CONTOH MAKALAH RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI BUMN

Posted by Pratama Rus Ramdhani pada Oktober 21, 2010 Sebelum mengambil langkah-langkah untuk Restrukturisasi dan Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam hubungannya dengan Perekonomian Indonesia,sudah sepatutnya kita pertanyakan terlebih dahulu tentang justifikasi keberadaan BUMN.Hal ini penting karena apalah gunanya mengutak-atik sesuatu yang barangkali sudah tidak patut memiliki hak hidup secara ekonomi dan/atau menjadi beban pemerintah kalau tetap mengelolanya. LIMA FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI KEBERADAAN BUMN 1. 2. 3. 4. 5. Pelopor atau perintis karena swasta tidak tertarik untuk menggelutinya Pengelola bidang-bidang usaha yang “strategis” dan pelaksana pelayanan publik Penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar Sumber Pendapatan Negara Hasil dari nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda

DEFINISI RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI BUMN Pengertian Restrukturisasi BUMN adalah upaya peningkatan kesehatan BUMN / perusahaan dan pengembangan kinerja usaha melalui sistem baku yang biasa berlaku dalam dunia korporasi. Tujuan Restrukturisasi BUMN : 1. Mengubah kontrol pemerintah terhadap BUMN yang semula secara langsung (control by process) menjadi kontrol berdasarkan hasil (control by result). Pengontrolan atas BUMN tidak perlu lagi melalui berbagai formalitas aturan, petunjuk, perijinan dan lain-lain, akan tetapi melalui penentuan target-target kualitatif dan kuantitatif yang harus dicapai oleh manajemen BUMN, seperti ROE (Return On Asset), ROI (Return On Investment) tertentu dan lain-lain. 2. Memberdayakan manajemen BUMN (empowerment) melalui peningkatan profesionalisme pada jajaran Direksi dan Dewan Komisaris 3. Melakukan reorganisasi untuk menata kembali kedudukan dan fungsi BUMN dalam rangka menghadapi era globalisasi (AFTA, NAFTA, WTO) melalui proses penyehatan , konsolidasi, penggabungan (merger), pemisahan, likuidasi dan pembentukan holding company secara selektif. 4. Mengkaji berbagai aspek yang terkait dengan kinerja BUMN, antara lain penerapan sistem manajemen korporasi yang seragam (tetap memperhatikan ciri-ciri spesifik masing-masing BUMN), pengkajian ulang atas sistem penggajian (remunerasi), penghargaan dan sanksi (reward & punishment). Pengertian Privatisasi Pada hakekatnya adalah melepas kontrol monopolistik Pemerintah atas BUMN. Akibat kontrol monopolistik Pemerintah atas BUMN menimbulkan distorsi antara lain, pola pengelolaan BUMN menjadi sama seperti birokrasi Pemerintah, terdapat conflict of interest antara fungsi Pemerintah sebagai regulator dan penyelenggara bisnis serta BUMN menjadi lahan

baik sebagian maupun seluruhnya. Fakta membuktikan bahwa praktek KKN tidak ada (jarang ditemukan) pada BUMN yang telah menjadi perusahaan terbuka (go public). Kontroversi privatisasi BUMN juga timbul dari pengertian privatisasi dalam Pasal 1 (12) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang BUMN yang menyebutkan : “Privatisasi adalah penjualan saham Persero. Apabila BUMN dijual setiap tahun untuk menutup defisit APBN. maka kendali dan pelaksanaan kebijakan BUMN akan bergeser dari pemerintah ke investor baru. Kolusi dan Nepotisme dan cenderung tidak transparan. investor baru tentu akan berupaya untuk bekerja secara efisien. maka kepemilikan BUMN tetap di tangan pemerintah. termasuk bebas dari intervensi birokrasi. karena dana yang masuk sebagian untuk menambah kas APBN. BUMN akan memperoleh transfer of technology. Terjadi transformasi corporate culture dari budaya birokratis yang lamban. 7. Dengan adanya privatisasi diharapkan BUMN akan mampu beroperasi secara lebih profesional lagi. mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. 6. BUMN akan memperoleh modal ekuitas baru berupa fresh money sehingga pengembangan usaha menjadi lebih cepat. menjadi budaya korporasi yang lincah. Manajemen BUMN menjadi lebih independen. Mereka berargumentasi bahwa devisit anggaran harus ditutup dengan sumber lain. Manfaat Privatisasi BUMN 1. selain pasar domestik. 8. terutama teknologi proses produksi. 2. sehingga dapat mengurangi praktek KKN.subur tumbuhnya berbagai praktek Korupsi. Mengurangi defisit APBN. Sebagai pemegang saham terbesar. Pada pasal tersebut dijelaskan bahwa privatisasi yaitu pernjualan saham sebagian dan seluruhnya. kata seluruhnya inilah yang mengandung kontroversi bagi masayarakat karena . KONTROVERSI RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI BUMN Pihak yang setuju dengan privatisasi BUMN berargumentasi bahwa privatisasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja BUMN serta menutup devisit APBN. 3. 5. suatu ketika BUMN akan habis terjual dan defisit APBN pada tahun-tahun mendatang tetap akan terjadi. serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”. BUMN akan mengalami peningkatan kinerja operasional / keuangan. bukan dari hasil penjualan BUMN. karena pengelolaan perusahaan lebih efisien. sehingga mampu menciptakan laba yang optimal. Pihak yang tidak setuju dengan privatisasi berargumentasi bahwa apabila privatisasi tidak dilaksanakan. Dengan demikian segala keuntungan maupun kerugian sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Mereka memprediksi bahwa defisit APBN juga akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Logikanya. dengan privatisasi di atas 50%. BUMN akan menjadi lebih transparan. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. serta mampu memberikan kontribusi yang lebih baik kepada pemerintah melalui pembayaran pajak dan pembagian dividen. 4. BUMN akan memperoleh akses pemasaran ke pasar global. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat.

sejauh mana privatisasi bisa diterima oleh masyarakat. Fakta memang menunjukkan bahwa pengelolaan yang dilakukan oleh swasta hasilnya secara umum lebih efisien. seolah-olah privatisasi hanya memenuhi tujuan jangka pendek (menutup defisit anggaran) dan bukan untuk maksimalisasi nilai dalam jangka panjang. pelaksanan program privatisasi tidak hanya ditujukan untuk memancing masuknya investor asing dan tercapainya target penerimaan anggaran negara. Segera menerbitkan UU Privatisasi yang dapat menjamin berlangsungnya proses privatisasi secara demokratis dan transparan. TIGA LANGKAH MENDESAK UNTUK DILAKUKAN PEMERINTAH DALAM MASALAH RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI BUMN 1. Artinya. Segera membubarkan kantor menteri Negara BUMN dan mengubahnya menjadi sebuah badan otonom dengan nama Badan Penyehatan dan Privatisasi BUMN (BPP-BUMN). tetapi cukup sebagai regulator yang menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menikmati hasil melalui penerimaan pajak. tidak hanya bertugas untuk menjual BUMN.apabila dijual saham seuruhnya kepemilkan pemerintah terhadap BUMN tersebut sudah hilang beralih menjadi milik swasta dan beralih. terjadi penurunan harga atau perbaikan pelayanan. privatisasi memang bukan hanya menyangkut masalah ekonomi semata. Jika pemerintah sudah mengambil langkah kebijakan melakukan privatisasi. Badan yang memiliki kedudukan sederajat dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ini. tetapi terutama . privatisasi dinilai berhasil jika dapat melakukan efisiensi. Semua itu tidak hanya diperlukan untuk melindungi kepentingan publik. Secara kongkret pemerintah harus memisahkan fungsi-fungsi lembaga negara dan fungsi bidang usaha yang kadang-kadang memang masih tumpang tindih dan selanjutnya pengelolaannya diserahkan kepada swasta. tapi juga untuk memperjelas peranan negara dalam pengelolaan perekonomian nasional. namanya bukan BUMN lagi tetapi perusahaan swasta sehingga ditakutkan pelayan publik ke masyarakat akan ditinggalkan apabila dikelola oleh pihak swasta dan apabila diprivatisasi hendaknya hanya sebagaian maksimal 49% dan pemerintah harus tetap sebagai pemegang saham mayoritas agar aset BUMN tidak hilang dan beralih ke swasta dan BUMN sebagai pelayan publik tetap diperankan oleh pemerintah Sementara itu. Di dalamnya menyangkut landasan konstitusional privatisasi. karyawan dan elite politik (parlemen) sehingga tidak menimbulkan gejolak. Berdasarkan pengalaman negara lain menunjukkan bahwa negara lebih baik tidak langsung menjalankan operasi suatu industri. pemerintah sendiri terdesak untuk melakukan privatisasi guna menutup defisit anggaran. tetapi langsung diarahkan untuk membangun landasan yang kuat bagi perkembangan perekonomian nasional 2. Oleh karena itu. tetapi harus mencakup pula proses privatisasi BUMD dan harta publik lainnya. melainkan juga menyangkut masalah transformasi sosial. secara teknis keterlibatan negara di bidang industri strategis juga sudah tidak ada lagi dan pemerintah hanya mengawasi melalui aturan main serta etika usaha yang dibuat. Defisit anggaran selain ditutup melalui utang luar negeri juga ditutup melalui hasil privatisasi dan setoran BPPN. Dengan demikian. Selain itu. Dalam UU Privatisasi ini hendaknya tidak hanya diatur mengenai proses privatisasi BUMN. 3. Mengubah orientasi pelaksanaan program privatisasi dari berjangka pendek menjadi berjangka panjang.

didorong untuk mengutamakan peningkatan kinerja BUMN agar benar-benar bermanfaat bagi masa depan perekonomian Indonesia. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful