DAFTAR ISI

HAL

BAB I : PENDAHULUAN ……………………………………… 2 1.1 Latar Belakang Masalah .…………………………………….. 2 1.2 Rumusan Masalah …………………………………………… 3 1.3 Tujuan Masalah ……………………………………………… 3 BAB II : PEMBAHASAN ………………………………………. 4 2.1 Pengertian ……………………………………………………. 4 2.2 Latar Belakang Perlunya Bimbingan Konseling Perkawinan… 5 2.3 Perbandingan Konseling Perkawinan dan Keluarga …………. 7 2.4 Permasalahan Perkawinan ……………………………………. 8 2.5 Tujuan Konseling Perkawinan ………………………………... 8 2.6 Asumsi-asumsi Konseling Perkawinan ……………………….. 9 2.7 Tipe-tipe Konseling Perkawinan ……………………………… 10 2.8 Peranan Konselor ……………………………………………... 10 2.9 Langkah-langkah Konseling …………………………………... 11 3.0 Kesulitan dan Keuntungan Konseling Perkawinan …………… 12 BAB III : PENUTUP ……………………………………………. 13 3.1 Kesimpulan ……………………………………………………. 13 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………… 14

1

1 Latar Belakang Masalah Konseling perkawinan pada awalnya dilaksanakan bukan karena inisiatif kalangan professional. yang disekenggarakan di beberapa institusi yang secara khusus menangani persoalan keluarga. diantaranya dokter spesialis kebidanan. Saat ini konseling perkawinan dilakukan di berbagai institusi. Pemberian bantuan untuk mengatasi masalah-masalah perkawinan sebenarnya sudah lama dilakukan di Amerika sekitar 70 tahun yang lalu. Karena itu. 2 . psikiater.BAB I PENDAHULUAN 1. Konseling perkawinan ini di Amerika diawali dengan usaha bantuan oleh agen-agan social yang menangani keluarga dari masyarakat dari kelas-kelas social ekonomi rendah. yang biasanya tidak melibatkan tenaga professional yang membuka praktik pribadi. tenaga agen social itu dilatih dan pada akhirnya dapat bekerja secara lebih professional. diberikan oleh tenaga professional dengan berbagai latar belakang pendidikan. Karena kebutuhan untuk pengembangan aktivitasnya. praktik konseling perkawinan yang diberikan oleh professional satu berbeda penekanannya dibandingkan dengan professional yang lainnya. tenaga-tenanga professional ini memberikan konsultasi sesuai dengan latar belakang profesinya. Dokter kebidanan lebih banyak memberikan konseling tentang persoalan-persoalan reproduksi sehat dan kontrasepsi. Mereka memiliki sejumlah masalah sehubungan dengan perkawinan mereka dan berkeinginan untuk mengkonsultasikan masalahnya ke konselor. psikiater dan psikolog lebih banyak memberikan konseling individual dengan permasalahan perkawinan dan hal-hal yang harus dilakukan dalam kaitannya hubungan perkawinannya. pekerja social. dan beberapa profesi member penekanan tersendiri. tetapi kebutuhan dan permintaan pasangan. dan psikolog. Karena permintaan pasien/kliennya untuk mengetahui lebih banyak mengenai masalah yang dihadapi.

Bagaimana langkah-langkah konseling perkawinan? 1. Untuk mengetahui langkah-langkah konseling perkawinan 3 .1. Untuk mengetahui tipe-tipe dari konseling perkawinan c.3 Tujuan Masalah a.2 Rumusan Masalah a. Apakah tujuan dari konseling perkawinan? b. Untuk mengetahui bagaimana cara mempertahankan suatu keluarga b. Apa saja tipe-tipe dari konseling perkawinan? c.

tidak adanya cinta kasih satu dengan 4 . Dikatakan sebagai metode pendidikan karena konseling perkawinan memberikan pemahaman kepada pasangan yang berkonsultasi tentang diri. Dengan konseling. Istilah-istilah ini dapat digunakan secara bergantian dan memiliki makna yang sama. Ikatan lahir adalah merupakan ikatan yang menampak. marriage counselin. pasangannya. 1 Tahun 1974) yang dimaksud dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan menurut Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. Antara suami dan isteri harus ada ikatan ini. tetapi merupakan ikatan psikologik. pasangan dapat melakukan ventilasi. metode penurunan ketegangan emosional.1 Pengertian Konseling perkawinan memiliki beberapa istilah. maupun bagi orang lain yaitu masyarakat luas. harus saling mencintai satu sama lain. yang berarti bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut pada keduanya. dan masalahmasalah hubungan perkawinan yang dihadapi serta cara-cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi masalah perkawinannya. yaitu couples counseling. dan marital counseling. Penurunan penekanan emosional dimaksudkan bahwa konseling perkawinan dilaksanakan biasanya saat kedua belah pihak berada pada situasi emosional yang sangat berat (akut). Ikatan formal ini adalah nyata. Dalam perkawinan terdapat ikatan lahir batin. metode membantu partner-partner yang menikah untuk memecahkan masalah dan cara menentukan pola pemecahan masalah yang lebih baik. dengan jalan membuka emosionalnya sebagai katarsis terhadap tekanan-tekanan emosional yang dihadapi selama ini. hukum agama atau adat istiadat yang berlaku (Dadang Hawari. Bila perkawinan dengan paksaan. Menurut Kiemer (1965) memaknakan konseling perkawinan sebagai konseling yang diselenggarakan sebagai metode pendidikan.BAB II PEMBAHASAN 2. Perkawinan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita sebagai suami isteri berdasarkan hukum (UU). 2006: 58). baik yang mengikat dirinya yaitu suami dan isteri. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung. tidak adanya paksaan dalam perkawinan. ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada.

Masalah kebutuhan Perkawinan pada dasarnya merupakan manifestasi dari pemenuhan kebutuhan manusia yang beragam. baik kebutuhan biologis. yang selalu ada pada setiap manusia yang normal. 2. Masing –masing individu yang unik tersebut memilki perbedaan yang tidak selamanya bisa disatukan sehingga manakala hal ini terjadi masalah dalm rumah tangga kerap terjadi.yang lain. Manakala poblem intern tidak bisa diselesaikan bersama. dimana secara kodrak dua mahluk ini memanng memiliki perbedaan menetap. Disisi lain sesuai dengan perkambangan budaya masyarakat baik laki-laki dan perempuan memiliki peran yang berbeda yang membutuhkan penyesuaian diri setelah mereka terikat dengan perkawinan. Urgensi Bimbingan Konseling Perkawinan paling tidak dapat dilihat dari beberapa aspek berikut : 1. Namun sayangnya. Masalah perbedaan individu Perkawinan merupakan pentauan dua individu laki-laki dan perempuan. Tidak terpenuhinya sebuah kebutuhan didalamnya dapat menjadi faktor 5 . Seks ialah energi psikis. disinilah mereka pasangan suami isteri membutuhkan sebuah layanan bimbingan Konseling perkawinan sebagai salah satu upaya mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi. sosial bahkan agama. 2. Pengertian perkawinan dapat disejajarkan dengan pengertian pernikahan. Sikun Pribadi (1981:33) mengemukakan bahwa nikah ialah ikatan janji cinta antara dua jenis kelamin. terutama dalam bentuk hubungan antar manusia sebagai pria dan wanita. yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk. sebagai suami-isteri atas dasar cinta dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 1984:10). yang bertemu dalam hatinya. tidak semua keluarga mampu menjalankan peran ideal tersebut. Dalam pengertian cinta.2 Latar Belakang Perlunya Bimbingan Konseling Perkawinan Bimbingan Konseling Perkawinan merupakan salah satu layanan konseling yang semakin memiliki urgensi penting seiring dengan komplesitas masalah manusia. psikologis. ada dua unsur yaitu saling menyayangi dan tarik-menarik karena birahi. Di dalam gejala birahi terdapat unsur seks. Atas dasar pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa perkawinan atau pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita&nbsp. maka berarti bahwa dalam perkawinan tersebut tidak ada ikatan batin (Bimo Walgito. Kebutuhan-kebutuhan tersebut seyogyanya bisa terus dipenuhi dan dilengkapi sebagai bagian dari tugas institusi keluarga. Dalam hal nikah.

Layanan bimbingan konseling perkawinan dapat menjadi jemabatan yang mengantar pasangan suami isteri untuk dapat meingkatkan pemahaman terhadap masing-masing pasangan. Namun. Dalam keluarga teradapat sederetan konsekuensikonsekuensi yang mengakibatkan setiap individu harus terus mengembangkan diri memenuhi tugasnya masing-masing. Pernikahan merupakan proses hidup bersama antara dua individu dengan berbagai latar belakang yang berbeda terutama perbedaan sosio kultural. Tidak semua orang mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik terhadap perbedaan yang terjadi diluar dari budaya yang biasa mereka jalani. Perbedaan ini menuntut masing-masing pihak harus mamapu menyesuaikan diri untuk memahami dan bahkan mengikuti perbedaan tersebut karena mau tidak mau hal ini merupakan konsekuensi dari perkawinan yang dijalani apalagi jika pasangan berasal dari latar belakang sosio kultural yang benar-benar berbeda. dan tak jarang karena ketidakmampuan menjalani kondisi seperti ini mereka memilih bercerai. konselor dapat menjadi 6 . Bimbingan konseling perkawinan menawarkan sebuah layanan bukan hanya konseling pranikah tetapi konseling keluarga yang diupayakan dapat membantu mencari solusi terbaik antara suami isteri atau anggota keluarga yang berselisih. kendati secara umum setiap wanita dan laki-laki dewasa memiliki tugas perkembangan untuk menikah dan membentuk keluarga. terkadang perkembangan individu secara emosional seringkali mengalami hambatan terlebih lagi bila pada awal pernikah telah terjadi kesenjangan umur yang begitu jauh. sehingga otomatis akan menimbulakan masalah-masalah yang serius dan perlu segera diselesaikan agar tidak berkelanjutan dan berujung pada perceraian. 4. Masalah perkembangan individu Perkawinan merupakan sebuah proses hidup yang dijalani mansuia dan menuntut adanya kedewasaan dan kesiapan diri dari pihak suami maupun isteri. 3..pemicu konflik antara suami isteri. orang tua anak dan dengan keluarga besar. salah-salah jika tidak memiliki kemampuan penyesuaian diri yang tepat justru dapat menimbulkan konflik intern seperti stres. tertekan. Perkembangan individu baik laki-laki dan perempuan memiliki irama yang berbeda antar satu dengan lainnya. Akibat lebih lanjut adalah konfliek ekstern dengan pasanagn atau keluaraga pasangan. Masalah latar belakang sosio-kultural Pernikahan merupakan ikatan antara laki-laki dan perempuan yang di syahkan atas nama agama dan hukum negara yang berlaku. tidak bahagia. pasangan suami isteri bisa memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling perkawinan agar penikahan yang dijalani bisa terus awet kendati berbagai masalah muncul dan tak bisa dihindari. Pada situasi ini.

masalah komunikasi. Konseling perkawinan pada dasarnya adalah sebuah prosedur konseling keluarga yang dikembangkan dari adanya konflik hubungan perkawinan dan menekankan pada hubungan perkawinan tanpa mengabaikan nilai konseling individual. 7 . Konseling keluarga dilakukan jika masalah yang dialami oleh anggota keluarga secara jelas tidak dapat dipecahkan tanpa adanya keterlibatan bersama-sama anggota keluarga yang bersangkutan. Usaha perbedaan ini dilakukan untuk memberikan penekanan pada masing-masing jenis berhubungan dengan orang-orang yang terlibat dalam proses konseling. menurut Patterson (1980) kedua macam konseling tersebut memiliki prosedur yang sama.3 Perbandingan Konseling Perkawinan dan Keluarga Para ahli biasanya membedakan konseling keluarga dan konseling perkawinan. istri dan anak. misalnya hubungan peran di keluarga. 2. yang membangun kehidupan bersama secara tidak legal (cohabitating couples). Sekali pun konseling keluarga dan konseling perkawinan memiliki penekanan tersendiri. tetapi segala macam bentuk keluarga termasuk pasangan gay. persaingan sesaudara. dan konflik antar generasi khususnya orangtua-anak. konseling keluarga itu tidak saja diterpkan dalam batas-batas pengertian konvensional yang terdiri dari suami. Secara umum konseling keluarga itu dibatasi sebagai konseling yang berhubungan dengan masalah-masalah keluarga. Sementara konseling perkawinan lebih menekankan pada masalah-masalah pasangan (suami-istri). karena di dalam praktiknya. tekanan dan peraturan keluarga. di Amerika. Termasuk dalam masalah keluarga itu adalah konflik perkawinan. dan ketegangan orangtua-anak.perantara mempertemukan perbedaan yang atau paling tidak membantu membangun paradigama yang lebih positif dari perbedaan yang mereka alami. pria dan wanita. Membedakan secara sangat ketat antara konseling keluarga dan konseling perkawinan akan mengalami kesulitan. Demikian juga dengan konseling perkawinan. tidak saja mencakup konseling untuk pasangan suami-istri sebagaimana pada keluarga konvensional tetapi juga mencakup pasangan gay (gay couples) dan pasangan dua orang.

Harapan yang berlebihan terhadap rencana pernikahan dan tidak dapat diwujudkan secara nyata selama kehidupan keluarga. a) Adanya harapan perkawinan yang tidak realistis. hambatan-hambatannya. Pasangan suami istri seharusnya memahami pasangannya masing-masing. c) Kehilangan ketetapan untuk membangun keluarga secara langgeng. Menurut Klemer (1995) ada 3 masalah yang mungkin dihadapi dalam konseling perkawinan. Jika salah satu atau keduanya tidak saling memahami dapat mengalami kesulitan dalam hubungan perkawinan. Tetapi jika tidak ada motivasi untuk menyelesaikan persoalan hubungan perkawinannya maka tidak mungkin dapat diatasi melalui konseling. dan hal lain yang terkait dengan hal pribadi pasangannya. memiliki hubungan ekstramarital pada salah satu atau kedua belah pihak. Hal-hal lain yang juga sering menjadi problem adalah kurangnya kesetiaan salah satu atau kedua belah pihak. mempertahankan keluarga bagi suatu pasangan adalah sangat sulit. dan tentunya menjadi perhatian konselor. Problem –problem perkawinan ini dapat dipecahkan melalui konseling asalkan kedua belah pihak (pasangan) berkeinginan untuk menyelesaikannya. tetapi juga dapat ditunjukkan dengan afeksi dan tindakan nyata. Mereka ini melihat mempertahankannya tidak membawa kepuasan sebagaimana yang diharapkan (satisfaction) bagi dirinya. Sekalipun sudah cukup waktu membangun keluarga. Sebagian orang memandang bahwa keluarga yang dibangunnya tidak dapat lagi dipertahankan.2. dapat menimbulkan masalah. Menurut Brammer dan Shostrom (1982) bahwa konseling perkawinan dimaksudkan membantu 8 . dan perpisahan di antara pasangan. Pada saat merencanakan pernikahan pasangan tentunya memiliki harapan-harapan tertentu sehingga menetapkan untuk menikah.4 Permasalahan Perkawinan Beberapa masalah pasangan yang seringkali menjadi masalah dalam suatu perkawinan. b) Kurang pengertian antara satu dengan yang lainnya.5 Tujuan Konseling Perkawinan Konseling perkawinan dilaksanakan tidak bermaksud untuk mempertahankan suatu keluarga. Konselor berpandangan bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk memutuskan cerai atau tidak sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi pasangan. yaitu kekecewaan pada salah satu atau keduanya. Pemahaman tidak sekedar dalam aspek pengetahuan. 2. tentang kesulitannya.

dan mencoba menyusun keputusan yang tepat bagi keduanya. Meningkatkan hubungan yang lebih intim. 3. cerai. Meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan potensinya masing-masing. dan menimbulkan rasa aman bagi keduanya. untuk mencari kehidupan yang lebih harmoni. Meningkatkan saling membuka diri. apakah dengan jalan bercerai atau tidak. Dalam konseling perkawinan. 9 . berpisah. Masalah normal adalah masalah kehidupan pasanganyang umum dialami oleh keluarga. Mengembangkan ketrampilan komunikasi. Dia akan menekankan tentang bagaimana hubungan yang terjadi selama ini di antara pasangan tersebut. 4. 1. bukan kasus yang sangat ekstrim yang bersifat patologis. 1982) adalah sebagai berikut. 5. c) Masalah yang dihadapi pasangan adalah masalah-masalah normal. termasuk riwayat-riwayat masa lalunya) dibolehkan. 2. hanya saja keduanya mengalami kesulitan dalam mengatasi konflik-konfliknya.6 Asumsi-asumsi Konseling Perkawinan Beberapa asumsi yang mendasari penyelenggaraan konseling perkawinan. 2. bukan pada kepribadian masing-masing partner. Keputusannya dapat berbentuk menyatu kembali. namun yang ditekankan adalah bagaiman sifat kesulitan yang dihadapi menyangkut hubungan kedua belah pihak. sehingga konseling perkawinan dilaksanakan dengan pendekatan langsung (directive) untuk memecahkan masalah.klien-kliennya untuk mengaktualkan dari yang menjadi perhatian pribadi. Konselor tidak menekankan untuk mengetahui secara mendalam kepribadian setiap klien yang akan dating. konselor membantu klien (pasangan) untuk melihat realitas yang dihadapi. Secara lebih rinci tujuan jangka panjang konseling perkawinan menurut Huff dan Miller (Brammer dan Shostorm. a) Konseling perkawinan lebih menekankan pada hubungan pasangan. b) Masalah yang dihadapi kedua belah pihak adalah mendesak (akut). pemecahan masalah. Meningkatkan kesadaran terhadap dirinya dan dapat saling empati di antara partner. Konselor melihat ke belakang (aspek kepribadian. dan mengelola konfliknya.

1991) 1.7 Tipe-tipe Konseling Perkawinan Untuk memahami lebih lanjut tentang penyelenggaraan konseling perkawinan. conjoint. 2.8 Peranan Konselor Dalam konseling perkawinan. 10 . Metode ini digunakan ketika salah seorang partner memiliki masalah psikis tertentu untuk dipecahkan tersendiri. Conjoint Marital Counseling Suami istri bersama-sama dating ke seorang atau konselor. sementara konselor yang lain menyelesaikan masalah-masalah lain yang juga menjadi perhatian kliennya. 2. collaborative. membandingkan hasil konselingnya dan merencanakan strategi intervensi yang sesuai. para ahli membedakan ada empat tipe konseling perkawinan. Collaborative Marital Counseling Setiap partner secara individual menjumpai konselor yang berbeda. Cara ini dapat mengurangi kedalaman situasi emosional antara pasangan. terdapat beberapa peran yang harus dilakukan konselor agar konseling dapat berlangsung secara efektif. selain juga mengatasi masalah yang berhubungan dengan pasangannya. 3. Pendekatan ini digunakan ketika kedua partner dimotivasi untuk bekerja dalam hubungan. penekanan pada pemahaman dan modifikasi hubungan. selanjutnya mereka belajar dan memelihara perilaku yang lebih rasional dalam kelompok. Pendekatan ini digunakan sebagai pelengkap conjoint counseling.2. Concurrent Marital Counseling Konselor yang sama melakukan konseling secara terpisah pada setiap partner. Dalam pendekatan ini konselor mempelajari kehidupan masing-masing yang dijadikan bahan dalam pemecahan masalah “pribadi” maupun masalah yang berhubungan dengan perkawinannya. Couples Group Counseling Beberapa pasangan secara bersama-sama datang ke seorang atau beberapa konselor. 4. Konselor kemudian bekerjasama satu sama lain. dan couples group counseling (Capuzzi dan Gross. yaitu. Dalam Conjoint Counseling konselor secara simultan melakukan konseling terhadap kedua partner. yaitu concurrent. Konseling ini terjadi ketika seorang partner lebih suka menyelesaikan masalah hubungan perkawinannya.

sederhana. detail dan jelas) dalam kehidupan mereka. a) Persiapan. Oleh karena itu.a) Menciptakan hubungan (rapport) dengan klien. dan e) Membantu klien untuk menguji kekuatan-kekuatannya. apa yang telah terjadi dan sebagainya. siapa yang bermasalah. yaitu menetapkan masalah yang dihadapi oleh pasangan. tahap yang dilakukan klien menghubungi konselor. c) Tahap menyatakan masalah. merupakan kegiatan mengakhiri hubungan konseling setelah tujuannya tercapai. Pada tahap ini konselor mendesain langsung atau member pekerjaan rumah untuk melakukan atau menerapkan pengubahan ketidakberfungsinya perkawinan. d) Tahap interaksi. yaitu konselor menetapkan pola interaksi untuk penyelesaian masalah. dan mencari kemungkinan alternative dalam menentukan tindakannya. f) Tahap penentuan tujuan. 11 . Pada tahap ini konselor mulai menerima klien secara isyarat (nonverbal) maupun secara verbal. telah menaikkan self-esteem dan membuat keluarga lebih kohesif. b) Tahap keterlibatan (the joining). yaitu membuka perasaanperasaannya secara leluasa dihadapan pasangannya. d) Melakukan diagnosis terhadap kesulitan-kesulitan klien. tahap yang dicapai klien telah mencapai perilaku yang normal. yaitu tahap untuk meramalkan keakuratan hipotesis dan memformulasi langkah-langkah pemecahan.9 Langkah-langkah Konseling Langkah konseling yang dapat dilakukan dalam konseling keluarga dan perkawinan menurut Capuzzi dan Gross (1991)adalah sebagai berikut. merefleksi perasaan. 2. harus jelas masalahnya. c) Memberikan dorongan dan menunjukkan penerimaannya kepada kliennya. b) Memberi kesempatan kepada klien untuk melakukan ventilasi. apa indikasinya. Pada tahap ini anggota keluarga mendapatkan informasi yang diperlukan untuk memahami masalahnya dan konselor dapat melatih anggota keluarga itu berinteraksi dengan cara-cara yang dapat diikuti (misalnya pelan. adalah tahap keterlibatan bersama klien. g) Tahap akhir dan penutup. e) Tahap konferensi. melakukan klarifikasi dan sebagainya. telah memperbaiki cara berkomunikasi.

mengatur pembicaraan. khususnya yang menggunakan conjoint counseling. kurang terbuka. Namun demikian. Dalam konseling perkawinan. karena beberapa hal. Jika ternyata hanya mampu atau tidak seimbang dalam memberikan perhatian dapat menimbulkan akibat buruk bagi yang merasa kurang memperoleh perhatian. kemampuan konfrontasi. Hal lain yang sering menjadi kesulitan dalam konseling keluarga adalah konselor membutuhkan kemampuan khusus untuk menangani pasangan. konseling perkawinan (khususnya conjoint) juga terdapat beberapa keunggulannya jika dibandingkan dengan konseling individual.3. 12 . di antara keuntungan itu adalah : a) Konselor dan pasangan klien dapat mengidentifikasi distorsi karena pasangannya mengikuti konseling secara bersama. dapat menimbulkan kesulitan terutama jika kliennya merasa tidak aman. Dibandingkan dengan konseling individual. c) Terfokus pada hubungan pasangan saat ini. orang yang ditangani adalah bermasalah. Dalam hal ini. Konselor harus dapat memberikan perhatian yang sama kepada keduanya. dalam pengertian konseling terfokus pada kehidupan sejak awal pernikahannya sampai kehidupan yang terakhir. dan masalahnya menyangkut hubungan satu dengan yang lainnya. karena keduanya bersama-sama hadir dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh partnernya. Pertama. konselor tidak dibenarkan membela atau mengesampingkan salah satu di antara pasangan yang berkonsultasi. dan ketrampilan konseling lain. konseling perkawinan membutuhkan kemampuan dalam member perhatian. b) Dapat dengan mudah untuk mengetahui konflik-konflik di antara pasangan dan transferensi yang terjadi pada pasangan.0 Kesulitan dan Keuntungan Konseling Perkawinan Konseling perkawinan dalam pelaksanaannya tidaklah mudah.

1 Kesimpulan Bimbingan Konseling Perkawinan merupakan salah satu layanan konseling yang semakin memiliki urgensi penting seiring dengan komplesitas masalah manusia. Dalam konseling perkawinan. berpisah. untuk mencari kehidupan yang lebih harmoni. 13 . dan menimbulkan rasa aman bagi keduanya. Sementara konseling perkawinan lebih menekankan pada masalah-masalah pasangan (suami-istri). dan mencoba menyusun keputusan yang tepat bagi keduanya. dan ketegangan orangtua-anak. masalah komunikasi. misalnya hubungan peran di keluarga. konselor membantu klien (pasangan) untuk melihat realitas yang dihadapi. tekanan dan peraturan keluarga. cerai.BAB III PENUTUP 3. Urgensi Bimbingan Konseling Perkawinan paling tidak dapat dilihat dari beberapa aspek berikut : a) b) c) d) Masalah perbedaan individu Masalah kebutuhan Masalah perkembangan individu Masalah latar belakang sosio-kultural Secara umum konseling keluarga itu dibatasi sebagai konseling yang berhubungan dengan masalah-masalah keluarga. Keputusannya dapat berbentuk menyatu kembali.

Corey. Soeharto. Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Yogyakarta: Yabit Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Psikologi konseling. Bimbingan dan konseling perkawinan. Latipun. (2010). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. dan kesehatan seksual serta implikasinya. (2009).DAFTAR PUSTAKA Bimo Walgito. Bandung: Refika. hubungan suami-istri. G. (2005). Surakarta: Universitas Negeri Surakarta 14 .(1984). Konseling perkawinan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful