P. 1
Konservasi dan Deplesi Sumber Daya Air

Konservasi dan Deplesi Sumber Daya Air

|Views: 792|Likes:

More info:

Published by: Wendi Irawan Dediarta on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

KONSERVASI DAN DEPLESI SUMBER DAYA AIR

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS SALAH SATU MATA KULIAH EKONOMI SUMBER DAYA ALAM

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 1 VANDER L. ADAM DARMAWAN RATNA PUSPITA DEWI RABBY RADHIYA J.G. ISMUL MUGHNI 150310080110 150310080114 150310080115 150310080116 150310080118

AGRIBISNIS C

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah ekonomi sumber daya alam, yaitu membuat makalah dengan sebaik-baiknya. Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah manajemen sumberdaya manusia yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat memotifasi penulis untuk mencari informasi mengenai makalah yang dibuat. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada orang tua yang telah membantu dan memberikan dukungan. Selain itu juga kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu. Tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul “ konservasi dan deplesi sumber daya air” ini adalah agar para pembaca dapat mengetahui lebih banyak mengenai masalah yang dibahas pada makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Oleh karena itu kritik dan saran akan penulis terima dengan senang hati. Jatinangor, Maret 2010

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permukaan bumi ditutupi oleh air hampir 70 % . Total volume air yang terdapat di bumi jumlahnya sekitar 1,4 milyar km3, hanya 2,5 % saja yang berupa air tawar dan hanya kurang dari 1 % volume air tawar yang dapat dikonsumsi karena sebagian besar sisanya berada di dalam tanah yang sangat dalam. Dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersedian air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, sumberdaya air harus dikelola, dipelihara, dimanfaatkan, dilindungi dan dijaga kelestariannya. 1.2. Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Alam
2. Menginformasikan kepada pembaca mengenai sumber daya alam

pulih dan sumber daya tidak pulih. 1.3. Metode Penulisan Berdasarkan permasalahan penulisan, maka metode penulisan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. studi literature

Penulis melakukan penulisan dengan mencari buku yang dapat mempertajam orientasi dan dasar teoritis penulis terhadap penulisan. 2. searching internet Penulis berusaha untuk memperbanyak data dan informasi secara luas dengan searching di internet. Hal ini sangat membantu proses penulisan makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Konservasi Sumber Daya Air Konservasi sumberdaya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan mahluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang melalui metode teknologi atau perilaku sosial. Tujuan konservasi air sendiri adalah untuk :
1. Keseimbangan - Untuk menjamin ketersediaan untuk generasi

masa depan, pengurangan air segar dari sebuah ekosistem tidak akan melewati nilai penggantian alamiahnya.
2. Penghematan energi - Pemompaan air, pengiriman, dan fasilitas

pengolahan air limbah mengkonsumsi energi besar.
3. Konservasi

habitat - Penggunaan air oleh manusia yang

diminimalisir untuk membantu mengamankan simpanan sumber air bersih untuk habitat liar lokal dan penerimaan migrasi aliran air, termasuk usaha-usaha baru pembangunan waduk dan infrastruktur berbasis air lain (pemeliharaan yang lama). A. Konservasi Sumber Daya Air di Sungai, Danau dan Waduk Untuk konservasi air di daerah seperti sungai, danau, waduk tentunya tak lepas dari pengelolaan yang dilakukan demi diperolehnya tatanan air yang setimbang. Tujuan konservasi itu meliputi: a. Pencegahan Banjir dan Kekeringan Banjir terjadi karena sungai dan saluran-saluran drainase lain tidak mampu menampung air hujan yang turun ke bumi. Penuhnya air permukaan pada sungai dan danau serta saluran drainase lain disebabkan karena air hujan itu tidak merembes ke bumi, melainkan mengalir menjadi air permukaan. Penyebab terjadinya banjir antara

lain curah hujan yang tinggi, penutupan hutan dan lahan yang tidak memadai, serta perlakuan atas tanah yang salah. Agar banjir dan kekeringan dapat diantisipasi, maka perlu dibuat peta rawan banjir dan kekeringan pada tiap daerah, menyusun rencana penanggulangan banjir dan kekeringan, dan menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengadaptasinya. Kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir adalah:
1.

Mematuhi ketentuan tentang Koefisien Bangunan Dasar

(KBD) bangunan sehingga kemampuan peresapan air ke dalam tanah meningkat
2.

Menjaga sekurang-kurangnya 70% kawasan pegunungan Melakukan penanaman, pemeliharaan, dan kegiatan

tertutup dengan vegetasi tetap
3.

konservasi tanah lainnya pada kawasan lahan yang gundul dan tanah kritis lainnya terutama pada kawasan hulu suatu DAS
4.

Menyelenggarakan

pembuatan

teras

pada

kawasan

budidaya di daerah berlereng
5. 6.

Membangun sumur dan kolam resapan Membangun dam penampung dan pengendali air pada Pengaturan tata guna lahan yang harus lebih berorientasi Alokasi lahan harus lebih berorientasi ke fungsi sosial,

tempat-tempat yang dimungkinkan
7.

kepada lingkungan dan meningkatkan ruang terbuka hijau
8.

lingkungan dan keberpihakan kepada rakyat kecil, sehingga perlu dilakukan pendataan tanah dan land form. Ada kawasan resapan air tidak diperkenankan mendirikan bangunan di kawasan ini arena akan menghalangi meresapnya air hujan secara besarbesaran. Pembangunan jalan raya juga dihindari agar tidak menyebabkan pemadatan tanah dan terganggunya fungsi akuifer. vegetasi yang ada dijaga dan tidak dilakukan penebangan komersial

b. Pencegahan Erosi dan Sedimentasi Erosi dan sedimentasi adalah peristiwa terkikisnya lapisan permukaan bumi oleh angin atau air. Faktor penentu sedimentasi ini adalah iklim, topografi, dan sifat tanah serta kondisi vegetasi. Faktor penyebab erosi yang terbesar adalah pengikisan oleh air. Oleh karena itu upaya pencegahan yang dilakukan berkaitan dengan upaya pencegahan banjir. Erosi juga dapat terjadi pada tepi sungai karena tebing sungai tidak bisa memegang tanah yang terkena arus air. Kegiatan untuk mencegah erosi dan sedimentasi yang dapat dilakukan adalah
1. Tidak melakukan penggarapan tanah pada lereng terjal. Bila

kelerengan lebih dari 40% maka tidak diperkenankan sama sekali untuk bercocok tanam tanaman semusim. Sedangkan bercocok tanam pada 10 kawasan yang berlereng antara 15-25 % dilakukan dengan membuat teras terlebih dahulu
2. Untuk mencegah terjadinya sedimentasi pada sungai, maka pada

berbagai lokasi di kawasan berlereng dibuat bangunan jebakan lumpur, berupa parit-parit buntu sejajar kontur dengan berbagai variasi panjang, lebar dan dalamnya parit. Secara periodik parit ini dibersihkan agar dapat berfungsi sebagai penjebak lumpur, terutama pada musim penghujan
3. Mencegah pemanfaatan lahan secara intensif pada lahan yang

berada di atas ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut
4. Mencegah pemanfaatan lahan yang memiliki nilai erosi lebih tinggi

dari erosi yang diperbolehkan.

c. Pencegahan Kerusakan Bantaran Sungai Kerusakan bantaran sungai dapat diakibatkan oleh pengikisan aliran air dan aktivitas manusia yaitu dengan pembuangan sampah, material dan pengurukan untuk melindungi tempat tinggal. Pencegahan timbulnya kerusakan bantaran sungai dapat dilakukan :
1. Melindungi bantaran sungai secara teknis dengan pembetonan dan

secara vegetasi yaitu penanaman pada bantran sungai dengan pohon supaya tahan terhadap proses pengikisan
2. Melarang

dan menindak

kepada orang atau pihak yang

menggunakan bantaran sungai untuk bangunan tempat tinggal;
3. Melarang kegiatan pembuangan sampah dan material sehingga

menyebabkan kerusakan bantaran sungai. B. Konservasi Sumber daya Air Bawah Tanah Sedikit berbeda, untuk konservasi secara sedrhana yang dapat diterapkan di rumah-rumah penduduk, maka ada konservasi untuk air bawah tanah. Meliputi, sumur resapan air hujan (SRAH) menurut Muhsinatun Siasah Masruri, 1997 dalam buku Sumur Resapan Air Hujan Sebagai Sarana Konservasi Sumberdaya Air Tanah di Kota Madya Yogyakarta adalah lubang galian berupa sumur untuk menampung dan meresapkan air hujan. Sesuai dengan namanya air yang boleh masuk kedalam sumur resapan adalah air hujan yang disalurkan dari atap bangunan atau air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah pada waktu hujan. Air dari kamar mandi, WC dan dapur tidak dimasukkan kedalam SRAH karena air tersebut merupakan limbah. Air dari WC harus dimasukkan ke dalam septictank kedap air agar bakterinya tidak mencemari air tanah. Manfaat sumur resapan air hujan terhadap lingkungan adalah untuk mengurangi angka imbangan air yaitu sebagai pemasok air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih guna menopang kehidupan, mengatasi

intrusi air laut, memperbaiki mutu air tanah, mengatasi kekeringan dimusim kemarau, menanggulangi banjir dimusim hujan, mengendalikan air larian (run off) yang mengakibatkan pengikisan humus tanah. Dengan terkendalinya erosi tanah, secara tidak langsung mengurangi sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan sungai. Sumur resapan dapat diletakkan dimana saja baik di halaman depan, tengah, samping maupun belakang. Bila halaman tidak memungkinkan dapat diletakkan di bawah teras, garasi, ruang tengah. Sumur resapan tidak mengganggu keindahan halaman karena dapat ditimbun di dalam tanah. Sumur resapan tidak memerlukan pipa udara sebagaimana septictank sehingga sulit menemukan lokasi karena tidak kelihatan. Letak SRAH harus berjauhan dengan septictank, lebih kurang sepuluh meter guna menghindari pencemaran bila terjadi kebocoran. Air hujan yang disalurkan baik dari atap maupun yang mengalir sebagai limpasan di permukaan, sebelum masuk kedalam sumur, air hujan melalui bak kontrol dengan maksud benda-benda yang terbawa air tidak masuk kedalam sumur. Di bawah tutup sumur diberi pipa peluapan untuk mengalirkan air ke selokan bila air terlalu penuh. Tutup sumur dibuat dari plat beton, dinding sumur dengan polongan berdiameter 80-100 cm. Pada sambungan polongan diberi ijuk setebal 5 cm, diluar dinding diurug dengan pasir dan pada dasar sumur diberi batu belah guna menahan timpaan air. Bahan bahan yang diperlukan; polongan diameter 80 cm, batu belah dan pasir, ijuk, pipa paralon 3 inch, plat/besi dan semencor/plat untuk tutup sumur. Selain air sumur resapan, lubang resapan biopori merupakan cara konservasi air tanah sederhana di daerah pemukiman adalah lubang silendris yang dibuat di dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, kedalaman tergantung kondisi tanah asal tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang biopori diisi sampah dapur/organik guna mendorong terbentuknya biopori oleh aktifitas fauna tanah (cacing) sehingga dapat meningkatkan lajunya peresapan air hujan. Lubang biopori prinsipnya

sama dengan sumur resapan, lebih simpel dan mudah diterapkan tidak memerlukan biaya. 2.2. Deplesi Sumber Daya Air Deplesi adalah pengambilan sumber daya alam secara besarbesaran, yang biasanya demi memenuhi kebutuhan akan bahan mentah. Bagi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui deplesi berarti pengurasan sumber daya yang ada karena tidak ada penciptaan yang baru, sedangkan bagi sumber daya alam yang dapat pulih deplesi dapat diimbangi dengan dengan usaha konservasi. Kepunahan SDA itu disebabkan adanya dua kelompok masyarakat yaitu: a. Kelompok kapitalis yang bekerja untuk memaksimumkan laba, sehingga mereka berusaha untuk menggali sumber daya alam sebanyak mungkin dalam jangka waktu tertentu. b. Kelompok miskin yang terpaksa menguras sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang subsisten. Menurunnya simpanan air bawah tanah tersebut mengakibatkan aliran (base flow) pada musim kemarau menjadi rendah. Aliran yang rendah dari aliran normal sesungguhnya tidak terjadi tiba-tiba tetapi secara perlahan-lahan sejak beberapa tahun terakhir. Penyebab utama terjadinya penurunan pengisian cadangan air bawah tanah adalah menurunnya laju infiltrasi air hujan di daerah tangkapan sungai akibat perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi pertanian atau permukiman serta penggunaan lahan yang lain (Sinukaban, 2003). Dengan meningkatnya kebutuhan air baik untuk keperluan industri, pertanian dan kebutuhan rumah tangga, pengambilan air tanah juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Konsekuensi yang ditimbulkan mulai dirasakan dalam bentuk penurunan tinggi permukaan air tanah yang pada gilirannya dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah sebagaimana yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Menurut Asdak (1995) peningkatan pengambilan air tanah yang tidak

direncanakan dengan baik dan terutama tidak diikuti dengan usaha-usaha pencagaran air tanah yang memadai dapat mengakibatkan terjadinya degradasi dan deplesi sumber-sumber air tanah. Pengelolaan air bawah tanah atau groundwater untuk memahami kasus sumber daya yang bersifat common property. Pada saat air tidak jelas pemiliknya, air akan menjadi common pool dimana setiap pengguna sumber daya air meyakini bahwa ekstraksi yang dilakukannya tidak akan mempengaruhi stok sumber daya air, sehingga deplesi dari sumber daya air dinilai tanpa harga. Misalnya Neher (1990), melihat bahwa deplesi sumber daya air bawah tanah ini menyebabkan dampak ekonomi dalam tiga hal. Pertama, sumber daya air menjadi langka melalui pemanfaatan yang berlebihan yang berakibat akan kolapsnya kanal. Kedua, air bahwa tanah dapat diibaratkan uang di bank yang dapat dijadikan cadangan pada saat curah hujan menurun akibat musim kemarau. Ketiga, Ketika ketersediaan air dalam tanah habis, biaya ekstraksi akan meningkat. Kelangkaan air sungguh ironis dengan predikat Bumi sebagai “Planet Air” lantaran 70 persen permukaan bumi tertutup air. Namun, sebagian besar air di Bumi merupakan air asin dan hanya sekitar 2,5 persen saja yang berupa air tawar. Itu pun tidak sampai 1 persen yang bisa dikonsumsi, sedangkan sisanya merupakan air tanah yang dalam atau berupa es di daerah Kutub. Dengan keterbatasannya ini, sungguh keliru kalau orang mengeksploitasi air secara berlebih. Mereka memanfaatkan air seolah-olah air berlimpah dan merupakan “barang bebas”. Padahal semakin terbatas jumlahnya, berlakulah hukum ekonomi, bahwa air merupakan benda ekonomis. Secara umum, pengelolaan air bersih di Indonesia masih terkendala pada beberapa hal. Antara lain distribusi pelayanan air yang tidak merata; polusi air; ketidakmampuan pemerintah memperluas jaringan irigasi bagi keperluan pertanian, sehingga salah satunya terjadi penurunan produksi padi; serta berkurangnya sediaan (supply) air bersih maupun air minum

yang disebabkan berkurangnya daerah tangkapan air akibat alih fungsi lahan. Dalam persoalan distribusi, tampak pengelolaan air lebih banyak difokuskan untuk melayani kegiatan komersial yang mendukung pembangunan ekonomi. Hanya konsumen yang mampu membayar yang dapat memiliki akses terhadap air bersih. Sistem perhitungan ekonomi nasional sering tidak memperhatikan ecological debt dan gagal dalam menangkap biaya deplesi atas modal sumber daya alam yang relatif terbatas. Ini terbukti dengan banyaknya alih fungsi lahan dan hilang atau berkurangnya situ-situ karena terkalahkan oleh kebijakan yang mementingkan kepentingan ekonomi yang bersifat myopic. Karena itu, sistem akuntansi sumber daya semestinya dapat menjadi pertimbangan kebijakan ekonomi baik pada tingkat lokal maupun nasional dan bukan sebatas wacana akademis semata. Contoh Deplesi Air: Penyediaan air bersih di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala yang kompleks, mulai dari penggunaan teknologi, anggaran, pencemaran, maupun sikap dari masyarakat. Pengelolaan air bersih ini berpacu dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat serta perkembangan wilayah dan industri yang cepat. Masyarakat dan industri di perkotaan inilah yang termasuk boros air. Di sisi lain, kesulitan masyarakat memperoleh air bersih semakin bertambah, ketika sebagian besar perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia beroperasi dalam kondisi tidak sehat. Data dari Departemen Pekerjaan Umum menunjukkan, sampai tahun 2000, dari 290 PDAM yang ada di seluruh Indonesia, jumlah pelanggannya baru mencapai 4,8 juta. Dengan kapasitas produksi nasional air PDAM yang 72.000 liter/detik, sebagian besar PDAM masih menghadapi masalah kebocoran air (unaccounted for water) hingga menyentuh level 40-50 persen. PDAM juga dihadapkan pada manajemen yang buruk, dimana hal itu berdampak pada sebagian besar PDAM yang ada di Indonesia

mengalami kerugian dan memiliki utang. Menurut laporan Departemen Keuangan RI per 30 Juni 2008, tercatat Rp 4,6 triliun hutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Suatu jumlah dana yang tidak sedikit tentunya. Hutang sebesar itu yang termasuk hutang pokok Rp 1,5 triliun dan non-pokok (bunga dan denda) Rp 3,1 triliun. Sejak 10 tahun lalu, pemerintah memberi hutang pada PDAM. Dan dari 335 PDAM di Indonesia, sejumlah 205 PDAM yang menghutang pada negara sementara hanya 30 PDAM yang lancar dalam pembayarannya. Sisanya yaitu 175 PDAM, menunggak. Bahkan 167 PDAM diantaranya macet sama sekali dalam pembayaran hutang. Dana pemerintah pusat yang macet mencapal Rp 4,6 triliun pinjaman dari SLA (Sub Loan Agreement) dan RDA (Regional Development Account). Masalahnya tampak menonjol di mana utang terhadap SLA dan RDA yang besar dan tidak mampu dicicil, biaya bahan baku makin mahal dan tarif air minum yang relatif masih rendah.

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Konservasi sumberdaya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan mahluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang melalui metode teknologi atau perilaku sosial. Untuk konservasi air di daerah seperti sungai, danau, waduk tentunya tak lepas dari pengelolaan yang dilakukan demi diperolehnya tatanan air yang setimbang. Erosi dan sedimentasi adalah peristiwa terkikisnya lapisan permukaan bumi oleh angin atau air.. Faktor penyebab erosi yang terbesar adalah pengikisan oleh air. Erosi juga dapat terjadi pada tepi sungai karena tebing sungai tidak bisa memegang tanah yang terkena arus air. Deplesi adalah pengambilan sumber daya alam secara besarbesaran, yang biasanya demi memenuhi kebutuhan akan bahan mentah. Bagi sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui deplesi berarti pengurasan sumber daya yang ada karena tidak ada penciptaan yang baru, sedangkan bagi sumber daya alam yang dapat pulih deplesi dapat diimbangi dengan dengan usaha konservasi. Menurunnya simpanan air bawah tanah tersebut mengakibatkan aliran (base flow) pada musim kemarau menjadi rendah. Aliran yang rendah dari aliran normal sesungguhnya tidak terjadi tiba-tiba tetapi secara perlahan-lahan sejak beberapa tahun terakhir. Penyebab utama terjadinya penurunan pengisian cadangan air bawah tanah adalah menurunnya laju infiltrasi air hujan di daerah tangkapan sungai akibat perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi pertanian atau permukiman serta penggunaan lahan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA http://adronafis28.wordpress.com/2009/07/29/air-bersih-air-bersih/ http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/a_k_paloloang.htm

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->