P. 1
Makalah_Pendidikan Pesantren

Makalah_Pendidikan Pesantren

|Views: 198|Likes:
Published by Ihda Hajar

More info:

Published by: Ihda Hajar on Dec 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2012

pdf

text

original

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DAN

TANTANGAN MODERNITAS
(Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Era Globalisasi)












Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikam Islam
yang di ampu oleh Dr. Moh. Sakir, M.Ag.


Disusun Oleh:
AHMAD ROBIHAN, S.Pd.I
DKK


PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR'AN (UNSIQ)
JAWA TENGAH DI WONOSOBO
2011
PENDIDIKAN PESANTREN DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI
A. PENDAHULUAN
Istilah globalisasi diambil dari kata “global”. Kata ini melibatkan kesadaran baru
bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan
utuh. Marshall McLuhan menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi ini global
village (desa buana). Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas
administrasi suatu negara. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. Globalisasi
membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan
teknologi serta adanya sistem informasi satelit.
Arus globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hampir setiap aspek
kehidupan sehari-hari. Globalisasi memunculkan gaya hidup kosmopolitan yang ditandai
oleh berbagai kemudahan hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang
memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya-gaya hidup baru yang disenangi.
Globalisasi menjadi kekuatan yang terus meningkat, dan dapat menimbulkan aksi
dan reaksi dalam kehidupan. Globalisasi melahirkan dunia yang terbuka untuk saling
berhubungan, terutama dengan ditopang teknologi informasi yang sedemikian canggih.
Topangan teknologi ini pada gilirannya dapat mengubah segi-segi kehidupan, baik
kehidupan material maupun kehidupan spiritual.
1

Pada era globalisasi saat ini, kesadaran global tentang peningkatan kualitas sumber
daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan menempatkan manusia sebagai titik sentral
pembangunan tampak semakin jelas. Maklum, globalisasi telah menampilkan
perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat, teknologi informasi dan komunikasi yang
semakin canggih, serta pengaruh budaya global dalam kehidupan yang sangat dominan.
Kondisi demikian ini meniscayakan adanya kualitas SDM yang memadai bagi siapapun
supaya ia mampu bekerjasama dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain yang pada
akhirnya setiap individu atau suatu bangsa dapat eksis dalam percaturan global ini.
2

Dalam konteks ini, bidang-bidang kehidupan umat manusia yang khususnya ada
dalam ruanglingkup pesatren yang kurang siap dalam menghadapi era globalisasi perlu

1
Dr. H. Muhtarom, H.M, Reproduksi Ulama di Era globalisasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005, hal.44
2
Prof. Dr. Djohar, Pengantar Pendidikan Transformatif. Teras, Yogyakarta, 2008, hal.xv.
berbenah diri. Ditilik dari sejarah pendidikan Islam Indonesia, pesantren sebagai sistem
pendidikan Islam tradisional memainkan peranan penting dalam membentuk kualitas sumber
daya manusia (SDM) Indonesia.
3
Jika globalisasi adalah suatu keniscayaan maka mau tidak
mau harus dikontekskan dengan piranti-piranti globalisasi tersebut. Artinya, pendidikan
pesantren sudah semestinya memiliki kepentingan untuk membentuk SDM yang siap
bergulat dan bertarung untuk menghadapi arus deras globalisasi.
Apabila kita menilik pendidikan pesantren yang telah berjalan di Indonesia, sungguh
banyak sekali sistemnya yang harus di rombak, mulai dari cara pandang yang dipakai
(paradigma), model pembelajaran, penekanan tujuan pendidikan pesantren, dan masih
banyak yang lain. Dalam pusaran arus globalisasi, pada kenyataannya pendidikan pesantren
belum mampu menciptakan anak didik (santri) yang kritis dan memiliki kemampuan dalam
menghadapi arus globalisasi yang menindas dan mencengkram. Dalam keadaan inilah
pendidikan pesantren semestinya tidak bebas nilai(value free), sebaliknya pendidikan
pesantren harus berkepentingan untuk menciptakan santri yang kritis dan memiliki
kemampuan untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya.




3
Nurcholis Madjid, Islam Kerakyatan Dan KeIndonesiaan, cet. Ke-3, Mizan, Bandung, 1996, hal.222.
B. PEMBAHASAN
1. Era Globalisasi
Istilah globalisasi dipopulerkan oleh Theodore Lavitte pada tahun 1985 dan kini
telah menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan. Substansi globalisasi
adalah ideoligi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai
bidang. Globalisasi juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar
dikonstruksi oleh barat, khususnya oleh kapitalisme dengan nilai-nilai dan
pelaksanaannya. Di dalam dunia global, bidang-bidang di atas terjalin secara luas, erat
dan dengan proses yang cepat. Hubungan ini ditandai dengan karakteristik hubungan
antara penduduk bumi yang melampui batas-batas konvensional, seperti bangsa dan
negara. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsa-
bangsa di dunia akan mewarnai barbagai hal, yaitu sosial, hukum, ekonomi, dan agama.
Globalisasi berasal dari kata “the globe” (Inggris) atau “la monde” (Prancis)
yang berarti bumi, dunia ini. Maka globalisasi atau mondialisation secara sederhana
dapat diartikan sebagai proses menjadikan semuanya satu bumi atau satu dunia. Secara
lebih lengkap globalisasi banyak didefinisikan oleh para ilmuwan dunia. Baylis dan
Smith misalnya, mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses meningkatnya
keterkaitan antara masyarakat sehingga satu peristiwa yang terjadi diantara wilayah
tertentu semakin lama akan kian berpengaruh terhadap manusia dan masyarakat yang
hidup di bagian lain di muka bumi ini. Anthony Giddens memandang globalisasi
sebagai sebuah proses yang ditandai dengan semakin intensifnya hubungan sosial yang
menggelobal. Artinya kehidupan manusia disuatu wilayah akan berpengaruh kepada
kehidupan manusia di wiliyah lain dan begitupun sebaliknya.
4

Dalam dimensi lain Wallerstain seorang pelopor teori sistem dunia memandang
tidak sebatas hubungan lintas batas negara, namun globalisasi merupakan wujud
ekonomi kapitalis dunia yang digerakkan oleh logika akumulasi kapital. Senada dengan
Wallerstain, Jin Young Chun ilmuwan politik asal Korea mendefinisikan globalisasi
sebagai suatu proses integrasinya dunia melalui peningkatan arus kapital, hasil-hasil

4
Imam Machali & Musthofa, Op. Cit., hal. 109.
produksi, jasa, ide dan manusia yang lintas batas negara. Proses ini merupakan hasil dari
perkembangan-perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang
revolusioner, serta liberalisasi perdagangan dan keuangan di negara-negara besar.
Dari definisi-definisi tersebut persoalannya akan menjadi lain ketika globalisasi
dikaitkan dengan masalah ekonomi, politik-ideologi, ilmi pengetahuan, teknologi dan
budaya. Mengaitkan globalisasi dengan presoalan tersebut akan menjadi rumit dan
semakin spesifik meskipun terdapat keterkaitan yang erat. Hal ini juga yang akan
memengaruhi sikap seseorang dalam merespon globalisasi. Globalisasi dalam pengetian
ekonomi misalnya, ia berarti proses internasionalisasi produk, mobilisasi yang semakin
membengkak dari modal dan masyarakat internasional, penggandaan dan intensifikasi
ketergantungan ekonomi. Secara lebih kongkrit hal ini berarti reorganisasi sarana-sarana
produksi, penetrasi lintas negara dari industri, perluasan pasar uang, penjajahan bahan-
bahan konsumsi, sampai ke negara-negara dunia ke tiga dari dunia pertama, dan
penggusuran penduduk lintas negara secara besar-besaran. Sedangkan sebagai
pengertian politik-ideologi, globalisasi dirumuskan sebagai liberasi perdagangan dan
investasi, deregulasi, privatisasi, adopsi sistem politik demokrasi dan otonomi daerah.
Sebagai pengetian ilmu pengetahuan, globalisasi tidak hanya berarti dipakainya kaidah
kebenaran ilmu yang bersumber kepada empirisme dan cara penalaran konteks
masyarakat dan alam negara-negara maju bagi negara-negara tertinggal tanpa
memperhatikan ke-khasan masyarakat dan alamnya, tetapi juga termasuk juga usaha-
usaha untuk membangun kebenaran ilmu untuk tujuan pemanusiaan manusia termasuk
mencari keterangan ilmiah, pengetahuan lokal dan tradisional.
Sebagai pengertian teknologi, globalisasi berarti penguasaan dunia melalui
penguasaan teknologi, tidak hanya teknologi komunikasi dan informasi, namun juga
teknologi penghancur lingkungan serta bioteknologi pengancam manusia tanpa kendali.
Dan sebagai pengertian budaya, globalisasi tidak hanya proses harmonisasi ide-ide dan
norma-norma, seperti pluralitas keberagaman, HAM, namun juga gaya hidup
konsumerisme dan pornografi. Proses seperti ini merupakan gerakan menuju
kewarganegaraan dunia universal yang melampui batasan negara-kebangsaan.
Globalisasi, dengan demikian ditandai dengan berbagai hal, yaitu : pertama,
globalisasi terkait erat dengan kemajuan dan inovasi teknologi, arus informasi atas
komunikasi yang lintas batas negara. Kedua, globalisasi tidak dapat dilepaskan dari
akumulasi kapital, semakin tingginya intensitas arus investasi, keuangan, dan
perdagangan global. Ketiga, globalisasi berkaitan dengan semakin tingginya intensitas
perpindahan manusia, pertukaran budaya, nilai dan ide yang lintas batas negara.
Keempat, globalisasi ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat keterkaitan dan
ketergantungan tidak hanya antar bangsa namun juga antar masyarakat.
5

2. Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Era Globalisasi
Dari definisi-definisi yang penulis jelaskan, jelaslah bahwa globalisasi
membawa akibat dan manfaat bagi kehidupan manusia. Dua hal yang paradok ini
memaksa seseorang untuk besikap dan menentukan terhadap globalisasi.
6
Idealnya, kita
tidak mengambil posisi sebagai pendukung atau penentang globalisasi, tetapi kita harus
menyikapi globalisasi (juga pemikiran luar lainnya) secara kritis.
7
Inilah realitas
globalisasi yang ada di hadapan kita. Maka, kewajiban kita adalah bagaimana
berinteraksi dengannya secara positif. Toh, realitas globalisasi ini tidak semuanya
buruk, dan tidak pula semuanya baik. Karena itu, kita harus menyikapinya lewat
berbagai bentuk artikulasi yang kritis namun proporsional.
8

Banyak kalangan, terutama kaum cendikiawan, sudah menyadari akan fenomena
di atas dan kebutuhan bangsa atasnya. Kesadaran ini diwujudkan dalam bentuk
pembentukan lembaga pendidikan, sebagai salah satu alternatif menghadapi era
globalisasi. Mereka berkompetisi satu sama lain dengan menawarkan penciptaan SDM
yang berkualitas untuk menghadapi era globalisasi.
9

Dalam hal ini, pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam kiranya
perlu meningkatkan peranannya karena Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW
sebagai agama yang berlaku seantero dunia sepanjang masa. Ini berarti ajaran Islam
adalah global dan melakukan globalisasi untuk semua (lihat Q.S. Al-Hujurat:13).
10


5
Ibid, hal. 109-111
6
Ibid, hal. 112.
7
Mahmud Hamdi Zaqzuq, Reposisi Islam Di Era Globalisasi, LKiS, Yogyakarta, Cet. I, 2004, hal. 4.
8
Ibid, hal. 5.
9
M. Affan Hasyim, et. al, Menggagas Pesantren Masa Depan, Qirtas, Yogyakarta, Cet. I, 2003, hal. 60.

10
Dr. H. Muhtarom, H.M, Op. Cit., hal. 48.
Og¬³Ò^4C +EEL¯- ^^)³
7¯E4^³ÞUE= }g)` ¯OE·O _/·6^q¡4Ò
¯ª7¯E4·UE¬E_4Ò 6ON¬7- ºj*.4l·~4Ò
W-EO¬·4OE¬4-g¯ _ ...

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling mengenal….” ( QS. Al-Hujurat:13).
11


Globalisasi dalam perspektif Islam adalah sunatullah Karena Islam adalah agama
yang bersifat universal, yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW.
Sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmah li al-álamin). (lihat Q.S. Al-Anbiya’ :
107).
12

.4`4Ò ¬CE4·UEc¯OÒ¡ ·º)³ LO4·;OEO
¬--g©ÞUE¬·Ug¢¯ ^¯´_÷
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya’ : 107)
13


Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan mau tak mau harus turut pula
ambil bagian, memposisikan diri dan membuktikan sebagai lembaga yang juga mampu
mengakomodasi tuntutan di era globalisasi, yaitu menciptakan manusia yang tidak
hanya bertakwa tetapi juga berilmu, memiliki SDM tinggi plus berakhlakul karimah.
14

Hal tersebut sesuai dengan dua potensi yang ada pada pesantren itu sendiri,
yaitu: pertama, potensi pengembangan masyarakat. Pesantren dilahirkan untuk
memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah
dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang
ditawarkannya (amar ma’ruf nahi munkar). Kehadirannya dengan demikian bisa disebut
sebagai agen perubahan sosial (agent of social change) yang selalu melakukan kerja-


11
Dep. Ag. RI, Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia, Mushaf Ayat
Sudut, Menara Kudus, Kudus, 2006. hal. 517.

12
Dr. H. Muhtarom, H.M, Op. Cit., hal. 48.

13
Dep. Ag. RI, Op. Cit., hal. 331.
14
Ibid, hal. 61.
kerja pembebasan pada masyarakatnya dari segala keburukan moral, penindasan politik,
pemiskinan ilmu pengetahuan, dan bahkan dari pemiskinan ekonomi.
Kedua, potensi pendidikan. Salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah
menyebarluaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh plosok
Nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun
kondisi sosial masyarakat.
15

Penciptaan out put seperti itulah membuat pesantren mempunyai peran dan
kesempatan yang lebih besar dalam mengawal bangsa Indonesia dalam menghadapi era
globalisasi.
Minimal ada tiga alasan mengapa pesantren mempunyai peran dan kesempatan
yang lebih besar dibandingkan dengan lembaga yang lain. Pertama, pesantren yang
ditempati para generasi penerus bangsa, dengan pendidikannya yang tidak terbatas oleh
waktu sebagai mana di lembaga pendidikan umum, akan semakin menyemaikan ajaran-
ajaran Islam, yang itu dapat dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi globalisasi.
16

Kedua, pendidikan pesantren yang mencoba memberikan keseimbangan antara
pemenuhan lahir dan batin, pendidikan agama dan umum, merupakan usaha yang sangat
sesuai dengan kebutuhan pendidikan di era globalisasi yang membutuhkan
keseimbangan antara kualitas SDM dan keluhuran moral. Pendidikan pesantren yang
berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam, menjadikan keluhuran moral dan akhlakul
karimah sebagai salah satu fokus bidang garapan pendidikannya. Hal ini tetap menjadi
nilai lebih pendidikan pesantren yang tidak atau sulit didapatkan dalam pendidikan luar
pesantren dan akan menjadi pelarian masyarakat yang mulai resah dengan dekadensi
moral yang telah mewabah. Pesantren akan menjadi tujuan masyarakat disaat orang-
orang telah kehilangan kepercayaan dan mulai hampa akan norma-norma. Sebagaimana
dikatakan oleh Durkheim, hanya agamalah yang mempu mengatasi di saat seperti itu.
Ketiga, paparan Nur Cholis Madjid yang memberikan contoh masyarakat yang
terkena “diskolasi”, yaitu kaum marginal atau pinggiran di kota-kota besar, seharusnya
menyadarkan pesantren. Mengingat pesantren adalah kaum pinggiran atau pedesaan
yang ekonominya berada pada posisi menengah ke bawah yang juga rentan akan

15
Sa’id Aqiel Siradj, et. al, Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 1999, hal. 201-202.
16
M. Affan Hasyim, et. al, Op. Cit., hal. 61-62.
dihinggapi “diskolasi”, sehingga dalam hal ini pesantren tentu lebih mempunyai
kesempatan untuk memberdayakan dan mengangkat kaum tersebut.
17

Perlunya suatu keseimbangan dan perpaduan yang sepadan antara penciptaan
manusia yang bertakwa dan berilmu adalah dalam rangka merombak anggapan
masyarakat terhadap pendidikan pesantren, yang hanya dikenal sebagai lembaga yang
lebih berorientasikan pada pembentukan manusia yang bermoral atau bertakwa saja,
tetapi tidak mempunyai SDM tinggi. Selain itu juga untuk meminimalisir beberapa
permasalahan yang akan timbul dalam transformasi masyarakat agraris menuju
masyarakat industrialis sebagaimana diprediksikan oleh Nur Cholis Madjid dan
Durkheim.
Pesantren sudah saatnya untuk tidak menutup diri terhadap perubahan, karena
keengganan pesantren untuk menyesuaikan dengan perubahan sebenarnya dengan
sendirinya telah memposisikan pesantren sebagai lingkungan yang terisolir dari
pergaulan dan pada akhirnya akan ditinggalkan kebanyakan orang, karena sudah tidak
lagi sesuai atau tidak dapat mengakomodasi keadaan zaman. Dengan demikian secara
tak langsung pesantren telah ikut juga menciptakan permasalahan dalam era globalisasi,
yaitu perasaan teringkari, tersisihkan atau tertinggal dari orang lain dan kalangan
tertentu dalam masyarakat, akibat tidak dapat mengikuti dan tidak dapat menyesuaikan
dengan perubahan.
Perubahan yang dimaksud disini bukan berarti pesantren merombak total
ataupun membuang jauh-jauh sistem yang selama ini telah menjadi ciri khasnya.
Penerimaan pesantren terhadap berbagai perubahan juga disertai dengan
mempertahankan dan tetap memberikan tempat terhadap nilai-nilai lama, karena
perubahan bukan berarti harus menghilangkan atau menggusur nilai-nilai lama.
Perubahan justru akan semakin memperkaya sekaligus mendukung upaya transmisi
khazanah pengetahuan Islam tradisional dan melebarkan jangkauan pelayanan pesantren
terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Apa yang dilakukan pesantren dalam
perubahan dirinya merupakan salah satu bentuk modernisasi pesantren, baik sebagai
lembaga pendidikan maupun sebagai lembaga sosial.
18


17
Ibid, hal. 62-63.
18
Ibid, hal. 63-66.
Kemungkinan-kemungkinan pesantren untuk dapat berkembang dan menjadi
alternatif bagi pendidikan Islam masa depan, sangat tergantung pada dunia pesantren
itu sendiri, faktor-faktor (dukungan) dari luar. Faktor dari dalam tersebut antara lain
adalah; kepemimpinan pesantren, sikap keluarga pemilik pesantren, sikap dan
pandangan para kiai, ustadz dan santri, serta ada tidaknya kemampuan santri untuk
berorganisasi secara maju. Sedangkan faktor luar yang turut mempengaruhi dapat
disebutkan misalnya; respon masyarakat terhadap pesantren, bantuan pemerintah atau
lembaga-lembaga modern lainnya, partisipasi masyarakat serta penelitian dan kajian
agama yang datangnya dari luar untuk meningkatkan kualitas dan mempromosikan
keberadaan suatu pesantren.
Pesantren sebagai perintis pendidikan Islam di Indonesia, sudah sewajarnya
menjadi panutan bagi pendidikan Islam secara makro. Pesantren sudah seharusnya
melakukan rekonstruksi potensi strategisnya yang diperlukan bagi transformasi sosio-
budaya bangsa.
19
Menurut K.H. Said Aqil Siradj, ada tiga kekurangan pesantren yang
harus dibenahi, bila pesantren ingin menjadi lembaga pendidikan alternatif. Pertama,
pesantren harus melepaskan diri dari kesan dan citra kerajaan kecil. Artinya, dalam
pesantren harus ditumbuhkan keterbukaan, kebebasan berfikir dan berpendapat,
kemandirian, kolektifitas, dan menerima secara ofensif berbagai gagasan pembaharuan
dari luar. Kedua, indenpendensi dan otonomi pesantren yang selama ini ada perlu
diperkuat dan diarahkan sebagai basis dan pemberdayaan serta penguatan masyarakat
untuk mengimbangi kekuatan negara. Ketiga, kurikulum pesantren harus di rombak.
Metodologi pemikiran harus menjadi fokus utama. Santri harus dikembalikan kepada
literatur. Personifikasi ilmu kepada kiai atau guru harus dikurangi melalui metode
dialogis, kritis untuk mendapatkan kebenaran ilmiah. Karena itu perpustakaan yang
memadai menjadi keniscayaan dalam pembaharuan. Pelajaran-pelajaran filsafat, logika,
estetika, sejarah sosiologi, antropologi dan sebagainya, sudah harus dipertimbangkan
menjadi kurikulum pesantren.
20

Melalui tiga tawaran tersebut, minimal dapat dilakukan apresiasi ulang terhadap
landasan pendidikan pesantren, visi kemanusiaan yang ingin dicapai, maupun pola

19
Zainal Arifin Thoha, Runtuhnya Singgasana Kiai, Kutub, Yogyakarta, Cet. II, 2003, hal. 38.
20
M. Affan Hasyim, et. al, Op. Cit., hal. 67.
pendidikan yang dipakai untuk merealisasikan visi tersebut. Tentunya semua berpulang
kepada pengelola atau pengasuh pondok pesantren, serta kreativitas, rasa percaya diri
dan tanggung jawab masyarakat pendukung pesantren secara menyeluruh.
C. Kesimpulan
Pesantren didirikan lantaran tuntutan kebutuhan zaman dan oleh karenanya,
pesantren senantiasa dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, tanpa tercabut
dari akar tradisi serta khasanah keagamaannya. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan
sekaligus lembaga kemasyarakatan, pesantren diharapkan mampu berfungsi sebagai pelopor
pembaharuan (agent of change).
Dalam arti, keberadaannya diharapkan mampu memberikan altearnatif pemikiran
dan tindakan. Apa yang dibutuhkan dalam hal ini, adalah suatu komitmen pencarian jalan
tengah, tradisi keagamaan yang seimbang dengan tuntutan-tuntutan praktis yang dalam
merespon modernitas dan kebutuhan akan kemajuan. Salah satu kunci untuk berhasil dalam
hal ini, adalah menempatkan kalangan muda dalam kepemimpinan pesantren dan
rekonstruksi total terhadap kurikulum dan materi-materi pengajaran. Pengembangan
pendidikan pesantren diantaranya: kelompok pembinaan pimpinan pesantren, kelompok
pembinaan mutu pengajaran di pesantren, kelompok pembinaan pola-pola hubungan
pesantren dengan lembaga kemasyarakatan yang lainnya, dan kelompok pembinaan
ketrampilan bagi para santri. Selain itu, juga megembangkan kurikulum pesantren secara
lebih dinamis.
Secara individual, setiap pesantren memerkirakan kesulitan yang dihadapinya, dan
kemudian memilih salah satu di antara tawaran yang telah digolongkan di atas. Pesantren itu
di ajak berlatih untuk mengadakan penilaian sendiri atas kemampuan sendiri, melalui pilihan
yang akan digarap. Hanya dengan sistem bertahap pesantren dapat digugah perhatiannya
secara kongkret terhadap kebutuhan akan perbaikan yang bersifat menyeluruh.

Daftar Pustaka
Aqiel Siradj, Sa’id, et. al. Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah,
Bandung, Cet. I, 1999.
Depag. RI Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke
Dalam Bahasa Indonesia, Mushaf Ayat Sudut,
Menara Kudus, Kudus, 2006.
Djohar, Prof. Dr. Pengantar Pendidikan Transformatif. Teras,
Yogyakarta, 2008.
Hamdi Zaqzuq, Mahmud Reposisi Islam Di Era Globalisasi, LKiS,
Yogyakarta, Cet. I, 2004.
Imam Machali dan Musthofa Pendidikan Islam Dan Tantangan Globalisasi, Ar-
Ruzz Media, Jogjakarta, Cet. I, 2004.
M. Affan Hasyim, et. al. Menggagas Pesantren Masa Depan, Qirtas,
Yogyakarta, Cet. I, 2003.
Muhtarom, Dr. H.M., H. Reproduksi Ulama di Era globalisasi, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2005.
Nurcholis Madjid Islam Kerakyatan Dan KeIndonesiaan, cet. Ke-3,
Mizan, Bandung, 1996.
Zainal Arifin Thoha Runtuhnya Singgasana Kiai, Kutub, Yogyakarta,
Cet. II, 2003.

Kondisi demikian ini meniscayakan adanya kualitas SDM yang memadai bagi siapapun supaya ia mampu bekerjasama dan mampu berkompetisi dengan bangsa lain yang pada akhirnya setiap individu atau suatu bangsa dapat eksis dalam percaturan global ini.PENDIDIKAN PESANTREN DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI A. Marshall McLuhan menyebut dunia yang diliputi kesadaran globalisasi ini global village (desa buana). bidang-bidang kehidupan umat manusia yang khususnya ada dalam ruanglingkup pesatren yang kurang siap dalam menghadapi era globalisasi perlu 1 2 Dr. H. Pengantar Pendidikan Transformatif.2 Dalam konteks ini. Topangan teknologi ini pada gilirannya dapat mengubah segi-segi kehidupan. Pustaka Pelajar.xv. Arus globalisasi lambat laun semakin meningkat dan menyentuh hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari. Globalisasi membuat dunia menjadi transparan akibat perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya sistem informasi satelit. . hal. PENDAHULUAN Istilah globalisasi diambil dari kata “global”. 2005. Dunia menjadi sangat transparan sehingga seolah tanpa batas administrasi suatu negara. Globalisasi melahirkan dunia yang terbuka untuk saling berhubungan. kesadaran global tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan tampak semakin jelas. Dr. Globalisasi memunculkan gaya hidup kosmopolitan yang ditandai oleh berbagai kemudahan hubungan dan terbukanya aneka ragam informasi yang memungkinkan individu dalam masyarakat mengikuti gaya-gaya hidup baru yang disenangi. dan dapat menimbulkan aksi dan reaksi dalam kehidupan. Kata ini melibatkan kesadaran baru bahwa dunia adalah sebuah kontinuitas lingkungan yang terkonstruksi sebagai kesatuan utuh. serta pengaruh budaya global dalam kehidupan yang sangat dominan. Yogyakarta. Teras. terutama dengan ditopang teknologi informasi yang sedemikian canggih. Djohar. Batas-batas geografis suatu negara menjadi kabur. H. teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. baik kehidupan material maupun kehidupan spiritual. Reproduksi Ulama di Era globalisasi. hal. Muhtarom.44 Prof. Maklum. globalisasi telah menampilkan perkembangan ilmu pengetahuan secara pesat.1 Pada era globalisasi saat ini.M. 2008. Globalisasi menjadi kekuatan yang terus meningkat. Yogyakarta.

Ke-3. hal. pada kenyataannya pendidikan pesantren belum mampu menciptakan anak didik (santri) yang kritis dan memiliki kemampuan dalam menghadapi arus globalisasi yang menindas dan mencengkram. mulai dari cara pandang yang dipakai (paradigma). Artinya. Dalam pusaran arus globalisasi. pesantren sebagai sistem pendidikan Islam tradisional memainkan peranan penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Apabila kita menilik pendidikan pesantren yang telah berjalan di Indonesia. 3 Nurcholis Madjid. sebaliknya pendidikan pesantren harus berkepentingan untuk menciptakan santri yang kritis dan memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan yang dihadapinya. Dalam keadaan inilah pendidikan pesantren semestinya tidak bebas nilai(value free).berbenah diri. Bandung. pendidikan pesantren sudah semestinya memiliki kepentingan untuk membentuk SDM yang siap bergulat dan bertarung untuk menghadapi arus deras globalisasi. model pembelajaran. dan masih banyak yang lain. penekanan tujuan pendidikan pesantren.222.3 Jika globalisasi adalah suatu keniscayaan maka mau tidak mau harus dikontekskan dengan piranti-piranti globalisasi tersebut. cet. sungguh banyak sekali sistemnya yang harus di rombak. . Islam Kerakyatan Dan KeIndonesiaan. Ditilik dari sejarah pendidikan Islam Indonesia. Mizan. 1996.

dan agama. . Jin Young Chun ilmuwan politik asal Korea mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses integrasinya dunia melalui peningkatan arus kapital. khususnya oleh kapitalisme dengan nilai-nilai dan pelaksanaannya. Artinya kehidupan manusia disuatu wilayah akan berpengaruh kepada kehidupan manusia di wiliyah lain dan begitupun sebaliknya. ekonomi. Secara lebih lengkap globalisasi banyak didefinisikan oleh para ilmuwan dunia. Op. Globalisasi berasal dari kata “the globe” (Inggris) atau “la monde” (Prancis) yang berarti bumi. mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses meningkatnya keterkaitan antara masyarakat sehingga satu peristiwa yang terjadi diantara wilayah tertentu semakin lama akan kian berpengaruh terhadap manusia dan masyarakat yang hidup di bagian lain di muka bumi ini. namun globalisasi merupakan wujud ekonomi kapitalis dunia yang digerakkan oleh logika akumulasi kapital. hal. Cit. Globalisasi juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses multilapis dan multidimensi dalam realitas kehidupan yang sebagian besar dikonstruksi oleh barat. 109.4 Dalam dimensi lain Wallerstain seorang pelopor teori sistem dunia memandang tidak sebatas hubungan lintas batas negara. Substansi globalisasi adalah ideoligi yang menggambarkan proses interaksi yang sangat luas dalam berbagai bidang. Di dalam dunia global. yaitu sosial. hukum. Maka globalisasi atau mondialisation secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menjadikan semuanya satu bumi atau satu dunia. seperti bangsa dan negara. hasil-hasil 4 Imam Machali & Musthofa. bidang-bidang di atas terjalin secara luas. Keadaan demikian ini menunjukkan bahwa relasi antara kekuatan bangsabangsa di dunia akan mewarnai barbagai hal. Hubungan ini ditandai dengan karakteristik hubungan antara penduduk bumi yang melampui batas-batas konvensional. Anthony Giddens memandang globalisasi sebagai sebuah proses yang ditandai dengan semakin intensifnya hubungan sosial yang menggelobal..B. Senada dengan Wallerstain. erat dan dengan proses yang cepat. Era Globalisasi Istilah globalisasi dipopulerkan oleh Theodore Lavitte pada tahun 1985 dan kini telah menjadi slogan magis di dalam setiap topik pembahasan. PEMBAHASAN 1. Baylis dan Smith misalnya. dunia ini.

Globalisasi. politik-ideologi. sampai ke negara-negara dunia ke tiga dari dunia pertama. pengetahuan lokal dan tradisional. Sebagai pengertian teknologi. Proses seperti ini merupakan gerakan menuju kewarganegaraan dunia universal yang melampui batasan negara-kebangsaan. deregulasi. tidak hanya teknologi komunikasi dan informasi. dengan demikian ditandai dengan berbagai hal. Proses ini merupakan hasil dari perkembangan-perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang revolusioner. Mengaitkan globalisasi dengan presoalan tersebut akan menjadi rumit dan semakin spesifik meskipun terdapat keterkaitan yang erat. globalisasi tidak hanya proses harmonisasi ide-ide dan norma-norma. Dari definisi-definisi tersebut persoalannya akan menjadi lain ketika globalisasi dikaitkan dengan masalah ekonomi. Dan sebagai pengertian budaya. ilmi pengetahuan. globalisasi berarti penguasaan dunia melalui penguasaan teknologi. ia berarti proses internasionalisasi produk. jasa. dan penggusuran penduduk lintas negara secara besar-besaran. teknologi dan budaya. globalisasi tidak hanya berarti dipakainya kaidah kebenaran ilmu yang bersumber kepada empirisme dan cara penalaran konteks masyarakat dan alam negara-negara maju bagi negara-negara tertinggal tanpa memperhatikan ke-khasan masyarakat dan alamnya. penetrasi lintas negara dari industri. seperti pluralitas keberagaman. serta liberalisasi perdagangan dan keuangan di negara-negara besar. Globalisasi dalam pengetian ekonomi misalnya.produksi. mobilisasi yang semakin membengkak dari modal dan masyarakat internasional. namun juga teknologi penghancur lingkungan serta bioteknologi pengancam manusia tanpa kendali. penggandaan dan intensifikasi ketergantungan ekonomi. Sebagai pengetian ilmu pengetahuan. globalisasi terkait erat dengan kemajuan dan inovasi teknologi. globalisasi dirumuskan sebagai liberasi perdagangan dan investasi. Secara lebih kongkrit hal ini berarti reorganisasi sarana-sarana produksi. HAM. Hal ini juga yang akan memengaruhi sikap seseorang dalam merespon globalisasi. Sedangkan sebagai pengertian politik-ideologi. ide dan manusia yang lintas batas negara. penjajahan bahanbahan konsumsi. tetapi juga termasuk juga usahausaha untuk membangun kebenaran ilmu untuk tujuan pemanusiaan manusia termasuk mencari keterangan ilmiah. adopsi sistem politik demokrasi dan otonomi daerah. privatisasi. namun juga gaya hidup konsumerisme dan pornografi. arus informasi atas . perluasan pasar uang. yaitu : pertama.

hal. Reposisi Islam Di Era Globalisasi. Yogyakarta.8 Banyak kalangan. Dr. tetapi kita harus menyikapi globalisasi (juga pemikiran luar lainnya) secara kritis. Keempat.5 2. H. Ibid. 5. Ini berarti ajaran Islam adalah global dan melakukan globalisasi untuk semua (lihat Q.10 5 6 7 8 9 Ibid. Dua hal yang paradok ini memaksa seseorang untuk besikap dan menentukan terhadap globalisasi. 48. globalisasi ditandai dengan semakin meningkatnya tingkat keterkaitan dan ketergantungan tidak hanya antar bangsa namun juga antar masyarakat. Kesadaran ini diwujudkan dalam bentuk pembentukan lembaga pendidikan. 112. 6 Idealnya. Mahmud Hamdi Zaqzuq.9 Dalam hal ini. globalisasi tidak dapat dilepaskan dari akumulasi kapital. I. kewajiban kita adalah bagaimana berinteraksi dengannya secara positif. Al-Hujurat:13). 7 Inilah realitas globalisasi yang ada di hadapan kita. Qirtas. Toh. 2004. hal. Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Era Globalisasi Dari definisi-definisi yang penulis jelaskan. terutama kaum cendikiawan. Cit. Ketiga. Cet.komunikasi yang lintas batas negara. Mereka berkompetisi satu sama lain dengan menawarkan penciptaan SDM yang berkualitas untuk menghadapi era globalisasi. Affan Hasyim. kita tidak mengambil posisi sebagai pendukung atau penentang globalisasi. LKiS. I. 2003. realitas globalisasi ini tidak semuanya buruk. semakin tingginya intensitas arus investasi. dan tidak pula semuanya baik. Muhtarom. H. pertukaran budaya. globalisasi berkaitan dengan semakin tingginya intensitas perpindahan manusia. Op.S. Maka. dan perdagangan global. Cet. 109-111 Ibid. M. nilai dan ide yang lintas batas negara. keuangan. al. sebagai salah satu alternatif menghadapi era globalisasi. kita harus menyikapinya lewat berbagai bentuk artikulasi yang kritis namun proporsional. hal.. Kedua. jelaslah bahwa globalisasi membawa akibat dan manfaat bagi kehidupan manusia. hal. 60. et. hal. Karena itu.M. Menggagas Pesantren Masa Depan. sudah menyadari akan fenomena di atas dan kebutuhan bangsa atasnya. pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam kiranya perlu meningkatkan peranannya karena Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama yang berlaku seantero dunia sepanjang masa. 4. 10 . Yogyakarta. hal.

yaitu: pertama.” ( QS. Ag. Sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmah li al-álamin). Al-Anbiya’ : 107). kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…. Kudus. 48. “Wahai manusia! Sungguh. Kami telah menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan perempuan. Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia. 61. melalui transformasi nilai yang ditawarkannya (amar ma’ruf nahi munkar). Cit. Op. Op. Ag. H. Al-Anbiya’ : 107)13 Pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan mau tak mau harus turut pula ambil bagian. Kehadirannya dengan demikian bisa disebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change) yang selalu melakukan kerjaDep.11 Globalisasi dalam perspektif Islam adalah sunatullah Karena Islam adalah agama yang bersifat universal. RI. 331. Cit. hal.14 Hal tersebut sesuai dengan dua potensi yang ada pada pesantren itu sendiri. 11 . memposisikan diri dan membuktikan sebagai lembaga yang juga mampu mengakomodasi tuntutan di era globalisasi. 13 Dep. (QS. Menara Kudus.S..M. Mushaf Ayat Sudut. hal. 14 Ibid. hal. yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW. memiliki SDM tinggi plus berakhlakul karimah. 2006. H. Al-Hujurat:13). 12 Dr. 517. Pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi moral.12       “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. RI.. yaitu menciptakan manusia yang tidak hanya bertakwa tetapi juga berilmu. hal. potensi pengembangan masyarakat. Muhtarom.. (lihat Q.            ..

al. Mengingat pesantren adalah kaum pinggiran atau pedesaan yang ekonominya berada pada posisi menengah ke bawah yang juga rentan akan 15 16 Sa’id Aqiel Siradj. Kedua. Pesantren akan menjadi tujuan masyarakat disaat orangorang telah kehilangan kepercayaan dan mulai hampa akan norma-norma. Hal ini tetap menjadi nilai lebih pendidikan pesantren yang tidak atau sulit didapatkan dalam pendidikan luar pesantren dan akan menjadi pelarian masyarakat yang mulai resah dengan dekadensi moral yang telah mewabah. 1999. paparan Nur Cholis Madjid yang memberikan contoh masyarakat yang terkena “diskolasi”. hal. et. menjadikan keluhuran moral dan akhlakul karimah sebagai salah satu fokus bidang garapan pendidikannya. Minimal ada tiga alasan mengapa pesantren mempunyai peran dan kesempatan yang lebih besar dibandingkan dengan lembaga yang lain. Salah satu misi awal didirikannya pesantren adalah menyebarluaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam ke seluruh plosok Nusantara yang berwatak pluralis. dan bahkan dari pemiskinan ekonomi. pemiskinan ilmu pengetahuan. Pustaka Hidayah. 201-202. akan semakin menyemaikan ajaranajaran Islam. pendidikan agama dan umum. Pesantren Masa Depan.15 Penciptaan out put seperti itulah membuat pesantren mempunyai peran dan kesempatan yang lebih besar dalam mengawal bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi. Ketiga. pendidikan pesantren yang mencoba memberikan keseimbangan antara pemenuhan lahir dan batin. dengan pendidikannya yang tidak terbatas oleh waktu sebagai mana di lembaga pendidikan umum. . merupakan usaha yang sangat sesuai dengan kebutuhan pendidikan di era globalisasi yang membutuhkan keseimbangan antara kualitas SDM dan keluhuran moral. seharusnya menyadarkan pesantren. Sebagaimana dikatakan oleh Durkheim. 61-62. baik dalam dimensi kepercayaan. Cet. M.. penindasan politik. et. hal. yang itu dapat dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi globalisasi. hanya agamalah yang mempu mengatasi di saat seperti itu. yaitu kaum marginal atau pinggiran di kota-kota besar. Bandung. Cit. I.kerja pembebasan pada masyarakatnya dari segala keburukan moral. al. pesantren yang ditempati para generasi penerus bangsa. potensi pendidikan. Affan Hasyim. Pertama. Op. Pendidikan pesantren yang berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam.16 Kedua. budaya maupun kondisi sosial masyarakat.

akibat tidak dapat mengikuti dan tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan. yaitu perasaan teringkari. Perubahan justru akan semakin memperkaya sekaligus mendukung upaya transmisi khazanah pengetahuan Islam tradisional dan melebarkan jangkauan pelayanan pesantren terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Selain itu juga untuk meminimalisir beberapa permasalahan yang akan timbul dalam transformasi masyarakat agraris menuju masyarakat industrialis sebagaimana diprediksikan oleh Nur Cholis Madjid dan Durkheim. karena sudah tidak lagi sesuai atau tidak dapat mengakomodasi keadaan zaman. Apa yang dilakukan pesantren dalam perubahan dirinya merupakan salah satu bentuk modernisasi pesantren. Dengan demikian secara tak langsung pesantren telah ikut juga menciptakan permasalahan dalam era globalisasi. Perubahan yang dimaksud disini bukan berarti pesantren merombak total ataupun membuang jauh-jauh sistem yang selama ini telah menjadi ciri khasnya. karena perubahan bukan berarti harus menghilangkan atau menggusur nilai-nilai lama. karena keengganan pesantren untuk menyesuaikan dengan perubahan sebenarnya dengan sendirinya telah memposisikan pesantren sebagai lingkungan yang terisolir dari pergaulan dan pada akhirnya akan ditinggalkan kebanyakan orang.18 17 18 Ibid. 62-63. sehingga dalam hal ini pesantren tentu lebih mempunyai kesempatan untuk memberdayakan dan mengangkat kaum tersebut. hal. baik sebagai lembaga pendidikan maupun sebagai lembaga sosial. 63-66. Ibid.17 Perlunya suatu keseimbangan dan perpaduan yang sepadan antara penciptaan manusia yang bertakwa dan berilmu adalah dalam rangka merombak anggapan masyarakat terhadap pendidikan pesantren. tersisihkan atau tertinggal dari orang lain dan kalangan tertentu dalam masyarakat. Pesantren sudah saatnya untuk tidak menutup diri terhadap perubahan. yang hanya dikenal sebagai lembaga yang lebih berorientasikan pada pembentukan manusia yang bermoral atau bertakwa saja. Penerimaan pesantren terhadap berbagai perubahan juga disertai dengan mempertahankan dan tetap memberikan tempat terhadap nilai-nilai lama.dihinggapi “diskolasi”. hal. . tetapi tidak mempunyai SDM tinggi.

M.19 Menurut K. visi kemanusiaan yang ingin dicapai. II. Sedangkan faktor luar yang turut mempengaruhi dapat disebutkan misalnya. et. Cit. Kutub. sudah sewajarnya menjadi panutan bagi pendidikan Islam secara makro. kemandirian. hal. Ketiga. Pesantren sudah seharusnya melakukan rekonstruksi potensi strategisnya yang diperlukan bagi transformasi sosiobudaya bangsa. sangat tergantung pada dunia pesantren itu sendiri. bila pesantren ingin menjadi lembaga pendidikan alternatif. bantuan pemerintah atau lembaga-lembaga modern lainnya. Pesantren sebagai perintis pendidikan Islam di Indonesia. ada tiga kekurangan pesantren yang harus dibenahi. kurikulum pesantren harus di rombak. sikap keluarga pemilik pesantren. Said Aqil Siradj. Affan Hasyim. 38. Faktor dari dalam tersebut antara lain adalah. minimal dapat dilakukan apresiasi ulang terhadap landasan pendidikan pesantren. Pelajaran-pelajaran filsafat. dan menerima secara ofensif berbagai gagasan pembaharuan dari luar. partisipasi masyarakat serta penelitian dan kajian agama yang datangnya dari luar untuk meningkatkan kualitas dan mempromosikan keberadaan suatu pesantren. Kedua. al. Personifikasi ilmu kepada kiai atau guru harus dikurangi melalui metode dialogis. ustadz dan santri. . indenpendensi dan otonomi pesantren yang selama ini ada perlu diperkuat dan diarahkan sebagai basis dan pemberdayaan serta penguatan masyarakat untuk mengimbangi kekuatan negara. sejarah sosiologi. kebebasan berfikir dan berpendapat. kritis untuk mendapatkan kebenaran ilmiah.20 Melalui tiga tawaran tersebut. respon masyarakat terhadap pesantren. antropologi dan sebagainya. sudah harus dipertimbangkan menjadi kurikulum pesantren. 67. estetika. Yogyakarta. Metodologi pemikiran harus menjadi fokus utama. maupun pola 19 20 Zainal Arifin Thoha. Karena itu perpustakaan yang memadai menjadi keniscayaan dalam pembaharuan. kepemimpinan pesantren. Runtuhnya Singgasana Kiai. Santri harus dikembalikan kepada literatur. Pertama.Kemungkinan-kemungkinan pesantren untuk dapat berkembang dan menjadi alternatif bagi pendidikan Islam masa depan. Op. Artinya.H. sikap dan pandangan para kiai.. kolektifitas. dalam pesantren harus ditumbuhkan keterbukaan. Cet. 2003. faktor-faktor (dukungan) dari luar. serta ada tidaknya kemampuan santri untuk berorganisasi secara maju. pesantren harus melepaskan diri dari kesan dan citra kerajaan kecil. hal. logika.

Selain itu. rasa percaya diri dan tanggung jawab masyarakat pendukung pesantren secara menyeluruh. kelompok pembinaan mutu pengajaran di pesantren. melalui pilihan yang akan digarap. tradisi keagamaan yang seimbang dengan tuntutan-tuntutan praktis yang dalam merespon modernitas dan kebutuhan akan kemajuan. Hanya dengan sistem bertahap pesantren dapat digugah perhatiannya secara kongkret terhadap kebutuhan akan perbaikan yang bersifat menyeluruh. C. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan sekaligus lembaga kemasyarakatan. Pengembangan pendidikan pesantren diantaranya: kelompok pembinaan pimpinan pesantren. Secara individual. Pesantren itu di ajak berlatih untuk mengadakan penilaian sendiri atas kemampuan sendiri. . pesantren senantiasa dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. tanpa tercabut dari akar tradisi serta khasanah keagamaannya. adalah menempatkan kalangan muda dalam kepemimpinan pesantren dan rekonstruksi total terhadap kurikulum dan materi-materi pengajaran. Kesimpulan Pesantren didirikan lantaran tuntutan kebutuhan zaman dan oleh karenanya. Dalam arti.pendidikan yang dipakai untuk merealisasikan visi tersebut. dan kemudian memilih salah satu di antara tawaran yang telah digolongkan di atas. Salah satu kunci untuk berhasil dalam hal ini. serta kreativitas. pesantren diharapkan mampu berfungsi sebagai pelopor pembaharuan (agent of change). keberadaannya diharapkan mampu memberikan altearnatif pemikiran dan tindakan. kelompok pembinaan pola-pola hubungan pesantren dengan lembaga kemasyarakatan yang lainnya. Apa yang dibutuhkan dalam hal ini. adalah suatu komitmen pencarian jalan tengah. setiap pesantren memerkirakan kesulitan yang dihadapinya. Tentunya semua berpulang kepada pengelola atau pengasuh pondok pesantren. juga megembangkan kurikulum pesantren secara lebih dinamis. dan kelompok pembinaan ketrampilan bagi para santri.

I. Mushaf Ayat Sudut. . RI Al-Qurán Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia. M. H. H.. Sa’id. Kudus. Dr. Ke-3. Zainal Arifin Thoha Runtuhnya Singgasana Kiai. Reproduksi Ulama di Era globalisasi. Bandung. Teras. Imam Machali dan Musthofa Pendidikan Islam Dan Tantangan Globalisasi. Pesantren Masa Depan. Kutub. Mizan. I. 1999. Nurcholis Madjid Islam Kerakyatan Dan KeIndonesiaan. Pustaka Hidayah. Yogyakarta.M. Yogyakarta. Hamdi Zaqzuq. Djohar. Cet. Yogyakarta. 2003. Prof. Yogyakarta.Daftar Pustaka Aqiel Siradj. Menggagas Pesantren Masa Depan. LKiS. 2004. I. Muhtarom. 2008. Cet. Affan Hasyim. Cet. ArRuzz Media. Mahmud Reposisi Islam Di Era Globalisasi. Cet. et. Bandung. Qirtas. Jogjakarta. Yogyakarta. I. 2003. Dr. cet. 2006. 1996. Menara Kudus. 2004. Pustaka Pelajar. Depag. 2005. Pengantar Pendidikan Transformatif. et. al. al. II. Cet.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->