P. 1
Profil Lahan Basah

Profil Lahan Basah

|Views: 1,070|Likes:
Published by Anson Diem

More info:

Published by: Anson Diem on Dec 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH EKOSISTEM LAHAN BASAH

PROFIL LAHAN BASAH

ANSON FERDIANT DIEM 20113602012

Program Doktor Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Palembang 2011

i

DAFTAR ISI

Halaman Daftar Isi ................................................................................................ .................................................................................... i ii 01 02 02 02 03 04 04 05 06 07 09 09 11 12 12 12 13 13 13 17

Daftar Gambar

Pendahuluan ……………………………………………………………… 1. Lahan Basah…….……………………………………………………… 1.1. Definisi Teknis……………………………………………………... 1.2. Ciri-ciri lahan basah………………………………………………… 1.3. Sifat lahan basah……………………………………………………. 2. Tipe Lahan Basah……………………………………………………… 2.1. Rawa………………………………………………………………... 2.2. Paya……………………………………………………………….... 2.3. Gambut……………………………………………………………… 2.4. Riparian……………………………………………………………... 3. Wetland Management Plan……………………………………………. 3.1. Pengelolaan lahan basah daerah pedesaan.......................................... 3.2. Fungsi positif dan negatif lahan sawah............................................... 3.3. Pengelolaan lahan basah daerah perkotaan......................................... 3.3.1. Karakteristik kawasan perkotaan.............................................. 3.3.2. Pola penggunaan lahan kota...................................................... 3.3.3. Permasalahan lahan perkotaan.................................................. 3.3.4. Pembangunan dan pengelolaan lahan perkotaan....................... 3.3.5. Peranan Hutan Kota.................................................................. Daftar Acuan…………………………………………………………………

ii

Pendistribusian daerah lahan basah di dunia…………………...... Pengolahan Lahan Basah pada daerah pedesaan………………............. Hutan Rawa Gambut......... Gambar 04.......... Riparian buffers strips................................ Tanaman Padi pada Lahan Basah Pedesaan…………………… Gambar 10........................ Urban Natural Park (Taman Alam Perkotaan).. Daerah lahan basah rawa-rawa………………………………..... Sistematik kerja lahan basah (Wetlands)…………………….............. Riparian Ekosistem...... 01 03 05 05 06 07 08 09 11 16 iii ............. Gambar 07..... Gambar 09.............. Gambar 08.........................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 01............. Gambar 05...... Gambar 02. Gambar 06.......... Hutan paya bakau……………………………………………............................. Gambar 03...........

Di atas lahan basah tumbuh berbagai macam tipe vegetasi (masyarakat tetumbuhan).PENDAHULUAN Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air. payau atau asin. hutan rawa gambut. adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau). aneka jenis kodok. Pada sisi yang lain. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. di antaranya. ular. paya. Baik 1 . paya rumput dan lain-lain. kura-kura. dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan pertanian. dan berbagai macam ikan hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia. Digolongkan ke dalam lahan basah ini. Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem. sehingga kerap dibuka. banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan yang subur. biawak. Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya. dan gambut. termasuk pula harimau dan gajah. Gambar 01. Pendistribusian daerah lahan basah di dunia. Air yang menggenangi lahan basah dapat tergolong ke dalam air tawar. seperti hutan rawa air tawar. hutan bakau. mulai dari yang khas lahan basah seperti buaya. baik bersifat permanen (menetap) atau musiman.

” Pasal 2. tawar. atau asin. dekat dengan permukaan tanah.” 1. termasuk pula wilayah dengan air laut yang kedalamannya di saat pasang rendah (surut) tidak melebihi 6 meter. yakni wilayah peralihan antara daratan dan perairan.1: “… lahan basah adalah wilayah paya. Ciri-ciri Lahan Basah Lahan basah dicirikan oleh muka air tanah yang relatif dangkal. making them inherently different from each other. rawa. Definisi Teknis Lahan basah digolongkan baik ke dalam bioma maupun ekosistem.1: “Lahan basah dapat pula mencakup wilayah riparian (tepian sungai) dan pesisir yang berdekatan dengan suatu lahan basah.1. lahan basah terbentuk: ".at the interface between truly terrestrial ecosystems and aquatic systems. atau bagian laut yang dalamnya lebih dari 6 meter yang terlingkupi oleh lahan basah. 1. yakni tetumbuhan yang khas tumbuh di wilayah basah. 2 . lokasi pertambakan. Mengingat nilainya yang tinggi itu. payau. pada waktu yang cukup lama sepanjang tahun untuk menumbuhkan hidrofita. Lahan basah juga kerap dideskripsi sebagai ekoton. dengan air yang mengalir atau diam. Lahan Basah 1.. atau perairan. Lahan basah dibedakan dari perairan dan juga dari tataguna lahan lainnya berdasarkan tingginya muka air dan juga tipe vegetasi yang tumbuh di atasnya. baik alami maupun buatan.” Sementara Konvensi Ramsar mendefinisikan: Pasal 1. pulau-pulau.2.sebagai lahan persawahan. maupun (di Indonesia) sebagai wilayah transmigrasi. gambut. permanen atau temporer (sementara). Seperti disebutkan Mitsch dan Gosselink.. di banyak negara lahan-lahan basah ini diawasi dengan ketat penggunaannya serta dimasukkan ke dalam program-program konservasi dan rancangan pelestarian keanekaragaman hayati misalnya Biodiversity Action Plan. yet highly dependent on both.

6% dari permukaan planet kita terdiri dari lahan basah. Sistematik kerja lahan basah (Wetlands) Seluruh lahan basah memiliki dua karakteristik yang sama: air atau es dan bumi. Riverine e. Marine b.3. Meskipun hanya 0. sangat penting bagi kelangsungan hidup kita. Lahan basah menyimpan karbon lebih dari dua kali jumlah di semua hutan dunia. Lahan basah adalah daerah terkaya dalam artian keanekaragaman hayati.01% dari semua air dari planet kita. Setengah darinya terdapat peatsoils. Palustrine 3 .Gambar 02. Lacustrine d. Kehilangan lahan basah akan menyebabkan bencana iklim karena melepaskan karbon. Sifat Lahan Basah Menurut William A Niering para pakar telah mengelompokkan 5 sistem lahan basah yaitu : a. Estuarine c. air tanah organik mengandung. Lahan basah menyimpan sumber daya permukaan air tawar dunia. 1.

payau. badak dan banteng banyak ditemui disana. dan bakau. Dan melalui Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya lahan basah dimasukkan kedalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. sedangkan ketiga ekosistem lainnya adalah termasuk dalam ekosistem air tawar. tapir. Lacustrine contohnya adalah perairan danau. Pepohonan umumnya dapat tumbuh dengan baik di air. Tipe Lahan Basah 2. Konvensi ini bernama Conventions on Wetlands of International Importance. Dengan melihat ketentuan ini telah menunjukkan bahwa kawasan lahan basah merupakan kawasan penyangga yang penting bagi kehidupan manusia dan lingkungannya dan karena itu harus dilindungi. Palustrine contohnya: rawa-rawa. (Pasal 4 dan pasal 6 Keppres No 32/1990). Rawa Lahan basah rawa-rawa berada di cekungan yang membuat air tergenang ketika ketinggian airnya belum dapat mengatasi wilayah hilir.Lahan basah pada ekosistem marine dan estuarine contohnya adalah: lahan basah pantai seperti rawa pasang surut. sekarang: The World Conservation Union. Ikan dan udang banyak menghuni rawa. tanah berlumpur atau daerah yang sejenis lainnya. Sementara itu monyet ekor panjang meramaikan dedahanan. sungai kecil. tertanggal 25 Juli 1990 memasukkan beberapa jenis lahan basah sebagai bagian dari kawasan yang dilindungi. Burung pemakan ikan dan bangau menjadi 4 . mangrove (hutan bakau). 09. (Penjelasan pasal 8 UU No 5/1990). 2. Binatang liar lain seperti harimau. api-api.1.PRD/PU/X/1991. Pengaturan mengenai ekosistem lahan basah secara global terdapat dalam suatu Konvensi Internasional yang disponsori oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Tumbuhan rawa yang paling banyak adalah tumbuhan air yang merambat seperti enceng gondok. Misalnya nipah. Demikian juga dalam Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Riverine contohnya adalah kali. Oleh pemerintah Indonesia konvensi ini telah diratifikasi berdasarkan Surat Keputusan Presiden tanggal 19 Oktober 1991 dengan Nomer : R. Especially as Waterfowl Habitat atau disingkat sebagai Ramsar Convention 1971.

Paya Selain adanya lahan basah yang airnya tergenang atau mengalirnya hanya sewaktu-waktu maka.2. Gambar 03. Lahan basah demikian kita kenal sepanjang aliran sungai mulai dari hulu sampai muaranya. Daerah lahan basah rawa-rawa. Gambar 04. 5 . ada lagi lahan basah berair mengalir. 2. Danau termasuk ke dalam lahan basah alami berair tawar yang ada di daratan sumber airnya ada di sekitarnya dan biasanya mengalir ke hilir melalui sungai-sungai. Laju air melambat sehingga tumbuhan air sempat tumbuh. Airnya tawar dan lajunya deras.penghuni tetap. Tumbuhan yang umum adalah lumut dan pakis. Di hulu. badan sungai melebar dan air menjadi payau. Namun burung migran kerap mampir sebelum melanjutkan perjalanan antar benua untuk mencari iklim yang sesuai bagi mereka. Tetapi mendekati muara. Hutan paya bakau. badan sungai itu masih sempit dan berbatu.

Gambar 05. dengan karakteristik kondisi tanah yang mempunyai tingkat keasaman yang sangat ekstrem dimana pH tanah selalu di bawah angka 3. Pulai dan 6 . Hutan rawa gambut di Indonesia adalah rumah bagi berbagai macam spesies tumbuhan dan hewan. membuat sulit bahkan tidak bisa untuk diarungi. Gambut Hutan gambut merupakan jenis hutan rawa yang relatif tergenang sepanjang tahun. Inilah habitat yang membentuk wilayah yang tak terjelajahi dengan banyak sekali spesies alam liar di dalamnya. Hutan rawa gambut terdiri dari beberapa jenis vegetasi. sehingga secara alami flora yang tumbuh di hutan gambut adalah jenis flora yang khas dan toleran terhadap keasaman tanah yang tinggi. Pohon-pohon besar yang menjulang mencapai ketinggian lebih dari 70 meter diselingi dengan tumbuhan palem. yang dapat menghalangi sungai tersebut. Sungai-sungai tersebut didominasi oleh rerumputan apung dan tumbuhan palem yang berduri dan melilit. tumbuhan merambat dan vegetasi semak belukar yang padat. Dari arah sungai menuju ke tengah kubah gambut terdapat perubahan yang berlanjut dalam komposisi spesies dan struktur hutan.2. Hutan Rawa Gambut. Tumbuhan palem dan beraneka ragam pohon besar seperti Terentang. secara awam hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di atas tanah gambut. Sungai air hitam mengalir perlahan mencari jalannya melalui hutan yang luas tersebut.3.

Penyangga riparian juga menstabilkan tebing sungai. Salah satu species khas di rawa gambut adalah Ramin.. Gambar 06. 7 . Tumbuhan berupa pohonan. rumputan dan semak-semak atau campuran berbagai bentuk dan jenis vegetasi yang ditanam sepanjang tepi kiri dan kanan sungai disebut riparian buffers strips atau filter strips yang dalam Bahasa Indonesianya adalah strip penyangga riparian atau penyangga riparian atau strip filter. Di beberapa wilayah. Riparian buffers strips Penyangga riparian berfungsi untuk menjaga kelestarian fungsi sungai dengan cara menahan atau menangkap tanah (lumpur) yang tererosi serta unsur-unsur hara dan bahan kimia termasuk pestisida yang terbawa. Secara umum digunakan jalur hijau sungai. Riparian Menurut Sitanala Arsyad (2006) dalam “Konservasi Tanah dan Air”. Pohonan yang ditanam di sepanjang sungai juga lebih mendinginkan air sungai yang menciptakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan berbagai jenis binatang air. dari lahan di bagian kiri dan kanan sungai agar tidak sampai masuk ke sungai.Meranti mendominasi di sekitar sungai. Keragaman tersebut mulai berkurang dengan jelas terlihat menuju area deposit gambut yang lebih dalam di sekitar pusat dari kubah gambut tersebut. Hanya ada sedikit spesies yang tahan terhadap kondisi pasokan unsur hara yang amat sedikit dan juga simpanan air yang hampir selalu konstan di bagian hutan ini. Pertumbuhan pohon-pohon pun amat terhambat. yang merupakan jenis pohon yang bernilai komersial tinggi. 2. pepohonan tumbuh tidak lebih dari ketinggian 10 hingga 15 meter.4.

Pasal 3). Riparian Ekosistem. Di Indonesia. dan (3) agar daya rusak air terhadap sungai dan lingkungannya dapat dibatasi (Kepmen Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993. 8 . Adalah sangat sejalan jika garis sempadan sungai tersebut ditanami berbagai jenis vegetasi sehingga benar-benar menjadi jalur hijau. Pada prinsipnya tujuan garis sempadan sungai sama dengan tujuan riparian. lebar garis sempadan sungai ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m bagi sungai yang kedalamannya tidak lebih dri 3 m.Gambar 07. Untuk sungai-sungai di kawasan perkotaan. Di dalam Kepmen Pekerjaan Umum Nomor: 63/PRT/1993 tersebut lebar garis sempadan sungai untuk tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 100 m bagi sungai besar (luas DAS >= 500 km2. Kementerian Pekerjaan Umum menetapkan adanya garis sempadan sungai yang tujuannya adalah: (1) agar fungsi sungai termasuk danau dan waduk tidak terganggu oleh aktivitas yang berkembang di sekitarnya. maka lebar garis sempadan sungai sekurang-kuranya 30 meter dari tepi sungai. (2) agar kegiatan pemanfaatan dan upaya peningkatan nilai manfaat sumber daya yang ada di sungai dapat memberikan hasil secara optimal sekaligus menjaga fungsi sungai. sedangkan bagi sungai yang kedalaman maksimumnya lebih dari 20 m. dan 15 meter bagi sungai yang kedalamnnya lebih dari 3 m (Pasal 8). sedangkan bagi sungai kecil (luas DAS < 500 km2 sekurang-kurangnya 50 m dari tepi sungai (Pasal 7).

menurunkan laju erosi. Pengolahan Lahan Basah pada daerah pedesaan. Di samping itu. pengolahan tanah bertujuan untuk: membunuh gulma dan tanaman yang tidak diinginkan. sehingga mereka dapat mengelola sawah sebaik-baiknya. Pengolahan tanah dapat dipandang sebagai suatu usaha manusia untuk merubah sifat-sifat yang dimiliki oleh tanah sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh manusia. menempatkan seresah atau sisa-sisa tanaman pada tempat yang sesuai agar dekomposisi dapat berjalan dengan baik. meratakan tanah untuk memudahkan pekerjaan di lapangan. 2006). khemis dan biologis tanah yang lebih baik sampai kedalaman tertentu agar sesuai untuk pertumbuhan tanaman. serta mempersiapkan tanah untuk mempermudah dalam pengaturan air (Rizaldi.1. 9 . Gambar 08. Dalam usaha pertanian pengolahan tanah dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan kondisi fisik. Pengelolaan lahan basah daerah pedesaan Menurut Hardjowigeno dan Rayes. Wetland Management Plan 3. mempersatukan pupuk dengan tanah. karena merupakan makanan pokok bagi sebagian rakyat Indonesia. Tanaman padi merupakan tanaman yang sangat penting di Indonesia. Tanaman padi diusahakan di tanah sawah pada daerah pedesaan sehingga amat beralasan jika orang-orang yang berkecimpung dibidang pertanian perlu memahami sifat dan ciri tanah.3. 2005.

Hasil pengolahan tanah (khususnya untuk pembajakan) bisa merata. Dengan menggunakan pola yang sesuai. Cara yang banyak digunakan pula adalah secara kimiawi yaitu dengan herbisida. pola pengolahan lahan tanah erat hubungannya dengan waktu yang hilang karena belokan selama pengolahan tanah. perlu menggunakan pola-pola tertentu. 2005). makin rendah efisiensi kerjanya. pola tengah dan pola alfa. Oleh karena itu harus diusahakan bajak atau garu tetap bekerja selama waktu operasi di lapangan. Makin banyak pengangkatan alat sewaktu belok. dalam melakukan pengolahan tanah. pola tepi. diharapkan waktu yang terbuang pada saat pengolahan tanah (pada saat implemen pengolahan tanah diangkat) sesedikit mungkin. Menurut Tas (2008). Pola spiral paling banyak digunakan karena pembajakan dilakukan terus-menerus tanpa pengangkatan alat. Secara manual penyiapan lahan dilakukan menggunakan tangan dan alat sederhana. Penyiapan lahan dan pekerjaan lain termasuk penyiangan dan pemanenan dapat dilakukan secara manual tanpa kendala spesifik pada kebanyakan tipe lahan dan tanah. lahan yang diolah tidak diolah lagi sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efisien. Evaluasi terhadap mudah tidaknya lahan dikerjakan sangat bergantung kepada sistem pengelolaan tanah dan air yang digunakan atau direncanakan. Pola pengolahan harus dipilih dengan tujuan untuk memperkecil sebanyak mungkin pengangkatan alat. 1996). Secara mekanis menggunakan bajak (ploughing) dan garu (harrowing). Masalah juga dijumpai pada penyiapan lahan berlumpur (boggy) yang berdrainase buruk. Bagian lahan yang diangkat tanahnya akan ditimbun kembali 10 .Penyiapan lahan untuk budidaya padi dapat ditempuh dengan beberapa cara. Namun dapat pula digunakan gabungan dari cara-cara tersebut (Noor. Karena pada waktu diangkat alat tidak bekerja. meskipun hanya sebagian kecil dari daerah lahan sawah aktual dan potensial. Kesulitan dijumpai pada lahan berbatu dan miring. Pola pengolahan tanah yang banyak dikenal dan dilakukan adalah pola spiral. karena kemudahan untuk dilewati (trafficability) sepanjang tahun amat rendah (Hardjowigeno dan Rayes. a) Pola Pengolahan Tanah Menurut Rizaldi (2006). Tujuan dari pola pengolahan tanah ini adalah agar lebih efektif dan efisien.

Gambar 09. 1991). pengendali atau pengontrol erosi. dan mendaur ulang limbah organik. 11 . yaitu tinggi air sekitar 2 cm dari permukaan (Rasyid. Karena itu selalu ada air irigasi yang cukup untuk tanaman di atas dan di dalam lapisan olah atau top soil. Tanaman Padi pada Lahan Basah Pedesaan. b) Kedalaman Olah Tanah Untuk padi sawah. Begitu pula bila dilakukan pembajakan. c) Genangan Air Pengolahan Sebelum dilakukan pencangkulan. air harus tergenang di sawah. sambil dilakukan perbaikan pada pematang. Ketika penggaruan/penyisiran dilakukan. Petakan sawah harus benar-benar datar dan rata.dari alur berikutnya. sehingga petakan sawah yang dibuat kecil akan mempermudah pembuatan lapisan olah datar dan rata (Daywin dkk. Sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efektif. 2008). karena sifat-sifat permukaan air. Fungsi positif dan negatif lahan sawah Fungsi positif atau dapat juga disebut sebagai ekternalitas positif (positive externalities) lingkungan lahan sawah antara lain adalah untuk mitigasi atau pengendalian banjir. kedalaman pembajakan konvensional sejak adanya manusia dan tenaga ternak hanya 10 sampai kurang 15 cm saja.2. mendaur ulang air. antara lain adalah emisi gas metan. 3. mitigasi peningkatan suhu udara. terlebih dahulu sawah harus digenangi air. genangan air dikurangi dipetakan sawah . Namun demikian terdapat beberapa masalah berupa ekternalitas negatif (negative externalities) dari lahan sawah.

Pola penggunaan lahan kota Dalam konteks lahan pada ruang kota. perubahan pemanfaatan ruang pusat kota. menyebabkan terjadinya alih guna lahan sawah secara cepat.2.3. yaitu aspek morfologi (bentuk fisik). Pesatnya pembangunan kota juga akan mengakibatkan perubahan pemanfaatan lahan. Pada umumnya alih guna lahan sawah bersifat tidak dapat balik (irreversible) dan dapat membawa kemerosotan terhadap kualitas lingkungan.1. Struktur kota kolonial di Indonesia terdiri dari perumahan mewah. 3. perkampungan kumuh. dan pelaju (commuter). penggunaan lahan kota mempunyai pola semakin jauh dari pusat (usaha) kota. Karakteristik kawasan perkotaan Pengertian kota dapat dilihat dari berbagai aspek. pengertian kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman kota. kehidupan ekonomi perkotaan secara basic dibagi ke dalam 2 kegiatan. pertama yaitu kegiatan ekonomi dasar yang memproduksi dan menyalurkan barang dan jasa untuk keperluan Kota atau wilayah sekitar Kota. terutama sepanjang pantai utara pulau Jawa (Pantura) dan dipusat pembangunan lainnya. Kedua yaitu kegiatan ekonomi bukan dasar (non basic activities) yang memproduksi dan menyalurkan barang dan jasa untuk keperluan Kota itu sendiri. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. dan perkembangan yang ekstensif di pinggiran kota.3. dan bagian kota yang masih bersifat pedesaan. dan hukum. kelas sedang. aspek ekonomi. Perumahan kelas rendah. Secara kawasan. Pengolahan lahan basah daerah perkotaan 3. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan.3. Dalam kegiatan ekonomi. lahan sawah merupakan penggunaan lahan yang banyak mengalami alih guna. Pola penggunaan lahan kota dapat dilihat dari struktur kotanya. aspek geografi.Pesatnya pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk. Industri. Dari berbagai bentuk penggunaan lahan pertanian. pusat kota. 12 . dan tinggi. luas penggunaan lahan untuk usaha bukan pertanian semakin berkurang. 3. Indikasi ini terlihat adanya pemadatan di pusat kota. sedangkan kota asing menurut Hoyt dan Burgess adalah Pusat Usaha (CBD).

dan ketertiban administrasi (aspek hukum). aspek ekonomi. dan tepat waktu. taman lahan basah muncul sebagai jenis baru dalam pengolahan lahan basah pada daerah perkotaan. dan hukum.3.3. status dan pola pemilikan lahan.3. tersedianya lahan yang murah. untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Permasalahan lahan perkotaan Pengertian kota dapat dilihat dari berbagai aspek. terutama dalam memberikan dasar teori pengambilan keputusan dan bimbingan kebijakan untuk ekosistem perkotaan. dan dengan demikian memungkinkan keseimbangan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya. b) Pelestarian Plasma Nutfah Hutan Kota dapat dijadikan tempat koleksi keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah tanah air kita.4. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan kota mencakup masalah tenaga kerja kota (aspek ekonomi). pengelolaan lingkungan. Dimana taman lahan basah telah memainkan peran penting dalam melindungi habitat banyak spesies. dengan memperhatikan keuntungan secara wajar dan mencegah spekulasi. mencapai efisiensi yang optimal. lansekap. penilaian dampak lingkungan dari taman urban wetland terkait dengan konservasi dan pembangunan berkelanjutan menyelaraskan ekosistem perkotaan keseluruhan sangat penting. pendidikan lingkungan dan menyediakan kesempatan rekreasi. 3. mudah. Khusus untuk lahan perkotaan masalah yang dihadapi adalah tingginya harga lahan. kekumuhan kota (aspek morfologi). yaitu aspek morfologi (bentuk fisik). 3. perlu upaya mengelola lahan agar dapat: melakukan alokasi lahan secara adil dan merata. eko-pariwisata. Jadi. sumber energi dan eko-lingkungan di daerah perkotaan.3. Peranan Hutan Kota Hutan Kota mempunyai beberapa peranan penting di antaranya : a) Identitas Kota Hutan Kota dapat menggambarkan identitas kota melalui koleksi jenis tanaman dan hewan yang merupakan simbol atau lambang suatu kota di areal Hutan Kota tersebut. Oleh karena itu. kelangkaan lahan (aspek geografi). aspek geografi. Pembangunan dan pengelolaan lahan perkotaan Dengan meningkatnya tekanan pada tanah.3.5. Kawasan Hutan Kota dapat 13 .

Sebagian lagi akan terserap masuk ke dalam ruang stomata daun. Selain di daun. 1978). waru. dan ranting. dan rumput laut di samudera. maka partikel padat ini juga akan menempel pada kulit batang. ranting. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh tumbuhan di areal Hutan Kota melalui proses fotosintesis untuk merubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Tanaman yang baik sebagai penyerap gas CO2 dan penghasil O2 adalah damar (Agathis alba). daun kupu-kupu 14 . Partikel padat yang melayang-layang di permukaan bumi sebagian akan terjerap (menempel) pada permukaan daun. seperti daun bunga matahari. dalam Smith (1981) mengemukakan. f) Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen Hutan (termasuk di dalamnya Hutan Kota) merupakan penyerap gas CO2 dan penghasil 02 yang cukup penting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara adalah yang mempunyai tajuk tebal dengan daun yang rindang. karena pada areal tersebut dapat dilestarikan flora dan fauna secara ex-situ. dan kersen. e) Penyerap Karbon-monoksida Mikroorganisme dan tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam menyerap gas ini. selain fitoplankton.. cabang. sehingga udara kota menjadi lebih bersih. Dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan. khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari bawah.dipandang sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi. tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang semula konsentrasinya sebesar 120 ppm menjadi hampir mendekati nol dalam tiga jam. ganggang. dan cabang. Dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95% (Grey and Deneke. khususnya daun yang berbulu dan mempunyai permukaan yang kasar. Ficus sp. Inman et al. c) Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara Tajuk pohon yang ada di areal Hutan Kota dapat membersihkan partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi melalui proses jerapan dan serapan. d) Peredam Kebisingan Pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun.

albizia (Paraserianthes falcataria). 1978). posisi jatuhnya sinar surya. dan posisi lintang (Robinette. k) Mengurangi Stress Hutan Kota dapat membantu mengurangi stress yang diderita masyarakat kota akibat kerasnya kehidupan kota melalui kesejukan dan keindahan alam 15 . dan beringin (Ficus benjamina) (Widyastarna. umur tanaman. keadaan cuaca. h) Penyerap dan Penapis Bau Tanaman dapat menyerap bau secara langsung atau menahan angin yang bergerak dari sumber bau (Grey dan Deneke. Jumlah pantulan radiasi matahari suatu Hutan Kota sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang. Dalbergia spp. Hutan Kota dapat dibangun agar pada siang hari tidak terlalu panas sebagai akibat banyaknya jalan aspal. j) Ameliorasi Iklim Salah satu masalah yang cukup merisaukan penduduk kota adalah berkurangnya kenyamanan akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan. jati (Tectona grandis). 1983). g) Penahan Angin Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin berupa Hutan Kota (Panfilov dalam Robinette. 1991). lndigera galegoides. 1983). Untuk mengatasi hal itu. Tanaman yang memenuhi kriteria tersebut di antaranya nangka (Artocarpus integra). jembatan layang..). yaitu tanaman berdaun banyak sehingga luas permukaan daunnya tinggi dan mempunyai banyak stomata (mulut daun). Acacia vilosa. jenis tanaman. mahoni (Swietenia spp. dan tanjung. 1978). i) Mengatasi Penggenangan Daerah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang mempunyai kemampuan evapotranspirasi tinggi. akasia (Acasia auriculiformis). kihujan (Samanea saman). gedung bertingkat. seperti cempaka.(Bauhinia purpurea). dan lamtoro (Leucaena leucocephala). Akan lebih baik hasilnya jika ditanam tanaman yang menghasilkan bau harum yang dapat menetralisir bau busuk dan menggantinya dengan bau harum. dan sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik dari bumi (Grey dan Deneke. lamtorogung (Leucaena leococephala). dan sebagainya.

Gambar 10. Urban Natural Park (Taman Alam Perkotaan) 16 .yang diciptakan selain adanya kicau burung dan hal-hal menarik lainnya dari Hutan Kota.

. Subiandono. Program Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro.D. Tesis. W. Mitsch.J. 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.DAFTAR ACUAN _____. Evaluasi lahan basah bervegetasi mangrove dalam mengurangi pencemaran lingkungan (Studi kasus di desa Kepetingan Kabupaten Sidoarjo). W. Kusumastuti. Pustaka CIDESINDO. PT. CIDES. Semarang. Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. (2009) Wetland Ecosystems. Peraturan Pemerintah RI No. 1-18 dalam Prosiding Seminar Nasional Multifungsi Lahan Sawah. Friyatno. Anderson. 1992. 2009. Landscape design and the role created. John Wiley & Sons. Mitsch. and L. 1992. Irawan. Inc. Padang. C. Konversi lahan sawah ke penggunaan nonpertanian dan nampak negatifnya. Makalah Utama pada Ekspose Hasil-hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Z. Hlm. Hutan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup. J. 2001. 1997.G. Irwan. Gosselink. Ecological 17 . I. Bogor.. and natural riparian wetlands in controlling nonpoint source pollution.. restored. 295 pp. dan B. E. S. Engineering 1 (1/2):27-47.J.. New York. Kerjasama IPB dengan APHI. Sumaryanto. 1 Mei 2001. Zhang.J. Bogor. W. 2006. Pembangunan dan pengelolaan hutan kota. Samsoedin..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->