P. 1
Kesetaraan Dan Keadilan Gender

Kesetaraan Dan Keadilan Gender

|Views: 719|Likes:
Published by algojosadojo

More info:

Published by: algojosadojo on Dec 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

Kesetaraan Dan Keadilan Gender

I. Pendahuluan

Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG), di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999, UU No. 25 th. 2000 tentang Program Pembangunan Nasional-PROPENAS 2000-2004, dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional, sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional, propinsi maupun di kabupaten/kota, untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan, aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan, program/proyek dan kegiatan. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak.

Penduduk wanita yang jumlahnya 49.9% (102.847.415) dari total (206.264.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Kurang berperannya kaum perempuan, akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri.

Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan, perempuan kurang dapat berperan aktif. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan, sistem upah yang merugikan, tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah, sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.

Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik perempuan maupun laki-laki, ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal, karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat, umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki); Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender; Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual,

kesehatan dan ekonomi. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. 63. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. khususnya perempuan kepala rumah tangga. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalah-masalah sosial. II. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif.264. Pendidikan Di bidang pendidikan.cenderung dipahami parsial kurang kholistik. 70 dan 77.595 orang.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206.7 tahun berbanding 65. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. dan arah pembangunan yang responsif gender.69% (Sumber: BPS. Angka buta huruf perempuan 12. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. (50. Philippina yang menempati urutan 59. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara.85% dan perempuan 12. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara).9% perempuan).28% sedangkan laki-laki 5. Thailand. yudikatif. Berdasarkan Human Development Report 2003. (Sumber: BPS.1% diantaranya laki-laki dan 49. 110 dari 173 negara. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan.9 tahun (2000). 2. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat.8 tahun (1998) menjadi 67.84%. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS).87%). Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. 60. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. Estimasi Parameter . Thailand. tujuan.29% dengan komposisi laki-laki 5.9 tahun. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Kemampuan. yaitu 69. legislatif terhadap arti. (Sumber: BPS. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54.

Ekonomi Di bidang ekonomi. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. dan 28 pada tahun 2002. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. (Sumber: BPS.000 (SDKI 1997).8%. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. laki-laki sebesar 63. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36.6%. 337/100. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. (Statitik dan Indikator Gender. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. 1998). BPS. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan yakni 76. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). 3.9.2% dari jumlah pemilih 51%. dan dari jumlah tersebut hanya 15. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. III. angka kematian anak. dan negara. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. .Demografi. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. serta rendahnya tingkat pendidikan. Infant Mortality Rate (IMR). 2003). kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. (Sumber: BPS.927.81%.000 (SDKI 2002). struktur.8 sedangkan perempuan 7.861). 2000). Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi.000 (SDKI 1994). demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. kekerasan.4% dari jumlah seluruh PNS (3. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75.8% dari seluruh anggota DPR. dan dari jumlah tersebut hanya 15. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7). dan menurun 307/100. Statistik Kesejahteraan Rakya. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.1% dari jumlah seluruh PNS (4. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. (Sumber: BPS. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan.7% yang menduduki jabatan struktural.9%. Laki-laki 41.005.12% berbanding 44. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat.146). relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.34%. (BPS.3%. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11. dan persamaan hak dalam keluarga. Dibidang kesehatan. laki-laki sebesar 62. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). dan pelacuran paksa. perempuan 31. masyarakat. secara umum partisipasi perempuan masih rendah.

budaya setempat. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. dapat dipertukarkan. V. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. fungsi. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). tergantung waktu. beban ganda. seks tidak dapat berubah. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. di belahan dunia manapun. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. ekonomi. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. subordinasi. VI. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. berlaku sepanjang masa. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. bukan merupakan kodrat Tuhan. Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. melainkan buatan manusia. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. kesempatan berpartisipasi.IV. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. berlaku dimana saja. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Permasalah Ketidakadilan Gender . Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Lain halnya dengan seks. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. tidak dapat dipertukarkan. hukum. sosial budaya. dan dengan demikian mereka memiliki akses. sekarang dan berlaku selamanya. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik.

misalnya marginalisasi. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M.Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara lakilaki dan perempuan di Indonesia. 1997. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. mesin yang hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan♣diasumsikan laki-laki. Hanya saja bila dibandingkan. Berbagai pembedaan peran. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. norma ataupun struktur masyarakat. . bukan saja bagi kaum perempuan. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Mosse. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. menyatakan. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. Sebagai contoh. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Mosse. 1996). Faqih dalam Achmad M. terutama pada perempuan. 1996). hal.♣Usaha konveksi lebih suka menyerap ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. 1990). fungsi. menyatakan. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. subordinasi. 33. 1997).♣yang dikerjakan Pemotongan padi dengan peralatan sabit. 1997). VII. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender 1. 2001). tenaga perempuan. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan pengendalian hama dengan teknologi baru laki-laki. Selanjutnya Achmad M. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. dan dampak suatu peraturan perundangundangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. 1996. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. peran. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. 1998a. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. eksploitasi. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. tetapi juga bagi kaum laki-laki. terhadap laki-laki dan perempuan. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan.

bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Apabila seorang laki-laki marah. 5. jika hendak aktif dalam “kegiatan lakilaki” seperti berpolitik. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. Banyak kasus dalam tradisi. selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. (perempuan). Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. paman. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. . namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. 4. terutama bila bergerak dalam bidang publik. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. pemukulan dan penyiksaan. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Pelaku kekerasan bermacam-macam. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. majikan. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama.Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan seperti “guru taman kanak-kanak” atau♣perempuan “sekretaris” dan “perawat”. tetangga. Pelaku bisa saja suami/ayah. anak laki-laki. Dalam proses pembangunan. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. sepupu. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. ia dianggap tegas. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat izin suami. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. bisnis atau birokrat. Sehingga bagi mereka yang bekerja. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. ada yang bersifat individu. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. keponakan. muncul dalam bebagai bentuk. 3. Berbagai observasi. tetapi juga yang bersifat non fisik. 2. mertua. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. Dirasakan banyak ketimpangan. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan lakilaki berbeda. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan.

toleransi. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. the nation. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. bangsa.meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. • Konferensi di Beijing. 36 tahun 1990. 7 tahun 1984. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. • 1963. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG . PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). Secara Nasional antara lain: ♣Adanya UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang Propenas♣UU No. VIII. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. bangsa. and the world. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. 25 tahun 2000 ♣UU No. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. • Konferensi ICPD. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. • Konferensi di Nairobi. the community. Indonesia meratifikasi CEDAW. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. pemahman. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. in the family. 9 tahun 2000 tentang♣IInstruksi Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. melalui Keputusan Presiden No. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. • Pertemuan di Vienna. 12 tahun 2000 tentang Pemilu Presiden No. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. IX. melalui UU No. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. • Konferensi di Mexico.

beban kerja masih berat. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. (Zaitunah Subhan. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. kedudukan masih rendah. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. pelaksanaan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. legislatif. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). meskipun masih belum optimal. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . . Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. hal. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakankebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan.Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. 17-18. pada saat ini masih banyak kebijakan. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. Di lain pihak. yudikatif. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan.

advokasi. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. dan kabupaten/kota. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). kabupaten dan kota. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. Kesimpulan . Program Sumber Daya. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. propinsi dan kabupaten/kota. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. • Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. X. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Sarana dan Prasarana. dan Problem Base Analysis (PROBA). dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. propinsi. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama.

2001. . 2002. BPS. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. 2003. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. Buku 1. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. MA. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Statistik Kesejahteraan Rakyat. Hj. BPS. 2003. dalam keluarga. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. Edisi ke-2. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam segala aspek/bidang pembangunan. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Dr. (Pengantar). 2002. Modul Pelatihan. 1996. JICA dan UNFPA. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. 2002.Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. berbangsa dan bernegara. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. Muhammadiyah University Press. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Edisi ke-2. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. Mudah-mudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Abdul Djamil. 2002. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. politik. pekerjaan. masyarakat bangsa dan Negara. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. et all. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. Julia Cleves Mosse. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. 1998. Buku 2. sosial. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. serta lingkungan masyarakat luas. Jakarta. Dra. kondisi perempuan di bidang ekonomi. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Nasaruddin Umar. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. United Nations Developmen Fund for Women. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Gender dan Pembangunan. baik pada kalangan sendiri. H. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 2001. XI. Dr. H. Tingkat Nasional. MA. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Profil Wanita Indonesia. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Surakarta. Bias Gender dalam Pendidikan. BPS. bermasyarakat. Gender Statistics and Indicators 2000. Apa Itu Gender. dan budaya.

planners. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 2002. amaryllis t.Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 2003. 2002. Pemantauan dan Penilaian. 1994. Zaitunah Subhan. Buku 4. a sourcebook for advocates. Ediisi ke-2. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Bahan Informasi Gender. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. UNFPA. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. tores and professor rosario s. Perencanaan erperspektif Gender. Edidisi ke-2. del rosario with the assistance of professor rosalinda pinedaofreneo for Unifem and NCRFW). Kementerian Pemberdayaan Perempuan.com/go/artikel/gender/gender2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. dalam membangun Good Governance.asmakmalaikat. (developed by dr. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. BKKBN. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. and implementors.htm . Buku 3. http://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->