HAMA DAN PENYAKIT

Kenali Musuh-musuh Utama pada Tanaman Cabe
Hambatan paling besar bertanam cabe biasanya datang dari keberadaan hama dan penyakit seringkali yang membuat tanaman rusak pada bagian tertentu yang bisa menyebabkan puso. Cukup banyak jenis-jenis hama maupun penyakit yang menyerang tanaman cabe ini dari fase benih sampai panen. Namun hanya beberapa yang utama dan paling merusak. Berikut adalah pembahasan mengenai hama dan penyakit utama pada tanaman cabe.

Sebagai tanaman budidaya, tentu saja pengembangan tanaman cabe tidak bisa terlepas dari pengendalian hama dan penyakit. Meskipun komoditas ini sangat menjanjikan, namun tidak sedikit dari para petani kita yang mengeluh akibat kehadiran pengganggu keberhasilan budidayanya. Tidak hanya hama, bahkan penyakit pun kerap menjadi penyebab utama kerusakan cabe. Kerugian yang diakibatkan hama maupun penyakit telah membuat tidak sedikit para petani yang bangkrut dan kapok untuk bertanam lagi. Sebagai pertimbangan, pada Harian Kompas mengungkapkan daerah Kediri sebagai salah satu sentra produksi cabe di Jatim banyak yang terserang Antracnose atau yang lebih populer dengan pathek ini beberapa waktu yang lalu. Dimana, ribuan hektar pohon cabe gagal dipanen gara-gara kehadiran penyakit itu. Ini hanya satu kasus saja, belum serangan hama maupun penyakit lain yang bisa merugikan petani. Menurut sebagian petani hingga kini belum ada cara yang benar-benar ampuh untuk mengobati buah cabe yang sudah terserang hama dan penyakit. Bukannya mereka tidak mau tahu atau pasrah terhadap kehadiran “para pengganggu” ini, namun sudah banyak yang dilakukan dalam upaya mengobati tanaman yang sudah terkena serangan. Salah satunya adalah dengan penyemprotan baik itu menggunakan insektisida maupun fungisida. Karena saking tingginya kekhawatiran akan meluas atau terkena serangan, penyemprotan seringkali dilakukan secara serampangan tanpa pertimbangan. Akibatnya kesalahan pemilihan pestisida yang diberikan dan teknik pengendalian yang kurang baik bisa menjadi bumerang yang berakibat fatal. Untuk itulah, teknik pengendalian yang baik yang dikenal dengan tehnik pengendalian hama terpadu sangat dianjurkan untuk mengatasi musuh-musuh utama tanaman cabe ini. Berikut adalah musuh-musuh utama petani cabe yang sering menyerang tanaman cabe.

Thrips
Hama thrips (Thrips Sp.) sudah tidak asing lagi bagi para petani cabe. Menurut beberapa sumber, thrips yang menyerang cabe tergolong sebagai pemangsa segala jenis tanaman, jadi serangan pada tanaman cabe hanya salah satunya saja. Dengan panjang tubuh sekitar + 1 mm, serangga ini tergolong sangat kecil namun masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Thrips biasanya menyerang bagian daun muda dan bunga. Serangan paling parah biasanya terjadi pada musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan pada saat musim hujan bisa juga terjadi serangan. Gejala yang bisa dikenali dari kehadiran hama ini adalah adanya strip-strip pada daun dan berwarna keperakan. Adanya noda keperakan itu tidak lain akibat adanya luka dari cara makan hama thrips. Dalam beberapa waktu kemudian, noda tersebut akan berubah warna

menjadi coklat muda. Yang paling membahayakan dari thrips adalah selain dia sebagai hama perusak namun juga sebagai carrier atau pembawa bibit penyakit (berupa virus) yang menyebabkan penyakit pada tanaman cabe. Untuk itu, bila kita mampu mengendalikan hama thrips, tidak hanya memberantas dari serangan hama namun juga bisa mencegah penyebaran penyakit akibat virus yang dibawanya.

Areal tanaman cabe yang tidak dirawat dengan baik sangat beresiko terkena serangan hama dan penyakit Pengendalian hama ini bisa dilakukan secara kultur teknis maupun kimiawi. Secara teknis dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran tanaman atau tidak menanam cabe secara bertahap dengan selisih waktu lebih lama, selain itu dapat juga menggunakan perangkap kuning yang dilapisi lem. Sedangkan pengendalian kimia bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida Winder 25WP konsentrasi anjuran 0.25 - 0.5 gr /liter atau bisa juga menggunakan insektisida bentuk cair Winder 100EC dengan konsenstrasi 0.5 – 1 cc/L.

Tungau (Mite)
Hama mite selain menyerang jeruk, dan apel menyerang tanaman cabe juga. Tungau bersifat parasit dimana dia merusak daun, batang maupun buah yang mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. Pada tanaman cabe, serangannya adalah dengan menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagioan bawah menjadi berwarna kuning kemerahan , bentuk daun menjadi menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk bisa mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. Dalam klasifikasi tungau termasuk dalam Ordo Acarina, Kelas Arachnidae bukan termasuk golongan serangga. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0.5 mm, berkulit lunak dengan kerangka chitin. Seperti halnya thrips, hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus. Pengendalian hama mite secara kimia dapat kita lakukan penyemprotan menggunakan akarisida Samite 135EC. Konsentrasi yang dianjurkan adalah 0.25 - 0.5 ml/L.

Kutu (Myzus persicae)
Aphids merupakan serangga hama yang juga andil dalam merusak perkembangan tanaman cabe. Serangannya hampir sama dengan tungau namun akibat cairan dari daun yang dihisapnya menyebabkan daun melengkung ke atas, keriting dan belang-

Gejala akibat serangan hama Kerusakan daun yang Ulat grayak merupakan hama . Lalat Buah (Bactrocera dorsalis) Kehadiran lalat ternyata tidak hanya mengganggu sekaligus menjijikkan namun bisa menjadi hama perusak khususnya tanaman cabe. dia termasuk hewan yang sangat rakus. Pengendalian kultur teknis dapat dilakukan dengan membuat perangkap dari botol bekas air kemasan yang didalamnya diberi umpan yang telah diberi sex feromon seperti metil eugenol dan insektisida. atau dikendalikan dengan insektisida biologis Turex WP konsentrasi 1 . Buah cabe yang menunggu panen bisa menjadi santapannya dalam sekejap dengan cara menusukkan ovipositornya pada buah serta meletakkan telur. kacang dan lain-lain. Karena umumnya serangga-serangga tersebut sangat menyukai warna-warna mencolok. Tidak sepeti mite. Selain itu dapat juga digunakan perangkap kuning seperti yang dilakukan pada hama thrips. daun-daun cabe bisa rusak olehnya. kutu persik ini memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat karena selain bisa memperbanyak dengan perkawinan biasa. Namun keistimewaannya adalah saat memasuki stadia larva. dia juga mampu bertelur tanpa pembuahan. menetas menjadi larva yang kemudian merusak buah cabe dari dalam. Pengendalian hama ini dapat dilakukan terhadap ngengat dewasa yang hendak meletakkan telurnya pada tanaman inang dengan menyemprotkan insektisida.2 gr/Lt. pepaya. Ulat grayak tidak hanya menyerang tanaman cabe saja melainkan juga tanaman pisang. untuk itu satu-satunya jalan adalah dengan mencegah lalat tersebut meletakkan telurnya pada cabe. padi. Kerusakan buah dari luar bisa kita perhatikan dari bekas tusukan yang berupa bintik hitam. Ulat yang setelah dewasa berubah menjadi sejenis ngengat ini akan memakan daun-daunan pada masa larva untuk menunjang perkembangan metamorfosis-nya. Ulat Grayak (Spodoptera litura) Hama ini tak berbeda dengan jenis ulat lain yang juga suka makan daun.5 – 1. bawang. kentang. Pengendalian hama aphids secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprot insektisida Winder 100EC konsentrasi 0. Hal ini karena lalat buah betina sangat tertarik dengan bau lalat buah jantan sehingga dia akan memburunya. Buah yang rusak tentu saja tidak akan laku dijual sehingga menyebabkan kerugian bagi petani.00 cc/L.belang hingga akhirnya dapat menyebabkan kerontokan. Pengendalian hama lalat buah cabe tergolong agak sulit karena menyerangnya dari dalam buah. Hanya dalam waktu yang tidak lama.

Penyebab penyakit ini tidak lain adalah jamur C. Penyebarannya tidak hanya melalui sentuhan antara tanaman saja melainkan juga bisa karena percikan air. namun kita bisa mencegahnya dengan kultur teknis yang baik. . pengendalian penyakit ini dapat disemprot dengan fungisida bersifat sistemik yang berbahan aktif triadianefon dicampur dengan fungisida kontak berbahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG. maupun melalui vektor. Dapat juga dilakukan pembersihan atau pembuangan bagian tanaman yang sudah terserang agar tidak menyebar. Gejala awal yang dapat dikenali dari serangan penyakit ini adalah adanya bercak yang agak mengkilap. tikus juga berpotensi merusak buah tanaman cabe. Dalam waktu yang tidak lama maka buah akan berubah menjadi coklat kehitaman dan membusuk. atau yang berbahan aktif Mankozeb seperti Victory 80WP. saat pemilihan benih harus kita lakukan secara selektif . Sudah banyak petani yang menjadi korban keganasannya. Bagaimana tidak? Buah yang menunggu panen dalam beberapa waktu berubah menjadi busuk oleh penyakit ini. karena baik buah cabe yang masih hijau atau sudah masak pun tidak luput darinya. Jamur ini menyerang tidak pandang bulu. sedikit terbenam dan berair. Meskipun persentasenya tergolong sedikit. angin. Lama – kelamaan busuk tersebut akan melebar membentuk lingkaran konsentris. Mereka biasanya menyerang bagian buahnya. Antracnose Tidak ada yang memungkiri bahwa Antracnose atau yang lebih dikenal dengan istilah “pathek” adalah penyakit yang hingga saat ini masih menjadi momok petani cabe. maka akan sulit bagi kita untuk mengendalikannya. Selain dengan cara budidaya yang baik. Penggunaan benih sembarangan akan beresiko terjadinya serangan penyakit. Sekali tanaman cabe kita terkena antraknosa. Penyakit ini sangat mudah menyebar ke buah atau tanaman lain. Disarankan agar menanam benih cabe yang memiliki ketahanan terhadap penyakit pathek.kutu daun (Mizus persicae) diakibatkan serangan mite yang paling rakus melahat daun cabe Tikus Meskipun tidak separah serangan pada tanaman pangan. Secara kimia. Tidak ada satu pun cara yang bisa dilakukan agar penyakit ini bisa 100% . capsici. Ledakan penyakit ini sangat cepat pada musim hujan. Oleh karena itu tindakan paling baik untuk penyakit ini adalah melakukan pencegahan sebelum terjadinya serangan. serangan tikus pada tanaman cabe tetap harus diwasdapai dengan cara selalu rutin membersihkan kebun cabe dari gulma dan semaksemak yang bisa menjadi tempat sarang sekaligus perlindungan tikus.

penyakit ini dapat dicegah dengan menyiram larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 . Bakteri ini biasanya ditularkan melalui tanah. benih. gejala kelayuan yang mendadak seringkali tidak bisa diantisipasi. nematoda atau alat-alat pertanian.Buah cabe yang busuk akibat serangan pathek/antraknose Tanaman cabe yang terserang layu bakteri Layu Bakteri Bakteri penyebab layu merupakan penyakit kedua yang meresahkan petani setelah antraknosa. Penyebab layu bakteri ini adalah Pseudomonas solanacearum yang serangannya ditandai dengan gejala layu pada tanaman cabe yang mengalami kesembuhan pada waktu sore hari. Tanaman yang sehat tiba –tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari besoknya langsung mati. Secara kimiawi. Bakteri layu cepat meluas terutama di tanah dataran rendah. kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang berisi air bening. Selain itu . . sisa-sisa tanaman . bibit. Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang . tetapi lama kelamaan kelayuannya terjadi secara keseluruhan dan menetap.14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 . dan tetap menjaga agar bedengan tanam selalu dalam kondisi kering di luar. Selain itu bakteri ini mampu bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah dalam keadaan tidak aktif. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna coklat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air. pengairan. melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili bisa mengurangi resiko serangan penyakit tersebut. Untuk mengatasinya tak ada jalan lain selain menyingkirkan tanaman yang terserang. Itulah gambaran serangan penyakit layu yang sangat menyeramkan.

akan menyerang batang. Secara kimia dapat juga dicegah dengan fungisida kontak bahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG. Pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang tanaman yang terserang sekaligus membersihkan sanitasi lingkungan tanaman. (Redaksi – dari berbagai sumber) Pengendalian Hama & Penyakit Pada Tanaman Cabai Pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai bisa dilakukan dengan cara menyemprot pestisida 2 minggu satu . Gejala pada daun tersebut ternyata baru serangan awal saja karena bila dibiarkan.Daun yang terkena gejala penyakit bercak daun Bercak Daun Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak berupa bulatan seperti cacar pada daun. Bila dibiarkan akan menyebabkan daun-daun cabe gugur sehingga pertumbuhan kurang optimal. cendawan Cercospora capsici penyebab bercak daun ini dapat bertahan hidup pada sisa-sisa tanaman. Seperti halnya layu bakteri. Kocide 77WP. tangkai daun serta tangkai bunga. dan atau fungisida bahan aktif Mankozeb yaitu Victory 80WP.

guludan agar dinaikkan dan drainase dibuat sedemikian agar tidak ada air yang menggenang. agar buahnya dipanen semua dan ditaruh dalam karung kemudian dibakar. Pencucian sebaiknya dilakukan sebelum matahari terbit. dibakar. tidak perlu dilakukan. agar daunnya dirontokkan. Pengendalian : Tanaman cabe yang telah diserang cacar. lalu dikubur. C. PENYAKIT LAYU Penyebab : Beberapa penyebab penyakit layu adalah kelembaban. Pengendalian secara kuratif hanya dilakukan setelah tanaman menunjukkan gejala serangan penyakit. 1 minggu sekali tanaman cabe disemprot dengan perekat. Untuk tanaman yang sudah terserang agar disemprot dengan antibiotik agrimisin 10 hari 1 kali. Bila tanaman sudah berbuah. Disamping itu dilakukan pencucian 2 hari sekali. A. apabila yang diserang buahnya. maupun varietas yang digunakan. Penyerangan trips biasanya dilakukan pada saat udara panas di musim kemarau. cacing. PENYAKIT KERITING Penyebab : Penyebab penyakit keriting adalah hama trips yang menyerang ujung daun. Selain perlakuan di atas. . Pengendalian : Trips pada siang hari biasanya bersembunyi. PENYAKIT CACAR DAUN & CACAR BUAH Penyebab : Penyakit ini dis ebabkan oleh hama yang menyerang dengan cepat bagian buah maupun daun dari tanaman cabai. Pengendalian : Untuk penyakit layu yang disebabkan oleh kelembaban. B. Pestisida yang digunakan adalah Alto atau score ditambah dengan perekat dan disemprot dengan interval 2-3 hari 1 kali. terutama pada awal tanaman berbuah.kali. penyemprotan dilakukan dari atas dan bawah daun sehingga merata di seluruh bagian tanaman dan daun. Demikian pula apabila daunnya diserang.

dengan cara menggaruk dan mengisap cairan daun. sinar matahari. lalat pengorok daun (Liriomyza sp. penyakit bercak daun serkospora. kelembaban. selanjutnya berubah menjadi kecoklatan. Di samping menyerang daun. (2002). grossum) di dalam Rumah Plastik Serta Pengendaliannya Keberhasilan produksi paprika ditentukan oleh beberapa faktor. . Hama Tanaman 1. air. Mg (Magnesium) dan Ca (Kalsium). Mn (Mangan). Penyakit yang menyerang tanaman tidak hanya disebabkan oleh patogen saja.). penyakit layu bakteri. hama trips dapat pula menyerang buah paprika sehingga dapat menurunkan kualitas buah. mengeriting dan melengkung ke atas. Menurut Prabaningrum et al. hama dan penyakit yang umum menyerang tanaman paprika adalah trips (Thrips parvispinus). penyakit tepung. penggunaan pestisida. Gejala serangan ditandai dengan bagian bawah daun yang terserang berwarna keperakan. serangga hama. grossum) di dalam Rumah Plastik Serta Pengendaliannya 24 Januari 2010 pada 2:51 am (artikel. Daun tampak keriput. Penyakit fisiologis yang umum dijumpai pada tanaman paprika di Indonesia disebabkan oleh defisiensi unsur hara. Akibat serangannya adalah kualitas dan kuantitas hasil panen paprika menurun. tetapi dapat pula disebabkan oleh faktor lingkungan seperti suhu. tehnik pengendalian. kutu daun persik (Myzus persicae). Trips (Thrips parvispinus) Trips (Gambar 1) menyerang daun-daun muda. salah satu di antaranya adalah serangan hama dan penyakit. Menurut Prabaningrum dan Moekasan (2006).erlan ardiana rismansyah Hama dan Penyakit Budidaya Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus). ulat grayak (Spodoptera litura). nutrisi. penyakit fisiologis yang disebabkan oleh unsur hara pada tanaman paprika adalah defisiensi unsur Fe (Besi). penyakit layu fusarium. virus patogen) 4 Votes Hama dan Penyakit Budidaya Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. dan penyakit virus. dan lain-lain. Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan disebut penyakit fisiologis. bakteri patogen. jamur patogen.

dan (d) serangan trips pada daun (Foto: L. Pemasangan mulsa plastik perak di atas lantai rumah plastik (Foto: T. Prabaningrum) Pengendalian trips pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) adalah sebagai berikut: 1) Penggunaan mulsa plastik perak Pada lantai rumah plastik dipasang mulsa plastik hitam perak (Gambar 2) Pemasangan mulsa plastik warna perak mampu menghalau trips. Selain itu.Gambar 1 (a) Trips pada bunga paprika. putih atau kuning . sehingga diharapkan tidak menyerang tanaman paprika. Moekasan) 2) Pemasangan perangkap lekat warna biru.K. (c) serangan trips pada buah. (b) imago trips. Gambar 2. mulsa plastik akan menghalangi trips mencapai tanah pada saat akan menjadi pupa.

musuh alami trips sudah diperdagangkan seperti kepik Orius sp. Di luar negeri. Pelepasan kumbang predator dan penyemprotan jamur patogen V.K. lecanii dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16. Moekasan) 3) Pemanfaatan musuh alami Musuh alami potensial yang dapat digunakan untuk mengendalikan trips adalah predator kumbang macan Menochilus sexmaculatus (1 ekor/tanaman) dan jamur patogen Verticillium lecanii (konsentrasi 3 x 108 spora/ml) (Gambar 4). Penggunaan predator M. mahkota bunga pada buah yang telah terbentuk harus segera dibuang (Gambar 5a). Gambar 3. di atas kanopi tanaman dipasang perangkap lekat warna biru. Pemasangan perangkap lekat warna kuning (kiri) dan biru (kanan) (Foto: T. Gambar 4. sexmaculatus (kiri) dan jamur patogen V. Oleh karena itu. . putih. lecanii. Penyemprotan jamur patogen V. dan jamur patogen V.. Moekasan) 4) Pembuangan mahkota bunga dan penjarangan buah Mahkota bunga dan buah yang berdempetan merupakan tempat persembunyian trips.00. tungau predator Amblyseius sp. lecanii dilakukan mulai tanaman paprika berumur satu minggu setelah tanam. atau kuning (Gambar 3) sebanyak 1 buah per 2 m2. Penjarangan buah dilakukan agar buah tidak tumbuh berdempetan sebagai upaya untuk mengurangi serangan trips pada tanaman paprika (Gambar 5b) (Moekasan 2002).K. lecanii (kanan) (Foto: T.Sejak penanaman.

Penggunaan insektisida dilakukan jika populasi hama tersebut telah mencapai ambang pengendalian. nilai ambang pengendalian trips pada tanaman paprika adalah : . sehingga daun menjadi transparan.3 ekor trips/daun atas.K.Gambar 5.) Ulat muda makan daun dengan menyisakan epidermis. Pembuangan mahkota bunga (a) dan penjarangan buah (b) (Foto: T. Moekasan) 5) Penyemprotan insektisida Penyemprotan insektisida untuk mengendalikan trips pada tanaman paprika merupakan upaya terakhir.Fase vegetatif (0 – 5 minggu setelah tanam) adalah 2. . Ulat grayak (Spodoptera litura F. Ulat mempunyai warna yang bervariasi.Fase berbuah (> 11 minggu setelah tanam) adalah 0. . Menurut Moekasan et al (2005).Fase berbunga (6 – 11 minggu setelah tanam) adalah 0. Insektisida yang dianjurkan adalah insektisida yang selektif yaitu yang berbahan aktif Spinosad (Tracer 120 EC) dan Abamektin (Agrimec 18 EC).8 ekor trips/bunga.3 ekor trips/daun pucuk dan 0. . Ulat tua memakan seluruh bagian daun dan yang ditinggalkan hanya tulang daunnya saja. yaitu adanya garis menyerupai kalung berwarna hitam yang melingkar pada ruas ketiga.7 ekor trips/daun atas. tetapi ada ciri utama. 2. Kepompongnya berwarna coklat tua dan terdapat di permukaan tanah (Kalshoven 1981).

imago S. Untuk rumah kasa yang berukuran ± 500 m2 dipasang 2 buah perangkap. litura di dalam rumah plastik dipasang perangkap feromonoid seks atau perangkap lampu (Gambar 7) mulai saat tanam. Ahmadzabidi 1986) Pengendalian ulat grayak pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah sebagai berikut : 1) Pengumpulan kelompok telur dan larva Kelompok telur dan larva S.L. 2) Pemasangan feromonoid seks atau perangkap lampu Untuk menekan populasi awal S. Tujuannya adalah untuk menangkap imago atau ngengat S. litura pada daun paprika (b). serangan S. b. litura (d) (Foto : a. dan d oleh Tonny K. dan kelompok telur S. Moekasan. Larva S. litura (a). litura yang terdapat pada tanaman paprika dikumpulkan lalu dimusnahkan.Gambar 6. litura. litura (c). c oleh van Vreden dan A. .

Tungau teh kuning (Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah (Tetranychus sp. 3. Di pasaran musuh alami ini sudah dijual dengan nama Vir-X yang diproduksi oleh Perusahaan Dompet Duafa Republika. sedangkan yang jantan 0. 1981). Tungau dewasa berkaki delapan. Insektisida yang dianjurkan adalah insektisida selektif seperti Amamektin (Proclaim 5 SG) dan Spinosad (Tracer 120 EC) (Moekasan. Tungau Tetranychus sp. tepi daun mengeriting.) Hama tungau sering disebut pula tengu (bahasa Jawa). disebut pula red spider mite karena tungau ini berwarna merah dan membuat jaring-jaring seperti laba-laba.3 mm (Hussey et al.25 mm. 2002). daun menjadi kaku dan melengkung ke bawah (seperti sendok terbalik). yaitu 5% kerusakan daun baru boleh digunakan insektisida.Gambar 7. Penyemprotan virus patogen ini dilakukan mulai umur tanaman 1 minggu setelah tanam dengan interval 1 minggu. sedangkan larvanya berkaki enam (Kalshoben. Moekasan) 3) Pemanfaatan musuh alami Musuh alami yang potensial mengendalikan ulat grayak adalah virus patogen SlNPV (Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus). tunas dan bunga gugur (Gambar 8). Tungau jantan berukuran lebih kecil. Tungau merah betina berukuran panjang ± 0. litura (Foto: T.45 mm. 1953). dengan ukuran tubuh ± 0. Gejala serangan ditandai dengan timbulnya warna seperti tembaga pada permukaan bawah daun. tongo (bahasa Sunda) atau mite (bahasa Inggris). Perangkap lampu untuk menangkap ngengat S. 4) Penggunaan insektisida Jika serangan ulat grayak sudah mencapai ambang pengendalian. Tungau teh kuning berwarna kuning transparan. K. Pada serangan berat. .

Prabaningrum) Pengendalian hama tungau pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah sebagai berikut : 1) Pemanfaatan musuh alami Di luar negeri. kumbang macan M.. Gejala serangan ditandai dengan perubahan tekstur daun menjadi keriput. dan larva lalat Syrphidae. terpuntir. kutu daun merupakan vektor penyakit virus PLRV dan PVY.8 – 1. Pengendalian kutu daun persik pada tanaman paprika yang dilakukan dengan sistem PHT adalah sebagai berikut : 1) Pemanfaatan musuh alami Di alam. Pelepasan kumbang macan . berwarna kekuningan. sexmaculatus. daun menjadi layu dan akhirnya mati. Di samping itu. musuh alami tungau teh kuning yang potensial dan telah digunakan sebagai agens pengendali hayati adalah tungau predator Amblyseius sp. Tanaman paprika yang terserang tungau (Foto: L. dengan panjang tubuh berkisar antara 0. Nimfa dan serangga dewasa menyerang daun-daun muda. dengan cara menusuk dan mengisap cairan daun. Tubuhnya berwarna kuning kehijauan (Gambar 9).Gambar 8. 2) Penggunaan akarisida Akarisida yang efektif untuk mengendalikan kedua jenis tungau tersebut adalah akarisida selektif seperti Propargit (Omite 570 EC) dan Dikofol (Kelthane 200 EC).2 mm. 4.. pertumbuhan tanaman kerdil. sedangkan musuh alami tungau merah adalah Phytoseiulus persimilis. Kutu Daun persik (Myzus persicae) Kutu daun persik sering pula disebut sebagai kutu daun tembakau. kutu daun persik mempunyai musuh alami yang potensial yaitu parasitoid Aphidius sp.

Prabaningrum) 5.) Di Indonesia spesies yang menyerang adalah Liriomyza huidobrensis. Serangan berat akan mengakibatkan daun mengering seperti terbakar. Serangan serangga dewasa pada daun ditandai oleh bercak-bercak putih bekas tusukan ovipositor. 2) Penggunaan insektisida Jika populasi kutu daun persik telah mencapai ambang pengendalian. Gejala serangan oleh larva berupa alur-alur putih pada permukaan daun paprika (Gambar 10). 2) Penggunaan insektisida . yaitu 7 ekor/10 daun. lalat tersebut tersebar sejak dataran tinggi sampai dataran rendah. Hama ini menyerang sejak dari persemaian sampai tanaman dewasa. Kutu daun persik pada tanaman paprika (Foto: L. sexmaculatus dilakukan sejak tanaman paprika berumur 1 minggu setelah tanam dan diulang setiap minggu. Lalat pengorok daun (Liriomyza sp. Pengendalian lalat pengorok daun pada tanaman paprika yang dilakukan dengan system PHT adalah sebagai berikut : 1) Pemasangan perangkap lekat warna kuning Pada saat tanam dipasang perangkap lekat warna kuning di atas kanopi tanaman sebanyak 1 buah per 2 m2. maka pertanaman disemprot dengan insektisida Fipronil (Regent 50 EC) atau Alfametrin (Fastac 15 EC). Gambar 9.M.

pada tanaman cabai (d) (Sumber: Setiawati et al. Gambar 10.Insektisida yang selektif dan efektif yang dianjurkan untuk mengendalikan lalat pengorok daun adalah Kartap hidroklorida (Padan 50 SP) atau Siromazin (Trigard 75 WP). . Pengasapan dilakukan pada sore hari setelah pukul 17. larva (b). 2005) Penyakit Tanaman 1. Pengendalian penyakit tepung pada tanaman paprika dapat dilakukan sebagai berikut : 1) Pemasangan dan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang Untuk mencegah serangan penyakit tepung pada pertanaman paprika dipasang serbuk belerang yang diletakkan dalam belahan bambu sebanyak 1 belahan bambu per 2 m2. dan gejala kerusakan oleh serangan Liriomyza sp. ketika suhu udara sudah menurun. Gejala serangan ditandai dengan adanya lapisan tepung berwarna putih terutama menempel pada sisi bawah daun (Gambar 11). Pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang seminggu sekali. Alat yang digunakan adalah yang biasa digunakan untuk pengemposan tikus. Imago (a). pupa (c). Daun yang terserang menjadi pucat dan cepat rontok (Semangun 1989).00 (Gambar 12). Penyakit tepung Penyakit tepung disebabkan oleh cendawan Oidiopsis capsici.

. 2. ke ranting-ranting muda dan akhirnya tanaman mati (Gambar 13) (Suryaningsih et al.K.K. Cendawan berada di dalam pembuluh kayu dan menyebabkan jaringan ini berwarna coklat (Semangun 1989). Selanjutnya infeksi menjalar ke perakaran sehingga akar mengalami busuk basah. Moekasan) Gambar 12. Daun tanaman paprika yang terserang penyakit tepung (Foto: T. 1989). Moekasan) 2) Penyemprotan fungisida Jika serangan penyakit tepung rata-rata telah mencapai 5% luas daun. Gejala pada bagian tanaman di atas tanah adalah terjadinya kelayuan daun bagian bawah. 1996). Infeksi awal terjadi pada leher batang tanaman bagian bawah yang bersinggungan dengan tanah. yang selanjutnya menjalar ke atas.Gambar 11. Pemasangan belerang (kiri) dan pengasapan dengan pembakaran serbuk belerang (kanan) untuk mencegah serangan penyakit tepung (Foto: T. Penyakit layu fusarium Penyakit layu fusarium disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum (Semangun. maka pertanaman paprika disemprot dengan fungisida selektif Fenarimol (Rubigan 120 EC) atau Heksakonazol (Anvil 50 SC) (Moekasan 2002).

2) Penggunaan fungisida Fungisida yang selektif dan efektif dan dianjurkan adalah Benomil (Benlate) atau Klorotalonil (Daconil 75 WP). Penyakit layu bakteri Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum. Tanaman paprika yang terserang penyakit layu fusarium (Foto: T. Tanaman tampak seolah-olah seperti kekurangan air. Serangan penyakit ini menyebabkan layunya daun-daun tanaman yang dimulai dari daun bagian atas. Setelah beberapa hari gejala kelayuan diikuti oleh layu yang tiba-tiba dan layu permanen seluruh tanaman. yaitu dengan cara menyingkirkan tanaman dan media tanamnya lalu memusnahkannya. 3. Pengendalian penyakit layu bakteri pada tanaman paprika dapat dilakukan sebagai berikut: . Larutan fungisida dengan konsentrasi yang dianjurkan disiramkan ke perakaran paprika dengan dosis 100 ml per polybag (Moekasan 2002). K. Moekasan) Pengendalian penyakit layu fusarium pada tanaman paprika dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Eradikasi selektif Jika dijumpai tanaman paprika yang terserang penyakit layu fusarium dilakukan eradikasi selektif. tetapi daun tetap berwarna hijau atau sedikit menguning (Gambar 14). dapat hidup bertahan dalam tanah dalam waktu yang relatif sangat lama (3-5 tahun) (Kelman. 1953). Bakteri ini termasuk mikroorganisme patogen tular tanah atau dikenal dengan nama soil borne disease.Gambar 13.

Penyakit bercak serkospora . Larutan bakteri P. 3) Eradikasi selektif Jika dijumpai tanaman paprika yang terserang penyakit layu bakteri dilakukan eradikasi selektif. Moekasan) 4. 4) Penggunaan bakterisida Bakterisida yang efektif untuk mengendalikan penyakit layu bakteri adalah Bactocine L. yaitu dengan cara mencabut dan memusnahkannya. Gambar 14. Bakterisida tersebut secara bergantian disemprotkan pada tanaman atau disiramkan ke dalam media tanam sebanyak 50 ml/polybag dengan frekuensi seminggu sekali (Moekasan 2002). dengan konsentrasi formulasi 1 ml/l. Tanaman paprika yang terserang penyakit layu bakteri (Foto: T. fluorescens sebanyak 50 ml/polybag disiramkan ke dalam media tanam mulai umur 1 minggu setelah tanam dan diulang seminggu sekali (Moekasan 2002).K. 2) Penggunaan musuh alami Musuh alami yang potensial untuk mengendalikan penyakit layu bakteri adalah bakteri antagonis Pseudomonas fluorescens.1) Perlakuan air penyiraman Untuk mencegah serangan layu bakteri. pada air penyiraman ditambahkan kaporit sebanyak 1 ppm (Moekasan 2002).

bercak mengering dan retak. daun atau batang ke media tanam. K. Moekasan) Pengendalian penyakit bercak serkospora pada tanaman paprika dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Perlakuan benih Pencegahan serangan penyakit bercak serkospora dapat dilakukan dengan cara perendaman benih paprika sebelum disemai pada larutan Propamocarb (Previcur N) dengan konsentrasi formulasi 1 ml/ l selama 24 jam (Moekasan 2002). Bercak berbentuk bulat melingkar dan bagian tengahnya berwarna abu-abu tua sedangkan bagian luarnya coklat tua (Gambar 15). cendawan tumbuh seperti bintik-bintik. bunga. Pada saat sudah berukuran lebih besar. yang akhirnya bagian buah ini akan jatuh ke tanah. 1996). 2) Penggunaan mulsa plastik Penggunaan mulsa plastik dapat menghambat penyebaran infeksi cendawan ini. Penyakit ini dikenal sebagai penyakit “bintik mata kodok”. maupun dari media tanam ke bagian tanaman (Suryaningsih et al. Pada kelembaban tinggi. karena bintik tersebut berbentuk seperti mata kodok. batang. 1996). 3) Penggunaan fungisida . yaitu buah tidak dapat berkembang.Penyakit bercak serkospora disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici yang dapat menyerang daun. tunas. Serangan yang terjadi pada pedisel dapat menimbulkan malformasi buah. Daun dan buah yang terinfeksi dapat berubah menjadi berwarna kuning dan gugur ke tanah (Suryaningsih et al. Gambar 15. melainkan menjadi kerdil. kemudian melebar dan berwarna abu-abu. Daun paprika yang terserang penyakit bercak serkospora (Foto: T. baik dari buah. dan bakal buah.

. 1996). 1996) atau disebarkan oleh kutu daun seperti CMV dan PVY (Noordam 1973). Pola pergiliran adalah 3-4 kali aplikasi fungisida kontak dan satu kali apalikasi fungisida sistemik. ukuran daun lebih kecil dan lebih sempit dari ukuran daun yang normal. 5. Penggunaan fungisida kontak dan sistemik dilakukan secara bergiliran untuk menghindari timbulnya resistensi cendawan tersebut terhadap fungisida. yaitu fungisida kontak Klorotalonil (Daconil 70 WP) dengan interval 4-7 hari dan fungisida sistemik Metalaxyl (Ridomil Gold MZ) atau Difenakonazol (Score 250 EC) dengan interval 7-10 hari. Mula-mula tulang daun menguning atau terjadi jalur kuning sepanjang tulang daun. virus mosaik mentimun (cucumber mosaic virus = CMV). Virus mosaik mentimun sering menyebabkan gejala bisul atau kutil pada buah (Semangun 1989).. maka tanaman paprika disemprot dengan fungisida. Penyakit mosaik (virus kompleks) Penyakit mosaik pada tanaman paprika dapat disebabkan oleh salah satu atau gabungan berbagai jenis virus seperti virus tomat mosaik (tomato mosaic virus = ToMV). 1996) Pertumbuhan tanaman yang terserang virus relatif lebih kerdil.Jika serangan penyakit bercak serkospora telah mencapai 5% luas daun. Fungisida yang dianjurkan untuk cendawan golongan Oomycetes. atau menjadi seperti tali sepatu karena lembaran daun menghilang yang tinggal hanya tulang daun saja. virus mosaik tembakau (tobacco mosaic virus = TMV). melalui biji seperti ToMV dan TMV (Suryaningsih et al. ToMV dan PVX. Virus masuk ke dalam jaringan melalui luka lalu memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh jaringan tanaman secara sistemik. kemudian diulang kembali dengan pola yang sama (Suryaningsih et al. Daun menjadi belang hijau tua dan hijau muda. virus kentang Y (potato virus Y = PVY) dan virus X kentang (potato virus X = PVX) (Suryaningsih et al. Jenis virus di atas dapat menular melalui persinggungan secara mekanik seperti TMV.

3) Pada saat melakukan pewiwilan.Gambar 16. “Bule” Merajalela Posted on March 19. Herman de Putter. Gambar 17. 2) Menjaga kebersihan tangan pekerja dan peralatan yang digunakan untuk pemeliharaan tanaman menggunakan larutan alkohol 70% untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Merujuklah ke buku tersebut untuk hal tersebut dan lainnya. dengan sedikit perubahan nomor gambar serta tidak disertakan daftar pustaka. Tempat persemaian paprika yang terlindung untuk mencegah serangan penyakit mosaik (Foto: T. Moekasan. K. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Wageningen University and Research Centre. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura bekerjasama dengan Applied Plant Research. 2008 by deny339 . The Netherlands. tangan pekerja disterilkan dengan menggunakan susu skim atau alkohol 70% (Moekasan. Tonny K. 2006. Arij Everaarts. Moekasan) Pengendalian penyakit mosaik pada tanaman paprika dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Infeksi virus mosaik lewat vektornya (kutu daun) yang datang dari luar dapat dicegah dengan melakukan penyemaian benih paprika pada rumah plastik yang dindingnya terbuat dari kasa (Gambar 17). Oleh : Nikardi Gunadi. K. yaitu dengan cara mencabut dan memusnahkannya. Moekasan) Sumber : Disalin dari buku Budidaya Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. 2002) 4) Lakukan eradikasi selektif jika ada tanaman yang menunjukkan gejala terserang penyakit mosaik. grossum) di dalam Rumah Plastik. Beberapa gejala serangan penyakit mosaik pada tanaman paprika (Foto: T. Laksminiwati Prabaningrum.

menunjukkan kesamaan sekuen DNA di bawah 90%. Bengkulu. dan Begomovirus) berdasarkan struktur genom. Topovirus. Artinya bahwa begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia merupakan spesies yang berbeda dengan begomovirus yang sudah di laporkan sebelumnya. Kalau virus ini menyerang dari awal pertumbuhan maka bisa dipastikan tanaman tidak akan berbuah. Begomovirus mempunyai spesies yang paling banyak dan menyerang banyak tanaman di bandingan 3 genus yang lainnya. Pepper leaf curl virus (PepLCV. Kemudian di namakan Pepper yellow leaf curl Indonesia . Tomato leaf curl virus (ToLCV. Nangroe Aceh Darussalam (NAD). AF189018) dan Tomato leaf curl Java virus (ToLCJAV. Bemisia tabaci Genn. Gejala serangan virus ini berawal dari tunas tanaman yang menguning. Biasanya setelah virus ini menyerang satu tanaman pada suatu hamparan maka akan cepat menular ke tanaman yang lain.9 kb. “Bule” begitu masyarakat daerah situ menyebutnya. Genus Mastrevirus mempunyai genom berukuran 2. Genus Topovirus mempunyai ukuran genom yang sama dengan Curtovirus. berbentuk lingkaran dan terselubung protein dalam virion ikosahedral kembar (gemini) dengan ukuran 18~30 nm. Virus ini sudah menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Virus ini diklasifikasikan dalam famili Geminiviridae yang terbagi dalam 4 genus (Mastrevirus. kadang masih kecil. Ini bisa dilihat apabila terjadi keriting kuning di bagian bawah daun yang terserang biasanya terlihat adanya kutu yang berwarna putih.5~2. namun virus ini ditularkan oleh wereng pohon (Treehopper) ke tanaman dikotil. yang jelas akibat dari virus ini saat ini sudah menghawatirkan. Jawa Barat. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari golongan geminivirus.. Sejak kapan virus ini menyebar tidak ada data. Genus Curtovirus merupakan virus dengan genom berukuran 2. baik di Jawa Tengah. tapi kalau virus tertular setelah vase generatif buah yang sudah jadi akan tetap jadi tetapi tidak ada buah baru yang muncul. ditularkan oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman monokotil. Kutu kebul ini merupakan hama pencucuk penghisap yang menghisap cairan tanaman terutama pada pucuk daun atau tunas tanaman. Virus ini ditularkan oleh vektor (pembawa virus). X74516). Ageratum yellow vein virus (AYVV.). X15656). Hasil sekuen DNA begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia dibandingkan dengan beberapa spesies begomovirus yang telah di ketahui di GenBank diantaranya Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV. Biasanya di kalangan petani KUTU PUTIH/KUTU KEBUL (Whitefly.9~3. Bemisia tabaci Genn. S53251). AF134484). Tomato yellow leaf curl Thailand virus (TYLCTHV. ditularkan juga oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman dikotil. Lampung. Tomato leaf curl Indonesia virus (ToLCIDV. yang menyerang tanaman dikotil dan ditularkan oleh kutu kebul (Whitefly.) dikenal sebagai vektor virus ini. AB100304). Sumatera Utara. masa pertumbuhan bahkan pada waktu masa generatif bisa terserang tergantung kapan terjadinya inveksi virus tersebut. serangga vektor dan tanaman inang. Umur tanaman mulai terserang tidak pasti. Untuk membedakan virus sampai ke tingkat spesies maka mengetahui urutan sekuen DNA merupakan cara yang paling tepat.Kalau anda kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar kab.Penyakit keriting kuning pada cabai memang sulit dikendalikan. Dari pustaka yang saya dapat Geminivirus merupakan virus tanaman yang banyak menimbulkan kerusakan di daerah tropik dan subtropik. X63015).8-kilo base (kb). Geminivirus ini mempunyai genom berupa DNA utas tunggal (single stranded/ss DNA). DIY. Sedangkan genus Begomovirus mempunyai genom berukuran 2.6~2. Bali. Magelang Jawa Tengah jangan kaget bila melihat tanaman cabai yang berdaun kuning terutama di bagian pucuknya. Sumatera Barat. Nggak tahu kapan mulainya dan siapa yang menularkan yang jelas si “bule” itu sekarang merajalela.0 kb. Kalimantan Timur dan Gorontalo.. keriting dan kaku. Curtovirus.

Secara genetik PepYLCIDV mempunyai hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan ToLCPHV asal Filipina di bandingkan spesies lainnya. (Sukamto. rumput babandotan (Ageratum conyzoides L. Departemen Pertanian RI). Kita harus mulai waspada apabila salah satu tanaman kita sudah terserang virus lebih baik dicabut kemudian dibuang atau di musnahkan. Pembersihan tanaman inang lain seperti tomat. Dengan pengendalian kutu kebul dari tanaman muda atau mulai tanam akan membantu mengendalikan virus ini.virus (PepYLCIDV) dan terdaftar di DDBJ (DNA Data Bank of Japan). Filed under: Dunia Petani . peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Bogor. Kita tunggu saja apakah beberapa tahun kedepan para profesor dan orang-orang jenius di bumi ini dapat mengendalikan virus ini. EMBL (The European Molecular Biology Laboratory) atau GenBank dengan accession number AB189850.). tembakau dan tanaman lain yang disukai oleh kutu kebul dapat membantu mengurangi populasi kutu tersebut. Sampai sekarang belum ditemukan obat atau zat kimia yang dapat mematikan atau menginaktifkan virus ini. baik dengan pengendalian hama terpadu ataupun dengan pestisida. karena tanaman yang sakit tersebut akan menjadi inang dan akan menularkan virus tersebut ke tanaman yang lain. Yang dapat dilakukan oleh petani hanyalah mengendalikan vektor tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful