Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

(2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). > Unsur – Unsur Objektif berupa : . disertai. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. perintah palsu. Berikut unsur – unsur pencurian. 4. 2. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. Dalam kasus ini. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. atau pakaian jabatan palsu. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. di jalan umum. atau dalam hal tertangkap tangan.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. pencurian yang didahului. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi.7 juta. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. terhadap orang. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 3. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dari tempat kejadian perkara.

artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. Unsur benda. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata).1. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. yaitu pertama melawan hukum formil. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. dan kedua unsur memiliki. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. 3. Berdasarkan hal tersebut. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. 1979:79-80). Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. Melawan hukum. jika benda berada pada pelaku. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Sedangkan melawan hukum materiil. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. 2. > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Maksud untuk memiliki. 1:52 atau Lamintang. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. 2. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. . cukup sebagian saja. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. ia sudah mengetahui. dan kedua melawan hukum materiil. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan.

Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. sehingga masih bisa diadili. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti).Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). mereka lalu melarikan diri. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. dalam keadaan sadar. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. diancam karena pencurian. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. Selain . tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Dilihat dari sisi umur. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan.

Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. yaitu pertanggungjawaban. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. jumlah pelaku lebih dari seorang. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. seperti orang gila atau epilepsy. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. artinya menurut hukum Indonesia. Seperti yang telah disebutkan di atas. Pada kasus pemerasan. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). ancaman kekerasan. tapi bukan pengaduan. Semua unsur. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. mulai dari pencurian. Jika melihat kasus diatas lagi. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. Kesimpulan Kesimpulannya. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. epilepsy dan lain sebagainya. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. . adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif.

com excellentlawyer.(BJK/ANS) . selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. Hal.. Saat dimintai keterangan.. Jika tidak dituruti.com. Atas perbuatannya. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. Hal. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. 1995. Selain menangkap tersangka. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Banjarsari. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. ia hanya bisa tertunduk lesu. S. Dari keterangan saksi. Jawa Tengah. 117-121 · [2] ibid. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama.blogspot.H. kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Bandung : Armico. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Rabu (7/7). Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. Solo. 135-142 Assalamualaikum wr. Dari pengakuan tersangka. S. Solo: Seorang pemuda asal Sumber. Bandung : Armico. 1995.blogspot. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan.H. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.

2. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1.. atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang. 2.setiap minggu.000. Orang lain. 6. memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Supaya memberi hutang. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. . ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. karena pemerasan. Unsur “memaksa”. 3. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain. 2. yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. diancam. 4. 5. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. yang meliputi unsur-unsur : 1.Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. untuk memberikan sesuatu barang. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). >>> Unsur subyektif. pelaku. Untuk menghapus piutang. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Memaksa . Dengan maksud. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Ketentuan Pasal 365 ayat (2). maka berlaku hukum pidana Indonesia . Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1.

. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi. Dilihat dari sisi umur. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.Berkaitan dengan unsur itu. berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu.2. Artinya. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas. baik yang subjektif maupun yang obyektif. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. Unsur “supaya memberi hutang”. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Pemerasan dianggap telah terjadi. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras.000. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Barang yang diserahkan adalah uang. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. 3. 5. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku. Unsur “untuk menghapus hutang”. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. tetapi cukup apabila dapat dibuktikan. 4. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Jadi. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. persoalan yang muncul adalah. korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab.-. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas.

karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. 4. delik umum (delicta communia). Atas laporan korban. 9. 5. maka polisi pun menangkap pelaku. dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. . 7. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. Dalam kasus ini. 3. kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. perbuatannya adalah pemerasan. maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. 6. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. delik rampung (aflopend delict). delik komisi (commissie delict). Dalam hal ini. delik kesengajaan (doleus delict). 2. Pada kasus ini. delik tunggal (enkelvoudig delict). sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. delik formal (formeel delict). 8. delik umum (gemeen delict). sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu. yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. delik aduan (klacht delict). karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang.

com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04. dengan maksud . maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. serta tangan dan kaki diikat tali rafia. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08. Dari tempat kejadian perkara.Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. Nawawi. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. mulut dan mata diplakban. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Selain kalah banyak. Petugas jaga lainnya. Dalam kasus ini. Keduanya diringkus pelaku. Awalnya. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam.7 juta. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. pencurian yang didahului. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. tetapi tidak bisa berkutik. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. terhadap orang. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor. KOMPAS. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Keduanya sempat melawan. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. disertai. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK.7 juta di laci.

sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. jika benda berada pada pelaku.untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. . Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. perintah palsu. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. 1:52 atau Lamintang. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. Unsur benda. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. 1979:79-80). Berikut unsur – unsur pencurian. Berdasarkan hal tersebut. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). 2. 4. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. 3. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. cukup sebagian saja. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. di jalan umum. atau dalam hal tertangkap tangan. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. 3. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). 2. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. atau pakaian jabatan palsu.

dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Dilihat dari sisi umur. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. dan kedua unsur memiliki. diancam karena pencurian. Maksud untuk memiliki. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. . yaitu pertama melawan hukum formil. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. ia sudah mengetahui. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. dan kedua melawan hukum materiil. Melawan hukum. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Sedangkan melawan hukum materiil. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. 2.

tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. mereka lalu melarikan diri. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). dalam keadaan sadar. artinya menurut hukum Indonesia. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Jika melihat kasus diatas lagi. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). sehingga masih bisa diadili. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. seperti orang gila atau epilepsy. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. yaitu pertanggungjawaban. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. . setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. epilepsy dan lain sebagainya. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain.Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif.

DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). Hal.Seperti yang telah disebutkan di atas. Bandung : Armico. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). S. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. Semua unsur. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. 1995. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. jumlah pelaku lebih dari seorang. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. Hal. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. S. ancaman kekerasan. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya.com excellentlawyer. maka tetap bisa dilakukan penuntutan.blogspot. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. 135-142 . maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. tapi bukan pengaduan. mulai dari pencurian. 1995.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat.H. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. 117-121 · [2] ibid. Kesimpulan Kesimpulannya.. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Bandung : Armico. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak.H.blogspot.. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. Pada kasus pemerasan.

ungkap Harun. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Saat itu.Fahmi. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Tegal. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. nggak pake baju‖.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Kota Batam.com. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. saya tunggu setengah jam dia diam saja. kepala Polsekta Batam Kota. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi.‖ kata Novita. Saat kotak yang panjangnya 1. Kelurahan Baloi Permai. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat.‖ Sehari kemudian. Dengan posisi itu. darahnya kena muka saya.5 meter dibuka. Batam Kota. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. pelaku menyimpan mayat korban. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. 10 Maret lalu.Liputan6. ―Dia langsung jatuh. lalu saya sembunyi di sumur. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Pada awalnya. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Setelah cuci muka. Dari hasil pemeriksaan. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. Oktober 2009 silam. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. ―Dia bangun dan ikut saya. sempat teriak sekali. ―Di betis juga terdapat irisan. leluasa memukuli kepala Fahmi. kawasan Legenda Malaka. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Atas perbuatannya itu. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Kepulauan Riau. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. 3 Maret silam. Jawa Tengah. Selain itu. Harun pura-pura mundur. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). ujar Harun. ―Saya pukul pakai martil sekali. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. AKP Suka Irawanto. terus saya belah perutnya. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Setelah membunuh. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil.

yaitu manusia.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP).com Analisis Kasus I. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Sengaja. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. diancam. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Menurut doktrin. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). Barangsiapa. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. yaitu : a. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP).com dan klip21. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. Unsur – unsur Berdasarkan kasus.(BOG) Sumber : Liputan6.

Dengan rencana lebih dahulu. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.1. 1. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. Dalam kasus. yaitu : 1. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. diancam. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Berdasarkan tempus dan locus delicti . Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. paling lama dua puluh tahun ― I.

pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. 1. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. yaitu alat yang tidak bekerja. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat.a. Berdasarkan kasus. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. yaitu Oktober 2009 1. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. Dalam kasus. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. yaitu Oktober 2009 a.

Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. Cara menentukan locus adalah : 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Dalam kasus. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Berdasarkan prinsip KUHP 1. 1. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Berdasarkan kasus. yaitu di Kota Batam I. yaitu alat yang tidak bekerja.

Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Dalam prinsip ini. 1. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. Prinsip Universalitas . makasa prinsip ini tidak digunakan. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. 1. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus.

Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. 1. Jenis-jenis delik 1. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. 1. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. Dalam kasus pembunuhan tersebut.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia.

Pegawai Negeri. 1. 1. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. 1. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. tidak berlangsung terus menerus 1. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. Ajaran Kausalitas . dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. dan lainnya) atau bukan 1.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP).Dr. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. WNA. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai.

diambil satu yang menurut pengalaman. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Berdasarkan teori Birkmeyer. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Delik Materil 2.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Berdasarkan kasus. 1. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Dari semua faktor yang bernilai sama. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. diambil satu yang dianggap paling bernilai. harus diberi nilai sama. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Berdasarkan teori tersebut. b. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. yaitu : 1. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. a. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Delik Omisi tidak murni 3. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a.

Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. I. diancam. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. setelah terselesainya delik. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. Berdasarkan kasus. secara bertentangan dengan kewajibannya.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). tidak sesuai dengan hukum. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. Menurut KUHP. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana.

atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Dolus Inderectus. Kesengajaan dengan maksud. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. kehendak berupa pilihan d. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. sasaran jamak e. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Untuk mewujudkan tindakannya. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Dolus Premiditatus. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Kesengajaan terbagi atas : a. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). yaitu matinya korban. Dolus Determinatus. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. Dolus Indeterminatus. adanya kehendak. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b.Dalam kasus. termasuk delik formil b. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Dolus Alternativus. dan adanya tindakan. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). I. yaitu : a. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. Dolus Deneralus. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil.

Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Niat 2. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. . Berdasarkan kasus. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. 1. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban.

Tegal. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. ―Saya pukul pakai martil sekali. Saat kotak yang panjangnya 1.com. leluasa memukuli kepala Fahmi. Saat itu dia cuma pake celana pendek. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Jawa Tengah. ―Dia langsung jatuh. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. kawasan Legenda Malaka. Setelah membunuh. Oktober 2009 silam. Atas perbuatannya itu. darahnya kena muka saya. ―Dia bangun dan ikut saya. sempat teriak sekali. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. 10 Maret lalu. pelaku menyimpan mayat korban. Batam Kota. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. lalu saya sembunyi di sumur. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. ―Di betis juga terdapat irisan.‖ Sehari kemudian. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. Harun pura-pura mundur. nggak pake baju‖. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. ungkap Harun. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. 3 Maret silam. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Pada awalnya. Kota Batam. Kepulauan Riau. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. saya tunggu setengah jam dia diam saja.Fahmi. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. kepala Polsekta Batam Kota. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Kelurahan Baloi Permai.5 meter dibuka. Setelah cuci muka. AKP Suka Irawanto.Liputan6.‖ kata Novita. Saat itu. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Selain itu. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Dengan posisi itu. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. ujar Harun. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. terus saya belah perutnya. Dari hasil pemeriksaan.

alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1.(BOG) Sumber : Liputan6. yaitu : a. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). yaitu manusia. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. diancam. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus.com Analisis Kasus I.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.com dan klip21. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. Sengaja.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Barangsiapa. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). Menurut doktrin. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. karena pembunuhan dengan rencana (moord).

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. yaitu : 1. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. Dengan rencana lebih dahulu. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. karena pembunuhan dengan rencana (moord).1. paling lama dua puluh tahun ― I. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. diancam. Dalam kasus. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Berdasarkan tempus dan locus delicti . 1. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu.

yaitu Oktober 2009 1. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. yaitu Oktober 2009 a. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. yaitu alat yang tidak bekerja. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat.a. Dalam kasus. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. Berdasarkan kasus.

Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. yaitu di Kota Batam I. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Dalam kasus.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Berdasarkan kasus. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. yaitu alat yang tidak bekerja. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. 1. Cara menentukan locus adalah : 1. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat.

Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Prinsip Universalitas . sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. 1. 1. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Dalam prinsip ini.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. makasa prinsip ini tidak digunakan. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.

Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. 1. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. Dalam kasus pembunuhan tersebut. Jenis-jenis delik 1. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif).Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus.

sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. 1. 1. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. Pegawai Negeri. 1.Dr. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. WNA. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. tidak berlangsung terus menerus 1.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. Ajaran Kausalitas . Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. dan lainnya) atau bukan 1. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh.

Delik Omisi tidak murni 3. Berdasarkan kasus. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. diambil satu yang dianggap paling bernilai. harus diberi nilai sama. sehingga dapat dirumuskan kausanya.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Berdasarkan teori Birkmeyer. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Delik Materil 2. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . Dari semua faktor yang bernilai sama. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. a. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). b. yaitu : 1. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Berdasarkan teori tersebut. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). 1. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. diambil satu yang menurut pengalaman. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya.

namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. tidak sesuai dengan hukum. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. setelah terselesainya delik. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. Menurut KUHP. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). secara bertentangan dengan kewajiban umum. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. karena pembunuhan dengan rencana (moord). I. Berdasarkan kasus. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. secara bertentangan dengan kewajibannya. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. diancam. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat.

I. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). ada tiga tahapan yaitu adanya motif. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. Dolus Deneralus. Dolus Premiditatus. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. sasaran jamak e. Dolus Indeterminatus. dan adanya tindakan. Dolus Inderectus. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). Untuk mewujudkan tindakannya. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. yaitu : a. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Dolus Alternativus. Kesengajaan dengan maksud. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. kehendak berupa pilihan d. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. yaitu matinya korban. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Kesengajaan terbagi atas : a. adanya kehendak. Kesengajaan dengan dasar mengetahui.Dalam kasus. Dolus Determinatus. termasuk delik formil b.

Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. 1. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. 1. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Berdasarkan kasus. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. Niat 2. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. .

dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus.I. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja.BAB I PENDAHULUAN A. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. Prof. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri.menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. Simons berpendapat. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. Dalam suatu samenloop itu. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut.

penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. antara lain: 1. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. masinis kereta api telah . Dalam perjalanannya. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. Pengadilan Tinggi. Mendengar teriakan kenek tersebut. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Pada suatu hari. yang memiliki SIM B1 Umum. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. karena truk sarat muatannya. Akan tetapi. B. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Dari jarak ± 200 meter. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut.

cabin dengan baknya.KBM 1.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai.melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. Register Perkara 60/Pid. Truk terbelah menjadi 2 (dua). ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah.S/1987/PN. . Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka.

.. II... II. 3. Mahkamah Agung No. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. Pengadilan Tinggi No.. 2. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 2.... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari... BAB III .. b. ....... Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari.. 3. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a.. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. 2.... Register Perkara 762/Pid/1987/PN. .II. . Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. 3. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka... Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.SMG 1..

Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. A. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. 3. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. 2. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. . Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. yaitu: 1. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. dan 4. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana.

yaitu: 1. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Akan tetapi. 3. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.2. maka menurut stelsel ini. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. jumlah pidana itu harus dibatasi. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. 4. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. . B.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana.

yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. 2. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general.(2) Jika suatu perbuatan. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. Sebelum tahun 1932. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat.

Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. 3. 66. 70 dan 70 bis KUHP. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Hal ini diatur dalam pasal 65. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.

Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Oleh karena itu. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. dan 3. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. 2. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. .Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . Walaupun demikian. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. maka akan terjadi suatu tabrakan. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. Memang PA tidak bisa menyadari. Maka dari itu.” Maksudnya. B. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan.tetapi. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Selain itu. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. Jadi. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. Hal-hal yang memberatkan 1. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama.- . yaitu: a. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Terdakwa belum pernah dihukum b. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. Terdakwa bersikap sopan 3. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. Terdakwa masih muda 4. 1500. atau Denda Rp. Hal-hal yang meringankan 1. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. atau Denda Rp. 4500.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan.

Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. Selain itu. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. BAB IV PENUTUP A. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. Akan tetapi. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP).PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan.

sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. yurisprudensi hakim dan lain-lain. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan.terjadi beserta akibat-akibatnya. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. B. terutama Hakim. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Selain itu. akan tetapi meliputi juga doktrin. A. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. Dengan demikian. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. Dengan demikian. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. DAFTAR PUSTAKA . sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki..

Putusan .A. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. B.‖ Kanter. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. (Jakarta: Eresco. S. 1967). Leden . (Jakarta: Universitas Tarumanegara.R. 1958). (Bogor: Politeia. Soesilo. Citra Aditya Bakti. Prodjodikoro.. Lamintang. Simons. Sianturi. 1996). dan Gabungan Tindak Pidana. (Bandung: PT. (Jakarta: Eresco. (Groningen: Batavia. 2002). Utrecht. Wirjono. 1985). P. 1993).R. Penerbitan Universitas.F. 1987). Prodjodikoro... dan S. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. R. P. Penyertaan. Wirjono. (Jakarta: Rineka Cipta. Percobaan. 1937). Buku Jonkers ―Alles. Loebby.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. (Bandung: PT.A. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya... 1967). E. 2005). wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. 1997). (Jakarta : Sinar Grafika. E. V. (Jakarta : Bina Aksara.Y. Moeljatno. Marpaung. Sianturi.Tindak Pidana Tertentu.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. is meerdaadsche samanloop. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Noordhoff N. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Loqman.

sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. BAB I PENDAHULUAN A. NJ 1927. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. W Nr 11673. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. NJ 1932. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. NJ 1932. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri.

maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. Prof. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. Simons berpendapat. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana.I. Dalam suatu samenloop itu. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. . Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan.

ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Pada suatu hari. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Pengadilan Tinggi. . B. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. Dalam perjalanannya.Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. antara lain: 1. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. yang memiliki SIM B1 Umum. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut.

dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. Truk terbelah menjadi 2 (dua). maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. cabin dengan baknya. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. karena truk sarat muatannya. Register Perkara 60/Pid. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api.Mendengar teriakan kenek tersebut.S/1987/PN.KBM .‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. Dari jarak ± 200 meter.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. Akan tetapi. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan.

Pengadilan Tinggi No.. 2.1. 3.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka..... b. 2.. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.SMG 1... II. .. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. II.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.. . Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. II... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. Mahkamah Agung No.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. . Register Perkara 762/Pid/1987/PN.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 2. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. 3.

3. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan).. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Sistem Absorpsi . dan 4. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1.. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. 2. yaitu: 1.. . Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili.. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan.. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus... Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. A.. 3. BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan..

maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. maka menurut stelsel ini. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). 3. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Akan tetapi. 4.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . yaitu: 1. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. B. jumlah pidana itu harus dibatasi. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. 2. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan.

Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. (2) Jika suatu perbuatan. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu.(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. Sebelum tahun 1932. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. . akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan.

concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. 70 dan 70 bis KUHP.2. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. 3. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. 66. Hal ini diatur dalam pasal 65. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran.

Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. 2. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. . Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. dan 3. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Oleh karena itu. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Delik-delik yang terjadi itu sejenis.

yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. yaitu hanya perbuatan fisik semata.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Oleh karena itu.BAB IV ANALISIS KASUS A. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. Selain itu. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Akan tetapi. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. Akan tetapi.

[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis. concursus realis. unsur-unsur kesalahan yang subjektif.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging). Walaupun demikian. tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. harus berdiri sendiri-sendiri. akibat.perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. dan juga perbuatan berlanjut. terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana. Dengan kata lain. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. Jadi. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. Jadi. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis.[3] Menurut Pompe. serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.

Maka. peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- . Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. lalu menabrak orang sehingga luka berat. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat.[4] R.delicten) saja. 2. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. karena.

Akan .‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya. Mengutip dari pendapat Prof. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. dan begitu sebaliknya. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan. memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.beda.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Ini merupakan dua tindakan.”[7] Selain itu. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya.

selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. B. maka akan terjadi suatu tabrakan. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. Selain itu. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. Jadi. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena .” Maksudnya. Maka dari itu. Memang PA tidak bisa menyadari. Walaupun demikian. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan.tetapi. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA.

atau Denda Rp. atau Denda Rp. Hal-hal yang memberatkan 1. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Hal-hal yang meringankan 1. 1500. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama.- . yaitu: a. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa belum pernah dihukum b. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Terdakwa masih muda 4. 4500. Terdakwa bersikap sopan 3.

Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . Akan tetapi. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. BAB IV PENUTUP A.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. Selain itu. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP).

tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. terutama Hakim. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. akan tetapi meliputi juga doktrin. Selain itu. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. Dengan demikian. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. A. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. DAFTAR PUSTAKA .terjadi beserta akibat-akibatnya.. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. yurisprudensi hakim dan lain-lain. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. Dengan demikian. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. B. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat.

(Jakarta : Bina Aksara. (Bandung: PT.. S. P.‖ Kanter. Penerbitan Universitas. (Jakarta: Rineka Cipta.R.R. 2002). dan S.A.A. (Bogor: Politeia. 1987). Loqman. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. (Bandung: PT. Simons. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya.Tindak Pidana Tertentu. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. 1967). Moeljatno. Citra Aditya Bakti. P.. Percobaan. Loebby. Penyertaan. 1985)..Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Utrecht. dan Gabungan Tindak Pidana. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht.. Prodjodikoro. Sianturi. (Jakarta : Sinar Grafika. 1993). Prodjodikoro. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. 1958). 2005). Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. E. Lamintang. 1996). 1967). (Groningen: Batavia. Buku Jonkers ―Alles. Putusan . E.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. (Jakarta: Eresco. Wirjono. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. Marpaung.. R. (Jakarta: Eresco. Noordhoff N.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. V. Soesilo. 1997).Y. Sianturi. B. is meerdaadsche samanloop. 1937). Wirjono.F. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. Leden .

W Nr 11673. NJ 1932. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. . Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. NJ 1927.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful