PEDOMAN XX-2002

Perencanaan

Perkerasan Jalan Beton Semen

DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH

Prakata

Pedoman Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen ini disiapkan oleh Sub Panitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi di Pusat Litbang Prasarana Transportasl dengan konseptor : . Dr. Ir. Furqon Affandi, MSc., Dr. Ojoko Widajat, MSc" Ir. A. Tatang Dachlan, MEng Sc.,

Jr. Roestaman, MSc.,
Ir. Joko Purnomo., Ir. Suhaili. Maksud pedoman ini adalah untuk perencanaan perkerasan beton semen bagi jalan dengan beban lalu-lintas berat, dan ditujukan sebagai pegangan bagi para perencana pembangunan jalan sehingga terwujud jaminan mutu produk dan jasa. Pedoman ini mencakup ruang lingkup, acuan, istilah dan definisi, ketentuan dan persyaratan serta prosedur perencanaan. Dalam pedoman ini disajikan pula contoh perhitungan. Tatacara penulisan ini mengacu pada pedoman BSN NO.8 th 2000.

Daftar isi Prakata , , Daftar isi Pendahuluan 1 Ruang lingkup 2 Acuan Normatif 3 Istilah dan definisi 4 Simbol dan Singkatan........................................................................ 5 Ketentuanl Persyaratan 5.1 Umum 5.2 Struktur dan jenis perkerasan beton semen 5.3 Persyaratan teknis 5.3.1 Tanah dasar 5.3.2 Pondasi bawah 5.3.2.1 Pondasi bawah material berbutir 5.3.2.2 Pondasi bawah dengan bahan pengikat (Bound Sub-base) 5.3.2.3 Pondasi bawah dengan campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete) 5.3.2.4 Lapis pemecah ikatan pondasi bawah dan pelat.. Beton semen 5.3.3 Lalu-lintas 5.3.4 5.3.4.1 Lajur rencana dan koefisien distribusi 5.3.4.2 Umur rencana 5.3.4.3 Pertumbunan lalu-lintas 5.3.4.4 Lalu-lintas rencana 5.3.4.5 Faktor Keamanan beban 5.3.5 Bahu 5.3.6 Sambungan 5.3.6.1 Sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) 5.3.6.2 Sambungan pelaksanaan memanjang 5.3.6.3 Sambungan susut rnernanianq 5.3.6.4 Sambungan susut dan sambungan pelaksanaan melintang 5.3.6.5 Sambungan susut melintang 5.3.6.6 Sambungan pelaksanaan melintang : 5.3.6.7 Sambungan isolasi 5.3.6.8 Pola sambungan 5.3.6.9 Penutup sambungan 5.4 Perkerasan beton semen untuk kelandaian yang curam 6 Prosedur perencanaan , 6.1 Perencanaan tebal pelat ii Halaman . ii iv 1 .1 .1 5 .6 6 7 7 7 8 9 9 9 9 9 10 10 11 11 12 12 13 13 13 13 14 14 14 15 16 18 19 19 20 20

6.2 Perencanaan tulangan 6.2.1 Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan 6.2.2 Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan 6.2.3 Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan 6.2.3.1 Penulangan memanjang 6.2.3.2 Penulangan melintang 6.2.3.3 Penempatan tulangan
7 Perencanaan lapis tambahan

'"

29 29 29
, 30 30

7.1 Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton aspat.. 7.2 Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton
semen

31 31 31 32 32 32 33 33
36 40 42 43

7.2.1 7.2.2

Pelapisan tambahan perkerasan beton semen dengan lapis pemisah Pelapisan tambahan langsung (Informatif).

7.3 Pelapisan tambahan perkerasan lentur di atas perkerasan beton semen
Lampiran-Iampiran A.1 A.2 A.3 B Contoh Perhitungan Tebal Pelat Beton Semen Perhitungan Perkerasan Lapis Tambah Perkerasan beton Semen di Atas Perkerasan Beton Semen ... Perhitungan Lapis Tambah Perkerasan Beton Aspal di Atas Beton Semen..... Grafik Penentuan Perkiraan awal Tebal Pelat Beton Semen

iii

Pendahuluan

Pedoman Perencanaan Perkerasan Jalan Seton Semen ini merupakan penyempurnaan Petunjuk Perencanaan Perkerasan Kaku (Rigid Pavement) yang diterbitkan oleh Departemen Pekerjaan Umum Tahun 1985 - SKSI 2.3.28.1985, sehingga para Perencana mempunyai pegangan dalam melakukan perencanaan perkerasan beton semen di Indonesia. Dalam penerapan jalan beton semen, pengambil kebijakan harus mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan disekitar lokasi proyek, sehingga tidak terjadi kesulitan ataupun permasalahan dikemudian hari setelah perkerasan beton semen dilaksanakan. Pedoman ini telah dibahas dan dikonsensuskan serta memperoleh masukan dari Instansi Perguruan Tinggi, Konsultan Pengawas dan Perencana serta Instansi di lingkungan Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah, Departemen KIMPRASWIL. ini merupakan adopsi dari AUSTROADS, Pavement Design, A Guide to the Structural Design of Pavements (1992), sehingga dengan diterbitkannya Pedoman ini, maka Pedoman Pedoman yang terdahulu tidak berlaku lagi.

iv

l. Metota pengujian CBR laboratorium. Perkerasan beton semen pra-tegang tidak termasuk di dalam buku ini. 100 (150-J.1 baJok angker melintang (transverse log) sistem konstruksi sambungan yang dibuat pada ujung-ujung perkerasan beton bertulang menerus dengan balok beton ditanamkan ke dalam tanah dasar guna memegang gerakan dari pelat.155 AASHTO M-30-1990 Austroads (1992) 3 Istilah dan definisi 3. Pavement Design. Metoda pengujian kuat tarik belah beton. RuangLingkup Pedoman ini mencakup dasar-dasar ketentuan perencanaan perkerasan jalan. 200 (75-J.Analisis kekuatan tanah dasar dan lapis pondasi. Design of New Rigid Pevetrents. Prosedur ini tidak direkomendasikan untuk perencanaan tebal perkerasan di daerah permukiman dan kawasan induti. Zinc-Coated Steel Wire Rope and Futtings for Highway Guardrail. Perhitungan beban dan komposisi lalu-lintas. batang pengikat (tie bars) sepotong baja ulir yang dipasang pada sambungan memanjang dengan maksud untuk mengikat pelat agar tidak bergerak horizontal. A Guide to the Structural Design of Road Pavements. lapis pondasi atas dan lapis petutup.Perencanaan Perkerasan Jalan Beton Semen 1. Granular Material to Control Pumping Under Concrete Pavemant. yaitu : . Spesifikasi agregat lapis pondasi bawah.m) and No..m). Fineness of Hydroulic Cement by the No..l.. 2 Acuan Normatif Pengujian insitu CBR Metode pengujian kuat tekan beton Non repetitive Static Plate Test of Soil and Flaxible Pavement Components. Analisis kekuatan beton semen untuk perkerasan Pedoman Perkerasan Beton semen ini menguraikan Prosedur Perencanaan Tebal Perkerasan dan contoh Perhitungan. 1 dari 46 3.2 . Metoda pengujian kepadatan berat isi untuk tanah. for Use in Evaluation and Designe of Airport and Highway Pavement. Test Method for Flexural Strength of Concrete (Using Simple Beam with Third-Point Loading). SNI03-1731-1989 SNI03-1973-1990 AASTHO T-222-81 AASHTO T-128-86 (1990) ASTM-C 78 SNI03-6388-2000 SNI03-1743-1989 SNI03-1744-1989 SNI03-2491-1991 AASHTO M .

2 dari 46 3.4 batang ulir (deformed bars) batang tulangan prismatis atau yang diprofilkan berbentuk alur atau spiral yang terpasang tegak lurus atau miring terhadap muka batang. kuat tarik lentur (flexural strength modulus of rupture) kekuatan beton yang diperoleh dari percobaan balok beton dengan pembebanan tiga titik yang dibebani sampai runtuh. dudukan tulangan (reinforcement chairs) dudukan yang dibentuk sedemikian rupa yang terbuat dari besi tulangan. 3.8 3.7 diameter batang penqenalrvaznomlnal.11 perkerasan beton bersambung tanpa tulangan (Jointed Unreinforced Concrete Pavement) jenis perkerasan beton semen yang dibuat tanpa tulangan dengan ukuran pelat mendekati bujur sangkar.6 3.3 3.ang. guna mencegah masuknya benda-benda asing ke dalam celah. yang ukuran pelatnya berbentuk empat persegi panj.10 modulus reaksi tanah dasar (modulus of subgrade reaction) nilai konstanta pegas (spring constant) dari tanah dasar di dalam menerima beban yang ditentukan dari percobaan pengujian beban pelat (Plate Bearinr/). perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan (Jointed Reinforced Concrete Pavement) jenis perkerasan beton yang dibuat dengan tulangan. kapur.bahan pengisi sambunqan tjolnt filler) suatu bahan yang bersifat plastis yang dipasang pada celah sambungan muai. dimana panjang dari pelatnya dibatasi oleh adanya sambungan-sambungan melintang. plastik atau bahan Jainnya yang berfungsi sebagai dudukan tulangan arah memanjang dan melintang. dengan jarak antara rusuk-rusuk tidak lebih dari 0. 3. bahan penutup sambungan tjoint sealer) suatu bahan yang bersifat elastis yang dipasang pad a bagian atas dari sambungan yang dimaksudkan untuk mencegah masuknya benda-benda asng ke dalam celah. lapis pondasi bawah dengan bahan pengikat (bound sub-base) pondasi bawah yang biasanya terdiri dari material berbutir yang distabilisasi dengan semen aspal.12 . Panjang pelat dari jenis perkerasan ini berkisar antara 8-15 meter. 3. dimana panjang dari pelatnya dibatasi oleh adanya sambungansambungan melintang.abu terbang (fly ash) atau slag yang dihaluskan sebagai bahai pengikatnya. 3.5 3.7 gompalan (spalling) suatu bentuk kerusakan pada pelat beton yang umumnya terjadi pada tepi-tepi pelat atau retakan.9 3. Panjang pelat dari jenis perkerasan ini berkisar antara 4-5 meter.

19 sambungan lidah alur (key ways joint) jenis sambungan pelaksanaan memanjang dimana sebagai sistem penyalur bebannya digunakan hubungan lidah alur sedangkan untuk memegang pergerakan pelat ke arah horizontal digunakan batang pengil<at. 3 dari 46 .. tanpa tulangan yang menggunakan kabel-kabel pratekan guna mengurangi pengaruh susut. 3. 3.17 perkerasan beton semen (rigid pavement) suatu struktur perkerasan yang umumnya terdiri dari tanah dasar. Panjang pelat dari jenis perkerasan ini lebih besar dari 75 meter. 3. 3.18 ruji (dowel) sepotong baja polos lurus yang dipasang pada setiap jenis sambungan melintang dengan maksud sebagai sistem penyalur beban. 3. 3. segi banyak dan trapesium.16 pel at dengan bentuk tidak lazim (odd shaped slab) pelat yang bentuknya tidak bujur sangkar atau persegi panjang tetapi umumnya mempunyai bentuk segitiga. sehingga pelat yang berdampingan dapat bekerja sama tanpa terjadi perbedaan penurunan yang berarti.21 sambungan pelaksanaan (construction joint) jenis sambungan melintang atau memanjang yang dibuat untuk memisahkan bagian-bagian yang dicor/dihampar pada saat yang berbeda. .20 sambungan muai (expansionjoint) jenis sambungan melintang yang dibuat untuk membebaskan tegangan pada perkerasan beton dengan cara menyediakan ruangan untuk pemuaian.15 perkerasan beton semen dengan lapis beton aspal (asphaltic concrete surfaced rigid pavement) berupa perkerasan beton yang bag ian permukaannya diberi lapisan beraspal.13 perkerasan beton semen menerus dengan tulangan (Continuously Reinforced Concrete Pavement) jenis perkerasan beton yang dibuat dengan tulangan dan dengan panjang pelat yang menerus yang hanya dibatasi oleh adanya sambungan-sambungan muai melintang. 3. muai dan lenting akibat perubahan temperatur dan kelembaban.14 perkerasan beton semen pra-tegang (prestressed concrete pavement) jenis perkerasan beton menerus. 3. 3. ditempatkan di antara beton hasil penghamparan lama dengan beton hasll penghamparan baru. lapis pondasi bawah dan lapis beton semen dengan atau tanpa tulangan.

3.31 California Bearing Ratio (CBR) perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap beban standar dengan kedalaman dan kecepatan penelrasi yang sarna. dan berat total minimum 5 ton. dimana sambungan di antara pelat-pelat yang berdekatan tidak berada dalam satu garis (ialur).27 kendaraan niaga kendaraan yang paling sedikit mempunyai dua sumbu atau lebih yang setiap kelompok bannya mempunyai paling sedikit satu roda tunggal. 3. 4 dari 46 . umumnya dibuat sarna. 3. 3. 3.26 Ialu-llntas harian rata-rata (LHR) jumlah total volume lalu-lintas roda empat atau lebih dalam satu tahun dibagi dengan jumlah hari dalam satu tahun. 3.30 Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian (JSKNH) jumlah sumbu harian kendaraan niaga pada awal tahun rencana pad a lajur rencana. 3.23 sambungan susut (contraction joint) jenis sambungan melintang yang dibuat dengan maksud untuk mengendalikan retak susut beton.3. jarak antara tiap sambungan susut.24 takikan (groove) ruang pada bagian atas sambungan yang dibuat sebagai tempat bahan penutup.29 Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN) jumlah sumbu komulatif dari kendaraan niaga selama umur rencana pada lajur rencana.22 sambungan tidak sejalur (mismatched joint) suatu pola sambungan. 3.25 tegangan lenting (warping stress) tegangan yang terjadi pad a pelat beton yang ditimbulkan oleh melentingnya pelat akibat perbedaan temperatur dan kelembaban.28 kuat tarik langsung kuat tarik beton yang ditentukan berdasarkan kuat tekan belah silinder beton yang ditekan pada sisi panjangnya. serta membatasi pengaruh tegangan lenting yang timbul pad a pelat akibat pengaruh perubahan temperatur dan kelembaban. 3. 3. yang dirancang agar jalan yang direncanakan dan dipelihara dapat bert.32 Umur Rencana (UR) suatu periode tertentu dalam tahun.mgsi selama periode terse but.

33 stabilisasi suatu tindakan perbaikan mutu bahan perkerasan jalan atau meningkatkan kekuatan bahan sampai kekuatan tertentu agar bahan tersebut dapat berfungsi dan memberikan kinerja yang lebih baik dari pada bah an aslinya. 3.16 ton. luas penampang tulangan per meter panjang sambungan. diameter batang pengikat. kuat tarik lentur beton 28 hari. jarak terkecil antar sambungan atau jarak sambungan dengan tepi perkerasan..36 lajur lalu-Iintas bag ian dari jalur plan yang diperuntukkan bagi laju satu Iintasan kendaraan..6 kali tegangan Ieleh. 5 dari 46 Es As AI C b BBDT BBTT BJTP BJTU BMDT CBK d D Cs Ec Es fb fc' fcr. umumnya salah satu lajur jalan dua jalur atau lajur tepl luar dari jalan raya berlajur banyak. 3. modulus elastisitas beton. 4 Simbol dan Singkatan koefisien gesek antara pelat beton dan pondasi bawah. kuat tarik tidak langsung beton 28 hari. 3. Faktor Erosi. tegangan tarik ijin tulanqan (MPa). diameter tulangan memanjang.35 jalur lalu-lintas bag ian jalan yang direncanakan khusus untuk Iintasan kendaraan 3.37 lajur rencana (LR) suatu lajur lalu-linfas yang menampung lalu-Iintas terbesar. Beton Semen Bersambung Tanpa Tulangan Baja Tulangan Poles Baja Tulangan Uir Beton Menerus Dengan Tulangan koefisien distribusi lajur kendaraan koefisien yang menyatakan kondisi pelat lama Campuran Beton Kurus. Beton Semen Bersambung Dengan Tulangan. faktor konversi lapisan perkerasan lama (yang ada). koefisien susut beton. modulus elastisitas baja. tegangan Iekat antara tulangan dengan beton. biasanya 0.34 beban sumbu standar beban sumbu dengan roda ganda yang mempunyai total berat sebesar 8. . fcs fCI FE Fk FKB FRT fs . kuat tekan beton karakteristik 28 hari. faktor keamanan beban. luas penampang tulangan baja per meter lebar pelat. kuat tarik langsung beton. 3. tebal perkerasan. Faktor Rasio Tegangan.

1 Ketentuanl Umum Persyaratan Pedoman ini dimaksudkan untuk merencanakan perkerasan beton semen untuk jalan yang melayani lalu-lintas rencana lebih dari satu juta sumbu kendaraan niaga. angka ekivalensi antara baja dan beton. Jenis penyaluran beban. Umur Rencana waktu tertentu dalam tahun sebelum umur rencana. jarak teoritis antara retakan. jumlah lajur. jarak antara sambungan yang tidak diikat dan/atau tepi be bas pelat. = 5 5. perbandingan keliling terhadap luas tulangan 4/d. tebal lapis tambahan berdasarkan beban rencana dan daya dukung tanah dasar dan atau lapis pondasi bawah dari jalan lama. konstanta. Kekuatan tanah dasar yang dinyatakan dengan CBR (%). tebal efektif perkerasan lama. Sumbu Tunggal Roda Ganda. Tegangan Ekivalen. Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Harian. koefisien antara kuat tekan dan kuat tarik lentur beton. To Te TE T u UR URm beton. laju pertumbuhan lalu-Ihtas per tahun. Sumbu Tungga Roda Tunggal. Metode perencanaan didasarkan pada : Perkiraan lalu-lintas dan komposisinya selama umur rencana. berat pelat beton per satuan volume. perbandingan luas penarnpanq tulangan memanjang dengan luas beton. panjang batang pengikat. faktor pertumbuhan kumulatif yang besarnya tergantung dari pertumbuhan lalu lintas tahunan dan umur rencana. persentase luas tulangan memanjang yang dibutuhkan terhadap penampang luas penampang R SNI STdRG STRG STrRG STRT T. Kekuatan beton yang digunakan Jenis bahu jalan. tebal perlu berdasarkan beban rencana dan atau daya dukung tanah dasar dan atau lapis pondasi bawah dari jalan lama. lebar perkerasan. tebal pelat beton.fy 9 i h JSKN JSKNH K L I n tegangan Ieleh rencana baja. 6 dari 46 . Standar Nasionallndonesia. Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga. Sumbu Tridem Roda Ganda. Sumbu Tandem Roda Ganda. Jenis perkerasan. tebal pelat yang ada. gravitasi.

Mengendalikan pengaruh kembang susut tanah dasar. maka harus dipasang pondasi bawah yang terbuat dari beton kurus (Lean-Mix Concrete) setebal 15 em yang dianggap mempunyai nilai CBR tanah dasar efektif 5 %. tetapi merupakan bagian yang berfungsi sebagai berikut : . . Perkerasan Beton Semen Pondasi bawah o . Struktur perkerasan beton semen seeara tipikal sebagaimana terlihat pada Gambar 1. atau menerus dengan tulangan. Pelat beton semen mempunyai sifat yang eukup kaku serta dapat menyebarkan beban pada bidang yang luas dan menghasilkan tegangan yang rendah pad a lapisan-Iapisan di bawahnya. tanpa atau dengan lapis permukaan beraspal. n0 ODr Q) D I 1 II Tanah dasar Gambar 1. permukaan perkerasan beton semen dapat dilapisi dengan lapis eampuran beraspal setebal5 em. Lapis pondasi bawah pada perkerasan beton semen adalah bukan merupakan bagian utama yang memikul beban.Sebagai perkerasan lantai kerja selama pelaksanaan.Meneegah intrusi dan pemompaan pada sambungan. Perkerasan beton semen adalah struktur yang terdiri atas pelat beton semen yang bersambung (tidak menerus) tanpa atau dengan tulangan. kepadatan dan perubahan kadar air selama masa pelayanan.Perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan . Apabila tanah dasar mempunyai nilai CBR lebih kecil dari 2 %.3 5. Bila diperlukan tingkat kenyaman yang tinggi.Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan .1 Persyaratan teknis Tanah dasar Oaya dukung tanah dasar ditentukan dengan pengujian CBR insitu sesuai dengan SNI 031731-1989 atau CBR laboratorium sesuai dengan SNI 03-1744-1989. terletak di atas lapis pondasi bawah atau tanah dasar. . Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah kadar air pemadatan. 7 dari 46 .5. retakan dan tepi-tepi pelat.2 Struktur dan jenis perkerasan beton semen Perkerasan beton semen dibedakan ke dalam 4 jenis : . daya dukung perkerasan terutama diperoleh dari pel at beton. daya dukung dan keseragaman tanah dasar sangat mempengaruhi keawetan dan kekuatan perkerasan beton semen.Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan .Perkerasan beton semen pra-tegang Jenis perkerasan beton semen pra-tegang tidak dibahas dalam pedoman ini.Memberikan dukungan yang mantap dan seragam pad a pelat. masing-masing untuk pereneanaan tebal perkerasan lama dan perkerasan jalan baru. .3. Tlpikal struktur perkerasan beton semen Pada perkerasan beton semen. Sifat. 5.

Pemasangan lapis pondasi dengan lebar sampai ke tepi luar lebar jalan merupakan salah satu eara untuk mereduksi prilaku tanah ekspansif..10' 10' 3.10' 101 )..2 Pondasi bawah Bahan pondasi bawah dapat berupa : .3. 6 <0 c5 S4 0:: 9 8 7 m :I (.r::. lebal minimum 15 em "" "C ..) 2 10' ). Bahan penglkat 3 CBK • CanlplM'aIl Belon Kurus 4 5 6 7 8 10 12 15 20 CBR Tanah Dasar Rencana (%) 25 30 35 Gambar 3 CBR tanah dasar efektif dan tebal pondasi bawah 8 dari 46 . gunakan CBK. 3S g1S ~ . Jumlah repetlsl sumbu Gambar 2 lebal pondasi bawah minimum untuk perkerasan beton semen • Jika CBR < 2% gunakan lebal pondasi bawah CBK 150 mm dan anggap mempunyai nilai CBR lanah dasar efeklif 5% I 2 BP..'0 "" e :g 20 2S 30 Blla CBR tanah dasar kurang darl 2%.10· BP _ Bahan penglkat CBK _ Campwan a.Campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete).. pondasi bawah harus menggunakan eampuran beton kurus (CBK). Bila direneanakan perkerasan beton semen bersambung tanpa ruji..Bahan berbutir. Lapis pondasi bawah perlu diperlebar sampai 60 em diluar tepi perkerasan beton semen. 03-6388-2000 dan AASHTO M-155 serta SNI 03-1743-1989. Untuk tanah ekspansif perlu pertimbangan khusus perihal jenis dan penentuan lebar lapisan pondasi dengan memperhitungkan tegangan pengembangan yang mungkin timbul.ton Kuru. . Tebal lapis pondasi bawah minimum yang disarankan dapat dilihat pada Gambar 2 dan CBR tanah dasar efektif didapat dari Gambar 3.5..Stabilisasi atau dengan beton kurus giling padat (Lean Rolled Concrete) . Teballapisan pondasi minimum 10 em yang paling sedikit mempunyai mutu sesuai dengan SNI No.

1 Lapis pemecah ikatan Lapis resap ikat aspal di atas permukaan pondasi bawah Laburan parafin tipis pemecah ikat Karet komQ_on chlorinated rubber curing compound) (A Koefisien gesekan (u) 1. kapur.3 Pondasi bawah dengan eampuran beton kurus (Lean-Mix Concrete) Campuran Beton Kurus (CBK) harus mempunyai kuat tekan beton karakteristik pada umur 28 hari minimum 5 MPa (50 kg/em2) tanpa menggunakan abu terbang. Derajat kepadatan lapis pondasi bawah minimum 100 %.3. atau 7 MPa (70 kg/em2) bila menggunakan abu terbang.50alam MPa atau d (1) fel 3.25 MPa (2. dengan penyimpangan ijin 3% .3.5%. Tabel1 Nilai koefisien gesekan (~) No.1 Pondasi bawah material berbutir Material berbutir tanpa pengikat harus memenuhi persyaratan sesuai dengan SNI-03-63882000.3. Kekuatan reneana harus dinyatakan dengan kuat tarik lentur karakteristik yang dibulatkan hingga 0.5 MPa (55 kg/em2 ). (iii) Campuran beton kurus giling padat yang harus mempunyai kuat tekan karakteristik pada umur 28 hari minimum 5. Persyaratan dan gradasi pondasi bawah harus sesuai dengan kelas B.3.4 Lapis pemecah ikatan pondasi bawah dan pelat Perencanaan ini didasarkan bahwa antara pelat dengan pondasi bawah tidak ada ikatan.5 MPa (50-55 kg/em2).2.5 2 3 2.0 1. Kuat tarik lentur beton yang diperkuat dengan bahan serat penguat seperti serat baja. sesuai dengan SNI 03-1743-1989. yang didapat dari hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga titik (ASTM C-78) yang besarnya seeara tipikal sekitar 3-5 MPa (30-50 kg/em2). 5.0 5. aramit atau serat karbon.)O.50 dalam kg/em2 (2) = 9 dari 46 . 5. 5.2. Jenis bahan pengikat dapat meliputi semen. Hubungan antara kuat tekan karakteristik dengan kuat tarik-lentur beton dapat didekati dengan rumus berikut : fel= K (fe.5. Sebelum pekerjaan dimulai.)O.dasi bawah untuk tanah dasar dengan CBR minimum 5% adalah 15 em.2. serta abu terbang dan/atau slag yang dihaluskan.3. strength) umur 28 hari. dengan tebal minimum 10 em.13 K (fe.3 Beton semen Kekuatan beton harus dinyatakan dalam nilai kuat tarik lentur (flexural.5 kg/cm2) terdekat. (ii) Campuran beraspal bergradasi rapat (dense-graded aspha/~. Jenis pemecah ikatan dan koefisien geseknya dapat dilihat pada Tabel1. bahan pondasi bawah harus diuji gradasinya dan harus memenuhi spesifikasi bahan un1ukpondasi bawah. Ketebalan minimum lapis por. untuk menjamin kekuatan eampuran dan ketahanan terhadap erosi.2.2 Pondasi bawah dengan bahan pengikat (Bound Sub-base) Pondasi bawah dengan bahan pengil<at(BP) dapat digunakan salah satu dari : (i) Stabilisasi material berbutir dengan kadar bahan pengil<atyang sesuai dengan hasil pereneanaan. harus meneapai kuat tarik lentur 5-5.

50 m S L.50 m 5. masing-masing sebanyak 75 dan 45 kg/m3. < 22.Dengan pengertian : fc' : kuat tekan beton karakteristik 28 hari (kg/cm2) fCf : kuat tarik lentur beton 28 hari (kg/cm2) K : konstanta.fcs.4 Latu-llntas Penentuan beban lalu-lintas rencana untuk perkerasan beton semen. Tabel 2 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan dan koefisien distribusi kendaraan niaga pada lajur rencana Lebar perkerasan (Lp) Lp < 5.25 m S Lp < 11. maka jumlah lajur dan koefsien distribusi (C) kendaraan niaga dapat ditentukan dari lebar perkerasan sesuai Tabel2. < 8. menggunakan data terakhir atau data 2 tahun terakhir. I'<onfigurasi sumbu untuk perencanaan terdiri atas 4 jenis kelompok sumbu sebagai berikut : Sumbu tunggal roda turggal (STRD.50 0.25 m 11. Serat baja dapat digunakan pada campuran beton.50 0. 5. dalam kg/cm2 (4) Dengan pengertian : fes : kuat tarik belah beton 28 hari Beton dapat diperkuat dengan serat baja (steel-fibre) untuk meningkatkan kuat tarik lenturnya dan mengendalikan retak pada pelat khususnya untuk bentuk tidak lazim. Semen yang akan digunakan untuk pekerjaan beton harus dipilih dan sesuai dengan lingkungan dimana perkerasan akan dilaksanakan. Secara tipikal serat dengan panjang antara 15 dan 50 mm dapat ditambahkan ke dalam adukan beton. Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur.75 m S L.3. 5.425 0.4.40 (C) - 10 dari 46 . Sumbu tandem roda ganda (STdRG).70 0. Sumbu tunggal roda ganda (STRG).1 Lajur rencana dan koefisien distribusi Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu llntas dari suatu ruas jalan raya yang menampung lalu-lintas kendaraan niaga terbesar.37. Lalu-lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan volume lalu-lintas dan konfigurasi sumbu. sesuai dengan konfigurasi sumbu pada lajur rencana selama umur rencana. dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan niaga (commercial vehicle).3. Kendaraan yang ditinjau untuk perencanaan perkerasan beton semen adalah yang mempunyai berat total minimum 5 ton. Sumbu tridem roda ganda (STrRG).fcs.44. Panjang serat baja antara 15 mm dan 50 mm yang bag ian ujungnya melebar sebagai angker dan/atau sekrup penguat untuk meningkatkan ikatan.75 untuk agregat pecah.7 untuk agregat tidak dipecah dan 0.75 m 18. Kuat tarik lentur dapat juga ditentukan dari hasil uji kuat tarik belah beton yang dilakukan menurut SNI 03-2491-1991 sebagai berikut: fcf= 1.00 m Jumlah lajur (nl) 1 lajur 21ajur 31ajur 41ajur 51ajur 61ajur Koefisien distribus i 2 Arah 1 Arah 1 1 0.00 m S Lp < 18. 0.25 m 8.00 m 15. dalam MPa atau (3) fef= 13. untuk jalan plaza tal.23 m S Lp < 15. putaran dan perhentian bus.45 0.475 0.

3 29.2 Umur rencana Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan klasifikasi fungsional jalan.1 15. kombinasi dari metode tersebut atau cara lain yang tidak terlepas dari pola pengembangan wilayah. 5. .5 23.2 14.3 164.9 12 17.7 60.8 54.3 111.1 50 73.4 10. URm } URm h(1 + I) -1 ( 6 ) Dengan pengertian : R Faktor pertumbuhan lau Iintas i Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.8 32 41.6 40.6 5.1 79..6 56. pola lalu-Iintas serta nilai ekonomi jalan yang bersangkutan.8 57. Umumnya perkerasan beton semen dapat direncanakan dengan umur rencana (UR) 20 tahun sampai 40 tahun.4 172.3. R = (1 + .5 271 442. URm: Waktu tertentu dalam tahun. Internal Rate of Return.3.3 Pertumbuhan lalu-Iintas Volume lalu-lintas akan bertambah sesuai dengan umur rencana atau sampai tahap di mana kapasitas jalan dicapai denga faktor pertumbuhan lalu-lintas yang dapat ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut : R = (1 + i)UR -1 i (5) Dengan pengertian : R : Faktor pertumbuhan lalu Iintas i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.6 Apabila setelah waktu tertentu (URm tahun) pertumbuhan lalu-lintas tidak terjadi lagi.4.3 27.8 Laju Pertumbuhan 2 4 5.9 31.1 113.2 5.3 259. sebelum UR selesai. maka R dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : . 11 dari 46 .8 36.2 45.9 73.4.4 95 10 6. UR : Umur rencana (tahun) Faktor pertumbuhan lalu-lintas ( R) dapatjuga ditentukan berdasarkan Tabel3 Tabel 3 Faktor pertumbuhan Umur Rencana (Tahun) 5 10 15 20 25 30 35 40 0 5 10 15 20 25 30 35 40 lalu-llntas ( R) (i) per tahun (%) 6 8 5.3 20 24. yang dapat ditentukan antara lain dengan metode Benefit Cost Ratio.3 98.OUR + (UR T I f.1 154.9 13. 5.

atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu-lintas selebar 0.5 Faktor keamanan beban Pada penentuan beban rencana. C : Koefisien distribusi kendaraan 5. Beban pada suatu jenis sumbu secara tipikal dikelompokkan dalam interval 10 kN (1 ton) bila diambil dari survai beban. yang aliran lalu lintasnya tidak terhambat serta volume kendaraan niaga yang tinggi.3. 12 dari 46 . Tabel 4 Faktor keamanan beban (FKB) I No. meliputi proporsi sumbu serta distribusi beban pada setiap jenis sumbu kendaraan.4 Lalu-lintas rencana Lalu-lintas rencana adalah jumlah kumulatif sumbu kendaraan niaga pada lajur rencana selama umur rencana. beban sumbu dikalikan dengan faktor keamanan beban (FKB)' Faktor keamanan beban ini digunakan berkaitan adanya berbagai tingkat realibilitas perencanaan seperti telihat pada Tabel4.5.60 m.2 2 1.1 1. 1 Penggunaan Jalan bebas hambatan utama (major freeway) dan [alan berlajur banyak. Jalan dengan volume kendaraan niaga rendah. yang besarnya tergantung dari pertumbuhan lalu lintas tahunan dan umur rencana. Nitai FKB 1. Jalan bebas hambatan (freeway) dan jalan arteri dengan volume kendaraan niaga menengah.50 m. Jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana dihitung dengan rumus berikut : JSKN = JSKNH x 365 x R xC (7) Dengan pengertian : JSKN : Jumlah total sumbu kendaraan niaga selama umur rencana . Perbedaan kekuatan antara bahu dengan jalur lalu-Iintas akan memberikan pengaruh pada kinerja perkerasan. JSKNH : Jumlah total sumbu kendaraan niaga per hari pada saat jalan dibuka.15.3.0 3 5. sehingga akan meningkatkan kinerja perkerasan dan mengurangi tebal pelat Yang dimaksud dengan bahu beton semen dalam pedoman ini adalah bahu yang dikunci dan diikatkan dengan lajur lalu-lintas dengan lebar minimum 1. yang juga dapat mencakup saluran dan kereb.3.4. maka nilai faktor keamanan beban dapat dikurangi menjadi 1. Hal tersebut dapat diatasi dengan bahu beton semen.4. R : Faktor pertumbuhan komulatif dari Rumus (5) atauTabel 3 atau Rumus (6). Blla menggunakan data lalu-lintas dari hasil survai beban (weight-in-motion) dan adanya kemungkinan route alternatif.5 Bahu Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan pondasi bawah dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton semen.

2 Sambungan pelaksanaan memanjang Sambungan pelaksanaan memanjang umumnya dilakukan dengan cara penguncian. Diameter batang pengikat yang dipilih (mm). pengaruh lenting serta beban lalu-lintas. Memudahkan pelaksanaan. I Panjang batang pengikat (mm).3 x 4» + 75 Dengan pengertian : At = Luas penampang tulangan per meter panjang sambungan (rnrrr').6 Sambungan Sambungan pada perkerasan beton semen ditujukan untuk : Membatasi tegangan dan pengendalian retak yang disebabkan oleh penyusutan.4 m.6. Gambar 4 Tlplkal sambungan memanjang 13 dari 46 . 5.3. Mengakomodasi gerakan pelat. Ukuran batang pengikat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : At = 204 x b x h dan I (38.3.1 Sambungan memanjang dengan batang pengikat (tie bars) Pemasangan sambungan memanjang ditujukan untuk mengendalkan terjadinya retak memanjang. Tipikal sambungan memanjang diperlihatkan pad a Gambar 4 = = = = ~= 5.5. h Tebal pelat (m). Jarak batang pengikat yang digunakan adalah 75 em.3. 8entuk dan ukuran penguncian dapat berbentuk trapesium atau setengah lingkaran sebagai mana diperlihatkan pad a Gambar 5. Pad a perkerasan beton semen terdapat beberapa jenis sambungan an1aralain: Sambungan memanjang Sambungan melintang Sambungan isolasi Semua sambungan harus ditutup dengan bahan penutup (joint seale!).6. Sambungan memanjang harus dilengkapi dengan batang ulir dengan mutu minimum 8JTU24 dan berdiameter 16 mm. keeuali pada sambungan isolasi terlebih dahulu harus diberi bahan pengisi (joint tille!). Jarak antar sambungan memanjang sekitar 3 . b Jarak terkeeil antar sambungan atau jarak sambungan dengan tepi perkerasan (m).

15 m dan untuk sambungan perkerasan beton menerus dengan tulangan sesuai dengan kemampuan pelaksanaan. Setengah panjang ruji polos harus dicat atau dilumuri dengan bahan anti lengket umuk menjamin tidak ada ikatan dengan bebn. h (mm) 125<h<140 140 < h < 160 160 < h < 190 190<h<220 220 < h < 250 36 14 dari 46 . jarak antara ruji 30 em. 0.Trapesium Setengah lingkaran Gambar 5 Ukuran standar pengunclan sambungan memanjang Sebelum penghamparan pelat beton di sebelahnya. yaitu menggergaji atau membentuk pada saat beton masih plastis dengan kedalaman sepertiga dari tebal pelat. sambungan melintang harus dipasang dengan kemiringan 1 : 10 searah perputaranjarum jam.3 Sambungan susut memanjang Sambungan susut memanjang dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara ini. lurus dan bebas dari tonjolan tajam yang akan mempengaruhi gerakan bebas pada saat petat beton menyusut.6.3.5 Sambungan susut melintang Kedalaman sambungan kurang lebih mencapai seperempat dari tebal pelat untuk perkerasan dengan lapis pondasi berbutir atau sepertiga dari tebal pelat untuk lapis pondasi stabilisasi semen sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 6 dan 7. sedangkan untuk perkerasan beton bersambung dengan tulangan 8 . Jarak sambungan susut melintang untuk perkerasan beton bersambung tanpa tulangan sekitar 4 .3.4 Sambungan susut dan sambungan pelaksanaan melintang Ujung sambungan ini harus tegak lurus terhadap sumbu memanjang jalan dan tepi perkerasan.5 m.6. permukaan sambungan pelaksanaan harus dicat dengan aspal atau kapur tembok untuk mencegah terjadinya ikatan beton lama dengan yang baru. Untuk mengurangi beban dinamis. Sambungan ini harus dilengkapi dengan ruji polos panjang 45 em. 5. Diameter ruji tergantung pada tebal pelat beton sebagaimana terllhat pada Tabel 5. 5. T a b e15 O'larneter rUJI Diameter ruji (mm) 20 24 28 33 No 1 2 3 4 5 Tebat petat beton.6.3.

.t... panjang 69 em dan jarak 60 em..___.3.. 03rurat (tidak direncanakan) Gambar 8 Sambungan pelaksanaan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan untuk pengecoran per lajur 15 dari 46 .". sedangkan pada sambungan yang direneanakan harus menggunakan batang tulangan polos yang diletakkan di tengah tebal pelat. untuk ketebalan pelat sampai 17 em.. panjang 84 em dan jarak 60 em.---~ Sambungan yang dibuat dengan menggergaji atau dibentuk saat pengecoran 1 Gambar 6 Sam bung an susut melintang tanpa ruji Sambungan yang dibuat dengan menggergaji atau dibentuk saat pengecoran Selaput pernisah antara ruji dan eton T h ~ J_ ~ 1 1 Tulangan palos Gambar 7 Sambungan susut melintang dengan ruji 5.. {. Untuk ketebalan lebih dari 17 em.. Sambungan pelaksanaan tersebut di atas harus dilengkapi dengan batang pengikat berdiameter 16 mm. ukuran batang pengikat berdiameter 20 mm.6 Sambungan pelaksanaan melintang Sambungan pelaksanaan melintang yang tidak direneanakan (darurat) harus menggunakan batang pengikat berulir.T h I---__.. Tipikal sambungan pelaksanaan melintang diperlihatkan pada Gambar 8 dan Gambar 9. Drencilnakan "f I~r b..6.

---------------t-----! i I ! . Sam bung an isolasi harus dilengkapi dengan bahan penutup (joint seeler. Sarrbungan isolasi yang diperlukan di belakang tulangan Tegak lurus Iv'enyudut Irfl ~-Iln Ar~ Tegak lurus/Apron Tegak lurus-tv'enyudut Jalan Terpisah Iv'enyuduUlv'enyudut Dilapisi pelumas DENGAN RUJI [Itt.3. misalnya manhole. jembatan.7 Sambungan isolasi Sambungan isolasi memisahkan perkerasan dengan bangunan yang lain.7 mm dan sisanya diisi dengan bahan pengisi (joint fillet) sebagai mana diperlihatkan pad a Gambar 11. Contoh persimpangan yang membutuhkan sambungan isolasi diperlihatkan pada Gambar 10. setebal 5 . persimpangan dan lain sebagainya.6. tiang listrik. uf ~fr~ sambungan isolasi Gambar 10 Contoh persimpangan yang membutuhkan Bahan a) SAMBUNGAN ISOLASI b) SAMBUNGAN ISOLASI DENGAN PENEBALAN TEPI 16 dari 46 . Oirencanakan Darurat (tidak direncanakan) Gambar 9 Sambungan pelaksanaan yang direncanakan dan yang tidak direncanakan untuk pengecoran seluruh Iebar perkerasan 5. jalan lama.

manhole. tiang listrik dan bangunan lain yang tidak memerlukan penebalan tepi dan ruji. seperti jembatan perlu pemasangan ruji sebagai transfer beban. ditempatkan di sekeliling bangunan tersebut sebagai mana diperlihatkan pada Gambar 11C.5 meter seperti diperlihatkan pada Gambar 11b. Pada ujung ruji harus dipasang pelindung muai agar ruji dapat bergerak bebas. pekarangan dll c) SAMBUNGAN ISOLASI TANPA RUJI Gambar 11 Sambungan isolasi Sambungan isolasi yang digunakan pada bangunan lain. Setiap tepi sambungan ditebalkan 20% dari tebal perkerasan sepanjang 1. Ukuran ruji dapat dilihat pada Tabel 5.Bahan Bangunan saluran. 12 dan 13. Gambar 12 Tampak atas penempatan sambungan isolasi pada manhole > 100 em ke sarrbungan terdekat luban saluran Kereb yang menyatu > 100 em ke sarrbungan terdekat lubang saluran Kereb yang menyatu > 100 cmke sarrbungan -terdekat lubang saluran Gambar 13 Tampak atas penempatan sambungan isolasi pada lubang masuk saluran 17 dari 46 . Sambungan isolasi pada persimpangan dan ram tidak perlu diberi ruji tetapi diberikan penebalan tepi untuk mereduksi tegangan. Sambungan isolasi yang digunakan pad a lubang masuk ke saluran. manhole bangunan fasilitas umum. Pelindung muai harus cukup panjang sehingga menutup ruji 50 mm dan masih mempunyai ruang bebas yang cukup dengan panjang minimum lebar sambungan isolasi ditambah 6 mm seperti diperlihatkan pada Gambar 11a.

2100-3600rrrn . Usahakan bentuk panel sepersegi mungkin.25. Untuk bangunan berbentuk segi empat. Semua bangunan lain seperti manhole harus dipisahkan dari perkerasan dengan sambungan muai selebar 12 mm yang meliputi keseluruhan tebal pelat. sambungan harus berada pada sudutnya atau di antara dua sudut. 2100-3600rrrn ...0 meter.. Perbandingan maksimum panjang panel terhadap lebar adalah 1. maksimum 5. Sudut antar sarnbunqen yang lebih kecil dari 60 derajat harus dihindari dengan mengatur 0. Jarak maksimum sambungan memanjang 3 . jarak sambungan harus diatur sedemikian rupa sehingga antara sambungan dengan manhole atau bangunan yang lain tersebut membentuk sudut tegak lurus. 5arrbungan lipe C unluk seluruh lebar perkerasan Sarrbungan lipe B unluk pengecoran setenqah lebar perkerasan ~I . Tulangan harusdihentikan 7.15% terhadap penampang beton semen dan dipasang 5 em di bawah permukaan atas.4 meter. Antar sambungan harus bertemu pada satu titik untuk menghindari terjadinya retak refleksi pada lajur yang bersebelahan. Hal tersebut berlaku untuk bangunan yang berbentuk bundar. Apabila sambungan berada dalam area 1.8 Pola sambungan Pola sambungan pad a perkerasan beton semen harus mengikuti batasan-batasan sebagai berikut: Hindari bentuk panel yang tidak teratur.5 meter dengan manhole atau bangunan yang lain.5 m panjang terakhir dibuat tegak lurus terhadap tepi perkerasan.6.5. Tipikal pola sambungan diperlihatkan pada Gambar 14 dan 15. Semua sambungan susut harus menerus sampai kerb dan mempunyai kedalaman seperempat dan sepertiga dari tebal perkerasan masing-masing untuk lapis pondasi berbutir dan lapis stabilisasi semen..3. Jarak maksimum sambungan melintang 25 kali tebal pelat.5 meter seperti diperlihatkan pada Gambar 11b.1. Perkerasan yang berdekatan dengan bangunan lain atau manhole harus ditebalkan 20% dari ketebalan normal dan berangsur-angsur berkurang sampai ketebalan normal sepanjang 1.. . .__---------7800 -14400 nTI1"---------~ Gambar 14 Potongan melintang perkerasan dan lokasi sambungan 18 dari 46 . Sarrbungan II e C Sarrbungan 1!pEl B atau lipe C Sarrbungan lipe C . 2100-3600rrrn .. 2100-3600rrrn ..5 em dari sambungan. Panel yang tidak persegi empat dan yang mengelilingi manhole harus diberi tulangan berbentuk anyaman sebesar 0.

.14400 mm Gambar 15 Detail Potongan melintang sambungan perkerasan Keterangan Gambar A = Sambungan 8 = Sambungan C Sambungan = Sambungan E = Sambungan F = Sambungan o = 14 dan 15: isolasi pelaksanaan memanjang susut memanjang susut melintang susut melintang yang direncanakan pelaksanaan melintang yang tidak direncanakan 5. Jalan dengan kondisi ini harus dilengkapi dengan angker yang melintang untuk keseluruhan lebar pelat sebagaimana diuraikan pad a Tabel 6 dan diperlihatkan pada Gambar 16 dan 17.3..J.~i:. Masukkan bahan pengisi kedalam sambungan minimum setebal12 rnm.:t3h~ Panel yang dicor terlebih dahulu Y Gambar 16 Angker panel 19 dari 46 Gambar 17 Angker blok .4 Perkerasan beton semen untuk kelandalan yang curam Untuk jalan dengan kemiringan memanjang yang lebih besar dari 3%.0----1500 mmt-----.5.I _//.L Normal N0'::j I-- 7800 .6.-.9 Penutup sambungan Penutup sambungan dimaksudkan untuk mencegah masuknya air dan atau benda lain ke dalam sambungan perkerasan. dibagian atas kerb hanya bag Ian cekung o B atau --:t±:j1-~4---1--I--~-f ffi Ich! e Bila diperlukan o \ Jarak Jara.k-l----L--"J. Benda-benda lain yang masuk ke dalam sambungan dapat menyebabkan kerusakan berupa gompal dan atau pelat beton yang saling menekan ke atas (blowup). 1-01.. perencanaan serta prosedur mengacu pada Butir 6 dan harus ditambah dengan angker panel (panel anchored) dan angker blok (anchor block).---JL.

Tabel 6 Penggunaan angker panel dan angker blok pada jalan dengan kemiringan memanjang yang curam Kemiringan (%) 6-10 3-6 >10 Angker panel SetiaQ_J)_anel ketiga Setiap panel ke dua Setiap panel Angker blok Pada bagian awal kemiringan Pada bagian awal kemiringan Pada bagian awal kemiringan dan pada setiap interval 30 meter berikutnya Catatan : Panjang panel adalah jarak antara sambungan melintang 6 Prosedur perencanaan Prosedur perencanaan perkerasan beton semen didasarkan atas dua model kerusakan yaitu: 1) Retak fatik (lela h) tarik lentur pada pelat. 2) Erosi pada pondasi bawah atau tanah dasar yang diakibatkan oleh lendutan berulang pada sambungan dan tempat retak yang direncanakan.1 Perencanaan tebal pelat Tebal pelat taksiran dipilih dan total fatik serta kerusakan erosi dihttung berdasarkan komposisi lalu-lintas selama umur rencana. 6. Tebal rencana adalah tebal taksiran yang paling kecil yang mempunyai total fatik dan atau total kerusakan erosi lebih keel' atau sama dengan 100%. Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan dianggap sebagai perkerasan bersambung yang dipasang ru]. Langkah-Iangkah perencanaan tebal pelat diperlihatkan pad a Gambar 18 dan Tabel7. Prosedur ini mempertimbangkan ada tidaknya ruji pada sambungan atau bahu beton. Data lalu-lintas yang diperlukan adalah jenis sumbu dan distribusi beban serta jumlah repetisi masing-masing jenis sumbulkombinasi beban yang diperkirakan selama umur rencana. tebal taksiran dinaikan dan proses perencanaan diulangi. 20 dari 46 . Jika kerusakan fatik atau erosi lebih dari 100%.

• I f Tentukan legangan ekivalen seliap jenis sumbu I J Tenlukan faklor rasio legangan (FRT) • Hilung kerusakan erosi seliap beban sumbu Perkiraan jumlah sumbu dibagi jumlah repelisi ijin.4.5) • - Pilih bahu belon atau bukan beton Taksir Tebal Pelal Beton . I Hilung kerusakan falik setiap beban sumbu perkiraan jumlah sumbu dibagi jumlah repelisi ijin.. dan jumlqhkan + = I + Tentukan jumlah repetisi ijin seliap beban sumbu ..~ Perkiraan distribusi sumbu kendaraan niaga dan jenis/beban sumbu Penilaian CBR tanah dasar pjlih jenis sambungan Pilih jenis dan lebal pondasi bawah (Gambar 2) Tenlukan CBR efektif (Gambar3) Pilih faktor keamanan beban (FKB) (Bulir 5. dan jumlahkan = ya ~ lidak kerusakan erosi > 100% tidak & ya kerusakan fallk > 100% I TEBAL RENCANA I Gambar 18 Sistem perencanaan perkerasan beton semen 21 dari 46 . • Pilihkualtarik lenlur alau kuat tekan bela pada 28 hari . Tenlukan faklor erosi setiap jenis sumbu Tentukan jumlah repetisi ijin untuk setlap beban sumbu .3.

Hitung persentase dari repetisi erosi yang direncanakan terhadap jumlah repetisi iiin. Tenlukan apakah menggunakan bahu beton atau bukan. Hitung jumlah total fatik dengan menjumlahkan persentase fatik dari setiap beban roda pada STRT terse but. Jika beban rencana per roda ~ 65 kN (6. Dengan cara yang sarna hitung jumlah total erosi dari setiap beban roda pada STRT tersebut. anggap dan gunakan nilai tersebut sebagai batas tertinggi pad a Gambar 19 sampai Gambar 21 Dengan faktor rasio tegangan (FRT) dan beban rencana. Hitung jumlah total kerusakan akibat fatik dan jumlah total kerusakan akibat erosi untuk seluruh jenis kelompok sumbu. tentukan jumlah repetisi ijin untuk fatik dari Gambar 19. atau menerus dengan tulangan. yang dimulai dari beban roda tertinggi dari jenis sumbu STRT tersebut. Hitunq persentase dari repetisi fatik vane direncanakan terhadap iurnlah repetisi iiin. bersambung tanpa ruji.Tabel 7 Lanqkah-lanqkah perencanaan tebal perkerasan beton semen Langkah 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Kegiatan Pilih jenis perkerasan beton semen. Tebal tersebut sebagai tebal perkerasan beton semen yang direncanakan. tentukan jumlah repetisi ijin untuk erosi. Ulangi langkah 8 sampai dengan langkah 16 untuk setiap jenis kelompok sumbu lainnya. tentukan beban per roda dan kalikan dengan faktor keamanan beban (Fkb)untuk menentukan beban rencana per roda.5 ton). Tentukan jenis dan tebal pondasi bawah berdasarkan nilai CBR rencana dan perkirakan jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana sesuai dengan Gambar 2 Tentukan CBR efektif bedasarkan nilai CBR rencana dan pondasi bawah yang dipilih sesuai denqan Gambar 3. bersambung dengan ruji. dari Gambar 20 atau 21. Ulangi langkah 7 sampai dengan langkah 18 hingga diperoleh ketebalan tertipis yang menghasilkan total kerusakan akibat fatik dan atau erosi ~ 100%. Untuk setiap rentang beban kelompok sumbu terse but. 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 22 dari 46 . Dengan menggunakan faktor erosi (FE). Ulangi langkah 11 sampai dengan 14 untuk setiap beban per roda pada sumbu tersebut sampai jumlah repetisi beban ijin yang terbaca pada Gambar 19 dan Gambar 20 atau Gambar 21 yang masing-masing menapai 10 juta dan 100 juta repetisi.f) Pilih faktor keamanan beban lalu lintas (FKB) Taksir lebal pelat beton (taksiran awal dengan tebal tertentu berdasarkan pengalaman atau menggunakan contoh yang tersedia atau dapat menggunakan Gambar 24 sampai dengan Gambar 31 Tentukan tegangan ekivalen (TEl dan faktor erosi (FE) untuk STRT dari Tabel 8 atau Tabel 9 Tentukan faktor rasio tegangan (FRT) dengan membagi tegangan ekivalen (TE) oleh kuat tarik-Ientur (fef). Pilih kuat tarik lentur atau kuat tekan betonpada umur 28 hari (fc.

Fi....~I:!.IM'~~ ~~~.~. ~..~.~.~.~...~B~~~~~~~~ ~~ ~.~~FX. ¥ ~ ~·~..~... r::~pi{:l!.: ~~~..~..~...:1! '" ~·e~·.~.~::: .~.'!!. ~~f~· ~~.-~ N ~ 81S.••. ..~~.: ..~.~.rn. ~ ... Ul li: U- '" c "'0 '" C ~ ~~..~~.lrJ r. ~.I.~.. c Ii: .:'":E.. ~.~ ~~'~~'~'~ININ f'i~ .~~.~..~F.. ~~.~ .~~~~ ~'~~rp~~R ....~~p I.~..H6~.~.~B~~~ .~ .~ ..~ ~.".~~.F.~... • ~~.. 0 ~ ~.~. ~~.~~~.. ..~..~!!\~ 'r'IN .~. j:ll. ._ .p ..~.. ~. ril.JO.-.. IN"" ~ ~ N .-~ j..18l .P£.IO..~~~~.~.. ~~.~~ ~ g!.... j e IV ti ~ .". ~::: .~~ ~ ~..~ F. ..~f'i~~'. N - ~·~r.~..c :::I 10 ~i-i~~ri ...~.~."".. :::rg 5 ll3·~l~I<!.~. .I'-i.~.~.~ :Jill! ~~ ~ .~.~~ ~~R~ .~.~~~..!~j:ll..S~.... ~ ~ ~t:2 "'''~f~...~~.~.Fii..1~ .E. c al ~ . . ~..~...lr.~ l . "!<'ii"i" ~ ~~ "'~ INI<-.ri~·lrikF~·F ~.. .~P.~. i ~ 2' ti w .. ~. '" IJ ~ .•. .~. ~. f'i~j:8 .~~ ~ ~ . ..Q - ~~j.~. w .:~·~~~5~·~ ·. .~~ ~ -. ~I~~~~~~~~ "'i Ul_ .N~ p::vel!: ~ . .~~~ NIN .... "'f'i"~<O' ~~~~~..~...~.~~RI8i:R!i'!~ . -e re '.~..~..~....~~ -~~"'~1Sl ~~~~~FIi s l ~~-~~r...-. F ::i~'~r.~~.~.! Fi. ~ ~~ . I:!l.~ ~'~~'~'~'Ii"~'~ .~..~~~~~ al ~ C .::l.~.P<I ~§IN~.t.-triR::i.ri~~~ . j.Fll.~..~..)!\~.~J~. Ill...~ ~'~'~~~'r ~Pl'" .~~ I~~~~ '~~~'~ri R~:~RR~~ "r£llri~ .. : .. v.~r.<n.~.~ ....~ """" . A~ r. ... .~..IO<' .~j:£. IN'''' .~.~. ! ~~.i«i..~. ~ ~IN~·~~~·~N ~~~. ~ ~.-r.~~"·fJ~~~·~~~· ~~r~~~~'~ li:1C"1"-! .~.~.."". :.~ Ul ~. . 0 e p~.~......~.~.<o. R~. ...JN~~JN~~~~ ~~~~~fN~~ ~~~ .p:l. . ..~.. Ul Ul . . ~~~&l. ~~~~~. :S.~~.~..a ~[N~'~.F8. ~..~~ ~ ~ (J) ~~~~ ..<O.'jrir.~ ~ :::I :::I "in c r~~'~~~~~ ~!~~~~.. ! ~~ N~ "...:P<I.~" ~.:~ .~ ~~~~. '~.p:l.. .§~ ~~.. .Fl. lJ! 0 '!: ~.."..~..~~~. ~-.~ ". ~.Ul II: ~. -e c 0 N .~~ gJ.(~. .:: .~....:~- ~@~~~~~~ ~~~~~~~~ ~~~~~~~~ INININNlNjN~r ~ ~ (J) E ..:~·S~. .~ ~. .."'....~.:~~.L~:'6~~·~. ~ Pl.. 1t: .I". ~~~~~~~j:H..:~. ! 0 'i:~I5~o '-·3 ~ 0 ..~..~. .r.~... ~ ~~~ ""!N' '''''I''i 'I<'l" rn . "" . :::.l~ r. ~ ~-~:G~1il l!l ~ OJ r:~~~ ~~~~~Pl~ ~~ ~-~".."'.f'i .~.i... ~.. ..:·I&l·e~·..I<"~'~ ".~~...~~... .~... ~~. ~ <0 ....~.jgl.. Q.. . ~~.: ."" ~·6 :. ~j:_jl.: ~P... ."'' ' ..~ ~t:li..~. ·i"ie. ~ ..~.~.... ~~.•.~~~ ~ ~P~~'p~·~·~·~· Vi. ~ 0 ..~. ~ ~ (J) ~~~~ ~J'. ~.~j.~~~.~~~ ~N~'" ~I:l. ~...~~."" .:. f'i<-i~ 9 c co eo i o ~~~~ ~~~~ . e 0:: ..:!t ~.:@: ~~~~.~ .~..QIN .~~~~. ....i!lP..~~ ..~..' ~ ~~~..j.j.~~foiJll. :sUl 'riri~~..!.gill ..~.il'J:lJ~.~~~.~ 0 a: ~. ~ . E ~~~.. ~~F·~·SI3 tr-: ~~ ....~..-~ eIl'l-$jO "'e~e-~·~ . :'~.F.'''''~~'''' Ia Ul - .. ~ ririF=i..~~~~ ~..i::i~F""Iri""· jl:l'IM"~'N."'..

.

"I~ ! .~It:!"~\b~ tl~ !"I~~ ~. . __ ~""'''''''''''N ~e'co'~8~~'~ .....~-..= . '" -t 0" -" 'to'~~~fS!&~ - "" f'~'~~~S~'~ ".

1S 1000 6 4 2 100 Gambar 19 Analisis fatik dan beban repetisi ijin berdasarkan rasio tegangan.0. dengan Itanpa bahu beton 26 dari 46 .

.6 20 3. 0 ~ 30 E . rtf -e ~ C1I D. C rtf ~ C...0 1S .4 100000 ~ 8 c.2 2. 2 6 . l10 1000 z Gambar 20 Analisis erosi dan jumlah repetisi beban ijin. 3." rtf 2S 11.c Ol III C1I rtf E 0 ~ a.6 2.100000 0008 65 60 6 It 2.0 3.0 10 000 000 50 45 2. C1I 3.. tanpa bahu beton 27 dari 46 .5 =' c . ~ rtf .8 4.2 .. 2 . 2 Z ~ ::::r .c C/) 40 2.. rtf 3..4 2 8 6 . berdasarkan faktor erosi.. C1I 0 .c Ol 10000 8 6 .8 'iii W 35 1000000 8 6 ::::r E c..

.!I:: U..c III :i:j :. W 0 . dengan bahu beton 2 28 dari 46 ..S c III .2 -25 CIJ E Co 0 ...!:I:: ru ru Co ru • 20 "tJ ~ .c (f) .!:I:: 1000000 8 6 4 Z ::s E ::s 2 . a 6 4 .. C ..2 .::41 'iii 41 a 0::: CIJ 0:: 2 Il. £ ra . I/) 100000 " 0 L.c Ol CIJ ru -15 10000 a 6 4 10 1000 Gambar 21 Analisis erosi dan jumlah repetisi beban berdasarkan faktor erosi.

2 Perencanaan tuJangan Tujuan utama penulangan untuk : Membatasi tebar retakan.6. 29 dari 46 . Biasanya 0. h : tebal pelat beton (m) L : jarak antara sambungan yang tidak diikat dan/atau tepi bebas pelat (m) M : berat per satuan volume pelat (kg/m3) J. Pelat dengan bentuk tak lazim (odd-shaped slabs).M.25.f!i (8) Dengan pengertian: As : luas penampang tulangan baja (mm2/m lebar pelat) fs : kuat-tarik ijin tulangan (MPa). Bagian-bagian pelat yang diperkirakan akan mengalami retak akibat konsentrasi tegangan yang tidak dapat dihindari dengan pengaturan pola sambungan. Luas penampang tutangan berbentuk anyaman empat persegi panjang dan bujur sangkar ditunjukkan pad a Tabel10. Pelat dengan sambungan tidak sejalur (mismatched joints). Penerapan tulangan umumnya dilaksanakan pada : a.2 Perkerasan beton semen bersambung dengan tuJangan Luas penampang tulangan dapat dihitung dengan persamaan berikut : Ar = p.2. b.g. Pelat berlubang (Pits or structures). sedangkan dalam hal beton bertulang menerus.6 kall tegangan leleh. Tabel1. diperlukan jumlah tulangan yang cukup untuk mengurangi sambungan susut. 9 : gravitasi (m/detik2). ada kemungkinan penulangan perlu dipasang guna mengendalikan retak.1 Perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan Pada perkerasan beton semen bersambung tanpa tulangan.L. Pelat disebut tidak lazim bila perbadingan antara panjang dengan lebar lebih besar dari 1. 6.2. 6.L : koefislen gesek antara pelat beton dan pondasi bawah sebagaimana pad a 1 . maka petat harus diberi tulangan.h . 2. c. agar kekuatan pelat tetap dapat dipertahankan Memungkinkan penggunaan pelat yang lebih panjang agar dapat mengurangi jumlah sambungan melintang sehingga dapat meningkatkan kenyamanan Mengurangi biaya pemeliharaan Jumlah tulangan yang diperlukan dipengaruhi oleh jarak sambungan susut. atau bila pola sambungan pada pelat tidak benar-benar berbentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang.

2 10 9 8 7.285 290 .5 11.J : koefisien gesekan antara pelat beton dengan lapisan di bawahnya Es : modulus elastisitas baja 2.1 x 106 (kg/cm2) Ec : modulus elastisitas beton 1485 .707 8.967 5..3.165 4.994 3.3 5 4 200 200 200 200 200 200 250 250 100 200 200 200 200 200 200 200 1227 986 785 636 503 396 318 251 503 393 318 251 198 156 98 63 251 251 251 251 251 251 201 201 503 393 318 251 198 156 98 63 11.892 6.ke atas n 10 8 6 30 dari 46 .1 6.4 .091 4.606 9.987 6..5 fct) (kg/cm2) fy : tegangan leleh reneana baja (kg/em2) n : angka ekivalensi antara baja dan beton (Es/Ec).225 235 .3 5 4 100 100 100 100 100 100 200 200 100 200 200 200 200 200 200 200 8 8 8 8 8 8 8 8 8 10 9 8 7.2. J.076 3.946 3.3 Perkerasan beton semen menerus dengan tulangan 6.1 Penulangan memanjang Tulangan memanjang yang dibutuhkan pada perkerasan beton semen bertulang menerus dengan tulangan dihitung dari persamaan berikut : Ps = lOO'!C.(l.Tabel10 Ukuran dan berat tulangan polos anyaman las Luas Penampang Tulangan Melintang Memanjang (mm /m) 2 Tulangan melintang Tulangan Memanjang Diameter Jarak Diameter Jarak (mm) (mm) (mm) lmm) Empat persegi panjang Berat per Satuan Luas (kg/m2) (mm /m) 2 Bujur sang kar 12.J f c (kg/em2) = atau = = Tabel11 Hubungan kuat tekan beton dan angka ekivalen baja dan beton ( n ) f'c (kq/cm") 175 .0.3 -O.138 6.2.919 5.108 2.2p) t.447 1.552 7.=n I: (9) Dengan pengertian : p 5 : persentase luas tulangan memanjang yang dibutuhkan terhadap luas penampang beton (%) fel : kuat tarik langsung beton (0. dapat dilihat pad a Tabel11 dihitung dengan rumus .542 0..1 9 8 8 10 9 8 7.1 6.

2 Penulangan melintang beton menerus dengan Luas tulangan melintang (As) yang diperlukan pada perkerasan tulangan dihitung menggunakan persamaan (8). Diameter batang ullr tidak lebih kecil dari 12 mm. 31 dari 46 .2. Pelapisan tambahan perkerasan lentur di atas perkerasan beton semen.4 . Jumlah optimum tulangan memanjang.0. Jarak retakan teoritis yang dihitung dengan persamaan di atas harus memberikan hasil antara 150 dan 250 em... 6. p : perbandingan luas tulangan memanjang dengan luas penampang beton.1 x106 (kg/em2) Untuk menjamin agar didapat retakan-retakan yang hal us dan jarak antara retakan yang optimum. Jarak antar tulangan 100 mm .3.".."""""""""" """ (10) Dengan pengertian : Lcr : jarak teoritis antara retakan (em). Diameter batang tulangan memanjang berkisar antara 12 mm dan 20 mm. perlu dipasang agar jarak dan Iebar retakan dapat dikendalikan. Tulangan melintang direkomendasikan sebagai berikut: a./f'c (kg/em2) Es : modulus Elastisitas baja = 2. 6. _ In) ". Ec : modulus Elastisitas beton =14850-. maka : Persentase tulangan dan perbandingan antara keliling dan luas tulangan harus besar Perlu menggunakan tulangan ulir (deformed bars) untuk memperoleh tegangan lekat yang lebih tinggi.3 Penempatan tulangan Penulangan melintang pada perkerasan beton semen harus ditempatkan pada kedalaman lebih besar dari 65 mm dari permukaan untuk tebal pelat s 20 em dan.97-.. b.5 fef) (kg/em2) n : angka ekivalensi antara baja dan beton = (EJEc). c. Tulangan arah memanjang dipasang di atas tulangan arah melintang. b.Persentase minimum dari tulangan memanjang pada perkerasan beton menerus adalah 0. i Perencanaan lapis tam bah Pelapisan tambahan pada perkerasan beton semen dibedakan atas : a.u .p'. Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton semen. maksimum sampai sepertiga tebal pelat untuk tebal pelat > 20 em./f'c)/d. fb : tegangan Iekat antara tulanqan dengan beton = (1. Seeara teoritis jarak antara retakan pada perkerasan beton menerus dengan tulangan dihitung dari persamaan berikut : L" = n.". u : perbandinqan keliling terhadap luas tulangan = 4/d.3.2. fel : kuat tarik langsung beton (0.225 mm. pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan lentur." """". Jarak maksimum tulangan dar.(kg/em2) Es : koefisien susut beton = (400. sumbu-ke-sumbu 75 em...6% luas penampang beton.f~:: = .E.10-6).

100 80 60 0 . iU OJ co -- --r-I ---- -- 6 4 2 ~ o 1- --f 20 . Pelapisan tambahan dengan lapis pemisah (unbonded atau separated overlay). Modulus reaksi perkerasan lama (k) diperoleh dengan melakukan pengujian pembebanan pelat (plate bearing test) menurut AASHTO T.35..222-81 di atas permukaan perkerasan lama yang selanjutnya dikorelasikan terhadap nilai CBR menurut Gambar 22.2 Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton semen Jenis pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton semen. 7.. antara lain: a. maka nilai k dianggap sarna dengan 140 kPa/mm (14 kg/cm3) dengan nilai CBR 50%.J(T2 . baru mengalami retak awal pada sudut-sudut sambungan C. I ~~ I I I ! ._. b. Bila nilai k lebih besar dari 140 kPa/mm (14 kg/cm3). +-I I r----- ! ! I I 40 I 60 80 I II -- I 120 140 I 160 I 180 200 o 100 Modulus Reaksi Tanah Dasar.1 Pelapisan tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan beton aspal Tebal lapis tambahan perkerasan beton semen di atas perkerasan lentur dihitung dengan cara yang sarna seperti perhitungan tebal pelat beton semen pada perencanaan baru yang telah diuraikan sebelumnya. : tebal lapis tambahan T : tebal perlu berdasarkan beban rencana dan daya dukung tanah dasar dan lapis pondasi bawah dari jalan lama sesuai dengan cara yang telah diuraikan. 0. : koefisien ya:1g menyatakan kondisi pelat lama yang nilainya sebagai berikut: Cs = 1. kondisi perkerasan lama secara struktur telah rusak eballapis = = = 32 dari 46 ...1 -I Pelapisan tambahan perkerasan beton semen dengan lapis pemisah tambahan dihitung berdasarkan rumus berikut : Tr . kondisi struktur perkerasan lama masih baik Cs 0.~ -- . co 0:: I I I ~ ~ 40 20 10 8 ---. I I--I c------~--------.i - 'c .7.. kondisi perkerasan lama.75.. k (kPa/mm) Gambar 22 Hubungan antara CBR dan Modulus Reaksi Tanah Dasar 7.-~ . To : tebal pelat lama (yang ada) C.--r------r--I / I ..Cs. Pelapisan tambahan langsung (direct overlay).To2) '" '" '" '" '" (11) Dengan pengertian : T. - . ! t - . i 'C co CI) e C) / / L ~ =--t---.____ 1---· -- ..2.

Perkerasan lama yang mengalami retak awal (Cs 0. 7. . Tebal efektif untuk seluruh perkerasan merupakan jumlah tebal efektif dari masingmasing lapisan. Letak sambungan pada lapis tambahan harus sarna dengan letak sambungan pada perkerasan lama. = 7. Letak dan jenis sambungan serta penulangan pada lapis tambahan tidak perlu sama dengan yang ada pad a perkerasan lama. Lapis pemisah dimaksudkan untuk meneegah refleksi penyebaran retak perkerasan lama ke lapis tambahan.2 Pelapisan tambahan langsung Tebal lapis tambahan dihitung berdasarkan rumus berikut: T. = 1. Dalam menentukan tebal ekivalen perkerasan beton semen perlu memperhatikan kondisi dan daya dukung lapisan beton semen yang ada. Tebal minimum lapis tambahan ini sebesar 130 mm.J (T1•4 - Cs. Jenis sambungan dan penulangan pad a lapis tambahan tidak harus sarna dengan jenis sambungan dan penulangan pada perkerasan lama. Untuk menentukan tebal efektif (Te) setiap lapisan perkerasan yang ada harus dikonversikan kedalam tebal ekivalen aspal beton sesuai dengan Tabel 12.2. Teballapisan tambahan dihitung dengan rumus sebagai berikut : Dengan T. yang biasanya terbuat dari beton aspal dengan ketebalan minimum 3 em.T01•4) (12) Dengan pengertian : T. Dengan demikian tebal lapis tambahan yang diperlukan... : teballapis tambahan T : tebal perlu berdasarkan beban reneana dan daya dukung tanah dasar dan atau lapis pondasi bawah dari jalan lama sesuai prosedur yang telah diuraikan To : tebal pelat lama (yang ada) Cs : faktor yang menyatakan keadaan struktural perkerasan lama. Apabila lapisan-Iapisan perkerasan telah diketahui dan kondisinya ditetapkan. yang besarnya antara 0. kemudian faktor konversi yang sesuai dipilih dari Tabel 12 dan tebal efektif dari setiap lapisan dapat ditentukan.1. dihitung berdasarkan perhitungan lapis tambahan pad a perkerasan lentur.75) dapat diberi lapisan tambahan langsung bila kerusakannya dapat diperbaiki.Tebal minimum lapis tambahan dengan lapis pemisah sebesar 150 mm.75 . Penulangan pada lapis tambahan tidak tergantung pada tulangan dan kondisi perkerasan lama.4. Tebal efektif setiap lapisan merupakan hasil perkalian antara tebal lapisan dan faktor konversi.3 Pelapisan tambahan perkerasan beton aspal di atas perkerasan beton semen Struktur perkerasan beton semen harus dievaluasi agar supaya tebal efektifnya dapat dinilai sebagai as pal beton. T Te Tr=T-Te (13) pengertian : teballapis tambahan = tebal perlu berdasarkan beban reneana dan daya dukung tanah dasar dan atau lapis pondasi bawah dari jalan lama sesuai prosedur yang telah diuraikan tebal efektif perkerasan lama = = 33 dari 46 .

Perkerasan beton semen lama (yang ada) 5. Tanah dasar 34 dari 46 . Beton aspal sebagai lapis perata 3. kenstruksi lapis tambahan dapat menggunakan lapisan peredam retak sebagai mana terlihat pada Gambar 24 berikut. Apabila tebal lapisan tambahan lebih dari 180 mm. Gambar 23 Lapisan peredam retak pada sistem pelapisan tambahan Keterangan gambar : 1. Beton aspal sebagai lapisan peredam retak 4.Teballapis tambahan perkerasan lentur yang diletakkan langsung di atas perkerasan beten semen dianjurkan minimum 100 mm. Beton aspal sebagai lapisan aus 2.

dan alur kecil pada jejak roda tapi masih mantap. a.7 0. a. secara umum belum retak.2 untuk PI (Plastisitas Indek) ::. Lapis permukaan dan lapis pondasi dengan bahan pengikat aspal emulsi atau aspal cair yang masih mantap. pengaluran pada jejak roda.0 0. b. Fk 0. yang telah menunjukkan pola retak yang jelas. Perkerasan beton semen (termasuk perkerasan yang telah ditutup peraspalan) yang telah retak dan tidak rata dan tidak bisa ditutup secara baik.2 = III IV 0. atau stabilisasi kapur Lapis pondasi atau pondasi bawah yang terdiri dari bahan berbutir bergradasi baik.7-0.Tabel12 Faktor konversi lapis perkerasan lama untuk perencanaan lapis tambahan menggunakan perkerasan beton aspaJ Klasifikasi Bahan II Oeskripsl Bahan Tanah dasar asli. dan 0. yang masih mantap. Potongan-potongan pelat berukuran sekitar 1 sampai 4 2 m . Perkerasan beton semen yang masih mantap.5 apabila digunakan lapis pondasi bawah.3 0. dengan CBR ~ 20.5 V 0. Lapis permukaan dan lapis pondasi beton aspal.7-0. Perkerasan beton semen (termasuk perkerasan yang telah ditutup lapis peraspalan) yang masih mantap dan telah ditutup (undersea led}.6 m dalam arah dimensi maksimal. Lapis pondasi atau pondasi bawah yang distabilisasi semen atau kapur dengan PI s 10 a.1-0. b. penurunan mutu agregat.5 0.3 apabila pelat langsung diatas tanah dasar. . Lapis pondasi beton semen.7-0. b. tidak terjadi pamping (pumping) dan memberikan retak refleksi vane kecil pada permukaan Faktor Konversi (Fk) o 0.9 VII 0.7 VI 0. c. dan penurunan stabilitas. dan telah diperbaiki.9-1. keras mengandung bahan halus bersifat plastis.5-0.2-0.9-1. dan 0.5-0. Lapis permukaan dan lapis pondasi beton aspal.9-1.0 0.9 0. b.3-0. pelepasan butir atau penurunan mutu agregat. telah retak-retak tapi tidak terdapat potonganpotongan pelat vano berukuran lebih kecil dari 1 m2 a. C. Lapis permukaan atau lapis pondasi dengan bahan pengikat aspal emulsi atau aspal cair yang telah retak menyeluruh.1 6 untuk PI> 6.. yang telah menunjukkan retak halus. tanah dasar perbaikan dengan bahan berbutir.0 35 dari 46 . dengan bahan pengikat aspal emulsi atau aspal cair. secara umum belum retak.9 0. dibawah lapis permukaan beraspal. Fk = 0. tidak menunjukkan kegemukan (bleeding). dan terdapat alur kecil pad a jejak roda.7 0. Perkerasan beton semen (termasuk perkerasan yang telah ditutup lapis peraspalan) yang telah patah-patah menjadi potongan-potongan dengan berukuran s 0. sudah ditutup (undersealed) dan umumnya belum retak C.5-0. Lapis permukaan dan lapis pondasi. Lapis permukaan dan lapis pondasi beton aspal yang telah menunjukkan retak hal us dengan pola setempat-setempat dan alur kecil pad a jejak roda tapi masih mantap. dan terjadi alur kecil padajejak roda.3-0. pelepasan butir.

1. Jml.Lampiran A (Informatif) A. Kend (bh). 1 3 2 5 6 6 RB 1 5 4 8 14 14 RGD 2) RGB 5 5 - 2 2 2 2 4 - - - - (9) 300 - 3 2 4 5 6 6 5 5 Total 8 - 5 780 - RD = roda depan.1.1 A. RGB = roda gandeng belakang. Sumbu Per Kend (bh). • Koefisien gesek antara pelat beton dengan pondasi (J.2 Langkah-Iangkah perhitungan teba! pelat a) Analisis lalu-lintas Tabel 13 Jenis Kendaraan Perhitungan jumlah sumbu berdasarkan jenis dan bebannya. STRG = sumbu tunggal roda ganda. silinder) = = = = A. (3) 1640 300 650 780 300 10 Jml. JS sumbu.1 • • • • Contoh Perhitungan Teba! Pelat Beton Semen Diketahui data parameter perencanaan sebagai beriku : C8R tanah dasar Kuat tarik lentur (fef) 8ahan pondasi bawah Mutu baja tulangan =4% 39 (f y : tegangan leleh 3900 kg/cm2) untuk BMDT dan BJTU 24 (f y : tegangan leleh 2400 kg/cm2) untuk BBDT. STdRG = sumbu tandem roda ganda. RGD = roda gandeng depan. (4) Jml. • Ruji (dowel) Ya • Data lalu-lintas harian rata-rata: Mobil pen urnpang : 1640 buah/hari Bus : 300 buah/hari Truk 2as kecil : 650 buah/hari Truk 2as besar : 780 buah/hari Truk 3 as : 300 buah/hari Truk gandengan : 10 buah/hari Pertumbuhan lalu-Iintas (i) : 5 % per tahun Umur rencana (UR) : 20 tho Direncanakan perkerasan beton semen untuk jalan 2 lajur 1 arah untuk Jalan Arteri. STRT = sumbu tunggal roda tunggal. Sumbu (bh) (5) 600 1300 1560 600 40 STRT BS (ton) (6) JS (bh) (7) 300 650 650 780 300 10 10 10 2710 BS (ton) (8) STRG JS (bh) STdRG BS (hb) (10) JS (bh) Konfigurasi beban sumbu (ton RD (1 ) MP Bus Truk 2as KcI Truk 2as Bsr Truk 3as Td Truk Gandg. 4100 1080 - 14 14 - (11) - 300 10 - - = jumlah 310 36 dari 46 .3 • Bahu jalan = Ya (beton). RB = roda belakang.l) 1.. Perencanaan meliputi : • Perkerasan beton bersambung tanpa tulangan (BBTT) • Perkerasan beton bersambung dengan tulangan (88DT) • Perkerasan beton menerus dengan tulangan (BMDT) = stabilisasi = BJTU = 4.0 Mpa (f'e = 285 kg/cm2. BS = beban sumbu.

46 3.26 0.72 0.66 0.24 1.95 x 107 JSKN rencana= 0.00 0.66 0.30 0. Tabel 14 Jenis Sumbu (1 ) STRT 6 5 4 3 2 8 5 14 Beban Sumbu (ton) (2) Perhitungan repetisi sumbu rencana Proporsi Beban (4) 0.26 0. JSKN = 365 x JSKNH x R (R diambil dari Tabel4) = 365 x 4100 x 33.5x10 2.0 Mpa : stabilisasi semen 15 em :4% : 27% (Gam bar 3) : 16.00 0.5 mm (Gambar 24 sId 31) 37 dari 46 .66 0.46 x 107 b) Perhitungan repetisi sumbu yang terjadi.46 x 10 7 3.11 0.07 = 4.9x10° 6 2.46 x 10 3.7 x 4.11 0.9 x 107 = 3.6x10° 6 6.46 x 10 34.66 0.28 1.08 Proporsi Sumbu (5) 3.46 3.00 1.8 X 10 6 5.4x107 :1.1 (TabeI4) : 4.00 1.46 3.6 x 10 0 Total STRG Total STdRG Total Komulatif 3.6 x 100 c) Perhitungan tebal pelat beton Sumber data beban Jenis perkerasan Jenis bahu Umur rencana JSK Faktor keamanan beban Kuat tarik lentur beton (fer) umur 28 hari Jenis dan tebal lapis pondasi CBR tanah dasar CBR efektif Tebal taksiran pelat beton : Hasil survai : BBTT dengan Ruji : beton : 20 th :3.5 X 10 6.46 Jumlah Sumbu (3) 310 800 650 300 650 2710 780 300 1080 310 310 Lalu-lintas Reneana (6) x x x x x 10 7 10 7 10 107 7 10 Repetsi yang terjadi (7)=(4)x(5) x(6) 2.5 X 10 2.Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan ) Jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN) selama umur reneana (20 tahun).66 0.46 3.24 0.5 X 106 6 5.

00 13.9 0 0 Total Keterangan : TE = tegangan eklvalen: FRT = faktor rasio tegangan.68 FRT= 0.5 m Panjang petat 15 m Koefisien gesek antara pelat beton dengan pondasi bawah Kuat tarik ijin baja 240 MPa Serat isi beton 2400 kg/m3 Gravitasi (g) 9.50 22.0 0 0 IT TE = 1. jarak 30 em Satang pengikat digunakan baja ulir <I> 16 mm.50 11.6 x 10° 6. Sambungan susut dipasang setiap jarak 5 m.25 Repetisi yang terjadi (4) 2.2 Perkerasan beton bersambung dengan tulangan Tebat petat 16.81 m/dt2 = = = = = = = 1.6x10° Faktor Tegangan dan Erosi (5) TE = 1. FE = faktor erosi: TT = tidak terbatas 94% < 100% 65.5 em Lebar petat 2x3.42 FE = 2.5x10 2.58 TE = 1.13 FRT= 0.5 x 106 5.5 em A. Ruji digunakan dengan diameter 28 mm. 0 0 0 0 TT TT TT IT TT TT IT 10 x 10° STRG STdRG 8 (80) 5 (50) 14(140) 7 x 10t> IT IT 65. jarak 75 em = = A.5 em Lebar pelat 2x3.1.1. panjang 45 em.0 m.Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan ) Tabel 15 Analisa fatik dan erosi Beban Jenis Sumbu (1) STRT 6 5 4 3 2 Sumbu ton (kN) (2) (60) (50) (40) (30) (20) Beban Reneana Per roda (kN) (3) 33.98 Anansa fatik Repetisi ijin (6) Persen Rusak (%) (7)=(4)*1 00 i(6) 0 0 0 0 0 94.00 16. panjang 70 em.1.5x106 6.00 27.2 Perhitungan Tulangan A.5x10 2.28 FE = 1.58 TT TT IT IT IT Analisa Erosi Repetisi Persen ijin Rusak (%) (8) (9)=(4)*100 ~@) IT O.2.75 19.5 m Panjang pelat = 5.3 38 dari 46 .6 x 10t> 6 2.35 FE = 2.1 Perkerasan beton bersambung tanpa tulangan Tebat pelat 16.9% < 100% Karena % rusak fatik (telah) tebih kecll (mendekati) 100% maka tebal pelat diambil 16.2.4 FRT= 0.00 22.8x106 6 5.

5= 9.1% x 165 x 1000 = 165 mm2/m'> As perlu Dipergunakan tulangan diameter 12 mm.J.-n·h.S cm b) Tulangan melintang A = J. jarak 45.5 cm 2x3.l.1s A s = 1.165 2x240 = 157 82 ' mm"! m' As min = 0.(6x 20) . J P. panjang 45 cm dan jarak 30 cm =6 a) Tulangan memanjang IOO.g.1.I65 2x240 = 73.3x15x2400x9.S fcf= 0.3 .2xl.5 m 285 kg/cm2 (silinder) 3900 kg/cm2 EJEe Koefisien gesek antara beton dan pondasi bawah J.(0. = 100x20x[I.l)] ~=------I.65mm2 / m' As min = 0. = 1.075 cm2 39 dari 46 .M.I.2.Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan) a) Tulangan memanjang A = J.(0.L. A. As perlu = 0. jarak 22.3 fef = 40 kg/cm2 Ambil fct = D.2. .h 's 2·fr A.L. = 1.8IxO..h s 2..M.3x7 x2400x9.5 x 40 = 20 kg/cm2 fy = 3900 kg/cm2 Sam bung an susut dipasang setiap jarak 75 m Ruji digunakan ukuran diameter 28 mm.g.1% x 165 x 1000 = 165 mm2/m' Dipergunakan tulangan diameter 12 mm.81xO.3)] = 0 55% 3900 .h. .3 Perkerasan beton menerus dengan tulangan Tebal pelat Lebar pelat Kuat tekan beton (fd Tegangan leleh baja (fy) = = = = 16.3.[1.0 cm.55 % x 100 x 16.l.

1 cm2/m') Untuk tulangan melintang ambil diameter 12 mm jarak 450 mm.1/(100x16.6 % x 100 x 16.35) b) Menentukan teballapis tambah langsung./f~/d = (1.cm2) Data lalu-lintas.79 kg/cm2 Ambil Es = 400 x 10-6 Ee= 14850-.. (40 kg. Diminta: a) Menentukan tebal lapios tambah dengan lapis pemisah.5) = 0.5 fb = 20.u.97-.5x 20.(E h.0004x250697 _ 20) = 35287 . b) cr Pengecekan jarak teoritis antar retakan L= n.1./.6 = 2. maks(250em) a Dicoba $ 16 mm jarak 160 mm (As = 13. = 249 65em< L maks(250em) 2.5 L cr = 6xO..Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan ) Asmin = 0.5 = 9.79(0.2 Perhitungan Lapis Tambah Perkerasan Beton Semen di Atas Prkerasan Beton Semen Diketahui: Jalan lama dari perkerasan beton semen.25/(100 x 16. bila kondisi perkerasan lama mengalami retak awal (C = 0.25 cm2/m') p = 13.5) =0.0067 Ambil fb = (1.697 kg/cm2 Dikontrol terhadap jarak teoritis antar retakan (Ler) =4/d =4/1.) u P = 11.00672 202 x2./fe'= 14850-..97-.5 x20.p2.0004 x 250697 _ 20) . ./285 = 250. umur rencana. em> L.75) 40 dari 46 .. perkembangan lalu-lintas dan jumlah lajur seperti pad a Butir Lampiran A..0082 X 202 . jarak 160 mm A.9 cm2/m' > As perlu Dicoba tulangan diameter 16 jarak 180 mm (As = 11.h./285)/1.79 kg/cm2 = L cr = 6xO. mempunyai tebal 15 cm ( To ) Hasil pemeriksaan plate bearing k = 14 kg/cm3 Kuat tarik lentur beton fer= 4 MPa. 2 s: E. bila kondisi perkerasan lama secara struktur telah rusak (C = 0. cr Jadi tulangan memanjang digunakan diameter 16 mm.79(0.008 u 2.6 = 20.

36 FRT= 3. dengan eara seperti pada pereneanaan perkerasan baru dengan k 14 kg/em3 atau CBR efektif 50 % = = Taksiran tebal pelat beton 16.6 x 10" 2.J {(16)2 . FE = faktor erosi: TT = tidak terbatas Setelah dieoba dengan tebal taksiran pelat beton semen 15.50 11.5x106 2.53 0%<100% 0% < 100% Keterangan : TE = tegangan eklvalen: FRT = faktor rasro tegangan.. b) Menentukan teballapis tambah yang diperlukan dengan persamaan : r.98 = i(6) 0 0 0 0 0 0 0 0 (9)=( 4)*100 /(8) (%) 0 0 0 0 0 0 0 0 TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT TT STRG STdRG Total TE = 1.6 x 10tl TE 1.ban Rencana Per roda (kN) (3) Repetisi yang terjadi (4) Faktor Tegangan dan Erosi (5) Analisa fatik Repetisi Persen ijin Rusak (%) (6) (7)=( 4)*100 Analisa Erosi Repetisi Persen ijin Rusak (8) STRT 6 (60) 5 (50) 4 (40) 3 (30) 2 (20) 8 (80) 5 (50) 14(140) 33..75 19..3 em < 15 em Diambil tebal lapis tambah T. = 1.T02) Dengan diketahui : To = 15 em Cs 0. =" = (T2_ Cs.35 Maka Tr =.28 FE = 1. menunjukan bahwa jumlah prosentase fatik lebih besar 100%.4) 41 dari 46 .1 Menentuan tebal lapis tambah dengan lapis pemisah a) Teballapis yang diperlukan (T).0 em Tabel 16 Analisa fatik dan erosi Jenis Sumbu Seban Sumbu ton (kN) (1) (2) Sp.0 em karena dari perhitungan di atas prosentase kerusakan akibat fatik dan erosi lebih keeil dari 100%.60 FRT= 0.4.8x106 5.J (T 1..2.2 Menentukan tebal lapis tam bah langsung : Teballapis tambah lang sung yang diperlukan (Tr) r.00 22.00 27.0.T01.2.5 x 106 5.25 2. 15 em = A.Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan ) Penyelesaian : A.34 FE = 2. sehingga diambil tebal pelat 16.00 16.4_ Cs.13 FRT= 0.5 x 106 6.5 x 106 2.40 FE = 2.53 TE = 1.35 (15)2} = 13.5 em.00 13.6x10° 6.50 22.

Tebal efektif perkerasan lama: Tebal efektif pelat beton aspal 15 x 0. 2 arah) sebagai berikut : Kendaraan ringan (1 + 1) 1215 buah Bus (3 + 5) 365 buah Truk 2 as (5 + 8) 61 buah Truk 3 as (6 + 14) 37 buah Truk 5 as (6+14+5+5) = 12 buah Umur reneana 20 tahun.. Penyelesaian : Dari hasiJ perhitungan dengan menggunakan prosedur buku "Petunjuk Pereneanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metoda Analisa" SKBI-2. Data lalu-lintas harian rata-rata pada tahun pembukaan (2 jalur. = 1.4}= 7.35 = Maka T.0 em Tebal efektif perkerasan lama (Total) = 12. = 13 em A.26.0.Lampiran A (Informatif) ( Lanjutan ) Dengan diketahui : T = tebal lapis yang diperlukan = 16 em To 15 em Cs = 0..5 9. Lapis pondasi bawah dari bahan berbutir bergradasi baik.5 em Tebal efektif pondasi bawah 10 x 0. ) =T- To = = = 10 em 42 dari 46 .35 (15)1. minimum =13 em Diambil tebal lapis tam bah T.4. tidak rata dan potongan-potongan pelat ( 1-4 m2) telah diperbaiki.20 2.3 Perhitungan Semen Lapis Tambah Perkerasan Beton Aspal di Atas Perkerasan Beton Diketahul : Susunan perkerasan beton semen suatu jalan lama sebagai berikut : Tebal pelat beton semen = 15 em Tebal pondasi bawah 10 em CBR tanah dasar =4 % Kondisi perkerasan lama telah retak-retak.5 em < T minimum 10 em Digunakan tebal lapis tambah beton aspal ( T. CBR 25 %.3. didapatkan teballapis tam bah beron aspal (Tn) 22 em.70 10.4. = 22 -12.0 em < T.5 em Tebal perkerasan beton aspal yang diperlukan : = = = = = = = = = = = = T.J {(16)1. dengan angka pertumbuhan lalu-lintas 6 %/tahun Diminta: Mnentukan tebal lapis tam bah perkerasan beton aspal di atas perkerasan tersebut.1987 dengan lalu-lintas dan umur reneana seperti di atas.

\ " \ \ . " "" "" " 0. ••• " 1'" ~ " r-.. ..'. ~ t-. . . " " ~ I "" " \ \ \ \'1\ -.\ ". t"- K \ . ".. " -. ~ " . r....\ 1\ -.. \ ".... i\ 1\ . " " r-...~ )( M .. " ". ". ns . .. .. i'. . r-............ . ~ . \ \ ~\ \ \ \ \ \\ \ \ . -. f\ ... . ". " 1\ 1\ ... " \ . "'\ ..\~ \ 1\ \ 1\\ \ \ \ e ns ..... <.•. \ \ "1\ \ \ \ 1':1 Z ~ <f!. ..J <. " ". .... 1\ ... t--.~ " <. .....: Co E . .. <') ~. <...". ~I f\ ffi II I 0: II ~I I r 1\ ··.\ \ \ I" \ .. 1\ r\ .. '. <. ~ '\ .. 1\ . " ·0_. . '" <. -.

. ... . I' .1\ · \\. ~ M " I' 1\ \ ~ \ \ l~ \ \ \ \ . 1\ \ \ .. \ 1\\ \ \ ~ \ ~ .. \ \ 1\\ · · \ \ ~ \ \ 1\ . \ \~ \ ~ \ \~ . ·. \ ·· \ \ ~ M " .J cu~ ctI \\ \ \ " " f\ . ... \ I\~ \ \· . \ 1\ 1 .. \ \ ~ \ \ \ \ \ \~ .·.!::: "5 Q.\ \ \ \ \ \ \. \ \ \ .1\ .~ . o m .·c cc cu ctI E .

."'. . \ \ \ -. . en_ co 3~ g ~ Dl \\ \\. ~ 1\\\ \ r\ \ \ \ \. <. " ". ..~ o :l 0 .. " . r-. "" 1'-. . -. \ '.... \ 1\ 1\ " f'. ~\ "On :l :l S» I'D '\ ~ i\. " " ... . ~ r-. ... ..... f'o.. .--' ". .:tI I I =: ~ II~ ~ D IQ m ~~ 0 ... " " f \ '\ Dl 1\f\....Tebal Slab Beton (mm) .. ".." .fe... Dl :> "tI Dl g'g' ::r::r C c: g' g' cr 0' :I :I ~o. <....<. " ..... -... \ \ ..r-... ~ 0 0 :(-1 ~ !.... -... . <..:tI "C' 0 ~ 3 m =: U'I -... . t'. f"~ 1'" "\ " . " \ \ ... \ \ \ \ ~ !\ \ \" i' '. ". \ " \. r-. . -. o. l'-. 1\ .~ -..J N 0- UI 0 ~ 0 N "" 0 . \ . \ ~ S» S» c: I» "::: :I w w ::01» :l "... . " ". _::T C" S» N U'I ~o 00000 ~ ~ ~ =~ \ reba' Slab Beton (mm) ~o ~ 0 ~ 0 ~ 0 ~ 000 ~. \ ... ~... r-. . " 1\ ~ \ ... ..... . -. C) S» 3 . ~ 0" o to . \ I II (')::1 to ... \ 1\ "" ... " ~ -. ~ '. N .. . -. \ ... ~ 1\ -... . S» 0 S»C) o \ ~ 3 iil w =":1 ~~ I'D \\ ~ \ ~ .

.... . '\ ~ ~ (') .. r-. .. 1\ "b ~ <. -. -. " .J ~. ".. -.. . "'..&..: --" f\ \ ~a~~~~~~ (ww) uOJ88 qelS leq81 · · · · \~ E ~ :. -... """ 1\ ~. ..I 0 .c 1'.....: := I I ns ... r-. · G:....- -enC'IS C 0.i0> c C ~~ o(J...1\ ~. ~ " . ~ <.. · · se Q) ns C In : Il.. ca ~ -c L() "<:t 11) .~ r-... ~ .S! a.\ \ 0 \ . 1\.. r-. I. . .. ~ I Jirf C "It II II m .. 1'. i"-. " ".5: C1)-t N ::l I.. ~ ..... (WW) uo~ea qelS leqel <0 "<:t 'C CO 1'. \ ~ .c::l ..1\ " \ ". \ .~ 1'. M <.s til til fa . \ 1\ \ e "b >< M VJ E :. " <.. " i'_ " <. 1\ i\. IU e w I I ns ::l cO::: c:: IU -e CD ns C'IS C (J I I CJQ. ..1 \\ 1\ \ ::I ::I &....Ica := · w · ~c:: i . " " " r':: ~..5! . ~ '0 . . <. CD .. 1\' -. ".. 1\ \ ~ M \ \ >< . 1\ ~ 1'..:. 1'-. r--."..r\ '. " " ~ " K . \ 1'.... )( (') " -.. ~\ . 'c c 111111 111111 fa fa ns~ . ie.•. " " -. .. -.J ! ~~ ~~ ~~ ~ e ~ 3... ...I 01 IU .....-. I'. .. ~ <. ~ \ ~ ~ :. '\ '0 M >< c. ~ ~ ~ ~ ~ ~ . ".. ". 1\ \ " c: CD 'b (J IU s I In M ~ :iii: N c.... (!)ns .:0 S. \ .r.... .. 1'. - -.J ns ns o E ns . "". r-. .. ~ ~ '" rn ~ "' 0 o ~ ~ ...~"J ~~~~ 01 .. CJ ..:: ... ~ In z c :. .. " ....r-...... -.~ -..:: .\ " ~ \ \ \ ".

" ~ i'- -.. ~ Z en . \ \\ 1\ .....) ~ ".lIlI\ 'IIn. ::: w c::: CO CJ C:=: cu ::l CUO::: CC cu cu 0. 1'. . (.. \ \ \ ~ -I-- ~ I \ '.. . .. .c e o . . \ M i( 0 . Ii 0 .::cu ~ 1.C'o!. . ... . CIJ .~ >< M It> M ~ w ::: \ \ \ r\1\'. ..EcCO C CO C. \ '- \ .!'u.::: .. ~ '. r-..1\ ~ e ~ II) ::: §W c::: CO (. :.::: .: 'ii 0 VI :I a E ::: W c::: CO CJ :. .11 II CO ~ on W E~ E :. \ . . c:n . .c~ . .J0l j :... .... \ 1 " \ \ \ \ ~ '0 . 0 M X "e 0. .I cu cu ~ il. \ en .::- (!) . c::: (..I M'::l CU CU ..- CD til o'C o::i M:.. \ ~\ \ \ \ \.B-1 C O'C ~::i .. -. \ . '.. \ "'"r. - +l c.... .11 :::.......C" "~"A I ~~ ~~ ~ ~ ~~ ~ e E cu ..5 Z . II CO ". CU ::l VI CU ~ i g' 0 .. .. S? >< M ..C . \ . . \ ~ \ ~ -... cu ~ 1\'.. . M C GI GI ~ fii .. "\ 1\ \ \ .... C ... N~ 0.. .. E ".. Vl C> 0# C> E e- E Lo CIS N (!) CU .. :::... .: 0 Q. . r-.:..c-l o cu I/) ~ . i\ \ .::: .. . ~ .. . .. -. . ~ f C c e. \ \ .. . \ .....J D ~ e (1)0 C C (I) .::CU 1.\ 1\ \ ... c::: CO CJ "e lfi '" M ~ N~ "''''":.:.. \" 1\ ~ ~Jl ~~" " alai 55 . . Ii CO ". .::CU 0 0. .:: . \ .::s m'C' CIS- .. . Lo . \-"1\\ \ ..!'u. \ \ . ..:. r\. e~ 1\ " .J 'Q. \ 1\\ \ \ \\ . \ \ \ \ \ "'\ ..B-1 C a. D ~ ~ ...:: e 4> CO CJ ::: c::: .!: c . .::- ~ <> ... . c (1)0 (I) (I) C CU C CJ CU Ol CU '5' cuo::: C''': c ~ " M 4> GI c . ~. ~ ..J ".. :::. '.... . " <. .:: 4> \ ..:.a "P.. . .:: )( 0 Qj E l~ ~~" " alai .. CIS .c-l . .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful