P. 1
Bagaimana Terjadinya Bintang

Bagaimana Terjadinya Bintang

|Views: 389|Likes:
Published by Marwan CybouOne
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bila kita menengadah ke langit, tampak seolah-olah bumi kita dinaungi atap seten gah bola yang disebut bola langit. Bintang dan bola langit lainnya nampak seola h-olah menempel pada bola langit itu. Tanpa menggunakan teleskop, bintang yang dapatkita lihat berjumlah sekitar 5000. Semua bintang yang dapat kita lihat den gan mata bugil,termasuk matahari hanyalah sebagian kecil bintang dalam galaksi k ita. Jika kitamerenungkan hal ini, akan timbul banyak pertanyaa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bila kita menengadah ke langit, tampak seolah-olah bumi kita dinaungi atap seten gah bola yang disebut bola langit. Bintang dan bola langit lainnya nampak seola h-olah menempel pada bola langit itu. Tanpa menggunakan teleskop, bintang yang dapatkita lihat berjumlah sekitar 5000. Semua bintang yang dapat kita lihat den gan mata bugil,termasuk matahari hanyalah sebagian kecil bintang dalam galaksi k ita. Jika kitamerenungkan hal ini, akan timbul banyak pertanyaa

More info:

Published by: Marwan CybouOne on Dec 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Bila kita menengadah ke langit, tampak seolah-olah bumi kita dinaungi atap seten gah bola yang disebut bola langit. Bintang dan bola langit lainnya nampak seola h-olah menempel pada bola langit itu. Tanpa menggunakan teleskop, bintang yang dapatkita lihat berjumlah sekitar 5000. Semua bintang yang dapat kita lihat den gan mata bugil,termasuk matahari hanyalah sebagian kecil bintang dalam galaksi k ita. Jika kitamerenungkan hal ini, akan timbul banyak pertanyaan dalam benak kit a ³kenapa bintang bersinar, dari mana asal bintang, bagaimana proses terbentuknya b intang dan seperti apaakhir kehidupan bintang itu. Oleh karena itu, dalam makal ah ini akan dibahas gambaran bintang sebenarnya. B. . Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu : a. Bagaimana pembentukan bintang pra deret utama. b. Bagaimana pembentukan bintang deret utama. c. Bagaimana pembentukan bintang pasca deret utama. d. Bagaimana akhir riwayat. C. Tujuan a. b. c. d. Tujuan pembuatan makalah yaitu : Mengetahui pembentukan bintang pra deret utama. Mengetahui pembentukan bintang deret utama. Mengetahui pembentukan bintang pasca deret utama. Mengetahui akhir riwayat

BAB II PEMBENTUKAN BINTANG A. Pengertian Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu d an bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya se ndiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang a dalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata). Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah: Semua benda masif (bermassa ant ara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembang kitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancar kan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan B umi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxi ma Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya. . B. Sejarah Pengamatan Bintang Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang di gunakan dalam praktik-praktik keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kal ender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender ma tahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Mat ahari. Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali â bintang-bintang baruâ langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah matahari -matahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam or bitnya, ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seper ti Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah mata

di

hari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan me ngapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Is aac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di selu ruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley. (Michael Hoskin 1998) Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bi ntang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri d ari sepasang bintang â tetapâ dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sej k pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jara k bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks. William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bint ang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langi t berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel m engulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan h asil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasan gan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu ara h garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sist em bintang ganda. C. Radiasi Tenaga yang dihasilkan bintang, sebagai hasil samping dari reaksi fusinuklear, d ipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagaiangin bintan g (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatanlistrik seper ti proton bebas, partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terlu ar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang. Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Ma tahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya, yangterentang dari panjang gelombang radio hingga sinar gamma. Namun tidak semuarentang panjang g elombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. Hanya gelombang rad io dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan olehatmosfer Bumi dan menciptakan jendela radio dan jendela optik. Teleskop-teleskop luar angkasa telah diluncurk an untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain. Banyaknya radia si elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintangdipengaruhi terutama oleh luas p ermukaan, suhu dan komposisi kimia dari bagianluar (fotosfer) bintang tersebut. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang, karena apa ya ng terjadi di permukaan pastilah sangatdipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam. Dengan menelaah spektrum bintang, astronom dapat menentukantemperatur permukaa n, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi darisebuah bintang. Ji ka jarak bisa ditentukan, misal dengan metode paralaks, makaluminositas bintang dapat diturunkan. Massa, radius, gravitasi permukaan, dan periode rotasi kemudi an dapat diperkirakan dari pemodelan. Massa bintang dapat juga diukur secara la ngsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing. Pada akhirnya astronom dapatmemperkirakan umur sebuah bin tang dari parameter-parameter di atas. D. Fluks Pancaran Kuantitas yang pertama kali langsung dapat ditentukan dari pengamatan sebuah Pat rick Star adalah fluks pancarannya, yaitu jumlah cahaya atau tenaga yang diterim a permukaan kolektor (mata atau teleskop) per satuan luas per satuan waktu. Bia sanya dinyatakan dalam satuan watt per cm2 (satuan internasional) atau erg per d etik per cm2 (satuan cgs). E. Luminositas Di dalam astronomi, luminositas adalah jumlah cahaya atau energi yang dipancarka n oleh sebuah bintang ke segala arah per satuan waktu. Biasanya satuan luminosi tas dinyatakan dalam watt (satuan internasional), erg per detik (satuan cgs) ata u luminositas matahari. Dengan menganggap bahwa bintang adalah sebuah benda hit am sempurna, maka luminositasnya adalah,

dimana L adalah luminositas, Ï adalah tetapan Stefan-Boltzmann, R adalah jari-jari bintang dan Te adalah temperatur efektif bintang. Jika jarak bintang dapat diketahui, misalnya dengan menggunakan metode paralaks, luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan dengan E adalah fluks pancaran, L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat. F. Magnitudo Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo. Kecerahan b intang yang kita amati, baik menggunakan mata bugil maupun teleskop, dinyatakan oleh magnitudo tampak (m) atau magnitudo semu. Secara tradisi magnitudo semu bi ntang yang dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6, di mana satu ia lah bintang paling cerah, dan 6 sebagai bintang paling redup. Terdapat juga kec erahan yang diukur secara mutlak, yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M), dan terentang antara +26.0 sampai -26.5. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks pancaran, ya ng terhubungkan melalui persamaan, dimana m adalah magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran. G. Penampakan dan Distribusi Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Dia meter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop op tik landas Bumi, hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperole h citranya. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adala h R Doradus, dengan 0,057 detik busur. Gambar. 1 Sebuah katai putih yang sedang mengorbit Sirius (konsep artis). citra NASA. Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kel as O dan B, dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang g anda atau pun multi bintang. Semakin redup bintang, semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang b erada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Karena 85% po pulasi bintang di galaksi Bimasakti adalah katai merah, maka tampaknya kebanyaka n bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal. Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. Bintang-bintan g tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta, tetapi terkel ompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dar i 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati.[7] Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7Ã 1022) bintang di seluruh alam seme sta yang teramati[8]. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang, atau 2 30 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar. Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, berjarak 39.9 triliun (1012) kilometer, atau 4.2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan wa ktu 4.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang l ebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola , atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi. Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jar ang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bint ang atau lingkungan sekitar pusat galaksi, tumbukan dapat sering terjadi[9] . Tu

mbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bi ntang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan l uminositas yang sama. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel. H. Evolusi Struktur, evolusi, dan nasib akhir sebuah bintang sangat dipengaruhi oleh massan ya. Selain itu, komposisi kimia juga ikut mengambil peran dalam skala yang lebih kecil. I. Terbentuknya Bintang Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika diband ingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan ini kebanyakan terd iri dari hidrogen dengan sekitar 23â 28% helium dan beberapa persen elemen berat. Ko mposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesi s Big Bang pada saat awal alam semesta. Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pem bentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Se kali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadi nya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya se ndiri. Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan moleku l yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini diduku ng oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang. Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hi ngga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meni ngkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' m enjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti binta ng menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang d eret utama. J. Deret Utama Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fu si yang menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di intinya. Pada fase ini bintang dikatakan berada dalam deret utama dan disebut s ebagai bintang katai. K. Akhir Sebuah Bintang Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis, teras bintang mengecil dan mem bebaskan banyak panas dan memanaskan lapisan luar bintang. Lapisan luar bintang yang masih banyak hidrogen mengembang dan bertukar warna merah dan disebut bint ang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran matahari sebelum membentu k bintang kerdil putih. Sekiranya bintang tersebut berukuran lebih besar dari m atahari, bintang tersebut akan membentuk superraksaksa merah. Superraksaksa mer ah ini kemudiannya membentuk Nova atau Supernova dan kemudiannya membentuk binta ng neutron atau Lubang hitam.

BAB III

KESIMPULAN Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintangsemu da n bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkancahaya send iri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata a dalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang ada lah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata). Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah mediumantarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandi ngkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di Bumi). Awan inikebanyakan terdir i dari hidrogen dengan sekitar 23±28% helium dan beberapa persenelemen berat. Komp osisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwanukleosintesis B ig Bang pada saat awal alam semesta. Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis, teras bintang mengecil danmembebaskan banyak panas dan memanaskan lapisa n luar bintang. Lapisan luar bintang yang masih banyak hidrogen mengembang dan bertukar warna merah dandisebut bintang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran mataharisebelum membentuk bintang kerdil putih. Sekiranya bintang t ersebut berukuran lebih besar dari matahari, bintang tersebut akan membentuk sup erraksaksa merah. Superraksaksa merah ini kemudiannya membentuk Nova atau Super nova dan kemudiannya membentuk bintang neutron atau Lubang hitam.

DAFTAR PUSTAKA Drake, Stephen A. (17 Agustus, 2006). "A Brief History of High-Energy (X-ray & G amma-Ray) Astronomy". NASA HEASARC. Diakses pada 24 Agustus 2006. Hoskin, Michael (1998). "The Value of Archives in Writing the History of Astrono my". Space Telescope Science Institute. Diakses pada 24 Agustus 2006. Proctor, Richard A. (1870). "Are any of the nebulæ star-systems?". Nature: 331-333. Pickover, Cliff (2001). The Stars of Heaven. Oxford University Press. Gribbin, John (2001). Stardust: Supernovae and Life â The Cosmic Connection. Yale Un iversity Press. Hawking, Stephen (1988). A Brief History of Time. Bantam Books.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->