1

Sholeh Wahyu Hidayat K7110150 Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” karya Toto Sudarto Bachtiar PAHLAWAN TAK DIKENAL Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubak peluru bundar didadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua tangannya memeluk senapan Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi pada senja Dunia tambah beku ditengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak wajah-wajanya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar didadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda. (1955) (dikutip dari Toto Sudarto Bachtiar, Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air)

Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal”

Toto Sudarto Bachtiar dalam menyusun puisi ini memudahkan pembaca memahami bahkan mengambil makna yang terkandung dalam puisi ini. pembaca akan merasa tertarik untuk melanjutkan pembacaanya. Hal itu dapat dilihat dari adanya ide atau gagasan yang dibawa oleh Toto Sudarto Bachtiar dalam menulis puisi ini.2 A. Dalam bait pertama : Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . Untuk diketahui. Puisi ini juga tergolong ringan dalam artian pembaca tidak perlu pusing untuk memahami isi dari puisi karangan Toto Sudarto Bachtiar ini. Ketika pembaca melihat dan membaca puisi ini. Bahasa Puisi karangan Toto Sudarto Bachtiar ini sangat enak dibaca dan dipahami. sehingga pembaca lebih mudah menangkap inti sari atau isi puisi PAHLWAN TAK DIKENAL ini. ketika pembaca mulai membaca dan memahami dari judul saja. Kita sebagai warga negara harus dapat berpikir untuk dapat memberikan yang terbaik demi kemerdekaan atau kemajuan negeri tercinta Indonesia. Kata dan kalimat yang digunakan mudah dipahami oleh pembaca. Ide yang ingin disampaikan pengarang lewat puisi ini adalah kecintaan terhadap tanah air. Dengan membaca puisi ini pembaca akan dapat mengetahui bahwa puisi ini mempunyai ide atau gagasan yang mendasari penyusunanya. Puisi yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar ini termasuk puisi diafan. B. Bahasa yang dipakai pengarang untuk menuangkan pikiran dan idenya sangat indah. pembaca akan menangkap bahwa puisi ini termasuk puisi perjuangan khususnya untuk mengenang peristiwa sejarah yakni 10 November. Hal itu dapat kita lihat ketika membaca judul dari puisi ini “PAHLAWAN TAK DIKENAL”. Puisi “PAHLAWAN TAK DIKENAL” selain merupakan jenis puisi diafan juga merupakan jenis puisi ide. Jenis Puisi Puisi “PAHLAWAN TAK DIKENAL” karangan Toto Sudarto Bachtiar merupakan puisi periode 1953 – 1961.

bait bahkan pemakaian huruf kapital dalam menulis judul puisi ini. Sebuah lubang peluru besar di dadanya Senyum bekunya mau berkata. pembaca dapat merasakan bahasa-bahasa yang dipilih atau pilihan katanya mudah dipahami dan menutun pembaca untuk segera menyelesaikan pembacaanya sampai bait terakhir. Bait pertama dst. Tipografi Secara garis besar atau keseluruhan puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini terdapat 5 bait yang masing-masing bait terdiri atas 4 baris. Tipografi yang menonjol lainnya yakni pemisahan antar bait. kita sedang perang Terlihat bahwa pengarang konsisten sekali dalam hal tipografi. dan menarik. Toto Sudarto Bachtiar juga sangat konsisten dalam penggunaan huruf kapital. Tiap baris dalam paisi ini terdiri atas 4 –9 kata yang strukturnya sangat konsisten. Sekilas kita lihat puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini sangat rapi Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” .3 Senyum bekunya mau berkata. Dalam puisi ini tidak ada kata. Selain itu puisi ini juga ditulis dengan bahasa baku sehingga menambah mudah dalam pemahamanya. Dapat dilihat dalam puisi tersebut pengarang menggunakan huruf kapital pada setiap awal baris pada seluruh puisi. kalimat yang susah dipahami. Pengarang memakai penulisan urut dari samping kiri. Dari contoh bait pertama. pengarang menyusun karya ini dengan menulis 4 baris 4 baris pada tiap–tiap bait. Hal ini menunjukan bahwa Toto Sudarto Bachtiar sangat teguh dan konsisten dalam penggunan jumlah baris. lugas. Hal ini juga dimaksudkan agar pembaca dapat dengan jelas memahami judul puisi ini. frasa. Hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak merasa jenuh dan memudahkan dalam pembacaanya. semua menggunakan huruf kapital untuk memudahkan pembaca dalam pembacaanya. hal ini juga sama dengan bait-bait berikutnya. Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang. kita sedang perang Jelas bahwa pemakaian bahasa yang digunakan Toto Sudarto Bachtiar sangat indah. Toto Sudarto Bachtiar sangat konsisten dalam menyusun kalimat tiap-tiap bait. C.

kita sedang perang. Tanda ini juga bersifat menekankan dan memperjelas bahwa pahlawan tersebut sudah meninggal. ) koma.4 dikarenakan tipoografinya sangat konsisten dan pembaca merasa mudah dan tertarik untuk membacanya. khususnya bait pertama dan kedua. Pada baris keempat tanda koma terletak diantara dua klausa “senyum bekunya mau berkata. Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata. tanda koma terletak diantara dua klausa ”kemudian dia terbaring. tetapi bukan tidur sayang Kita perhatikan pada baris keempat. Unsur penekanan yang diwakili oleh tanda koma ini dimaksudkan oleh pengasrang agar pembaca dapat memahami dengan mudah makna atau isi puisi ini. Dapat dipahami pengarang meletakan tanda koma diakhir baris kedua agar pembaca dapat dengan mudah menarik makna bahwa seorang pahlawan yang diceritakan dalam puisi ini sudah meninggal. Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . D. Tanda ini seakan-akan mempertegas dan memudahkan pembaca dalam memahami pembacaanya. dapat dituliskan sepuluh tahun yang lalu dia terbaring/tetapi bukan tidur sayang. Terlebih ada klausa yang diulang dari bait pertama baris kedua ke bait kedua baris keempat. Dalam bait kedua Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk sapa dia datang Kemudian dia terbaring. kita sedang perang”. diakhir baris kedua terdapat tanda ( . Tanda koma ini menekankan bahwa baris pertama dan kedua terdapat hubungan isi. Mempertegas bahwa seakan-akan pahlawan yang sudah tiada tersebut ingin mengungkapkan perasaanya. sebuah lubang peluru bundar di dadanya. tetapi bukan tidur sayang”. kita sedang perang Kita perhatikan baris kedua. Enjambemen Dalam bait pertama: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur sayang.

Mengapa terdapat tanda ( . tidak lupa pula tanda koma ini sangat membantu pembaca untuk memahami makna khususnya pada bait keempat baris pertama. hujanpun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tetapi yang nampak wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Baris pertama. E. sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda Untuk diketahui bait kelima sama dengan bait pertama. akan tetapi ada sedikit hal yang membedakanya yakni tanda titik dua ( : ) dan klausa setelahnya. tanda titik ini dipakai pengarang untuk memberitahukan kepada pembaca bahwa pahlawan yang dikenang pada 10 November tersebut pahlawan yang tidak dikenal yang gugur saat perang. Makna dan Rasa Kata 1. Baris keempat. Mengapa Toto Sudarto Bachtiar mengulang tulisanya kembali di bait kelima dan manambahkan klausa “aku sangat muda” ? Inti sari karya ini memang termuat dalam bait pertama dan kelima. ketika peringatan 10 November hujan turun. hari itu 10 November. “senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda”. Makna Harfiah / Horistik Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . dikenang pada 10 November yang pada dasarnya pahlawan-pahlwan tersebut masih dalam usia muda. Pengarang menempatkan tanda titik dua ( : ) diakhir puisinya sebelum “aku sangat muda” mengandung artian bahwa pahlawan yang gugur ketika perang. Tanda koma yang terdapat pada baris pertama ini mengisyartkan bahwa pahlawan yang dimaksudkan pengarang dikenang pada peringatan hari pahlawan 10 November.5 Dalam bait keempat Hari itu 10 November. Dalam bait kelima Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur. hujanpun mulai turun. ) titik di tengah-tengah kalimat?.

Pada tanggal 10 November yang kebetulan saat itu hujan turun. makna yang dapat diambil dari karya Toto Sudarpo Bachtiar ini adalah ada seorang pahlawan yang tidak diketahui namanya. Pengarang menggambarkan pahlawan yang gugur tersebut karena tertembak peluru yang menyarang di dadanya sambil memeluk senapan/senjata dan gugur dalam keadaan bangga (senyum) karena gugur di medan perang untuk membela tanah air. 2. Wajah pahlawan tersebut sunyi/sedih setengah tengadah diibaratkan menangkap sepi padang senja tanpa memperhatikan suara menderu. Ia sedang berbaring sepuluh tahun lamanya tetapi tidak tidur. tetapi yang nampak wajah-wajah sendiri yansg tidak dikenal. Pahlawan tersebut tidak tahu kapan dia datang dan tidak tahu untuk siapa dia datang. Puisi Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar ini mengandung makna/ menceritakan seorang pahlawan yang gugur saat perang. dikarenakan dalam judul tertulis pahlawan tak dikenal. Pahlawan tersebut masih muda.6 Ketika pembaca memulai pembacaanya tanpa memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya. Makna Hermeunitik Makna hermeunitik adalah makna yang tekandung dalam sebuah karya. banyak orang yang memandangnya sambil membawa karangan bunga. Pengarang juga menggambarkan bahwa pahlawan yang gugur tersebut merasakan bangga di alam sana. Hal itu ditampilkan pengarang dalam puisi ini pada bait ketiga yakni: Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . Di dalam tubuh pahlwan tersebut terdapat lubang peluru sambil berkata ia sedang perang. Pahlawan tersebut gugur dalam usia muda. bahkan ia pun memeluk senapan dan terbaring tetapi tidak tidur.

Denotatif dalam artian makna sebenarnya. namun kebanggaan tersendiri tertanam di hati pahlawan tersebut. Rasa Kata Pengarang dalam menuangkan idenya lewat kata. Pada bait kedua. Walaupun bersifat donotatif akan tetapi rasa indah yang dimiliki oleh puisi ini sangatlah terasa. namun indahnya puisi ini masih terasa karena puisi ini termasuk puisi perjuangan yang bersifat semangat. hal ini tergambarkan melalui penggunaan kata/pilih kata oleh pengarang. pada bait selanjutnya pengarangf tidak begitu memperhatikan nada dan sajak. Pembaca tidak perlu kesulitan untuk mengartikan satu per satu kata yang dipilih oleh pengarang dalam karya ini. Ia meninggal karena perjuangan demi mempertahankan tanah air. suasana yang didapatkan adalah suasana sedih. Suasana Ketika pembaca menyelesaikan pembacaanya. Pengarang memilih (ng) untuk mengakhiri tiap-tiap baris dimaksudkan agar pembaca semangat dan merasa senang ketika membaca puisi ini. walaupun pada baris ketiga diakhiri dengan (a).7 Walaupun pahlawan tersebut gugur dimedan perang pada usia muda. Kita akan merasakan sedih karena ada pahlawan Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . banyak peziarah membawa karangan bunga untuk mengenang perjuangan yang sudah dilakukan oleh pahlawan tersebut walaupun tidak bisa mengenal nama satu per satu. F. Nada Dalam karya Toto Sudarto Bachtiar ini. Nada dan Suasana 1. nada sajak sangatlah terasa. 2. 3. namun nada pada bait pertama masih terasa sangat indah. sajak ini juga disesuaikan dengan bait pertama yang juga banyak diakhiri sajak (ng). pada tanggal 10 November atau hari pahlawan. keempat barisnya diakhiri sajak (ng) atau dapat dikatakan a-a-a-a.pada bait pertama pengarang mengakhiri tiap-tiap kalimat dengan sajak yang sama yakni (ng). Penggunaan tanda koma pada baris kedua dan keempat dalam bait pertama juga menambah indahnya peggunaan nada. Karena cintanya kepada tanah air. kalimat sangat indah dan bersifat denotatif.

Penggunaan majaspun dipakai oleh pengarang untuk mengimajinasikan idenya. Dapat diartikan bahwa pahlawan yang meninggal tersebut identitasnya tidak dikenal. majas juga digunakan pengarang dalam bait lain. Akan tetapi pembaca harus mencari makna lain yang sesuai dengan frasa tersebut. bait kedua “Kedua lenganya memeluk senapang”. Pada bait ketiga khususnya. G. Puisi ini sangat indah dengan adanya penggunaan majas dalam beberapa bait. pembaca harus dapat menarik makna yang dimaksudkan oleh pengarang. ini juga penggunaan imjinaitif pengarang untuk menghidupkan suasana. Selain dalam bait ketiga. yakni dalam bait pertama. meninggal dalam usisa muda dan baru pada saat hari pahlawan. Setengah tengadah dapat dimaknai bahwa pahlawan ini gugur dengan hati bangga karena gugur dimedan perang. Selain penggunaan majas. ada juga hal yang membuat puisi menjadi Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . sehingga pengarang menggunakan klausa “menangkap sepi padang senja”. Pengimajian Unsur imajinatif dalam puisi ini relatif sedikit. Hal ini dikarenakan pengarang menggunakan kata-kata denotatif yang bersifat lugas.8 yang gugur di medan perang demi mempertahankan tanah air. Wajah sunyi disini tidak dapat diartikan secara denotatif. pejuang trsebut dikenang. Wajah sunyi yang dimaksudkan pengarang yakni wajah seorang pahlawan yang sudah meninggal. Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sunyi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suasana menderu Dia masih sangat muda Pada bait ini pengarang lebih imajinatif. Penggunaan majas dimaksudkan agar pembca benarbenar dapat memasuki makna puisi ini dan dapat betapa kasihan seorang pahlawan dalam usia muda sudah gugur di medan perang. Baris berikutnya “Dunia tambah beku ditengah derap dan suasana menderu”. Ada beberapa kata dan kalimat juga dalam karya ini yang perlu dikaji lebih jauh. Penggunaan “Senyum bekunya mau berkata”. Kemudian klausa “Menangkap sepi padang senja”.

seakan- akan kita dapat melihat. Ketidaklangsungan ekspresi puisi Penyair atau sastrawan umumnya sering dikatakan memiliki “bahasa sendiri” yang lain dari bahasa umum. Penilaian itu timbul karena sering dijumpai kata-kata yang tidak biasa digunakan pada umumnya. Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memelak senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring. seperti yang tertera dalam puisinya. Penggantian Arti Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL ini.9 mengesankan. Penggantian arti tersebut dimaksudkan oleh pengarang untuk menemukan keindahan dalam sajaknya. dengan puisinya seorang penyair bukan sekadar memberi tahu tentang sesuatu. Penggantian arti dalam puisi ini dilakukan dengan mempersamakan suatu hal dengan hal yang lain walaupun hal tersebut berlainan seperti yang terdapat dalam bait kedua. terdapat beberapa kata yang mengalami penggantian arti. Seperti kita ketahui. 1. tetapi bukan tidur sayang”. penyimpangan arti. Begitu pula Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL karya Toto Sudarto Bachtiar ini terdapat beberapa penyimpangan bahasa baik berupa penggantian arti. melaikan ingin mengajak pembaca merasakan seperti yang dirasakanya. terbayang dalam angan-angan) • Kedua lenganya memeluk senapang (citraan penglihatan) • Wajah sunyi setengah tengadah (citraan penglihatan) • Menangkap sepi padang senja (citraan perabaan) • Dunia tambah beku di tengah derap dan suasana menderu (citraan perabaan) H. • Sebuah lubang peluru bundar di dadanya (citraan penglihatan. ataupun penciptaan arti dan hal ini biasa disebut dengan ketidaklangsungan ekspresi puisi. Pengimajian tersebut dapat kita deskripsikan. tetapi bukan tidur sayang Pada bait kedua baris keempat dalam puisi ini dapat kita lihat penggantian arti dari yang semula gugur atau meninggal oleh pengarang disampaikan dengan “Kemudian dia terbaring.

Dalam membuat persajakan yang indah dalam puisi ini. gugur diperumpamakan dengan “Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring”. Karya ini. dia menuliskan kata senapan menjadi senapang agar mendapat akhiran “ng” pada tiap barisnya yang pada akhirnya membuat persajakan menjadi a-a-a-a. Kode Sastra Puisi pahlawan tak dikenal karya Toto Sudarto Bachtiar ini mengandung beberapa nilai/kode sastra. Penyimpangan Arti Penyimpangan arti terjadi karena adanya ambiguitas. I. Sebagai contoh dapat kita lihat pada bait kedua. 2.10 yang terjadi pada bait kelima baris pertama. Penciptaan Arti Puisi karya Toto Sudarto Bachtiar ini dalam penulisanya menggunakan persajakan yang indah. tetapi bukan tidur sayang Pada bait kedua ini dapat kita lihat dimana pengarang ingin membuat persajakan yang sempurna yakni: a-a-a-a. kontra diksi dan non sense. Wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Dalam bait ketiga itu dapat kita lihat frasa “wajah sunyi. Toto SudartoBachtiar menggunakan penciptaan arti untuk mendapatkan persajakan yang indah. Oleh karena itu. dan menengkap sepi”. 3. Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . mengisahkan perjuangan seorang pahlawan masih muda yang gugur di medan perang. frasa tersebut tidak mempunyai arti secara linguistik atau dapat disebut pula frasa tersebut adalah frasa yang kontradiksi. Dalam puisi PAHLAWAN TAK DIKENAL ini terdapat beberapa kata yang mengalami penyimpangan arti seperti yang terdapat pada bait ketiga. Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lenganya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring.

Tidak mungkin ada karya sastra jika tidak ada bahasa. Kita sebagai generasi penerus seharusnya dapat melanjutkan perjuangan lewat memajukan dan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Senyum bekunya mau berkata. Bahasa Bahasa merupakan tulang punggung karya sastra. 2. Sebagai pelajar atau mahasiswa kita dapat melanjutkan perjuangan dengan belajar giat dengan memperhatikan semangat yang dimiliki oleh pejuang-pejuang kita. Dengan demikian. dulu sebelum tanah air kita merdeka banyak pahlawan rela gugur untuk mempertahankan tanah air. Kata terbaring disini dapat diartikan tidur.11 1. semua karya sastra indonesia yang tidak mematuhi kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa tersebut (kecuali dalam hal-hal khusus atau yang memungkinkan) tidak akan dapat dipahami oleh pembacanya. Menurut kaidah bahasa Indonesia kata pahlawan tak dilenal berarti seorang pejuang/ pahlawan yang namanya tidak diketahui. Analisis Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” . Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring. Kata senyum beku dapat diartikan senyum untuk selama-lamanya. Budaya Perjuangan tidak hanya bertempur di medan laga. Dapat diartikan bahwa pahlawan yang tidak dikenal meninggal dunia pada waktu perang dengan keadaan bangga. bisa di atas kasur ataupun diatas lantai. kita sedang perang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful