P. 1
eksistensi mahasiswa dalam menghidupkan kembali budaya siri'

eksistensi mahasiswa dalam menghidupkan kembali budaya siri'

|Views: 516|Likes:
Published by Azizah Noor

More info:

Published by: Azizah Noor on Dec 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

LOMBA KARYA ILMIAH REMAJA

EKSISTENSI PEMUDA BONE DALAM MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA SIRI’

DISUSUN OLEH:

DPC KEPMI BONE DUA BOCCOE

DEWAN PENGURUS PUSAT KESATUAN PELAJAR MAHASISWA INDONESIA BONE

1

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Paper ini disusun agar pembaca dapat pengetahuan mengenai budaya siri’ di kabupaten Bone dan menumbuhkan kembali budaya siri’ tersebut, yang kami sajikan berdasarkan tinjauan dari berbagai sumber. Penulisan ini disusun oleh penulis dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya Penulisan ini dapat terselesaikan. Paper ini memuat tentang budaya Siri’ yang merupakan ciri khas masyarakat Bugis dan merupakan budaya yang sangat dipegang teguh oleh masyarakat Bugis namun akrena adanya bebrapa pengaruh yang sangat signifikan mempengaruhi budaya tersbut sehingga berda pada keadaan terkikis sedikit demi sedikit pada sekarang ini, maka diperlukan suatu langkah untuk menumbuhkan kembali budaya Siri’ tersebut. Walaupun penulisan ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para senior dan teman-teman yang telah membimbing penulis agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun karya tulis ilmiah. Semoga penulisan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penulis mohon saran dan kritiknya. Terima kasih. Makassar, Juni 2011 Penulis

2

ABSTRAK
Eksistensi pemuda Bone dalam menghidupkan kembali budaya siri’. 2011. Penulisan karya ilmiah sederhana ini bertujuan untuk mengkaji secara teoritis apa itu budaya siri’ serta bagaimana pengaruh teknologi dan bagaimana peran pemuda Bone dalam menghidupkan kembali budaya siri’ yang selama ini terlupakan dan terabaikan. Siri’ merupakan khas dan pegangan masyarakat Bone yang harus dihidupkan kembali yang pernah merosot akibat akibat pengaruh teknologi dan budaya barat. Metode yang digunakan yaitu metode kepustakaan dan termasuk jenis penelitian deskriptif dimana penulis mencoba menawarkan beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh pemuda Bone untuk menghidupkan kembali budaya siri’.

3

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................. i KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii ABSTRAK ............................................................................................................ iii DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1 C. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2 D. Manfaat Penulisan ..................................................................................... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori .............................................................................................. 3 B. Definis Operasional Variabel .................................................................... 29 C. Batasan Masalah........................................................................................ 30 D. Metode Penulisan ...................................................................................... 31 BAB III EKSISTENSI PEMUDA BONE DALAM MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA SIRI’................................................................................. 32 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................... 37 B. Saran .......................................................................................................... 37 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 38

4

BAB I PENDAHULUAN Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang masih memberikan umur panjang sehingga mampu menikmati dunia yang penuh dengan perkembangan, karena perkembangan itulah manusia semakin cerdas menciptakan sesuatu yang seakan-akan dirinya mampu melampaui batas kekausaan Tuhannya. Dewasa ini manusia di dunia mampu menciptakan komunikasi lewat dunia maya, sebut saja internet yang menggejolak di mata masyarakat, yang mampu menghipnotis hingga pelosok desa, tapi apakah kita tau bagaimana hal seperti itu menguasai kita? merupakan pertanyaan yang sangat besar dalam diri masingmasing. Produk-produk teknologi saat ini bukan hanya mampu menguasai manusia tapi juga dapat menguasai budayanya, kenapa? karena manusia masih belum mampu memanfaatkan era ini dengan baik. Dapat kita lihat kerusakan budaya yang ada di Indonesia, sebut saja budaya Bugis yang turun temurun mengharamkan bermesraan di depan umum jika bukan muhrimnya, tetapi kita lihat budaya seperti seakan-akan hilang dibawa oleh arus perkembangan. Kebudayaan bugis seakan-akan ditenggelamkan dengan budaya barat yang meraja lela dimana- mana, disudut kota hanya dihiasi dengan kebejatan, yang jika dipandah dari sudut budaya bugis yang menganut budaya SIRI” sudah hilang. Budaya Bugis lambat laun semakin meredam, yang ada hanya budaya barat yang dipertontonkan banyak ummat, jadi pantas saja apabila Tuhan mengutuknya. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu tindakan yang preventif dan refresif dalam menangani hal ini, sehingga penulis terinspirasi untuk mengkaji lebih dalam bagaimana penerapan nilai-nilai penerapan budaya siri itu sendiri khususnya di kabupaten Bone. B. Rumusan masalah Dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1) Apa yang dimksud dengan budaya siri’?
5

2) Mengapa teknologi dapat mempengaruhi merosotnya budaya siri’ di kabupaten Bone? 3) Bagaimana peranan pemuda Bone dalam menghidupkan kembali budaya siri’ di kabupaten Bone? C. Tujuan penulisan 1) Untuk mengetahui apa yang dimksud dengan budaya siri’. 2) Untuk mengetahui mengapa teknologi dapat mempengaruhi merosotnya budaya siri’ di kabupaten Bone. 3) Untuk mengetahui bagaimana peranan pemuda Bone dalam menghidupkan kembali budaya siri’ di kabupaten Bone. D. Manfaat Penulisan Penulisan ini nantinya diharapkan dapat djadikan sebagai penambah pengetahuan bagi pembaca dan referensi bagi siapapun yang selanjutnya akan melakukan penlitian dengan tema yang sama.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis 1. Riwayat Kabupaten Bone

Bone dahulu disebut TANAH BONE. Berdasarkan LONTARAK bahwa nama asli Bone adalah PASIR, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah KESSI (pasir). Dari sinilah asal-usul sehingga dinamakan BONE. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone sebenarnya adalah lokasi Bangunan Mesjid Raya sekarang letaknya persis di Jantung Kota Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone tepatnya di Kelurahan Bukaka. Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak adanya ManurungngE Ri Matajang pada awal abad XIV atau pada tahun 1330. ManurungngE Ri Matajang bergelar MATA SILOMPO’E sebagai Raja Bone Pertama memerintah pada Tahun 1330 – 1365. Selanjutnya digantikan Turunannya secara turun temurun hingga berakhir Kepada H.ANDI MAPPANYUKKI sebagai Raja Bone ke – 32 dan ke– 34 Diantara ke – 34 Orang. Raja yang telah memerintah sebagai Raja Bone dengan gelar MANGKAU, terdapat 7 (tujuh) orang Wanita. (Andi Pamelleri) Adapun mayoritas suku yang ada di kabupaten Bone adalah suku Bugis. Suku Bugis atau To Ugi’ adalah salah satu suku di antara sekian banyak suku di Indonesia. Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orang-orang buhis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe’) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis orang-orang Bugis itu sendiri di masala lalu. Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (menurun) atau

7

dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membwa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006). Umumnyaorang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata “Bugis” berasal dari kata to Ogi, yang berarti orang Bugis. Penanaman “Ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan Negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya kecamtan Pammana kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpungi. La Sattumpungi adalah ayah dari We’ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu’, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigadi g sendiri adalah suami dari We’ Cidai dan melahirkan bebrapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opinna Ware’ (Yang dipertuahkan di Ware’) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton (Sumber: id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis). Perdaban awal orang-orang Bugis banyak dipengaruhi juga oleh kehidupan tokoh-tokohnya yang hidup di masa itu, dan diceritakan dalam karya sastra terbesar di dunia yang termua di dalam La Galigo atau Sure’ Galigo dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio dan juga tulisan yang berkaitan dengan silsilah keluarga bangsawan, daerah kerajaaan, catatan harian, dan catatan lain baik yang berhubungan adat (ade’) dan kebudayaan-kebudayaan di masa itu tertuang dalam Lontara’. Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam La Galigo, di antaranya ialah Sawerigading, We’ Opu Sengngeng (Ibu Sawerigading), We’ Tenriabeng (Ibu We’ Cudai), We’ Cudai (Istri Sawerigading), dan LA Galigo (Anak Sawerigading dan We’ Cudai). Tokoh-tokoh inilah yang divceritakan dalam Sure’ Galigo sebagai pembentukan awal peradaban Bugis pada umumnya. Sedangkan di dalam

8

Lontara’ itu berisi silsilah keluarga bangsawan dan keturunan-keturunannya, serta nasihat-nasihat bijak sebgai penuntun orang-orang bugis dalam mengarungi khidupan ini. Isinya lebih cenderung pada pesan yang mengatur norma sosial, bagaimana berhubungan denga sesama baik yang berlaku pada masyarakat setempat maupun bila orang Bugis pergi merantau di negeri orang.
2. Adat dan Kebudayaan Suku Bugis Konsep Ade’ (Adat) dan Spiritualitas (Agama) Konsep ade’ (adat)merupan tema sentral dalam teks-teks hukum dan sejarah orang Bugis. Namun, istilah ade’ itu hanyalah pengganti istilah-istilah lama yang terdapat di dalam teks-teks zamam pra-Islam, kontrak-kontrak sosial, serta perjanjian yang berasal dari zaman itu. Masyarakat tradisional Bugis mengacu kepada konsep pang’ade’reng atau “adat-istiadat”, berupa serangkaian norma yang terkait satu sma lain. Selain konsep ade’ secara umum yang terdapat di dalam konsep pang’ade’reng, terdapat pula bicara (norma hukum), rapang (norma keteladanan), dan sara’ (syariat Islam) (Mattulda, kebudayaan Bugis Makassar: 275-7; La Toa), tokoh-tokoh yang dikenal oleh masyarakat Bugis sseperti Saweigading, We’ Cudai, La Galigo, We’ Tenriabeng, We’ Opu Sengngeng, dan lain-lain merupakan tokoh-tokoh yang hidup di zaman praIslam. Budaya-budaya Bugis sesungguhnya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe’ (permisi) sambil berbungkuk setengan badan bila lewat di depan sekumpulan orangorang tua yang sedang bercerita., mengucapkan iye’, jika menjawab pertanyaan sebelum mengatakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaran-ajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara’ yang harus diresialisasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat Bugis. 3. Budaya Manusia Bugis

Rahim (1985) dalam bukunya ”Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis” mengatakan bahwa peranan budaya Bugis di Sulawesi Selatan dalam bentuk kedirian dan kemandiriannya, dan telah berhasil menampilkan suku Bugis sebagai orang-orang tegar menata, membina serta menambahkan pri kehidupannya,

9

disamping suku-suku lainnya, sebagai bahagian dari bangsa Indonesia. Ungkapan budaya Bugis dipandang dapat menjadi jiwa dan moral pembangunan nasional. Nilai-nilai utama harus dipandang sebagai nilai-nilai yang utuh dan mempunyai dua sisi, ibarat mata uang; harganya terletak pada dua sisinya. Satu dari padanya hilang tidak berhargalah ia, nilai-nilai utama (Adat) Kejujuran (Lempu’), Kecendekiaan (Acca), Kepatutan (Asitinajang), Keteguhan (Getteng), Usaha (Reso) dan Harga Diri (Siri’). Nilai-nilai tersebut bukan hanya hak kebudayaan tetapi juga kewajiban kebudayaan, baik berlakunya nilai-nilai itu di kalangan orang Bugis khususnya maupun diantara sesama makhluk insannya. Oleh karena itu, penggalian dan telaah terhadap peninggalan budaya masa silam tetap mempunyai arti. Wujud kebudayaan Bugis yang idealnya, tersimpul dalam apa yang disebut singkeruang (sikap hidup) terjelma dalam berbagai bentuk costum yang dinyatakan dalam konsep-konsep : Lempu’, Acca, Asitinajang, Getteng, Reso dan Siri’ Beranjak dari pengertian di atas maka orang Bugis yang mempunyai sejarah dan masyarakatnya tetap wujud dari zaman ke zaman. Pola-pola tingkah lakunya terbentuk secara kumulatif pada zamannya yang lampau. Generasi dibelakangnya memperolehnya sebagai warisan sosial yang dipandangnya sebagai ide-ide tradisionalnya. Ide-ide tradisional ini mengandung sejumlah nilai yang mempengaruhinya ketika membuat keputusan dalam menghadapi situasi tertentu. Nilai-nilai ini merupakan warisan budaya karena dipunyai bersama dan dialihkan bersama. Ia dihargai dan dihormati oleh masyarakatnya. Ia mengatur kepatutan (Asitinajang) bagi perempuan dan laki-lakinya, bagi anak-anak dan orang tuanya. Siapa yang melanggarnya akan menimbulkan penyesalan bagi dirinya di samping dia direndahkan oleh masyarakatnya bahkan juga oleh keluarganya. Nilai-nilai ini dipelihara oleh mereka sebagai memelihara suatu kehormatan diri yang paling besar yang telah dimuliakan oleh leluhurnya. Oleh karena itu ia adalah nilai-nilai kebudayaan.

10

Darmawan Mas’ud dalam Kombie,A.S (2003:216) mensinyalir bahwa unsur-unsur ajaran dasar Sawerigading berupa Lempu’, Tongeng, Getteng dan Adele, sama dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sekitar abad ke-XIV sampai masuknya kekuasaan kolonial Belanda, orang Bugis di Sulawesi Selatan mempunyai kerajaan-kerajaan lokal merdeka yang terkenal, diantaranya ialah Tana-Luwu’, Tana-Bone, Tana-Wajo’, Tana-Soppeng dan Tana-Sidenreng. Kerajaan-kerajaan orang Bugis itu bersama-sama disebut TanaUgi’ dalam sejarahnya tak pernah mengalami keadaan sebagai satu negara yang mempersatukan sekalian suku bangsa Bugis dalam satu Pemerintahan. Hubungan persaudaraan atau persahabatan didasarkan atas kesadaran kesatuan etnis yang mereka namakan ”sempugi” selalu dijunjung tinggi (Mattulada,1995:6). Selanjutnya Mattulada (1995:6) dalam ”Latoa” menegaskan bahwa dalam perkembangan sejarah kerajaan-kerajaan itu selanjutnya, Tana-Bone dianggap sebagai kerajaan Bugis yang menjadi standard dari pola-pola kehidupan politikekonomi dan kebudayaan bagi kerajaan-kerajaan Bugis lainnya. Demikianlah maka sampai sekarang yang dijadikan bahasa Bugis standard, adalah bahasa Bugis To-Bone. Nilai-nilai utama menurut Toriolo dalam Rahim (1985) bahwa, yang menentukan manusia ialah berfungsi dan berperannya sifat-sifat kemanusiaan, sehingga orang menjadi manusia, dan begitu juga nilai-nilai kebudayaan Bugis. Adapun nilai-nilai kejujuran, kecendekiaan, kepatutan, keteguhan, usaha dan harga diri, sebagai nilai-nilai utama yang akan dibahas disini, harus dilihat dari segi fungsinya. Keutamaannya secara fungsional dalam hubungannya dengan diri sendiri, dengan sesama makhluk, dengan cita-cita, dan dengan Tuhan Selanjutnya enam nilai-nilai utama kebudayaan Bugis dapat di uraikan sebagai berikut : 1. Lempu’ = Jujur (Honesty, Credibility)

11

Lempu’ : dalam bahasa Indonesia artinya jujur, sama dengan lurus sebagai lawan dari bengkok. Dalam berbagai konteks kata ini berarti ikhlas, benar, baik atau adil. Sehingga lawan katanya adalah culas, curang, dusta, khianat, seleweng, buruk, tipu, aniaya, dan semacamnya. Arti ini dapat dipahami ketika ditemukan kata lempu’ dalam ungkapan-ungkapan Bugis atau lontara. Berbagai cara pula lontara menerankan kejujuran itu. Ketika Tociung, cendekiawan Luwu, diminta nasihatnya oleh calon raja (Datu) Soppeng, La Manussa’ Toakkarangeng, beliau menyatakan ada empat perbuatan jujur, yaitu (a) memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya; (b) dipercaya lalu tak curang, artinya disandari lalu tak berdusta; (c) tak menyerakahi yang bukan haknya; (d) dan tidak memandang kebaikan kalau hanya buat dirinya, baginya baru dinamakan kebaikan jika dinikmati bersama. Sejalan dengan pengertian ini Kajao Laliddong, cendekiawan Bone menjelaskan kejujuran ketika ditanya oleh Arumpone mengenai pokok-pangkal keilmuan. Apakah saksinya (sabbi) atau bukti kejujuran (lempu’) ? ’Seruan (obbi’) ya Arumpone!” Apa yang diserukan ya Kajao? ”Adapun yang diserukan adalah : Jangan mengambil tanaman yang bukan tanamanmu; jangan mengambil barang-barang yang bukan barang-barangmu, bukan juga pusakamu; jangan mengeluarkan kerbau (dari kandangnya) yang bukan kerbaumu, juga kuda yang bukan kudamu; jangan ambil kayu yang disandarkan, yang bukan engkau menyandarkannya; jangan juga kayu yang sudah ditetak ujung pangkalnya yang bukan engkau menetaknya. Betapapun dalam kesan nilai kejujuran itu pada diri pribadi La Manussa’ To Akkarangeng. Pada waktu rakyat Soppeng mengajukan kesepakatannya untuk meminta kesediaan beliau menjadi Datu Soppeng, berkali-kali ditolaknya sambil menyatakan supaya mencari orang lain dari padanya. Ketika beliau pada akhirnya menerima, masih pun diminta tempo untuk pergi berguru, mencari bekal keilmuan bagi kepentingan pelaksanaan amanat rakyat Soppeng. Kalau sikapnya itu dikatakan berendah hati namun sikap itu lahir dari nilai kejujuran bercampur dengan keilmuan dan kepatutan. Dia tidak merasa rendah buat menyatakan
12

kekurangannya

dihadapan

rakyat

yang

telah

meyakini

kelebihan

dan

kemampuannya. Rakyat Soppeng telah mengetahui bahwa syarat untuk seorang Datu di Soppeng telah dimiliki olehnya. Dipihak lain Raja Bone yang di tangannya tergenggam kekuatan besar di antara para raja Bugis lainnya, bersedia menerima nasihat, sedangkan pembantunya, Kajao, tanpa ragu-ragu memberikan pula nasihatnya. Mungkinkah pula ini tidak atas dasar kejujuran? Apabila tanaman dan kerbau dapat dimisalkan sebagai sumber makanan; kuda sebagai alat buat menyelenggarakan

penghidupan, apakah ini tidak menunjukkan bahwa kejujuran itu bermakna pula menghormati hak-hak bagi pemiliknya? Biarpun empunya tidak mengawal miliknya, tetapi telah diketahui bahwa sesuatu kayu sudah tersandar dan sudah terletak, iapun harus diberlakukan secara jujur sebagai tanda berlaku jujur menghormati hak yang empunya. Dilain pihak seorang anak di Sidenreng yang melanggar nilai kejujuran harus menerima hukuman mati sebagai imbalannya. Hukuman mati itu dijatuhkan oleh si ayah sendiri sebagai hakim di negeri itu, Si ayah inilah yang bernama La Pagala Nenek Mallomo (1546-1645) yang lahir di Panrenge di sebelah utara Amparita. Jikalau orang harus merasa segan atau takut maka perasaan itu hanya patut diberikan kepada orang jujur. Memang pada mulanya kejujuran itu diatasi oleh kecurangan namun akhirnya yang menentukan kejujuran juga, ”kata La Tiringeng To Taba Arung Saotanre Raja cendekiawan Wajo di abad XV (Rahim, 185:145-152). Demikian juga yang dapat memberikan harapan hidup yang panjang, memanjangkan usia, (Lamperi sunge’) adalah dengan mengembangkan perilaku yang memelihara kejujuran (lempu’), dengan membuktikan perbuatan yang : memaafkan orang yang bersalah padanya, tidak culas bila diberi kepercayaan, tidak serakah terhadap yang bukan haknya, dan tidak mencari kebaikan bila hanya dia yang menikmatinya (Ibrahim,2003:89).

13

Nilai-nilai dasar , Lempu’, Adatongeng, Getteng menjadi sumber Ammaccang (kepandaian). Nilai kejujuran mempunyai posisi sentral. Kepandaian yang tidak bersumber atau tidak disertai kejujuran, tidak akan menopang pemeliharaan ’induk kekayaan’ negara dan rakyat. Kejujuran harus diserukan, didakwahkan. Kalau sumber kepandaian adalah kejujuran, maka saksinya (sabbi) menurut Kajao Laliddong adalah perbuatan (Gau’) (Ibrahim,2003:24). Berkata juga La Waniaga Arung Bila, terdapat empat macam permata bercahaya, yaitu ”lempu’”, kejujuran; ”adatongeng”, kata-kata benar beserta ketetapan hati; ”Siri’” beserta keteguhan pada prinsip; dan akal pikiran disertai kebaikan hati. Adapun yang menutupi kejujuran adalah kesewenang-wenangan, yang menutupi kata-kata benar adalah kedustaan, yang menutupi ”siri” adalah ketamakan, dan yang menutupi akal-pikiran adalah kemarahan. Pada hakikatnya, apa yang dikemukakan Arung Bila merupakan penjabaran kreatif dari nilai-nilai yang telah dikemukakan Kajao Laliddong (Ibrahim,2003:88). 2. Acca = Kepandaian (Proficiency, Intelectual) Acca : dalam bahasa Indonesia berarti kepandaian atau kepintaran dapat dipahami, baik dalam arti positif maupun negatif. Padahal acca bukan pandai atau pintar tetapi cendekia atau intelek, (cendekia dari Sangsekerta, kearifan dari bahasa Arab). Lontara juga menggunakan kata nawa-nawa yang berarti sama dengan acca. Jadi orang mempunyai nilai acca atau nawanawa oleh lontara disebut Toacca, Tokenawanawa atau Pannawanawa, yang dapat diterjemahkan menjadi cendekiawan, intelektual, ahli pikir atau ahli hikmah arif. Pengertian ini masih perlu dijelaskan guna membantu kita memahami nilai kecendekiaan yang dikemukakan oleh lontara. (Rahim,1985).

14

Di dalam konsep nilai kecendekiaan terkandung, disamping nilai kejujuran, juga nilai kebenaran, kepatutan, keikhlasan, dan semangat penyiasatan atau penelitian. Tociung menyebutkan bahwa cendekiawan (toakenawanawa) mencintai perbuatan dan kata yang benar, waktu menghadapi kesulitan dia memikirkannya kembali, dan berhati-hati melaksanakan segala sesuatu. Petta Matinroe ri Lariangbanngi (bangsawan tinggi Bone) menerangkan pula bahwa yang disebut pannawanawa (cendekiawan) ialah orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu mencari-cari sampai dia menemukan pemecahan persoalan yang dihadapinya demikian juga perbuatan yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan (Rahim,1985).
3.Asitinajang = Kepatutan (Proper) Asitinajang : dalam bahasa Indonesia Artinya Kepatutan, kepantasan, kelayakan, kata ini berasal dari tinaja yang berarti cocok, sesuai, pantas atau patut. Lontara mengatakan : ”Duduki kedudukanmu, tempati tempatmu. Ade’ wari’ (adat pembedaan) pada hakikatnya mengatur agar segala sesuatu berada pada tempatnya. Mengambil sesuatu dari tempatnya dan meletakkan sesuatu pada tempatnya, termasuk perbuatan mappasitinaja. Nilai kepatutan ini erat hubungannya dengan nilai kemampuan (makamaka) jasmaniah dan ruhaniah. Penyerahan atau penerimaan sesuatu, apakah itu amanat atau tugas, haruslah didasarkan atas kepatutan dan kemampuan. Makamaka lebih banyak menekankan penampilan bagi pemangku tanggung jawab. Lataddampare Puang ri Maggalatung (cucu raja Palakka) (1498-1528) pernah berkali-kali menolak tawaran Adat dan rakyat Wajo untuk diangkat menjadi Arung Matoa Wajo atas kematian Batara Wajo ke-3 La Patenddungi To Samallangi’ bukan karena beliau tak mampu memangku jabatan itu. Rakyat dan Adat Wajo yakin akan kebolehan beliau. Tetapi yang menjadikan beliau tidak menerima tawaran tersebut adalah nilai kepatutan dalam dugaan atau persangkaan orang terhadapnya. Pada waktu Batara Wajo ke-3 memerintah sewenang-wenang, dan tidak seorangpun berani tampil menahan, ketika itu Puang ri Maggalatung diminta bantuannya, dan memang beliau pun mampu melaksankannya. Memang wajar beliau menerimanya, sebab baik membunuh raja yang zalim maupun tawaran untuk dirajakan sama-sama kehendak adat dan rakyat Wajo. Nilai kepatutan yang berperan di dalam diri Lataddampare’ Puang ri Maggalatung,

15

mengingatkan kita kepada penerapan petaruh yang diwariskan oleh leluhur Bugis (Rahim,1985:157-159). Pemikiran Tociung MaccaE ri Luwu, tidak hanya berkembang dan mempedomani kehidupan sosial politik dan budaya di kerajaan Luwu, melainkan menembus ’jauh’, antara lain ke kerajaan Soppeng, dipelajari dan dikaji, terutama oleh raja dan kaum bangsawannya. Datu Soppeng La Baso’ Manussa To Akkarangeng, secara khusus melakukan perjalanan dari Soppeng berkunjung ke tempat kediaman MaccaE ri Luwu. Dalam mengemukakan pandangan-pandangannya yang disampaikan dengan cara berdialog dengan Labaso’ To Akkarangeng, MaccaE ri Luwu tampaknya lebih banyak membuat penguraian-penguraian. Sifat moralistik-religius, yang tercermin dalam pemikirannya menandai pemahaman dan pendalamannya mengenai ilmu pappejeppu, ilmu ma’rifat Bugis. MaccaE ri Luwu menjawab pertanyaan Datu Soppeng To Akkarangeng bahwa yang dapat memperluas jaringan kekerabatan dan merimbunkan pepohonan (palorong welareng, paddaung raukkaju) adalah dengan mempraktekkan perilaku yang menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya secara proporsional (Asitinajang). 4. Getteng = Keteguhan (Firm) Getteng dalam bahasa Indonesia artinya teguh, kata inipun berarti tetap-asas atau setia pada keyakinan, atau kuat dan tangguh dalam pendirian, erat memegang sesuatu. Sama halnya dengan nilai kejujuran, nilai kecendekiaan dan nilai kepatutan, nilai keteguhan ini terikat pada makna yang positif. Ini dinyatakan oleh To Ciung Maccae ri Luwu bahwa empat perbuatan nilai keteguhan (a) Tak mengingkari janji, (b) tak mengkhianati kesepakatan, (c) tak membatalkan keputusan, tak mengubah kesepakatan, dan (d) jika berbicara dan berbuat, tak berhenti sebelum rampung (Rahim,1985). La Tenriruwa Sultan Adam Matinrioe ri Bantaeng (kakek Latenri Tatta Arung Palakka) hanya tiga bulan menduduki takhta kerajaan Bone (1611). Beliau raja Bone (Mangkau’) pertama yang memeluk agama Islam, maka ramailah raja-raja Bugis lainnya dan diikuti oleh masing-masing rakyatnya memeluk Islam. Yang menyampaikan da’wah Islamiah ini ialah kerajaan Gowa di bawah rajanya I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papambatuna (1605-1653) beliau adalah ayahanda dari ”I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla’ Pakanna” yang telah lebih dahulu menerima Islam. Raja Bone La

16

Tenriruwa Sultan Adam menerima Islam yang disampaikan kepadanya oleh I Manuntungi Daeng Mattola Sultan Malikussaid. Dalam perjanjian persahabatan negara-negara Bugis-Makassar yang masih tetap diakui bersama, antara lain ditetapkan : ”bahwa barangsiapa yang lebih dahulu menemukan suatu jalan yang lebih baik, maka berjanjilah siapa-siapa yang menemukan kebajikan itu lebih dahulu supaya memberitahukannya kepada raja-raja lainnya. Perjanjian inilah yang menjadi dasar penerimaaan Raja Bone dan raja-raja Bugis lainnya. Akan tetapi setelah beliau mengumumkan keislamannya ternyata rakyat Bone menolak seruan beliau. Ini terjadi pada waktu baru saja tiga bulan beliau bertakhta. Atas penolakan ini, beliau melepaskan kedudukannya, lalu pergi ke Pattiro, di negeri mana beliau dahulu sebagai Arung yang memerintah (Arung Pattiro). Rakyat di sini pun menolak dakhwah Islamiah yang disampaikan beliau, kemudian beliau berangkat ke Tallo, Gowa; dan dari sini beliau ke Bantaeng untuk berdiam disitu. Di sinilah beliau mangkat, sehingga beliau disebut Matinroe ri Bantaeng (Rahim,1985:163). Sedangkan untuk mengembangkan (jumlah) manusia dan membiakkan ternak (pasawe tau, pabbija olok-olok) diperlukan pemeliharaan perilaku yang menunjukkan nilai keteguhan dan ketegasan dalam prinsip yang benar (getteng), dengan bukti perbuatan : tidak mengingkari janji, tidak menghianati ikrar (komitmen) antar-kerajaan, tidak merusak ketetapan terdahulu, tidak mengubah kemufakatan, dan menyelesaikan dengan tuntas bila mengadili perkara (Ibrahim,2003:89). 5. Reso = Usaha ( Acceptable ) Reso : dalam bahasa Indonesia artinya usaha merupakan nilai kunci bagi pelaksanaan nilai-nilai kejujuran, kecendekiaan, kepatutan dan keteguhan. Barulah nilainilai ini berperanan secara bertepat guna dan berdaya guna apabila didukung oleh nilai usaha. Dengan sendirinya nilai usaha inipun tegak di atas landasan nilai-nilai tersebut. Demikianlah nilai kejujuran yang berperanan di dalam diri To Akkarangeng Datu Soppeng dan La Pagala Nenek Mallomo; nilai kecendekiaan di dalam diri To Suwalle Kajao Laliddong, dan lain-lain; nilai kepatutan dalam diri La Taddampare’ Puang ri Maggalatung, dan lain-lain; dan nilai keteguhan di dalam diri beberapa mangkau’ (Arumpone), sebagaimana yang telah dikemukakan diatas. Empat hal yang disuruh perhatikan oleh lontara bagi pengusaha atau peniaga : kejujuran karena menimbulkan kepercayaan; pergaulan, karena akan mengembangkan

17

usaha; keilmuan, karena akan memperbaiki pengelolaan dan ketata-laksanaan; dan modal karena inilah yang ikut menggerakkan usaha (Rahim, 1985:165-166). Nilai budaya Bugis lain yang disebut Reso (kerja keras,usaha) dilihat dari beberapa ungkapan, serta pandangan pakar menyangkut hal ini. Reso dalam bahasa Bugis biasa dipadankan dengan kata kerja atau kerja keras (usaha) dalam bahasa Indonesia. Dalam kaitan dengan aktivitas manusia Bugis yang terkait dengan Reso sebagai manifestasi budaya dalam kehidupan manusia Bugis, sekaligus sebagai inti dari semua itu. Reso merupakan salah satu dari enam nilai utama kebudayaan Bugis, sekaligus sebagai inti dari semua itu. Manusia Bugis memandang Reso sebagai simbol kehidupan, mungkin nilai utama lainnya bisa diabaikan tetapi kehidupan tetap berlangsung; tetapi meniadakan Reso sama artinya dengan mengabaikan kehidupan itu sendiri. Manusia Bugis pada masa lampau dapat dipandang memiliki penghargaan yang tinggi terhadap waktu dalam kaitan dengan usaha atau kerja keras (Reso). Sebagai indikasi ke arah itu sesuai catatan Lataddampare Puang Ri Maggalatung Arung Matowa Wajo (Cucu Arung Palakka) seperti berikut ini : ”Ee kalaki de’ga gare pallaonmu muonro ri sere lalennge? ianaritu riaseng kedo matuna, gau’ temmakketuju, de’kua de’gaga pallaonmu, laoko ri barugae mengkalinga bicara ade iarega laoko ri pasa’e mengkalinga ada pabbalu”, mapatoko sia kalaki! Nasaba’ "resopa namatinulu’ natemmanginngi’ namalomo naletei pammase dewata”. Pentingnya generasi muda bekerja keras mencari nafkah sebagai bekal menghadapi masa depan; tetapi kerja keras dalam mencari nafkah saja tidak cukup disamping itu harus mencari ilmu dari orang lain; baik yang berhubungan dengan pengetahuan umum (dibalairung) maupun pengetahuan praktis (di pasar). Dalam berusaha mereka dianjurkan melakukan semua itu dalam ketekunan, hanya dengan ketekunan cita-cita dapat diwujudkan (Tang R,2007:3).

Reso (usaha,kerja keras) sebagai roh dalam kehidupan manusia Bugis merupakan manifestasi dari sikap dan perilaku yang terbentuk atas pengaruh kuat dari aspek mental kebudayaannya, yang masih terpelihara dalam bentuk ungkapan. Reso telah membawa sebagian manusia Bugis meraih kehidupan gemilang sepanjang kompetisi yang dilaluinya. Dan sebagian lagi bernasib buruk seiring melemahnya etos kerja mereka, mereka kehilangan identitas kebugisannya

18

sebagai akibat dari pemahaman keliru terhadap makna reso dalam kebudayaan. Reso adalah sebuah keharusan untuk di jalani, namun rambu-rambu dalam perjalanan itu tidak boleh diabaikan demi menghindari bencana (Tang,R,2007:34).
6. Siri’ = Harga Diri (Amour Propre, Exalted) Siri’ : dalam bahasa Indonesia artinya malu yang merupakan adat kebiasaan yang melembaga dan masih besar pengaruhnya dalam budaya kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Masalah siri selalu menarik perhatian mereka yang hendak mengenal manusia dan kebudayaan Bugis. Matthes dalam (Mattulada,1995:61) dalam kamusnya, menjabarkan siri’ itu dengan malu, schande, beschaamd, schroomvalig, verlegen, schaamte dan eergevoel. Diakui beliau, bahwa penjabaran baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Belanda, tidak menangkap maknanya secara tepat benar (Matthes,1872 a : 583).Siri’ adalah kebanggaan atau keagungan harga diri . Bagi orang-orang suku Bugis diwariskan amanah oleh leluhurnya untuk menjunjung tinggi adat-istiadatnya yang didalamnya terpatri pula sendi-sendi siri’ tersebut.

Manakala harga diri tersebut disinggung yang karenanya melahirkan aspek-aspek siri’, maka diwajibkan bagi yang tertimpa Siri’ itu untuk Melakukan aksi-aksi tantangan. Dapat berupa aksi (perlawanan) seseorang atau aksi (perlawanan) kelompok masing-masing.Terserah pada mutu nilai Siri’ yang timbul sebagai ekses-ekses (kejadian bermasalah) kasus yang lahir karenanya. Bagi pihak-pihak yang terkena Siri’ tetapi hanya diam (tanpa aksi-aksi perlawanan) dijuluki sebagai: tau degaga Siri’na (tak punya rasa malu atau tak punya harga diri). Atau dalam bahasa Bugis diungkapkan sebagai tau kurang Siri’ (orang yang tak ada harga diri). Dalam hal-hal mencapai tujuan, orang-orang Bugis berpegang semboyan Kualleangnga tallanga na-towalia (sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai), semboyan ini memanifestasiakan bahwa orang-orang Bugis itu tabah menghadapi tantangan-tantangan hidup. Tabah menghadapi segala jenis cobaan-

19

cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa. Hal ini erat pula hubungannya dengan perjuangan-perjuangan hidup orang-orang Bugis-Makassar sebagai pelaut-pelaut. Sebagaimana sejarah mengajarkan, bahwa oaring-oarang Bugis adalah pelaut-pelaut yang ulung yang berlayar mengarungi selat Malaka sampai kepulauan Makassar. Yang kemudian melahirkan ammana Gappa yang terkenal sebagai penyusun ilmu pelayaran (ahli pelayaran) orang-orang Bugis pada zamannya. Pesse adalah suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat ditimba kemalangan (musibah). Perasaan yang demikian ini merupakan suatu pendorong kearah solidaritas dalam berbagai bentuk terhadap mereka yang dulunya ditimpa kemalangan itu seperti diperkosa dan sebagainya, maka dapat disimpulkan bahwa siri’ atau pesse tersebut adalah sama tetapi yang terakhir ini lebih rendah tingkatannya. Namun demikian, antara keduanya sangat erat hubungannya dan tak dapat dipisahkan, seperti jelas dalam ungkapan-ungkapan, “rekuade sirita engka messa passeta (Bugis)”. Yang artinya: jika anda kehilangan harga diri atau kehormatan, pertahankanlah rasa kemanusiaan dan kesetiakawananmu Manakala kita ingin mendalami pengertian SIRI’ dengan segenap masalahnya antara lain dapat diketahui dari buku LA TOA. Buku ini berisi pesanpesan dan nasehat-nasehat yang merupakan kumpulan petuah untuk dijadikan suri teladan. Buku LA TOA artinya YANG TUA. Tetapi, arti sebenarnya ialah PETUAH-PETUAH, berisis sekitar seribu jenis petuah-petuah. Hampir semua isi LA TOA ini erat hubungannya dengan peranan SIRI’ dalam pola hidup atau adat istiadat Bugis-Makassar (merupakan falsafah hidup). Misalnya:

20

     

SIRI’ sebagai harga diri atau kehormatan MAPPAKASIRI’(artinya: dinodai kehormatannya) RITAROANG SIRI’ (artinya: ditegakkan kehormatannya). PASSAMPO SIRI’ (artinya: penutup malu) TOMASIRI’NA (artinya : keluarga pihak yang dinodai kehormatannya). SIRI’ sebagai perwujudan sikap tegas demi kehormatan tersebut.

Siri’ adalah ethos kultur, berisi pandangan hidup dan pandangan dunia yang melekat pada sistim nilai yang terjelma dalam sistem budaya, sistim sosial, dan sistim kepribadian (Personality) masyarakat. Siri’ secara harfiah adalah suatu perasan malu. Jawaban menurut arti kata mungkin tepat secara harfiah tetapi tidak cukup mewakili makna sebenarnya. Sedangkan jiwanya dirumuskan dalam suatu batasan, inipun akan terbatas pada aspek tertentu saja yang mewakili sesuai pendekatan objek tersebut. Istilah siri’ ini bila dibahas dalam bentuknya ada dua bagian, yaitu: 1. Siri’ yang berasal dari pribadi yang merasakannya/ bukan kehendaknya (penyebabnya dari luar), jadi siri’ ripakkasiri’. 2. Siri’ yang berasal dari pribadi yang itu sendiri ( penyebabnya di dalam) disebut siri’ masiri’. Sedangkan dalam bentuk jenisnya ada empat yaitu:
1. Siri’ dalam hal pelanggaran kesusilaan 2. Siri’ yang dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk bekerja 3. Siri’ yang berakibat kriminal 4. Siri’ yang berarti malu-malu (siri’-siri’).

Semua jenis siri’ tersebut dapat diartikan sebagai harkat, martabat, dan harga diri manusia.

21

Jenis siri’ yang pertama Adalah siri’ dalam hal pelanggaran kesusilaan. Berbagai macam pelanggaran kesusilaan yang dapat dikategorikan sebagai siri’ seperti kawin lari (dilariang, nilariang, dan erang kale), perzinahan, perkosaan, (perbuatan sumbang/salimarak)/susu talloa yakni perbuatan seks yang dilarang karena adanya hubungan keluarga yang terlalu dekat, misalnya perkawinan antara ayah dan putrinya, ibu dengan putranya dsb. Dari berbagai perbuatan a-susila itu, maka salimarak merupakan pelanggara terberat. Sebab susah untuk diselesaikan karena menyangkut hubungan keluarga yang terlalu dekat, semuanya serba salah. Kalau perkawinan terus dilangsungkan, sengat dikutuk oleh masyarakat, dan kalau perkawinan tidak dilangsungkan, status anak yang lahir nanti bagaimana? Perbuatan salimarak ini dulu dapat dikenakan hukuman “niladung” yakni kedua pelaku dimasukkan dalam karung kemudian ditenggelamkan kelaut atau ke dalam air sampai mati. Lain halnya perbuatan asusila lainnya seperti perzinahan, perkosaan, dan kawin lari Penyelesaiannya dapat dilakukan melalui perkawinan secara adat kapan saja, bilamana kedua belah pihak ada persetujuan atua mengadakan upacara abajik (damai). Sesudah itu tidak ada lagi masalah. Jadi, kalau ada anggapan orang luar yang mengatakan siri’ itu “kejam” atau “jahat” memang demikian, akan tetapi dibalik kekejaman itu tersimpan makna hidup yang harus dimiliki oleh manusia untuk menjaga harga dirinya. Lebih kejam atau lebih jahat, bilamana anak yang lahir tanpa ayah, anak haram, kemana anak ini harus memanggil ayah? Apalagi kalau perbuatan a-susila membudaya di negara kita, jelas harkat dan martabat manusia lebih rendah dari pada binatang. Dekatakan memang nalurinya, sedangkan manusia punya otak, pikiran untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Alangkah jahatnya bila perbuatan free seks atau “kumpul kerbau/kebo”, membudaya di negara kita, berapa

22

banyak wanita yang harus jadi korban kebuasan seksual ? Justru kehadiran siri’ di tengah masyarakat dapat dijadikan sebagai penangkal kebebasan seks (free seks) Jenis siri’ yang kedua Adalah siri’ yang dapat memberikan motivasi untuk meraih sukses. Misalnya, kalau kita melihat orang lain sukses, kenapa kita tidak? Contoh yang paling konkret, suku Bugis biasanya banyak merantau ke daerah mana saja. Sesampai di daerah tersebut mereka bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Kenapa mereka bekerja keras? Karena mereka nantinya malu bilamana pulang kampung tanpa membawa hasil. Contoh lain, semester yang lalu-lalu nilai penulis ada yang jelek dikarenakan sesuatu hal (relative karena dosennya tidak objektif menurutku), karena adanya rasa malu maka semester kali ini penulis mencoba meningkatkan pola belajar, karena malu bilamana ada nilai yang tidak bagus. Artinya orang yang kemarin nilainya jelek dan sekarang masih cuek sama pelajaran berarti degaga siri’ nan (tidak ada malunya) Jenis siri’ yang ketiga Adalah siri’ yang bisa berakibat kriminal. Siri’ seperti ini misalnya menempeleng seseorang di depan orang banyak, menghina dengan katakata tidak enak didengar dan sebagainya tamparan itu dibalasnya dengan tamparan pula sehingga terjadi perkelahian yang bisa berakibat pembunuhan. Jenis siri’ yang keempat Adalah siri’ yang berarti malu-malu. Siri’ semacam ini sebenarnya dapat berakibat negatifnya bagi seseorang, tapi ada juga positifnya. Misalnya yang ada akibat negatifnya ialah bila seseorang disuruh tampil di

23

depan umum untuk jadi moderator tetapi tidak mau dengan alasan siri’siri’. Ini dapat berakibat menhalangi bakat seseorang untuk berani tampil di depan umum. Sebaliknya akibat positif dari siri’-siri’ ini, misalnya ada seseorang disuruh untuk mencuri ayam, lalu dia tidak mau dengan alasan siri’-siri’ bilamana ketahuan oleh tetangganya. Mengapa siri’ bagi suku Bugis perlu ditegakkan, jawabnya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Yang menjadi masalah dalam kehidupan manusia ialah adanya dua versi hukum yang saling bertentangan, menyangkut siri’, yakni hukum adat menginginkan mengambil tindakan balasan terhadap orang-orang yang merendahkan martabatnya dalam arti kata bisa main hakim sendiri, sedang hukum positif (KUHP) melarang sama sekali melakukan tindakan main hakim sendiri. Suatu prinsip bagi suku, kalau harga dirinya direndahkan, akan melakukan tindakan balasan. Dalam arti yang lebih luas, setiap orang Bugis diwajibkan untuk menegakkan prinsip-prinsip: Loyalitas pada hukum yang berlaku dan atau pantang berkompromi dengan kebahtilan, bagaimanapun bentuknya dan manifestasinya. Pantang surut, sebelum cita-cita perjuangan dicapai. Harus tegas keyakinan. Tidak boleh terombang-ambing dalam sikap pendirian. Yang diistilahkan dengan semboyan: orang bugis-Makassar: Toddo puli (Memaku pendirian). Jelaslah kiranya, bahwa jika dianalisa secara mendasar aspek-aspek Siri’ ini perlu digali guna diarahkan dalam kerangka-kepentingan keagungan faktorfaktor yang menjiwai Wawasan Nasional Bangsa. Yakni kepentingankepentingan ke Bhinneka Tunggal Ika itu dalam pengalaman pancasila dan UUD 1945 demi pencapaian sasaran : Masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Siri’ sebagai harga diri, perlu menjiwai masyarakat dalam lingkungan pertahanan kepentingan-kepentingan sendi-sendi wawasan Nusantara tersebut. Aspek Khusus

24

Siri’ sukar sekali dinilai oleh orang yang tidak bersangkutan (abstrak). Banyak sekali hal yang mengenai siri’ yang tak dapat dituturkan dan banyak diantaranya tak dapat diterima Rasio, akan tetapi tak dapat dikesampingkan kerena benar-benar pengaruhnya untuk menimbulkan peristiwa pidana berdarah, antara lain: kentut tiba-tiba (nakelo ettu) di muka umum. Contoh: (dikisakan dalam cerita orang Bugis) Pernah seorang laki-laki nakelo ettu dimuka umum yang secara refleks kemudian menghunus kerisnya. Orang-orang sependapat bahwa itu siri’, sehingga tiada seorangpun menegadah, semua tunduk terpaku sebelum silaki-laki itu belum meninggalkan tempat. Oleh karena malunya, maka setibanya dirumah ia selalu berteriak: sayang sekali tiada seorangpun yang menegadah, kalau ada akan ku tikam mati. Oleh karena menahan malu, maka diperintahkan istrinya untuk menumbuk lada sebanyakbanyaknya kemudian dipulaskan kejalan kentutnya sebagai ganjaran dan ia lalu meninggal dunia. Dengan demikian, dapatlah dibayangkan betapa besar pengaruh nilai-nilai Siri’ itu, bagi sikap mental orang-orang Bugis pada umumnya. Ada pendapat, menyatakan: perasaan siri’ dipakasiri’ tidak akan lenyap di dalam perasaan seseorang yang didalam tubuhnya mengalir darah ugi (Bugis) sampe akhir zaman. PESSE Pesse secara harfiah bermakna perasaan pedih dan perih yang dirasakan meresap dalam kalbu seseorang karena melihat penderitaan orang lain. Pacce ini berfungsi sebagai alat penggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, rasa kemanusiaan, dan memberi motivasi pula untuk berusaha, sekalipun dalam keadaan yang sangat pelik dan berbahaya. Pacce sebagai aspek yang hakiki dari pada siri’ itu, bukan berarti kesetiaan kawanan dalam membelah kehormatan (siri’), melainkan ia mengandung makna :

25

kepedihan yang tiada taranya, karena martabat harkat diri tersinggungan. Ia tersayat-sayat menjangkau jauh kedalam lubuk hati. Itulah hakekat dasar yang disebut pacce. Sebagai perwujudan lanjut (inti sari) dari pada siri’ tersebut. Dari pengertian tersebut, maka jelasnya bahwa pacce itu dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa, membina solidaritas antara manusia agar mau membantu seseorang yang mengalami kesulitan. Sebagai contoh, seseorang mengalami musibah, jelas masyarakat lainnya turut merasakan penderitaan yang dialami rekannya itu. Segera pada saat itu pula mengambil tindakan untuk membantunya, pakah berupa materi atau nonmateri. Ada berbagai ungkapan dalam kepustakaan Lon-tara Bugis yang menunjukkan bahwa siri’ bukanlah suatu sikap yang semata-mata berpangkal dari keluapan emosi. Dalam persekutuan hidup, desa, wanua ataupun tanah, niscaya terdapat pemimpin dari persekutuan itu. Tiap-tiap pemimpin menurut jenjangnya masing-masing, menjadi orang pertama tempat siri’ itu harus terpelihara, dikembangkan dan dibela. Tiap-tiap orang anggota persekutuan dipimpinnya, merasa diri bersatu dengan pemimpinnya karena yang siri’

yangdimilikinya bersama. Antara pemimpin dengan yang dipimpin terikat oleh satu kesadaran martabat diri yang menimbulkan sikap pesse(Bugis) yang dapat disebut solidaritas yang kuat. Masing-masing orang yang ditentukan dan mengetahui hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing yang mendapat sandaran dari siri’ dan pesse. Itulah yang melarutkan tiap-tiap orang pribadi mendukung siri’ melebur diri untuk kepentingan bersama. Pesse itulah yang mendorong dalam kenyataan adanya perbuatan tolong-menolong, adanya tindakan saling membantu, adanya pembalasan dendam, adanya tuntut bela dan segala kenyataan lain yang mirip pada solidaritas yang mendapatkan hidupnya dari konsep siri’. Pemimpin kaum terhina berarti siri’ atau martabat negeri terhina, tiap-tiap orang terhina siri’nya. Maka pesse muncul menjadi pendorong untuk menuntut bela.

26

Anak negeri terhina, berarti siri’ (Martabat) negeri ternoda. Pemimpin kehinaan,maka pesse atau pacce mendorong sang pemimpin untuk bertindak. Apabila antara pemimpin dan yang dipimpin sudah tidak terdapat siri’ bersama yang masing-masing mengetahui hak dan kewajiban untuk memikulnya, maka pesse atau pacce itupun tidaklah akan menjadi motif untuk perbuatan dan tindakan masing-masing. Dalam pesse atau pacce itulah melarut tiap-tiap pribadi didalam kesatuan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Siri’ menjadi sumber dari panggilan pesse itu. Karena siri’lah yang menimbulkan kewajiban masing-masing untuk saling memelihara batas, sehingga tidak saling cegat mencegat daulat-mendaulat. Di sini terletak aspek kesadaran atau pikiran yang memberi batas-batas rasional dari siri’ itu. Bahwa masing-masing orang sepadan dengan siri’nya, milik pribadi dan kepunyaannya, dibatasi oleh kesadaran adanya pesse atau pacce, menimbulkan kewajiban untuk bekerja sama, bantu membantu, bersetia kawan dalam lapangan-lapangan pekerjaan yang menyangkut siri’ yang bersama-sama mereka miliki, dan penghinaan atas seseorang,berarti penghinaan atas semua. Lapangan-lapangan kehidupan yang menempati posisidemikian , disitulah perbuatan atau tindakan solidaritas berlangsung dengan intensifnya solidaritas seseorang terhadap kaumnya, merupakan totalitas yang pada oleh dorongan siri’. SIPAKATAU Sesungguhnya budaya Bugis mengandung esensi nilai luhur yang universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi mengenai “tau”(manusia), yang manusia dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung tinggi keberadaannya. Dari konsep “tau” inilah sebagai esensi pokok yang mendasari pandangan hidup orang Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama manusia.
27

Bentuk penghargaan itu dimanifestasikan melalui sikap budaya “sipakatau”. Artinya, saling memahami dan menghargai secara manusiawi. Dengan pendekatan sipakatau, maka kehidupan orang Makassar dapat mencapaui keharmonisan, dan memungkinkan segala kegiatan kemasyarakatan berjalan dengan sewajarnya sesuai hakikat martabat manusia. Seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan, turunan bangsawan dan rakyat biasa, dan sebagainya. Yang dinilai atas diri seseorang adalah kepribadiannya yang dilandasi sifat budaya manusiawinya. Sikap Budaya Sipakatau dalam kehidupan orang Makassar dijabarkan ke dalam konsepsi Siri’ na Pesse. Dengan menegakkan prinsip Siri’ na Pesse secara positif, berarti seseorang telah meneapkan sikap Sipakatau dalam kehidupan pergaulan kemasyarakatan. Hanya dalam lingkunagn orang-orang yang

menghayati dan mampu mengamalkan sikap hidup Sipakatau yang dapat secara terbuka saling menerima hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Sipakatau dalam kegiatan ekonomi, sangat mencela adanya kegiatan yang selalu hendak “annunggalengi” (egois), atau memonopoli lapangan hidup yang terbuka secara kodrati bagi setiap manusia. Azas Sipakatau akan menciptakan iklim yang terbuka untuk saling “sikatallassa” (saling menghidupi), tolongmenolong, dan bekerjasama membangun kehidupan ekonomi masyarakat secara adil dan merata. Demikianlah Sipakatau menjadi nilai etika pergaualan orang Makassar yang patut diaktualisasikan di segala sektor kehidupan. Di tengah pengaruh budaya asing cenderung menenggelamkan penghargaan atas sesama manusia, maka sikap Sipakatau merupakan suatu kendali moral yang harus senantiasa menjadi landasan. Hal itu meningkatkan budaya Sipakatau juga merupakan tuntunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan azas Pancasila, terutama Sila Ketiga yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. SIPAKALEBBI
28

artinya : Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat SIPAKAINGE artinya: Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain, manerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar kesadaran bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kekhilafan UNSUR-UNSUR POSITIF DAN NEGATIF SIRI’ NA PESSE’ Ditinjau dari segi kepentingan masyarakat dan kepentingan pembangunan budaya bangsa yang Bhineka Tunggal Ika ini sesungguhnya masalah Siri’ tersebut mengandung nilai-nilai/ unsur-unsur positif dan negative. Namun dalam beberapa hal pada perwujudannya kadang kala menjurus pada yang negative. Karena salah diartikan atau ditafsirkan secara tidak tepat. Nilai Positif 1. Bertolak dari hakekat Siri’, yakni masalah harga diri atau prestise (wibawa), maka Siri’ sesungguhnya merupakan hal yang sangat positif untuk dikembangkan bagi kepentingan kemajuan masyarakat yang sudah berlembaga dengan tatanan nilai-nilai budaya ini.
2. Siri’ pada pokoknya bersumber pada dasar dan nilai-nilai bentuk ikatan dalam masyarakat mentaati hukum, peraturan, perjanjian, dan lain-lain bentuk ikatan dalam masyarakat (community) sehingga dapat menjaga kelestarian hidup sesuatu kelompok masyarakat.

3. Dengan prinsip siri’, mendorong masyarakat untuk tidak tertinggal dalam bentuk kemajuan apapun. Sebab motivasi terhadap rasa tidak ingin ketertinggalan adalah bersumber pada siri’ itu sendiri.

29

4. Siri’ adalah merupakan harkat yang berlembaga dan hidup terus dihati masyarakat, berarti ia positif. 5. Siri’ dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan kemajuan masyarakat disebabkan oleh rasa solider yang tinggi terhadap nilai-nilai saja yang bersikap untuk kepentingan kemajuan masyarakat. 6. Siri’ oleh masyarakat Sulawesi Selatan telah dianggap sebagai suatu nilai budaya yang harus dipegang teguh (terus). Sebab tanpa siri’, manusia ini dianggap sangat rendah nilai kemanusiaanya (harkatnya). 7. Dengan memberikan bentuk dari segi basic Moral tentang siri’ yang positif, maka sikap budaya ini mendorong masyarakat untuk mendukung masalah integritas nasional. Utamanya dalam permasalahan pembinaan moral bangsa yang diarahkan pada nilai-nilai semangat juang 1945 dan pengamalan Pancasila serta ke-Bhinneka Tunggal Ika-an. 8. Siri’ dengan kaitannya sebagai unsur kewiraan / kepatriotikan kepahlawanan / ketahanan, dapat dijadikan unsur-unsur ketahanan. Yakni pantang menyerah kalah pada musuh atau pada setiap bentuk tantangan yang timbul (menantang kebathilan), dalam kerangka menegakkan yang haq. Yakni, pendirian (sikap) yang tak tergoyahkan, yang dalam istilah Bugis-Makassar disebut : Toddopuli. Yakni, Memaku dalam sikap pendirian. Tidak tergoyahkan dalam keyakinan. Nilai Negatif 1) Siri’ banyak diselewengkan oleh pribadi-pribadi pembawanya,

menyimpang dari harkatnya sebagai aspek kebudayaan yang nilainya luhur. Karena terkadang perbutan yang negative dan sifatnya sangat sepele atau tidak prinsipil dikait-kaitkan dengan Siri’ yang bernilai positif (mengandung nilai kulturil yang agung).

30

2) Kadangkala nilai Siri’ itu ditunggangi untuk kepentingan-kepentingan untuk mencapai sasaran-sasaran atau melindungi perbuatan-perbuatan yang negative. Yang di gerakkan oleh seseorang atau kelompok tertentu. (Algazali; 2011)
7. Pengaruh Teknologi dalam Merosotnya Budaya Siri’ Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai budayanya, mungkin itu adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan begitu beragamnya budaya orang Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Beribu-ribu pulau, suku, bahasa, adat, membuat Indonesia menjadi salah satu daya tarik dan Negara yang paling kaya dipandang dari budayanya. Secara matematis kita tidak dapat menghitung betapa melimpahnya kekayaan budaya kita

Dipandang dari adatnya ke-Timuran-nya maka Indonesia sangat berbeda dengan daerah yang ada di Barat, rata-rata orang Timur sangat menjunjung tinggi nilainilai budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun-temurun. Nilai-nilai budaya yang secara turun-temurun yang dimaksud adalah Sopan, Santun, Taat, Menghormati, Menghargai, Menjunjung Tinggi Adat, Tata Krama Pergaulan, dan lainnya yang menjadi ciri khas orang Indonesia. Kebiasaan mengalah, menghargai jasa orang lain, menghormati hak milik orang merupakan gambaran betapa orang Indonesia merupakan bangsa yang sangat menjunjung tinggi budayanya. Dan ada satu nilai yanng sangat dipegang teguh oleh suku Bugis yaitu budaya Siri;. Bagi orang Indonesia budaya adalah jembatan menuju kesuksesan, budaya adalah tempat untuk mencari solusi jika terdapat permasalahan, budaya adalah harta yang tak ternilai harganya. Perubahan dalam hidup boleh terjadi akan budaya dengan nilainya yang tak terhingga akan tetap menjadi simbol bagi orang Indonesia dalam kehidupannya. Terbukti walaupun kemajuan begitu pesat saat ini akan tetapi dalam setiap kesempatan tetaplah budaya dikedepankan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan. Pada prinsipnya setiap perkembangan dan kemajuan dalam segi apapun baik adanya, setiap manusia menginginkan perubahan pun demikian dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Dari sekian banyak bidang ada dan berpacu

31

untuk kemajuan salah satunya adalah bidang teknologi, yang menghadirkan perubahan dan kemajuan untuk selanjutnya digunakan oleh manusia. Beragam teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia untuk bebas memilih apa yang diinginkan. Perkembangan teknologi seperti yang sudah tersaji diatas tentu membawa perubahan yang begitu baik dan pesat dalam kehidupan manusia. Perkembangan itu baik adanya jika sesuai dengan apa yang diharapkan. Bagaimana jika perkembangan teknologi membawa pengaruh negatif dalam hidup manusia? apakah pengaruh negatif dari teknologi mempengaruhi pergeseran nilai-nilai budaya siri’ dalam kehidupan masyarakat Bugis? Kedua pertanyaan ini menjadi wajar apabila kita perhatikan dengan seksama dampak dari kemajuan saat ini. Tidak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi saat ini juga membawa pengaruh yang kurang baik atau negatif dalam kehidupan manusia. Kehadiran tekologi yang sedemikian canggih membuat masyarakat umum mempunyai begitu banyak pilihan untuk memilih apa yang dikehendakinya. Pertanyaan kedua apakah pengaruh negatif teknologi mempengaruhi bergesernya nilai-nilai budaya siri’ dalam masyarakat, jawabannya iya. Teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Misalnya lewat teknologi internet atau dunia maya orang akan semakin mudah mengakses situs-situs porno yang justru itu datang dari kaum muda, hal ini tentu membuat pergeseran norma asusila dalam hidup kaum muda tersebut. Ini menjadi satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada dalam kehidupan sehari hari masyarakat. Yang paling hangat dalam ingatan kita tentunya kasus penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh pelajar beberapa waktu lalu yang justru dilakukan setelah pada mulanya berkenalan lewat media teknologi jejaring sosial online facebook. Dengan begitu mudahnya orang dapat mengakses informasi diri dan menyebarluaskan kepada sesama teman, akibatnya prostitusi pun dapat dilakukan lewat dunia maya ini yang justru merupakan efek dari perkembangan teknologi modern. Dan masih banyak lagi contoh betapa perkembangan teknologi yang begitu canggih justru disalah gunakan mengakibatkan bergesernya nilai-nilai budaya bugis itu sendiri.

32

Dapat kita lihat kerusakan budaya yang ada di Indonesia, sebut saja budaya Bugis yang turun temurun mengharamkan bermesraan di depan umum jika bukan muhrimnya, tetapi kita lihat budaya seperti seakan-akan hilang dibawa oleh arus perkembangan. Saat ini ditemukan banyak pergeseran nilai yang terjadi baik dalam memahami maupun melaksanakan konsep dan prinsip-prinsip áde’ (adat) dan budaya masyarakat Bugis yang sesungguhnya. Budaya Siri’ yang seharusnya dipegang teguh dan dilaksanakan dalam nilai-nilai positif, kini sudah pudar. Kebudayaan bugis seakan-akan ditenggelamkan dengan budaya barat yang meraja lela dimana- mana, disudut kota hanya dihiasi dengan kebejatan, yang jika dipandah dari sudut budaya bugis yang menganut budaya SIRI” sudah hilang. Budaya Bugis lambat laun semakin meredam, yang ada hanya budaya barat yang dipertontonkan banyak ummat, jadi pantas saja apabila Tuhan mengutuknya.

Meski begitu, ada kecenderungan Siri' mengalami penyempitan makna dan makin kabur aplikasinya di tengah masyarakat sendiri. Akibatnya, Siri' kadang terlupakan dan dikesampingkan dalam soal-soal pelayanan publik. Kondisi ini menimbulkan bertambahnya pelaku kejahatan korupsi, misalnya. Mengapa? Karena Siri' hanya diidentikkan dengan pertumpahan darah.
Diera global sekarang ini setidaknya kita hanya mampu mengambil sisi yang positif saja untuk menjaga budaya kita dari kemusnahan. Ini hanya sebahagian dari ulasan mengenai hilangnya budaya di daerah bugis, diluar sana masih banyak pertunjukan-pertunjukan bejat yang tak mampu direkam oleh mata.

B. Definisi Operasional Variabel Adapun variable-variable yang digunakan dalam penelitian ini, adalahl;  Eksistensi, Dapat diartikan sebagai keberadaan. dimana keberadaan yang di maksud adalah adanya pengaruh atas ada atau tidak adanya kita. eksistensi ini perlu “diberikan” orang lain kepada kita, karena dengan adanya respon

33

dari orang di sekeliling kita ini membuktikan bahwa keberadaan (atau sesuai dengan judul : eksistensi) kita diakui. Tentu akan terasa sangat tidak nyaman ketika kita ada namun tidak satupun orang menganggap kita ada, oleh karena itu pembuktian akan keberadaan kita dapat dinilai dari berapa orang yang menanyakan kita atau setidaknya merasa sangat membutuhkan kita jika kita tidak ada.  Pemuda Pemuda di sini didefinisikan sebagai orang yang sudah bisa dikatakan dewasa tapi masih berjiwa labil dan mencari jati dari. Dimana pemuda merupakan orang bertanggung jawab besar terhadapap kelangsungan suatu bangsa baik itu mengkhusus pada budaya sukunya.  Menghidupkan Kembali Didefiniskan sebgai suatu kegiatan membangkitkan sesuatu yang telah lama hilang ataupun yang hampir yang punah.  Budaya Siri’ Siri’ : dalam bahasa Indonesia artinya malu yang merupakan adat kebiasaan yang melembaga dan masih besar pengaruhnya dalam budaya kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Masalah siri selalu menarik perhatian mereka yang hendak mengenal manusia dan kebudayaan Bugis. Matthes dalam (Mattulada,1995:61) dalam kamusnya, menjabarkan siri’ itu dengan malu, schande, beschaamd, schroomvalig, verlegen, schaamte dan eergevoel. Diakui beliau, bahwa penjabaran baik dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa Belanda, tidak menangkap maknanya secara tepat benar (Matthes,1872 a : 583).

C. Batasan Masalah Mengingat Bugis Bone adalah suku-bangsa yang di dalamnya terkandung banyak nilai budaya dan suatu referensi yang sangat luas dan beragam macamnya maka kami hanya fokus pada rumusan masalah yang kami tulis yaitu mengenai budaya siri’.

34

D. Metode Penulisan Penulisan nilai-nilai luhur budayah Bugis Bone ini dalam bentuk makalah, metode yang digunakan dalam mengumpulkan data yaitu dari buku-buku mengenai budaya Bugis-Makassar dan data dari internet. Sehingga apabila dalam penulisan makalah ini ada kata-kata atau kalimat yang hampir sama dari sumber atau penulis lain harap dimaklumi dan merupakan unsur ketidak sengajaan kami.

35

BAB III EKSISTENSI PEMUDA BONE DALAM MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA SIRI’
Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak adanya Manurungnge Ri Matajang pada awal abad XIV atau pada tahun 1330. Kabupaten bone sangat terkenal dengan budaya siri’ yang menjadi khas dan pegangan orang-orang bugis Bone. Telah lama orang-orang Bugis Bone memegang teguh Siri’ (rasa malu / harga diri). Bahkan Siri’ sudah merupakan inti kebudayaan masyarakat Bugis Bone. Menjadi inspirasi dari setiap gerak langkah orang-orang Bugis Bone kapan dan di manapun dia berada. Sebagai inti kebudayaan, Siri’ jelas tampak dalam karakter dan kepribadian orang-orang Bugis Bone. Meski begitu, ada kecenderungan Siri’ mengalami penyempitan makna dan makin kabur aplikasinya di tengah masyarakat sendiri. Akibatnya, Siri’ kadang terlupakan dan dikesampingkan dalam soal-soal pelayanan publik. Kondisi ini menimbulkan bertambahnya pelaku kejahatan korupsi, misalnya. Mengapa? Karena Siri’ hanya diidentikkan dengan pertumpahan darah. Siri’ dalam konteks ini tampaknya baru berlaku ketika seseorang sudah menganggap dirinya dipermalukan. Padahal sesungguhnya, dengan berlaku baik, paling tidak– bisa menghindari kelakuan yang oleh masyarakat dipandang buruk, atau bertentangan dengan hukum yang berlaku, juga merupakan implementasi Siri’ sebagai perlambang tegaknya sebuah harga diri. Harga diri sebagai orang-orang Bugis Bone. Sebab,seseorang dapat memiliki Siri’. Lunturnya nilain-ilai budaya ini disebabkan oleh perkembangan disebut sebagai manusia jika seseorang

teknologi. Pada prinsipnya setiap perkembangan dan kemajuan dalam segi apapun baik adanya, setiap manusia menginginkan perubahan demikian dalam konteks kehidupan bermasyarakat.

36

Dari sekian banyak bidang ada dan berpacu untuk kemajuan salah satunya adalah bidang teknologi, yang menghadirkan perubahan dan kemajuan untuk selanjutnya digunakan oleh manusia. Beragam teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia untuk bebas memilih apayangdiinginkan. Perkembangan teknologi membawa perubahan yang begitu baik dan pesat dalam kehidupan manusia. Perkembangan itu baik adanya jika sesuai dengan apa yang diharapkan. Bagaimana jika perkembangan teknologi membawa pengaruh negatif dalam hidup manusia ? apakah pengaruh negatif dari teknologi mempengaruhi pergeseran nilai – nilai budaya dalam kehidupan manusia ? Kedua pertanyaan ini menjadi wajar apabila kita perhatikan dengan seksamadampadari kemajuan saat ini. Tidak dipungkiri bahwa perkembangan teknologi saat ini juga membawa pengaruh yang kurang baik atau negatif dalam kehidupan manusia Kehadiran tekologi yang sedemikian canggih membuat masyarakat umum mempunyai begitu banyak pilihan untuk memilih apa yang dikehendakinya. Pertanyaan kedua apakah pengaruh negatif teknologi mempengaruhi bergesernya nilai-nilai budaya dalam masyarakat, jawabannya iya. Teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Misalnya lewat teknologi internet atau dunia maya orang akan semakin mudah mengakses situs – situs porno yang justru itu datang dari kaum muda, hal ini tentu membuat pergeseran norma asusila dalam hidup kaum muda tersebut. Ini menjadi satu contoh dari sekian banyak contoh yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini sungguh sangat mempengaruhi budaya siri’ di kabupaten Bone karena produkproduk teknologi tersebut secara langsung mempengaruhi gaya hidup masyarakat yang tidak dapat dipungkiri karena telah menjadi tuntutan hidup yang tidak disadari justru melunturkan nilai-nilai luhur khususnya budaya siri’. Saat ini banyak masyarakat Bone yang tidak lagi mengenal budaya siri’ (malu) bahkan mereka justru mappakasiri’-siri’ (melakukan hal-hal yang memalukan). Semua ini adalah dampak yang timbul dari teknologi karena sebagian besar masyarakat
37

bone nampaknya lebih mengenal teknologi tersebut dari pada budayanya sendiri. Sungguh ironis dan menyedihkan jika hal ini berlansung terus menerus dan dibiarkan begitu saja, sehingga sangat perlu untuk ditindaklanjuti. Pemuda yang diharapkan mampu menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan di masa yang akan datang, tetapi justru kaum pemuda yang lebih banyak terjerumus dan menyalahgunakan teknologi tersebut. Sangat sulit dibayangkan apa yang akan terjadi jika takada suatu tindakan preventif yang dilakukan dalam menangani masalah ini. Oleh karena itu, penulis merasa prihatin terhadap keadaan yang terjadi di kabupaten Bone ini, sehingga penulis menawarkan beberapa cara atau solusi untuk meminimalisir dampak-dampak negative yang timbul dari penggunaan produk teknologi sehingga nilai-nilai budaya siri’ di kabupaten bone tidak tergeser oleh budaya asing (barat) yang sudah sudah menimbulkan gejala dalam kehidupan masyarakat. Adapun cara atau solusi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Memperkenalkan pentingya nilai-nilai budaya kepada anak sejak usia dini. Hal ini tentu sangat penting untuk memperkenalkan budaya kepada anak sebelum mereka terkena pengaruh atau dampak yang negative, karena apabila seseorang telah mengenal budayanya dengan baik, maka tentu akan menjadi prinsip hidupnya. Misalnya, apabila sesorang telah mengenal budaya siri’ dalam hidupnya maka akan menjadi pengendali (self control) bagi seseorang sebelum bertindak. Proses pengenalan atau sosialisasi budaya ini harus dilkakukan , karena sesorang tidak mungkin mencintai seuatu sebelum mereka mengenalnya, begitu juga dengan budaya, agar sessorang dapat mencintai budayanyan, maka dia harus mengenal lebih dalam budayanya itu sendiri. 2. Memberikan pemahaman kepada anak, masyarakat dan elemen lainnya betapa vitalnya nilai-nilai budaya terhadap kehidupan. Apabila sesorang mengetahui dan menyadari betapa perlunya memahami budaya maka akan dengan mudah mereka mempelajari dan memahami budaya tesebut, tanpa adanya kesan paksaan.
38

3. Memberikan batasan terhadap hal yang bersifat negatif yang masuk dalam hidup dan kehidupan suatu masyarakat. memberi batasan bukan berarti tidak memberikan kebebasan kepada masyarakat, tetapi lebih pada memberikan batasan man yang baik dan mana yang buruk, apa saja yang bisa dilakukan dan yang tidak bisa dikakukan. 4. Menjadikan nilai-nilai budaya sebagai ujung tombak dari norma kehidupan keluarga dan masyarakat. Sesorang mulai belajar tentang segala sesuatu dari keluarganya. Oleh karena itu, penerapan nilai budayasangat tergantung dari keluarga sesorang. Apabila seseorang berasal dari keluarga yang mengerti tentang keturunannya akan mengerti pula tentang budaya. 5. Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Sesorang yang memahami budaya maka akan mampu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tersebut serta mampu mengapresiasi budadayanya sehingga akan mendarah daging dalam hidupnya, 6. Memandang teknologi dengan segala kemajuan dan perubahannya dalam arti yang positif. Pada dasarnya perkembangan teknologi sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, segala sesuatu yang sulit dapat menjadi mudah akibat adanya teknologi, namun sayangnya pengguna teknologi yang kadang justrumenyalahgunakan produk teknologi tersebut. Kurangnya kesadaran akan hal ini sungguh sangat memprihatinkan ketika mererka budaya, maka tentu

karena sangat sulit untuk mengontrol setiap individu menggunakan alat teknologi tersebut.

7. Menggunakan fasilitas kemajuan teknologi untuk hal yang baik dan positif. Tidak dapat dipungkiri, teknologi memang membawa begitu

banyak dampak negative bagi masyarakat. Tapi apa salahnya jika pola piker masyarakat hanya dipenuhi dengan dampak-dampak negative yang ditimbulkan oleh teknologi, akan tetapi mereka juga perlu disadarkan bahwa produk teknologi tersebut sungguh sangat penting dan dibutuhkan dalam kehidupan yang serba instan ini.

39

8. Sebagai orang tua wajib untuk memberikan pengawasan ekstra kepada anak, baik dalam penggunaan teknologi atau pergaulan sehari-hari. Memang dalam penerapannya terkadang sulit untuk mengikuti keinginan dibanding kata hati, akan tetapi untuk hidup yang lebih baik kita dituntut untuk melakukan perubahan dalam hidup kita. Setinggi apapun kemajuan teknologi yang ditawarkan kepada kita akan tetapi kita salah menggunakannya tentu akan membuat hidup kita menjadi salah jalan, justru teknologi tersebut akan menyesatkan hidup kita sehingga nilai-nilai budaya hidup kita tidak lagi sesuai dengan yang kita harapkan, akhirnya ada yang harus dikorbankan dari kejadian tersebut. Semuanya berpulang kembali kepada kita manusia sebagai makluk sosial, apakah teknologi yang sedemikian canggih ini dapat kita maksimalkan penggunaannya atau justru perkembangan teknologi yang menyeret kita pada hancurnya kebudayaan kita.

40

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali budaya siri’ di kabupaten Bone yaitu:
1. Memperkenalkan pentingya nilai – nilai budaya kepada anak sejak usia

dini.
2. Memberikan pemahaman kepada anak, masyarakat dan elemen lainnya

betapa vitalnya nilai-nilai budaya terhadap kehidupan.
3. Memberikan batasan terhadap hal yang bersifat negatif yang masuk dalam

hidup dan kehidupan suatu masyarakat.
4. Menjadikan nilai – nilai budaya sebagai ujung tombak dari norma

kehidupan keluarga dan masyarakat.
5. Menjunjung tinggi nilai – nilai budaya. 6.

Memandang teknologi dengan segala kemajuan dan perubahannya dalam arti yang positif.

7. Menggunakan fasilitas kemajuan teknologi untuk hal yang baik dan

positif.
8. Sebagai orang tua wajib untuk memberikan pengawasan ekstra kepada

anak, baik dalam penggunaan teknologi atau pergaulan sehari-hari. B. Saran Dari penulisan karya ilmiah sederhana ini, maka penulis sangat mengharapkan perhatian dari bebereapa pihak khususnya pemerintah dan masyarakat agar dapat saling bekerjasama dalam mengatasi masalah sehingga budaya siri’ dapat tetap lestari di kabupaten Bone. Selain itu kritik dan saran sangat diharapkan oleh penulis agar penulisan karya ilmiah selanjutnya dapat lebih baik.

41

DAFTAR PUSTAKA
http://algazali-sosiologi.blogspot.com. Diakses pada tanggal 9 Juni 2011. http://bukansastrawan.blogspot.com/terkikisnya-budaya-bugis-oleh. Diakses pada tanggal 9 Juni 2011. http://melayu-online.com/Adat-dan-Kebudayaan-Suku-Bugis-MelayuOnline. Diakses pada tanggal 9 Juni 2011. http://wikipedia.com/suku-bugis. Diakses pada tanggal 9 Juni 2011. Kamisa,1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Kartika, Surabaya. Pammeleri, Andi. 2006. Riwayat Kabupaten Bone. Makassar

42

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->