P. 1
Bab 3

Bab 3

|Views: 280|Likes:

More info:

Published by: Panji Hari Mukti Wibowo on Dec 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/09/2014

pdf

text

original

26

BAB III PEMERIKSAAN MUTU AGREGAT

A. Umum Pada konstruksi perkerasan yang menggunakan aspal, pengaturan dan pengawasan sifat–sifat agregat sama pentingnya dengan pengaturan dan pengawasan mutu aspal. Hal tersebut disebabkan oleh agregat yang biasanya merupakan bagian terbesar (90% berat atau lebih) dari campuran sehingga sifatsifatnya dominan dalam aspal beton. Beberapa macam pemeriksaan agregat antara lain : 1. Keausan agregat dengan mesin Los Angeles Maksud percobaan ini untuk mengukur derajat ketahanan agregat mineral pemakaian, dimana ada konstruksi perkerasan jalan, keausan umumnya disebabkan oleh adanya gesekan dan tumbukan roda kendaraan, ataupun tumbukan dan gesekan akibat alat pada waktu pelaksanaan pengaspalan. 2. Kelekatan agregat terhadap aspal. Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui sifat Adhesif agregat terhadap aspal. Pelekatan aspal terhadap batuan dipengaruhi oleh sifat-sifat aspal dan sifat-sifat batuan. Pada batuan yang sifat permukaannya halus, kemampuan kelekatanya terhadap aspal akan lebih rendah dibandingkan dengan batuan yang permukaan kasar. 3. Berat jenis dan penyerapan Percobaan ini dimaksudkan untuk keperluan perhitungan besarnya rongga didalam campuran (void), juga hasil pemeriksaan berat jenis ini bila diketahui secara kasar kekerasan agregat tersebut : a. Berat jenis bulk (Bulk Specific Grafity) b. Berat jenis SSD ( Saturated Surface Dry) a. Berat jenis semu (Apparent Specific Grafity) b. Penyerapan (Absorbsi)

27

4. Analisa saringan Analisa saringan atau pemeriksaan gradasi agregat merupakan cara untuk menentukan distribusi ukuran butiran. Berdasarkan gradasinya, agregat dapat dibedakan : a. Gradasi menerus (Continous graded) b. Gradasi tunggal (Single size) c. Gradasi timpang (Gap graded)

5. Sand Equivalent Percobaan ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan lumpur dan tingkat kebersihan agregat halus pada pasir.

28

B. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar 1. Maksud dan Tujuan Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat kasar dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis permukaan jenuh (SSD), berat jenis semu (apparent) dari agregat kasar. a. Berat jenis (bulk specific gravity) adalah perbandingan antara agregat kering dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. b. Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) adalah perbandingan antara agregat kering permukaan jenuh dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) adalah perbandingan antara berat agregat kering dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu. d. Penyerapan adalah persentase berat jenis yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering.

2. Peralatan a. Keranjang kawat, ukuran 3,35 mm atau 2,36 mm (no. 6 atau no. 8) dengan kapasitas kira-kira 1500 gram. b. Tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai pemeriksaan. Tempat ini harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan selalu tetap. c. Timbangan dengan kapasitas 1500 gram dan ketelitian 0,1 % dari berat contoh yang ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang. d. Oven dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (100 ±5 )˚C. e. Alat pemisah contoh. f. Saringan no. 4. g.

29

3.

Benda Uji Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan no. 4 diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira-kira 1500 gram.

4.

Cara Melakukan a. Mencuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain yang melekat pada permukaan. b. Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu 105 ˚C berat tetap. c. Mendinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1 sampai 3 jam, kemudian menimbang dengan ketelitian 0,5 gr (BK). d. Merendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama (24 ± 4) jam. e. Mengeluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air pada permukaan hilang (SSD) untuk butiran yang besar pengeringan harus satu persatu. f. Menimbang benda uji kering permukaan jenuh (BJ). g. Meletakkan benda uji dalam keranjang, menggoncangkan batunya untuk mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan beratnya di dalam air (BA). h. Ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan pada suhu standar (25 ± 0,5)˚C.

30

Saringan no. 4

Timbangan Elektrik

Oven

Gambar III.1 Alat Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Kasar.

31

5. Hasil Penelitian Data : Berat benda uji didalam air (BA) Berat kering oven (BK) Berat kering permukaan jenuh (BJ) a. Berat jenis bulk (bulk specific gravity) b. Berat jenis kering permukaan (SSD = saturated surface dry) c. Berat jenis semu (apparent spesific gravity) d. Penyerapan (absorbtion) = 598 gr = 989 gr = 1018 gr = =

= 2,35 gram/cc = =

= 2,42 gram/cc = =

= 2,53 gram/cc = = = 2,93 %

6.

Kesimpulan Dari pengujian penyerapan agregat kasar didapatkan data sebagai berikut: a. Berat jenis bulk b. Berat jenis SSD c. Berat jenis semu d. Penyerapan (absorbtion) = 2,35 gram/cc = 2,42 gram/cc = 2,53 gram/cc = 2,93 % < 3 % ( masuk spec).

7.

Saran a. Usahakan dalam penyiapan benda uji tepat memiliki berat 1000 gr. b. Perlu ketelitian saat menimbang benda uji dalam air (BA). c. Dalam pengelapan agregat kasar harus secara satu per satu, agar agregat kasar benar-benar kering permukaan (SSD).

32

C. Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus 1. Maksud dan Tujuan Pemeriksaan berat jenis dan penyerapan agregat halus dimaksudkan untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis permukaan jenuh (SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregat halus. a. Berat jenis (bulk spesific gravity) adalah perbandingan antara agregat kering dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalm

keadaan jenuh pada suhu tertentu. b. Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) adalah perbandingan antara agregat kering permukaan jenuh dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu. c. Berat jenis semu (apparent spesific gravity) adalah perbandingan antara berat agregat kering dengan air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu tertentu. d. Penyerapan adalah persentase berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat kering.

2. Peralatan a. Timbangan kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0,1 gram. b. Picnometer dengan kapasitas 500 ml. c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian bagian atas (40 ± 3) mm, diameter bagian bawah (90 ± 3) mm, dan tinggi (75 ± 3) mm, dibuat dari logam tebal minimum 0,8 mm. d. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340 ± 15) gram, diameter permukaan penumbuk (25 ± 3) mm. e. Saringan no. 4. f. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ± 5) oC. g. Pengukur suhu dengan ketelitian pembacaan 1 ˚C. h. Talam. i. Bejana tempat air.

33

j. Pompa hampa udara (vacuum pump) atau tungku. k. Desicator. l. Air suling.

3. Benda Uji Benda uji adalah agregat yang lewat saringan no. 4, diperoleh dari alat pemisah contoh atau cara perempat sebanyak 500 gram.

4. Cara Melakukan a. Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 ± 5) ˚C sampai berat tetap. Yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan berat benda uji selam 3 kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan kadar air lebih besar dari pada 0,1 %. Mendinginkan pada suhu ruang, kemudian merendam dalam air selama (24 ± 4) jam. b. Membuang air perendam dengan hati-hati, jangan ada butiran yang hilang, menebarkan agregat di atas talam, mengeringkan di udara panas dengan cara membolak-balikan benda uji. Melakukan pengeringan sampai tercapai keadaan kering permukaan jenuh. c. Memeriksa keadaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda uji ke dalam kerucut terpancung, memadatkan dengan penumbuk sebanyak 25 kali, mengangkat kerucut terpancung. Keadaan kering udara permukaan jenuh tercapai bila benda uji runtuh akan tetapi masih dalam keadaan tercetak. d. Setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh segera masukkan 500 gr benda uji kedalam picnometer. Memasukkan air suling sampai mencapai 90 % isi picnometer, memutar sambil diguncang sampai tidak terlihat gelembung udara didalamnya. Untuk mempercepat proses ini dapat digunakan pompa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air yang ikut terhisap, dapat juga dilakukan dengan merebus picnometer.

34

e. Merendam picnometer dalam air dan ukur suhu air penyesuaian perhitungan kepada suhu standar 25 ˚C. f. Menambahkan air sampai mencapai tanda batas. g. Menimbang picnometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gr (BT). h. Mengeluarkan benda uji, mengeringkan dalam oven dengan suhu (100 ± 5) ˚C sampai berat tetap, kemudian mendinginkan benda uji desicator. i. Setelah benda uji dingin kemudian menimbang (BK). j. Menentukan berat picnometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna penyesuaian dengan suhu standar 25 ˚C (B).

35

Timbangan Elektrik

Picnometer

Oven Gambar III.2 Alat Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Agregat Halus.

36

5. Hasil Penelitian Data : Berat picnometer berisi air dan benda uji (BT) = 960 gram Berat picnometer berisi air penuh (B) Berat benda uji kering oven (BK) a. Berat jenis bulk (Bulk Spesific Gravity) = 667 gram = 477 gram = = = 2,304 gram/cc b. Berat jenis kering permukaan jenuh (SSD = saturated surface gravity) = = = 2,415 gram/cc c. Berat jenis semu (Apparent Spesific Grafity) = = = 2,592 gram/cc d. Penyerapan (absorbtion) = = = 4,822 %

6. Kesimpulan Dari pengujian penyerapan agregat halus didapatkan data sebagai berikut: a. Berat jenis bulk b. Berat jenis SSD c. Berat jenis semu d. Penyerapan (absorbtion) = 2,304 gram/cc = 2,415 gram/cc = 2,592 gram/cc = 4,822 % < 5 % (masuk spec).

37

8.

Saran a. Penimbangan pada waktu percobaan diharapkan teliti karena hasilnya akan sangat mempengaruhi terhadap benda uji. b. Sebaiknya dalam mengeringkan agregat dengan kain lap dan dilakukan satu per satu agar benda uji benar – benar dalam keadaan SSD. c. Pada saat pengujian SSD dengan kerucut terpancung cone sebaiknya diperhatikan runtuh atau tidaknya, karena hal ini sangat mempengaruhi tingkat SSD. d. Sewaktu menimbang picnometer + air + benda uji, di harapkan benda uji di masukan terlebih dahulu, kemudian baru di masukan air sampai

penuh (sampai tanda strip di picnometer).

38

D. Pemeriksaan Kelekatan Agregat Terhadap Aspal 1. Maksud dan Tujuan Pemeriksaan kelekatan agregat terhadap aspal dimaksudkan untuk menentukan kelekatan agregat terhadap aspal. Kelekatan agregat terhadap aspal adalah persentase luas permukaan batuan terhadap keseluruhan luas permukaan.

2. Peralatan a. Wadah untuk mengaduk, kapasitas minimal 500 ml. b. Timbangan dengan kapasitas 200 gram, ketelitian 0,1 gram. c. Pisau pengaduk baja (spatula) lebar 1”, panjang 4”. d. Tabung gelas kimia kapasitas 600 ml. e. Oven, yang dilengkapi dengan pengukur suhu untuk memanasi sampai (150 ± 1) oC. f. Saringan 6,5 mm (1/4”) dan 9,5 mm (3/8”) g. Termometer logam ± 200 oC dan ± 100 oC h. 3. Benda Uji a. Benda uji adalah agregat yang lewat saringan 6,5 mm (1/4”) dan tertahan pada saringan 9,5 mm (3/8”) sebanyak kira-kira 100 gram. b. Mencuci dengan air suling, mengeringkan pada suhu 135 oC sampai 149
o

C sehingga berat tetap. Menyimpan di tempat yang tertutup rapat dan siap

untuk diperiksa. c. Untuk pelapisan agregat basah perlu ditentukan berat jenis kering permukaan jenuh (SSD) dan penyerapan dari agregat kasar.

4. Cara Pelaksanaan 1. Mengambil 100 gram benda uji, memasukkan ke dalam wadah, isi aspal sebanyak (5,5 ± 0,2) gram yang telah dipanaskan sampai pada suhu yang diperlukan. Mengaduk aspal dan benda uji sampai merata dengan spatula selama 2 menit.

39

2. Memindahkan adukan tersebut ke dalam gelas kimia, mengisi air suling sebanyak 400 ml dan mendiamkan tabung berisi adukan pada suhu ruang selama 16 sampai 18 jam. 3. Mengambil selaput aspal yang mengambang di permukaan air dengan pipet supaya tidak mengganggu agregat dalam tabung. Menerangi benda uji dengan lampu 75 watt yang pakai kap, mengatur tempat lampu. 4. Dengan melihat dari atas menembus air, memperkirakan persentase luas permukaan yang masih berselaput aspal, lebih dari 95 % atau kurang. Permukaan yang kecoklatan atau buram dianggap berselaput penuh.

40

Gelas ukur

Termometer

Timbangan Elektrik

Gambar III.3 Alat Pemeriksaan Kelekatan Agregat Terhadap Aspal

41

5. Hasil Penelitian Data : Berat agregat (A) Berat aspal (B) Berat aspal yang terlepas (C) Persentase kelekatan aspal = 100 gram = 5,5 gram = 0 gram = = = 100 %

6. Kesimpulan Berdasar hasil penelitian bahwa luas pemukaan benda uji yang bisa terselimuti aspal adalah 100% dengan spesifikasi yang disyaratkan minimal 95%, sehingga aspal memenuhi spesifikasi dan dapat digunakan.

7. Saran a. Pengambilan selaput aspal yang mengambang dipermukaan air dengan menggunakan pipet sehingga tidak menggusik agregat dalam gelas ukur. b. Waktu mencampur agregat dengan aspal, diharuskan aspal harus merata sampai agregat tertutupi oleh aspal (homogen). c. Sebelum menuangkan aspal ke agregat, harus di perhatikan temperatur aspal yaitu 150°-160° C.

42

E. Pemeriksaan Analisa Saringan Agregat Halus dan Kasar 1. Maksud dan Tujuan Maksud pemeriksaan analisa saringan agregat halus dan kasar adalah menentukan pembagian butir (gradasi) agregat halus dan agregat kasar dengan menggunakan saringan. 2. Peralatan a. Kuas, sikat, sendok dan alat-alat lainnya. b. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2 % dari benda uji. c. Satu set saringan : (3/4”); (1/2”); (3/8”); no. 4; no. 8 ; no.16; no. 30; no. 100; no. 200 (standart ASTM). d. Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 ± 5) ˚C. e. Alat pemisah contoh. f. Mesin pengguncang saringan. g. Talam. 3. Benda Uji. a. Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau perempat sebanyak : 1. Agregat halus. no. 4 : berat minimum 250 gr. no. 8 : berat minimum 50 gr. 2. Agregat kasar. Ukuran maksimum 3,5” : berat minimum 17,50 kg. Ukuran maksimum 3,0” : berat minimum 15,00 kg. Ukuran maksimum 2,5” : berat minimum 12,50 kg. Ukuran maksimum 2,0” : berat minimum 10,00 kg. Ukuran maksimum 1,5” : berat minimum 7,50 kg. Ukuran maksimum 1,0” : berat minimum 5,00 kg. Ukuran maksimum 3/4” : berat minimum 2,50 kg. Ukuran maksimum 1/2” : berat minimum 1,25 kg. Ukuran maksimum 3/8” : berat minimum 1,00 kg.

43

b. Bila agregat campuran dari agregat halus dan agregat kasar, agregat tersebut dipisahkan menjadi dua bagian dengan saringan no. 4. Selanjutnya agregat halus dan agregat kasar disediakan sebanyak jumlah seperti tercantum diatas. Benda uji disiapkan sesuai dengan PB-0208-76 kecuali apabila butiran yang melalui saringan no. 200 tidak perlu diketahui jumlahnya dan bila syarat ketelitian tidak menghendaki.

4. Cara Melakukan. a. Benda uji dikeringkan didalam oven dengan suhu (100 ± 5) ˚C sampai beratnya tetap. b. Saringan benda uji lewat susunan saringan dengan ukuran saringan paling besar ditempatkan paling atas. Saringan diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang selama 15 menit. c. Timbang agregat yang tertahan pada ayakan. d. Analisa data ayakan.

44

Saringan

Vibrator

Timbangan Elektrik

Gambar III.4 Alat Pemeriksaan Analisa Saringan

45

5. Hasil Pemeriksaan Berat bahan kering = 1500 gr Tabel III. 1 Analisa Saringan Agregat Halus dan Kasar Fraksi I Ø Ayakan Berat tertinggal (gr) 0 398 740 240 1 8 19 3 27 20 Terkoreksi Jumlah berat Persen jumlah tertinggal (gr) tertinggal (gr) 0 398 1178 1418 1419 1427 1446 1449 1476 1496 0 26,60 78,74 94,79 94,85 95,39 96,66 96,86 98,66 100 Persen lolos (%) 100 73,40 21,26 5,21 5,15 4,61 3,34 3,14 1,34 0

¾” /2” 3 /8” no. 4 no. 8 no. 16 no. 30 no. 100 no.200 pan
1

(Sumber : hasil penelitian)

Berat bahan kering = 1000 gr Tabel III.2 Analisa Saringan Agregat Halus dan Kasar Fraksi II Ø Ayakan ¾” 1 /2” 3 /8” no. 4 no. 8 no. 16 no. 30 no. 100 no.200 pan Berat tertinggal (gr) 0 50 102 211 327 132 79 37 27 32 Terkoreksi Jumlah berat Persen jumlah tertinggal (gr) tertinggal (%) 0 50 152 363 690 822 901 938 965 997 0 5,02 15,25 36,41 69,21 82,45 90,37 94,08 96,79 100
(Sumber penelitian) :

Persen lolos (%) 100 94,98 84,75 63,59 30,79 17,55 9,63 5,92 3,21 0
hasil

46

Berat bahan kering = 500 gr Tabel III.3 Analisa Saringan Agregat Halus dan Kasar Fraksi III Ø Ayakan ¾” /2” 3 /8” no. 4 no. 8 no. 16 no. 30 no. 100 no.200 pan
1

Berat tertinggal (gr) 0 0 0 0 21 203 32 115 78 44

Terkoreksi Jumlah berat Persen jumlah tertinggal (gr) tertinggal (gr) 0 0 0 0 0 0 0 0 21 4,26 224 45,44 256 51,93 371 75,25 449 91,08 493 100

Persen lolos (%) 100 100 100 100 95,74 54,56 48,07 24,75 8,92 0

(Sumber : hasil penelitian)

Tabel III.4 Perhitungan CA, MA, FA  Ayakan Lolos Lolos Lolos FI FII FIII CA % MA % FA % Medium Spec

Jml

Spec

Ket.

¾” /2” 3 /8” no. 4 no. 8 no. 16 no. 30 no. 100 no.200 pan
1

100 73,40 21,26 5,21 5,15 4,61 3,34 3,14 1,34 0

100 94,98 84,75 63,59 30,79 17,55 9,63 5,92 3,21 0

100 32 36 100 23,49 34,19 100 6,80 30,51 100 1,67 22,89 95,74 1,65 11,08 54,56 1,48 6,32 48,07 1,07 3,47 24,75 1,00 2,13 8,92 0,43 1,16 0 0 0

32 32 32 32 30,64 17,46 15,38 7,92 2,85 0

100 89,68 69,31 56,56 43,37 25,25 19,92 11,05 4,44 0

100 90 70 56,5 42,5 24,5 18 11 4,5 0

100 80-100 60-80 48-65 35-50 19-30 13-23 7-15 1-8 0

Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk Masuk

(Sumber : hasil penelitian)

47

GRAFIK MILIMETER

48

6. Kesimpulan Berdasarkan percobaan analisa ayakan diperoleh persentase agregat yang diperlukan dalam pembuatan hotmix,dengan nilai sebagai berikut: a. Persentase agregat kasar FI (CA) = 33 %

b. Persentase agregat sedang FII (MA) = 32 % c. Persentase agregat halus FIII (FA) = 35 %

7. Saran a. Diperlukan ketelitian pada saat melakukan perhitungan antar fraksi sehingga dapat memenuhi syarat dalam perencanaan Mix Design b. Sebelum menggunakan alat saringan, sebaiknya saringan dibersihkan terlebih dahulu, karena bekas benda uji sebelumnya yang menempel pada saringan mempengaruhi hasil penimbangan dan hasil analisa saringan. c. Dalam melepas ayakan dari mesin fibrator sebaiknya hati – hati, karena tumpahnya benda uji akan mempengaruhi hasil penimbangan dan hasil analisa saringan.

49

F. Pemeriksaan Keausan Agregat dengan Mesin Los Angeles 1. Maksud dan Tujuan Pemeriksaan agregat dimaksudkan untuk ketahanan agregat kasar terhadap keausan dengan mempergunakan mesin Los Angeles. Keausan tersebut dinyatakan dengan perbandingan antara berat aus lewat saringan no. 12 terhadap berat semula dalam persen.

2. Peralatan a. Mesin Los Angeles. Mesin terdiri dari silinder baja tertutup pada kedua sisinya dengan diameter 71 cm panjang 50 cm. Silinder bertumpu pada dua poros pendek yang menerus dan berputar pada poros mendatar. Silinder berlubang untuk memasukkan benda uji. Penutup lubang tertutup rapat sehingga permukaan dalam silinder tidak terganggu. Dibagian dalam silinder terdapat bilah baja melintang penuh setinggi 8,9 cm. b. Saringan no. 12 dan saringan-saringan lainnya seperti tercantum dalam. c. Timbangan dengan ketelitian 5 gram. d. Bola-bola baja sebanyak 11 buah dengan diameter rata-rata 4,68 cm dan berat masing-masing antara 390 gram sampai 445 gram. e. Oven, lengkap dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (100 ± 5) oC.

3.

Benda Uji a. Berat dan gradasi benda uji. b. Membersihkan benda uji dan mengeringkan dalam oven pada suhu (100 ± 5) oC.

50

Tabel III.5 Keausan Agregat Lolos saringan (mm) 72,6 63,5 38,1 25,4 19,05 12,5 9,5 6,35 4,75 Jumlah benda uji (A) Jumlah tertahan ayakan No. 12 (B) Tertahan saringan (mm) 63,5 50,8 25,4 19,05 12,5 9,5 6,35 4,76 2,36 5000 1913 61,74 %
( Sumber : Hasil Penelitian )

Berat benda uji (gr)

2500 2500

4. Cara Melakukan a. Benda uji (A) dan bola-bola baja dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles. b. Memutar mesin dengan kecepatan 30 sampai 33 rpm, sebanyak 500 putaran untuk gradasi A, B, C dan D, dan 1000 putaran untuk gradasi E, F, dan G. c. Setelah selesai pemutaran, mengeluarkan benda uji dari mesin kemudian menyaring dengan saringan no. 12. butiran yang tertahan diatasnya dicuci bersih (B), selanjutnya dikeringkan dalam oven suhu (100 ± 5) ˚C sampai berat tetap kemudian ditimbang.

51

Los Angeles Machine Gambar III.5 Alat Pemeriksaan Keausan Agregat

5. Hasil Pengamatan Tabel III.6 Hasil Pemeriksaan Keausan Agregat Lolos saringan (mm) 19.05 12.5 Tertahan saringan (mm) 12.5 9.5 Berat benda uji (gr) 2500 2500
(Sumber : Hasil Penelitian)

6. Perhitungan Berat benda uji (A) Berat tertahan ayakan No. 12 (B) = 5000 gr = 1913 gr

= 61,74 %

Dengan,

A = berat benda uji semula (gram) B = berat benda uji tertahan pada saringan no. 12 (gram)

52

7. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan diperoleh nilai keausan = 61,74 %, maka agregat tersebut tidak memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan dengan harga spesifikasi max 40 %. Sehingga agregat tersebut tidak dapat digunakan.

8. Pembahasan Pada percobaan keausan agregat di laboratorium hasil pengujian yang didapat belum memenuhi syarat spesifikasi yang bernilai maksimal 40%, hal ini dikarenakan mutu agregat yang mempunyai tingkat keausan tinggi sehingga pada saat dilakukan pengujian agregat tidak masuk dalam nilai spesifikasi yang telah ditentukan.

9. Saran a. Jumlah putaran sebanyak 500 putaran dengan kecepatan 30 – 33 rpm jumlah tersebut supaya diperhatikan karena sangat mempengaruhi nilai keausan agregat. b. Jumlah bola baja yg di masukan ke dalam mesin Los Angeles adalah 11 buah. c. Diperlukan ketelitian saat penimbangan berat agregat yang tertahan oleh saringan karena berpengaruh pada perhitungan nilai keausan agregat.

53

G. Pemeriksaan Sand Equivalent 1. Maksud dan Tujuan Maksud pemeriksaan Sand Equivalent adalah untuk mengetahui tingkat kebersihan agregat halus dan pasir.

2. Peralatan a. Alat periksa Sand Equivalent yang terdiri dari silinder ukur, tutup karet, tabung irrigator, kaki pemberat dan sifon b. Saringan no. 4 c. Cawan berdiameter 57 mm, isi 85 ml. d. Corong e. StopWatch f. Pengguncang mekanis g. Calcium Chlorida Stock Sulution ( 85 mm + 3,79 liter Aquades) h. Oven 110 oC.

3. Benda Uji a. Sampel disaring lolos saringan no. 4. b. Diambil secara representative dengan cara perempat banyak atau Quatering (alat pemisah sampel). c. Masukan dalam cawan 85 ml. d. Lalu diketuk-ketuk sampai padat. e. Kemudian diratakan dengan spatula.

3. Prosedur Percobaan a. Mengambil pasir dari lapangan yang lolos saringan no. 4 secukupnya, dan memasukkan ke dalam Tin Box sampai penuh. Ratakan dan tekan dengan tangan sehingga rata permukaannya. b. Masukkan larutan standar ke dalam tabung S.E setinggi 5 strip.

54

c. Masukkan contoh yang telah ditekan ke dalam tabung S.E dan biarkan 10 menit. d. Kocok tabung tersebut dengan arah mendatar sebanyak 90 kali, dimana perhitungan dilakukan satu arah. e. Masukkan selang ke dalam tabung S.E dan buka tabung kran hingga larutan standar equivalent masuk ke dalam tabung S.E sampai tinggi skala 15. f. Selanjutnya masukkan skala beban equivalent secara perlahan-lahan sampai beban tersebut berhenti. g. Baca skala setelah pembebanan.

Alat periksa Sand Equivalent

Gambar III.6 Alat Pemeriksaan Sand Equivalent.

55

4. Pemeriksaan Sand Equivalent Tabel III.7 Pemeriksaan Sand Equivalent No. contoh No 1. Uraian A Tes tinggi penunjuk beban ke dalam gelas ukur (gelas dalam keadaan kosong) Baca skala lumpur ( pembacaan skala permukaan lumpur lihat pada dinding gelas ukur) Masukkan beban, baca skala beban pada tangki penunjuk. Baca skala pasir. Pembacaan (3) – pembacaan (1) 5. Nilai S.E = x 100 % 78 B 77 Keterangan

2.

43

40

3.

108

106

4.

30

29

69,77 %

72,5 %

6.

Rata-rata nilai S.E

71,135 %
( Sumber : hasil penelitian )

5. Kesimpulan Bedasarkan hasil percobaan diperoleh nilai sand equivalent = 71,135 %, sedangkan spesifikasi yang disyaratkan adalah minimal 50%, sehingga benda uji memenuhi spesifikasi.

6. Saran a. Dalam pembacaan gelas ukur, skala lumpur, skala beban, dan skala pasir supaya teliti karena untuk mengetahui bersih tidaknya suatu agregat.

56

b. Saat

pengguncangan

arah

horizontal

sebaiknya

benar

benar

memperhatikan jumlah guncangan yang harus dilakukan dalam waktu yang ditentukan yaitu 90 kali guncangan dalam 30 detik, karena jumlah guncangan akan mempengaruhi nilai SE. c. Dalam perhitungan waktu sebaiknya lebih teliti agar dalam pembacaan gelas ukur lebih akurat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->