Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. Dari tempat kejadian perkara. 3.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. atau dalam hal tertangkap tangan. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. disertai. pencurian yang didahului. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. 4. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Berikut unsur – unsur pencurian. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. perintah palsu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. > Unsur – Unsur Objektif berupa : . polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. atau pakaian jabatan palsu. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. terhadap orang. 2. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. di jalan umum. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2).7 juta. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. Dalam kasus ini. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia.

yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. yaitu pertama melawan hukum formil. Berdasarkan hal tersebut. 3. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Maksud untuk memiliki. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. dan kedua melawan hukum materiil. 1979:79-80). . Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Melawan hukum. 1:52 atau Lamintang. cukup sebagian saja. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). dan kedua unsur memiliki. ia sudah mengetahui. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Sedangkan melawan hukum materiil. jika benda berada pada pelaku. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. Unsur benda. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. 2.1. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. 2. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan.

diancam karena pencurian. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. sehingga masih bisa diadili. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi).7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6.Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. dalam keadaan sadar. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Selain . karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. mereka lalu melarikan diri. Dilihat dari sisi umur. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum.

Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. Pada kasus pemerasan. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Kesimpulan Kesimpulannya. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. mulai dari pencurian. artinya menurut hukum Indonesia. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. Semua unsur. yaitu pertanggungjawaban. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. tapi bukan pengaduan. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. . Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. jumlah pelaku lebih dari seorang. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. seperti orang gila atau epilepsy. Seperti yang telah disebutkan di atas. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Jika melihat kasus diatas lagi. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. epilepsy dan lain sebagainya. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. ancaman kekerasan.

Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Saat dimintai keterangan.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama.H. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Atas perbuatannya. Solo. Hal. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. 1995. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung.(BJK/ANS) . Banjarsari. S. Selain menangkap tersangka. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Jika tidak dituruti.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras.blogspot.blogspot. 135-142 Assalamualaikum wr.. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP.com excellentlawyer. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. Jawa Tengah. 117-121 · [2] ibid. 1995. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Dari pengakuan tersangka.com. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. Hal. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Bandung : Armico. Dari keterangan saksi. Rabu (7/7).. S.H.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. Solo: Seorang pemuda asal Sumber. Bandung : Armico. ia hanya bisa tertunduk lesu.

> Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Supaya memberi hutang. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Ketentuan Pasal 365 ayat (2). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. 2. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Untuk menghapus piutang. 5. diancam. ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 3. yang meliputi unsur-unsur : 1. 6. Dengan maksud. . atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang. Memaksa . Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). untuk memberikan sesuatu barang. yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Unsur “memaksa”. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. maka berlaku hukum pidana Indonesia .Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. karena pemerasan. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang.000.setiap minggu. pelaku. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. 4. Orang lain.. 2. >>> Unsur subyektif. 2.

pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Jadi. persoalan yang muncul adalah. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas.000. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Pemerasan dianggap telah terjadi. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. 3. 4. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Unsur “supaya memberi hutang”. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”. korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku.Berkaitan dengan unsur itu. Artinya.2. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar.-. Dilihat dari sisi umur. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150. Barang yang diserahkan adalah uang. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku. 5. tetapi cukup apabila dapat dibuktikan. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. . Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. baik yang subjektif maupun yang obyektif. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Unsur “untuk menghapus hutang”.

Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. Dalam kasus ini. sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. perbuatannya adalah pemerasan. Dalam hal ini. delik rampung (aflopend delict). 4. 7. karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. delik umum (delicta communia). Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik umum (gemeen delict). Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. Pada kasus ini. karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. 2. maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. 5. sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. delik formal (formeel delict). delik komisi (commissie delict). delik tunggal (enkelvoudig delict). Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. 9. maka polisi pun menangkap pelaku. dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu. karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. Atas laporan korban.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. 8. delik kesengajaan (doleus delict). 6. karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 3. keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. . delik aduan (klacht delict).

Kasus itu terungkap sekitar pukul 08. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. Keduanya sempat melawan. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6.Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. Nawawi. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Awalnya. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia.7 juta di laci. disertai.7 juta.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Petugas jaga lainnya.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Selain kalah banyak. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04. pencurian yang didahului. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). mulut dan mata diplakban. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. terhadap orang. dengan maksud . pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. Dalam kasus ini. Dari tempat kejadian perkara. Keduanya diringkus pelaku. tetapi tidak bisa berkutik. 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK. serta tangan dan kaki diikat tali rafia. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. KOMPAS.

. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . 3. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. 2. cukup sebagian saja. di jalan umum. 4. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. perintah palsu. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. 3. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 1979:79-80). jika benda berada pada pelaku. Berdasarkan hal tersebut. atau pakaian jabatan palsu. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. Unsur benda. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. 1:52 atau Lamintang. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. Berikut unsur – unsur pencurian. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). atau dalam hal tertangkap tangan.untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. 2. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya.

Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. dan kedua melawan hukum materiil. 2. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Maksud untuk memiliki. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Sedangkan melawan hukum materiil. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Dilihat dari sisi umur. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. . karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Melawan hukum. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. ia sudah mengetahui. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. dan kedua unsur memiliki. yaitu pertama melawan hukum formil. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. diancam karena pencurian. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain.

Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. seperti orang gila atau epilepsy. dalam keadaan sadar. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Jika melihat kasus diatas lagi. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. mereka lalu melarikan diri. artinya menurut hukum Indonesia. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. epilepsy dan lain sebagainya. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. sehingga masih bisa diadili. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. . Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. yaitu pertanggungjawaban. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya.Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa.

135-142 . melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). Semua unsur. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak.blogspot. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. mulai dari pencurian.com excellentlawyer.Seperti yang telah disebutkan di atas. S. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Hal. Hal. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. ancaman kekerasan. jumlah pelaku lebih dari seorang.H. Pada kasus pemerasan. tapi bukan pengaduan. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun.. Bandung : Armico.H. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan.. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama.blogspot. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Kesimpulan Kesimpulannya. 1995. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. 1995. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. Bandung : Armico.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. 117-121 · [2] ibid. S.

Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Harun pura-pura mundur. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. ―Di betis juga terdapat irisan. Atas perbuatannya itu. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Dengan posisi itu. Setelah cuci muka. terus saya belah perutnya. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Kepulauan Riau.Fahmi. pelaku menyimpan mayat korban. ujar Harun. Kota Batam.‖ kata Novita. kawasan Legenda Malaka. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . ungkap Harun. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. ―Dia langsung jatuh. Setelah membunuh. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Batam Kota.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. sempat teriak sekali. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali.com. Tegal. Saat kotak yang panjangnya 1. leluasa memukuli kepala Fahmi. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Selain itu. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang.‖ Sehari kemudian. 3 Maret silam. 10 Maret lalu. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. lalu saya sembunyi di sumur. Saat itu. Kelurahan Baloi Permai. AKP Suka Irawanto. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. nggak pake baju‖. ―Dia bangun dan ikut saya. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. Jawa Tengah. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. Dari hasil pemeriksaan. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). kepala Polsekta Batam Kota. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. polisi meragukan kejiwaan tersangka. ―Saya pukul pakai martil sekali. Oktober 2009 silam. darahnya kena muka saya.Liputan6. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran.5 meter dibuka. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Pada awalnya. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban.

alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. yaitu manusia. Menurut doktrin. diancam. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Barangsiapa. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. yaitu : a. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Sengaja. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus.com dan klip21.(BOG) Sumber : Liputan6.com Analisis Kasus I. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP).

maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. yaitu : 1. 1. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. paling lama dua puluh tahun ― I. karena pembunuhan dengan rencana (moord). diancam. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana.1. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. Dalam kasus. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Berdasarkan tempus dan locus delicti . Dengan rencana lebih dahulu. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban.

Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. yaitu alat yang tidak bekerja. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. yaitu Oktober 2009 1. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Berdasarkan kasus. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. 1. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . yaitu Oktober 2009 a. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. Dalam kasus. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan.a.

Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . yaitu di Kota Batam I. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Berdasarkan kasus. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. 1. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Dalam kasus.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Cara menentukan locus adalah : 1. yaitu alat yang tidak bekerja.

karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Prinsip Universalitas .Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. 1. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. 1. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. Dalam prinsip ini. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. makasa prinsip ini tidak digunakan. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.

dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. 1. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. 1. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. Jenis-jenis delik 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Dalam kasus pembunuhan tersebut. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I.

Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. 1. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.Dr. 1. dimana menurut KUHP Federasi Rusia.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. Pegawai Negeri. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. 1. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. tidak berlangsung terus menerus 1. WNA. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. dan lainnya) atau bukan 1. Ajaran Kausalitas .Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut.

harus diberi nilai sama. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Berdasarkan teori tersebut. Dari semua faktor yang bernilai sama. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. b. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. 1. Delik Omisi tidak murni 3. a. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Berdasarkan kasus. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan).Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . diambil satu yang menurut pengalaman. Delik Materil 2. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Berdasarkan teori Birkmeyer. yaitu : 1.

Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). diancam. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). setelah terselesainya delik. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. karena pembunuhan dengan rencana (moord). dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. tidak sesuai dengan hukum. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. secara bertentangan dengan kewajibannya. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. Berdasarkan kasus. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. I. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Menurut KUHP. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus.

Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. termasuk delik formil b. Kesengajaan terbagi atas : a. yaitu : a. I. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . adanya kehendak. dan adanya tindakan. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. yaitu matinya korban. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Dolus Indeterminatus. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Dolus Premiditatus. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. Dolus Determinatus. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. Dolus Alternativus. sasaran jamak e. Kesengajaan dengan maksud. kehendak berupa pilihan d. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Dolus Inderectus. Dolus Deneralus. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Untuk mewujudkan tindakannya. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku.Dalam kasus. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum.

1. . Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Niat 2. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. Berdasarkan kasus. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. 1.

Harun pura-pura mundur. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. ―Dia langsung jatuh. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Kepulauan Riau. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). Setelah membunuh. Saat itu. Kota Batam. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. nggak pake baju‖. ujar Harun. Batam Kota. kawasan Legenda Malaka. AKP Suka Irawanto.‖ kata Novita. 3 Maret silam. ―Di betis juga terdapat irisan. darahnya kena muka saya. Jawa Tengah. Saat kotak yang panjangnya 1. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. saya tunggu setengah jam dia diam saja.Liputan6. pelaku menyimpan mayat korban. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. ungkap Harun. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center.com.5 meter dibuka. terus saya belah perutnya. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. ―Saya pukul pakai martil sekali. Tegal. Atas perbuatannya itu. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak.‖ Sehari kemudian. Dari hasil pemeriksaan. sempat teriak sekali. Dengan posisi itu. 10 Maret lalu. Oktober 2009 silam. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. kepala Polsekta Batam Kota.Fahmi. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. leluasa memukuli kepala Fahmi. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Pada awalnya. Setelah cuci muka. ―Dia bangun dan ikut saya. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Selain itu. polisi meragukan kejiwaan tersangka.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Kelurahan Baloi Permai. lalu saya sembunyi di sumur. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam.

adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). yaitu manusia. Sengaja. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. diancam.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. Barangsiapa.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun.com Analisis Kasus I. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal.(BOG) Sumber : Liputan6. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP).com dan klip21. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Menurut doktrin. yaitu : a. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP).

artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Berdasarkan tempus dan locus delicti . merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Dengan rencana lebih dahulu. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh.1. Dalam kasus. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. diancam. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. yaitu : 1. paling lama dua puluh tahun ― I. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. 1. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan.

Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja.a. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . 1. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Berdasarkan kasus. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. yaitu Oktober 2009 1. yaitu alat yang tidak bekerja. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu Oktober 2009 a. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Dalam kasus. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1.

Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Cara menentukan locus adalah : 1. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. yaitu di Kota Batam I. Dalam kasus. 1. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Berdasarkan kasus. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu alat yang tidak bekerja. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia .

1. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. makasa prinsip ini tidak digunakan. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. Prinsip Universalitas . yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. 1. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. Dalam prinsip ini. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.

Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. 1. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. 1. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Jenis-jenis delik 1. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut.

sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. 1. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. tidak berlangsung terus menerus 1. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Pegawai Negeri. Ajaran Kausalitas . dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. 1. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. dan lainnya) atau bukan 1. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). WNA. 1. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. dimana menurut KUHP Federasi Rusia.Dr.

diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Berdasarkan teori tersebut. Dari semua faktor yang bernilai sama. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Delik Omisi tidak murni 3. b. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Delik Materil 2. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. 1. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . a. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. Berdasarkan teori Birkmeyer. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. diambil satu yang menurut pengalaman. Berdasarkan kasus. yaitu : 1. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. harus diberi nilai sama.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja.

baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. setelah terselesainya delik. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. tidak sesuai dengan hukum. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). karena pembunuhan dengan rencana (moord). Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. diancam. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. Menurut KUHP. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. Berdasarkan kasus. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. secara bertentangan dengan kewajibannya. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. I. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1.

termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Untuk mewujudkan tindakannya. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Dolus Indeterminatus. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Dolus Alternativus. dan adanya tindakan. Dolus Determinatus.Dalam kasus. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. Kesengajaan terbagi atas : a. I. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). yaitu matinya korban. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. yaitu : a. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. termasuk delik formil b. Dolus Inderectus. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Dolus Premiditatus. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Kesengajaan dengan maksud. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. kehendak berupa pilihan d. sasaran jamak e. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Kesengajaan dengan dasar menghendaki. adanya kehendak. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. Dolus Deneralus.

Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. 1. Berdasarkan kasus. . Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Niat 2. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). 1. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.

I. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja.BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata.

apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. Prof. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. Dalam suatu samenloop itu. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana.menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. Simons berpendapat. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus.

Apakah Putusan Pengadilan Negeri. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. masinis kereta api telah . ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. Mendengar teriakan kenek tersebut. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Pada suatu hari. Pengadilan Tinggi. Dalam perjalanannya. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. antara lain: 1. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. Dari jarak ± 200 meter. B. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. Akan tetapi. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. karena truk sarat muatannya. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. yang memiliki SIM B1 Umum. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu.

cabin dengan baknya.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.KBM 1. . diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan.S/1987/PN. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. Truk terbelah menjadi 2 (dua). diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Register Perkara 60/Pid. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP.melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai.

.. 2.. Register Perkara 762/Pid/1987/PN. Pengadilan Tinggi No.... Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. . b. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak... Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. II. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 2. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.. 3.... Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.SMG 1.. 3.. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari.. BAB III ..II.... .. II... 3... Mahkamah Agung No. 2. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. ..

Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. A. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. . Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. 2. 3. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. dan 4. yaitu: 1.

. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. 4.2. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. B. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu: 1. maka menurut stelsel ini. jumlah pidana itu harus dibatasi. Akan tetapi. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). 3. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan.

yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda).(2) Jika suatu perbuatan. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. 2. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Sebelum tahun 1932. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan.

3. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. 66. 70 dan 70 bis KUHP. Hal ini diatur dalam pasal 65. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan.

Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. 2. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. dan 3. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Oleh karena itu.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. . Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. B. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. Jadi. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Selain itu. Maka dari itu.” Maksudnya. maka akan terjadi suatu tabrakan. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Memang PA tidak bisa menyadari. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan.tetapi. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. Walaupun demikian.

Hal-hal yang meringankan 1. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Hal-hal yang memberatkan 1.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. atau Denda Rp. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. yaitu: a. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan.- . maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Terdakwa masih muda 4. Terdakwa belum pernah dihukum b. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. atau Denda Rp. 4500.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Terdakwa bersikap sopan 3. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. 1500.

Selain itu.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. BAB IV PENUTUP A. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. Akan tetapi. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja.

karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya.. akan tetapi meliputi juga doktrin. Dengan demikian. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat.terjadi beserta akibat-akibatnya. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. yurisprudensi hakim dan lain-lain. terutama Hakim. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. DAFTAR PUSTAKA . Dengan demikian. Selain itu. B. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. A. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki.

Loebby. E. (Jakarta: Rineka Cipta. Percobaan. Penerbitan Universitas. Marpaung. 1985). Simons. 1937). Putusan . Soesilo. 1967). Wirjono. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Jakarta : Sinar Grafika. (Groningen: Batavia. 1997). (Bandung: PT.. (Jakarta: Eresco. Leden .. E. Citra Aditya Bakti.‖ Kanter. Wirjono..Y. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. (Bogor: Politeia.R. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. 1993).Tindak Pidana Tertentu. Lamintang. Prodjodikoro. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. 1987). B.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana.R. Buku Jonkers ―Alles. S.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal.. Prodjodikoro. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. P. (Bandung: PT. P. Sianturi. Loqman. 2002). Moeljatno. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya.. Noordhoff N.A. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. V. R. dan Gabungan Tindak Pidana. 2005).A. 1996). Penyertaan.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. dan S.F. Sianturi. is meerdaadsche samanloop. 1967). (Jakarta : Bina Aksara. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. (Jakarta: Eresco. Utrecht. 1958).

W Nr 11673. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. NJ 1932. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. NJ 1927. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya.

yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana.I. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Simons berpendapat. . Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. Prof. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. Dalam suatu samenloop itu. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R.

yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. . truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. Pada suatu hari. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. B. Pengadilan Tinggi. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. antara lain: 1. Dalam perjalanannya.Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. yang memiliki SIM B1 Umum. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api.

yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan.Mendengar teriakan kenek tersebut. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. karena truk sarat muatannya. Dari jarak ± 200 meter. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.KBM . diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. cabin dengan baknya. Akan tetapi.S/1987/PN. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. Truk terbelah menjadi 2 (dua). Register Perkara 60/Pid. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP.

II.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.. Mahkamah Agung No. . Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari.... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. Pengadilan Tinggi No.. 2... 2. Register Perkara 762/Pid/1987/PN.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. b.. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. II. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari..SMG 1. 2.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.1. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1. 3. II. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. . .. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. 3. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka......

Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus.3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. 3.. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1..... BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan.. Sistem Absorpsi . dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. A. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. 2.. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. .. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan.. yaitu: 1. dan 4.

Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). 3. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Akan tetapi. B. yaitu: 1. maka menurut stelsel ini. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. jumlah pidana itu harus dibatasi. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. 4. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . 2. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya.

(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. . Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. (2) Jika suatu perbuatan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Sebelum tahun 1932. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan.

Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. 70 dan 70 bis KUHP. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Hal ini diatur dalam pasal 65. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. 66. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.2. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. 3. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP.

Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. . dan 3. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. 2. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Oleh karena itu. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya.

pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. yaitu hanya perbuatan fisik semata. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Akan tetapi. Selain itu. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Akan tetapi. Oleh karena itu.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit.BAB IV ANALISIS KASUS A. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.

Jadi. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. harus berdiri sendiri-sendiri.[3] Menurut Pompe. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. dan juga perbuatan berlanjut. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. concursus realis. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik).perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging).[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. Dengan kata lain. dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. unsur-unsur kesalahan yang subjektif. akibat. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. Walaupun demikian. serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. Jadi.

delicten) saja. lalu menabrak orang sehingga luka berat. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan.[4] R. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. Maka. 2. peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- . sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. karena.

dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya.”[7] Selain itu. memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. dan begitu sebaliknya. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang.beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. Akan . Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Ini merupakan dua tindakan. Mengutip dari pendapat Prof. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana.

Memang PA tidak bisa menyadari. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius.tetapi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Maka dari itu. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. B. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. Walaupun demikian. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum.” Maksudnya. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. maka akan terjadi suatu tabrakan. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. Selain itu. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Jadi. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel.

Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. atau Denda Rp. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Hal-hal yang meringankan 1. atau Denda Rp.- .Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Terdakwa masih muda 4. Terdakwa belum pernah dihukum b. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Hal-hal yang memberatkan 1. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. 4500. yaitu: a. Terdakwa bersikap sopan 3. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. 1500.

ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. BAB IV PENUTUP A. Akan tetapi. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. Selain itu. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja.

sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Dengan demikian.terjadi beserta akibat-akibatnya. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. terutama Hakim. DAFTAR PUSTAKA . Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. akan tetapi meliputi juga doktrin. yurisprudensi hakim dan lain-lain. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. A. B. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. Selain itu.. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. Dengan demikian. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan.

1997). Utrecht.. 1996). P. (Jakarta: Eresco.R. Simons. R. 1937). Soesilo. 1987). (Jakarta: Eresco. Citra Aditya Bakti. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. E. Wirjono.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana.Tindak Pidana Tertentu. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. (Jakarta : Bina Aksara. (Bogor: Politeia. Marpaung. Moeljatno.F. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. Prodjodikoro.. 1967). Percobaan. (Jakarta : Sinar Grafika.R.. Buku Jonkers ―Alles. (Jakarta: Rineka Cipta. dan Gabungan Tindak Pidana.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Sianturi. Loebby. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II.. (Bandung: PT. Prodjodikoro.A.A. E. Wirjono. Lamintang. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. B. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. Noordhoff N. Loqman.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Leden . Sianturi. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. Putusan . 2005). Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. Penerbitan Universitas. is meerdaadsche samanloop.. Penyertaan. V. P. 1993). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. 1985). (Bandung: PT. 1967). 2002).‖ Kanter. dan S. (Groningen: Batavia.Y. S. 1958).

W Nr 11673.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. NJ 1927. . NJ 1932. NJ 1932.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful