Aturan Pembagian Warisan

October 7th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email 28 Syawal Aturan Pembagian Warisan Dari Ibnu „Abbas radhiallahu „anhuma dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam beliau bersabda: “Berikanlah bagian fara`idh (warisan yang telah ditetapkan) kepada yang berhak menerimanya. Dan harta yang tersisa setelah pembagian, maka itu bagi pewaris lelaki yang paling dekat (nasabnya).” (HR. Al-Bukhari no. 6235 dan Muslim no. 1615) Dari Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda pada saat khutbah haji wada‟: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi masing-masing orang haknya, karenanya tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Daud no. 3565, At-Tirmizi no. 2120, Ibnu Majah no. 2704, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1655) Dari Usamah bin Zaid radhiallahu „anhuma Nabi shallallahu „alaihi wasallam beliau bersabda: “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (HR. Al-Bukhari no. 6267 dan Muslim no. 1614) Penjelasan ringkas: Allah Ta‟ala dan Ar-Rasul alaihishshalatu wasallam telah menetapkan hukum dan pembagian warisan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dengan penjelasan yang gambling dan tegas, tidak ada sedikitpun jalan masuk bagi hawa nafsu dan kepentingan manusiawi untuk merubah atau membatalkannya. Di antara hukum-hukum tersebut secara global adalah: 1. Allah Ta‟ala sendiri yang langsung merinci pembagian warisan ini dalam kitab-Nya dengan pembagian yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Ini menunjukkan mulianya masalah warisan tatkala Allah sendiri yang langsung merinci dan menjelaskannya. Allah Ta‟ala berfirman yang artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : a. bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. b. Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. c. Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. d. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. e. Jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. f. Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. g. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)

h. k. jika mereka tidak mempunyai anak. maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu. i. 4. An-Nisa`: 11-14) 2. Setelah semua harta dibagikan kepada ahli waris tapi ternyata masih ada harta yang tersisa. Antara muslim dan kafir atau sebaliknya tidak boleh saling mewarisi. MH. Ketua Pengadilan Tinggi Agama Yogyakarta . 5. (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuanketentuan dari Allah. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.html 1 AZAS-AZAS HUKUM WARIS DALAM ISLAM Oleh : Drs.. m. maka diserahkan kepada pewaris lelaki yang paling dekat nashabnya (ashabah). Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya. sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).com/aturan-pembagian-warisan. dan baginya siksa yang menghinakan. niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang. tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja).” (QS.  http://al-atsariyyah. Pada ayat di atas sudah dijelaskan bahwa pembagian warisan dilakukan setelah pembayaran hutan dan wasiat jika ada. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak. Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu. j. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Ini adalah ketetapan dari Allah. sedang mereka kekal di dalamnya. SH. niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya.sesudah dibayar hutangnya. dan itulah kemenangan yang besar. Jika kamu mempunyai anak. Jika seseorang mati. maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Chatib Rasyid. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah. maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. H. 3. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu. maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutanghutangmu. Kerabat yang mendapatkan warisan tidak berhak mendapatkan bagian wasiat. baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak. l. kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.

sedang dia di akhirat termasuk orang-orang merugi” 2. adanya ketentuan hak opsi yang dipergunakan dalam menyelesaikan pembagian warisan sebagaimana kita jumpai dalam Penjelasan Umum UndangUndang No.Pendahuluan Hukum waris dalam Islam adalah bagian dari Syariat Islam yang sumbernya diambil dari al-Qur'an dan Hadist Rasulullah SAW. Hal ini juga dapat dilihat dari keimanan seseorang untuk mentaati hukum Allan SWT. Dari hal-hal tersebut di atas maka dalam pelaksanaan pembagian waris tidak dapat dipisahkan dengan azas-azas hukum waris Islam yang meliputi : 2 1. akan dibahas "Azas-azas Hukum waris dalam Islam" yang bersumber dan pendapat para ulama' dan pakar hukum Islam termasuk yang diambil dari berbagai Undang-undang yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dengan hukum waris Islam seperti Hukum Kewarisan yang tertuang dalam Kompilasi Hukum Islam (Inpres No. I tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991). penentuan mengenai harta peninggalan. keutuhan. kejujuran. oleh karena itu hukum waris sama dengan hukum faroid. maka tiadalah diterima dari padanya. Dalam tulisan ini. Islam. Dalam penjelasan pasal 49 huruf b UU No. para pihak yang berperkaradapat mempertimbangakanuntuk memilih ukumapa yang akan dipergunakan dalam pembagian warisan” dinyatakan dihapus oleh UU No. kemudian para ahli hukum. Azas ini mengandung pengertian bahwa dalam melaksanakan Hukum Kewarisan dalam Islam diperlukan ketulusan hati untuk mentaatinya karena terikat dengan aturan yang diyakini kebenarannya. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No. Azas Ta' abbudi : Penghambaan diri Yang dimaksud azas Ta'abbudi adalah melaksanakan pembagian waris secara hukum . penentuan bagian masing-masing ahli waris. telah dinyatakan dihapus oleh UU No.dalam menyelesaikan pembagian waris. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. landasan kesadarannya adalah firman Allah SWT surat Ali Imran ayat 85 : ”Barang siapa menuntut agama selain Islam. Azas Integrity : Ketulusan Integrity artinya : Ketulusan hati. Yang sama pengertiannya dengan dengan waris adalah faroid yang menurut bahasa adalah kadar atau bagian. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama angka 2 alinea keenam. Penghapusan tersebut berarti telah membuka pintu bagi orang Islam untuk melaksanakan hukum waris Islam dengan kaffah yang pada ahirnya ketulusan hati untuk mentaati hukum waris secara Islam adalah pilihan yang terbaik. khususnya para mujtahid dan fuqoha mentranformasi melalui berbagai formulasi kewarisan sesuai dengan pendapatnya masing-masing. apalagi penjelasan umum angka 2 alinea keenam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama memberi hak opsi kepada para pihak untuk bebas menentukan pilihan hukum waris mana yang akan dipergunakan. penentuan bagian masing-masing ahli waris dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan tersebut serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris. 3 Tahun 2006 dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Waris adalah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. “ sehubungan dengan hal tebut.

perawatan termasuk kewajiban pewaris maupun menagih piutang. Hubungan keluarga yaitu hubungan antar orang yang mempunyai hubungan darah (genetik) baik dalam garis keturunan lurus ke bawah (anak cucu dan seterusnya) maupun ke samping (saudara). kemudian dikunci dengan ayat 13 dan 14 : ”Demikianlah Batas-Batas (peraturan) Allah. Azas Hukukul Maliyah : Hak-hak Kebendaan Yang dimaksud dengan Hukukul Maliyah adalah hak-hak kebendaan. niscaya Allah memasukkan dia ke dalam neraka. Kewajiban ahli waris terhadap pewaris diatur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 175 yang berbunyi : a. 3 3. jabatan. serta kekal di dalamnya. Membagi harta warisan diantara anti waris yang berhak 4. Kebalikan dari ketentuan tersebut. Dan itulah kemenangan yang besar" (an-Nisa'-13). dan untuknya siksaan yang menghinakan" (an-Nisa'. yang akan berpahala bila ditaati seperti layaknya mentaati pelaksanaan hukum-hukum Islam lainnya. d. yakni : hubungan keluarga. membunuh dan hamba sahaya. c. niscaya Allah memasukkan dia ke dalam surga yang mengalir air sungai di bawahnya. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai.Islam adalah merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Azas Hukukun Thabi‟iyah : Hak-Hak Dasar Pengertian hukukun thabi‟iyah adalah hak-hak dasar dari ahli waris sebagai manusia. keahlian dalam suatu ilmu dan yang semacamnya tidak dapat diwariskan. Hak-hak dari kewarisan ini ada empat macam penyebab seorang mendapat warisan. setelah Allah SWT menjelaskan tentang hukum waris secara Islam sebagaimana dijelaskan dalam surat an-Nisa' ayat 11 dan 12.. b. maka dipandang cakap untuk mewarisi. sedangkan hak dan kewajiban dalam lapangan hukum kekeluargaan atau hak-hak dan kewajiban yang bersifat pribadi seperti suami atau istri. wala dan seagama. hukum Islam menentukan beberapa macam penghalang kewarisan yaitu Murtad. sedang mereka kekal di dalamnya. dalam arti bahwa hanya hak dan kewajiban terhadap kebendaan saja yang dapat diwariskan kepada ahli waris. perkawinan. sedangkan dalam Kompilasi Hukurn Islam penghalang kewarisan kita jumpai pada pasal 173 yang berbunyi: “Seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah . Ketentuan demikian dapat kita lihat. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan. begitu juga suami istri yang belum bercerai walaupun sudah pisah tempat tinggalnya. artinya meskipun ahli waris itu seorang bayi yang baru lahir atau seseorang yang sudah sakit menghadapi kematian sedangkan ia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia.14). “Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melampaui Batas-Batas (larangan)-Nya. Menyelesaikan wasiat pewaris. Barangsiapa mengikut (perintah) Allah dan Rasul-Nya.

b. tidak perlu merencanakan penggunaan hartanya setelah ia meninggal dunia kelak. dan kalau perempuan itu seorang saja. maka untuknya seperdua. untuk musing-masingnya seperenam dari peninggalan. Azas Ijbari : Keharusan. Peralihan harta yang pasti terjadi setelah orang meninggal dunia. 5 Dalam surat an-Nisa' ayat 11 : ”Allah mewasiatkan kepadamu tentang (bagian) anak-anakmu. Unsur keharusannya (ijbari/compulsory) terutama terlihat dari segi di mana ahli waris (tidak boleh tidak) menerima berpindahnya harta pewaris kepadanya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan oleh Allah. karena dengan kematiannya. b. 5. 6. sebagai bagian yang telah ditetapkan” (an-Nisa'-7). dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat”. dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris. Orang-orang yang akan menerima harta warisan itu sudah ditentukan dengan pasti yakni mereka yang mempunyai hubungan darah dan perkawinan. jika ia (mayat) mempunyai anak. c. baik sedikit ataupun banyak. untuk mereka dua pertiga dari peninggalan. Kalau mayat tiada mempunyai anak dan yang mempusakai hanya ibu bapak saja. maka untuk ibunya sepertiga. Untuk dua orang ibu bapak. untuk seorang laki-laki seumpama bagian dua orang perempuan. secara otomatis hartanya akan beralih kepada ahli warisnya dengan bagian yang sudah dipastikan. dan untuk perempuan-perempuan ada bagian pula dari peninggalan ibu bapak dan karib yang terdekat. Kalau anak-anak itu perempuan saja lebih dari dua orang. Azas Bilateral Azas ini mengandung makna bahwa seseorang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak yaitu dari kerabat keturunan laki-laki dan dari kerabat keturunan perempuan. Azas bilateral ini dapat dilihat dalam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 : ”Untuk laki-laki ada bagian dari peninggalan ibu bapak dan karib kerabat yang terdekat. dihukum karena : 4 a. kewajiban Yang dimaksud Ijbari adalah bahwa dalam hukum kewarisan Islam secara otomatis peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada ahli warisnya sesuai dengan ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak seseorang baik pewaris maupun ahli waris. tetapi jika mayat mempunyai beberapa orang saudara. Oleh karena itu orang yang akan meninggal dunia pada suatu ketika. maka untuk ibunya seperenam. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutang- .mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Azas Ijbari ini dapat juga dilihat dari segi yang lain yaitu a. Jumlah harta sudah ditentukan untuk masing-masing ahli waris.

Azas Individual : Perorangan Azas ini menyatakan bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi pada masing masing ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. Bapak-bapakmu dan anak-anakmu tiadalah kamu ketahui. dan untuk perempuan-perempuan ada bagian pula dari peninggalan ibu bapak dan karib yang terdekat. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun”(an-Nisa'12). tetapi jika ia beranak. Dalam pelaksanaannya seluruh harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang kemudian dibagi-bagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya menurut kadar bagian masing-masing.hutangnya. tanpa memberi mudharat (kepada ahli warisnya) sebagai wasiat (perintah) dari Allah. (Kalau kamu meninggal) untuk mereka (isteri-isterimu) seperempat dari peninggalanmu. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutanghutangnya. sebagai bagian yang telah ditetapkan” (an-Nisa'-7). Jika mereka itu beberapa orang saudara. Jika saudara perempuan dua orang maka untuk keduanya dua pertiga dari peninggalannya saudaranya. maka untuk saudara perempuan itu seperdua dari pada peninggalannya. jika kamu tiada mempunyai anak. Inilah suatu ketetapan dari Allah. siapakah di antara mereka yang terlebih dekat manfa'atnya kepadamu. 6 7. Dalam surat yang sama ayat 176 : “Mereka itu minta fatwa kepada engkau (ya Muhammad) katakanlah: Allah memfatwakan kepadamu tentang kalalah. Azas Individual ini dapat dilihat dalam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 : “Untuk laki-laki ada bagian dari peninggalan ibu bapak dan karib kerabat yang terdekat. maka untukmu seperempat dari peninggalannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (an-Nisa'-11 ). Jika seorang manusia meninggal tak ada baginya anak dan ada baginya saudara perempuan. laki-laki dan perempuan. Dalam surat an-Nisa ayat 8 : . sesudah dikeluarkan wasiat yang kamu wasiatkan atau hutang-hutangmu. supaya kamu jangan tersesat. maka untuk seorang laki-laki seumpama bagian dua orang perempuan. kalau kamu mempunyai anak. Saudara laki-laki juga mempusakai saudara perempuannya. maka untuk mereka seperdelapan dari peninggalanmu. Kalau laki-laki atau perempuan yang diwarisi tiada beranak atau berbapak dan baginya ada seorang saudara seibu laki-laki atau perempuan. Selanjutnya surat an-Nisa' ayat 12 : ”Untukmu seperdua dari peninggalan isterimu. Allah menerangkan kepadamu. jika tak ada anak bagi saudara perempuan itu. Allah Maha mengetahui tiap-tiap sesuatu (an-Nisa'-176). Kalau mereka (saudara seibu) lebih dari seorang maka mereka berserikat pada sepertiga. jika ia tidak beranak. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutangnya. maka untuk masing-masing seperenam. baik sedikit ataupun banyak.

Sesungguhnya Allah Maha Menngetahui lagi Maha Bijaksana (an-Nisa'-11 ). maka hendaklah kamu berikan kepada mereka bagiannya masing-masing. Inilah suatu ketetapan dari Allah. maka untuk mereke seperdelapan dari peninggalanmu. Bapak-bapakmu dan anak-anakmu tiadalah kamu ketahui. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas tiatiap sesuatu” (an-Nisa'-33). tetapi jika mayat mempunyai beberapa orang saudara. maka untukmu seperempat dari peninggalannya. Kalau anak-anak itu perempuan saja lebih dari dua orang.“Apabila datang waktu pembagian pusaka. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutangnya. Kalau mayat tiada mempunyai anak dan yang mempusakai hanya ibu bapak saja. jika ia tidak beranak. (Kalau kamu meninggal) untuk mereka (isteri-isterimu) seperempat dari peninggalanmu. siapakah di antara mereka yang terlebih dekat manfa'atnya kepadamu. karib kerabat (yang tidak mendapat bagian). Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun (anNisa'. tanpa memberi mudharat (kepada ahli warisnya) sebagai wasiat (perintah) dari Allah. untuk mereka dua pertiga dari peninggalan. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutanghutangnya. jika ia (mayat) mempunyai anak. Jika seorang manusia meninggal . untuk masing-masingnya seperenam dari peninggalan. Untuk dua orang ibu bapak.12). kalau kamu mempunyai anak. jika kamu tiada mempunyai anak. anak-anak yatim dan orang orang miskin. maka untuk ibunya seperenam. sesudah dikeluarkan wasiat yang diwasiatkannya atau hutanghutangnya. berilah mereka itu sekedamya dan katakanlah kepada mereka perkataan yang baik (an-Nisa'8) Kemudian surat an-Nisa' ayat 33 : “Untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) kami adakan ahli waris dari peninggalan ibu dan bapak dan karib kerabat yang terdekat dan orang-orang yang telah bersumpah setia kepada kamu. sesudah dikeluarkan wasiat yang kamu wasiatkan atau hutang-hutangmu. maka untuknya seperdua. 7 Surat an-Nisa' ayat 12 : “Untukmu seperdua dari peninggalan isterimu. dan kalau perempuan itu seorang saja. Surat An-Nisa ayat 176 : ”Mereka itu minta fatwa kepada engkau (ya Muhammad) katakanlah : Allah memfatwakan kepadamu tentang kalalah. untuk seorang laki-laki seumpama bagian dua orang perempuan. Begitu juga surat an-Nisa' ayat 11 : ”Allah mewasiatkan kepadamu tentang (bagian) anak-anakmu. Kalau laki-laki atau perempuan yang diwarisi tiada beranak atau berbapak dan baginya ada seorang saudara seibu laki-laki atau perempuan. Kalau mereka (saudara seibu) lebih dari seorang maka mereka berserikat pada sepertiga. maka untuk ibunya sepertiga. tetapi jika ia beranak. maka untuk masing-masing seperenam.

Saudara laki-laki juga mempusakai saudara perempuannya. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Qs. yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. 9. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. laki-laki dan perempuan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 233 : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh. Jika mereka itu beberapa orang saudara. Jika saudara perempuan dua orang maka untuk keduanya dua pertiga dari peninggalannya saudaranya. supaya kamu jangan tersesat.76). 8. Ini berarti kewarisan semata-mata sebagai akibat dari kematian seseorang. 65:7) Tanggung jawab tersebut merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. Azas Keadilan yang Berimbang Azas ini mengandung pengertian bahwa harus ada keseimbangan antara hak yang diperoleh seseorang dari harta warisan dengan kewajiban atau beban biaya kehidupan yang harus ditunaikannya. Menurut ketentuan hukum Kewarisan Islam. Laki-laki dan perempuan misalnya. mencukupi keperluan hidup anak dan isterinya sesuai (QS. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum 8 dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan.2:233) dengan kemampuannya. dan warispun berkewajiban demikian. anak-anaknya memerlukan bantuan atau tidak. Janganlah seorang itu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya. maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. sesungguhnya apa yang diperoleh seseorang laki-laki dan seorang perempuan dari harta warisan manfaatnya akan sama mereka rasakan. jika tak ada anak bagi saudara perempuan itu. Berdasarkan keseimbangan antara hak yang diperoleh dan kewajiban yang harus ditunaikan. peralihan harta seseorang kepada orang lain yang disebut kewarisan . Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah menerangkan kepadamu. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Seorang laki-laki menjadi penanggung jawab dalam kehidupan keluarga.tak ada baginya anak dan ada baginya saudara perempuan. mendapat bagian yang sebanding dengan kewajiban yang dipikulnya masing-masing (kelak) dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. maka tidak ada dosa atas keduanya. maka untuk seorang laki-laki seumpama bagian dua orang perempuan. Azas Kematian Makna azas ini adalah bahwa kewarisan baru muncul bila ada yang meninggal dunia. 2:233) Begitu juga pada surat At-Talaaq ayat 7 : Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. terlepas dari persoalan apakah isterinya mampu atau tidak. maka untuk saudara perempuan itu seperdua dari pada peninggalannya. Allah Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (an-Nisa'-1. (Qs.

10 Jalan keluarnya agar kita tidak merugi adalah : selesaikan dahulu pembagian waris secara Islam. tentunya sepanjang kesepakatan dan kehendak masingmasing. tidak bersifat mutlak (dewingend) dalam arti para pihak dimungkinkan untuk membagi warisan di luar ketentuan itu. dan segala bentuk peralihan harta-harta seseorang yang masih hidup kepada orang lain. Dari menghitung dan menyelesaikan pembagian dengan cara : Menentukan siapa yang menjadi Ahli waris dengan bagiannya masingmasing. Azas Membagi Habis Harta Warisan Membagi habis semua harta peninggalan sehingga tidak tersisa adalah azas dari penyelesaian pembagian harta warisan. maka angka pembagian harta warisan tersebut dilakukan secara rad. Akan tetapi karena ketentuan hukum waris dalam Islam dalam pelaksanaannya merupakan pengabdian kepada Allah SWT dan sebagai salah satu bentuk ibadah. maka penyimpangan terhadap ketentuan waris secara Islam semestinya tidak terjadi. yaitu sesuai dengan hak masing-masing ahli waris sedangkan sisanya dibagi secara berimbang diantara mereka.kecil dari pada angka penyebut. artinya harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain (melalui pembagian harta warisan) selama orang yang mempunyai harta itu masih hidup. Begitu juga apabila terjadi suatu keadaan dimana jumlah bagian dari semua ahli waris lebih besar dari masalah yang ditetapkan. saudara atau . sampai dengan melaksanakan pembagian hingga tuntas. sebab bila terjadi. Penutup Dari sepuluh azas Hukum Kewarisan dalam Islam tidak terdapat yang berkaitan dengan azas perdamaian. membersihkan/memurnikan harta warisan seperti hutang dan Wasiat. kemudian setelah kita terima bagiannya atau sekurang-kurangnya sudah tahu bagian kita. Dengan demikian. barulah kita serahkan kepada pihak lain bagian itu baik kepada orang tua. telah diatur hingga harta warisan habis terbagi sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Kompilasi Hukum Islam tentang Aul dan Rad pasal 192 berbunyi : Apabila dalam pembagian harta warisan diantara para ahli waris Dzawil Furud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih besar dari pada angka penyebut dinaikkan sesuai dengan angka pembilang. maka termasuk orang yang merugi.terjadi setelah orang yang mempunyai harta itu meninggal dunia. dan baru sesudah itu harta warisan dibagi secara aul menurut angka pembilang. sedangkan tidak ada ahli waris asabah. tidak termasuk ke dalam kategori kewarisan menurut hukum Islam. 9 10. Pada pasal 193 berbunyi : Apabila dalam pembagian harta warisan diantara para ahli waris Dzawil furud menunjukkan bahwa angka pembilang lebih. baik langsung maupun yang akan dilaksanakan kemudian sesudah kematiannya. kewarisan Islam adalah kewarisan yang menurut Kitab Undangundang Hukum Perdata (BW) disebut kewarisan ab intestato dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang disebut testamen. walaupun memang Hukum Kewarisan Islam pada dasarnya bersifat mengatur (regelen). atau sebaliknya terjadi suatu keadaan dimana jumlah bagian dari semua ahli waris yang ada lebih kecil dari asal masalah yang ditetapkan.

lainnya dalam bentuk shadaqoh. Yogyakarta. Keduanya merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Dengan demikian kita sudah melakukan dua macam ibadah kepada Allah SWT dalam objek yang sama. Amin. Demikian. semoga Allah SWT selalu membimbing kepada kita semua. hibah atau hadiah. 8 Juli 2008 . yaitu dengan cara membagi waris secara Islam dan memberi shadaqoh kepada orang lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful