja. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. yaitu Oktober 2009 a. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. yaitu Oktober 2009 1. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. 1.a. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1.

1. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. yaitu di Kota Batam I. Dalam kasus. yaitu alat yang tidak bekerja. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Cara menentukan locus adalah : 1. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Berdasarkan kasus. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja.

Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. 1.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. 1. makasa prinsip ini tidak digunakan. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Prinsip Universalitas . Dalam prinsip ini. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan.

pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. Jenis-jenis delik 1.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. Dalam kasus pembunuhan tersebut. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). 1. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. 1.

Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. 1. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. 1. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia.Dr. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. dan lainnya) atau bukan 1. Pegawai Negeri.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). 1. WNA. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. tidak berlangsung terus menerus 1. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Ajaran Kausalitas . Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.

Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Dari semua faktor yang bernilai sama. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Delik Materil 2. Delik Omisi tidak murni 3. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Berdasarkan teori Birkmeyer. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. a. Berdasarkan kasus. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. diambil satu yang dianggap paling bernilai. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. harus diberi nilai sama. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. diambil satu yang menurut pengalaman. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. yaitu : 1. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. b. 1. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Berdasarkan teori tersebut. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir.

Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. I. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. setelah terselesainya delik. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. karena pembunuhan dengan rencana (moord). diancam. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. tidak sesuai dengan hukum. secara bertentangan dengan kewajiban umum. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. Berdasarkan kasus. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . Menurut KUHP. secara bertentangan dengan kewajibannya. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak.

I. Kesengajaan terbagi atas : a. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. sasaran jamak e. Dolus Deneralus. yaitu : a. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan.Dalam kasus. Untuk mewujudkan tindakannya. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Dolus Premiditatus. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. kehendak berupa pilihan d. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). yaitu matinya korban. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Dolus Indeterminatus. Kesengajaan dengan maksud. Dolus Determinatus. termasuk delik formil b. Dolus Inderectus. dan adanya tindakan. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Dolus Alternativus. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. adanya kehendak.

Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. . Berdasarkan kasus. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. 1. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Niat 2. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. 1. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana.

Dengan posisi itu. Kepulauan Riau. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.‖ Sehari kemudian. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Jawa Tengah.‖ kata Novita. ungkap Harun. AKP Suka Irawanto. ―Dia langsung jatuh. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. nggak pake baju‖. Kelurahan Baloi Permai. Tegal. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. darahnya kena muka saya. 10 Maret lalu. 3 Maret silam. Pada awalnya. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. ujar Harun. terus saya belah perutnya. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Dari hasil pemeriksaan. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. kawasan Legenda Malaka. ―Saya pukul pakai martil sekali. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. kepala Polsekta Batam Kota. sempat teriak sekali. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. pelaku menyimpan mayat korban.Fahmi. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. leluasa memukuli kepala Fahmi. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Saat itu. Harun pura-pura mundur. Saat kotak yang panjangnya 1. Batam Kota.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi.com. Selain itu. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Setelah cuci muka. lalu saya sembunyi di sumur. ―Dia bangun dan ikut saya. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun.Liputan6. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center.5 meter dibuka. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Saat itu dia cuma pake celana pendek. ―Di betis juga terdapat irisan. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Kota Batam. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Atas perbuatannya itu. Setelah membunuh. Oktober 2009 silam.

Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. yaitu : a. karena pembunuhan dengan rencana (moord). bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.(BOG) Sumber : Liputan6. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). Sengaja. Menurut doktrin.com dengan penambahan dari indonesiaheadline.com dan klip21. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III.com Analisis Kasus I. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. diancam. Barangsiapa. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP).sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. yaitu manusia. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP).

Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. Dengan rencana lebih dahulu. yaitu : 1. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban.1. Dalam kasus. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. paling lama dua puluh tahun ― I. Berdasarkan tempus dan locus delicti . yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. diancam. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. 1. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1.

Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu Oktober 2009 a. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan.a. Dalam kasus. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. yaitu alat yang tidak bekerja. yaitu Oktober 2009 1. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. Berdasarkan kasus. 1. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan.

Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu alat yang tidak bekerja. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Berdasarkan kasus. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Dalam kasus. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. 1. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Cara menentukan locus adalah : 1. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu di Kota Batam I.

karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. 1. Prinsip Universalitas . 1. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Dalam prinsip ini. makasa prinsip ini tidak digunakan. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus.

Jenis-jenis delik 1.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. 1. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. 1. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Dalam kasus pembunuhan tersebut. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan.

dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. 1. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. 1. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP).Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Pegawai Negeri. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. WNA. tidak berlangsung terus menerus 1. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. 1.Dr. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. dan lainnya) atau bukan 1. Ajaran Kausalitas .

Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Berdasarkan teori tersebut. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Dari semua faktor yang bernilai sama. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. harus diberi nilai sama. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. Berdasarkan kasus. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . 1. Berdasarkan teori Birkmeyer. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. diambil satu yang menurut pengalaman. Delik Materil 2. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Delik Omisi tidak murni 3. yaitu : 1. b. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. a. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai.

yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . tidak sesuai dengan hukum. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. karena pembunuhan dengan rencana (moord). serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Berdasarkan kasus. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I).Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). I. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. diancam. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. secara bertentangan dengan kewajibannya. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. Menurut KUHP. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. setelah terselesainya delik. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis.

adanya kehendak. Dolus Premiditatus. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. kehendak berupa pilihan d. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Gradasi kesengajaan yaitu : a. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. yaitu : a. Untuk mewujudkan tindakannya. yaitu matinya korban. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. Dolus Inderectus. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. Kesengajaan terbagi atas : a. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Dolus Indeterminatus. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Kesengajaan dengan dasar mengetahui.Dalam kasus. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Kesengajaan dengan maksud. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. sasaran jamak e. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. Dolus Deneralus. I. Dolus Determinatus. dan adanya tindakan. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. termasuk delik formil b. Dolus Alternativus.

Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. 1. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. 1. . dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. Niat 2. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Berdasarkan kasus. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana.

Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus.BAB I PENDAHULUAN A. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri.I.

Prof. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus.menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Dalam suatu samenloop itu. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. Simons berpendapat. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana.

Apakah Putusan Pengadilan Negeri. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. antara lain: 1. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Pengadilan Tinggi. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. Akan tetapi. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Pada suatu hari. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. Dalam perjalanannya. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. Dari jarak ± 200 meter. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Mendengar teriakan kenek tersebut. masinis kereta api telah . yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. yang memiliki SIM B1 Umum. karena truk sarat muatannya. B. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk.

Register Perkara 60/Pid. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka.melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. . cabin dengan baknya. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.KBM 1. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.S/1987/PN. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. Truk terbelah menjadi 2 (dua).‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No.

.. Pengadilan Tinggi No... II. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I... Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. 2. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 3.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 2. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. 3....... 2. ... Mahkamah Agung No.... b... 3... Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.II.. . Register Perkara 762/Pid/1987/PN. II.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan.. .SMG 1.. BAB III . Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari.

dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. . 3. Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. dan 4. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. 2. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. yaitu: 1. A. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.

Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Akan tetapi. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). 4. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. . jumlah pidana itu harus dibatasi. 3. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu: 1. B. maka menurut stelsel ini.2. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu.

Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Sebelum tahun 1932. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini.(2) Jika suatu perbuatan. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. 2. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil.

Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. 3. 70 dan 70 bis KUHP. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . 66. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Hal ini diatur dalam pasal 65. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan.

Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. . Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. 2. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. dan 3. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Oleh karena itu.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

B. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Walaupun demikian. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka.” Maksudnya.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum.tetapi. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. Maka dari itu. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . Jadi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. Selain itu. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Memang PA tidak bisa menyadari. maka akan terjadi suatu tabrakan. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas.

Terdakwa belum pernah dihukum b. Hal-hal yang memberatkan 1. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Hal-hal yang meringankan 1. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. 1500. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. atau Denda Rp. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. Terdakwa masih muda 4. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. 4500. yaitu: a. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Terdakwa bersikap sopan 3.- .Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. atau Denda Rp.

Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. Selain itu. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. BAB IV PENUTUP A. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. Akan tetapi. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP.

terutama Hakim. B. Selain itu. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. DAFTAR PUSTAKA . Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah.. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Dengan demikian. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. akan tetapi meliputi juga doktrin. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. A. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. yurisprudensi hakim dan lain-lain.terjadi beserta akibat-akibatnya. Dengan demikian. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa.

Moeljatno.‖ Kanter.A. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. Penyertaan. B. Utrecht. Leden . Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Bandung: PT. Prodjodikoro. is meerdaadsche samanloop.R. (Jakarta: Eresco. (Jakarta : Sinar Grafika. dan Gabungan Tindak Pidana. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. 1993). Loqman.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Loebby. Wirjono. Soesilo.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. 1987).. V. 1967). Sianturi.. (Groningen: Batavia. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. E. dan S. Noordhoff N. Prodjodikoro. 1996). Penerbitan Universitas. Citra Aditya Bakti. 1958).Y. 2002). R. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia.. 1985). Wirjono. (Jakarta: Eresco.R. Percobaan. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya.F. P. (Bandung: PT. Buku Jonkers ―Alles. 1967). P. Marpaung. (Jakarta: Rineka Cipta.. (Jakarta : Bina Aksara. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. (Bogor: Politeia. Putusan . Sianturi. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. Simons. 1937). E..A. Lamintang.Tindak Pidana Tertentu. 1997). S. 2005).

W Nr 11673. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. BAB I PENDAHULUAN A. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. NJ 1932. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. NJ 1927. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. NJ 1932. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan.

seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. Dalam suatu samenloop itu. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. Prof. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana.I. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. . hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. Simons berpendapat. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

B. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Dalam perjalanannya. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. Pengadilan Tinggi. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan.Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. yang memiliki SIM B1 Umum. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. . dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Pada suatu hari. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. antara lain: 1. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng.

masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. karena truk sarat muatannya. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. Truk terbelah menjadi 2 (dua). sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat.KBM .‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. Register Perkara 60/Pid. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.Mendengar teriakan kenek tersebut. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. cabin dengan baknya.S/1987/PN. Dari jarak ± 200 meter. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Akan tetapi.

. . Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan.. Pengadilan Tinggi No. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak..1. 2. 3.. Register Perkara 762/Pid/1987/PN. II. 3... Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. II.. Mahkamah Agung No. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 2... Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.. b. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.SMG 1. . . II... 2.. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I....

Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1...... dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. 2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana.3. A. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan)... Sistem Absorpsi . Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. .. yaitu: 1.. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. 3. dan 4. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan.

3. B. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. yaitu: 1. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. maka menurut stelsel ini. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. 2. jumlah pidana itu harus dibatasi.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . Akan tetapi. 4. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya.

Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. . makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan.(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. (2) Jika suatu perbuatan. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Sebelum tahun 1932.

Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. 66. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan.2. 70 dan 70 bis KUHP. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Hal ini diatur dalam pasal 65. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. 3. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak.

Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. 2. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. dan 3. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Oleh karena itu. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. . Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat.

Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas. yaitu hanya perbuatan fisik semata. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Oleh karena itu. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Akan tetapi. Akan tetapi. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan.BAB IV ANALISIS KASUS A.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa.

akibat. dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. dan juga perbuatan berlanjut. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging). VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana. harus berdiri sendiri-sendiri. concursus realis. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. unsur-unsur kesalahan yang subjektif.perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. Dengan kata lain. serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini. terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Jadi.

peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan. lalu menabrak orang sehingga luka berat. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. 2.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. karena.delicten) saja. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- . Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Maka.[4] R. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri.

‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. Ini merupakan dua tindakan.beda. dan begitu sebaliknya. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Mengutip dari pendapat Prof. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang.”[7] Selain itu. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Akan . jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas.

Walaupun demikian. Selain itu. Maka dari itu. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP.tetapi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. Jadi. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.” Maksudnya. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. Memang PA tidak bisa menyadari. maka akan terjadi suatu tabrakan. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . B. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel.

sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. 1500. Terdakwa belum pernah dihukum b. 4500. yaitu: a. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. Hal-hal yang memberatkan 1. Terdakwa masih muda 4. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. atau Denda Rp. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Hal-hal yang meringankan 1. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. atau Denda Rp. Terdakwa bersikap sopan 3. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan.- .

sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. BAB IV PENUTUP A. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. Akan tetapi. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. Selain itu. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1.

terjadi beserta akibat-akibatnya. yurisprudensi hakim dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA . akan tetapi meliputi juga doktrin. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. terutama Hakim. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. Dengan demikian. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. Dengan demikian. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya.. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. A. B. Selain itu.

Penerbitan Universitas.F. dan Gabungan Tindak Pidana. 2005). (Jakarta : Sinar Grafika. dan S. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.. Putusan . Sianturi. Buku Jonkers ―Alles.Tindak Pidana Tertentu. is meerdaadsche samanloop. Moeljatno. S. 1967).Y. (Jakarta: Rineka Cipta. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Prodjodikoro. Sianturi. Utrecht. V. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. 1958).R. Wirjono. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Citra Aditya Bakti. 1993). Leden . P. (Jakarta: Eresco. 1985). (Bogor: Politeia. 1937). (Bandung: PT. B. Loqman. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. Marpaung. E. Loebby.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia.. E. Simons.. R. Soesilo.R. (Jakarta: Eresco. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Bandung: PT. 1997). 2002). Prodjodikoro. P.‖ Kanter.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Wirjono.. Percobaan. Lamintang.A.. Penyertaan. Noordhoff N. 1967). Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. 1987). (Groningen: Batavia. 1996).Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht.A. (Jakarta : Bina Aksara.

W Nr 11673. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. . NJ 1927.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful