P. 1
PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK TINJA

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK TINJA

|Views: 38|Likes:
Published by Resti Fratiwi Fitri

More info:

Published by: Resti Fratiwi Fitri on Dec 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2013

pdf

text

original

PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK TINJA Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit

. JUMLAH Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100--250 gram per hari.Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makananbila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan berbentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair,sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkanpada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkantinja yang lunak dan bercampur gas. WARNA Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagaijenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu, jagung, lemak dan obat santonin. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung klorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium. Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yangdidapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula olehmakanan seperti bit atau tomat. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena. BAU Bau normal : beraroma khas, bukan bau busuk. Sedangjan bau tidak normal : Baunya sangat busuk. Dicurigai, ada pembusukan yang tidak normal oleh bakteri di usus.Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normalpada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu.Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam. Bau sangat asam biasanya pertanda ada gangguan penyerapan gula atau istilahnya malabsorbsi karbohidrat laktosa. Bau amis kemungkinan infeksi amuba atau jamur. Bau khas dari tinja disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri menghasilkan senyawa seperti indole, skatole, dan thiol (senyawa yang mengandung belerang), dan juga gas hidrogen sulfida. Asupan makanan berupa rempah-rempah dapat menambah bau tinja. Terdapat juga beberapa produk komersial yang dapat mengurangi bau tinja.

Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lender dalam tinja. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing Protozoa Biasanya didapati dalam bentuk kista. . Terdapatnya lendir yang banyak berarti adarangsangan atau radang padadinding usus. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darahterdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK TINJA Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa. Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides. sel epitel. Trichuris trichiura. lokalisasi iritasi itu mungkinterletak pada usus besar. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja.DARAH Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda. PARASIT Diperiksa pula adanya cacing Ascaris. kristal dan sisa makanan. Pada disentri. eritosit. Giardia lamblia Leukosit Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. coklat atau hitam. Ancylostoma dan lain-lain yang mungkin didapatkan dalam tinja. telur cacing. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam. Strongyloides stercoralis dan sebagainya. Enterobius vermicularis. bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. kolitis ulserosadan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.Necator americanus. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencemaan. leukosit. intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.Pada disentri basiler. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus.

Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. rektum atau anus.Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Sisa makanan Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel ini biasanya telah rusak.Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan III atau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral sepertipada steatorrhoe. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayem atau strawberi. PEMERIKSAAN KIMIA TINJA.Eritrosit Hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat. Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Kristal Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Tablet . sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. kalsium oksalat dan asam lemak. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentuyang menimbulkan perubahan warna. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal. Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin. serat elastic dan lain-lain. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leydendan kristal hematoidin.

Tambah 3 ml asam acetat glasial. Kedalam tabung reaksi lain masukkan benzidine basa sebanyak sepucuk pisau. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif. ikan sarden dan lain lain. kocok sampai benzidine larut dengan meninggalkan beberapa kristal. jika obstruktif total hasil tes menjadi negatif. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3--4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar. Baca hasil dalam waktu 5 menit. (-) Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkanreaksi positif palsu seperti daging.a. Saring emulsi yang masih panas itu dan biarkan filtrat menjadi dingin kembali. . 8. karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. 2. 1. 4. Menurut kepustakaan. Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jikadibandingkan terhadap tes urobilin. seperti pengobatan jangka panjang dengan antibiotik yang diberikan peroral. Cara dengan Benzidine Basa Buatlah emulsi tinja dengan air atau dengan larutan garam kira-kira 10 ml dan panasi hingga mendidih. 6. 7. karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif. Beri 1 ml larutan hidrogen peroksida 3%. mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi. pisang dan preparat besi seperti ferro fumarat dan ferro carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Bubuhi 2 ml filtrat emulsi tinja. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urine. Interprestasi hasil : tidak ada perubahan warna atau warna yang samar.samar hijau (+1) hijau (+2) biru bercampur hijau (+3) biru (+4) biru tua Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal. 3. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen. Test terhadap darah samar penting untuk mengetahui adanya pendarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopis dan mikroskopis. tinja berwarna kelabu disebut akholik. 5. campur. Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit karena itu jarang dilakukan di laboratorium.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->