P. 1
pembahasan

pembahasan

|Views: 659|Likes:
Published by Dian Bunga Lestari

More info:

Published by: Dian Bunga Lestari on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

Sections

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem kardiovaskuler adalah sistem yang mempelajari bagaimana jantung bekerja dalam memompa darah di dalam tubuh kita. Vaskularisasi adalah sistem yang yang melakukan pertukaran antara darah dan jaringan yang berlangsung di kapiler. Vaskularisasi terdiri dari arteri, kapiler, dan vena, serta jantung yang berfungsi sebagai pemompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Arteri membawa darah dari jantung menuju kapiler, sedangkan vena membawa darah dari kapiler kembali ke jantung. Dalam makalah ini dibahas banyak mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kerja sistem tersebut. Dibahas pula alat yang digunakan untuk menunjukkan ketidakteraturan dari fungsi jantung, yaitu ECG (elektrocardiogram). Topik penting lain yang dibahas adalah tekanan darah, suatu tekanan terhadap dinding pembuluh darah. Dalam mengukur tekanan darah terdapat beberapa langkah yang meliputi persiapan, posisi pasien, pengukuran lengan, dan penempatan manset. Pada tiap sistem tentu tak luput dari kelainan-kelainan yang juga perlu kami bahas labih mendalam.

1.2

Tujuan
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa tujuan yang ingin

dicapai penyusun antara lain :
1. Memahami macam – macam jaringan kulit 2. Memahami cara pengevakuasian korban bencana alam yang benar 3. Memahami mekanisme terjadinya lemas, demam, dan pucat 1

4. Memahami terjadinya kerusakan jaringan kulit 5. Memahami mekanisme infus dan transfusi darah 6. Memahami mekanisme pembekuan darah

7. Memahami proses penyembuhan luka 8. Memahami kriteria pasien harus diamputasi 9. Memahami kriteria pasien sembuh 10. Memahami cairan tubuh

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Jaringan kulit manusia terdiri atas epidermis dan dermis. Kulit berfungsi sebagai alat ekskresi karena adanya kelenjar keringat (kelenjar sudorifera) yang terletak di lapisan dermis. Epidermis Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang memberi warna pada kulit. Dermis Lapisan ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung syaraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan keringat. Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hai, tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh.

3

Pada suhu lingkunga tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotamulus. Kulit memeiliki fungsi sebagai berikut: 1. Fungsi proteksi Melindungi bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik maupun mekanik, misalnya tekanan, gesekan, tarikan, gangguan kimiawi, seperti zat-zat kimia iritan (lisol, karbol, asam atau basa kuat lainnya), gangguan panas atau dingin, gangguan sinar radiasi atau sinar ultraviolet, gangguan kuman, jamur, bakteri atau virus. 2. Fungsi Absorpsi Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal, tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban udara, metabolisme dan jenis vehikulum zat yang menempel di kulit. Penyerapan dapat melalui celah antar sel, saluran kelenjar atau saluran keluar rambut. 3. Fungsi Ekskresi Kelenjar-kelenjar pada kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna atau sisa metabolisme dalam tubuh. Produk kelenjar lemak dan keringat di permukaan kulit membentuk keasaman kulit pada pH 5 – 6,5. 4. Fungsi Pengindra (Sensori)
4

Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah erotik.

5. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh Kulit melakukan peran ini dengan mengeluarkan keringat dan otot dinding pembuluh darah kulit. 6. Fungsi pembentukan Pigmen Sel pembentuk pigmen kulit (melanosit) terletak di lapisan basal epidermis. Jumlah melanosit serta jumlah dan besarnya melanin yang terbentuk menetukan warna kulit. 7. Fungsi Keratinasi Proses keratinasi sel dari sel basal sampai sel tanduk berlangsung selama 14 – 21 hari. Proses ini dilakukan agar kulit dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada beberapa macam penyakit kulit proses ini terganggu, sehingga kulit akan terlihat bersisik, tebal, kasar dan kering. 8. Fungsi Produksi Vitamin D Kulit juga dapat membuat vitamin D dari bahan baku 7-dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar matahari. 9. Fungsi Ekspresi Emosi Hasil gabungan fungsi yang telah disebut di atas menyebabkan kulit mampu berfungsi sebagai alat untuk menyatakan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia. Sebagai anggota tubuh terluar,tentunya tubuh akan sering mengalami luka, maka perlu diketahui pengertian dari luaka dan penanganannya

5

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul , diantaranya: 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Respon stres simpatis 3. Perdarahan dan pembekuan darah 4. Kontaminasi bakteri, dan 5. Kematian sel Jenis luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka, misalnya: 1. Berdasarkan tingkat kontaminasi a) Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak

terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% – 5%. b) Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka

pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% – 11%. c) Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh,

luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik

6

atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% – 17%. d) Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya

mikroorganisme pada luka. 2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka a) Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang

terjadi pada lapisan epidermis kulit. b) Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada

lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal. c) Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan

meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. d) Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot,

tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas. 3. Berdasarkan waktu penyembuhan luka a. Luka akut: yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep

penyembuhan yang telah disepakati. b. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses

penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen. FASE PENYEMBUHAN LUKA

7

Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan. Fase Inflamasi Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira – kira hari kelima.. pembuluh darah yang terputus pada luka akan menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi, pengerutan ujung pembuluh yang putus (retraksi), dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah. Sementara itu terjadi reaksi inflamasi. Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamine yang meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penyebukan sel radang, disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan. Tanda dan gejala klinik reaksi radang menjadi jelas berupa warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor), dan pembengkakan (tumor). Aktifitas seluler yang terjadi adalah pergerakan leukosit menembus dinding pembuluh darah (diapedesis) menuju luka karena daya kemotaksis. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka. Limfosit dan monosit yang kemudian muncul ikut menghancurkan dan memakan kotoran luka dan bakteri (fagositosis). Fase ini disebut juga fase lamban

8

karena reaksi pembentukan kolagen baru sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah.

Fase Proliferasi Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah proses proliferasi fibroblast. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi sampai kira – kira akhir minggu ketiga. Fibroblast berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asama aminoglisin, dan prolin yang merupakan bahan dasar kolagen serat yang akan mempertautkan tepi luka.Pada fase ini serat dibentuk dan dihancurkan kembali untuk penyesuaian diri dengan tegangan pada luka yang cenderung mengerut. Sifat ini, bersama dengan sifat kontraktil miofibroblast, menyebabkan tarikan pada tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan normal. Nantinya, dalam proses penyudahan kekuatan serat kolagen bertambah karena ikatan intramolekul dan antar molekul. Pada fase fibroplasia ini, luka dipenuhi sel radang, fibroblast, dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasarnya dan berpindah mengisi permukaan luka. Tempatnya kemudian diisi oleh sel baru yang terbentuk dari proses mitosis. Proses migrasi hanya bisa terjadi ke arah yang lebih rendah atau datar, sebab epitel tak dapat bermigrasi ke arah yang lebih tinggi. Proses ini baru berhenti setelah epitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka. Dengan tertutupnya permukaan luka, proses fibroplasia dengan pembentukan jaringan granulasi juga akan berhenti dan mulailah proses pematangan dalam fase penyudahan. Fase Penyudahan (Remodelling)

9

Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat berlangsung berbulan – bulan dan dinyatakan berkahir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada. Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, dan lemas serta mudah digerakkan dari dasar. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira – kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira – kira 3-6 bulan setelah penyembuhan. Adanya penyembuhan luka ini tentumya juga berkaitan dengan adanya pembekuan darah pada luka. Proses pembekuan darah pada luka dilakukan oleh trombosit, trombosit yang pecah mengeluarkan enzim trombokinase (pengaktif protombin). Trombokinase mengubah protombin menjadi trombin dangan bantuan mineral calsium dan vitamin K. Selanjutnya , trombin merangsang fibrinogen membentuk benang fibrin. Benang fibrin menyebabkan darah membeku karena benang fibrin berbentuk sperti jaring yang menangkap dan menghalangi sel darah merah keluar dari pembluh darah yang rusak. Jika semua luka sudah tertutup dan mulai mongering, maka seseorang bisa dikatakan sembuh. Pada terjadinya luka biasanya ada yang kehilangan banyak darah atau cairan tubuh yang lain. Keadaan seperti ini biasa diatasi dengan transfusi darah pada orang yang terluka disertai dengan pemberian infuse. Pada transfusi darah, dikenal adanya sistem pembagian darah A, B, AB, dan O. pemberian darah pada korban disesuaikan dengan golongan darahnya, jika tidak akan terjadi penggumpalan darah akibat reaksi penolakan tubuh terhadap darah

10

yang tidak sesuai, ini bisa menyebabkan kondisi korban lebih parah, bahkan kematian. Sementara itu infuse juga sering digunakan sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang akibat luka, mekanisme pemberinnya melalui sistem intravena. Biasanya pemberian infuse ini disesuaikan dengan kebutuhan tubuh korban, ini dilakukan agar pemberian cairan tubuh ini dapat berguna maksimal bagi penyembuhan korban luka tersebut.

11

BAB III PEMBAHASAN
3.1 KULIT DAN ADNEXA

KULIT Kulit adalah tunggal yang terberat di tubuh, dengan berat sekitar 16% dari berat total dan pada orang dewasa, mempunyai luas permukaan sebesar 1,2-2,3 m2 yang terpapar dengan dunia luar. Kulit terdiri atas epidermis, yaitu lapisan epitel yang berasal dari eksoderm,dan dibawahnya dermis atau korium berupa jaringan ikat (agak) padat, vaskuler (mengandung banyak pembuluh darah), dan berasal dari mesoderm. Kedua lapisan tersebut, dermis dan epidermis, melekat erat satu sama lain dan membentuk membran yang beragam tebalnya mulai dari 0,5-4 mm atau lebih pada berbagai tempat pada tubuh. Karena ukurannya yang besar, kulit memiliki jumlah limposit dan sel penyajiantigen (sel Langerhans) yang sangat besar, dan karena lokasinya, kulit berkontak langsung dengan banyak molekul antigen. Itu sebabnya, epidermis memiliki peran penting untuk beberapa j Turunan (integumen) mencakup kulit permukaan tubuh berikut turunannya. Dalam hal ini termasuk rambut, kuku, dan beberapa kelenjar seperti kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kulit melindungi tubuh dari bahan dan pengaruh pencederaan dengan cara : Menghalangi serangan mikroorganisme Membantu pengaturan suhu tubuh, dengan mengeluarkan keringat dan berbagai limbah katabolisme.

12

Menjadi organ pengindera yang luas bagi tubuh untuk menerima rangsang raba, suhu dan nyeri. Di bawah dermis, terdapat hipodermis (Yun. Hypo, dibawah, +derma, kulit) atau jaringan subkutan, yaitu jaringan longgar yang dapat mengandung bantalanbantalan sel-sel lemak, yang disebut panikulus adiposus. Hipodermis, yang tidak dipandang sebagai bagian dari kulit, mengikat kulit secara longgar pada jaringan di bawahnya dan sesuai dengan fasia superfisialis pada anatomi makro. Dermis dilekatkan kepada hipodermis di bawahnya oleh-serat-serat jaringan ikat yang berselusupan ke dalam kedua lapisan jaringan tersebut. Fasia superfisialis ini memungkinkan keleluasaan gerak kulit di atasnya pada hampir seluruh bagian kulit permukaan tubuh. Hanya pada beberapa tempat saja yang serat-seratnya saling cekam sehingga keleluasaan gerak kulit di atasnya terbatas, yaitu telapak kaki dan tangan dan kaki. Permukaan luar kulit mempunyai banyak rabung (ridge) yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Rabung kulit terentang ke segala arah dan yang paling jelas pada telapak tangan dan kaki. Polanya yang terbangun lengkung (loop), pusaran (whorl) dan busur (arch), terutama ditentukan oleh faktor keturunan, diikuti oleh permukaan dermis dibawahnya yang berbentuk rubung dermis. Oleh karena itu pada potongan, batas antara epidermis dan dermis tampak bergelombang. Namun, terdapat variasi pada derajat perkembangannya misalnya, rabung tidak terdapat pada kulit di dahi, telinga luar, perineum, dan skrotum. Rabung kulit dipakai sebagai bahan dasar penggunaan sidik jari sebagai sarana pengenalan diri, karena terdapat variasi individu yang jelas dan tidak pernah berubah (kecuali membessar) sesudah terbentuk pada janin saat bulan 3-4 kehamilan. Lapisan luar kulit relatif kedap air, yang mencegah penguapan air secara berlebihan dan memungkinkan berlangsungnya kehidupan di bumi. Kulit berfungsi sebagai organ reseptor yang selalu berhubungan dengan lingkungan dan melindungi organisme dari cedera benturan dan gesekan. Melanin, yaitu suatu pigmen yang dihasilkan dan disimpan di sel-sel epidermis, menyediakan perlindungan yang lebih besar terhadap sinar ultraviolet matahari. Kelenjar-

13

kelenjar kulit, pembuluh darah, dan jaringan lemak berpartisipasi dalam pengaturan suhu, metabolisme tubuh, dan ekskresi berbagai zat. Dalam pengaruh sinar ultraviolet matahari, vitamin D3 dibentuk dari prekursor yang disintesis sebelumnya oleh organisme. Karena kulit bersit elastis, kulit dapat mengembang dan menutupi daerah yang luas pada keaadaan yang disertai pembengkakan seperti pada edema dan kehamilan. Bila diamati dengan cermat,bagian-bagian tertentu kulit manusia memperlihatkan rabung-rabung dan alur-alur yang tersusun dalam pola berbeda. Rabung-rabung ini pertama kali muncul selama kehidupan intrauterin-pada minggu ke-13 pada ujung-ujung jari dan kemudian pada permukaan volar kaki dan tangan (telapak tangan dan telapak kaki). Pola rabung yang diselingi alur dikenal sebagai dermatoglyphic. Pola ini bersifat unik bagi setiap individu, yang tampak berupa lengkungan, lingkaran, ulir atau kombinasi bentuk-bentuk tersebut. Kulit secara garis besar terdiri atas dua golongan yaitu kulit tebal dan kulit tipis. Kulit tebal terdapat pada telapak tangan dan kaki sedangkan kulit tipis terdapat pada bagian badan lainnya. Harus diingat bahwa kulit tebal dan kulit tipis bukan melirik ketebalan secara keseluruhan, tetapi hanya ketebakan epidermis saja. Dermis bagian ekstensor biasanya lebih tebaldaripada fleksor, namun keduanya berepidermis yang tergolong tipis. Kulit Tebal Tebal 0,8 mm – 1,4 mm. Terdiri dari 5 lapisan. Dari bawah yaitu : Stratum Basale (Germinativum), Stratum Spinosum, Stratum Granulosum, Stratum Lucidium, dan Stratum Corneum.

14

Gambar 1 : Kulit Tebal

Gambar 2 : Penampakan Kulit Tebal pada mikroskop Kulit Tipis Tebal 0,07 mm – 0,12 mm. Memiliki 4 lapisan, tanpa Stratum Lucidium (Guton, Arthur C.) , terdapat pada bagian yang kekurangan rambut (telapak kaki dan telapak tangan). Lapisan Kutikuler : tebal terdiri dari jaringan ikat padat.

15

Fungsi Kulit : Kulit adalah pembugkus tubuh dan berkontak langsung dengan lingkungan luar, oleh karena itu kulit melakukan banyak fungsi penting. Adapun fungsi – fungsi dari kulit itu sendiri adalah sebagai berikut : Perlindungan,epitel berlapis gepeng berlapis tanduk epidermis kulit melindungi permukaan tubuh terhadap abrasi mekanik dan membentuk sawar fisik terhadap mikroorganisme patogen, yang jika tidak, akan dapat masuk kedalam tubuh.Karena ada glikolipid diantar sel – sel , maka epidermis juga tidak permeabel untuk air dan mencegah hilangnya cairan tubuh melalui dehidrasi. Regulasi Suhu, kulit berperan penting dalam mengatur suhu badan. Latihan fisik atau lingkungan yang panas dapaat meningkatkan proses berkeringat. Mekanisme ini memungkinkan hilangnya sebagian panas dari tubuh melalui penguapan keringat dari permukaan kulit. Selain berkeringat termoregulasi juga terjadi dengan melebarnya pembuluh darah untuk memungkinkan aliran maksimum ke kulit; fungsi ini meningkatkan hilangnya panas dari inti tubuh keluar. Dan sebaliknya, di daerah dingin, orang tidak berkeringat dan suhu tubuh terpelihara

16

dengan konstriksi pembuluh – pembuluh darah dan penurunan aliran darah ke kulit. Persepsi Sensoris, kulit merupakan organ sensoris besar dan sumber utama sensasi umum tubuh terhadap lingkungan luar. Banyak ujung syaraf sensori bersimpai dan bebas di dalam kulit berespons terhadap suhu ( panas dan dingin ), sentuhan, nyeri, dan tekanan. Organ Ekskretoris, melalui produksi keringat oleh kelenjar keringat, air, larutan garam dan limbah bernitrogen dapat diekskresi melalui permukaan kulit. Pembentukan Vitamin D, bila kulit terpapar terhadap sinar ultraviolet dari matahari, dibentuk vitamin D dari prekursor yang disintesis di dalam epidermis. Vitamin D diperlukan untuk penyerapan kalsium dari mukosa usus dan metabolisme mineral yang memadai.

ADNEXA KULIT Kulit Manusia merupakan organ terbesar dengan luas ± 1,2 m² dan berat ± 15 % dari berat badan yang terdiri dari susunan sel – sel yang membentuk lapisan – lapisan. Kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis, dan jaringan bawah dermis. Kulit mempunyai fungsi proteksi terutama dari sengatan sinar matahari, sekresi ( mengeluarkan bahan – bahan yang tidak berguna ), termoregulasi ( mengatur suhu badan ), sensorik, ekspresi, produksi vitamin, respirasi, dan penyerapan, yang dilakukan baik oleh sel – sel dipermukaan kulit maupun oleh adneksa kulit seperti, kelenjar lemak, kelenjar keringat, rambut dan kuku 1. Kelenjar keringat (glandula sudorifera)

17

Terdapat di lapisan dermis Diklasifikasikan menjadi 2 kategori: a. kelenjar Ekrin terdapat disemua kulit.Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik. Pengeluaran keringat pada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll. b. kelenjar Apokrin. Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan berm,uara pada folkel rambut.Kelenjar ininaktif pada masa pubertas,pada wanit a akan membesar dan berkurang pada sklus haid.Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bakteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax). 2. Kelenjar Sebasea

18

Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak. KUKU Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Bagian kuku terdiri dari:

19

20

Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru Dinding kuku (nail wall): merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi bagian pinggir dan atas Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku Alur kuku (nail grove): merupakan celah antar dinding dan dasar kuku Akar kuku (nail root): merupakan bagian proksimal kuku Lempeng kuku (nail plate): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku Lunula: merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih didekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit Eponikium (kutikula): merupakan dinding kuku bagian proksima, kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng kuku Hiponikium: merupakan dasar kuku, kulit ari dibawah kuku yang bebas (free edge) menebal Pertumbuhan rata- rata 1 mm / minggu. Pembaruan total kuku jari tangan : 170 hari dan kuku kaki: 12- 18 bulan. RAMBUT Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir. Terdapat 2 jenis rambut : a. Rambut terminal (dapat panjang dan pendek.) b. Rambut velus (pendek, halus dan lembut).

21

Penampang rambut terdiri atas:

1. Kutikula: terdiri atas lapisan keratin 2. Korteks: terdiri atas serabut polipeptida yang memanjang dan saling berdekatan. lapisan ini mengandung pigmen 3. Medula: terdiri atas 3-4 lapis sel kubus yang berisi keratohialin, badan lemak, dan rongga udara. rambut velus tidak mempunyai medula Fungsi rambut melindungi kulit dari pengaruh buruk:Alis mata melindungi mata dari keringat agar tidak mengalir ke mata, bulu hidung (vibrissae) menyarig udara. serta berfungsi sebagai pengatur suhu, pendorong penguapan kerngat dan indera peraba yang sensitive. Rambut terdiri dari akar ( sel tanpa keratin) dan batang ( terdiri sel keratin ) Bagian dermis yang masuk dalam kandung rambut disebut papil.

22

Terdapat 3 fase :

1. fase pertumbuhan (Anagen) sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru mendorong sel-sel lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya 2-6 tahun 90 % dari 100.000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan pada satu saat. 2. Fase Peralihan (Katagen) Masa peralihan dimulai dari penebalan jaringan ikat di sekitar folikel rambut. Bagian tengah akar rambut menyempit dan bagian di bawahnya melebar dan mengalami pertandukan sehingga terbentuk gada (club). berlangsung 2-3 minggu 3. Fase Istirahat(Telogen) Berlangsung + 4 bulan, rambut mengalami kerontokan 50 – 100 lembar rambut rontok dalam tiap harinya. Gerak merinding jika terjadi trauma , stress, dsbt Piloereksi. Warna rambut ditentukan oleh jumlah melanin . Pertumbuhan rambut pada daerah tertentu dikontrol oleh hgormon seks( rambut wajah, janggut, kumis, dada, punggung, di kontrol oleh H. Androgen. Kuantitas dan kualitas distribusi ranbut ditentukan oleh kondisis Endokrin. Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan pada S. Cushing(wanita).
23

3.2

PENYEMBUHAN LUKA

Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor, 1997) Prinsip penyembuhan luka Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu : Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga Respon tubuh secara sistemik pada trauma Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri Fase penyembuhan luka Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan, hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan. (Kozier, 1995) Tahap Penyembuhan Luka menurut Kozier (1995) • Fase Inflamatori Fase ini terjadi segera setelah luka dan derakhir 3 - 4 hari. Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasi dan pagositosis. Hemotasis (penghentian

24

pendarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darak di daerah luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang mrnjadi kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Epitelial sel membantu sebagai barrier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme. Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukanpada proses penyembuhan. Paada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropi) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel di akhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan.

Gambar 1. Fase Inflamasi

25

Fase Proliferatif

Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi proteiin yang menambah tegangan permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahanberwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah.

Gambar 5. Fase Proliferasi • Fase Maturasi Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen menjalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.

26

Gambar 6. Fase Remodelling Tahap Penyembuhan Luka menurut Taylor (1997) • Fase Inflamatory Fase inflamatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3-4 pasca operasi. Dua tahap dalam fase ini adalah hemostasis dan pagositosis. Sebagai tekanan yang besar, luka menimbulkan lokal adaptasi sindrom. Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah, berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit (makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesisi yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi. • Fase Proliferative Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapis perbaikan luka. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya, sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh darah, kemerahan dan mudah berdarah. • Fase Maturasi Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1-2 tahun setelah luka. Kolagen yang ditimbulkan dalam luka diubah, membuat

27

penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu, menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis dan garis putih. Tahap Penyembuhan Luka menurut Potter (1998)  Devensive / Tahap Inflamatory Dimulai ketika sejak integritas kulit rusak/terganggu dan berlanjut hingga 4-6 hari. Tahap ini terbagi atas homeostasis, respon inflamatori, tibanya sel darah putih di luka. Hemostasis adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah, membawa platelet menghentikan pendarahan. Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme infeksius. Respon inflammatory adalah saat terjadi peningkatan aliran darah pada luka dan permeabilitas vaskuler plasma menyebabkan kemerahan dan bengkak pada lokasi luka. Sampainya sel darah putih di luka melalui suatu proses, neutrophils membunuh bakteri dan debris yang kemudian mati dalam beberapa hari dan meninggalkan eksudat yang menyerang bakteri dan membantu perbaikan jaringan. Monosit menjadi makrofag, selanjutnya makrofag membersihkan sel dari debris oleh pagositosis, meingkatkan perbaikan luka dengan mengembalikan asam amino normal dan glukose. Epitelial sel bergerak dari dalam ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam.  Reconstruksion / Tahap Prolifrasi Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari tahap defensive dan berlanjut selama 2 – 3 minggu. Fibroblast berfungsi membantu sintesis vitamin B dan C, dan asam amino pada jaringan kollagen. Kollagen menyiapkan struktur, kekuatan dan integritas luka. Epitelial sel memisahkan sel-sel yang rusak.  Tahap Maturasi Tahap akhir penyembuhan luka berlanjut selama 1 tahun atau lebih hingga bekas luka merekat kuat. 3.3 CAIRAN TUBUH

Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit
28

melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya. Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokule, dan sekresi saluran cerna.

KOMPARTEMEN CAIRAN TUBUH Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat 70 kg, Total cairan tubuh (TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas A.1. Cairan ( Guyton & Hall, 1997) (CIS) = 40% dari BB total

Intraselular

Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang dewasaθ kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi adalah cairan intraselular.

29

A.2.

Cairan

Ekstraselular

(CES)

=

20%

dari

BB

total

Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kir ½ cairan tubuh terkandung didalam (CES). Setelah 1 tahun, volume relatif dari (CES) menurun sampai kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam rata-rata pria dewasa (70 kg). Lebih jauh (CES) dibagi menjadi : (a) Cairan interstisial (CIT) : Cairan disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume (CIT) kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang dewasa. (b) Cairan intravaskular (CIV) : Cairan yang terkandung di dalam pembuluh darah. Volume relatif dari (CIV) sama pada orang dewasa dan anak-anak. Ratarata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3 L (60%) dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah merah (SDM, atau eritrosit) yang mentranspor oksigen dan bekerja sebagai bufer tubuh yang penting; sel darah putih (SDP, atau leukosit); dan trombosit. Tapi nilai tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah adalah mencakup : pengiriman nutrien (mis ; glokusa dan oksigen) ke jaringan transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi transpor hormon ke tempat aksinya sirkulasi panas tubuh

3. Cairan Transelular (CTS) : Adalah cairan yang terkandung di dalam rongga khusus dari tubuh.θ Contoh (CTS) meliputi cairan serebrospinal, perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung. Pada waktu tertentu (CTS) mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya. Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.

30

 Secara Skematis Jenis dan Jumlah Cairan Tubuh dapat digambarkan sbb

 PROSENTASE TOTAL CAIRAN TUBUH DIBANDINGKAN BERAT BADAN

31

 DISTRIBUSI CAIRAN TUBUH

♣ Keterangan : Untuk laki-laki, BB = 70 Kg

 NILAI RATA-RATA CAIRAN EKSTRASELULER (CES)&CAIRAN INTRASELULER (CIS) PADA DEWASA NORMAL TERHADAP BB

( Maxwell, Morton H. Clinical Disorders of Fluid and Electrolyte Metabolism, 4th ed. McGraw Hill, 1987, p.9 )

32

KOMPOSISI CAIRAN TUBUH Semua cairan tubuh adalah air larutan pelarut, substansi terlarut (zat terlarut) antara lain sbb: 1. Air Air adalah senyawa utama dari tubuh manusia. Rata-rata pria Dewasa hampir 60% dari berat badannya adalah air dan rata-rata wanita mengandung 55% air dari berat badannya. 2. Solut (terlarut) Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) elektrolit dan non-elektrolit. (a) Elektrolit : Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain (miliekuivalen/liter) atau dengan berat molekul dalam garam ( milimol/liter mEq/L ). Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam miliekuivalen, mol/L dalam larutan selalu sama. Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama adalah natrium (Na), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida ( Clˉ ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO4). Karena kandungan elektrolit dari palsma dan cairan interstisial secara esensial sama (lihat Tabel. 1-2), nilai elektrolit plasma menunjukkan komposisi cairan ekstraselular, yang terdiri atas cairan intraselular dan interstisial. Namun demikian, nilai elektrolit plasma tidak selalu menunjukkan komposisi elektrolit dari cairan intraselular. Pemahaman perbedaan antara dua kompartemen ini penting dalam mengantisipasi gangguan seperti trauma jaringan atau ketidakseimbangan asam-basa. Pada situasi ini, elektrolit dapat dilepaskan dari

33

atau bergerak kedalam atau keluar sel, secara bermakna mengubah nilai elektrolit palsma. (b) Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). Nonelektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin.  Tabel. 1.2 Unsur utama kompartemen cairan tubuh

♣ Keterangan: Ini adalah daftar parsial. Unsur lain termasuk ion kalsium Ca magnesium Mg2+, protein dan asam organik.

2+,

 Pendapat ahli lain tentang unsur utama kompartemen cairan tubuh disebutkan sebagai berikut :

( Morgan, G. Edward. Clinical Anesthesiology. Appleton & Lange, 1996, p.518 )

34

 KANDUNGAN ELEKTROLIT CAIRAN TUBUH

 INTAKE DAN OUTPUT RATA-RATA HARIAN DARI UNSUR TUBUH YANG UTAMA:

♣ Keterangan : Kehilangan cairan melalui kulit (difusi) & paru disebut Insensible Loss (IWL)

35

Bila ingin mengetahui “Insensible Loss (IWL)” maka kita dapat menggunakan penghitungan sebagai berikut : a. b. c. DEWASA = 15 cc/kg BB/hari ANAK = (30 – usia (th)) cc/kg BB/hari Jika ada kenaikan suhu : IWL = 200 (suhu badan sekarang – 36.8C)

(Dari Iwasa M, Kogoshi S. Fluid Therapy. Bunko do, 1995. P 8.)  JUMLAH KEHILANGAN AIR DAN ELEKTROLIT per 100 kcal BAHAN METABOLIK DALAM KEADAAN NORMAL MAUPUN SAKIT

1.Proportion Of Body Fluid Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa hal antara lain. a.Umur b.Kondisi lemak tubuh c.Sex Perhatikan Uraian berikut ini : No. Umur Prosentase Bayi baru lahir (75%) Dewasa : Pria (20-40 tahun) 60% Wanita (20-40 tahun) 50%
36

Usia lanjut 45-50% Pada orang dewasa kira-kira 40 % baerat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.

2. Elektrolit Utama Tubuh Manusia Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-). Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif. Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci dalam tabel dibawah ini. KATION No 1 2 3 4. Elektrolit Natrium Kalium Kalsium Magnesium Ekstraselular 144,0 mEq 5,0 mEq 2,5 mEq 1,5 mEq Intraselular 137,0 mEq 4,7 mEq 2,4 mEq 1,4 mEq Plasma Interstitial 10 mEq 141 mEq 0 31 mEq

ANION

37

No 1 2 3 4. 5

Elektrolit Klorida Bikarbonat Fosfat Sulfat Protein

Ekstraselular 107,0 mEq 27,0 mEq 2,0 mEq 0,5 mEq 1,2 mEq

Intraselular 112,7 mEq 28,3 mEq 2,0 mEq 0,5 mEq 0,2 mEq

Plasma Interstitial 4 mEq 10 mEq 11 mEq 1 mEq 4 mEq

3. Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu : a.Fase I : Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen b.Fase II : Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel c.Fase III : Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel. Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara : a. Diffusi b. Filtrasi c. Osmosis d. Aktiv Transport Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :
a. Permebelitas membran kapiler dan sel b. Konsenterasi c. Potensial listrik

diambil

dari

paru-paru

dan

tractus

gastrointestinal.

38

d. Perbedaan tekanan.

Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi. Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium. Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal. Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis. 4. Regulating Body Fluid Volumes Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilanagn caiaran antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme.

39

Organ yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan meliputi: • Ginjal Fungsi-fungsi utama ginjal dalam mempertahankan keseimbangan cairan: Pengaturan volume dan osmolalitas CES melalui retensi dan eksresi selektif cairan tubuh. Pengaturan kadar elektrolit dalam CES dengan retensi selektif substansi yang dibutuhkan . Pengaturan pH CES melalui retensi ion-ion hidrogen. Ekskresi sampah metabolik dan substansi toksik. Oleh karena itu gagal ginjal jelas mempengaruhi keseimbangan cairan, karena ginjal tidak dapat berfungsi. • Jantung dan pembuluh darah Kerja pompa jantung mensirkulasi darah melalui ginjal di bawah tekanan yang sesuai untuk menghasilkan urine. Kegagalan pompa jantung ini mengganggu perfusi ginjal dan karena itu mengganggu pengaturan air dan elektrolit. • Paru-paru Melalui ekhalasi paru-paru mengeluarkan air sebanyak +300L setiap hari pada orang dewasa. Pada kondisi yang abnormal seperti hiperpnea atau batuk yang terus-menerus akan memperbanyak kehilangan air; ventilasi mekanik dengan air yang berlebihan menurunkan kehilangan air ini. • Kelenjar pituitari Hipotalamus menghasilkan suatu substansi yaitu ADH yang disebut juga hormon penyimpan air, karena fungsinya mempertahankan tekanan osmotik sel dengan mengendalikan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan dengan mengatur volume darah. • Kelenjar adrenal Aldosteron yang dihasilkan/disekresi oleh korteks adrenal (zona glomerolus). Peningkatan aldosteron ini mengakibatkan retensi natrium sehingga air juga ditahan, kehilangan kalor. Sedangkan apabila aldosteron kurang maka air akan banyak keluar karena natrium hilang. Kortisol juga menyebabkan retensi natrium. • Kelenjar paratiroid

40

Mengatur keseimbangan kalsium dan fosfat melalui hormon paratiroid (PTH). Sehingga dengan PTH dapat mereabsorbsi tulang, absorbsi kalsium dari usus dan reabsorbsi kalsium dari ginjal. Intake Cairan : Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-lira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah ini : No 1 2 3 4 5 6 7 Umur 3 hari 1 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 14 tahun 18 tahun Berat Badan (kg) 3,0 9,5 11,8 20,0 28,7 45,0 54,0 Kebutuhan Cairan (mL/24jam) 250-300 1150-1300 1350-1500 1800-2000 2000-2500 2200-2700 2200-2700

Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak Sedangakan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal.

Output Cairan : Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu : a. Urine : Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang
41

dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh. b. IWL (Insesible Water Loss) : IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat. c. Keringat : Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit. d. Feces : Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon). OVERLOAD CAIRAN Overload atau kelebihan cairan tubuh, lazim disebut dengan istilah “Overhidrasi”, hal ini terjadi karena berlebihannya cairan total tubuh kita atau secara relatif berlebihnya cairan tubuh pada satu atau beberapa kompartemen cairannya. Seperti klasifikasi saat dehidrasi, overload cairanpun dibagi menjadi tipe isotonik, hipotonik dan hipertonik. Untuk tipe isotonik dan hipotonik yang sering dijumpai sehari-hari akan dibahas secara lebih mendalam seperti berikut ini.

Overload Tipe Isotonik Lazim disebut “hipervolume” adalah berlebihnya cairan pada kompartemen ekstraseluler (ECF) baik di intersisial atau di intravaskuler. Dibandingkan dengan dehidrasi isotonik, overload isotonik justru jarang terjadi, karena tubuh punya mekanisme kompensasi yang demikian baiknya untuk mencegah overload isotonik kearah yang lebih berat.

42

Mekanisme Kompensasi Tubuh Saat fungsi ginjal masih baik, peningkatan tekanan darah karena overload cairan akan membuat preload jantung meningkat begitupun kekuatan pompa otot jantung, dengan demikian “cardiac output” akan turun (hukum Starling’s). Hal lainnya adalah karena aliran darah ke ginjal dan filtrasi Glomerulus juga akan meningkat dan menyebabkan pengeluaran air dan natrium melalui ginjal akan meningkat pula. Implikasi pada Usia Lanjut Overload cairan pada pasien dengan penurunan fungsi jantung jelas akan memperburuk kondisi pasien kearah gagal jantung atau udem pulmonal. Hal ini akan menjadi masalah pada pasien dengan usia lanjut yang diketahui sering disertai gejala penurunan fungsi jantung dan masalah kardiovaskuler lainnya. Faktor Penyebab Overload isotonik disebabkan oleh asupan cairan yang berlebihan baik secara oral, melalui infus, atau saat irigasi hebat pada rongga atau organ tubuh (misal: kelebihan cairan saat irigasi kandung kemih pasien, penggunaan enema yang berlebihan) dan kesalahan penggunaan cairan infus hipotonik saat mengganti kehilangan cairan isotonik.

Overload Tipe Hipotonik Lazim disebut “Keracunan Air”. Ketidakseimbangan cairan tubuh dimana seluruh tubuh akan berada dalam keadaan hipotonik, disertai dengan osmolaritas tubuh menurun. Sehingga didalam tubuh, cairan ekstraseluler akan pindah ke kompartemen intraseluler. Terjadi expansi air berlebihan diseluruh kompartemen cairan dan kadar elektrolit berkurang karena dilusi (rendahnya elektrolit serum). Dalam kondisi berpindahnya cairan seperti ini, tubuh sangat sulit mengkompensasinya. Faktor penyebab tubuh menjadi overload hipotonik adalah SIADH (kumpulan

43

gejala karena malfungsi hormon antidiuretik), asupan air yang berlebihan dan pasien dengan gagal jantung. Perhatikan pasien dengan usia lanjut sering disertai dengan gagal jantung kongestif. Penatalaksanaan
1. Pemeriksaan Fisik.

Pasien dengan overload cairan, terjadi perubahan pola kardiovaskuler, seperti tabel dibawah ini. Tabel tanda klinis berhubungan dengan overload isotonik. • • • • • • • • • Nadi tak teratur Tensi meningkat Denyut nadi menyempit Sesak nafas Moist cracles Edema (menetap) di ekstremitas bawah dan tl ekor Edema disekitar periorbital Meningkatnya BB Penurunan Hb dan Hematokrit

Gejala tambahan lainnya yang banyak ditemukan saat pemeriksaan pasien adalah level kesadaran yang menurun, bingung (karena oksigenasi ke otak berkurang), kelemahan otot rangka, dan peningkatan bising usus. Gejala ini berhubungan dengan overload cairan yang disertai dengan defisit elektrolit, terutama natrium dan kalium. 2. Penegakan Diagnosa Pasien dengan isotonik overload elektrolit serumnya normal, sedangkan kadar Hb dan hematokritnya turun karena hemodilusi. Bila dicurigai kausanya adalah gagal ginjal, akan terjadi peningkatan dari kadar: elektrolit, BUN dan kreatinin karena ekskresi yang menurun. Sebaliknya pada overload hipotonik,

44

akan disertai turunnya elektrolit darah (dilusional) disertai dengan protein, Hb serta hematokrit yang juga menurun (hemodilusi). 5. Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain : a. Umur : Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung. b. Iklim : Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari. c. Diet : Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema. d. Stress : Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah. e. Kondisi Sakit : Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya :

45

- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL. - Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh - Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri. f. Tindakan Medis : Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain. g. Pengobatan : Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh. h. Pembedahan : Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan. 6. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah : a. Volume b. Osmolalitas c. Komposisi Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler (ECF). Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif tidak seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan

46

hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini. Kadar dari kebanyakan ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertai perubahan yang jelas dari jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secara osmotik sehingga mengakibatkan perubahan komposisional. a. Ketidakseimbangan Volume i. Kekurangan Volume Cairan Ekstraseluler (ECF) Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan cairan tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan hipernatremia. - airan Isotonis adalah cairan yang konsentrasi/kepekatannya sama dengan cairan tubuh, contohnya : larutan NaCl 0,9 %, Larutan Ringer Lactate (RL). - Cairan hipertonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannya melebihi cairan tubuh, contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal, Dextrose 5% dalam RL, Dextrose 5 % dalam NaCl 0,45%. - Cairan Hipotonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya kurang dari cairan tubuh, contohnya : larutan Glukosa 2,5 %., NaCl.0,45 %, NaCl 0,33 %. ii. Kelebihan Volume ECF : Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air keduaduanya tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama.Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka cairan akan berpindah ke kompartement cairan interstitial sehingga mnyebabkan edema. Edema adalah penunpukan cairan interstisial yang berlebihan. Edema dapat terlokalisir atau generalisata.

47

b. Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairancairan tubuh. Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar natrium di dalam plasma. Pahami juga perubahan komposisional di bawah ini :
a. Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3,5

mEq/L.
b. Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau

sama dengan 5,5 mEq/L.
c. Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali,

dan ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal. Proses Keperawatan
1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan secara umum pada pasien dengan gangguan atau resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi : a. Kaji riwayat kesehatan dan kepearawatan untuk identifikasi penyebab gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b. Kaji manifestasi klinik melalui : - Timbang berat badan klien setiap hari - Monitor vital sign - Kaji intake output c. Lakukan pemeriksaan fisik meliputi : - Kaji turgor kulit, hydration, temperatur tubuh dan neuromuskuler irritability. - Auskultasi bunyi /suara nafas - Kaji prilaku, tingkat energi, dan tingkat kesadaran d. Review nilai pemeriksaan laboratorium : Berat jenis urine, PH serum, Analisa Gas Darah, Elektrolit serum, Hematokrit, BUN, Kreatinin Urine.

48

2. Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ansietas, gangguan

mekanisme pernafasan, abnormalitas nilai darah arteri
b. Penurunan kardiak output berhubungan dengan dysritmia kardio,

ketidakseimbangan elektrolit
c. Gangguan keseimbangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan diare, kehilangan cairan lambung, diaphoresis, polyuria.
d. Gangguan keseimbangan cairan tubuh : berlebih bwerhubungan

dengan

anuria,

penurunan

kardiak

output,

gangguan

proses

keseimbangan, Penumpukan cairan di ekstraseluler.
e. Kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan kekurangan

volume cairan
f. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi dan atau

edema
g. Gangguan

perfusi

jaringan

berhubungan

dengan

edema

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan yang umum dilakukan pada pasien gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah : a. Atur intake cairan dan elektrolit b. Berikan therapi intravena (IVFD) sesuai kondisi pasien dan intruksi dokter dengan memperhatikan : jenis cairan, jumlah/dosis pemberian, komplikasi dari tindakan c. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti :deuretik, kayexalate. d. Provide care seperti : perawatan kulit, safe environment. Fungsi Cairan Tubuh Manusia

49

 1. Mengatur suhu tubuh

Bila kekurangan air, suhu tubuh akan menjadi panas dan naik.
 2. Melancarkan peredaran darah

Jika tubuh kita kurang cairan, maka darah akan mengental. Hal ini disebabkan cairan dalam darah tersedot untuk kebutuhan dalam tubuh. Proses tersebut akan berpengaruh pada kinerja otak dan jantung.
 3. Membuang racun dan sisa makanan

Tersedianya cairan tubuh yang cukup dapat membantu mengeluarkan racun dalam tubuh. Air membersihkan racun dalam tubuh melalui keringat, air seni, dan pernafasan.
 4. Mengatur struktur dan fungsi kulit

Kecukupan air dalam tubuh berguna untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elastisitas kulit akibat pengaruh suhu udara dari luar tubuh.
 5. Proses pencernaan

mengangkut nutrisi dan oksigen melalui darah untuk segera dikirim ke sel-sel tubuh. Konsumsi air yang cukup akan membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena gerakan usus menjadi lebih lancar, sehingga feses pun keluar dengan lancar.
 6. Pernafasan

Paru-paru harus basah dalam bekerja memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompa karbondioksida keluar tubuh. Bila kita menghembuskan nafas ke kaca, maka akan terlihat cairan berupa embun dari nafas yang
 7. Sendi dan otot

Melindungi dan melumasi gerakan pada sendi dan otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh kekurangan cairan. Minum air dengan cukup selama beraktivitas untuk meminimalisir resiko kejang otot dan kelelahan.
 8. Pemulihan penyakit

Air mendukung proses pemulihan ketika sakit karena asupan air yang memadai berfungsi untuk menggantikan cairan tubuh yang terbuang.

50

3.4

Komponen dan Fungsi Darah

Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsung dengan sel-sel di dalam tubuh kita. Darah terbentuk dari beberapa unsur, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih dam keping darah. 1. Plasma darah Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karena lebih dari separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat antibodi. 2. Sel darah merah (Eritrosit) Sel darah merah mengandung banyak haemoglobin. Darah berwarna merah sebab haemoglobin berwarna merah tua. Sel darah merah dihasilkan dilimpa atau kura, hati dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati. 3. Sel darah putih (Leukosit) Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sumsum merah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya penyakit. 4. Keping darah (Trombosit) untuk memberantas kuman-kuman

51

Bentuk keping darah tidak teratur dan tidak mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada proses pembekuan darah. Fungsi Darah Fungsi darah dalam metabolisme tubuh kita antara lain sebagai alat pengangkut (pengedar), pengatur suhu tubuh dan pertahanan tubuh. Peredaran Oksigen pada tubuh : 1. Oksigen diedarkan ke seluruh tubuh oleh sel darah merah. 2. Darah yang dipompa dari bilik kanan jantung menuju paru-paru melepaskan CO2 dan mengambil O2 dibawa menuju serambi kiri. 3. O2 dari serambi kiri disalurkan ke bilik kiri 4. Dari bilik kiri O2 dibawa ke seluruh tubuh oleh sel darah merah untuk pembakaran (oksidasi)
5. Peredaran darah besar yaitu peredaran darah yang berasal dari jantung

membawa oksigem dan sari makanan ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung membawa karbondioksida.
6. Peredaran darah kecil yaitu peredaran darah dari jantung membawa

karbondioksida menuju paru-paru untuk dilepas dan mengambil oksigen dibawa ke jantung. Jadi kesimpulannya, fungsi darah adalah :
   

Mengedarkan sari-sari makanan ke seluruh tubuh Mengedarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh Mengangkut karbondioksida ke paru-paru Mengedarkan hormone

3.5

Sistem Peredaran Darah Manusia

52

Transportasi ialah proses pengedaran berbagai zat yang diperlukan ke seluruh tubuh dan pengambilan zat-zat yang tidak diperlukan untuk dikeluarkan dari tubuh. Alat transportasi pada manusia terutama adalah darah. Di dalam tubuh darah beredar dengan bantuan alat peredaran darah yaitu jantung dan pembuluh darah. Selain peredaran darah, pada manusia terdapat juga peredaran limfe (getah bening) dan yang diedarkan melalui pembuluh limfe. Pada hewan alat transpornya adalah cairan tubuh, dan pada hewan tingkat tinggi alat transportasinya adalah darah dan bagian-bagiannya. Alat peredaran darah adalah jantung dan pembuluh darah. Struktur Alat Peredaran Darah Pada Manusia Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas jantung sebagai pusat peredaran darah, pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri. 1. Jantung Jantung ventrikel. manusia Jantung merupakan merupakan jantung organ berongga yang memiliki 2 atrium dan 2 berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai bagian tubuh. Jantung manusia berbentuk seperti kerucut dan berukuran sebesar kepalan tangan, terletak di rongga dada sebalah kiri. Jantung dibungkus oleh suatu selaput yang disebut perikardium. Jantung bertanggung jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep yang melengkapinya. Untuk mejamin kelangsungan sirkulasi, jantung berkontraksi secara periodik. Otot jantung berkontraksi terus menerus tanpa mengalami kelelahan. Kontraksi jantung manusia merupakan kontraksi miogenik, yaitu kontaksi yang diawali kekuatan rangsang dari otot jantung itu sendiri dan bukan dari syaraf. Terdapat beberapa bagian jantung (secara anatomis) akan kita bahas dalam makalah ini, diantaranya yaitu :

53

a. Bentuk Serta Ukuran Jantung Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung panjangnya kira-kira 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah. Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri linea medioclavicularis. Selaput yang membungkus jantung disebut perikardium dimana terdiri antara lapisan fibrosa dan serosa, dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak ada gesekan antara perikardium dan epikardium. Epikardium adalah lapisan paling luar dari jantung, lapisan berikutnya adalah lapisan miokardium dimana lapisan ini adalah lapisan yang paling tebal. Lapisan terakhir adalah lapisan endokardium. b. Ruang Dalam Jantung Ada 4 ruangan dalam jantung dimana dua dari ruang itu disebut atrium dan sisanya adalah ventrikel. Pada orang awam, atrium dikenal dengan serambi dan ventrikel dikenal dengan bilik. Kedua atrium merupakan ruang dengan dinding otot yang tipis karena rendahnya tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel mempunyai dinding

54

otot yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai lapisan tiga kali lebih tebal dari ventrikel kanan. Kedua atrium dipisahkan oleh sekat antar atrium (septum interatriorum), sementara kedua ventrikel dipisahkan oleh sekat antar ventrikel (septum interventrikulorum). Atrium dan ventrikel pada masing-masing sisi jantung berhubungan satu sama lain melalui suatu penghubung yang disebut orifisium atrioventrikuler. Orifisium ini dapat terbuka atau tertutup oleh suatu katup atrioventrikuler (katup AV). Katup AV sebelah kiri disebut katup bikuspid (katup mitral) sedangkan katup AV sebelah kanan disebut katup trikuspid. c. Katup-Katup Jantung Diantara atrium kanan dan ventrikel kanan ada katup yang memisahkan keduanya yaitu katup trikuspid, sedangkan pada atrium kiri dan ventrikel kiri juga mempunyai katup yang disebut dengan katup mitral/ bikuspid. Kedua katup ini berfungsi sebagai pembatas yang dapat terbuka dan tertutup pada saat darah masuk dari atrium ke ventrikel. 1) Katup Trikuspid Katup trikuspid berada diantara atrium kanan dan ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari 3 daun katup. 2) Katup pulmonal Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir dari dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi, sehingga memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.

55

3) Katup bikuspid Katup bikuspid atau katup mitral mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri.. Seperti katup trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup bikuspid terdiri dari dua daun katup. 4) Katup Aorta Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh. Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri. 2. Pembuluh Darah Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena. Arteri berhubungan langsung dengan vena pada bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagian endotheliumnya. Arteri dan vena terletak bersebelahan. Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding vena. Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan paling luar yang terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis. Cabang terkecil dari arteri dan vena disebut kapiler. Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan hanya memiliki satu lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal.Perbedaan struktur masingmasing pembuluh darah berhubungan dengan perbedaan fungsional masingmasing pembuluh darah tersebut. Macam-macam Pembuluh Darah A. Pembuluh darah arteri - Tempat mengalir darah yang dipompa dari bilik - Merupakan pembuluh yang liat dan elastis - Tekanan pembuluh lebih kuat dari pada pembuluh balik

56

- Memiliki sebuah katup (valvula semilunaris) yang berada tepat di luar jantung - Terdiri atas : 1. Aorta yaitu pembuluh dari bilik kiri menuju ke seluruh tubuh 2. Arteriol yaitu percabangan arteri 3. Kapiler : a. Diameter lebih kecil dibandingkan arteri dan vena b. Dindingnya terdiri atas sebuah lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal - Dindingnya terdiri atas 3 lapis yaitu : 1. Lapisan bagian dalam yang terdiri atas Endothelium 2. Lapisan tengah terdiri atas otot polos dengan Serat elastis 3. Lapisan terluar yang terdiri atas jaringan ikat Serat elastis B. Pembuluh Balik (Vena) - Terletak di dekat permukaan kulit sehingga mudah di kenali - Dinding pembuluh lebih tipis dan tidak elastis. - Tekanan pembuluh lebih lemah di bandingkan pembuluh nadi - Terdapat katup yang berbentuk seperti bulan sabit (valvula semi lunaris) dan menjaga agar darah tak berbalik arah. - Terdiri dari : 1. Vena cava superior yang bertugas membawa darah dari bagian atas tubuh menuju serambi kanan jantung. 2. Vena cava inferior yang bertugas membawa darah dari bagian bawah tubuh ke serambi kanan jantung. 3. Vena cava pulmonalis yang bertugas membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri jantung. Macam Peredaran Darah Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang dialirkan dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir

57

melewati jantung sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari : 1. Peredaran darah panjang/besar/sistemik Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan (atrium) jantung. 2. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis, di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis. Proses peredaran darah dipengaruhi juga oleh kecepatan darah, luas penampang pembuluh darah, tekanan darah dan kerja otot yang terdapat pada jantung dan pembuluh darah. Pada kapiler terdapat spingter prakapiler mengatur aliran darah ke kapiler : Bila spingter prakapiler berelaksasi maka kapiler-kapiler yang bercabang dari pembuluh darah utama membuka dan darah mengalir ke kapiler. Bila spingter prakapiler berkontraksi, kapiler akan tertutup dan aliran darah yang melalui kapiler tersebut akan berkurang. Pada vena bila otot berkontraksi maka vena akan terperas dan kelepak yang terdapat pada jaringan akan bertindak sebagai katup satu arah yang menjaga agar darah mengalir hanya menuju ke jantung. 3.6 Golongan Darah

Golongan darah A-B-O Antigen A dan B – Aglutinogen

58

Dua antigen- tipe A dan tipe B terdapat pada permukaan sel darah merah pada sejumlah besar manusia. Antigen-antigen inilah (yang disebut juga aglutinogen karena seringkali mengyebabkan aglutinasi sel darah) yang menyebabkan reaksi transfusi. Karena aglutinogen tersebut diturunkan, orang dapat tidak mempunyai antigen tersebut di dalam selnya, atau hanya mempunyai satu, atau keduanya. Genotip OO OA atau AA OB atau BB AB Aglutinin Bila tidak terdapat aglutinogen tipe A dalam sel darah merah seseorang, maka dalam plasmanya akan terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin anti-A. Demikian pula, bila tidak terdapat aglutinogen tipe B di dalam seldarah merah,maka dala plasmanya terbentuk antibodi yang dikenal sebagai aglutinin anti-B. Golongan Darah Rh Bersama dengan golongan darah O-A-B, golongan darah sistem Rh juga penting dalam mentrasfusi darah. Perbedaan utama antara sistem O-A-B dan sistem Rh adalah sebagai berikut : pada sistem O-A-B, aglutinin plasma bertanggung jawab atas timbulnya reaksi transfusi yang terjadi secara spontan, sedangkan pada sistem Rh, reaksi aglutinin spontan hampir tidak pernah terjadi. Sebagai gantinya, orang mula-mula harus terpajan secara masif dengan antigen Rh, misalnya melalui transfusi darah yang mengandung antigen Rh., sebelum terdapat cukup aglutinin untuk menyebabkan reaksi transfusi yang bermakna. Antigen Rh- Orang dengan “Rh Positif” dan “Rh Negatif “ Terdapat enam tipe antigen Rh yang umum, setiap tipe disebut faktor Rh. Tipetipe ini ditandai dengan C, D, E, c, d, dan e. Orang yang memiliki antigen C tidak mempunyai antigen c, tetapi orang yang idak memiliki antigen C selalu memiliki Golongan darah O A B AB Aglutinogen A B A dan B Aglutinin Anti-A dan Anti-B Anti-B Anti-A -

59

antigen c. Keadaan ini sama halnya untuk antigen D-d dan E-e. Karena faktorfaktor ini turunkan dengan cara tersebut, setiap orang hanya mempunyai satu dari ketiga pasang antigen tersebut. Tipe antigen D dijumpai secara luas dalam populasi dan bersifat lebih antigenik dari pada antigen Rh yang lain. Seseorang yang mempunyai tipe antigen ini dikatakan Rh positif, sedangkan orang yang tidak mempunyai tipe antigen D dikatakan Rh negatif. Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa pada orangorang dengan Rh negatif, beberapa antigen Rh lainnya bahkan masih dapat menimbulkan reaksi transfusi, walaupun reaksi tersebut biasanya jauh lebih ringan. Kira-kira 85 % dari seluruh oarang kulit putih adalah Rh positif dan 15 % nya Rh negatif. Pada orang kulit hitam amerika, persentase Rh positifnya kira-kira 95 % , sedangkan pad kulit hitam afrika, hampir 100 %. HEMOSTASIS Hemostasis : peristiwa berhentinya perdarahan sebagai reaksi terhadap luka Fungsi: 1. Mencegah keluarnya darah dari pembuluh darah yang utuh 2. Menghentikan perdarahan Terjadi karena interaksi dari 4 sistem yaitu: 1. 2. 3. 4. Vaskuler Trombosit Faktor koagulasi Fibrinolisis 1. Saat pembuluh darah luka segera terjadi vasokonstriksi

Reaksi pembuluh darah terhadap perlukaan: kurang dari 1 menit. Vasokonstriksi ini berguna untuk memperlambat aliran darah sehingga kontak antara trombosit dengan pembuluh darah meningkat. 2. TROMBOSIT Kontak antara trombosit dan pembuluh darah --- trombosit melekat ke dinding pembuluh darah (adesi)

60

Proses adesi memerlukan: - glikoprotein membran trombosit dan faktor Von Willebrand. Setelah adesi trombosit mengeluarkan bahan-bahan yang terdapat dalam granulanya antara lain ADP (Sekresi) ADP dan Tromboksan A2 (Hasil sintesa prostaglandin) memicu trombosit untuk melekat satu sama lain (ber-agregasi) membentuk sumbat trombosit Sumbat ini tidak stabil, mudah pecah. Untuk menjadi sumbat yang stabil memerlukan fibrin (dikenal dengan sumbat hemostasis). Fibrin adalah hasil akhir dari proses yang diperankan oleh faktor koagulasi 3. FAKTOR KOAGULASI Proses koagulasi terjadi oleh interaksi 2 sistem yaitu : 1. SISTEM INTRINSIK, yang diperankan dalam sirkulasi darah 2. SISTEM EKSTRINSIK, yang membutuhkan faktor jaringan (didapat dari pembuluh darah yang rusak) 3.7 Transfusi Darah oleh faktor-faktor yang ada

Definisi Transfusi darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari sesorang (donor) kepada orang lain yang membutuhkan (resipien). Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak berfungsinya organ pembentuk sel darah merah. Transfusi diberikan kepada resipien untuk meningkatkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen, memperbaiki volume darah tubuh, memperbaiki kekebalan dan memperbaiki masalah pembekuan. Transfusi, bisa diberikan dalam komposisi darah lengkap atau komponen darah (misalnya sel darah merah, trombosit, faktor pembekuan, plasma segar yang dibekukan/bagian cairan dari darah atau sel darah putih). Tetapi akan lebih baik jika transfusi yang diberikan hanya terdiri dari komponen darah yang diperlukan oleh resipien.

61

Prosedur transfuse Keseluruhan proses membutuhkan waktu sekitar 1 jam, pengambilan darahnya sendiri hanya membutuhkan waktu 10 menit. Biasanya ada sedikit rasa nyeri pada saat jarum dimasukkan, tetapi setelah itu rasa nyeri akan hilang. Standard unit pengambilan darah hanya sekitar 0,48 liter. Darah segar yang diambil disimpan dalam kantong plastik yang sudah mengandung bahan pengawet dan komponen anti pembekuan. Darah yang didinginkan dapat digunakan dalam waktu selama 42 hari. Pada keadaan tertentu, (misalnya untuk mengawetkan golongan darah yang jarang), sel darah merah bisa dibekukan dan disimpan sampai selama 10 tahun. Seseorang yang membutuhkan sejumlah besar darah dalam waktu yang segera (misalnya karena perdarahan hebat), bisa menerima darah lengkap untuk membantu memperbaiki volume cairan dan sirkulasinya. Darah lengkap juga bisa diberikan jika komponen darah yang diperlukan tidak dapat diberikan secara terpisah. Komponen darah yang paling sering ditransfusikan adalah packed red blood cells (PRC), yang bisa memperbaiki kapasitas pengangkut oksigen dalam darah. Komponen ini bisa diberikan kepada seseorang yang mengalami perdarahan atau penderita anemia berat. Yang jauh lebih mahal daripada PRC adalah frozenthawed red blood cells, yang biasanya dicadangkan untuk transfusi golongan darah yang jarang. Jumlah trombosit yang terlalu sedikit (trombositopenia) bisa menyebabkan perdarahan spontan dan hebat. Transfusi trombosit bisa memperbaiki kemampuan pembekuan darah. Faktor pembekuan darah adalah protein plasma yang secara normal bekerja dengan trombosit untuk membantu membekunya darah. Tanpa pembekuan, perdarahan karena suatu cedera tidak akan berhenti. Faktor pembekuan darah yang pekat bisa diberikan kepada penderita kelainan perdarahan bawaan, seperti hemofilia atau penyakit von Willebrand. Plasma juga merupakan sumber dari faktro pembekuan darah.

Plasma segar yang dibekukan digunakan pada kelainan perdarahan, dimana tidak

62

diketahui faktor pembekuan mana yang hilang atau jika tidak dapat diberikan faktor pembekuan darah yang pekat. Plasma segar yang dibekukan juga digunakan pada perdarahan yang disebabkan oleh pembentukan protein faktor pembekuan yang tidak memadai, yang merupakan akibat dari kegagalan hati.

Meskipun jarang, sel darah putih ditransfusikan untuk mengobati infeksi yang mengancam nyawa penderita yang jumlah sel darah putihnya sangat berkurang atau penderita yang sel darah putihnya tidak berfungsi secara normal. Pada keadaan ini biasanya digunakan antibiotik. Antibodi (imunoglobulin), yang merupakan komponen darah untuk melawan penyakit, juga kadang diberikan untuk membangun kekebalan pada orang-orang yang telah terpapar oleh penyakit infeksi (misalnya cacar air atau hepatitis) atau pada orang yang kadar antibodinya rendah. Pada transfusi tradisional, seorang donor menyumbangkan darah lengkap dan seorang resipien menerimanya. Tetapi konsep ini menjadi luas Tergantung kepada keadaan, resipien Pada keadaan tertentu, resipien bisa menerima darah lengkapnya sendiri (transfusi autolog). Aferesis. Pada aferesis, seorang donor hanya memberikan komponen darah tertentu yang diperlukan oleh resipien. Jika resipien membutuhkan trombosit, darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan memisahkan darah menjadi komponenkomponennya, secara selektif memisahkan trombosit dan mengembalikan sisa darah ke donor. Karena sebagian besar darah kembali ke donor, maka donor dengan aman bisa memberikan trombositnya sebanyak 8-10 kali dalam 1 kali prosedur ini. Transfusi autolog. Transfusi darah yang paling aman adalah dimana donor juga berlaku sebagai resipien, karena hal ini menghilangkan resiko terjadi ketidakcocokan dan penyakit

63

yang ditularkan melalui darah. Kadang jika seorang pasien mengalami perdarahan atau menjalani pembedahan, darah bisa dikumpulkan dan diberikan kembali. Yang lebih sering terjadi adalah pasien menyumbangkan darah yang kemudian akan diberikan lagi dalam suatu transfusi. Beberapa orang yang membutuhkan darah mengalami alergi terhadap darah donor. Jika obat tidak dapat mencegah reaksi alergi ini, maka harus diberikan sel darah merah yang sudah dicuci. Reaksi-reaksi tranfusi Tranfusi kadang menimbulkan reaksi terhadap resipien, reaksi-reaksi tersebut digolongkan menjadi dua yaitu reaksi ringan berupa peningkatan suhu, sakit kepala dan reaksi berat berupa reaksi hemolisis yang dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu perlu dilakukan uji tes laboratorium pratransfusi agar tranfusi tidak member efek samping kepada resipien. Uji laboratorium dibutuhkan mencocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh resipien akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas. Sebelum dilakukannya pembedahan, pasien menyumbangkan beberapa unit darahnya untuk ditransfusikan jika diperlukan selama atau sesudah pembedahan. REaksi reaksi yang sering timbul akibat tranfusi darah antara lain REAKSI FEBRIS Nyeri kepala menggigil dan gemetar tiba-tiba suhu meningkat reaksi jarang berat ,Berespon terhadap pengobatan REAKSI ALERGI Reaksi alergi berat (anafilaksis): jarang

64

Urtikaria kulit, bronkospasme moderat, edema larings: respon cepat terhadap pengobatan • REAKSI HEMOLITIK EAKSI YANG PALING BERAT Diawali oleh reaksi: - antibodi dalam serum pasien >< antigen corresponding pada eritrosit donor - antibodi dalam plasma donor >< antigen corresponding pada eritrosit pasien • • Reaksi hemolitik: - intravaskular REAKSI INTRAVASKULAR: - ekstravaskular - hemolisis dalam sirkulasi darah - jaundice dan hemogolobinemia - antibodi IgM - paling bahaya anti-A dan anti-B spesifik dari sistem ABO - fatal à akibat perdarahan tidak terkontrol dan gagal ginjal • REAKSI EKSTRAVASKULAR: - jarang sehebat reaksi intravaskular - reaksi fatal jarang - disebabkan antibodi IgG à destruksi eritrosit via makrofag - menimbulkan penurunan tiba triba kadar Hb s/d 10 hari pasca transfusi Penanggulangan apabila terjadi reaksi-reaksi tranfusi Untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya reaksi selama transfusi, dilakukan beberapa tindakan pencegahan. Setelah diperiksa ulang bahwa darah yang akan diberikan memang ditujukan untuk resipien yang akan menerima darah tersebut, petugas secara perlahan memberikan darah kepada resipien, biasanya selama 2 jam atau lebih untuk setiap unit darah. Karena sebagian besar reaksi ketidakcocokan terjadi dalam15 menit pertama, maka pada awal prosedur, resipien

65

harus diawasi secara ketat. Setelah itu, petugas dapat memeriksa setiap 30- 45 menit dan jika terjadi reaksi ketidakcocokan, maka transfusi harus dihentikan.

BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan

66

DAFTAR PUSTAKA
Guyton dan Hall.2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. EGC : Jakarta. Barbara Kozier. 1995. Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice Fifth Edition. Addison Wsley Nursing: California. Dolores F. Saxton. 1999. Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN Sixteenth Edition. Mosby, St. louis: Missouri.
67

Sylvia Anderson Price, Alih. 1995. Peter Anugerah Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi kedua EGC: Jakarta. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. 2006. Handbook of clinical anesthesia. 5th edition page 74-97. Lippincot williams and wilkins: Philadelphia. Guyton AC, Hall JE. 1997. Textbook of medical physiology 9th edition page 375393 . W.B. saunders company: Pennsylvania

68

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->