P. 1
Betawi

Betawi

|Views: 1,455|Likes:
Published by yaman-indonesia

More info:

Published by: yaman-indonesia on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2014

pdf

text

original

a. Beberapa Kebiasaan Rumah Betawi Secara Umum

Apa yang diuraikan di bawah ini adalah gambaran mengenai beberapa kebiasaan
dengan hidup berkeluarga dan dengan rumah pada masyarakat Betawi di daerah
Jakarta diperkirakan, bahwa sedikit banyak kebiasaan-kebiasaan tersebut juga berlaku
bagi di banyak daerah lainnya di Jakarta.
Di dalam kehidupan berkeluarga, suatu keluarga batih biasanya tinggal dalam satu
rumah walau ada kecenderungan beberapa keluarga tinggal dalam satu rumah akibat
gejala kekurangan rumah. Laki-laki dan wanita yang telah kawin digolongkan sebagai
keluarga batih baru walaupun mereka masih berumah satu atap dengan masing-
masing orang tuanya. Keluarga batih yang baru yang mampu biasanya mendirikan
rumah tangganya dalam sebuah rumah tersendiri, dan dalam hal ini biasanya ikut serta
beberapa kerabat, baik dari pihak istri maupun pihak suami.
Anak perempuan yang sudah kawin yang belum memiliki rumah biasanya
menumpang tinggal pada orang tuanya. Kadang-kadang orang tua yang ditinggalin
memberikan sebagian rumahnya (misalnya paseban) untuk mereka dengan cara
dibongkar dan dibangun kembali di bagian lain darl lahan pekarangan si orang tua.
Tetapi pada umumnya orang tua laki-laki biasanya membantu mengumpulkan biaya
untuk perkawinan dan untuk membuat rumah bagi anaknya.

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 23

Lebih khusus mengenai kebiasaan-kebiasaan tinggal di dalam rumah, dapat
diperhatikan, bahwa salah satu faktor yang membentuk kebiasaan-kebiasaan yang ada
adalah dipegangnya etika yang kuat mengenal hubungan antara pria bujang dengan
gadis penghuni rumah. Sebagai contoh, terdapat kebiasaan ngelancong, yaitu
kunjungan calon laki-laki (bersama kawan-kawannya) ke rumah calon perempuannya
untuk bercakap-cakap dan bergurau sampai pagi. Tetapi hubungan tersebut ticlak
boleh dilakukan secara langsung. Untuk itu terdapat apa yang disebut jendela bujang
atau jendela Cina yang secara fisik membatasi hubungan tersebut. Si laki-laki duduk
atau tiduran di "peluaran" (ruang depan) sedangkan si perempuan ada di dalam rumah.
Dengan cara ini biasanya komunikasi terjadi, dan si gadis mengintip dari balik jendela
bujang.

Selain itu dikenal pula sesuatu yang disebut trumpa (ambang pintu), di atas
mana seorang gadis tidak boleh duduk karena ada kepercayaan "perawan dilamar
urung, laki-laki dipandang orang" yang berarti perempuan susah keteknu jodoh
(pelamar balik jalan) dan kalau laki-laki bisa disangka berbuat tidak baik atau jahat.
Maksudnya, perempuan yang duduk pada trampa dianggap mernamerkan dirinya clan
dinilal sebagai tak pantas bagi perempuan. Sementara apablia laki-laki luar yang
melanggar trampa, ia dapat dianggap sebagai orang yang bermaksud jahat. Atau
sebaliknya, terclapat istilah ngebruk, yaitu apabila seorang perjaka berani melangkahi
trampa rumah (terutarna rumah yang ada anak perawannya) maka perjaka yang
melangkahi trampa tersebut diharuskan mengawini perawan yang tinggal di rumah
tersebut. Karena kalau tidak dikawinkan, akan mendapat nama cernar di lingkungan
masyarakat. Pengertian ngebruk juga disebut nyerah diri" dalam arti, si laki-laki
datang ke rumah perempuan yang ingin dikawininya dengan menyerahkan uang atau
pakaian. Hal ini dilakukan apabila tidak atau belum ada persetujuan mengenai
hubungan remaja tersebut ataupun karena kondisi keuangan yang ticlak cukup untuk
memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan untuk menglkuti proses
perjodohan yang normal".

b. Budaya Mendidik Anak Perempuan di Kalangan Keluarga Betawi

Keluarga mempunyai peran penting dalam pendidikan, baik lingkungan
masyarakat Islam maupun non Islam, karena keluarga merupakan pertumbuhan
pertama anak dimana mereka mendapat pengaruh dari keluarga. Masa ini penting dan
kritis karena pendidikan sejak masa dalam kandungan, dilahirkan kedunia. Masa

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 24

setelah dilahirkan apa saja yang didapat dan terekam seumur hidup sekalipun belum
berdaya secara orang dewasa. Akan sangat teringat, tak mudah hilang atau berubah
sedikitpun.

Keluarga merupakan masyarakat kecil yang mau tidak mau akan membentuk
masyarakat yang besar. Masyarakat Betawi seperti masyarakat lain di Indonesia yang
mempunyai budaya serta tata cara apabila mendapatkan keluarga baru. Kelahiran
anak atau cucu dari sebuah keluarga di Betawi akan dilakukan sebuah upacara yang
berdasarkan agama Islam dan keyakinan lain. Budaya masyarakat Betawi mempunyai
simbol-simbol, misal; Roti buaya dalam perkawinan yang artinya tanda kesetiaan.
Bagi masyarakat Betawi yang beragama Islam, anak yang baru dilahirkan baik laki-
laki atau perempuan wajib dibacakan/dikumandangkan ‘Azan’ ditelinga kanan dan
‘Iqomah’ ditelinga kiri oleh bapaknya ataupun keluarga/kerabatnya yang pada saat
kelahiran berada dekatnya.
Kumandangan ‘Azan dan Iqomah’ ini merupakan suatu pendidikan pertama bagi
seseorang yang baru dilahirkan dan merupakan rekaman seumur hidupnya.
Selanjutnya bayi yang sudah dibersihkan dan dibungkus dengan selimut ‘dibedong’
dan pada bibirnya diolesi dengan ‘madu’ sesudah 12 jam dari kelahirannya. Pada saat
diolesi ‘madu’ pada bibirnya dibacakan ‘Basmallah’. Kepada ibunya diberikan
makanan yang dimasak secara bersama-sama ‘sayur papasan’ dimaksudkan agar si
bayi tidak menderita atau alergi karena air susu ibu yang diminumnya sesudah
mengandung. Bahan-bahan yang disantapnya merupakan suatu pendidikan ilmu
pengetahuan yang diberikan lingkungan tanpa disadarinya. Yang dimaksud
lingkungannya adalah kakek, nenek, encang/encing dan seterusnya.
Pada saat anak sudah diberi air susu ibu, ibunya mengucapkan ‘Basmallah’ agak
keras sehingga terdengar oleh si bayi (hal ini merupakan pendidikan agama dari si ibu
dan lingkungan) ucapan ‘Basmallah’, ‘Alhamdullillah’ bila selesai menyusui atau
kegiatan lain. Pada umumnya orang tua dan lingkungan keluarga bila hendak
meninabobokan si bayi akan mengumandakan salawat-salawat nabi, asma Allah
ataupun do’a-do’a dengan maksud untuk mendo’akan anaknya agar menjadi anak
yang soleh dan solehah. Disamping mendidik anak dalam agama.
Bila anak sudah mulai berbicara atau memanggil ibu dan ayahnya, sebutan yang
diajarkan orang tuanya untuk menyapa kedua orang tuanya adalah umi/abah.
Anakpun diajarkan kalimat-kalimat illahi, seperti “La ila haaillallah”. Sesuai dengan
perkembangan anak, pendidikan agama lebih ditingkatkan seperti shalat berjamaah,

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 25

sekalipun anak belum dapat mengucapkan bacaan-bacaan shalat. Di Betawi pun
apabila orang tuanya akan melaksanakan ‘hakekah’ (potong rambut pertama ataupun
sunatan bagi anak perempuan) pada bayi berumur sebelum 40 hari, ini merupakan
kewajiban orang tuanya yang tidak terlepas dari ajaran agama, menyembelih dua ekor
kambing untuk anak laki-laki, dan satu ekor untuk akan perempuan.
Tujuan ‘khitanan’ untuk perempuan untuk meredam seksualitas anak yang
berlebihan atau tidak mudah terangsang. Namapun diberikan secara resmi pada saat
tersebut, karena biasanya hakekah, potong rambut, khitanan diadakan pembacaan
maulid nabi dengan mengundang kerabat serta sanak famili. Pemberian nama kepada
anak diambil dari nama-nama yang baik artinya (biasanya diambil nama-nama yang
ada dalam Al-Quran).

Seiring dengan bertambahnya umur dan perkembangan fisik anak (dalam hal ini
anak perempuan) dididik untuk membersihkan kaki apabila hendak tidur
siang/malam. Mencuci tangan tidak saja saat mau tidur tetapi juga apabila sudah dapat
memegang makanan.

Permainan-permainan diajarkan pada saat ini (anak sudah bisa berjalan) seperti
boneka atau mainan lain yang sesuai dengan kebutuhan anak perempuan. Selain itu
juga diajarkan bagaimana merapikan/membersihkan mainannya pada tempatnya
masing-masing.

Pada usia 4-5 tahun umumnya anak sudah mulai memasuki sekolah formal dan
pada saat ini pula para orang tua mengenalkan huruf-huruf Al-qur’an (‘mengaji’).
Dan anak perempuan biasanya diajarkan permainan ‘congklak, cici putri, dan ciblak-
ciblak cuang’, permainan ini tidak khusus dimainkan anak perempuan saja, namun
dimainkan juga oleh anak laki-laki yang belum akil baliq.
Selain permainan tersebut diatas orang tua terutama ibu
mengajarkan/menyampaikan cerita yang terdapat dalam Al-quran terutama cerita
tentang nabi yang berkaitan dengan anak perempuan. Disamping cerita yang
diperuntukkan anak dalam pendidikan agama disampaikan juga pendidikan secara
non formal misalnya; cerita "Sang Bango" yang disampaikan sambil berdendang.

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 26

Tujuan dari cerita tersebut merupakan pengetahuan dari binatang-binatang yang

diceritakan; misalnya:

Bango makanannya ikan
Ikan akan timbul kalau hari hujan
Musim hujan tiba sesudah ada suara kodok
Sementara ular tahu dimana kodok berada karena kodok makanan ular.

Pendidikan memasakpun diajarkan sekali pun pada awalnya diceritakan pada saat
menjelang tidur, misal ;

Lawar gantung semur air

Memceritakan perempuan yang tidak bisa masak, suatu saat mertuanya ingin
masak semur, dan perempuan itu hanya menggantung lawarnya dan hanya
merebus airnya saja tidak memasak seperti biasanya.

Kepiting didandanin

Menceritakan anak tidak bisa masak; suatu saat mertua pulang dari pasar
membawa rajungan “kepiting” sembari berkata “mantu ni rajungan didandanin
buat makan entar malam” karena simantu tidak bisa masa, lalu rajungan tersebut
dibedakin, dikasih lapstik dan kain pita.

Penggorengan semacem

Menceritakan anak perempuan yang disuruh masak ikan layur oleh ibunya, tetapi
karena anak perempuan tidak bisa masak, si anak mencari penggorengan seukuran
ikan layur. Lalu ibunya tahu dan berkata “semua penggorengan ukuran sama, mao
masak ikan layur kek, ikan bandeng kek, ikan asin kek semua sama”
Selain cerita dan permainan didalam rumah, ada juga permainan yang dilakukan
di luar rumah seperti “dampu, wak-wak gung, gala asin, bola gebok” dan lain-lain.
Permainan ini biasanya dilakukan sebelum pergi mengaji dan dilakukan bersama
teman-temannya atau tetangganya. Anak mengaji, sholat jama’ah, “ngederus”
(tadarus) al quran merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh anak Betawi.
Pengenalan alat masak, kerajinan tangan dan menjahit dilakukan pada saat anak
perempuan menjelang baliq selain pengenalan juga diajarkan memasak dan menjahit.
Pada usia 11-12 tahun saat menjelang akil baliq anak perempuan diajarkan
keberadaan anak lelaki dan perempuan. Kebutuhan belanjapun diajarkan. Dan kondisi
dimana perempuan akan mengalami ‘kain kotor’ (mentruasi) juga dijelaskan.
Setelah tiba mendapat ‘kain kotor’, mereka ditanya oleh ibunya dan anak tersebut
menjawab ia sudah mendapatkan kain kotor, maka si ibu biasanya memperhatikan

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 27

anaknya bila ia tidak sholat. Pada saat anak mendapatkan ‘kain kotor pertama’
biasanya si ibu membuatkan ‘ketan kuning’ berserta kelengkapannya dan dibagikan
kepada tetangga. Dengan maksud bahwa anak gadisnya sudah akil baliq. Kewajiban-
kewajiban seorang anak yang telah akil baliq juga diterapkan ‘mandi hadats’. Dan
juga anak perempuan diberikan tanggung jawab untuk mengurus rumah seperti;
membersihkan rumah, mengatur rumah, membuat kue dan minuman kopi atau teh.
Bahkan memasak juga harus sudah dipraktekan. Ayahnya pun mulai memperhatikan
pergaulan anak perempuannya. Biasanya pengetahuan tentang pergaulan tersebut
dibicarakan setelah selesai sholat magrib berjama’ah.
Sang ayah menjelaskan tatacara pergaulan anak perempuan diluar rumah seperti
batasan-batasan pergaulan. Anak pun sudah mulai digiatkan untuk dapat
menghatamkan Al quran, biasanya hatam al quran merupakan pendidikan formal
keluarga yang harus ditaati.
Selain pendidikan di sekolah umum atau keluarga anak perempuan juga disekolah
dimadrasah untuk menerima ilmu-ilmu agama. Apabila orang tua tidak mempunyai
madrasah biasanya si anak di sekolahkan milik orang Betawi lainnya yang masih
hubungan keluarga.

Persiapan-persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga mulai diajarkan
pada saat akil baliq. Bagaimana kewajiban istri kepada suami dan mertuanya, ibu
bapaknya dan saudara-saudaranya. Hal ini ditekankan pada anak perempuan di
Betawi dengan maksud agar seorang istri patuh kepada suaminya. Karena ini
merupakan pendidikan yang harus dilakukan oleh orang tuanya.
Setelah orang tuanya merasa bahwa anaknya sudah memiliki pengetahuan ilmu
agama dan keterampilan rumah tangga, maka mulailah anaknya ditampilkan kepada
kegiatan orang tuanya yang pada intinya ingin memberitahukan bahwa dia
mempunyai seorang anak perempuan. Terutama pada kegiatan-kegiatan hajatan dan
‘bebesanan’.

Apabila tiba masanya anak perempuan tersebut sudah pantas berumah tangga dan
sudah ada pula keluarga yang dituju untuk bebesanan (keluarga yang punya anak
lelaki yang diharapkan untuk jadi mantu). Biasanya diadakan pendekatan untuk tujuan
tersebut, mengenalkan anak mereka dari kedua belah pihak. Dalam hal ini orang tua
hanya mengarahkan dan tidak memaksa. Kemuadian kedua orang tua akan
menanyakan kepada anak apabila ada kecocokan, bila jawaban yang diberikan ‘iya’
maka akan dilakukan proses perkawinan, misal; melamar oleh pihak laki, setelah

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 28

lamaran diterima ditentukan waktu pernikahannya. Dalam masa tunggu pernikahan
tersebut, seorang anak ditingkatkan pengetahuannya tentang bagaimana melayani
suami dan kedua orang tuanya. Tugas orang tua selesai pada saat diadakan upacara
ijab kabul. Kewajiban memberi pendidikan dan memberi nafkah diserahkan kepada
suaminya

yang

juga

mantunya.
Apabila tiba saatnya dia mendapatkan anak maka pendidikan yang diterima orang
tuanya dahulu akan diterapkan kepada anaknya sesuai jamannya.
Demikian siklus kehidupan seorang anak perempuan di Betawi. Inti dari pendidikan
seorang anak perempuan ialah patuh kepada suaminya dalam hal yang dibenarkan
agama.

c. Ciri-ciri Lain

Salah satu adat betawi yang sudah jarang ditemukan. Di lingkungan adat Betawi,
yang rada “tengil”, kalau ngomong asal ngejeplak, tapi akrab sekali, walau candaan
suka memanas, terakhirnya sering terbahak-terbahak. Namun, yang membuat salut
adalah keakrabannya dan ruh agamanya.
Selain itu, ciri khasnya adalah, “jangan ngaku-ngaku anak Betawi kalau nggak
bisa silat dan ngaji!
”. Banyak cara yang dilakukan para orang tua Betawi dalam
mendidik dan mendisiplinkan anak/cucu (laki-lakinya) dalam hal beribadah, baik
sholat, mengaji, dan lain-lain, serta belajar silat. Namun, untuk menegakkan hal ini,
tentu saja para orang tua tetap berusaha melakukan cara-cara yang baik dan biasanya
bersifat Islamiah.

Ciri khas anak betawi asli, laki-laki Betawi kebanyakannya pendiam, sering
nyeletuk kalau ada kesempatan, sedang anak wanitanya, “kalau dah ngomong kaya
petasan cabe, panjang benerrr rentetannya!
”, ungkapan dalam Bahasa Betawi.
Namun, jika ada keributan atau terdengar anak ada yang mengganggu seorang wanita,
anak laki-laki yang tadinya pendiam, biasanya secara seketika langsung panas dan
berdiri kedepan. Jadi mengenai hal ini, mungkin bisa diungkapkan oleh seorang
Betawi; “yang cowoknya calm tapi nggak boleh digangguin, yang cewek cerewetnya
minta ampun, tapi rajin dan nurut sama suami
”.
Namun, nyatanya saat ini hal-hal seperti ini sudah jarang ditemukan lagi, sudah
banyak orang-orang betawi asli yang tersingkirkan dan berbaur dengan para
pendatang, dan sedikit demi sedikit melupakan ciri-ciri khasnya, kecuali masih ada

[KEBUDAYAAN BETAWI]

| 29

orang-orang Betawi yang gigih secara turun-temurun menerapkan hali ini, atau yang
sering disebut belakangan ini sebagai Betawi Kolot.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->