ASKEP STOMATITIS (SARIAWAN

)
Filed Under: Persepsi sensori — putri_rahza — 3 Comments February 10, 2010 2.1 Definisi Sariawan merupakan bahasa awam untuk berbagai macam lesi/benjolan yang timbul di rongga mulut. Namun biasanya jenis sariawan yang sering timbul sehari-hari pada rongga mulut kita disebut (dalam istilah kedokteran gigi) adalah Stomatitis Aftosa Rekuren. Sariawan atau stomatitis adalah radang yang terjadi pada mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih kekuningan. Bercak itu dapat berupa bercak tunggal maupun berkelompok. Sariawan dapat menyerang selaput lendir pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah, gusi, serta langit-langit dalam rongga mulut. Meskipun tidak tergolong berbahaya, namun sariawan sangat mengganggu. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut. 2.2 Etiologi Sampai saat ini penyebab utama dari Sariawan belum diketahui. Namun para ahli telah menduga banyak hal yang menjadi penyebab timbulnya sariawan ini, diantaranya adalah : Penyebab yang berasal dari keadaan dalam mulut seperti : - Kebersihan mulut yang kurang - Letak susunan gigi/ kawat gigi - Makanan /minuman yang panas dan pedas - Rokok - Pasta gigi yang tidak cocok - Lipstik - Infeksi jamur - Overhang tambalan atau karies, protesa (gigi tiruan) - Luka pada bibir akibat tergigit/benturan. Bagian dari penyakit sistemik antara lain : - Reaksi alergi : seriawan timbul setelah makan jenis makanan tertentu. Jenis makanan ini berbeda untuk tiap-tiap penderita. - Hormonal imbalance - Stres mental - Kekurangan vitamin B12 dan mineral - Gangguan pencernaan - Radiasi. Infeksi virus dan bakteri juga diduga sebagai pencetus timbulnya Sariawan ini. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi imunologik abnormal pada rongga mulut. Dan imunologik sangat erat hubungannya dengan psikologis (stress). Faktor psikologis (stress) telah diselidiki berhubungan dengan timbulnya stomatitis (sariawan) di sebagian besar masyarakat. Klasifikasi Stomatitis a. Stomatitis Primer, meliputi :

penyakit periodontal. Bentuknya 2 – 5 mm. yaitu B. dan nyeri tidak hebat. bakteri normal yang ada pada mulut. 2.Traumatik Ulcer Stomatitis yang ditemukan karena trauma. batas sisinya merah dan udema tonsilasi ini bertahan lama 1 – 16 hari. Bentuknya lesi lebih jelas. Etiologinya.Herpes Simplek Stomatitis Stomatitis yang disebabkan oleh virus. Masa penyembuhan ini untuk tiap-tiap individu berbeda yaitu 1 – 5 minggu.4 Manifestasi Klinis a. kemudian area radiasi. Stadium Pre Ulcerasi Adanya udema / pembengkangkan setempat dengan terbentuknya makula pavula serta terjadi peninggian 1. Faktor resiko lainnya adalah : tipe dari kanker (melibatkan lokasi dan histology). Bentuk stomatitis ini erythem. Bentuk oval / bulat . Tambalan yang berlebih atau peralatan lain yang melekat pada gigi. b. Lesi bersifat ulcerasi b. . perhatian yang kurang terhadap rongga mulut selama terapi dan faktor lainnya berpengaruh pada ketahanan dari rongga mulut. . dosisnya.3 Patofisiologi Identifikasi pada pasien dengan resiko tinggi. Faktor resiko paling utama pada perkembangan komplikasi oral selama dan terhadap perawatan adalah pra-kehadiran penyakit mulut dan gigi. kerusakan operculum.Vincent’s Stomatitis Stomatitis yang terjadi pada jaringan normal ketika daya tahan tubuh menurun. plak. merupakan stomatitis yang secara umum terjadi akibat infeksi oleh virus atau bakteri ketika host (inang) resisten baik lokal maupun sistemik. Kolonisasi bakteri dan jamur dari kalkulus. Stomatitis Sekunder. memungkinkan dokter gigi untuk memulai evaluasi pra-perawatan dan melakukan tindakan profilaktis yang terukur untuk meminimalkan insidens dan morbiditas yang berkaitan dengan toksisitas rongga mulut. pulpa. penggunaan antineoplastik. . dosis dan administrasi penjadwalan perawatan.Recurrent Aphtouch Stomatitis (RAS) Merupakan ulcer yang terjadi berulang. kesalahan restorasi. 2.3 hari c. dan penggunaan alat-alat kedokteran gigi merupakan sebuah lahan yang subur buat organisme opportunistik dan pathogenistik yang mungkin berkembang pada infeksi lokal dan sistemik. Stadium Ulcerasi Pada stadium ini timbul rasa sakit terjadi nekrosis ditengah-tengahnya. Keadaan sebelum hadirnya penyakit seperti adanya kalkulus. menebal dan mengalami atropi. Masa prodromal atau penyakit 1 – 24 jam : Hipersensitive dan perasaan seperti terbakar b. ulcer dan nekrosis pada ginggival.. Akan sembuh ± 2 minggu tanpa luka parut. kemudian menghasilkan ulserasi local (stomatitis). gingivitis dan penggunaan alat prostodontik. poket periodontal. membuat lapisan mulut lebih buruk. awal lesi kecil. berkontribusi terhadap berkembangnya infeksi lokal dan sistemik. gigi yang rusak. jadwal dilakukan radiasi (kekerapan dan durasi dari antisipasi myelosuppresi) serta umur pasien. Flora. gigi palsu. dan berwarna kemerahan. Bentuknya menyerupai vesikel. Gambaran Klinis dari Stomatitis a.

Pemeriksaan laboratorium :    WBC menurun pada stomatitis sekunder Pemeriksaan kultur virus . Sifat tersebar d.5 Pemeriksaan Diagnostik Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur sedangkan diagnosis pasti dengan menggunakan biopsi. Lesi dangkal h. pasien dengan neuropathy peripheral atau anemia makrocytik. Lesi sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut 2. eksudat untuk membentuk vincent’s stomatitis 2.  Terapi Pengobatan stomatitis karena herpes adalah konservatif. Batasnya jelas e. dan pasien berasal dari golongan sosioekonomi bawah. Pada kasus yang lebih berat dapat diberikan kortikosteroid. sebanyak 3 atau 4 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur. Bila tidak ada responsif terhadap kortikosteroid atau tetrasiklin. seperti triamsinolon atau fluosinolon topikal. selain diberikan emolien topikal. Tepi merah g. Untuk gejala lokal dengan kumur air hangat dicampur garam (ja¬ngan menggunakan antiseptik karena menyebabkan iritasi) dan peng¬hilang rasa sakit topikal. Pemberian tetraciclin dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri dan jumlah ulcerasi. dapat diberikan dakson dan bila gagal juga maka di berikan talidomid. pada kasus yang ringan dengan 2 – 3 ulcersi minor. Biasa singulas (sendiri-sendiri) dan multiple (kelompok) f.6 Penatalaksanaan Medis    Hindari makanan yang semakin memperburuk kondisi seperti cabai Sembuhkan penyakit atau keadaan yang mendasarinya.   Hindari stres Pemberian Atibiotik Harus disertai dengan terapi penyakit penyebabnya. cairan vesikel dari herpes simplek stomatitis Pemeriksaan cultur bakteri . terutama makanan yang mengandung vitamin 12 dan zat besi. seperti orabase. Pada beberapa kasus diperlukan antivirus. Peng¬obatan jangka panjang yang efektif adalah menghindari faktor pencetus. Pe-ng¬¬o¬batan stomatitis aphtosa teru¬tama peng¬hilang rasa sakit topikal. . Digunakan satu dari dua terapi yang dianjurkan yaitu: (1) Injeksi vitamin B12 IM (1000 mcg per minggu untuk bulan pertama dan kemudian 1000 mcg per bulan) untuk pasien dengan level serum vitamin B12 dibawah 100 pg/ml. Pelihara kebersihan mulut dan gigi serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup.c.

Komplikasi Akibat Pembedahan Pada pasien dengan osteoradionekrosis yang melibatkan mandibula dan tulang wajah. Mekanisme dari toksisitas oral bertepatan dengan pulihnya granulosit. Jaringan ini sangat mudah rusak oleh obat-obatan toksik atau penyinaran radiasi lanjutan. lesi seperti terbakar atau acak. Komplikasi akibat kemoterapi Karena sel lapisan epitel gastrointestinal mempunyai waktu pergantian yang mirip dengan leukosit. 4. Kerusakan akibat radiasi berbeda dari kerusakan akibat kemoterapi. maka debridemen sisa pembedahan dapat merusak. Tidak ada perawatan lain yang diberikan untuk penderita RAS selama perawatan dan pada waktu follow-up. dan nekrosis. hal ini tergantung pada cepat atau tidaknya pergantian sel epithelial. Stomatitis merujuk pada suatu . 2.Pola Hygiene : kurang menjaga kebersihan mulut . dan lesi ulseratif. pola makan menjadi tidak teratur . infeksi. mengganggu mekanisme normal pergantian mukosa oral.Pola aktivitas : kemampuan untuk berkomunikasi menjadi sulit .(2) Tablet vitamin B12 sublingual (1000 mcg) per hari. periode kerusakan terparah pada mukosa oral frekuensinya berhubungan dengan titik terendah dari sel darah putih. focal to diffuse. lidah.Komplikasi Akibat Radiasi Penyinaran lokal pada kepala dan leher tidak hanya menyebabkan perubahan histologis dan fisiologis pada mukosa oral yang disebabkan oleh terapi sitotoksik. mukosa bukal. Mucositis dijelaskan sebagai suatu inflammatory toksik yang mempengaruhi traktus gastrointestinal dari mulut sampai anus. Radiasi pada daerah kepala dan leher serta agen antineoplastik merusak divisi sel. Mucositis dapat tereksaserbasi dengan factor lokal. berkurangnya supplai darah ke tulang. dasar mulut.7 Komplikasi Dampak gangguan pada kebutuhan dasar manusia . Mukosa mulut akan menjadi tereksaserbasi ketika agen kemoterapeutik yang menghasilkan toksisitas mukosa diberikan dalam dosis tinggi atau berkombinasi dengan ionisasi penyinaran radiasi. Terapi hiperbarik oksigen telah berhasil menunjukkan rangsangan terhadap formasi kapiler baru terhadap jaringan yang rusak dan telah digunakan sebagai tambahan pada debridemen pembedahan. hancurnya tulang bersamaan dengan terbukanya tulang.Terganggunya rasa nyaman : biasanya yang sering dijumpai adalah perih Stomatitis memunculkan berbagai macam komplikasi bagi tubuh kita diantaranya: 1. dan palatum lunak lebih sering dan rentan terkena komplikasi dibanding palatum keras dan gingiva.Mucositis/Stomatitis Defenisi mucositis dan stomatitis sering tertukar dalam penggunaannya tetapi terdapat perbedaan yang besar diantara keduanya. 3. Periode follow-up mulai dari 3 bulan sampai 4 tahun. yang dapat dihasilkan akibat dari pennyorotan radiasi sampai agen kemoterapeutik atau radiasi ionisasi. termasuk glandula saliva dan tulang. tapi juga menghasilkan gangguan struktural dan fungsional pada jaringan pendukung. Mekanisme perbaikan fisiologis normal dapat mengurangi efek ini sebagai hasil dari depopulasi permanen seluler. Dosis tinggi radiasi pada tulang yang berhubungan dengan gigi menyebabkan hypoxia. Tipikal mucositis termanifestasi sebagai suatu eritematous.Komplikasi Oral 1. 2. pada volume jaringan yang terus teradiasi terusmenerus akan berbahaya bagi pasien sepanjang hidupnya.Pola nutrisi : nafsu makan menjadi berkurang. kecuali jaringan oksigenasi berkembang pada pembedahan. Usaha rekonstruksi akan menjadi sia-sia. Bibir.

20 % disusun oleh Herpex Simplex Virus (HSV) dan sisanya disusun oleh bakteri bacillus gram negatif. HSV merupakan gejala paling umum pada infeksi oral viral. atau lantai mulut atau dapat menjadi lebih parah dengan hemorrhage mulut . Pada pasien dengan keganasan hematologik. suatu sensasi rasa luka atau terbakar (khususnya . terutama pada krevikular gingival. Pada lokasi terjadinya penyakit periodontal dapat terjadi perdarahan secara spontan atau dari trauma minimal. Mucositis tidak akan bertambah parah jika tidak terkomplikasi oleh infeksi dan secara normal dapat sembuh total dalam waktu 2-4 minggu. Perdarahan oral dapat berbentuk minimal.reaksi inflamasi yang terjadi pada mukosa oral. Dreizen dan kawan-kawan melaporkan bahwa sekitar 70 % infeksi oral pada pasien dengan tumor solid disebabkan oleh Candida Albicans dan jamur lainnya. tetapi hilangnya epitel oral sebagai suatu protektif barrier terjadi pada infeksi lokal dan menghasilkan jalan masuk buat mikroorganisme pada sirkulasi sistemik.Hemorrhage Hemorrhage dapat terjadi sepanjang perawatan akibat trombositopenia dan atau koagulasipati. Dosis tinggi kemoterapi seperti yang dilakukan pada perawatan leukemia dan pengaturan jadwal obat dengan infus berlanjut. methotrexate dan fluororacil) sepertinya merupakan penyebab mucositis dibanding obat infus satu bolus dengan dosis yang setara. cytarabine. dengan ptekiae berlokasi pada bibir. 3. Ketika ketahanan mukosa terganggu. Dokter gigi harus waspada terhadap potensi berkembangnya toksisitas akibat peningkatan dosis atau lamanya perawatan pada percobaan klinik yang menunjukkan toksisitas gastrointestinal. Mucositis eritematous dapat terjadi 3 hari setelah pemaparan kemoterapi. dan 15 % oleh bakteri bacillus gram negatif. Ketika jumlah netrofil menurun sampai 1000/kubik/mm. Perdarahan gingiva spontan dapat terjadi ketika jumlah platelet mencapai paling kurang 50. infeksi lokal dan sistemik dapat dihasilkan oleh indigenous flora seperti mikroorganisme nosokomial dan oportunistik. tapi secara umum berkisar 3-7 hari. Penggunaan antibiotik berkepenjangan pada penyakit neutropenia mengganggu flora mulut. Gejala klinik tanda xerostomia termasuk diantaranya : rasa kering. 50 % infeksi oral akibat bakteri Candida Albicans. 25 % akibat HSV.Xerostomia Xerostomia dapat dikenali sebagai berkurangnya sekresi dari glandula saliva.Infeksi Mucositis oral dapat berkomplikasi dengan infeksi pada pasien dengan sistim imun yang menurun. berulang dan tidak terputus (seperti bleomycin.000/kubik/mm. menciptakan suatu lingkungan favorit buat jamur untuk berkembang yang dapat bereksaserbasi oleh terapi steroid secara bersamaan. Tidak hanya mulut itu sendiri yang dapat terinfeksi. dengan atau tanpa ulserasi dan dapat berkembang oleh faktor lokal seperti yang teridentifikasi pada etiologi/patofisiologi pada pembahasan ini. Pasien dengan stomatitis yang parah tidak akan mampu memasukkan apapun kedalam mulutnya. insiden dan keparahan infeksi semakin meningkat. palatum lunak. Perkembangan menuju mucositis ulseratif umumnya berlangsung 7 hari setelah kemoterapi. Stomatitis dapat menjadi berkadar ringan atau parah. 4. Pasien dengan neutropenia berkepanjangan berada pada resiko tinggi buat perkembangan komplikasi infeksi yang serius. 2. Beberapa garis panduan untuk perawatan mulut termasuk penilaian sebanyak dua kali sehari untuk pasien dirumah sakit dan perawatan mulut yang sering (minimal 4 jam dan sewaktu akan tidur) malahan meningkatkan keparahan dari mucositis.

5. Stomatitis yang disebabkan oleh iritasi lokal dapat diatasi dengan oral hygene yang bagus. diet yang bermutu.5 dan demineralisasi dapat terjadi.Plak menjadi tebal dan berat. memeriksakan gigi secara teratur. 2.Saliva tidak melakukan lubrikasi dan menjadi menebal dan atrofi.5 ml/menit). fosfor. . sublingual. Pengaturan perawatan preventif oral. bibir retak-retak. Keseluruhan kecepatan aliran saliva yang kurang dari 0. Derajat dari disfungsi tersebut sangat berhubungan dengan dosis radiasi dan volume jaringan glandula pada lapangan radiasi. osteomyelitis akibat radiasi dan osteoradionekrosis). sering berkonstribusi pada dental karies dan penyakit periodontal yang progresif. 6. karies ulseratif. Glandula parotid dapat menjadi lebih rentan terhadap efek radiasi daripada glandula submandibular. Infeki pada stomatitis biasanya dapat disebabkan karena pengobatan atau bila masalahnya disebabkan oleh obat-obatan maka yang harus dilakukan adalah dengan mengganti obat. Xerostomia dapat dihasilkan melalui reaksi inflammatory dan efek degeneratif radiasi ionisasi pada glandula saliva parenkim. dan pengobatan. Xerostomia mengganggu kapasitas buffer mulut dan kemampuan pembersihan mekanis. yang akan mengganggu kenyamanan pasien. selama dan setelah terapi radiasi untuk meminimalisasi tingkat keparahan (xerostomia permanent.Flora oral menjadi patogenik.Produksi asam setelah terpapar oleh gula dihasilkan oleh demineralisasi selanjutnya pada gigi dan kemudian dapat menimbulkan kerusakan gigi 5. Perkembangan dental karies berakselerasi dengan sangat cepat pada terjadinya xerostomia akibat hilangnya immunoprotein protektif yang merupakan komponen dari saliva. debris tetap bertahan akibat ketidakmampuan pasien untuk membersihkan mulut. 4. perubahan pada permukaan lidah. kesulitan untuk memakai gigi palsu. 2. 3. Komplikasi oral akibat terapi radiasi memerlukan terapi dental yang agresif sebelum.Nekrosis Akibat Radiasis Nekrosis dan infeksi pada jaringan yang telah dilakukan penyorotan radiasi sebelumnya (osteoradionekrosis) merupakan suatu komplikasi yang serius bagi pasien yang menjalani terapi radiasi pada tumor kepala dan leher. dan peningkatan frekuensi dan atau volume dari kebutuhan cairan.Kapasitas buffer menjadi tereliminasi. termasuk applikasi topikal flour harus segera dimulai untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. pada mulut kering yang bersih pH umumnya 4. Aliran saliva mengalami penurunan 1 minggu setelah perawatan dan berkurang secara progresif ketika perawatan terus dilanjutkan.Tidak ada mineral (kalsium.8 Prognosis Prognosis stomatitis didasarkan pada masalah yang menyebabkan adanya gangguan ini.1 ml/menit dianggap sebagai indikasi xerostomia (normal = 0. Saliva dibutuhkan untuk eksekusi normal dari fungsi mulut seperti mengecap. dan berbicara. fluor) yang tersimpan pada permukaan gigi. Xerostomia menghasilkan perubahan didalam rongga mulut antara lain: 1. mengunyah.3-0. khususnya pada serous acinar. khususnya ketika glandula saliva termasuk daerah penyorotan radiasi.melibatkan lidah). dan jaringan glandula saliva minor. Perubahan ini biasanya sangat pesat dan bersifat irreversible. celah atau fissura pada sudut mulut.

5. 3.1.1. 6. Kaji apakah ada riwayat penyakit keluarga yang bisa menyebabkan terjadinya stomatitis. misalnya hanya mengkonsumsi karbohidrat dan protein saja. dan sanitasi yang buruk. mayoritas antara 20-40 tahun lebih cenderung pada wanita.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3. dan zat besi serta pola makan yang buruk. misalnya faringitis. . penyakit yang beresiko menimbulkan stomatitis. panas dalam. Pengkajian Psikososial :sterss. Keluhan utama rasa nyeri di mulut 2. vitamin B12. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anakanak yang orang tuanya menderita SAR lebih rentan untuk mengalami SAR juga. Pengkajian lingkungan rumah dan komunitas : lingkungan yang panas. penderita stres. mengkonsumsi makanan yang berlemak . kelompok sosial ekonomi tinggi. vitamin B12 dan mineral. Riwayat kesehatan sekarang Stomatitis bisa terjadi pada seseorang karena intoleransi dengan pasta gigi. Riwayat pertumbuhan perkembangan : . 8.1 Pengkajian 3.2 Riwayat sakit dan Kesehatan 1. Pemeriksaan fisik B1 (Breath) : Bau nafas. resiko kekurangan volume darah. Riwayat nutrisi : kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C. atau mempunyai riwayat sariawan pada keluarga. 3. perokok) serta kaji fungsi dan penampilan dari rongga mulut terhadap body image dan sex. 3.1 Identitas ( Data Biografi) Stomatitis dapat menyerang semua umur. mineral. Riwayat penyakit dahulu Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun sehingga lebih mudah terkena stomatitis.Penurunan berat badan Biasanya pasien yang menderita stomatitis mengalami penurunan berat badan karena intake nutrisi yang kurang. Ada juga teori yang menyebutkan bahwa penyebab utama dari SAR (Stomatitis Aftosa Rekuren) atau sariawan adalah keturunan.Pasien yang menderita stomatitis akan lebih lama sembuhnya dikarenakan kondisi fisik yang lemah sebagai akibat intake nutrisi yang kurang ( energi/kalori yang diperlukan tidak mencukupi dalam proses penyembuhan). 4. gaya hidup (alkohol. 7. RR normal B2 (Blood) : Hemorrhage (perdarahan) akibat kerusakan membrane mukosa oral. Riwayat penyakit keluarga. B3 (Brain) : Nyeri B4 (Bladder) : Secara umum tidak mempengaruhi kecuali jika ada kondisi dehidrasi akibat intake cairan yang kurang . kurang vitamin C.3.1.

kurang vitamin C.Diet : makan tidak habis.2 Analisa Data Data Etiologi Masalah Data Subyektif : Pasien mengeluh nyeri saat mengunyah makanan.Perubahan kulit mukosa oral.Antropometri: penurunan berat badan . bibir pecah-pecah.. rasa kering. oral hygene yang buruk Kerusakan vaskular.Suhu tubuh naik .selular. nafsu makan menurun Intoleransi pasta gigi. .Klinik : perubahan kulit mukosa oral (bengkak dan kemerahan).Membran mukosa tampak bengkak dan kemerahan Alergen Alergi dan defisiensi immunologi Inflamasi (peradangan) Pelepasan mediator inflamasi (prostalgadin) Nyeri Perubahan membran mukosa oral Perubahan membrane mukosa oral . tampak bengkak dan kemerahan (hiperemi) B6 (Bone) : Kondisi fisik yang lemah sebagai akibat intake nutrisi yang kurang 3.dan matrik Perubahan mukosa Nafsu makan berkurang Risiko kekurangan nutrisi Resiko kekurangan nutrisi Data Subyektif : Pasien mengatakan nafsu makan berkurang Data Obyektif : .B5 (Bowel) : . Data Obyektif : .Hipersalivasi .Adanya lesi di membran mukosa oral .Mukosa oral mengalami peradangan. suatu sensasi rasa luka atau terbakar (khususnya melibatkan lidah) .Biokimia : Hb dan albumin menurun .

Data Subyektif : Pasien mengatakan susah bergaul/berkomunikasi dengan orang lain.dan matrik Perubahan membran mukosa oral Timbul lesi Nyeri Gangguan komunikasi verbal Gangguan komunikasi verbal Data Subyektif : Pasien mengeluh lesu. Data Obyektif : .Membran mukosa kering .Suhu badan naik Inflamasi Metabolisme meningkat Hipertermi Intake cairan kurang Risiko kekurangan cairan Risiko kekurangan cairan Data Subjektif: Pasian gelisah Data Objektif: .Tekanan turgor turun .Perubahan mucosa oral .Mukosa mulut tampak bengkak dan memerah (hiperemi) Kerusakan vaskular. lemas (malaise) Data Obyektif : . kurang vitamin C. oral hygene yang buruk Peradangan (inflamasi) Kerusakan membran mukosa .selular.Suhu tubuh naik -Membran mukosa bengkak dan kemerahan Intoleransi pasta gigi.

makanan/minuman yang terlalu panas dan pedas) . Perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan proses peradangan (inflamasi) 2.Membran mukosa oral lembab Intervensi Rasional Mandiri : .Menghindari makanan dan obat-obatan atau zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada rongga mulut.Kaji adanya komplikasi akibat kerusakan membran mukosa oral Kolaborasi : .Pantau aktivitas klien. Diagnosa Keperawatan : Perubahan mukosa oral berhubungan dengan proses peradangan (inflamasi) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan mukosa oral kembali normal dan lesi berangsur sembuh.Personal hygene yang buruk.Stomatitis bisa mengakibatkan komplikasi yang lebih parah jika tidak segera ditangani . . asupan nutrisi yang kurang vitamin C. Kriteria Hasil : .3 Diagnosa Keperawatan 1. .Mukosa oral kembali normal (tidak bengkak dan hiperemi) .Lesi berkurang dan berangsur sembuh. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan nyeri di mukosa mulut 5.Catat adanya kerusakan membran mukosa ( bengkak.nyeri Nyeri 3. cegah hal-hal yang bisa memicu terjadinya stomatitis (oral hygene yang buruk.Ajarkan oral hygene yang baik Observasi : . kondisi stres. kurang vitamin C. 4. 3. kondisi psikologis (stres) merupakan pemicu terjadinya stomatitis .Kolaborasi pemberian antibiotik dan obat kumur Health education : . Risiko kekurangan nutrisi berhubungan dengan perubahan mucosa oral penurunan keinginan untuk makan sekunder akibat rasa nyeri di mukosa mulut. hiperemi/kemerahan) . Nyeri berhubungan dengan kerusakan membran mukosa oral 3. Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake cairan kurang akibat proses inflamasi.4 Intervensi dan Rasional 1.

2. .Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi dan obat kumur bisa menghilangkan kumankuman di mulut sehingga bisa mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut.Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral .berat badan normal .nafsu makan klien timbul kembali . Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi.Beri nutrisi dalam keadaan lunak . Diagnosa Keperawatan :Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan sekunder akibat rasa nyeri di mukosa mulut.Monitor Hb dan albumin .Status nutrisi terpenuhi .Membran mukosa yang bengkak dan hiperemi adalah indikasi adanya peradangan. Kriteria Hasil : . .Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh Observasi : .jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Rasional Mandiri : .Reaksi alergi bisa menimbulkan infeksi .Nutrisi meningkat akan meningkatkan berat badan Agar nutrisi klien tetap terpenuhi .Oral hygene yang baik bisa meminimalisir terjadinya stomatitis . .Pantau berat badan tiap hari Kolaborasi : .Makanan yang lunak meminimalkan kerja mulut dalam mengunyah makanan. porsi sedikit tapi sering..Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan) .Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet Health education : .Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan .

Suhu badan normal Intervensi Rasional Mandiri : .Hilangnya rasa sakit dan perih di mukosa mulut . dan mineral merupakan faktor yang dapat mencegah terjadinya stomatitis . vitamin B12.Beri penjelasan tentang faktor penyebab .Sayuran.Makanan yang merangsang.Kaji status nutrisi . Vitamin B 12. zat besi dan mineral .Menghindari pasta gigi yang merangsang .Adanya vitamin C. Vitamin C dan zat Besi Observasi : . vitamin B12.Jika klien mengetahui factor penyebab maka klien dapat mencegah hal tersebut terjadi kembali. serta pasta gigi yang merangsang dapat menimbulkan nyeri di bagian yang sariawan .Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan . .Nutrisi yang meningkat akan memperceoat proses penyembuhan ..Analgesic dapat mengurangi rasa nyeri Dan kotikosteroid untuk mengurangi peradangan.Monitor kandungan vitamin C. terlalu panas dan terlalu dingin. .Menganjurkan klien untuk memperbanyak mengkonsumsi buah dan sayuran terutama vitamin B12.Tidak bengkak dan hiperemi .Menghindari makanan yang terlalu panas dan terlalu dingin . . seperti makanan yang mengandung zat kimia .Menghindari luka pada mulut saat menggosok gigi atau saat menggigit makanan Kolaborasi : . Vitamin C dan zat besi dapat mencegah terjadinya sariawan.Memberikan makanan yang tidak merangsang.Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun 3. Diagnosa Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan kerusakan membran mukosa oral Tujuan : Membran mukosa oral kembali normal Kriteria Hasil : . zat besi.Kolaborasi pemberian analgesic dan kortikosteroid Health education : .

Lingkungan yang nyaman akan membuat klien aktif dalam beraktifitas .Tekanan turgor kembali seperti semula.Klien mengalami peningkatan harga diri dan konsep diri .Catat perubahan perilaku klien . Intervensi Rasional . dan peningkatan harga diri Kriteria Hasil : .Konsep diri penting untuk meningkatkan hubungan sosial antar sesama . Diagnosa Keperawatan : Risiko kekurangan cairan berhubungan dengan intake cairan yang kurang akibat proses inflamasi membran mukosa oral Tujuan : Intake cairan kembali normal Kriteria Hasil : .Beri penjelasan dan pengetahuan mengenai konsep diri .4.Klien mau bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain .Perubahan perilaku tanda bahwa klien mengalami peningkatan harga diri dan konsep diri 5.Klien mengalami peningkatan aktivitas .Dorong klien untuk ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan Observasi : . Diagnosa Keperawatan : Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan nyeri di mukosa mulut Tujuan : Mengalami perubahan konsep diri.Kolaborasi pemberian analgesic dan kortikosteroid Health education : .Membran mukosa oral basah .Berikan kondisi lingkungan yang nyaman untuk klien Kolaborasi : .Nyeri berkurang Intervensi Rasional Mandiri : .Dengan mengikuti kegiatan akan mudah untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar sehingga bisa mengurangi stres .Analgesic dapat mengurangi rasa nyeri dan kortikosteroid dapar mencegah peradangan akibat kerusakan membran mukosa .

9 % /isotonik.Buh-buahan dan sayuran banyak mengandung vitamin.Kolaborasi pemberian antibiotik dan obat kumur Health education : . dan tekanan turgor kembali seperti semula indikasi tidak terjadinya dehidrasi .Mandiri : .Dorong klien untuk minum kurang lebih 8 gelas/hari .Pemasangan infus untuk menghindari tubuh kehilangan banyak cairan . dan sayur-sayuran Observasi : .Mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh .Pemberian cairan melalui infus ( NaCl 0.Kaji adanya perubahan aktivitas . atau RL) .Antibiotik dapat digunakan untuk mencegah inflamasi lebih lanjut sehingga kenaikan metabolisme dapat dicegah dan obat kumur bisa menghilangkan kuman-kuman di mulut sehingga bisa mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut.Catat perubahan membran mukosa oral.Berikan informasi tentang pentingnya mengkonsumsi buah-buahan. dan tekanan turgor .Membran mukosa oral basah.Pantau pemasukan cairan perhari ( normal 8 gelas/hari) Kolaborasi : . . dan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh .Peningkatan metabolisme dapat dikurangi dengan intake cairan yang adekuat .Aktivitas yang meningkat menunjukkan bahwa tubuh tidak kekurangan cairan . mineral.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful