P. 1
contoh kasus pidana

contoh kasus pidana

2.0

|Views: 18,069|Likes:
Published by Jusran Ipandi

More info:

Published by: Jusran Ipandi on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/26/2016

pdf

text

original

Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

perintah palsu. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. 3. Dari tempat kejadian perkara. Berikut unsur – unsur pencurian. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. terhadap orang. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). atau dalam hal tertangkap tangan. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. di jalan umum. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya.7 juta. 2. > Unsur – Unsur Objektif berupa : . Dalam kasus ini. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. atau pakaian jabatan palsu. pencurian yang didahului. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 4. disertai. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6.

1. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. dan kedua melawan hukum materiil. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Maksud untuk memiliki. 1979:79-80). Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. Berdasarkan hal tersebut. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. yaitu pertama melawan hukum formil. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. 2. cukup sebagian saja. jika benda berada pada pelaku. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. . Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. 2. Sedangkan melawan hukum materiil. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). ia sudah mengetahui. dan kedua unsur memiliki. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. Unsur benda. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. Melawan hukum. 3. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). 1:52 atau Lamintang.

Dilihat dari sisi umur. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. mereka lalu melarikan diri. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. dalam keadaan sadar.Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. sehingga masih bisa diadili. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. diancam karena pencurian. Selain . dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan.

Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Jika melihat kasus diatas lagi. yaitu pertanggungjawaban. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. jumlah pelaku lebih dari seorang. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). seperti orang gila atau epilepsy. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. . maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. Semua unsur. mulai dari pencurian. epilepsy dan lain sebagainya. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. artinya menurut hukum Indonesia. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. Kesimpulan Kesimpulannya. tapi bukan pengaduan.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Pada kasus pemerasan. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. Seperti yang telah disebutkan di atas. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. ancaman kekerasan. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. S. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan.com excellentlawyer. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Rabu (7/7). 1995. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. 117-121 · [2] ibid. Saat dimintai keterangan. Solo: Seorang pemuda asal Sumber.(BJK/ANS) . selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. S. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Bandung : Armico.. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan.blogspot.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. Dari keterangan saksi. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. Atas perbuatannya. Bandung : Armico.H. Hal.blogspot. 1995. Dari pengakuan tersangka. Solo. Jika tidak dituruti. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana.H. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Hal. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖.. Banjarsari. Jawa Tengah.com. 135-142 Assalamualaikum wr. Selain menangkap tersangka. ia hanya bisa tertunduk lesu. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii.

> Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. Ketentuan Pasal 365 ayat (2). maka berlaku hukum pidana Indonesia . Untuk menghapus piutang. 5. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain. Orang lain.Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. Memaksa . Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. >>> Unsur subyektif.. karena pemerasan. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). 2. yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. 6. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. 2. . 4. pelaku. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 3. atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang.setiap minggu.000. yang meliputi unsur-unsur : 1. untuk memberikan sesuatu barang. Supaya memberi hutang. ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. diancam. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. 2. Dengan maksud. Unsur “memaksa”.

tetapi cukup apabila dapat dibuktikan.2. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Pemerasan dianggap telah terjadi. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Dilihat dari sisi umur. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. 5. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi. Artinya. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. baik yang subjektif maupun yang obyektif. berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. 4. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain.000. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”. Unsur “supaya memberi hutang”.Berkaitan dengan unsur itu. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. . Unsur “untuk menghapus hutang”. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Jadi.-. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150. persoalan yang muncul adalah. 3.

delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 3. Dalam hal ini. 4. delik aduan (klacht delict). 5. karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. . 6. delik formal (formeel delict). 7. Dalam kasus ini. perbuatannya adalah pemerasan. delik tunggal (enkelvoudig delict). pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. 2. yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. 9. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik kesengajaan (doleus delict). kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. delik umum (gemeen delict). Pada kasus ini. Atas laporan korban. delik komisi (commissie delict). sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. maka polisi pun menangkap pelaku. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. delik rampung (aflopend delict). maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. delik umum (delicta communia). karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. 8. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara.

com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.7 juta di laci. tetapi tidak bisa berkutik. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6. Nawawi. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Selain kalah banyak.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. serta tangan dan kaki diikat tali rafia.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor. Keduanya diringkus pelaku. KOMPAS.Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. disertai. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Petugas jaga lainnya. Awalnya. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Dari tempat kejadian perkara. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. terhadap orang. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. pencurian yang didahului. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). mulut dan mata diplakban. Keduanya sempat melawan. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08. dengan maksud . Dalam kasus ini. 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.7 juta. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi.

Unsur benda. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. 2. di jalan umum. 2. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Berikut unsur – unsur pencurian. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. 3. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 4. perintah palsu. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. 3. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. . cukup sebagian saja. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. 1979:79-80). 1:52 atau Lamintang. jika benda berada pada pelaku. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya.untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. atau dalam hal tertangkap tangan. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. atau pakaian jabatan palsu. Berdasarkan hal tersebut. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil.

Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Dilihat dari sisi umur. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. ia sudah mengetahui. Maksud untuk memiliki. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). dan kedua melawan hukum materiil. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Sedangkan melawan hukum materiil. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Melawan hukum. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. 2. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. . dan kedua unsur memiliki. berupa unsur kesalahan dalam pencurian. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. diancam karena pencurian. yaitu pertama melawan hukum formil.

epilepsy dan lain sebagainya. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. sehingga masih bisa diadili.Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. artinya menurut hukum Indonesia. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. Jika melihat kasus diatas lagi. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. seperti orang gila atau epilepsy. . mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. mereka lalu melarikan diri. yaitu pertanggungjawaban. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. dalam keadaan sadar. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan.

Bandung : Armico. Hal. Kesimpulan Kesimpulannya. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Hal. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. jumlah pelaku lebih dari seorang. ancaman kekerasan. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. mulai dari pencurian. 135-142 .. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum.blogspot. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. 117-121 · [2] ibid.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. tapi bukan pengaduan. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. Pada kasus pemerasan.H.Seperti yang telah disebutkan di atas. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. 1995. sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana.blogspot. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. S. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak.. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. S. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan.com excellentlawyer. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Semua unsur.H. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. Bandung : Armico. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. 1995. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun.

identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30).Liputan6.‖ kata Novita. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. saya tunggu setengah jam dia diam saja. AKP Suka Irawanto. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. Saat itu. Setelah cuci muka. 3 Maret silam. Saat kotak yang panjangnya 1. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Dengan posisi itu. ―Dia bangun dan ikut saya. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. ―Saya pukul pakai martil sekali. leluasa memukuli kepala Fahmi. ujar Harun. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010.5 meter dibuka. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Atas perbuatannya itu. darahnya kena muka saya. terus saya belah perutnya. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. sempat teriak sekali. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. ungkap Harun. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. ―Dia langsung jatuh. Batam Kota. Dari hasil pemeriksaan. ―Di betis juga terdapat irisan. Harun pura-pura mundur. lalu saya sembunyi di sumur. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali.Fahmi. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Oktober 2009 silam. 10 Maret lalu. pelaku menyimpan mayat korban. Jawa Tengah. Kota Batam. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. kawasan Legenda Malaka. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. Saat itu dia cuma pake celana pendek. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan.‖ Sehari kemudian. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Kelurahan Baloi Permai.com. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Selain itu. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. Setelah membunuh. Kepulauan Riau. kepala Polsekta Batam Kota. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Tegal. Pada awalnya. nggak pake baju‖.

Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana .(BOG) Sumber : Liputan6.com Analisis Kasus I. Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. Sengaja. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. diancam. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Menurut doktrin. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Barangsiapa. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP).sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus.com dan klip21. yaitu manusia. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. karena pembunuhan dengan rencana (moord). yaitu : a.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP).

sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. Berdasarkan tempus dan locus delicti . Dalam kasus. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. yaitu : 1. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. diancam.1. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. karena pembunuhan dengan rencana (moord). artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Dengan rencana lebih dahulu. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. paling lama dua puluh tahun ― I. 1. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya.

Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . yaitu alat yang tidak bekerja. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Dalam kasus.a. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. yaitu Oktober 2009 1. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. yaitu Oktober 2009 a. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Berdasarkan kasus. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. 1.

Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. Berdasarkan prinsip KUHP 1. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. 1. yaitu di Kota Batam I. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. yaitu alat yang tidak bekerja. Dalam kasus. Berdasarkan kasus. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Cara menentukan locus adalah : 1. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja.

Prinsip Universalitas . Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. 1. 1. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. makasa prinsip ini tidak digunakan. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Dalam prinsip ini. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.

Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Jenis-jenis delik 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. 1. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan.

Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. tidak berlangsung terus menerus 1. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. 1. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. dan lainnya) atau bukan 1. Pegawai Negeri. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. 1. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). dimana menurut KUHP Federasi Rusia. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. 1. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. WNA. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana.Dr. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Ajaran Kausalitas .

diambil satu yang menurut pengalaman. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). yaitu : 1. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Berdasarkan kasus. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. a. diambil satu yang dianggap paling bernilai. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Delik Omisi tidak murni 3. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. boleh dianggap umumnya menjadi kausa.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . b. Berdasarkan teori Birkmeyer. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). sehingga dapat dirumuskan kausanya. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Dari semua faktor yang bernilai sama. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. harus diberi nilai sama. Berdasarkan teori tersebut. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. 1. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Delik Materil 2.

Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. tidak sesuai dengan hukum. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. secara bertentangan dengan kewajiban umum. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Menurut KUHP. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. Berdasarkan kasus. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. secara bertentangan dengan kewajibannya. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. karena pembunuhan dengan rencana (moord). maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. diancam. I. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. setelah terselesainya delik. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis.

kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Kesengajaan dengan dasar menghendaki.Dalam kasus. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Kesengajaan dengan maksud. Untuk mewujudkan tindakannya. Dolus Indeterminatus. dan adanya tindakan. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). yaitu matinya korban. Kesengajaan terbagi atas : a. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). Kesengajaan dengan dasar mengetahui. Dolus Alternativus. Dolus Inderectus. yaitu : a. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. adanya kehendak. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. sasaran jamak e. I. Dolus Premiditatus. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. kehendak berupa pilihan d. Gradasi kesengajaan yaitu : a. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. termasuk delik formil b. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Dolus Determinatus. Dolus Deneralus. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f.

Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Niat 2. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. 1. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. .Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. Berdasarkan kasus. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. 1. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan.

Atas perbuatannya itu.5 meter dibuka. darahnya kena muka saya. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Kepulauan Riau. kepala Polsekta Batam Kota. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat.‖ Sehari kemudian. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Saat itu. Tegal. sempat teriak sekali.Fahmi.Liputan6. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. ―Saya pukul pakai martil sekali. leluasa memukuli kepala Fahmi. kawasan Legenda Malaka. Jawa Tengah. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Setelah cuci muka. Saat itu dia cuma pake celana pendek. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. ―Dia bangun dan ikut saya. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Dengan posisi itu. Saat kotak yang panjangnya 1. AKP Suka Irawanto. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. lalu saya sembunyi di sumur. Pada awalnya. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. 10 Maret lalu. Dari hasil pemeriksaan. Selain itu. Kota Batam. ―Dia langsung jatuh. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. nggak pake baju‖. Setelah membunuh. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Batam Kota. Oktober 2009 silam. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban.com. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Kelurahan Baloi Permai. ―Di betis juga terdapat irisan. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. terus saya belah perutnya. 3 Maret silam. Harun pura-pura mundur. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun.‖ kata Novita. ujar Harun. ungkap Harun. pelaku menyimpan mayat korban.

Sengaja. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . diancam.sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga.com dan klip21. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Menurut doktrin. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP).(BOG) Sumber : Liputan6. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). karena pembunuhan dengan rencana (moord). Barangsiapa. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. yaitu : a. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. yaitu manusia. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi.com Analisis Kasus I. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1.

Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.1. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Berdasarkan tempus dan locus delicti . Dalam kasus. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. diancam. Dengan rencana lebih dahulu. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. 1. paling lama dua puluh tahun ― I. yaitu : 1. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya.

Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. Berdasarkan kasus. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . 1. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. yaitu Oktober 2009 a. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal.a. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu Oktober 2009 1. Dalam kasus. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu alat yang tidak bekerja. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi.

Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. yaitu alat yang tidak bekerja. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Berdasarkan prinsip KUHP 1. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Dalam kasus. Berdasarkan kasus. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu di Kota Batam I. Cara menentukan locus adalah : 1. 1.

1.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. Dalam prinsip ini. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. makasa prinsip ini tidak digunakan. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. Prinsip Universalitas . karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. 1. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.

Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). 1. 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Jenis-jenis delik 1. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Dalam kasus pembunuhan tersebut.

dapat dilakukan oleh siapapun (WNI. WNA. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. 1. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. 1. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP.Dr. dan lainnya) atau bukan 1. tidak berlangsung terus menerus 1. Ajaran Kausalitas . Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. Pegawai Negeri. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. 1. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP).

Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. harus diberi nilai sama. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. yaitu : 1. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. diambil satu yang menurut pengalaman. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. b. sehingga dapat dirumuskan kausanya. Berdasarkan kasus. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Dari semua faktor yang bernilai sama. 1. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Berdasarkan teori tersebut. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Delik Omisi tidak murni 3. Berdasarkan teori Birkmeyer. Delik Materil 2. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. a.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian.

maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. Menurut KUHP. tidak sesuai dengan hukum. I. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. secara bertentangan dengan kewajibannya. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. Berdasarkan kasus. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. diancam. karena pembunuhan dengan rencana (moord). secara bertentangan dengan kewajiban umum. yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. setelah terselesainya delik. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum .

Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. dan adanya tindakan. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). sasaran jamak e. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Kesengajaan terbagi atas : a. Dolus Indeterminatus. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. yaitu : a. Dolus Alternativus. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Dolus Determinatus. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. adanya kehendak. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. I. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . Dolus Deneralus. Kesengajaan dengan maksud. Dolus Inderectus. Dolus Premiditatus. Untuk mewujudkan tindakannya. yaitu matinya korban. Kesengajaan dengan dasar mengetahui.Dalam kasus. termasuk delik formil b. Gradasi kesengajaan yaitu : a. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. kehendak berupa pilihan d. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). Kesengajaan dengan dasar menghendaki.

bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Berdasarkan kasus. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). 1. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. 1. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. Niat 2. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. . ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya.

Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili.I.BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata.

Simons berpendapat. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan.menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. Dalam suatu samenloop itu. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Prof. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana.

truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. karena truk sarat muatannya.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. Mendengar teriakan kenek tersebut. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. B. antara lain: 1. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. Dari jarak ± 200 meter. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Pada suatu hari. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. Akan tetapi. masinis kereta api telah . yang memiliki SIM B1 Umum. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. Pengadilan Tinggi. Dalam perjalanannya. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2.

yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. cabin dengan baknya.melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No.KBM 1. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. Truk terbelah menjadi 2 (dua). sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. Register Perkara 60/Pid. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. . ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya.S/1987/PN.

II. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. 2. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a.II. Mahkamah Agung No. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1. BAB III . Register Perkara 762/Pid/1987/PN. II. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. 3... Pengadilan Tinggi No. b.. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak..SMG 1. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak....... ...... 3. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. 3. ...... 2. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. 2.... .. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan...

dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. 3. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. yaitu: 1. 2. . ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). A. dan 4. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana.

Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. 4. Akan tetapi. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. B. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. yaitu: 1. 3.2. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. jumlah pidana itu harus dibatasi. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. . Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. maka menurut stelsel ini.

Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut.(2) Jika suatu perbuatan. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. 2. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Sebelum tahun 1932.

70 dan 70 bis KUHP. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. 66. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. 3. Hal ini diatur dalam pasal 65.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.

Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Oleh karena itu. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. dan 3. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. 2. . Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. Selain itu.tetapi.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. Maka dari itu. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. Walaupun demikian. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. Jadi. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. maka akan terjadi suatu tabrakan. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. Memang PA tidak bisa menyadari.” Maksudnya. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. B. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa.

sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. atau Denda Rp. 1500. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan.- . Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. Hal-hal yang memberatkan 1. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. 4500. Terdakwa masih muda 4. atau Denda Rp.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. Terdakwa belum pernah dihukum b. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. yaitu: a.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Hal-hal yang meringankan 1. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa bersikap sopan 3.

seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. Selain itu. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. BAB IV PENUTUP A. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. Akan tetapi. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat.

Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. A. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang.terjadi beserta akibat-akibatnya. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. terutama Hakim. yurisprudensi hakim dan lain-lain. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. Dengan demikian. Dengan demikian. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. Selain itu. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. DAFTAR PUSTAKA . agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. B. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. akan tetapi meliputi juga doktrin.. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya.

Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 1996). Prodjodikoro. (Jakarta: Rineka Cipta. S. Sianturi.‖ Kanter. Utrecht.. (Jakarta : Sinar Grafika. V..A. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. 1958). Buku Jonkers ―Alles. (Bogor: Politeia. (Jakarta : Bina Aksara. (Bandung: PT.F. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika. 1993). P. Penerbitan Universitas. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. dan S. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. is meerdaadsche samanloop. 2005). Percobaan. Prodjodikoro. B. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. (Jakarta: Eresco.R. Loqman. (Jakarta: Eresco. 1985). Wirjono. Noordhoff N. Simons. Marpaung. Lamintang. 1967).Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya.A. Wirjono.. P. Leden . Citra Aditya Bakti.. 1967).Y. R. (Groningen: Batavia. Sianturi. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.Tindak Pidana Tertentu. Loebby. Soesilo. Moeljatno. dan Gabungan Tindak Pidana. (Bandung: PT. 1997). E. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana.R.. 1987). Penyertaan. 2002).Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Putusan . 1937). E.

Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . W Nr 11673. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. NJ 1932. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. NJ 1932. NJ 1927. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri.

seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan.I. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. Dalam suatu samenloop itu. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. . yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. Simons berpendapat. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Prof. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri.

setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. Dalam perjalanannya. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. B. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Pada suatu hari. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. yang memiliki SIM B1 Umum.Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. Pengadilan Tinggi. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. antara lain: 1. . karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk.

‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Akan tetapi. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. Truk terbelah menjadi 2 (dua). Dari jarak ± 200 meter. Register Perkara 60/Pid. cabin dengan baknya.KBM . dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan.S/1987/PN.Mendengar teriakan kenek tersebut. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. karena truk sarat muatannya. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP.

Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. II. b.. 2. 2. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. ... Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan.. II. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1.. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.SMG 1..... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. . Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.. 2. Mahkamah Agung No. 3.. .... Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a..1. II. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Pengadilan Tinggi No. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. Register Perkara 762/Pid/1987/PN.. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.. 3.

. dan 4. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. yaitu: 1. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. 2.... Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. .. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan... BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. A. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus.. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Sistem Absorpsi .3. 3..

Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. maka menurut stelsel ini. jumlah pidana itu harus dibatasi. 3. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. yaitu: 1.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. 4. Akan tetapi. 2.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. B. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja.

bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. Sebelum tahun 1932. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. . namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. (2) Jika suatu perbuatan. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut.

Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. 66. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. 3. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran.2. Hal ini diatur dalam pasal 65. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. 70 dan 70 bis KUHP. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat.

Oleh karena itu. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. dan 3. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. 2. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. . Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri.

BAB IV ANALISIS KASUS A. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Oleh karena itu. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. yaitu hanya perbuatan fisik semata. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Akan tetapi. Akan tetapi. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan. Selain itu. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri.

dan juga perbuatan berlanjut. terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis. unsur-unsur kesalahan yang subjektif. Jadi. Jadi. akibat.perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. Walaupun demikian. tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Dengan kata lain. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana.[3] Menurut Pompe. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. concursus realis. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. harus berdiri sendiri-sendiri.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging). untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis.

Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[4] R. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. lalu menabrak orang sehingga luka berat.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu.delicten) saja. 2. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- . atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Maka. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. karena. peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu.

Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat. dan begitu sebaliknya. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP. Mengutip dari pendapat Prof. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana.beda.”[7] Selain itu. Ini merupakan dua tindakan. Akan .

B. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. Walaupun demikian. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. maka akan terjadi suatu tabrakan. Maka dari itu. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan.” Maksudnya. Selain itu.tetapi. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. Memang PA tidak bisa menyadari. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. Jadi. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi.

tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. 1500.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. 4500. Hal-hal yang memberatkan 1.- . yaitu: a. Terdakwa bersikap sopan 3. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Hal-hal yang meringankan 1. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. Terdakwa masih muda 4. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. atau Denda Rp. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. atau Denda Rp. Terdakwa belum pernah dihukum b. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan.

pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. Selain itu. BAB IV PENUTUP A. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. Akan tetapi. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1.

sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. Dengan demikian. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. Selain itu. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya.terjadi beserta akibat-akibatnya. DAFTAR PUSTAKA . yurisprudensi hakim dan lain-lain.. A. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. terutama Hakim. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. Dengan demikian. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. akan tetapi meliputi juga doktrin. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. B. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat.

. Prodjodikoro... Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht.‖ Kanter. Moeljatno. dan S. Noordhoff N. (Jakarta: Rineka Cipta. Soesilo. Prodjodikoro. Wirjono. (Bandung: PT. 1937). Putusan . Utrecht. R. B. P. S. (Jakarta: Eresco. (Jakarta: Eresco. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. P.. 1987). (Jakarta: Penerbit Storia Grafika.Y. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 2005). 1967). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Loebby. V. 1967). E. (Jakarta : Sinar Grafika. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Sianturi. (Bogor: Politeia. 1993). (Bandung: PT. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. (Jakarta : Bina Aksara. Marpaung.R.A. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia..F. 2002). dan Gabungan Tindak Pidana.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Lamintang. (Groningen: Batavia. E. Buku Jonkers ―Alles. Sianturi. 1985). Penyertaan.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal.Tindak Pidana Tertentu. 1996).A. Simons. is meerdaadsche samanloop. Percobaan. 1958).R. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. Penerbitan Universitas. Wirjono. Citra Aditya Bakti. Loqman. Leden . 1997).

W Nr 11673. . Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. NJ 1932. NJ 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. NJ 1927.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->