P. 1
hadist menggerakkan telunjuk dalam sholat

hadist menggerakkan telunjuk dalam sholat

|Views: 170|Likes:

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Abu Atikah Adi Kurniawan on Dec 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

pdf

text

original

Hadits Mengerak-gerakan Jari Telunjuk Ketika Shalat Posted by Admin pada 08/05/2009 Hadits Mengerakan Jari Telunjuk

Ketika Tasyahud Pertanyaan Pertama: Terlihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. Mana yang pal ing rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya? Jawab : Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu ha l yang perlu dibahas secara ilmiah. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingg a kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan perkara y ang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dal am masalah furu’ belaka, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu‘ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy, kitab Al-Mughn y karya Imam Ibnu Quda mah, kitab Al-Ausath karya Ibnul Mundzir, Ikhtilaful Ulam a karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan mene mukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah, mu amalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecaha n maupun permusuhan diantara mereka. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah a dalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an. Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak menge rak-gerakkannya, rincian masalahnya adalah sebagai berikut : Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis : 1.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali. 2.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. 3.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak. Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunj uk kebanyakannnya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadi ts jenis yang ketiga tersebut, karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh I mam Al-Bukhari, Imam Muslim dan lain-lainnya, dari beberapa orang sahabat sepert i ‘Abdullah bin Zubair, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhammad As-Sa‘idy, Wa il bin Hujr, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya. Maka yang perlu dibahas di sini hanyalah dera jat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat hadit s yang kedua (digerak-gerakkan). Hadits-Hadits yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali. Sepanj ang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut. Hadits Pertama “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam beliau berisyarat dengan telunjuknya b ila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no.989, An-Nasai dalam AlMujtaba 3/37 no.127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no.638, Al-Baghawy dalam Sy arh As-Sunnah 3/177-178 no.676. Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muha mmad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair dar i ayahnya ‘Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini sebagai Berikut:: Hajjaj bin Muhammad. Beliau rawi tsiqoh (terpercaya) yang tsabt (kuat) akan teta pi mukhtalit (bercampur) hafalannya diakhir umurnya, akan tetapi hal tersebut ti dak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau s etelah hafalan beliau bercampur. Baca : Al-Kawa kib An-Nayyirot, Tarikh Baghdad dan lain-lainnya.• Ibnu Juraij. Nama beliau ‘Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz bin Juraij Al-Makky seorang raw i tsiqoh tapi mudallis akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beli au sudah memakai kata A khbarani (memberitakan kepadaku). • Muhammad bin ‘Ajlan. Seorang rawi shoduq (jujur).•

 

‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair. Kata Al-Hafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqoh ‘abid (terpercaya, ahli ibadah).• ‘ Abdullah bin Zubair. Sahabat. Derajat Hadits Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal te rsebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari ‘Illat (cacat) dan tidak sya dz. Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerak kan) ini adalah lafadz yang syadz. Sebelum kami jelaskan dari mana sisi syadznya lafadz ini, mungkin perlu kami jel askan apa makna syadz menurut istilah para Ahlul Hadits. Syadz menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk : • Pertama: Syadz karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayat an karena beberapa faktor. • Syadz karena menyelisihi. Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Dan pengertian syadz dalam bentuk kedua adalah “Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utam a darinya”. Maksud “rawi maqbul” adalah rawi derajat shohih atau hasan. Dan maksud “rawi yang lebi h utama” adalah utama dari sisi kekuatan hafalan, riwayat atau dari sisi jumlah. D an perlu diketahui bahwa syadz merupakan salah satu jenis hadits dho’if (lemah) di kalangan para ulama Ahli Hadits. Maka kami melihat bahwa lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) adalah l afadz yang syadz tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalaha n dari Muhammad bin ‘Ajlan dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajl an karena beberapa perkara : 1.Muhammad bin ‘Ajl an walaupun ia seorang rawi hasanul hadits (hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya. 2.Riwayat Muhammad bin ‘Ajl an juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . 3.Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajl an dan merek a tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Empat rawi tsiqoh tersebut adalah : a.Al-Laits bin Sa’ad, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133 dan Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/131. b.Abu Kha lid Al-Ahmar, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashabul Hadits hal.62, Ibnu Hibban sebagai mana dalam Al-Ihsan 5/370 no.1943, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194, Ad-Dar aquthny dalam Sunannya 1/349, dan Al-Baihaqy 2/131, ‘Abd bin Humaid no.99. c.Yahya bin Sa’id Al-Qothth on, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud no.990, An-Na sai 3/39 no.1275 dan Al-Kubro 1/377 no.1198, Ahmad 4/3, Ibnu Khuzaimah 1/350 no. 718, Ibnu Hibban no.1935, Abu ‘Awanah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132. d.Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-Darimy no.1338 dan Al-Humaid y dalam Musnadnya 2/386 no.879. e.Demikianlah riwayat empat rawi tsiqoh tersebut menetapkan bahwa riwayat sebena rnya dari Muhammad bin ‘Ajlan tanpa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak diger ak-gerakkan). Akan tetapi, Muhammad bin ‘Ajlan dalam riwayat Ziyad bin Sa’ad keliru lalu menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). 4.Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari ‘ Amir bin ‘Abdullah bin Zubair se bagaimana Muhammad bin ‘Ajlan juga meriwayatkan dari ‘Amir ini akan tetapi tiga oran g rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan ) , maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin ‘Ajlan yang menyebutkan lafadz laa yuh arrikuha (tidak digerak-gerakkan) telah menyelisihi tiga rawi tsiqoh tersebut, o leh karenanya riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin ‘Ajlan dian ggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut. Tiga orang ini adalah : a.‘Utsman bin Hakim, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no.112, Abu Daud no.988, I bnu Khuzaimah 1/245 no.696, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194-195 dan Abu ‘Aw anah 2/241 dan 246.

b.Ziyad bin Sa’ad, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.879. c.Makhromah bin Bukair, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/237 no.1161 dan Al-Baihaqy 2/132. Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerakgerakkan) dalam hadits ‘Abdullah bin Zubair adalah syadz dan yang menyebabkan syad znya adalah Muhammad bin ‘Ajlan. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal da ri Ziyad bin Sa’ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang tersebut d i atas sangat kuat menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bi n ‘Ajl an. Wallahu A’lam. Hadits Yang Kedua “Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungg uhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah sha lallahu ‘alaihi wasalam mengerjakannya”. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsi r bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban. Derajat Hadits Seluruh rawi sanad Ibnu Hibban tsiqoh (terpercaya) kecuali Katsir bin Zaid. Para ulama ahli jarh dan ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Dan kesimpulan yang d isebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. I bnu Hajar berkata : shoduq yukhti u katsiran (jujur tapi sangat banyak bersalah) , makna kalimat ini Katsir adalah dho’if tapi bisa dijadikan sebagai pendukung ata u penguat. Ini ‘illat (cacat) yang pertama. Illat yang kedua ternyata Katsir bin Z aid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini. Pertama: Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Marya m dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata, sebab tujuh ra wi tsiqoh juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, akan tetapi dari ‘Ali bin ‘Abdirrahman Al-Mu’awy dari Ibnu ‘Umar. Tujuh rawi tersebut adalah : 1.Imam Malik, riwayat beliau dalam Al-Muwaththo’ 1/88, Shohih Muslim 1/408, Sunan Abi Daud no.987, Sunan An-Nasai 3/36 no.1287, Shohih Ibnu Hibban sebagaimana dal am Al-Ihsan no.193, Musnad Abu ‘Awanah 2/243, Sunan Al-Baihaqy 2/130 dan Syarh AsSunnah Al-Baghawy 3/175-176 no.675. 2.Isma‘il bin Ja’far bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no.1 160, Ibnu Khuzaimah 1/359 no.719, Ibnu Hibban no.1938, Abu ‘Awanah 2/243 dan 246 d an Al-Baihaqy 2/132. 3.Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408, Ibnu Khuzaimah 1/ 352 no.712, Al-Humaidy 2/287 no.648, Ibnu Abdil Bar 131/26. 4.Yahya bin Sa’ id Al-Anshary, riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nasai 3/36 no.1 266 dan Al-Kubro 1/375 no.1189, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712. 5.Wuhaib bin Kh alid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu ‘Awanah 2/243. 6. ‘Abdul ‘Azi z bin Muhammad Ad-Darawardy, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2 /287 no.648. 7.Syu’bah bin Hajjaj, baca riwayatnya dalam ‘Ilal Ibnu Abi Hatim 1/108 no.292. Kedua : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tid ak digerak-gerakkan) dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab : a.Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . b.Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany : ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-’Umary dari Nafi’ dari Ibn u ‘Umar juga tidak disebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . Ba ca riwayat mereka dalam Shohih Muslim no.580, At-Tirmidzy no.294, An-Nasai 3/37 no.1269, Ibnu Majah 1/295 no.913, Ibnu Khuzaimah 1/355 no.717, Abu ‘Awanah 2/245 n o.245, Al-Baihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/174-175 no.673-67 4 dan Ath-Thobara ny dalam Ad-Du’a no.635. Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits Mungkar. Wallah u A’lam. Kesimpulan: Seluruh hadits yang menerangkan jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah .

 

Hadits-Hadits yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan Sepanjang pemeriksaan kami, hanya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa jari te lunjuk digerak-gerakkan yaitu hadits Wa il bin Hujr dan lafadznya sebagai beriku t : Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran , kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent.), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”. “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318, Ad-Darimy 1/362 no.1357, An-Nasai 2/126 no.889 dan 3/37 no.1268 dan dalam Al-Kubro 1/310 no.963 dan 1/376 no.1191, Ibnu l Jarud dalam Al-Muntaqa’ no.208, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no. 1860 dan Al-Mawarid no.485, Ibnu Khuzaimah 1/354 no.714, Ath-Thobarany 22/35 no. 82, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghda dy dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427. Semuanya meriwayatkan dari jalan Za idah bin Qudamah dari ‘Ashim bin Ku laib bin Syih ab dari ayahnya dari Wa il bin Hujr. Derajat Hadits Zhohir sanad hadits ini adalah hasan, tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari ‘illat (cacat) dan syadz. Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga syadz dan penjelasannya adalah bahwa : Za idah bin Qudamah adalah seorang rawi tsiqoh yan g kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari me reka itu lebih kuat kedudukannya dari Za idah sehingga apabila Za idah menyelisi hi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya ri wayat Za idah. Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa il bi n Hujr. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharr ikuha (digerak-gerakkan) . Dua puluh dua rawi tersebut adalah: 1.Bisyr bin Al-Mufadhdhal, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu D aud 1/465 no.726 da n 1/578 no.957 dan An-Nasai 3/35 no.1265 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1188 dan At h-Thobara ny 22/37 no.86. 2.Syu’bah bin Hajjaj, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316 dan 319, Ibnu Khuzai mah dalam Shohihnya 1/345 no.697 dan 1/346 no.689, Ath-Thobar any 22/35 no.83 da n dalam Ad-Du’a n0.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/430-431. 3.Sufyan Ats-Tsaury, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, An-Nas ai 3/35 no. 1264 dan Al-Kubro 1/374 no.1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no.78. 4.Sufyan bin ‘Uyyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/236 no.1195 dan 3/ 34 no.1263 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1186, Al-Humaidy 2/392 no.885 dan Ad-Dara quthny 1/290, Ath-Thobar any 22/36 no.85 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/427. 5.‘Abdullah bin Idris, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu M ajah 1/295 no.912, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Ibnu Khuzaimah 1/353 dan Ibnu Hibban no.1936. 6.‘Abdul Wa hid bin Ziyad, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316, Al-Baihaqy dal am Sunannya 2/72 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/434. 7.Zuhair bin Mu’ awiyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, Ath-Thobarany 22 /26 no.84 dan dalam Ad-Du’a no.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1 /437. 8.Khalid bin ‘Abdillah Ath-Thahh an, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Wa shil Mudraj 1/432-433. 9.Muhammad bin Fudhail, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/353 no.713. 10.Sallam bin Sulaim, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thoy alisi dalam Musnadnya no.1020, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Ath-Thobarany 22/34 no.8 0 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/431-432. 11.Abu ‘Awanah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/38 no.90 dan Al-Khat ib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/432. 12.Ghailan bin J ami’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.88. 13.Qois bin Rabi’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/33 no.79. 14.Musa bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.89.

 

 

 

 

 

 

 

 

15.‘Ambasah bin Sa’id Al-Asady, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/37 no. 87. 16.Musa bin Abi ‘ Aisyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no .637. 17.Khallad Ash-Shaffar, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no . 637. 18.Jarir bin ‘Abdul Hamid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/435. 19.‘Abidah bin Humaid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Was hil Mudraj 1/435-436. 20.Sholeh bin ‘Umar, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washi l Mudraj 1/433. 21.‘Abdul ‘Azi z bin Muslim, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/436-437. 22.Abu Badr Syuj a‘ bin Al-Walid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-F ashl Li Washil Mudraj 1/438-439. Dari uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za idah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharikuha (digerak-gerakkan) adalah syadz. Kesimpulan: Penyebutan lafazh yuharrikuha (jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah . Wallahu A’lam. <<<<Pendapat Para Ulama dalam Masalah Ini>>>> Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat : Pertama: Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm. Kedua: Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-o rang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah da n pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah. Ketiga: Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahima hullahu ta’ala- dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni’ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apa bila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakk an. Dan Syaikh Al-Albany – rahimahullahu ta’ala- dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak. Sebab perbedaan pendap at ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya, ada yang menyeb utkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak d igerak-gerakkan. “Namun, dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutk an jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah.” Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunak an apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut, apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beli au. Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz … (Arab) yang artinya b erisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak. Penjelasannya adalah bahw a kata “berIsyaratt” itu mempunyai dua kemungkinan: Pertama: Dengan digerak-gerakkan. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada o rang yang berdiri untuk duduk, maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan ge rakan tangan dari atas ke bawah. Kedua: Dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah ( perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih Al-Bukhory?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohi h Al-Bukhory yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya. Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastika n bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat denga

 

n tidak digerak-gerakkan. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara : Pertama: Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan bahwa Ash Sholatu Tau qifiyah (sholat itu adalah tauqifiyah), maksudnya adalah tata cara sholat itu di laksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka hal ini menunjukk an bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk, asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bah wa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan. Kedua: Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0. dan Imam Muslim No.538 : ”Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan” Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tida k ada dalilnya dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang shohih. Kesimpulan: Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak d igerak-gerakkan. Wallahu A’lam. Lihat pembahasan di atas dalam :• Kitab Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu’ Fi T asyahud Wa Tsubutil Isyarah , Al-Muhalla karya Ibnu Hazm 4/151, Subulus Salam 1/ 189, Nailul Authar, ‘Aunul Ma’bud 3/196, Tuhfah Al-Ahwadzy 2/160. • Madzhab Hanafiyah lihat dalam: Kifayah Ath-Tholib 1/357.• Madzhab Malikiyah: Ats-Tsamar Ad Dany 1/12 7, Hasyiah Al-Adawy 1/356, Al-Fawakih Ad-Dawany 1/192.• Madzhab Syafiiyyah dalam: Hilyah Al-Ulama 2/105, Raudhah Ath-Tholibin 1/262, Al-Majmu‘ 3/416-417, Al-Iqna‘ 1/1 45, Hasyiah Al-Bujairamy 1/218, Mughny Al-Muht aj 1/173.• Madzhab Hambaliyah lihat dalam: Al-Mubdi’ 1/162, Al-Furu‘ 1/386, Al-Inshaf 2/76, Kasyful Qon a 1/356-357. Pertanyaan Kedua: Dikalangan masyarakat ada sebagian orang yang berisyarat dengan jari telunjuknya pada saat duduk antara dua sujud sebagaimana berisyarat dengan jari telunjuk pa da saat tasyahud, apakah hal tersebut ada tuntunan dalilnya dari hadits Rasulull ah Shalallahu ‘alaihi wasalam ?. Jawab: Ada hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut, yaitu hadits Wa il bin Hujr ya ng berbunyi :“Saya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam takbir lalu beliau mengan gkat tangannya ketika takbir, yakni beliau memulai sholat dan beliau mengangkat kedua tangannya ketika beliau takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika belia u ruku’ dan mengangkat tangannya ketika beliau berkata : “Samiallahu liman hamidah” da n beliau sujud kemudian meletakkan tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau kemudian beliau sujud … kemudian beliau duduk membaringkan kaki kirinya kemudian beliau meletakkan kedua tangannya, yang kiri di atas lututnya yang kiri dan mele takkan tangan kanannya di atas paha kanannya kemudian beliau berisyarat dengan j ari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah kemudian beliau meng genggam seluruh jari-jarinya kemudian beliau sujud …”. Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Razza q dalam Al-Mushonnaf 2/68 no.2522, Ahmad dalam Musnad nya 4/317 dan lafadz di atas adalah lafadz beliau, Ath-Thobarany 2 2/34 no.81 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/429-430. Semua meriwayatkan dari ‘Abdur Razzaq dari Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa il bin Hujr. Hadits ini merupakan kunci penyelesaian dalam permasalahan ini, apabila hadits ini shohih (bisa diterima) maka berisyarat deng an telunjuk dalam duduk antara dua sujud adalah perkara yang disyariatkan tapi s ebaliknya bila hadits ini lemah maka artinya perkara tersebut tidaklah disyariat kan, karena itulah kami mengajak untuk melihat derajat hadits ini. Derajat Hadits Berisyarat Saat Duduk Diantara Dua Sujud Telah dijelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh ‘ Ashim bin Kulaib dari ayahny a dari Wa il bin Hujr. Dan yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib ada 23 orang r awi dimana 23 orang rawi ini sepakat menyebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi was alam berisyarat dengan jari telunjuknya, akan tetapi ada tiga bentuk riwayat yan

 

 

 

g menjelaskan tempat berisyarat dengan telunjuk pada riwayat mereka : 1.Ada riwayat yang menjelaskan bahwa tempat berisyarat hanya ketika tasyahud dan hal ini tersebut dalam riwayat Musa bin Abi Kats ir dan sebagian riwayat Syu’bah bin Hajjaj, Ibnu ‘Uyainah dan ‘Abdullah bin Idris. 2.Riwayat yang tidak menjelaskan dimana letak berisyarat dengan telunjuk tersebu t tapi Zhohirnya hal tersebut dalam tasyahud. Bisa dilihat dalam riwayat Bisyr b in Mufadhdhal, Sufy an Ats-Tsaury, ‘Abdul Wahid bin Ziyad, Zuhair bin Mu’awiyah, Kha lid bin ‘Abdullah Ath-Thahhan, Muhammad bin Fudhail, Sallam bin Sulaim, Abu ‘Awanah, Ghailan bin J ami’, Qois bin Rabi’, Musa bin Abi Katsir. 3.Dua riwayat di atas diselisihi oleh ‘Abdur Razzaq dalam periwayatannya dari Sufy an Ats-Tsaury dari ‘Ashim dari ayahnya dari Wa il bin Hujr kemudian menyebutkan is yarat dengan jari telunjuk pada duduk antara dua sujud. Dari uraian di atas sangat jelas bahwa riwayat ‘Abdur Razz aq dari Sufyan Ats-Tsau ry yang menjelaskan bentuk ketiga. Telah meyelisihi riwayat 22 orang rawi yang m enjelaskan bentuk pertama maupun kedua. Maka bisa dipastikan bahwa riwayat ‘Abdur Razzaq terdapat kesalahan yang menyebabkan penyebutan berisyarat dengan telunjuk ketika duduk antara dua sujud dianggap syadz, sehingga riwayat ini tidak bisa d iterima. Kesalahan yang terjadi dalam hadits ini mungkin berasal dari Sufyan Ats -Tsaury dan mungkin dari ‘Abdur Razzaq. Akan tetapi, meletakkan kesalahan pada ‘Abdur Razzaq adalah lebih beralasan karena dua hal : Pertama: ‘Abdur Razz aq walaupun seorang rawi tsiqoh (terpercaya) dan hafidz (seor ang penghafal), tetapi beliau mempunyai awham (kesalahan-kesalahan) yang menyeba bkan sebagian para ulama mengkritik beliau. Kedua: ‘Abdur Razzaq telah menyelisihi dua rawi dari Sufyan Ats-Tsaury yang kedua rawi meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsaury dan menyebutkan isyarat pada duduk anta ra dua sujud. Dua rawi tersebut adalah : 1.Muhammad bin Yusuf Al-Firy aby, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 3/35 no.1 264 dan Al-Kubro 1/374 no. 1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no.78. 2.‘Abdullah bin Walid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318. Riwayat dua orang rawi ini khususnya Al-Firy aby yang termasuk orang yang paling hafal riwayat-riwayat Sufyan Ats-Tsaury, semakin menguatkan bahwa riwayat ‘Abdur Razzaq adalah riwayat syadz. Maka jelaslah lemahnya riwayat ini yang dijadikan s ebagai dalil disyariatkannya berisyarat dengan telunjuk pada duduk antara dua su jud. Karena itulah riwayat ini telah dilemahkan oleh dua orang ulama besar ahli hadits zaman ini yaitu Syaikh Al-Albany -rahimahullahu ta’ala- dan Syaikh Muqbil b in Hady Al-Wadi’iy -rahimahullahu ta’ala-. Kesimpulan : Tidak disyariatkan mengangkat telunjuk pada saat duduk antara dua s ujud karena hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah hadits syadz (lemah). Lihat : Al-Bisyarah hal.75-77 dan Tamamul Minnah hal.214-216. Pertanyaan Ketiga : Apakah ada tuntunan dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ketentuan b ahwa ketika disebutkan(), jari telunjuk mulai diangkat pada ucapan () (tepatnya di ucapan huruf hamzah) ?. Jawab: Madzhab kebanyakan orang-orang Syafiiyyah menyatakan bahwa disunnahkan berisyara t dengan jari telunjuk kemudian diangkat jari telunjuk tersebut ketika mencapai kata hamzah) dari kalimat (). Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Ma jmu‘ 3/434 dan dalam Minhaj Ath-Tholibin hal.12.Dan hal yang sama disebutkan oleh Imam Ash-Shon’ any dalam Subulus Salam 1/362 dan beliau tambahkan bahwa hal terseb ut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy. Namun tidak ada ke raguan bahwa yang disyariatkan dalam hal ini adalah mengangkat jari telunjuk dar i awal tasyahud hingga akhir. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih yang sang at banyak jumlahnya yang telah tersebut sebagiannya pada jawaban pertanyaan no.1 yang menjelaskan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam ketika duduk tasyahud beli au menggenggam jari-jari beliau lalu membuat lingkaran kemudian mengangkat telun juknya, maka dzohir hadits ini menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud sampai akhir. Adapun bantahan terahadap madzhab orang-orang Syafiiyyah maka jawabannya adalah

 

sebagai berikut : 1.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy itu adalah hadits Khaf af bin Im a‘ dan di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang tidak dikenal maka ini secara oto matis menyebabkan hadits ini lemah. 2.Hal yang telah disebutkan bahwa dzohir hadits-hadits yang shohih menunjukkan b ahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam mengangkat jari telunjuk dari awal hingga ak hir menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy tersebut sehingga ini s emakin mempertegas lemahnya riwayat Al-Baihaqy tersebut. 3.Orang-orang Syafiiyyah sendiri tidak sepakat tentang sunnahnya mengangkat jari telunjuk ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat (), karena Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu‘ 3/434 menukil dari Ar-Rafi’y (salah seorang Imam besar dikalangan S yafiiyyah) yang menyatakan bahwa tempat mengangkat jari telunjuk adalah pada sel uruh tasyahud dari awal hingga akhir. 4.Hal yang disebutkan oleh orang Syafiiyyah ini tidak disebutkan di dalam madzha b para ulama yang lain. Ini menunjukkan bahwa yang dipakai oleh para ulama adala h mengangkat jari telunjuk pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir. Kesimpulan: Jadi, yang benar di dalam masalah ini adalah bahwa jari telunjuk disyariatkan un tuk diangkat dari awal tasyahud hingga akhir dan tidak mengangkatnya nanti ketik a mencapai huruf hamzah () dari kalimat () . Wallahu A’lam.. + Catatan kesimpulan diatas: Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa il bi n Hujr. Menyelisihi dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafad z yuharrikuha (digerak-gerakkan) . Dari Uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za’idah bin Qudamah yang menyebutkan la fadz Yuharrikuha (digerak-gerakan) adalah SYADZ. Kesimpulan 1: Penyebutan lafadz yuharrikuha (Jari telunjuk digerak-gerakan) dala m hadits Wa’il bin Hujr adalah LEMAH tidak bisa dipakai berhujjah. Wallahu A’lam. Kesimpulan 2: Tersimpul dari pembahasan diatas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah TIDAK DIGERAK-GERAKAN. Wallahu A’lam. Diikutip dari blog akh antosalafy: http://antosalafy.wordpress.com dinukil dari http://www.an-nashihah.com, Penulis : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain, Judul asl i: Kedudukan Hadits Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud, dengan sedikit t ambahan kesimpulan. Baca risalah terkait ini: Hadits Al-’Ajn (Dho’if), Mengepalkan Kedua Tangan Ketika Akan Berdiri Dalam Sholat Diarsipkan pada: http://qurandansunnah.wordpress.com/ Like this: Suka One blogger likes this post. Tempat Meletakkan Kedua Tangan Saat Berdiri Shalat – Bersedekap Posted by Admin pada 17/04/2010 Pertanyaan Dalam praktik shalat, ketika berdiri, ada sebagian orang yang meletakkan kedua t angannya di atas dada, pusar, dan lain-lain. Bagaimanakah tuntunan yang sebenarn ya dalam masalah ini? Jawaban Telah tetap tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dalam hadi ts-hadits yang sangat banyak, bahwa pada saat berdiri dalam shalat, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri, dan ini merupakan pendapat jumhur tabi’in dan keb anyakan ahli fiqih, bahkan Imam At-Tirmidzy berkata, “Dan amalan di atas ini adala h amalan di kalangan ulama dari para shahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah me reka ….” Lihat Sunan -nya 2/32. Akan tetapi, ada perbedaan pendapat tentang tempat meletakkan kedua tangan (posi si ketika tangan kanan di atas tangan kiri) ini di kalangan ulama, dan inilah ya ng menjadi pembahasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Berikut ini pendapat para ulama dalam masalah ini, diringkas dari buku La Jadida Fi Ahkam Ash-Shalah karya Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid Pendapat Pertama , kedua tangan diletakkan pada an-nahr. An-nahr adalah anggota

 

badan antara di atas dada dan di bawah leher. Seekor onta yang akan disembelih, maka disembelih pada nahr-nya dengan cara ditusuk dengan ujung pisau. Itulah seb abnya hari ke-10 Dzulhijjah, yaitu hari raya ‘Idul Adha (Qurban), disebut juga yau mun nahr -hari An-Nahr (hari penyembelihan)-. Pendapat Kedua , kedua tangan diletakkan di atas dada. Ini adalah pendapat Al-Im am Asy-Syafi’iy pada salah satu riwayat darinya, pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzy dan Asy-Syaukany, serta merupakan amalan Ishaq bin Rahawaih. Pen dapat ini dikuatkan oleh Syaikh Al-Albany dalam kitab Ahkamul Jana iz dan Sifat Shalat Nabi . Pendapat Ketiga ,kedua tangan diletakkan di antara dada dan pusar (lambung/perut ). Pendapat ini adalah sebuah riwayat pada madzhab Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad, s ebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Authar . Pendapat i ni dikuatkan oleh Al-Imam Nawawy dalam Madzhab Asy-Syafi’i, dan merupakan pendapat Sa’id bin Jubair dan Daud Azh-Zhahiry sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam An-Nawa wy dalam Al-Majmu’ (3/313). Pendapat Keempat , kedua tangan diletakkan di atas pusar. Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dinukil dari Ali bin Abi Thalib dan Sa’id bin Jubair. Wajibnya Membaca Al-Fatihah di Belakang Imam Posted by Admin pada 07/04/2010 Wajibnya Membaca Al-Fatihah Di Belakang Imam Pendapat pertama: Asy Syafi’i, Al Auza’i, Abu Tsur, Makhul dan Ibnu ‘Auf berpendapat wajibnya membaca Al -Fatihah di belakang imam pada shalat yang sirr maupun jarh, berdasarkan keumuma n hadits ‘Ubaidah bin Ash-Shamit. Dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassal am bersabda : “Barangkali kalian membaca dibelakang imam kalian” kami menjawab “Benar, wahai Rasulul lah”. Beliau bersabda: “Jangan kalian lakukan, kecuali jika salah seorang di antara kalian membaca Al Fatihah. Karena tidak ada shalat bagi yang orang yang tidak me mbacanya“ Pendapat Kedua: Ats-Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah berpendapat bahwa makmum tidak membaca sedikitpun dib elakang imam, mereka berdalil dengan hadits :” Barang siapa yang mengikuti imam, m aka bacaan imam adalah bacaannya ” Hadits ini Dla’if. Pendapat ketiga adalah pendapat pendapat al Imam Ahmad, Malik, Ishaq, Ibnul Mubarak dan sekelomp ok salaf dan pendapat ini yang dipegang oleh Al ‘Allamah Al -Albani rahimahumullah . Mereka berkata: “Diam di belakang imam dan tidak membaca sesuatupun“ Mereka berdalil dengan hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata: Ras ulullah bersabda: “Hanya imam itu dijadikan untuk diikuti kalau dia bertakbir, maka bertabirlah, Jik a dia membaca maka diam diamlah“ Bantahan: Bahwa Lafazh “Maka diamlah” adalah Syadz (Ganjil) yang telah dikritik oleh Ad Daraqu thni. Ad Daraquthni disepakati oleh An Nawawi serta disepakati oleh Syaikhuna Al Wadi’i sebagaimana dalam Al Ilzamat wat Tatabbu’. Mereka berdalil pula dengan hadits dari Abu Hurairah, didalamnya disebutkan: bah wa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada seseorang yang ikut membaca k etika beliau membaca: “Jangan engkau membaca” ini adalah hadits Dla’if. Dalam sanadnya ada ‘Imarah, dia majhulul hal dan di dla’ifkan oleh Al Baihaqi, An Na wawi, dan sekelompok huffazh. Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama, bahwa wajibnya membaca Al Fatihah p ada sholat yang sirriyyah dan jahriyyah di belakang imam karena keumuman dalil: ” Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul kitab (Surat Al-Fatihah ) “. (Lihat Al Majmu’ oleh An Nawawi (3/364), Al Muqhni (1/528), Al Muhalla no. 36, Al Ausath (3/101-111). Sumber: disalin dari Sifat Shalat Nabi hal 101-103 penulis: Walid bin Abdil Wadu d Al Yamani Al-Atsari Penerbit Pustaka Ar Rayyan Baca Risalah terkait ini: 0.Bolehkah Menarik Seseorang dari Shaff Untuk Sholat Bersamanya?

 

1.Janganlah Shaf Sholat Terputus Oleh Tiang Mesjid 2.WAJIBNYA Meluruskan Shaf Dalam Shalat 3.Jangan Engkau Shalat Kecuali Menghadap Sutrah atau Pembatas 4.8 (Delapan) Hal Wanita Sholat Berjam’ah di Masjid 5.KOREKSI SHOLAT-SHOLAT KITA Like this: Suka Be the first to like this post. Entri ini dituliskan pada 07/04/2010 pada 2:29 pm dan disimpan dalam Kajian hadi ts, Koreksi Shalat Kita, Nasehat. Bertanda: bacaan sujud sahwi tilawah syukur, b olehnya wanita sholat berjamaah, fatihah saat sholat jahr atau sirr, jumlah raka at sholat rawatib, membaca Fatihah di Belakang Imam, sholat sholat sunnah, wajib nya membaca surat al fatihah. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri. Satu Tanggapan to “Wajibnya Membaca Al-Fatihah di Belakang Imam” 1. uni berkata 09/04/2010 pada 1:07 am assalamu’alaikum sahabat, terimakasih atas penjabarannya Balas Pendapat Kelima ,kedua tangan diletakkan di bawah pusar. Ini adalah pendapat mad zhab Al-Hanafiyah bagi laki-laki, Asy-Syafi’iy dalam sebuah riwayat, Ahmad, Ats-Ts aury dan Ishaq Pendapat Keenam ,kedua tangan bebas diletakkan dimana saja: di atas pusar, di ba wahnya, atau di atas dada. Imam Ahmad ditanya, “Dimana seseorang meletakkan tangannya apabila ia shalat?” Belia u menjawab, “Di atas atau di bawah pusar.” Semua itu ada keluasan menurut Imam Ahmad diletakkan di atas pusar, sebelumnya atau di bawahnya. Lihat Bada i’ul Fawa id 3/ 91 karya Ibnul Qayyim. Berkata Imam Ibnul Mundzir sebagaimana dalam NailulAuthar , “Tidak ada sesuatu pun yang tsabit (baca: shahih) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka ia diberi pilihan.” Perkataan ini serupa dengan perkataan Ibnul Qayyim sebagaiman a yang dinukil dalam Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’ (2/21). Pendapat ini merupakan pendapat para ulama di kalangan shahabat, tabi’in dan setel ahnya. Demikian dinukil oleh Imam At-Tirmidzy. Ibnu Qasim, dalam Hasyiah Ar-Raudh Al-Murbi’ (2/21), menisbahkan pendapat ini kepa da Imam Malik. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hady A l-Wadi’iy rahimahullah karena tidak ada hadits yang shahih tentang penempatan kedu a tangan saat berdiri melaksanakan shalat. Dalil-Dalil Setiap Pendapat dan Pembahasannya Dalil Pendapat Pertama Dalil yang dipakai oleh pendapat ini adalah atsar yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abb as radhiyallahu ‘anhu tentang tafsir firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” [ Al-Kautsar: 2 ] Beliau(?) berkata (menafsirkan ayat di atas -pent.), “Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat pada an-nahr.” (Diriwayatk an oleh Al-Baihaqy 2/31) Pembahasan Riwayat ini lemah karena pada sanadnya terdapat Ruh bin Al-Musayyab Al-Kalby AlBashry yang dikatakan oleh Ibnu Hibban bahwa ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dan tidak halal meriwayatkan hadits darinya. Lihat Al-Jauhar An-Naqy . Dalil Pendapat Kedua Dalil pertama , hadits Qabishah bin Hulb Ath-Tha’iy dari bapaknya, Hulb radhiyalla hu ‘anhu, dia berkata, “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meletakkan ini di at

 

 

as ini, di atas dadanya -dan yahya (salah seorang perawi -pent.) mencontohkan ta ngan kanan di atas pergelangan tangan kiri-.” Pembahasan Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad -nya (5/226) dan Ibnul Ja uzy dalam At-Tahqiq no. 434 (dan lafazh hadits baginya) dari jalan Yahya bin Sa’id Al-Qaththan, dari Sufyan Ats-Tsaury, dari Simak bin Harb, dari Qabishah bin Hul b. Hadits ini diriwayatkan dari Hulb Ath-Tha’iy oleh anaknya, Qabishah, dan dari Qabi shah hanya diriwayatkan oleh Simak bin Harb. Selanjutnya, dari Simak bin Harb di riwayatkan oleh 6 orang, yaitu: 1. Sufyan Ats-Tsaury, akan disebutkan takhrijnya. 2. Abul Ahwash, diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no. 252, Ibnu Majah no. 809, Ahmad 5/227, ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawa id Al-Musnad 5/227, Ath-Thabarany 22/165/42 4, Al-Baghawy 3/31, dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 435. 3. Syu’bah bin Al-Hajjaj, diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Ahad Wal Matsan y no. 2495 dan Ath-Thabarany 22/163/416. 4. Syarik bin ‘Abdillah, diriwayatkan oleh Ahmad 5/226, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al-Aha d Wal Matsany no. 2493, Ibnu Qani’ dalam Mu’jam Ash-Shahabah 3/198, Ath-Thabarany 22 /16/426, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 20/73. 5. Asbath bin Nashr, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/422. 6. Hafsh bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/423. 7. Za idah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ibnu Qani’ dalam Mu’jam Ash-Shahabah 3/198 . Dari ketujuh orang ini, tidak ada yang meriwayatkan lafazh “Meletakkan ini atas ya ng ini, di atas dadanya”, kecuali riwayat Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dari Sufyan At s-Tsaury, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad 5/226 dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 434. Kemudian, Yahya bin Sa’id Al-Qaththan bersendirian dalam meriwayatkan lafazh terse but dan menyelisihi 5 rawi tsiqah lainnya dari Sufyan Ats-Tsaury, yang kelima or ang tersebut meriwayatkan hadits ini tanpa tambahan lafazh “Meletakkannya di atas dada”. Kelima rawi tersebut adalah: * Waki’ bin Jarrah, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 1/342/3934, Ahmad 5/226, 22 7, Ibnu Abi ‘Ashim no. 2494, Ad-Daraquthny 1/285, Al-Baihaqy 2/29, Al-Baghawy 3/32 , dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 20/74. * ‘Abdurrahman bin Mahdy, diriwayatkan oleh Ad-Daraquthny 1/285. * ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 2/240/3207 dan dari jalannya Ath-Thabarany 22/16 3/415 * Muhammad bin Katsir, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/165/421. * Al-Husain bin Hafsh, diriwayatkan oleh Al-Baihaqy 2/295. Hadits Qabishah adalah hadits yang hasan dari seluruh jalan-jalannya. Dihasankan oleh At-Tirmidzy 2/32 dan diakui kehasanannya oleh An-Nawawy dalam Al-Majmu’ 2/31 2. Penyebab hasannya adalah Qabishah bin Hulb, meskipun mendapatkan tautsiq dari se bagian ulama, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Simak bin Harb. Berkat a Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, “Maqbul,” yang artinya riwayatnya bisa diterima kal au ada pendukungnya, kalau tidak ada maka riwayatnya lemah. Riwayat yang hasan tersebut adalah tanpa tambahan lafazh “Meletakkan tangannya di atas dada”. Jadi jelaslah, bahwa Yahya bin Sa’id bersendirian dalam meriwayatkan lafazh “meletak kan ini atas yang ini, di atas dadanya”, dan menyelisihi 6 orang lainnya dari Sufy an Ats-Tsaury, dan menyelisihi Ashab (baca: murid-murid) Simak bin Harb yang lai n, seperti Za idah bin Qudamah, Syu’bah, Abul Ahwash, Asbath bin Nashr, Syarik bin ‘Abdillah, dan Hafsh bin Jami’. Maka jelaslah bahwa terdapat kesalahan pada riwayat tersebut, sehingga dihukumi sebagai riwayat yang syadz ‘ganjil’ atau mudraj, tetapi kami tidak bisa menentukan dari mana asal dan kepada siapa ditumpukan kesalahan ini. Wallahu a’lam. Dalil kedua , Hadits Wa il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya.”

 

 

 

 

Pembahasan Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam Shahih -nya 1/243 no. 479 dari jalan Abu Musa (Al-‘Anazy), dari Mu ammal (bin Isma’il), dari Sufyan Ats-Tsaury , dari ‘Ashim bin Kulaib, dari bapaknya, dari Wa il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu. Riwayat ini adalah riwayat yang syadz atau mungkar karena Mu ammal bin Isma’il mer iwayatkannya dengan tambahan lafazh “di atas dada”, dan dia menyelisihi 2 orang sela innya yang meriwayatkan dari Sufyan, yaitu: 1. ‘Abdullah bin Al-Walid (diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/318). 2. Muhammad bin Yusuf Al-Firiyaby ( Al-Mu’jamul Kabir /Ath-Thabarany no. 78). Juga meyelisihi 10 orang yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib. Kesepuluh orang tersebut adalah: 1. Bisyr bin Al-Mufadhdhal, diriwayatkan oleh Imam Abu Daud 1/456 no. 726, 1/578 no. 957 dari jalan Musaddad, darinya (Bisyr bin Al-Mufadhdhal), dan An-Nasa i 3 /35 hadits no. 1265 dari jalan Isma’il bin Mas’ud, darinya. 2. ‘Abdullah bin Idris, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih -nya ( Al-Ihsan 3/308/hadits no. 1936) dari jalan Muhammad bin ‘Umar bin Yusuf, dari Sallam bin J unadah, darinya (‘Abdullah bin Idris). 3. ‘Abdul Wahid bin Ziyad, diriwayatkan oleh Ahmad 4/316 dari jalan Yunus bin Muha mmad, darinya, Al-Baihaqy 2/72 dari jalan Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, dari Ahmad bin ‘Ubeid Ash-Shaffar, dari ‘Utsman bin ‘Umar Adh-Dhabby, dari Musaddad, darin ya. 4. Zuhair bin Mu’awiyah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan Aswad bin ‘Amir, d arinya, dan Ath-Thabarany dalam Al-Mu’jamul Kabir 22/26/84 dari jalan ‘Ali bin ‘Abdul ‘A ziz, dari Abu Ghassan Malik bin Isma’il, darinya. 5. Khalid bin Abdullah Ath-Thahhan, diriwayatkan oleh Al Baihaqy 2/131 dari 2 ja lan, yaitu dari jalan Abu Sa’id Muhammad bin Ya’qub Ats-Tsaqafy, dari Muhammad bin A yyub, dari Musaddad, darinya, dan dari jalan Abu ‘Abdillah Al-Hafizh, dari ‘Ali bin Himsyadz, dari Muhammad bin Ayyub, dan seterusnya seperti jalan di atas. 6. Sallam bin Sulaim Abul Ahwash, diriwayatkan oleh Abu Daud Ath-Thayalisy di da lam Musnad -nya hal 137/hadits 1060 darinya, dan Ath-Thabarany ( Al-Mu’jamul Kabir 22/34/80) dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya. 7. Abu ‘Awanah, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam Al-Mu’jamul Kabir 22/34/90 dar i 2 jalan: dari jalan ‘Ali bin ‘Abdil ‘Aziz, dari Hajjaj bin Minhal, darinya, dan dari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya. 8. Qais Ar-Rabi’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany dalam Al-Mu’jamul Kabir 22/34/79 d ari jalan Al-Miqdam bin Daud, dari Asad bin Musa, darinya. 9. Ghailan bin Jami’, diriwayatkan oleh Ath-Thabarany 22/34/88 dari jalan Al-Hasan bin ‘Alil Al-‘Anazy dan Muhammad bin Yahya bin Mandah Al-Ashbahany dari Abu Kuraib, dari Yahya bin Ya’la, dari ayahnya, darinya. 10. Zaidah bin Qudamah, diriwayatkan oleh Ahmad 4/318 dari jalan ‘Abdushshamad, da rinya. Mu ammal bin Isma’il sendiri adalah rawi yang dicela hafalannya. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar, dalam Taqribut Tahdzib ,memberikan kesimpulan, “Shaduqun Sayyi ul Hif zh,” sementara dia(?) sendiri telah menyelisihi ‘Abdul Wahid dan Muhammad bin Yusuf Al-Firiyaby pada periwayatannya dari Sufyan Ats-Tsaury, serta menyelisihi 10 ora ng rawi dari ‘Ashim bin Kulaib lainnya yang sebagian besarnya adalah tsiqah dan se muanya tidak ada yang meriwayatkan lafazh “pada dadanya”. Ada jalan lain bagi hadits Wa il bin Hujr ini, yaitu diriwayatkan oleh Al-Baihaq y 2/30 dari jalan Muhammad bin Hujr Al-Hadhramy, dari Sa’id bin ‘Abdil Jabbar bin Wa il, dari ayahnya, dari ibunya, dari Wa il bin Hujr, tetapi terdapat beberapa ke lemahan di dalamnya: * Muhammad bin Hujr lemah haditsnya, bahkan Imam Adz-Dzahaby, dalam Mizanul I’tida l ,mengatakan, “Lahu manakir ‘meriwayatkan hadits-hadits mungkar’.” Lihat juga Lisanul M izan . * Sa’id bin ‘Abdul Jabbar, dalam At-Taqrib ,disebutkan bahwa ia adalah rawi dha’if. * Ibu ‘Abdul Jabbar. Berkata Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy , “Saya tidak ta hu keadaan dan namanya.” Dalil ketiga , hadits Thawus bin Kaisan secara mursal, dia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau meletakkan tangan k

 

 

 

 

 

 

 

 

 

anannya di atas tangan kirinya kemudian mengeratkannya di atas dadanya,dan belia u dalam keadaan shalat.” Pembahasan Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud di dalam kitabnya, As-Sunan , no. 759 dan d alam Al-Marasil hal. 85 dari jalan Abu Taubah, dari Al-Haitsam bin Humaid, dari Tsaur bin Zaid, dari Sulaiman bin Musa, dari Thawus. Sanadnya shahih kepada Thaw us, tetapi haditsnya mursal, dan mursal adalah jenis hadits yang lemah. Dalil keempat , Hadits ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah Ta’ala , “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah.” [ Al-Kautsar: 2 ] Beliau berkata, “Beliau meletakkan tangan kanannya di atas sa’id ‘ setengah jarak pertama dari pergela ngan ke siku ’ tangan kirinya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas dadanya di dalam shalat.” Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir -nya 30/326, Al-Bukhary dalam Tarikh -nya 3/2/437, dan Al-Baihaqy 2/30. Pembahasan Berkata Ibnu Katsir dalam Tafsir -nya, “(Atsar) ini, (yang) diriwayatkan dari ‘Ali b in Abi Thalib, tidak shahih (lemah-pent.).” Berkata Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy , “Di dalam sanad dan matannya ada kegoncangan.” Berikut rincian kelemahan dan kegoncangan atsar ini. 1. Atsar ini telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/ 343, Ad-Daraquthny 1/285, Al-Hakim 2/586, Al-Baihaqy 2/29, Al-Maqdasy dalam Al-M ukhtarah no. 673, dan Al-Khatib dalam Mudhih Auham Al-Jama’ Wa At-Tafriq 2/340. Se muanya tidak ada yang menyebutkan kalimat “di atas dada”, bahkan dalam riwayat Ibnu ‘A bdil Barr, dalam At-Tamhid ,disebutkandengan lafazh “di bawah pusar”. Lihat pula AlJarh Wat Ta’dil 6/313. 2. Perputaran atsar ini ada pada seorang rawi yang bernama ‘Ashim bin Al-‘Ujaj Al-Ja hdary, yang dari biografinya bisa disimpulkan bahwa ia adalah seorang rawi yang maqbul. Baca Mizanul I’tidal dan Lisanul Mizan . 3. ‘Ashim ini telah goncang dalam meriwayatkan hadits ini. Kadang dia meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Zhahir, kadang dari ‘Uqbah bin Zhabyan, kadang dari ‘Uqbah bin Shahba n, dan kadang dari ayahnya, dari ‘Uqbah bin Zhabyan. Baca ‘ Ilal Ad-Daraquthny 4/9899. Maka atsar ini adalah lemah. Ibnu Katsir juga menyebutkan dalam Tafsir -nya bahw a atsar ini menyelisihi jumhur mufassirin. Wallahu a’lam. Kesimpulan Seluruh hadits yang menunjukkan bahwa kedua tangan diletakkan pada dada ketika b erdiri dalam shalat adalah lemah dari seluruh jalan-jalannya dan tidak bisa sali ng menguatkan. Wallahu a’lam. Dalil-Dalil Pendapat Ketiga, Keempat dan Kelima Dalil-dalil ketiga pendapat ini mungkin bisa kembali kepada dalil-dalil yang aka n disebutkan, namun perbedaan dalam memetik hukum, memandang dalil, dan mengkomp romikannya dengan dalil yang lain menyebabkan terlihatnya persilangan dari ketig a pendapat tersebut. Berikut ini uraian dalil-dalilnya. Dalil pertama , dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sesungguhnya termasuk Sunnah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di ata s telapak tangan di bawah pusar.” Diriwayatkan oleh Ahmad 1/110, Abu Daud no. 756, Ibnu Abi Syaibah 1/343/3945, Ad -Daraquthny 1/286, Al-Maqdasy no. 771,772, dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid 20 /77. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity yang pa ra ulama telah sepakat untuk melemahkannya sebagaimana dalam Nashbur Rayah 1/314 . Dalil kedua ,dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar di dalam shalat t ermasuk sunnah.”

Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 758. Dalam sanadnya juga terdapat ‘Abdurrahman bin Ishak Al-Wasity. Dalil ketiga , dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Termasuk akhlak-akhlak kenabian, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di b awah pusar.” Ibnu Hazm menyebutkannya secara mu’allaq ‘tanpa sanad’ dalam Al-Muhalla 4/157. Kesimpulan Pembahasan Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa seluruh hadits-hadits yang menerangkan t entang penempatan (posisi) kedua tangan pada anggota badan dalam shalat adalah h adits-hadits yang lemah. Dengan ini, bisa disimpulkan bahwa pendapat yang kuat d alam permasalahan ini adalah pendapat keenam, yaitu bisa diletakkan dimana saja: di dada, di pusar, di bawah pusar, atau antara dada dan pusar. Wallahu a’lam. Sumber: http://an-nashihah.com/?p=89 Oleh Mustamin Musaruddin, Lc. Judul: Tempat Meletakkan Kedua Tangan Saat Berdiri Shalat

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->