BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan yang Relevan
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari buku-buku pndukung yang relevan dngan judul skripsi, buku-buku yang digunakan dalam pengkajian ini adalah buku-buku tentang sastra dan Sosiologi. Selain itu juga digunakan sumber bacaan lainnya.

2.1.1 Pengertian Sastra
Banyak ahli yang mendefenisikan pengertian sastra dapat kita lihat sebagai berikut : Fananie (2000 : 6) mengatakan : “ Bahwa sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan kemampuan aspek keindahan yang baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna”. Sedangkan semi ( 1984 : 8) mengatakan : “ Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan semi kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahas sebagai mediumnya “. Teeuw ( 1984 : 23) mengatakan : “ Kata satra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahas Sansekerta akar kata Sas-, dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberikan petunjuk atau instruksi. Akhiran kata tra- biasanya menunjukkan alat, suasana. Maka dari sastra dapat berarti, alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi dan pengajaran; misalnya silpasastra, buku arsitektur, kemasastraan, buku petunjuk mengenai seni cerita. Awalan su- berarti baik, indah sehingga susastra dapat dibandingkan dengan berbagai belles letter”. Kutipan di atas menyatakan, sastra diartikan sebagai alat untuk mengajar, memberi instruksi dan petunjuk kepada pembaca. Wellek dan Warren ( 1987 : 3 ) mengatakan bahwa

Universitas Sumatera Utara

ide-ide. adalah berdasarkan persepsi masing-masing pribadi dan sifatnya deskriptif. Masing-masing ahli merupakan aspek-aspek tertentu. perasaan. Dari beberapa batasan yang diuraikan di atas dapat disebut beberapa unsur batasan yang selalu disebut untuk unsur-unsur itu adalah isi sastra berupa pikiran. Manusia menggunakan seni sebagai pengungkapan segi-segi kehidupan. namun yang jelas defenisi tersebut dikemukakan dengan prinsip yang sama yaitu manusia dan lingkungan. sebuah karya seni. sebab tampa bentuk tidak akan mungkin isi tadi disampaikan pada orang lain.sastra adalah suatu kajian kreatif. Ini suatu kreatifitas manusia yang mampu yang mampu menyajikan pemikiran dan pengalaman hidup dengan bentuk seni sastra. dalam berbagai bentuk. Universitas Sumatera Utara . semangat kepercayaan dan lain-lain. pengalaman. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu adalah merupakan suatu kenyataan sosial Fananie ( 2000 : 132 ) mengatakan bahwa sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia . Ekspresi atau ungkapan adalah upaya untuk mengeluarkan sesuatu dalam diri manusia. Ciri khas penggungkapan bentuk pada sastra adalah bahasa. Bentuk diri manusia dapat diekspresikan keluar. Bahasa adalah bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi di dalam suatu bentuk yang indah. pendapat itu berbeda satu sama lain. Dari keseluruhan defenisi sastra di atas. Damono ( 1984 : 10) mengatakan bahwa lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium : bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.

Sorokim ( 1928 : 760-761) mengatakan :“Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial ( misalnya antara gejala ekonomi dan agama. Proses sosial pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. termasuk perubahan-perubahan sosial. keluarga dengan moral hukum dan dengan ekonomi. keseluruhan jalinan antara unsur-unsur yang pokok yaitu kaidah atau norma-norma sosial.1. umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan agama. Sosiologi pada dasarnya mempelajari kesatuan hidup manusia yang terbentuk hubungan antara manusia dengan kelompok-kelompok lain. Soemarjan dan Soemardi ( 1964 :11) mengatakan :“Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial.2 Pengertian Sosiologi Kata sosiologi adalah istilah yang mempunyai hubungan dengan masyarakat. Struktur sosial. khususnya terhadap cerita Asal Pulau Simamora di Tipang dilakukan guna mendapatkan gambaran kehidupan masyarakat pemilik cerita tersebut baik pada zamannya maupun saat ini. antara segi kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya”. gerak masyakat dengan ekonomi. Soekanto (1977 : 21) mengatakan :“Sosiologi jelas merupakan ilmu sosial yang objeknya ialah masyakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri oleh karena memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan yang ciri utamanya adalah : Universitas Sumatera Utara . gerak masyarakat dngan politik dan lain sebagainya ).Jadi penelitian sastra di sini. Ciri-ciri umum dari pada semua jenis gejala-gejala sosial”. 2.

Universitas Sumatera Utara . memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama. Sosiologi di sisi lain sebagai ilmu berbicara tentang aspek-aspek kemasyarakatan selalu dapat dimanfaatkan untuk membicarakan sebuah karya sastra. Sosiologi bersifat nonetis. guru-guru yang kurang. yakni yang dipersoalkan bukanlah baik buruknya fakta tertentu. Masyarakat Batak Toba juga mengalami hal itu sehingga dulunya pendidikan di sekolah itu sangat langka dijumpai. yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun dari hasil-hasil observasi. berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi kenyataan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif. Ilmu sosiologi digunakan untuk masyarakat itu sendiri dan diciptakan oleh masyarakat demi terjalinnya hubungan yang harmonis antara satu anggota masyarakat dengan yang lainnya. c. Nilai-nilai sosiologi pada sebuah cerita dapat diwujudkan untuk mencapai pemahaman yang mendalam. Sosiologi bersifat teoritis. sistem pendidikan yang belum sempurna dan minat untuk bersekolah yang sangat minim. Sesuai dengan penjelasan di atas. d. kita dapat mengetahui nilai-nilai sosiologis sebuah cerita berdasarkan zamannya. yang berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti membaik. dahulu pendidikan di sekolah itu sangat langka karena bangunan sekolah yang jurang. Sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau pengetahuan yang sistematis tentang kehidupan berkelompok manusia dalam hubungannya dengan manusia-manusia lainnya yang secara umum disebut masyarakat. Sosiologi bersifat empiris. akan tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis”. Anak-anak setiap harinya hanya bekerja di sawah untuk membantu orang tuanya. Sosiologi bersifat kumulatif. Misalnya pendidikan di sekolah.a. Perubahan zaman dapat mengubah asumsi masyarakat mengenai nilai-nilai sosiologis. b.

ia mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Bila kita tinjau dari segi unsur pokok yaitu kaidah atau norma-norma sosial sesuai dengan teori di atas. Misalnya dulu sekolah sudah ada. Misalnya pada masyarakat Batak Toba. Norma yang sudah turun-temurun itu dijaga karena dianggap suci dan akan mendatangkan akibat ataupun bahaya bila dilanggar. Mereka berkewajiban untuk berkerja di sawah untuk membantu orang tua mereka demi kebutuhan mereka sehari-hari. banyak norma-norma yang dijaga keberadaannya. Universitas Sumatera Utara .3 Pengertian Sosiologi Sastra Sosiologi sastra merupakan pendekatan yang bertitik tolak dengan orientasi kepada pengarang.1. Semi (1984 : 52) mengatakan : “Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra. Jadi anak-anak itu pergi ke sawah karena keadaan yang berlaku saat itu. berarti norma-norma sosial juga dapat memberi arti dalam penentuan nilai-nilai sosiologis. Orang tua ataupun anak-anaknya. sehingga hari-hari mereka dihabiskan dengan bekerja di sawah. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini. hanya menjalani kehidupan sesuai dengan situasi yang berlaku. 2. tetapi kemungkinan untuk hal itu sangat kecil.Kewajiban mereka yang sebenarnya adalah bersekolah. tentu orang tua mereka akan menyuruhnya pergi ke sekolah bukan pergi ke sawah. Produk ketelaahan itu dengan sendirinya dapat digolongkan ke dalam produk kritik sastra”.

alat tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan serta amanat yang hendak disampaikan. 2.1. Dalam pengunggkapan persoalan manusia itu seorang pengarang secara langsung atau secara tidak langsung telah menuangkan persoalan sosial ke dalam karyanya. Dengan demikian sastra pada zaman modern ini dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial. Wellek dan Warren dalam (Semi. Hal ini dimungkinkan karena pengarang biasanya cenderung dipengaruhi oleh apa yang dirasakan. 1989 :178) mengatakan :”Bahwa sosiologi sastra yakni mempermasalahkan suatu karya sastra yang menjadi pokok. dan jenis pembaca yang dituju”. dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari. Abrams (1981 :178) mengatakan : “Sosiologi sastra dikenakan pada tulisan-tulisan para kritikus dan ahli sejarah sastra yang utamanya ditujukan pada cara-cara seseorang pengarang dipengaruhi oleh status kelasnya.Ratna (2003 : 25) mengatakan : “Sosiologi sastra adalah penelitian terhadap karya sastra dan keterlibatan struktur sosialnya”.4 Hubungan Sastra dengan Sosiologi Sebagaimana yang telah diuraikan terdahulu bahwa karya sastra berisikan tentang persoalan-persoalan manusia. ideologi masyarakat. lingkungannya. Hubungan manusia dengan keluarganya. adat- Universitas Sumatera Utara . keadaan-keadaan ekonomi yang berhubungan dengan pekerjaannya. Sosiologi dan sastra sama-sama menguraikan masalah masyarakat.

Maka tak mengherankan kalau terjadi interaksi dan interrelasi antara pengarang dan masyarakatnya. Sosiologi pada sisi lain pada ilmu yang berbiacara tentang aspek-aspek kemasyarakat selalu dapat dimanfaatkan untuk membicarakan karya sastra. Soemarjdo (1975 : 15) mengatakan : “pengarang adalah anggota salah satu masyarakat. 1989 : 533) mengatakan : “ sosiologi sastra yakni mempermasalahkan suatu karya sastra yang menjadi pokok. Banyak hal yang menjadi fokus pengamatan seorang sastrawan. Di satu sisi. nilai-nilai sosiologi dalam sebuah karya sastra dapat diwujudkan untuk pemahaman yang lebih mendalam. lingkungan serta harapan-harapannya menjadi hal yang menarik dalam penelitian cipta sastra.istiadanya dan lain-lain. Pengarang dan karyanya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka membicarakan sebuah karya sastra.selanjutnya sosiologi sebagai ilmu yang akan mencoba mengungkapkan kembali problema sosial tersebut. Wellek dan Warren dalam ( Semi. Kompleks Universitas Sumatera Utara . Soemarjdo (1975 : 15) mengatakan : “ karya sastra menampilkan wajah kultur zamannya. pngarang adalah anggota dari kelompok masyarakat yang hidup di tengah-tengah kelompok masyarakat tersebut. Ia hidup dan berelasi orang-orang lain di sekitarnya. tetapi lebih dari itu sifat-sifat sastra juga ditentukan oleh masyarakatnya”. alas tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan serta amanat yang hendak disampaikan”. kehidupan pribadi. Selalu dapat ditarik relasi antara karya sastra dengan masyarakat di mana pengarang itu hidup”. Hal ini membuktikan bahwa kehadiran sastra mempunyai peranan penting dalam membentuk struktur masyarakatnya.

perwatakan. filsafat. Pengarang sendiri mendapat sumber inspirasi dari corak ragam tingkah laku manusia maupun masyarakatnya. Analisis aspek ekstrinsik karya Universitas Sumatera Utara . Biasanya dalam setiap cerita selalu terdapat beberapa tokoh. seperti tema. Unsur-unsur merupakan unsur-unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra. politik. 2. Ciri-ciri perwatakan seorang tokoh selalu berkaitan dengan pengarang dan lingkungan di mana ia hidup.1. dengan demikian ilmu-ilmu tersebut erat hubungannya dengan karya sastra. alur atau plot. antropologi dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan pendukung dalam pengembangan karya sastra.5 Sosiologi Sebagai Pendekatan Sastra Pedekatan yang dilakukan terhadap karya sastra pada dasarnya ada dua. Demikian juga menyangkut tipe orang atau tokohnya. Dengan menggambarkan fenomena dari hasil pengamatan pengarang. salah satu aspek yang membangun keutuhan sebuah cerita adalah menyangkut perwatakan tokoh-tokohnya. dalam hal inilah pengetahuan sosiologi berperan mengungkapkan isi sebuah karya sastra. gaya bahasa dan penokohan. Kesemuanya itu terangkum dalam aspek yang membangun sebuah cipta sastra. yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik berupa pengaruh dari luar yang terdapat dalam karya sastra itu diantaranya sosiologi. masyarakat pembacanya memperoleh hal yang bermakna dalam hidupnya.permasalahan itu merupakan hadiah seorang pengarang yang dapat memperluas wawasan pemikiran anggota masyarakat.

bahan hakiki dari sastra adalah suatu kehidupan masyarakat. dan politik”. sistem ekonomi. Sastra yang baik harus mempunyai objek yang luas mengenai kehidupan manusia yang disampaikan melalui bahasa. Dengan demikian akan jelas nanti. Peningkatan sastra itu merupakan tafsiran terhadap kehidupan masyarakat yang melalui bahasa. Karena ketrampilannya menulis. kita memang belum tentu dapat mengenal tata Universitas Sumatera Utara . maka cara yang paling baik untuk mengeluarkan cara tandas kegundahan jiwanya adalah karya tulis. Untuk hubungan ini. Kalau demikian sudah barang tentu pengarang sangat membutuhkan obsesinya”. adat istiadat. sosial. termasuk interaksi sosial. Soemarjdo (1980 : 34) mengatakan : “Seorang pengarang menulis karyanya karena ia mengemukakan obsesinya terhadap lingkungan hidupnya. apabila karya sastra tersebut sepenuhnya atau sebagian. Ali ( 1967 :116) mengatakan :” Analisis dari aspek ekstrinsiknya ini jangan sampai keluar dari batas-batas sesuai kepentingan analisis. puisi. drama atau novel. 1985 :58-59) mengatakan : “Pendekatan sosiologis atau pendekatan ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu diseputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal.sastra ialah analisis karya sastra itu sendiri dari sgi isinya. Wellek dan Warren (Semi. Peningkatan sastra itu juga merupakan tafsiran terhadap kehidupan masyarakat yang melalui bahasa. sama sekali tidak berdasarkan kenyataan-kenyataan sebenarnya atau sebaliknnya. Yang dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu. Dengan demikian. dan sepanjang mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan dari luar karya sastra itu sendiri. Ini biasanya merupakan essei. ada uneg-uneg yang mengganggu jiwanya dan itu harus dikatakannya. Dapat dipahami bahwa bilamana seseorang ingin mengetahui keadaan sosiologis dari suatu masa karya tertentu ditulis. sebagaimana misalnya terjadi dalam teoritis sastra”.

namun ia belum tentu menyuarakan keamanan masyarakatnya. yaitu melalui kompetensi ilmiah yang dilakukan dalam penelitian. berarti kebulatan alam atau realita. hal ini merupakan suatu kebetulan ketajaman batinnya dapat menangkap isyarat-isyarat tersebut. Suatu hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologi ini adalah bahwa walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada di lingkungannya. disamping memperhatikan faktor-faktor sosiologis serta menyadari bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreatifitas dengan memanfaatkan faktor imajinasi. maka penulis menggunakan teori sosiologi sastra dan teori struktural untuk mengkaji cerita Asal Pulau Simamora di Tipang. Teori diartikan sebagai kumpulan konsep yang telah teruji keterandalannya. bahwa pendekatan sosiologis mempunyai segi yang bermanfaatdan berdaya guna yang tinggi bila para kritikus tidak melupakan atau memperhatikan segi-segi intrinsik yang membangun karya sastra. teori berasal dari kata theoria (Yunani). Berdasarkan penelitian ini. Dari uraian di atas dapat disimpulkan.kemasyarakatan yang ada pada waktu itu.2 Teori yang Digunakan Secara etimologis. tetapi setidak-tidaknya jita dapat mengenal tema mana yang kira-kira dominan pada waktu itu. dan bila ia kebetulan mengucapkan sesuatu yang bergejolak dimasyarakat. Dari arti ia tidaklah mewakili atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok masyarakat tertentu. 2. yang pasti pengarang menyalurkan atau mwakili hati nuraninya sendiri. Universitas Sumatera Utara .

Semi (1985 : 49) mengatakan : Universitas Sumatera Utara . hubungan kekeluargaan. 2.Untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam skripsi ini. Sociologi of literature. pertentangan kelas dan lain-lain. 1989 :53) mengatakan: “Sosiologi sastra yaitu mempermasalahkan suatu karya sastra yang menjadi pokok. Semi (1985:46) mengatakan : “Pendekatan ini bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat melalui sastra pengarang mengungkapkan tentang suka duka kehihidupan masyarakat yang mereka ketahui dengan sejelas-jelasnya. Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai struktur sosial. Literature sociologi. Bertolak dari pandangan itu. atas tetang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan serta amanat yang heendak disampaikan”. yaitu menghubungkan struktur karya sastra dan struktur masyarakat. Swingewoot (1977) dalam Junus (1980 : 2) membagi sosiologi sastra dalam dua bagian yaitu : 1. telaah atau kritik sastra yang dilakukan berfokus atau lebih banyak memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan yang terdapat dalam suatu karya sastra serta mempersoalkan segi-segi yang menunjang pembinaan dan perkembangan tata kehidupan”. yaitu karya sastra yang dimulai dengan lingkungan sosial untuk masuk ke dalam karya sastra yang dilihat ialah faktor sosial menghasilkan massa yang bersosial. Mengenai pendekatan struktural. Pendekatan tersebut landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. dan juga merupakan cermin langsung dari berbagai struktur sosial. penulis menggunakan teoeri sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren dalam (Semi. Darmono (1984 : 9) mengatakan :” bahwa sastra merupakan cermin zamannya “.

Keberadaan alur dalam sebuah cerita sangatlah penting. gagasan. Ricing Action (keadaan mulai memuncak) 4. sehingga Lubis (1981 : 17) mencoba mengklasifikasikan alur tersebut menjadi.“Dengan kata lain. dipakai sebagai dasar mengarang. amanat cerita”.keluk memanjang rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam karya fiksi”. Selanjutnya Daryanto (1997 : 594) mngatakan :”tema adalah isi cerita . pertikaian dan diakhiri dengan penyelesaian. Situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan) 2.dasar isi cerita. Daryanto (1997 :35) mengatakan :”latar atau plot adalah jalan (aturan. Hubungan peristiwa yang satu dengan yang lainnya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan hubungan kasual ( sebab akibat). pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi karya sastra”. dan gaya bahasa perpaduan yang harmonis antara bentuk dan isi merupakan kemungkinankuat untuk menghasilkan sastra yang bermutu”. Poerdarminta (1986 :1040) mengatakan :”tema adalah pokok pikiran. alur. latar. Universitas Sumatera Utara . mengarang sajak dan sebagainya). klimaks (peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya) 5. Semi (1984:45) mengatakan :”alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai buah interaksi khusus sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi”. Kemudian Fananie (2000 : 84) mengatakan :”tema adalah ide. Generating Circumtances (peristiwa yang bersangkut paut mulai bergerak) 3. dasar cerita (yang hendak dipercakapkan. Maka dapat disebut alur atau plot dan struktur deretan kejadian-kejadian yang dialami oleh pelaku cerita yang pada umumnya dibedakan atas tiga bagian utama yaitu : bagian perkenalan. Sastra yaitu tema. adat). Denouement (pengarang memberikan pemecahan soal dari semua peristiwa)”. pedekatan ini memandang dan menelaah sastra dari segi intrinsik yang membangun suatu karya. penokohan. “1.

Latar mencakup ruang dan waktu yaitu di mana dan kapan kejadian tersebut. bulan. dalam pengertian sifat atau ciri khas yang terdapat pada diri tokoh yang dapat membedakan antara satu tokoh dengan tokoh yang lainnya. masa kepemimpinan seseorang di masa yang lalu dan lain-lain yang menjadi petunjuk bagi pembaca untuk lebih memahami waktu dan tempat kejadian itu berlangsung juga digolongkan latar. gunung. musim peristiwa penting dan bersejarah. tahun. fisiologis. Perwatakan adalah karakter dari tokoh . Latar bukan hanya berupa daerah atau tempat namun waktu. kota. Unsur perwatakan dalam sebuah karya sastra lebih diutamakan dalam meninjau perkembangan jiwa tokoh itu sendiri. permukaan dasar warna dan sebagainya. Waktu (masa) di sini menggambarkan kapan kejadian itu berlangsung seperti tanggal. Bangun. Tempat di sini bisa kita artikan lokasi atau daerah terjadinya cerita itu seperti desa. Gambaran watak seseorang tokoh dapat diketahui melalui apa yang diperankan dalam cerita tersebut kmudian jalan pikirannya serta bagaimana penggambaran pisik tokoh.Latar atau setting adalah tempat-tempat kejadian suatu peristiwa atau kejadian di dalam penceritaan karya sastra. pada perang. keterangan mengenai ruang waktu dan suasananya saat berlangsungnya peristiwa (dalam karya sastra)”. dkk (1993:21) mengatakan :” perwatakan tokoh cerita dapat tokoh dapat dilihat melalui tiga aspk yaitu aspek psikologis. Daryanto (1997 :393) mengatakan :” latar adalah halaman rumah (bagian depan). hutan dan sebagainya. musim panen dan sebagainya. Universitas Sumatera Utara . musim tanam. Selanjutnya kita dapat menyebut bahwa latar atau setting merupakan lukisan mengenai tempat dan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa dalam suatu cerita.

stiap tokoh mempunyai watak tersendiri yang dapat dianalisis dan diramalkan secara analisis yaitu dapat diterangkan secara langsung watak tokohnya. dan lain-lain. Kesabaran adalah salah satu sifat manusia. Daryanto (1997 : 288) mengatakan :”iri hati adalah rasa tidak senang jika melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan. Setiap cerita mempunyai tokoh di mana tokoh ini dianggap sebagai pembentuk peristiwa alur dalam alur cerita. Oleh karena itu. namun ukuran kesabaran tersebut Universitas Sumatera Utara . permusuhan. sedangkan secara dramatik yaitu dapat diterangkan secara tidak langsung tetapi mungkin melalui tindakannya dan lain-lain. Aspek perwatakan (karakter) merupakan imajinasi pengarang dalam membentuk suatu personalisis tertentu dalam sebuah karya sastra. Pengarang sebuah karya sastra harus mampu menggambarkan diri ssorang tokoh yang ada dalam karyanya. Kejujuran merupakan salah satu sifat terpuji. kesabaran. Manusia pada umumnya memiliki rasa sabar. Daryanto (1997 : 309) mengatakan: “jujur adalah tidak bohong. Nilai-nilai sosial dalam sebuah karya sastra adalah iri hati. tabiat. kejujuran. lurus hati. Seseorang yang mampu mengatakan hal yang sebenarnya terjadi itulah yang dinamakan dengan jujur. Setiap manusia mempunyai sifat kejujuran akan tetapi kadang-kadang unuk jujur saja manusia sangat susah dan sifat kejujuran itu sangat sering disalah gunakan oleh manusia itu sendiri. Daryanto (1907:632) mengatakan : “waktak adalah sifat batin manusia yang mempngaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. budi pekerti. keadilan. rasa ingin seperti orang yang mendapatkan kesenangan”.dan sosiologis”. dapat dipercaya kata-katanyatidak khianat dan sebagainya”. Sedangkan perwatakan adalah hal-hal yang berhubungan dengan watak”.

Universitas Sumatera Utara . Berdasarkan pendapat di atas bahwa teori struktural yang bertujuan untuk menganalisis karya sastra berdasarkan unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut dalam suatu hubungan antara unsur pembentuknya.bagi setiap orang berbeda-beda. Menganalisis sebuah karya sastra dengan pendekatan sosiologi sastra yang dapat membangun sebuah karangan atau sebuah karya sastra tanpa menghilangkan unsur-unsur dalam cerita. Seseorang yang tahan menghadapi segala persoalan ataupun penderitaan yang menimpa dirinya maka dapat dikatakan bahwa dia mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi.sikap – tidak akan menimbulkan pertengkaran”. Daryanto (1997 : 516) mengatakan : “sabar adalah pemaaf . tidak suka marah/ tidak mudah marah. Sifat sabar merupakan salah satu sifat yang terpuji yang dimiliki manusia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful