Partisipasi Masyarakat

Pengertian dan Prinsip Partisipasi Masyarakat Menurut Ach. Wazir Ws., et al. (1999: 29) partisipasi bisa diartikan sebagai keterlibatan seseorang secara sadar ke dalam interaksi sosial dalam situasi tertentu. Dengan pengertian itu, seseorang bisa berpartisipasi bila ia menemukan dirinya dengan atau dalam kelompok, melalui berbagai proses berbagi dengan orang lain dalam hal nilai, tradisi, perasaan, kesetiaan, kepatuhan dan tanggungjawab bersama. Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007: 27) adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Mikkelsen (1999: 64) membagi partisipasi menjadi 6 (enam) pengertian, yaitu: 1. Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan; 2. Partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan; 3. Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri; 4. Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu; 5. Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks lokal, dan dampak-dampak sosial; 6. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka. Dari tiga pakar yang mengungkapkan definisi partisipasi di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa partisipasi adalah keterlibatan aktif dari seseorang, atau sekelompok orang (masyarakat) secara sadar untuk berkontribusi secara sukarela dalam program pembangunan dan terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring sampai pada tahap evaluasi. Pentingnya partisipasi dikemukakan oleh Conyers (1991: 154-155) sebagai berikut: pertama, partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal; kedua, bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut; ketiga, bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. Apa yang ingin dicapai dengan adanya partisipasi adalah meningkatnya kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah program pembangunan dengan cara melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan selanjutnya dan untuk jangka yang lebih panjang. Adapun prinsip-prinsip

partisipasi tersebut, sebagaimana tertuang dalam Panduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipatif yang disusun oleh Department for International Development (DFID) (dalam Monique Sumampouw, 2004: 106-107) adalah: (a) Cakupan. Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang terkena dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek pembangunan. (b) Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiap orang mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa serta mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing pihak. (c) Transparansi. Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog. (d) Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership). Berbagai pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi kewenangan dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi. (e) Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility). Berbagai pihak mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena adanya kesetaraan kewenangan (sharing power) dan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah selanjutnya. (f) Pemberdayaan (Empowerment). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain. (g) Kerjasama. Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibat untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia. Bentuk dan Tipe Partisipasi Ada beberapa bentuk partisipasi yang dapat diberikan masyarakat dalam suatu program pembangunan, yaitu partisipasi uang, partisipasi harta benda, partisipasi tenaga, partisipasi keterampilan, partisipasi buah pikiran, partisipasi sosial, partisipasi dalam proses pengambilan keputusan, dan partisipasi representatif. Dengan berbagai bentuk partisipasi yang telah disebutkan diatas, maka bentuk partisipasi dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu bentuk partisipasi yang diberikan dalam bentuk nyata (memiliki wujud) dan juga bentuk partisipasi yang diberikan dalam bentuk tidak nyata (abstrak). Bentuk partisipasi yang nyata misalnya uang, harta benda, tenaga dan keterampilan sedangkan bentuk partisipasi yang tidak nyata adalah partisipasi buah pikiran, partisipasi sosial, pengambilan keputusan dan partisipasi representatif. Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas. Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program. Sedangkan partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya. Dengan maksud agar orang tersebut dapat melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan sosialnya. Partisipasi buah pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan

program dan juga untuk mewujudkannya dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya. Partisipasi sosial diberikan oleh partisipan sebagai tanda paguyuban. Misalnya arisan, menghadiri kematian, dan lainnya dan dapat juga sumbangan perhatian atau tanda kedekatan dalam rangka memotivasi orang lain untuk berpartisipasi. Pada partisipasi dalam proses pengambilan keputusan, masyarakat terlibat dalam setiap diskusi/forum dalam rangka untuk mengambil keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama. Sedangkan partisipasi representatif dilakukan dengan cara memberikan kepercayaan/mandat kepada wakilnya yang duduk dalam organisasi atau panitia. Penjelasan mengenai bentuk-bentuk partisipasi dan beberapa ahli yang mengungkapkannya dapat dilihat dalam Tabel 1.1. Tabel 1.1. Pemikiran Tentang Bentuk Partisipasi Nama Pakar Pemikiran Tentang Bentuk Partisipasi (Hamijoyo, 2007: 21; Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi Chapin, 2002: 43 & untuk memperlancar usaha-usaha bagi Holil, 1980: 81) pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan. (Hamijoyo, 2007: 21; Partisipasi harta benda adalah partisipasi Holil, 1980: 81 & dalam bentuk menyumbang harta benda, Pasaribu dan biasanya berupa alat-alat kerja atau Simanjutak, 2005: 11) perkakas. (Hamijoyo, 2007: 21 Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang & Pasaribu dan diberikan dalam bentuk tenaga untuk Simanjutak, 2005: 11) pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program. (Hamijoyo, 2007: 21 Partisipasi keterampilan, yaitu & Pasaribu dan memberikan dorongan melalui Simanjutak, 2005: 11) keterampilan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya. Dengan maksud agar orang tersebut dapat melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan sosialnya. (Hamijoyo, 2007: 21 Partisipasi buah pikiran adalah partisipasi & Pasaribu dan berupa sumbangan berupa ide, pendapat Simanjutak, 2005: 11) atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk mewujudkannya dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya. (Hamijoyo, 2007: 21 Partisipasi sosial, Partisipasi jenis ini & Pasaribu dan diberikan oleh partisipan sebagai tanda Simanjutak, 2005: 11) paguyuban. Misalnya arisan, menghadiri kematian, dan lainnya dan dapat juga sumbangan perhatian atau tanda kedekatan

partisipasi melalui konsultasi. dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai tipe partisipasi yang diberikan masyarakat. Tipologi Karakteristik 1. yaitu partisipasi pasif/manipulatif. . 2002: 43 & Partisipasi dalam proses pengambilan Holil. Partisipasi yang Holil. 1980: 81) keputusan. 1980: 81) dilakukan dengan cara memberikan kepercayaan/mandat kepada wakilnya yang duduk dalam organisasi atau panitia. Partisipasi melalui (a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara konsultasi berkonsultasi. Partisipasi pasif/ (a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara manipulatif diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi. Sekretariat Bina Desa (1999: 32-33) mengidentifikasikan partisipasi masyarakat menjadi 7 (tujuh) tipe berdasarkan karakteristiknya. 2002: 43 & Partisipasi representatif.2.dalam rangka memotivasi orang lain untuk berpartisipasi. Berdasarkan bentuk-bentuk partisipasi yang telah dianalisis. partisipasi fungsional.(b) Pengumuman sepihak oleh manajemen atau pelaksana proyek tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat.2.(b) Orang luar mendengarkan dan membangun pandangan-pandangannya sendiri untuk kemudian mendefinisikan permasalahan dan pemecahannya. (c) Tidak ada peluang bagi pembuat keputusan bersama. (c) Akurasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat. dan self mobilization. dengan memodifikasi tanggapan-tanggapan masyarakat. (Chapin. Tabel 1. (d) Para profesional tidak berkewajiban mengajukan pandangan-pandangan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindaklanjuti. partisipasi untuk insentif materil. 2. Tipe partisipasi masyarakat pada dasarnya dapat kita sebut juga sebagai tingkatan partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat. partisipasi interaktif.(b) Masyarakat tidak punya kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penyelesaian. (Chapin. Masyarakat terlibat dalam setiap diskusi/forum dalam rangka untuk mengambil keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama. 3. partisipasi dengan cara memberikan informasi. Partisipasi dengan cara (a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara memberikan informasi menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian seperti dalam kuesioner atau sejenisnya. Untuk lebih jelasnya lihat Tabel 1. Tipe Partisipasi No. (c) Informasi yang dipertukarkan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran.

pekerjaan dan penghasilan. ganti rugi. Partisipasi untuk insentif (a) Masyarakat berpartisipasi dengan cara materil menyediakan sumber daya seperti tenaga kerja. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program. Artinya. demi mendapatkan makanan. 5. upah.(b) Partisipasi ini cenderung melibatkan metode inter-disiplin yang mencari keragaman perspektif dalam proses belajar yang terstruktur dan sistematik. Partisipasi fungsional (a) Masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk mencapai tujuan yang berhubungan dengan proyek. Misalnya saja faktor usia. Partisipasi interaktif (a) Masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama yang mengarah pada perencanaan kegiatan dan pembentukan lembaga sosial baru atau penguatan kelembagaan yang telah ada. 7. Self mobilization (a) Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara bebas (tidak dipengaruhi/ditekan pihak luar) untuk mengubah sistem-sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki. sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program.(b) Masyarakat tidak dilibatkan dalam eksperimen atau proses pembelajarannya. Keberhasilannya tergantung sampai pada tipe macam apa partisipasi masyarakat dalam proses penerapannya. (c) Pada awalnya.4. dll) tetapi pada saatnya mampu mandiri. (c) Masyarakat tidak mempunyai andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada saat insentif yang disediakan/diterima habis. pendidikan.(b) Masyarakat mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang dibutuhkan. 6. (c) Kelompok-kelompok masyarakat mempunyai peran kontrol atas keputusankeputusan mereka. terbatasnya harta benda. sehingga mereka mempunyai andil dalam seluruh penyelenggaraan kegiatan. Sumber: Sekretariat Bina Desa (1999: 32-33) Pada dasarnya. dan sebagainya. sampai sejauh mana pemahaman masyarakat terhadap suatu program sehingga ia turut berpartisipasi.(b) Pembentukan kelompok (biasanya) setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati. kelompok masyarakat ini bergantung pada pihak luar (fasilitator. . tidak ada jaminan bahwa suatu program akan berkelanjutan melalui partisipasi semata. (c) Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada.

cenderung lebih banyak yang berpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia lainnya. Tanggungjawab sosial dan komitmen masyarakat. 5.Angell (dalam Ross. Lamanya tinggal Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang. Jenis kelamin Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga. . suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Kemauan dan kemampuan untuk mengubah atau memperbaiki keadaan dan membangun atas kekuatan sendiri. harus didukung oleh suasana yang mapan perekonomian. Solidaritas dan integritas sosial masyarakat. 4. 1967: 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Usia Faktor usia merupakan faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. 4. Pendidikan Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. yaitu: 1. 3. Kepercayaan diri masyarakat. 1. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap. unsur-unsur dasar partisipasi sosial yang juga dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah: 1. akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik. Sedangkan menurut Holil (1980: 9-10). 2. Prakarsa masyarakat atau prakarsa perseorangan yang diterima dan diakui sebagai/menjadi milik masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi. Pendidikan dianggap dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya. maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut. 3. Pekerjaan dan penghasilan Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. 1. Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu.

8. Kebebasan untuk berprakarsa dan berkreasi. Faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu program juga dapat berasal dari unsur luar/lingkungan. 4. Wazir Ws. 7. Jakarta: Sekretariat Bina Desa dengan dukungan AusAID melalui Indonesia HIV/AIDS and STD Prevention and Care Project. Community Organization: theory. Kepentingan umum murni. Lingkungan di dalam keluarga masyarakat atau lingkungan politik. sekolah maupun masyarakat dan bangsa yang menguntungkan bagi serta mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. (1980).. Sumampouw. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2. budaya yang memungkinkan dan mendorong timbul dan berkembangnya prakarsa. Mikkelsen. keputusan rasional dan efisiensi usaha. Musyawarah untuk mufakat dalam pengambilan keputusan. (1999). Kepekaan dan ketanggapan masyarakat terhadap masalah. (1999). Perencanaan Sosial di Dunia ketiga.” Jacub Rais. Second Edition.. Daftar Referensi: Ach. antara warga masyarakat dengan pimpinannya serta antara sistem sosial di dalam masyarakat dengan sistem di luarnya. Komunikasi yang intensif antara sesama warga masyarakat. “Perencanaan Darat-Laut yang Terintegrasi dengan Menggunakan Informasi Spasial yang Partisipatif. Organisasi. gagasan. principles and practice. ekonomi. Murray G. Diana. (1967). perseorangan atau kelompok. Britha. yaitu: 1. Bandung. Menata Ruang Laut Terpadu. (2007). Monique. kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan umum masyarakat. (1991)..5. setidak-tidaknya umum dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Conyers. sosial. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan: sebuah buku pegangan bagi para praktisi lapangan. and B. Holil Soelaiman. NewYork: Harper & Row Publishers. baik dalam kehidupan keluarga. Partisipasi Sosial dalam Usaha Kesejahteraan Sosial. Keadaan lingkungan serta proses dan struktur sosial. Ross. Lappin. politik dan budaya. et al. Depok: FISIP UI Press. pergaulan. Panduan Penguatan Menejemen Lembaga Swadaya Masyarakat. 3.W. Kesempatan untuk berpartisipasi. Menurut Holil (1980: 10) ada 4 poin yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat yang berasal dari luar/lingkungan. . (2004). sistem nilai dan norma-norma yang memungkinkan dan mendorong terjadinya partisipasi sosial. dalam pengertian bukan kepentingan umum yang semu karena penunggangan oleh kepentingan perseorangan atau sebagian kecil dari masyarakat. Isbandi Rukminto Adi. ed. 91-117. Yogyakarta: UGM Press. Perencanaan Partisipatoris Berbasis Aset Komunitas: dari Pemikiran Menuju Penerapan. et al. Jakarta: Pradnya Paramita. permainan. Iklim sosial. 6.

Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. yang dalam . partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses atas rangsangan-rangsangan yang diberikan.1995). dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga. partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya. 1990). then. tanggung jawab. di luar pekerjaan atau profesinya sendiri. Hoofsteede (1971) menyatakan bahwa patisipasi adalah the taking part in one ore more phases of the process sedangkan Keith Davis (1967) menyatakan bahwa patisipasi “as mental and emotional involment of persons of person in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them” Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa. Oleh karena itu. pikiran. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya. pelaksanaan.Partisipasi adalah keikutsertaan. people's involvement in reflection and action. and access and control over resources and institutions (Cristóvão. mulai dari tahap sosialisasi. partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan. 2007). a process of empowerment and active involvement in decision making throughout a programme. perencanaan. partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. Menurut konsep proses pendidikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnya partisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan. dan manfaat. Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian seharihari. Participation becomes. atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK. peranserta tau keterlibatan yang berkitan dengan keadaaan lahiriahnya (Sastropoetro.

1961). pelaksanaan. alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya. kebutuhan. Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi. . Partisipasi Pasif / manipulatif dengan karakteristik masyrakat diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi. Partisipasi masyarakat merutut Hetifah Sj. Berikut adalah macam tipologi partisipasi masyarakat 1). dan sikap masyarakata.hal ini. karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. Tipologi Partisipasi Penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat serngkali terhambat oleh persepsi yang kurang tepat. yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” oleh sebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat juga disebabkan karena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa. mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan. Soemarto (2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi. pengumuman sepihak oleh pelkasan proyek yanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia. b. tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan (Berlo.

Partisipasi konsultatif dengan karateristik masyaakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi. Partisipasi Fungsional memiliki karakteristik masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek. 6). Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajan atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan asyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatankegiatan setelah intensif dihentikan. 3).2). 5). pada tahap awal masyarakat tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya. 7). Self mobilization (mandiri) memiliki karakter masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebabas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-niloai yang mereka miliki. dan para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagi masukan) atau tindak lanjut 4). masyarakat tidak diberikesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian dan akuarasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat. Partisipasi intensif memiliki karakteristik masyarakat memberikan korbanan atau jasanya untuk memperolh imbalan berupa intensif/upah. sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada dan atau digunakan . Partisipasi Informatif memilki kararkteristik dimana masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. tidak ada peluang pembutsn keputusan bersama. pembentukan kelompok biasanya setelah ada keptusan-keputusan utama yang di sepakati. Partisipasi interaktif memiliki ciri dimana masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan sisteatis. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan merek. Masyarakat mengambangkan kontak dengan lembaga-lemabaga lain untuk mendapatkan bantuanbantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan.

tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis . partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat 2). Dalam tahap perencanaan. Oleh sebab itu. Karena itu. bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen. kegiatan Slamet (1993) membedakan ada tingkatan partisipasi yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan. Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak.c. partisipasi dalam tahap pelaksanaan. Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. partisipasi dalam tahap pemanfaatan. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. atau Tahap di partisipasi tingkat dalam lokal (Mardikanto. sistem perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat. peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. dari Tahap masing-masing Tahap-Tahap tahapan partisipasi dalam adalah sebagai Partisipasi berikut : partisipasi pengambilan keputusan Pada umumnya. Uraian 1). perencanaan 2001). orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan tujuan. maksud dan target. Oleh karena keadaan ini. setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat.

uang tunai. partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan (Mardikanto. 5). Dusseldorp (1981) setiap program Tingkat membedakan adanya pembangunan yang akan datang (Mardikanto. seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan. 2001). pemantauan dan evaluasi 2001). partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja. merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan. kegiatan Partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam d. Partisipasi kesukarelaan sebagai berikut: Kesukarelaan beberapa jenjang . Karena itu. Tahap partisipasi dalam (Mardikanto. dalam pelaksanaan 1993). Tahap partisipasi (Slamet. tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan. Dalam hal ini. Di samping itu.atasan 3). kegiatan Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. Di lain pihak. 2001). tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan 4). lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan.

Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi. 2). dan keyakinannya sendiri. penghayatan. 3). yaitu: diberikan masyarakat. pengaruh. nilai-nilai. 2). untuk untuk untuk berpartisipasi berpartisipasi berpartisipasi Adanya Adanya kesempatan kemampuan Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan. yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari e. Partisipasi tertekan oleh peraturan.1). Partisipasi terinduksi. yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan. meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi. 4). kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagai berikut . Adanya sangat kemauan ditentukan yang oleh 3 kepada masyarakat masyarakat (tiga) unsur pokok. khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya. 1). yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman. atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. 5). yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan. yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya. Partisipasi tertekan oleh kebiasaan. Jika tidak berperanserta. atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan. partisipasi Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. peraturan/ketentuan-ketentuan Syarat yang tumbuh sudah diberlakukan. dorongan) dari luar. 3). Partisipasi spontan.

dorongan atau tekanan dari pihak luar). sumberdaya. . umumnya. 5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya b). dan tercapainya tujuan pembangunan. Kesempatan dipengaruhi oleh: 1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan. 3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta sumber daya lain yang dimiliki Robbins (1998) kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. 2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. pelaksana mutu hidup pembangunan dan tidak memperbaiki 4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah. 2) 3) Kesempatan Kesempatan untuk untuk memobilisasi dan memperoleh memanfaatkan informasi. Kemauan Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan. Lebih lanjut Robbins (1998) menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua c). puas sendiri. Kemampuan Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah: 1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah. Tumbuh dan berkembangnya kemauan 1) 2) 3) Sikap Sikap Sikap berpartisipasi untuk terhadap untuk selalu sedikitnya nilai-nilai atau diperlukan yang sikap-sikap menghambat pada cepat yang: meninggalkan penguasa ingin pembangunan.a). Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.

menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan. setiap pelaksanaan aksi tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masrakat sasaran. akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orang dalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnya sendiri. serta mekanisme yang menindas) tidak boleh terjadi. perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. 6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan. . Dengan dimikian. hak yang tidak sama dalam berbicara. termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan. dan kemauan akan sangat menentukan kemampuannya. Sementara Mardikanto (1994) menyatakan bahwa pembangunan yang partisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraan masyarakat (secara material).4) Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi tepat guna. 5) Kesempatan untuk berorganisasi. akan tetapi harus mampu menjadikan warga masyarakatnya menjadi lebih kreatif. Karena itu setiap hubungan atau interaksi antara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti: menggurui. sering merupakan faktor pendorong tumbuhnya kemauan. Mardikanto (2003) menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan.

Syarat Tumbuh dan Berkembangnya Partisipasi Masyarakat Kemauan untuk berpartisipasi merupakan kunci utama bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. pelaksanaan. pemeliharaan. belum merupakan jaminan bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. Kesempatan untuk berorganisasi. Mardikanto (2003) menjelaskan beberapa kesempatan yang dimaksud adalah kemauan politik dari penguasa untuk melibatkan masyarakat dalam pembagunan.2003).Gambar 1. jika masyarakatnya tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi. dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat (Mardikanto. jika mereka sendiri tidak memiliki kemauan untuk (turut) membangun.2003). Selain hal tersebut terdapat kesempatankesempatan yang lain diantaranya kesempatan untuk memperoleh informasi pembangunan. kesempatan memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya (alam dan manusia) untuk pelaksanaan pembangunan. Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan untuk membangun. kesempatan dan kemampuan yang cukup. Sebaliknya. dan pemanfaatan pembangunan. (Mardikanto. Adanya kesempatan-kesempatan yang disediakan untuk menggerakkkan partisipasi masyarakat akan tidak banyak berarti. baik dalam pengambilan kepu-tusan perencanaan. termasuk untuk memperoleh dan menggunakan peraturan. atau . dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. adanya kemauan akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kemampuan dan aktif memburu serta memanfaatkan setiap kesempatan. perijinan. monitoring dan evaluasi. Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat (termasuk peralatan perlengkapan penunjangnya). menggerakkan. sejak di tingkat pusat sampai di jajaran birokrasi yang paling bawah. Mardikanto (2003) menjelaskan yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah : 1. dan Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan. Sebab.

Artinya. khususnya dalam hal . Perlunya memberikan peran bagi semua orang untuk terlibat dalam proses. pelaksanaan. memberikan indikasi adanya pengakuan (aparat) pemerintah bahwa masyarakat bukanlah sekedar obyek atau penikmat hasil pembangunan. 2. dan pemanfaatan hasil-hasil f. pengawasan. Pemberdayaan. Ini menyiratkan kebijakan desentralisasi. sebagai berikut: 1. sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat. 2. 3. Yadav dalam Mardikanto (1994) mengemukakan adanya empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu : partisipasi dalam pengambilan keputusan. dan adalah 2001). partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi. yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan. partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan. 3. Program dan pelaksanaannya lebih aplikatif terhadap konteks sosial. Menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab diantara semua pihak terkait dalam merencanakan dan melaksanakan program. Dampak Pendekatan pendekatan partisipatif pembangunan Partisipatif secara umum (Mardikanto. menunjukkan adanya kepercayaan dan kesempatan yang diberikan "pemerintah" kepada masyarakatnya untuk terlibat secara aktif di dalam proses pembangunan. ekonomi dan budaya yang sudah ada. tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. sehingga dampaknya dan begitu pula program itu sendiri berkesinambungan. Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang tersedia secara optimal. melainkan subyek atau pelaku pembangunan yang memiliki kemauan dan kemampuan yang dapat diandalkan sejak perencanaan.pengetahuan tentang peluang untuk membangun (memperbaiki mutu hidupnya). Tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

yang terdiri dari: penggalakan peluang (promoting opportunity) fasilitasi pemberdayaan (facilitating empowerment) dan peningkatan keamanan (enhancing security) (Mardikanto.2003).pengambilan dan pertanggungan jawab keputusan sehingga memberdayakan semua orang yang terlibat (terberdayakan). keterlibatan dalam pemenuhan . actions and outcomes. masyarakat program pada kebutuhan Dalam pembangunan partisipatif. 1992) Empowerment is the process of increasing the capacity of individuals or groups to make choices and to transform (World those choices into desired Bank. 11 No. 4. strengthening the powers of civil society in the management of its own affairs. Transparansi Pelaksanaan semakin proyek terbuka atau lebar akibat lebih penyebaran terfokus informasi dan wewenang. 2008) World Bank dalam Bulletinnya Vol. Friedman menyatakan bahwa pemecahan masalah pembangunan melalui pemeberdayaan adalah sebagai berikut “…involves a process of social an political empowerment whose long term objective is to rebalance the structure of power in society by making state action more accountable. 5. World bank dalam Mardikanto (2003) menyatakan yang dimaksud dengan pemberdayaan adalah pemberian kesempatan kepada kelompok grassroot untuk bersuara dan menentukan sendiri pilihanpilihannya (voice and choice) kaitannya dengan: aksesibilitas informasi. 1 October-Desember 2001 telah menetapkan pemberdayaan sebagai salah satu ujung-tombak dari Strategi Trisula (three-pronged strategy) untuk memerangi kemiskinan yang dilaksanakan sejak memasuki dasarwarsa 90-an. pemberdayaan merupakan salah satu strategi yang dianggap paling tepat jika faktor-faktor determinan dikondiskana terlebih dahulu sedemikian rupa agar esensi pemberdayaan tidak terdistorsi. and making corporate business more socially responsible” (Friedmann.4/Vol. 6. Kegiatan-kegiatan pelaksanaan menjadi lebih obyektif dan fleksibel berdasarkan keadaan setempat. 2 No.

terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat madani (yang beradab) dan dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri. dan penguatan kapasitas lokal. 1990). 2007). bertanggung-gugat (akuntabilitas publik). peranserta tau keterlibatan yang berkitan dengan keadaaan lahiriahnya (Sastropoetro. partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan. Pengertian prinsip partisipasi adalah masyarakat berperan secara aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya. atau dalam bentuk materill (PTO PNPM PPK. agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam keselu-ruahn proses pembangunan. then. a process of empowerment and active involvement in decision making throughout a programme.kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan proses pembangunan. people's involvement in reflection and action. Pemberdayaan masyarakat. . dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan (capacity strenghtening) masyarakat. and access and control over resources and institutions (Cristóvão. LSM. pikiran. Hoofsteede (1971) menyatakan bahwa patisipasi adalah the taking part in one ore more phases of the process sedangkan Keith Davis (1967) menyatakan bahwa patisipasi “as mental and emotional involment of persons of person in a group situation which encourages him to contribute to group goals and share responsibility in them” Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa. Participation becomes. dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga.1995). pelaksanaan. 2003) Partisipasi adalah keikutsertaan. perencanaan. Dalam konsep pemberdayaan tersebut. tanggung jawab. mulai dari tahap sosialisasi. dll) (Mardikanto. terutama pembangunan yang ditawarkan oleh penguasa dan atau pihak luar yang lain (penyuluh.

. yang dalam hal ini. Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting. Pertama partispasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi. Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud di sini bukanlah bersifat pasif tetapi secara aktif ditujukan oleh yang bersangkutan. partisipasi merupakan bentuk tanggapan atau responses atas rangsangan-rangsangan yang diberikan. Oleh karena itu. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia. di luar pekerjaan atau profesinya sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap tumbuh dan berkembangnya partisipasi dapat didekati dengan beragam pendekatan disiplin keilmuan.dan manfaat. tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal. partisipasi akan lebih tepat diartikan sebagi keikutsertaan seseorang didalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya. 1961). pelaksanaan. Alasan ketiga yang mendorong adanya partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka sendiri. tanggapan merupakan fungsi dari manfaat (rewards) yang dapat diharapkan (Berlo. Partisipasi masyarakat merutut Hetifah Sj. dan sikap masyarakata. Menurut konsep proses pendidikan. Soemarto (2003) adalah proses ketika warga sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi. dan pemantauan kebijakan kebijakan yang langsung mempengaruhi kehiduapan mereka. alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan perencanaannya. kebutuhan. Theodorson dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa dalam pengertian seharihari. karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut. partisipasi merupakan keikutsertaan atau keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu. mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan.

Tipologi Partisipasi Penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat serngkali terhambat oleh persepsi yang kurang tepat. Partisipasi intensif memiliki karakteristik masyarakat memberikan korbanan atau jasanya untuk memperolh imbalan berupa intensif/upah. pembentukan kelompok biasanya setelah ada keptusan-keputusan utama yang di sepakati. Partisipasi interaktif memiliki ciri dimana masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan .b. 3). Partisipasi konsultatif dengan karateristik masyaakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi. 2). Berikut adalah macam tipologi partisipasi masyarakat 1). Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajan atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan asyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatankegiatan setelah intensif dihentikan. dan para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagi masukan) atau tindak lanjut 4). pada tahap awal masyarakat tergantung terhadap pihak luar namun secara bertahap menunjukkan kemandiriannya. 5). 6). masyarakat tidak diberikesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian dan akuarasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat. Partisipasi Informatif memilki kararkteristik dimana masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. yang menilai masyarakat “sulit diajak maju” oleh sebab itu kesulitan penumbuhan dan pengembangan partisipasi masyrakat juga disebabkan karena sudah adanya campur tangan dari pihak penguasa. pengumuman sepihak oleh pelkasan proyek yanpa memperhatikan tanggapan masyarakat dan informasi yang diperlukan terbatas pada kalangan profesional di luar kelompok sasaran. Partisipasi Pasif / manipulatif dengan karakteristik masyrakat diberitahu apa yang sedang atau telah terjadi. tidak ada peluang pembutsn keputusan bersama. Partisipasi Fungsional memiliki karakteristik masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan proyek.

kegiatan Slamet (1993) membedakan ada tingkatan partisipasi yaitu : partisipasi dalam tahap perencanaan. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan merek.kegiatan dan pembentukan penguatan kelembagaan dan cenderung melibatkan metoda interdisipliner yang mencari keragaman prespektik dalam proses belajar mengajar yang terstuktur dan sisteatis. partisipasi dalam tahap pemanfaatan. atau Tahap di partisipasi tingkat dalam lokal (Mardikanto. orang sekaligus diajak turut membuat keputusan yang mencakup merumusan . dari Tahap masing-masing yang ada Tahap-Tahap tahapan partisipasi dalam adalah sebagai dan atau digunakan Partisipasi berikut : partisipasi pengambilan keputusan Pada umumnya. Uraian 1). Partisipasi dalam tahap perencanaan merupakan tahapan yang paling tinggi tingkatannya diukur dari derajat keterlibatannya. Karena itu. yang dalam hal ini lebih mencerminkan sifat kebutuhan kelompok-kelompok elit yang berkuasa dan kurang mencerminkan keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Self mobilization (mandiri) memiliki karakter masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebabas (tidak dipengaruhi oleh pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-niloai yang mereka miliki. Masyarakat memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya c. partisipasi dalam tahap pelaksanaan. perencanaan 2001). partisipasi masyarakat dalam pembangunan perlu ditumbuhkan melalui dibukanya forum yang memungkinkan masyarakat banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat 2). Masyarakat mengambangkan kontak dengan lembaga-lemabaga lain untuk mendapatkan bantuanbantuan teknis dan sumberdaya yang diperlukan. sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegitan. Dalam tahap perencanaan. 7). setiap program pembangunan masyarakat (termasuk pemanfaatan sumber daya lokal dan alokasi anggarannya) selalu ditetapkan sendiri oleh pemerintah pusat.

tidak dituntut sumbangannya secara proposional. Bukan saja agar tujuannya dapat dicapai seperti yang diharapkan. lapisan yang ada di atasnya (yang umumnya terdiri atas orang kaya) yang lebih banyak memperoleh manfaat dari hasil pembangunan. sistem perencanaan harus didesain sesuai dengan respon masyarakat. tetapi juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan. kegiatan Partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Tahap partisipasi dalam (Mardikanto. bukan hanya karena keterlibatan mereka yang begitu esensial dalam meraih komitmen. pemantauan dan evaluasi 2001). dalam pelaksanaan 1993). Salah satu metodologi perencanaan pembangunan yang baru adalah mengakui adanya kemampuan yang berbeda dari setiap kelompok masyarakat dalam mengontrol dan ketergantungan mereka terhadap sumber-sumber yang dapat diraih di dalam sistem lingkungannya. peranan masyarakat sendirilah akhirnya yang mau membuat pilihan akhir sebab mereka yang akan menanggung kehidupan mereka. dan atau beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan diterima oleh warga yang bersangkutan 4). partisipasi masyarakat dalam tahap pelaksanaan pembangunan harus diartikan sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga kerja. Oleh karena keadaan ini. tetapi karena masyarakatlah yang mempunyai informasi yang relevan yang tidak dapat dijangkau perencanaan teknis atasan 3). Karena itu.tujuan. Tahap partisipasi (Slamet. Di lain pihak. Pengetahuan para perencana teknis yang berasal dari atas umumnya amat mendalam. partisipasi masyarakat mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan . Oleh sebab itu. maksud dan target. uang tunai. Dalam hal ini. kegiatan Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan sangat diperlukan. seringkali diartikan sebagai partisipasi masyarakat banyak (yang umumnya lebih miskin) untuk secara sukarela menyumbangkan tenaganya di dalam kegiatan pembangunan.

yaitu peranserta yang tumbuh karena motivasi intrinsik berupa pemahaman. Partisipasi terinduksi. yaitu peranserta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan. penghayatan. Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi. 3). Partisipasi tertekan oleh kebiasaan. 4). dan keyakinannya sendiri. nilai-nilai. yaitu peranserta yang dilakukan karena takut menerima hukuman dari e. Partisipasi tertekan oleh peraturan. khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya.perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan sangat diperlukan (Mardikanto. Di samping itu. 5). yaitu peranserta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan. Partisipasi kesukarelaan sebagai berikut: Kesukarelaan beberapa jenjang 1). meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi. Sebab tujuan pembangunan adalah untuk memperbaiki mutu hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan merupakan tujuan utama. 2001). Dusseldorp (1981) setiap program Tingkat membedakan adanya pembangunan yang akan datang (Mardikanto. 5). pemanfaaatan hasil pembangunan akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam d. peraturan/ketentuan-ketentuan Syarat yang tumbuh sudah diberlakukan. merupakan unsur terpenting yang sering terlupakan. 2001). Partisipasi spontan. atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. atau peranserta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan. dorongan) dari luar. pengaruh. 2). Jika tidak berperanserta. partisipasi . Tahap partisipasi dalam pemanfaatan hasil kegiatan Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan. yaitu peranserta yang tumbuh karena adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya.

yaitu: diberikan masyarakat. puas sendiri. kemampuan dan kesempatan untuk berpartisipasi adalah sebagai berikut a). 2). Adanya sangat kemauan ditentukan yang oleh 3 kepada masyarakat masyarakat (tiga) unsur pokok. Tumbuh dan berkembangnya kemauan 1) 2) 3) Sikap Sikap Sikap berpartisipasi untuk terhadap untuk selalu sedikitnya nilai-nilai atau diperlukan yang sikap-sikap menghambat pada cepat yang: meninggalkan penguasa ingin pembangunan. dan tercapainya tujuan pembangunan. 3) Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan serta . dorongan atau tekanan dari pihak luar). untuk untuk untuk berpartisipasi berpartisipasi berpartisipasi Adanya Adanya kesempatan kemampuan Lebih rinci Slamet menjelaskan tiga persyaratan yang menyangkut kemauan. umumnya. pelaksana mutu hidup pembangunan dan tidak memperbaiki 4) Sikap kebersamaan untuk dapat memecahkan masalah. 1). 2) Kemampuan untuk memahami kesempatan-kesempatan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. 5) Sikap kemandirian atau percaya diri atas kemampuannya untuk memperbaiki mutu hidupnya b). 3). Kemampuan Beberapa kemampuan yang dituntut untuk dapat berpartisipasi dengan baik itu antara lain adalah: 1) Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah. Kemauan Secara psikologis kemauan berpartisipasi muncul oleh adanya motif intrinsik (dari dalam sendiri) maupun ekstrinsik (karena rangsangan.Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

2) 3) 4) Kesempatan Kesempatan Kesempatan untuk untuk untuk memobilisasi dan dan memperoleh memanfaatkan teknologi informasi. serta mekanisme yang menindas) tidak boleh terjadi. Mardikanto (2003) menjelaskan adanya kesempatan yang diberikan. dan kemauan akan sangat menentukan kemampuannya. sering merupakan faktor pendorong tumbuhnya kemauan. Sementara Mardikanto (1994) menyatakan bahwa pembangunan yang partisipatoris tidak sekedar dimaksudkan untuk mencapai perbaikan kesejahteraan masyarakat (secara material). memperoleh menggunakan 5) Kesempatan untuk berorganisasi. 6) Kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan. setiap pelaksanaan aksi tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan orang dari luar ke dalam masrakat sasaran. menggerakkan dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat dalam pembangunan. tepat guna. perizinan dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. Kesempatan dipengaruhi oleh: 1) Kemauan politik dari penguasa/pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pembangunan. akan tetapi secara bertahap harus semakin memanfaatkan orang-orang dalam untuk merumuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam masyarakatnya sendiri. Berbagai kesempatan untuk berpartisipasi ini sangat perangkat faktor yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. . Karena itu setiap hubungan atau interaksi antara orang luar dengan masyarakat sasaran yang sifatnya asimetris (seperti: menggurui. hak yang tidak sama dalam berbicara. sumberdaya. Lebih lanjut Robbins (1998) menyatakan pada hakikatnya kemampuan individu tersuusun dari dua c). Dengan dimikian.sumber daya lain yang dimiliki Robbins (1998) kemampuan adalah kapasitas individu melaksanakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. termasuk untuk memperoleh dan mempergunakan peraturan. akan tetapi harus mampu menjadikan warga masyarakatnya menjadi lebih kreatif.

Sebab. monitoring dan evaluasi. jika mereka sendiri tidak memiliki kemauan untuk (turut) membangun. Syarat Tumbuh dan Berkembangnya Partisipasi Masyarakat Kemauan untuk berpartisipasi merupakan kunci utama bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. sejak di tingkat pusat sampai di jajaran birokrasi yang paling bawah. dan pemanfaatan pembangunan. pelaksanaan. Mardikanto (2003) menjelaskan beberapa kesempatan yang dimaksud adalah kemauan politik dari penguasa untuk melibatkan masyarakat dalam pembagunan. Sebaliknya. pemeliharaan. kesempatan dan kemampuan yang cukup. belum merupakan jaminan bagi tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. (Mardikanto.2003). adanya kemauan akan mendorong seseorang untuk meningkatkan kemampuan dan aktif memburu serta memanfaatkan setiap kesempatan.Gambar 1. Selain hal tersebut terdapat kesempatankesempatan yang lain diantaranya kesempatan untuk memperoleh informasi pembangunan. baik dalam pengambilan kepu-tusan perencanaan. kesempatan memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya (alam dan manusia) untuk pelaksanaan .

pelaksanaan. dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan. Kemampuan untuk menemukan dan memahami kesempatan-kesempatan untuk membangun. partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan. tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat. partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi. menggerakkan. pengawasan. Artinya. dan prosedur kegiatan yang harus dilaksanakan. melainkan subyek atau pelaku pembangunan yang memiliki kemauan dan kemampuan yang dapat diandalkan sejak perencanaan. Adanya kesempatan-kesempatan yang disediakan untuk menggerakkkan partisipasi masyarakat akan tidak banyak berarti. dan pemanfaatan . Kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan sumberdaya dan kesempatan (peluang) lain yang tersedia secara optimal. Tumbuh dan berkembangnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki. 2. Mardikanto (2003) menjelaskan yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah : 1. Kemampuan untuk melaksanakan pembangunan. menunjukkan adanya kepercayaan dan kesempatan yang diberikan "pemerintah" kepada masyarakatnya untuk terlibat secara aktif di dalam proses pembangunan. Kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan teknologi yang tepat (termasuk peralatan perlengkapan penunjangnya). dan Kesempatan mengembangkan kepemimpinan yang mampu menumbuhkan. perijinan. memberikan indikasi adanya pengakuan (aparat) pemerintah bahwa masyarakat bukanlah sekedar obyek atau penikmat hasil pembangunan. 3.pembangunan. Kesempatan untuk berorganisasi. Yadav dalam Mardikanto (1994) mengemukakan adanya empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu : partisipasi dalam pengambilan keputusan. jika masyarakatnya tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi. termasuk untuk memperoleh dan menggunakan peraturan. dan mengembangkan serta memelihara partisipasi masyarakat (Mardikanto. atau pengetahuan tentang peluang untuk membangun (memperbaiki mutu hidupnya).2003).

Program dan pelaksanaannya lebih aplikatif terhadap konteks sosial. Pemberdayaan. masyarakat program pada kebutuhan Dalam pembangunan partisipatif. Ini menyiratkan kebijakan desentralisasi. sehingga memenuhi kebutuhan masyarakat. Dampak Pendekatan pendekatan pembangunan Partisipatif partisipatif secara (Mardikanto. 1992) Empowerment is the process of increasing the capacity of individuals or groups to make choices and to transform those choices into desired actions and outcomes. sehingga dampaknya dan begitu pula program itu sendiri berkesinambungan. strengthening the powers of civil society in the management of its own affairs. 6. 3. sebagai berikut: 1. Transparansi Pelaksanaan semakin proyek terbuka atau lebar akibat lebih penyebaran terfokus informasi dan wewenang. khususnya dalam hal pengambilan dan pertanggungan jawab keputusan sehingga memberdayakan semua orang yang terlibat (terberdayakan). Friedman menyatakan bahwa pemecahan masalah pembangunan melalui pemeberdayaan adalah sebagai berikut “…involves a process of social an political empowerment whose long term objective is to rebalance the structure of power in society by making state action more accountable. Menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab diantara semua pihak terkait dalam merencanakan dan melaksanakan program. . 5. Perlunya memberikan peran bagi semua orang untuk terlibat dalam proses. and making corporate business more socially responsible” (Friedmann. 2. Kegiatan-kegiatan pelaksanaan menjadi lebih obyektif dan fleksibel berdasarkan keadaan setempat.hasil-hasil f. dan umum adalah 2001). ekonomi dan budaya yang sudah ada. pemberdayaan merupakan salah satu strategi yang dianggap paling tepat jika faktor-faktor determinan dikondiskana terlebih dahulu sedemikian rupa agar esensi pemberdayaan tidak terdistorsi. 4.

11 No. LSM. World bank dalam Mardikanto (2003) menyatakan yang dimaksud dengan pemberdayaan adalah pemberian kesempatan kepada kelompok grassroot untuk bersuara dan menentukan sendiri pilihanpilihannya (voice and choice) kaitannya dengan: aksesibilitas informasi. keterlibatan dalam pemenuhan kebutuhan serta partisipasi dalam keseluruhan proses pembangunan. 2008) World Bank dalam Bulletinnya Vol. dan penguatan kapasitas lokal.4/Vol.(World Bank. 2 No. 2003) . agar mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam keselu-ruahn proses pembangunan.2003). yang terdiri dari: penggalakan peluang (promoting opportunity) fasilitasi pemberdayaan (facilitating empowerment) dan peningkatan keamanan (enhancing security) (Mardikanto. Pemberdayaan masyarakat. bertanggung-gugat (akuntabilitas publik). dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan (capacity strenghtening) masyarakat. Dalam konsep pemberdayaan tersebut. dll) (Mardikanto. terkandung pema-haman bahwa pemberdayaan tersebut diarahkan terwujudnya masyarakat madani (yang beradab) dan dalam pengertian dapat mengambil keputusan (yang terbaik) bagi kesejahteraannya sendiri. terutama pembangunan yang ditawarkan oleh penguasa dan atau pihak luar yang lain (penyuluh. 1 October-Desember 2001 telah menetapkan pemberdayaan sebagai salah satu ujung-tombak dari Strategi Trisula (three-pronged strategy) untuk memerangi kemiskinan yang dilaksanakan sejak memasuki dasarwarsa 90-an.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful