P. 1
Agama Dan Konflik

Agama Dan Konflik

|Views: 217|Likes:
Published by Laroedhe Bangeet

More info:

Published by: Laroedhe Bangeet on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2014

pdf

text

original

Pada dasarnya, konflik yang terjadi di antara masyarakat tidak dipicu oleh sentimen agama tapi oleh persoalan

ekonomi dan sosial. Namun, agama kerap dilibatkan dalam berbagai konflik. Bahkan praktek pemanfaatan agama dalam ranah konflik sangat kental seperti terjadi Poso maupun Ambon (Maluku).

"Karena itu, para pemimpin politik harus mempertimbangkan faktor agama. Mereka perlu memahami bagaimana peran agama bagi kehidupan pemeluknya. Pasalnya, agama bisa menjadi kekuatan untuk mewujudkan perdamaian dalam kehidupan umum," tegas Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Profesor Dr HM Amin Abdullah, pada seminar Revitalisasi Agama Untuk Resolusi Konflik di Indonesia yang digelar di Hotel Saphir, Yogyakarta, Jumat (14/3). Seminar dalam rangka mensyukuri kelahiran ke-25 Program

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga ini hasil kerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Gorontalo, portal berita Inilah.com dan harian Kompas. Ditambahkan Amin, konflik yang terjadi sesungguhnya tidak selalu buruk karena bisa bermakna positif. Menurutnya, wajar bila terjadi konflik di tengah masyarakat.

"Yang dikhawatirkan bila konflik yang terjadi diiringi kekerasan. Ini berarti konflik mengalami antiklimaks," katanya lagi.

Karena itu, agama sangat berperan karena bisa memberi resolusi konflik. Selain itu, agama juga menyumbang dalam pembangunan perdamaian (peace building).

Sementara itu, pengamat sosial Zuly Qodir tegaskan sesungguhnya konflik yang terjadi di Indonesia tidak disebabkan oleh persoalan agama. Bahkan Zuly menilai sedikit sekali persoalan agama (sensitivitas umat beragama) yang berbuntut pada konflik di masyarakat.

"Konflik justru lebih banyak disebabkan oleh persoalan sosial seperti perkelahian antarpreman, perkelahian antaretnis sampai hal yang sangat remeh, perebutan pacar atau cemburu," jelasnya.

Ironisnya, Indonesia mendapat label sangat buruk terkait dengan konflik yang terjadi karena menjadi 'juara dunia' dalam perusakan rumah ibadah. Eskalasi penghancuran rumah ibadah terus menanjak dan mencapai puncaknya pada Orde Baru (Orba).

Padahal, di era sebelumnya minim terjadi perusakan. Bahkan di awal kemerdekaan (1945-1954) tidak ada perusakan tempat ibadah. [R1]Agama
dan Konflik Sosial Posted on Agustus 26, 2010 AGAMA DAN KONFLIK SOSIAL Sifat kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia ternyata juga menyimpan potensi maupun factor disharmoni. Pandangan umum yang telah lama dipopulerkan adalah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah-tamah, serta akomodatif terhadap berbagai nilai budaya asing dan berintegrasi di

namun di sisi lain ada harga yang terlampau mahal yang harus dibayar oleh bangsa ini. seolah lepas bagaikan kuda liar. Konflik antar kelompok masyarakat di berbagai daerah seperti di Maluku. Asumsi yang berlaku mestinya. Datangnya era Reformasi telah membawa warna baru dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Namun yang terjadi di lapangan tidaklah demikian. Sampit. Tuntutan akan kekebasan berekspresi seolah tak terbendung. tentu dapat dikatakan bahwa potensi konflik dan budaya kekerasan yang muncul terlihat relative sama kuatnya dengan budaya keramah-tamahan bangsa ini. Di sisi lain. tentu menimbulkan perselisihan. Dikembangkannya demokratisasi dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di Indonesia. PENDAHULUAN Tumbangnya Orde Baru yang dipandang telah memasung kehidupan berdemokrasi. Pada gilirannya. musyawarah dan kekeluargaan. Atau jika konflik berkembang pada skala kecil tentunya religiusitas ini bisa menjadi penyejuk dan unsur pendamai pertikaian antar kelompok tersebut. selalu menimbulkan kecemasan akan timbulnya konflik.tengah-tengah masyarakat. pemilihan kepala daerah hingga kepala desa. Aceh maupun beberapa daerah lain merupakan bukti konkrit melemahnya watak dasar bangsa Indonesia yaitu tenggang rasa. mengantarkan bangsa Indonesia ke era Reformasi. sikap religius dapat mencegah timbulnya konflik yang semestinya tidak perlu. Jika dikaji lebih mendalam. Banyak konflik yang terjadi justru dibangun dengan mengatasnamakan agama. Aturan dan norma yang dianggap sebagai produk Orde Baru dipandang tidak patut lagi untuk diindahkan. Konflik menjelang PEMILU. Setiap orang merasa berhak berbuat apa saja tanpa perlu mengindahkan aturan dan norma. di sisi lain membawa dampak yang negative. disamping merupakan keniscayaan. 1. Rasa saling percaya sudah sedemikian terkikis baik dalam hubungan social yang bersifat horizontal maupun vertical. A. Hampir pada setiap kesempatan berkumpulnya massa. Aspirasi yang telah sekian lama terpasung. baik yang mengatasnamakan panji-panji partai maupun kelompok-kelompok pendukung para calon juga . Sambas. Meskipun oleh sebagian kalangan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar bagi penegakan demokrasi. kebebasan yang “tak terbatas” yang dituntut oleh setiap individu ini ketika dihadapkan dengan tuntutan kebebasan individu lainnya. fenomena tersebut tentunya bisa juga dikatakan berbanding terbalik dengan sikap religius yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Poso.

Namun yang terjadi di lapangan tidaklah demikian. Asumsi yang berlaku mestinya. karena terkait dengan emosi dan primordialisme. Atau jika konflik berkembang pada skala kecil tentunya religiusitas ini bisa menjadi penyejuk dan unsur pendamai pertikaian antar kelompok tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan yang menjadi tuntutannya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap reaktif dan balas dendam telah sedemikian sulit dipadamkan. seolah sudah tidak ada lagi ruang untuk duduk bersama menemukan titik temu secara kekeluargaan. Jika dikaji lebih mendalam. Masing-masing kelompok nampaknya tidak siap menerima kekalahan atau tidak mau mengalah. Banyak konflik yang terjadi justru dibangun dengan mengatasnamakan agama. atau klaim jihad jika terkait dengan konflik antar kelompok agama yang berbeda. Luapan emosi biasanya diekspresikan dalam bentuk kerusuhan. pembalasan. keramahan dan persaudaraan kembali terjalin seperti sedia kala. penganiayaan bahkan pembunuhan. Sikap emosional menjadi sedemikian dominan dibandingkan dengan pertimbanganpertimbangan rasionalnya. perusakan. Kekerasan seringkali dihadapi dengan kekerasan. Di tengah berkecamuknya konflik acapkali terdengar simbol-simbol agama seperti. Dari situ dapat dipahami bahwa konflik dan kekerasan yang terjadi terkadang sangat situasional dan bersifat laten. pekikan Takbir. Selama tuntutannya belum tercapai.terus mewarnai lembaran suram kehidupan berdemokrasi bangsa ini. Akibat dari fenomena tersebut. Di sisi lain. sikap religius dapat mencegah timbulnya konflik yang semestinya tidak perlu. walau mungkin sifatnya temporer. meskipun di lingkungan masyarakat dengan basis keagamaan yang baik. jika muncul kembali variable-variabel pemicu seperti ekonomi. Pandangan umum yang telah lama dipopulerkan adalah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah-tamah. serta akomodatif terhadap berbagai nilai budaya asing dan berintegrasi di tengah-tengah masyarakat. dimana saat terjadi peredaan ketegangan dan perdamaian tercapai. sudah tak terhitung korban jiwa. maka tindak kekerasanpun sulit untuk diredakan. Sifat kebhinnekaan yang dimiliki bangsa Indonesia ternyata juga menyimpan potensi maupun factor disharmoni. materi maupun non-materi. ras dan sebagainya. tentu dapat dikatakan bahwa potensi konflik dan budaya kekerasan yang muncul terlihat relative sama kuatnya dengan budaya keramah-tamahan bangsa ini. Memang terkadang dijumpai keadaan unik. politik. Fenomena ini tentu merupakan gejala yang sudah mencemaskan dan menjadi “pekerjaan rumah” bagi para pemuka . bahkan memiliki tendensi lebih besar dan akan memusnahkan siapa saja yang dipandang menjadi penghalang tercapainya target tersebut. fenomena tersebut tentunya bisa juga dikatakan berbanding terbalik dengan sikap religius yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Sehingga perbedaan akan menjadi kekuatan yang sinergis. bahwa kehidupan ini ada karena dibangun di atas keragaman. Hal demikian dapat dilihat penegasan al Qur’an yang perlu mencari titik temu (kalimatan sawa) dalam menghadapi pluralisme. baik bertolak demi satu kepentingan (vested-interst) keagamaan yang sempit. akan tetapi hendaknya dipahami.[5] .[1] Pandangan demikian ada benarnya. yang merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah. keragaman sosial atau yang sering disebut dengan pluralisme. karena di banyak negara terjadi kasus kekerasan masa yang dilatarbelakangi oleh persoalan-persoalan pluralisme ini. khususnya para ulama.[3]dalam ayat lain ditegaskan. Bahkan memberikan krangka sikap etis yang tegas. Beberapa pandangan menunjukkan. Oleh karena itu penyelesaian implikasi negatif dari pluralisme tidak mungkin mengingkari pluralisme itu sendiri. maupun bertolak dari supremasi budaya kelompok masyarakat tertentu. baik dalam kelompok budaya maupun pemikiran (perbedaan pendapat) adalah bagian dari “sunnah Allah” Bahkan dapat dikatakan.masyarakat.[2] Al-Qur’an juga menyatakan bahwa perbedaan warna kulit dan bangsa harus diterima sebagai kenyataaan yang positif. Al-Qur’an sendiri menyatakan secara eksplisit. Sebagai pangkal tolak dorongan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sikap agama terhadap pluralisme sangat jelas. [4] Pengakuan ajaran Islam secara positif terhadap keagamaan tersebut dilanjutkan dengan penjelasan sikap etis yang harus dikembangkan untuk mengeliminir implikasi negatifnya. AGAMA DAN KERAGAMAN SOSIAL Dalam konteks hidup bermasyarakat. Keragaman sosial. bahwa sengaja manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar merka saling mengenal dan menghargai. Bagaimana menciptakan pendidikan agama yang dapat menjadi landasan moral yang kuat dalam membangun kehidupan berbangsa dan bermasyarakat yang lebih santun? 1. Tetapi yang harus dilakukan adalah membangun pemahaman yang utuh dan mengembangkan sikap arif dalam menyikapi perbedaan. Dalam kehidupan moderen sekarang ini. saling mengisi dan melengkapi dalam membangun peradaban masa depan. B. Ajaran Islam mengakui adanya pluralisme dalam berbagai aspek. tentang kemajemukan pandangan dan cara hidup diantara manusia yang tidak perlu menimbulkan kegusaran. pluralisme dipahami sebagai salah-satu faktor yang menimbulkan konflik-konflik sosial. karena tuhan sendirilah yang akan menerangkan sebab-sebab manusia berbeda nanti ketika kita kembali kepada Nya. masalah pluralisme harus mendapat perhatian yang serius. seringkali menjadi persoalan sosial yang dapat mengganggu integritas masyarakat.

Keterangan demikian dapat dikaji dalam dokumen yang populer disebut “Konstitusi Madinah” Sunnah demikian lalu diteruskan oleh khalifah Umar r. misalnya dalam Kristen.[7] Dilihat dari prespektif teologi agama-agama terhadap pengakuan yang positif terhadap pluralisme. interpretasi menjadi satu kebutuhan (necessity) yang mendesak yaitu upaya pemakaian doktrin-doktrin agama yang lebih demokratis disamping pendewasaan sikap keberagamaan. .[8] Dalam kehidupan kebangsaan Indonesia yang ditandai adanya pluralisme agama. Sikap semacam inilah yang oleh Nurcholis Majid disebud dengan cara beragama “ al hanifiyyah al samhah”. Dengan diterbitkannya naskah Nostra Aetate. yaitu sikap beragama yang lapang dan terbuka. Sebelumnya terdapat persoalan teologis yang menjadi kendala utama dalam pengembangan dialog antaragama lain.a. terdapat kecenderungan pemikiran yang sama dalam menghadapi persoalan pluralisme. serta pengembangan sikap eksternal ketika berhadapan dengan pemeluk-pemeluk agama lain. Dalam rangka kontekstualisasi agama. Tetapi persoalan yang seringkali timbul dan menyebabkan dialog agama-agama mengalami hambatan lebih banyak berkaitan dengan persoalan interpretasi. ketika berhadapan dengan kelompok lain di Madinah. terdapat penafsiran yang salah tentang kalimat “extra ecelisian nulla salus” (di luar gereja tidak memperoleh keselamatan). sehingga terdapat titik singgung yang dipertemukan. Upaya penghapusan konflik-konflik dan kekerasan antar agama menuju kehidupan bersama yang damai. Apalagi ketika dimanfaatkan oleh kepentingan subyektif. Upaya ini dapat dilakukan dengan pola mengembangkan beragama dan menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan universal dari prespektis agama. Menghadapi pluralistik masyarakat Madinah ini Nabi berusaha mencari titik temu berbagai golongan dengan terlebih dahulu mengakui eksistensi mereka. gereja katholik Roma mengakui eksistensi agama-agama lain. Interpretasi ajaran-ajaran agama seringkali mengarah kepada klaim kebenaran yang mutlak. dalam menghadapi penduduk Yerussalem yang kemudian dikenal sebagai “Piagam Aelia” [6] Agama-agama lain. Sikap demokratis akan tercermin sebagai kearifan dalam menafsirkan ajaran agama. sikap demokratis tersebut diatas perlu dikembangkan. Persoalan tersebut berhubungan dengan ajaran “Sateriologi” (tentang konsep keselamatan di luar kristus) Sebelum konselin Vatikan II.Sikap toleransi (tasamuh) ini dalam sejarah dakwah Nabi pernah dicontohkan dengan jelas.

Dengan demikian. Setiap benturan antar kepentingan terjadi. sebagaimana dalam pandangan teori struktur sosial. . namun menunjukkan tipe konflik yang berbeda. Sebagai contoh yang diangkat dalam penelitian ini adalah di daerah Pekalongan dan Semarang. KONFLIK SOSIAL Konflik social bisa dikatakan telah stua peradaban manusia itu sendiri. Banyak pakar ilmu social telah mengulas masalah konflik social ini berdasarkan sudut pandang yang beragam. Para pemikir lain yang menyumbangkan pandangannya tentang upaya penanganan konflik atau kekerasan. penghentian kekerasan harus dilihat secara serentak dalam struktur masyarakat. Agus Maladi Irianto dan Mudjahirin Thohir dalam penelitiannya yang dibukukan dengan judul “Membangun Rasa damai di Atas Bara”[10] mengklasifikasikan konflik sosial di Indonesia menjadi dua tipe. keterlibatan Negara (pemerintah) bersikap berat sebelah dalam rangka memaknai konstalasi kepentingan mereka ketika berlawanan dengan kepentingan publik. namun terkadang juga bisa saling terkait. yang merupakan aba-aba untuk melawan penguasa yang lalim (yang dalam kasus ini dialamatkan kepada partai tertentu yang menjadi penguasa). 1. Pertama.[9] Dan dilihat dari sudut pandang ini. dalam buku “Kekerasan dalam Perspektif Pesantren”[11] melihat penyelesaian kekerasan sebagai buah konflik dalam dua aspek sekaligus. C. Perlawanan ini dikeams dalam idiom “jihad”. keragaman masyarakat khususnya aspek agama tidak lagi dilihat sebagai ancaman. Pertama. pluralisme justru sangat diperlukan sebagai salah satu prasyarat bagi tumbuhnya demokrasi dalam masyarakat moderen. Dalam kehidupan demokrasi. maka dengan mudah mengemulsi dan mengukuhkan emosionalitas massa untuk melawan. Meskipun sama-sama daerah pesisir. Konflik vertical dan horizontal dapat terjadi atas dua alas an. Kedua tipe ini bisa berjalan sendiri-sendiri . disitulah muncul peluang konflik sosial. tetapi sebagai potensi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Di Pekalongan terjadi konflik terbuka karena kebudayaan dominan (kebudayaan pesisir) tersosialisasi dalam kehidupan kewirausahaan dan militansi keislaman yang egalitarian. ketidakmampuan Negara mengelola berbagai kepentingan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kedua. yaitu konflik vertical dan horizontal. seperti adanya ketidakadilan dan penyimpangan kekuasaan. Ketika pranata yang berdasarkan pada watak kewirausahaan dan keislaman diusik. Indonesia mempunyai potensi besar untuk berkembang menjadi masyarakat moderen yang demokratis dan religius.

Al Qur’an juga menyebutkan bahwa di dalam masyarakat yang pluralistik. perbedaan paham dan sebagainya. merupakan rumah bagi populasi muslim terbesar di dunia. Yang tak kalah menariknya adalah. Maka penanganan dan penyelesaian konflik haruslah bersifat simultan dengan peningkatan rasa keadilan dalam masyarakat dan tingkat kesejahteraan mereka. Al Kafirun. Alwi Shihab dengan menggunakan kacamata agama dalam bukunya “Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama”[12] menyatakan bahwa agama Islam menghargai perbedaan-perbedaan dari setiap agama. tentunya baik nilai-nilai universalitas dan pandangan pluralistis Islam telah menyumbang banyak untuk membangun falsafah hidup umat Islam vis a vis agama-agama lainnya. semua agama dapat hidup damai secara berdampingan. 3: 64). Aspek kedua adalah menyangkut cara atau metode penanganan kekerasan. Karenanya usaha penyelesaian konflik seringkali mengambil bentuk jangka panjang dan bertahap. bahwa sikap eksklusivisme agama tidak sesuai dengan jiwa dan pandangan Islam. Kesantunan budaya muslim Indonesia sama sekali tidak dapat dipisahkan dari ajaran Al Qur’an yang memerintahkan setiap orang beriman untuk menghargai satu sama lain atas dasar kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Q. Setiap tindak kekerasan sudah pasti tidak akan melahirkan kedamaian. Penyelesaian konflik atau kekerasan mensyaratkan daya inspirasi dan kreatifitas yang sangat tinggi dari masyarakat bersangkutan.S.[13] .. tetapi segera dapat diselesaikan dalam semangat hubungan persaudaraan. Tentu saja muncul konflik. Apakah penyelesaian kekerasan boleh dilakukan dengan kekerasan pula? Secara tegas tentu jawabannya adalah “tidak”. 109: 6). Dengan adanya karakter mozaik latar belakang budaya Indonesia. rakyat Indonesia telah hidup dalam tatanan kerukunan dan keharmonisan yang baik. politik. pemilu. Indonesia disifati oleh tradisi pluralisme yang luar biasa. ekonomi. namun justru akan memperluas dan memperbesar skala konflik. tanah. Pemicu kekerasan dan konflik dapat berangkat dari berbagai aspek seperti. dengan sikap saling menerima dan kreatif melebihi toleransi semata. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar dan keenam dalam luas wilayah. Melihat kenyataan bahwa Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Dengan perbedaan suku dan keyakinan beragamanya.Semakin tidak adil struktur masyarakat dan semakin kuat tingkat represi kekuasaan akan makin tinggi pula skala dan frekuensi kekerasan dan konflik.S. Ali Imran. Toleransi dan pemahaman Muslim di Indonesia tentunya juga diilhami oleh ayat “ Untukmu Agamamu dan untukku agamaku” (Q.

D. bahwa perbedaan agama merupakan factor pemicu perpecahan dan kekerasan yang potensial. Banyak pertanyaan yang seolah tak terjawab dengan kerangka berpikir yang dikemukakan para ahli. Dakwah Nabi Musa meneggelamkan Fir’aun (Ramses II) beserta pengikutnya ke dasar laut merah. POLITIK DAN KONFLIK SOSIAL Dalam sejarah agama-agama. apakah benar. Demikian juga kebangkitan Nabi Muhammad sebagai penutup nabi mengakhiri hegemoni politik kaum Quraisy. konflik demi konflik yang terjadi akhir-akhir ini di dalam masyarakat kita seolah menunjukkan adanya anomali-anomali akan jatidirinya. Namun dalam kenyataan. Misi agama Ibrahim menghancurkan bangunan politik Raja Namrud yang establish. Bahkan pada akhirnya mampu menjadi negara “adikuasa” menggantikan dua super power di barat Imperium Romawi dan super power di Timur kerajaan Persia Raya.Pandangan Al Qur’an menyangkut dialog sebagai cara yang diperlukan untuk berhubungan dengan dunia secara keseluruhan. perlu dilakukan klarifikasi untuk menemukan factor mana yang paling dominan. Konsep tentang konflik berikut strategi penyelesaian konflik yang dikemukaan para pakar secara teoritik tersebut sebetulnya sudah nampak jelas arahnya. Konflik semakin beragam dan menunjukkan karakteristik yang semakin garang. masalah keragaman dan perbedaan pendapat (ihtilaf). Permasalahannya adalah. ataukah ada factor-faktor lain yangdiatasnamakan agam? Karenaya. . kekuatan agama di satu sisi dan kekuatan agama di sisi lain seringkali terjadi ketegangan dan saling berhadapan. AGAMA. Terjadinya kontradiksi antara dua kekuatan agama dan politik bisa jadi karena perbedaan misi dari keduanya. jika agama kuat maka politik menjadi kuda tunggangan dan sebaliknya. Pada bagian selanjutnya dalam tulisan ini akan dikemukakan beberapa pandangan agama (Islam) tentang kerukunan hidup (ukhuwwah). Agama membawa misi moral dan politik bertujuan mencari kekuasaan. sedangkan politik boleh jadi mempolarisasi manusia berdasarkan kepantingan individu dan kelompok. Agama memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan yang universal. juga bertanggungjawab atas penghormatan dan toleransi Muslim Indonesia terhadap agama maupun kelompok lain sungguh patut dikembangkan. agama dan ketegangan politik dan munculnya fenomena kekerasan di era Reformasi. Keduanya selalu berkompetisi menjadi yang terkuat.

. sebenarnya bukan perang Islam Sunni di Iraq dengan Islam Syi’i di Iran. Demikian pula kenabian Luth mendatangkan hujan batu bagi umatnya yang membangkang. Korban yang diakibatkan karena agama (atau diatasnamakan agama) nampaknya telah menjadi latent. perang Iran-Iraq yang berlangsung selama 8 tahun. perang Vietnam dan sebagainya. Uraian di atas memberikan pengertian bahwa apabila kemauan politik (political will) bertentangan dengan ide moral agama. politik itu menghalalkan segala cara. pisik tapi menarik. Boleh jadi kepentingan ekonomi atau separatisme menunggangi agama. perang Muslim-Kristen di Bosnia Herzegovina.[14] Memperjuangkan agama dan politik seringkali membutuhkan korban. Perang saudar Hindu-Muslim di India. pembantaian massal yang dilakukan oleh Nazi. kehancuran pengikut David Koresh di Texas Amerika Serikat. maka ketegangan/konflik sosial akan terjadi. Misalnya. Sejarah mencatat terjadinya Perang Salib yang berlangsung selama berabad-abad antar Islam-Kristen. Risalah Nuh memakan korban tenggelamnya ribuan manusia dan binatang.Fenomena ketegangan antar agama dan politik ini telah menjadi kenyataan di Eropa pada abad pertengahan. Atas dasar ini cendekiawan barat umumnya begitu yakin bahwa persoalan politik dan moderenisasi harus dipisahkan dengan persoalan agama. licik bagai belut. Demikian juga untuk kepentingan politik. Dan pengorbanan. Perang agama telah menghancurkan peradaban yang sangat dahsyat. Demikian juga perang Arab-Israel. dan belakangan pecah di Ambon (antar Islam-Kristen). Idealnya misi agama dan politik dalam suatu masyarakat bangsa harus bisa berjalan selaras. ketika gereja dianggap menjadi penghalang proses moderenisasi. Sebab fenomena sosial sering bersifat kompleks dan multidimensional. Perang Arab-Israel di Timur. Menurut pandangan Nicollo Machievelli. dapat dipegang tapi tidak dapat diduga. Orang umum menyimpulkan bahwa politik itu indah tapi kotor. Dan masih banyak ungkapan lain yang bernada sumbang sebagai pembenaran kerajaan politik. Sulit dibedakan apakah satu peperangan atau konflik sosial muncul karena faktor agama atau faktor politik. melainkan kepentingan pihak ketiga yaitu Amerika. seperti perang saudara Sparta-Athena. yang kemudian populer dengan istilah sekularisasi. demikian pula ketegangan politik yang tak kunjung reda di Timur Tengah. saling mengisi dan bukan saling menunggangi. dan akibat kolonialisme negara-negara Eropa terhadap negara-negara dunia ketiga. Kekejaman politik terjadi di Tian Nan Men yang menewaskan ribuan manusia.

Tetapi hal ini juga bukan jaminan terwujudnya stabilitas dan integrasi nasional. mendapatkan perlawanan yang keras dari umat Islam.[15] Menjelang dan pasca kemerdekaan. Kemelut politik dan keamanan di tanah air pasca Orde Baru belum mampu di atasi secara baik. . salah satu faktor pendukungnya adalah justru penjajah Belanda. seandainya kedatangan para da’i dahulu juga menjajah secara politis. karena tidak saja menjajah secara fisik. Kondisi berhadap-hadapan antara kekuasaan dengan agama di Indonesia ini terus berlangsung hingga pada dekade awal 90-an. Gencarnya perlawanan kaum Muslimin terhadap Belanda yang dicap sebagai “bangsa kafir” mendorong Belanda untuk mengubah strategi pendekatan untuk memperoleh simpati dan dukungan dari umat Islam. mungkin tidak akan terjadi mayoritas sebagai muslim seperti sekarang ini. pertama. ketegangan antar agama dan politik tetap berlanjut meskipun dalam bentuk dan motif yang berbeda. fungsi sebagai missionaris Kristen dilakukan secara samar dan persuasif. ketiga. berusaha memisahkan urusan agama dengan politik. Keberhasilan Islamisasi di Indonesia. sehingga memicu timbulnya berbagai kerusakan dan kekerasan massa. Hal ini terbukti dengan masih sering munculnya berbagai gejolak sosial di beberapa daerah. berusaha memanfaatkan agama dan para tokohnya untuk mendukung dan sebagai justifikasi segala kebijakan yang ditempuh. Diterpa oleh krisis yang berkepanjangan dalam berbagai aspek. Cita-cita reformasi untuk mewujudkan masyarakat madani dan berkeadilan dan demokratis.Kolonialisme di Indonesia. kedua. Ketegangan ini bermula dari kenyataan bahwa umat Islam sebagai mayoritas tidak mendapatkan porsi kekuasaan yang seimbang dengan perjuangan dan pengorbanannya. Sebab pada era Reformasi dan Demokratisasi sedang dibangun. berupa unjuk rasa dan bahkan meningkat menjani kerusuhan dan kekerasan. agaknya masih jauh dari harapan. baik rezim Orde Lama maupun Orde Baru. Tiga strategi yang diterapkan yang sekarang ini dirasakan pengaruhnya adalah. membuat banyak kalangan hampir-hampir kehilangan pedoman dan kehabisan kesabaran. ancaman stabilitas dan disintegrasi justru semakin berat. ketika golongan Islam mulai masuk dalam lingkaran kekuasaan. Atau sebaliknya. Ini semua menunjukkan bahwa ruwet masalah yang harus dihadapi. material dan politis. yang disebut dengan sekularisasi. misalnya. tetapi juga menjajah ideologi Islam dan bahkan membawa Ideologi baru (Kristen) yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang berkembang. dan agama Hindu atau Budha yang justru akan menjadi identitas bangsa Indonesia melawan penjajah. Hal ini ditandai oleh maraknya berbagai demonstrasi massa yang tidak dewasa. Mungkin tidak demikian kejadiannya jika Belanda adalah bangsa Muslim.

Aksi-aksi kekerasan massa yang bermotifkan agama dan SARA menjadi tema dan model. Secara langsung kita melihat betapa kuatnya pengaruh IMF dan desakan negara-negara maju terhadap Indonesia. dan LSM sertadapat bersifat perorangan. Umumnya pihak asing mempunyai misi mengarahkan Indonesia menjadi negara yang tak berdaya dan selalu tergantung kepada pemberian-pemberian yang tidak imbang. Faktor ketiga. seperti para elite polotik. mengalirnya barang haram. ditambah dengan upaya-upaya politisasi agama yang marak pada era Multi partai sekarang ini. harga gula dan hasil-hasil pertanian lain yang tidak mencukupi kebutuhan hidup yang layak. setelah Pemilu usai mereka kecewa. Kekuatan-kekuatan tersebut dapat berbentuk Parpol. Para elite politik dan pemimpin massa. Pertarungan antar kekuatan inilah potensial terjadinya konflik massa. Faktor-faktor tersebud adalah: Faktor pertama. keprihatinan para petani dengan harga gabah yang anjlok. Termasuk dalam hal ini adalah pemberitaan vulgar dan tidak selektif. Tetapi dalam implementasinya. keresahan masyarakat lapis bawah yang merasa ditinggalkan oleh para elite politik yang dulu memberi janji-janji manis. Ormas. Saat ini juga banyak LSM yang berpikir sepihak untuk mencari keuntungan ekonomi. Demikian juga pemberitaan yang kurang obyektif dan memihak akan turut mempengaruhi pendapat umum. keberagaman muncul dalam bentuk fanatisme sempit. didesain sedemikian rapi untuk sarana-sarana tertentu. Faktor kedua. dan sebagainya.rakyat kecil merasa hanya diperalat dan digerakkan untuk memenangkan salah satu parpol saja. Seringkali opini politik dibangun. Gejala lain yang terus harus diwaspadai adalah. maka ada beberapa faktor yang dapat memicu lahirnya konflik dan kekerasan yang harus diperhatikan. tanpa ada perubahan nasib yang signifikan. Contoh riil dalam hal ini. kini sibuk mengurus kepentingannya sendiri atau kelompoknya. eliteorimordial yangdekat dengan kekuasaan. akan membangkitkan semangat “meniru”. NGO dan infiltrasi yang bertujuan melakukan proses pembusukan dari dalam. adanya pertarungan amatir antar kekuatan untuk dapat masuk ke dalam lingkaran kekuasaan. Faktor keempat. di samping faktor fanatisme agama tersebut. psikotropika (NARKOBA) yang turut memperkeruh dan merusak moral bangsa. Agama-agama memeang mengajarkan kepada umatnya kerukunan dan kedamaian hidup. Dalam prespektif integrasi nasional. . media informasi yang bebas dan hampir-hampir out of control juga dapat medorong ke arah disintegrasi. adanya intervensi pihak asing baik langsung maupun terselubung. Keadaan seperti ini bisa menimbulkan ari klimak dan frustasi yang mengancam kelangsungan hidup bangsa.

. Kondisi seperti ini sangat dikhawatirkan menjadi pemicu terjadinya revolusi sosial. Karena mereka menganggap semua perubahan ini justru akan menuju kepada keadaan yang tidak tentu. kedamaian. bahkan cenderung menolak dan menyalahkan apa yang terjadi. Faktor keenam. atau masa depan. yang sangat bersifat “polits”. Inilah beberapa faktor yang sewaktu-waktu dapat memicu lahirnya konflik yang bersifat “ideologis” dan ada konflik-konflik dan kekerasan. Sedang pada tingkatan yang bersifat politis. konflik tersebut muncul dalam bentuk konflik antar sistem nilai yang dianut dan telah menjadi ideologi dari berbagai kesatuan sosial. adanya fenomena budaya yang kontradiktif sedang terjadi. dengan budaya demikratis yang sedang berkembang. dan mendambakan lahirnya tata kehidupan yang demikritis. toleransi (tasamuh) dalam keberagaman. Semua agama tentu mengajarkan kepada umatnya tentang kerukunan. dan yakin bahwa badai akan segera berlalu dan berganti dengansuasana yang penuh dengan kemakmuran dan keadilan. Sedangkan pada tngkatan yang bersifat ideologis. Mereka tidak sabar dan tidak tahan melihat perubahan-perubahan yang sedang terjadi saat ini. Sebagian masyarakat masih menggambarkan massa lalu lebih baik daripada masa kini. antara budaya feodalistik otoritarian pengikut status quo. Ajaran agama memberikan arah untuk mewujudkan pribadi yang paripurna (insan kamil). berpikir/berprasangka yang positif. Agama dan akal sehat akan menghindari sejauh mungkin konflik dan perpecahan dalam umat. nelayan. AGAMA SEBAGAI AJARAN KEDAMAIAN Agama dan kekerasan tentu merupakan dua hal yang paradok.Faktor kelima. Tetapi kadang-kadang perbedaan keduanya sangat tipis. Dalam hal ini konflik arama termasukdalam konflik yang bersifat ideologis. Pada tingkatan yang bersiifat ideologis. yakni proses pemiskinan dan tekanan ekonomi yang kian sulit pada masyarakat kelas bawah. keadilan. konflik tersebut terjadi dalam bentuk pertentangan di dalam pembagian kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi yangterbatas adanya di dalam masyarakat. Sementara itu masyarakat yang pro-reformasi. tetap sabar dan menyadari akan resikoresiko dari perubahan sosial yangterjadi. terlebih disertai dengan tindak kekerasan. seperti petani. E. buruh dan lain-lain akan melahirkan jurang kesenjangan yang semakin dalam dan memunculkan kecemburuan sosial. 1. saling menghormati dan menghargai sesame. Dalam masa transisi yang penuh dengan gejolak ini banyak petualang yag sedang brspekulasi untuk memancing di air keruh. Banyaknya penggunaan dan menurunnya pendapat masyarakat kecil.

[19] Atas dasar prinsip inilah. Manusia. binatang. sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an’ “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai …”. maka ukhuwwah dapat diklasifikasikan dalam empat tingkatan. Ukhuwwah fi al-‘Ubudiyyah. dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya. maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”[17] Pernyataan Al-Qur’an bahwa manusia adalah umat yang satu dan tidak terpecah-pecah diulang-ulang dalam berbagai tempat dengan konteks yang berbeda. sebagaimana dipakai arti untuk saudara kandung.[20] Ukhuwwah dalam arti asalnya. adakalanya “ikhwan” sebanyak 7 kali digunakan untuk makna persaudaraan seketurunan. misalnya pada ayat-ayat tentang waris dan sebagian yang lain dipakai untuk arti saudara sebangsa walau tidak seagama. sebagai berikut: 1. Persaudaraan se-mahluk ini misalnya ditunjukkan dalam firman Allah: “ Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi.Ajaran Islam sangat menganjurkan semua pemeluknya untuk senantiasa hidup rukun. yaitu ukhuwwah yang dibangun atas dasar persamaan se-mahluk. al-A’raf: 65.[16] Di dalam ayat lain dinyatakan pula bahwa manusia adalah umat yang satu (Ummatan wahidah). yaitu persamaan. dan bahwa anggota masyarakat muslim juga saling bersaudara. Kerukunan dan persaudaraan di dalam istilah Islam disebut dengan “ukhuwwah”. bahwa semua manusia adalah bersaudara. yang oleh karenanya harus dapat hidup berdampingan. sedangkan dalam bentuk jama’-nya. sebagaimana yang ditunjukkan dalam beberapa ayat maupun hadits Nabi. maka interaksi manusia dengan sesamanya harus didasari keyakinan.S. Dalam kamus bahasa.S. yang berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. tumbuhan dan alam semesta adalah sama-sama sebagai ciptaan Allah. al-An’am:38) Persamaan lain adalah. seperti pada Q. Dalam Al-Qur’an disebutkan: . sebagai mahluk ciptaan Allah yang sama-sama tunduk dan sujud kepada Allah.” (Q. ukhuwwah juga dibangun dari akar kata “akhkh” (dalam bentuk mufrad) ditemukan 52 kali. bersatu dan tidak terpecah belah.[18] Al-Qur’an juga menyatakan bahwa manusia – apapun jenis kelamin dan status sosialnya. kecuali umat seperti kamu juga. “Manusia itu adalah umat yang satu.diciptakan dari jenis yang sama (min nafs wahidah).

menyembelih harus dengan pisau yang tajam. baik dalam mendermakan harta maupundalam mendakwahkan agama. bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit. al-Hajj: 18) Dari konsep ukhuwwah semahluk ini. Ajaran Islam justru selalu menekankan agar mendahulukan keluarga dekat. Dari persamaan-persamaan inilah. Jadi ukhuwwah jenis ini dibangun atas prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal (lihat Q. yaitu persaudaraan yang dibangun atas dasar persaman-persamaan sebangsa (tanah air) dan seketurunan (suku). Sedangkan persaudaraan seketurunan akan melahirkan “nepotisme”.[21] 1. rasa memiliki dan mempertahankannya. matahari. bintang. dan sebagian besar manusia.S. Ukhuwwah jenis ini cakupannya lebih sempit. akal dan perasaan.S. Manusia berasal dari keturunan yang sama. Ukhuwwah Wathaniyyah termanifestasikan dalam bentuk-bentuk.“ Apakah kamu tiada mengetahui. bulan. Dalam ajaran Islam. partai politik. di bumi. baru kemudian orang lain. Ukhuwwah fi al-Wathaniyyah wa al-Nasb. Dan persaudaraan basyariyyah tidak membedakan batas-batas agama. sesame manusia harus hidup bersaudara dan saling membantu dalam memenuhi berbagai kebutuhannya. manusia dituntut berbuat baik dan ramah kepada alam lingkungannya. 1. dan merampas hak-hak orang lain yang bahkan keluarga. yaitu perasaan ingin mendahulukan kerabat dari orang lain yang bukan kerabat. . status sosial dan sebagainya. Ukhuwwah fi al-Insaniyyah/Basyariyyah. namun ikatan atau fanatismenya lebih kuat. mempunyai bentuk fisik yang sama. Sabda Nabi”hubb al-wathan min al-iman” (Cinta tanah air adalah sebagian dari iman).[22] Nepotisme yang dilarang adalah bentuk-bentuk mendahulukan dan memproteksi kluarga dengan cara yang tidak adil. budaya. pohon-pohonan. diberikan potensi dasar yang sama. seorang muslim tidak boleh menyiksa binatang.” (Q. pilih kasih. warna kulit. al-Hujarat: 13). yaitu persaudaraan yang dibangun atas dasar persamaan kemanusiaan. Nepotisme seperti ini sebenarnya tidak salah. binatang-binatang melata. gunung. Nasionalisme ini juga dibenarkan oleh Islam.yang sering disebut dengan istilah nasionalisme. cinta tanah air.

” Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim Nabi Saw juga bersabda: “ Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan mereka. sehingga tidak bisa tidur dan terasa panas. Islam menganjurkan untuk mencari titik singgung dan titik temu. dan status-status sosial lainnya. tidak hanya kepada sesame muslim. Apabila salah satu dari anggota badan itu menderita. bahkan terhadap orng-orang non-muslim.amanah). dan kelembutan mereka adalah bagaikan satu badan. jika misalnya dalam pelaksanaannya mengganggu Ukhuwwah Wathaniyyah tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam dan kemanusiaan.1. Tidak boleh mengatasnamakan Ukhuwwah Islamiyyah.” Berbagai jenis dan tingkatan Ukhuwwah ini dalam pelaksanaannya harus saling menguatkan. Ukhuwwah fi al-Din al-Islam (Islamiyyayh). dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Ungkapan “Sesama muslim adalah saudara” adalah prinsip Islam yang sangat jelas diterangkan dalam Al-Qur’an. tidak menghalangi manusia untuk dapat hidup secara rukun dan saling mendukung. belas kasihan mereka. dan sejenisnya. budaya. maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan.[24] Dengan demikian perbedaan-perbedaan agama. yaitu persaudaraan yang dibangun atas persamaan seagama Islam. Di antaranya Nabi Saw bersabda: “Janganlah kamu saling dengki dan saling bermusuhan. Dalam ajaran Islam. saling membohongi. dan jangan pula meninggalkan (saudara sesame muslim) tanpa pertolongan.[23] maupun dalam hadist Nabi. dan segala urusan dalam tingkat apapun harus diusahakan dengan jalan musyawarah. meskipun tidak diturunkan aturan-aturan rinci dalam mu’amalah namun diberikan petunjuk yang jelas tentang etika-etika yang harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya. Janganlah kamu saling mengkhianati. baik yang bersifat internal (interen umat beragama) maupun eksternal (antar umat beragama) agar tidak berimplikasi negative. harus ditegakkan dalam kehidupan bermasyarakat. maka perlu ditegakkan beberapa prinsip dan etika sebagai berikut: . Misalnya harus ditegakkan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran (adalah. Menghadapi perbedaan golongan dan perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat.

Perlu ditegakkan sikap-sikap toleransi (tasamuh). Dalam bidang teologi. (Q. menegakkan etika berbeda pendapat. Keempat. maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan”. dan potensial dipahami secara berbeda. Perbedaan ini tidak bisa dielakkan. bersikap positif. dan sebagainya. surga dan neraka. Menghilangkan perbedaan adalah hal yang mustahil. Yang penting adalah. karena bertentangan dengan sunnat Allah. misalnya. yang meskipun berbeda-beda pandangan dan golongan. perlu dikembangkan sikap berbaik sangka (husnul al-dzan). Kedua. agar hidup menjadi dinamis dan berkembang. Syafi’i. Perbedaan pendapat dalam segala aspek kehidupan manusia merupakan fenomena yang telah lahir dan akan berkelanjutan sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam Islam. beriman dan kafir. kami berikan aturan dan jalan yang terang. laki-laki dan perempuan. agar bisa saling mengukur dan berkompetisi secara sehat. ada yang kaya dan miskin. Sekiranya Allah menghendaki. Ada beberapa etika yang harus dipegangi demi terwujudnya integritas sosial. Manusia diciptakan dalam dua jenis. 1. tetapi dapat hidup rukun dan aman. Dunia ini ada karena dibangun oleh pertautan berbagai unsur yang berbeda. 1. Zhahiri.1. tidak . sikap “tepo-seliro” saling menghormati. Ketiga. yaitu menilai pihak lain yang berbeda secara proporsional dari sisi kekurangan dan kelebihannya. al-Maidah: 48) Hikmah diciptakannya perbedaan ini. niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja. tidak boleh merasa benar sendiri. Pertama. Allah Swt berfirman: “ Untuk tiap-tiap umat diantara kamu (umat Muhammad dan sebelumnya).S. Hanafi. karena kebenaran mutlak adalah milik Allah dan kebenaran penemuan manusia bersifat relatif. dan sebagainya. Perbedaan adalah sunnat Allah. karena Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber ajaran Islam yang utama bersifat Interpretable. Tetapi Allah hendak menguju kamu terhadap pemberianNya. perbedaan pendapat dan lahirnya golongan-golongan sudah mulai muncul pada masa Khulafah ar-Rasyidin dan terus berkembang pada periode-periode berikutnya. dengan sifat baik dan buruk.S. masingmasing mempunyai identitas. tidak mengejek dan menghina pihak lain yang berbeda (Q. Hambali. al-Hujurat: 11). lahir kelompok Syi’ah. Khawarij.

Inilah beberapa prinsip etika bermasyarakat menurut ajaran Islam. .memaksakan kehendak kepada orang lain dengan kekuasaan. Dakwah harus dilakukan secara terbuka dan demokratis. yang untuk saat sekarang ini semakin relevan untuk dikembangkan dalam kehidupan masyarakat plural seperti Indonesia ini.

sudah dipandang sebuah penyimpangan yang sangat prinsip. Penyimpangannya sudah sangat prinsip. dan Kitab Tadzkirah. karena mendapatkan dukungan dari golongan agama-agama lainnya. dan menegaskan penyimpangan Ahmadiyah. melalui Litbangnya yang dipimpin Atho Mudhar telah mengumpulkan bukti-bukti. yang dikalangan Islam. tetapi dengan bukti-bukti yang bersumber dari dokumen-dokumen Ahmadiyah sendiri. Membela agama yang diyakini itu sebuah keniscayaan. Ormas-ormas Islam telah pula memberikan informasi yang valid kepada pemerintah bahwa Ahmadiyah. daya tahan hidup. harus dilihat akar masalahnya. Tetapi. dan bahkan orang bersedia mati. Departemen Agama Republik Indonesia. pemerintah Barat. sebuah gerakan yang menyimpang dari mainstream (arus utama) dalam Islam. Membela dan menegakkannya itu sebuah kewajiban. 09/02/2011 09:36 WIB | Arsip | Cetak Demi sebuah keyakinan agama. yang terkait dengan masalah aqidah (iman). yang mengakibatkan tiga anggota Ahmadiyah mati. Para pemuka Ahmadiyah terus mengajarkan ajaran mereka. dan dibenarkan oleh hukum. demi membela keyakinan agamanya. dan sejumlah pejabat lainnya. Sudah bertemu dengan Menteri Agama. sehingga menyebabkan mereka semakin bersikukuh dengan gerakannya. tetap bersikeras. Ahmadiyah yang mengaku golongan Islam. Kejaksaan. kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). orang bersedia melakukan apa saja. tetapi prakteknya mempunyai Nabi Gulam Mirza Ahmad. bahwa gerakan yang mereka lakukan tidak salah. Bukan para pemuka Islam tidak melakukan tindakan secara persuasip. Para pemimpin ormas Islam telah bertemu dengan seluruh aparat negeri ini. Menyampaikan pandangan dan pendapat mereka tentang gerakan Ahmadiyah. Semuanya yang disampaikan itu bukan rekaan dan mengada-ada.Perang Antar Agama di Indonesia? Rabu. Para tokoh Ahmadiyah merasa kuat dan percaya diri. Padeglang. dan mengutamakan dialog. Agama yang diyakini oleh seseorang memberikan motivasi. Mereka tidak lagi memperhatikan . Peristiwa yang terjadi di Cikeusik. Kepolisian. yang menjadi sumber konflik. para pemimpin Ahmadiyah.

dan masukkan.pendapat para pemimpin Islam dan para ulama. tidak ragu-ragu. pandangan. Tidak akan pernah ada konflik antara golongan Islam dengan Ahmadiyah. Karena itu dianggap melanggar hak-hak asasi manusia. sesungguhnya tidak akan ada konflik antara golongan Islam dengan Ahmadiyah. mereka berusaha sekuat tenaga menghapus SKB itu. Mengembangkan gereja di sembarang tempat. sama dengan pemerintah mendorong adanya konflik terbuka antara golongan Islam dan Ahmadiyah. ulama dan ormas-ormas Islam sudah memberikan pendapat. Mereka ingin mendirikan gereja. Bagi mereka itu sebuah pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan agama. orang yang beragama Kristen hanya tiga orang. Orang-orang Kristen sudah sejak awal Orde Baru. Para pemimpin Islam. Presiden SBY mempunyai diskresi (kewenangan) untuk mengambil tindakan dan keputusan. yang mengatur tata cara pembangunan tempat ibadah. Golongan Kristen ingin mencabut dan membuang SKB Tiga Menteri. walaupun di kampung itu. dan kebebasan beragama. seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an. jika pemerintah mau bertindak tegas. mereka sudah menolak segala aturan yang akan mengatur kegiatan dan aktivitas keagamaan. menghadapi gerakan Ahmadiyah. Mereka bisa mendatangkan jemaah dari mana saja untuk memenuhi gereja itu. Kasus Temanggung Orang-orang Kristen sangat agresif ingin memurtadkan orang Islam. di zaman awal pemerintah Soeharto. Dengan dalih kebebasan agama. Justru membiarkan Ahmadiyah tetap ada. karena adanya SKB itu menjadi belenggu bagi mereka. dan tidak melarangnya. dan terus melakukan aktivitas dan mengembangkan gerakan Ahmadiyah. Seandainya Presiden SBY mengeluarkan keputusan melarang gerakan Ahmadiyah. ke tong sampah. . dan keputusan ada di tangan pemerintah. Karena mereka tujuannya ingin menjadikan orang Islam sebagai pengikut mereka. Tidak peduli di tengah-tengah kampung orang Islam. Surah alBaqarah. ayat 120.

dan menuntut adanya kebebasan beragama. mereka anggap sebagai ‘dombadomba’ yang harus digembalakan. dan yang dikenal dengan Yasinan. ujung dari semuanya itu. yang sangat berbeda dengan kebiasaan mereka. Orang Islam pagi hari di kampung-kampung. seperti Din Syamsuddin dan Syafi’i Ma’arif. dan tidak biasa mendengarkan nyanyian paduan suara gereja. tetapi ujungnya diajak masuk ke dalam agama Kristen. Mereka juga masih menghina dan melecehkan agama Islam dan Nabi Muhammad. dan menolong orang yang lemah. Mereka menghina dan mendurhakai terhadap Nabi SAW dengan segala kata-kata yang tidak patut dan tidak senonoh. Agar mereka bisa mendirikan gereja di setiap sudut kampung. terus mendirikan gereja.Tentu. panti asuhan. termasuk ada di dalamnya tokoh-tokoh Islam. . orang-orang islam menjadi terganggu dengan segala aktivitas mereka. dan shalawatan. Sampai hari ini masih terus berlangsung. Mereka seakan menjadi orang-orang yang penuh dengan kasih. Mereka mendirikan sekolah. dan pagi-pagi sudah terdengar puji-pujian lagu rohani ‘haleluya’. dan mendirikan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Mulut mereka meneriakkan tentang toleransi dan cinta.yang menjadi ‘cover’ gerakan pemurtadan yang mereka lakukan terhadap pengikut agama Islam. rumah sakit. Persis seperti yang dilakukan dikalangan Kristen Eropa sekarang terhadap Islam dan Nabinya. tetapi prakteknya adalah hanya penistaan. agama yang mereka anggap benar. Artinya. mengangkat tentang kebohongan Pemerintah SBY. Rakyat terperangah. ketika para tokoh agama itu. yang mengangkat tentang kebohongan pemerintah. Karena didalam persepsi orang-orang Kristen. mereka tidak mau peduli. Mereka melakukan manuver politik bersama dengan golongan agama-agama lainnya. Tetapi. dan digiring ke dalam agama mereka dengan berbagai iming-iming. menyebarkan agama mereka dengan leluasa di masyarakat. yang mereka manfaatkan. hanya ingin mencabut SKB. tujuan manuver yang mereka lakukan itu. Ujungnya mereka selipkan untuk mendapatkan kebebasan beragama dengan tujuan untuk memurtadkan orang Islam. harus dimasukkan ke dalam agama mereka. tiba-tiba dikampungnya berdiri gereja. nampak jelas. Mereka memanfaatkan orang-orang Islam yang lemah. Tetapi. di luar golongan mereka. ibu-ibu majelis ta’lim membaca surat Yasin. yang menyebabkan pemerintah terpojok.

dan usai persidangan Abdul Qayyum. Bukan barang mainan. dan perwakilan pusat Ahmadiyah berada di negeri induk semangnya Inggris. yang kemudian mengakibatkan tewasnya seribu pengikut Ahmadiyah. lalu dia tinggalkan isterinya pergi pengadilan New Delhi. mengutip Surah an-Nur. . Inilah yang harus diperhatikan oleh semua golongan. mencari orang yang menghina Nabi Muhammad Shallahu alaihi was salam. karena menghina agama Islam. Gubernur negara bagian terbesar Pakistan. Punjab. pernah terjadi perang.Di Pakistan. Tak ada lagi di Pakistan. Wallahu’alam. Dalam tafsir Al-Azhar yang dikarang Buya Hamka. Buya Hamka. karena Taseer yang beraliran liberal membela seorang wanita Kristen yang dihukum mati. menceritakan bagaimana seorang pemuda yang baru sehari menikah. Sekarang Ahmadiyah sebagai gerakan terlarang. Agama sebuah keyakinan. Karena hanya akan menyulut perang antara agama. tewas ditembak pengawalnya sampai dua puluh kali. demi keyakinan agama. Kemudian menemui ajalnya. kemudian membunuh orang yang menghina Nabi. Taseer. agar tidak bertindak sewenangwenang. berdiri dan mencabut pisaunya yang diletakkan diatas sorbannya. Taseer membelanya. dulu sebelum pemerintah melarang Ahmadiyah. Setiap orang bersedia melakukan apa saja.

Bagi masyarakat. tanpa pemerintah mampu mengatasinya. sekedar untuk mengalihkan dari beberapa issu sensitif. khususnya yang mengatasnamakan agama dan kelompok. menimbulkan berbagai pandangan seakan-akan kehidupan beragama di Indonesia sudah berada dalam kondisi kritis karena memudarnya rasa toleransi dalam kemajemukan. sehingga korban pun terus berjatuhan. memunculkan keprihatian banyak pihak. tentunya memunculkan berbagai gugatan dari masyarakat terkait peran pemerintah sebagai institusi pelindung warga negara. Munculnya berbagai aksi kekerasan. sudah kehilangan wibawanya dihadapan masyarakat. kita semua sepakat bahwa kekerasan tidak boleh dijadikan instrument untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Konflik internal dan lintas agama tidak henti-hentinya mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. tokoh agama dan tokoh masyarakat yang diharapkan menjadi peredam terjadinya aksi kekerasan. tetapi sudah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama dan kelompok masyarakat. maupun keagamaan. sehingga kekerasan terjadi secara berulang tanpa sedikitpun masyarakat takut melakukannya. Temanggung. tidak saja masyarakat tetapi juga pemerintah. maraknya kasus kekerasan menimbulkan pertanyaan tentang apakah hak warga Negara untuk bebas beragama dan berkeyakinan masih memperoleh perlindungan dari Negara. . padahal konstitusi dengan tegas memberikan jaminan atas kebebasan tersebut. sehingga ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan jaminan ini dianggap sebagai sebuah kegagalan dalam menjalankan perannya. baik persoalan sosial. sedangkan bagi pemerintah. karena dengan penyelesaian melalui kekerasan sudah dapat dipastikan akan memunculkan permasalahan baru yang tidak kalah kompleksnya. tidak hanya terjadi pada beberapa bulan terakhir ini saja. mengingat konstitusi dengan tegas memberikan jaminan kepada semua warga Negara untuk bebas dalam menjalankan agama dan keyakinannya. hukum.Mencegah Aksi Kekerasan Berlatarbelakang Agama Pencegahan Kekerasan dengan Mengatasnamakan Agama Pendahuluan Merebaknya beberapa kasus kekerasan bermotif SARA yang terjadi di Cikeusik Pandeglang. Tanpa bermaksud mencari siapa yang benar dan siapa yang salah sehingga kasus kekerasan datang bertubi-tubi di tengah-tengah masyarakat. sehingga kesan yang muncul bagi sebagian kalangan adalah pemerintah melakukan pembiaran terhadap aksi kekerasan ini. Ironisnya. dan terakhir di Pasuruan. justru telah berubah menjadi pemicu dan pendukung utama aksi ini. Munculnya keprihatinan terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama di Indonesia. maraknya kasus kekerasan patut menjadi pertanda apakah pemerintah sebagai institusi yang sejatinya menjadi pelindung masyarakat.

preemptif. Bahkan. banyak faktor yang menjadi pemicu munculnya aksi kekerasan yang dilakukan oleh anggota masyarakat yang mengatasnamakan agama atau kelompok. memang tidak ada kesamaan.Demikian kompleksnya masalah kekerasan berlatarbelakang masalah SARA yang menyelimuti kehidupan masyarakat Indonesia. baik pemerintah maupun non pemerintah. sehingga yang muncul adalah bagaimana mempertahankan agar kelompoknya yang paling benar. menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang untuk mengatur masalah kekerasan Agama dan Golongan hingga munculnya himbauan kepada aparat keamanan untuk melakukan tindakan tegas dalam bentuk tembak ditempat terhadap pelaku yang secara sengaja melakukan kekerasan agama dan kelompok ini. sehingga golongan yang berbeda keyakinan dianggap sebagai lawan. Masih kuatnya sikap saling curiga mencurigai antara umat beragama atau kelompok tertentu. masalah penanggulangan kekerasan selalu menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. tidak kurang dari 3 (tiga) kasus kekerasan dengan mengatasnamakan agama sudah terjadi. Aksi kekerasan di Indonesia Jika memperhatikan pada data yang dihimpun oleh berbagai kalangan. Jika memperhatikan pada kasus-kasus kekerasan yang terjadi selama ini. Adanya kesalahan dalam mengimplementasikan perintah agama. seperti aksi kekerasan di gedung pengadilan. angka kekerasan ini mengalami peningkatan yang relatif signifikan pada beberapa tahun terakhir ini. kekerasan supporter olah raga. tampaknya mereka mimiliki kesamaan pendapat yaitu semua komponen bangsa merindukan kedamaian kembali terwujud di bumi pertiwi. Apapun solusi yang dikemukakan oleh berbagai kalangan. karena kekerasan sudah menjadi permasalahan yang multi aspek. yang dapat menjadi pemicu terganggunya keutuhan bangsa dan Negara Indonesia. Munculnya kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan kelompok tertentu. hampir dalam setiap Rencana Strategis Polri. 3. sikap saling mencurigai antar kelompok agama atau masyarakat akan tetap tumbuh subur. 2. Tidak mengakarnya rasa toleransi dikalangan masyarakat. 4. preventif. Kondisi ini semakin memberikan gambaran bahwa penanggulangan kekerasan. Angka ini belum termasuk aksi-aksi kekerasan yang dilakukan di luar alasan keagamaan. dan sebagainya. Namun yang pasti. seperti pembubaran kelompok atau Ormas yang selama ini disinyalir sebagai dalang dari semua aksi kekerasan. sehingga banyak pihak yang mengusulkan berbagai solusi. Namun tetap saja kekerasan demi kekerasan terjadi. kekerasan mahasiwa. Menghadapi fenomena kekerasan ini. baik dengan pendekatan. pada 2 (dua) bulan pertama tahun 2011. tanpa adanya dukungan dari instansi terkait lainnya. hingga represif. Bahkan. di antaranya: 1. karena tanpa kedamaian. tidak dapat dilakukan hanya oleh institusi Polri semata. sudah banyak upaya yang dilakukan jajaran Polri untuk mengatasinya. terkait aksi kekerasan yang ditujukan kepada penganut agama (keyakinan) atau kelompok tertentu. .

Menghimbau kepada instansi terkait (pemerintah atau non pemerintah) untuk berupaya mencegah mengeluarkan kebijakan yang dapat memicu terjadinya aksi kekerasan masa dengan mengatasnamakan agama atau kelompok. sehingga para pelaku seolah kebal terhadap hukum. 5. Meningkatkan deteksi dini terhadap berbagai peristiwa yang potensial menjadi pemicu munculnya aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama atau kelompok. Melakukan sosialisasi tentang upaya mewujudkan keharmonisan antar warga masyarakat bersama dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. dan yudikatif. Kekurangtegasan dalam bersikap dari pemerintah dalam menghadapi aksi kekerasan yang dilakukan kelompok agama atau masyarakat tertentu. Pandangan pemerintah dan masyarakat selama ini selalu menyebutkan bahwa toleransi di Indonesia sudah baik sehingga kasus-kasus kekerasan yang terjadi selalu dianggap sebagai masalah kecil. Meminta dukungan dari berbagai kalangan. berarti kita menyimpan bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. 6. legislatif. . 4. Alternatif Penyelesaian Agar kasus-kasus kekerasan yang selama ini terjadi tidak menjadi pemicu munculnya kondisi disharmonis di antara anggota masyarakat. sehingga setiap tindak tegas tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM. tidak terkecuali tokoh agama dan tokoh masyarakat.5. bukan hanya menghancurkan umat beragama. Melakukan berbagai aksi sosial dan keagamaan yang ditujukan untuk membangun dan menumbuhkembangkan rasa solidaritas dan harmonitas antar umat beragama (masyarakat). di antaranya: 1. sekaligus mencegah pemerintah kehilangan wibawanya di mata masyarakat. 6. Semua pihak harus melakukan berbagai upaya yang lebih komprehensif dan terarah untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang toleran dan damai di bumi Indonesia. maka perlu ditetapkan beberapa alternatif penyelesaian. padahal hal tersebut memicu munculnya sikap tidak waspada. terhadap setiap tindakan tegas yang akan dilakukan guna mencegah kekerasan dengan mengatasnamakan agama dan kelompok. Melakukan kaji ulang terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang potensial menjadi pemicu munculnya kondisi disharmonis di tengah-tengah masyarakat. 3. 2. Penutup Berbagai bentuk kekerasan sudah saatnya diakhiri. tetapi juga Indonesia tercinta. eksekutif. sehingga dapat dihasilkan kesamaan pandang tentang makna keharmonisan. Jika tidak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->