P. 1
Bab II. Tinjauan Teori

Bab II. Tinjauan Teori

|Views: 218|Likes:
Published by Asmah Yetie

More info:

Published by: Asmah Yetie on Dec 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2014

pdf

text

original

BAB I KONSEP MEDIK A.

DEFINISI Masa nifas atau purperium adalah masa sesudah persalinan sampai pulihnya alat-alat reproduksi & anggota tubuh lainya seperti sebelum hamil, lama masa nifas ini adalah : 6 – 8 minggu Pada periode ini tubuh terus menerus mengalami perubahan & pemulihan. Periode ini dibagi menjadi 3 fase : a. Immediate puerperium : 24 jam pertama post partum b. Early puerperium : 1 hari-minggu pertama post partum c. Late puerperium : 1-6?52 post partum Pembagian lain pada periode nifas ini adalah berdasarkan pemulihan alat-alat reproduksi & komplikasi yang terjadi selama hamil & waktu persalinan, terbagi 3 yaitu : a. Puerperium dini, yaitu kepulihan di mana ibu diperbolehkan berdiri & berjalan-jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih & boleh bekerja setelah 40 hari. b. Puerperium Intermedial, yaitu pemulihan manyeluruh alat-alat genitali yang lamanya 6-?52 c. Remute Puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurnah terutama bila selama hamil adalah waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurnah bisa berminggu-minggu, bulanan adalah tahunan. Perubahan-perubahan alat genitalia kembali keadan sebelum hamil disebut sebagai “involusio” B. PERUBAHAN FISIOLOGIS SEMASA PUERPERIUM.

1. Sistem reproduksi Perubahan yang terjadi pada system reproduksi adalah : 1) Involutio uterus Proeses-proses berlakunya melalui 3 cara, yaitu : a) Iskemia uterine Setelah plasenta dikeluarkan, uterus berkontraksi & relaxasi saluran darah akan terjepit & fiber otot yang berlebihan akan mengalami iskemia & nekrosis setelah itu akan dikeluarkan bersama lochia b) Autolisis Akibat iskemia, satu enzim terhasil yaitu proteolitik yang akan menyebabkan terjadinya “Autodigest” fiber yang berlebihan, sehingga dapat larut dalam darah dimana ini akan menjadi asam amino & pepton, lalu dibawa ke ginjal untuk di eliminasi bersama urine. Semasa puerperium (1-2 minggu), akibat autolisis ini, ibu akan mengalami “diuresis” yang berlebihan karena peningkatan exresi ginjal. c) Fagosit Involutio Bayi lahir Plasenta lahir 1/52 postpartum 2/52 post partum 6/52 post m Fagosit-fagosit akan memakan semua fiber-fiber yang berlebihan, ukuran uterus akan mengecil sampai kekeadaan normal. TFU Setinggi pusat 2 jari bawah pusat pertengahan pusat simpisis tidak teraba melalui abdomen telah masuk Berat uterus 100 gr 750 gr 500 gr 350 gr 50 gr

r.pelvis partu bertambah kecil

8/52 post partum

sebesar normal

30 gr

2)

Involutio tempat plesenta Segera setelah plasenta & ketuban dikeluarkan, kronstruksi vaskuler & trombosis penurunan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi & bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium ke atas menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik & mencegah pembentukan jaringan parut yang terjadi karakterisik peyembuhan luka. Proses penyembuhan yang unik ini membolehkan endometrium implantasi & plasenta untuk kehamilan di masa yang akan datang. Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ke-3 post partum, kecuali pada bekas tempat plasenta. Regenerasi pada tempat ini biasanya tidak selesai sampai 6/52 setelah partus

3)

Involutio endometrium Perubahan-perubahan yang terdapat endometrium adalah timbul trombosis, degenerasi & nekrosis terutama di tempat implatasi plasenta. pada hari pertama tebalnya 2-5 mm, permukaannya kasar akibat pelepasan decidua & selaput janin. Setelah 3/7, permukaannys mulai rata akibat lepasnya sel-sel dari bagian-bagian yang mengalami degenerasi. Sebagian besar endometrium terlepas. Regenerasi endomerium terjadi dari sifat-sifat sel desidua basalis yang memakan waktu 2-3 / 52.

4)

Perubahan-perubahan pada cervix Setelah persalinan bentuk cervix agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistennya lunak (flabby), terkadang terdapat perlukaan-perlukaan kedil, setelah bayi lahir, tangaan masih bisa

dimasukkan ke dalam cavum uteri, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari & setelah 7 hari dapat dilalui oleh 1 jari. 5). Perubahan pada vagina & perineum Pada awal & introitus vagina tempat edematosa & eritematora.Rugae tidak ada (myatiform carunculae) & akan kembali dalam 3/52. Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7/7. Labia mayora & minora sedikit tegang & licin Episiotomi pada kala II dapat merupakan faktor predisposisi ibu mengalami cytocele, rectocele dan infeksi puerperium Rasa tidak aman bergantung pada jenis dan besarkannya luka, penekanan area perineium dan kefektifan luka harus sembuh dalam 2 – 3 hari Perubahan pada lantai pelviks Ligament fascia dan diafragma pelviks yang meregang pada waktu persalinan setelah bayi lahir secara berlangsung-langsung menjadi ciut dan pulih kembali Tidak jarang uterus jatuh ke belakang dan terjadi retrofleksi karena ligament rotundum menjadi kendor ataupun prolapsus uterus dapat terjadi Jaringan penopang dasar pangul yang robek atau teregang memerlukan waku samapi 6/12 untuk kembali ke tonus semula

7) Lochia Adalah secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina setelah kelahiran dan abortus selama maa nifas. Cirri-cirinya :

lochia Rubra • • • • • hari 1 – 4 hari post partum Berwarna merah atau coklat setelah 3 – 4 hari Kebanyakan darah dengan debris desidua dan trofoblastik Sekresinya meningkat dengan bergerak. laktasi dan pregangan Lokia rubra yang menetap pada awal periode post partum menunjukkan pendarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membrane yang tertinggal • Terjadi perdarahan ulang setelah hari ke 10 post partum menandakan adanya perdarahan pada bekas plasenta yang mulai puilh • Pendarahan setlah 3 – 4 hari mungkin disebabkan oleh adanya infeksi atau subinvolusio b.• • • Reaksi alkali sehingga memberi ruang untuk mikroorganisme berkembang biak Jumlahnya lebih banyak dari darah haid Berbau anyir Jenis. Lochia Alba • 2 – 6 minggu post partum •Berwarna lebih pucat “ Creamy brown” . leukosit. lebih pucat dan bertukar “ yellowish brown” •Terdiri dari darah lama. Lochia serosa • 5 – 9 hari post partum •Berwarna merah jambu. dan debris jaringan c.jenis lochia : a. serum.

rasa sakit. Penurunan kadar estrogen berhubungan dengan pembengkakan mamma. jika disertai demam. atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungakan dengan pengeluaran cairan yang tidak sedap •Perlu diingat bahwa tidak semua pendarahan pervaginam pasca partum adalah lochia. desidua. Ibu diabetic biasanya memerlukan insulin yang jauh cukup kecil selama beberapa hari karena perubahan hormone normal ini membuat masa puerperium menjadi suatu periode transisi untuk metabolisme karbohidrat kadar estrogen dan progestero menurun setelah mencolok setelah plasenta keluar. sehingga kadar gula menurun secara bermakna pada masa puerperium. Sistem Endokrin 1) Hormone plasenta menurunkan hormone-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut seperti plasental lactogen (HPL). Sumber umum lain adalah laserasi vagina atau serviks yang dperbaiki dan pendarahan bukan lochia Dikenal juga beberapa jenis lockia yang abnormal yaitu : • • Lochia purulenta: berbau busuk Lochia statis : lochia yang tidak lancar keluarnya 2. keluar cairan seperti nanah dan .•Mengandung leukosit mucus serviks. kadar terendahnya dicapai kira-kira dalam 1 minggu pasca partum. estrogen kortisol serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan. dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakulmulasi selama masa hamil terjadi infeksi. sel epiterl. serum dan bakeri •Lochia srosa dan lochia alba yang berlanjut bisa menandakan endometritis.

keadaan ini disebut “ diastasis recti abdominis” 4. dengan atau tanpa ketegangan yang berlebihan seperti yang bayi yang besar atau gemeli. Pada anita yang menyusui waktu rata-rata terjadi ovulasi sekitar 190 hari 3. Penurunan kadar steroid menurun disebabkan karena terjadi pnurunan fungsi ginjal yang akan kembali normal dalam aktu 1 bulan pasca partum b. ovulasi terjadi dini yakni dalam 27/52 post partum dengan rata-rata 70 – 75 hari. tetapi sejumlah kecil striae masih menetap d) Pada keadaan tertentu. Selama persalinan kandung kemih mengalami trauma sehingga terjadi edema. penurunan sensibilitas terhadap tekanan cairan . lama setiap kali menyusui dan anaknya makanan tambahan yang diberikan pada wanita yang tidak menyusui. kadar estrogen mulai meningkat pada minggu ke-2 dan lebih tinggi pada wanita yang menyususi pada pasca partum hari ke -17 2) Hormon hipofisis dan fungsi Ovarium waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak menyususi berbeda. Sistem Urinaria a. Kadar prolakin serum wanita menyusui yang tinggi berperan dalam menekan ovulasi dengan cara menghambat stimulasi FSH terhadap ovarium kadar prolaktin meningkat secara progresif sepanjang masa hamil dan pada wanita menyusui tetap tinggi sampai hari ke -6 post partum. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui. otototot dinding abdomen memisah.- pada wanita yang tidak menyusui. Abdomen a) Pada hari pertama abdomen masih menonjol dan membuat wanita tersebut tampak masih seperti hamil b) 2 minggu post partum didinding abdomen tampak rileks c) 6 minggu post partum abdomen kembali kekeadaan semula elastisitas kulit kembali.

Diperlukan 2. hal ini terjadi pada kurang lbih 50 % wanita Asetonuria bisa terjadi pada wanita yang tidak mengalami komplikasi persalinan atau setelah perslinan yanag lama dan ditandai dehidrasi  Diuresis pasca partum salah satu mekanisme untuk mengurangi ciran yang tretensi selama masa hamil adalah diuresis luas terutama pada malam hari selama 2 – 3/7 pertama post partum diuresis postpartum yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan merupakan mekanisme lain tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan diaforesis dan diuresis ini disebabkan penurunan berat badan kurang lebih 2.  Komponen urine glikosuria yang diinduksi oleh kehamilanmenghilang lactosuria (+) pada ibu yang menyusui merupakan hal yang normal BUN ( blood urea Nitrogen) yang meningkat selama masa nifas merupakan akibat autolisis uterus yang berinvolusi Pemecahan protein yanmg berlebihan di dalam sel uterus juga menyebabkan proteinuria ringan selama 1 – 2 /7 post partum.c. Biasanya mengalami kesulitan BAK dalam 2 hari d.5 kg selama masa nifas . Hematuri pada masa “ Early puerperium” karena adanya trauma pada kandung kenih pada waktu persalinan e.8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvic renal kembali kekeadaan semula. Pada sebagian wanita dilatasi traktus urinarius bisa menetap dalam 3 bulan.

nyeri panggul yang imbul akibat dorongan saat melahirkan. anastesia dan keletihan. Sistem Pencernaan 1) Nafsu makan Ibu biasanya merasa lapar segera setelah partus sehingga ibu mengkonsumsi makanan ringan. efek konduksi anastesi. laserasi vagina atau episiotomi distensi dapat terjadi akibat diuresis dapat menghambat kontraksi uterus danmenyeabkan pendarahan yang berlebihan serta rentan terhadap resiko infeksi. tindakan klisma pada kala I dan tidak makan dan diare sebelum persalinan . kehilanagn cairan dan ketidaknyamanan perineal. setelah benar-benar pulih dari efek analgesia. penurunan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir. Bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung kemih.- pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolieme air pada masa hamil  Uretra dan kandung kemih penurunan keinginan BAK dapat terjadi akibat trauma persalinan. kebanyakan ibu merasa sangat lapar 2) Motilitas secara khas penurunan tonus otot dan motilitas otot traktus GI menetap selama waktu singkat setelah bayi lahir kelebihan analgesia dan anastesis bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas kekeadaan normal 3) Defekasi pengembalian fungsi defekasi secara normal menjadi lambat oleh karena penurunan motilitas usus penurunan tonus otot ususu dan abdomen. 5.

sekresi dan eksresi kolostrum menetap selama beberapa hari pertama setelah anita hamil nyeri dapat terjadi seiring dimulainya produksi susu pada hari ke 2 atau ke 3 pada hari ke tiga atau ke empat bisa terjadi engorgement pembengkakakn dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak aman sisanya berkrang dalam 24 sampai 36 jam apabila bayi belum mengisap. Payudara Konsentrasi hormone yang yang menstimulasi perkembangan payudara selama hamil menurun secrara cepat seelah perslinan. Nodularitasnya bersifat bilaterak dan difus kadar prolaktin akan turun dengan cepat.- fungsi defekasi akan kembali normal setelah akhir minggu pertama pasca partum 6. Sistem Kardiovaskuler 1) volume darah . keluar kolostrum. susu kebiruan dapat dikelurkan dari putting susu putting susu harus diperiksa untuk mengkaji erektilitasnya. keras ketika disentuh rasa nyeri akan menetap selama 48 jam. Waktu yang dibutuhkan oleh hormone-hormon ini untuk kembali ke kadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh apakan ibu menyusui atau tidak 1) ibu tidak menyusui payudara ibu biasanya teraba noduler (wanita tidak hamil teraba granular). laktasi terhenti dalam beberapa hari sampai 1 minggu 2) Ibu menyusui sebelum laktasi dimulai. sebagai kealikan dari infersi dan untuk menemukan apakah ada fisura atau keretakan 7. setelah dimulai pudara teraba hangat.

misalnya kehilanhan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstra vaskuler - hipervolume yang akibatkan kehamilan menyebabkan kenayakan ibu bisa mentoleransi kehilangan darah sewaktu partus tiga perubahan fisiologis fisiologis yang melindungi anita adalah :  hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah materbal 10 – 15 %  hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi  terjadinya moilisasi cairan ekstraaskuler yang disimpan selama masa hamil 2) - Curah Jantung denyut jantung stroke volume dan curah jantung akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 – 60 menit setelah wanita partus karena menimbulkan dekompresi hal ini akan normal ke keadaan semula setelah partus setelah 8 – 10/52 post partum darah biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum sehingga dapat 3) Tanda – tanda vital peningkatan tekanan darah systole dan diastole berlangsung 4 hari setelah post partum fungsi pernafasan kembali ke fungsi saat tidak hamil pada bulan ke enam setelah wanita partus. implus titik maksimum dan EKG kembali normal .- perubahan volume darah tergantung dari beberapa faktor. aksisi jantung kembali normal. Setelah rahim kososng diagrafma menurun.

000 sampai 25. Nadi naikpada jam pertama dan harus turun ke rata-rata sebelum hamil dalam 8 sampai 8 minggu post partum - Penyimpangan dari kondisi dan penyebab masalah.- Tekanan darah dapat terjadi orthtostatik hipotensi dalam 48 jam pertama Suhu untuk 24 jam pertama mungkin kenaikan terjadi 38 derajat celcius *100. Kelainan sistolik lebih dari 30 mmHg dan diastole 15 mmHg bila disertai sakit kepala atau gangguan penglihatan.000/mm 3. selama 10 sampai 12 hari pertama post partum. 4) Komponen Darah hematokrit dan Hb termasuk eritrosit akan kembali berada dalam batas normal setelah 8 minggu post partum selama 72 jam pertama.4 derajat fahrenheid( disebabkan oleh efek dehidrasi daripersalinan. a) Diagnosa sepsis puerperalis jika ada kenaikan suhu pada maternal >>38o C b) kecepatan rata-rata nadi adalah satu yang bertambah mungkin indikasi hipovolemik akibat pendarahan c) hipoventilasi mungkin mengikuti keadaan luas biasa terjadi akibat tinggi sub arachnoid blok d) Tekanan darah rendah mungkin karena refleksi dari hipovolemik sekunder dari pendarahan. neotrofil merupakan WBC yang paling banyak ditemukan .000 mm3. kerja otot yang berlebihan selama kala II dan fluktuasi hormon dan akan kembali setelah 24 jam - Nadi panjang dengan stroke volume dan cardiac output. volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah uekosit normal pada kehanilan rata-rata kurang lebih 12. nilai leukosit anatara 20.

9. Lamanya bervariasi tergantung penyebab dan efektifitas terapi.- keberadaan leukositosis disertaipeningkatan normal LED dapat membingungkan dalam menegakkan diagnosa infeksi akut selama waktu ini - faktor-faktor koagulasi dan fibrinogen biasanya meningkat selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium. SistemMuskuloskletal adaptasi yang terjadi mencakup hal-hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat perbesaran rahim . kedaaan hiperkoagulasi yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah dan imobilitas mengakibatkan peningkatan resiko tromboembolisme terutama setelah ibu melahirkan secara sesar 5) Varises varises ditungkai dan di sekitar anus atau hemoroid serta di vulva akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir regresi total atau mendekati normal diharapkan terjadi setelah melahirkan 8. stress dan kebocoran CSF ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural diletakkan di tulang vertebra untuk anastesi. Sistem Neurologi eleminasi edema fisiologis melalui diuresis setelah bayi lahir menghilangkan sindrom Carpal tunnel dengan mengurangi kompresi Nervus medial rasa baal dan kesemutan periodik pada jari yang dialami 5 % ibu hamil biasanya hilang setelah anak lahir kecuali jika mengangakt atau memindahkan dapat memperburuk keadaan nyeri kepala post partum bisa disebabkan berbagai keadaan termasuk PIH.

pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap kulit yang meregang pada payudara. Ibu akan memerlukan sepatu yang lebih besar 10. - Sistem Integumen Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang pada saat kehamilan berakhir hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. paha panggul mungkin memudar tetapi tidak hilang seluruhnya.- stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke enam sampai minggu ke delapan post partum. Sistem kekebalan Kebutuhan ibu untuk mendapat vaksinasi rubela adalah untuk mencegah iso imunisasi Rhesus ditetapkan 12. abdomen. kelainan pembuluh terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Perubahan-perubahan lainnya . akan tetapi walaupun semua sendi lain kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Pada beberapa ibu.pada beberapa ibu spider nevi meneap rambut halus yang tumbuh yang lebat pada waktu hamil biasanya akan mengilang setelah melahirkan. kaki ibu tidak mengalami perubahan setelah partus. tetapi rambut kasar yang timbul biasanya akan menetap konsistensi dan kekuatan kuku akan kembali ke keadaan sebelum hamil diaforesis adalah perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen 11.

ADAPTASI PSIKOSOSIAL POST PARTUM • Adaptasi maternal Transisi menjadi orang tua menurut Rossi 1968 dan Reader 1997 membagi dalam beberapa fase yaitu a) Fase ancipatori. Orang tua dapat menilai apakah dia mampu atau tidak menjalankan peran sabagai orang tua. Relaksasi dan kontraksi yang periodic sering dialami multipara dan bias menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang masa awal puerperium Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata ditempat uterus terlalu teregang Rasa sakit timbul jika terdapat sisa –sisa dan selaput ketuban. tonus otot uterus meningkat sehingga fundus padaumumnya tetap kencang. pembagian tugas dlam keluarga terutama saat bayi tiba di rumah b) Fase honeymoon. terjadi kasih sayangt antara orang tua dan bayi yang diperoleh melalui kontak lama yang intim c) Fase plteu dan disengagement. berlangsung singkat dan sulit diamati. bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obet analgesik C. a) Fase dependent/fase menerima  berlangsung 2 sampai 3 hari pertama post partum . Fase adaptasi nal dalam masa post partumterhadap perannya sebagai orang tua menurut Robin 1961 ada 3. sisa plasenta atau sitolsel di dalam cavum uteri Ibu diberikan pengertian tentang hal ini.” after pain ” adalah meriang atau mules-mules setelah partus biasanya berlangsung 2 sampai 4 hari sesudah post partum pada primipara.

informasi yang diberikan pada waktu itu mungkin perlu diulang. b)    Fase dependen-mandiri Berlangsung 10 hari fokus melibatkan bayi dan melakukan perawatan diri waktu yang baik untuk penyuluhan dan dapat menerima tanggung jawab   timbul rasa kurang percaya diri karena kebanyakan tanggung jawab ibu yang kelihatannya memerlukan dukungan tambahan adalah sebagai berikut o primipara yang belum berpengalaman mengasuh anak o wanita karir o wanita yang tidak punya teman atau keluarga untuk berbagi rasa o ibu yang berusia remaja o wanita yang tidak bersuami  Pada fase ini tidak jarang terjadi depresi.     ketergantungan ibu menonjol dan pasif belum ingin kontak dengan bayinya dan merawat bayinya perhatian ibu terfokus pada diri sendiri perlu tidur dan makan kecemasan dan keasikan terhadap peran barunya sering mempersempit persepsi ibu. Perasaan mudah tersinggung bisa timbul akibat berbagai faktor diantaranya jenuh dengan bayinya atau tanggung jawab  Telah persalinan yang diperburuk oleh tuntutan bayi yang banyak sehingga mudah timbul depresi  Kadar glukokortikoid yang rendah dalam sirkulasi atau terjadi hipertiroid subklinik dapat menimbulkan depresi pasca partum ringan .

Perasaan sedih dan rgu seringkali menyertai realita baru selama 3 minggu pertama kehidupan bayi menyatakan bahwa para ayah baru . keasikan dan kesenangan ayah dengan bayinya Respon ayah adalah o bangga dan takut nmemegang bayi o diekspresikan secara berbeda-beda.yang ditandai dengan perilaku yang khas seperti menarik diri dan menangis  Ketika tugas-tugas dan penyesuaian telah dijalankan dan dapat dikendalikan sehingga tercapai keadaan yang stabil c) Fase interdependent    Memperoleh peran dan tanggung jawab baru Kemandirian dalam perawatan diri dan bayinya semakin meningkat Penyesuaian kembali hubungan keluarga • Adaptasi paternal Terjadi engrossment yaitu absorbsi. Beberapa ayah menyadari bahwa harapan mereka sebelumnya didasarkan pada kenyataan. a) Tahap I  meliputi pengalaman pra konsepsi yaitu seperti apa rasanya jika membawa bayi pulang ke rumah b) Tahap II  realitas yang tidak menyenangkan tentang menjadi ayah baru. mengadakan pesta dengan teman-teman o pada waktu immedietely kelihatan lelah dan mengantuk o bila ada komplikasi bayi maka ayaha akan mencari informasi untuk ibu dalam merawat bayi menurut Anderson dan Browse 1991 tentang pengalaman para ayah ini menjalani 3 tahap proses sudah diperkirakan sebelumnya yaitu. dekat dengan keluarga.

maka ayah merupakan sumber info bagi ibu tentang bayinya. suami istri harus saling membagi perhaian karena tuntunan dan ketergantungan bayi dalam memenuhi kebutuhannya. Umpamanya anak yang lebih besar sekarang menjadi kakak. dimana ibu harus merawat dirinya. Ayah juga dapat mengalami post partum Bluest karena masalah keungan keluarga merasa tidak yakin akan kemampuannya sebagai orang tua dan kesulitan beradsptasi terhadap perubahan hubungan dengan istrinya • Adaptasi keluarga Kehadiran bayi yang baru lahir dalam keluarga membutuhkan adanya perubahan-perubahan peran dan hubb keluarga tersebut. maka perawat bidan bertanggung jawab mempersiapkan ibu sebelum melahirkan Berikut adalah beberapa cara adaptasi sibling yang dapat diterapkan oleh orang tua agar sibling dapat menerima anggota barunya : 1. orang ua menjadi kakek nenek. Di dalam hal ini ayah sering merasa kuatir tentang keadaan istri dan anaknya. Bila ada masalah dengan bayinya dan harus dirawat terpisah dengan ibunya. Bila banyak anggota keluarga yang dapat membantu dalam merawata bayi mungkin keadaannya tidak sesulit bila tidak ada yang membantu Mengingat kompleksnya tugas-tugas ibu pada masa sesudah melahirkan. bayinya. ibu menelpon sibling dari rumah sakit untuk menunjukkan perhatian .c) Tahap III  Meliputi keputusan yang dilkaukan dengan sadar untuk mengontrol dan menjadi lebih aktif terlibat dalam kehidupan bayi mereka Psikologi ayah tergantung keterlibatan selama proses kelahiran berlangsung biasanya ayah merasa lelah dan ingin selalu dekat dengan istri dan anaknya. ajak saudara kandung menjenguk ke rumah sakit 2. melakukan pekerjaan rumah tangga.

nifas dan sembuhnya luka. mendeteksi masalah. ibu merawat bayi D. dan lain-lain. menyusui. Modulasi / Ambulasi Ibu harus istirahat atau tidur terlentang 8 jam selama post partum. melaksanakan scrining yang komprehensif.3. Kemudian boleh miring kiri atau ke kanan untuk mencegah terjadina trombosis atau tromboembolism. memandikan. pemeberian imunisasi kepada byinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri. keluarga berencana. >> baik. sibling merawat boneka. Ambulasi bermaksud untuk memperlancar / merangsang sirkulasi peredaran darah tungkai yakni dengan cara rutin sebagai berikut: 1) Lakukan fleksi dan ekstensi kaki secara bergantian 2) Putar tumit dengan gerakan sirkular . >> kuat Faal usus dan kandung kencing >> baik Kesempatan yang baik untuk mengajar ibu merawat / memlihara anaknya. nutrisi. mengobati dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. pada hari ke-3 jalan-jalan. ayah memgang bayi. waktu pulang. Pada hari ke-2 duduk-duduk. memberi makanan. Mobilisasi bervariasi tergantung ada tidaknya komplikasi persalinan. Perawatan post partum: 1. menjaga kesehatan ibu dan bayi. dan pada hari ke-4 atau ke-5 boleh pulang. serta memberikan pelayanan keluarga berencana. mengganti pakaian. Keuntungan dari ambulasi adalah: • • • Klien merasa >> sehat. PERAWATAN POST PARTUM (IBU DAN BAYI) Adapun tujuan perawatan pada masa nifas yaitu. ibu memegang peranan dalam sibling 4.

Urine yang dikeluarkan I harus diukur untuk mengetahui apakah pengosongan kandung kemih adekuat (setiap kali berkemih harus 150 ml). cukup kal. ibu harus berkemih dengan spontan dalam 6-8 jam. Membiarkan ibu mendengar bunyi air mengalir. Bantu ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara spontan dengan cara: a. 3. d. Memercik air dari botol ke perineumnya..3) Lakukan fleksi dan ekstensi kaki secara bergantian 4) Tekan bagian belakang lutut ke permukaan tempat tidur.ori. cairan serta banyak buah-buahan karena ibu post partum mengalami hemokonsentrasi. Teknik lain yang dapat digunakan adalah: • Membantu ibu mandi atau melakukan sitz bath. Miksi / Berkemih Setelah melahirkan. b. mengandung cukup protein. Kandung kemih yang penuh membuat rahim terdorong ke atas umbilikus dank e salah satu sisi abdomen serta mencegah uterus untuk berkontraksi secara normal sehingga bias menyebabkan perdarahan. . Diet Mkanan harus bermutu dan bergizi. c. cara tersebut bias mengosongkan kandung kemih. Merendam tangannya di dalam air hangat. 2. rileks Lakukan latihan fisik atau ajarkan senam nifas untuk memulihkan kekendoran otot. Membantu ibu berjalan di kamar mandi / berkemih pada bedpan jika tidak mampu berjalan.

Supervisi penggunaan fasilitas untuk mencegah kontaminasi silang. 4. maka sebaiknya diberikan laksatif atau parafin. Defekasi BAB harus ada paling lama 3-4hari post partum. Tindakan pencegahan secara universal harus dilakukan. . 2) Kebersihan Lingkungan Tempat tidur harus dijaga kebersihannya. setelah mandi ganti baju. Untuk mempercepat proses defekasi normal (beri penjelasan kepada ibu tentang upaya menghindari konstipasi) dengan tindakan seperti: • • • Diet yang teratur ( tinggi serat) Pemberian cairan ynag banyak (6-8 gelas per hari) Olah raga / melakukan latihan Biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB. Tetapi jika diberilaksan IUPP dan tidak berhasil maka dilakukan klisma.• Menganjurkan ibu berkemih atau meletakkan minyak peppermint di dalam bedpan di bawah ibu (uap minyak dapat merelaksasikan meatus urinarius sehingga ibu dapat berkemih secaraspontan) - Apabila seluruh tindakan tidakl berhasil lakukan pengkateteran. Prosedur kateterisasi membuat klien tidak nyaman dan beresiko untuk infeksi saluran kencing. Kebersihan Diri dan Lingkungan 1) Personal Hygiene Anjurkan kebersihan seluruh tubuh terutama mandi (bersihkan putting susu dan mamae). Perawat atau petugas kesehatan merupakan bagian terpenting dari lingkungan rumah sakit. 5. untuk itu kateterisasi tidak dilakukan. Sarankan ibu mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah menyentuh alat-alat kelaminnya.

6. terutam puting. warna dan bau lokia sehingga bila ada kelainan dapat diketahui secara dini. Ibu yang mempunyai episiotomiperlu dilakaukan vulva hygiene / vulva swabbing. -Sebelum dan sesudah mengganti pad harus cuci tanga dengan larutan desinfektan atau sabun. Pad yang sudah kotor harus segera diganti paling sedikit 4 kali sehari. Ajarkan ibu cara membersihkan perineum dari arah depan ke belakang (uretra ke anus) setelah berkemih atau defekasi dengan menggunakan sabun dan air hangat. Menjaga dan menggunkan bra yang sesuai dan menyokong payudara. Sarankan untuk kembali mengerjakan kegiatan rumah tangga secara perlahan dan berangsur. Perawatan Payudara Menjaga payudara tetap bersih dan kering. Istirahat Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. Ajarkan ibu cara mengganti pad dari arah depan ke belakang setiap kali berkemih atau defekasi. mengurangi produksi asi 2. . menyebabkan depresi akibat ketidakmampuan merawat diri dan bayinya 8. memperlambat proses involusi 3. Perawatan Perineum / Episiotomi Untuk mencegah infeksi genitourinaria dan mempercepat proses penyembuhan. 7. Kurang istirahat akan berakibat: 1. Ibu diberitahu tentang jumlah. Pastikan bagian dalam tidak terkontamibasi oleh tangan.

Yang harus diperiksa: a. keadaan umum b. Pemeriksaan Pasca Persalinan Untuk persalinan normal dapat diperiksa 6minggu setelah partus.- Apabila putting lecet oleskan ASI di setiap putting susu setiap selesai menyusui. apakah ada retrocele dan pemeriksaan tonums m spingter ani g. keadaan serviks. keadaan perineum e. keadaan payudara dan putingnya c. tetap menyusui dimulai dari yang tidak lecet. namun dengan persalinan luar biasa harus kembali control seminggu kemudian. dinding perut apakah ada hernia d. radang dan kelainan lainnya harus segera diobati. kandug kencing apakah ada sistocele atau retrocele f. uterus dan adneksa Adanya erosi. rektum. . - Apabila payudara bengjaj ajibat bendungan ASI: 1) kompres payudara dengan kain basah 2) urut payudara dari pangkal menuju puting 3) kelurkan ASI 4) susukan bayi setiap 2-3 jam 5) letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui - Untuk meningkatkan suplkai ASI untuk bayti: 1) menyusui bayi setiap 2 jam. Apabila lecet berat. adanya flour albus h. diistirahatkan selama 24 jam dan bayi diberi ASI dengan sendok. siang dan malam bayoi disusui dengan lama menyusui 10-15 menit di tiap payudara 2) pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dengan suara menelan yang efektif 3) susui bayi di tempat tenang dan nyaman dan minumlah setiap[ kali menyusui 9.

isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise. Perawata mata untuk mencegah penyakit mata (oftalmia neonatorum). Lakukan bonding sebaiknya dilakukan setelh bayi disuction dan dlap dengan meletakkan bayi di atas dada ibu untuk merapatkan hubungan antara ibu dan anak.5-1mg (1m) untuk mencegah terjadinya perdarahan. Bila bayi mulaI disusui. sehingga produksi ASI akan >> banyak dan efek positifnya adalah involusi uteri akan sempurna. . Tutupi dengan kasa spirit secara longgar dalam keadaan terbuka agar terkena udara. Mempertahankan suhu tubuh bayi: menjaga bayi tetap hangat. setiap saat selalu ada kontan antara ibu dan bayi c. ibu sedini mungkin telah mengurus bayinya 11. Laktasi - Rooming ini dilakukan agar: a. 10. menaikan bayi 24 jam setelah bayi lahir.- Sebaiknya diberikan fisioterapi post natal. pertahankan agar tetap kering. Biasanya bayi diberi obat tetes mata segera setelah lahir seperti eritromicyn 0.5 % atau tetrasiklin 1%. Perawatan Bayi Membersihkan jalan napas segera setelah bayi lahir. Mengidentifikasi bayi engan alat pengenal. Sebaiknya cuci tangan sebelum mencuci mata bayi untuk mencegah infeksi. ibu mudah menyusui bayi b. Pemberian suntikan VH-K 0. Potong tali pusat segera setelah bayi lahir dan lakukan perawatan tali pusat dengan menggunakan kasa spirit (alkohol 70 %).

E.V φ Aktivitas istirahat Insomnia mungkin teramati φ Sirkualsi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari φ Integritas ego Peka rangsang. takut menangis (“post partum blues” sering terlihat kira-kira 3 hari setelah melahirkan) φ Eliminasi Diuresis diantara hari ke-2 dan hari ke-5 φ Makanan / cairan Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan kira-kira hari ke-3 φ Nyeri / ketidak-nyamanan Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai ke-5 post partum φ Seksualitas . KONSEP DASAR KEPERAWATAN φ Pengkajian data dasar klien Kontinuasi progresif dari dasar data untuk tahap I. Pertahankan kontak mata dengan bayi. Berikan informasi tentang imunisasi dan jadwal kunjungan ke puskesmas / klinik untuk menilai tahap pertumbuhan dan perkembangan.- Senantiasa menukar popok untuk menghindari terjadinya ruam / eritema pada kulit. Letakkan bayi di tempat yang aman. Hindari menggunakan bedak terutama di celah paha karena bias menyebabkan lecet dan kemerahan.

perilaku melindungi/distraksi.Kemungkinan dibuktikan oleh : melaporkan krara (afterpain) sakit kepala. wajah menunjukkan nyeri.Dapat dihubungkan dengan trauma mekanis. mungkin lebih dini. tergantung kapan menyusui dimulai Prioritas Keperawatan 1. versus ambulsi berdiri) dan aktivitas (misalnya menyusui)  Payudara memproduksi kolostrum 48 jam pertama. dan nyeri tekan payudara. Komplikasi dicegah / teratasi 3. Kebutuhan pasca partum dipahami  Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri (akut) ketidak nyamanan . Mencegah komplikasi 3. biasanya pada hari ke-3. Memberikan informasi dan pedoman antisipasi Tujuan pulang : 1. efek hormonal . Ikatan keluarga dimulai 4. Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran menurun kirakira 1 lebar jari setiap harinya. ecioma/pembesaran jaringan atau distensi. Meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan umum 2. Mendukung ikatan keluarga 4. .Hasil yang diharapkan : mengidentifikasi dan menggunakan intervensi . berlanjut pada susu matur. Kebutuhan fisiologis / psikologis dipenuhi 2. ketidak nyamanan perinial.  Lochia rubra berlanjut sampai hari ke-2 & 3 berlanjut menjadi lochia serosa dengan aliran tergantung pada posisi (misal . rukemben.

24 jam pertama setelah kelahiran. dan menaikkan pelvis pada bantal. Mengungkapkan kurangnya ketidak-nyamanan Intervensi dan rasional a) Tentukan adanya lokasi dan sifat ketidak nyamanan. e) Anjurkan untuk duduk dengan otot gluteal terkontraksi daitas perbaikan yang memerlukan evaluasi /intervensi lanjut.00 saampai 43. R/memberi anasteri lokal. selama . meningkatkan oksigenasi dan nutasi pada opisiotomi. R/ meningkatkan sirkulasi pada perineum. ( rujuk pada DK. c) Beri kompres es pada perineum. atau kehilangan perlekatan jahitan (rujuk pada DK : infeksi. menurunkan edema dan menaikkan penyembuhan. resiko tinggi terhadap). Anjurkan penggunaan kompres es selama 20 menit setiap 4 jam . penggunaan kompres with hatel. 3 sampai 4 hari sehari setelah 24 jam pertama. ekimosis nyeri tekan lokal.. R/ dapat menunjukkan trauma pada jaringan perineal dan atau terjadinya komplikasi 15 menit. Perhatikan edema. meningkatkan vaso kontriksi dan mengurangi edema dan vasodilatasi. konstipati resiko tinggi terhadap) jaringan. d) Berikan kompres panas lembab (misalnya rendam duduk/bak mandi) diantara 1000 dan 1050 F (38. eksedat puralen. R/ mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus dan intervensi yang tepat b) Inspeksi perbaikan perineum dan episiotomi.untuk mengatasi ketidak nyamanan dengan tepat. Tinjau ulang persalinan dan catatan kelahiran. R/ penggunaan pengencangan gluteal saat duduk menurunkan stress dan tekanan langsung pada perineum. f) Inspeksi hemoroid pada perineum.20C) selama 20 menit.

h) Anjurkan klien berbaring terkurap dengan bantal dibawah abdoment dan ia melakukan teknik visualisasi atau aktivitas pengalihan. g) Kaji nyeri tekan uterus . payudara harus lunak dan tidak perih. menurunkan ketidak nyamanan dan gatal memungkinkan kembalinya usus pada fungsi normal. meskipun frekuensi dan intensitasnya berkurang. kaji adanya pembesaran dan puting pecah-pecah. l) Anjurkan klien memulai menyusui pada putingyang tidak nyeri tekan untuk beberapa kali pemberian susu secara berurutan. R/ tindakan ini dapat membantu klien menyusui merangsang aliran susu dan menghilangkan statis dan pembesaran (rujuk pada DK . mengakibatkan posisi lebih nyaman. overaistensi uterus. Perhatikan faktor-faktor pemberat. i) Inspeksi payudara dan jaringan puting . memberi kompres panas sebelum memberi makan. j) Anjurkan menggunakan Bra penyokong R/ mengangkat payudara kedalam 3 kedepan.R/ membantu untuk mengurangi hemoroid dan varises vulva dengan meningkatkan vasokontriksi lokal. menyusu(uraikan)). bila hanya satu puting yang sakit atau luka. tentukan adnya dan frekuansi/intensitas afterpain. Faktor-faktor yang memperberat afterpain meliputi multipare. R/ pada 24 jam pasca partum. dan puting harus bebas dari pecah-pecah atau area kemerahan. menyusui dan pemberian preparat ergot dan oksitosin. R/ meningkatkan kenyamanan. dan ini berlanjut selama 2-3 hari selanjutnya. mengubah posisi bayi dengan tepat dan mengeluarkan susu secara manual. R/ selama 12 jam pasca partum. . k) Berikan informasi mengenai peningkatan frekuensi temuan. da kembali memfokuskan perhatian. kontraksi uterus kuat dan regular. meningkatkan rasa kontrol.

dan overdistensi kandung kemih dapat menciptakan perasaan dorongan dan ketidak nyamanan. perubahan. mungkin kurang menimbulkan nyeri dan dapat mengangkat penyembuhan. atau klien sampai proses sekresi selesai (kira-kira 1 minggu). Anjurkan tirah baring. pasangan seksual. Latihan kegel membantu penyembuhan dan pemulihan dari tunus otot pubokoksigeal dan mencegah stress urinarium inkontinery. khususnya setelah anastesia sebaranoid. tingkatkan cairan peroral dan beritau dokter atau anastesialogis. sesuai indikasi. hindari pemberian obat klirn sebelum sifat penyebab dari sakit kepala ditentukan. o) Evaluasi terhadap sakit kepala. Perhatikan karakter sakit kepala untuk membedakan sakit kepala yang berkenaan dengan anastesia atau hipertensi karena kehamilan (HKK). R/ pengikatan dan kompres es mencegah lektasi dengan cara-cara mekanis dan metode yang disukai untuk menekan laktasi. Berikan kompresi ketat dengan mengikat selama 72 jam atau penggunaan bea penyokong yang sangat ketat hindari pemejanan berlebihan pada payudara pada panas atau merangsang payudara dengan bayi.R/ respon menghisap awal kuat dan mungkin menimbulkan nyeri dengan mulai memberi susu pada puyudara yang tidak sakit dan kemudian melanjutkan untuk menggunakan payudara. tetapi dipermudah atau dihentikan dengan menghindari rangsangan puting. . implementasikan kandungan untuk memudahkan berkemih. Ketidak nyamanan berakhir kira-kira 48-72 jam. urinarius. Eliminasi. m) Beri kompres es pada area aksik payudara bila klien tidak merencanakan menyusui. n) Kaji klien strop kepenuhan kandung kemih . instruksikan klien untuk melakukan latihan kegel setelah anestesia hilang (rujuk pada DK. R/ kembalihnya fungsi kandung kemih normal dapat memerlukan waktu 4-7 hari. resiko tinggi tehadap).

bila afterpain paling hebat karena pelepaasan oksitosin. berikan analgesit setiap 3-4 jam selama pembesaran payudara da aferpain. salep topikal. dan kompres wite hatel untuk perineum bila dibutuhkan.. R/ bekerja untuk menekan sekresi prolektin. resiko tinggi terhadap). namun merupakan rseptol agonis poten depamin dan dapat menyebabkan hipotensi berat.  Berikan analgesit 30-60 watt. Bila klien bebas dari ketidak nyamanan ia dapat menfokuskan pada perawatannya sendiri dan bayinya dan pada pelaksanaan tugas-tugas menjadi ibu. Kolaborasi  Berikan bromokriptin mesilat (parlodel) dua kali sehari dengan makan selama 2-3 minggu.  Berikan speci anastesik. Cairan membantu merangsang produksi CSS. R/ meningkatkan kenyamanan loket . harus diberikan hanya setelah tanda-tanda vital stabil dan Sampai 40% wanita tidak lebih cepat dari 4 jam setelah melahirkan. Berikan informasi tentang kemungkinan membengkaknya kembali payudara atau kongesti bila penggunaan obat mengalami masalah kongsti dan pembesaran payudara kemosli. kelebihan volume cairan. R/ memberi kenyamanan.R/ kebocoran cairan sembrospinal (CSS) melalui dua keruangan ekstradural menurunkan volume yang diperlukan untuk mendukung jaringan otak. tetap bersama klien selama ambulasi dihentikan. khususnya selama laktasi. Untuk klien yang tidak menyusui. Karenanya itu. pertama. HKKmengakibatkan edema serebral yang memerlukan intevensi lain (rujuk pada DK . menyebabkan batang otak turun. Sebelum menyusui. kedater kengkuak bila klien pda posisi tegak. kaji hipetensi pada klien .

Sikap dan komentar dan dapat menyebabkan klien negatif mempengaruhi upaya-upaya . usia gestasi bayi. R/ membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan mengembangkan rencana perawatan.Kemungkinan dibuktikan oleh : ungkapan ibu yang akan tingkat kepuasan. tingkat pengetahuan. R/ mempunyai dukungan yang cukup meningkat kesempatan untuk pengalemen menyusui dengan berhasil. tingkat dukungan struktur/karakteristik fisik payudara ibu. pengalemen sebelumnya. b) Tentukan sistem pendukung yang tersedia pada klien. . respon /penambahan BB. 2) Menyusui (tergantung apakah ibu bayi menunjukkan kepuasan atau ketidakpuasan atau mengalemen menyusui) . menciptakan bekuan darah yang menghasilkan tekanan dan menyegel kebocoran. Bantu sesuai dengan kebutuhan dengan infeksi salin atau pemberian “block paten” pada sisi pungsi aural. Intervensi dan rasional.Dapat berhubungan dengan . observasi proses menyusui . R/ efektif untuk menghilangkan sakit kepala spinal berat. . menunjukkan kepuasan regimen menyusui satu lain dengan bayi dipuaskan setelah setelah menyusui. pengalemen klien tentang tentang menyusui sebelumnya.100% . mengungkapkan pemahaman tentang proses /situasi menyusui. a) Kaji pengetahuan dengan : tingkat pengetahuan. Prosedur blood patch mempunyai keberhasilan 90% .Hasil yang diharapkan klien akan : mendemonstrasikan teknik menyusui. Pertahankan klien pada posisi horisontal setelah prosedur. dan sikap pasangan/keluarga.

perawatan puting dan payudara. R/ membantu menjamin suplai susu adekuat. Mempertahankan puting dalam media lembab meningkatkan prtumbuhan bakteri dan kerusakan kulit (catatan : stui menjelaskan mengoleskan sedikit ASI pada area puting dapat bermaanfaat untuk mengatasi puting lecet. ditempatkan 14 inci dari payudara selama 20 menit. R/ posisi yang tepat biasanya mencegah luka puting. d) Demonstrasikan dan tinjau ulang teknik-teknik menyusui perhatikan posisi bayi selama menyusui dan lama menyusui. sedangkan sabun dapat menyebabkan kering. R/ pemajanan pada udara atau panas membantu mengencangkan puting. faktorfaktor yang memudahkan atau mengganggu keberhasilan menyusui. f) Anjurkan klien untuk mengeringkan puting dengan kolam selama 20-30 menit setelah menyusui dan memberikan preparat lanulin setelah menyusui atau menggunakan lampu pemanas. memberikan kenyamanan dan membuat peran ibu menyusui. g) Instruksikan klien untuk menghindari penggunaan pelindung puting kecuali ser khusus di indikasikan. c) Berikan informasi verbal dan tertulis. mencegah puting pecah dan luka. dengan lampu untuk 40 watt. Pamplet dan buku-buku menyediakan sumber yang dapat dirujuk klien sesuai kebutuhan. kebutuhan diet khusus. R/ ini telah diketahui telah menambah kegagalan laktasi pelindung .menolak mencoba untuk menyusui. R/ identivikasi dan intervensi dini dapat mencegah/ membatasi terjadinya luka atau pecah puting. Instruksikan klien untuk menghindari penggunaan sabun atau penggunaan bantalan Bra berlapis plastik dan mengganti pembalut bisa basah atau lembab. anjurkan klien melihat puting sehabis menyusui. mengenai fisiologis dan keuntungan menyusui. tanpa memperhatikan lamanya menyusui e) Kaji puting klien . yang dapat merusak proses menyusui.

Aanjuran penggunaan kompres es sebelum menyusui dan latihan puting dengan memutar diantara ibu jari dan jari tengah dan menggunakan teknik huffman.Faktor resiko dapat meliputi : Biokimia. sensitivitas rubeck. latihan dan kompres es membantu membuat puting lebih ereksi. R/ pelayanan ini mendukung pembinaan ASI melalui pendidikan klien dan nutrisional. misalnya posyandu R/ memberikan bantuan terus menerus untuk meningkatkan kesuksesan hasil  Identifikasi sumber yang tersedia dimasyarakat sesuai indikasi misalnya program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). inkompabilitasi Rh) . teknik huffman melepaskan perlengketan ang menyebabkan interfensi putting. fungi regulator (mis : hipotensi ortostalik. adanya tanda- . profil darah amnormah (anemia. (menaikkan produksi mencegah tersedinya suplai sementara susu)dan dapat mengganggu atau susu yang adekuat (catat pelindung yang digunakan dapat menguntungkan pada kondisi puting pecah yang berat) h) Berikan pelindung puting payudara khusus (mis: pelindung eschman) umtuk klien menyusui dengan puting masuk atau datar. tromboembolisme.Kemungkinan dibuktikan oleh : (tidak dapat diterapkan.mencegah mulut bayi mengarah pada kotak dengan puting ibu. resiko tinggi terhadap . terjadinya titik atau eklamsia). KOLABORASI  Rujuk klien pada kelompok pendukung . 3) Cedera. R/ mangkuk laktasi/ pelindung payudara. efek-efek anastasi. yang mana perlu untuk melanjutkan pelepasan prolaktin.

anastesia sebarakharid. R/ merangsang sirkulasi dan menurunkan penumpukan pada vena reskomber setelah bawah resiko pembentukan trombul yang dihubugkan dengan statik anastesia suborahnoid mencegah keboccoran ESS dan sakit b) Anjurkan ambulasi dan latihan dini kecuali pada klien yang mendapatkan . yang maka tetap berbaring selama 5-8 jam tanpa penggunaan bantal atau meninggikan kepala. Intervensi dan Rasional a) Tinjau ulang kadar Hb darah dan kehilangan darah pada waktu melahirkan. R/ tidak adanya respek patela dan frekuensi pernapasan dibawah 12x/menit menandakan foksisistas dan perlunya penurunan dan pemberhentian terapi obat. Catat tanda-tanda anemia. sesuai indikasi protokol dari kembalinya sensasi otot. Bebas dari komplikasi. c) Biarkan klien duduk dilantai atau kursi dengan kepala diatara kaki atau berbaring pada posisi datar bila ia merasa pusing. bila diberikan kaji respon patela dan pantau status pernapasan.Hasil yang iharapkan klien akan : mendemonstrasikan pelaku untuk menurunkan faktor-faktor resiko/melindungi diri.tanda gejala untuk menegakkan diagnosa aktul) . e) Berikan kompres panas lokal : tngkatkan tirah baring dengan meninggikan tungkai yang sakit. R/ menaikkan sirkulasi dan aliran balik vena keekscremitas menurunkan meskipun posisi q kontroversial. ini dapat membantu kepala lanjut. R/ membantu mempertahankan atau meningkatkan sirkulasi dan pengiriman oksigen ke otak. d) Catat efek-efek magnesium selfat (mg so4). R/ anemia adalah kehilangan darah mempredesposisikan sinkope klien karena ketidak adeguatan pengiriman oksigen keotak.

f) Concent untuk vaksinasi setelah meninjau ulang efek samping. R/ periode inkubasi 14-21 hari. resikoresiko dan perlunya mencegah konsepsi selama 2-3 bulan setelah vaksinasi. menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan. anti keagulan dapat mencegah trjadinya 4) trombus lebih lanjut. . adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual) . . Intervensi dan rasional terjadi.Hasil yang iharapkan klien akan : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko atau menaikkan penyembuhan. penurunan Hb.Faktor resiko dapat meliputi : trauma jaringan/kerusakan kulit. resiko tinggi terhadap . ruptur ketuban lama. memerlukan pemberian efineprin. tidak febris. sesuai indikasi R/ membantu matikan kepekaan serobral pada adanya titik atau eklamsia  Berikan kaes kaki penyokong atau balutan elastis untuk kaki bila resikoresiko ada atau gejala-gejala flebitis ada. Infeksi.Kemungkinan dibuktikan oleh : (tidak dapat diterapkan. mlnutrisi.diekstromitas bawah. peningkatan pemejanan lingkungan. dan mempunyai aliran lokhial dan karakter normal. Bebas dari infeksi. Anafilaktik alergi atau respon hipersensivitas dapat KOLABORASI  Beri Mg SO4 melalui pompa infus. menunjukkan luka yang bebas dari drainase purulen. R/menurunkan status vena melalui aliran balik vena  Berikan anti kuagulan : evaluasi vaktor-vaktor kuagulasi dan perhatikan tanda-tanda kegagalan pembekuan (rujukan pada MK tromboflebitis pasca partum) R/ meskipun biasanya tidak diperlukan. prosedur infasif.

rabas mungkin purulen dan bau busuk. hematuria yang telihat.00C) pada 2 dari 10 hari pertama pasca partum adalah bermakna. dorongan atau disuria). anoreksia atau malaise. Misalnya . namun pada endometritis. perhatikan frekuensi pemeriksaan vagina dan komplikasi seperti ketuban pecah dini.40F (38. mungkin gagal untuk menunjukkan kemajuan normal untuk rubra menjadi serosa atau alba d) Evaluasi kondisi puting . R/ tejadinya firusa/pecah-pecah pada puting menimbulkan potensial resiko terkena mastitis. catat tanda-tanda menggigil. persalinan lama. R/ lokhia secara normal mempunyai bau amis/daging.a) Kaji catatan pranatal dan intrapartal. penaikan tan frekeunsi. leserasi. R/ gejala ISK dapat tampak pada hari ke-2 sampai ke-3 pasca partum karena naiknya infeksi traktu dari uretra kekandung kemih dan . R/ penaikan suhu sampai 100F (38. b) Pantau suhu dan nadi dengan rutin dan sesuai indikasi. c) Catat jumlah dan bau rabas lokhial atau perubahan pada kemajuan normal dari rubra menjadi serosa. tinjau perawatan yang tepat dan teknik pemberian makan bayi. kemerahan atau nyeri tekan. e) Perhatikan frekuensi/jumlah berkemih R/ statis urinarius menaikkan resiko terhadap infeksi f) Kaji terhadap tanda-tanda infeksi saluran kemih (isk) atau sistisis. hemongi dan tertahannya plasenta. perhatikan adanya pecah-pecah.30C) dalam 24 jam pertama sangat menandakan infeksi : penaikan sampai 100. dan adanya nyeri suprapubis. catat warna dan tampilkan urine. R/ membantu mengidentifikasi faktor-faktor resiko yang dapat mengganggu penyembuhan dan kemunduran pertumbuhan pitel jaringan endometrium dan memberi kecenderungan klien terkena infeksi. Anjurkan pemerikaan rutin payudara.

pembalut parineal dan linen terkontaminasi dengan tepat. k) Berikan metilergonovin maleat (methergine) atau argonuvin maleat (ergotrate) setiap 3 sampai 4 jam. g) Anjurkan teknik mencuci tangan cermat dan pembuangan pembalut yang kotor. R/ membantu mencegah atau menghalangi penyebaran infeksi. 5) Eliminasi urine. yang mana mungki pada awalnya mengganggu pngidentifikasian infeksi. sesuai indikasi R/ memberantas organisme infeksius lokal n) Berikan antipiretik setelah kultur didapatkan R/ bila diberikan sebelum identiikasi proses infeksi. R/ membantu mengembangkan kontraksi meomitrium dan involusi uterus menurunkan resiko infeksi. j) Catat Hb dan Ht berikan preparat zat besi dan vitamin bila perlu. sesuai kebutuhan. h) Tingkatkan tidur dan istirahat R/ menunjukkan laju metabolisme dan memungkinkan nutrisi dan oksigen digunakan untuk proses pemulihan dari pad untuk kebutuhan energi i) Kolaborasi kaji jumlahsel darah putih (SDP) R/ penaitan jumlah SDP pada 10-12 hari pertama pasca partum atau normal sebagai mekanisme perlindungan dan dihubungkan dengan peningkatan neutrofil dan pergeseran kekiri. antipiretik dapat meenutupi tanda-tanda dan gejala yang perlu untuk membedakan diagnosa. l) Bantu dengan atau dapatkan kultur dari vagina. perubahan . m) Anjurkan klien untuk menggunakan krim antibiotik pada perineura. serum dan sisi perbaikan episiotomi sesuai indikasi R/ untuk megidentifikasi organisme penyebab bila ada dan mencantumkan anti biotik yang tepat. R/ menetukan apakah ada status anemia membantu memperbaiki defeiersi.kemungkinan keginjal.

e) Anjurkan berkemih dalam 6-8 pasca partum. hormonal. . peningkatan pengisian / distensikandung kemih. c) Perhatikan edema laserasi/eposiatami dan jenis anastesi yang digunakan. Intervensi dan rasional a) Kaji masukan cairan dan keluaran urine terakhir. efek-efek anastasia. anastesia dapat mengganggu sensasi penuh pada kantong kemih d) Tes urine terhadap albumin dan aseton R/ proses katalitik dihubungkan dengan involusi uterus dapat megakibatkan protemuria (t) pada : 2 hari pertama paca partum. dan setiap 4 jam setelahnya bila kondisi memungkinkan. biarkan klien berjalan kekamar mandi. mengakibatkan peningkatan pengisian kandung kemih.50 % selama periode pranatal.Kemungkinan dibuktikan oleh . serta jumlah aliran lakhia. b) Palpasi kandung kemih. tetap tinggi pada periode pertama pasca partum. pantau tinggi fuadis dan lokasi. kira-kira untuk kaji cairan yang hilang melalui keluaran urine dan kehilangan tidak rasiomata. Persalinan yang lama dan penggantian cairan yang tidak efektif dapat mengakibatkan dehidrasi dan menurunkan haluan urine.Dapat dihubungkan dengan . termasuk diaforesis. Aseton dapat menandakan dehidrasi yang dihubungkan dengan persalinan lama atau kelahiran. R/ pada periode pasca partum awal. perubahan pada jumlah/frekuensi berkemih. edoma jariongan. R/ aliran flasma ginjal..catat masukan cairan dan keluaran urine dan lamanya persalinan.Hasil yang diharapkan klien akan : berkemih tidak dibantu dalam 6-8 jam setelah kelahiran. . efek. Mengosongkan kandung kemih setiap berkemih. Alirkan air hangat diatas periterium. atau edema dapat mengganggu berkemih. trauma mekanis. . yang menaikkan 25% . R/ trauma kandung kemih atau uretra.

Kolaborasi  Kateteresasi. hegiene buruk dan masuknya bakteri dapat memberi kecenderungan klien terkena ISK. dan mencegah anatomi kandung kemih. sesuai indikasi R/ mungkin perlu untuk mengurangi distensi kandung kemih untuk memungkinkan ivolusi uterus. 6) Kekurangan volume cairan. R/ lakukan latihan kegel 100 x /hari menaikkan sirkulasi pada perineum. dengan keteter lurus atau indwelling. baik klien mempunyai gejala-gejala ISK R/ adanya bakteri atau kultur dan sensitifitas positif adalah diagnosis ISK. adnya tanda dan gejala untuk menegakkan dignosis aktual .Kemungkinan dibuktikan . karena distersi berlebihan. tidak dapat ditetapkan.  Dapatkan spisimen urine. h) Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih R/ stasis. membantu menyembuhkan dan memulihkan funus otot pubokogsigel dan mencegah atau menurunkan inkuntiners stress. kelebihan cairan berlebihan . g) Anjurkan minum 6-8 gelas cairan/hari R/ membantu mencegah stesis dan dehidrasi dan mengganti cairan yang hilang waktu melahirkan. resiko tinggi terhadap .Faktor resiko dapat meliputi : penurunan masukan/penggantian tidak adekuat. f) Instruksikan klien untuk melaklukan latihan kegel setiap hari setelah efekefek anastesi berkurang. dengan menggunakan teknik penampungan yang bersih atauketeterisasi.R/ variasi interversi mungkin perlu untuk merangsang atau memudahkan berkemih penuh mengganggu mobilitas dan involusi uterus dan menaikkan aliran lokhia.

g) Kaji tekanan darah sesuai indikasi R/ penaikan TD mungkin karena efek-efek lasopressor oksitosin. atau terjadinya HKK yang baru atau sebelumnya.V atau sampai pola berkemih normal terjadi . h) Evaluasi masukan cairan dan saluran urine selama diberikan infus I. tetap normatensif dengan masukan cairan dan keluaran urine seimbang dan Hb/Ht dalam kadar normal Inteversi dan rasioanl : a) Catat kehilangan cairan pada waktu kelahiran : tinjau ulang riwayat interpartal.Penaikan TD adalah tanda lanjut kehilangan cairan berlebihan khususnya bila ditandai dengan syock. uterus overdistersi atau anastesi umu. d) Evaluasi status kandung kemih : tingkatkan pengosongan bila kandung kemih penuh. pada kejadian dehidrasi atau hemoragi. stimulasioksotosin tertahannya jaringan. R/ kandung kemih penuh mengganggu kontraktilitas uterus dan menyebabkan perubahan posisi dan relaksasi fundus. e) Pantau suhu R/ penaikan suhu dapat meemperberat dehidrasi f) Pantau nadi R/ takikardia dapat terjadi memaksimalkan sirkulasi cairan.. R/ potensial hemorangi untuk kehilangan darah berlebihan pada waktu kelahiran yang berlanjut pada periode pasca partum dapat diakibatkan dari persalinan yang lama. beri cairan sesaui toleransi R/ rasa haus mungkin merupakan cara homeostasis dari pergantian cairan melalui peningkatan rasa haus. b) Dengan perlahan masase undus bila uterus menonjol R/ merangsang kontraksi uterus dapat mengontrol pendarahan c) Perhatikan adanya rasa haus.Hasil yang diharapkan klien akan .

i) Pantau pengisian payudara dan supali ASI bila menyusui R/ klien dehidrasi tidak mampu menghasilkan ASI yang adekuat Kolaborasi  Ganti cairan yang hilang dengan infus I. diare persalinan kurang masukan. kelebihan analgesia atau anestasia.Kemungkinan dibuktikan oleh .V yang mengandung elektrolit R/ membantu menciptakan volume darah sirkulasi dan menggantikan kehilangan karena kelahiran da diaoresis. dehidrasi.V seperti laritan RL dengan oksitosin 10 sampai dengan 20 unit. Pendarahan menetap pada adanya pundus kuat dapat menandakan laserasi dan kebagian terhadap penyelidikan lanjut. efekefek progesteron. penurunan bising usus. Tindakan interversi a) Auskeltasi adanya gesing usus. R/ oksitosin diperlukan untuk menstimulasi meometrium bila pendarahan berlebihan menetap atau uterus gagal untuk kontraksi. melaprkan rasa penuh abdomen/rektal atau tekanan.Hasil yang di hampirkan klien akan : melakukan kembali kebiasaan defekasi yang biasanya optimal dalam 4 hari setelah kelahiran.  Lakukan atau tingkatkan kecepatan cairan I. mual. perhatikan kebiasaan pengosongan normal atau diastasis reksi : R/ mengevaluasi fungsi usus adanya diastasis recti berat (pemisahan dan dua otot rectus sepanjang garis mediara dari dinding abdomen) menurun tunus otot abdomen diperlukan untuk upaya mengedar secara pengosongan. . nyeri perineal/reksal . 7) Konstipasi .R/ membantu dalam analisis keseimbangan cairan dan derajat kekurangan. fases kurang dari biasanya mengejang pada defekasi.Dapat berhubungan dengan : penurunan tonus otot (diastasis rekti). .

b) Kaji terhadap adanya hemoroid. menghilangkan gatal dan ketidak nyamanan dan menaikkan vasokongriksi lokal. f) Kolaborasi laksatif. peningkatan cairan. . perhatikan adanya laserasi dan derajat keterlibatan jaringan. Berikan informasi tentang memasukkan kembali hemoroid kedalam kanal anorektal dengan jari dilumesi atau dengan sarung tangan. R/ edema berlebihan atau trauma perineal dengan lesensi derajat ke-3 dan ke-4 dapat menyebabkan ketidak nyamanan dan mencegah klien dari merelaksasi perireum selama pengosongan karena takut untuk terjadi cairan selanjutnya. (catatan : pemberian supositonia atau enema pada adanya leserasi derajat 3 atau 4 dapat dikontra indikasikan karena trauma lanjut dapat terjadi). R/ makanan kasar (misalnya buah-buahan dan sayur-sayuran) da peningkatan cairan menghasilkan bulk dan merangsang eliminasi. sopositori atau edema R/ perlu untuk meningkatkan kembali kebiasaan defekasi normal dan mencegah mengajar atau stress perinal selama pengosongan. d) Anjurkan peningkatan tingkat aktivitas ambolasi sesuai toleransi R/ membantu menaikkan paristalsik gastrointestiruak e) Kaji episiotomi . upaya untuk membuat pola pengosongan normal. c) Berikan informasi diet yang tepat tentang pentingnya makanan kasar. R/ menurun ukuran hemoroid. Pelunak faesis. dan berikan kompreses atau kompres white hatel atau krim anastesik lokal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->