P. 1
Usaha Tani Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya.

Usaha Tani Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya.

|Views: 279|Likes:

More info:

Published by: Wendi Irawan Dediarta on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/05/2014

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nya lah kami dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan kami yang berjudul “Desa Sariwangi”. Dalam laporan ini kami menjelaskan memaparkan mengenai keadaan usahatani dan kehidupan masyarakat tani di Desa Sariwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Laporan ini merupakan tugas akhir Mata Kuliah Manajemen Usahatani Berskala Kecil. Kami juga berterimakasih kepada Ibu Dini Rochdiani selaku dosen pembimbing mata kuliah ini dan juga kepada semua teman-teman yang turut membantu dalam kelancaran penyelesaian laporan ini. Akhir kata kami Kelompok 17 kelas D Agribisnis mengucapkan terimakasih. Lebih dan kurang kami mohon maaf dan diharapkan kritik dan sarannya agar kelompok kami bisa menjadi lebih baik. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.

Tertanda

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
1

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan 1.3 Lokasi, Tempat, Waktu

1 2 4 4 5 6 7 7 7 7 8 8 8 8 10 10 12 12 12

BAB II. POTENSI DESA 2.1 Potensi Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya 2.2 Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Unggul dalam Sektor Pertanian 2.3. Industri Kreatif Berbasis Pertanian 2.4 Pembangunan Pertanian berwawasan Agribisnis 2.5 Back to nature (Penggunaan Pupuk Organik) 2.6 Penerapan Sistem Pertanian Modern 2.7 Sistem Rice of Intensification (SRI) BAB III. KEADAAN UMUM PETANI RESPONDEN 3.1 Pendidikan, Usia, dan Tanggungan Petani 3.2 Lapangan Pekerjaan Pokok dan Tambahan 3.3 Keadaan Usahatani Tanaman 3.4 Usaha Peternakan

2

3.5 Biaya dan Penerimaan Usahatani 3.5.1 Biaya dan Penerimaan komoditas Padi 3.5.2 Biaya dan penerimaan komoditas Perikanan 3.6 Pendapatan Petani 3.6.1 Pendapatan komoditas x 3.6.2 Pendapatan komoditas y 3.7 Pola Komsumsi Petani BAB IV PENYEDIAAN INPUT, TEKNOLOGI PRODUKSI, PASCA PANEN, DAN PEMASARAN HASIL USAHATANI BAB V MASALAH YANG DIHADAPI

13 13 14 16 18 18 19

22 29 32 32 32 33

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 6.2 Saran LAMPIRAN

3

BAB I PENDAHULUAN

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran adalah suatu lembaga pendidikan yang mempunyai tugas untuk dapat menghasilkan sarjana pertanian yang terampil dalam bidang pengusahaan pertanian dari hulu sampai hilir, tangguh, berdedikasi tinggi, serta mampu berinteraksi dalam dunia kerja. Di dalam mencapai tujuan yang mulia tersebut, maka setiap mahasiswa/mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran harus menguasai berbagai kemampuan dan keterampilan dasar, serta harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas dalam bidang pertanian dari hulu sampai hilir. Agar dapat mencapai tujuan tersebut, maka salah satu cara adalah dengan menerjunkan mahasiswa/mahasiswi langsung pada kondisi pertanian yang sebenarnya. Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan untuk menambah keterampilan dan pengetahuan mahasiswa/mahasiswi dan menerapkan teori-teori yang telah didapatkan pada objek secara langsung. Pengaturan pelaksanaan PKL dilakukan oleh fakultas dengan mempertimbangkan kesediaan lembaga atau kondisi lapangan untuk dapat menerima mahasiswa/mahasiswi yang akan melaksanakan praktek kerja lapangan. Dengan diadakannya PKL ini sangatlah baik dan berguna bagi setiap

mahasiswa/mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Program Studi Agribisnis khususnya dalam matakuliah Manajemen Usaha Tani Berskala Kecil untuk mendapatkan suatu gambaran yang nyata di dalam menerapkan apa-apa yang telah didapatkan dari akademi, sehingga bila terjun ke dunia kerja tidak mendapatkan kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan dapat menerapkan keahlian profesi yang dimiliki.
4

1.1. Latar Belakang Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilatar belakangi oleh beberapa ketentuanketentuan, yaitu: 1. 2. 3. 4. Menerapkan teori pendidikan yang telah didapat khususnya dalam matakuliah Menghubungkan teori yang telah diperoleh dengan hasil Praktek Kerja Lapangan. Mempelajari situasi kerja kegiatan usaha tani berskala kecil sesuai dengan ilmu Membuat analisa dan pengamatan terhadap hubungan antara teori dan kenyataan. Manajemen Usaha Tani Berskala Kecil.

yang didapat.

1.2.

Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan untuk menambah keterampilan dan pengetahuan mahasiswa/mahasiswi dan menerapkan teori-teori yang telah didapatkan pada objek secara langsung. 1.2.2. Tujuan Kegiatan praktek kerja lapangan yang telah dilaksanakan untuk setiap mahasiswa/mahasiswi mempunyai tujuan yang telah direncanakan dan diharapkan dapat dicapai. Adapun tujuan penyelenggaraan praktek kerja lapangan ini adalah untuk: 1. 2. 3. 4. Menghasilkan sarjana pertanian yang memiliki keahlian profesional Memperkokoh Link and Match antara dunia pendidikan dengan dunia Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja Membekali mahasiswa dengan pengalaman-pengalaman yang sebenarnya dengan tingkat pengetahuan dan etos kerja yang baik. kerja. sebagai bagian proses pendidikan. di dalam dunia kerja, sebagai persiapan guna menyesuaikan diri dengan dunia kerja dan masyarakat.
5

5. 6.

Mahasiswa dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, dalam memecahkan Untuk merealisasikan pengetahuan yang didapat saat perkuliahan

berbagai masalah atau kesulitan yang ditemuinya. Manajemen Usaha Tani Berskala Kecil dengan situasi yang sebenarnya lapangan.

1.3. Lokasi, Tempat, Waktu Kegiatan praktek kerja lapangan ini berlangsung di Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 17-21 Desember 2009.

6

BAB II POTENSI DESA

2.1. Potensi Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat memiliki potensi yang sangat baik dalam sektor pertanian, karena Desa Sariwangi merupakan salah satu lumbung produksi padi di Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya dan Provinsi Jawa Barat pada khususnya. Hal ini didukung oleh ketersediaan lahan yang sangat luas, ketersediaan air sepanjang tahun sehingga tidak tergantung oleh musim, sistem irigasi yang baik, kondisi tanah yang subur, dan didukung oleh tenaga kerja yang memadai sehingga dapat menunjang hasil produksi yang maksimal.

7

Dalam mengembangkan potensi sector pertanian yang dimiliki oleh Desa Sariwangi ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu:

2.2. Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Unggul dalam Sektor Pertanian Mengembangkan sektor pertanian di Desa Sariwangi ke arah yang lebih baik dapat dilakukan dengan mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan khusus pertanian. Hal ini tentu sesuai dengan karakteristik alam masyarakat Tasikmalaya yang masih mengandalkan sektor pertanian, sudah saatnya di Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi memiliki SMK pertanian. Keberadaan SMK pertanian merupakan salah satu alternatif dan pilihan tepat bagi para lulusan SLTP yang langsung berorientasi kerja sehingga dapat menekan jumlah pengangguran di Desa Sariwangi.

2.3. Industri Kreatif Berbasis Pertanian Desa Sariwangi juga berpotensi untuk menciptakan usaha tani yang mampu menarik dan mendorong terciptanya industri, perdagangan, dan jasa yang berbasis pertanian.

2.4. Pembangunan Pertanian berwawasan Agribisnis Pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis dan ramah lingkungan dapat dikembangkan di kawasan ini. Sistem agribisnis yang kini sedang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya terdiri dari empat sub sistem yakni subsistem hulu (up-stream industry), subsistem usaha tani (on-farm agribusiness), subsistem agribisnis hilir (down stream industry) dan subsistem jasa penunjang (agro supporting institutions).
8

2.5. Back to nature (Penggunaan Pupuk Organik) Mengingat fungsi dan peran bahan organik pada tanah, serta semakin intensif penggunaan pupuk dan pestisida kimia oleh petani, maka sangatlah penting untuk memperhatikan usaha pengembalian pupuk organik ke dalam tanah atau back to nature. Dengan menggunakan pupuk organik berarti kita telah menyelamatkan kesuburan lahan pertanian khususnya lahan sawah di Desa Sariwangi, dapat ikut membantu meningkatkan produksi beras nasional dan meningkatnya kesejahteraan petani sekaligus memelihara kesehatan sekaligus menyelamatkan lingkungan.

2.6. Penerapan Sistem Pertanian Modern Penerapan sistem pertanian modern melalui Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya yakni rangkaian usaha berbasis pertanian atas dasar keterpaduan sistem, penggunaan varietas unggul, pengendalian hama terpadu dan pemberian pupuk organik, berorientasi pasar, memanfaatkan sumberdaya secara optimal, dikelola secara professional, didukung SDM berkualitas, teknologi tepat guna berwawasan lingkungan dan kelembagaan yang kokoh seperti Gapoktan, Linmas, LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), BPD (Badan Permusyawaratan Desa), TP. PKK (Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) yang ada di Desa Sariwangi, dapat terus dioptimalkan demi kemajuan pertanian di Desa Sariwangi.

2.7. Sistem Rice of Intensification (SRI) Pengembangan beras organik dengan sistem SRI di Desa Sariwangi sangat penting dalam memenuhi tuntutan akan pangan bermutu, sehat, dan aman. Pertanian organik tidak saja menguntungkan petani karena harga produknya yang lebih tinggi dibanding beras non-organik, namun juga berdampak baik terhadap lingkungan dan keamanan atau kesehatan bagi konsumen penggunanya.

9

Sistem pertanian yang dilaksanakan petani beras organik di Desa Sariwangi menggunakan sistem SRI yang sangat hemat agroinput dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas. Keberhasilan ekspor beras organik Tasikmalaya yang merupakan beras kualitas premium tersebut tidak hanya pertama bagi Kabupaten Tasikmalaya, namun juga bagi Indonesia, sehingga hal itu merupakan sebuah prestasi yang membanggakan dan dapat terus dikembangkan.

BAB III
10

KEADAAN UMUM PETANI RESPONDEN

3.1. Pendidikan, Usia, dan Tanggungan Petani • Pendidikan Dari tabel I , dapat disimpulkan bahwa pada umumnya petani yang kami wawancara di Desa Sariwangi tidak ada yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Pendidikan yang paling tinggi hanya sampai sekolah menengah atas (SMA). Paling rendah yaitu hanya sampai sekolah dasar (SD). Dari dasar pendidikan ini pula yang mungkin membuat para petani pola berpikirnya kurang terbuka sehingga petani-petani di Desa sariwangi ini jarang sekali para petani membuat pembukuan atau memasarkan hasil produksi yang lebih dan kebanyakan untuk konsumsi pribadi dan hanya beberapa petani saja yang sebagian dari hasil produksinya dijual. • Usia Usia para petani yang kami wawancara di Desa Sariwangi rata-rata 30 tahun keatas sampai 80 tahun. Petani yang berumur 30 sampai 40 tahun pada umumnya masih kuat bekerja sendiri di sawahnya sedangkan yang berumur 50 tahun keatas kebanyakan hanya sekedar mengawasi para pekerja pada pagi dan sore hari. • Tanggungan Petani

11

Pada umumnya petani yang kami wawancara hanya mempunyai tanggungan anak dan istri tidak ada tanggungan lain selain itu seperti orang tua dan saudara.

12

T A B E L I (ID E N T IT A S , K E A D A A N U S A H A T A N I, D A N P O L A T A N A M ) ID E N T IT A S K EAD AAN US AH A TAN I PO LA TAN AM S awah L a h a n K e r i n gK o l a m K ebu n U m u r P e n did ik a n P e k e rja a n N o N am a S awah K olam ( t h F o r m Ta al m b a P oa kn o kT a m b a hLaun a s ( b a t a )S t a t u s I r i g aLs u a s ( b S ttaa )t u sL u a s S t a t uLsu a s ( b S ttaa )t u s ) h i a a 1 S o l e h u d 6in0 S D − P e t a nBi u k a W a r u n3 g0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − − − − − P adi − 2 A h m a d5 5 S D − P e t a nBi u k a W a r u n7g0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − − − − − P adi − 3 H . s o m a8 d1 S M A − P e t a n i 150 P e m ilik √ − − − − − − P adi − 4 M u f lih a6h3 D G A − P e t a n i 1 5 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p 6 0 P e m ili k t u m bPa ek m ili k − 1 − P a d i N i la , M a s 5 E n t a n g4 4 S M AP e s a n t Pr eent a nDi a g a n g 1 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 9 b a t a P e m ili k − − P a d i M a s , N il a 6 A de 70 SD − P etan i 700 P e m ilik √ − − 5 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il a 7 S a r ip u d 3in7 S D − P e t a nT i u k a n g K r e 6d 0it0 P e m ilik √ − − 1 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il e m 8 C u c u 5 5 S M P − P e t a nDi a g a n g 3 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − − − − − P adi − 9 D id in 3 6 S D − P e t a nBi u r u h 1 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − − − − − P adi − 1 0 I i N a s a 4 6 S M A − P e t a nS ia t p a m B R I3 0 0 'i P e m ilik √ − − 2 0 b a t aP e m ili k − − P a d i N i la , M a s 11 T uti 64 SD − P etan i 200 P e m ilik √ − − 3 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M u ja e r , N il a 1 2 D e d i 4 8 S M P − P e t a nBi u r u h 390 P e m ilik √ − − 1 0 b a t aP e m ili k − − P a d i N i la , M a s 1 3 A i I t o h6 0 S D − P etan i 200 P e m ilik √ − − 5 0 b a t aP e m ili k − − P a d i N i la , M a s 1 4 E n d a n g4 5 S D − P etan i 200 P e m ilik √ − − 5 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , M u ja e r 1 5 J a ja n g 4 2 S M P − P e t a n i 120 P e m ilik √ − − 3 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il a 1 6 N an i 5 2 SD − P etan i 120 P en y ak ap √ − − 9 b a t a P e m ili k − − P a d i B a w a l, G u r a m e 1 7 N u g r a h 4 8 S M P − P e t a nWi ir a u s a h a 3 6 0 a P e m ilik √ 3 0 P e m ili k0 b a t aP e m ili k − 4 − P a d i N ila , M u j a e r 1 8 H a s a n a6 5 S D h − P etan i 200 P e m ilik √ − − 8 b a t a P e m ili k − − P adi M as, B aw al 1 9 I b u N a n6 i 3 S D − P e t a nMi e n ja h it 2 0 0 P e m ilik √ − − 3 0 b a t aP e m ili k 1 5 0 P e m i lik a d i P N il a 2 0 Is n a 6 2 S D − P e t a nDi a g a n g 1 5 0 P e m i lik /P e n y √a k a p − − 1 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il a 2 1 F u d in 4 2 S D − P e t a nDi a g a n g 100 P e m ilik √ − − 3 0 b a t aP e m ili k − − P a d i M u ja e r , N il a 2 2 M u s 6 0 S M P − P e t a nDi a g a n g 250 P e m ilik √ − − 6 0 b a t aP e m ili k 2 0 0 P e m i lik a d i N i la , B a w a l P 2 3 S id iq 3 8 S M A − P e t a nOi je k 150 P e m ilik √ − − 1 0 b a t aP e m ili k − − P a d i N i la , L e le 2 4 N e n d a h3 7 S D − P etan i 200 P e m ilik √ − − 5 0 b a t aP e m ili k 7 0 P e m i lik a d i L e le , N i la P 2 5 N an i 5 2 SD − P etan i 120 P en y ak ap √ − − 1 t u m bPa ek m ili k − − P a d i B a w a l, N ila 2 6 A d e 5 5 S M P − P e t a nOi je k 1 2 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 1 t u m bPa ek m ili k − − P adi L e le 2 7 A s e p 4 7 S M A − P e t a nBi u r u h 1 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 6 t u m bPa ek m ili k − − P a d i L e l, B a w a l 2 8 E m an 3 8 SM P − P etan i 100 P en y ak ap √ − − − − − − P adi − 2 9 H . M u n7ir0 S D − P etan i 1 0 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 3 0 0 b a P ae m ili k − t − P a d i M a s , N il a 3 0 D e d e M 6 .2 S D − P etan i 5 0 0 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 1 2 0 b a P ae m ili k − t − P a d i M a s , N il a 3 1 Y u s u f E4 . 3 S M P − P e t a nDi a g a n g 60 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 2 3 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il a 3 2 Z a e n a l M 7. S D 6 − P etan i 40 P e m il ik / P e n g g√a r a p − − 1 5 b a t aP e m ili k − − P a d i M a s , N il a

13

3.2. Lapangan Pekerjaan Pokok dan Tambahan Pekerjaan pokok para petani adalah sebagai petani. Tetapi selain menjadi petani, sebagian para petani memiliki pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilan. Pekerjaan tambahan para petani di Desa Sariwangi pada umumnya yaitu menjadi pedagang, buruh, tukang ojek dan penjahit.

3.3. Keadaan Usahatani Tanaman Status lahan sawah dari para petani di Desa Sariwangi yang kami wawancara sebagian besar adalah lahan milik sendiri. Luas lahan (dalam satuan bata) yang paling kecil adalah 40 bata dan yang paling besar adalah 1000 bata. Selain meliliki sawah para petani juga memiliki kolam, hampir semua rumah di Desa Sariwangi memiliki kolam sendiri. Ikan yang dipelihara biasanya dikonsumsi untuk makan sehari-hari dan tidak untuk dijual. Dari petani yang kami wawancara hanya dua orang petani yang memiliki lahan kering dan tiga orang petani yang memiliki kebun, petani di Desa Sariwangi ini rata-rata bertani padi dan jarang sekali bertani yang lain seperti jagung dan sebagainya. 3. 4 keadaan usaha peternakan Desa sariwangi, tasikmalaya merupakan sentra pertanian tanaman padi. Masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani baik sebagai pemilik/penyakap/buruh tani. Mereka tidak hanya bercocok tanam padi, hampir seluruh rumah memiliki kolam (empang) untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk untuk konsumsi harian. Usaha di bidang peternakan kurang terlihat di desa sariwangi, namun ada beberapa masyarakat yang memelihara bebek/ayam untuk kebutuhan sendiri.

14

3. 5 Biaya dan Penerimaan Usahatani Dalam melaksanakan suatu kegiatan diperlukan biaya untuk ememulai kegiatan usaha dan akan diperoleh pemasukan/penerimaan dari usaha yang dijalankan. Demikian juga dengan kegiatan usaha bercocok tanam yang dilakukan masyarakat desa sariwangi. 3. 5. 1 biaya dan penerimaan komoditas x Komoditas x disini adalah padi. Tanaman padi merupakan tanaman yang paling dominan yang diproduksi oleh masyarakat desa sariwangi 1. Biaya-biaya yang dibutuhkan dalam usaha penanaman padi adalah biaya benih, pupuk, pestisida, dan sebagainya. a. Benih Jenis yang biasa digunakan adalah bagendit dan pandan wangi. Untuk memenuhi kebutuhan benih, petani membeli dari koperasi, pasar singaparna maupun bantuan langsung dari pemerintah. Untuk luas lahan 100 bata, dibutuhkan 3-5 kg benih, dengan harga Rp.2.500,-Rp.3.000 per kg. b. Pupuk Untuk pupuk dibutuhkan pupuk jenis TSP dan UREA. Untuk UREA sendiri biasanya dalam 100 bata lahan produksi membutuhkan 25 kg, harga eceran di pasaran Rp.23.000,- per kg . sedangkan TSP dibutuhkan dalam jumlah yang relative sama dengan harga Rp.14.000,- per kg. c. Pestisida Penggunaan pestisida tergolong jarang digunakan oleh petani desa sariwangi. Petani menggunakan pestisida jika ada hama saja. Rp.25.000,- per botol yang dibutuhkan petani jika ada hama yang menggangu. d. Upah

15

Petani yang berstatus sebagai pemilik lahan, pada umumnya mempekerjakan buruh tani selama proses produksi. Dengan luas lahan 200 bata, petani pemilik mempekerjakan 4 orang laki-laki untuk membajak sawah dengan upah harian Rp.15.000,- per orang dan 5 orang perempuan untuk merawat padi, memanen dengan upah harian Rp.10.000,- per orang.

2. Penerimaan Penerimaan petani bergantung pada hasil produksinya, dan hasil produksi bergantung pada bagaimana manajemen pengelolaan lahannya. Jika pengelolaannya baik, dengan luas 200 bata mampu menghasilkan 1 ton gabah. Harga jual gabah basah di pasaran berkisar mulai dari Rp.2.300,- s.d Rp.3.000,-

3. 5. 2 biaya dan penerimaan komoditas y Komoditas y disini adalah hasil dari kolam milik masyarakat. Mereka tidak menjual hasil produksi kolam ke pasar, masyarakat memenfaatkan hasilnya untuk konsumsi harian.

16

T A B E L II (A N A L IS IS B IA Y A D A N P E N E R IM A A N U S A H A T A N I) N o N am a 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

Je n is B iaya U pa h Lu a s S a w ah S e w a T a n aP B B S u m b a n g a n Au r l a h h Jim ( b a t a ) B e n i hP u pu k U r eT S P N P K /K a n da n g ti s i daa k i - L a k ie r e m p u T n r n a k e s i n a Pe s L P ae M S o leh u d in 3 0 0 1 3 5 ,0 0 0 2 8 0 ,0 0 0 7 ,2 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 − 2 5 0 ,0 0 0 − 1 3 5 ,0 0 0 − 8 8 2 ,2 0 0 A h m ad 70 2 7 ,5 0 0 5 6 ,0 0 0 3 6 ,0 0 0 − 5 ,4 0 0 4 5 ,0 0 0 − 7 0 ,0 0 0 − 1 5 ,0 0 0 − 3 0 3 ,5 0 0 H . s o m ad 1 5 0 − 1 0 ,5 0 0 − − − 7 5 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 6 ,0 0 0 − 2 6 1 ,5 0 0 M u f lih ah 1 5 0 5 0 ,0 0 0 1 8 ,0 0 0 − 1 2 ,5 0 0 − 6 0 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 4 0 ,0 0 0 − 3 9 0 ,5 0 0 E n t an g 100 1 5 ,0 0 0 2 8 ,0 0 0 5 ,1 0 0 4 ,2 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − 7 0 ,0 0 0 − 1 5 ,0 0 0 3 ,0 0 0 3 5 0 ,3 0 0 A de 7 0 0 1 7 5 ,0 0 0 1 9 6 ,0 0 0 3 5 ,7 0 0 2 9 ,4 0 0 − 4 0 0 ,0 0 0 1 0 0 ,0 0 0 − 5 6 0 ,0 0 0 − 1 0 5 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 1 ,6 1 6 ,1 0 S ar ip u d in 6 0 0 1 3 0 ,0 0 0 1 1 2 ,0 0 0 3 0 ,6 0 0 1 6 ,8 0 0 − 3 5 0 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − 4 0 0 ,0 0 0 − 9 0 ,0 0 0 1 2 ,0 0 0 1 ,2 2 1 ,4 0 C u cu 300 6 0 ,0 0 0 1 2 6 ,0 0 0 4 9 ,0 0 0 8 ,4 0 0 − 2 5 0 ,0 0 0 7 0 ,0 0 0 − 2 4 0 ,0 0 0 − 1 3 5 ,0 0 0 8 ,0 0 0 9 4 6 ,4 0 0 D id in 100 7 ,5 0 0 4 5 ,0 0 0 5 1 ,0 0 0 − 2 4 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 − − 8 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 2 0 0 ,0 0 0 4 2 5 ,5 0 0 Ii N a s a'i 3 0 0 6 0 ,0 0 0 − − − 3 6 ,0 0 0 4 5 ,0 0 0 − − 3 0 0 ,0 0 0 − 1 3 0 ,0 0 0 − 5 7 1 ,0 0 0 T uti 200 2 5 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 1 0 2 ,0 0 0 − 3 6 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 4 0 ,0 0 0 − 1 6 0 ,0 0 0 − 7 2 ,0 0 0 − 5 8 5 ,0 0 0 D ed i 390 5 4 ,0 0 0 1 5 0 ,0 0 0 1 7 0 ,0 0 0 − 7 2 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 4 0 ,0 0 0 − 2 8 8 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 8 2 9 ,0 0 0 A i It o h 200 9 ,0 0 0 1 0 2 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − − 9 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 5 ,0 0 0 4 1 6 ,0 0 0 E n d an g 2 0 0 2 5 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 6 8 ,0 0 0 6 8 ,0 0 0 − 4 ,8 0 0 6 0 ,0 0 0 − 1 6 0 ,0 0 0 − 1 2 ,0 0 0 − 4 5 7 ,0 0 0 J ajan g 120 3 0 ,0 0 0 7 ,5 0 0 7 5 ,0 0 0 8 ,5 0 0 − 6 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − 1 2 0 ,0 0 0 − 1 0 ,0 0 0 − 4 4 1 ,5 0 0 N an i 120 1 0 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 1 0 2 ,0 0 0 − 9 0 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 4 4 1 ,5 0 0 N u gr ah a 3 6 0 3 0 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 1 3 8 ,0 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − 3 6 0 ,0 0 0 − 5 0 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 7 0 7 ,0 0 0 H as a n a h 2 0 0 3 0 ,0 0 0 1 5 0 ,0 0 0 1 6 0 ,0 0 0 − − 4 5 ,0 0 0 5 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 9 5 ,0 0 0 8 6 6 ,0 0 0 Ib u N an i 2 0 0 1 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 1 0 2 ,0 0 0 − − 9 0 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 6 2 6 ,0 0 0 Is n a 150 1 0 ,5 0 0 5 2 ,5 0 0 5 9 ,5 0 0 − − − − − 1 5 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 5 ,0 0 0 3 2 1 ,5 0 0 F u d in 100 2 0 ,0 0 0 4 5 ,0 0 0 − − − 4 5 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 2 5 0 ,0 0 0 M us 250 5 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 − − − 1 2 0 ,0 0 0 4 0 ,0 0 0 − 2 5 0 ,0 0 0 − 4 0 ,0 0 0 − 5 9 0 ,0 0 0 S id iq 150 4 0 ,0 0 0 5 2 ,5 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 3 4 2 ,5 0 0 N en d a h 2 0 0 4 0 ,0 0 0 7 0 ,5 0 0 7 9 ,9 0 0 − − 9 0 ,0 0 0 5 0 ,0 0 0 − 2 0 0 ,0 0 0 − 3 6 ,0 0 0 − 5 6 6 ,4 0 0 N an i 120 2 5 ,0 0 0 5 2 ,5 0 0 5 9 ,5 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 5 0 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 − − − 3 7 ,5 0 0 4 4 1 ,5 0 0 A de 120 3 7 ,5 0 0 4 5 ,0 0 0 5 1 ,0 0 0 − − 4 0 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 3 5 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 3 9 5 ,0 0 0 A sep 100 3 5 ,0 0 0 9 5 ,0 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 3 9 2 ,0 0 0 E m an 100 2 5 ,0 0 0 5 2 ,0 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 4 0 ,0 0 0 − 1 2 0 ,0 0 0 − − 3 0 ,0 0 0 3 2 7 ,5 0 0 H . M u n ir 1 ,0 0 0 3 0 0 ,0 0 0 4 2 0 ,0 0 0 6 3 0 ,0 0 0 7 0 0 ,0 0 0 − 8 0 ,0 0 0 7 0 ,0 0 0 − 8 0 0 ,0 0 0 − 1 3 7 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 3 ,1 8 6 ,0 0 D e d e M . 5 0 0 1 5 0 ,0 0 0 3 0 0 ,0 0 0 2 2 5 ,0 0 0 1 0 9 ,5 0 0 − 3 0 ,0 0 0 3 0 ,0 0 0 − 4 0 0 ,0 0 0 − 2 2 ,5 0 0 1 5 ,0 0 0 1 ,3 1 8 ,0 0 Yusuf E. 60 4 0 ,0 0 0 2 1 ,6 0 0 1 6 ,2 0 0 5 ,9 0 0 − − 3 0 ,0 0 0 − 4 8 ,0 0 0 − 1 0 ,6 0 0 − 2 0 8 ,3 0 0 Z ae n a l M . 4 0 2 5 ,0 0 0 1 4 ,4 0 0 1 0 ,8 0 0 3 ,9 0 0 − 1 5 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − 3 2 ,0 0 0 − 6 ,8 0 0 − 1 5 1 ,9 0 0

17

3.6.

Pendapatan Petani

Pendapatan petani adalah jumlah pendapatan petani dari usahatani dan dari luar usahatani. Dibawah ini merupakan tabel pendapatan petani :

T A B E L III ( A N A L IS IS K O N S U M S I K E L U A R G A P E R B U L A N )
A n g g o ta B e ra s Dagin g S ay u ra n Buah J u m la h Ju m lah Ju m lah Ju m lah Nam a P e n d i d i k T r a n s p o R te k r e a Kie s e h a t a n b u n g aSnu m b a n g P n j a k P a k a i a n an r s Ta aa N ila i N ila i N ila i N ilai K e l u a r g ak g ) ( (k g ) (k g ) (k g ) So l e h u d in 2 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 0 ,0 0 0 − − − − − 3 0 ,0 0 0 − − − − A hm ad 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 5 ,0 0 0 − − − 3 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − − − − H . so m a d 7 6 0 3 0 0 ,0 0 0 5 1 0 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 7 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − − − − M u f l ih a h 5 6 0 3 0 0 ,0 0 0 4 8 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − − − − E ntan g 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 0 ,0 0 0 − − 4 0 0 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − − − − 2 0 0 6 ,0 0 0 A de 5 6 0 3 0 0 ,0 0 0 1 0 2 0 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 3 3 0 ,0 0 0 − 5 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 5 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 Sa r ip u d in 3 3 5 1 7 5 ,0 0 0 1 2 3 0 0 ,0 0 0 2 2 5 ,0 0 0 7 8 0 ,0 0 0 4 0 0 , 0 0 0 4 0 , 0 0 0 6 0 ,0 0 0 1 5 , 0 0 0 − 8 ,0 0 0 1 3 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 C uc u 4 4 0 2 0 0 ,0 0 0 3 5 0 ,0 0 0 1 1 0 ,0 0 0 5 3 0 ,0 0 0 2 0 0 , 0 0 0 2 5 , 0 0 0 − − − 6 , 0 0 0 8 ,0 0 0 8 0 , 0 0 0 D id in 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 − − − − − − − I i N a sa 'i 8 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − 8 5 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 − − − − − − T ut i 5 7 5 3 7 5 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − − 9 0 ,0 0 0 − − − − − − D e di 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − 2 7 0 ,0 0 0 − − − − − − − A i Ito h 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − − 9 0 , 0 0 0 − D a r i K o l a m6 0 , 0 0 0 − − − − 1 ,2 0 0 1 2 , 0 0 0 E n dan g 4 3 0 1 6 5 ,0 0 0 − − − 6 0 , 0 0 0 − D a r i K o l a m3 0 , 0 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 − − 8 5 0 8 ,5 0 0 J a ja n g 4 2 2 .5 1 2 3 ,7 5 0 − − − 9 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 6 0 , 0 0 0 − − 3 0 ,0 0 0 − − 850 600 N ani 7 4 5 2 2 5 ,0 0 0 0 . 0 8 D a r i K o la m − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 2 ,0 0 0 6 0 0 , 0 0 0 9 0 , 0 0 0 − − − − 5 0 0 4 ,1 0 0 N ugra h a 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − 2 0 k a li1 0 0 ,0 0 0 − − − 1 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 − 2 ,5 0 0 3 0 , 0 0 0 H a sa n a h 6 2 0 1 0 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 9 0 ,0 0 0 − 1 0 ,0 0 0 − − − 3 0 , 0 0 0 1 5 , 0 0 0 1 0 , 0 0 0 5 ,0 0 0 1 0 , 0 0 0 Ibu N an i 6 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 3 0 k a li 9 0 , 0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 6 0 , 0 0 0 6 , 0 0 0 − 1 5 , 0 0 0 1 0 , 0 0 0 1 2 , 0 0 0 4 ,0 0 0 1 5 , 0 0 0 I sn a 4 2 8 1 4 0 ,0 0 0 3 5 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 9 0 , 0 0 0 7 2 , 0 0 0 − − 2 5 ,0 0 0 − 200 − F u d in 3 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 , 0 0 0 − − 5 0 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − − − − − − M us 4 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 , 0 0 0 − − 1 0 0 ,0 0 0 3 0 ,0 0 0 − − − − − − Sid iq 2 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 , 0 0 0 − − 1 0 0 ,0 0 0 4 5 ,0 0 0 − − − − − − N e n da h 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 3 0 k a li 4 5 , 0 0 0 2 0 k a li 6 0 ,0 0 0 2 0 0 , 0 0 0 7 0 , 0 0 0 − − − − − − N ani 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 2 ,0 0 0 6 0 0 , 0 0 0 9 0 , 0 0 0 − − − − − − A de 3 6 0 3 0 0 ,0 0 0 2 4 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 5 3 0 ,0 0 0 1 , 0 1 5 ,0 0 0 − − − − − − − A sep 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 3 6 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 4 2 4 ,0 0 0 3 0 0 , 0 0 0 1 0 , 0 0 0 − − − − − − E m an 3 1 5 7 5 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 1 6 ,0 0 0 − 1 0 ,0 0 0 − − − − − − H . M u n ir 1 3 5 0 8 2 5 ,0 0 0 − − 2 3 ,0 0 0 1 2 3 ,0 0 0 − − − − − − − − D e de M . 1 2 4 5 2 4 7 ,5 0 0 − − 1 2 ,0 0 0 − − − − − − − − − − Y u su f E . 6 7 5 4 1 2 ,5 0 0 − − 1 2 ,5 0 0 − − − 6 ,0 0 0 − − − − − − Z aenal M . 7 − 36 1 8 0 ,0 0 0 −

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

18

Tabel daftar pekejaan dan hasil perikanan:

T A B EL I (ID EN T IT AS , K EAD AAN U S AH A T AN I, D A N P O LA T AN A M ) ID EN T IT AS K EA D AA N US AH A T AN I P O LA T A N AM Pe k e rja a n S a wa h La h a n K e ri n g K o l am K e bu n Um u r P e n di di k a n N am a S a wah Kolam (th ) F orm a lT a m ba h a n o k ok T a m bah a n Lu a s (ba ta ) P S ta tu s Iri g as iLu a s (ba ta)S ta tu s Lu a s S tatu s Lu a s (ba ta)S ta tu s Soleh u din 6 0 SD − P et an i B u k a W aru n g 30 0 P em ilik /P en ggarap √ − − − − − − P adi − A h m ad 5 5 SD − P et an i B u k a W aru n g 70 P em ilik /P en ggarap √ − − − − − − P adi − H . s o m ad 8 1 SM A − P et an i 15 0 P em ilik √ − − − − − − P adi − M u flihah 6 3 D G A − P et an i 15 0 P em ilik /P en ggarap √ 60 P em ilik 1 t u m b ak P em ilik − − P adi N ila, M as Ent ang 4 4 SM A P es an t renP et an i D agang 10 0 P em ilik /P en ggarap √ − − 9 b at a P em ilik − − P adi M as , N ila A de 70 SD − P et an i 70 0 P em ilik √ − − 5 0 bat a P em ilik − − P adi M as , N ila Sarip ud in 3 7 SD − P et an i T u k an g K redit 60 0 P em ilik √ − − 1 0 bat a P em ilik − − P adi M as , N ilem C u cu 5 5 SM P − P et an i D agang 30 0 P em ilik /P en ggarap √ − − − − − − P adi − D idin 36 SD − P et an i B u ru h 10 0 P em ilik /P en ggarap √ − − − − − − P adi − Ii N as a'i 4 6 SM A − P et an i Sat p am B R I 30 0 P em ilik √ − − 2 0 bat a P em ilik − − P adi N ila, M as T ut i 64 SD − P et an i 20 0 P em ilik √ − − 3 0 bat a P em ilik − − P adi M u jaer, N ila D edi 4 8 SM P − P et an i B u ru h 39 0 P em ilik √ − − 1 0 bat a P em ilik − − P adi N ila, M as A i It oh 6 0 SD − P et an i 20 0 P em ilik √ − − 5 0 bat a P em ilik − − P adi N ila, M as E n d an g 4 5 SD − P et an i 20 0 P em ilik √ − − 5 0 bat a P em ilik − − P adi M as , M ujaer J ajan g 4 2 SM P − P et an i 12 0 P em ilik √ − − 3 0 bat a P em ilik − − P adi M as , N ila N ani 52 SD − P et an i 12 0 P en y ak ap √ − − 9 b at a P em ilik − − P adi B aw al, G u ram e N u grah a 4 8 SM P − P et an i W irau s aha 36 0 P em ilik √ 30 P em ilik 4 0 bat a P em ilik − − P adi N ila, M u jaer H as an ah 6 5 SD − P et an i 20 0 P em ilik √ − − 8 b at a P em ilik − − P adi M as , B aw al Ib u N an i 6 3 SD − P et an i M en jahit 20 0 P em ilik √ − − 3 0 bat a P em ilik 1 50 P em ilik P adi N ila Is na 62 SD − P et an i D agang 15 0 P em ilik /P en y ak ap √ − − 1 0 bat a P em ilik − − P adi M as , N ila F u d in 42 SD − P et an i D agang 10 0 P em ilik √ − − 3 0 bat a P em ilik − − P adi M u jaer, N ila M us 6 0 SM P − P et an i D agang 25 0 P em ilik √ − − 6 0 bat a P em ilik 2 00 P em ilik P adi N ila, B aw al Sid iq 3 8 SM A − P et an i O jek 15 0 P em ilik √ − − 1 0 bat a P em ilik − − P adi N ila, L ele N en dah 3 7 SD − P et an i 20 0 P em ilik √ − − 5 0 bat a P em ilik 70 P em ilik P adi Lele, N ila N ani 52 SD − P et an i 12 0 P en y ak ap √ − − 1 t u m b ak P em ilik − − P adi B aw al, N ila A de 5 5 SM P − P et an i O jek 12 0 P em ilik /P en ggarap √ − − 1 t u m b ak P em ilik − − P adi Lele A s ep 4 7 SM A − P et an i B u ru h 10 0 P em ilik /P en ggarap √ − − 6 t u m b ak P em ilik − − P adi L el, B aw al Em an 3 8 SM P − P et an i 10 0 P en y ak ap √ − − − − − − P adi − H . M u n ir 7 0 SD − P et an i 1 00 0 P em ilik /P en ggarap √ − − 3 0 0 b at a P em ilik − − P adi M as , N ila D ed e M . 6 2 SD − P et an i 50 0 P em ilik /P en ggarap √ − − 1 2 0 b at a P em ilik − − P adi M as , N ila Y us uf E . 4 3 SM P − P et an i D agang 60 P em ilik /P en ggarap √ − − 2 3 bat a P em ilik − − P adi M as , N ila Z aen al M . 6 7 SD − P et an i 40 P em ilik /P en ggarap √ − − 1 5 bat a P em ilik − − P adi M as , N ila

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

3.6.1 Pendapatan komoditas Padi
19

Pendapatan petani dapat dihitung dengan cara menghitung selisih antara penerimaan usahatani dan biaya usahatani. Dari tabel IV bias dilihat bahwa Penerimaan usahatani dapat dihitung dengan menggunakan rumus P=YHy, dimana P penerimaan, Y jumlah produk usaha yang dilakukan dalam satu musim tanam, dan Hy merupakan harga jual produk per unit. Dari tabel diatas rata-rata petani di desa Sariwangi menghasilkan 1079 kg padi, harga tiap kilogram rata-rata Rp.2300, maka nilai penerimaan usahatani petani di desa Sariwangi tersebut rata-rata = 1079 x Rp.2300 = Rp. 2.481.700, 00. Sedangkan biaya sarana produksi rata-rata Rp. 650.875, 00. Dengan demikian pendapatan rata-rata petani dari komoditas padi dapat dihitung dengan menghituung selisih penerimaan dan biaya yaitu Rp.2.481.700 – Rp. 650.875 = Rp. 1.830.825,00. Rendahnya pendapatan petani merupakan akibat dari kecilnya lahan yang digarap karena ketimpangan penguasaan lahan yang semakin tinggi. Pada kondisi tersebut sangatlah wajar bila petani cenderung berupaya melakukan diversifikasi sumber pendapatan di luar sector pertanian. Hal ini berarti sudah terjadi pergeseran ragam sumber pendapatan dari sector pertanian ke luar sector pertanian. Kontribusi terbesar diluar sector pertanian dagang, wirausaha, buruh, dll. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.

3.6.2 Pendapatan komoditas perikanan Petani di Desa Sariwangi rata-rata memiliki kolam sendiri untuk usaha perikanan. Ikan yang dihasilkan pun bermacam-macam ada ikan nila, lele, mas, dll. Masyarakat di desa ini umumnya tidak menjual ikan tersebut. Hasil usahanya tersebut hanya dipakai untuk kebutuhan pribadi sebagai bahan makanan tambahan, dan tentu saja ini akan membantu mengurangi biaya konsumsi rumahtangga. Hal ini bias dilihat pada tabel 1.

3.7. Pola Konsumsi Petani

20

Pada umumnya, besarnya nilai pengeluaran rumah tangga di pedesaan bervariasi sesuai dengan besarnya pendapatan yang mereka peroleh. Fenomena ini akan terjadi bila pendapatan yang rendah akan lebih mengutamakan untuk kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan subsistennya, terutama kebutuhan pengeluaran bahan makanan dibanding lainnya. Berbeda halnya bila pendapatan yang diperoleh semakin tinggi akan terjadi pergeseran antara kebutuhan bahan makanan dengan kebutuhan bukan bahan makanan.

Secara umum besaran konsumsi rumah tangga dibagi menjadi tiga kelompok: a. Pengeluaran untuk makanan Yang termasuk pengeluaran untuk makanan yaitu beras, daging, sayuran, dan buah. Pada table 3, diperlihatkan bahwa secara agregat proporsi pengeluaran bahan makanan yang terbesar digunakan untuk memenuhi kebutuhan beras yaitu rata-rata sekitar 45,20 kg/ bulan dengan harga 1 kg beras berkisar antara Rp. 5000/kg – Rp. 5500/kg sehingga pengeluaran untuk beras rata-rata sekitar Rp. 246.679, 00 per bulan. Hal ini berkaitan dengan jumlah anggota keluarga yang ditanggung dan sesuai dengan pendapatan petani. Kemudian pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan lainnya yaitu sayuran. Selama satu bulan rata-rata petani mengeluarkan biaya untuk konsumsi sayuran sekitar Rp. 56.000, 00. Sayuran merupakan makanan pendamping nasi. Petani di dasa Sariwangi ini setiap harinya mengkonsumsi sayuran. Sayurannya dibeli atau terkadang berasal dari kebun sendiri. Selanjutnya pengeluaran untuk buah sekitar Rp. 14.600,00 per bulan. Terakhir pengeluaran untuk daging. Masyarakat disini jarang sekali mengkonsumsi daging. Ini dikarenakan factor pendapatan mereka yang kecil. Masyarakat di desa Sariwangi ini rata-rata mengkonsumsi daging satu tahun sekali, yaitu pada saat lebaran saja. Hanya petani yang berpendapatan besar saja yang masih bisa mengkonsumsi daging tiap bulannya. Pengeluaran untuk daging Rp.86.400,00 per bulannya.

b.Pengeluaran bukan makanan

21

Yang termasuk pengeluaran bukan makanan yaitu pendidikan, rekreasi, kesehatan, tabungan, sumbangan, pajak, transportasi, dan pakaian. Pada table 3 juga diperlihatkan pengeluaran non makanan. Disini diperlihatkan pengeluaran untuk pendidikan lebih tinggi disbanding pengeluaran bukan makanan lainnya. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran rumah tangga petani akan pendidikan cukup tinggi. Disamping ditunjang adanya fasilitas pendidikan yang semakin berkembang, untuk menuntut tingkat pendidikan yang lebih tinggi, walaupun dengan konsekuensi menambah biaya pendidikan lebih tinggi dibanding pengeluaran bukan makanan lainnya. Disamping itu pengeluaran bukan makanan lainnya seperti pendidikan, rekreasi, kesehatan, tabungan, sumbangan, pajak, transportasi dan pakaian berperan juga sebagai pelengkap kebutuhan bukan makanan yang penting bagi rumah tangga. Kesehatan dan pakaian umumnya pengeluaran yang bersifat insidentil. Masyarakat di desa Sariwangi membeli pakaian setahun sekali yaitu pada saat lebaran dan biasanya untuk kesehatan mereka menggunakan fasilitas puskesmas yang tidak bayar. Didapat kesimpulan bahwa untuk pengeluaran biaya kesehatan dan pakaian tidaklah begitu besar. Total pengeluaran rumah tangga antara kebutuhan makanan dan kebutuhan non makanan relative merata dengan porsi hamper seimbang. Hal ini berarti bahwa rumah tangga petani sudah berorientasi menyeimbangkan kebutuhan makanan dan kebutukan bukan makanan sesuai dengan tigkat pendapatan yang mereka peroleh. Namun demikian tidak menutup kemungkinan ruahtangga petani akan memprioritaskan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan dibanding kebutuhan non makanan. Tingkat kesejahteraan petani juga bisa diukur dari pola konsumsinya. Apabila biaya produksi lebih besar dari total konsumsi, ini menunjukan bahwa rumahtangga petani lebih banyak mengeluarkan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dibanding kebutuhan usahanya. Artinya bahwa besarnya pendapatan yang diperoleh tidak mampu

22

T A B E L III ( A N A L IS IS K O N S U M S I K E L U A R G A P E R B U L A N )
A n g g o ta B e ra s D agin g S a y u ra n B uah Ju m lah Ju m lah Ju m lah Ju m lah Nam a P e n d i d i k a n a n s p o Rte k r e a s i e s e h a t aTa b u n g a S u m b a n g a n j a k P a k a i a n Tr r K n n Pa Nilai N ilai N ilai N ilai K e l u a r g a( k g ) (k g) (k g) (k g ) So le h ud in 2 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 0 ,0 0 0 − − − − − 3 0 ,0 0 0 − − − − A h m ad 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 5 ,0 0 0 − − − 3 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − − − − H . so m a d 7 6 0 3 0 0 ,0 0 0 5 1 0 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 7 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − − − − M uf lih a h 5 6 0 3 0 0 ,0 0 0 4 8 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 1 0 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − − − − E ntan g 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 1 1 0 ,0 0 0 − − 4 0 0 ,0 0 0 2 0 ,0 0 0 − − − − 2 0 0 6 ,0 0 0 A de 5 6 0 3 0 0 ,0 0 0 1 0 2 0 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 3 3 0 ,0 0 0 − 5 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 − 5 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 Sa r ip udin 3 3 5 1 7 5 ,0 0 0 1 2 3 0 0 ,0 0 0 2 2 5 ,0 0 0 7 8 0 ,0 0 0 4 0 0 ,0 0 0 4 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 − 8 ,0 0 0 1 3 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 C ucu 4 4 0 2 0 0 ,0 0 0 3 5 0 ,0 0 0 1 1 0 ,0 0 0 5 3 0 ,0 0 0 2 0 0 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 − − − 6 ,0 0 0 8 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 D id in 3 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 − − − − − − − I i N a sa 'i 8 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − 8 5 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 − − − − − − T ut i 5 7 5 3 7 5 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − − 9 0 ,0 0 0 − − − − − − D edi 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − − 1 5 0 ,0 0 0 − − 2 7 0 ,0 0 0 − − − − − − − A i It o h 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − − 9 0 ,0 0 0 − D a r i K o la m 6 0 ,0 0 0 − − − − 1 ,2 0 0 1 2 ,0 0 0 E n da n g 4 3 0 1 6 5 ,0 0 0 − − − 6 0 ,0 0 0 − D a r i K o la m 3 0 ,0 0 0 − − 6 0 ,0 0 0 − − 8 5 0 8 ,5 0 0 Ja ja n g 4 2 2 .5 1 2 3 ,7 5 0 − − − 9 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 − − 3 0 ,0 0 0 − − 850 600 N an i 7 4 5 2 2 5 ,0 0 0 0 .0 8 D a r i K o la m − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 2 ,0 0 0 6 0 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 − − − − 5 0 0 4 ,1 0 0 N ugr a h a 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 1 0 0 ,0 0 0 − − − 1 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 2 5 ,0 0 0 − 2 ,5 0 0 3 0 ,0 0 0 H a sa n a h 6 2 0 1 0 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 9 0 ,0 0 0 − 1 0 ,0 0 0 − − − 3 0 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 5 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 Ibu N a n i 6 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 3 0 k a li 9 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 6 0 ,0 0 0 6 ,0 0 0 − 1 5 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 1 2 ,0 0 0 4 ,0 0 0 1 5 ,0 0 0 I sn a 4 2 8 1 4 0 ,0 0 0 3 5 0 ,0 0 0 − 3 0 ,0 0 0 − 2 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 7 2 ,0 0 0 − − 2 5 ,0 0 0 − 200 − F ud in 3 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 ,0 0 0 − − 5 0 ,0 0 0 8 0 ,0 0 0 − − − − − − M us 4 4 5 2 2 5 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 ,0 0 0 − − 1 0 0 ,0 0 0 3 0 ,0 0 0 − − − − − − Sidiq 2 3 0 1 5 0 ,0 0 0 − − 2 0 k a li 2 0 ,0 0 0 − − 1 0 0 ,0 0 0 4 5 ,0 0 0 − − − − − − N e n da h 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 − − 3 0 k a li 4 5 ,0 0 0 2 0 k a li 6 0 ,0 0 0 2 0 0 ,0 0 0 7 0 ,0 0 0 − − − − − − N an i 5 4 5 2 2 5 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 − 1 5 0 ,0 0 0 − 3 2 ,0 0 0 6 0 0 ,0 0 0 9 0 ,0 0 0 − − − − − − A de 3 6 0 3 0 0 ,0 0 0 2 4 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 5 3 0 ,0 0 0 1 ,0 1 5 ,0 0 0 − − − − − − − A se p 4 6 0 3 0 0 ,0 0 0 3 6 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 4 2 4 ,0 0 0 3 0 0 ,0 0 0 1 0 ,0 0 0 − − − − − − E m an 3 1 5 7 5 ,0 0 0 1 2 0 ,0 0 0 2 2 0 ,0 0 0 1 6 ,0 0 0 − 1 0 ,0 0 0 − − − − − − H . M un ir 1 3 5 0 8 2 5 ,0 0 0 − − 2 3 ,0 0 0 1 2 3 ,0 0 0 − − − − − − − − D e de M . 1 2 4 5 2 4 7 ,5 0 0 − − 1 2 ,0 0 0 − − − − − − − − − − Y usuf E . 6 7 5 4 1 2 ,5 0 0 − − 1 2 ,5 0 0 − − − 6 ,0 0 0 − − − − − − Z aen al M . 7 − 3 6 1 8 0 ,0 0 0 −

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

23

BAB IV PENYEDIAAN INPUT, TEKNOLOGI PRODUKSI, PASCA PANEN DAN PEMASARAN HASIL USAHATANI

4.1 Penyediaan Input Input yang dibutuhkan oleh para petani di desa Sariwangi antar lain adalah lahan, bibit, pupuk, pestisida, pengairan (irigasi), tenaga kerja, dan alat-alat pertanian (cangkul, sabit, dll.) • Lahan Sebagai negara agraris, luas daratan kita hanya sepertiga luas wilayah Indonesia, sedangkan sisanya merupakan lautan. Luas daratan itu masih harus direduksi hutan lindung, hutan produksi, permukiman, industri, dan kebutuhan infrastruktur yang jumlahnya terus meningkat. Saat ini, DPR RI telah menampung usulan pembentukkan RUU yang berkaitan dengan masalah tata ruang yang jumlahnya telah mencapai 52 RUU. Dari 52 RUU tersebut, di antaranya RUU tentang Wilayah Negara dan Batas Negara, RUU tentang Ruang Kelautan, RUU tentang Ruang Udara Nasional, RUU tentang Pengolahan Lahan Pesisir, RUU tentang Pengolahan Kehutanan, RUU tentang Lahan Abadi Pertanian dan RUU tentang Pengendalian Konvensi Lahan. RUU Lahan Pertanian Pangan Abadi merupakan payung hukum untuk melindungi lahan pertanian agar tidak beralih fungsi. UU ini ditargetkan akan bisa selesai tahun 2007 ini. Menurut data, peningkatan luasan lahan pertanian selama kurun waktu 1980-1989 hanya mencapai 1,78 persen per tahun, sedangkan dalam periode 2000-2005 malah menurun menjadi 0,17 persen per tahun. Sementara itu, neraca sawah pada periode 1981-1989 yang masih positif 1,6 juta ha, maka selama kurun waktu 1999-2002 neraca sawah sudah negatif 0,4 juta ha. Jika kondisi ini dibiarkan, kemampuan negara dalam memproduksi padi akan sangat berkurang. Terlebih lagi saat ini peningkatan produktivitas padi telah mencapai titik jenuh. Karena itu, untuk

24

memproduksi beras secara cukup, perlu dibuat kebijakan pengendalian laju konversi lahan sawah yang akan dipayungi melalui UU Lahan Pertanian Pangan Abadi tersebut. Dan berdasarkan tinjauan langsung ke desa Sariwangi, diperoleh data bahwa sebagian besar para petani di desa tersebut memiliki lahan pribadi untuk kegiatan pertaniannya, walaupun ada beberapa yang merupakan lahan milik orang lain dan petani tersebut bekerja sebagai petani penggarap dan penyakap.

• Benih Benih secara umum adalah istilah yang dipakai untuk bahan dasar pemeliharaan tanaman atau hewan. Istilah ini biasanya dipakai bila bahan dasar ini berukuran jauh lebih kecil daripada ukuran hasil akhirnya (dewasa). Dalam pertanian, benih dapat berupa biji maupun tumbuhan kecil hasil perbanyakan aseksual. Benih diperdagangkan tidak untuk dikonsumsi. Penyediaan benih oleh petani merupakan hal yang sangat penting. Peningkatan produktivitas pertanian, erat kaitannya dengan ketersediaan benih unggul bermutu. Sifat-sifat yang dimiliki oleh benih unggul bermutu antara lain berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit utama, umur genjah dan dapat dikembangkan dalam pola tanam tertentu. Keberhasilan diseminasi teknologi varietas unggul ditentukan antara lain oleh kemampuan industri benih untuk memasok benih unggul bermutu hingga ke petani. Para petani di desa Sariwangi biasanya menggunakan 2-6 kg benih untuk sawah seluas 100 bata. Harga 1 kg benih berkisar antara Rp.5.000 - Rp.7.000.

Pupuk Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk

mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan
25

tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Jenis pupuk yang paling banyak digunakan oleh para petani di desa Sariwangi adalah jenis UREA dan TSP. Pupuk sebanyak 30 kg biasanya digunakan untuk sawah seluas 100 bata. Harga 1 kg UREA sekitar Rp.1.500 dan 1 kg TSP sekitar Rp.1.700.

Pestisida Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau

membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun". Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa:
     

insektisida (serangga) fungisida (fungi/jamur) rodentisida (hewan pengerat/Rodentia) herbisida (gulma) akarisida (tungau) bakterisida (bakteri) Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan

manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem.
26

Para petani di desa Sariwangi sebenarnya cukup jarang menggunakan pestisida, karena hama di desa mereka tidak terlalu menggangu proses produksi. Dan harga 1 botol pestisida adalah sekitar Rp.36.000. • Pengairan (irigasi) Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertaniannya. Dalam dunia modern saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mangalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu-persatu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram. Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah berlangsung sejak Mesir Kuno. Fungsi Irigasi:
• • • • •

memasok kebutuhan air tanaman menjamin ketersediaan air apabila terjadi betatan menurunkan suhu tanah mengurangi kerusakan akibat frost melunakkan lapis keras pada saat pengolahan tanah Berdasarkan data yang diperoleh di desa Sariwangi, ketersediaan air di desa tersebut

cukup melimpah, sehingga para petani dimudahkan dalam hal pengairan atau irigasi sawahnya. Biasanya sumber air untuk irigasi sawah berasal dari sungai-sungai yang mengalir di dekat sawah tersebut. Ada beberapa daerah di desa Sariwangi yang dipungut biaya untuk sumbangan air. Besarnya sumbangan air tersebut sekitar 10 kg padi atau Rp.25.000 setiap kali panen. • Tenaga Kerja

27

Tenaga kerja yang digunakan oleh para petani di desa Sariwangi dapat berasal dari anggota keluarga petani itu sendiri dan tenaga kerja yang bukan anggota keluarga petani. Sawah seluas 100 bata biasanya membutuhkan 2 orang tenaga kerja pembantu. Mereka bekerja mulai dari pagi hari sampai habis dhuhur. Tenaga kerja laki-laki biasanya membantu dalam hal membajak, mencangkul, dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya. Sedangkan tenaga kerja perempuan melakukan pekerjaan yang lebih ringan, contohnya menanam. Oleh karena itu tenaga kerja laki-laki dan perempuan mendapatkan upah yang berbeda besarnya. Upah tenaga kerja laki-laki lebih besar dibandingkan upah tenaga kerja perempuan. Upah membajak dengan traktor adalah Rp.1.000/bata. Upah tenaga kerja laki-laki adalah sekitar Rp.15.000-Rp.20.000, sedangkan upah tenaga kerja perempuan adalah sekitar Rp.10.000. Para tenaga kerja ini juga mendapatkan jatah makan dari pemilik lahan.

Alat-alat pertanian Mekanisasi pertanian mulai banyak berkembang. Perkembangan ini dilihat dari

peningkatan kebutuhan akan alat-alat mekanik untuk meningkatkan dan mempermudah hasil produksi pertanian. Pengolahan pertanian yang sebelumnya menggunakan tenaga manusia beralih memakai mesin-mesin pertanian seperti trkator (untuk membajak sawah) dan alat pengolahan hasil pertanian lainnya. Para petani di desa Sariwangi biasanya menggunakan alat-alat pertanian yang masih sederhan, seperti cangkul. Biaya alat-alat pertanian ini merupakan biaya variable, hal ini dikarenakan para petani hanya akan membeli alat-alat petanian yang baru apabila yang lama sudah rusak.

1) Teknologi Produksi
28

Sektor pertanian Indonesia sudah saatnya menggunakan teknologi agar bisa bercocok tanam di segala tempat. Jusuf Kalla mengatakan sektor pertanian akan memiliki nilai tambah jika memakai peralatan tersebut. Salah satunya, hal itu memudahkan para petani dalam mengembangkan hasil pertaniannya. Teknologi berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Negara – negara di kawasan eropa dan amerika hampir selalu menjadi pioner dalam hal perkembangan teknologi. Berbagai produk teknologi diciptakan dengan maksud memudahkan pekerjaan manusia. Produk produk hasil perkembangan teknologi tersebut diciptakan di sejumlah negara dan dipublikasikan ke pasar dunia. Teknologi produksi yang digunakan oleh para petani di desa Sariwangi secara umum masih cukup sederhana. Tetapi cara membajak sawah sudah cukup maju, karena sudah menggunakan traktor.

2) Pasca Panen

Setelah komoditas dipanen, perlu penanganan pasca panen yang tepat supaya penurunan Komoditas hortikultura kebanyakan dikonsumsi dalam keadaan segar sehingga perlu Yang dapat dilakukan setelah pemanenan hanyalah mempertahankan kualitas dalam Perlakuan utama dalam pasca panen: tujuannya menghambat laju transpirasi dan respirasi

kualitas dapat dihambat

penanganan pasca panen yang ekstra supaya tetap segar

waktu selama mungkin bukan meningkatkan kualitas

dari komoditas Hasil pertanian di desa Sariwangi biasanya mendapatkan 3 perlakuan, yaitu dijual langsung, dijemur dulu, dan diolah jadi makanan. Ada sebagian daerah di desa Sariwangi yang semua hasil pertaniannya digunakan untuk konsumsi sendiri, tetapi ada juga sebagian daerah yang hasil pertanianya sebagian besar dijual ke pasaran.
29

3) Pemasaran Hasil Usahatani Pemasaran didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk memindahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsumen. Pemasaran merupakan kegiatan produktif karena menciptakan kegunaan (utility) baik kegunaan bentuk, tempat, waktu maupun milik. Sistem pemasaran hasil pertanian adalah suatu kompleks sistem dalam berbagai subsistem yang berinteraksi satu sama lain dan dengan berbagai lingkungan pemasaran. Dengan demikian lima subsistem yaitu sektor produksi, saluran pemasaran, sektor konsumsi, aliran (flow), dan fungsional berinteraksi satu sama lain dalam subsistem keenam, yaitu lingkungan. Pemasaran hasil pertanian dihadapkan pada permasalahan spesifik, antara lain berkaitan dengan karakteristik hasil pertanian, jumlah produsen, karakteristik konsumen, perbedaan tempat, dan efisiensi pemasaran. Para petani di desa Sariwangi pada umumnya langsung menjual hasil produksi pertaniannya ke bandar (tengkulak). Jika sudah panen dan siap untuk dijual, para petani biasanya langsung menghubungi bandar melalui via telepon. Jika sudah dihubungi oleh petani, maka bandar akan segera datang untuk membeli hasil pertanian tersebut. Setelah itu oleh bandar akan langsung dijual ke pasaran.

BAB V MASALAH YANG DIHADAPI

30

Tradisi budidaya tanaman padi di Jawa dan luar Jawa sudah berlangsung selama ratusan tahun. Produksi dan perdagangan beras pun bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi sudah menjadi cara hidup (way of life) karena Beras juga merupakan makanan pokok, menjadi ujung tombak ketahanan pangan wilayah dan nasional. Pertanian padi menjadi bagian ekonomi, budaya, dan tradisi desa-desa Jawa maupun luar Jawa. Cara hidup ini ditekuni belasan juta petani sehingga padi menjadi tumpuan keluarga petani. Tidak hanya itu, ketahanan pangan penduduk dibangun dari cara hidup budidaya tanaman padi ini. Banyak keluarga dan tenaga kerja yang tergantung dari cara hidup bertani meski Indonesia sudah mulai masuk era industri. Dengan demikian, pertanian padi masih bermakna dalam dimensi sosial, kependudukan, bahkan politik. Masalah yang terjadi pada padi juga berhubungan dengan dimensi-dimensi non-ekonomi. Meskipun kenyataan bahwa petani memegang peranan besar dalam menunjang kebutuhan dasar kita yaitu pangan, perlakuan yang diterima mereka jauh dari layak. Nasib petani memang sesuai dengan lapisan sosialnya sebagai masyarakat kecil. Petani selalu dimarjinalisasi, bahkan cederung dilupakan oleh negara. Kalaupun ada kebijakan untuk petani ditujukan untuk kepentingan orang kota. Masalah petani yang sebenarnya tidak pernah tersentuhkan. Berikut adalah sebagian masalah yang dihadapi petani . simpulkan selama kegiatan kuliah lapangan kami. Data dapat kami

Masalah masalah yang dihadapi dalam petani selama proses produksi :

Sulitnya akses menuju tempat untuk mendapatkan berbagai sarana produksi pertanian

Lokasi Desa Sariwangi yang cukup jauh untuk menjangkau pasar membuat petani kesulitan untuk membeli berbagai alat pertanian seperti bibit, pupuk, pestisida hingga sarana produksi seperti sabit dan cangkul. • Mahalnya harga sarana produksi.
31

Mahalnya harga sarana produksi juga merupakan satu hal yang dikeluhkan para petani. Mahalnya harga ini yang membuat mereka kurang mampu mengoptimalisasi pekerjaan mereka. Misalnya dalam 100 bata seharusnya menggunakan pupuk 35 kg namun karena keterbatasan uang mereka hanya menggunakan 30 kg. optimal. • Benih subsidi yang kurang bermutu Sehingga hasilnya pun kurang

Program subsidi yang dicanangkan pemerintah juga sudah menjangkau desa Sariwangi. Namun sayangnya beberapa petani mengatakan bibit hasil subsidi cenderung rentan terhadap serangan hama dan seringkali benihnya kosong • Kurangnya penyuluhan pertanian yang selama ini didapatkan mereka

Penyuluhan yang diadakan pemerintah di desa ini diadakan setahun sekali. Kebanyakan petani mengatakan penyuluhan ini cukup membantu mereka namun sayang sekali hanya diadakan setahun sekali. • Lembaga pertanian yang kurang berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian

Kami melakukan survey secara acak kepada beberapa petani di Desa Sariwangi kebanyakan dari mereka mengatakan tidak mengikuti kelembagaan apapun karena dinilai hanya seperti kegiatan sosial yang kurang mampu menunjang kegiatan bertani mereka. Karena itu kelembagaan di Desa Sariwangi kurang diminati masyarakatnya

Rendahnya harga jual hasil produksi mereka.

Kebanyakan petani tidak menikmati harga gabah hasil panen secara memadai. Karena harga jual gabah basah disini terhitung murah yaitu RP. 230.000 untuk 1 kwintal beras. Sangat jauh bukan dengan harga akhir yang kita beli di pasaran. Selisih harga yang jauh ini tentu saja merugikan petani • Kurangnya pilihan dalam memasarkan produksi mereka

Kebanyakan dari petani ini hanya menjual gabahnya kepada tengkulak yang datang ke rumah mereka. Keberadaan satu tengkulak ini menjadikan monopoli dalam pembelian gabah.
32

Apabila terus dibiarkan bukan tidak mungkin petani dapat ditekan untuk mendapatkan harga serendah-rendahnya. • Kurangnya permodalan

Permasalahan mendasar yang selalu menghantui para petani khususnya di Desa Sariwangi dalam pengembangan agribisnis, adalah kurangnya akses permodalan, pasar, teknologi serta organisasi petani yang masih lemah.

33

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Tasikmalaya merupakan sebuah desa yang sangat berpotensi di bidang pertanian. Desa ini telah berhasil menghasilkan beras organic yang telah di imporke luar negeri khususnya Malaysia. Kondisi lingkungan, keadaan tanah dan sumber air di desa ini sangat baik, sehingga sangat mendukung dalam pengembangan pertanian di desa ini. Bahkan di desa ini tidak pernah merasakan kekurangan air untuk irigasi sawah mereka meskipun dalam musim kemarau sekali pun. Namun sayangnya, potensi desa ini kurang dioptimalisasi dengan baik. Hal ini terjadi diakibatkan oleh beberapa masalah, yakni: 1) Sulitnya akses menuju tempat untuk mendapatkan berbagai sarana produksi pertanian
34

2) Mahalnya harga sarana produksi 3) Kurangnya permodalan 4) Benih subsidi yang kurang bermutu 5) Kurangnya penyuluhan pertanian dan informasi pertanian yang selama ini didapatkan para petani 6) Lembaga pertanian yang kurang berpengaruh terhadap hasil produksi pertanian 7) Rendahnya harga jual hasil produksi mereka 8) Kurangnya pilihan dalam memasarkan produksi mereka

5.2 Saran Potensi yang dimiliki oleh Desa Sariwangi Kecamatan Sariwangi Tasikmalaya ini hendaknya lebih di kembangkan lagi agar dapat mengubah desa ini menjadi desa yang berbasis agribisnis yang dapat meningkatkan di desa ini,diantaranya:
1) Mempersiapkan Sumber Daya Manusia Unggul dalam sektor pertanian. Hal ini dapat

pendapatan petani serta meningkatkan kesejahteraan

masyarakatnya.berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi

dilakukan dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan serta pelatihan-pelatihan pertanian yang dapat meningkatkan pengetahuan petani terhadap pertanian itu sendiri.
2) Mengembangkan Industri Kreatif Berbasis Pertanian serta melaksanakan Pembangunan

Pertanian berwawasan Agribisnis
3) Penerapan sistem pertanian modern, baik itu dalam penerapan Sistem Rice of

Intensification (SRI) maupun dalam penerapan system pertanian berbasis pertanian organic 4) Bantuan subsidi terhadap input pertanian, agar tidak membebankan petani dalam membeli input (benih, pupuk, pestisida dan lain-lain). Selain itu, semua input pertanian
35

tersebut seharusnya merupakan barang-barang yang berkualitas, bukan hanya sekedar murah saja. 5) Pemberian bantuan modal kepada para petani untuk mengembangkan pertanian mereka baik itu modal dana maupun modal berupa input dan alat-alat pertanian. 6) Memberikan kebijakan harga atap dan harga dasar yang menguntungkan bagi petani kecil. Bukan hanya menguntungkan bagi para tengkulak saja 7) Dibutuhkan perhatian lebih dari pemerintah setempat terhadap sector pertanian. Karena selama ini para petani di Desa Sariwangi memperoleh prestasi karena kemampuan mereka sendiri, namun pemerintah setempat sebenarnya tidak begitu berpengaruh terhadap prestasi tersebut.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->