Assalamualaikum wr.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus.

kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6.com, Solo: Seorang pemuda asal Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (7/7), dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan. Saat dimintai keterangan, ia hanya bisa tertunduk lesu. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari, menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Dari keterangan saksi, tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Jika tidak dituruti, maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban, tapi juga warga lain di kawasan tersebut. Dari pengakuan tersangka, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. Selain menangkap tersangka, polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara.(BJK/ANS) Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas, pelaku, Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150.000,- setiap minggu. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia, maka berlaku hukum pidana Indonesia , yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2. Ketentuan Pasal 365 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP

>> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana, yang meliputi unsur-unsur : 1. 2. 3. 4. Memaksa . Orang lain. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). 5. Supaya memberi hutang. 6. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif, yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1. Dengan maksud. 2. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang, sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”.Berkaitan dengan unsur itu, persoalan yang muncul adalah, kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas, tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. Pemerasan dianggap telah terjadi, apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas. 3. Unsur “supaya memberi hutang”. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian, bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Jadi, yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas, tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. 4. Unsur “untuk menghapus hutang”. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras.

5. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi, tetapi cukup apabila dapat dibuktikan, bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas, baik yang subjektif maupun yang obyektif. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150.000,-, korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Barang yang diserahkan adalah uang, yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. Artinya, pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo, karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku, terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Dilihat dari sisi umur, meski tidak disebutkan berapa umur pelaku, tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar, berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun, sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. Atas laporan korban, keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk, maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun, kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu, sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1. delik formal (formeel delict), karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam kasus ini, perbuatannya adalah pemerasan.

2. delik komisi (commissie delict), karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. Dalam hal ini, pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban, dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. 3. delik rampung (aflopend delict), karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik tunggal (enkelvoudig delict), karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. 5. delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. 6. delik kesengajaan (doleus delict), karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. 7. delik umum (gemeen delict), karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara. 8. delik umum (delicta communia), karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. 9. delik aduan (klacht delict), dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini, yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan, maka polisi pun menangkap pelaku. Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu, 4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK, KOMPAS.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6,7 juta di laci. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor, lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi. Awalnya, petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. Keduanya sempat melawan, tetapi tidak bisa berkutik. Selain kalah banyak, keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. Keduanya diringkus pelaku, mulut dan mata diplakban, serta tangan dan kaki diikat tali rafia. Petugas jaga lainnya, Nawawi, memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya.

Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. Berikut unsur – unsur pencurian.7 juta. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. 2. pencurian yang didahului. 3. disertai. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. terhadap orang. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain.Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. 4. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2).7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. > Unsur – Unsur Objektif berupa : . yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. di jalan umum. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. atau pakaian jabatan palsu. dengan maksud untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. perintah palsu. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. Dalam kasus ini. atau dalam hal tertangkap tangan. Dari tempat kejadian perkara. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat.

2. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . . Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. 1:52 atau Lamintang. Unsur benda. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed). > Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). berupa unsur kesalahan dalam pencurian. 3. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan.1. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. Sedangkan melawan hukum materiil. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. cukup sebagian saja. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. yaitu pertama melawan hukum formil. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. dan kedua unsur memiliki. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. Maksud untuk memiliki. 2. Melawan hukum. Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. dan kedua melawan hukum materiil. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. ia sudah mengetahui. 1979:79-80). Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. Berdasarkan hal tersebut. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. jika benda berada pada pelaku.

dalam keadaan sadar. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja.Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. Dilihat dari sisi umur. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. mereka lalu melarikan diri. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. sehingga masih bisa diadili. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. diancam karena pencurian. Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. Selain .

. epilepsy dan lain sebagainya. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun.itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. yaitu pertanggungjawaban. Jika melihat kasus diatas lagi. artinya menurut hukum Indonesia. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). Seperti yang telah disebutkan di atas. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. ancaman kekerasan. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. tapi bukan pengaduan. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab. para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. maka tetap bisa dilakukan penuntutan. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. mulai dari pencurian. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. Pada kasus pemerasan. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. seperti orang gila atau epilepsy. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. jumlah pelaku lebih dari seorang. Kesimpulan Kesimpulannya. Semua unsur.

Atas perbuatannya.blogspot. Tidak hanya keluarga Nunung ―Srimulat‖ yang menjadi korban. Perilaku tersangka pun dianggap meresahkan.wb… tulisan di bawah adalah tugas hukum pidana mengenai analisis dua kasus. Jawa Tengah. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. uang yang diperoleh digunakan untuk membeli rokok dan minuman keras. dibekuk polisi lantaran diduga kerap memeras di rumah keluarga artis dan pelawak Nunung ―Srimulat‖. 1995. Hal. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Kasus 1 : PEMERASAN Liputan6. Pemuda bertato ini ditangkap aparat Kepolisian Sektor Banjarsari. Banjarsari.(BJK/ANS) . Bandung : Armico..H. tersangka sering memeras di rumah keluarga tersebut. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Solo: Seorang pemuda asal Sumber. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. Selain menangkap tersangka.sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. menyusul laporan salah seorang kerabat Nunung. Rabu (7/7). S.blogspot. Saat dimintai keterangan.com excellentlawyer.. S. maka pelaku tidak segan melakukan kekerasan. 135-142 Assalamualaikum wr.com [1] Sofjan Sastrawidjaja. ia hanya bisa tertunduk lesu. Dari pengakuan tersangka. Solo. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. kasus yang saya angkat adalah pencurian dan pemerasan. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. polisi menyita barang bukti uang sebesar Rp 20 ribu dan kartu tanda penduduk milik tersangka. 1995. Pemuda bernama Andi Rismanto alias Ambon yang dikenal sebagai preman kampung meminta jatah Rp 150 ribu per minggu dengan alasan iuran keamanan.com. Hal. Bandung : Armico.H. Jika tidak dituruti. tapi juga warga lain di kawasan tersebut. tersangka dijerat pasal pemerasan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan tahun penjara. 117-121 · [2] ibid. Dari keterangan saksi.

yaitu unsur yang terdapat di dalam diri si pelaku tindak pidana yang meliputi unsur – unsur : 1.. Andi Rismanto telah melakukan tindak pidana pemerasan kepada keluarga Nunung dengan cara meminta secara paksa uang Rp 150. > Unsur-Unsur yang ada di dalam ketentuan Pasal 368 KUHP >> Unsur-unsur dalam ketentuan ayat (1) Pasal 368 KUHP :[1] >>> Unsur obyektif yaitu unsur yang terdapat di luar diri si pelaku tindak pidana. 2. Dengan maksud. atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang. Untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang (yang seleruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain). > Beberapa unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Ketentuan Pasal 365 ayat (2). yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain.setiap minggu.Analisis Kasus 1 Pada kasus di atas. 4. pelaku. Memaksa . maka berlaku hukum pidana Indonesia . memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. untuk memberikan sesuatu barang. yang meliputi unsur-unsur : 1. Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Unsur “memaksa”. Dengan istilah ―memaksa‖ dimaksudkan adalah melakukan tekanan pada orang. 2. Untuk menghapus piutang. >>> Unsur subyektif.000. . 5. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dalam ketentuan Pasal 368 KUHP tindak pidana pemerasan diramuskan dengan rumusan sebagai berikut : 1. 6. 3. Pelaku dijerat oleh pasal mengenai pemerasan yang diatur dalam pasal 368 KUHPidana. ayat (3) dan ayat (4) berlaku dalam tindak pidana ini. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. diancam. Karena yang melakukan tindak pidana adalah warga Negara Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. Orang lain. Supaya memberi hutang. sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehendaknya sendiri. 2. karena pemerasan.

korban pun terpaksa memenuhi permintaan pelaku. Yang dimaksud dengan ―menguntungkan diri sendiri atau orang lain‖ adalah menambah baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dari kekayaan semula. karena Solo merupakan tempat terjadinya tindak pidana (locus delicti) pemerasan tersebut. yang dimaksud dengan memberi hutang dalam hal ini bukanlah berarti dimaksudkan untuk mendapatkan uang (pinjaman) dari orang yang diperas. yang akhirnya digunakan oleh pelaku untuk membeli rokok dan minuman keras untuk dirinya sendiri. bahwa si pemeras memaksa orang yang diperas untuk membuat suatu perikatan atau suatu perjanjianyang menyebabkan orang yang diperas harus membayar sejumlah uang tertentu. Menambah kekayaan disini tidak perlu benar-benar telah terjadi. Kaitannya pada kasus: Pelaku memenuhi semua unsur – unsur di atas.000. tapi karena ia ditakuti oleh masyarakat sekitar. Jadi. apabila orang yang diperas itu telah menyerahkan barang/benda yang dimaksudkan si pemeras sebagai akibat pemerasan terhadap dirinya. meski tidak disebutkan berapa umur pelaku. Memberi hutang di sini mempunyai pengertian. berarti dapat disimpulkan bahwa pelaku telah berumur lebih dari 16 tahun yang artinya KUHP berlaku atas pelaku secara utuh dah sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya. . Artinya. terlihat bahwa pelaku pemerasan pada saat melakukan aksi pemerasannya itu telah mampu bertanggung jawab. Unsur “untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain”. Pelaku memeras korban setiap minggu dengan cara memaksa untuk memberikan uang Rp 150. Barang yang diserahkan adalah uang. 4. baik yang subjektif maupun yang obyektif. Dengan menghapusnya piutang yang dimaksudkan adalah menghapus atau meniadakan perikatan yang sudah ada dari orang yang diperas kepada pemeras atau orang tertentu yang dikehendaki oleh pemeras. 5. Dilihat dari sisi umur. tanpa melihat apakah barang tersebut sudah benar – benar dikuasai oleh orang yang memeras atau belum. tetapi cukup apabila dapat dibuktikan. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku.-. Unsur “untuk menghapus hutang”. tetapi untuk membuat suatu perikatan yang berakibat timbulnya kewajiban bagi orang yang diperas untuk membayar sejumlah uang kepada pemeras atau orang lain yang dikehendaki. persoalan yang muncul adalah.2. Unsur “untuk memberikan atau menyerahkan sesuatu barang”. kapan dikatakan ada penyerahan suatu barang? Penyerahan suau barang dianggap telah ada apabila barang yang diminta oleh pemeras tersebut telah dilepaskan dari kekuasaan orang yang diperas. Berkaitan dengan pengertian ―memberi hutang‖ dalam rumusan pasal ini perlu kiranya mendapatkan pemahaman yanag benar. Unsur “supaya memberi hutang”. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Negeri Solo. Pemerasan dianggap telah terjadi.Berkaitan dengan unsur itu. Penyerahan barang tersebut tidak harus dilakukan sendiri oleh orang yang diperas kepada pemeras. bahwa maksud pelaku adalah untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. pelaku telah memeras korban untuk menguntungkan dirinya sendiri. 3. Penyerahan barang tersebut dapat saja terjadi dan dilakukan oleh orang lain selain dari orang yang diperas.

yang melaporkan adalah kerabat korban yang merasa dirugikan. karena merupakan satu perbuatan tertentu yang selesai dalam waktu yang singkat. 4. delik formal (formeel delict). karena merupakan delik yang hanya satu kali perbuatan sudah cukup untuk dikenakan pidana. sesuai dengan keyakinannya ataupun mengacu kepada jurisprudensi kasus yang sama. 9. 3. Pelaku dapat dipenjara kurang dari Sembilan tahun bila hakim memutuskan begitu. Atas laporan korban. karena termasuk delik yang dapat dilakukan oleh siapa saja. sehingga perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa. delik tunggal (enkelvoudig delict). dan pemerasan dilarang oleh pasal 368 KUHP. karena dilakukan dengan sengaja oleh si pelaku. maka polisi pun menangkap pelaku. . delik umum (gemeen delict). delik rampung (aflopend delict). delik sederhana (eenvoudig delict) karena merupakan delik pokok tanpa pemberatan. delik komisi (commissie delict). keterangan saksi dan alat bukti yang disita polisi sebesar uang dua puluh ribu dan kartu tanda penduduk. Dalam kasus ini. pelaku telah melakukan pemerasan terhadap korban. karena merupakan delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan di dalam undang – undang. perbuatannya adalah pemerasan. dan merupakan delik aduan absolut (absolute klacht delict) karena menurut sifat kejahatannya delik pemerasan hanya dapat dituntut apabila diadukan. Pada kasus ini. karena merupakan delik yang terjadi dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana oleh undang – undang. Dalam hal ini. delik umum (delicta communia). 7. 8. Sesuai dengan fakta diatas maka pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. 5. maka pelaku dapat dihukum penjara maksimal Sembilan tahun. karena tidak ditujukan kepada keamanan negara dan kepala negara.Jarak antara perbuatan pemerasan yang dilakukan dengan pelaku tertangkan di sumber belum mencapai 30 tahun. Karena ia menyesali perbuatannya setelah tertangkap dan dimintai keterangan oleh polisi. pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang Ia lakukan telah melanggar hukum. 2. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. delik aduan (klacht delict). Bila tidak ada aduan dari keluarga korban maka pelaku pun tidak akan bisa ditangkap. 6. kecuali bila ada hal – hal yang dapat meringankan hukuman. delik kesengajaan (doleus delict). Delik pemerasan tergolong kepada: [2] 1.

4 Desember 2010 | 13:44 WIB GRESIK.00 beraksi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik.7 juta. maka yang berlaku adalah hukum pidana Indonesia. yang berarti KUHPidana (asas teritorialitas). delik dasar adalah pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Sugeng Widodo. KOMPAS. pelaku berjumlah empat orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil uang tunai Rp 6. Dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas diplakban mata dan mulutnya serta diikat tali rafia. dengan maksud .Kasus 2 : PENCURIAN Perampok Jarah Kantor Dinkes Gresik Laporan wartawan Kompas Adi Sucipto Sabtu. Dari tempat kejadian perkara. tetapi tidak bisa berkutik. maka pelaku akan diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). Keduanya diringkus pelaku. Dalam kasus ini. serta tangan dan kaki diikat tali rafia. petugas jaga Sunaryoto dan Rahmat didatangi empat orang yang membawa celurit dan parang. polisi masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan. Petugas jaga lainnya.com — Kawanan perampok pada Sabtu (4/12/2010) pukul 04. polisi mendapatkan plakban dan tali rafia. lalu peristiwa itu dilaporkan ke polisi.7 juta di laci. Karena yang melakukan tindak pidana adalah orang Indonesia dan terjadi di wilayah Indonesia. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada penjaga malam. Awalnya.00 saat sebagian pegawai akan beraktivitas di kantor. terhadap orang. (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. keduanya juga khawatir karena pelaku juga mengancam dengan senjata tajam. pencurian yang didahului. Keduanya sempat melawan. Perbuatan pelaku tergolong kepada delik berkualifikasi. Nawawi. Kasus itu terungkap sekitar pukul 08. memilih sembunyi saat perampok beraksi membuka laci dan mengubrak-abrik isinya. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.7 juta di dalam Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. karena perbuatan tersebut memiliki unsur – unsur yang sama dengan delik dasar atau delik pokok. pelaku hanya berhasil menemukan uang tunai Rp 6. Pelaku berhasil membawa kabur uang tunai Rp 6. Selain kalah banyak. disertai. tetapi ditambah dengan unsur – unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat daripada delik dasar. mulut dan mata diplakban. Kepala Kepolisian Resor Gresik Ajun Komisaris Besar Jakub Prajogo menyatakan. Analisis Kasus 2 Pada kasus di atas.

Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. cukup sebagian saja. > Unsur – Unsur Objektif berupa : 1. jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu. Sebagai ternyata dari Arrest Hoge Raad (HR) tanggal 12 Nopember 1894 yang menyatakan bahwa ―perbuatan mengambil telah selesai. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). atau pakaian jabatan palsu. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif. Unsur benda. Benda yang kekuasaannya dapat dipindahkan secara mutlak dan nyata adalah terhadap benda yang bergerak dan berwujud saja. jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. 2. atau dalam hal tertangkap tangan. yang seluruh atau sebagiannya kepunyaan orang lain. 2. Berikut unsur – unsur pencurian. jika perbuatan mengakibatkan luka – luka berat. sekalipun ia kemudian melepaskannya karena diketahui‖. Dalam Pasal 362 KUHP dikatakan ―pengambilan suatu barang. 3. Pada mulanya benda – benda yang menjadi objek pencurian ini sesuai dengan keterangan dalam Memorie van Toelichting (MvT) mengenai pembentukan pasal 362 KUHP adalah terbatas pada benda – benda bergerak (roerend goed).untuk mempersiap atau mempermudah pencurian. Benda bergerak adalah setiap benda yang menurut sifatnya dapat berpindah sendiri atau dapat dipindahkan (pasal 509 KUHPerdata). yang artinya juga merupakan syarat untuk menjadi selesainya suatu pencurian secara sempurna. sedangkan yang sebagian milik petindak itu sendiri. 3. 1:52 atau Lamintang. 4. jika masuknya ke tempat melakukan kejahatan. Unsur berpindahnya kekuasaan benda secara mutlak dan nyata adalah merupakan syarat untuk selesainya perbuatan mengambil. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum diancam karena pencurian‖. ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Berdasarkan hal tersebut. perintah palsu. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. 1979:79-80). Benda bergerak adalah setiap benda yang berwujud dan bergerak ini sesuai dengan unsur perbuatan mengambil. dan atau untuk tetap menguasai barang yang dicurinya. di jalan umum. (2) Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1. . jika benda berada pada pelaku. atau memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya.

Atas kasus diatas pengadilan yang berwenang mengadili adalah Pengadilan Negeri Gresik karena kasus perampokan tersebut dilakukan di Gresik. para pelaku disimpulkan telah berumur lebih dari 16 tahun. Unsur maksud adalah merupakan bagian dari kesengajaan. yaitu pencurian yang disertai dengan ancaman kekerasan. Dilihat dari sisi umur. berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak (sikap batin) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. . berupa unsur kesalahan dalam pencurian. yaitu pertama melawan hukum formil. karena para pelaku telah dewasa dan cakap hukum. yakni pertama unsur maksud (kesengajaan sebagai maksud atau opzet als oogmerk). Melawan hukum. Kaitan dengan kasus: Sesuai dengan asas legalitas kasus ini jelas melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP. artinya sifat tercelanya atau terlarangnya suatu perbuatan itu terletak atau oleh sebab dari hukum tertulis. ialah bertentangan dengan azas-azas hukum masyarakat. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. 2. karena dengan sadar mengancam penjaga kantor menggunakan senjata tajam lalu mengikat mereka. Dua unsur itu dapat dibedakan dan tidak terpisahkan. dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum. Ini memenuhi unsur pada pasal 365 ayat 1. Pada dasarnya melawan hukum adalah sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan tertentu. sudah sadar memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum. diancam karena pencurian. tepatnya tentang pencurian pasal 362: ―Barangsiapa mengambil sesuatu. yang seluruh atau sebagian kepunyaan orang lain. dan kedua unsur memiliki. dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah‖ Dari sisi sifat melawan hukumnya tercantum secara eksplisit dalam bunyi pasal yang bersangkutan. Maksud untuk memiliki. dalam doktrin dikenal ada dua macam melawan hukum. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. Apabila dihubung kan dengan unsur maksud. Maksud dari perbuatan mengambil barang milik orang lain itu harus ditujukan untuk memilikinya. yang artinya KUHP berlaku atas para pelaku secara utuh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku didalamnya.> Unsur – Unsur Subjektif berupa : 1. Sedangkan apa yang dimaksud dengan melawan hukum (wederrechtelijk) undang-undang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. terlihat bahwa para pelaku perampokan pada saat melakukan aksinya telah mampu bertanggung jawab. Dari sifat melawan hukumnya perbuatan yang dilakukan pelaku. kemudian mengambil uang yang ada di dalam kantor. Sedangkan melawan hukum materiil. karena telah memiliki kematangan dalam tindakan mereka. ia sudah mengetahui. Melawan hukum formil adalah bertentangan dengan hukum tertulis. Maksud untuk memiliki terdiri dari dua unsur. dan kedua melawan hukum materiil.

seperti orang gila atau epilepsy. sehingga akalnya kurang berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukan pelaku dilihat dari kemampuannya terlebih dahulu. dalam keadaan sadar. yaitu apabila : 1) Jiwa pelaku mengalami cacat mental sejak pertumbuhannya. yaitu pertanggungjawaban. sehingga masih bisa diadili. Kesalahan yang diperbuat merupakan kesalahan yang disengaja. Perbuatan ini jelas melanggar ketentuan yang terdapat dalam KUHP. setiap pelaku perbuatan pidana pada dasarnya selalu dianggap sebagai orang yang mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. mengingat aksi yang dilakukan diketahui oleh kedua petugas jaga yang merupakan anggota Satuan Polisi Pamong Praja. Perbuatan yang dilakukan telah dianggap merugikan orang lain. Dalam keadaan seperti itu mereka masih saja mengambil dan membawa uang Rp 6. artinya menurut hukum Indonesia. diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang hukum. Sesuai dengan fakta diatas maka kedua pelaku dianggap sudah mampu bertanggungjawab atas perbuatannya. Salah satu teori pemidanaan yang dikenal adalah teori pembalasan yaitu kejahatan itu menimbulkan ketidakadilan. Selain itu mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka telah melanggar nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Para pelaku jelas mengetahui dan menyadari bahwa perbuatan yang mereka lakukan telah melanggar hukum. epilepsy dan lain sebagainya. Hukum pidana Indonesia dalam hal pertanggungan jawab menganut sistem fiktif. Hal ini terlihat setelah mereka berhasil mengambil uang dari kantor. sehingga patut untuk dipidana karena perbuatan merugikan orang lain tersebut. mereka lalu melarikan diri. Para pelaku dengan sadar mencuri disertai ancaman kekerasan pada kedua petugas jaga. adanya hubungan batin perbuatan dengan pelaku perbuatan dan tidak adanya alasan penghapusan pidana. dengan kata lain dianggap tidak mampu bertanggung jawab.Jarak antara perbuatan yang dilakukan dengan para pelaku tertangkap bila seandainya belum mencapai 30 tahun maka perbuatan yang dilakukan belum dianggap sebagai perbuatan yang daluarsa.7 juta yang ada di kantor dengan maksud untuk dimiliki. Hal ini mereka lakukan karena mereka takut dan sadar jika tertangkap akan diadili massa atau oleh pihak yang berwajib (polisi). Artinya perbuatan tersebut jelas diketahui oleh orang lain. tidak mengalami cacat mental sejak pertubuhannya dan juga tidak mengalami gangguan jiwa seperti gila. Pengecualian dari system fiktif tersebut terdapat pada pasal 44 KUHP. Perbuatan yang dilakukan para pelaku dari kasus diatas terbukti bahwa perbuatan tersebut tertangkap tangan. yaitu kesalahan yang dengan sengaja (doleus delicti). para pelaku tidak termasuk dalam pengecualian yang dimaksud dalam pasal 44 KUHP diatas. 2) Jiwa pelaku mengalami gangguan kenormalan yang disebabkan oleh penyakit. Para pelaku tidak mengalami gangguan psikis. maka harus dibalas dengan ketidakadilan pula (Immanuel Kant). Jika melihat kasus diatas lagi. . Unsur kesalahan yang ada dalam perbuatan pelaku dalam kasus diatas jelas mencakup tiga unsur yang ada dalam landasan teori.

blogspot. 1995. 135-142 . Bandung : Armico. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. Dalam kasus ini ketika terjadi perampokan memang diperlukan adanya laporan dari masyarakat. Kesimpulan Kesimpulannya..com [1] Sofjan Sastrawidjaja. sehingga tidak ada alasan penghapusan pidana. S. melainkan merupakan golongan delik biasa (gewone delict). maka ancaman pidana yang dapat dikenakan kepada mereka adalah dipenjara paling lama dua belas tahun. akan disesuaikan juga dengan keyakinan hakim dan jurisprudensi pada kasus – kasus yang sama. baik kasus pemerasan maupun kasus pencurian sama – sama tergolong delik formil. dilakukan di malam hari ke pekarangan tertutup yang ada rumahnya. Pencurian tergolong kepada delik – delik yang sama seperti pemerasan. yaitu delik yang tidak membutuhkan adanya pengaduan untuk menuntutnya. 117-121 · [2] ibid.Seperti yang telah disebutkan di atas. DAFTAR PUSTAKA       Kitab Undang – Undang Hukum Pidana Sofjan Sastrawidjaja. Pada kasus pemerasan.com excellentlawyer. jumlah pelaku lebih dari seorang. ancaman kekerasan. 1995.H.blogspot. keempat pelaku dapat dijerat dengan pasal 365 KUHP. Hukuman yang tepat diberikan pada mereka. selain merujuk kepada pasal – pasal dalam KUHP. memasukinya menggunakan kejahatan dengan merusak. Situs Resmi Liputan 6 SCTV Situs Resmi Kompas hukumislam-uii. S. maka tetap bisa dilakukan penuntutan.H. sementara pada kasus pencurian dengan ancaman kekerasan. keempat pelaku dapat dijerat pasal 368 KUHP dengan hukuman penjara maksimal dua belas tahun. tapi bukan pengaduan. pelaku dapat dituntut maksimal hukuman penjara sembilan tahun. Hal. Hal. yang membedakan hanyalah pencurian bukan termasuk golongan delik aduan. Para pelaku di kedua kasus di atas dianggap cakap hukum. sadar akan perbuatannya yang melawan hukum dan bertanggungjawab penuh terhadap perbuatannya. Hukum Pidana : Asas Hukum Pidana Sampai Dengan Alasan Peniadaan Pidana. karena kedua delik ini terjadi karena adanya pelanggaran pada larangan yang dimuat dalam undang – undang (KUHP pasal 368 dan 365). Bandung : Armico.. Semua unsur. mulai dari pencurian. Seandainya tanpa ada laporan tapi polisi mengetahui ada pencurian.

Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang.Fahmi.‖ Sehari kemudian. AKP Suka Irawanto. Setelah cuci muka. Terus saya pergi cuci muka dulu‖.Liputan6. Saat itu. Dari hasil pemeriksaan. Dengan posisi itu. darahnya kena muka saya. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil. Selain itu. Kota Batam. ungkap Harun.5 meter dibuka. ujar Harun. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi.‖ kata Novita. Saat itu dia cuma pake celana pendek. Kelurahan Baloi Permai. lalu saya sembunyi di sumur. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. terus saya belah perutnya. nggak pake baju‖. Tegal. ―Saya pukul pakai martil sekali. ―Dia bangun dan ikut saya. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Saat kotak yang panjangnya 1. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Jawa Tengah. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Setelah membunuh. 10 Maret lalu. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Kepulauan Riau. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. ―Di betis juga terdapat irisan. Atas perbuatannya itu. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Pada awalnya. leluasa memukuli kepala Fahmi. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. pelaku menyimpan mayat korban. ―Dia langsung jatuh. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). polisi meragukan kejiwaan tersangka.com. Oktober 2009 silam. sempat teriak sekali. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. kawasan Legenda Malaka. Harun pura-pura mundur. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. 3 Maret silam. Batam Kota.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. kepala Polsekta Batam Kota.

karena pembunuhan dengan rencana (moord).(BOG) Sumber : Liputan6. yaitu manusia.com Analisis Kasus I. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP). alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP). yaitu : a. diancam. Menurut doktrin. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP).sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. Sengaja. Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. Barangsiapa. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.com dan klip21.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III. dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person.

Berdasarkan tempus dan locus delicti . Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. yaitu : 1. karena pembunuhan dengan rencana (moord). Dalam kasus. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. 1. paling lama dua puluh tahun ― I. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain.1. diancam. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Dengan rencana lebih dahulu. sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.

Dalam kasus. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu Oktober 2009 1. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Berdasarkan kasus.a. 1. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. yaitu Oktober 2009 a. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1. yaitu alat yang tidak bekerja. Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan.

Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Dalam kasus. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat. 1. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. yaitu di Kota Batam I. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Cara menentukan locus adalah : 1. Berdasarkan kasus. yaitu alat yang tidak bekerja. Berdasarkan prinsip KUHP 1.

Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. 1. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Dalam prinsip ini. Prinsip Universalitas . 1. makasa prinsip ini tidak digunakan. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.

Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang. 1. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. 1. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Dalam kasus pembunuhan tersebut. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu. sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif).Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. Jenis-jenis delik 1.

bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai. 1. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof. WNA. dan lainnya) atau bukan 1.Dr. Pegawai Negeri. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. 1. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. Ajaran Kausalitas . 1. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. tidak berlangsung terus menerus 1.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut.

sehingga dapat dirumuskan kausanya. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). harus diberi nilai sama. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. Delik Omisi tidak murni 3. a. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. b. diambil satu yang menurut pengalaman. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. Berdasarkan teori Birkmeyer. 1. kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa. Berdasarkan kasus. Dari semua faktor yang bernilai sama. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. Berdasarkan teori tersebut. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Delik Materil 2. Teori yang menganut golongan ini adalah : a.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. yaitu : 1. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) .

paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). Berdasarkan kasus. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Menurut KUHP. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. secara bertentangan dengan kewajibannya. yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. setelah terselesainya delik. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). karena pembunuhan dengan rencana (moord). dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. tidak sesuai dengan hukum. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. diancam. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut. Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. I.

atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. I. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. Dolus Indeterminatus. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu .Dalam kasus. sasaran jamak e. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. Kesengajaan dengan maksud. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Dolus Inderectus. termasuk delik formil b. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Gradasi kesengajaan yaitu : a. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. kehendak berupa pilihan d. Dolus Premiditatus. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. Untuk mewujudkan tindakannya. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. Kesengajaan dengan dasar mengetahui. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. Dolus Alternativus. dan adanya tindakan. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Dolus Deneralus. Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). yaitu matinya korban. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. Kesengajaan terbagi atas : a. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Dolus Determinatus. yaitu : a. adanya kehendak.

Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. 1. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. . Niat 2. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. Berdasarkan kasus. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. 1. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada. bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang.

nggak pake baju‖. Setelah membunuh. AKP Suka Irawanto. Harun melakukan uji coba dengan memukul kepala Fahmi dengan martil. Harun yang sebelumnya sudah mempersiapkan martil.di dada juga terdapat irisan yang bentuknya persegi. Kepolisian Daerah Kepulauan Riau kemudian menghadirkan tenaga psikiater untuk memeriksa kejiwaan Harun. ―Di betis juga terdapat irisan. kawasan perumahan liar depan SLTP 12. Setelah cuci muka. jasad laki-laki itu berada dalam posisi telungkup dan tak bisa dikenali. Oktober 2009 silam. Saat itu dia cuma pake celana pendek.‖ Sehari kemudian. Pada awalnya. Fahmi beberapa kali bertanya tentang posisi orang yang sedang pacaran. ―Di dalamnya kita tak temukan sisa jaringan organ dalam. Harun mengajak Fahmi ke semak-semak.‖ kata Novita.com. kepala Polsekta Batam Kota. Pembunuhan dilakukan jam dua belas malam. pelaku menyimpan mayat korban. Setelah ditangkap Harun mengakui telah membunuh teman sejak kecilnya. Menurut Kepala Forensik Poltabes dokter Novita. Dengan posisi itu. identitas jenazah itu dikenali bernama Fahmi Iswandi (30). Harun kembali dan memukuli kepala Fahmi sebanyak tiga kali Harun mengaku menghabisi nyawa korban. mencurigai seseorang yang berada di antara kerumunan warga yaitu Harun. Jawa Tengah. di bagian kepala korban ada beberapa bagian tulang hilang. Harun dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman di atas lima tahun. Penemuan ini dilaporkan warga ke kantor kepolisian terdekat. Terus saya pergi cuci muka dulu‖. Kota Batam. Kasus ini terungkap setelah aparat Polsekta Batam Kota melakukan evakuasi. karena Fahmi mengaku punya ilmu kebal. Waktu itu Harun membangunkan Fahmi yang sedang tidur dan mengajak Fahmi katanya untuk mengintip orang yang sedang pacaran di semak-semak belakang tempat tinggal mereka. saya tunggu setengah jam dia diam saja. Sementara jenazah Fahmi dimakamkan di kampung halamannya di Desa Pagerbarang. Selain itu. ungkap Harun. Batam: Sebuah kotak kayu berisi jasad manusia ditemukan di kawasan Batam Center. darahnya kena muka saya. polisi meragukan kejiwaan tersangka. Nah untuk membuktikan kekebalan Fahmi. ―Dia bangun dan ikut saya. kawasan Legenda Malaka.Liputan6. lalu saya sembunyi di sumur. ―Dia langsung jatuh. Selama beberapa bulan hingga ditemukan 3 Maret 2010. 10 Maret lalu. Harun pura-pura mundur. Kelurahan Baloi Permai. Atas perbuatannya itu. ujar Harun. tersangka kemudian mengambil organ tubuh bagian dalam Fahmi untuk dimakan.Fahmi.5 meter dibuka. terus saya belah perutnya. sempat teriak sekali. Kepulauan Riau. Tim forensik Kepolsian Kota Besar Barelang dan aparat Kepolisian Sektor Batam Kota menduga korban tewas akibat tindak kekerasan. Korban yang menyandang gelar sarjana muda kesehatan ini dikenal . Dari hasil pemeriksaan. Harun memakan organ tubuh Fahmi dalam kondisi sehat alias normal. leluasa memukuli kepala Fahmi. Saat itu. Batam Kota. Tegal. Organ tubuh tersebut dimakannya setiap malam Jumat yang menurut Harun berguna untuk meningkatkan ilmu kebal serta kesaktian. dan saya ambil hati dan jantung untuk saya makan‖ kata Harun. Saat kotak yang panjangnya 1. 3 Maret silam. ―Saya pukul pakai martil sekali.

Adalah pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat tertentu yang telah diatur dalam perundang-undangan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif) Dalam kasus. sebab dia merupakan pelaku tunggal dimana dia mengakui dirinya telah membunuh Fahmi. bela paksa (pasal 49 ayat (1) KUHP). Menurut doktrin. Keluarga mengaku ikhlas dan berharap tersangka mendapat hukuman yang setimpal. yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah Harun. Bela paksa lampau batas (pasal 49 ayat (2) KUHP). paling lama dua puluh tahun ― Unsur-unsur yang terdapat dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tersebut adalah : 1. Unsur – unsur Berdasarkan kasus. melaksanakan ketentuan UU (pasal 50 KUHP). dan Harun tidak memenuhi pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III KUHP tersebut 1. Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. yaitu manusia. alasan pembenar : daya paksa (pasal 48 KUHP). Pelaku memiliki kehendak dan keinsyafan untuk memukulkan martil ke kepala Harun agar Harun mati sebab didorong oleh motif ingin mengetahui kebenaran pengakuan Harun yang menyatakan dirinya memiliki ilmu kebal dimana tindak pidana tersebut telah diatur dalam pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana . adalah subyek hukum dimana subyek hukum yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum pidana adalah Naturlijk person. karena pembunuhan dengan rencana (moord). pelaku dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu.(BOG) Sumber : Liputan6. dan perintah jabatan sah (pasal 51 ayat (2) KUHP) b. Barangsiapa. yaitu : a. alasan pemaaf : ketidakmampuan bertanggungjawab (pasal 44 KUHP).sebagai pribadi yang baik serta supel kepada tetangga. dan perintah jabatan tidak sah (Pasal 51 ayat (2) KUHP) Dalam kasus. Sengaja.com Analisis Kasus I. diancam.com dengan penambahan dari indonesiaheadline. tindak pidana melekat pada pelakunya Manusia yang dapat dimintai pertanggung jawaban adalah siapa saja oleh orang dengan pengecualian yang diatur oleh beberapa pasal pada buku I aturan umum bab III.com dan klip21. Daya paksa dalam arti sempit (Pasal 48 KUHP).

karena pembunuhan dengan rencana (moord). sebelum perbuatan dilakukan‖ Berdasarkan pasal tersebut. maka tersangka dapat dikenakan hukuman sebab telah ada peraturan tertulis yang mengatur larangan pembunuhan sebelum tindak pidana dilakukan. yaitu pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. yaitu : 1. Berdasarkan tempus dan locus delicti . namun dijelaskan bahwa sebelumnya pelaku mempersiapkan alat yaitu martil terlebih dahulu yang menunjukkan adanya niat pelaku untuk merampas nyawa korban. Selain itu berdasarkan kronologis kejadian sejak korban dibangunkan dari tidur hingga korban dikelabui untuk mengikuti pelaku ke semak-semak untuk kemudian dibunuh. Dalam pasal 1 ayat (1) tersebut mengandung asas-asas hukum pidana. Asas larangan analogi Bahwa dilarang dalam menyelesaikan suatu perkara yang sebenarnya tidak terdapat perumusannya dalam ketentuan tertulis dengan menggunakan pasal yang mirip dengan kejahatan itu Berdasarkan kasus pembunuhan diatas. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Tidak ada suatu tindak pidana yang dapat dipidana tanpa ada peraturan tertulis yang mengaturnya terlebih dahulu. artinya terdapat waktu jeda antara perencanaan dengan tindakan yang memungkinkan adanya perencanaan secara sistematis terlebih dahulu lalu baru diikuti dengan tindakannya.1. merupakan kronologis yang terjadi akibat sebelumnya telah dipikirkan terlebih dahulu I. tidak dijelaskan mengenai waktu perencanaan dengan waktu tindakan. Dengan rencana lebih dahulu. 1. Dalam kasus. Asas legalitas Bahwa harus ada peraturan tertulis yang mengatur tindakan tersebut 1. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) KUHP ― Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundangundangan yang telah ada. diancam. paling lama dua puluh tahun ― I. Asas larangan berlaku surut maka seseorang dalam melakukan suatu tindakan tidak perlu merasa terikat pada undang-undang yang tidak diancam pidana walaupun kelak ditentukan sebagai tindak pidana sebab tidak ada undang undang yang berlaku surut atau mundur waktunya.

Teori bekerjanya alat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. Locus adalah lokasi tindak pidana terjadi. Tujuan ditentukannya tempus adalah agar pada saat terjadinya tindak pidana dapat ditentukan:        Sudah ada atau belum peraturan yang mengaturnya (Pasal. Penentuan locus bertujuan untuk menentukan :   Apakah hukum pidana Indonesia berlaku dalam tindak pidana tersebut (Pasal 2-8 KUHP) Kompetensi relatif pengadilan yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu alat yang tidak bekerja. Dalam kasus. Tempus adalah waktu terjadinya tindak pidana. terbagi atas : ~ Kompetensi absolut Untuk menentukan pengadilan apa yang berhak mengadili perkara tersebut. yaitu Oktober 2009 1. 1. Dalam kasus adalah pengadilan Umum ~ Kompetensi relatif . Teori perbuatan materiil Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. 1 ayat (1) KUHP) Apabila ada perubahan peraturan. maka yang ditentukan adalah waktu tindakan pembunuhan dilakukan. Berdasarkan kasus. yaitu Oktober 2009 a. sehingga tidak ditemukan waktu berdasarkan bekerjanya alat. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu pada tanggal Oktober 2009 1.a. Teori munculnya akibat Menentukan kapan tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. UU mana yang berlaku (Pasal 1 ayat (2) KUHP) Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan atau tidak (Pasal 44 KUHP) Sudah berumur 16 tahun atau belum (Pasal 45 KUHP) Batas waktu pengajuan delik aduan (Pasal 74 KUHP) Batas waktu menarik kembali aduan (Pasal 75 KUHP) Daluarsa (Pasal 79 KUHP) Cara menentukan tempus adalah : 1. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Teori gabungan Merupakan gabungan tanggal dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada waktu yang sama.

yaitu di Kota Batam I. yaitu alat yang tidak bekerja. Teori munculnya akibat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan munculnya akibat. Prinsip Teritorialitas berdasarkan Pasal 2 KUHP dan diperluas dengan Pasal 3 KUHP Pasal 2 KUHP : ―Aturan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia‖ Menentukan wilayah dengan hubungannya dengan berlakunya aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia terkait dengan batas-batas atau yuridiksi wilayah tindak pidana terjadi Yang termasuk didalamnya adalah :    Wilayah Indonesia sebagai wilayah berlakunya hukum pidana Indonesia Wilayah Indonesia sebagai pelaku tindak pidana terjadi Wilayah Indonesia sebagai tempat tindak pidana terjadi Kemudian mengenai perluasannya yaitu Pasal 3 KUHP Pasal 3 KUHP: ―Aturan pidana perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang diluar Indonesia melakukan perbuatan pidana di dalam Indonesia . Berdasarkan prinsip KUHP 1. Teori perbuatan materiil Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu perbuatan fisik (materiil) dilakukan. Cara menentukan locus adalah : 1. Berdasarkan kasus. pembunuhan dilakukan dengan menggunakan martil. Dalam kasus. maka yang lokasi terjadinya pembunuhan adalah di Kota Batam 1. Teori gabungan Merupakan gabungan lokasi dari kesemua teori yang berdasarkan kasus terjadi pada tempat yang sama.Untuk menentukan pengadilan mana yang berhak mengadili perkara tersebut. Dalam kasus akibat yang muncul adalah matinya korban yaitu di Kota Batam 1. Untuk lebih lengkapnya penentuan pengadilan ini ditentukan dengan menggunakan teori locus. Teori bekerjanya alat Menentukan lokasi tindak pidana terjadi berdasarkan waktu saat alat bekerja. 1. sehingga tidak ditemukan lokasi berdasarkan bekerjanya alat.

karena pelaku berada dalam wilayah Indonesia sehingga prinsip nasionalitas pasif tidak digunakan. Ciri utamanya adalah setiap orang di luar Indonesia melakukan tindak pidana yang diatur dalam pasal 4 KUHP tersebut Berdasarkan kasus. Prinsip Nasionalitas Pasif berdasarkan Pasal 4 KUHP Berdasarkan asas setiap negara berdaulat wajib menjaga kepentingan hukum negaranya atau kepentingan nasionalnya. Prinsip Nasionalitas Aktif berdasarkan Pasal 5-7 KUHP Berdasarkan asas bahwa setiap negara yang berdaulat wajib sejauh mungkin mengatur sendiri warga negaranya.Dalam pasal ini yang dimaksud dengan wilayah Indonesia adalah :      Daratan (dari Sabang sampai Merauke) Perairan Indonesia yaitu laut wilayah Indonesia dan perairan pedalaman Indonesia Udara Kapal laut berbendera Indonesia (Tidak harus milik Indonesia) yang termasuk didalamnya adalah kapal dagang di laut bebas dan kapal perang Indonesia dimanapun Pesawat Indonesia berdasarkan Pasal 95 KUHP Berdasarkan Kasus. tindak pidana yang terjadi adalah di Kota Batam yang merupakan daratan Indonesia sehingga memiliki syarat untuk disebut wilayah Indonesia. Pasal 5 ayat (1) Mengatur kejahatan terhadap keamanan negara dan martabat presiden dan wakil presiden dan tidak dipersoalkan apakah di negara berrsangkutan (luar negri itu) termasuk tindak pidana atau tidak Pasal 5 ayat (2) mengharuskan bahwa di negara tersebut (luar negri) harus merupakan tindak pidana Pasal 6 mengatur bahwa tindak pidana mati tidak dapat dijatuhkan bila di Negara dimana tindakan tersebut dilakukan tidak dipidana mati Pasal 7 mengenai perluasan asas personalitas Berdasarkan kasus. makasa prinsip ini tidak digunakan. Dalam prinsip ini. Ciri utamanya adalah Warga Negara Indonesia (WNI) tanpa mempersoalkan dimana orang tersebut berada baik di dalam maupun diluar wilayah Indonesia. 1. 1. sehingga hukum pidana Indonesia dapat diberlakukan 1. Prinsip Universalitas . karena kasus yang terjadi adalah pembunuhan dan bukan termasuk dalam kejahatan yang disebutkan dalam pasal 5-7. yang diatur adalah kepentingan hukum suatu negara dilanggar oleh seseorang yang berada di luar negaranya.

Delik dolus (sengaja) Adalah suatu kehendak atau keinginan untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). sehingga kasus tersebut digolongkan dalam delik kejahatan 1. Delik Komisionis Adalah tindakan aktif (active handeling) yang dilarang untuk pelanggarannya diancam pidana Kasus tersebut merupakan delik yang dilarang dilakukan. pelaku sudah menyiapkan martil dan memukulkannya dengan sengaja untuk mengetahui apakah korban kebal atau tidak dan menyebabkan korban tewas. seperti UU antiterorisme Berdasarkan kasus. Delik Kejahatan Adalah delik yang tercantum dalam buku II KUHP Kasus pembunuhan berencana tersebut diatur dalam pasal 340 KUHP yang berada dalam buku II KUHP tentang kejahatan. Pembunuhan berencana ini merupakan perbuatan yang dilarang dilakukan 1. 1. Jenis-jenis delik 1. Delik Biasa Adalah suatu tindak pidana yang penuntutannya bisa dilakukan bila dilaporkan atau karena tertangkap tangan . Dalam kasus pembunuhan tersebut. Delik Materil Adalah tindak pidana yang rumusannya melarang suatu perbuatan/tindakan dengan mempersoalkan akibatnya. pembunuhan yang terjadi merupakan pembunuhan biasa yang sudah diatur dalam pasal 340 KUHP sehingga tidak perlu dipergunakan prinsip universalitas I. Kasus tersebut merupakan kasus pembunuhan. 1. dimana selesainya tindak pidana setelah sudah dilakukannya pembunuhan tersebut dengan mempersoalkan akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang.Asas ini dipergunakan untuk melindungi seluruh masyarakat dunia. sebagaimana tertera dalam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dengan dipikirkan lebih dulu.

Pegawai Negeri. 1. Delik tunggal Adalah delik yang tidak dilakukan berulang-ulang sebagai mata pencaharian (lawan dari delik berangkai) Kasus tersebut adalah pembunuhan yang tidak dilakukan berulang-ulang I. Delik dikualivisir Adalah merupakan delik yang dilakukan memiliki unsur memberatkan pidana. Kasus pembunuhan tersebut dilakukan dengan perencanaan sehingga termasuk dalam delik yang memberatkan. sebab gejala pembunuhan kejam seperti itu terjadi juga di Indonesia (menurut pendapat Prof.Dr. 1. Delik Selesai Adalah delik tersebut sudah selesai ketika delik itu terjadi Kasus pembunuhan tersebut. Ajaran Kausalitas . termasuk kedalam pemberatan pidana delik pembunuhan. dilaksanakan seketika yaitu memukul dengan martil dan langsung selesai.Andi Hamzah dalam buku delik-delik tertentu (special delicten) di dalam KUHP). tidak berlangsung terus menerus 1. dapat dilakukan oleh siapapun (WNI.Kasus pembunuhan tersebut bisa dilaporkan siapa saja dan laporan tersebut tidak dapat dicabut kembali dimana bahkan tidak perlu adanya laporan sebab polisi dapat menyelesaikan delik tersebut. Selain itu tindakan yang dilakukan tersangka setelah membunuh adalah memakan organ dalam tubuh korban. dan lainnya) atau bukan 1. WNA. Delik Communa Adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa terbatas oleh kualifikasi/golongan Kasus penganiayaan tersebut. serta delik laporan pembunuhan ini tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan / berdamai. 1. dapat dinyatakan berlaku di Indonesia. sebagaimana yang tertera pada Pasal 340 KUHP. bahwa pembunuhan dengan tujuan memperoleh organ atau jaringan tubuh. dimana menurut KUHP Federasi Rusia. atau tidak memiliki kewarganegaraan) tanpa tersbatas seseorang tersebut berasal dari golongan tertentu (Militer. Delik Mandiri Adalah delik yang dilakukan hanya satu kali saja Kasus tersebut adalah pembunuhan yang hanya dilakukan satu kali selesai tanpa berlanjut.

diambil satu yang menurut pengalaman. Delik yang diperberat/dikualivisir Kasus pembunuhan ini merupakan delik dikualivisir. Teori yang bermaksud menghapuskan kekurangan Von Buri dapat dibagi dalam dua golongan : 1. Korban mengikuti pelaku ke semak-semak belakang rumah c. diambil satu yang dianggap paling bernilai. Faktor paling bernilai itu diterima sebagai kausa. diambil satu yang dianggap paling berpengaruh atas terjadinya akibat atau terjadinya delik. Menurut teori Von Buri (teori sama nilai atau ekuivalensi). kausa yang menimbulkan akibat adalah : a. sehingga dapat dirumuskan kausanya. a. yaitu : 1. seimbang) dengan terjadinya akibat yang bersangkutan dan sebelumnya telah dapat diketahui oleh pembuat delik bahwa akan mengakibatkan delik. Teori Rumelin (objectivenachtraglicher pragnose) . semua faktor yang perlu atau turut serta menyebabkan suatu akibat dan tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-faktor yang menjadi syarat mutlak terjadinya akibat. harus diberi nilai sama.Teori kausalitas hanya dapat diterapkan pada jenis delik tertentu saja. b. maka kausanya adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab pelaku mengetahui bahwa pemukulan dengan martil dapat mengakibatkan matinya korban. Delik Omisi tidak murni 3. boleh dianggap umumnya menjadi kausa. Teori yang terkenal dalam golongan ini adalah teori Birkmeyer. Teori yang mengindividualisasikan Dari semua faktor yang oleh Von Buri diterima sebagai kausa. Dari semua faktor yang bernilai sama. 1. Pengakuan korban bahwa ia memiliki ilmu kebal yang menyebabkan pelaku ingin mengujinya. Dipukul menggunakan martil oleh pelaku Teori Von Buri memerlukan suatu restriksi (pembatasan). kausa dalam kasus adalah dipukul menggunakan martil oleh pelaku sebab faktor inilah yang paling besar pengaruhnya untuk mengakibatkan kematian. Teori Von Kries (subjective pragnose) Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah faktor yang adequate (sesuai. Berdasarkan teori tersebut. Berdasarkan teori Birkmeyer. Berdasarkan kasus. Delik Materil 2. Teori yang menganut golongan ini adalah : a. Teori yang merata-samakan Dari semua faktor yang oleh Von buri diterima sebagai kausa.

dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Jika suatu perbuatan sudah memenuhi unsure-unsur dalam KUHP. perbuatan tersebut pasti melawan hukum Aliran melawan hukum (onrechtmatigheid) adalah : 1. maka dinyatakan sah sebagai tindak pidana. serta bertentangan dengan kewajiban orang lain menurut undang-undang. secara bertentangan dengan kewajibannya. Aliran Materil Melawan hukum sebagai suatu anisir yang tidak hanya melawan hukum tertulis. tidak sesuai dengan hukum. Jadi yang menjadi faktor adalah faktor yang kemudian. diancam. maka kelakuan tersebut sah dikatakan sebagai tindak pidana. Dalam pasal 340 KUHP tidak terdapat unsur melawan hukum sehingga tidak perlu dibuktikan secara terperinci. namun dengan terpenuhinya semua unsur dalam pasal. karena pembunuhan dengan rencana (moord). melawan hukum dikenal dengan istilah secara tanpa hak. paling lama dua puluh tahun ― Dalam kasus. harus ada untuk terjadinya akibat perbuatan tersebut.Faktor yang dianggap menjadi kausa adalah ditinjau dari sudut objektif (yaitu faktor yang setelah terselesainya delik umum diterima). yaitu yang melawan asas-asas hukum umum . tetapi juga sebagai suatu anisir yang melawan hukum yang tidak tertulis. Aliran Formil Melawan hukum itu sebagai konstitutif elemen tiap peristiwa pidana. ternyata memenuhi semua unsur yang terdapat dalam pasal (dibuktikan dalam bagian I). yang dipergunakan adalah Pasal 340 KUHP : ― Barangsiapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain. maka dapat perbuatan tersebut dikatakan ―melawan hukum‖ 1. baik kata melawan hukum ditulis (harus dibuktikan) maupun tidak tertulis (tidak perlu dibuktikan) dalam undang-undang. umum yang diterima sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya delik tersebut. setelah terselesainya delik. yang setelah terjadinya delik (akibat) yang bersangkutan. Berdasarkan kasus. maka kausanya adalah pelaku ingin memiliki kekebalan dengan memakan organ tubuh bagian dalam korban setiap malam jumat. I. Disebut melawan hukum positif tertulis Berdasarkan kasus. Menurut KUHP. secara bertentangan dengan kewajiban umum. Sehingga apabila suatu kelakuan memenuhi unsur dalam ketentuan pidana yang bersangkutan (secara formil). Melawan hukum Bersifat melawan hukum (wederechtelijk) berarti bertentangan dengan hukum. dimana yang dimaksud hukum adalah hukum positif.

Kesengajaan dengan dasar mengetahui. Dolus Indeterminatus. Kesengajaan dengan menyadari kemungkinan (kesengajaan bersyarat) Kasus pembunuhan tersebut termasuk dalam kesengajaan dengan maksud. yaitu matinya korban. Pembagian dolus dihubungkan dengan sasaran. Kesengajaan/Dolus Adalah kehendak untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu (motif). Dolus Premiditatus. Dolus Inderectus. kesengajaan yang direncanakan terlebih dahulu . atau akibat tertentu yaitu kematian yang direncanakan oleh pelaku guna dimakan organ tubuh bagian dalamnya untuk kekebalan. Gradasi kesengajaan yaitu : a. akibat timbul sebenarnya bukan kehendak dan tujuan pelaku f. ada tiga tahapan yaitu adanya motif. kehendak berupa pilihan d. termasuk delik materil Kasus pembunuhan tersebut masuk kedalam kesengajaan dengan dasar menghendaki. Kesengajaan dengan maksud. dan adanya tindakan. adalah kehendak dan keinsyafan untuk melakukan suatu tindakan yang menimbulkan suatu akibat b.Dalam kasus. karena terjadinya tindakan yaitu pemukulan dengan martil. sasaran jamak e. Dolus Alternativus. adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku. termasuk delik formil b. sehingga terpenuhilah unsur melawan hukum. adanya kehendak. pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku juga tidak dapat diterima oleh umum (hukum tidak tertulis). Kesalahan dan pertanggungjawaban pidana Terdapat adagium yang terkenal mengenai kesalahan yaitu ―Geen straf zonder schuld‖ (tiada suatu hukuman tanpa kesalahan atau tiada pemidanaan tanpa adanya kesalahan). Kesengajaan dengan kesadaran tujuan yang pasti mengenai tujuan/keharusan/akibat perbuatan c. Dolus Determinatus. I. yaitu : a. adalah kehendak dan keinsyafan untuk menimbulkan akibat pada sembarang sasaran (tidak ditentukan) c. Kesengajaan terbagi atas : a. Kesalahan dalam arti luas adalah dolus/kesengajaan dan culpa/kelalaian 1. sebab menghendaki akibat yang terjadi dari tindakan membunuh tersebut. Untuk mewujudkan tindakannya. adalah terjadinya suatu tindakan atau akibat tertentu adalah perwujudan dari maksud atau tujuan dan pengetahuan pelaku b. Kesengajaan dengan dasar menghendaki. Dolus Deneralus.

Niat 2. Ancaman hukumannya-pun dikurangi sepertiganya sesuai dengan pasal 53 KUHP. Permulaan pelaksanaan tindakan 3. Dalam kasus pembunuhan tersebut telah dibuktikan bahwa kesalahan timbul akibat kesengajaan atau dolus. terdapat dua teori mengenai niat yaitu : 1. maka terjadilah poging (tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku). 1. Pogging Adalah perluasan tindak pidana karena membahayakan suatu kepentingan meskipun tindakan tersebut tidak memenuhi seluruh unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan atau dirumuskan Dasar pogging dapat dipidana adalah Pasal 53 KUHP. dan tidak selesainya pelaksanaan itu. Teori Percobaan Objektif Bertolak pangkal kepada tindakan dari petindak yang telah membahayakan suatu kepentingan hukum yang dilindungi oleh undang-undang. Maka dapat disimpulkan syarat-syarat poging sesuai pasal 53 ayat 1 KUHP adalah : 1. . bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya sendiri.Kasus pembunuhan tersebut masuk pada Dolus determinatus sebab pelaku dengan kehendaknya dan keinsyafannya melakukan pemukulan martil agar korban tewas. Tidak selesainya delik bukan karena kehendak pelaku Untuk niat. dimana salah satu ayatnya berbunyi Ayat (1) : Mencoba melakukan kejahatan dipidana. jika niat untuk itu telah ternyata dari adanya pemulaan pelaksanaan. ada warga sekitar yang melihatnya dan menggagalkannya. Seandainya pada saat pelaku hendak memukulkan martil ke kepala korban. Kealpaan/Culpa Adalah kesalahan sebagai akibat kurang hati-hati atau tidak sengaja. Beberapa penulis Belanda berpendapat bahwa KUHP menganut teori objektif. sehingga bukan merupakan kealpaan atau culpa I. 1. Teori Percobaan Subjektif Seseorang yang telah memiliki niat untuk melakukan tindak pidana atau menyatakan niatnya dalam tindakan permulaan sudah harus dipidana meskipun belum terjadi suatu kerugian kepentingan hukum sesuai dengan pasal yang dipidana. Berdasarkan kasus. tidak terjadi poging karena tindak pidana telah memenuhi seluruh unsur yang ada.

Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan . (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata.BAB I PENDAHULUAN A.I. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana.

Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. Prof. Simons berpendapat. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP.menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar . hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. Dalam suatu samenloop itu. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri.

masinis kereta api telah . maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. Mendengar teriakan kenek tersebut. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. karena truk sarat muatannya. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. Pada suatu hari. Pengadilan Tinggi.serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop. Dari jarak ± 200 meter. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. Akan tetapi. Dalam perjalanannya. antara lain: 1. penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. B. yang memiliki SIM B1 Umum. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D.

melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka.KBM 1. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. Truk terbelah menjadi 2 (dua). PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. cabin dengan baknya. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya.S/1987/PN. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah. Register Perkara 60/Pid. .‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.

BAB III . 3. II..... 2....... Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.... 2.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I.. Pengadilan Tinggi No.SMG 1... Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a.II. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. II... Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari. .. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak. Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. b. 3.. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. 2. ... 3.. Mahkamah Agung No. Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan... Register Perkara 762/Pid/1987/PN. .

maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan. . Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). A. dan 4. yaitu: 1. 3. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. 2. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1. Sistem Absorpsi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda.

jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. Akan tetapi. akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). maka menurut stelsel ini. 3. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. jumlah pidana itu harus dibatasi. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. B. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. . Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. yaitu: 1.2.Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: (1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga). Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. 4. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya.

Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis.(2) Jika suatu perbuatan. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) . Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Sebelum tahun 1932. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). 2. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat.

pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran.Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat. Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. Hal ini diatur dalam pasal 65. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. 66. Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. 3. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. 70 dan 70 bis KUHP.

tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. . Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Oleh karena itu. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. dan 3. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. 2. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP.

BAB IV ANALISIS KASUS A. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas, kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana, akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut. Akan tetapi, MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Selain itu, MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa. Oleh karena itu, pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis, yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit, yaitu hanya perbuatan fisik semata. Akan tetapi, dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara

perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana, harus berdiri sendiri-sendiri. Jadi, untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. Walaupun demikian, kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana, seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini, Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis, akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis, concursus realis, dan juga perbuatan berlanjut, adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana, dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut, dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging), akibat, unsur-unsur kesalahan yang subjektif, serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. Dengan kata lain, tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis, terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja.[3] Menurut Pompe, pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). Jadi, hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie

delicten) saja. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan, dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu, tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut.[4] R.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM, lalu menabrak orang sehingga luka berat, meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis, karena, peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Maka, perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja, atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. 2. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh, sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda-

beda. Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan, bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan. Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop.”[7] Selain itu, Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang. Ini merupakan dua tindakan, dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja, sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan, sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat, harus dipandang sebagai suatu perbuatan, dan begitu sebaliknya. Mengutip dari pendapat Prof. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya, jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas, memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Akan

Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel. Selain itu. maka akan terjadi suatu tabrakan.” Maksudnya. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Jadi. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. Maka dari itu. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. Walaupun demikian. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. B. akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan.tetapi. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. Memang PA tidak bisa menyadari.

Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. yaitu: a. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. Hal-hal yang meringankan 1. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa masih muda 4. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. 4500. 1500. Hal-hal yang memberatkan 1.- . yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan. Terdakwa bersikap sopan 3.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. Terdakwa belum pernah dihukum b. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. atau Denda Rp. atau Denda Rp.

Selain itu. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. Akan tetapi. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian. BAB IV PENUTUP A. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat.

terjadi beserta akibat-akibatnya. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. A. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah. Dengan demikian. yurisprudensi hakim dan lain-lain. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. akan tetapi meliputi juga doktrin. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis.. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. Dengan demikian. karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. DAFTAR PUSTAKA . Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. terutama Hakim. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. Selain itu. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. B.

A.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia.R.A. E. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika.F. Lamintang. 1985). Wirjono. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. is meerdaadsche samanloop. V. R. 1997).. P..R. S. 1996). wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is.Tindak Pidana Tertentu. 1993). Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. (Jakarta : Bina Aksara. 1967). Prodjodikoro. Putusan . 1937).Y. Citra Aditya Bakti. E.Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Buku Jonkers ―Alles.. 1987). (Jakarta: Rineka Cipta. (Jakarta : Sinar Grafika.. 1958).. (Bandung: PT. (Jakarta: Universitas Tarumanegara.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Utrecht. Penyertaan. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. (Bogor: Politeia. Marpaung. (Jakarta: Eresco. 1967). Wirjono. 2002). Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. (Bandung: PT. Leden . Loebby. Simons. dan Gabungan Tindak Pidana. Moeljatno. Loqman. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II. Noordhoff N. P. Percobaan. Penerbitan Universitas. Sianturi.‖ Kanter. (Jakarta: Eresco. (Groningen: Batavia. Sianturi. Prodjodikoro. 2005). dan S. B. Soesilo.

terjemahan perkataan feit di pasal ini dengan perkataan . W Nr 11673. BAB I PENDAHULUAN A. Kejadian yang sekaligus atau serentak tersebut disebut samenloop yang dalam bahasa Belanda juga disebut samenloop van strafbaar feit atau concursus. dipersyaratkan bahwa salah satu di antaranya belum pernah diadili. Dalam hal dua/lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri. NJ 1932.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. Sedangkan kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja. NJ 1927. NJ 1932. dua/lebih tindakan atau beberapa tindakan secara berlanjut. Tindak pidana-tindak pidana yang telah terjadi itu sesuai dengan yang dirumuskan dalam perundang-undangan. maupun permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam ajaran tersebut. Ada juga yang menerjemahkannya dengan gabungan. Perbarengan merupakan terjemahan dari samenloop atau concursus. Latar Belakang Adakalanya seseorang melakukan beberapa perbuatan sekaligus sehingga menimbulkan masalah tentang penerapannya. Dalam pembahasan kali ini yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan. Perkembangan paham-paham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri. khususnya yang terdapat didalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP. sehingga orang tidak akan dapat memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan samenloop van strafbaar feit itu sendiri. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932. Ajaran mengenai samenloop ini merupakan salah satu ajaran yang tersulit di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. apabila orang itu tidak mengikuti perkembangan pahampaham mengenai perkataan feit yang terdapat di dalam rumusan pasal-pasal yang mengatur masalah samenloop itu sendiri.

Kiranya tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman itu juga tidak akan menerjemahkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu dengan perkataan perbuatan. Van Hamel juga telah disebut sebagai samenloop van strafbepalingen atau gabungan ketentuan-ketentuan pidana. tindakannya itu ternyata telah memenuhi rumusan-rumusan dari beberapa ketentuan pidana. atau dengan perkataan lain apabila dengan melakukan satu tindak pidana itu. oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Bab ke-VI dari Buku ke-1 KUHP atau tegasnya di dalam pasal 63 sampai dengan pasal 71 KUHP. yaitu berkenaan dengan pengaturan mengenai berat ringannya hukuman yang dapat dijatuhkan oleh seorang hakim terhadap seorang tertuduh yang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. seseorang telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana dan di dalam jangka waktu tersebut orang yang bersangkutan belum pernah dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Dalam suatu samenloop itu. (sekarang Departemen Hukum dan HAM) Secara resmi telah menafsirkan perkataan feit di dalam rumusan pasal 63 ayat (1) KUHP itu sebagai suatu perbuatan yang nyata. Prof. yakni suatu penafsiran yang oleh Hoge Raad (HR) sendiri telah ditinggalkan sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Sebelum kita membicarakan apa yang disebut samenloop van strafbare feiten itu sendiri.perbuatan menunjukkan bahwa team penerjemah Departemen Kehakiman R. . Simons berpendapat. karena salah satu dari tindakan-tindakan yang telah ia lakukan.I. tertuduh ternyata telah melakukan beberapa tindak pidana. perlu diketahui bahwa orang hanya dapat berbicara mengenai adanya suatu samenloop van strafbare feiten. seandainya tim tersebut mengetahui bahwa sudah sejak setengah abad yang lalu terdapat keberatan-keberatan terhadap penggunaan perkataan perbuatan itu sendiri. atau ia telah melakukan lebih daripada satu tindak pidana. bahwa apabila tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana dan dengan melakukan tindakan tersebut. hakim harus memperhatikan kenyataan-kenyataan apakah tertuduh itu hanya melakukan satu tindak pidana. yang perkaranya telah diserahkan kepadanya untuk diadili secara bersama-sama. apabila di dalam suatu jangka waktu yang tertentu. maka di situ terdapat apa yang disebut eendaadse samenloop atau concursus idealis ataupun apa yang oleh Prof. Apa yang disebut samenloop van strafbare feiten atau gabungan tindak-tindak pidana itu.

Ukuran Pidana yang dapat dijatuhkan atas diri seseorang dalam tindak pidana Concursus. Apakah dalam kasus benturan truk dan kereta api dapat digolongkan tindakan satu perbuatan (eendaadse samenloop) ataukah beberapa perbuatan (meerdaadse samenloop)? 2. PA baru sadar ketika kereta api akan melintasi rel tersebut. truk yang dikemudikan PA tersebut harus melewati rel kereta api yang tidak ada pintu pengamannya. maka PA bermaksud mengambil lagi genteng di tempat lain untuk diangkutnya. pada April 1988 PA mengemudikan truk dibantu dengan keneknya. ataupun Mahkamah Agung sudah tepat? BAB II KASUS Paulus Arisman Bin Suripto (PA) adalah seorang pengemudi truk AB 2282 D. Beberapa puluh meter sebelum truk melintasi rel kereta api. Pengadilan Tinggi. Pada suatu hari. Apakah Putusan Pengadilan Negeri. PA kurang memperhatikan situasi kanan kiri dari rel tersebut. mengangkut bahan bangunan berupa 4000 genteng. melainkan hanya dipasang beberapa rambu. Perumusan Masalah Dari pembahasan diatas. yang menunjukan adanya Rel Kereta Api tanpa pintu. yang memiliki SIM B1 Umum. antara lain: 1. Dalam perjalanannya. karena bak truk masih ada ruangan yang kosong. . penulis ingin menyampaikan beberapa inti permasalahan. dengan pengalaman kerja selama sepuluh tahun sebagai sopir truk. setelah kenek truk berteriak-teriak ada kereta api akan lewat. B. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa perlunya studi kasus berupa suatu gabungan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang secara sadar maupun tidak sadar serta pembedaan yang sangat mendasar untuk mengetahui sebatas mana gabungan tindak pidana dapat ditafsirkan menjadi sebuah eendaadse samenloop ataukah meerdaadse samenloop.

Truk terbelah menjadi 2 (dua). Demikian pula masinis lokomotif menderita luka-luka terkena genteng yang dimuat truk yang jatuh berterbangan dan berhamburan. Akan tetapi.Mendengar teriakan kenek tersebut.KBM . diancam dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau pidana denda paling banyak seribu lima ratus rupiah.‖ PUTUSAN Pengadilan Negeri No.S/1987/PN. DAKWAAN Dakwaan Pertama: Pasal 360 ayat (2) KUHP. maka PA berusaha mempercepat jalannya truk yang akan melintasi kereta api tersebut. yaitu ―Barangsiapa yang karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan bangunanbangunan tersebut dalam pasal di atas dihancurkan. Dari jarak ± 200 meter. cabin dengan baknya. maka truk tidak bisa lari lebih cepat seperti yang dikehendaki oleh PA. PA dengan keneknya terlempar keluar dari truk dan menderita luka-luka. sedangkan tutup mesin lokomotifnya menjadi rusak berat. masinis kereta api telah melihat ada truk akan melintasi rel kereta api. karena truk sarat muatannya. yaitu ―Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka sedemikian rupa sehingga orang itu menjadi sakit sementara atau tidak dapat menjalankan jabatan atau pekerjaannya sementara. Register Perkara 60/Pid.‖ Dakwaan Kedua: Pasal 409 KUHP. ia telah membunyikan tanda semboyan 35 dan berusaha mengurangi kecepatan lokomotifnya. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. dirusakkan atau dibuat tak dapat dipakai. Tabrakan dan benturan antara kereta api dengan truk yang dikemudikan PA tidak dapat dihindarkan.

Untuk kejahatan ke-1 dengan pidana Penjara selama 3 bulan. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka....... Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. .. Untuk kejahatan ke-2 dengan pidana Kurungan selama 15 hari.. 3. . Register Perkara 1286 K/Pid/1988 1. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.. 2.. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. 2. Karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka. Pengadilan Tinggi No.SMG 1. II. II. II.. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman a. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 2 bulan dan 15 hari. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak... Register Perkara 762/Pid/1987/PN.. Mahkamah Agung No. Karena kealpaannya menyebabkan kereta api rusak.... .. 2. 3. Menyatakan Terdakwa PA terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan kejahatan: I. Menghukum Terdakwa PA dengan hukuman Penjara selama 10 bulan. b.1.

... Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut belum ada yang diadili. Sistem Pemidanaan Pada dasarnya teori gabungan tindak pidana dimaksudkan untuk menentukan pidana apa dan berapa ancaman maksimum pidana yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana. BAB III LANDASAN TEORI Samenloop / concursus dapat diterjemahkan gabungan atau perbarengan. yaitu: 1.. Sistem Absorpsi . Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengenal 4 (empat) sistem atau stelsel pemidanaan. .. dan itu belum dijatuhi putusan hakim atas diri orang tersebut dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu diadili sekaligus. Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut dilakukan oleh satu orang (atau dua orang dalam hal penyertaan). Bahwa dua/ lebih tindak pidana tersebut akan diadili sekaligus. Dalam makalah ini akan digunakan istilah ―gabungan‖. 2.3.. A. Ada dua/ lebih tindak pidana dilakukan.. Gabungan tindak pidana yaitu apabila seseorang atau lebih melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan. Dengan demikian maka syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat menyatakan adanya gabungan adalah: 1.. 3. ia melanggar beberapa peraturan pidana atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan.. dan 4.

akan tetapi dalam hal ini diperberat dengan menambah 1/3 (sepertiga). yaitu jumlahnya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah 1/3 (sepertiga).Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yang bunyinya sebagai berikut: . Sistem Kumulasi Terbatas Apabila seeorang melakukan beberapa jenis perbuatan yang menimbulkan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang masing-masing diancam dengan pidana yang berbeda. Bentuk-Bentuk Gabungan Tindak Pidana Gabungan memiliki beberapa bentuk. jumlah pidana itu harus dibatasi. Akan tetapi. yaitu: 1. tetapi dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana yang berarti ia telah melakukan beberapa tindak pidana. menurut stelsel ini pada hakikatnya hanya dapat dijatuhkan 1 (satu) pidana saja yakni yang terberat. Sistem Kumulasi Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa delik yang diancam dengan pidana sendiri-sendiri. maka menurut sistem ini hanya dijatuhkan satu pidana saja. 2. yaitu pidana yang terberat walaupun orang tersebut melakukan beberapa delik. maka menurut sistem ini tiap-tiap pidana yang diancamkan terhadap delik-delik yang dilakukan oleh orang itu semuanya dijatuhkan. Gabungan dalam satu perbuatan (Eendaadse Samenloop/Concursus Idealis) Eendaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan. Sistem Absorpsi Diperberat Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan beberapa jenis delik yang masing-masing diancam dengan pidana sendiri-sendiri. 4. 3. semua pidana yang diancamkan terhadap masing-masing delik dijatuhkan semuanya. maka menurut stelsel ini. B.

diatur pula dalam aturan pidana yang khusus. Modderman mengatakan bahwa dilihat dari sudut badaniah tindakan itu hanyalah satu saja akan tetapi dari sudut rohani ia merupakan pluralitas (ganda). (2) Jika suatu perbuatan. . Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan satu tindakan. bahwa yang dimaksud dengan satu tindakan dalam pasal 63 ayat (1) KUHP adalah tindakan nyata atau tindakan materiil. yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum. namun harus dipandang merupakan beberapa tindakan apabila tindakan itu mempunyai lebih dari satu tujuan atau cukupan. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam prakterknya Hoge Raad menyelesaikan perkara secara kasuistis. Taverne bertolak pangkal dari pandangan hukum pidana bahwa tindakan itu terdiri dari dua/lebih tindakan yang terdiri sendiri yang mempunyai sifat yang berbeda yang tak ada kaitannya satu sama lain dapat dibayangkan keterpisahan masing-masing. namun belum secara tegas dapat diketahui apa yang dimaksud dengan satu tindakan dan beberapa perbuatan. jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. Akibat dari pendirian Hoge Raad ini. Hoge Raad barpendirian yang ternyata dalam putusannya. Pendirian Hoge Raad bersandar kepada sifat atau ciri yang terdapat pada tindakan tersebut. yang artinya ketentuan khusus mengenyampingkan ketentuan yang umum. maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Hanya dalam hal-hal terbatas masih apat dibayangkan kemanfaatan dari ketentuan pasal tersebut. Ketentuan dalam pasal 63 ayat (2) sesuai dengan asas lex spesialis derogat lex general. Yang dimaksud dengan ketentuan pidana khusus adalah jika pada tindak pidana khusus itu termuat atau tercakup semua unsur-unsur yang ada pada tindak pidana umum. makna dari pasal 63 ayat (1) menjadi sempit. Pemidanaan dalam hal concursus idealis menggunakan stelsel absorpsi murni yaitu dengan salah satu pidana yang terberat. Sebelum tahun 1932. Sedangkan Pompe mengutarakan bahwa apabila seseorang melakukan satu tindakan pada suatu tempat dan saat. maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu.(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana. akan tetapi padanya masih ada unsur lainnya atau suatu kekhususan.

Dalam hal ini maka kejahatannya dijatuhkan hukumannya sendiri. Bagi masing-masing kejahatan ringan tersebut harus dijatuhkan hukuman sendiri-sendiri dengan ketentuan bahwa jika dijatuhkan hukuman penjara maka jumlah semua hukuman tidak boleh lebih dari delapan bulan. Perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling) . Pasal 66 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis dan sistem pemidanaanya juga menggunakan absorpsi diperberat. Tindak pidana kejahatan termuat dalam pasal 65 dan 66 KUHP. Pasal 65 KUHP mengatur gabungan dalam beberapa perbuatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis dan sistem pemidanaan menggunakan sistem absorpsi diperberat.2. Sedangkan tindak pidana pelanggaran termuat dalam pasal 70 dan 70 bis. dan tiap-tiap perbuatan tindak pidana sendiri-sendiri dan terhadap perbuatan-perbuatan tadi diadili sekaligus. Gabungan dalam beberapa perbuatan (Meerdaadse Samenloop/concursus realis) Meerdaadse Samenloop terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan. sedangkan bagi masing-masing pelanggarannya pun dikenakan hukuman sendiri-sendiri dengan pengertian bahwa jumlah semuanya dari hukuman kurungan yang dijatuhkan bagi pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan dan mengenai hukuman kurungan pengganti denda tidak lebih dari delapan bulan. 70 dan 70 bis KUHP. Hal ini diatur dalam pasal 65. Perbedaan antara pasal 65 dan 66 KUHP terletak pada pidana pokok yang diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan yang timbul karena perbuatan-perbuatannya itu yaitu apakah pidana pokok yang diancamkannya itu sejenis atau tidak. Jika pasal 65 dan 66 menyebutkan tentang gabungan kejahatan dengan kejahatan. 3. concursus realis dibedakan antara jenis tindak pidana yang dilakukan. 66. Sedangkan pasal 70 KUHP mengatur apabila seseorang melakukan beberapa pelanggaran atau apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan dan pelanggaran. pasal 70 memberi ketentuan tentang gabungan kejahatan dengan pelanggaran atau pelanggaran dengan pelanggaran. Menurut ketentuan yang termuat dalam KUHP. Pasal 70 bis menentukan kejahatan-kajahatan ringan dianggap sebagai pelanggaran.

Menurut pasal 65 KUHP dan 66 KUHP yang dijatuhkan adalah satu pidana yang terberat ditambah dengan sepetiganya. Tenggang waktu antara terjdinya tindakan-tindakan tersebut tidak terlampau lama. Adapun ciri-ciri dari perbuatan berlanjut adalah: 1. 2. Sedangkan Simons mengatakan bahwa KUHP yang berlaku sekarang tidak mengenal vorgezette handeling sebagaimana diatur dalam pasal 64 KUHP yang merupakan bentuk gabungan dalam concursus realis. Persoalan mengenai sejauh mana cakupan dari satu kehendak jahat tersebut erat hubungannya dengan delik dolus/ culpa dan delik materil/ formil. Tindakan-tindakan yang terjadi adalah sebagai perwujudan dari satu kehendak jahat. tetapi beberapa perbuatan yang masing-masing delik itu seolah-olah digabungkan menjadi satu delik. Hal ini diatur dalam pasal 64 KUHP dan pemidanaannya menggunakan sistem absorpsi. Sedangkan menurut pasal 64 KUHP yang dijatuhkan hanya satu pidana yang diperberat. Apa yang dimaksud dengan perbuatan berlanjut? Terdapat beberapa pendapat mengenai perbuatan berlanjut tersebut. Untuk delik dolus dalam hubungannya dengan delik materiil/ formal tidak ada persoalan mengenai cakupan dari sau kehendak jahat tersebut. Simons menganggap pasal 64 KUHP sebagai pengecualian terhadap concursus realis/ meerdaadse samenloop. Oleh karena itu. Delik-delik yang terjadi itu sejenis. Ada sarjana yang memberikan pengertian bahwa perbuatan berlanjut adalah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan delik. Tetapi di antara perbuatan itu ada yang hubungan sedemikian eratnya satu sama lain sehingga beberapa perbuatan itu harus dianggap sebagai satu peruatan lanjutan. Hanya tentang pemidanaan pasal 64 KUHP menyimpang dari ketentuan pasal 65 KUHP dan 66 KUHP.Apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan dan beberapa perbuatan itu merupakan tindak pidana sendriri. dan 3. .

Oleh karena itu. pasal yang tepat dalam menjelaskan dan menggali pertimbangan tersebut kami menjelaskan Pasal 66 ayat (1) KUHP yang menjadi landasan kami untuk menganalisis. MA tidak menerangkan dasar hukum dari Concursus Realis secara tepat karena mencantumkan baik pasal 65 dan 66 KUHP secara bersamaan padahal kedua pasal tersebut mengatur dua hal yang berbeda. kelompok kami mengambil kesimpulan bahwa kasus tersebut merupakan kasus yang termasuk ke dalam penggabungan. sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis.‖ Rumusan ini menjelaskan bahwa diantara . Bentuk penggabungan yang terjadi dalam kasus tersebut adalah Concursus Realis Heterogenius. Akan tetapi. yaitu hanya perbuatan fisik semata. Hal ini membuktikan bahwa MA tidak tahu secara pasti bentuk dari Concursus Realis yang terjadi. Akan tetapi. MA juga tidak mencantumkan dasar-dasar hukum lainnya yang menguatkan posisi dari Concursus Realis dalam kasus tersebut dan hanya mencermati dari pemidanaan yang seharusnya diberikan kepada terdakwa.BAB IV ANALISIS KASUS A. akan tetapi penulis menggunakan istilah ini untuk memudahkan dengan landasan teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Walaupun istilah concursus realis dan idealis masih diperdebatkan oleh para sarjana. maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. Perbuatan Terdakwa merupakan Concurus Realis Setelah menganalisa kasus tersebut berdasarkan teori-teori penggabungan seperti yang sudah diterangkan diatas.‖ Dalam rumusan pasal tersebut terdapat kata ‖beberapa perbuatan‖ yang membuat perbuatan pidana yang mendasari Concursus Realis terlihat menjadi sempit. Selain itu. yang menyebutkan: ―Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri. dalam rumusan pasal 66 ayat (1) KUHP pun disebutkan bahwa ‖masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan. Putusan Mahkamah Agung (MA) pada kasus tersebut memang sudah tepat bahwa memang terdapat penggabungan yaitu Concursus Realis dalam kasus tersebut.

terhadap penafsiran tentang perbuatan (feit) sebagai satu perbuatan yang dilihat sebagai perbuatan fisik (materiil) saja. Jadi.[2] VOS berpendapat bahwa yang harus dimaksud dengan ‖perbuatan‖ dalam pasal 65-66 KUHP adalah seluruh kompleks (gedraging). harus berdiri sendiri-sendiri. dan juga perbuatan berlanjut. seperti Jonkers secara negatif mengatakan bahwa segala yang tidak termasuk concursus idealis atau perbuatan terus-menerus merupakan concursus realis. untuk menentukan apakah suatu penggabungan tindak pidana merupakan Concursus Realis atau Concursus Idealis maka hubungan dari perbuatan-perbuatan tersebut adalah sangat penting. dan juga tidak tidak perlu ada hubungan antara fakta-fakta itu. pendapat klasisk tersebut sebenarnya hanya tepat untuk delik-delik yang terjadi karena dilakukan perbuatan-perbuatan materiil (fisik). dilakukan oleh satu orang dan diantara waktu terjadinya masing-masing fakta itu tidak diputuskan hukuman terhadao salah satu fakta-fakta tersebut. Walaupun demikian. tiap-tiap kompleks kejadian yang tercangkup dalam satu ketentuan pidana. kami juga berusaha mencari dari sumber hukum lainnya yaitu berupa doktrin dari beberapa sarjana. akibat.[1] Dengan membuat definisi yang negatif ini.perbuatan-perbuatan yang terjadi yang merupakan kejahatan dan dapat dihukum pidana. concursus realis. unsur-unsur kesalahan yang subjektif. Jadi. Dengan kata lain. hanya tepat untuk delik-delik komisi (commisie . serta fakta-fakta lain yang menyertai terjadinya delik. akan tetapi telah memberikan sedikit pemahaman bahwa concursus idealis. Definisi Jonkers tentang concursus realis tersebut memang tidak memberikan penjelasan yang tepat dan pasti dari concursus realis apalagi membahas tentang ‖beberapa perbuatan‖ yang merupakan unsur dari concursus realis. VOS membuat definisi bahwa concursus realis terjadi dalam hal beberapa fakta yang harus dipandang sebagai perbuatan yang tersendiri-sendiri dan yang masing-masing merupakan peristiwa pidana.[3] Menurut Pompe. Pompe juga mengemukakan keberatan-keberatan baik yang ditinjau dari sudut teoritis mapun yang ditinjau dari sudut praktis. adalah tiga jenis bentuk perbuatan yang berbeda. Jonkers merasa bahwa dirinya telah terbebas dari kewajiban membuat satu uraian tersendiri tentang apa itu concursus realis.

peristiwa pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa. Dalam hal dilakukannya delik-delik lain maka ajaran klasik ini tidak dapat digunakan. A mengendarai sebuah mobil tanpa memasang lampu dan pada saat itu juga berada dibawah pengaruh minuman keras. Masing-masing merupakan pelanggaran yang berdiri sendiri-sendiri dengan sifat yang berbeda- . Kasus yang dapat menjelaskan suatu perbuatan tidak hanya dilihat dari perbuatan fisik saja. meskipun ia hanya melakukan satu perbuatan fisik yaitu mengedarai sepeda motor tetapi tidak bisa dianggap sebagai concursus idealis. A dengan mobilnya menabrak sekaligus tiga orang yang naik sepeda. dan harus dicari ukuran lain yang tidak begitu materiil dan tidak begitu fisik. Dalam pada itu mobilnya tersebut tidak dilengkapi dengan dua buah lampu.[6] Pertimbangan Hoge Raad menyatakan bahwa “Tertuduh telah mengendarai mobilnya pada waktu ia sedang dalam keadaan mabuk. perbuatan tersebut termasuk concursus realis dan hukuman yang dipakai adalah ketentuan dalam pasal 70 KUHP. Ukuran yang dimaksud oleh Pompe juga lebih sesuai dengan sifat dari hukum karena dalam hukum tidak dipermasalahkan tentang gerak badan tertentu. Biarpun satu tabrakan tetapi HR beranggapan bahwa perbuatan tersebut adalah concursus realis. Maka. Dapat pula dicatat bahwa peristiwa yang satu dapat dilihat terlepas dari peristiwa yang lain. lalu menabrak orang sehingga luka berat. tetapi yang dipersoalkan adalah apakah sikap tertentu seseorang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai orang tersebut. karena. Kenyataankenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataan-kenyataan yang berdiri sendiri-sendiri.[5] Hoge Raad melihat apa yang dilakukan oleh A sebagai concursus realis karena tidak mungkin ada concursus apabila yang bersangkutan tidak melakukan suatu perbuatan yang berjiwa satu. sedang id dalam kenyataan yang kedua adalah keadaan mobilnya.delicten) saja. Yang penting di dalam kenyataan yang pertama itu adalah keadaan tertuduh. Satu diantara tiga orang tersebut mati dan dua diantaranya luka berat. 2.Soesilo dalam penjelasan pasal 63 KUHP mengatakan bahwa seseorang yang mengendarai kendaraan bermotor di malam hari tanpa memakai penerangan dengan tidak membawa SIM.[4] R. atau dengan kata lain tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata antara lain: 1.

Kenyataan yang satu itu tidak ada kaitannya dengan kenyataan yang lain dan kenyataan yang satu itu bukan merupakan syarat bagi tumbulnya kenyataan yang lain. Pasal 65 KUHP telah menyebut tindakan-tindakan tersebut kejahatan-kejahatan yang berbeda-beda. sedangkan Hoge Raad sudah menafsirkan sebagai kenyataan. dan begitu sebaliknya.beda. Akan . Bahwa dua kenyataan itu telah timbul pada waktu yang bersamaan. memang apabila dilihat dari sudut perbuatan materiil (fisik) semata maka unsur ‖beberapa perbuatan‖ tidak terpenuhi. Simons yang mengatakan didalam suatu samenloop itu orang harus membedakan apakah si pelaku hanya melakukan satu tindakan – diartikan menurut arti sebenarnya. Dalam hal ini yang harus diberlakukan itu bukanlah Pasal 63 ayat (1) KUHP melainkan Pasal 65 KUHP.”[7] Selain itu. Disini terdapat suatu meerdaadse samenloop. harus dipandang sebagai suatu perbuatan. bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat menentukan.[10] Dari kasus tabrakan truk dengan kereta diatas. Kenyataan-kenyataan tersebut dapat dipandang sebagai kenyataankenyataan yang berdiri sendiri-sendiri. Mengutip dari pendapat Prof. Ini merupakan dua tindakan. sebagai tindakan dan sebagai segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila pelaku melakukan suatu perbuatan yang mau tidak mau akan mengakibatkan beberapa akibat.‖[8] Artinya dalam suatu perbuatan yang terlihat dengan kasat mata hanya terlihat satu tindak pidana saja. dimana undang-undang sendiri telah menggunakan perkataan tersebut untuk menunjukan segala sesuatu yang dapat termasuk ke dalam suatu ketentuan pidana. Hoge Raad pada kasus poin 2 diatas menjelaskan pertimbangannya yaitu “Di dalam suatu kecelakaan itu seorang pengemudi mobil telah menyebabkan matinya seorang pengendara sepeda dan telah menyebabkan seorang lainnya mendapat luka-luka berat pada tubuhnya. jadi sebagai pelaksanaan secara material – ataupun ia telah melakukan beberapa tindakan[9] sehingga dapat ditarik benang merah yaitu perkataan feit itu menurut paham yang baru harus diartikan lebih sempit dari pada tindakan dalam arti material dan pada saat yang sama ia juga harus diartikan lebih luas dari pada tindak pidana. Apa yang sesungguhnya telah terjadi itu bukanlah pelanggaran-pelanggaran ataupun suatu pelanggaran – oleh karena hal tersebut dengan sendirinya tidaklah relevan – melainkan perbuatan menimbulkan dua akibat yang terlarang oleh undang-undang.

dan karena diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka dasar pemidanaannya cukup dengan pasal 66 ayat (1) KUHP. tidak perlu ada keterkaitan antara akibat-akibat yang terjadi. untuk dengan sengaja merusakan fasilitas umum. PA tidak harus dengan lalainya menyebabkan orang lain terluka. Dua akibat tersebut merupakan hal-hal yang tidak bisa diprediksikan sebelumnya dan dapat dipisah-pisahkan. Selain itu. karena sudah terbuktinya suatu tindak pidana yang dilakukan oleh PA. apabila menggunakan ukuran lain dalam menentukan perbuatan dalam pasal tersebut seperti yang sudah diuraikan dalam doktrin-doktrin para sarjana hukum dan yurisprudensi diatas. untuk menentukan concursus realis dalam kasus diatas adalah dengan melihat pasal yang didakwakan pada terdakwa (P. Jadi. Walaupun demikian. khususnya menjadi 2 perbuatan akibat lalainya PA. akan tetapi PA mengetahui apabila truk di gas dan ada kemungkinan untuk tidak bisa mengejar target untuk sampai melawati rel.Aris) yaitu pasal 360 ayat (2) KUHP tentang karena kealpaan menyebabkan orang lain luka-luka dan pasal 409 KUHP tentang kesengajaan merusakkan fasilitas umum. selain itu ada perbuatan lain yaitu PA juga mengetahui seandainya terjadi tabrakan akan menyebabkan rusaknya lokomotif atau rel kereta api. dapat terlihat dengan jelas bahwa ”perbuatan yang menimbulkan akibat-akibat pidana tersebut dapat dipisah-pisah satu sama lain tanpa melenyapkan salah satu peristiwa.tetapi. bentuk yang terjadi dalam kasus diatas adalah concursus realis heterogenius. perbuatan yang dilakukan seharusnya bukan mau tidak mau akan terjadi. Pertimbangan Majelis Hakim pada Pengadilan Negeri (PN) tidak bisa menjadi patokan karena . akan tetapi dapat memperkirakan bahwa apa yang terjadi yaitu tabrakan dan rusaknya fasilitas umum dapat diperhitungkan. Maka dari itu. Apabila melihat akibat-akibat dari perbuatan-perbuatan yang muncul dari kasus diatas. B.” Maksudnya. maka dapat terlihat bahwa sebenarnya telah terjadi beberapa perbuatan yang merupakan kejahatan yang dapat dipidana. Memang PA tidak bisa menyadari. Penjatuhan Pidana Dalam kasus diatas dapat dilihat yaitu penerapan pasal 66 ayat (1) KUHP tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. maka akan terjadi suatu tabrakan.

Terdakwa belum pernah dihukum b. yaitu: Pasal Dakwaan Ancaman Pidana Vonis Pasal 360 ayat Penjara 9 bulan. Apabila kita meneliti dari hal-hal yang meringankan dan memberatkan non-yuridis. maka apabila kita melihat ancaman hukuman pasal yang didakwakan. sehingga memperbaiki putusan PN hanya masalah beratnya pidana yang dijatuhkan tanpa melihat ada dasar-dasar yang meringankan pidana nonyuridis yang lebih banyak dibandingkan dasar pemberat pidana non-yuridis. Hal-hal yang memberatkan 1.- . maka kita akan menyimpulkan bahwa hal-hal yang meringankan lebih banyak dari pada hal-hal yang memberatkan.Hakim PN hanya menjatuhkan pidana dengan jenis Penjara saja. 4500. atau Denda Rp. tanpa melihat bahwa ketentuan pasal yang diancamkan pada Pasal 360 ayat (2) KUHP dan Pasal 409 KUHP mempunyai jenis yang berbeda yaitu penjara dan kurungan. Terdakwa masih muda 4. 1500. Terdakwa bersikap sopan 3. yaitu: a.Pasal 409 KUHP Kurungan 1 bulan. Hal-hal yang meringankan 1. artinya penjatuhan pidana yang maksimal akan dikurangi lebih banyak ketimbang ditambahkan pemidanaannya. Terdakwa mengaku terus terang sehingga memperlancar jalannya persidangan 2. Majelis Hakim Pengadilan Tinggi juga tidak mempertimbangkan masalah yang sama. atau Denda Rp. Akibat perbuatan terdakwa menimbulkan keterlambatan perjalanan kereta api sampai 5 jam. atau (2) KUHP Kurungan 6 bulan. Terlepas dari hukuman yang dijatuhkan.

Selain itu. maka kami dapat menarik kesimpulan bahwa: 1. BAB IV PENUTUP A. pertimbangan Mahkamah Agung dari segi penjatuhan pidana sudah tepat. Akan tetapi. karena berdasarkan pasal 66 ayat (1) KUHP. Perbuatan yang dilakukan yang terdapat dalam pasal 65-66 KUHP tidak dapat hanya diartikan sebagai perbuatan materiil atau fisik saja.PENGADILAN NEGERI PENGADILAN TINGGI MAHKAMAH AGUNG Penjara 2 bulan dan 15 hari Penjara 10 bulan Kejahatan I: Penjara 3 Bulan Kejahatan II: Kurungan 15 hari Dalam penentuan pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak menerapkan hukum dalam menjatuhkan sanksi pemidanaan. dan kelompok kami setuju dengan amar putusan tersebut. ukuran dari concursus realis (juga untuk membedakan dengan concursus idealis) yang terbaik adalah melihat keterkaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa pidana yang . maka perbuatan yang diancamkan berbeda jenisnya (vide pasal 10 KUHP). perbuatan-perbuatan yang terjadi harus dilihat dalam suatu kompleks perbuatan dan juga akibat-akibat yang terjadi. Kesimpulan Dari pembahasan yang telah diuraikan dihubungkan dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan. sehingga harus dijatuhkan pidana yang berbeda terhadap kejahatan yang berbeda pula. seharusnya Hakim menjatuhkan maksimum penjara adalah sebagai berikut:  Kejahatan I: Penjara 12 bulan  Kejahatan II: Kurungan 1 bulan 10 hari Dengan demikian.

Pemahaman ataupun konsep yang salah akan menimbulkan permasalahan yang berlarut-larut dan kontroversial. khususnya mengenai pemidanaan yang terkadang tidak adil dirasakan oleh terdakwa. sehingga dalam kasus yang dibahas akan menjadi terang suatu permasalahan yang dihadapi di prakteknya. Saran Kelompok kami memberikan beberapa rekomendasi yang penting bagi para aparatur penegak hukum termasuk calon aparatur penegak hukum kelak di masa datang. sehingga putusan tersebut haruslah diperbaiki. akan tetapi meliputi juga doktrin. sedangkan Putusan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi tidak tepat. perlu suatu pelatihan mengenai teori-teori hukum pidana yang dipelajari bagi para penegak hukum nantinya. teori-teori gabungan tindak pidana hendaknya tidak ditafsirkan secara leterlijk saja yaitu yang berdasar pada undang-undang. Hal tersebut merupakan ukuran yang paling mudah dimengerti dan digunakan untuk menentukan apakah bentuk penggabungan yang terjadi merupakan concursus realis atau bukan. DAFTAR PUSTAKA . karena tidak mempertimbangkan dasar-dasar dikenakannya suatu penjatuhan hukuman berupa vonis maupun masalah gabungan tindak pidana tidak dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana. A. Apakah peristiwa-peristiwa pidana yang terjadi merupakan perbuatan yang tidak dapat dipisah-pisah yang satu dengan lainnya tanpa melenyapkan peristiwa yang lain ataukah dapat dipisah-pisah satu dengan lainnya tanpa melenyapkan salah satu peristiwa? Apabila ternyata dapat dipisah-pisah tanpa melenyapkan peristiwa yang lain maka bentuk penggabungan yang terjadi adalah concursus realis. yurisprudensi hakim dan lain-lain. Selain itu. terutama Hakim. Dengan demikian. B. Dengan demikian. dalam kasus benturan Truk dan Kereta Api terdapat suatu gabungan tindak pidana berupa concursus realis atau perbarengan beberapa perbuatan. Dalam Putusan Mahkamah Agung sudah tepat. agar selalu mempertimbangkan dan menganalisis suatu permasalahan dengan menyeluruh sehingga mendapatkan suatu penafsiran yang tidak salah.. Apakah suatu peristiwa pidana A merupakan syarat dari peristiwa pidana B dan seterusnya. tetapi juga sumber hukum tidak terbatas dari perundang-undangan.terjadi beserta akibat-akibatnya.

Y. 1958). 1996).A. Sianturi. Moeljatno. (Jakarta : Bina Aksara.R.. dan S. (Jakarta: Eresco. 1993). Buku Jonkers ―Alles. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Sianturi. Soesilo. (Jakarta : Sinar Grafika.. is meerdaadsche samanloop. Marpaung. P. Penerbitan Universitas. 1985). Utrecht. 1937). Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia. Noordhoff N.A. P. Leden . (Groningen: Batavia. Wirjono. R. (Bandung: PT.. B. E. Penyertaan. wat niet eendaadsche samanloop of voortgezette handeling is. (Jakarta: Rineka Cipta. Citra Aditya Bakti. Leerboek van het Nederlandsee Straftrecht. E. Wirjono. (Jakarta: Eresco. (Bogor: Politeia. 1987). Lamintang. Percobaan.Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Loqman. dan Gabungan Tindak Pidana. (Bandung: PT. Rangkaian Sari Kuliah: Hukum Pidana II.‖ Kanter. 1967). 2005).Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. S. Prodjodikoro. Simons.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal.Tindak Pidana Tertentu.. (Jakarta: Penerbit Storia Grafika.R. (Jakarta: Universitas Tarumanegara. 1967). Loebby. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Putusan . 1997). V.F. 2002). Prodjodikoro..

NJ 1927.Keputusan HR tertanggal 11 April 1927. NJ 1932. NJ 1932. . W Nr 11673. Keputusan HR tertanggal 24 Oktober 1932. Keputusan HR tertanggal 8 Februari 1932.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful