P. 1
bronkitis

bronkitis

|Views: 873|Likes:
Published by Santa Aritonang

More info:

Published by: Santa Aritonang on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

DAFTAR PUSTAKA Halaman judul ...................................................................................................................... I Kata Pengantar ...........................................................................................

.......................... Daftar Isi ............................................................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................................................... A. Latar Belakang.......................................................................................................... B. Tujuan ..................................................................................................................... 1. Tujuan Umum .................................................................................................... 2. Tujuan Khusus ................................................................................................... BAB II. TINJAUAN TEORITIS .................................................................................................. A. B. C. D. E. F. G. H. Definisi Bronkhitis Kronis ........................................................................................ Etiologi ..................................................................................................................... Patofisiologi ............................................................................................................. Woc ......................................................................................................................... Manifistasi Klinis ..................................................................................................... Komplikasi ............................................................................................................... Penatalaksanaan Medis dan Perawat ..................................................................... Pemeriksaan Penunjang ..........................................................................................

BAB III. TINJAUAN TEORITIS ASKEP BRONKHITIS KRONIS A. B. C. D. E. Pengkajian ............................................................................................................................ Perumusan Diagnosa ........................................................................................................... Intervensi ............................................................................................................................. Implementasi ....................................................................................................................... Evaluasi ................................................................................................................................

BAB IV. PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................................................................... B. Saran .................................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................................

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Askep Bronkhitis Kronis ” yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang “ Bronkhitis Kronis” yang berisikan tentang, Definisi, Etiologi, Patofisiologi, Manifiestasi Klinis, Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen KMB yang telah membimbing penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Pekanbaru, 21 Desember 2011

Penulis

terdiri dari 6 – 8 cincin dan mempunyai 3 cabang. Kekerapan setinggi itu ternyata mengalami penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. disini terdapat cincin dan terdapat gelembung paru yang disebut alveolli. Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri. Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik. Di sinilah tempat terjadinya pertukaran gas. Bronkus kiri terdiri dari 9 – 12 cincin dan mempunyai 2 cabang. . Di Inggris dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan ketidak mampuan pasien untuk bekerja. O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. kekerapan bronchitis diperkirakan sebanyak 1.3% diantara populasi.BAB I PENDAHULUAN 1. ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis IV dan V. dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). Bronkus yang terkena umumnya bronkus kecil (medium size ). Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus. Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. sedangkan bronkus besar jarang terjadi. Bronkus merupakan lanjutan dari trakea.1 Latar Belakang Paru-paru merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembunggelembung. Perubahan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastis dan otot-otot polos bronkus. Dinegara barat.

1. dll. Etiologi Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis . asap mobil. Alergi c. B. misal: asap pabrik. merupakan keadaan yang berkaitan dengan produksi mukus trakeobronkial yang berlebihan sehingga cukup untuk menimbulkan batuk dengan ekspektorasi sedikitnya 3 bulan dalam setahun untuk lebih dari 2 tahun secara berturut-turut. 2002).2. Bronkitis kronis didefinisikan sebagai adanya batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut. Definisi Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2. yaitu: a. Haemophilus influenzae b. Streptococcus (streptokokus). Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus). Rangsangan lingkungan. Pneumococcus (pneumokokus). Istilah bronchitis kronis menunjukkan kelainan pada bronchus yang sifatnya menahun (berlangsung lama) dan disebabkan oleh berbagai faktor. Tujuan umum BAB II PEMBAHASAN A. . baik yang berasal dari luar bronchus maupun dari bronchus itu sendiri. 1998. hal : 490). (Bruner & Suddarth. asap rokok.

Kongesti menahun pada dinding bronkhus melemahkan daya tahan sehingga infeksi bakteri mudah terjadi b. b. Penyakit jantung menahun. area infeksi merupakan cumber bakteri yang dapat menyerang dinding bronkhus. Infeksi sinus paranasalis dan rongga mulut. Bronkhitis kronis mula-mula hanya memengaruhi bronkhus besar.Bronkhitis kronis dapat merupakan komplikasi kelainan patologik pada beberapa alat tubuh. c. Dalam keadaan bronkhitis. yang disebabkan oleh kelainan patologik pada katup maupun miokardia. . Mukus lebih kental c. aliran udara masih memungkinkan tidak mengalami hambatan. Kumpulan lendir tersebut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Patofisiologi Dokter akan mendiagnosis bronkhitis kronis jika pasien mengalami batuk atau mengalami produksi sputum selama kurang lebih tiga bulan dalam satu tahun atau paling sedikit dalam dua tahun berturut-turut. Dilatasi bronkhus (bronkInektasi). Kerusakan fungsi siliari yang dapat menunjukkan mekanisme pembersihan mukus. Pasien dengan bronkhitis kronis akan mengalami: a. C. kongesti. Serangan bronkhitis disebabkan karena tubuh terpapar agen infeksi maupun non infeksi (terutama rokok). Rokok dapat menimbulkan kelumpuhan bulu getar selaput lendir bronkhus sehingga drainase lendir terganggu. dan bronkospasme. Peningkatan ukuran dan jumlah kelenjar mukus pada bronkhus besar sehingga meningkatkan produksi mukus. Iritan (zat yang menyebabkan iritasi) akan menyebabkan timbulnya respons inflamasi yang akan menyebabkan vasodilatasi. Tidak seperti emfisema. d. menyebabkan gangguan susunan dan fungsi dinding bronkhus sehingga infeksi bakteri mudah terjadi. edema mukosa. yaitu: a. bronkhitis lebih memengaruhi jalan napas kecil dan besar dibandingkan alveoli. namun lambat laun akan memengaruhi seluruh saluran napas.

adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. hipoksia. tampak terpisah menjadi 3 bagian 1. iaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul. dan acidosis. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman anaerob.Batuk Batuk pada bronchitis mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip seperti pada bronchitis kronis. D. dan apabila ditampung beberapa lama. akan menimbulkan sputum sangat berbau. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum. . dapat memberikan bau yang tidak sedap. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Obstruksi ini menyebabkan penurunan ventilasi alveolus. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat. maka terjadi polisitemia (produksi eritrosit berlebihan). Tanda dan Gejala Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronchitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. di mana terjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO. Kalau tidak ada infeksi skunder sputumnya mukoid. puruen. sputum jumlahnya banyak sekali. Bronchitis yang mengenai bronkus pada lobis atas sering dan memberikan gejala : Keluhan-keluhan: 1. Lapisan tengah jernih. jumlah seputum bervariasi. terdiri atas saliva ( ludah ) 3.sehingga pasien terlihat sianosis. sedang apabila terjadi infeksi sekunder sputumnya purulen. Lapisan teratas agak keruh 2. Pasien mengalami kekurangan 02. Sebagai kompensasi dari hipoksemia. lokasi kelainannya. dan ada tidaknya komplikasi lanjut. pada kasus yang sudah berat. Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan nekrosis dari bronkus yang rusak ( celluler debris ). dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan. umumnya jumlahnya banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur.Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napas terutama selama ekspirasi. misalnya pada saccular type bronchitis.

dapat menimbulkan kelainan berikut : terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada daerah yang . sehingga sering timbul demam (demam berulang) e. Ditemukan ronchi basah yang jelas pada lobus bawah paru yang terkena dan keadaannya menetap dari waku kewaktu atau ronci basah ini hilang sesudah pasien mengalami drainase postural atau timbul lagi diwaktu yang lain. Wheezing dapat local atau tersebar tergantung pada distribusi kelainannya. Pada tuberculosis paru. Sesak nafas ( dispnue ) Pada sebagian besar pasien ( 50 % kasus ) ditemukan keluhan sesak nafas. jari tubuh. Kelainan fisis Tanda-tanda umum yang ditemukan meliputi sianosis. yang biasanya menimbulkan fibrosis paru dan emfisema yang menimbulkan sesak nafas. d. manifestasi klinis komplikasi bronchitis. sputum tidak pernah menumpuk dan kurang menimbulkan reflek batuk. Timbul dan beratnya sesak nafas tergantung pada seberapa luasnya bronchitis kronik yang terjadi dan seberapa jauh timbulnya kolap paru dan destruksi jaringan paru yang terjadi sebagai akibat infeksi berulang ( ISPA ). haemaptoe justru gejala satu-satunya karena bronchitis jenis ini letaknya dilobus atas paru. akibat adanya obstruksi bronkus. pasien tanpa batuk atau batukya minimal. Pada kasus yang berat dan lebih lanjut dapat ditemukan tanda-tanda korpulmonal kronik maupun payah jantung kanan. bronchitis ( sekunder ) ini merupakan penyebab utama komplikasi haemaptoe. sering mengalami infeksi berulang pada bronkus maupun pada paru. C.. Kadang ditemukan juga suara mengi ( wheezing ). drainasenya baik. Apabila bagian paru yang diserang amat luas serta kerusakannya hebat. kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkus mengenai pembuluh darah ( pecah ) dan timbul perdarahan.2.Haemaptoe Hemaptoe terjadi pada 50 % kasus bronchitis. Perdarahan yang timbul bervariasi mulai dari yang paling ringan ( streaks of blood ) sampai perdarahan yang cukup banyak ( massif ) yaitu apabila nekrosis yang mengenai mukosa amat hebat atau terjadi nekrosis yang mengenai cabang arteri broncialis ( daerah berasal dari peredaran darah sistemik ) Pada dry bronchitis ( bronchitis kering ). Demam berulang Bronchitis merupakan penyakit yang berjalan kronik.

terkena serta dapat terjadi penggeseran medistenum kedaerah paru yang terkena. Aerosolized Nebulizer e.Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg). mengontrol infeksi. Wheezing sering ditemukan apa bila terjadi obstruksi bronkus.Pa O2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg) . . F. keluar dari hilus menuju apeks paru.Saturasi hemoglobin menurun. Surgical Intervention . . Antimicrobial b.Eritropoesis bertambah. E. Penatalaksanaan Pengobatan utama ditujukan untuk mencegah. Bila terjadi komplikasi pneumonia akan ditemukan kelainan fisis sesuai dengan pneumonia. dan meningkatkan drainase bronkhial menjadi jernih. Pengobatan yang diberikan adalah sebagai berikut: a. Bronchodilator d. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal. Pemeriksaan Diagnostik  Pemeriksaan radiologis Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel. Corak paru bertambah  Analisa gas darah . Postural drainase c.

Riwayat Penyakit Sekarang : batuk disertai dengan produksi sputum. Identitas Nama : Umur : usia 45-65 thn Kelamin : pada penelitian ditemukan kebanyakan pada laki-laki Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : Penanggung : b.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. Keluhan Utama : Batuk c. Riwayat Penyakit Dahulu :pada pengkajian riwayat penyakit dahulu ditemukan adanya batuk yang berlangsung lama (3 bulan atau lebih) . sering terjadi pada pagi hari dan dalam jangka waktu yang lama d.1 Pengkajian a.

klien yang tidak merokok tetapi tinggal dengan perokok (perokok pasif) mengalami peningkatan kadar karbon monoksida darah. Sistem Pernapasan :  Pola Napas : tidak teratur  Jenis : Dispnea . Dari keterangan tersebut untuk penyakit familial dalam hal ini bronchitis kronik berkaitan dengan polusi udara rumah. dan bukan penyakit yang diturunkan 3. Pemeriksaan Fisik a.  Distensi vena leher. Riwayat Penyakit Keluarga : penelitian terakhir didapatkan bahwa anak dari orang tua perokok dapat menderita penyakit pernapasan lebih sering dan lebih berat serta prevalensi terhadap gangguan pernapasan kronik lebih tinggi. c. Sistem Kardiovaskuler :  Irama Jantunng : reguler  Nyeri Dada : tidak ada  peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat.e.2. Keadaan Umum : lemah.  Bunyi jantung redup. sianosis Kesadaran : composmetis TD : 90/60 mmHg ND : 100 x/mnt RR : 22 x/mnt TB : 170 cm BB : 50 kg b. Selain itu.

insomnia. Wheezing ( akibat obstruksi bronkus)  Haemaptoe  Sputum (+)  Sianosis  Terdapat penggunaan otot bantu pernapasan  Barrel chest d. Sistem Neurosensori :  Gelisah. Sistem Muskuloskeletal dan Intergumen :  Kelemahan umum/kehilangan massa otot.  Edema  Akral hangat e. h. Sistem Pengindraan : .  Nafsu makan buruk/anoreksia  Ketidakmampuan untuk makan  Penurunan berat badan g. Sistem Pencernaan :  Mual/muntah. Sistem Genetourinaria :  BAK : 4x/hari  Urine output : 700cc/hr  Warna : kuning f. Batuk (+)  Suara Nafas tambahan : Ronchi.

.3 Pemeriksaan Penunjang  Analisa gas darah .anafilatoxin) Wheezing ( substance Ketidakefektifan bersihan jalan napas Release vasactive obstruksi Permeabilitas kapiler Kontraksi otot polos Edema mukosa .Pa O2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg) . akibat bronkus) Sputum (+) (histamine. .Eritropoesis bertambah 3. Panciuman terganggu akibat adanya secret  Pada system pengindraan yang lainya tidak ada gangguan i.brodikinin.Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg). Sistem Endokrin : 3.Saturasi hemoglobin menurun.4 analisa data Pengelompokan Data Etiologi Masalah kep Ds: pasien mengatakan Reaksi alergen dan anti bodi hidungnya tersumbat Do: Suara Nafas tambahan : Ronchi.

Pola Napas tidak teratur .Hipersekresi mukus Obstruksi saluran nafas Hipoventilasi Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Ds : pasien mengatakan Pencetus serangan Alergen.Sianosis .Pa O2 : rendah (normal 80 – 100 mmHg) .Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg).Dispnea .brodikinin.Edema . Gangguan Pertukaran Gas Obstruksi saluran nafas Bronchospasme (histamine.anafilatoxin) Reaksi alergen dan anti bodi Release vasactive substance .Terdapat penggunaan otot bantu pernapasan Konstriksi otot polos .emosi/stress Gangguan pertukaran gas sesak napas Do : .

Mual/muntah.d peningkatan produksi sekret 2.5 Diagnosa Keperawatan 1. Do : pasien mengatakan tidak nafsu makan Release vasactive substance Ds : .anafilatoxin) Produksi Sputum Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan 3.d ketidakseimbangan perfusi-ventilasi 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea.Ketidakmampuan untuk makan . Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.Penurunan berat badan Sekresi mucus Reaksi alergen dan anti bodi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan (histamine. mual muntah . . Gangguan pertukaran gas b. .Saturasi hemoglobin menurun.brodikinin.Nafsu makan buruk/anoreksia .Eritropoesis bertambah. anoreksia..

anoreksia.6 Indikator Table Noc: Ketidakefektifan bersihan jalan napas Ketidakefektifan bersihan jalan napas klien dapat adekuat dalam waktu…X24 Jam INDIKATOR Suara Nafas (vesicular) Secret (-) RR: 16-24x/menit 1 2 3   4 5  3.d peningkatan produksi sekret 2.3.5 Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan pertukaran gas b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan dispnea.d ketidakseimbangan perfusi-ventilasi 3. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.6 Indikator Table Noc: Ketidakefektifan bersihan jalan napas Ketidakefektifan bersihan jalan napas klien dapat adekuat dalam waktu…X24 Jam INDIKATOR pCO3 (36-44 mmHg) pO2 (80-100 mmHg) Sianosis Hemoglobin    1 2 3  4 5 . mual muntah 3.

Kaji/pantau frekuensi jam pernafasan. ketidakefektifan jalan 3.Table Noc : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan klien adekuat dalam waktu …. Observasi karakteristik batuk nafas teratasi bersihan KH : HE Suara 4.d peningkatan produksi sekret Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 Pengkajian 1.7 Intervensi No Diagnosa Keperawatan Intervensi Tujuan dan Kriteria Hasil Ketidakefektifan bersihan jalan napas b. Auskultasi bunyi nafas 2. informasikan kepada .X 24 jam INDIKATOR Makan (3x sehari) Minum (8 gelas/hari) Mual BB ideal    1 2 3 4  5 3.

Secret (-):nilai 3 RR: 16- pasien bahwa dan keluarga merokok merupakan kegiatan yang dilarang didalam ruang perawatan 24x/menit:nilai 4 5. Pertahankan polusi lingkungan minimum Gangguan pertukaran gas behubungan dengan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pengkajian 1. Kaji frekuensi. antimikrobial. Berikan obat sesuai indikasi : bronkodilator.nafas(vesicular ): nilai 3 . Steroid oral/IV dan inhalasi. kedalaman pernafasan. Xantin. Kromolin.Berikan humidifikasi tambahan(nebulizer) Aktivitas Lain 8. intruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik napas dalam untuk keluarnya memudahkan sekresi Kolaborasi 6. analgesik 7. .

Ajarkan pasien pernafasan . Berikan obat yang diresepkan(misalnya:natr ium bikaronat) Aktivitas Lain 8 Jelaskan kepada pasien sebelum pelaksanaan prosedur. Awasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi GDA pemberian oksigen dan tindakan lainnya. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA 7.pO2 (3) . Auskultasi bunyi nafas perfusi-ventilasi gangguan pertukaran teratasi KH : HE .ketidakseimbangan selama 3x24 jam 2. Jelaskan kepada pasien dan keluarga alasan dan gas 3.sianosis (3) .pCO3 (3) 4.untuk menurunkan ansietas dan memulai .Hemoglobin (3) diafragmatik pernafasan bibir 5. Kolaborasi 6.

misalnya tim untuk makanan mudah nutrisi . 9.Makan (3x/hr) 3.meningkatkan kendali. Kaji kebiasaan perubahan nutrisi dari kurang kebutuhan diet. HE . Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan.Mual (4) .secara seimbang. Lakukan hygiene rasa mulut secara teratur. Aktivitas Kolaboratif 5. dengan hilangnya selama 4x24 jam nafsu makan 2. Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung memberikan yang dicerna.Evaluasi badan dan ukuran tubuh.BB ideal (2) (8 bergizi dan tidak mahal. Perubahan nutrisi Setelah kurang dari dilakukan kebutuhan Berhubungan tindakan keperawatan Pengkajian 1. 4.masuakan Catat derajat saat ini kesulitan berat teratasi KH : makan. Ajarkan metode untuk perencanaan makan. Ajarkan pasien/keluarga (4) tentang makanan yang Minum gls/hr) (4) .

Mengobservasi karakteristik batuk Memberikan humidifikasi dan inhalasi. Steroid oral/IV analgesic 08.00 08. Berikan oksigen tambahan selama indikasi.45 Mengkaji/pantau frekuensi pernafasan. Kromolin. Aktivitas lain 7.30 08. Xantin. . 6. Hindari penghasil makanan gas dan makan sesuai dapat minuman karbonat 8. antimikrobial.15 1 Implementasi Mengauskultasi bunyi nafas Memberikan obat sesuai indikasi : Paraf bronkodilator.nutrisi tambahan oral/selang. Implementasi TGL/JAM No Diagnosa 08.nutrisi parenteral total agar asupan yang kalori yang adekuat dipertahankan. Timbang berat badan sesuai indikasi D.

untuk menurunkan ansietas dan meningkatkan rasa kendali.20 No Diagnosa 2 Mengkaji pernafasan.00 Mengauskultasi bunyi nafas Menjelaskan kepada pasien dan keluarga alasan pemberian oksigen dan tindakan lainnya.40 Memberikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA 09. Mengajar pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir 10. kedalaman Paraf 09.09. 10. Tgl/jam 10.45 10.15 tambahan(nebulizer) Mempertahankan minimum polusi lingkungan Tgl/jam 09.10 Memberikan obat yang diresepkan(misalnya:natrium bikaronat) 10.45 3 No Diagnosa Menentukan Implementasi motivasi pasien untuk Paraf mengubah kebiasaan makan.20 10.00 09.30 mengawasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi GDA 09. Implementasi frekuensi.10 Menjelaskan memulai kepada pelaksanaan pasien sebelum prosedur. 11.35 Melakuka hygiene mulut secara teratur.00 Mengajarkan pasien/keluarga tentang .

12. 13.nutrisi tambahan parenteral total agar asupan yang kalori yang adekuatapat dipertahankan. 12.00 Mengajarkan metode untuk perencanaan makan.Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.misalnya oral/selang.Catat derajat kesulitan makan.15 Menghindarkan makanan penghasil gas dan minuman karbonat 10.00 Konsultasi ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna.secara nutrisi nutrisi seimbang.47 Mengkaji kebiasaan diet. 13.makanan yang bergizi dan tidak mahal. Evaluasi Masalah Keperawatan yang timbul Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.00 Secret (+) 07.masuakan saat ini.30 S: pasien mengatakan hidungnya masih tersumbat Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf produksi sekret .d peningkatan 08.15 Menimbang berat badan sesuai indikasi E.00 O: Suara Nafas Ronchi 12.

intruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik napas dalam untuk sekresi 4. Steroid oral/IV dan inhalasi. Xantin.7 dilanjutkan I : 1. Kromolin. Berikan obat sesuai indikasi : bronkodilator.5. Kaji/pantau frekuensi pernafasan: RR : 25x/mnt (2) 3.2. analgesic 5. Berikan tambahan(nebulizer) E : Suara napas : Ronchi RR : 25x/mnt Pasien dapat mendemonstrasikan cara batuk efektif dan napas dalam R : ketidakefektifan bersihan jalan napas belum teratasi. intervensi dilanjutkan Masalah Keperawatan yang timbul Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf humidifikasi . Auskultasi bunyi nafas : Ronchi (2) 2. memudahkan keluarnya antimikrobial.RR: 25x/mnt A:Ketidakefektifan bersihan jalan napas P:Intervensi 1.6.

Auskultasi bunyi nafas : wheezing 2.d 08.00 12.3. Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA E : Suara Napas : Wheezing pCO3 : 45 mmHg pO2 : 76 mmHg Sianosis (+) R : gangguan pertukaran gas belum teratasi.00 S: pasien masih merasakan sesak napas O: pCO3 46 mmHg pO2 : 75 mmHg Sianosis (+) A: Gangguan pertukaran gas P:Intervensi 2.30 dari S: pasien mengatakan masih tidak nafsu .Gangguan pertukaran 07. intervensi dilanjutkan ketidakseimbangan perfusi-ventilasi Masalah Keperawatan yang timbul Perubahan kurang Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf nutrisi 07. Awasi tanda vital dan irama jantung dan Awasi GDA 3.6 dilanjutkan I : 1.30 gas b.

Timbang berat badan sesuai indikasi E : makan (2x/hr) . anoreksia. Ajarkan pasien/keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.nutrisi parenteral total agar asupan yang kalori yang adekuat dapat dipertahankan. 3. muntah (+) BB : 50kg Makan (1x/hr) Minum (4x/hr) A: Perubahan nutrisi kurang dari mual muntah.secara nutrisi seimbang.kebutuhan berhubungan dengan dispnea.Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.masuakan saat ini Catat derajat kesulitan makan. Kaji kebiasaan diet. kebutuhan P:Intervensi 2.5. 2. 8.8 dilanjutkan I : 1. 08.30 makan O: mual.00 12.3. Konsul ahli gizi/nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna.misalnya nutrisi tambahan oral/selang.

intervensi dilanjutkan . muntah (+) BB : 50 kg Keluarga dapat menjelaskan kembali tentang macam-macam makanan yang bergizi dan tidak mahal R : perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan belum teratasi.Minum (6x/hr) Mual.

Alergi c. Rangsangan lingkungan. Pneumococcus (pneumokokus). Kesimpulan Bronchitis kronis dan emfisema paru sering terdapat bersama-sama pada seorang pasien. . Haemophilus influenzae b. yaitu: a. Infeksi: Staphylococcus (stafilokokus). dalam keadaan lanjut penyakit ini sering menyebabkan obstruksi saluran nafas yang menetap yang dinamakan cronik obstructive pulmonary disease ( COPD ). hindari polusi udara. asap mobil. b. debu. asap rokok. dll. Saran Dari makalah ini maka dapat di ambil saran bahwa upaya pencegahan bronchitis kronis adalah hindari merokok. Streptococcus (streptokokus). misal: asap pabrik. berbagai bahan kimia industry. Terdapat tiga jenis penyebab bronkhitis .BAB IV PENUTUP a.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->