BudNus

Kebudayaan betawi

[KEBUDAYAAN BETAWI]

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia merupakan satu dari banyak negara kepulauan yang unik dengan beragam kultur budayanya. Dari beragam kultur budaya tersebut, ternyata negeri ini dapat menyatukan dan tetap memelihara banyak sekali perbedaan dalam suatu kesatuan yang dinamakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI memiliki Ibukota di Jakarta. Walau jelas sebagai ibukota, Jakarta tentunya berisi berbagai elemen suku dari berdagai daerah asal yang tersebar di berbagai belahan geografis Indonesia. Namun, hal itu bukan berarti bahwa di Jakarta tidak memiliki penduduk asli yang dianggap telah lama mendiami daerah ini. Orang Betawi, begitulah mereka (penduduk asli) menyebut dirinya. Dengan menilik dari berbagai banyak penelitian yang dilakukan oleh banyak sekali pakar, dapat disebutkan bahwa Masyarakat Betawi memiliki kekayaan adat budaya yang luar biasa. Oleh karenanyalah makalah berjudul ”Oase, Budaya di Tengah-tengah Kaum Urban Jabodetabek” dibuat sebagai referensi orang-orang yang belum banyak tahu mengenai Betawi namun diharuskan berhubungan erat dengan Betawi, khususnya bagi teman-teman mahasiswa yang menuntut ilmu di daerah ini atau bagi teman-teman mahasiswa sekolah kedinasan yang bukan tidak mungkin kelak jika lulus di tempatkan di daerah yang sangat dekat dengan kebudayaan Betawi. B. Tujuan Tujuan dituliskannya makalah ini adalah agar mampu: 1. Menjelaskan secara jelas sejarah yang berkaitan dengan Orang Betawi; 2. Mengidentifikasi berbagai hal yang berhubungan dengan masyarakat Betawi; 3. Menjelaskan lebih jauh mengenai mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat Betawi kebanyakan; 4. Memahami sistem kemasyarakatan yang berkembang di Suku Betawi; 5. Mengidentifikasi berbagai produk budaya khas Betawi; 6. Menjelaskan pembangunan dan modernisasi yang terjadi di Betawi beserta dampak ataupun masalah-masalah yang timbul karenanya.

| 2

[KEBUDAYAAN BETAWI]

BAB II SEJARAH

A. Jakarta Tempo Dulu Betawi sangatlah identik dengan Jakarta, walaupun saat ini warga suku Betawi sudah tersebar tidak hanya di kota Jakarta saja, melainkan tersebar juga di sekitar Jabodetabek. Kota Jakarta pada awalnya hanyalah sebuah bandar kecil bernama Sunda Kelapa, terletak di muara Sungai Ciliwung pada sekitar 500 tahun silam. Pada abad ke-14 wilayah ini masuk dalam bagian kekuasaan dari Kerajaan Pajajaran, yang berfungsi sebagai kota perdagangan, kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan Internasional yang cukup ramai dikunjungan para saudagar dari berbagai mancanegara. Bangsa Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa pada tahun 1522 berasal dari para pedagang Portugis dalam rangka mengembangkan perdagangannya di Asia Tenggara. Mereka lalu berusaha bekerja sama dengan Kerajaan Padjajaran yang dipimpin Sri Baduga Maharaja. Kala itu, Raja Padjajaran sedang menggalang kekuatan dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk bantuan kekuatan armada dari bangsa Portugis. Dukungan kekuatan itu, diperlukan untuk mengantisipasi adanya perluasan kekuasaan dari kerajaan-kerajaan yang sedang berkembang di Jawa bagian Timur melakukan ekspansi ke Jawa bagian Barat. Munculnya kekhawatiran Raja seperti itu, memang terbukti. Beberapa tahun kemudian Kerajaan Demak yang terkenal dengan kekuatan agama Islam-nya, melakukan perluasan kekuasaan dan menyebarkan pengaruhnya ke Jawa bagian Barat. Pemimpin perluasan itu, dipimpinan oleh Falatehan, atau lebih dikenal sebagai Fatahilah, seorang guru agama terkenal dan kharismatik dari Kerajaan Demak, yang memimpin penyerangan, kemudian merebut Banten dan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Padjadjaran yang ketika itu beribukota di daerah pedalaman, dekat kota Bogor sekarang (Batu Tulis). Fatahillah kemudian mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti "Kemenangan Akhir" pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Kekuasaan Fatahillah, kemudian direbut oleh orang-orang Belanda yang tiba di Sunda Kalapa pada tahun 1596. Kota ini kemudian dihancurkan oleh VOC. Di bawah pimpinan Jan Pieter Coen pada tahun 1619 setelah Pangeran Jayakarta yang berkuasa. Lumpuh akibat pertentangannya dengan Banten. | 3

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Sebagai akibat serangan JP. Coen terhadap kota Jayakarta, banyak orang yang melarikan diri keluar kota. Sebagian dari mereka menuju Banten, tetapi setelah musim panen tiba mereka berusaha kembali unutk memanen sawahnya di daerah yang kini disebut Grogol. Namun tidak mudah untuk dapat memetik hasil panen itu karena VOC berusaha keras untuk mengusir mereka, bahkan penduduk yang tinggal di daerah sepanjang Sungai Ciliwung ikut diusir. Selain itu VOC juga mengusir penduduk yang tinggal di daerah Jayakarta, dan kota tertutup bagi penduduk pedalaman dengan alasan keamanan. Karena politik J.P. Coen, maka sejak tahun 1619 penduduk Jayakarta tidak lagi dapat ditemui di dalam kota. Jayakarta setelah dikuasai VOC, oleh J.P. Pasar Senen tempo dulu 1950

Coen diubah namanya menjadi Batavia. Belanda mendirikan Benteng di Teluk Jakarta oleh Van Raay, seorang pegawai VOC, diberi nama "Batavia". Benteng ini menjadi pusat persekutuan dagang VOC untuk wilayah Hindia Timur. Sejak itulah Belanda memulai penjajahannya di seluruh kepulauan Nusantara.

B. Sejarah Terbentuknya Orang Betawi Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619). Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mulamula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran | 4

[KEBUDAYAAN BETAWI]

dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya. Orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara. Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay- tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka. Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota. Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 18151893. Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

| 5

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi. Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun juga tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara. C. Orang Betawi dalam Sejarah Van der Aa melihat orang Betawi dari bahasa.dari penelitiannya tampak bahwa bahasa pergaulan pada abad ke-18 adalah dialek Portugis. Dialek ini tidak lagi dikenal pada abad ke-19, dan sebagai gantinya timbul jenis bahasa semacam bahasa Melayu Betawi. Menurut Van der Aa, orang-orang yang menggunakan bahasa inilah yang kemudian disebut sebagai orang Betawi. Milone dan Castles melihat dari sudut yang sama dalam mencari asal-usul orang Betawi. Milone, dalam desertasinya, mengatakan bahwa orang betawi terbentuk dari beberapa kelompok etnis yang percampurannya telah dimulai sejak jaman kerajaan Sunda Pajajaran, dan pengaruh Jawa yang dimulai dengan ekspansi Kerajaan Demak. Kemudian percampuran etnik tersebut dilanjutkan dengan pengaruh-pengaruh yang masuk setelah abad ke-16, dimana VOC turut mempunyai andil dalam proses terbentuknya identitas orang Betawi. Selanjutnya, asumsi mengenai kependudukan dibuat oleh Castles, seorang ahli sejarah dan ekonomi yang meneliti komposisi suku bangsa di Batavia. Castles menggambarkan bahwa pada tahun 1673 tercatat tujuh etnik yang diantaranya adalah golongan budak. Pada tahun 1893 terdapat empat kelompok etnik dan golongan budak yang tidak ada lagi. Hal ini disebabkan karena pada tahun 1860 perbudakan mulai | 6

[KEBUDAYAAN BETAWI]

dilarang. Keempat etnik yang masih bertahan itu adalah orang-orang Eropa, orang Cina, orang Arab, dan orang Moor, yaitu orang-orang yang datang dari India. Kemudian ada orang Indonesia asli yang termasuk dalam satu kelompok dan terdiri dari orang Jawa (termasuk orang Sunda), orang-orang dari Sulawesi Selatan, orang dari Bali, orang dari Sumbawa, orang dari Ambon, dan orang dari Banda. Selain itu, masih ada satu kelompok lain yang disebut sebagai orang Melayu. Bekas-bekas budak yang berasal dari Bali, Sualawesi, Sumbawa, Timor, Flores, dan Ambon berdiam berkelompok dalam kampung-kampung tersendiri. Nama-nama kampung di mana orang-orang itu tinggal masih dapat ditemui hingga sekarang, seperti misalnya kampung Manggarai yaitu daerah dimana orang-orang yang berasal dari

Manggarai (di Flores) itu berdiam. Selain itu juga dikenal Kampung Jawa, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Arab di Krukut, Kampung Makassar, Kampung Banda, dan Kampung Mandar. Menurut catatan angka tahun 1673, jumlah budak lebih dari setengah seluruh penduduk Batavia. Hal itu bisa dimaklumi karena saat itu sedang ramai-ramainya perdagangan budak. Bangsa Portugis dan Belanda juga mendatangkan budak-budak dari Malabar, Bengal, dan Arakan di Burma. Pada akhir abad ke-19 di daerah Batavia dan sekitarnya timbul satu etnik yang tidak termasuk dalam salah satu dari kelompok etnik yang ada di daerah itu. Etnik baru ini lahir dari perkawinan yang telah disebutkan di atas, yang dimulai sejak pertengahan abad ke19 dan ditandai dengan adanya bahasa yang digunakan secara khusus. Van der Tuuk pernah menduga bahwa bahasa yang dipakai di Batavia adalah semacam bahasa Bali rendah. Menurut pendapatnya, bahasa yang terdapat di daerah ini adalah dialek Melayu dengan berbagai unsur yaitu, Jawa, Sunda, Cina, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris. Dengan uraian tersebut di atas, tampak bahwa bahasa dapat digunakan sebagai salah satu indikator yang memperlihatkan adanya campuran berbagai kelompok etnik.

| 7

[KEBUDAYAAN BETAWI]

BAB III IDENTIFIKASI

A. Lokasi dan Lingkungan Alam Menyebut nama Betawi, teringatlah kita dengan nama Kota Jakarta. Kota Jakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ±7 meter di atas permukaan laut, terletak pada posisi 6°12' Lintang Selatan dan 106°48' Bujur Timur, Luas wilayah Propinsi DKI Jakarta berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 1227 tahun 1989 adalah berupa daratan seluas 661,52 km² dan berupa lautan seluas 6.977,5 km², terdapat tidak kurang dari 110 buah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu, terdapat pula sekitar 27 buah sungai/saluran/kanal yang digunakan sebagai sumber air minum, usaha perikanan dan usaha perkotaan. Disebelah utara membentang pantai dari Barat ke Timur sepanjang ±35 km yang menjadi tempat bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal, sementara di sebelah Selatan dan Timur berbatasan dengan wilayah propinsi Jawa Barat, sebelah Barat dengan Propinsi Banten, sedangkan di sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa. Keadaan iklim kota Jakarta secara umum beriklim panas dengan suhu maksimum 30,8°C pada siang hari dan suhu minimum udara berkisar 26,1°C pada malam hari.

B. Wilayah Administrasi Wilayah administrasi propinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 Wilayah Kotamadya dan 1 Kabupaten administratif yaitu kotamadya

Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara serta

Kabupaten

Kepulauan

Seribu.

Dengan

perincian pembagian wilayah administrasi pemerintahannya adalah sebagai berikut :    Kotamadya Jakarta Pusat dengan luas 47,90 km2 Kotamadya Jakarta Timur dengan luas 187,73 km2 Kotamadya Jakarta Barat dengan luas 126,15 km2 | 8

[KEBUDAYAAN BETAWI]

  

Kotamadya Jakarta Utara dengan luas 142,30 km2 Kotamadya Jakarta Selatan dengan luas 145,73 km2 Kabupaten Kepulauan Seribu dengan luas 11,71 km2

C. Bangunan Terkenal di Jakarta Satu hal yang terkenal dari Jakarta adalah Monas (Monumen Nasional). Tugu Peringatan Nasional yang satu ini merupakan salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan

perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Monumen Nasional yang berada dipusat kota Jakarta yaitu di Lapangan Monas Jakarta Pusat dibangun pada tahun 1960. Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmar yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 137 meter. Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin mencapai kemerdekaanTugu Peringatan Nasional ini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Monas yang dibangun diareal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan F. Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno. Resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Monas mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Disekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung kesini. Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga keatas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta yang semakin padat dan semrawut dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, yaitu Senin-Sabtu mulai pukul 9.00 - 16.00 WIB.

| 9

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Selain Monas, terdapat pula sebuah patung besar yang unik, Monumen atau Patung Dirgantara yang berada di perempatan Pancoran, Jakarta ini mempunyai tempat cukup strategis. Merupakan pintu gerbang Jakarta Selatan dari lapangan terbang Internasional Halim Perdaksuma, berdekatan juga dengan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia. Patung ini cukup tinggi sehingga dapat terlihat dari semua arah. Dirancang oleh Edhi Sunarso, patung ini dikerjakan Keluarga Arca Yogyakarta, dan merupakan salah satu monumen kebanggaan Bung Karno sebagai cermin Keperkasaan bangsa Indonesia dibidang penerbangan. Bahan dasar patung adalah perunggu, tinggi 11 meter, berat patung 11 ton, tinggi kaki patung (vootstuk) 27 meter, dan lama pembuatannya selama satu tahun. Patung ini mempunyai filosofi yang artinya melambangkan keberanian, kesatriaan dan

kedirgantaraan yang didasarkan pada kejujuran, keberanian dan semangat mengabdi. Latar belakang pembuatan monumen ini berawal dari keinginan Bung Karno diakhiri pemerintahannya. Beliau menghendaki dibuatnya patung digantara yang melambangkan manusia angkasa, gagah berani untuk menjelajah angkasa.

D. Ciri Khas Masyarakat Betawi Masyarakat Betawi adalah penduduk “asli” kota Jakarta. Secara sepintas masyarakat Betawi yang sudah modern, seperti yang kita lihat di Jakarta sekarang ini, sulit dibedakan dari masyarakat suku lainnya. Mereka mengalami kemajuan mengikuti perkembangan zaman. Namun demikian, bila kita amati lebih cermat masih dapat kita lihat beberapa hal yang dapat mencerminkan keaslian budaya mereka, misalnya cara hidup yang sederhana, dialek bicara yang medok, dan gaya bicara yang spontan. Ciri masyarakat Betawi yang paling menonjol adalah terbuka dan mudah bergaul, serta kerukunan masyarakatnya yang pada umumnya bernafaskan Islam. | 10

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Masyarakat Betawi kebanyakan adalah pemeluk agama Islam yang taat. Oleh karena itu, tidak heranlah bila tata cara kehidupan mereka sehari-hari pun bernafaskan Islam. Beberapa contoh bagaimana agam Islam menyatu dalam kehidupan mereka sehari-hari, antara lain :  Apapun yang sedang mereka lakukan, bila waktu sholat tiba, mereka akan menghentikan kegiatan dan segera sholat;  Bila ada anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia, diusahakan dikubur hari itu juga;  Bagi anak keluarga yang memliki anak gadis yang sudah cukup dewasa harus segera dinikahkan;  Tuan rumah akan memberi suguhan kepada tamu sesuai dengan kemampuan;  Mereka selalu mendahului dalam memberi salam;  Dalam bersalaman, mereka lebih dahulu mengulurkan tangan dan paling akhir menariknya. Ciri khas masyarakat Betawi asli dapat kita lihat pada masyarakat yang tinggal di pesisir utara, mulai dari pesisir Bekasi sampai Teluk Naga Tangerang, di bagian selatan Condet, Pasar Minggu, dan perbatasan Kabupaten Bogor. Selain wilayah-wilayah yang sudah disebutkan di atas, masyarakat ini juga ada yang berdiam di sekitar Tanah Abang, Kebon Jeruk, Kebayoran Lama, dan Cileduk Tangerang.

| 11

[KEBUDAYAAN BETAWI]

BAB IV KEBUDAYAAN BETAWI

A. Bahasa Sebenarnya orang Betawi, bahasa Betawi, atau dialek Melayu-Jakarta ini tidak jauh berbeda dengan Bahasa Indonesia. Karena itu, seorang Betawi dapat mengerti dengan baik pembicaraan dalam Bahasa Indonesia yang digunakan oleh pembicara bukan Betawi. Sebaliknya, orang lain juga tidak terlampau sulit untuk mengerti bahasa Betawi. Dialek dalam bahasa ini dapat dibagi ke dalam beberapa subdialek. Pertama, berdasarkan latar belakang keturunan orang betawi tersebut, dan kedua daerah di mana bahasa betawi tersebut digunakan. Berdasarkan latar belakang pemakainya, bahasa betawi yang dipakai kalangan orang-orang yang kuat pengaruh Tionghoanya banyak bercampur kata-kata Tionghoa. Seperti misalnya, engkoh, encim, gua, lu, adalah kata-kata betawi yang berasal dari bahasa Cina Hokkian. Sedangkan kelompok betawi keturunan Arab juga banyak memasukkan kata-kata Arab, seperti misalnya ane, ente atau ucapan bismillah atau alhamdulilah banyak diucapkan bismile dan alhamdulile. Berdasarkan daerah, dikenal apa yang disebut subdialek dalam kota (subdialek tengahan) dan piinggiran (subdialek pinggiran), yang juga disebut bahasa Betawi Kota dan Betawi Ora. Betawi Kota digunakan oleh mereka yang sebelum pemekaran kota sampai kira-kira akhir tahun 1970-an masih tinggal di dalam kota Jakarta, dan bahasa Betawi Ora digunakan oleh mereka yang tinggal di luar kota atau daerah pinggiran yang berbatasan dengan daerah-daerah yang menggunakan bahasa Sunda. Pembagian subdialek regional seperti yang disebutkan di atas dapat dipecahkan ke dalam empat logat, yang dikategorikan berdasarkan ucapan yaitu :  Logat Mester, dengan pengguna yang tinggal di daerah Jatinegara, Kampung Melayu dan sekitarnya.  Logat Tanah Abang, yang digunakan oleh orang betawi yang daerah asalnya dari Tanah Abang, Petamburan dan sekitarnya.  Logat Karet, yang digunakan oleh mereka yang tinggal di daerah Karet, Senayan, Kuningan, Menteng dan sekitarnya.  Logat Kebayoran, dengan pengguna yang berasal dari daerah Kebayoran Lama, Pasar Rebo, Bekasi dan di daerah pinggiran kota Jakarta lainnya.

| 12

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Tanda-tanda bahasa yang digunakan oleh orang Betawi merupakan parpaduan dari bahasa berbagai suku bangsa, dan ini terlihat darri warna dan struktur perbendaharaan kata yang menunjukkan identitas bahasa-bahasa asal. Dalam hal fonologinya, bahasa orang Betawi kuat dipengaruhi oleh sistem fonologi Jawa, Sunda, dan Bali, sedangkan sistem fonologinya menunjukkan sistem Melayu. Tanda-tanda bahasa yang digunakan oleh orang Betawi merupakan parpaduan dari bahasa berbagai suku bangsa, dan ini terlihat darri warna dan struktur perbendaharaan kata yang menunjukkan identitas bahasabahasa asal. dalam hal fonologinya, bahasa orang Betawi kuat dipengaruhi oleh sistem fonologi Jawa, Sunda, dan Bali, sedangkan sistem fonologinya menunjukkan sistem Melayu. Percampuran juga dapat dilihat dari pemakaian simulfiks n yang juga terdapat dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali, bahkan bahasa Batak Karo dan bahasa orang Iban. Sebagai contoh, lanang, bocah, dan kulon yang terdapat dalam subdialek Pinggiran. Pengaruh seperti ini lebih banyak ditemukan pada subdialek Pinggiran, dibandingkan dengan subdialek Tengahan. Dari sisi pengaruh asing, ada pula pengaruh dari dialek Cina Peranakan (terutama dalam hitungan seperti cepek, gopek, dll). Sufiks an dan in yang dikatakan sebagai unsur Betawi terdapat juga dalam bahasa Bali. Contoh lain seperti yang telah disebutkan adalah kata gua dan lu yang dikenal sebagai kata Betawi dan berasal dari kata Hokkien, sangat pula lazim dalam bahasa Melayu pasar di Malaysia. DMB memiliki 24 fonem. Fonem /h/ biasanya tidak dapat menempati posisi akhir. Seperti kata /darah/ dalam bahasa Indonesia/Melayu, diucapkan menjadi /darè/ dalam DMB. Sering kali pula kata-katanya berakhiran dengan vokal /è/, apabila dalam bahasa Indonesia/Melayu kata yang sama berakhiran dengan vokal /a/. Sebagai contoh, kata /apa/, /susah/ dan /saya/ dalam bahasa Indonesia/Melayu diucapkan dalam DMB sebagai /apè/, /susè/ dan /sayè/.

| 13

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Untuk melihat realisasi fonem-fonem tersebut dalam kata yang sesungguhnya, mari kita lihat tabel berikut ini: Fonem Kata Makna

/b/ /p/ /m/ /d/

bacot Puyan Mek Kedot

‘mulut‘ ‘kotoran, daki‘ ‘kawan‘ ‘kuat‘ ‘kemaluan anak laki-laki

/t/ /n/ /j/

Titit None jobong

kecil‘ ‘nona‘ ‘pelacur‘ ‘bekas luka pada dahi,

/c/ /ñ/ /g/ /k/ /ŋ/ /s/ /l/ /r/

codet nyak ogah koit

muka dsb‘ ‘ibu‘ ‘tidak mau‘ ‘mati‘

limbung ‘tidak mantap‘ sono laler rudin ‘sana‘ ‘lalat‘ ‘miskin‘ ‘sesuatu yang

/w/

werit

menakutkan

Berikut adalah beberapa contoh pemakaian DMB dalam keseharian. Lu kamu Ude Sudah nggak tidak kenal kenal langgar langgar sih sih

‘Kamu tidak lagi mengenal langgar (musholla)’

ape apa

si? sih?

‘ada apa sih?‘

| 14

[KEBUDAYAAN BETAWI]

saye saya

Dateng Datang

ke mari ke sini

ni ini

bang, bang,

sebenernye sebenarnya

‘bang, sebenarnya saya datang ke sini

ada ada

Yang Yang

saye saya

mau mau

tanya tanyakan

‘(karena) ada yang mau saya tanyakan!‘

B. Pola Perkampungan dan Bentuk Rumah Konsep rumah Betawi sebenarnya sudah sangat sesuai untuk kondisi geografisnya, serta sesuai untuk masyarakat Indonesia pesisir, karena budaya Betawi yang sudah turuntemurun menghasilkan arsitektur dan budaya dengan corak kuat dan karakter khas. Salah satu karakter rumah Betawi adalah perhatian pada hubungan bermasyarakat dan keluarga, yang dihadirkan dengan adanya konsep beranda atau teras yang menyambut tamu datang kapan saja dengan bebas bisa memakai beranda tersebut. Pada zaman dahulu, perkampungan yang

ditinggali orang betawi berupa rawa-rawa. Hal itu menyebabkan rumah berbentuk panggung. Namun, pada perkembangannya mengikuti kondisi tanah yang sudah kering bentuk rumah sudah menempel pada tanah yang disebut dengan rumah Kebaya. Pada dasarnya ada tiga zoning di rumah tradisional Betawi. Kurang lebih mengikuti hukum arsitektur modern juga, kawasan publik (ruang tamu), kawasan privat (ruang tengah dan kamar) dan kawasan servis (dapur). Dalam bahasa Betawi, kawasan publik yang berupa ruang tanpa dinding ini kawasan amben, disusul ruang tengah yang didalamnya ada kamar yakni wilayah pangkeng. Paling belakang adalah dapur atau srondoyan. Masing-masing kawasan ini bisa merupakan bangunan sendiri, dengan pola atap sendiri. Bisa pula satu rumah utuh dengan sebuah saja pola atap, yang terbagi dalam tiga zona tadi. Variasi ini ditentukan status sosial ekonomi penghuninya. Jika setiap zona punya satu pola atap, masing-masing bisa berupa salah satu dari model atap pelana (segitiga sama sisi), atau limas dengan dua kali "terjunan" air hujan yang sudutnya berbeda. Atau lagi kombinasi dari kedua sistem atap ini. | 15

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Pilihan pola atap tampaknya tidak terlalu menjadi tuntutan dalam arsitektur tradisional Betawi. Tidak seperti di Jawa yang sampai perlu ada selamatan khusus untuk itu. Bagi komunitas Betawi yang penting justru pembangunan pondasi rumah. Itu sebabnya, mereka mengenal selamatan "sedekah rata bumi". Hanya saja, selamatan ini dilakukan sesaat setelah kuda-kuda atap rumah sudah sempurna berdiri. Tercatat ada sebuah sudut penting, bahkan sakral dalam arsitektur Betawi. Yakni, konstruksi tangga, yang diistilahkan balaksuji. Sayangnya ini agak sulit ditemukan di rumah Betawi bukan panggung. Balaksuji adalah konstruksi tangga di rumah panggung Betawi. Rumah darat kadang-kadang juga punya, jika lantaran "kultur rumah panggung", membuat pemilik rumah sengaja meninggikan lantai rumahnya dari permukaan tanah sekitar. Pada kasus demikian pemilik rumah juga membuat balaksuji, tangga menuju rumah. Tak ada konfirmasi literer soal ini. Hanya saja, inilah (boleh jadi) arti harafiah dari istilah "rumah tangga" yang dikenal selama ini. "Sebuah keluarga yang utuh tinggal di rumah yang ada tangganya. Makanya, bernama rumah tangga. Tangga balaksuji ini bagian rumah yang sarat nilai filosofi. Bisa disamakan dengan tangga spiritual dalam tradisi Betawi. Mungkin bisa diidentikkan dengan prinsip tangga dalam arsitektur kebudayaan lain, seperti Borobudur, atau suku kuno Inca. Bahwa memasuki rumah lewat tangga adalah proses menuju kesucian. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, siapa pun yang hendak masuk rumah harus membasuh kakinya dulu, baru naik tangga, sehingga masuk rumah dalam keadaan bersih. Ini memang bukan soal fungsi, tapi perlambang. Di rumah modern yang dihuni masyarakat Betawi sekarang, banyak hal sudah hilang, termasuk tangga balaksuji ini. Hanya saja, di sejumlah kampung balaksuji dipertahankan, atau pindah lokasi. Tangga ini tidak ada di rumah penduduk, tapi ada di masjid kampung. Balaksuji dipasang di tempat khotib berkhotbah. Tangga ini menjadi tangga menuju mimbar. Kesuciannya dipertahankan di rumah ibadah.

C. Mata Pencaharian Tempo dulu, masyarakat Betawi asli kebanyakan mencari nafkah dengan bertani dan berkebun. Hasil tani atau hasil kebun, kemudian mereka jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jenis tanaman yang mereka tanam kebanyakan adalah buah-buahan, misalnya salak, duku, durian, nangka, dan melinjo, berbagai jenis bunga, misalnya anggrek dan tanaman-tanaman hias. Selain sebagai petani, masyarakat Betawi ada juga yang bermata pecahaian sebagai pedagang. Mereka membuka warung-warung atau | 16

[KEBUDAYAAN BETAWI]

berkeliling menjajakan makanan khas Betawi asli, seperti misalnya asinan jakarta, tape uli, kerak telor, nasi uduk, laksa, dodol, gado-gado, sayur asem, dan lain sebagainya. Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Misalnya di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan. Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan, mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak jaman belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni. Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Dan banyak lagi, namun secara umum hampir semua profesi yang ada biasa dilakukan oleh kaum Betawi juga. Namun karena secara umum warga Betawi bukan warga yang sektarian macam warga daerah lainnya, kaum Betawi adalah kaum modern yang dalam egaliter, arti

kosmopolitan,

sesungguhnya yaitu menghargai pluralitas baik budaya, ras, kuliner, bahkan agama dan kepercayaan sehingga menonjolkan rasa Tukang kerak telor

kedaerahan lebih mengarah pada nilai-nilai Islam yang menjadi dasar way of life-nya mereka. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing. | 17

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Walaupun hanya tinggal sedikit masyarakat Betawi yang tinggal di pusat kota Jakarta, beberapa diantara mereka bahkan sudah mengenyam pendidikan tinggi, sehingga dengan demikian mereka pun mampu meningkatkan taraf hidup dengan bekerja sebagai pegawai, bahkan menjadi pedagang besar atau pengusaha.

D. Sistem Kekerabatan Dalam kehidupan sehari-harinya penduduk asli DKI Jakarta (orang Betawi) berada dalam aneka ragam lingkungan sosial dengan berbagai latar belakang budaya yang beranekaragam dari berbagai penjuru nusantara. Dalam kaitannya dengan sistem kekerabatan, misalnya dalam penarikan garis keturunan, mereka mengikuti prinsip bilineal yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan pihak ibu, atau garis keturunan orang tua tidak dipermasalahkan. Anak laki-laki akan disosialisasikan pada pekerjaan bapaknya, bila sudah dewasa si anak berhak ikut bapaknya ke laut dan mengerjakan pekerjaan laki-laki, dan anak perempuan bekerja menghidupi keluarga dengan cara melakukan pekerjaan wanita seperti memasak, mengasuh anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Anak laki-laki yang kawin akan ikut dengan mertuanya serumah dan kemudian ia dituntut untuk membuat rumah baru lagi untuknya. Adat menetap nikah sangat tergantung pada perjanjian kedua pihak sebelum pernikahan berlangsung. Ada pengantin baru yang setelah menikah menetap disekitar kediaman kerabat suami begitu pula sebaliknya.

E. Sistem Kemasyarakatan Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara sesama warga dapat tercermin dalam hubungan keluarga, di mana anak-anak sangat patuh terhadap orang tuanya, karena pada masyarakat Betawi orang yang lebih tua sangat dihormati. Sebagai adat kebiasaan pada masyarakat Betawi, bila mereka saling bertemu dengan anggota warganya atau orang yang dikenalnya selalu saling menyapa. Begitu juga dalam hidup bertetangga, mereka masih memegang teguh adat tradisi dalam kebiasaan membei sedekah atau punjungan makanan kepada para tetangga pada waktu tertentu misalnya pada waktu hajatan perrkawinan atau sunatan. Selain golongan tua, masih ada lagi golongan yang disegani, karena dulu masyarakat Betawi masih mengenal konsep Jawara Betawi. Namun, konsep jawara atau organisasi | 18

[KEBUDAYAAN BETAWI]

jago saat ini sudah mengalami perubahan. Organisasi jago yang muncul saat ini lebih banyak muncul karena kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Stratifikasi sosial masyarakat Betawi tidak begitu nyata, tetapi dalam pergaulan sehari-hari stratifikasi sosial biasanya tampak terutama dalam pertemuan-pertemuan. Kaum tua biasanya bergabung dengan seangkatannya, begitu juga dengan angkatan di bawahnya. Hampir tidak pernah terlibat adanya pengelompokkan yang melibatkan anak muda dengan kaum tua, kecuali apabila ada suatu masalah yang menyangkut kaum muda, maka kaum tua berhak untuk ikut campur tangan. Hubungan dalam stratifikasi sosial ini juga berlaku pada birokrasi kepemimpinan kampung. Seorang RT yang masih muda tidak akan pernah didatangi oleh tamu yang lebih tua. Dalam urusan kampung, si pejabat RT itu harus datang ke rumah orang yang lebih tua.

F. Religi Dalam membicarakan religi termasuk pula sistem kepercayaan yang menyatakan hubungan antara manusia dengan alam semesta beserta tindakan manusia tersebut. Kepercayaan juga diperlukan karena untuk melangsungkan kehidupan di dunia dengan selamat, orang Betawi percaya akan adanya beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat kehidupan dapat diartikan sebagai keyakinan religius yang dijalankan dalam suatu bentuk tindakan. Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam. Tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali.

a. Islam dalam Kehidupan Betawi Selain kedua versi tersebut di atas, para ahli mengatakan bahwa orang Arab yang ke Indonesia berasal dari Hadramaut, yang selain untuk berdagang juga bertujuan menyebarkan agama. Ajaran agama Islam yang dibawa merupakan perpaduan antara unsur-unsur Arab, unsur India selatan, dan unsur setempat. Orang Betawi yang memeluk agama Islam terbagi dalan dua golongan, yaitu golongan mu’alim, yakni golongan orang yang taat pada ajaran-ajaran agama dalam arti mereka menjalankan prinsip dasar agama Islam dengan baik dan teratur, serta golongan orang biasa, golongan orang yang tidak terlalu taat menjalankan prinsipprinsip agama Islam. Golongan kedua dapat disejajarkan dengan abangan di Jawa. | 19

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Baik bagi golongan mu’alim maupun golongan orang biasa, pedoman utama mereka adalah Islam. Pada masa penjajahan sampai dengan awal kemerdekaan, Islam menjadi pedoman hidup orang Betawi, sebenarnya justru menghambat kemajuan mereka. Pada masa itu, pendidikan formal dianggap sebagai kafir karena berasal dari Belanda. Dengan demikian perasaan anti kafir identik dengan anti sekolah. Kebudayaan Betawi tersebut sudah tidak lagi menjadi ciri identitas kebudayaan Betawi masa kini. Sedangkan, perkembangan kota Jakarta sebagai ibukota negara dengan sapek pembangunan dan modernisasinya yang berjalan amat cepat menuntut keahlian professional, yang mungkin masih belum terkejar oleh kamajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh sebagian besar orang Betawi.

b. Kepercayaan akan Roh, Hantu, Jin, dan Kekuatan Gaib Orang Betawi sering melakukan upacara sehubungan dengan kepercayaan terhadap adanya roh-roh. Dalam upacara tersebut banyak digunakan sajian yang dipersembahkan misalnya, supaya para tidak marah arena tempat mereka tinggal akan ribut oleh pertunjukan yang diadakan. Selain kepercayaan akan adanya roh, orang Betawi mengenal pula “keramat”, yaitu kuburan orang tertentu yang dianggap baik dan rohnya dapat membantu kegiatan manusia. Sehingga “keramat” sering didatangi untuk dimintai restunya. Tempat-tempat lain yang dianggap keramat adalah pohon beringin, sumur, dll. Roh jahat dapat berasal dari manusia. Misalnya kuntilanak, yaitu roh wanita yang mati ketika hamil. Roh ini sering menganggu wanita yang sedang hamil, dan sebagai penangkalnya wanita-wanita Betawi yang hamil, bila hendak bepergian terutama pada malam hari, dianjurkan untuk membawa benda-benda tajam seperti gunting dan jarum, supaya roh jahat itu takut. Selain itu, ada hantu yang disebut tuyul, yaitu roh jahat yang berbentuk anak-anak yang kepalanya berjambul dan sering digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memperkaya diri, karena tugasnya mencarikan uang bagi orang yang memeliharanya. Beberapa orang Betawi memelihara anak ambar yang berupa roh. Anak ambar ini dipelihara di kamar khusus yang di dalamnya diberi perlengkapan-perlengkapan serba mini, seperti tempat tidur kecil beserta kelambunya, bantal, guling, selop kecil serta diberi pula sajian. Orang yang memelihara anak ambar akan berdoa dalam kamar khusus ini apabila ia akan memulai suatu pekerjaan yang dianggapnya penting atau keluarag mendapat musibah. Pemelihara anak ambar ini juga dapat memberi air | 20

[KEBUDAYAAN BETAWI]

putih yang dapat berfungsi sebagai obat setelah air tersebut disimpan dalam kamar itu beberapa lama. Menurut kepercayaan, anak ambar adalah roh anak si pemelihara yang mati karena lahir muda atau mati karena belum cukup umur ketika dilahirkan. Ia dapat pula bukan anak “kandung” si pemelihara, tetapi roh anak yang datang dan minta dirawat oleh pemeliharanya. Benda-benda tertentu, seperti misalnya gong atau kromong pada teater lenong, dianggap mempunyai roh yang menjaga benda itu. Orang Beyawi juga mengenal susuk. Susuk banyak digunakan oleh para seniman teater Betawi, dan dianggap dapat membuat orang yang memakainya terlihat labih cantik, lebih gagah, atau suaranya lebih merdu dalam mengisi suatu pertunjukan teater Betawi. Dalam kehidupan, orang Betawi juga mengenal dukun, yaitu orang yang memiliki kepandaian dalam alam nyata sekaliogus alam gaib. Dukun, juga berarti orang yang dapat menyembuhkan penyakit. Dukun yang mampu menyembuhkan yang disebabkan oleh kekuatan gaib biasanya disebut dengan istilah “dukun” saja. Sedangkan dukun yang menyembuhkan penyakit biasa, misalnya patah tulang sering disebut dukun patah. Selain itu, dikenal juga dukun beranak, yaitu dukun yang membantu wanita melahirkan. Dukun beranak disebut juga dengan nama Mak Peraji.

c. Lebaran Haji Bagi Masyarakat Betawi Pelaksanaan ibadah haji bagi orang Betawi memiliki arti penting dan sakral. Orang Betawi yang islamis menyadari betul makna melakukan ibadah haji, yaitu menyempurnakan rukun Islam. Untuk sampai pada tahap mampu melaksanakan ibadah haji, tentu saja proses panjang telah dilaluinya. Ia merupakan keluarga yang mapan, artinya jika ada niat melakukan ibadah haji, ia tak bermasalah. Ia tak akan menyengsarakan diri dan keluarganya. Persiapan materil dan spirituil tak diragukan lagi. Ia pastilah orang kaya, meski profesinya sebagai petani, pedagang, atau lainnya. Atau ia pasti seorang yang tekadnya sangat besar untuk melaksanakan ibadah haji, meski status social ekonominya tidak terlalu tinggi. Kita ketahui bahwa biaya ongkos naik haji tidak murah. Belum lagi berapa bekal yang harus ada di kantong atau berapa rupiah yang harus ditinggalkan untuk biaya hidup keluarga di Jakarta. Tahun 1960-an atau 1970-an, ketika harga tanah merangkak naik, beberapa orang Betawi tergoda dan menjual tanahnya. Salah satu hasil penjualan tanah itu dibelikan qotum. Qotum adalah istilah yang artinya sama dengan tiket pergi haji. Tersebab pergi haji menjual tanah, maka mulai beredar di | 21

[KEBUDAYAAN BETAWI]

masyarakat istilah haji gusuran. Apapun istilah yang beredar di masyarakat, orang Betawi tak perduli. Bagi orang Betawi, telah tertanam melekat dalam jiwanya semangat melaksanakan perintah agama dengan sempurna. Harta benda, apapun jenisnya, tidak akan dibawa mati. Amal shalehlah yang senantiasa setia mengikuti kita sampai kemanapun. Seminggu setelah lebaran haji suasana kampung akan kembali semarak. Kali ini warga kampung terutama keluarga yang familinya menunaikan ibadah haji akan sibuk mempersiapkan kepulangan. Di ruang tengah sudah digelar tikar/karpet dan disiapkan kasur di atasnya. Disiapkan juga masakan khas Betawi terutama sayur asem, pecak ikan gurame dan makanan segar lainnya yang tidak dijumpai di tanah suci. Suasana kunjungan tetangga atau warga kampung ini baru akan sepi setelah seminggu. Dan bagi orang Betawi, jamah haji yang baru pulang tidak boleh keluar rumah yang sifatnya untuk santai atau kongkou-kongkou sebelum empat puluh hari.

G. Beberapa Ciri Lain dan Kebiasaan Khas Betawi

a. Beberapa Kebiasaan Rumah Betawi Secara Umum Apa yang diuraikan di bawah ini adalah gambaran mengenai beberapa kebiasaan dengan hidup berkeluarga dan dengan rumah pada masyarakat Betawi di daerah Jakarta diperkirakan, bahwa sedikit banyak kebiasaan-kebiasaan tersebut juga berlaku bagi di banyak daerah lainnya di Jakarta. Di dalam kehidupan berkeluarga, suatu keluarga batih biasanya tinggal dalam satu rumah walau ada kecenderungan beberapa keluarga tinggal dalam satu rumah akibat gejala kekurangan rumah. Laki-laki dan wanita yang telah kawin digolongkan sebagai keluarga batih baru walaupun mereka masih berumah satu atap dengan masingmasing orang tuanya. Keluarga batih yang baru yang mampu biasanya mendirikan rumah tangganya dalam sebuah rumah tersendiri, dan dalam hal ini biasanya ikut serta beberapa kerabat, baik dari pihak istri maupun pihak suami. Anak perempuan yang sudah kawin yang belum memiliki rumah biasanya menumpang tinggal pada orang tuanya. Kadang-kadang orang tua yang ditinggalin memberikan sebagian rumahnya (misalnya paseban) untuk mereka dengan cara dibongkar dan dibangun kembali di bagian lain darl lahan pekarangan si orang tua. Tetapi pada umumnya orang tua laki-laki biasanya membantu mengumpulkan biaya untuk perkawinan dan untuk membuat rumah bagi anaknya. | 22

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Lebih khusus mengenai kebiasaan-kebiasaan tinggal di dalam rumah, dapat diperhatikan, bahwa salah satu faktor yang membentuk kebiasaan-kebiasaan yang ada adalah dipegangnya etika yang kuat mengenal hubungan antara pria bujang dengan gadis penghuni rumah. Sebagai contoh, terdapat kebiasaan ngelancong, yaitu kunjungan calon laki-laki (bersama kawan-kawannya) ke rumah calon perempuannya untuk bercakap-cakap dan bergurau sampai pagi. Tetapi hubungan tersebut ticlak boleh dilakukan secara langsung. Untuk itu terdapat apa yang disebut jendela bujang atau jendela Cina yang secara fisik membatasi hubungan tersebut. Si laki-laki duduk atau tiduran di "peluaran" (ruang depan) sedangkan si perempuan ada di dalam rumah. Dengan cara ini biasanya komunikasi terjadi, dan si gadis mengintip dari balik jendela bujang. Selain itu dikenal pula sesuatu yang disebut trumpa (ambang pintu), di atas mana seorang gadis tidak boleh duduk karena ada kepercayaan "perawan dilamar urung, laki-laki dipandang orang" yang berarti perempuan susah keteknu jodoh (pelamar balik jalan) dan kalau laki-laki bisa disangka berbuat tidak baik atau jahat. Maksudnya, perempuan yang duduk pada trampa dianggap mernamerkan dirinya clan dinilal sebagai tak pantas bagi perempuan. Sementara apablia laki-laki luar yang melanggar trampa, ia dapat dianggap sebagai orang yang bermaksud jahat. Atau sebaliknya, terclapat istilah ngebruk, yaitu apabila seorang perjaka berani melangkahi trampa rumah (terutarna rumah yang ada anak perawannya) maka perjaka yang melangkahi trampa tersebut diharuskan mengawini perawan yang tinggal di rumah tersebut. Karena kalau tidak dikawinkan, akan mendapat nama cernar di lingkungan masyarakat. Pengertian ngebruk juga disebut nyerah diri" dalam arti, si laki-laki datang ke rumah perempuan yang ingin dikawininya dengan menyerahkan uang atau pakaian. Hal ini dilakukan apabila tidak atau belum ada persetujuan mengenai hubungan remaja tersebut ataupun karena kondisi keuangan yang ticlak cukup untuk memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan untuk menglkuti proses perjodohan yang normal".

b. Budaya Mendidik Anak Perempuan di Kalangan Keluarga Betawi Keluarga mempunyai peran penting dalam pendidikan, baik lingkungan masyarakat Islam maupun non Islam, karena keluarga merupakan pertumbuhan pertama anak dimana mereka mendapat pengaruh dari keluarga. Masa ini penting dan kritis karena pendidikan sejak masa dalam kandungan, dilahirkan kedunia. Masa | 23

[KEBUDAYAAN BETAWI]

setelah dilahirkan apa saja yang didapat dan terekam seumur hidup sekalipun belum berdaya secara orang dewasa. Akan sangat teringat, tak mudah hilang atau berubah sedikitpun. Keluarga merupakan masyarakat kecil yang mau tidak mau akan membentuk masyarakat yang besar. Masyarakat Betawi seperti masyarakat lain di Indonesia yang mempunyai budaya serta tata cara apabila mendapatkan keluarga baru. Kelahiran anak atau cucu dari sebuah keluarga di Betawi akan dilakukan sebuah upacara yang berdasarkan agama Islam dan keyakinan lain. Budaya masyarakat Betawi mempunyai simbol-simbol, misal; Roti buaya dalam perkawinan yang artinya tanda kesetiaan. Bagi masyarakat Betawi yang beragama Islam, anak yang baru dilahirkan baik lakilaki atau perempuan wajib dibacakan/dikumandangkan ‘Azan’ ditelinga kanan dan ‘Iqomah’ ditelinga kiri oleh bapaknya ataupun keluarga/kerabatnya yang pada saat kelahiran berada dekatnya. Kumandangan ‘Azan dan Iqomah’ ini merupakan suatu pendidikan pertama bagi seseorang yang baru dilahirkan dan merupakan rekaman seumur hidupnya. Selanjutnya bayi yang sudah dibersihkan dan dibungkus dengan selimut ‘dibedong’ dan pada bibirnya diolesi dengan ‘madu’ sesudah 12 jam dari kelahirannya. Pada saat diolesi ‘madu’ pada bibirnya dibacakan ‘Basmallah’. Kepada ibunya diberikan makanan yang dimasak secara bersama-sama ‘sayur papasan’ dimaksudkan agar si bayi tidak menderita atau alergi karena air susu ibu yang diminumnya sesudah mengandung. Bahan-bahan yang disantapnya merupakan suatu pendidikan ilmu pengetahuan yang diberikan lingkungan tanpa disadarinya. Yang dimaksud lingkungannya adalah kakek, nenek, encang/encing dan seterusnya. Pada saat anak sudah diberi air susu ibu, ibunya mengucapkan ‘Basmallah’ agak keras sehingga terdengar oleh si bayi (hal ini merupakan pendidikan agama dari si ibu dan lingkungan) ucapan ‘Basmallah’, ‘Alhamdullillah’ bila selesai menyusui atau kegiatan lain. Pada umumnya orang tua dan lingkungan keluarga bila hendak meninabobokan si bayi akan mengumandakan salawat-salawat nabi, asma Allah ataupun do’a-do’a dengan maksud untuk mendo’akan anaknya agar menjadi anak yang soleh dan solehah. Disamping mendidik anak dalam agama. Bila anak sudah mulai berbicara atau memanggil ibu dan ayahnya, sebutan yang diajarkan orang tuanya untuk menyapa kedua orang tuanya adalah umi/abah. Anakpun diajarkan kalimat-kalimat illahi, seperti “La ila haaillallah”. Sesuai dengan perkembangan anak, pendidikan agama lebih ditingkatkan seperti shalat berjamaah, | 24

[KEBUDAYAAN BETAWI]

sekalipun anak belum dapat mengucapkan bacaan-bacaan shalat. Di Betawi pun apabila orang tuanya akan melaksanakan ‘hakekah’ (potong rambut pertama ataupun sunatan bagi anak perempuan) pada bayi berumur sebelum 40 hari, ini merupakan kewajiban orang tuanya yang tidak terlepas dari ajaran agama, menyembelih dua ekor kambing untuk anak laki-laki, dan satu ekor untuk akan perempuan. Tujuan ‘khitanan’ untuk perempuan untuk meredam seksualitas anak yang berlebihan atau tidak mudah terangsang. Namapun diberikan secara resmi pada saat tersebut, karena biasanya hakekah, potong rambut, khitanan diadakan pembacaan maulid nabi dengan mengundang kerabat serta sanak famili. Pemberian nama kepada anak diambil dari nama-nama yang baik artinya (biasanya diambil nama-nama yang ada dalam Al-Quran). Seiring dengan bertambahnya umur dan perkembangan fisik anak (dalam hal ini anak perempuan) dididik untuk membersihkan kaki apabila hendak tidur siang/malam. Mencuci tangan tidak saja saat mau tidur tetapi juga apabila sudah dapat memegang makanan. Permainan-permainan diajarkan pada saat ini (anak sudah bisa berjalan) seperti boneka atau mainan lain yang sesuai dengan kebutuhan anak perempuan. Selain itu juga diajarkan bagaimana merapikan/membersihkan mainannya pada tempatnya masing-masing. Pada usia 4-5 tahun umumnya anak sudah mulai memasuki sekolah formal dan pada saat ini pula para orang tua mengenalkan huruf-huruf Al-qur’an (‘mengaji’). Dan anak perempuan biasanya diajarkan permainan ‘congklak, cici putri, dan ciblakciblak cuang’, permainan ini tidak khusus dimainkan anak perempuan saja, namun dimainkan juga oleh anak laki-laki yang belum akil baliq. Selain permainan tersebut diatas orang tua terutama ibu

mengajarkan/menyampaikan cerita yang terdapat dalam Al-quran terutama cerita tentang nabi yang berkaitan dengan anak perempuan. Disamping cerita yang diperuntukkan anak dalam pendidikan agama disampaikan juga pendidikan secara non formal misalnya; cerita "Sang Bango" yang disampaikan sambil berdendang.

| 25

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Tujuan dari cerita tersebut merupakan pengetahuan dari binatang-binatang yang diceritakan; misalnya:  Bango makanannya ikan  Ikan akan timbul kalau hari hujan  Musim hujan tiba sesudah ada suara kodok  Sementara ular tahu dimana kodok berada karena kodok makanan ular. Pendidikan memasakpun diajarkan sekali pun pada awalnya diceritakan pada saat menjelang tidur, misal ;  Lawar gantung semur air Memceritakan perempuan yang tidak bisa masak, suatu saat mertuanya ingin masak semur, dan perempuan itu hanya menggantung lawarnya dan hanya merebus airnya saja tidak memasak seperti biasanya.  Kepiting didandanin Menceritakan anak tidak bisa masak; suatu saat mertua pulang dari pasar membawa rajungan “kepiting” sembari berkata “mantu ni rajungan didandanin buat makan entar malam” karena simantu tidak bisa masa, lalu rajungan tersebut dibedakin, dikasih lapstik dan kain pita.  Penggorengan semacem Menceritakan anak perempuan yang disuruh masak ikan layur oleh ibunya, tetapi karena anak perempuan tidak bisa masak, si anak mencari penggorengan seukuran ikan layur. Lalu ibunya tahu dan berkata “semua penggorengan ukuran sama, mao masak ikan layur kek, ikan bandeng kek, ikan asin kek semua sama” Selain cerita dan permainan didalam rumah, ada juga permainan yang dilakukan di luar rumah seperti “dampu, wak-wak gung, gala asin, bola gebok” dan lain-lain. Permainan ini biasanya dilakukan sebelum pergi mengaji dan dilakukan bersama teman-temannya atau tetangganya. Anak mengaji, sholat jama’ah, “ngederus” (tadarus) al quran merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh anak Betawi. Pengenalan alat masak, kerajinan tangan dan menjahit dilakukan pada saat anak perempuan menjelang baliq selain pengenalan juga diajarkan memasak dan menjahit. Pada usia 11-12 tahun saat menjelang akil baliq anak perempuan diajarkan keberadaan anak lelaki dan perempuan. Kebutuhan belanjapun diajarkan. Dan kondisi dimana perempuan akan mengalami ‘kain kotor’ (mentruasi) juga dijelaskan. Setelah tiba mendapat ‘kain kotor’, mereka ditanya oleh ibunya dan anak tersebut menjawab ia sudah mendapatkan kain kotor, maka si ibu biasanya memperhatikan | 26

[KEBUDAYAAN BETAWI]

anaknya bila ia tidak sholat. Pada saat anak mendapatkan ‘kain kotor pertama’ biasanya si ibu membuatkan ‘ketan kuning’ berserta kelengkapannya dan dibagikan kepada tetangga. Dengan maksud bahwa anak gadisnya sudah akil baliq. Kewajibankewajiban seorang anak yang telah akil baliq juga diterapkan ‘mandi hadats’. Dan juga anak perempuan diberikan tanggung jawab untuk mengurus rumah seperti; membersihkan rumah, mengatur rumah, membuat kue dan minuman kopi atau teh. Bahkan memasak juga harus sudah dipraktekan. Ayahnya pun mulai memperhatikan pergaulan anak perempuannya. Biasanya pengetahuan tentang pergaulan tersebut dibicarakan setelah selesai sholat magrib berjama’ah. Sang ayah menjelaskan tatacara pergaulan anak perempuan diluar rumah seperti batasan-batasan pergaulan. Anak pun sudah mulai digiatkan untuk dapat menghatamkan Al quran, biasanya hatam al quran merupakan pendidikan formal keluarga yang harus ditaati. Selain pendidikan di sekolah umum atau keluarga anak perempuan juga disekolah dimadrasah untuk menerima ilmu-ilmu agama. Apabila orang tua tidak mempunyai madrasah biasanya si anak di sekolahkan milik orang Betawi lainnya yang masih hubungan keluarga. Persiapan-persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga mulai diajarkan pada saat akil baliq. Bagaimana kewajiban istri kepada suami dan mertuanya, ibu bapaknya dan saudara-saudaranya. Hal ini ditekankan pada anak perempuan di Betawi dengan maksud agar seorang istri patuh kepada suaminya. Karena ini merupakan pendidikan yang harus dilakukan oleh orang tuanya. Setelah orang tuanya merasa bahwa anaknya sudah memiliki pengetahuan ilmu agama dan keterampilan rumah tangga, maka mulailah anaknya ditampilkan kepada kegiatan orang tuanya yang pada intinya ingin memberitahukan bahwa dia mempunyai seorang anak perempuan. Terutama pada kegiatan-kegiatan hajatan dan ‘bebesanan’. Apabila tiba masanya anak perempuan tersebut sudah pantas berumah tangga dan sudah ada pula keluarga yang dituju untuk bebesanan (keluarga yang punya anak lelaki yang diharapkan untuk jadi mantu). Biasanya diadakan pendekatan untuk tujuan tersebut, mengenalkan anak mereka dari kedua belah pihak. Dalam hal ini orang tua hanya mengarahkan dan tidak memaksa. Kemuadian kedua orang tua akan menanyakan kepada anak apabila ada kecocokan, bila jawaban yang diberikan ‘iya’ maka akan dilakukan proses perkawinan, misal; melamar oleh pihak laki, setelah | 27

[KEBUDAYAAN BETAWI]

lamaran diterima ditentukan waktu pernikahannya. Dalam masa tunggu pernikahan tersebut, seorang anak ditingkatkan pengetahuannya tentang bagaimana melayani suami dan kedua orang tuanya. Tugas orang tua selesai pada saat diadakan upacara ijab kabul. Kewajiban memberi pendidikan dan memberi nafkah diserahkan kepada suaminya yang juga mantunya.

Apabila tiba saatnya dia mendapatkan anak maka pendidikan yang diterima orang tuanya dahulu akan diterapkan kepada anaknya sesuai jamannya.

Demikian siklus kehidupan seorang anak perempuan di Betawi. Inti dari pendidikan seorang anak perempuan ialah patuh kepada suaminya dalam hal yang dibenarkan agama.

c. Ciri-ciri Lain Salah satu adat betawi yang sudah jarang ditemukan. Di lingkungan adat Betawi, yang rada “tengil”, kalau ngomong asal ngejeplak, tapi akrab sekali, walau candaan suka memanas, terakhirnya sering terbahak-terbahak. Namun, yang membuat salut adalah keakrabannya dan ruh agamanya. Selain itu, ciri khasnya adalah, “jangan ngaku-ngaku anak Betawi kalau nggak bisa silat dan ngaji!”. Banyak cara yang dilakukan para orang tua Betawi dalam mendidik dan mendisiplinkan anak/cucu (laki-lakinya) dalam hal beribadah, baik sholat, mengaji, dan lain-lain, serta belajar silat. Namun, untuk menegakkan hal ini, tentu saja para orang tua tetap berusaha melakukan cara-cara yang baik dan biasanya bersifat Islamiah. Ciri khas anak betawi asli, laki-laki Betawi kebanyakannya pendiam, sering nyeletuk kalau ada kesempatan, sedang anak wanitanya, “kalau dah ngomong kaya petasan cabe, panjang benerrr rentetannya!”, ungkapan dalam Bahasa Betawi. Namun, jika ada keributan atau terdengar anak ada yang mengganggu seorang wanita, anak laki-laki yang tadinya pendiam, biasanya secara seketika langsung panas dan berdiri kedepan. Jadi mengenai hal ini, mungkin bisa diungkapkan oleh seorang Betawi; “yang cowoknya calm tapi nggak boleh digangguin, yang cewek cerewetnya minta ampun, tapi rajin dan nurut sama suami”. Namun, nyatanya saat ini hal-hal seperti ini sudah jarang ditemukan lagi, sudah banyak orang-orang betawi asli yang tersingkirkan dan berbaur dengan para pendatang, dan sedikit demi sedikit melupakan ciri-ciri khasnya, kecuali masih ada | 28

[KEBUDAYAAN BETAWI]

orang-orang Betawi yang gigih secara turun-temurun menerapkan hali ini, atau yang sering disebut belakangan ini sebagai Betawi Kolot.

H. Produk Budaya Betawi 1. Ondel-ondel Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pestapesta rakyat adalah ondel-ondel. Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot. Wajah ondel-ondel

laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih. Semula ondel-ondel berfungsi

sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta. Musik yang mengiringi ondel-ondel tidak tertentu, tergantug dari masing-masing rombongan. Ada yang diiringi tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpian Gejen, kampong setu. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh, sekarag pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diirig Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana ketimpring, seperti rombogan ondel-ondel | 29

[KEBUDAYAAN BETAWI]

pimpinan Lamoh, Kalideres. Ondel-ondel betawi tersebut pada dasarnya masih tetap bertahan dan menjadi penghias di wajah kota metropolitan Jakarta. 2. Lenong Lenong adalah teater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an. Sejak awal keberadaannya, diiringi dengan musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Lakon atau skenario lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Bahasa yang digunakan dalam lenong adalah bahasa Melayu (atau kini bahasa Indonesia) dialek Betawi. Lakon-lakon lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh. Dalam Lenong dikenal dua jenis cerita yaitu Lenong Denes (bercerita tentang kerajaan atau kaum bangsawan) sementara Lenong Preman berkisah tentang kehidupan rakyat sehari-hari ataupun dunia jagoan. Lenong Denes sendiri adalah perkembangan dari bermacam bentuk teater rakyat Betawi yang sudah punah, seperti wayang sumedar, wayang senggol ataupun wayang dermuluk. Sementara lenong preman disebut-sebut sebagai perkembangan dari wayang sironda. Yang cukup signifikan dalam perbedaan penampilan kedua lenong tersebut, Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa Melayu halus, sedang Lenong Preman rata-rata menggunakan bahasa Betawi sehari-hari, sehingga sangat akrab dan komunikatif dengan para penontonya. Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam. Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes. Beberapa seniman Lenong Betawi terkenal yang lahir dan terkenal dari kesenian ini cukup banyak. Sebut saja Benyamin Sueb, H. Bokir (alm), Mpok Nori sampai Mandra. Namun tokoh dalam bidang ini siapa lagi kalau bukan H.M. Nasir T (Bang Nasir).

3. Kesenian Musik Betawi | 30

[KEBUDAYAAN BETAWI]

a. Gambang Kromong Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi, Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya. Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang. Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong yang berkolaborasi dengan dua orang wanita perantauan Cina yang baru tiba dengan membawa Tehyan dan Kongahyan. Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut. Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama. Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan musik ini menjadi "terengah-engah" antara hidup dan mati. Musik ini hanya terdengar di antara bulan Juni saja, yaitu sewaktu hari ulang tahun Jakarta. padahal tanggal dan tahun kelahiran kota jakarta saja belum jelas pastinya. Itupun di tempat-tempat tertentu, seperti di Setu Babakan misalnya. b. Orkes Samrah Orkes samrah adalah kesenian Betawi dalam bentuk orkes yang mendapat pengaruh suku Melayu. Lagu-lagu yang biasa dibawakan dalam ini adalah lagu-lagu jadul (jaman dulu), seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, juga lagu Cik Minah. | 31

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Orkes Samrahh banyak berkembang di daerah Tenabang, dimana daerah ini dikenal sebagai pusat dari penyebaran Melayu Riau di Betawi. Orkes samrah juga biasa dipakai mengiringi lagu-lagu khas Betawi semacam Kicirkicir, Jali-jali, Lenggang Kangkung dan lain-lain.Sementara tarian yang biasa diiringi orkes samrah disebut Tari Samrah. Biasanya, para penari samrah menari berpasangpasangan, dengan gerakan tari bermacam-macam, yang salah satunya dipengaruhi oleh gerakan silat. c. Tanjidor Tanjidor adalah sebuah kesenian Betawi yang berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, alat-alat musik gesek dan alat-alat musik perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah. Tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat yang akan dihadiri oleh masyarakat Betawi secara luas layaknya sebuah orkes. Kesenian Tanjidor juga terdapat di Kalimantan Barat, sementara di Kalimantan Selatan sudah punah. d. Keroncong tugu Ini adalah musik Betawi yang banyak mendapat pengaruh dari budaya Barat khususnya dari Eropa Selatan. Sejak abad ke-18 musik ini berkembang di kalangan warga Tugu, mereka adalah masyarakat Jakarta keturunan Mardijkers atau bekas anggota tentara Portugis yang dibebaskan dari tawanan Belanda. Setelah memeluk agama Kristen, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Koja Jakarta Utara. Di kampung tersebut, terdapat gereja yang dibangun tahun 1600-an. Musik keroncong tugu sendiri biasanya dibawakan oleh warga Tugu sejak tahun 1600-an setiap malam bulan purnama, sambil bergerombol menikmati malam bulan purnama di pinggir sungai, ataupun dibawakan untuk mengiringi lagu-lagu gereja dalam acara kebaktian. Alat-alat musik keroncong tugu sejak awal dilahirkan terdiri dari keroncong, biola, ukulele, banjo, gitar, rebana, kempul dan selo. e. Orkes Gambus Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seluruh Jakarta terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab. | 32

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Agar lebih semarak, saat musik gambus sedang dimainkan, biasanya ada beberapa penari zapin yang terdiri dari beberapa orang laki-laki. Mungkin lantaran grup musik gambus selalu identik dengan pesta pernikahan warga etnis Betawi, grup musik gambus masih tumbuh subur di Jakarta, lantaran peminatnya masih saja ada. Bahkan beberapa artis gambus kerap lahir lantaran jam terbangnya dari pesta ke pesta cukup/sangat tinggi. f. Rebana Selain musik gambus, masih ada musik Betawi yang dipengaruhi budaya Timur Tengah. Musik rebana misalnya, adalah musik khas Betawi yang bernafaskan Islam. Macam musik rebana sendiri demikian banyak, digolongkan sesuai alat musik maupun syair-syair yang dibawakan oleh para pemain musiknya. Jenis-jenis musik rebana, misalnya rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor juga rebana biang. Biasanya, musik rebana (khususnya rebana biang) digunakan untuk memeriahkan pesta maupun arak-arakan. 4. Tarian betawi Tarian Betawi Jenis tarian yang paling terkenal dari betawi adalah tari cokek. Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi Tempo Doloe. Dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, tari Cokek pada zaman dahulu dibina dan dikembangkan oleh tuan-tuan tanah Cina yang kaya rata. Jauh sebelum Perang Dunia ke II meletus tari Cokek dan musik Gambang Kromong dimiliki cukong-cukong golongan Cina peranakan. Bisa dilihat dari lagu yang iramanya mirip lagu dari negerinya konglomerat Liem Swi Liong. Cukong-cukong peranakan Cina itulah yang membiayai kehidupan para seniman penari Cokek dan Gambang Kromong. Bahkan ada pula yang menyediakan perumahan untuk tempat tinggal khusus mereka. Di zaman merdeka seperti sekarang ini, tidak ada lagi yang secara tetap menjamin kehidupan dan kesejahteraan mereka. Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, disamping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek. Dalam sejarah kesenian Betawi, Cokek merupakan salah satu hiburan unggulan. Selain luas penyebarannya juga dengan cepat banyak digemari masyarakat Betawi kota sampai warga Betawi pinggiran. Karenanya dalam perkembangannya selain menari juga harus | 33

[KEBUDAYAAN BETAWI]

pintar olah vokal alias menyanyi dengan suara merdu diiringi alunan musik Gambang Kromong. Jadi temu antara lagu dan musik benar-benar tampil semarak alias ngejreng beeng. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tanggerang ini diwarnai budaya etnik China. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Sebagai pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama,dengan mengalungkan selendang. pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyanggoyang. Ditambah kerlingan mata sang penari yang indah memikat para tamu lelaki untuk ikutan ngibing berpasangan di panggung atau pelataran rumah warga. Orang Betawi menyebut Tari Ngibing Cokek. Selama ngibing mereka disodori minuman tuak agar bersemangat. Dari sisi lain bisa ditafsirkan bahwa jenis tarian Cokek menyandang fungsi ekonomi. Para Wayang Cokek selain mendapat imbalan berupa uang dari penanggap juga mendapat tip dari para lelaki yang berhasil digaet ngibing bersama. Dulu boleh dibilang para seniwati Cokek mendapat penghasilan ajeg karena seringnya ditanggap. Beda dengan masa kini dimana jenis kesenian Cokek kurang mendapat pasaran. | 34

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Beberapa

penata

tari

kreatif

telah

berhasil

menggubah beberapa tari kreasi baru dengan mengacu pada ragam gerak berbagai tari tradisi Betawi, terutama rumpun Tari Topeng. Tari Topeng adalah visualisasi gerak, yang dibuat nenek moyang tanpa melalui konsep. Ada pengaruh budaya Sunda, namun memiliki ciri khasnya berupa selancar. Para penarinya menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng Banjet Karawang Jawa Barat, namun dalam topeng betawi memakai bahasa Betawi. Dalam topeng betawi sendiri ada tiga unsur: musik, tari dan teater. Tari kreasi baru itu antara lain adalah Tari Ngarojeng, Tari Ronggeng Belantek, Gado-gado Jakarta, Tari Lenggang Nyai, dan Tarii Yapong. Karya tari ini ternyata mampu memukau penonton, bahkan juga sampai pada Forum Internasional yaitu dalam Festival Tari Antar Bangsa. 5. Cerita Rakyat Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat Betawi biasanya beraromakan perjuangan karena terpengaruh dari kisah perlawanan dengan Belanda. Seperti kisah Si Pitung dan Si Jampang yang paling terkenal. Dalam cerita rakyat ini juga menonjolkan khas anak betawi yang jago silat, rajin sholat, dan pandai mengaji. Juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial.

| 35

[KEBUDAYAAN BETAWI]

6. Seni Bela Diri Seni beladiri yang berasal dari betawi adalah silat. seperti yang sering diceritakan dalam cerita rakyat betawi. Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat. Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Praktisi biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan,

mematahkan tulang sendi, dan lain-lain. Diganakan jurus ampuh untuk melumpuhkan lawan. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh. Beladiri asli Indonesia, silat khususnya Betawi, kondisinya cukup mengkwatirkan,

contohnya Silat Cingkrik Goning, Silat Pahaman dan Silat Sabeni. Ketiga aliran silat ini telah di dokumentasikan, bahkan dibuka latihan untuk umum di Padepokan Nasional Pencak silat Indonesia Setiap hari sabtu pagi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan berpatisipasi langsung melalui latihan. Kegiatan lain yang cukup penting adalah mengadakan diskusi atau saresehan yang rencananya di adakaan setiap Bulan, diharapkan bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh dapat langsung ikut pada acara saresahan ini di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII Jakarta.

| 36

[KEBUDAYAAN BETAWI]

7. Senjata tradisional Senjata khas Jakarta adalah badik yang bentuknya tipis memanjang. Biasanya laki-laki betawi mengenakan Badik diselipkan di pada ikat pinggang atau sarung yang diikatkan di pinggang sebagai tanda kekuatan. Senjata ini sering disebut juga sebagai golok.

8. Makanan khas Betawi Sejarah kuliner Betawi agaknya banyak dipengaruhi kuliner etnik maupun bangsa lain. Kebudayaan Cina memberikan sumbangan yang besar pada seni masak, seni musik, dan bahasa Betawi. Seperti halnya kebudayaaan Arab juga. Masakan Betawi bergulai adalah pengaruh Arab dan Asia Selatan. Sedangkan masakan sayuran banyak dipengaruhi Cina. Cina juga memberikan pengaruh dalam seni masak kue basah. Beberapa makanan khas Betawi misalnya: Nasi Kebuli Kambing; Nasi Ulam; Ketupat Sambel Godog; Bubur Dingin; Nasi Uduk; Laksa Betawi; Sate Laksa; Gurame Kuah Pucung; Rujak Juhi; Gurame Pecak; Soto Betawi; Lontong Cap Go Meh; Nasi Rames Peranakan; Soto Tangkar; Asinan Jakarta; Gado-gado; Pindang Bandeng. Begitu pula dengan penganan kue-kue khas Betawi yang sangat beragam seperti Rengginang Ketan, Kembang Goyang, Akar Kelapa, Brondong Jagung, Brondong Beras, Geplak, Kue Talam, Kue Pepe, Wajik, Biji Ketapang, Kue Sagu Rangi, Kue Pancong, Kerupuk Opak, Ongol-ongol, Cucur, Kueh Bakar, Roti Buaya, Tape Uli.

Betawi juga memiliki kue-kue dan makanan Belanda (Ontbijtkoek, Kattetonk, AnanasStar, Risoles, Kroket, Bitterbalen, Macaroni Schottel, Huzaren Sla); kue-kue Cina (Kue Mangkok, Kue Anak Cina, Kue Ku, Tengteng Wijen, Tengteng Kacang, Kue Satu, Kecap Benteng); dan buah-buahan langka di antaranya Kecapi, Kemang, Gandaria, Gohok, Kokosan, Buni, Jamblang, Menteng. Sayur Sambel Godog Sayur Sambel Godog mempunyai keterpengaruhan khususnya dengan Cina. Biasanya disajikan saat Lebaran, dibuat secara khusus. Ada kata sambel namun sayur ini tidak ada hubungannya dengan sambel. Sayur Sambel Godog ini sebenarnya tak jauh beda dengan Sayur Ketupat, baik bahan maupun cara mengolahnya. Untuk memberi sentuhan sensual, pete (petai) biasanya ditambahkan pada Sayur Sambel Godog ini. Sayur Sambel Godog | 37

[KEBUDAYAAN BETAWI]

dijadikan

sebagai

teman

makan

ketupat,

selain

semur

daging

dan

tahu.

Sayur Sambel Godog juga disuguhkan saat malem lime belas dan malem empat puluh dari peringatan kematian, bersama hidangan ketupat sayur laksa dan sate lembut. Sayur Gabus Pucung Sayur Gabus Pucung adalah sayur ikan gabus yang berwarna hitam pekat dari pucung (kluwak). Pucung atau kluwak biasa dikenal sebagai bumbu rawon. Jika rawon menggunakan daging, sayur gabus pucung menggunakan ikan gabus.

Bahan utama pucung gabus adalah ikan gabus. Ikan gabus yang sudah digoreng, lalu dicemplungkan ke dalam kuah hitam akibat dari pucung (Pangium edule reinw) ibu-ibu ahli dapur mengenal bumbu tersebut dengan nama kluwek. Sayur ikan gabus pucung sebagai masakan khas Betawi relatif sulit ditemukan. Sebagian wilayah Bekasi yang banyak mendapat pengaruh dari masyarakat Betawi (misalnya sebagian Kota Bekasi hingga Tambun dan Cibitung) mengenal masakan ini sebagai masakan untuk para bos. Selain karena rumah makan yang menyediakannya jarang, ikan gabus juga sulit diternak. Sebagian besar ikan gabus yang didapat merupakan tangkapan dari alam. Nasi Ulam Di Jakarta kita mengenal dua jenis nasi ulam, yaitu varian kering dan varian basah. Nasi ulam varian kering adalah nasi putih yang dicampur atau diaduk dengan serundeng (parutan kelapa goreng berbumbu). Adukan nasi ini dihidangkan dengan lauk-pauk yang khas seperti dendeng, sambal goreng telur, tempe-tahu goreng, dan lain-lain. Di atasnya ditaburi rajangan timun, daun kemangi, dan kacang hijau (mentah, tetapi sebelumnya telah direndam semalam dalam air). Tentu saja harus ada sambal dan kerupuk untuk menyedapkan dan melengkapi hidangan ini. Nasi ulam varian basah adalah nasi putih dengan lauk-pauk bihun goreng, perkedel, dendeng sapi manis, cumi kering asin, tempe goreng, disiram dengan kuah semur tahu-kentang, lalu diberi kerupuk atau rempeyek di atasnya. Masih lagi ditaburi dengan serundeng dan daun kemangi. Semula saya anggap guyuran kuah semur di atas berbagai lauk itu merupakan hal yang aneh. Tetapi, ternyata justru kuah semur itu yang menjadi "pengikat" bagi kesatuan unik yang dinamai nasi ulam itu. Gado-gado Gado-gado, hidangan populer yang diduga keras merupakan sajian asli Jakarta, juga berkemungkinan merupakan fusi antara kuliner Jawa dan Tionghoa yang hadir | 38

[KEBUDAYAAN BETAWI]

dalam setting kota besar. Bukan tidak mungkin gado-gado merupakan adaptasi nyonyanyonya Tionghoa terhadap pecel yang khas Jawa. Secara umum kita mengenal dua versi gado-gado, yaitu gado-gado rakyat dan gadogado orang kaya. Versi rakyat biasanya dijajakan dengan kereta dorong atau mangkal di ujung gang. Versi ini justru lebih kaya variasi sayur yang digunakan: tauge, kol, nangka muda, pare, jagung, tahu, tempe, dan lain-lain. Bumbunya di-uleg langsung from scratch untuk setiap pesanan. Gado-gado versi "priyayi" biasanya memakai telur rebus, emping goreng, dan bumbunya dibuat dari kacang mede - bukan kacang tanah. Harganya tentu saja jauh lebih mahal. Bahkan ada versi gado-gado yang lebih menonjolkan ciri peranakan dan disebut dengan nama rujak pengantin. Sate Lembut & Sate Manis Kedua sate ini terbuat dari daging sapi, hanya saja cara mengolahnya beda. Sate lembut adalah sate dari daging sapi yang digiling. Kalau sate manis, daging sapi diiris, diungkep, lalu dikasih bumbu. Sate lembut terasa lembut, dengan rempah yang kental dan kesat kelapa yang sangat terasa. Rasanya gurih dan manis bercampur. Sate ini dilumuri bumbu kacang dan kecap. Tapi bumbu kacang yang digunakan tak seperti bumbu kacang sate pada umumnya. Bumbu kacang sate lembut tak selembut satenya. Jadi kacang kasar masih bisa dinikmati dalam bumbu itu. Sementara itu sate manis lebih terasa seperti sate pada umumnya. Hanya saja sate ini terbuat dari sapi. Laksa Betawi Laksa Betawi disantap bersama Sate Manis dan Sate Lembut. Laksa Betawi berisi ketupat, bihun, telur ayam rebus, perkedel kentang. Semua itu diguyur kuah santan kental ditambah emping dan daun kemangi yang makin bikin sedap. Sesuap Laksa Betawi ditimpal setusuk daging sate lembut atau sate manis akan memberi cita rasa yang selangit.

Kerak Telor Makanan ini terbuat dari telor yang dicampur dengan beras ketan dan dimakan bersama kelapa gongseng. Dodol betawi Dodol betawi ini biasanya dihidangkan pada saat lebaran dan juga pada acara pernikahan.

| 39

[KEBUDAYAAN BETAWI]

Tape uli Makanan tape terbuat dari ketan yang difermentasikan dengan ragi. Sedangkan terbuat dari ketan juga, tapi dikukus lalu ditumbuk. Biasa dihidangkan ketika lebaran ayaupun pada acara pernikahan. Soto Betawi Soto Betawi ini dibuat dengan menggunakan daging sapi, santan, daun salam, sereh, lengkuas, daun jeruk, bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, garam dan merica. Bir Pletok Bir asli Betawi, dan dijamin halal. Cocok untuk diminum pada cuaca dingin. Konon dibuat karena orang Betawi tidak mau kalah dengan sinyo & noni Belanda yang sering berpesta meminum bir. Bisa jadi minuman ini sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat Betawi, hanya namanya saja yang diubah untuk menyindir kebiasaan minum-minum kaum penjajah. 9. Upacara Adat Betawi Perkawinan Adat Pengantin Betawi ditandai dengan serangkaian prosesi. Didahului masa perkenalan melalui Mak Comblang. Dilanjutkan lamaran. Pingitan. Upacara siraman. Prosesi potong cantung atau ngerik bulu kalong dengan uang logam yang diapit lalu digunting. Malam pacar, mempelai memerahkan kuku kaki dan kuku tangannya dengan pacar. Puncak adat Betawi adalah Akad Nikah. Mempelai wanita memakai baju kurung dengan teratai dan selendang sarung songket. Kepala mempelai wanita dihias sanggul sawi asing serta kembang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepasang burung Hong. Dahi mempelai wanita diberi tanda merah berupa bulan sabit menandakan masih gadis saat menikah. Mempelai pria memakai jas Rebet, kain sarung plakat, Hem, Jas, serta kopiah. Ditambah baju Gamis berupa Jubah Arab yang dipakai saat resepsi dimulai. Jubah, Baju Gamis, Selendang yang memanjang dari kiri ke kanan serta topi model Alpie menandai agar rumah tangga selalu rukun dan damai. Prosesi Akad Nikah Mempelai pria dan keluarganya datang naik andong atau delman hias. Disambut Petasan. Syarat mempelai pria diperbolehkan masuk menemui orang tua mempelai wanita adalah prosesi ‘Buka Palang Pintu’. Yakni, dialog antara jagoan pria dan jagoan wanita, | 40

[KEBUDAYAAN BETAWI]

kemudian ditandai pertandingan silat serta dilantunkan tembang Zike atau lantunan ayatayat Al Quran. Pada akad nikah, rombongan mempelai pria membawa hantaran berupa: 1. Sirih, gambir, pala, kapur dan pinang. Artinya segala pahit, getir, manisnya kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami istri. 2. Maket Masjid, agar tidak lupa pada agama harus menjalani ibadah shalat serta mengaji. 3. Kekudang, berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan sebagainya. 4. Mahar atau mas kawin. 5. Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, lasem, kosmetik, sepasang roti buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami serta selalu mencari makan bersama-sama. 6. Petisie yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta, misalnya wortel, kentang, telur asin, bihun, buncis dan sebagainya. Akad nikah dilakukan di depan penghulu. Setelah itu ada beberapa rangkaian acara: 1. Mempelai pria membuka cadar pengantin wanita untuk memastikan pengantin tersebut adalah dambaan hatinya. 2. Mempelai wanita mencium tangan mempelai pria. 3. Kedua mempelai duduk bersanding di pelaminan. 4. Dihibur Tarian kembang Jakarta Pembacaan doa berisi wejangan untuk kedua mempelai dan keluarga kedua belah pihak yang tengah berbahagia. Simbolisasi roti buaya dalam

pernikahan adat betawi Setiap acara pernikahan yang

mengusung adat Betawi, pasti tak pernah meninggalkan roti buaya.

Biasanya roti yang memiliki panjang sekitar 50 sentimeter ini dibawa oleh mempelai pengantin laki-laki pada acara serah-serahan. Selain roti buaya, mempelai pengantin laki-laki juga

| 41

[KEBUDAYAAN BETAWI]

memberikan uang mahar, perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan rumah tangga. Dari sejumlah barang yang diserahkan tersebut, roti buaya menempati posisi terpenting. Bahkan, bisa dibilang hukumnya wajib. Sebab, roti ini memiliki makna tersendiri bagi warga Betawi, yakni sebagai ungkapan kesetiaan pasangan yang menikah untuk sehidup-semati. Asal muasal adanya roti buaya ini, konon terinspirasi perilaku buaya yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Dan masyarakat Betawi meyakini hal itu secara turun temurun. Selain terinspirasi perilaku buaya, simbol kesetiaan yang diwujudkan dalam sebuah makanan berbentuk roti itu juga memiliki makna khusus. Menurut keyakinan masyarakat Betawi, roti juga menjadi simbol kemampanan ekonomi. Dengan maksud, selain bisa saling setia, pasangan yang menikah juga memiliki masa depan yang lebih baik dan bisa hidup mapan. ▪ Upacara Nuju Bulanan Upacara selamatan ketika usia kandungan mencapai tujuh bulan yang hanya diselenggarakan pada kehamilan pertama. Tujuan upacara ini adalah mensyukuri nukmat Tuhan, memohon keselamatan, berisi harapan agar anak yang akan lahir itu menjadi anak yang soleh, berbudi luhir da patuh pada orang tua. Itulah sebabnya dalam upacara ini dibaca kitab suci Al-Qur’an, khusunya surat Yusuf. Isi surat ini menggambarkan ketampanan nabi Yusuf, keluhuran akhlaknya, dan kepatuhannya terhadap orang tua. Lalu terselip harapan semoga anak yang lahir mendekati sifat nabi Yusuf.

Upacara Kerik Tangan Upacara berupa serah terima tugas perawatan bayi dari dukun bayi kepada keluarga

si bayi. Intinya berupa ungkapan terima kasih dari keluarga kepada sang dukun atas keikhlasan. ▪ Upacara Sunatan Orang Betawi melaksanakan khitanan yang disebut Sunatan atau Pengantin Sunat, untuk memenuhi ketentuan agama dan kesehatan. Anak laki-laki yang disunat berusia 5 sampai 10 tahun. Rangkaian acara sunat itu terdiri dari acara mengarak, menyunat, dan selamatan. Anak yang disunat mengenakan “pakaian pengantin” dan diarak keliling kampong. Kadang-kadang anak yang disunat naik kuda dan disertai bunyi-bunyian seperti rebana. Bunyi-bunyian tersebut untuk menarik perhatian masyaraka sekitarnya terutama anak-anak untuk memperpanjang arak-arakan itu. Hal ini menyebabkan anak yang akan | 42

[KEBUDAYAAN BETAWI]

disunat menjadi gembira. Acara sunatan sendiri dilaksanakan keesokan harinya. Setelah anak itu disunat, dibunyikan petasan sebagai tanda pemberitahuan bahwa anak itu telah disunat. Setelah itu diadakanlah selamatan. Bagi yang mampu dilanjutkan dengan hiburan seperti lenong dan topeng.

| 43

[KEBUDAYAAN BETAWI]

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Suku Betawi merupakan perpaduan dari beberapa etnis yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti: etnis Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa. Dari beberapa suku-suku tersebut kemudian terjadi perkawinan silang antar suku dan munculah suku betawi yang mendiami daerah Jakarta dan sekitarnya. Kebudayaan betawi sendiri merupakan suatu kebudayaan yang unik karena kebudayaan ini tidak mempunyai identitas khusus, melainkan merupakan kebudayaan yang telah mendapat pengaruh dari kebudayaan asing dimana kebudayaan yang masuk tidak hanya berasal dari satu daerah saja, melainkan dari banyak daerah. Perpaduan macam-macam kebudayaan tersebuat memunculkan identitas tersendiri bagi Kebudayaan Betawi. Masyarakat Betawi menganut system kekerabatan bilineal yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan pihak ibu. Pada saat sebelum upacara pernikahan dilaksanakan, dilakukan perjanjian terlebih dahulu apakah akan mengikuti kerabat suami atau mengikuti kerabat istri. Namun pada dasarnya orang tua ingin anak mereka yang telah menikah mempunyai rumah sendiri atau ngerumahin anaknya. Mayoritas masyarakat Betawi memeluk Agama Islam. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi, pengaruh Agama Islam sangat terlihat dalam kegiatan bermasyarakat, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Bagi orang Betawi tempo doeloe, orang yang tidak bisa membaca huruf arab dianggap buta huruf sehingga mereka cenderung mengesampingkan pendidikan formal. Bahasa sehari-hari masyarakat Betawi adalah Bahasa Indonesia yang merupakan turunan dari Bahasa Melayu. Di era globalisasi seperti sekarang ini tuntutan bagi masyarakat untuk mengikuti pola hidup yang lebih modern sangatlah kompleks. Orang betawi yang hidup di Jakarta mulai terpinggirkan. Untuk itu pemuda betawi harus mampu memberikan citra baik terhadap masyarakat. Betawi juga memiliki banyak sekali kesenian yang dapat ditonjolkan. Yang paling khas adalah Ondel-ondel dan roti buaya dalam perayaan pernikahannya. Selain itu terdapat banyak tarian seperti tari Cokek, tari Ronggeng, tari Topeng, tari Lenggang Nyai, dan tari Yapong. Banyak disajikan | 44

[KEBUDAYAAN BETAWI]

makanan khas seperti laksa, nasi ulam, gado-gado, tape uli, karedok, kerak telor, dan lain-lain. Cerita rakyat menggambarkan cirri khas anak betawi yang rajin sholat, pandai mengaji, dan jago silat seperti Si Pitung dan Si Jampang.

B. Saran Pendatang baru yang menghiasi kota Jakarta akan membawa kebudayaan baru. Hal ini mengakibatkan terkikisnya kebudayaan betawi yang sudah agak ditinggalkan. Apalagi masyarakat betawi dalam pergaulan agak terpinggirkan karena kalah bersaing. Untuk melestarikan kebudayaan betawi perlu diadakan lebih banyak lagi festival dengan mempertunjukkannya pada bangsa lain. Pendidikan tentang kebudayaan sejak dini dirasa perlu, agar selalu melekat dan menghiasi kehidupan orang betawi. Kemudian masalah sosial masyarakat Betawi dalam kehidupan bermasyarakat di mana mereka kurang mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari yang dikarenakan karena kalah bersaing dengan para pendatang. Hal ini dapat diminimalisir dengan meningkatkan tingkat kepedulian masyarakat Betawi akan arti pentingnya pendidikan. Dengan berbekal pendidikan yang baik akan menghasilkan dasar yang bagus guna bekal untuk persaingan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu rasa ingin “enaknya aja” tanpa mau bekerja keras harus dibuang jauh-jauh supaya kita dapat lebih maju. Kalau mau hasil ya harus mau kerja keras. Dan jangan pernah ada perasaan takut gagal membuatmu takut untuk mencoba. HIDUP BETAWI…!!!

| 45

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful