ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Epistemologi adalah cabang dari filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode dan sahnya pengetahuan. Apa pengetahuan itu, apa yang merupakan asal mula pengetahuan, bagaimana cara mengetahui, bagaimana membedakan pengetahuan dengan pendapat, corakcorak pengetahuan apa yang ada, bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan apakah kebenaran itu, kesesatan itu. Bila disimpulkan maka persoalan epistemologi berkaitan dengan sumber-sumber pengetahuan, hubungan pengetahuan dengan obyek pengetahuan, serta terutama dengan psikologi (cara pemerolehan pengetahuan). Metode metode yang biasa digunakan untuk memperoleh pengetahuan terkristalisasi dalam beberapa aliran antara lain sebagai berikut. Aliran Empirisme yang dipelopori oleh John Locke, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman langsung dengan cara mengobservasi obyek. Kalau kita ingin mengetahui tentang warna-warna, maka tak ada jalan lain kecuali harus dengan melihatnya dengan mata kepala. Aliran kedua adalah Rasionalisme yang dipelopori oleh Spinoza dan Descartes memberikan penjelasan bahwa ilmu pengetahuan dapat diketahui melalui cara-cara berfikir deduktif. Aliran ketiga adalah Fenomenalisme yang dipelopori oleh Kant, yang berusaha mengidentifikasi kedua aliran tadi, dan kemudian menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bisa diperoleh dengan kedua cara itu, dengan memperhatikan jenis pengetahuan yang ada. Menurutnya terdapat empat jenis pengetahuan, yakni pengetahuan analisis a priori, pengetahuan sintesis a priori, pengetahuan analisis a posteri, dan pengetahuan sintesis a posteri. Pengetahuan a priori dapat diperoleh secara rasional-deduktif, namun untuk pengetahuan a posteri harus melalui pendekatan empiris. Aliran keempat adalah Intuisionisme, yang dipelopori oleh Bergson menyatakan bahwa pengetahuan bisa diperoleh melalui intuisi dengan jalan kontemplasi. Sifat dari pengetahuan intuisi ini lebih halus, diperoleh secara cepat dan langsung tanpa media. Kelemahan dari metode ini adalah tidak dapat ditransformasikan maupun diuji validitasnya. Aliran kelima adalah metode ilmiah, yang terbagi menjadi idealisme epistemologis, realisme epistemologis, representasionisme, dan pragmatisme. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai pada umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan. Dalam hal ini ada beberapa bidang pertanyaan, apakah nilai itu instrinsik ataukah instrumental. Yang kedua adalah teori yang mengatakan bahwa nilai merupakan kualitas empiris yang tak dapat didefinisikan. Yang ketiga adalah teori bahwa nilai sebagai obyek suatu kepentingan. Dan yang terakhir adalah teori pragmatisme mengenai nilai.
http://academia-mdz.blogspot.com/2008/03/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html, Jumat, 14 Oktober 2011 pukul 17.32 WIB

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? . Ilmu di kacaukan dengan seni. Sedang yang ketiga. seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Hal ini memungkinkan kita mengenali berbagai pengetahuan yang ada seperti ilmu. berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya. ilmu dikonfrontasikan dengan agama. landasan ini akan menjawab. Denganb mengetahuan jawaban-jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia. Kedua di sebut dengan landasan epistimologis. di sebut dengan landasan aksiologi. EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat.ONTOLOGI. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. yang pertama di sebut landasan ontologis. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya.

idealisme. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu.PEMBAHASAN A. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua. dan abstraksi metaphisik. naturalisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi. yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme. tealaahnya akan menjadi kualitatif. 1. Bagi pendekatan kuantitatif. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. yaitu : abstraksi fisik. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal. realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah. . yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi Objek telaah ontologi adalah yang ada. atau dalam rumusan Lorens Bagus. menampilkan pemikiran semesta universal. pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Studi tentang yang ada. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Ontologi membahas tentang yang ada. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. 2. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme. atau hylomorphisme. abstraksi bentuk.

term tengah ada sesudah realitas kesimpulan. Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi dan peluang. Epistemologi Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. B. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.[2] Sementara Jujun S.Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat. Memang sebenarnya. Contoh : Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri Jadi. sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek. term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan. kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut. badan itu fana’ (S-Tt) (S-P) Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (Tt-S) (Tt-P) (S-P) Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya . dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan Jadi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan.

b. bapak empirisme Britania. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan. maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?[3] Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan a. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama. Manusia tidak lah memiliki pengetahuan yang sejati.yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. John Locke. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan. Empirisme Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual. yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material.kepastian. mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa). atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertamapertama dan sederhana tersebut. Menurut Locke. Rasionalisme .dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.

pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Kant membuat uraian tentang pengalaman. melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu.Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Fenomenalisme Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. artinya. atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan. Salah satu di antara unsut-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan . karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. Intusionisme Menurut Bergson. tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Baran sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Analisa. c. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaanya sendiri. paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. d. intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita.

” melainkan faust yang menciptakan Goethe. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. e. atau dengan perkataan lain. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri. Aksiologi Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi. tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman.bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisa. namun bagi ilmuan yang . intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri. Hendaknya diingat.” Menghadapi kenyataan seperti ini. barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita. atau dengan perkataan lain. Mereka mengatakan. yaitu kenyataan. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus. Galileo dan ilmuwan seangkatannya. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. C.

dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga. Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Galileo (1564-1642). pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama. oleh pengadilan agama tersebut. “asalkan kau mampu menemukannya. Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional?[4] . keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?). Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. sedangkan di pihak lain. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. “segalanya punya moral.” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib.

Aksiologi menjawab. merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?.PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : 1. Ontologis. 2. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?[5] . 3.

Louis O. Pustaka Sinar Harapan. Pengantar filsafat. 1996. 1996. 1995. Pustaka Sinar Harapan. Jumat.tripod. Suriasumantri. 14 Oktober 2011 pukul 17. 2001 [3] Louis O. Yogjakarta. [4] Jujun S. . Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Kattsouff. Tiara Wacana. Pengantar filsafat. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogjakarta.htm. http://kecoaxus. 2001. Penerbit Rake Sarasin. Dr. Suriasumantri. Tiara Wacana. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogjakarta Sidi Gazalba. Filsafat Ilmu. Kattsouff. Pustaka Sinar Harapan. H. Yogjakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 34-35. 1996. Prof.47 WIB . hal. 34-35. Noeng Muhadjir. hal. Jakarta. Yogjakarta. Suriasumantri. Jakarta. 1996.DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Jakarta. [1] Jujun S. [5] Jujun S. Noeng Muhadjir. Hal. Suriasumantri. hal. 1996. Sistematika filsafat II. 135136.com/filsafat/pengfil. Filsafat Ilmu. [2] Prof. Dr. 34-35. Penerbit Rake Sarasin. H.