Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

7 juta. terhadap orang. perintah palsu. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Berikut unsur – unsur pencurian. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 3. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. atau pakaian jabatan palsu. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. Dari tempat kejadian perkara. Dalam kasus ini. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. 4. atau dalam hal tertangkap tangan. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. pencurian yang didahului. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. > Unsur – Unsur Objektif berupa : . maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. disertai. 2. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. di jalan umum. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia.

2. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. 1979:79-80). Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. 2. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. yaitu pertama melawan hukum formil. 1:52 atau Lamintang. jika benda berada pada pelaku. Berdasarkan hal tersebut. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. dan kedua unsur memiliki. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. dan kedua melawan hukum materiil. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. cukup sebagian saja. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . . dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Maksud untuk memiliki. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan.1. Unsur benda. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. Melawan hukum. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. 3. Sedangkan melawan hukum materiil. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. ia sudah mengetahui. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen).

dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Selain . dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. dalam keadaan sadar.Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. mereka lalu melarikan diri. sehingga masih bisa diadili. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. diancam karena pencurian. Dilihat dari sisi umur. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja.

Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. tapi bukan pengaduan. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. yaitu pertanggungjawaban. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Seperti yang telah disebutkan di atas. Semua unsur. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). Kesimpulan Kesimpulannya. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Jika melihat kasus diatas lagi. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. . Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. jumlah pelaku lebih dari seorang. artinya menurut hukum Indonesia. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. mulai dari pencurian. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. ancaman kekerasan. epilepsy dan lain sebagainya. seperti orang gila atau epilepsy. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. Pada kasus pemerasan. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan.

Selain menangkap tersangka. S. ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana.(BJK/ANS) . Bandung : Armico.H. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP.blogspot. Solo. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. Bandung : Armico.com excellentlawyer. kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. 117-121 · [2] ibid. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Dari pengakuan tersangka. Saat dimintai keterangan. Dari keterangan saksi. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. 1995. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan.blogspot.. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. 135-142 Assalamualaikum wr.. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Hal.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. Rabu (7/7).com. 1995. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. S. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. Jawa Tengah. Hal. Atas perbuatannya.H. Jika tidak dituruti. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Solo: Seorang pemuda asal Sumber. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. Banjarsari. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras.

untuk memberikan sesuatu barang. Memaksa . . >>> Unsur subyektif. Dengan maksud. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia.. atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang. yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. 2. diancam. 2. 4. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Ketentuan Pasal 365 ayat (2).setiap minggu. 6. yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. 2. memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. 5. Untuk menghapus piutang. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. karena pemerasan. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.000. Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang. Supaya memberi hutang. 3. maka berlaku hukum pidana Indonesia . Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1.Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. pelaku. Unsur “memaksa”. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Orang lain. ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). yang meliputi unsur-unsur : 1.

Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. baik yang subjektif maupun yang obyektif. Barang yang diserahkan adalah uang. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku. Unsur “untuk menghapus hutang”.Berkaitan dengan unsur itu. 4. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras. tetapi cukup apabila dapat dibuktikan. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi. persoalan yang muncul adalah.2. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Unsur “supaya memberi hutang”. 3. . pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. 5. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.-.000. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. Artinya. Jadi. apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Pemerasan dianggap telah terjadi. Dilihat dari sisi umur. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas.

delik komisi (commissie delict). sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. 3. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. delik tunggal (enkelvoudig delict). 7. delik umum (delicta communia). karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam hal ini. keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam kasus ini. pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. 8. dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. . Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu. sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. 2. 6. 5. Atas laporan korban. delik rampung (aflopend delict). 4. perbuatannya adalah pemerasan. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. 9. delik formal (formeel delict). delik aduan (klacht delict). Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. Pada kasus ini. karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. delik umum (gemeen delict). karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. maka polisi pun menangkap pelaku. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik kesengajaan (doleus delict).

Keduanya sempat melawan. terhadap orang. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. disertai. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). Selain kalah banyak. Petugas jaga lainnya. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. pencurian yang didahului. 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK. Nawawi.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6.7 juta. tetapi tidak bisa berkutik. Dalam kasus ini. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. KOMPAS. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Dari tempat kejadian perkara. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). dengan maksud . Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. serta tangan dan kaki diikat tali rafia. mulut dan mata diplakban. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian.7 juta di laci. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. Awalnya. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. Keduanya diringkus pelaku.

1979:79-80). sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. 3. 2. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). . Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. perintah palsu. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. 4. jika benda berada pada pelaku. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. di jalan umum. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. atau pakaian jabatan palsu. 2. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. atau dalam hal tertangkap tangan. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. Berikut unsur – unsur pencurian. 1:52 atau Lamintang. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. Berdasarkan hal tersebut. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. cukup sebagian saja. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. Unsur benda. 3. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1.untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil.

diancam karena pencurian.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. yaitu pertama melawan hukum formil. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. ia sudah mengetahui. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Sedangkan melawan hukum materiil. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. dan kedua unsur memiliki. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Melawan hukum. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). Maksud untuk memiliki. Dilihat dari sisi umur. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. 2. dan kedua melawan hukum materiil. .

mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. mereka lalu melarikan diri. sehingga masih bisa diadili. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. artinya menurut hukum Indonesia. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. epilepsy dan lain sebagainya. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant).7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. yaitu pertanggungjawaban. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. dalam keadaan sadar. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti).Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. . Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Jika melihat kasus diatas lagi. seperti orang gila atau epilepsy.

Hal.H. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. Hal.com excellentlawyer. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. Kesimpulan Kesimpulannya. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. mulai dari pencurian. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil.blogspot. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. Pada kasus pemerasan. tapi bukan pengaduan. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya.. S.Seperti yang telah disebutkan di atas. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. 1995. jumlah pelaku lebih dari seorang. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum.blogspot. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Semua unsur. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. ancaman kekerasan. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. Bandung : Armico. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). 1995.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. 135-142 .. Bandung : Armico. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. S. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun.H. 117-121 · [2] ibid. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya.

Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. 10 Maret lalu. Saat itu. Atas perbuatannya itu. ―Di betis juga terdapat irisan. darahnya kena muka saya.com. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. ungkap Harun.‖ kata Novita. Kota Batam. terus saya belah perutnya. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. Jawa Tengah. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). ―Dia langsung jatuh. AKP Suka Irawanto. sempat teriak sekali. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Kelurahan Baloi Permai. Selain itu. Dari hasil pemeriksaan.‖ Sehari kemudian. nggak pake baju‖. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. ujar Harun.5 meter dibuka. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Kepulauan Riau. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. ―Dia bangun dan ikut saya. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. 3 Maret silam. kepala Polsekta Batam Kota. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Setelah membunuh. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. Batam Kota. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. ―Saya pukul pakai martil sekali. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Saat kotak yang panjangnya 1. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. lalu saya sembunyi di sumur. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Dengan posisi itu. leluasa memukuli kepala Fahmi. pelaku menyimpan mayat korban. kawasan Legenda Malaka.Fahmi. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun.Liputan6. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Setelah cuci muka. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Harun pura-pura mundur. Oktober 2009 silam. Pada awalnya. Tegal. polisi meragukan kejiwaan tersangka.

Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person.(BOG) Sumber : Liputan6. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. yaitu : a. yaitu manusia. karena pembunuhan dengan rencana (moord). melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP).com Analisis Kasus I. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. Barangsiapa. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. Menurut doktrin. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). Sengaja. diancam.com dan klip21. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.

1. paling lama dua puluh tahun ― I. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Dengan rencana lebih dahulu. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. Dalam kasus. Berdasarkan tempus dan locus delicti . 1. karena pembunuhan dengan rencana (moord). sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. yaitu : 1. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. diancam. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada.

Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. 1. Berdasarkan kasus. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. yaitu alat yang tidak bekerja. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Dalam kasus. yaitu Oktober 2009 a. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana.a. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. yaitu Oktober 2009 1.

Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus. 1. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. yaitu alat yang tidak bekerja. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu di Kota Batam I. Berdasarkan kasus. Cara menentukan locus adalah : 1.

sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Dalam prinsip ini. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. makasa prinsip ini tidak digunakan. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Prinsip Universalitas . 1. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. 1.

Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. 1. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Dalam kasus pembunuhan tersebut. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. Jenis-jenis delik 1. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. 1.

Pegawai Negeri. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. 1. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. tidak berlangsung terus menerus 1. 1. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dan lainnya) atau bukan 1. WNA. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut.Dr. Ajaran Kausalitas . dimana menurut KUHP Federasi Rusia. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. 1.

Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Delik Materil 2. Delik Omisi tidak murni 3. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. sehingga dapat dirumuskan kausanya. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Berdasarkan teori Birkmeyer. yaitu : 1. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. harus diberi nilai sama. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Dari semua faktor yang bernilai sama. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. b. a. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. 1. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). diambil satu yang menurut pengalaman. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. Berdasarkan teori tersebut. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Berdasarkan kasus. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) .

paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. secara bertentangan dengan kewajibannya. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. tidak sesuai dengan hukum. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I).Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Berdasarkan kasus. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Menurut KUHP. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. diancam. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. setelah terselesainya delik. I. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak.

termasuk delik formil b. sasaran jamak e. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Dolus Inderectus. Kesengajaan terbagi atas : a. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. dan adanya tindakan. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Dolus Determinatus. adanya kehendak. kehendak berupa pilihan d. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. Untuk mewujudkan tindakannya. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Dolus Indeterminatus. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. I. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). yaitu : a. Dolus Deneralus. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Dolus Alternativus. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . yaitu matinya korban. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Dolus Premiditatus. Kesengajaan dengan maksud.Dalam kasus. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1.

sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. . Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Berdasarkan kasus. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. Niat 2. 1. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. 1.

―Dia langsung jatuh. Tegal. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. lalu saya sembunyi di sumur. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka.‖ Sehari kemudian. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.5 meter dibuka. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. ―Saya pukul pakai martil sekali. ujar Harun. Saat itu dia cuma pake celana pendek. leluasa memukuli kepala Fahmi. Setelah cuci muka. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Pada awalnya. Atas perbuatannya itu. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Dengan posisi itu.Fahmi. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Kelurahan Baloi Permai. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. kepala Polsekta Batam Kota. Kota Batam. Harun pura-pura mundur. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam.Liputan6. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Jawa Tengah. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. ―Dia bangun dan ikut saya. Saat itu. saya tunggu setengah jam dia diam saja. 10 Maret lalu. ―Di betis juga terdapat irisan. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . 3 Maret silam. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. pelaku menyimpan mayat korban. Oktober 2009 silam. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. sempat teriak sekali. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. kawasan Legenda Malaka.com. Dari hasil pemeriksaan. darahnya kena muka saya. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30).di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Setelah membunuh. AKP Suka Irawanto. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. Kepulauan Riau.‖ kata Novita. terus saya belah perutnya. nggak pake baju‖. Batam Kota. Saat kotak yang panjangnya 1. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Selain itu. ungkap Harun.

Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). Menurut doktrin. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun.com dan klip21. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). yaitu : a. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). yaitu manusia. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP).com dengan penambahan dari indonesiaheadline. diancam. Sengaja. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Barangsiapa. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP).(BOG) Sumber : Liputan6. karena pembunuhan dengan rencana (moord). pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.com Analisis Kasus I. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP).

yaitu : 1. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. diancam. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Dengan rencana lebih dahulu. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. 1. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Berdasarkan tempus dan locus delicti . sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut.1. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. paling lama dua puluh tahun ― I. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Dalam kasus. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. karena pembunuhan dengan rencana (moord). yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1.

Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Berdasarkan kasus. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . yaitu alat yang tidak bekerja.a. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. 1. yaitu Oktober 2009 a. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu Oktober 2009 1. Dalam kasus. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana.

Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Dalam kasus. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . yaitu di Kota Batam I.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. yaitu alat yang tidak bekerja. 1. Berdasarkan kasus. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Cara menentukan locus adalah : 1. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1.

Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Prinsip Universalitas . makasa prinsip ini tidak digunakan. 1. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. 1.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. Dalam prinsip ini. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.

dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Jenis-jenis delik 1. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. 1. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus.

Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. 1. 1.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. tidak berlangsung terus menerus 1. Pegawai Negeri. 1.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut.Dr. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. dan lainnya) atau bukan 1. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. Ajaran Kausalitas . WNA. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh.

Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. diambil satu yang menurut pengalaman. 1. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. b. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Berdasarkan teori Birkmeyer. harus diberi nilai sama. a. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). yaitu : 1. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Delik Omisi tidak murni 3. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Berdasarkan teori tersebut. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . Dari semua faktor yang bernilai sama. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. Berdasarkan kasus. Delik Materil 2. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik.

maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. Menurut KUHP. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. secara bertentangan dengan kewajibannya.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. tidak sesuai dengan hukum. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. setelah terselesainya delik. I. secara bertentangan dengan kewajiban umum. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. karena pembunuhan dengan rencana (moord). diancam. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. Berdasarkan kasus.

adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. kehendak berupa pilihan d. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. Dolus Premiditatus. Dolus Inderectus. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. Dolus Deneralus. Untuk mewujudkan tindakannya. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. dan adanya tindakan. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. adanya kehendak. Dolus Alternativus. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. yaitu : a. Dolus Determinatus. Gradasi kesengajaan yaitu : a. yaitu matinya korban. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b.Dalam kasus. termasuk delik formil b. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. I. Kesengajaan dengan maksud. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Kesengajaan dengan dasar menghendaki. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). sasaran jamak e. Kesengajaan terbagi atas : a. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Dolus Indeterminatus.

bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. 1. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Berdasarkan kasus.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. . Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Niat 2. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. 1. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana.

terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja.BAB I PENDAHULUAN A. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP.I. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata.

menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. Prof. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. Dalam suatu samenloop itu. Simons berpendapat.

mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. Pada suatu hari. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. masinis kereta api telah . B. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. antara lain: 1. Dalam perjalanannya. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. karena truk sarat muatannya. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. yang memiliki SIM B1 Umum. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. Dari jarak ± 200 meter. Akan tetapi. Pengadilan Tinggi. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. Mendengar teriakan kenek tersebut. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu.

PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. Truk terbelah menjadi 2 (dua).‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. cabin dengan baknya. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah.melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. Register Perkara 60/Pid. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat.S/1987/PN.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. .KBM 1.

II. 2... Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. b.. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka..... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan... 3.... Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.... Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.. BAB III . 2. 3. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. II.. Pengadilan Tinggi No..SMG 1. Mahkamah Agung No.. II. 3.. 2. .... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari.. . .. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. Register Perkara 762/Pid/1987/PN..

Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. dan 4.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. A. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. 2. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. yaitu: 1. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. . 3. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.

Akan tetapi. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. jumlah pidana itu harus dibatasi. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. 3. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga).Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). yaitu: 1. B. maka menurut stelsel ini. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. . 4.2. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.

Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Sebelum tahun 1932. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum.(2) Jika suatu perbuatan. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. 2. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan.

Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. 66. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. 70 dan 70 bis KUHP. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. 3. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Hal ini diatur dalam pasal 65. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP.

Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. dan 3. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. . Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Oleh karena itu. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. 2. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas.” Maksudnya. B. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Jadi. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Memang PA tidak bisa menyadari. Maka dari itu. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. maka akan terjadi suatu tabrakan. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Walaupun demikian. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena .tetapi. Selain itu.

1500. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. yaitu: a. Hal-hal yang meringankan 1. Terdakwa belum pernah dihukum b. Terdakwa masih muda 4. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Hal-hal yang memberatkan 1. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. atau Denda Rp. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam.- . atau Denda Rp. Terdakwa bersikap sopan 3. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. 4500. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan.

seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. BAB IV PENUTUP A. Selain itu. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . Akan tetapi. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan.

Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. Selain itu. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. B. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. yurisprudensi hakim dan lain-lain. akan tetapi meliputi juga doktrin.terjadi beserta akibat-akibatnya.. Dengan demikian. terutama Hakim. DAFTAR PUSTAKA . A. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Dengan demikian. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan.

E.. dan S. Penerbitan Universitas. Simons. (Jakarta: Eresco. 1985).R. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. Soesilo. is meerdaadsche samanloop. B. Marpaung.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. Citra Aditya Bakti. dan Gabungan Tindak Pidana. Prodjodikoro. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Noordhoff N. (Jakarta: Eresco.A. Loebby. 2005). 1996). Lamintang. V. 1937). (Bandung: PT. 1967). Prodjodikoro.F.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika.A. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. Loqman.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia.R. (Bogor: Politeia. 2002). 1958). Penyertaan. Moeljatno. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Jakarta: Rineka Cipta. E. Sianturi.. Utrecht.Tindak Pidana Tertentu. S. 1987).. (Bandung: PT. Wirjono. Buku Jonkers ―Alles.‖ Kanter. Wirjono. P. (Groningen: Batavia. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 1993). P. Sianturi. 1997). R.. (Jakarta : Sinar Grafika. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Percobaan.. 1967).Y. (Jakarta : Bina Aksara. Putusan . Leden .

Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. NJ 1932. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. NJ 1932. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. BAB I PENDAHULUAN A. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. NJ 1927. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. W Nr 11673.

Prof. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. . Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu.I. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Dalam suatu samenloop itu. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. Simons berpendapat. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama.

yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. antara lain: 1. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Pada suatu hari. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. yang memiliki SIM B1 Umum. Pengadilan Tinggi. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. B. Dalam perjalanannya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong.Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. . Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2.

DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. Register Perkara 60/Pid. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. Dari jarak ± 200 meter. Truk terbelah menjadi 2 (dua). sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan.S/1987/PN.KBM . maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. Akan tetapi.Mendengar teriakan kenek tersebut. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. karena truk sarat muatannya. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. cabin dengan baknya. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA.

. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari.... Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. II. Mahkamah Agung No.. II... Register Perkara 762/Pid/1987/PN. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. . b.. .. 2.SMG 1. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. 3. 3.1. . Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.. 2.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I... Pengadilan Tinggi No. II.. 2..

dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus.3. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. .. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. dan 4. yaitu: 1.. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. 2. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan).. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. A. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan...... 3. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan.. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Sistem Absorpsi . Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus.

4. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. 2. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu: 1. jumlah pidana itu harus dibatasi.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. Akan tetapi. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga).Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . 3. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. B. maka menurut stelsel ini.

akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. . diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). (2) Jika suatu perbuatan. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Sebelum tahun 1932. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut.

pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. 66. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus.2. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Hal ini diatur dalam pasal 65. 3. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. 70 dan 70 bis KUHP.

Oleh karena itu. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. dan 3. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. . tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. 2.

‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. yaitu hanya perbuatan fisik semata. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Akan tetapi. yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa.BAB IV ANALISIS KASUS A. Akan tetapi. Oleh karena itu. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. Selain itu.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan.

hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. concursus realis. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. Jadi. Jadi. Walaupun demikian.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging). terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. harus berdiri sendiri-sendiri. unsur-unsur kesalahan yang subjektif. tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. akibat. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini. dan juga perbuatan berlanjut. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. Dengan kata lain. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis.[3] Menurut Pompe.perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis.

perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP.delicten) saja. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. karena. peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. lalu menabrak orang sehingga luka berat. Maka. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. 2. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[4] R. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- .[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik.

sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana.”[7] Selain itu. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Ini merupakan dua tindakan. dan begitu sebaliknya. Akan . memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Mengutip dari pendapat Prof. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.beda. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.

karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. B. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka.tetapi. Memang PA tidak bisa menyadari. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. maka akan terjadi suatu tabrakan. Jadi. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Selain itu. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Walaupun demikian. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Maka dari itu. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi.” Maksudnya.

Terdakwa bersikap sopan 3. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. atau Denda Rp. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. Hal-hal yang meringankan 1. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. 1500. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa masih muda 4. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan.- . Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. Hal-hal yang memberatkan 1. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. yaitu: a. 4500. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. atau Denda Rp. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Terdakwa belum pernah dihukum b.

BAB IV PENUTUP A. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. Selain itu. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. Akan tetapi.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1.

Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Dengan demikian. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat.. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. akan tetapi meliputi juga doktrin. DAFTAR PUSTAKA . sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. yurisprudensi hakim dan lain-lain. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana.terjadi beserta akibat-akibatnya. terutama Hakim. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. B. A. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. Selain itu. Dengan demikian. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang.

(Groningen: Batavia.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. dan S. (Jakarta: Eresco. R. Putusan .. P. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. 1996).. (Bandung: PT. Soesilo. 1967). (Bandung: PT. V. (Jakarta: Eresco. P. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Leden .A. B. Moeljatno. (Jakarta : Bina Aksara. Sianturi. Wirjono. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. 1985). Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. Buku Jonkers ―Alles.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal.. E. Penyertaan.R.‖ Kanter. Marpaung. Prodjodikoro. 1967).A. Sianturi.R. 1958).. Penerbitan Universitas. Citra Aditya Bakti.F. Prodjodikoro. 2002). dan Gabungan Tindak Pidana. Percobaan. Wirjono. 2005). Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia.Tindak Pidana Tertentu. Lamintang.. Utrecht.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. E. Loebby.Y. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. is meerdaadsche samanloop. 1987). (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. 1937). 1997). Loqman. Noordhoff N. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Bogor: Politeia. Simons. 1993). (Jakarta : Sinar Grafika. (Jakarta: Rineka Cipta. S.

. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. NJ 1927. W Nr 11673. NJ 1932.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932.