BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sejumlah pengamat Barat memandang al-Qur’an sebagai suatu kitab yang sulit dipahami dan diapresiasi. Bahasa, gaya, dan aransemen kitab ini pada umumnya menimbulkan masalah khusus bagi mereka. Sekalipun bahasa Arab yang digunakan dapat dipahami, terdapat bagian-bagian di dalamnya yang sulit dipahami. Kaum Muslim sendiri untuk memahaminya, membutuhkan banyak kitab Tafsir dan Ulum al-Qur’an. Sekalipun demikian, masih diakui bahwa berbagai kitab itu masih menyisakan persoalan terkait dengan belum semuanya mampu mengungkap rahasia al-Qur’an dengan sempurna.1 Sebagai seorang Muslim kita memiliki ikatan yang kuat dengan nilainilai imani al-Qur’an. Dalam pada itu, tidak mudah begitu saja memisahkan diri dengan nilai tersebut. Mempelajari al-Qur’an bagi seorang muslim tidak hanya semata-mata mencari kebenaran ilmiah, namun lebih dari itu yakni mencari isi kandungan dari rahasia al-Quran. Jika ayat-ayat al-Qur’an itu diperhatikan sepintas lalu terkesan seperti tidak ada korelasi satu dengan yang lain, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudahnya, karena ayat-ayat tersebut tampak seolah-olah terputus atau terpisah. Tetapi bila diamati secara seksama akan nampak jelas adanya munasabah (korelasi) yang erat antara yang satu dengan lainnya. Berikut dikemukakan dasar-dasar pemikiran dalam kaitannya dengan itu.2 Ilmu Munasabah (ilmu tentang keterkaitan antara satu surat/ayat dengan surat/ayat lain) merupakan bagian dari Ulum al-Qur’an. Ilmu ini posisinya cukup urgen dalam rangka menjadikan keseluruhan ayat al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). Ilmu munasabah yang merupakan bagian dari telaah tentang al-Qur’an, memiliki peranan penting dalam usaha pencarian makna kebenaran yang tidak lepas dari usaha pembuktian
1

2

W. Montgomery Watt, Pengantar Studi al-Qur’an, Terj. Taufiq Adnan Amal, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995), xi. Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta : Teras, 2009), 164.

1

keagungan al-Qur’an. Teori munasabah ini asal muasalnya diperkenalkan oleh seorang ulama terkenal pada zamanya yaitu al-Imam Abu Bakar anNaisaburi atau ada yang mengatakan Abu Bakar Abdullah ibn Muhammad Ziyad an-Naisaburi. Lahirnya pengetahuan tentang teori Munasabah (korelasi) ini tampaknya berawal dari kenyataan bahwa sistematika Al-Qur’an sebagaiman terdapat dalam Mushaf Usmani sekarang tidak berdasarkan atas fakta kronologis turunnya. Sehubungan dengan ini, ulama salaf berbeda pendapat tentang urutan surat di dalam Al-Qur’an.3 Namun pada itu, kita tidak bisa pungkiri bahwa teori munasabah ini merupakan ranah ijtihad bersifat ijtihadi. Hingga kita akan menemukan beberapa bagian yang saling berkaitan sama lainya. Seperti yang di ungkapkan Rahmat Syafii, bahwa teori munasabah ijtihadi ini memiliki gejala gejala yang terdapat dalam munasabah itu sendiri seperti : hubungan logis yang dapat diterima dan hubungan logis bagi masing-masing ahli. Beliau menambahkan “…yang pada akhirnya timbul dua aliran antara yang mengatakan semua surat memiliki hubungan dan tidak semua surat memiliki hubungan..”.4 B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut : 1. Apakah pengertian Munasabah? 2. Bagaimanakah Asumsi Dasar atau Postulat mengenai Munasabah? 3. Bagaimanakah Metode Penemuan Munasabah? 4. Berapa macam pembagian Munasabah? 5. Bagaimanakah Penerapan Munasabah dalam Penafsiran Al-Qur’an? 6. Apakah Hikmah Mempelajari Munasabah?

3 4

Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), 81. Rahmat Syafii, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung : Pustaka Setia, 2006), 36.

2

(Beirut : Darul-Kutubil-’Ilmiyyah. (Bandung : Pustaka Amzah.6 Secara terminologis. al-Hafizh.‫تـلـقــتـه بــاالـقـبـول‬ َ ْ ُ ْ ّ ِ Artinya : “Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. akal itu pasti menerimanya”. 1988). al-Burhan fî ‘Ulumil-Qur’an.5 kata "munâsabah" sering dipakai dalam tiga pengertian. adalah : َ ‫ا َل ْمـ ـناسب َة أ َم ـر معـقـ ـوْل إ ِذاعـ ـرِض عـ ـلى الـمـعْقـ ـوْل‬ ُ َ ُ ْ َ ٌ ْ ُ َ ‫ُـ‬ ُ َ ٌ َ ِ . Badruddin Muhammad ibn Abdillah az-Zarkasyiy. yaitu: 1. 3 . Menurut Az-Zarkasyi. pengertian Munasabah dapat diartikan sebagai berikut menurut berbagai tokoh. Kata munasâbah juga diartikan dengan "al-nasîb" (kerabat atau sanak keluarga). Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung”. Kata ini dipakai dengan makna "musyâkalah atau muqârabah (dekat)". Pengertian Munasabah Kata Munasabah secara etimologi. 197. Menurut Ibn Al-Arabi : َ ُ ْ ُ ‫إ ِرتـبــاط أ َي الـقـرأن ب َعـضـها بـبـعـض حــتى تـ ـك ُوْن كـَـا‬ َ ّ ُ َ ُ ْ ْ ّ ْ ٍ ْ َ ‫ال ْكـل ِمـــةِ الـواحـــد َةِ مـتـسقــــةِ ا َل ْمعـــاني مـنتـظـمـــة‬ َ ِ ّ ‫َ َ ِـ‬ ‫َ َـ‬ ِ ‫َ َـ‬ ِ ‫ُ ْ َ َـ‬ ‫ا َل ْمـبــــاني .عـل ْم عـظـيـــم‬ ِ ٌ ْ ِ ٌ َ Artinya : “Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga seolaholah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. menurut asy-Suyuthi berarti alMusyakalah (keserupaan) dan muqarabah (kedekatan). Jika dikatakan fulân yunâsibu fulânan.BAB II PEMBAHASAN A. Menurut Manna’ Khalil Qattan : 5 6 Ashim W. Pertama. maka hal itu berarti yuqâribu minhu wa yusyâkiluhu (proses dekat atau hampirnya seseorang kepada orang lain). 2. Kamus Ilmu Al-Qur’an. 2005). 3. tatkala dihadapkan kepada akal. 61.

dapat dikatakan. atau imajinatif (khayali) . 4 . dalam konteks ‘Ulum Al-Qur’an. atau korelasi berupa sebab akibat. 305 Abdul Djalal. hal. sekaligus sanggahanNya terhadap mereka yang meragukan keberadaan al-Qur’an sebagai wahyu. ‘illat dan ma’lul. baik korelasi itu berupa ikatan antara yang ‘aim (umum) 7 8 Rosihan Anwar. dan perlawanan. 4. munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antar ayat dengan ayat dan atau surah dengan surah yang dapat diterima oleh rasio. Munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat.َ ْ ُ َ ْ ُ ‫وَجـه ال ِرتـبـــاط بــين الجـمـلــةِ والجـمـلــةِ فـى اليــة‬ ‫ـ‬ ‫ْ َ ـ ِ ـ‬ ِ َ ُ ْ ‫ـ‬ ‫ـ‬ ِ‫الـواحــدة أوبـين اليـة واليــة فــي اليـــة الـمـتـعـــد ّد َة‬ َ َ ُ َ ِ َ . Rumusan lain yang mengatakan bahwa. atau surat dengan surat”. persepsi (hassiy). rasional (‘aqli). sehingga dapat diketahui alasan-alasan penertiban dari ayat-ayat dan atau surah-surah dalam al-Qur’an tersebut.7 Munasabah didefinisikan juga sebagai ilmu yang membahas hikmah korelasi urutan ayat al-Qur’an atau dalam redaksi yang lain. yaitu : “Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an. Dengan demikian ilmu ini diharapkan dapat menyingkap rahasia Illahi. baik ayat dengan ayat. munasabah adalah ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat dengan ayat dan atau antara surah dengan surah yang lain. perbandingan. Ulumul Qur’an. 1999). 154. Mutiara Ilmu-Ilmu Qur’an (Bandung : Pustaka Setia. baik korelasi itu bersifat umum atau khusus.‫أو بــين الســورة والســـورة‬ َ Artinya : “Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan dalam satu ayat. Menurut Al-Biqa’i. 1998). (Surabaya : Dunia Islam. Jadi. atau antar ayat pada beberapa ayat atau antar surat didalam Al-Qur’an”.8 Atas dasar itulah – sebagaimana telah dikemukakan di atas – ilmu ini berupaya menjelaskan segi-segi korelasi antar ayat-ayat dan atau surah-surah dalam al-Qur’an.

213. antara yang rasional dengan irrasional. kebahagiaan yang diperoleh bagi setiap orang beramal saleh atau sebaliknya. 163-164.dengan khash (khusus). 60-63. 1979). karena menurut dia. al-Itqan fi al-Ulum al-Qur’an. kesengsaraan bagi mereka yang melanggar ketentuanketentuan Allah dan seterusnya.9 Dengan demikian. Usman.11 Jumhur ulama telah sepakat bahwa urutan ayat dalam satu surat merupakan urutan-urutan tauqifi. 12 Jalal al-Din al-Suyuti. Ulumul Qur’an. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang urutan-urutan surat dalam mushaf. Sebab sebagian dari ayatayat dan atau surah-surah dalam al-Qur’an itu kadang-kadang merupakan takhshih terhadap ayat-ayat lain yang bersifat umum. 10 5 . Sebagaimana juga ayat-ayat itu memiliki korelasi satu dengan yang lainnya karena menerangkan sebab dari sesuatu akibat. antara illat dengan ma’lulnya. 2001). tetapi juga kontradiksipun termasuk di dalam ruang lingkup munasabah. Misalnya. Misalnya ketika al-Qur’an menerangkan hal ihwal orang-orang mukmin kemudian diiringi dengan penjelasan mengenai orang-orang kafir dan yang semacamnya. wakil dari ulama kontemporer. Postulat/Asumsi Dasar Munasabah Jika ilmu tentang asbab al-nuzul mengaitkan satu ayat atau sejumlah ayat dengan konteks historisnya.10 B. juga kadangkadang ayat-ayat tersebut juga berfungsi mengkongkritkan hal-hal yang kelihatannya dianggap abstrak. Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an.12 Nasr Hamid Abu Zaid. (Damaskus : Dar al-Fikr. yaitu yang disebut dengan “urutan pembacaan” sebagai lawan dari “urutan turunnya ayat”. 11 Nasr Hamid Abu Zaid. maka ‘ilm munâsabah melampaui kronologi historis dalam bagian-bagian teks untuk mencari sisi kaitan antar ayat dan surat menurut urutan teks. pengertian munasabah itu tidak hanya terbatas dalam arti yang sejajar dan parallel saja. Selain itu. yaitu urutan yang sudah ditentukan oleh Rasulullah sebagai penerima wahyu. antara sebab dan akibat. atau bahkan antara dua hal yang kontradiktif. antara yang abstrak dengan yang kongkrit. (Yogyakarta : LkiS. berpendapat bahwa urutan-urutan surat dalam mushaf sebagai tauqifi. 9 Ibid.

salah satu instrumen teoritiknya adalah dengan ‘ilm munâsabah. Keseluruhan teks dalam al-Qur’an. Tetapi bagian-bagian itu harus direkonstruksi kembali dengan mempertautkan antara satu dengan yang lain. lalu diambil inti syar’inya (hikmah at-tasyri’) sebagai pedoman normatif (idea moral). Satu sisi realitas teks ini menyulitkan pembacaan secara utuh dan memuaskan. Fazlur Rahman. sebagaimana juga telah disinggung di muka. Bagian-bagian ad hoc al-Qur’an adalah respon spontanitasnya atas realitas historis yang tidak bisa langsung diambil sebagai problem solving atas masalah-masalah kekinian. realitas teks itu menujukkan ‘stalistika’ (retorika bahasa) yang merupakan bagian dari I’jaz al-Qur’an. aspek kesusasteraan dan gaya bahasa. 2-3. Maka dalam konteks pembacaan secara holistik pesan spiritual al-Qur’an. dan antar surat yang berbeda.13 Secara sepintas jika diamati urut-urutan teks dalam al-Qur’an mengesankan al-Qur’an memberikan informasi yang tidak sistematis dan melompat-lompat. tetapi sebagaimana telah disinggung oleh Abu Zaid. maka yang bernilai mutlak dalam al-Qur’an adalah “prinsip-prinsip umumnya” (ushul al-kulliyah) bukan bagian-bagiannya secara ad hoc. 13 14 Nasr Hamid Abu Zaid. Terj.pemahaman seperti itu sesuai dengan konsep wujud teks imanen yang sudah ada di lauh mahfudz. Keseluruhan teks al-Qur’an menghasilkan weltanschauung (pandangan dunia) yang pasti. Dari sinilah umat Islam dapat memfungsikan al-Qur’an sebagai kitab petunjuk (hudan) yang betul-betul mencerahkan (enlighten) dan mencerdaskan (educate). sebagai usaha menyingkapkan sisi lain dari I’jaz. Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an. 213-214. Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual. Perbedaan antara urutan “turun” dan urutan “pembacaan” merupakan perbedaan yang terjadi dalam susunan dan penyusunan yang pada gilirannya dapat mengungkapkan “persesuaian” antar ayat dalam satu surat. Ahsin Mohammad. (Bandung : Penerbit Pustaka. dan idea moral al-Qur’an kemudian dikontektualisasikan untuk menjawab problem-problem kekinian. 6 . 1995). merupakan kesatuan struktural yang bagian-bagiannya saling terkait.14 Dari sisi ini.

blogspot. Metodologi dan pendekatan yang telah dipakai oleh para mufassir klasik menyisakan masalah penafsiran. seperti yang terlihat dalam surat al-Hadid ayat 3 :            “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan  dan Dia yang Bathin        Maha mengetahui segala sesuatu. 15 Anjar Nugroho. Untuk itu perlu dipikirkan penggunaan metode dan pendekatan hermeneutika dan antropologi filologis dalam ‘ilm munâsabah. komprehensif. yaitu belum bisa menyuguhkan pemahaman utuh.” Disini terdapat harful athfiyya (huruf sambung) sebanyak 4 kali sebagai taqwiyyah (penguat) eksistensi Allah. tabyin (penjelas). Metode Penemuan Munasabah Diantara hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam konteks mencari tau munasabah adalah : 1) Mengetahui susunan kalimat dan ma’nanya Terlebih dahulu mencari tahu ada tidaknya atfiyyah (persambungan) yang mengaitkannya dan adakah satu bagian merupakan taqwiyyah (penguat). 7 . diakses tanggal 03 Oktober 2011.15 C. dan holistik. Dan kesamaan tema peristiwa bisa kita ketahui dari latar belakang turunnya suatu ayat. 2) Mengetahui asbabun nuzul. baca online http://hapidzcs.html. “Ilmu Munasabah Al-Qur’an”. ‘Ilm munâsabah sebenarnya memberi langkah strategis untuk melakukan pembacaan dengan cara baru (al-qira’ah al-muashirah) asalkan metode yang digunakan untuk melakukan “perajutan” antar surat dan antar ayat adalah tepat. atau sebagai tabdil (pengganti) bagi ayat yang lain. Dalam arti mengetahui sebab-sebab turunnya satu tema peristiwa dalam sebuah surat dengan tema yang sama pada surat yang lainnya.com/2011/05/ilmu-munasabah-al-quran.Tentu untuk melakukan pembacaan holistik terhadap al-Qur’an tersebut membutuhkan metodologi dan pendekatan yang memadai.

Macam-macam Munasabah Untuk lebih memperjelas pembahasan mengenai munasabah. 1.3) Mengetahui tema yang dibicarakan Ukuran wajar tidaknya korelasi antar ayat dan antar surat dapat diketahui dari tingkat kemiripan atau kesamaan maudu’ (tema) itu sendiri.17 Diantara ayat-ayat itu kadangkadang menjadi penguat. Zhahir al-irtibath (Korelasi yang transparan). diakses tanggal 03 Oktober 2011. Munasabah dari segi sifat-sifatnya dapat dipilah menjadi dua. Tetapi. “Teori Munasabah dalam AL-Quran:Analitik Aplikatif”. baca online http://ichwanushshofa. maka sudah tentu tidak ada munasabah antara ayat-ayat dan surat-surat itu. Sehingga ayatayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang utuh. Ulumul Qur’an. Diantara contoh yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan itu adalah untaian firman Allah sebagai berikut :           16      Ichwan Ash-Shofa.blogspot. perlu dikemukakan macam-macamnya baik dilihat dari sifat-sifatnya maupun dari segi materinya. kalau demikian itu berbeda.com/2010/11/teiri-munasabah-dalam-al-qurananalitik. penyambung. penjelasan. 8 . pengecualian atau bahkan pembatasan dari ayat yang lain.html. sehingga yang satu tidak dapat menjadi kalimat yang sempurna jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. penafsir. Jika antar ayat atau surat dengan ayat atau surat lainya terdapat persesuaian serta memiliki keterkaitan sama lainya. Karena begitu kuatnya kaitan antara keduanya. 155-156. yaitu : korelasi atau persesuaian antara bagian atau ayat al-Qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat.16 D. yaitu : Zhahir al-irtibath (korelasi yang transparan) dan Khofiyyu al-irtibath (korelasi yang terselubung). 17 Abdul Djalal. maka persesuaian itu masuk akal dan dapat diterima.

Persesuaian atau korelasi antara ayat pertama dengan ayat kedua tersebut tampak jelas dalam hal diutusnya kedua orang Nabi dan Rasul tersebut. yaitu korelasi antara bagian atau ayat al-Qur’an yang tidak tampak secara jelas. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. atau karena yang satu seakan-akan tampak bertentangan dengan yang lain. yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. 2. Khofiyyu al-irtibath (Korelasi yang bersifat terselubung). seakanakan masing-masing ayat atau surah itu berdiri sendiri-sendiri baik karena ayat yang satu di’athafkan kepada yang lain.                                  “Maha Suci Allah. Selanjutnya.” Ayat ini menerangkan mengenai diturunkannya al-Kitab (Taurat) kepada Nabi Musa a. ayat berikutnya dari surah alIsra’ yang berbunyi :                             “Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku.” Ayat di atas menjelaskan mengenai Nabi Muhammad Saw yang diisra’kan oleh Allah SWT. Korelasi seperti ini antara lain dapat disimak pada ayat 189 surah al-Baqarah dengan ayat 190 dalam surah yang sama berikut ini : 9 .s.

. Sepintas lalu.    “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. 1989). (tetapi) janganlah kamu melampaui batas..                .. Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Ayat ini menerangkan tentang bulan tsabit yang merupakan tanggal-tanggal sebagai tanda-tanda waktu dan untuk jadwal bagi pelaksanaan ibadah haji.. maka serangan-serangan musuh tersebut harus dibalas walau pada musin haji. 10 . sedangkan ayat 190 berikutnya dalam surat yang sama.. (Bandung : Angkasa.. 277. yaitu: 18 Mashuri Sirodjuddin Iqbal & A. Padahal sebenarnya terdapat kaitan yang sangat erat antara keduanya. “pada dasarnya saat haji itu umat Islam dilarang menumpahkan darah (berperang). Sedangkan ayat 190 yang mengiringinya dalam surah yang sama berbunyi :                     “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Ayat 189 surah AlBaqarah di atas berbicara mengenai soal waktu untuk melaksanakan ibadah haji. Fudlali. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.18 Munasabah dari segi materinya terbagi menjadi sebagai berikut.” Ayat tersebut menjelaskan perintah menyerang kepada orangorang yang menyerang umat Islam. Pengantar Ilmu Tafsir... antara kedua ayat di atas nampak seakan-akan tidak memiliki korelasi. tetapi jika mereka diserang terlebih dahulu oleh musuh..

Ali-Imran : 103) Dengan ayat 102 surah Ali-Imran:                  “Hai orang-orang yang beriman. Di atas telah dikemukakan. dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. 11 .... dua hal yang sama. seperti munasabah antara ayat 103 surah Ali-Imran:       . Dalam hal yang demikian itu.. hingga tidak mudah untuk dicari.. Munasabah antar ayat dalam al-Qur’an yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain.19 Munasabah ini bisa berbentuk persambungan-persambungan. (QS.1.” (QS. Ali-Imran : 102) Faedah dari munasabah dengan ‘athaf ini ialah untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (AnNadziiraini). dan janganlah kamu bercerai berai.. 40. kadang-kadang terlihat jelas dan kadangkadang tidak tampak jelas.   “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah. ukuran yang digunakan untuk mencari munasabah adalah dengan melihat sisi hubungan (‘athaf) baik langsung atau tidak langsung. 19 Badruddin al-Zarkasyi. bahwa letak munasabah antara satu ayat dengan ayat yang lain. sebagai berikut: a) Di’athafkannya ayat yang satu kapada ayat yang lain. Ayat 102 surah Ali-Imran menyuruh bertaqwa dan ayat 103 surah Ali-Imran menyuruh berpegang teguh kepada agama Allah. bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an.

c) Digabungkannya dua hal yang sama. sehingga ayat 11 surah Ali-Imran itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10 surah Ali-Imran. Ali-Imran : 11) Dengan ayat 10 surah Ali-Imran :                       “Sesungguhnya orang-orang yang kafir. padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Al-Anfal : 5) 12 ...” (QS. seperti persambungan antara ayat 5 surah Al-Anfal:                “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran. harta benda dan anak-anak mereka...  “(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orangorang yang sebelumnya. seperti munasabah antara ayat 11 surah ali-Imran :        . Ali-Imran : 10) Dalam munasabah ini. dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka. sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka.” (QS. mereka mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS. tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11 surah Ali-Imran) dengan ayat yang sebelumnya (ayat 10 surah Ali-Imran).b) Tidak di’athafkannya ayat yang satu kepada yang lain..

Seperti dikumpulkan ayat 95 surah Al-A’raf :               . d) Dikumpulkannya dua hal yang kontradiksi (Al-Mutashaddatu). dan mereka berkata: "Sesungguhnya nenek moyang kamipun Telah merasai penderitaan dan kesenangan"..Dengan ayat 4 surah Al-Anfal:                 “Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.... (QS. Ayat 5 surah Al-Anfal itu menerangkan kebenaran bahwa Nabi diperintah hijrah dan ayat 4 surah Al-Anfal tersebut menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin.   “Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. Al-A’raf : 95) Dengan ayat 94 surah Al-A’raf:             13 .. Al-Anfal : 4) Kedua ayat itu sama-sama menerangkan tentang kebenaran.” (QS.

Keduanya sama-sama menerangkan kandungan Al-Qur’an. ibadah. (lalu penduduknya mendustakan nabi itu). Munasabah antar surah. melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Munasabah ini ada beberapa bentuk. e) Dipindahkannya satu pembicaraan ayat 55 surah Shaad :        “Beginilah (keadaan mereka). yaitu masalah akidah. sebagai berikut: a) Munasabah antara dua surah dalam soal materinya. Contohnya. Ulumul Qur’an. Al-A’raf : 94) Ayat 94 surah Al-A’raf tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk. muamalah.” (QS.” (QS. 180-186. seperti surah kedua Al-Baqarah sama dengan isi surah yang pertama Al-Fatihah. tetapi ayat 95 surah AlA’raf menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan. dan Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk.” (QS. 14 . kisah 20 Usman. yaitu munasabah antara surah yang satu dengan surah yang lain. Shaad : 54)20 2.    “Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri. dan pembicaraan ayat 54 surah Shaad yang membicarakan rezeki dari para ahli surga :         “Sesungguhnya Ini adalah benar-benar rezki dari kami yang tiada habis-habisnya. yaitu materi surah yang satu dengan materi surah yang lain. Shaad : 55) Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali.

Allah mengisahkan doa Musa:              15 .” (QS... Sebab semua pembukaan surah itu erat sekali kaitannya dengan akhiran dari surah sebelumnya.. sedang dalam surah Al-Baqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang lebar. sekalipun sudah dipisah dengan basmalah. Al-An’am : 1) Awalan surah Al-An’am tersebut sesuai dengan akhiran surah Al-Maidah yang berbunyi :                  “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. b) Persesuaian antara permulaan surah dengan penutupan surah sebelumnya. Surah ini dimulai dengan menceritakan Musa.  “Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi. Contohnya.dan janji serta ancaman.. seperti awalan dari surah Al-An’am yang berbunyi:       . menjelaskan langkah awal dan pertolongan yang diperolehnya. kemudian menceritakan perlakuannya ketika ia mendapatkan dua orang laki-laki sedang berkelahi. AlMaidah : 120) c) Munasabah terjadi pula antara awal surah dengan akhir surah.” (QS... Contohnya ialah apa yang terdapat dalam surah Qasas. Dalam surah Al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas.

sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. Katakanlah: "Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Qasas :17) Kemudian surah ini diakhiri dengan menghibur Rasul bahwa ia akan keluar dari Mekah dan dijanjikan akan kembali lagi ke Mekah serta melarangnya menjadi penolong bagi orang-orang yang kafir :                                          “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukumhukum) Al Quran. al-Qasas : 85-86).orang yang berdosa". benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang. 1973). demi nikmat yang Telah Engkau anugerah. Contohnya adalah Surat alFatihah disebut juga umm al-kitab karena memuat berbagai tujuan alQur’an. tetapi ia (diturunkan) Karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu.“Musa berkata: "Ya Tuhanku.kan kepadaku. 16 . (QS. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya Nama-nama surat yang ada di dalam al-Qur’an memiliki kaitan dengan pembahasan yang ada pada isi surat. Munasabah antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Munasabah di sini bisa bertujuan : 21 Manna’Al-Qathathan. 144. Terj.21 3. Mudzakir (Beirut : Al-Syarikah alMuttahid li al-Tauzi. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu. 4.

sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. “Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari perperangan. dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.. Misalnya:                    “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan. Karena itu.. Al-Ahzab : 25) Sekiranya ayat ini terhenti pada.a) Tamkin (peneguhan). Ulumul Qur’an. c) Tausyih (hikmah). (QS. tetapi atas rencana Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan musuh kaum Muslim. 17 ..22 b) Tashdir (pengembalian). 92. (QS. Al-An’am : 31) Ayat ini ditutup dengan kata untuk membuatnya sejenis dengan kata dalam ayat tersebut. Ingatlah.” niscaya maknanya bisa dipahami orang-orang lemah sejalan dengan pendapat orang-orang kafir yang mengira bahwa mereka mundur dari perang karena angin yang kebetulan bertiup. Misalnya:            “. Misalnya: 22 Rosihan Anwar. ayat ini ditiup dengan mengingatkan kekuatan dan kegagahan Allah SWT menolong kaum Muslim. amat buruklah apa yang mereka pikul itu. Padahal bertiupnya angin bukan suatu yang kebetulan. (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun.

d) Ighal (penjelasan tambahan dan penajaman makna). Ulumul Qur’an.” (QS. Al-Naml : 80) Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas sampai kata al-du’a (panggilan). kami tanggalkan siang dari malam itu. ilmu munasabah juga membantu dalam menginterpretasi dan menakwilkan ayat dengan baik dan cermat.            “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam. 18 . Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. (QS. Ini berarti bahwa kandungan awal ayat telah menunjukkan adanya hikmah dibalik kejadian tersebut.23 e) Penerapan Munasabah dalam Penafsiran Al-Qur’an Sebagaimana halnya dengan asbab al-nuzul yang mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat al-Qur’an. Yasin : 37) Dalam permulaan ayat ini terkandung penutupnya. dengan hilangnya siang akan timbul kegelapan. untuk lebih mempertajam dan mempertandas makna. 23 Usman. apabila mereka Telah berpaling membelakang. Sebab. Atas dasar itulah sebagian ulama ada yang mengkonsentrasikan diri untuk menulis mengenal hal itu. Akan tetapi. Misalnya:               “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (Tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan. 187-192. ayat itu diberi sambungan lagi sebagai penjelas tambahan.

”26 Kedua. ataukah sebaliknya mengakhirkannya setelah dilakukan penafsiran secara terperinci. dan bila dipenggal maka keserasian.25 Atas dasar itulah Imam Fakhruddin al-Razi menandaskan : “Kebanyakan kehalusan dan keindahan al-Qur’an dibuang dan dihilangkan begitu saja dalam hal tertib hubungan (al-munasabah) dan susunannya. Sebab penafsiran al-Qur’an dengan ragamnya jelas membutuhkan pemahaman mengenai ilmu tersebut antara ayat yang satu dengan yang lainnya. Al-Qur’an dan Ulum al-Qur’an. 1998).t). (Yogyakarta : Dana Bhakti Yasa.24 Perlu diketahui bahwa. sedangkan susunan kalimat yang paling baligh (tinggi nilai sasteranya) adalah dalam hal keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Ulumul Qur’an. Padahal kebanyakan keindahan-keindahan al-Qur’an itu terletak pada susunan dan persesuaiannya. baik di bagian awal maupun di bagian akhirnya. 36. ilmu munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surah. t. dari keindahan kalimat yang teruntai di dalam setiap ayat akan menjadi hilang. 19 . Dalam kaitan ini Izzudin Ibn Abdis Salam menegaskan bahwa. Tafsir Mufatih al-Ghaib. 171. Pertama. manakah yang seharusnya didahulukan. Manakala seseorang menghubungkan atau mengkorelasikan kalimat atau ayat yang satu dengann yang lain. maka harus 24 25 Usman. menguraikan sabab nuzul atau memulai penafsiran dengan mengemukakan munasabah ayat-ayat. Muhammad Chirzin. kehalusan. ilmu munasabah adalah ilmu yang baik. 57. Hal ini menunjukkan adanya kaitan yang erat antar ayat yang satu dengan lainnya dalam rangkaian yang serasi. 26 Fakhruddin al-Razi.Diantara para mufassir ada yang mengawali penafsirannya dengan terlebih dahulu menampilkan asbab al-nuzul ayat atau surah yang akan ditafsirkan. dari sisi balaghah. (Baghdad : al-Mutsanna. korelasi (tanasub) antara ayat dengan ayat menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa al-Qur’an. Tetapi sebagian dari mereka ada juga yang bertanya-tanya. secara garis besar ada tiga arti penting dari munasabah sebagai salah satu metode dalam memahami dan menafsirkan alQur’an.

al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an.28 Bahkan Imam Fakhraddin al-Razi lebih berani mengatakan : َ ُ َ َ َ ِ َ ِ‫ال ْمحافَظة فى ن َظ َم ِ ال ْك َلم ِ أوْلى من خي ْرِ ال ْواحد‬ ِ َ ُ “Menjaga susunan kata lebih baik daripada menerima hadits ahad. Tafsir Mufatih al-Ghaib. 20 . Walaupun pernyataan Imam Fakhruddin al-Razi ini barangkali tidak sepenuhnya dapat dibenarkan tetapi yang jelas bahwa.”29 Menurutnya. Badruddin al-Zarkasyi. Fakhruddin al-Razi. baik di awal maupun akhirnya. 34. maka yang lebih utama adalah mengemukakan sisi munasabah”. seorang ‘ulama yang pemikirannya paling 27 28 29 Abdul Djalal. Ulumul Qur’an. sebagai ilmu kritis ilmu munasabah akan sangat membantu seseorang (mufassir) dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.27 Ketiga.tertuju kepada ayat-ayat yang benar-benar berkaitan. menggunakan metode munasabah sebagai wahana penafsiran dalam rangka mencari makna yang tepat yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Qur’an itu merupakan upaya yang patut dihargai dan perlu terus dikembangkan. 165. Begitu pentingnya munasabah diketahui dan dipahami dalam menafsirkan al-Qur’an Imam Badruddin al-Zarkasyi pernah mengemukakan : َ ‫إ ِن ل َم ي َت َوَقّف على ذلك )سبب النزول( فال َوّل ِى ت َقد ِي ْم وَجه‬ ِ ْ ِ ْ ُ ْ ْ ْ ْ ‫ال ْمناسبة‬ َ َ َ ُ “Jika sebab nuzul (suatu ayat tidak ada atau tidak dapat dijadikan pedoman). 121. dalam menafsirkan ayat al-Qur'an lebih baik menampilkan segi munasabah daripada berpegang kepada riwayat sabab nuzul yang bersumber dari hadits ahad apalagi kalau nilai kesahihannya masih diragukan. Setelah hubungan antara ayat-ayat tersebut dipahami secara tepat. Bahkan Syeikh Muhammad ‘Abduh sendiri. dan dengan demikian akan dapat mempermudah dalam pengistimbatan hukum-hukum atau pun makna-makna terselubung yang terkandung di dalamnya.

Al-Fajr : 1-2) Kata ‫ ليال عشـر‬dalam ‫ـ‬ ayat di atas misalnya. Yaum alBa’ts. maka hari dan waktu itu dijuluki dengan sifat atau cirinya. baik susunan maupun pengertian atau makna yang dikandungnya harus berkaitan erat dengan tujuan surah secara keseluruhan. tidak mungkin terlepas pengertiannya dari kata atau ayat ‫ والفجر‬yang diiringinya.berpengaruh di abad modern ini memandang korelasi antara ayat-ayat dan surah-surah dalam al-Qur’an sebagai hal yang amat urgen. maka kata ‫ ليال عشر‬dalam ayat di atas mesti ditafsirkan dengan malam- malam yang serasi keadaannya dengan pengertian yang dikandung oleh kata 21 . Tetapi bila hari dan waktu tidak ditentukan sifat atau ciri-cirinya. dan lain-lain. Di sinilah letak relevansi munasabah dengan tafsir al-Qur’an al-Karim. Lailatul Qadr. sehingga ia harus dipahami secara umum. Dan malam yang sepuluh. Al-Qur’an menurut Syeikh Muhammad Abduh. sehingga ia berarti umum. demi keserasian antara ayat pertama dan kedua. Yaum al-Akhir. bila bermaksud menjelaskan tentang suatu hari atau waktu tertentu. Sebagai contoh adalah firman Allah :        Demi fajar. Yaum al-Mau’ud. demikian halnya dengan kata ‫الفجر‬ di sini. Dengan demikian. bahwa kata ‫الفجر‬ di sini tidak dibarengi dengan suatu sofat tertentu. dalam arti bahwa “fajar” tersebut adalah fajar ketika cahaya siang menjelma di tengah-tengah kegelapan malam. dan bahkan diletakkannya sebagai prinsip pertama. maka yang dimaksud adalah waktu secara umum. sehingga dijadikannya sebagai salah satu cirri dari Sembilan cirri penafsirannya. Menurut Muhammad Abduh. Nah. yaitu : cahaya yang kemudian mengusik kegelapan malam tersebut. Keberadaan munasabah antara ayat yang satu dengan ayat yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh dalam keserasian. Yaum al-Hasyr. terjadi setiap hari. seperti : Yaum al-Qiyamah. (QS.

‫. sebagaimana juga memperhatikan permasalahannya”. Ulumul Qur’an. namun akhirnya terjadi kegelapan yang merata. Studi Kritis Tafsir al-Manar. Muhammad Abdullah Darraz berkata : ”Sekalipun permasalahan yang diungkapkan oleh surat-surat itu banyak.31 f) Hikmah Mempelajari Munasabah Sebagaimana Asbabun Nuzul. Karena itulah arti penting dari kehadiran ilmu munasabah itu sendiri tidak dapat diabaikan dalam upaya memahami dan menafsirkan al-Qur’an. Rosihan Anwar. sebagaimana diuraikan dibawah ini : 30 31 32 M. yakni masing-masing mengusik kegelapan walaupun yang pertama mengusiknya hingga terjadi terang yang merata. Mutiara Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Keserasian dalam munasabah merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan sebagai penetapan arti serta tolok ukur dalam menilai pendapatpendapat yang berbeda yang terjadi di kalangan para ‘ulama.الفجر‬ yakni : sepuluh malam yang terjadi pada setiap bulan yang di dalamnya cahaya bulan mengusik kegelapan malam. dan yang kedua juga mengusik. (Bandung : Pustaka Hidayah. 1994).30 Atas dasar keserasian inilah. Dengan begitu maka terjadilah keserasian antara keduanya. Maka bagi orang yang hendak memahami sistematika surat semestinyalah ia memperhatikan keseluruhannya. 176.32 Maka. 22 . Munasabah dapat berperan dalam memahami Al-Qur’an. semuanya merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan akhirnya saling berkaitan. Usman. 96. dalam mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan kegunaannya. Syeikh Muhammad Abduh menolak pendapat sebagian ulama’ yang menafsirkan kata ‫ الفجر‬dan ‫ليال عشر‬ dengan fajar tertentu seperti awal tahun hijriah atau tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan lain-lain. 22-27. Quraish Shihab.

keindahan.1.35 mudah mengistinbathkan hukum-hukum atau isi 33 34 35 Ibid. Bila tidak ditemukan Asbabun Nuzulnya. Chalik. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau suatu ayat dengan kalimat atau ayat yang lain. 23 . (mutu dan tingkat balaghah Al-Qur’an). Untuk memahami keutuhan. 4. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema AlQur’an kehilangan Relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya. sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur’an sehingga memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. 2007). 123. dimungkinkan seseorang akan kandungannya. 122. ‘Ulum Al-Qur’an. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ibid. Chaerudji Abd. baik antara kalimat atau antar ayat maupun antar surat.34 3. (Jakarta : Diadit Media. Mengetahui persambungan /hubungan antara bagian Al-Quran. serta dapat membantu dalam memahami keutuhan makna Al-Qur’an itu sendiri. A.33 2. dan kehalusan bahasa.

Munasabah antar surah. yaitu hubungan atau persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain dalam satu surat. munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antar ayat dengan ayat dan atau surah dengan surah yang dapat diterima oleh rasio. Munasabah dari segi sifat-sifatnya dapat dipilah menjadi dua. 3. apakah itu taufiqi atau tauqifi (pengurutannya berdasarkan ijtihad penyusun mushaf). Munasabah dari segi materinya terbagi menjadi sebagai berikut. Munasabah antara Penutup Ayat dengan Isi Ayat Keberadaan munasabah antara ayat yang satu dengan ayat yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh dalam keserasian. Munasabah didefinisikan juga sebagai ilmu yang membahas hikmah korelasi urutan ayat alQur’an atau dalam redaksi yang lain. Jumhur ulama telah sepakat bahwa urutan ayat dalam satu surat merupakan urutan-urutan tauqifi. dapat dikatakan. baik susunan maupun pengertian atau makna yang dikandungnya harus berkaitan erat dengan tujuan 24 .BAB III PENUTUP Kesimpulan Kata Munasabah secara etimologi berarti al-Musyakalah (keserupaan) dan muqarabah (kedekatan). Sedangkan secara terminologis. yaitu munasabah antara surah yang satu dengan surah yang lain. 2. Mengetahui asbabun nuzul dan Mengetahui tema yang dibicarakan. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang urutan-urutan surat dalam mushaf. yaitu: 1. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya 4. yaitu urutan yang sudah ditentukan oleh Rasulullah sebagai penerima wahyu. Diantara hal-hal yang perlu kita perhatikan dalam konteks mencari tau munasabah adalah : Mengetahui susunan kalimat dan ma’nanya. yaitu : Zhahir al-irtibath (korelasi yang transparan) dan Khofiyyu al-irtibath (korelasi yang terselubung). Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surat dalam al-Qur’an.

Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Qur’an kehilangan Relevansi antara satu bagian dan bagian yang lainnya. dan kehalusan bahasa. dalam mempelajari Munasabah ini banyak sekali terkandung Faedah dan kegunaannya. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mengetahui persambungan /hubungan antara bagian Al-Quran. Maka. Di sinilah letak relevansi munasabah dengan tafsir alQur’an al-Karim. 3.surah secara keseluruhan. dimungkinkan seseorang akan mudah mengistinbathkan hukum-hukum atau isi kandungannya. (mutu dan tingkat balaghah Al-Qur’an). serta dapat membantu dalam memahami keutuhan makna Al-Qur’an itu sendiri. Bila tidak ditemukan Asbabun Nuzilnya. keindahan. 2. Untuk memahami keutuhan. 4. Setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau suatu ayat dengan kalimat atau ayat yang lain. 25 . sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al-Qur’an sehingga memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya. sebagaimana diuraikan dibawah ini : 1. baik antara kalimat atau antar ayat maupun antar surat.

Yogyakarta : Teras. Damaskus : Dar al-Fikr. al-Itqan fi al-Ulum al-Qur’an. Yogyakarta : LkiS. Taufiq Adnan Amal. Rahmat. Mudzakir. Chirzin. 1998. Terj. 1994.blogspot. Al-Qathathan. 1999. 1998. A. Pengantar Ilmu Tafsir. 2005. 1995. Badruddin Muhammad ibn Abdillah. Studi Kritis Tafsir al-Manar. Ashim W. Anwar. Djalal. Surabaya : Dunia Islam. Baghdad : al-Mutsanna. Manna’. Yogyakrta : Dana Bhakti Yasa. Pengantar Studi al-Qur’an.com/2010/11/teiri-munasabah-dalam-al-qurananalitik. Bandung : Pustaka Hidayah. Quraish. 2001.blogspot. Bandung : Pustaka Setia. 26 . Nasr Hamid. Chalik. 1979. ‘Ulum Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Pustaka. 2009. Iqbal. Ahsin Mohammad. 2007. Al-Qur’an dan Ulum al-Qur’an.html. Terj. Bandung : Pustaka Amzah. Kamus Ilmu Al-Qur’an. Bandung : Pustaka Setia. Abdul. Anwar. M. 1988. baca online http://ichwanushshofa. 1973. Ash-Shofa. Rosihan. Al-Hafizh. Syafii. 2008. W. diakses tanggal 03 Oktober 2011. Fazlur. 1995. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Fudlali. Shihab. Beirut : DarulKutubil-’Ilmiyyah. diakses tanggal 03 Oktober 2011. Rosihan. Islam dan Modernitas : Tentang Transformasi Intelektual. “Ilmu Munasabah Al-Qur’an”. Mutiara Ilmu-Ilmu Qur’an. Pengantar Ilmu Tafsir. Terj. Al-Razi. Usman. 1989.DAFTAR PUSTAKA Abu Zaid. Al-Suyuti. Chaerudji Abd. Tafsir Mufatih al-Ghaib. Mashuri Sirodjuddin & A. Raja Grafindo Persada. Jakarta : Diadit Media. Anjar.html. Jakarta : PT. 2006. Fakhruddin. Beirut : Al-Syarikah alMuttahid li al-Tauzi. Rahman. Jalal al-Din. Watt. Bandung : Angkasa. “Teori Munasabah dalam AL-Quran:Analitik Aplikatif”. Muhammad. baca online http://hapidzcs. Bandung : Pustaka Setia. Ichwan. al-Burhan fî ‘Ulumil-Qur’an. Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an. Tekstualitas al-Qur’an : Ktitik Terhadap Ulumul Qur’an. Montgomery. Nugroho. Ulum Al-Qur’an.com/2011/05/ilmu-munasabah-al-quran. Az-Zarkasyiy.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful