P. 1
Betawi

Betawi

|Views: 1,454|Likes:
Published by yaman-indonesia

More info:

Published by: yaman-indonesia on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2014

pdf

text

original

Dalam membicarakan religi termasuk pula sistem kepercayaan yang menyatakan
hubungan antara manusia dengan alam semesta beserta tindakan manusia tersebut.
Kepercayaan juga diperlukan karena untuk melangsungkan kehidupan di dunia dengan
selamat, orang Betawi percaya akan adanya beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat
kehidupan dapat diartikan sebagai keyakinan religius yang dijalankan dalam suatu bentuk
tindakan.

Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama
Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali.

a. Islam dalam Kehidupan Betawi

Selain kedua versi tersebut di atas, para ahli mengatakan bahwa orang Arab
yang ke Indonesia berasal dari Hadramaut, yang selain untuk berdagang juga
bertujuan menyebarkan agama. Ajaran agama Islam yang dibawa merupakan
perpaduan antara unsur-unsur Arab, unsur India selatan, dan unsur setempat.
Orang Betawi yang memeluk agama Islam terbagi dalan dua golongan, yaitu
golongan mu’alim, yakni golongan orang yang taat pada ajaran-ajaran agama dalam
arti mereka menjalankan prinsip dasar agama Islam dengan baik dan teratur, serta
golongan orang biasa, golongan orang yang tidak terlalu taat menjalankan prinsip-
prinsip agama Islam. Golongan kedua dapat disejajarkan dengan abangan di Jawa.

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 20

Baik bagi golongan mu’alim maupun golongan orang biasa, pedoman utama
mereka adalah Islam. Pada masa penjajahan sampai dengan awal kemerdekaan, Islam
menjadi pedoman hidup orang Betawi, sebenarnya justru menghambat kemajuan
mereka. Pada masa itu, pendidikan formal dianggap sebagai kafir karena berasal dari
Belanda. Dengan demikian perasaan anti kafir identik dengan anti sekolah.
Kebudayaan Betawi tersebut sudah tidak lagi menjadi ciri identitas kebudayaan
Betawi masa kini. Sedangkan, perkembangan kota Jakarta sebagai ibukota negara
dengan sapek pembangunan dan modernisasinya yang berjalan amat cepat menuntut
keahlian professional, yang mungkin masih belum terkejar oleh kamajuan-kemajuan
yang telah dicapai oleh sebagian besar orang Betawi.

b. Kepercayaan akan Roh, Hantu, Jin, dan Kekuatan Gaib

Orang Betawi sering melakukan upacara sehubungan dengan kepercayaan
terhadap adanya roh-roh. Dalam upacara tersebut banyak digunakan sajian yang
dipersembahkan misalnya, supaya para tidak marah arena tempat mereka tinggal akan
ribut oleh pertunjukan yang diadakan.
Selain kepercayaan akan adanya roh, orang Betawi mengenal pula “keramat”,
yaitu kuburan orang tertentu yang dianggap baik dan rohnya dapat membantu
kegiatan manusia. Sehingga “keramat” sering didatangi untuk dimintai restunya.
Tempat-tempat lain yang dianggap keramat adalah pohon beringin, sumur, dll.
Roh jahat dapat berasal dari manusia. Misalnya kuntilanak, yaitu roh wanita
yang mati ketika hamil. Roh ini sering menganggu wanita yang sedang hamil, dan
sebagai penangkalnya wanita-wanita Betawi yang hamil, bila hendak bepergian
terutama pada malam hari, dianjurkan untuk membawa benda-benda tajam seperti
gunting dan jarum, supaya roh jahat itu takut. Selain itu, ada hantu yang disebut tuyul,
yaitu roh jahat yang berbentuk anak-anak yang kepalanya berjambul dan sering
digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memperkaya diri, karena tugasnya
mencarikan uang bagi orang yang memeliharanya.
Beberapa orang Betawi memelihara anak ambar yang berupa roh. Anak ambar
ini dipelihara di kamar khusus yang di dalamnya diberi perlengkapan-perlengkapan
serba mini, seperti tempat tidur kecil beserta kelambunya, bantal, guling, selop kecil
serta diberi pula sajian. Orang yang memelihara anak ambar akan berdoa dalam
kamar khusus ini apabila ia akan memulai suatu pekerjaan yang dianggapnya penting
atau keluarag mendapat musibah. Pemelihara anak ambar ini juga dapat memberi air

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 21

putih yang dapat berfungsi sebagai obat setelah air tersebut disimpan dalam kamar itu
beberapa lama. Menurut kepercayaan, anak ambar adalah roh anak si pemelihara
yang mati karena lahir muda atau mati karena belum cukup umur ketika dilahirkan. Ia
dapat pula bukan anak “kandung” si pemelihara, tetapi roh anak yang datang dan
minta dirawat oleh pemeliharanya.
Benda-benda tertentu, seperti misalnya gong atau kromong pada teater lenong,
dianggap mempunyai roh yang menjaga benda itu. Orang Beyawi juga mengenal
susuk. Susuk banyak digunakan oleh para seniman teater Betawi, dan dianggap dapat
membuat orang yang memakainya terlihat labih cantik, lebih gagah, atau suaranya
lebih merdu dalam mengisi suatu pertunjukan teater Betawi.
Dalam kehidupan, orang Betawi juga mengenal dukun, yaitu orang yang
memiliki kepandaian dalam alam nyata sekaliogus alam gaib. Dukun, juga berarti
orang yang dapat menyembuhkan penyakit. Dukun yang mampu menyembuhkan
yang disebabkan oleh kekuatan gaib biasanya disebut dengan istilah “dukun” saja.
Sedangkan dukun yang menyembuhkan penyakit biasa, misalnya patah tulang sering
disebut dukun patah. Selain itu, dikenal juga dukun beranak, yaitu dukun yang
membantu wanita melahirkan. Dukun beranak disebut juga dengan nama Mak Peraji.

c. Lebaran Haji Bagi Masyarakat Betawi

Pelaksanaan ibadah haji bagi orang Betawi memiliki arti penting dan sakral.
Orang Betawi yang islamis menyadari betul makna melakukan ibadah haji, yaitu
menyempurnakan rukun Islam. Untuk sampai pada tahap mampu melaksanakan
ibadah haji, tentu saja proses panjang telah dilaluinya. Ia merupakan keluarga yang
mapan, artinya jika ada niat melakukan ibadah haji, ia tak bermasalah. Ia tak akan
menyengsarakan diri dan keluarganya. Persiapan materil dan spirituil tak diragukan
lagi. Ia pastilah orang kaya, meski profesinya sebagai petani, pedagang, atau lainnya.
Atau ia pasti seorang yang tekadnya sangat besar untuk melaksanakan ibadah haji,
meski status social ekonominya tidak terlalu tinggi.
Kita ketahui bahwa biaya ongkos naik haji tidak murah. Belum lagi berapa bekal
yang harus ada di kantong atau berapa rupiah yang harus ditinggalkan untuk biaya
hidup keluarga di Jakarta. Tahun 1960-an atau 1970-an, ketika harga tanah
merangkak naik, beberapa orang Betawi tergoda dan menjual tanahnya. Salah satu
hasil penjualan tanah itu dibelikan qotum. Qotum adalah istilah yang artinya sama
dengan tiket pergi haji. Tersebab pergi haji menjual tanah, maka mulai beredar di

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 22

masyarakat istilah haji gusuran. Apapun istilah yang beredar di masyarakat, orang
Betawi tak perduli. Bagi orang Betawi, telah tertanam melekat dalam jiwanya
semangat melaksanakan perintah agama dengan sempurna. Harta benda, apapun
jenisnya, tidak akan dibawa mati. Amal shalehlah yang senantiasa setia mengikuti kita
sampai kemanapun.

Seminggu setelah lebaran haji suasana kampung akan kembali semarak. Kali ini
warga kampung terutama keluarga yang familinya menunaikan ibadah haji akan sibuk
mempersiapkan kepulangan. Di ruang tengah sudah digelar tikar/karpet dan disiapkan
kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi terutama sayur asem, pecak
ikan gurame dan makanan segar lainnya yang tidak dijumpai di tanah suci.
Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah
seminggu. Dan bagi orang Betawi, jamah haji yang baru pulang tidak boleh keluar
rumah yang sifatnya untuk santai atau kongkou-kongkou sebelum empat puluh hari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->