P. 1
Penyuluhan Pertanian - Perilaku Petani (Contoh kasus)

Penyuluhan Pertanian - Perilaku Petani (Contoh kasus)

|Views: 1,027|Likes:

More info:

Published by: Wendi Irawan Dediarta on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

PENYULUHAN PERTANIAN

Semester VI tahun ajaran 2010/2011

PERILAKU PETANI DALAM PENGELOLAAN USAHATANI DI KELOMPOK TANI “TANI MAKMUR DAN TANI REJEKI” KECAMATAN NGRAMPAL, KABUPATEN SRAGEN, JAWA TENGAH

Disusun Oleh Kelompok 2 : Wendi Irawan D Dedy Napitupulu Anissa Wahyurani Rina Paramita 150310080137 150310080138 150310080139 150310080140

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Perilaku petani dicerminkan dalam tindakan sehari-hari baik dalam lingkungan seperti keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan. Tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendarah daging disebut dengan perilaku. Kebiasaan ini akan berlangsung terus menerus. Perilaku ini juga dapat mempengaruhi cara berfikir petani dalam pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak dulu itu, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani merasa membutuhkan, oleh karena itu timbul suatu dorongan atau semacam motivasi yang ada di dalam diri mereka. Menurut Maslow (1994) dorongan atau kebutuhan atau keinginan sebenarnya tidak mungkin tidak akan pernah dikaitkan dengan suatu landasan khusus, tersendiri, dan ditempatkan secara jasmaniah. Keinginan yang sebenarnya lebih banyak merupakan kebutuhan orang itu sepenuhnya. Setelah motivasi itu timbul maka petani berusaha untuk melakukan pengelolaan usaha tani secara terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan inilah yang menimbulkan perilaku. Melihat kenyataan seperti itulah maka petani khususnya di Indonesia berusaha untuk meningkatkan produksi pertanian agar dapat memenuhi kebutuhan bagi hidupnya baik itu kebutuhan jasmaniah maupun rohaniah. Melalui peningkatan pengelolaan usahatani mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama penyakit dan

pemungutan hasil yang biasa disebut dengan pemanenan.

1.2 Kondisi Umum Petani Desa Klandungan Kecamatan Ngrampal Kelompok tani rejeki mulai ada sejak diberlakukannya sistem kerja LAKU (Latihan dan Kunjungan) oleh pemerintah yaitu terhitung sejak tahun 1979. Pada saat itu PPL mengunjungi tiap wilayah yang ada untuk mensukseskan program pemerintah pada saat itu. Penyuluh yang mengunjungi desa Klandungan ini

bernama Bapak Mulyadi. Sudah sejak dulu Bapak Mulyadi mengadakan penyuluhan di desa tersebut hingga sekarang ini. Semenjak terjadi serangan hama wereng coklat di Indonesia maka diadakan SLPHT (Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu) maka sistem kerja LAKU diganti dengan SLPHT pada tahun 1993. Kelompok tani rejeki adalah kelompok tani yang dibentuk oleh Penyuluh Lapang, dengan bantuan dari ketua kelompok tani yaitu Bapak Bari yang kala itu sudah menjabat sebagai ketua kelompok tani hingga sekarang ini, dan yang tidak kalah penting yaitu dukungan masyarakat petani yang menginginkan dibentuknya suatu wadah atau forum bersama antar petani guna membicarakan masalahmasalah yang sedang dihadapi oleh petani. Adanya penyuluhan yang hingga sekarang ini sangat membantu petani dalam menyusun RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Keloompok Tani) mengenai pembelian pupuk subsidi dari pemerintah. RDKK diusahakan oleh pemerintah untuk memsubsidi pupuk kepada petani melalui kelompok tani yang ada. RDKK disusun tiap ada kebijakan baru mengenai harga pupuk yang disubsidi oleh pemerintah. Penyusunannya dilakukan tiap ada pertemuan dengan kelompok tani. Keuntungan petani ikut dalam penyuluhan ini, yaitu dapat sharing atau sekedar menanyakan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka biasa melakukan pertemuan rutin tiap Jumat Legi di dukuh Macanmati yaitu rumah ketua kelompok tani setempat. Jumlah anggota dari kelompok tani rejeki adalah 79 orang. Pada dasarnya petani di desa Klandungan masih tergolong petani yang tradisional. Dari data observasi yang saya peroleh selama magang, petani adalah pekerjaan pokok bagi mereka. Luas lahan pertanian secara keseluruhan ada sekitar 52,6 Ha, dan masing-masing petani hanya mempunyai luas lahan hanya sekitar 0,5-1 Ha. Menurut hasil wawancara secara mendalam dengan ketua kelompok tani yaitu Bapak Bari, petani disana adalah yang hanya puas dengan kehidupan mereka saat ini. Mereka tidak mau repot dengan pekerjaan mereka. Apa yang dikerjakan pendahulu mereka, maka mereka akan mengikuti sampai sekarang ini. Petani kebanyakan adalah petani yang berusia tua dan mengerjakan lahannya sendirian tanpa bantuan dari anak-anaknya. Alasannya anak-anak mereka cenderung

“segan” untuk bekerja di sawah. Para pemuda lebih memilih untuk menganggur daripada bekerja di sawah. Karakteristik atau ciri petani dalam pengelolaan usahatani mengalamai kesamaan dengan kehidupan mereka sehari-hari yaitu tidak mau berubah dan tidak mau repot. Meskipun penyuluh lapang Bapak Mulyadi sudah berusaha keras untuk mengadakan penyuluhan yang diadakan tiap Jumat Legi, petani menerimanya dengan istilah jawanya “masuk kuping kanan keluar kuping kiri”. Terbukti hasil panen petani yang saat ini merosot tajam hingga 50 %. Dengan keadaan yang sudah dialami oleh petani, akan sedikit membuka pengertian petani untuk tidak memaksakan dirinya sendiri atau membenarkan dirinya sendiri dan berusaha untuk mau mendengarkan pendapat orang lain dalam hal ini adalah penyuluh setempat.

1.3 Kondisi Umum Petani Desa Kebonromo Kecamatan Ngrampal Kelompok tani Makmur dipimpin oleh ketua kelompok tani yang bernama Bapak Darsono, meskipun sudah bertahun-tahun menjadi ketua kelompok tani makmur, Bapak Darsono masih sangat bersemangat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat petani desa Kebonromo melalui suatu usahanya bersama wakil ketuanya yaitu Bapak Agus yang lebih muda darinya melalui kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini biasa dilakukan di Balai Desa Kebonromo, dan diadakan tiap 2 minggu sekali. Sumber materi penyuluhan berangkat dari kebutuhan masyarakat petani setempat. Materi yang biasa disampaikan adalah mengenai penanganan tentang hama dan penyakit tanaman. Kegiatan penyuluhan biasa dihadiri oleh anggota kelompok tani, ketua kelompok tani beserta perangkatnya dan individu kunci yang ditunjuk oleh Petugas penyuluh lapang setempat. Kegiatan penyuluhan yang ada di desa Kebonromo ini mempunyai perbedaan dengan penyuluhan yang ada di desa Klandungan, karena di desa ini penyuluh kurang berperan aktif dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluh hanya melakukan metode dengan mendekati individu kunci, setelah itu diharapkan individu kunci dapat menyampaikan langsung kepada anggota kelompok tani. Alasan dari penyuluh tersebut dikarenakan penyuluh sudah menganggap bahwa kelompok tani di desa Kebonromo sudah

maju, karena kita bisa melihat dari mata pencaharian petani hanya dijadikan sebagai mata pencaharian sampingan, banyak petani di desa tersebut bermata pencaharian sebagai pegawai negeri, wiraswasta, pensiunan, dan pedagang di kota. Hal ini juga terlihat dari cara berfikir petani setempat lebih maju daripada petani di desa Klandungan. Dilihat dari kesejahteraan, kesehatan, perumahan, petani yang ada di desa Kebonromo lebih maju. Petani di desa Kebonromo selalu berfikiran positif dan mempunyai keingian kuat untuk berusaha dengan giat terhadap apa yang mereka perbuat, hal ini terbukti dengan mereka selalu berusaha untuk mencoba menanam komoditas lain selain padi, mereka juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan banyak biaya agar usahanya tersebut dapat berhasil. Begitu pula dalam hal kegiatan penyuluhan mereka mendengarkan dan menghargai perkataan para pakar atau petani lain dalam memberantas hama dan penyakit tanaman. Latar belakang pendidikanlah yang membuat mereka mempunyai pandangan semacam itu.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perilaku Petani dalam Pembibitan Menurut Soemartono, (1980) benih bermutu tinggi berasal dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tinggi rendahnya hasil per satuan luas suatu pertanaman. Oleh karena berbeda dengan kekurangan pupuk, kekurangan obat-obatan pembasmi hama dll, yang sering dihebohkan, kekurangan benih jarang sekali digunjingkan orang. Padahal apakah artinya pupuk, obat-obatan itu jika tidak ada benih atau bibit unggul. Kesadaran petani akan pentingnya bibit atau benih unggul mulai bangkit dengan perilaku mereka yang mampu membeli harga bibit di sarana-sarana pertanian setempat walaupun dengan harga yang tinggi. Bibit diperoleh petani di kedua desa di toko-toko pertanian setempat dan dari hasil panen sebelumnya yang dipilih benihnya. Sedangkan pemindahan bibit dari persemaian dilakukan pada umur 4-5 minggu. Umumnya mereka memindahkan bibit lahan ditentukan oleh jenis varietas padi yang dipertanamkan. Menurut mereka umur bibit yang terlalu tua akan membawa pengaruh atau dampak yang buruk terhadap pembentukan tunas dan jumlah anak tunas akan berkurang.

2.2 Perilaku Petani dalam Penanaman Padi harus terlebih dahulu disemai dengan baik. Cara penaburan benih di kedua desa hampir sama yaitu dengan menaburkan serata mungkin yang berupa butiran gabah yang dikecambahkan terlebih dahulu. Sedangkan dengan cara larikan banyak dipraktekkan oleh petani desa Klandungan. Petani di desa Klandungan dan Kebonromo mengolah sawahnya dengan cara tradisional dan moderen. Cara tradisional dilakukan dengan membersihkan jerami-jerami atau rumput-rumput yang ada, pencangkulan agar tanahnya menjadi lunak, pembajakan untuk mematikan rumput atau membenamkan bahan-bahan organik, dan penggaruan yang dilakukan secara berulang-ulang. Cara moderen

dilakukan dengan mesin traktor. Penanaman dengan cara moderen dilakukan dengan menggunakan larikan dari kiri ke kanan dengan jarak 20 X 20 cm. Menurut DR Rahardian Siregar, (1981) mengatakan bahwa biasanya cara menanam padi ditunggalkan dengan jarak tanam dikira-kira 30 X 30 cm, dan tiap lubang diiisi 5-8 biji. Banyaknya benih yang dipakai kurang lebih 45 kg padi. Jenis-jenis padi yang dipergunakan ialah jenis-jenis padi tanah kering, yang termasuk golongan bulu maupuncereh. Selesai ditanam padi dibiarkan tumbuh dengan tiada mendapat perawatan sama sekali. Hanya menyulam saja yang perlu dilakukan.

2.3 Perilaku Petani dalam Pengolahan Usahatani a. Pengairan Pengairan yang dilakukan di desa Klandungan dengan cara tadah hujan yang hanya mengandalkan adanya hujan saja dan sistem pompanisasi yang diperoleh dengan cara bergiliran dari satu petani ke petani yang lainnya. Pengairan di desa Kebonromo menggunakan irigrasi teknis yang diperoleh dari program pemerintah dengan membayar iuran Rp 2500/ha untuk tiap warga. Pengairan adalah suatu usaha untuk memberikan air guna keperluan pertanian, pemberiannya dilakukan secara tertib dan teratur untuk daerah pertanian yang membutuhkannya, Areal sawah menurut pengairannya dapat dibagi dalam beberapa golongan, yaitu sawah irrigasi, sawah irrigasi desa dan sawah tadah hujan (Siregar, 1981). b. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 kali di desa Kebonromo dan desa Klandungan yaitu pada penyiangan pertama dilakukan pada 10-20 hari dan penyiangan kedua dilakukan pada umur 20-30 hari. Dengan menggunakan garu atau landak. Tenaga penyiangan dari warga desa setempat, biaya yang dikeluarkan petani pada umumnya adalah Rp 12.500/orang. Penyiangan dan pemupukan sebaiknya diberikan 2 kali, biasanya pupuk buatan diberikan pertama kali pada waktu padi berumur kurang lebih 3 minggu dan kedua kalinya pada waktu menyiang kedua (umur padi ± 1 ½ bulan). Bila tanaman sudah mulai bunting jangan diberi pupuk lagi (Soemartono, 1980).

c. Pemupukan Pupuk alam, diberikan 7-10 hari sebelum tanam dengan pupuk hijau, pupuk kandang dan kompos. Pupuk buatan, diberikan sesudah tanaman misalnya ZA, Urea, DS/TS dan ZK. Di desa Klandungan pemupukan dilakukan 3 kali Pemupukan I dilakukan pada saat tanaman padi berumur 0-12 hari dengan ZA, Urea sedikit, SP 36 sedikit. Pemupukan ke II dilakukan pada umur 16-20 hari dengan pupuk yang sama. Rata-rata pupuk yang digunakan untuk urea sebanyak 300 kg/ Ha, ZA 100 kg/ Ha, SP 36 150 kg, KCL 50 kg. Petani di Kebonromo menemui masalah dalam hal pemupukan pada saat kondisi ingin menambah ZA persediaan di lapang sudah tidak ada atau habis sehingga terpaksa harus memakai Urea. Pemupukan ke III dilakukan pada umur 35 hari dan dengan jenis pupuk yang sama. Dikutip dari www. deptan.com, deptan mengemukakan bahwa memupuk pertanaman pada umumnya sebagai usaha untuk menambah penghasilan. Pupuk organik yang digunakan oleh manusia sejak dulu kala adalah pupuk kandang. Sedangkan pupuk anorganik yang sering digunakan diperoleh dengan pengolahan bahan alam yang mengandung zat hara N, P, dan K. yang fungsinya adalah dapat memperkaya tanah dengan salah satu zat hara yang dikandungnya.

2.4 Perilaku Petani dalam Pemupukan Menurut penelitian Dr. Ir. Go Ban Hong dalam bukunya Soemarsono, (1980) menjelaskan bahwa dengan panen sebesar 4000 kg padi/ha, terdapat kehilangan sejumlah 32 kg N, 36 kg P2O5, 21 kg K, 5 kg Mg, 1 kg Ca, dan 200 kg SiO2. Untuk itu diperlukan 350 kg ZA, 120 kg ES dan 400 kg ZK, tetapi lebih gampang dipakai satu macam pupuk saja, yang mengandung ketiga unsure itu, yaitu : pupuk majemuk 9 komponen NPK. Pupuk majemuk N, P, dan K perbandingannya 15 : 15 :15 artinya mengandung 15 % N, 15 % P2O5, dan 15 % K2O. Di daerah Klandungan dan Kebonromo, anjuran dosis pupuk yaitu 35 Kg, dan kenyataan di sana petani memakai dosis pupuk urea, SP 36, dan KCl sebesar 25 Kg. petani tidak mau mengikuti anjuran dosis pupuk karena mereka tidak mau

mengambil resiko dalam budidaya tanaman padi. Mereka merasa sudah berpengalaman. Dengan dosis yang dianjurkan tersebut, menurut mereka tidak sesuai dengan kondisi tanamannya.

2.5 Perilaku Petani dalam Pengendalian Hama Penyakit Beberapa hama/penyakit pengganggu yang menyebabkan kerugian pada tanaman padi antara lain : a. burung burung menyerang padi pada saat tanaman padi sedang menguning b. walang sangit walang sangit menyerang padi pada saat masih muda, dengan jalan mengisap padi yang sedang masak susu. Dapat diberantas dengan disemprot menggunakan DDT atau disuluh (dipasang lampu) sehingga mereka tertarik dan berkumpul pada cahaya lampu tersebut. c. tikus tikus dapat merusak areal yang luas dalam waktu yang tidak lama, sehingga kerugian yang ditimbulkan amat besar. Tikus dapat diberantas dengan gropyokan atau dengan memberi umpan berupa ketela dan jagung yang dicampur dengan phospit. d. ulat serangga serangga-serangga itu bertelur pada daun, apabila menetas, ulatnya masuk batang dan daun. Cara pemberantasannya harus disemprot dengan obat-obat insektisida, misal : DDT, Aldrin, Endrin, Diazinon, dsb. Sedangkan di desa Klandungan dan Kebonromo hama atau penyakit tanaman yang paling sering dijumpai adalah hama ulat serangga yang masih bias ditangani oleh petani. Menurut DR Hadrian Siregar dalam bukunya Budidaya Tanaman Padi di Indonesia mengemukakan waktu yang terbaik untuk menyemprotkan endrin itu adalah di waktu pagi hari dimana binatang tersebut masih terlalu malas untuk berterbangan ke mana-mana. Sedangkan dalam bidang penelitian yang menyangkut penggunaan berbagai macam racun untuk membasmi serangga itu dapat dikatakan bahwa para ahli di IRRI telah menemukan suatu macam racun dengan nama Corbofuran atau Furadan yang menjaga keselamatan

padi dari serangga penggerek batang (hama sundep maupun beluk). Di waktu dahulu memang sudah terbukti bahwa endrin juga dapat menghindarkan tanaman dari serangan hama sundep atau hama beluk dengan cara menyemprotkan racun itu ke pertanaman.

2.6 Pemanenan Pemanenan di kedua desa yaitu di Klandungan dan Kebonromo mengalami kegagalan hampir 50 % hal ini disebabkan karena kesalahan dalam mendiagnosa suatu penyakit tanaman. Mereka mengira kalau penyakit yang mempunyai gejala kemerahan itu adalah disebabkan karena bakteri. Penyuluh setempat sudah bisa mengira kalau itu adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya jamur. Sehingga panennya turun. Biasanya petani di kedua desa menggunakan tenaga bantuan untuk memanen. Hasil panennya ditebaskan. Menurut Soemartono, (1980) mengemukakan bahwa waktu panen yang tepat adalah dilakukan pada fase menguning (bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah yang hijau). Sebab pada fase ini hasilnya adalah yang tertinggi. Selain itu juga mengurangi rontoknya gabah, daripada kalau dipanen pada fase lewat masak. Cara panen dilakukan secara bersama-sama dengan bantuan petani yang lainnya.

2.7 Perilaku Petani dalam Pemasaran Hasil Hasil panen di desa Klandungan dan Kebonromo biasanya ditebaskan pada tengkulak alasannya mereka sudah tidak mau repot lagi. Mereka sebenarnya bias memasarkan hasil panennya sendiri akan tetapi mereka tidak mau direpotkan oleh hal-hal yang membuat kepala mereka pusing. Mereka lebih suka pada hal-hal yang sifatnya praktis. Menurut Soemartono, (1980) menjelaskan bahwa pemasaran beras yang tidak efisien mempunyai pengaruh langsung terhadap tingkat produksi. Apabila harga beras yang tinggi di kota-kota tidak diteruskan kepada petani dan selama beberapa musim para produsen memperoleh harga yang rendah, maka tidak ada perangsang untuk meningkatkan produksi. Demikian pula akibatnya bilamana pemasaran hanya melalui beberapa pembeli, sehingga harganya turun.

Analisis Perilaku Petani Dalam Pengelolaan Usahatani Di Kelompok Tani “ Tani Makmur Dan Tani Rejeki” Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen

1. Perilaku petani dicerminkan dalam tindakan sehari-hari baik dalam lingkungan seperti keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan, serta merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang. 2. Perilaku unik yang banyak ditemukan adalah petani tidak mau repot dalam pengelolaan usahatani mereka. 3. Perilaku petani dalam Pembibitan di kedua desa adalah mereka biasa membeli benih dari toko-toko pertanian dan dipilih yang mempunyai varietas yang unggul dan bibitnya disemaikan terlebih dahulu selama 4-5 minggu. 4. Perilaku petani dalam Penanaman di kedua desa adalah dengan menggunakan larikan dari kanan ke kiri dengan jarak tanam 20 X 20 cm dan penanamannya harus tegak lurus dan tidak boleh miring pada tanah yang tidak terlalu dangkal tau terlalu dalam. 5. Perilaku petani dalam Pengelolaan usahatani di kedua desa berbeda dalam hal pengairannya yaitu dengan menggunakan saluran irigrasi teknis untuk desa Kebonromo dan tadah hujan dan pompanisasi untuk desa Klandungan. Sedangkan untuk Penyiangan dan Pemupukannya hampir sama di kedua desa. 6. Perilaku petani dalam Pemupukan di kedua desa adalah tidak sesuai dengan dosis anjuran hal ini disebabkan karena pemakaian pupuk yang berlebih dengan semakin langkanya pupuk dan harganya melambung tinggi sehingga pemakaiannya dikurangi. 7. Perilaku petani dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman di kedua desa adalah membasmi hama berupa serangga, ulat, sundep dengan menggunakan Endrin, Fenval, Serpa, dan Reagent. Sedangkan untuk Organisme Penggangu Tanaman (OPT) yang menyebabkan gagal panen adalah dengan menggunakan fungisida. 8. Perilaku petani dalam Pemanenan di kedua desa dengan menggunakan sistem tebasan yang biasa mereka lakukan.

9. Perilaku petani dalam Pemasaran Hasil yaitu dikedua desa sama-sama ditebaskan pada tengkulak. 10. Peran Penyuluh seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal, hal ini terlihat saat penyuluh memberikan suatu pemecahan masalah, petani tidak mau mendengarkan, seperti pada perilaku petani yang ada di Desa Klandungan dimana hasil panennya merosot 50 %, Perilaku yang demikian ini sangat tidak baik, hanya dapat merugikan petani sendiri. Seandainya mereka mau untuk mengubah perilaku yang demikian itu maka gagal panen tidak akan dirasakan oleh petani. Melihat kejadian seperti itu di kehidupan yang nyata maka tidaklah heran kalau teori tentang perilaku seseorang akan dapat mempengaruhi cara berfikir seseorang.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Perilaku seseorang itu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan dan status sosial seseorang. Penyuluhan antara pendekatan kelompok yang ada di Klandungan dengan pendekatan individu kunci di desa Kebonromo lebih efektif pendekatan kelompok alasannya penyuluh dapat melihat secara langsung kondisi petani, baik itu masalah-masalah yang sedang dihadapi ataupun kendala-kendala yang muncul dalam pengelolaan usahatani. Akan tetapi pendekatan dengan individu kunci juga efektif mengingat kondisi latar belakang pendidikan dan status sosial masing-masing desa dampingan.

4.2 Saran 1. Kedua desa sulit untuk merubah perilakunya, karena itu perlu adanya berbagai pertemuan-pertemuan baik formal dan non formal secara kontinue antara petani, kontak tani, dan penyuluh untuk mendiskusikan permasalahanpermasalahan yang sedang dihadapi petani dan penemuan-penemua inovasi baru yang bias menguntungkan petani dalam budidaya tanaman padi. 2. Penyuluhan dengan menggunakan pendekatan secara perorangan perlu dilakukan secara terus menerus kepada kelompok tani rejeki di desa Klandungan agar peran penyuluh bisa dimanfaatkan secara optimal dan petani dapat meningkatkan sedikit demi sedikit kepercayaan mereka pada penyuluh. 3. Desa Kebonromo disamping penyuluhannya dilakukan dengan mendekati individu kunci juga perlu ditambah dengan penyuluhan dengan menggunakan metode pendekatan kelompok agar penyuluh secara langsung dapat

memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh petani di desa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, Agus. 2002. Budidaya Padi Secara Organik. Penebar Swadaya. Jakarta. Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Bumi Aksara. Jakarta. Heckman dan Hunneryager. 1992. Motivasi dan Perilaku. Dahara Prize. Semarang. Kartasapoetra, A.G. 1988. Budidaya Tanaman Padi di Lahan Rawa Pasang Surut. PT Bina Aksara. Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->