ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM NOVEL “RAUMANEN” Karya Marianne Katoppo PENDAHULUAN Novel secara harfiah adalah sebuah

karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita". Ia menurut Yacob Sunardo dan Saini K.M. berkembang pesat di Amerika Serikat dan di Inggris.1 Seiring perkembangan jaman, istilah novel mengalami banyak sekali perkembangan. Ia tidak sekedar diperlakukan hanya sebagai sebuah kisah atau sepotong berita. Akan tetapi ia bisa saja menjadi sebagaimana yang diungkapkan Goldman, bahwa novel pada umumnya merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner, serta dalam usahanya mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi-relasi imajiner. Ia juga mendefinisikan novel sebagai cerita mengenai pencarian yang tergradasi akan nilai-nilai yang otentik dalam dunia yang juga tergradasi.2 Pencarian ini biasanya ditugaskan oleh penulis kepada pembaca malalui tokohtokoh karangannya. Dengan adanya tugas tersebut, pembaca novel tidak hanya sebagai penikmat. Akan tetapi pembaca novel merupakan pengeksplor setiap peristiwa penting dalam dunia. Peristiwa yang terjadi dalam cerita merupakan perbuatan atau aksi yang dilakukan oleh tokoh-tokoh. Jalan cerita dapat berkembang dengan adanya tindakan yang dilakukan para tokoh. Selanjutnya Liberatus Tengsoe Tjahjono menjelaskan bahwa tokoh merupakan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, sedangkan penokohan, adalah cara pengarang melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita yang ditulisnya3. Tokoh cerita, menurut Abrams dalam Nirgiyantoro adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan4. Panuti-Sudjiman dalam Sugihastuti
1 Yacob Sunardo dan Saini K.M.,Apresiasi Kesusastraan,(Jakarta:GPU,1994),hlm.29 2 Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra,(Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1994),hlm.4 3 Liberatus Tengsoe Tjahjono, Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi, (Ende-Flores: Nusa Indah, 1988), hlm. 138. 4 Adib Sofia dan Sugihastuti, Feminisme dan Sastra: Menguak Citra Perempuan dalam Layar

Kehadiran tokoh tambahan juga memperjelas tema yang hendak diusung oleh pengarang. tokoh antagonis merupakan tokoh yang beroposisi dengan tokoh protagonis. 5 Sugihastuti.. . Dilihat dari segi fungsi penampilan tokoh dalam cerita dapat berupa tokoh protagonis. Adapun tokoh bulat merupakan kebalikan dari tokoh datar. Dari segi cara menampilkan tokoh di dalam cerita. tokoh cerita terbagi atas tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan (periferal). 2003). Tingkah laku tokoh datar bersifat monoton. 17. peristiwa. Sebaliknya. Dari segi intensitas keterlibatannya dalam cerita. hlm. Tokoh datar merupakan tokoh yang lebih dominan ditonjolkan satu kualitas pribadi tertentu. hlm. 7 Sofia. tokoh tambahan hanya sedikit memiliki intensitas keterlibatannya dalam peristiwa cerita. Dari segi kapasitas peran. tokoh utama paling banyak memegang peranan dalam membangun cerita. ia dapat menampilkan watak dan tingkah laku yang bermacam-macam7.. baik secara langsung maupun tidak langsung. 6 Sofia. dam tritagonis. Terkembang. Ibid. yang dimaksud tokoh cerita adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita5. Dengan demikian tokoh merupakan sosok fiksi dalam cerita yang memiliki sifat dan karakter tertentu yang berfungsi membangun jalannya cerita. Hal ini juga dapat dilihat dari intensitas hubungan keterlibatan dengan tokoh lainnya. tokoh bulat lebih menyeruapai kehidupan manusia yang sesungguhnya. Ibid. sedangkan tokoh tambahan merupakan tokoh yang mendukung cerita dan perwatakan tokoh utama6. Keberadaan tokoh-tokoh ini diperlukan agar tingkah laku dan perbuatan. Tokoh protagonis merupakan pengejawantahan dari norma-norma dan nilai-nilai yang ideal bagi pembaca.. 50.mengatakan. Sebagaimana dikatakan Nurgiyantoro melalui Adib Sofia bahwa tokoh utama merupakan tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel. Istilah tokoh tritagonis biasanya mengacu pada tokoh yang menjadi penengah. Abramas dalam Sugihastuti mengatakan bahwa dibandingkan dengan tokoh datar. 15. hlm. hidup dan menarik. Namun kehadiran tokoh tambahan dapat mendukung cerita dan perwatakan tokoh utama. dan hanya mencerminkan satu watak tertentu. dibedakan menjadi dua. Ibid. sederhana. (Bandung: Katarsis. antagonis. yaitu tokoh datar (sederhana) dan tokoh bulat. 16. dan kejadian yang dialami oleh tokoh utama menjadi wajar. hlm.

pikiran dan perasaannya. Mereka berdua aktif dalam organisasi mahasiswa. Metode analitik biasanya pengarang langsung menggambarkan sifat-sifat tokoh. Kehamilan Manen pun membawa 8 Sofia. Pembaca sendiri yang menyimpulkan sifat-sifat tokoh melalui pikiran. independen. Perwatakan dalam tokoh dimanifestasikan oleh pengarang melalui ciri-ciri lahir. Op. doyan pesta. Sementara itu Monang seorang pemuda Batak yang flamboyan. Gadis Manado keturunan Minahasa. Orang tuanya menjunjung “bhineka tunggal ika” dalam keluarga. pengarang tidak menggambarkan sifat-sifat tokoh secara langsung. Pada cara dramatik. cakapan. SINOPSIS Novel “RAUMANEN” Raumanen adalah seorang gadis cantik. Untuk melihat penokohan dalam cerita dapat menggunakan metode analitik. Monang bahkan diharuskan untuk menikahi gadis berdarah Batak murni. Sementara itu orang tua Monang tetap menginginkan anaknya menikah dengan gadis Batak asli. Perasaan yang menyusup perlahan-lahan dan baru mereka sadari setelah menjungkir balikkan semuanya di dunia mereka. Tentu saja lama-kelamaan mereka jatuh cinta. Berbagai tragedi pun terjadi dimulai dari kehamilan Raumanen. . Manen putus asa. Dalam teks biasanya secara eksplisit disebutkan oleh pengarang. sifat dan sikap tokoh. Kuliahnya mulai berantakan.Setiap tokoh dalam cerita memiliki perwatakan yang membentuk perilaku tokoh yang bersangkutan dalam cerita. hlm. rajin. dramatik.. Panuti-Sudjiman dalam Sosia mengatakan bahwa penokohan merupakan cara penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh yang dilakukan oleh pengarang. Adapun metode kontekstual menyimpulkan watak tokoh dari bahasa yang dipergunakan pengarang di dalam mengacu pada tokoh8.Cit. Kejadian itu terjadi saat Manen dan Monang berada di puncak. hasrat. kegiatan dalam organisasinya terbengkalai. Mereka tidak terlalu memikirkan mendapat mantu dari keturunan mana pun. dan perilaku tokoh yang digambarkan pengarang. 18. dan kontekstual. Terlebih lagi Monang telah dijodohkan dengan seorang gadis Batak. Tentu saja Manen tidak diterima dalam keluarga mereka. pertengkaran dengan Monang pun semakin sering terjadi. bermobil sedan mengkilap mewah merek Impla memiliki keluarga yang amat menjunjung tinggi adat istiadat.

Ada kalanya mereka setuju dengan sesuatu. Ada Patrik. Sampai di akhir cerita. ibu Monang tetep tidak menyetujui hubungan itu. orang tua Monang. Maka sore itu ia putuskan untuk mengakhiri hidupnya. Gadis Manado keturunan Minahasa. rajin. Pada ketiga tokoh ini. Adapun yang merupakan tokoh bulat dengan menampilkan watak dan tingkah laku yang bermacam-macam adalah Manen. tapi ada kalanya . Ada pula orang tua Manen. 2. Orang tuanya menjunjung “bhineka tunggal ika” dalam keluarga. Raumanen adalah seorang gadis cantik. independen. bahkan membawa kematian bagi keduanya. si juru rawat Miss Roёll. diceritakan bahwa mereka memiliki tingkah yang bermacammacam. Sementara itu Monang seorang pemuda Batak yang flamboyan. Dari segi cara menampilkan tokoh di dalam cerita Banyak terdapat tokoh datar dalam cerita ini. Ilyas. Hilda saudara sepupu Manen. Begitu pula halnya dengan ibu Monang. bermobil sedan mengkilap mewah merek Impla memiliki keluarga yang amat menjunjung tinggi adat istiadat. Monang. doyan pesta. Mereka tidak terlalu memikirkan mendapat mantu dari keturunan mana pun. dan teman-teman Manen yang lain. Ia tidak menyetujui hubungan Manen dan Monang hanya karena Manen bukanlah gadis berdarah Batak murni. karena jika hamil ia akan menjadi buta. Monang bahkan diharuskan untuk menikahi gadis berdarah Batak murni. seperti halnya watak teman-teman Raumanen yang lebih cenderung untuk menentang hubungan Manen dengan Monang.efek yang tidak baik bagi tubuhnya. Miss Roёll. Philip teman sekaligus dokter yang memeriksa Manen. Analisis 1. adik-adik Monang. Dalam cerita ini. teman-teman Manen itu sangat tidak menyukai hubungan dua tokoh utama. yaitu manen dan Monang. serta beberapa gadis yang pernah dikencani Monang. serta masih banyak lagi tokoh-tokoh yang muncul hanya sekilas. Ada juga Loce dan Tiur. atau anak yang ia lahirkan akan cacat. Dilihat dari kapasitas perannya Tokoh utama dalam novel ini adalah Raumanen dan Monang. Sedangkan tokoh tambahan dalan novel ini cukup banyak.

suka mempermainkan perasaan perempuan. doyan pesta. . bahkan menghajar Monang karena perbuatannya terhadap Raumanen. juga membantu kesulitannya. Tokoh antagonis dalam cerita ini diantaranya Monang dan Ibunya. yang menyebabkan rusaknya hubungan Monang dan Manen. Salah satunya adalah Philip. Hal ini pula yang menyebabkan kematian Raumanen. Dalam novel ini banyak terdapat tokoh-tokoh protagonis. Ada beberapa tokoh yang menjadi tokoh tritagonis sebagai penengah. dokter sekaligus teman Manen. 3. Dilihat dari segi fungsi penampilan tokoh dalam cerita Tokoh protagonis merupakan pengejawantahan dari norma-norma dan nilai-nilai yang ideal bagi pembaca. Monang merupakan seorang flamboyan. Dokter Philip juga yang menyarankan Raumanen agar menggugurkan kandungannya karena jika ia tidak melakukan itu maka manen akan meninggal. Sedangkan ibu Monang adalah orang yang menginginkan anaknya untuk menikah dengan perempuan Batak murni. Ia juga orang yang berani untuk menegur. Seperti halnya teman-teman manen yang selalu mau membantu satu sama lain.mereka menentang. Sifat-sifat ini tidak layak untuk ditiru pembaca. Ia menjadi tempat Manen mencurahkan perasaannya saat mengetahui bahwa ia hamil setelah berhubungan intim dengan Monang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful