P. 1
Integrasi Sains Dan Agama

Integrasi Sains Dan Agama

|Views: 366|Likes:
Published by RulHas SulTra
Sebuah perspektif Integrasi SAINS dan AGAMA. Menyampaikan kajian Sistematis dalam memberikan gambaran Telaah Sains dan Agama dalam Kehidupan Ummat Manusia. Juga menghadirkan problematika Eksternal dan Internal terhadap kajian Sains dan agama yang telah terjadi dalam abad milenium beberapa abad terakhir ini.
Sebuah perspektif Integrasi SAINS dan AGAMA. Menyampaikan kajian Sistematis dalam memberikan gambaran Telaah Sains dan Agama dalam Kehidupan Ummat Manusia. Juga menghadirkan problematika Eksternal dan Internal terhadap kajian Sains dan agama yang telah terjadi dalam abad milenium beberapa abad terakhir ini.

More info:

Published by: RulHas SulTra on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2013

pdf

text

original

Integrasi

Dalam Perspektif

HASRUL
Sebuah perspektif Integrasi SAINS dan AGAMA. Menyampaikan kajian Sistematis dalam memberikan gambaran Telaah Sains dan Agama dalam Kehidupan Ummat Manusia. Juga menghadirkan problematika Eksternal dan Internal terhadap kajian Sains dan agama yang telah terjadi dalam abad milenium beberapa abad terakhir ini. Nilai pencapaiannya memberikan wawasan yang lebih obyektif dalam memahami integrasi sains dan agama dalam kehidupan modern demi memahami hakikat hidup.

Integrasi
Dalam Perspektif

Sebuah perspektif Integrasi SAINS dan AGAMA. Menyampaikan kajian Sistematis dalam memberikan gambaran Telaah Sains dan Agama dalam Kehidupan Ummat Manusia. Juga menghadirkan problematika Eksternal dan Internal terhadap kajian Sains dan agama yang telah terjadi dalam abad milenium beberapa abad terakhir ini. Nilai pencapaiannya memberikan wawasan yang lebih obyektif dalam memahami integrasi sains dan agama dalam kehidupan modern demi memahami hakikat hidup.

Oleh: HASRUL

I. PENDAHULUAN Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki bentuk yang paling indah dan sempurna. Hal ini memungkinkan bagi manusia untuk mengemban tugasnya sebagai Khalifah di bumi. Dalam mengemban amanah tersebut, manusia dibekali dengan berbagai motif sebagai bekal dalam perjalanan kehidupannya. Motif-motif itulah sebagai pendorong untuk menyempurnakan kebutuhan-kebutuhannya yang pokok dan penting untuk kehidupan serta kelestariannya. Para psikolog modern mengklasifikasikan motif manusia pada dua bagian pokok, yaitu motif fisiologis dan motif psiko-spritual (M. Utsman Najati, 2005: 23). Pada motif yang kedua ini terkait dengan dimensi spritual manusia, seperti motif beragama, berpegang pada ketakwaan, cinta pada kebaikan, kebenaran dan keadailan serta benci pada keburukan, kebatilan dan kezaliman. Kebanyakan psikolog modern tidak mengindahkan jenis motif spritual ini dalam studi-studi mereka padahal sebenarnya motif spritual ini merupakan suatu kelebihan manusia yang teramat penting dibanding hewan (M. Utsman Najati, 2005: 50). Agama merupakan salah satu unsur kebutuhan manusia dalam kehidupan di dunia. Secara rinci disebutkan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Ketiga alasan tersebut ialah latar belakang fitrah manusia, kelemahan dan kekurangan manusia dan tantangan manusia (Abuddin Nata, 2009: 16). Motif ini bersumber dalam lubuk hati manusia yang merasakan suatu dorongan pada pencarian dan kontemplasi untuk mengenal penciptanya. Pencarian ini dalam rangka beribadah kepadanNya, berhubungan dengan-Nya, serta berlindung kepada-Nya sambil memohon pertolongan dari segala bencana. Aktivitas tersebut dalam berbagai ragamnya akan mendatangkan ketenangan dan ketentraman bagi manusia (M. Utsman Najati, 2005: 62-63).

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi ummat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekadar disampaikan dalam khotbah melainkan secara konsepsional menunjukan cara-cara yang paling efektif dalam

memecahkan masalah (Abuddin Nata, 2009: 27). Dengan kata lain, suatu agama ataupun kepercayaan seharusnya dapat memenuhi kebutuhan penganutnya dalam segala suasana dan kondisi. Agama haruslah dapat menjangkau batas-batas kesukuan, negara, rasial, dan kebudayaan serta harus dapat berbicara dengan manusia dari segala tingkatan (M. Zafrullah Khan, 1994: 4). Salah satu slogan yang paling berkateristik diantara sekian banyak slogan saat ini adalah “menaklukkan angkasa dengan ilmu dan teknologi”. Para era modern sekarang ini, peranan agama semakin dituntut dalam kehidupan ummat manusia khususnya dalam bidang sains (Ahmad Mattulada, 1997: 152). Umum diakui bahwa pada masa sekarang ini konsep sains dan agama telah mengambil tempatnya dalam kajian para ilmuwan. Sebagai suatu bidang kajian maka sains dan agama masih berada dalam tahap awal. Karenanya, karya-karya baru yang ditulis kini pun masih terus berkutat dengan bagaimana menarik batas-batas dari bidang yang cukup luas ini termasuk di dalamnya menetapkan agendaagenda utamanya, apa-apa saja isu yang dibahas dan juga metodologinya (Zainal Abidin Bagir, 2006: 3). Wacana tentang “sains dan agama” bisa dikatakan menemukan bentuk barunya dalam sekitar empat dasawarsa terakhir ini. Meskipun telah amat lama dibahas, sains sebagai disiplin modern baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini ia tumbuh subur secara sistematik (Zainal Abidin Bagir, 2006: 3). Secara terus menerus, manusia senatiasa melakukan proses penyusunan informasi-informasi lama serta ini

menyingkap informasi-informasi dan hakikat-hakikat baru. Hal

merupakan dasar perkembangan penelitiaan ilmiah sepanjang masa sejarah yang berbeda-bada. Hal ini juga merupakan sebab terjadinya kemajuan yang berkesinambungan dalam ilmu-ilmu murni dan terapan (M. Utsman Najati, 2005: 215). Secara jelas, Al-Quran memberikan dorongan untuk mengadakan observasi, berfikir, meneliti dan memperoleh ilmu tersebut. Pada surat AlAnkabut [29]: 20 disebutkan: Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” Al-Quran telah memberikan kontribusi yang besar bagi manusia untuk belajar dan menimba ilmu pengetahuan. Wahyu Al-Quran yang paling tegas menunjukan hal itu adalah ayat Al-Quran yang pertama kali diturunkan. Al-Quran juga mengungkapkan pujian atas keutamaan ilmu, kemuliaan ulama dan keluhuran derajat. Al-Quran menempatkan ilmuwan pada kedudukan yang luhur seperti halnya kedudukan ilmu. Pendahuluan ini secara ringkas menunjukan sisi pandang manusia dalam ketergantungnnya terhadap agama serta urgensi peranan agama bagi manusia dalam setiap perkembangan zaman. Disisi lain juga tidak melupakan urgensi Al-Quran dalam memotivasi perkembangan sains. Hadirnya tipologi-tipologi yang beragam dalam konteks agama yang berbeda-beda mengenai hubungan sains dan agama menunjukan perkembangan baru dalam kajian keduanya (Zainal Abidin Bagir, 2006: 3). Sehubungan dengan konsep agama dan sains, tidak sedikit sumbangsi para ilmuwan terhadap keduanya dengan perspektif yang berbeda-beda berdasarkan latar belakang sosialnya masing-masing. Adapun dalam karya ini akan menguraikan perspektif Al-quran tentang integrasi sains dan agama.

II. PEMBAHASAN A. AL-QURAN DALAM PARADIGMA SAINS DAN AGAMA Persepsi masyarakat terhadap ajaran Al-Quran dewasa ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan petunjuk Al-Quran . Al-Quran sesungguhnya untuk kehidupan yang setiap saat harus kita buka dan baca untuk mendapatkan arti dan makna tentang kehidupan. Al-Quran sebagai kacamata kehidupan untuk membaca alam mikro dan makro ternyata ternyata kurang berfungsi pada kurun ini. Padahal seharusnya Al-Quran adalah hudan linnas, yakni sebagai rujukan kehidupan seluruh ummat manusia. Masyarakat dewasa ini dalam bertingkah laku, berilmu

pengetahuan, berpolitik, pendidikan, seni dan dalam dimensi kehidupan yang lain tidak lagi menjadikan Al-Quran sebagai rujukan. Kehidupan sekarang lebih cenderung menggunakan kitab-kitab pseudo yang terdapat dalam buku IPTEK yang memuat pandangan-pandangan kapitalis, komunis, sekularis, materialisme dan zionis. Inilah yang menjadi petunjuk IPTEK dalam segala sektor kehidupan dewasa ini (Ahmad Muflih Syaefuddin, 1997: 35). Sejak terbukanya era ilmu pengetahuan, yaitu saat dimulainya usaha pencarian dan penyelidikan dari hukum-hukum alam telah menjadi anggapan pula bahwa terdapat pertentangan antara ilmu pengetahuan (sains) dan agama. Hal ini semakin jelas dan tajam oleh peristiwa dihukumnya Galilei Galileo oleh jawatan suci dan yang lebih belakangan adalah terhadap pendirian yang diyakini oleh Darwin (M. Zafrullah Khan, 1994: 23). Agama sebagai sistem yang dirancang oleh Tuhan tidak mungkin bertentangan dengan hukum-hukum alam universal yang diperuntukkan makhluk-Nya. Akan tetapi, fundamentalis fanatik yang mengganggap dirinya juru bicara Tuhan dan ilmuwan ortodoks yang mengingkari pencipta segala ilmu berusaha sekeras-kerasnya untuk membuktikan

kontaradiksi sains dan agama (Caner Taslaman, 2010: 24). Pertentangan semacam ini dapat terselesaikan dalam persepsi dunia barat. Mereka menanggapi dengan asumsi nahwa ada penerimaan secara perlahanlahan antar sains dan agama yang bekerja di bidangnya masing-masing dan tidak saling tumpah tindih. Sebagai konsekuensinya, agama memiliki ruang lingkup yang terbatas serta dibatasi aturan dan pelaksanaanya (M. Zafrullah Khan, 1994: 23). Sebuah ciri modern adalah banyak orang beriman dari barbagai agama dan kekuasaan yang berbeda mencari kemungkinan pengakuan dari sains terhadap kepercayaan agama mereka. Penegasan yang yang diharapkan akan meningkatkan nilai kebenaran kitab suci sekaligus menangkis serangan hegemonis kaum positivis. Salah satu contoh yang baik dari pendekan ini sebagaimana yang dilakukan oleh Said Nursi (1877-1960). Nursi adalah aktivis terkenal di turki dan memiliki pengetahuan yang luas tentang temuan-temuan ilmiah pada masanya. Ia menyadari kekuataan sains alam modern dan percaya terhadap objektivitas universal temuan sains. Menurutnya baliau membaca ayatayat Al-Quran melalui lensa sains fisika modern tidak hanya melindungi iman para pemuda yang terguncang oleh positivisme dan empirimisme abad ke-19. Disisi lain, ini merupakan awal metode baru untuk membuktikan iman islam berdasarkan kepastian sains dan untuk membaca ayat-ayat kosmik Al-Quran menurut matriks temaun ilmiah (Ibrahim Kalin, 2006: 79-80). Sumber Al-Quran adalah sang pencipta alam semesta. Pesan dan misi Al-Quran ditujukan kepada seluruh umat manusia. Ketika Al-Quran menghimbau ummat seluruh manusia, ia membedakan antara orangorang yang tidak berpengetahuan dan mereka yang berpengetahuan: Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?" (QS. Al-Zumar [39]: 9).

B. MUKJIZAT ILMIAH DALAM AL-QURAN Kemukjizatan Al-Quran merupakan objek kajian yang luas yang senantiasa dikaji dari zaman dahulu hingga sekarang. Salah satu sisi kemukjizatan Al-Quran yang banyak dibicarakan bahkan menjadi dikursus pada saat ini adalah mukjizat ilmiah dalam ayat-ayat Al-Quran. Banyak buku yang membahas tentangnya serta menjadi topik hangat dalam berbagai diskusi dan muktamar. Pada sisi lain, ayat-ayat Al-Quran sendiri sangat menggalakkan manusia memperhatikan bahkan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat Allah yang mengatur fenomena alam. Ibnu Rusyd, seorang sarjana muslim pernah mengatakan bahwa alam raya ini adalah kitab Allah yang pertama sebelum kitab-kitab Allah lain yang berbentuk kumpulan wahyuNya. Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengerti akan ayat-ayat-Nya yang telah dipatuhi Alam itu (M. Imaduddin Abdulrahim, 1997: 96). Hal ini tersirat dalam ayat AL-Quran sebagai berikut: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa‟ [4]: 82). a. Metodologi Quraniyyah Aproksimasi sains yang menerima kontak rujukan agama dalam pandangan Al-Quran dapat bergerak menurut waktu yang akan

menghasilkan kualitas yang lebih baik. Diatas kondisi dasar ini, penelitian dalam persepsi Al-Quran perlu dikembangkan lagi dengan analisis beberapa metodologi (Ika Rochdjatun Sastrahidayat, 1997: 55-58), yaitu: 1) Metodologi Historis, Sangat banyak pernyaatan dalam Al-Quran yang mengajak kita meliahat peristiwa-peristiwa penting yang telah berlalu untuk dijadikan ibarah. Seperti kisah kehancuran bani „Ad, Tsamud, Firaun, Luth dan kaum-kaum yang lainnya (QS. Muhammad [47]: 10).

2) Metodologi Komparatif, Metode ini sangat lazim dalam pernyataan ayat-ayat Al-Quran sebagaimana dinyatakan dalam surat Ar-Rad [13]: 4. Ayat diatas memberikan keterangan bahwa kurma dari Madinah berbeda dari kurma Jazirah Arab. 3) Metode Peramalan, Metode ini merupakan cara untuk

mengungkapkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Salah satu contoh peramalan yang terbukti benar dalam Al-Quran mengenai kekalahan dan kemenangan perang antara Romawi dan Persia

sebagaimana diterangkan dalam surat Ar-Rum ayat 2 sampai 4. 4) Metode Observasi, Paradigma Al-Quran mengenai metode

observasi lebih sering dihubungkan dengan metode pendidikan dan pengajan. Pendidikan Luqman atas anak-anaknya merupakan contoh klasik yang sangat menarik dalam kasusu ini (QS. Lukman [31]: 12-19). 5) Metode Pemicu, metode ini dikembangkan melalui kesamaan terobosan pada satu sistem yang belum sesuai agama dan efektivitasnya sudah terbukti oleh konsep Al-Quran. 6) Metode Klinis, Metode Klinis berhubungan dengan perhatian individu atau kelompok yang sangat intensif mengenai permasalahan yang terjadi dalam masnyarakat. Dengan kesadaran penuh, Rasulullah memberikan perhatian khusus terhadap status individu atau kelompok sehingga muncul perasaan persaudaraan muslim (QS. Al-Fath [48]: 29). 7) Metode Prilaku, cara ini sangat mencolok dalam islam terutama dalam mengungkapakan kesadaran diri individual atau kelompok sehingga nampak perbedaan anatara mukmin, munafik, kafir dan fasik. 8) Metode Empiris/Induksi, metode ini sudah dikenal luas di dunia ilmu pengetahuan modern terutama dalam mengungkapkan dunia bendabenda mati. Sedangkan, untuk benda benda hidup tabir ini disingkapkan untuk mengungkapkan rahasia DNA/RNA. Banyak obyek ilmu

pengetahuan dirangsang untuk diselidiki dengan metode ini. Diantaranya teori Hibernisasi atau tidur panjang yang ditemukan dalam kisah Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi [18]: 10-25).

b. Metodologi Akal Ilmiah dalam Al-Quran Perkembangan peradaban barat sudah lazim membuat perbedaan tajam antara akal dan wahyu. Untuk memahami peran sains dalam tradisi keagamaan perlu dipahami bahwa akal dan wahyu bersifat harmonis dan saling melengkapi bukan antagonistik. Hal ini dalam tradisi islam atas perspektif Al-Quran dapat dibuktikan kesesuainya dan keharmonisan antara keduanya (William C. Chittick, 2006:146). Bagi yang membaca AlQuran dengan seksama akan menemukan proses Al-Quran membangun akal ilmiah sebagai landasan sains. Proses tersebut terdiri dari pilar-pilar sebagai berikut (Yusuf Qardawi, 1998: 278-287), yaitu: 1) Menolak keragu-raguan dalam perkara yang pasti, 2) Tidak mengikuti hawa nafsu dan emosi dalam lapangan ilmu pengetahuan, 3) Menolak taklid buta kepada bapak-bapak dan nenek moyang, 4) Penolakan untuk tunduk terhadap tuan-tuan dan pembesarpembesar, 5) Memerintahkan merenungkan ayat-ayat kauniyah dan melarang beribadah dengan dimensi akal.

c. Teori Ilmiah dalam Al-Quran Pengetahuan Al-Quran disajikan dalam bentuk yang berbeda dari buku-buku teks fisika, kimia, biologi yang berbasiskan metodologi ilmiah. Al-Quran mengikuti garis lurus dalam menyampaikan informasi sementara pengetahuan yang disampaikan sains diperoleh setelah akumulasi data yang sangat lama. Sumber Al-Quran adalah sang pencipta alam semesta (Caner Taslaman, 2010: 24). Ini berarti Al-Quran akan menjadi suatu objek penelitian yang menarik untuk mengungkapkan lebih jauh rahasia alam semesta sehingga setiap penyataan Al-Quran dapat dikembangkan dan menjadi berbagai ilmu baru (Ika Rochdjatun, 1997: 62).

C. AGAMA SEBAGAI RAHMAT DAN PEDOMAN HIDUP BAGI MANUSIA Tuhan telah menurunkan bantuan dan bimbingan yang merupakan pelita bagi manusia dalam menjalani hidupnya. Bimbingan itu adalah akal dan agama yang mengajarkan manusia mengenal dirinya, mengenal penciptanya dan makhluk-makhluk ciptaan lainnya (Syahrin Harahap, 1999: 3). Namun ironisnya di zaman setelah agama diturunkan masih banyak juga pemikir yang tidak mau menjadikan agama sebagai pelita kehidupan. “Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya” (QS. Lukman [31]: 12-19). Keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman modern ini. Kita mengetahui bahwa dewasa ini manusia menghadapi berbagai persoalaan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Problematika dalam dunia modern justru disebabkan oleh pemikiran perkembangan manusia sendiri. Ummat manusia telah berhasil membangun peradaban ynag maju untuk dirinya sendiri tetapi pada saat yang sama kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaanya sendiri. Dalam keadaan demikian, satu-satunya jalan keluar adalah mengembangkan keilmuan modern dibawah rambu-rambu ajaran agama (Abuddin Nata, 2009: 27). Paul Davis seorang ahli fisika berkata bahwa sains mencapai suatu tingkat dimana masalah-masalah yang bersifat religius secara formal sekarang boleh digarap secara serius. Memang sama sekali tidak dikatakan bahwa sains membuktikan eksistensi Allah atas dasar scientific avidence. Tetapi yang signifikan sekali adalah bahwa “the God question is

reemerging as an intelligible question within the context of the study nature” (Louis Leahy, 2006: 20). Pada dasarnya agama lahir dimuka bumi mempunyai tujuan luhur untuk menyampaikan pesan-pesan suci Tuhan. Diantara tujuan terpentingnya adalah sebagai rahmat, kebabahagian dan pembebasan termasuk di dalamnya untuk membebaskan manusia dari tipu daya duniawi. Karena itu, agama perlu dipahami secara lebih dinamis dan kreatif untuk memperkokoh peranan manusia dalam kehidupan dimuka bumi sebagai khalifah Allah (Musa Asy‟arie, 2006: 288).

D. KONSEP SAINS TERHADAP AGAMA MENURUT AL-QURAN Secara sederhana, sains dapat dikatakan sebagai produk manusia dalam menyingkap realitas. Terkait dengan pengertian ini, maka sains menjadi tidak tunggal atau dengan kata lain akan ada lebih dari satu sains. Sains satu dengan yang lain dibedakan pada makna realitasnya dan metode yang digunakan dalam mengetahui realitas tersebut. Setiap bangunan ilmu pengetahuan atau sains selalu berpijak pada tiga pilar utama, yakni pilar ontologis, aksiologis dan epistemologis. Menurut islam dalam perspektif Al-Quran, ketiga pilar tersebut mencakup ruang lingkup sebagai berikut (Agus Purwanto, 2008:188-192), 1) Pilar ontologis, yakni hal yang menjadi subjek ilmu. Sehubungan dengan ini maka agama harus menerima realitas material maupun nonmaterial sebagaimana disebutkan disebutkan dalam surat Al-Haqqah [69]: 38-39, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat”. Makhluk tidak dibatasi oleh yang material dan yang terindra, tetapi juga yang imaterial. Tatanan ciptaan atau makhluk terdiri dari tiga keadaan fundamental, yakni material, psikis dan spritual.

2) Pilar aksiologis, yakni terkait dengan tujuan ilmu pengetahuan dibangun atau dirumuskan. Tujuan utama sains adalah mengenal sang pencipata melalui pola-pola ciptaa-Nya, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al-Imran [3]: 191). 3) Pilar epistemologis, yakni bagaimana atau dengan apa kita mencapai ilmu pengetahuan. Al-Quran merupakan sumber intelektualitas dan spritualitas islam. Ia merupakan pijakan bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spritual melainkan juga bagi semua ilmu pengetauan. “(Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Imran [3]: 183). Selama 40 tahun terakhir, minat kuat dalam hubungan sains dan agama telah banyak menghasilkan tanggapan dan interaksi kesarjanaan yang berusaha menjembatani sains dan teologi kristen. Namun, santis muslim pada umumnya tidak tertarik pada tema ini. Wacana islam dan sains tetap menjadi isu pinggiran dalam kehidupan intelektual muslim kontemporer. Walaupun demikian, pada level populer ada sejumlah literatur yang berupaya menunjukan bukti bagi penemuan ilmiah modern dalam Al-Quran. Diantaranya literatur yang sangat populer adalah karya dokter Muslim asal Prancis, Maurice Bucaille dalam The Bible, the Quran and Science (Muzaffar Iqbal, 2006: 44-45). Mengigat perkembangan modern yang semakin pesat, maka sudah saatnya kita harus berbondongbondong memasuki dunia sains. Kita tak perlu bimbang dalam memilih sains sebab seluruh ciptaan pada dasarnya telah tunduk pada kehendak Ilahi. Tampa sains, kita hanya menjadi konsumen yang bergantung tampa kuasa apapun dan akhirnya mudah didikte orang lain.

III. ANALISIS Allah menekankan dalam Al-Quran bahwa penemuan-penemuan manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan (sains) merupakan upaya yang mulia. Disamping itu, hasil-hasil penelitian ilmiah memberikan bukti kebenaran ayat-ayat Al-Quran sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tempat dalam Al-Quran. Salah satu diantaranya disebutkan dalam surat Al-Fushshilat ayat 53, Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?. Respon positif dari para ilmuwan yang mengakui kebenaran ini dan bersaksi akan kebenaran Al-Quran digambarkan pada surat Saba‟: 6, “Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. Keterangan ayat diatas membuktikan adanya integralisasi sains dan agama dalam perspektif AL-Quran. Untuk penjelajahan yang lebih kreatif dalam integrasi ini perlu memandang alam secara keseluruhan dan dalam matriksnya tersendiri sebagaimana yang didefinisikan oleh nas wahyu, yakni Al-Quran. Jadi, Untuk mewujudkan wacana islam dan sains perlu memperhatikan beberapa hal-hal (Musaffar Iqbal, 2006: 47), yaitu: 1) Konsep agama terhadap Tuhan, 2) Konsep alam dalam Agama, 3) Kaitan antara konsep agama tentang alam, 4) Kajian Al-Quran dalam hubungannya dengan sains, 5) Kerangka epistemologi antara agama dan sains modern.

IV. KESIMPULAN Situasi dunia yang semakin global dan modern seperti sekarang ini mengakibatkan kehidupan manusia semakin dihadapkan kepada berbagai tantangan. Dalam keadaan demikian dijumpai manusia yang berhasil menyikapi kehidupan global dan modern tersebut secara lebih bermakna tetapi ada juga yang tidak tahu arah yang harus dituju. Perkembangan dunia global dan modern mendorong agama agar lebih agresif dalam memberikan jawaban terhadap berbagai masalah baik yang berkaitan dengan problem sosial, okonomi, politik, keamanan, kemakmuran dan khusunya dalam kajian sains serta turunanya dalam bidang teknologi. Hal ini diyakini bahwa agama mengandung nilai-nilai universal dan absolut yang mampu memberikan resep-resep mujarab yang tidak habis-habisnya. Idealnya, perkembangan keberhasilan zaman manusia sikap dalam dalam menjalani segala dan

tergantung

mengelolah

mengaplisakasikan alam semesta dalam rambu-rambu ajaran agama. Hal ini menunutut manusia memahami jati dirinya sebagai pemelihara dan penjaga kelangsungan serta kelestraian alam. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Pemaparan isi karya ini secara tersirat nampak usaha untuk untuk menyesuaikan pemahaman integrasi sains dan agama dalam perspektif Al-Quran. Harapan kita agar usaha ini memperkaya dan dapat memaparkan hakikat sesunggunya wacana sains dan agama di tengah banyaknya kajian yang sama dalam perspektif yang berbeda-beda.

DAFTAR PUSTAKA
Bagir, Sainal Abidin. “Sains dan Agama-Agama: Perbandingan Beberapa Tipologi Mutakhir”. Dalam Zainal Abidin, Liek, Arqom, dan M. Yusuf (eds.), Ilmu, Etika dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, Yogyakarta: CRCS UGM, 2006. Asy‟arie, Musa. “Agama Untuk Pembelaan Kemiskinan”. Dalam Zainal Abidin, Liek, Arqom, dan M. Yusuf (eds.), Ilmu, Etika dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, Yogyakarta: CRCS UGM, 2006. Leahy, Louis. “Sains dan Agama dalam Perdebatan”. Dalam Zainal Abidin, Liek, Arqom, dan M. Yusuf (eds.), Ilmu, Etika dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, Yogyakarta: CRCS UGM, 2006. Harahap, Syahrin. Islam Untuk Berbagai Aspek Kehidupan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999. Iqbal, Muzaffar. “Islam dan Sains Modern: Persoalan dalam Perjumpaan”. Dalam Ted Peters, Muzaffar Iqbal dan Nomanul Haq (eds.), Tuhan, Alam dan Manusia: Perspektif Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2006. Chittick, William C. “Visi Antropokosmik dalam Pemikiran Islam”. Dalam Ted Peters, Muzaffar Iqbal dan Nomanul Haq (eds.), Tuhan, Alam dan Manusia: Perspektif Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2006. Kalin, Ibrahim. “Tiga Pandangan tentang Sains di Dunia Islam”. Dalam Ted Peters, Muzaffar Iqbal dan Nomanul Haq (eds.), Tuhan, Alam dan Manusia: Perspektif Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2006. Khan, Sir. M. Zafrullah. Islam: Memecahkan Problematika Dunia.Terj. Faisal Saleh dari Judul Asli The Contribution of Islam to the Solution of World Problems. Jakarta: PT. Arista Brahmatyasa, 1994. Abdulrahim, M. Imaduddin. “Al-Quran Merangsang Perkembangan Ilmu dan Teknologi”. Dalam Iwan Kusuma, Tamsil Linrung dan Hidayat (eds.), Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press, 1997. Syaefuddin, Ahmad Muflih. “Al-Quran: Paradigma IPTEK dan Kehidupani”. Dalam Iwan Kusuma, Tamsil Linrung dan Hidayat (eds.), Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press, 1997.

Sastrahidayat, Ika Rochdjatun. “Paradigma kesamaan Ilmu Pengetahuan dan Agama Menurut Al-Quran Karim”. Dalam Iwan Kusuma, Tamsil Linrung dan Hidayat (eds.), Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press, 1997. Mattulada, Ahmad. “Islam Sebagai Pembuka Jalan Bagi Ummat Manusia: Sebuah Tinjauan Antropologi”. Dalam Iwan Kusuma, Tamsil Linrung dan Hidayat (eds.), Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, Jakarta: Gema Insani Press, 1997. Mir, Mustansir. “Perspektif Kristen tentang Agama dan Sains dan Signifikansinya bagi Pemikiran Muslim Modern”. Dalam Ted Peters, Muzaffar Iqbal dan Nomanul Haq (eds.), Tuhan, Alam dan Manusia: Perspektif Sains dan Agama, Bandung: Mizan, 2006. Najati, Muhammad Utsman. Psikologi dalam Al-Quran. Terj. M. Zaka Al-Farisi dari Judul Asli Al-Quran Wa Ilmun Nafsi. Bandung: CV Pustaka Setia, 2005. Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Edisi Ke-16. Jakarta: Rajawali Press, 2009. Purwanto, Agus. Ayat-ayat Semesta: Sisi-sis Al-Quran yang Terlupakan. Bandung: Mizan, 2008. Qardawi, Yusuf. Al-Quran Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan. Terj. Abdul Hayyie Al-Kattani dari Judul Asli Al-Aqlu wal Ilmu Fil-Qur‟anil Karim. Jakarta: Gema Insani Press, 1998. Rahman, Fazlur. Islam. Terj. Ahsin Mohammad dari Judul Asli Islam. Bandung: Pustaka, 1994. Taslaman, Caner. Miracle Of The Quran: Keajaiban Al-Quran Mengungkap PenemuanPenemuan Ilmiah Modern. Terj. Ary Nilandari dari judul asli The Quran: Unchallengeable Miracle. Bandung: Mizan, 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->