P. 1
Komunikasi Pada Anak

Komunikasi Pada Anak

|Views: 481|Likes:
Published by Lainatussifah Qamal

More info:

Published by: Lainatussifah Qamal on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Perkembangan Bicara dan Bahasa yang Normal Sangat penting untuk mengerti perkembangan bicara dan bahasa pada

anak anda. Terkadang sulit untuk membedakan apakah anak hanya imatur di dalam kemampuannya berkomunikasi atau anak memiliki gangguan yang membutuhkan bantuan profesional.

Perkembangan berbicara dan bahasa anak adalah:

Sebelum 12 bulan : Mengoceh atau „babbling‟ adalah tahap awal dari perkembangan berbicara. Apabila bayi beranjak besar (sekitar 9 bulan), mereka mulai untuk menggunakan nada yang berbeda-beda untuk berbicara, berkata „mama‟ dan „dada‟ (tanpa mengerti artinya). Sebelum usia 12 bulan, anak mulai tertarik pada suara. Usia 12-15 bulan : Anak pada usia ini memiliki variasi babbling mereka dan minimal 1-2 kata yang dimengerti sudah dikeluarkan (tidak termasuk „mama‟ dan „dada‟) . Anak usia ini sudah dapat mengerti dan mengikuti petunjuk tunggal (seperti: “Tolong berikan saya mainan itu”) atau mengerti perintah dan sedikit pertanyaan (contoh : Mana hidungmu?) Usia 18-24 bulan : Anak sudah memiliki sekitar 20 kata pada usia 18 bulan, dan sekitar 50 kata atau penggalan kata pada usia 24 bulan. Pada usia 24 bulan, anak harus belajar mengkombinasikan 2 kata seperti “Susu sapi”. Usia 2 tahun seharusnya juga sudah dapat mengikuti 2 macam perintah (seperti : “Tolong ambilkan mainan itu dan bawakan saya gelasmu”) Usia 2-3 tahun : Koleksi kata-kata anak sudah meningkat, dapat mengkombinasikan 3 atau lebih kata menjadi kalimat, mengerti berbagai macam perintah, dapat mengidentifikasikan warna dan mengerti konsep deskriptif (contoh : besar vs kecil)

Apa yang dimaksud dengan gangguan komunikasi? Yang dimaksud dengan gangguan komunikasi meliputi berbagai lingkup masalah yaitu gangguan bicara, bahasa, dan mendengar. Gangguan bahasa dan bicara melingkupi gangguan artikulasi, gangguan mengeluarkan suara, afasia (kesulitan menggunakan kata-kata, biasanya karena memar atau luka pada otak), dan keterlambatan di dalam berbicara atau berbahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa tergantung dari beberapa penyebab, termasuk di dalamnya adalah faktor lingkungan atau gangguan pendengaran. Berapa banyak anak memiliki gangguan komunikasi? Gangguan bicara pada anak adalah salah satu kelainan yang sering dialami oleh anak-anak dan terjadi pada 1 dari 12 anak atau 5 – 8 % dari anak-anak presekolah. Hal ini mencakup gangguan berbicara (3%) dan gagap (1%). Konsekuensi yang diambil pada gangguan wicara yang terlambat ditangani adalah perubahan yang signifikan dalam hal tingkah laku, gangguan kejiwaan, kesulitan membaca, dan gangguan prestasi akademik termasuk penurunan prestasi

di sekolah sampai drop-out. Sampai saat ini, gangguan bicara pada anak merupakan masalah yang sulit terdeteksi pada pusat pelayanan primer. Gangguan pendengaran bervariasi sekitar 5% dari anak usia sekolah dengan level pendengaran di bawah normal. Dari jumlah ini, 10-20% memerlukan pendidikan khusus. Sekitar 1/3 dari anak yang memiliki gangguan pendengaran, bersekolah di sekolah biasa, 2/3 dari mereka memasuki pendidikan khusus atau sekolah luar biasa untuk tuna rungu. Apa penyebab gangguan komunikasi? Banyak gangguan komunikasi muncul dari kondisi lain seperti gangguan pembelajaran, cerebral palsy, retardasi mental, atau sumbing bibir dan palatum. Anak dengan keterlambatan bicara memiliki gangguan pengucapan, yang berarti terdapat komunikasi tidak efektif pada area otak yang bertanggungjawab untuk berbicara. Anak dapat mengalami kesulitan di dalam menggunakan bibir, lidah, dan rahang untuk memproduksi suara. Tidak mampu berbicara dapat merupakan masalah satu-satunya atau dapat diikuti dengan masalah lainnya seperti kesulitan menelan. Keterlambatan berbicara dapat mengindikasikan keterlambatan perkembangan. Gangguan pendengaran umumnya berkaitan dengan keterlambatan berbicara, bila anak memiliki gangguan pendengaran, dia juga dapat memiliki gangguan mengerti pembicaraan dan gangguan menirukan dan menggunakan bahasa. Gangguan pendengaran terbagi atas gangguan pendengaran parsial dan ketulian total. Ketulian dapat didefinisikan sebagai kesulitan berkomunikasi secara auditori atau memerlukan alat bantuan berupa amplifikasi. Terdapat 4 tipe dari gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran konduktif yang disebabkan penyakit atau sumbatan pada liang telinga maupun telinga tengah, biasanya dapat dibantu dengan hearing aid. Gangguan pendengaran sensorineural terjadi Karena kerusakan pada sel rambut sensori dari telinga dalam atau kerusakan dari saraf telinga, umumnya tidak dapat dibantu dengan hearing aid. Gangguan pendengaran campuran yaitu kombinasi gangguan dari telinga luar atau telinga tengah, dan telinga dalam. Gangguan pendengaran sentral yang berasal dari kerusakan saraf atau otak. Apa karakteristik dari anak-anak dengan gangguan komunikasi?

Bayi yang tidak berespon dengan suara atau tidak bisa‟bubbling‟ atau mengoceh merupakan hal yang perlu diperhatikan. Pada usia 12-24 bulan, perhatian lebih perlu diberikan pada anak dengan :

Tidak dapat menggunakan bahasa tubuh seperti menunjuk atau melambai pada usia 12 bulan

 

Memilih bahasa tubuh dibandingkan vokalisasi untuk berkomunikasi pada usia 18 bulan Memiliki kesulitan menirukan suara atau kata pertama tidak muncul pada usia 18 bulan

Pada anak usia lebih dari 2 tahun, anda harus mencari bantuan apabila :
    

Hanya dapat mengulang kata atau suara tanpa mampu menghasilkan kata atau kalimat sendiri Hanya mengucapkan beberapa kata atau suara berulang-ulang Tidak dapat mengikuti petunjuk sederhana Memiliki suara yang tidak biasa (suara hidung) Lebih sulit dimengerti dibandingkan sebayanya, orangtua dan pengasuh sebaiknya mengerti separuh dari yang diucapkan anak pada usia 2 tahun, sekitar ¾ dari yang diucapkan pada anak 3 tahun, dan pada usia 4 tahun, anak anda seharusnya sudah dapat dimengerti seluruh kata-kata yang dia keluarkan

Anak dengan keterlambatan bicara dan bahasa memiliki berbagai karakteristik termasuk ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk, lambat dalam berbicara, kesulitan artikulasi, dan kesulitan dalam membuat kalimat. Gagap adalah gangguan dalam berbicara atau lambat di dalam berbicara, umumnya muncul antara usia 3-4 tahun dan dapat berkembang menjadi kasus yang kronik apabila tidak ditangani secara adekuat. Gagap dapat secara spontan menghilang pada usia remaja, namun terapi bicara dan bahasa sebaiknya dilakukan sebelumnya. Anak dengan kemungkinan gangguan pendengaran dapat muncul dengan kurangnya kemampuan pendengaran, perlunya pengulangan pertanyaan sebelum dapat menjawab yang benar, berbicara dalam kata-kata yang kurang tepat, atau mengalami kebingungan dalam diskusi. Deteksi dan diagnosis dini gangguan pendengaran sebaiknya segera dilakukan dan ditangani dengan segera. Apa yang harus dilakukan pada anak dengan gangguan komunikasi? Apabila anda atau dokter anak anda mencurigai adanya gangguan komunikasi, maka evaluasi dini oleh profesional sebaiknya segera dilakukan. Suatu evaluasi yang dilakukan oleh ahli patologi bicara dan bahasa diantaranya adalah melihat kemampuan berbicara dan berbahasa anak anda menggunakan tes dan skala yang sudah distandarisasi. Ahli patologi tersebut juga akan mengamati apa yang anak mengerti, apa yang anak dapat katakan, komunikasi bahasa tubuh seperti menunjuk, menggeleng, dan status oral-motor anak (bagaimana bentuk bibir, lidah, langit-langit mulut, apakah mereka dapat bekerjasama di dalam berbicara, makan, dan menelan). Apabila ahli tersebut menyatakan bahwa anak anda memerlukan terapi bicara maka keterlibatan orangtua sangat berperan. Suatu tim yang terdiri dari guru, terapis bicara dan bahasa, audiologis, dan orangtua diperlukan untuk menangani gangguan komunikasi pada

anak. Amplifikasi mungkin dibutuhkan pada anak dengan gangguan pemdengaran. Anak yang tidak dapat dibantu dengan hearing aid memerlukan terapi yang dini, seperti penggunaan bahasa isyarat dan membaca bibir yang dapat membantu komunikasi mereka.

Orangtua dapat membantu untuk mengevaluasi dan mengamati perkembangan komunikasi anak dengan cara memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, meskipun anak masih bayi, berbicara dan menyanyi pada anak dapat merangsang peniruan suara dan bahasa tubuh; bacalah buku untuk anak anda, dimulai pada usia anak 6 bulan dengan buku yang sesuai dengan usia anak; gunakan kehidupan sehari-hari untuk melatih bicara anak, yang berarti berbicaralah sepanjang hari seperti sebutkan nama-nama makanan di supermarket, jelaskan apa yang anda lakukan ketika anda memasak atau membersihkan ruangan, tunjuk bendabenda di sekitar rumah, dan yang terakhir adalah tanyakan kembali pengetahuan yang sudah anda berikan atau lihat respon anak anda.
3. Usia Sekolah (5-11 tahun) Perkembangan komunikasi pada anak usia ini dapat dimulai dengan kemampuan anak mencetak, menggambar, membuat huruf atau tulisan yang besar dan apa yang dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan anak membaca disini sudah muncul, pada usia ke delapan anak sudah mampu membaca dan sudah mulai berfikir tentang kehidupan. Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia sekolah ini adalah tetap masih memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak yaitu menggunakan kata-kata sederhana yang spesifik, menjelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada anak atau sesuatu yang tidak diketahui, pada usia ini keingintahuan pada aspek fungsional dan prosedural dari objek tertentu sangat tinggi. Maka jelaskan arti, fungsi dan prosedurnya, maksud dan tujuan dari sesuatu yang ditanyakn secara jelas dan jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu berkomunikasi secara efektif.

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ANAK USIA SEKOLAH
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ANAK USIA SEKOLAH

1. PENDAHULUAN Komunikasi pada anak usia sekolah merupakan suatu proses penyampaian dan transfer informasi yang melibatkan anak usia sekolah, baik sebagai pengirim pesan maupun penerima pesan.Dalam proses ini melibatkan usaha-usaha untuk mengelompokkan, memilih dan

mengirimkan lambang- lambang sedemikian rupa yang dapat membantu seorang pendengar atau penerima berita mengamati dan menyusun kembali dalam pikirannya arti dan makna yang terkandung dalam pikiran komunikator. Pada anak usia sekolah, komunikasi yang terjadi mempunyai perbedaan bila dibandingkan dengan yang terjadi pada usia bayi, balita,remaja, maupun orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh karakteristikkhusus yang dimiliki anak tersebut sesuai dengan usia dan perkembangannya . Komunikasi pada anak usia sekolah sangat penting karena pada proses tersebutmereka dapat saling mengekspresikan perasaan dan pikiran, sehingga dapat diketahui oleh orang lain. Disamping itu dengan berkomunikasi anak - anak dapat bersosialisasi dengan lingkungannya . Pada anak -anak yang dirawat dirumah sakit karena banyaknya permasalahan yang dialaminya baik yang berhubungan dengan sakitnya maupun karena ketakutan dan kecemasannya terhadap situasi maupun prosedur tindakan , sering komunikasi menjadi terganggu. Anak menjadi lebih pendiam ataupun tidak berkomunikasi. Keadaan ini apabila dibiarkan akan dapat memberikan efek yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan disamping proses penyembuhan penyakitnya . Perawat yang mempunyai banyak waktu dengan pasien , diharapkan dapat memulai menciptakan komunikasi yang efektif. Keterlibatan perawat dalam berkomunikasi sangat penting karena dengan demikian perawat mendapat informasi dan dapat membina rasa percaya anak pada perawat serta membantu anak agar dapat mengekspresikan perasaannya sehingga dapat dicari solusinya. Sehubungan dengan itu perawat dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi dalam memberikan askep pada anak usia sekolah, menguasai teknik-teknik komunikasi yang cocok bagi anak usia sekolah sesuai dengan perkembangannya . 2. TINJAUAN TEORI 2.1 Tumbuh kembang Anak Menurut Jean Peuget, anak pada usia 7-11 tahun merupakan tahap konkrit operasional. Pada fase ini anak sudah mulai berpikir lebih logis dan terarah,dapat memilih , menggolongkan , mengorganisasikan fakta, disamping itu mampu berpikir dari sudut pandang orang lain. Pada fase ini pula anak dapat mengetahui konsep guru, tetapi belum dapat berpikir hal - hal yang abstrak. Anak telah dapat mengatasi persoalan dengan konkrit dan sistematis menurut persepsinya . Sedangkan menurut Erickson, usia 6-12 tahun adalah tahap industri Vs. inferiority. Anak siap menjadi pekerja dan ingin dilibatkan dalam aktifitas , bila diberi tugas akan dikerjakan sampai selesai. Sudah ingin menghasilkan sesuatu , mulai belajar aturan - aturan dan kompetisi melalui proses pendidikan belajar dan berhubungan dengan orang lain. Jika harapan anak terlalu tinggi dan tidak mampu memenuhi standart maka anak menjadi inferiority, kurang percaya diri , gangguan prestasi dan takut kompetisi. 2.2 Komunikasi 2.2.1 Pengertian Komunikasi 1) Pengertian komunikasi yaitu : • Menurut Harold Koont dan Cyril O'Donell : Komunikasi adalah pemindahan informasi dari satu orang ke orang lain terlepas percaya atau tidak . Tetapi informasi yang ditransfer tentulah harus dimengerti oleh penerima . • Menurut William Ablig : Komunikasi adalah proses pengoperan lambang- lambang yang mengandung pengertian

antara individu- individu. • Menurut Dale Yoder : Kata communications berasal dari sumber yang sama , seperti kata common yang artinya bersama , bersama-sama dalam membagi ide,apabila seseorang berbicara, orang yang lain mendengarkan . Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah : - komunikasi dilakukan dua orang atau lebih - komunikasi merupakan pembagian ide, pikiran, fakta , pendapat. - Komunikasi melalui lambang-lambang yang harus dimengerti oleh pelaku komunikasi 2) Komunikasi terapeutik adalah : Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan secara sadar,bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. 3) Komunikasi terapeutik pada anak usia sekolah adalah: Komunikasi yang dilakukan antara perawat dan klien (anak usia sekolah ), yang direncanakan secara sadar , bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien . 2.2.2 Kegunaan komunikasi terapeutik: Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerjasama antara perawat dan klien melalui hubungan perawat dan klien. 2.2.3 Tujuan komunikasi terapeutik adalah : 1) Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien percaya pada hal- hal yang diperlukan . 2) Mengurangi keraguan , membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektifdan mempertahankan kekuatan egonya. 3) Mempengaruhi orang lain , lingkungan fisik dan dirinya sendiri. 2.2.4 Unsur-unsur komunikasi terapeutik 1) Sumber proses komunikasi yaitu pengirim dan penerima pesan 2) Pesan-pesan yang disampaikan berupa bahasa verbal dan non verbal 3) Penerima pesan membalas pesan yang disampaikan oleh sumber sehingga dapat dimengerti atau tidak suatu pesan 4) Lingkungan pada waktu komunikasi berlangsung meliputi saluran penyampaian dan penerimaan pesan serta lingkungan alamiah saat pesan disampaikan 2.2.5 Prinsip-prinsip komunikasi terapeutik menurut Carl Rogers: 1) Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati,memahami dirinya sendiri serta nilai yang dianut 2) Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima percaya,dan menghargai 3) Perawat harus memahami dan menghayati nilai yang dianut oleh klien 4) Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan klien baik fisik maupun mental 5) Perawat harus menciptakansuasana yang memungkinkan klien bebas berkembang tanpa rasa takut 6) Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan klien memiliki motivasi untuk mengubah dirinya baik sikap,tingkah lakunya sehingga tumbuh makin matang dan dapat memecahkan masalah - masalah yang dihadapi 7) Perawat harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan ,maupun frustasi 8) Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan konsistensinya 9) Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati bukan tindakan yang terapeutik 10) Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar hubungan komunikasi terapeutik. 11) Mampu berperan sebagai role model.

12) Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila di anggap mengganggu. 13) Altruisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi. 14) Berpegang pada etika. 15) Bertanggungjawab dalam dua dimensi yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri atas tindakan yang dilakukan dan tanggungjawab terhadap orang lain. 2.2.6 Teknik -teknik komunikasi terapeutik : 1) Mendegar Merupakan dasar utama dalam berkomunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif. 2) Pertanyaan terbuka Membneri kesempatan untuk memilih, contoh : "Apakah yang sedang saudara pikirkan ?", " Apa yang akan kita bicarakan hari ini ?" Beri dorongan dengan cara mengatakan : " Saya mengerti…. atau o - o - o. 3) Mengulang Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien , gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien . 4) Klarifikasi Dilakukan bila perawat ragu , tidak jelas, tidak mendengar, atau klien malu mengemukakan informasi , informasi yang diperoleh tidak lengkap atau mengemukakannya berpindahpindah. Contoh : "Dapatkah anda jelaskan kembali tentang ….", gunanya untuk kejelasan dan kesamaan ide, persepsi, dan perasaan perawat dan klien . 5) Refleksi (1) Refleksi isi : memvalidasi apa yang di dengar, klarifikasi ide yang diekspresikan klien dengan pengertian perawat. (2) Refleksi perasaan : memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima ide dan perasaannya. Keuntungan : Mengetahui dan menerima ide dan perasaan Mengoreksi Memberi keterangan lebih jelas Kerugian : Mengulang terlalu sering hal yang sama Dapat menimbulkan marah dan frustasi 6) Memfokuskan Membantu klien bicara pada topik yang telah dipilih dan yang penting menjaga pembicaraan tetap pada tujuan , yaitu lebih spesifik,jelas, dan berfokus pada realitas . Contoh : - Klien : " Wanita sering jadi bulan - bulanan ". - Perawat : " Coba ceritakan bagaimana perasaan anda sebagai wanita ". 7) Membagi persepsi Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan pikirkan . Dengan cara ini perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi . Contoh : " Anda tertawa, tetapi saya rasa anda marah pada saya ". 8) Identifikasi " tema" Latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan . Gunanya untuk meningkatkan pengertian dan mengeksplorasi masalah yang penting , misalnya : " Saya lihat dari semua keterangan yang anda jelaskan , anda telah disakiti. Apakah ini latar belakang masalahnya ?"

9) Diam (silence) Cara yang sukar, biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan . Tujuannya memberi kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk bicara. Pada klien yang menarik diri , teknik diam berarti perawat menerima klien. 10) Informing Memberi informasi dan fakta untuk pendidikan kesehatan. 11) Saran Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada awal hubungan. 2.2.7 Hambatan komunikasi 1) Faktor yang bersifat teknis yaitu kurangnya penguasaan teknik berkomunikasi . Teknik komunikasi mencakup unsur - unsur yang ada dalam komunikator dalam mengungkapkan pesan, menyandi lambang - lambang , kejelian dalam memilih saluran , dan metode penyampaian pesan. 2) Faktor yang sifatnya perilaku Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikasi yang bersifat : a. Pandangan bersifat apriori b. Prasangka yang didasarkan atas emosi c. Suasana yang otoriter d. Ketidakmampuan untuk berubah walaupun salah e. Sifat yang egosentris 3) Faktor yang bersifat situasional Kondisi dan situasi yang menghambat komunikasi ,misalnya : situasi ekonomi, sosial, politik,dan keamanan. 2.3 Model - model Komuniasi 2.3.1 Shannon - Weaver Model Dalam model Shannon, komunikasi dipresentasikan sebagai suatu sistem , dimana memilih sumber informasi yang diformulasi ke dalam suatu pesan . Pesan kemudian ditransmisikan dengan signal melalui chanel ke receiver . Penerima / receiver menginterpretasikan pesan dan mengirimkan ke tujuan . Bentuk unik dari konsep ini adalah adanya noise/ gangguan .Noise adalah faktor-faktor yang mempengaruhi atau mengganggu transfer pesan dari sumber ke tujuan yang akan dicapai. Dalam model komunikasi manusia, noise dapat berupa distorsi persepsi misalnya : interpretasi psikologis ,suara yang tidak terdengar. Salah satu kekuatan / keunggulan dari model ini adalah kesamaan jalur dalam pengiriman komunikasi yaitu dari sumber ke penerima. Kekurangannya adalah tidak menunjukkan hubungan transaksi antara sumber dan receiver. Model ini sifatnya linear yang berarti jalurnya satu arah. Model ini dibatasi oleh omitting komponen feed back dan tidak secara jelas mengilustrasikan fungsi proses. Jika diaplikasikan ke lingkungan perawatan kesehatan, kita tidak bisa melihat faktor yang mempengaruhi. Komunikasi klien seperti sikap dan latarbelakang. Model ini dapat menerangkan bagaimana pengalaman pendidikan berpengaruh terhadap komunikasi antar profesional ( sebagai contoh komunikasi antara lulusan ners baru dan ners yang berpengalaman ), tetapi tidak bisa diketahui bagaimana umpan balik mempengaruhi dialog antar profesional - profesional selanjutnya. 2.3.2 Leary Model

Dalam komunikasi transaksional dan model multidimensional, menguatkan aspek interaksional dalm komunikasi. Dimana komunikasi manusia adalah proses dua orang dimana satu dan lainnya saling dipengaruhi dan mempengaruhi. Leary mengembangkan teori ini dari hasil pengalamannya sebagai terapis pada pasien psikoterapi. Tingkah laku Leary berbeda saat menghadapi tiap pasien dan Leary menemukan bahwa pasien juga terpengaruh tingkah laku Leary. Leary menyimpulkan bahwa tingkah laku orang merupakan respon dari tingkah laku yang kita tampilkan ,misalnya bila kita bertingkah dominan maka kita kondisikan orang lain bertingkah submisive. Dalam perspektif Leary, setiap pesan komunikasi dapat dilihat melalui dua dimensi : Dominan - Submision dan Hate - Love. Ada dua aturan yang mengatur fungsi dimensi ini dalam interaksi manusia . Aturan pertama : Tingkah laku komunikatif dominan atau submisive biasanya menstimuli tingkah laku sebaliknya pada orang lain; berlaku autokratik (dominan) biasanya akan menstimuli orang lain untuk berlaku submisive dan sebaliknya. Aturan kedua : Tingkah laku membenci / mencintai biasanya akan menstimuli tingkah laku yang sama dari orang lain , artinya dengan bertingkah laku yang baik pada orang lain , orang lain akan berlaku baik juga dan sebaliknya. Leary menyatakan bahwa aturan - aturan ini berlaku secara reflek, respon kita terhadap perilaku orang lain secara involuntary dan immediate sehingga komunikasi kita otomatis akan distimulasi oleh reaksi dominan - submisive atau hate - love dari yang lain. Dominan Hate Love Submisive Model Leary dapat secara langsung diterapkan dalam komunikasi dipelayanan kesehatan. Selama beberapa tahun , pasien yang datang dengan kondisi akut sering diasumsikan / ditempatkan dalam peran submisive sedangkan tenaga profesional dalam peran dominan. Trend sekarang dimana konsumen memegang peranan , perlu adanya balancing antara profesional dan pasien. Pasien menjadi lebih asertive dan penyedia jasa pelayanan harus mengevaluasi kembali otoritas dan kontrol mereka. Kekuatan / keunggulan model Leary adalah adanya transaksional dimana dia mendeskripsikan power dan issue-issue affiliasi dalam interaksi manusia. Jika kita benar-benar ingin mengerti komunikasi kita dengan orang lain, kita perlu melihat kualitas dari dua individu yang berinteraksi. 2.3.3 Selected Health - Related Model Pada model-model yang terseleksi ini , tidak berfokus pada komponen - komponen yang ada dalam komunikasi, tetapi pada pencapaian tujuan utama yaitu kesehatan maksimal, model yang terseleksi ini ada 3 yaitu, : model terapeutik, model keyakinan kesehatan , dan model interaksi King. Selain tiga model ini sebetulnya masih banyak model lain yang bisa digunakan dalam pelayanan kesehatan seperti model Orem, Rogers / roy, namun 3 model ini dipilih karena tiap model menekankan perbedaan fokus dalam pelayanan kesehatan dan tiap model mempunyai hubungan langsung dalam komunikasi manusia 1) Model Terapeutik

Model terapeutik menekankan pentingnya peran hubungan dalam membantu klien dan pasien menempatkan diri dalam situasinya dan berusaha untuk tetap sehat dan menjauhi sakit. Bila digunakan oleh profesional kesehatan komunikasi terapeutik dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk membantu individu mengatasi stress, menghadapi masalah psikologis dan bagaimana berhubungan dengan orang lain secara efektif. Meskipun banyak model- model yang dikembangkan untuk mendeskripsikan teori psikoterapeutik, tidak semua model tersebut cocok dalam interaksi yang berhubungan dengan kesehatan. Salah satu model yang cocok adalah model Rogerian,Carl Rogers (1951) yakin bahwa jika seorang terapis berkomunikasi secara jujur dan mengerti klien , akan membantu klien dalam mengatasi situasi yang dialami. Model Roger ini berfokus pada klien " client centered" karena fokus interaksi ada pada klien. Dalam model ini penolong berkomunikasi dengan empati, positif regard , dan congruence .(Figur 1-7 ) Menurut Roger, empati adalah proses komunikasi untuk mengerti / memahami perasaan klien. Positif regard adalah proses komunikasi untuk mendukung / support klien selama perawatan , tidak memvonis / non jugdment dan tidak mengancam. Sedangkan congruence merupakan pengekspresian perasaan dan pikiran penolong kepada klien secara jujur. Dalam lingkungan pelayanan kesehatan , model terapeutik dapat secara langsung diterapkan dalam komunikasi profesional - klien . Model Rogerian mendeskripsikan bagaimana para profesional kesehatan harus berkomunikasi dengan klien jika mereka memilih klien sebagai fokus. Dengan adanya empati ,positive regard, dan congruence , klien merasa mengerti dan lebih mampu mengatasi sakitnya .

2) Model Keyakinan Kesehatan Model keyakinan kesehatan diformulasikan oleh Rosenstock dan koleganya (1966,1974 ). Pada model ini ditekankan pada persepsi klien. Model ini didesign untuk menjelaskan tindakan preventif kesehatan individu. Sejak dikembangkan model ini , dapat diketahui pengaruh teori sosial -psikological dalam usaha individu mencari kesehatannya dan menghindari sakit. Model keyakinan kesehatan terdiri dari tiga elemen mayor: (1) Persepsi individual tentang penerimaan tingkat keparahan penyakit. (2) Persepsi individual tentang keuntungan dan hambatan dalam mengambil tindakan untuk mencegah sakit. (3) Petunjuk -petunjuk yang tersedia untuk individu yang dapat menstimulasi individu untuk melakukan aktifitas pencegahan. (Becker & Maiman , 1975) Contoh dibawah ini mungkin membantu untuk mengklarifikasi bagaimana model ini digunakan dalam riset komunikasi kesehatan. Peneliti tertarik untuk mengetahui apakah mahasiswa menggunakan kondom pada saat intercourse sebagai tindakan preventif kesehatan. Penelitian diatas diatas memberikan konseptual frame work untuk masalah di atas. Tingkah laku para mahasiswa akan dipengaruhi oleh tingkat pemahaman AIDS sebagai ancaman dimana hal ini juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin,etnik, variable sosial dan psikological.Selain ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kampanye mass media

, artikel majalah,atau dari orang-orang yang mengetahui tentang AIDS . Mereka akan memilih sex yang aman dengan menggunakan kondom setelah mengetahui keuntungannya lebih besar daripada hambatannya. Meskipun banyak aspek yang terlibat dalam model komunikasi ini , ada dua aspek fokus yaitu adanya elemen -elemen petunjuk meliputi kampanye mass media, saran dari orang lain yang mengerti, artikel koran,dan pesan-pesan yang berhubungan dengan variable-variable. Komunikasi menjadi penting jika individu tersebut menerima petunjuk-petunjuk yang dapat memotivasi mereka untuk tindakan kesehatan, contohnya artikel majalah yang menjelaskan hubungan kanker dan merokok akan mempengaruhi individu untuk berhenti merokok. Elemen kedua adalah berhubungan dengan faktor -faktor modifikasi yang mencakup variable sosial - psikological, contohnya pasien yang mengalami kegagalan dalam mengekspresikan pikirannya karena pola komunikasi yang ada di profesional kesehatan dideskripsikan seperti formal, penolakan / kontroling,para profesional secara kuat tidak setuju dengan pasien , dalam interview tidak menggunakan feed back sehingga akan mempengaruhi perilaku kesehatan klien. Model ini juga mempunyai kelemahan dan kelebihan . Sisi positifnya, model ini mengilustrasikan pentingnya penggunaan dan pengaruh mass media pada perilaku sehat, model ini berfokus pada persepsi dan keyakinan klien yang dapat mempengaruhi perilakuperilaku yang diadopsi. Sisi negatifnya, model ini banyak menempatkan keyakinan konseptual dan abstrak. Model ini menekankan persepsi klien dalam tindakan preventif perawatan daripada interaksi transaksional profesional - klien dalam meningkatkan perawatan kesehatan . 3) Model Interaksi King King's (1971,1981) mengembangkan frame work untuk keperawatan yang menekankan pentingnya proses komunikasi antara ners dan klien .King menggunakan sistem perspektif untuk menggambarkan bagaimana profesional kesehatan (ners) membantu klien untuk mempertahankan kesehatan. King menunjukkan konseptual frame work yang menekankan interrelation antara personel , interpersonel,dan sistem sosial dimana sistem interpersonal adalah penekanan specifik. Paradigma King mendiskusikan peran sistem interpersonal dalam perawatan kesehatan. Dalam model ini , selama interaksi antara ners - pasien , secara simultan membuat judgment tentang keadaan mereka dan satu dengan yang lainnya berdasarkan persepsi mereka tentang situasi tersebut. Adanya judgment akan berdampak aksi verbal dan nonverbal yang dapat menstimulasi reaksi ners dan klien . Pada point ini ,persepsi baru terbentuk dan proses terulang lagi. Interaksi adalah proses dinamis yang mencakup interplayresi prokal yang terbentuk antara ners dan klien dimana secara bersama-sama menentukan tujuan bersama. Model King ini mempunyai dimensi penting yaitu relationship,proses,dan trasaksi . Adanya feed back juga mengidentifikasi pentingnya arti berbagi / sharing antara ners dan klien. Dalam model ini tidak ditunjukkan bagaimana hubungan interpersonal dipengaruhi oleh faktor - faktor situasional atau hubungan interpersonal berhubungan dengan perilaku kesehatan klien ; King menjelaskan issue - issue ini dalam A Theory For Nursing (1981). 2.3.4 Model Komunikasi Kesehatan Model hubungan komunikasi dan kesehatan kami gambarkan " previous section" yang memberikan fondasi (dasar ) untuk membentuk komunikasi kesehatan . Model pada Figur 1-

10 mengilustrasikan komunikasi kesehatan seperti konsep yang kami tunjukkan . Komunikasi kesehatan memberikan spesifikasi terhadap transaksi antar semua partisipan dalam perawatan kesehatan tentang issue kesehatan .Fokus utama komunikasi kesehatan terjadi dalam bermacam - macam hubungan saat terjadi perawatan kesehatan . Perbedaannya , model komunikasi kesehatan meletakkan sistem yang lebih luas daripada komunikasi , dan ini menekankan cara dimana serangkaian faktor dapat mempengaruhi interaksi dalam lingkungan perawatan kesehatan. Model komunikasi kesehatan pada Figur 1-10 mengilustrasikan 3 faktor mayor dari proses komunikasi kesehatan , yaitu : relationship, transaksi,dan konteks.

Relationship Dari perspektif sistem , model komunikasi kesehatan menggambarkan 4 type mayor dari relationship yang exis dalam lingkungan perawatan kesehatan : profesional- profesional, profesional-klien, profesional-other, klien-other. Aturan mainnya , bila individu diikutsertakan dalam komunikasi kesehatan , dia terlibat dalam satu dari 4 type hubungan. Model ini juga mengindikasikan hubungan interpersonal dapat mempengaruhi type hubungan dalam lingkungan perawatan kesehatan. Sebagai contoh, bagaimana komunikasi profesional kesehatan dengan setiap orang dapat berefek pada interaksi profesional kesehatan dengan pasien. Sama halnya , bagaimana klien bereaksi dengan anggota - anggota dari jaringan sosialnya akan mempengaruhi interaksi antara klien dengan profesional kesehatan. Dalam model ini batasan profesional kesehatan adalah digunakan untuk mengidentifikasi beberapa individu yang berpendidikan, dilatih dan berpengalaman untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk orang lain. Profesional kesehatan, termasuk didalamnya perawat, administrasi kesehatan , pekerja sosial, dokter, buruh kesehatan, ahli terapi okupasi dan fisik, farmakolog,pendeta, personel kesling, kesehatan jiwa , teknisi , dan spesialis lainnya . Setiap profesional kesehatan membawa karakteristik unik, kepercayaan, nilai, dan persepsi terhadap lingkungan perawatan kesehatan ,yang akan berpengaruh terhadap bagaimana dia berinteraksi dengan klien dan anggota tim kesehatan . Sebagai contoh,, usia, latarbelakang sosiokultural, dan pengalaman yang dilalui dari profesional kesehatan akan berpengaruh/ mempengaruhi cara dalam merespon kepada klien dan mitra kerja. Klien adalah individu yang diberikan layanan kesehatan . Pada kondisi "acut setting care" perilaku pasien tidak selalu menunjukkan sebagai pasien. Dalam lingkungan kesehatan lain, individu yang menerima pelayanan menunjukkan sebagai klien. Pada model komunikasi kesehatan, batasan klien digunakan untuk menunjukkan seseorang yang menjadi fokus pelayanan perawatan kesehatan yang "are being provided" .Batasan meliputi karakteristik khusus, nilai dan kepercayaan yang dibawa individu ke lingkungan perawatan kesehatan. Sepantasnya karakteristik personel sebagai profesional kesehatan mempengaruhi interaksinya. Karakteristik unik dari klien mempengaruhi interaksi klien dengan yang lainnya. Jaringan sosial klien termasuk set ke-tiga dari sifat individu yang berpartisipasi dalam komunikasi kesehatan . Client's significant others telah ditemukan sebagai hal yang paling essensial dalam mendorong klien seperti yang mereka sampaikan untuk menjaga kesehatan .

Comm. Variables

Lifespan Health transactions

Comm. Variables

Figur 1-10. Health communication model. Transaksi Transaksi adalah elemen mayor ke-dua dalam model komunikasi kesehatan. Transaksi merupakan suatu interaksi antara partisipan yang terlibat.Transaksi ini melibatkan individu tentang informasi yang mencakup verbal dan non verbal. Transaksi kesehatan merupakan bentuk kesepakatan bagaimana klien itu mencari dan mempertahankan kesehatannya sepanjang hidup. Transaksi kesehatan merupakan suatu proses yang berkesinambungan ,dinamis dan bukan suatu yang statis, dimana terdapat feed back yang continue yang partisipan mampu untuk menempatkan diri dalam berkomunikasi. Konteks Elemen ke-tiga model komunikasi kesehatan adalah konteks, yaitu setting / tempat dimana proses terjadiyang punya pengaruh besar dalam komunikasi antara health professional - client - anggota keluarga dan orang lain yang terlibat dalam konteks. Salah satu unsur konteks adalah tempat dimana perawatan kesehatan dilaksanakan ,seperti : rumah sakit, klinik, ruang rawat jalan, atau ruang intensive yang mempengaruhi pola komunikasi didalamnya. Unsur yang lain adalah jumlah partisipan yang terlibat dalam komunikasi (lingkungan perawatan ) misalnya dalam bentuk group kecil atau interaksi antar individu atau kelompok besar. Jumlah partisipan yang ada mempengaruhi situasi yang ada di dalamnya . 3. PEMBAHASAN Dari berbagai macam model komunikasi , yang sesuai untuk diterapkan pada klien anak usia sekolah adalah model komunikasi kesehatan (Health Communication Model) karena pada model ini penekanan pada proses relationship terdapat empat tipe relationship yang ada ,yaitu hubungan antara: professional - professional, profesional - client , professional - significant others , dan client - significant others. Sesuai dengan teori perkembangan Jean Peaget, pada fase ini anak dapat mengetahui konsep baru ( merasakan sakit) tetapi belum dapat berpikir tentang hal-hal yang abstrak sehingga untuk mencapai proses perawatan diperlukan significant othes / keluarga / teman untuk membantu profesional kesehatan mengekspresikan hal abstrak yang dirasakan oleh klien. Sedangkan menurut teori Erickson, pada fase ini anak belajar untuk dilibatkan dalam aktifitas dan berusaha untuk menyelesaikan tugasnya, mulai belajar aturan - aturan baru melalui proses belajar dan berhubungan dengan orang lain sehingga mendukung profesional kesehatan untuk melakukan tindakan - tindakan keperawatan pada klien. Konteks adalah tempat / situasi dimana pelayanan kesehatan diberikan berdasarkan : tempat /

ruang, jenis pelayanan, dan jumlah personel, hal ini berkaitan dengan peran significant others (keluarga, teman dll.) dan profesional kesehatan untuk menyiapkan lingkungan yang terapeutik bagi kesembuhan klien. Hal ini berkaitan dengan proses tumbang yang diungkapkan oleh Erickson yakni anak sudah mulai berpikir logis dan terarah ,dapat memilih , menggolongkan , mengorganisasikan fakta, disamping itu mampu berpikir dari sudut pandang orang lain sedangkan jumlah partisipan yang terlibatdalam komunikasi ( group kecil / interaksi antar individu ) akan membantu klien untuk mengekspresikan tentang perasaan . Transaksi, kesepakatan interaksi antar partisipan didalam proses komunikasi meliputi verbal , nonverbal yang terjadi secara kontinyu , ini menunjukkan bahwa komunikasi tidak hanya bersifat satu arah dan terdapat umpan balik, ini terkait dengan teori Erickson dimana anak siap menjadi pekerja dan ingin dilibatkan dalam aktifitas. 4. PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 4.1.1 Komunikasi terapeutik sangat penting diterapkan pada anak usia sekolah,dengan demikian perawat dapat membina hubungan saling percaya pada anak dan anak dapat mengekspresikan perasaannya . 4.1.2 Komunikasi teraputik mempunyai tujuan, unsur-unsur, prinsip, teknik-teknik dan hambatan yang perlu diketahui dan disadari sehingga memudahkan dalam penerapan. 4.1.3 Dari model konsep komunikasi yang ada adalah model komunikasi kesehatan yang dapat digunakan dalam berinteraksi dengan pasien anak usia sekolah. 4.2 Saran Diharapkan makalah ini bisa memerikan masukan bagi perawat terutama perawat yang bekerja pada ruang perawatan anak, sehinga kami menyarankan agar teman-teman perawat membaca dan memahami isi makalah ini sehinga menjadi bekalkan bila berinteraksi dengan anak usia sekolah.

DAFTAR PUSTAKA Asuhan Kesehatan Anak dalam Kontek Keluarga, pusdiknakes Depkes RI , Jakarta (1993). Hubungan Terapeutik Perawat - Klien , Budiana Keliat ,S.Kp. Health Communication Strategies for Health Professional, Laurel L. Northouse third edition, application &lange 1998.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->