Akidah - Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Tauhid

Abdul Azis No comments
Perkataan Tauhid berasal dari Bahasa Arab, masdar dari kata Wahhada-Yuwahhidu. Secara Etimologis, tauhid berarti Keesaan. Maksudnya, ittikad atau keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa, Tunggal; Satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian Tauhid yang digunakan dalam Bahasa Indonesia, yakni “ Keesaan Allah “ Mentauhidkan berarti mengakui keesaan Allah ; Mengesakan Allah. Husain Affandi al-Jasr mengatakan : “Ilmu Tauhid adalah ilmu yang membahas hal-hal yang menetapkan akidah agama dengan dalil-dalil yang meyakinkan“. Dengan redaksi yang berbeda dan sisi pandang yang lain, Ibnu Khaldun mengatakan bahawa Ilmu

Tauhid adalah :
“Ilmu yang berisi alasan-alasan dari aqidah keimanan dengan dalil-dalil Aqliyah dan berisi pula alasanalasan bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng Aqidah Salaf dan Ahli Sunnah“. Sumber: http://www.scribd.com/doc/17222339/ilmu-tauhid-amali Tauhid artinya mengetahui atau mengenal Allah ta’ala, mengetahui dan meyakini bahwa Allah itu tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Sejarah menunjukkan, bahwa pengertian manusia terhadap tauhid itu sudah tua sekali, yaitu sejak diutusnya nabi Adam kepada anak cucunya. Sudah diketahui bahwa nabi Adam adalah nenek moyang manusia pertama. Setelah ia beranak cucu yang banyak, ia ditugaskan Allah menjadi nabi kepada sekalian anak cucunya itu. Adam mengajarkan tauhid kepada anak cucunya. Merekapun taat dan tunduk kepada ajaran Adam yang meng-Esakan Allah SWT. Tegasnya sejak permulaan manusia mendiami bumi ini, sejak itu telah diketahui dan diyakini adanya dan Esanya Allah pencipta alam. Hal ini (adanya tauhid sejak zaman Nabi Adam) Seperti firman Allah dalam surat Al Anbiya’ ayat 25 yang Artinya:

“Dan tidaklah kami mengutus sebelum engkau seseorang rosul pun melainkan kami wahyukan kepadanya: bahwasanya tiada tuhan yang sebenarnya disembah melainkan Aku, maka sembahlah Daku.”
Sumber: http://almayfie.blogspot.com/2010/04/sejarah-pertumbuhan-dan-perkembangan.html

Lahirnya ilmu tauhidApa yang melatar belakangi keberadaan tauhid sebagai ilmu yang berdiri sendiri
? Sebenarnya banyak sekali factor yang mendorong kehadiran tauhid sebagai ilmu. Namunjika dikaji secara keseluruhan, ia dapat dikelompokkan kepada 2 faktor yaitu intern dan ekstern. Berikut ini ringkasan dari uraian Ahmad Amin dalam bukunya Dhuha Al-Islam mengenai kedua factor tersebut. 1. Faktor Intern Yang dimaksud dengan faktor intern adalah faktor yang berasal dari islam sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. al-Qur’an disamping berisi masalah ketauhidan, kenabian. Dan lain-lain berisi pula semacam
apologi dan polemic, terutama terhadap agama-agama yang ada pada waktu itu, misalnya : Surat al-Maidah ayat 116 berisi penolakan terhadap ketuhanan Nabi Isa. 2. Pada periode pertama masalah keimanan tidak dipersoalkan secara mendalam. Setelah Nabi wafat dan Ummat islam bersentuhan dengan kebudayaan dan peradaban asing, mereka mulai mengenal Filsafat, merekapun menfilsafati al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang secara lahir nampak satu sama lain tidak sejalan, bahkan kelihatan bertentangan. Hal tersebut perlu dipecahkan sebaik mungkin, dan untuk memecahkannya perlu sutu ilmu tersendiri. 3. Masalah politik, terutama yang berkenaan dengan khalifah, menjadi factor pula dalam kelahiran ilmu tauhid.

kemudian kekacauan ini diakhiri dengan terbunuhnya Usman. Di masa ini. Sehingga. Masa Bani Umayyah dan Bani AbbasiyahKini terbuka masa untuk memikirkan hukum-hukum agama dan dasar-dasar akidah. selanjutnya kepemimpinan diserahkan kepada Khulafaurasyidin. para mukmin harus menaati Allah dan Rasul-Nya. Di penghujung abad pertama Hijrah. namun tidak keluar dari Islam. Oleh karena itu. Mulai dari sinilah terbukalah pintu takwil bagi nash-nash Al-Qur’an dan hadis. menyatukan umat Islam dan membangun kedaulatan Islam. Oleh karena itu pada masa ini ajaran keagamaan bersifat jelas dan nyata. karena akan menyebabkan tercerai berai dalam agama yang kemudian timbul pertengkaran-pertengkaran yang membuat mereka terpecah-pecah menjadi golongan-golongan. Mereka diberi petunjuk wahyu dan Al-Qur’an. Dari ulama-ulama salaf. Namun. Saat masa khalifah Usman bin Affan terjadi kekacauan politik. ajaran ketauhidan yang ditegaskan dan dijelaskan oleh Rasul dari Al-Qur’an melalui hadisnya. mereka berusaha mempertahankan pendiriannya. mereka dinamakan Mu’aththilah.2. mereka tidak sempat membahas dasar-dasar akidah karena pada masa itu mereka sibuk untuk menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan kesatuan dan persatuan umat Islam. agar Allah tidak mempunyai sekutu dalam perbuatan-Nya dan meniadakan sifat-sifat Allah. Faktor tersebut antara lain ialah pola piker ajaran agama lain yang dibawa oleh orang tertentu. Al Hasan Al Bisri mengemukakan pendapat bahwa orang yang mengerjakan dosa besar dipandang fasiq. pada masa ini tidak terjadi perkembangan dalam bidang akidah.com/2009/01/28/pertumbuhan-dan-perkembangan-ilmu-tauhid Masa Rasulullah dan KhulafaurasyidinPada masa Rasulullah adalah masa menyusun peraturan. mereka tidak mencari takwil atas ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka baca. Oleh karena itu. Anas ibn Malik. Rasul melarang umatnya berselisih paham. Mereka hanya mengikuti perintah Allah dalam Al-qur’an dan menjauhi larangannya. Pendapat Al Hasan ini dibantah keras oleh muridnya Washil ibn Atha’. Di masa ini umat Islam menyerahkan semuanya kepada Rasul untuk mengetahui dasar-dasar agama dan hukumhukum syari’ah. Oleh karena itu. Dan pada masa ini juga muncul golongan yang meniadakan qudrat dan iradat dari manusia. Abu Hurairah dan teman-temannya menyalahkan golongan qadariyah dan menganjurkan masyarakat untuk menjauhi mereka. pada masa ini akidah mulai berkembang luas. Mereka mulai membahas masalah qadr dan masalah istitha’ah. seperti: Ma’bad al Juhani. umat Islam terpecah-pecah dalam beberapa golongan. Saat mereka membaca dan memahami Al-Qur’an. Para sahabat yang semasa dengan mereka seperti Abdullah ibn Umar. Akhirnya terjadilah pembuatan riwayat-riwayat palsu. Jika ada perselisihan pendapat. menetapkan pokok-pokok akidah.wordpress. terdapat segolongan ulama yang merupakan tokoh-tokoh qadariyah yang pertama. Mereka pun juga dinamakan Jahmiyah. Mereka juga dinamakan Jabriyah atau Mujbarah berkaitan dengan akidah yang mereka anut. yakni pengikut-pengikut Jaham ibn Shafwan. ada juga golongan yang mengkafirkan orang-orang yang mengerjakan dosa besar. Golongan ini terkenal sebagai golongan Khawarij. Rasul juga menyuruh para sahabat untuk bersikap imbang terhadap ahlul kitab dengan tidak membenarkan apa yang mereka berikan dan tidak pula membantah mereka. Faktor Ekstern Yang dimaksud dengan faktor ekstern ialah factor yang datang dari luar islam. sehingga lahirlah kebebasan berbicara tentang masalah-masalah keagamaan yang belum pernah dibahas oleh para ulama salaf dan membuat Islam bersentuhan dengan budaya luar. Saat pemerintahan khalifah I dan II yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. termasuk Umat Islam yang dahulunya menganut agama lain ke dalam ajaran islam. . Setelah Rasul wafat. Ghailan ad Dimasyqi dan Ja’ad bin Dirham. Mereka hanya mensifatkan Allah dengan apa yang telah Allah sifatkan sendiri. Jabir ibn Abdullah. Sumber: http://niendin. Ibnu Abbas. Pada masa ini banyak pemeluk agama lain yang pindah masuk Islam. jiwa kepercayaan terhadap agama yang dulu masih melekat dalam benak mereka. Rasulullah menjauhkan umatnya dari segala hal yang menimbulkan perpecahan. Pada masa ini. Dari tiap golongan-golongan itu. Usman difitnah oleh Abdullah bin Saba’. maka diadakan pertukaran pikiran yang dilakukan dengan sistem yang menghasilkan maksud (musyawarah).

Dia memberi kesempatan bagi tokoh-tokoh Mu’tazilah. Banyak pemuka-pemuka masyarakat mengikuti paham mereka dikarenakan mereka memiliki daya akal dan kecerdasan serta mahir dalam menguraikan dalil-dalil. Dia pun juga mengajak masyarakat untuk mengembangkan pahamnya. Dalam masa ini. . Mereka juga menamakan dirinya dengan Ahlut Tauhid. Dan Abu Hanifah menyusun sebuah kitab bernama Al Alim wal Muta’alim dan kitab Al Fiqhul Akbar untuk mempertahankan akidah ahlus sunnah. Al Mu’tashim dan Al Watsiq. Hal ini dikarenakan golongan Qadariah dan Jahmiyah tidak dapat berdiri sebagai golongan. golongan Mu’tazilah memperoleh kedudukan yang baik. Dengan demikian pada masa inilah mulai timbul usaha menyusun kitab pegangan dalam Ilmu Kalam. Karena pendapat inilah. Pemuka-pemuka tersebut adalah Al Ma’mun. Perkembangan ilmu dalam masa ini adalah usaha menterjemahkan kitab-kitab filsafat dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab.Dia mengatakan bahwa orang yang mengerjakan dosa besar berada di antara dua martabat. yang karenanya mereka dipahalai dan disiksa. Saat masa Bani Abbas. Para penterjemah berusaha mengembangkan pendapat mereka tentang agama ke dalam masyarakat muslimin. Sedangkan Al Ma’mun sendiri adalah penganut Mu’tazilah dan ia memaksa masyarakat untuk menganut pendapat itu. Tindakan Al Ma’mun dalam membantu Mu’tazilah dengan kekerasan menyebabkan masyarakat menjauhkan diri dari golongan Mu’tazilah. kemudian berkembanglah ilmu dan kebudayaan. Golongan Qadariyah ini menyebut dirinya dengan Ahlul ’ad-li wat Tauhid dikarenakan mereka menetapkan bahwa hamba ini mempunyai qudrat. Washil ibn Atha’ telah menyusun sebuah kitab yang dinamakan Kitabul Manzilati Bainal Manzilataini dan kitab Al Futuya. Pada golongan Mu’tazilah. Amr ibn Ubaid al Mu’tazil menyusun sebuah kitab dan menolak paham Qadariah. Dan pendapatnya ini diikuti oleh Amar ibn Ubaid. yaitu dengan lahirnya Muhammad ibn Karram. untuk menterjemahkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa mereka ke dalam bahasa Arab. Karena itu. Dalam masa Bani Abbas. mereka tidak lagi mendapat tekanan seperti saat Bani Umayyah. dan dia menyiksa orang-orang yang tidak mau menerima pendapat itu. Washil ibn Atha’ telah menyusun dasar-dasar ilmiah bagi mazhab Mu’tazilah. mereka tidak dapat mempertahankan agama tanpa menggunakan falsafah Yunani. agar zat Allah benar-benar Esa. orangorang Yahudi dan orang-orang Nasrani untuk menjadi pegawai dalam pemerintahannya. yang kemudian mulailah Ilmu Kalam dituang dalam tulisan. Maka Qadriyah itu pun berpindah kepada Mu’tazilah. kemudian Islam menjadi terpecah-pecah ke dalam partai-partai. Mereka juga meniadakan kezaliman bagi Allah. Para penguasa Bani Abbas mempergunakan orang-orang Persia yang telah memeluk agama Islam. Saat pemerintahan Al Ma’mun sering terjadi perdebatan antar ulama-ulama kalam. golongan Mu’tazilah mengembangkan dakwah dari dasar-dasar yang telah digariskan Washil ibn Atha’. Di akhir masa. sehingga dalam peristiwa ini banyak orang yang tersiksa dan terbunuh. karena mereka meniadakan sifat dari Allah. Sehingga mereka dapat dengan leluasa mengembangkan paham mereka. Menurut uraian Al-Maqrizi. Dia adalah pemimpin golongan Karramiyah yang menetapkan adanya sifat bagi Allah dan menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Sejak masa ini berkembanglah gerakan yang menggunakan falsafah untuk menetapkan akidah-akidah Islamiyah dan Ilmu Kalam. Kemudian dari golongan Qadariyah dan Jahmiyah melebur ke dalam kelompok lain. Sedangkan Hisyam Ibnu Al Hakam Asy Syafi’i menyusun sebuah kitab menolak paham Mu’tazilah. Mereka pun juga tidak menerima pendapat dari golongan lain. kemudian Washil ibn Atha’ dan Amar ibn Ubaid mengasingkan diri yang kemudian dinamakan golongan Mu’tazilah. bebas aktif dalam segala tindakannya. Akan tetapi perdebatan tentang adanya sifat bagi Allah berhenti pada saat lahir partai-partai Musyabbihat. hubungan antara bangsa Arab dengan bangsa Ajam semakin erat. Kian hari pengaruh Mu’tazilah pun kian redup dan lemah. Ada sebagian dari penterjemah yang berniat buruk dengan berpura-pura masuk Islam dan mengembangkan falsafah untuk kepentingan mereka.

Kemudian jalan yang ditempuh Ibnu Taimiyah diteruskan oleh seorang muridnya yaitu Ibnu Qayyimi Jauziyah. Saat permulaan abad ke-8 H lahirlah di Damaskus terdapat seorang ulama besar yaitu Taqiyuddin Ibnu Taimiyah yang menentang pihak-pihak yang mencampuradukkan falsafah dengan kalam. munculah pengikut Al Asy’ari yang terlalu jauh menceburkan dirinya dalam falsafah dan Mantiq. Hanya tinggal para penulis yang memperkatakan makna-makna lafadz dan ibarat-ibarat dalam kitab peninggalan lama.blogspot.html & Buku (Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam. Abu Hasan mengambil jalan tengah antara mazhab salaf dan mazhab penentangnya. Setelah masa-masa ini berlalu. serta menjauh dari jalan yang telah digariskan AlQur’an. Tengku Muhammad Hasbi. yaitu beriman sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an dan Al Hadis tanpa mentakwilkan ayat-ayat ataupun hadishadis tersebut. Saat itu abu Hasan membantah pendapat gurunya dan dia membela mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. merupakan bagian dari iman. Ibnu Taimiyah membela mazhab salaf dan membantah pendirian-pendirian golongan Al Asy’ariyah. Kemudian timbulah jiwa baru yang cenderung untu mempelajari kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan muridnya. Sumber: http://romipermadi. pengarang Ash-Shiddieqy. Ia mengemukakan bahwa muqaddamah-muqaddamah itu berada di atas kemampuan akal orang umum dan tidak menyampaikan kepada yang dimaksudkan. Maka paham Mu’tazilah yang menganut mazhab i’tizal pun berangsur-angsur lenyap dari anutan masyarakat. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Sedang Ibnu Rusyd dalam kedua kitabnya Fashul Maqal dan Al Kasyfu’an Manahijil Adillah telah mengkritik jalan yang ditempuh oleh para mutakalimin dalam cara mereka mengambil dalil dan memalsukan muqaddamah-muqaddamah yang berdasar ilmu falsafah yang dipegang Al Asy’ariyah. dan Imamul Haramain Al Juwaini. Usaha Abu Hasan ini mendapat dukungan dari Abu Mansur Al Maturidi. yaitu dengan mengumpulkan dalil aqli dan naqli. Kemudian para pengikut Abu Hasan Al Asy’ari meneruskan teori yang telah digariskan oleh Al Asy’ari. 1999) . Al Isfarayini.Kemudian pada saat itu. karena mad-lul tersebut mungkin ditetapkan dengan dalil lain. Mazhab Al Asy’ari ini kemudian berkembang pesat merata ke seluruh pelosok hingga tidak ada mazhab yang menyalahinya selain mazhab Hanbaliyah yang tetap bertahan dengan mazhab salaf. Oleh karenanya. Gerakan Al Imam Muhammad Abduh dan gurunya Jamaluddin Al Afghani yaitu gerakan yang telah membangun kembali ilmu-ilmu agama yang kemudian dilanjutkan oleh As Said Rasyid Ridhla. Anggota-anggota gerakan inilah yang dinamakan Salafiyyin. Inilah jalan yang ditempuh oleh muta-akhirin seperti Al Ghazzali dan Ar Razi.com/2011/04/pertumbuhan-dan-perkembangan-ilmu. kemudian mereka mencampur adukkan ke dalam ilmu kalam sebagaimana yang dilakukan oleh Baidlawi dalam kitabnya Ath Thawali dan Abuddin Al Ijy dalam kitab Al Mawaqif. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa batalnya dalil. Lalu datang kelompok pengikut Asy’ari yang mendalami ilmu mantiq. Dan dia berusaha mempertemukan syari’at dan hikmat (falsafah). pada saat itu masyarakat Islam terbagi menjadi 2 golongan yaitu pro dan kontra terhadap Ibnu Taimiyah. berarti batalnya mad-lul. Dia pun juga menghendaki untuk mengambil dalil untuk menetapkan akidah-akidah Islamiyah tanpa terlalu menggunakan falsafah serta menghendaki agar mengikuti jalan yang digariskan Al-Qur’an yang sesuai dengan fitrah manusia. Inilah jalan yang kemudian ditempuh oleh mutaqaddimin Asy’ariyah seperti Abu Bakar Al Baqillani. Masa Pasca Bani Abbas sampai sekarangSetelah masa Bani Abbas. kemudian mereka menetapkan bahwa batalnya dalil belum tentu batalnya mad-lul. Al Asy’ari juga memandang dalil-dalil yang dibuat untuk muqaddamah aqliyah seperti teori Juhari dan Aradhl. munculah Abu Hasan Al Asy’ari yaitu murid utama dari abu Ali Muhammad ibn Abdul Wahab Al Jubba’i Al Mu’tazili. kemauan dan daya kreatif untuk mempelajari ilmu Kalam mulai surut. Dia mengumpulkan dalil-dalil aqli dan naqli untuk menolak paham Mu’tazilah.

html .http://azisabd.com/2011/11/akidah-pertumbuhan-dan-perkembangan.blogspot.