Pengertian Ibadah Dalam Islam

PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas A.

Definisi Ibadah Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah: [1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para RasulNya. [2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. [3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap. Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman: “Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58] Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkanNya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah). B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan). Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedang-kan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin: “Artinya : Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]

“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. dan raja’. “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja. maka ia adalah zindiq [3].” [Al-Anbiya’: 90] Sebagian Salaf berkata [2].” C. siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf. bebas dari syirik besar dan kecil. “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah.” . maka ia adalah haruriy [5]. “Artinya : Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami. Ittiba’. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.“Artinya : Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [6] Agar dapat diterima. sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah. karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. dan ia berbuat kebajikan. ibadah disyaratkan harus benar. karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul. mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. khauf.” [Al-Baqarah: 112] Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam Syaikhul Islam mengatakan. dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’at-kan. maka amalan tersebut tertolak. [b]. tidak dengan bid’ah.” [Al-Baqarah: 165] “Artinya : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ikhlas karena Allah semata. maka ia adalah murji’[4]. Syarat Diterimanya Ibadah Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat: [a]. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah. maka ia adalah mukmin muwahhid.

[3]. Karenanyalah Allah men-ciptakan manusia. Jika demikian halnya. maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Muhammad Rasulullah. “Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam ber-ibadah kepada Rabb-nya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah. bahwasanya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’. dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri. Maka.” [Al-Kahfi: 110] Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah. D. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan.” [Az-Zumar: 2] [2]. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. nis-caya akan Aku perkenankan bagimu.Sebagaimana Allah berfirman. mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Keutamaan Ibadah Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. [4]. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. [7] Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?” Jawabnya adalah sebagai berikut: [1]. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. Pada yang kedua. padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Pada yang pertama. “Artinya : Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela. maka yang terjadi di dalam ke-hidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi ke-hidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan. "Artinya : Dan Rabb-mu berfirman. kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka. berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang).’” [Al-Mu’min: 60] . orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8] Maka. ‘Berdo’alah kepada-Ku.

harap dan rasa cemas kepada mereka. bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.[9] Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan me-ringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit. Maka dari itu. Termasuk keutamaannya juga. keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya. fakir (butuh) kepada Allah. tidak akan lama. kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb. demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Maka. kelezatan. hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya. sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain. Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya. bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat mem-bebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman. semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata. “Tidak ada kebahagiaan. bahkan sangat darurat membutuhkannya. karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya. ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung. dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah. Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya.Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia. ketergantungan. Maka dari itu. barangsiapa yang meng-hendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja. maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu. kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih . dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman. dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah.

Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas. masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka. [Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih. Cetakan ke 2] .keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001.

teratur dan bahagia serta akan timbul hal-hal yang tidak didinginkan dalam masyarakat. Tujuh orang karena nasab (keturunan). Namun karena adanya beberapa kondisi yang bermacam . baik secara ekonomis maupun secara psikologis. Empat orang dari sebab perkawinan.Sabda rasulullah SAW yang artinya :“ Dari Abdullah bin Mas’ud. Pengertian dan Hukum nikah Nikah yaitu suatu akad yang menghalalkan hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim dan dapat menimbulkan adanya hak dan kewajiban di antara keduanya. dan (5) haram. manusia tidak dapat mengekang hawa nafsunya sehingga timbul pemerkosaan dan bencana di masyarakat. sebapak dan seibu sajad) saudara dari bapake) saudara dari ibuf) anak dari saudara laki-laki dan seterusnyag) anak dari saudara perempuan dan seterusnya 1. Jaiz yaitu merupakan asal hukumnya. bapak kakek dan seterusnya b) anak. Tanpa pernikahan tidak akan terbentuk rumah tangga yang baik. yaitu a) ibu yang menyusuib) saudara sepersusuan 1. yaitu a) ibu. Hai pemuda-pemuda barang siapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin. nikah merupakan salah satu asas pokok hidup yang utama dalam pergaulan masyarakat. HUKUM DAN DALILNYA Pada dasarnya Islam sangat menganjurkan kepada umatnya yang sudah mampu untuk menikah. saling kenal mengenal. Dalam hal ini ada empat belas orang sebagai berikut. nenek. Pernikaha merupakan suatu hal yang sangat penting dan mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan.” (HR Muttafaqu ‘Alaih)MuhrimMuhrim ialah orang yang tidak halal dinikahi. Misalnya. (2) wajib. Sunnah yaitu bagi yang sudah memiliki kemampuan. sayang-menyayangi antara suami dan istri. hendaklah dia kawin karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Wajib yaitu bagi yang sudah memiliki kemampuan dan apabila tidak menikah bisa terjerumus ke dalam perzinahan. Disamping itu.macam.Pengertian dan Hukum nikah A. ia berkata. yaitu . Dua orang dari sebab menyusu. (4) jaiz. Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang. dan seterusnya sampai keatas. maka hukum nikah ini dapat dibagi menjadi lima macam. Hukum nikah terbagi lima macam: (1) sunnah. telah bersabda Raulullah SAW kepada kami. Dan haram yaitu bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dikawininya. cucu dan seterusnya ke bawahc) saudaraseibu dan sebapak. dengan pernikahan akan timbul kasih-mengasihi. Makruh yaitu bagi yang belum memiliki kemampuan.Oleh karena itu. tolong menolong antar keluarga suami dengan keluarga istri dan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya. 1. (3) makruh.

bagi orang yang ingin menikahi dengan niat untuk menyakiti istrinya atau menyia nyiakannya. a. b. Rukun Nikah Rukun nikah yaitu: (1) adanya kedua mempelai. maka hendaklah ia berpuasa. D. (4) akad. bagi orang yang mampu melaksanakan pernikahan dan kalau tidak menikah ia akan terjerumus dalam perzinaan. Tujuan Nikah Tujuan pernikahan menurut ajaran Islam.hal yang mengharuskan segera nikah atau yang mengharamkannya. barang siapa diantara kamu yang cukup biaya maka hendaklah menikah. (2) kecantikannya. Haram. Menciptakan keluarga yang sakinah. (2) wali. yaitu suami. Makruh. bagi orang .orang yang tidak terdesak oleh hal . Utamakanlah masalah agamanya. B.benar pria . Hukum haram ini juga terkena bagi orang yang tidak mampu memberi belanja kepada istrinya.) dan memlihara kehormatan. Mubah.orang yang tidak memperoleh (biaya) untuk nikah. Rukun nikah ada lima macam. yang di dalamnya terdapat rasa cinta dan kasih sayang (mawadah warahmah) yang terjalin di antara anggota keluarga. c. yaitu: (1) hartanya. (3) dua orang saksi.” (HR Bukhari Muslim). dan anak-anak. Sabda Nabi Muhammad SAW. dan (5) mahar. tentram. Karena puasa itu adalah perisai baginya. (4) agamanya. damai dan sejahtera lahir batin. Memperbanyak hubungan persaudaraan C. sedang nafsunya tidak mendesak. 2. Menyalurkan hubungan biologis secara sah dan terhormat 4. Melahirkan keturunan yang sah 3. Wajib. dan itulah yang akan membahagiakanmu. yaitu : a. bagi orang yang berkehendak dan baginya yang mempunyai biaya sehingga dapat memberikan nafkah kepada istrinya dan keperluan . yaitu: 1. hingga Allah mencukupkan dengan sebagian karunia-Nya. : “Hai golongan pemuda. Calon suami Calon suami harus memenuhi syarat . Firman Allah SWT : “Hendaklah menahan diri orang .syarat sebagai berikut : 1) Beragama Islam 2) Benar .keperluan lain yang mesti dipenuhi.” (An Nur / 24:33) d. Karena sesumgguhnya nikah itu enghalangi pandangan (terhadap yang dilarang oleh agama. bagi orang yang tidak mampu untuk melaksanakan pernikahan Karena tidak mampu memberikan belanja kepada istrinya atau kemungkinan lain lemah syahwat. Sunnah. Kriteria Memilih Calon Isteri/Suami Dalam memilih calon isteri/suami ada beberapa kriteria yang ditetapkan dalam Islam sesuai petunjuk Rasulullah. Dan barang siapa yang tidak sanggup. istri. e. (3) keturunannya.a) ibu dari istri atau bapak dari istri (mertua)b) anak tiri apabila orang tuanya sudah dicampuri (digauli)c) istri/suami dari anak (menantu)d) orang tua tirie) mengumpulkan bersama-sama antara dua orang yang bersaudara dalam satu waktu.

Pernikahan dapat Menentramkan Jiwa. haji. haji.laki Pernikahan yang dilakukan tanpa saksi tidak sah.) e. bagi orang yang telah mampu serta telah terpenuhi sarat-sarat dan rukun pernikahan. 1.syarat sebagi berikut : 1) Beragama Islam 2) Baligh (dewasa) 3) Berakal Sehat 4) Tidak sedang ihram. Muslim). mengandung beberapa hikmah sebagai berikut. Upaya Menciptakan Keluarga Sakinah Hikmah NikahSalah satu perintah agama Islam terhadap umat manusia adalah melaksanakan pernikahan. atau umroh 5) Adil (tidak fasik) 6) Mempunyai hak untuk menjadi wali 7) Laki . Kebutuhan seksual apabila tidak dapat .” (Riwayat Ahmad.laki d. : “Tidak sah nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil. ketenangan lahir dan bathin. E. Sabda Nabi SAW.kurangnya 19 Tahun b.Dengan pernikahan seseorang akan dapat memenuhi kebutuhan (seksual) dengan baik. atau umroh 6) Usia sekurang . 4) Halal bagi calon suami 5) Bukan mahram calon suami 6) Tidak sedang ihram. Pernikahan yang dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama Islam. Ijab dan Qabul ZZ Allah dan kamu menghalalkan mereka dengan kalimat Allah”. (HR. Wali Wali harus memenuhi syarat .kurangnya 16 Tahun c. haji. Dua orang saksi Dua orang saksi harus memenuhi syarat .syarat sebagai berikut : 1) Beragama Islam 2) Benar . haji. atau umroh Adil (tidak fasik) Mengerti maksud akad nikah Laki .3) Tidak dipaksa 4) Bukan mahram calon istri 5) Tidak sedang ihram. aman. dengan suasana cinta kasih sehingga mendapatkan ketentraman jiwa. tenang. atau umroh 7) Usia sekurang .syarat sebagai berikut : 1) Islam 2) 3) 4) 5) 6) 7) Baligh (dewasa) Berakal Sehat Tidak sedang ihram.benar perempuan 3) Tidak dipaksa. Calon istri Calon istri harus memiliki syarat .

Hadis rasulullah SAW yang artinya Hai pemuda-pemuda barang siapa yang mampu diantara kamu serta berkeinginan hendak kawin. Jadi. Kelima. Suami isteri harus memahami hak dan kewajibannya masing-masing. dalam arti selama masih bisa diupayakan untuk dipertahankan. Keempat. maka barulah diceraikan dengan secara baik-baik. Suami isteri harus dapat saling menjaga rahasia masing-masing 5. apabila masih belum bisa memperbaiki diri. maka pukulah sebagai pelajaran baginya. khususnya menghadapi isteri yang berbuat nusyuz. sehingga menjadi orang yang taat kepada kepada Allah 3. maka pisah tempat tidur. seperti tertekan dan gelisah. F. Pernikahan dapat menghindarakan perbuatan maksiatLaki-laki dan perempuan yang telah melakukan akad pernikahan. apabila masih tetap berbuat nusyuz. . hendaklah dia kawin karenasesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan mata terhadap orang yang tidak halal dilihatnya dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berpikir. Pernikahan harus diniatkan untuk ibadah. dengan pernikahan akan terhindar dari perbuatan maksiat. siapa yang mengurusnya dan bagaimana silsilahnya. keturunanan dan kemashlahatan masyarakat 1. jelaslah bahwa dengan pernikahan akan mendapatkan ketentraman jiwa. Kedua. yakni perzinahan. Pernikahan Dapat Melestarikan KeturunanAnak yang lahir diluar pernikahan yang sah maka tidak jelas siapa yang bertanggung jawab. Talaq merupakan alternatif terakhir dalam pernikahan. Upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi krisis dalam kehidupan rumah tangga. seperti yang difirmankan Allah dalam surat Ar Rum : 21 yang artinya dan diantara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikannya diantara kamu rasa kasih sayang. dengan pernikahan akan terbentuk kemashlahatan rumah tangga. 3. tapi dibenci oleh Allah. sehingga keduanya merasakan kepuasan lahir dan batin 4. bukan semata-mata hanya untuk menyalurkan nafsu biologis 2. Ketiga. Hukum talaq yaitu halah. maka panggilah perwakilan dari kedua belah pihak. maka harus dipertahankan. apabila masih tetap berbuat nusyuz. yaitu: Pertama. Talaq Talaq yaitu melepaskan ikatan pernikahan antara suami dan isteri. Suami isteri harus saling adanya keterbukaan dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya. Suami dan isteri harus dilandasi dengan keimanan kepada Allah. dinasehati. 2.terpenuhi dengan semestinya akan menimbulkan gangguan jiwa. Jadi. Jadi. kebutuhan biologis atau nafsu seksualnya dapat disalurkan sebagaimana mestinya sebab penyaluran nafsu seksual yang tidak semestinya akan menimbulkan perbuatan maksiat. apabila masih tetap nusyuz.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful