P. 1
WahyuMemandu Ilmu

WahyuMemandu Ilmu

|Views: 1,241|Likes:
Published by Juragan Erik

More info:

Published by: Juragan Erik on Dec 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

Pandangan

Wahyu Memandu Ilmu

K e ilm u a n U IN

Perpustakaan Nasional RI : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Tim Editor, PANDANGAN KEILMUAN UIN : Wahyu Memandu Ilmu / cet.1 Bandung: Gunung Djati Press, 2006 xvi + 400 hlm : 17 x 24 cm

PANDANGAN KEILMUAN UIN : Wahyu Memandu Ilmu Oleh : Tim Editor Cetakan I, Januari 2006 Hak Cipta pada : UIN Sunan Gunung Djati Bandung Diterbitkan oleh GUNUNG DJATI PRESS Bandung JI. A.H. Nasution No. 105 Bandung Copyright 2006 GUNUNG DJATI PRESS Hak cipta dilindungi undang-undang
All right reserved

Disain sampul & tata letak : Pepen Noor Bintang Isi di luar tanggung jawab percetakan Dago 300, 11. Ir. H. Juanda No. 300 Bandung

Telp. (022) 70177283 ISBN 979-9263-31-10

TIM EDITOR

Pandan gan

Wahyu Memandu Ilmu

K e ilm u a n IIIN

GUNUNG DJATI PRESS 2006

PENGANTAR EDITOR
Puji syukur yang sa:tgat mendalam kami panjatkan kehadirat A l l a h S w t . , b e r k a t r a h m a t d a n h i d a y a h - N y a h i n g g a b u k u PANDANGAN KEIIJV[UAN UIN, Wahyu Memandu Ilmu dapat diterbitkan yang merupakan produk KONSORSIUM BIDANG II-MU UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Salah satu mandat dari Rektor kepada Konsorsium ini ialah melakukan kajian-kajian dalam rangka menyiapkan konsep-konsep untuk memenuhi kebutuhan lembaga pendidikan tinggi negeri Islam, atas dasar perubahan status LAIN menjadi UIN. Kini segenap civitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung semakin menyadari akan perlunya menjadikan lembaga pendidikan tinggi ini sebagai avant garde perubahan kehidupan masyarakat yang lebih bermakna dan beimartabat sesuai dengan dinamika keislaman, kemoderenan, dan keindonesiaan yang diridhai Allah Swt. Kesadaran itu, tampaknva, telah menemukan momennva yang sangat tepat bersamaan dengan peralihan status lembaga pendidikan tinggi negeri Islam ini dari institut menjadi universitas. Perubahan status ini membawa implikasi yang sangat luas terhadap kegiatan akademik di lembaga pendidikan tinggi Islam ini yang berpusat pada visi utamanya sebagai perguruan tinggi yang menjadi pusat (center of excellence) dalam menghasilkan saran yang memiliki al-ak,blak al-karimah, kearifan .spiritual, keluasan ilmu, dan kematangan pro fesional. Menyadari pentingnya mempertahankan dan mengembangkan almamater yang sudah memberi kontribusi besar terhadap pembinaan sumberdava manusia khususnya dalam melahirkan pemikir-pemikir
-

muslim di Republik Indonesia ini, maka peralihan statusnya menjadi universitas menjadi momentum yang sangat penting bagi manajemen dan segenap civitas academica UIN Sunan Gunung Djati untuk mengayunkan langkah lebih cepat (singkil) dan bekerja keras menuju terwujudnva lembaga pendidikan tinggi negeri Islam yang memiliki dava swing tinggi seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Bertitik tolak dari optimisme ini, maka pekerjaan pertama yang

Vl Pandangan Keilmuan UIN

hams diselesaikan oleh Konsorsium Bidang Ilmu UIN sebelum dan setelah resmi menjadi universitas adalah merumuskan Pandangan Keilmuan yang menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan akademik di lembaga pendidikan LIN ini. Landasan ini sangat penting untuk menentukan wilayah kajian yang menjadi pusat perhatian (concern) utama UIN ini sehingga memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya secara jelas dengan lembaga pendidikan tinggi umum lainnya di Indonesia khususnya dan bahkan di dunia Internasional. Universitas Islam Negeri ini disebut khas karena paradigma kelimuan yang dikembangkannya tampak berbeda dengan perguruan tinggi umum. Penyebutan nama Islam pada UIN, bukan sekedar identitas yang membedakannya dari universitas umum, melainkan karena paradigma keilmuan yang dianutnya. UIN ini ingin mengaktualisasikan sifat universalitas ajaran Islam yang tidak mengenal clik6fomi antara ilmu ilmu umum dan ilmu agama. Pemahaman terhadap dikotomi keilmuan itu sekalipun telah digugat oleh para pendukungnya sencliri, ternyata hingga kini masih sulit dihilangkan. Padahal dalam visi Keilmuan Queaniyyah dan Kawniyyah, tidak dikenal adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Atas dasar pcmikiran ini, kehadiran UIN Sunan Gunung Djati diharapkan secara nvata memberi warna universalitas ajaran Islam dan sekaligus menghilangkan pandangan dualisme kelimuan. Buku ini sengaja disusun untuk memberikan gambaran bagaimana proses mencari dan menentukan wilayah kajian yang menjadi concern utama UIN Sunan Gunung Djati setelah menjadi universitas yang tetap rnengemban fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan tinggi agama Islam. Konsorsium UIN Sunan Gunung Djati berusaha menghimpun gagasan-gagasan konstruktif

dari berbagai pemikir yang ahli dalam bidang mereka masing-masing. Sebagian dari gagasan tersebut telah dikaji secara cermat dalam Seminar, Lokakarya (Workshop), Forum Diskusi Terbatas, konsultasi dan pendalaman dari berbagai pcngalaman yang dilakukan UIN Jakarta, Yogyakarta, Malang, Riau dan Makasar. Gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh para pembicara dalam seminar, lokakarya atau diskusi terbatas tersebut, sebagaimana tertuang dalam makalah mereka masing-masing, sengaja dimuat dalam

Pengantar Editor VII

buku ini untuk memberi kesempatan kepada pihakpihak yang ingin mengetahui bagaimana pergumulan pemikiran yang berkembang di kalangan warga civitas academica LAIN/UIN Sunan Gunung Djati, khususnva para dosen lembaga pendidikan ini, menyangkut konstruksi fundamental bangunan keilmuan yang hendak dikembangkan di lembaga ini menyusul perubahannya menjadi sebuah universitas. Sebagian isi buku ini berasal dari makalahmakalah yang telah dipresentasikan dalam seminar, lokakarya maupun rangkuman diskusi terbatas sesuai dengan tema kajian yang diperlukan. Sebagiannya diambil tulisan para ahli dalam bidang masingmasing, baik berupa buku maupun jurnal ilrniah untuk melengkapi berbagai ide yang sempat mengemuka dalam seminar, lokakarya tetapi tidak terakomodasi secara memadai dalam tulisan para pemakalah dalam forum tersebut. Tambahan ini selain dimaksudkan untuk melengkapi bahasan seputar paradigma keilmuan yang menjadi perhatian utama sistem penyelenggaraan kegiatan akademik UIN Sunan Gunung Djati, juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan lebih luas kepada kalangan dosen baik UIN maupun lainnva untuk ikut menyumbangkan gagasan mereka sebagai bentuk tanggung jawab mereka menjadikan UIN sebagai pesat kajian Islam yang mampu melahirkan sarjana muslim seperti yang dicita-citakan itu. Kehadiran buku ini diharapkan dapat memperkava wacana seputar paradigma keilmuan Islam yang selama ini banvak mengundang pertanyaan menyangkut baik substansi ilmu-ilmu keislaman sebagai disiplin ilmu yang mandiri maupun peran ilmu-ilmu keislaman dalam mendorong kemajuan peradaban dan kebudavaan umat manusia berhadapan dengan kemajuan ilmu-ilmu

sekuler (umum) yang semakin pesat. Tentu saja buku ini "tak memadai" untuk mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan besar di atas. Namun demikian, buku ini setidaknya dapat mengisi celah yang kosong dalam pembahasan tentang persoalanpersoalan utama yang perlu diluruskan dalam dunia pendidikan, yakni bahwa ilmu atau sains perlu dikembangkan terus-menerus secara benar dan dimanfaatkan secara benar pula agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia seluruhnya. Untuk mewujudkan hal ini maka ilmu dan agama harus bersinergi secara harmonic. Ikhtiar ke arah sinergi

Viii Pandangan Keilmuan UIN

ilmu dan agama inilah yang menjadi sajian utama buku ini. Buku ini merupakan hasil dari kerja keras berbagai pihak yang hermula dari ide Rektor UIN Sunan Gunung Djati untuk menghimpun pikiranpikiran tentang pandangan keilmuan yang menjadi ciri khas lembaga UIN ini. Keinginan beliau yang sangat besar untuk menerbitkan buku ini dibuktikan dengan kesedian beliau menulis pengantar sekaligus juga rnenyumbang makalah kunci yang kemudian menjadi salah satu bagian dari buku ini. Atas dasar ini maka tim editor inenyampaikan pengharga.an dan ucapan terima kasih yang sebesarbesamya. Dukungan yang tidak ternilai dari berbagai pihak yang menjadikan usaha penerbitan buku ini sebagai salah satu agenda penting daiam rangka perubahan IAIN menjadi UIN sudah scpatutnya mendapat ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya. Semoga buku ini memberi manfaat bagi para pembacanya.

Bandung, Januari 2006 Tim Editor

KATA PENGANTAR Karakteristik trans formasi ke arah pengembangan IAIN menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan mencanangkan Research University,, langkah pertama yang dilakukan adalah usaha pembinaan atmosfir akademik dari teaching university pada research universi). Para dosen dan mahasiswa diharapkan hidup dan belajar dalam lingkungan yang mendukung terwujudnya suasana kehidupan yang luput dari sekat-sekat pikiran non-akademik. Konsorsium Bidang Ilmu UIN telah mengupayakan hasil kajian tentang Epistemologi Keilmuan UIN yang menjadi landasan pengembangan keilmuan, kurikulum, dan proses pembelajaran sehari-hari. Muatan dan cakupan kajian yang termuat dalam buku ini meliputi aspek-aspek sains, ilmu sosial, dan humaniora, di samping pembo-botan aspek kajian bernuansa agama serta muatan nilai-nilai, bahkan dengan pengayaan dari warisan kebudayaan dan peradaban masa lalu Islam mencakup apa yang disebut Islamic Culture and Civilization. Kompilasi makalah-makalah para pakar ini merupakan himpunan dari hasil forum Konsorsium melalui seminar, diskusi panel, lokakarya, maupun dialog terbatas, hasilnya kami anggap sangat berbobot sesuai dengan harapan. UIN Sunan Gunung Djati Bandung masa mendatang harus melengkapi dirinya dengan suatu "Sistem Basis Data Pengetahuan" yang kosmopolit, netral, tanpa sekat-sekat aliran atau mazhab Dengan basis data demikian, UIN diharapkan dapat berfungsi betulbetul sebagai pelayan yang menyediakan suatu yang dibutuhkan dan diharapkan masyarakat. Pendekatan demikian akan memberi akses terhadap perkembangan kemajuan umat dalam proses

penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan agama, sains, teknologi dan seni pada lingkup akademik yang lebih luas. Tentu saja, UIN harus ditopang oleh adanya modus dan manajemen, serta SDM yang semakin handal. Saat ini pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi menjadi suatu keniscayaan. Penyelenggaraan e-learning dengan mempertimbangkan agama dalam pengembangan keilmuannya akan menjadi suatu keniscayaan dan

X Pandangan Keilmuan UIN

diupayakan agar ilmu pengetahuan agama Islam bisa diakses oleh setiap yang membutuhkannya setiap saat dan di mana saja. Konsorsium Bidang Ilmu UIN Sunan Gunung Djati ini sudah menunjukkan karya yang signifikan bagi keperluan pengembangan keilmuan Isla.mi secara integratif holistik, sebagaiinana langkah — pengembangan UIN ke depai, r T fla (a motor penggerak pengembangan akademik UIN Sunan Gunung Djati adalah Konsorsium ini. Upaya ke arah pendekatan integratif-holistik dalam pengembangan keilmuan UIN tersebut sebagai upaya menjembatani dikhotomi ilmu-ilmu umum dengan agama. Apabila hal itu tercapai, pada akhirnya UIN Sunan Gunung Djati Bandung kiranya bisa mengantarkan alumninya menjadi sarjana yang merniliki keagungan akhlak, kearifan spiritual, keluasan ilmu, dan kematangan profesional._ Para pakar telah menyampaikan pokok-pokok pikirannya dengan terbuka, bebas, dan responsif amat memuaskan, hingga forum konsorsium bisa mengambil pokok-pokok pikiran bernas itu guna membangun basis epistemologi keilmuan UIN, sebagai upaya integrasi ilmu dan agama, antara paradigma ayat-ayat Qur'aniyyah dan Kauniyyah. Civitas Akademika Universitus Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung selayaknya bersyukur bahwa perubahan IAIN menjadi UIN yang ditetapkan berdasarkan SK Presiden No 57 Tahun 2005, tertanggal 10 Oktober 2005, bisa berjalan dengan baik dan lancar. Proses perubahan JAIN menjadi UIN yang berjalan mulus ini, berkat kerja sama semua pihak, khususnya antar civitas akademika yang saling mendukung. Melihat apa yang dilakukan seluruh civitas akademika dalam mengupayakan perubahan ke UIN tersebut, nampak jelas bahwa yang dicita-citakan bukanlah sekedar

mengubah nama, yang lebih penting dari itu, mengubah paradigma keilmuan yang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Gedung-gedung baru yang lebih representatif memang hams dibangun, peralatan dan media pendidikan yang barn harus diadakan, tetapi itu semua bersifat suplementer, yang lebih substantif lagi adalah membangun paradigma barn keilmuan UIN. Isi kandungan buku ini telah memetakan kembali paradigma keilmuan baru yang integratif dan holistik, kemudian dielaborasi dalam

Kota Pengantar

filosofi Roda selaras dengan pendekatan integratif dan holistik itu, bagaimana filosofi Roda itu bisa menjadi landasan pengembangan kurikulum dan silabinya, proses pembelajaran dan penilaian, serta menjadi pedoman adrninHTrasi akademiknya. Tindak lanjutnya, isi buku ini selayaknya dijadikan acuan bagi para dosen dan civitas akademika seluruh fakultas, jurusan, dan program studi, hingga UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki kesamaan visi dalam mengembangkan misi keilmuan, sekaligus menjadi potensi kekuatan yang dimiliki UIN dalam membangun peradaban Baru menuju masyarakat madani yang damai dan dinamis. Kendati dalam menggarap karya seperti ini telah menyita waktu, tenaga, pikiran, biaya dengan proses yang panjang, namun tentu saja dalam bagian-bagian tertentu tak luput dari ketidaksempurnaan, masib banyak yang hares diperbaiki, dirumuskan, dan dikembangkan. Karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan demi penvempurnaan esensi dan substansinva. Kita semua berharap agar cita-cita UIN mewujudkan center for excellence dalam bidang pengembangan keilmuan dan keislaman yang integratif-holistik dapat segera terwujud. Buku ini sebagai master perlu kita rujuk bersama dengan kesediaan para dosen dan rnahasiswa, juga khalavak pembaca untuk secara kritis menvemputnakan berhagai kekurangannya. Semoga ridha Allah Swt. menyertai amal usaha kita. Amin.
Bandung, Januari 2006

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG Rektor,

Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS. NIP. 150 189 152

DAFTAR ISI
Pengantar Editor — v Kata Pengantar — ix Daftar Isi xiii BAGIAN I : KERANGKA DASAR KEILMUAN • Merumuskan Landasan Epistemologi Pengintegrasian Ilmu Qur'aniyyah dan Kawniyyah Nanat Fatah Natsir — 1 • Filsafat Pengetahuan Islami Ahmad Tafsir — 17 • Universitas Islam Negeri Mengintegrasikan Ilmu (Sains Tauhidullah) Juhaya S. Praja — 91 • Kelanjutan dari Integrasi Ulumuddunya dan Ulurnuddin Herman Soewardi — 113 • Pengetahuan Wahyu dan Integrasinya dengan Sains Pada UIN A. Hidayat — 123 • Hubungan Organik Ilmu dan Iman dalam Islam Nurcholish Madjid — 147 • Epistemologi Akal Arab Ahmad Hasan Ridwan — 167 • Merajut Kembali Ikatan Esensial Ilmu-ilmu Keislaman Melalui UIN A. Darun Setiady 203 BAGIAN II : VISI, MISI DAN TUJUAN • Filosofi Berdirinva Universitas Islam Negeri (UIN) Fisher Zulkarnain — 219

XiV Pandangan Keilmuan UIN

• Apresiasi Terhadap Visi Integrasi Keilmuan UIN Rochmat Mulyana — 223 • Visi, Misi dan Strategi Pengembangan UIN Iskandar Engku —, 227 BAB III : LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM • Integrasi Ilmu Agama dalam Sistem Kurikulum UIN Rachmat Syafe'i — 241 • Kerangka Keilmuan UIN SGD Bandung A. Djazuli — 249 • Posisi dan Kontribusi Ilmu dalam Kehidupan Manusia Cik Hasan Bisri — 253 • Epistemologi Tafsir Emansipatoris Dalam Kerangka Keilmuan UIN Chozin Nasuha — 281 • Prinsip Epistemologi Qur'ani (Upaya Reintegrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum) Ali Masrur Abdul Ghaffar — 307 • Paradigma Keilmuan UIN : Re-Integrasi Koherensi Ilmu dengan Aktualitas Kehidupan Ahmad Zayadi — 311 • Pendapat Para Ahli Sekitar Integrasi Ilmu-ilmu Agama dan Ilmu Umum M. Subandi — 317 • Model Ilmu Kependidikan UIN E. Koswara 325
• Epistemologi Hadits : Al- Takhrij Sebagai Metode Studi Hadits H. Endang Soetari Ad. — 333

• Integrasi Ilmu Umum Dengan Ilmu Agama Etin Anwar — 347

Daftar lsi XV

• Argumen Filosofis dan Paradigma Keilmuan Bahasa Arab M. Salim Umar — 361 • Integrasi Sosiologi Wardi Bachtiar — 367 • Sosiologi Untuk UIN Mudor Effendi — 379 • Pohon Ilmu Dakwah Islam : Reformulasi Disiplin dan Subdisiplin Bidang Ilmu Dakwah Syukriadi Sambas — 383

24

Pandangan Keilmuan UIN

MERUMUSKAN LANDASAN EPISTEMOLOGI PENGINTEGRASIAN ILMU QUR'ANIYYAH DAN KAWNIYYAH
Nanat Fatah Natsirt A. Pendahuluan

Pada zaman klasik, Islam telah melahirkan peradaban Islam yang in* sehingga pada saat itu peradaban Islam menguasai peradaban dunia yang disebabkan terintegrasi dan holistiknya pemahaman ulama terhadap ayat-ayat qur'aniyyah dan ayat-ayat kawniyyah. Oleh karena itu, tidak ada dikhotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, kalaupun ada dikhotomi sebatas pengklasifikasian ilmu saja, bukan berarti pemisahan. Ia tidak men • in • kari .• - • validitas dan status ilmiah masin•masin • . - • •1 - _ CB • •rseb t Seperti yang pernah dilakukan oleh Al Ghazali (W. 1111) dan Ibn Khaldun (W. 1406). Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' al-Ulum Ad-Din menyebut kedua jenis ilmu tersebut sebagai ilmu gar'iyyah dan ghair ,ryar'iyyah (AlGhazali 17). Ilmu Diar'iyyah sebagai fardu bagi setiap muslim untuk menuntutnya dan ilmu glair gar'ilyah sebagai ilmu fardu kilayah. Sementara Ibn Khaldun menyebut keduanya sebagai al-nagliyah dan al-ulum al-aq4ah (Ibn Khaldun : 1981:342-343). Al-Ghazali dan Ibn Khaldun menggunakan konsep ilmu yang integral dan holistik dalam fondasi tauhid yang menurut Ismail al-Faruqi

4

sebagai esensi peradaban Islam yang menjadi pemersatu segala keragaman apapun yang pernah diterima Islam dari luar. (al-Faruqi, 1986: 73). Dikhotomi yang mereka lakukan hanyalah sekedar penjenisan bukan pemisahan apalagi penolakan validitas yang satu terhadap yang lain sebagai bidang
' NANAT FATAH NATSIR, Drs., MS., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

26

Pandangan Keilmuan UIN

disiplin ilmu. Akibatnya pada zaman klasik Islam tidak terdapat dualisme sistem pendidikan. Pada saat itu, tidak ada madrasah atau universitas hanya memberikan pelajaran dalam ilmu umum dan tidak ada madrasah atau universitas yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agarna. Madrasah dan universitas kurikulumnya terintegrasi dan holistik mencakup ilmu-ilmu agama dan umum. Ketika Et-nu-Emu sekuler posivistik diperkenalkan ke dunia Islam lewat imperialisme Barat, terjadilah dikhotomi yang sangat ketat antara ihnu-ilmu agama sebagai yang dipertahankan dan dikembangkan ria lam lembaga-lembaga pendidikan Islam pesantren di satu pihak dan ilmu-ilmu umum sekuler sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah umum yang diprakarsai pemerintah di pihak lain. Dikhotomi ini menjadi sangat tajam, karena telah terjadineagingliatarlaadapi ter valaitas dan status ihniah yang satu atas van lain. Di sekolahsekolah umum, kita masih mengena pemisahan yang ketat antara ilmu-ilmu urnum, seperti fisika, matematika, biologi, sosiologi dengan ilmu-ilmu agama, seperti tafsir, hadits, filth dan lain-lain, seakan-akan muatan religius itu hanya ada pada mata pelajaran-mata pelajaran agama sementara ilmu-ilmu umum semuanya dan netral dilihat dan sudut agama. Oleh karena itu perlu dilakukan upayaupaya untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu urnum dalam suatu sistem pendidikan yang terpadu maka transformasi IAIN menjadi UIN pada dasarnya dalam upaya memadukan atau mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sistem pendidikan.
B. Transformasi IAIN Sunan Gunung Djati

menjadi UIN

Jauh menengok ke belakang, pencanangan dan rancangan IAIN menjadi UIN diawali ketika IAIN Sunan Gunung Djati mengajukan usulan pembukaan prodiprodi urnum kepada Departemen Pendidikan Nasional, sebagai persyaratan yang hares dipenuhi sesuai dengan PP. 60/1999, IAIN Sunan Gunung Djati sebenarnya telah rnemenuhi persyaratan akademik dan administratif sebagai Universitas. Oleh karenanya, berbagai penyempurnaan proposal dan proses
4

penelitian berkas usulan pembukaan program studi umum oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Pendidikan Nasional hingga selesai dan berakhir dengan ditandatanganinya Keputusan Bersama Mendiknas dan Menag.

Nanat Fatah Natsir

3

Tentunya berbagai rekomendasi dari instansi terkait dalam berbagai forum seperti Ortala (Organisasi dan Tata Laksana) yang melibatkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), Departemen Agama, Departemen Keuangan, Bappenas, dan lain-lain di Jakarta untuk membahas lebih lanjut usuLan dari IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, dari waktu ke waktu terus diupayakan agar IAIN segera diresmikan menjadi UIN dengan penuh liku-liku perjuangan dan perdebatan, hingga berakhir dengan ditetapkannya IAIN Sunan Gunung Djati menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, berda-sarkan Peraturan Presiden RI. Nomor 57 Tahun 2005 tertanggal 20 Oktober 2005. Sejak IAIN merumuskan untuk mengembangkan dirinya menjadi UIN, banyak pertanyaan yang sangat kritis, mengapa IAIN hams berubah. Berbagai jawaban, komentar dan kritik prokontra telah mewarnai perjalanan IAIN ketika diajukan untuk diubah jadi UIN. Berbagai jawaban yang bernada penuh kekhawatiran dan pesimisme hingga yang optimisme yang membuka peluang dan harapan baru pun muncul. Media massa pun tak ketinggalan untuk terus memberi support tentang apa dan bagaimana sebenamya yang terjadi di lingkungan PTAI di negeri ini. Kalau direnungkan secara mendasar bahwa setiap terjadi proses perubahan", kekhawatiran dan kecemasan, antara pesimisme dan optimisme tidak bisa ditutup-tutupi. Sebelum Senat Institut menyetujui konversi IAIN ke UIN, kekhawatiran dan kecemasan tampak dalam diskusi Sidang Senat dan lebih-lebih di luar forum sidang Senat. Cerita panjang yang tidak kalah menarikdlikuti adalah bagaimana pengajuan proposal untuk
"

menweroleh perubahan status yang melewati berbagai pihak seperti Departemen Agama, Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Kehakiman dan HAM, dan Setneg sendiri. Perbaikan proposal terdahulu hingga penyempurnaan akhir dilakukan terus menerus. Proses panjang tersebut menjadi bagian yang tak tergambarkan di sini, namun menjadi dinamika tersendiri bagi seluruh civitas akademika untuk melakukan upaya penguatan peran UIN sejak ditetapkannya ke depan. Dalam konteks perubahan status menjadi UIN, Islam masih tetap menjadi tugas utama. Main mandatenya tidak boleh dan tidak perlu

digeser oleh Vidermandate-rya. Hanya saja kualitas dan koleksi perpustakaan, buku literatur yang digunakan, jaringan kelembagaan, pengembangan metodologi pengajaran dan penelitian serta mentalitas keilmuan para dosen dan mahasiswanya perlu memperoleh titik fokus penekanan yang lebih daripada sebelurnnya sesuai dengan kultur akademik yang ada pada universitas. Inilah tantangan bagi kita untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh dan memerlukan dukungan berbagai pihak guna mencapainya. IAIN memiliki lima fakultas (Fakultas Adab, Dakwah, Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin), sejak sernula berdiri (1968-2005) memang telah dengan sengaja dibina, dipelihara, dibesarkan, dikembangkan secara terus-menerus. Sampai sekarang, masing-masing fakultas telah mempunyai sejumlah tenaga pengajar yang cukup kuat, dan dosendosen tetap bergelar magister dan doktor yang cukup memadai. Usaha untuk mengembangkan tenaga pengajar yang sudah ada tetap berlangsung hingga sekarang, baik ke luar negeri maupun di dalam negeri. Untuk itu, kekhawatiran akan termarginalisasikannya lima fakultas yang ada sekarang tidak cukup beralasan. Bahkan dalam rangka konversi ke UIN, kelima fakultas yang ada terus diperkuat dengan standar metodologi dan epistemologi bare yang selevel dengan pendidikan, pengajaran, dan penelitian di universitas pada umumnya dengan berbagai penyesuaian di sana-sini (akan diuraikan lebih lanjut) sehingga mempunyai days tawar keluar yang lebih bagus dan kompetitif. Dal= rancang bangun, fakultas yang berada di bawah UIN nantinya akan mengalami perubahan sesuai dengan prinsip dasar "Miskin struktur, kaya

fungsi" seperti yang diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional saat memverifikasi prodi-prodi umum yang diusulkan untuk dibuka di UIN Sunan Gunung Djati dan deputi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) saat melakukan rapat inter departemental untuk rnembahas draft rancangan Keputusan Presiden. Dalam diskusi forum think tank IAIN yang melibatkan seluruh pimpinan fakultas dan insdtut dan para pakar di IAIN sampai pada kesimpulan bahwa untuk memperkuat fakultas agama yang ada di UIN adalah dengan cam memadukan fakultas agama yang ada dengan kelompok ilmu atau program studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora pada fakultas-fakultas yang ada sekarang ini.

32

Pardangan Kelimuan U!N

Nana!' Fatah Natsir

5

C. Pandangan Keilmuan UIN: Wahyu Memandu Ilmu Firman Allah Swt dalam AI-Qur'an : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantitya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi senga berkata : Ya Tuba,: kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasad Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka (QS. All Inman : 190-191).
Dan Aku tidak menciptakan fin dan Manusia melainkan supaya menyembah-Ku (QS. Adz Zariyat : 56). Dalam upaya integrasi ilmu agama dan ilmu umum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di bawah ini

digambarkan dengan metafora RODA:

Bagaimana ilustrasi filosofi RODA ini yang sekaligus menandai adanya titik-titik persentuhan, antara ilmu dan agama. Artinya, pada titik-titik persentuhan itu, kita dapat membangun juga kemungkinan melakukan integrasi keduanya. Bagaimana pula dengan pandangan mengenai ilmu. Dalam teori ilmu (theory of knowledge), suatu pembagian yang amat populer untuk memaharni ilmu adalah pembagian menjadi

34

Pandangan Keilmuan UIN

bidang bahasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Maka lokus pandangan keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang utuh itu dibingkai dalam metafora sebuah roda. Roda adalah simbol dinamika dunia ilmu yang yang memiliki daya berputar pada porosnya dan berjalan melewati relung permukaan bumf. Roda adalah bagian yang esensial dari sebuah makna kekuatan yang berfungsi penopang beban dari suatu kendaraan yang bergerak dinamis. Fungsi roda dalam sebuah kendaraan ini diibaratkan fungsi UIN Bandung pada masa mendatang yang mampu menjadi sarana dalam int eg ra si a nta ra i lm u dan agama dal am konsta las i perkembangan budaya, tradisi, teknologi dan pembangunan bangsa sebagai tanggungjawab yang diembannya. Kekuatan roda keilmuan UIN Bandung ini dapat memacu kreativitas untuk melihat kitab suci sebagai sumber ilham keilmuan yang relevan dengan bidang kehidupan secara dinamis. Karenanya, agar ilmu dan agama mampu selalu mentransendesi dirinya dalam upaya memajukan keluhuran budaya, kelestarian tradisi, penguasaan teknologi dan pembangunan bangsa seining dengan perubahan global dalam kerangka memenuhi kepentingan kognitif dan praktis dan keduanya. Metafora roda sebagai komponen vital sebuah kendaraan melambangkan kesatuan utuh dad unsurunsur yang paralel saling menguatkan dan menserasikan. Secara fisik sebuah roda adalah bagian as (tarns), velg (dengan jari-jarinya) dan ban lux. (ban karet). Tiga bagian ini bekerja simultan dalam kesatuan yang harmonis, yakni tata kerja roda. Fungsi roda sebagai penopang beban memiliki cara kerja yang unik yang paralel sating menguatkan dan menserasikan. Ketika roda itu berputar, maka komponen-komponen yang melekat padanya ikut

bekerja sesuai dengan fungsinya. Jika dihampiri ilustrasi itu antara ilmu dan agama dengan berbagai cara pendekatan dan pandangan, tampak tidak saling menafikan, melainkan bisa sating mengoreksi dan memperkaya. Metafora filosofi pengembangan sistem kerja dan semangat akademik UIN Sunan Gunung Djati Bandung di masa depan mengacu pada rincian "Filosofi Roda" ini sebagai berikut. Pertama, as atau pours roda melambangkan titik sentral kekuatan akal budi manusia yang bersumber dari nilai-nilai ilahiyah, yaitu Allah

Nanat Fatah Natsir

36

sebagai sumber dari segala sumber. Titik sentral ini mencerminkan pusat pancaran nilai-nilai keutamaan yang berasal dari pemilik-Nya (Allah Swt), sekaligus titik tujuan seluruh ikhtiar manusia. Dengan kata lain tauhidullah sebagai pondasi pengembangan seluruh ilmu. Sebab itu, ibarat gaya sentrzfugal (gaya dari dalam menuju luar) yang terdapat dalam putaran roda, pancaran semangat inilah yang di isi nilai-nilai ilahiyah menjadi sumbu kekuatan utama dalam proses integrasi keilmuan UIN. Dari titik inilah paradigma keilmuan UIN berasal, meskipun dalam perkembangannya dalam dunia ilmu ternyata tak sepenuhnya ditentukan oleh argumentasiargumentasi logis, tetapi banyak pula dipengaruhi unsur sosiologis dan psikologis dengan menampakkan keragaman bentuk yang berbeda dan problematik. Poros roda melambangkan titik inti pencapaian tujuan akhir. Ibarat gaya sentripetal (gaya dari luar menuju dalam) pada sebuah roda yang berputar, mencerminkan identitas keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dinamik pada derajat kedalaman tertentu merupakan hasil pengujian dengan kebenaran hakildnya yang lebih komprehensif dan menyentuh inti kehidupan yang bersumberkan pada nilai-nilai ilahiyah. Kurikulum yang dikembangkan ke arah penemuan (invention) dan pewarisan (discovery) khazanah keislaman merupakan hakikat ilmu pengetahuan dalam upaya integrasi keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Karena itu, pros roda melambangkan titik awal sekaligus titik akhir dan upaya integrasi keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Proses integrasi_ keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengsdepankan corak nalar rasional dalam menggali khazanah ilmu pengetahuan Islam yang bersumlun _--wihyu untuk menciptakan hasil kreasi ilmu Islami yang kontemporer, dan corak berfikir kritis dan selektif terhadap ilmu pengetahuan konterrlporer

37 yang berkembang untuk menemukan benang emas ilmu pe ng eta huan da n te knolog i dengan ni la inil ai ya ng Ism aemikian ayat-ayat qur'aniyyah dan ayat-ayat kawniyyaK sebagai sumber ilmu yang terintegrasi dan holistik yang kedua-duanya bersumber dari Allah Swt. sebagai sumber segala sumber kebenaran • as ran yang sejati. Dua cora . . sebuah roda
Nanat Fatah Natsir
-

50.,J0 1 "---1 Cc

38 Pandangan Keilmuan ERN

Kedua, velg roda yang terdiri dari sejumlah jarijari, lingkaran bagian dalam dan lingkaran luar melambangkan rumpun ilmu dengan beragam jenis disiplin yang berkembang saat ini. Setiap ilmu memiliki karakteristiknya masing-masing yang memudahkan kita untuk membedakan satu dengan yang lainnya. Tetapi dalam perbedaan itu terdapat fungsi yang sama, yakni ilmu sebagai alat untuk memahami hakikat hidup. Selain itu, semua ilmu memiliki fungsi serupa dalam wilayah empirik dan alat untuk memahami realitas kehidupan. Oleh karena itu, walaupun bermacam-macam disiplin ilmu tidak menunjukan keterpisahan, tetapi hanya pengklasifikasian ilmu saja sebab hakekatnya sumber ilmu semua dari Allah Swt. Metafora velg roda dengan berbagai komponennya persis seperti ciri dan fungsi ilmu tadi. Jari-jari roda ibarat sejumlah disiplin ilmu yang menopang hakekat hidup yang berada pada lingkaran bagian dalam kehidupan kita. Begitu juga, kajian dalam beragam disiplin ilmu dapat menyentuh kehidupan nyata yang berada pada lingkaran luar kehidupan manusia dan alam semesta. Karenanya, ilmu —baik yang berkembang dari ayat-ayat Kawniyyah maupun Qurraniyyah— berada dalam satu kepemilikan, yakni mink Allah Swt, bersumber dari kehendak-Nya dan dimanfaatkan manusia sebagai fasilitas hidupnya. Metafora velg ini mencerminkan sikap optimisme bahwa integrasi keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sang-at relevan dengan hakikat keterkaitan dan keterikatan ilmu. Ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lainnya bekerja sama secara simultan dan holistik guna meno-pang tantangan perkembangan zaman. Disparitas perbedaan dalam satuan wilayah keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang beraneka warna (colorful) disbanding

Nanat Fatah Natsir

39

perguruan tinggi lain yang hanya mengungkap ayatayat kawniyyah tidak lagi menjadi bagian dikhotomis dalam implementasi proses pendidikannya. Selain itu, harapan dan optimisme yang tersirat dalam metapora velg sebuah roda tercermin dari dinamika velg yang berputar. Putaran ini melambangkan bahwa setiap ilmu yang dikembangkan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung selalu memperluas cakrawala cakupannya. Ilmu-ilmu itu tidak berhenti pada prestasinya yang telah dicapai saat ini, tetapi secara terus menerus melakukan pembaharuan pada dirinya sesuai dengan perkembangan zaman. Dinamika inilah

40 Pandangan Keilmuan ERN

merupakan titik singgung atau arsiran antar ilmu yang dapat cliternukan secara jelas. Ibarat pergeseran posisi sebuah jari-jari roda yang menyentuh area tempat putaran jari-jari lainnya, ilmu yang satu akan saling mengisi dengan ilmu lainnya atau korelasi. Ketiga, ban luar yang terbuat dad karet melambangkan realitas kehidupan yang tidak terpisahkan dad semangat nilai-nilai ilahiyah dan gairah kajian ilmu. Pada sisi luar ban ini dilambangkan tiga istilah, yaitu iman, ilmu dan amal shaleh sebagai cita-cita luhur yang menjadi target akhir dad profil lulusan UIN. Kekuatan iman berfungsi sebagai jangkar yang dipancang kokoh dalam setiap pribadi lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kekuatan iman ditanamkan melalui suatu upaya pcndidikan yang komplementer, mencakup berbagai ikhtiar untuk membangun situasi kampus yang ilmiah dan religius. Kekuatan ilmu merupakan basis yang dimiliki UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang mencerminkan dinamika kampus sebagai zona pergumulan para ilmuwan dan cendekiawan yang dapat tumbuh subur dengan menaruh harapan besar pada pengembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan generasi 'aliman. Indikator kesuburan ilmu pada lulusan tidak hanya diukur oleh ciri-ciri kecerdasan nalar, tetapi juga oleh komitmen dalam menggunakan ilmu sebagai pembirnbing tingkah laku yang memilild al akhlak al karimah.
-

Sedangkan amal shaleh sebagai wujud perilaku yang terbimbing oleh iman dan ilmu. Seperti haInya iman dan ilmu, amal shaleh merupakan buah dari proses pendidikan yang dibangun di atas konsep integrasi keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan kekuatan energi yang terpancar dad nilai-nilai Ilahi. Amal shaleh pars lulusan benarbenar mencitrakan ketauladanan dan dampak yang

Nanat Fatah Natsir

41

luas bagi masyarakat yang membutuhkannya. Ibarat sisi luar ban yang menempel pada permu-kaan bumf, amal shaleh ini akan benar-benar teruji dalam realitas kehidupan nyata. Dasar pembidangan ilmu yang dikembangkan oleh UIN Sunan Gunung Djati Bandung nantinya berorientasi pada usaha memadukan : pertama, hubungan organis semua disiplin ilmu pada suatu landasan keislaman; kedua, hubungan yang integral diantara semua disiplin ilmu; ketiga, saling keterkaitan secara holistik semua disiplin ilmu untuk mencapai tujuan umum pendidikan nasional; keempat, keutamaan ilmu

42 Pandangan Keilmuan ERN

pengetahuan yang disampaikan berdasarkan ayat-ayat queaniyyah dan kawniyyah menjadi landasan pandangan hidup yang menyatu dalam sate tarikan nafas keilmuan dan keislaman; kelima, kesatuan pengetahuan yang diproses dan cara pencapaiannya dikembangkan secara ilmiah akademis; keenam, pengintegrasian wawasan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan dalam spesialisasi dan disiplin ilmu rnenjadi dasar bagi seluruh pengembangan disiplin akademis. Semua itu diabadikan untuk kesejahteraan manusia secara bersama-sama yang merupakan tiga komponen utama dari peneguhan iman, ilmu, dan amal shaleh. Dengan ungkapan lain implementasi proses belajar rnengajar pada UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat menghasilkan kualifikasi sarjana yang memiliki keagungan alAkhlak al-Karimah, kearifan spiritual, keluasan ilmu, dan kernatangan Profesional. Bila metafora roda dalam keilmuan UIN dilihat dari sate aspek mata kuliah, maka dapat digambarkan segitiga berikut:
,

Qur'an Hadits

Filsafat Kemasyarakatan

Kealaman, Humaniora dan

Setelah kita melihat kedua gambar di atas, sebagaimana juga UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta, baik RADA maupun MATA KULIAH, kita melihat

kemungkinan titik temu antara keduanya. Nantinya lewat temuan-temuan terbarunya, ilmu dapat merangsang agama untuk senantiasa tanggap memikirkan ulang keyaldnankeyaldnannya secara baru dan dengan begitu menghindarkan agama itu sendiri dari bahaya stagnasi dan pengaratan. Di sarnping temuan-

Nene Fatah Nalsir

11

temuan Iptek pun dapat memberi peluang barn bagi agama untuk makin mewujudkan konsep-konsepnya secara nyata, di sini letaknya peran wahyu memandu ilmu. Pada dasarnya, ilmu pengetahuan manusia secara umum hanya dapat dikategorikan menjadi tiga wilayah pokok: Natural Sciences, Social Sciences, dan Humanities. Oleh karenanya, untuk pembenan sebuah universitas, Departemen Pendidikan Nasional mensyaratkan dipenuhinya 6 program studi umum dan 4 program studi sosial. Persyaratan ini bagus, tetapi para ilmuwan sekarang mengeluh tentang output yang dihasilkan oleh model pendidikan universitas yang berpola demikian. Sama halnya keluhan orang terhadap alumni perguruan tinggi agama yang hanya mengetahui soal-soal normatif doktrinal agama, tetapi kesulitan rnernaharni empirisasi agama sendiri, lebih-lebih empirisasi agarna orang lain maka UIN sebagai jawabannya yang tepat.
,

D. Integrasi Epistemologi Ilmu Qur'aniyyah dan Kawniyyah
Integrasi ilmu Queaniatyy_ ilmu Kawniyyah dalam •I SS suatu gleirtsgapendidik k a n s a a k e d u . • . • • u s • d a n i l m u u m u m s e k . u l e r , s!yerti yang sedang berjalan selama ini, baik di PTIS rnaupun di TAIN. Karena itu ilmu agama dan ilmu umum berjalan sendiri-sendiri seperrti tidak ada hubungannya Untuk mencapai tingkat integrasi epistemologis ilmu agama dan ilmu umum menurut Kartanegara (2005) integrasi harus dilakukan pada level : integrasi ontologis, integrasi klasifikasi ilmu dan integrasi metodologis.

1. Integrasi Ontologis
Kepercayaan pada status ontologis, atau

keberadaan objek-objek ilmu pengetahuan akan menjadi basis ontologis dari epistemologis yang akan dibangunnya. Misalnya ketidakpercayaan ilmuwan barat (Laplace, Darwin, Freud, Durkheim dan Mark) terhadap keberadaan metafisik, rnenyebabkan mereka membatasi subject matter ilmu (sains) hanya pada bidang pisik-empiris atau dunia positif (Roslton : 248). Deng-an basis ontologis seperti itu, mereka pun menciptakan Idasifikasi ih-nu dan rnetode keilmuan yang cocok dengan pandangan ontologis mereka (Kartanegara, 210:2005). Sebaliknya, banyak diantara

46

Pandangan Keilmuen U/N

ilmuwan dan filosof muslim, yang percaya bahwa yang ada, yang rill, bukanlah hanya benda-benda fisik, melainkan juga entitas-entitas metafisik (immateriil). Ini mempunyai status ontologis yang sama kuatnya seperti halnya entitas-entitas fisik. Al Farabi (W. 150) misalnya, percaya bahwa yang ada (maujuudat) ini membentang dan yang metafisik sampai fisik (Bakar : 931). Dalam istilah Ibn. Sabin disebut marotib al wujud (1978 : 112-119). Al Farabi dalam buku al madinah alfadhllah menunjukan hirarki atau tertib wujud ini sebagai berikut : (a) Tuhan yang merupakan sebab keberadaaan segenap wujud lainnya; (b) para rnalaikat yang merupakan wujud yang sama sekali immaterial; (c) benda-benda langit atau benda-benda angkasa; (d) benda-benda bumi. (Bakar 1997: 18). Rangkaian wujud (maujuudat) yang dipercaya adanya oleh al Farabi, dan diikuti juga oleh filosoffilosof muslim lainnya seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Suktowardi (W. 1191) dan lain-lain. Mulla Shadra (W. 1641) menyata.kan bahwa semua wujud dari wujud Tuhan sampai pada wujud-wujud material pada hakekatnya satu, dan hanya berbeda dalam gradasinya karena perbedaan esensinya, tetapi bukan perbedaan eksistensial (1996:647). Karena wujud yang beraneka itu pada hakekatnya satu dan terpadu (integrated), merekapun hares dikaji secara terpadu sebagai sebuah kesatuan. 2. Integrasi Klasifikasi Ilmu Integrasi klasifikasi ilmu berkaitan juga dengan integrasi ontologisnya. Ibn Sina dan at Farabi sepakat untuk membagi yang ada (malyudat) ke dalam tiga katagori (a) wujud yang secara niscaya tidak terampur dengan gerak dan mated; (b) wujud yang dapat bercampur dengan materi dan gerak, tetapi

dapat juga memiliki wujud yang terpisah dari keduanya; (c) wujud yang secara niscaya bercampur dengan gerak materi. Dad ketiga pembagian jenis wujud di atas sebagai basis ontologis muncullah tiga kelompok besar ilmu : (a) ilmu r n e t a f i s i k a ; ( b ) matematika; dan (c) alam. Al Farabi membangun tiga kelompok ilmu tersebut secara terperinci, tetapi tetap terpadu. Demikian jaga Ibn Khaldun membagi ilmu ke dalam dua bagian besar (a) ilmu agama (nagli) dan (b) ilmu-ilmu rasional (agli). Ilmu nagli terdiri dari (1) tafsir al-Qur'an dan hadits; (2) ilmu fiqh yang

Nanat Fatah Natsir

48

meliputi fiqh, fara'id, dan ushul al fiqh; (3) ilmu kalam; (4) tafsir ayat-- ayat mutasyabihat; (5) tasawuf; (6) tabir mimpi (ta'bir al-ru"yah). Ilmuilmu aq1i (rasional) terbagi kepada empat bagian : logika, fisika, matematika, dan metafisika. (Ibn Khaldun, 1981:343-390). Sedangkan kelompok ilmu praktis menurut Ibn Khaldun adalah etika, ekonomi, dan politik dan termasuk ilmu budaya (ulum al-umron) yaitu ilmu sosiologi. (Issawi dan Leaman, 1998 : 222). 3. Integrasi Metodologis Integrasi ilmu agama dan ilmu umum (sekuler) dalam level metodologis yang tentunya dalam aplikasinya berhubungan dengan integrasi ontologis dan klasifikasi ilmu. Metode ilmiah yang dikehendaki ilmuwan barat, berbeda secara signifikan dengan metode ilmiah yang dikembangkan para ilmuwan muslim. Ilmuwan barat hanya menggunakan metode ilmiahnya dengan observasi yang bisa dijangkau oleh indera manusia. Sedangkan para ilmuwan muslim menggunakan tiga metode, yaitu (1) metode observasi atau eksperimen (tajriibi) seperti halnya yang digunakan di barat; (2) metodologi demonstratif atau logis (burhaani); dan (3) metode intuitif (iaani) yang masing-masing bersumber pada indera akal dan hati. Untuk objekobjek yang bersifat fisik ilmuwan muslim menggunakan metode observasi (W.866) metode observasi digunakan dilaboratorium kimia dan fisikanya, misalnya Ibn Haitsam (W. 1038) melakukan eksperimen dalam bidang optik mengenai cahaya dan menghasilkan teori yang brilian tentang penglihatan (vision) yang terkenal dalam karya besarnya Al-Manaazhir. Kitabnya ditulis dalam tujuh jilid merupakan karya monumental yang pengaruhnya dapat dilihat dari karya-karya astronom barat seperti Roger Bacon, Vitello, Kepler.

Nanat Fatah Natsir 49 Demikian juga Ibn Sina telah melakukan penelitian ratusan jenis tumbuhan dan berbagai macam hewan dilihat dari manfaat medis yang ditulis dalam kitab AI-Qhanun fi al-thib yang sekarang masih jadi pegangan para ilmuwan barat di bidang kedokteran sebagai Grand Theory. Demikian juga Ibn Khaldun yang meneliti tentang jatuh bangunnya suatu bangsa yang ditulis dalam kitab

Mukaddirnah.

Ibn Hazm (W. 1165) dan Ibn Taimiyyah (W. 1332) telah dikenal perintis metode ilmiah modern, terutama metode induksi sebagai

14

Pandangan ;Cadman ON

pelengkap metode deduksi yang digunakan filosof Yunani yang cenderung berhenti pada pemikiran spekulatif. Metode demonstratif atau logis (burhan), yaitu metode rasional atau logis yang digunakan untuk menguji kebenaran dan kekeliruan dari seluruh pernyataan atau teori-teori ilmiah dan filosofis dengan cara trtemperhatikan keabsahan dan akurasi pengambilan sebuah kesimpulan ilmiah dengan memperhatikan validitas premis mayor dan minornya yang keduanya mernpunyai unsur yang sama yang disebut midie term (al-badd al-ausath). Metode ini dalam logika disebut silogisme (al qiyas). Kemudian metode intuitif (ivfani). Kalau metode observasi berkaitan dengan pengamatan inderawi metode demonstratif dengan akal, maka metode intuitif dengan intuisi atau had (qolb). Ciri khas metode intuitif ini adalah langsung. Metode intuitif ini dapat dianalisis melalui : (1) pengetahuan intuitif bisa dicapai melalui pengalaman yaitu dengan mengalami atau merasakan sendiri objeknya. Oleh karena itu metode ini disebut dauqi (rasa) bukan melalui penalaran. Contoh tentang perasaan cinta. Cinta tidak dapat dipahami lewat akal, tetapi lewat hati (intuisi) contoh cintanya seorang sufi kepada Tuhan kasus Rabi'ah al-Adawiyah. (2) ihnu hudhuri. Pengetahuan intuitif ditandai oleh hadirnya subjek di dalam diri si subjek oleh karena itu disebut presensial. Berbeda dengan metode rasional yang memahami objek-objek melalui simbol-simbol, rumusrumus. Pengenalan intuitif melalui segala bentuk simbol dan menembus sampai ke jantung objeknya. (3) pengalaman eksistensial berbeda dengan kecenderungan akal dan metode rasionalnya yang mengenal melalui katagorisasi dan generalisasi yang mengabaikan partikularisasi objeknya. Metode intuisi mengenal objeknya secara intim kasus per kasus

Nanat Fatah Natsir 51 contoh menurut akal tiga jam dimana saja kapan saja akan sama kualitasnya karena itu akal akan mengabaikan kenyataan bahwa perjalanan Bandung-Jakarta selama tiga jam memakai kendaraan bagi yang sedang berpacaran, tidak akan sama artinya dengan orang yang sendirian.

Suhrawardi menyebutkan tiga macam kemampuan manusia. Ada yang seperti para sufi memiliki dzauqi yang sangat dalam tetapi tidak mampu mengungkapkannya dalam bahasa filosofis. Ada juga yang seperti para filosof, mempunyai kemampuan mengekpresikan pikiran-

pikiran mereka secara filosofis, tetapi tidak memiliki pengalaman mistik yang mendalam Dan terakhir para muta'allih yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam seperti para sufi, dan rnempunyai kemampuan bahasa filosofis yang optimal seperti yang dimiliki para filosof. Menurut Suhrawardi kelompok ketiga inilah yang dinilai sebagai kelompok tertinggi dari para pencari kebenaran (Hossenziai, 1990:37). Dengan demikian pengembangan keilmuan UIN ke depan diharapkan rnelahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim tipe kedga tersebut. jadi berdasarkan uraian di atas terdapat, tiga cara atau tiga metode dalam epistetnologi Islam untuk menangkap atau mengetahui objek-objek ilmu yaitu melalui indera, akal dan had yang semuanya dilandasi oleh nilai-nilai Tauhidullah.N

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman Ibn Khaldun, The Muqaddimah : An Introduction to History, terjemah Franz Rosenthal, Princceton, N.J. Princiton University Press Bollingen series, 1981. Al- Farabi, Ara AN AI-Madinah Al-Fadhilah. Al-Ghazali, lhya' ulum Ad-Din, jilid I Semarang : Taha Putra Al-Farucli, Ismail R, The Culture Atlas of Islam. New York, Publishing Company; Collier Macmillan, Publisher, 1986. Abdullah, Amin dkk, Kerangka Dasar Keil:man & Pengembangan Kurikulum, UIN Yogyakarta, 2004.

Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama dan Umum Upaya Mempertemukan Epistemologi Islam dan Umum, UIN Suka Press, 2003. Bakar, Otsman, Hirarki Ilmu : Membangun Rangka Pikir Islamisasi ilmu, Bandung,

Mizan, 1997,

Ihn Sina, Al-Qanun Fi Al-Thib, ed, Jibran, Beirut Muassat AI-Maarif, 1986.
Issawi, Charles & Leaman, Oliver, Ibn Khaldun, Abd Al-Rahman dalam Craig (ed) Routladge Encyclopedia of Philosophy, London: New York Daudladge, 1998. Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu Sebuah Rekonstruksi Holistik, UIN Jakarta Press, 2005.

Pengantar Epistemologi Islam, Mizan, Bandung, 2003. Roslton, Holmes, Science an Religion A Critical Survey, Philadelphia : Temple University Press, 1987. Soewardi, Herman. ilmu Tauhidullah, 1995. S. Pradja, Juhaya. Mengintegrasikan &nu pains Tauhidullah), Orasi llmiah Disampaikan Dalam Rangka Dies Natalis ke-37 IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2005.

FILSAFAT PENGETAHUAN ISLAM!
Ahm a d Tafsir*

A. P endahuluan Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata "ilmu". Dalam bahasa Arab kata al ilm berarti pengetahuan (knowledge), sedangkan kata "ilmu" dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari dalam bahasa Arab. Karena itu kata science seharusnya diterjemahkan sains saja. Maksudnya ialah agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung membedakan kata ilmu (sains) dengan kata al-ibn yang berarti knowledge. Dalam mata kuliah Filsafat Pengetahuan (Philosophy of Knowledge) yang didiskusikan tidak hanya pengetahuan sains (science), didiskusikan juga pengetahuan selain sains, disikusikan juga seluruh yang disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang "aneh-aneh" seperti pellet, kebal, santet, saefi, dan lain-lain. Apa sih pengetahuan itu? Pengetahuan ialah semua yang diketahui. Menurut al-Quran, tatkala manusia dalam perut ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Tatkala ia baru lahir pun barangkali ia belum juga tahu apa-apa. Kalaupun bayi yang baru lahir itu menangis, barangkali karena kaget saja, mungkin matanya merasakan silau, atau badannya merasa dingin. Dalam rahim tidak silau dan tidak dingin, lantas ia menangis.

Tatkala bayi itu menjadi orang dewasa, katakanlah ketika ia telah berumur 40 tahunan, pengetahuannya sudah banyak sekali. Begitu banyaknya, sampaisampai ia tidak tahu lagi berapa banyak pengetahuannya dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya, bahkan kadangkadang ia juga tidak tahu apa sebenarnya pengetahuan itu.
AHMAD TAFSIR, Drs., MA., Dr., Prof., DosenlGuru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

18

Pandangan keilmuen UIN

Semakin bertambah umur manusia itu semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari segi motif, pengetahuan itu diperoleh melalui dua motif. Pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan tanpa usaha. Tanpa ingin tahu lantas ia tahu-tahu, tahu. Seorang sedang berjalan, tiba-tiba tertabrak becak. Tanpa rasa ingin tahu ia tahu-tahu tahu bahwa ditabrak becak, sakit. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu. Pengetahuan diperoleh karena diusahakan, biasanya karena belajar. Dari mana rasa ingin tahu itu? Barangkali rasa ingin tahu yang ada pada manusia itu sudah built-in dalam penciptaan manusia. Jadi, rasa ingin tahu itu adalah takdir. Manusia ingin tabu, lantas ia mencari. Hasilnya ialah ia tabu sesuatu. Sesuatu itulah pengetahuan. Yang diperoleh tanpa usaha tadi bagaimana? Ya, pengetahuan juga. Pokoknya, pengetahuan ialah semua yang diketahui, titik. Salah satu tujuan perkuliahan Filsafat Pengetahuan ialah agar kita memahami kapling pengetahuan. Ini penting, karena, dengan mengetahui kapling pengetahuan, kita akan dapat memperlakukan masing-masing pengetahuan itu sesuai kaplingnya.

Yang akan dibahas berikut ini hanyalah pengetahuan yang diusahakan. Pengetahuan jenis ini sangat penting. Jadi, sejak baris ini pengetahuan tanpa usaha itu kita sisihkan dari pembahasan. Seseorang ingin tahu, jika jeruk ditanam, buahnya apa. Ia menanam bibit jeruk. Ia tunggu beberapa tahun, dan temyata buahnya jeruk. Tahnlah ia bahwa jeruk berbuah jeruk. Pengetahuan jenis inilah yang disebut pengetahuan sains (scientific knowledge). Sebenarnya pengetahuan sains tidaklah sesederhana itu. Pengetahuan sains hams berdasarkan logika (dalam anti rasional). Pengetahuan sains ialah pengetahuan yang rasional dan didukung bukti empiris. Namun, gejala yang paling menonjol dalam pengetahuan sains ialah adanya bukti empiris itu. Dalam bentuknya yang sudah baku, pengetahuan sains itu mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya disebut paradigma sains (scientific paradigm) dan metodenya disebut metode ilmiah (metode sains, scientific method). Formula utarna dalam pengetahuan sains ialah buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan bukti

Ahmad Tafsir

20

empirisnya. Formula itu perlu sekali diperhatikan karena adakalanya kita menyaksikan bukti empirisnya ada, tetapi tidak rasional. Yang seperti ini bukanlah pengetahuan sains atau ilmu. Bila ada gerhana pukullah kentongan, gerhana itu akan hilang. Pernyataan itu memang dapat dibuktikan secara empiris. Coba saja, bila ada gerhana, pukul saja kentongan, lama-kelamaan gerhana akan hilang. Terbukti kan? Bukti empirisnya ? Tetapi itu bukan pengetahuan ilmiah (pengetahuan sains, pengetahuan ilmu) sebab tidak ada bukti rasional yang dapat menghubungkan berhenti atau hilangnya gerhana dengan kentongan yang dipukul. Pengetahuan seperti itu bukan pengetahuan sains, mungkin dapat kita sebut pengetahuan khayal. Tob jika kentongan tidak dipukul gerhana itu akan menghilang juga. Tidak ada pengaruh kentongan yang dipukul (X) terhadap menghilangnya gerhana (Y). Dari sudut ini dapat pula kita ketahui bahwa obyek penelitian pengetahuan sains hanyalah obyek yang empiris sebab ia harus menghasilkan bukti empiris. Kita kembali ke contoh jeruk. Jeruk ditanam buahnya jeruk. Pengetahuan jenis ini sudah berguna

21 bagi petani jeruk, bagi pedagang jeruk dan bagi seluruh manusia. Pengetahuan jenis ini sudah berguna dalam memajukan kebudayaan. Pengetahuan ini benar asal rasional dan empiris. Inilah prinsip dalam mengukur benax tidaknya teori dalam sains. Dalam hal ini harap hati-hati jangan sampai tertipu oleh bukti empiris saja, seperti contoh gerhana dan kentongan tadi. Hams rasional-empiris. Gerhana tadi tidak rasional tetapi empiris. Jadi, pengetahuan sains ini, sekalipun tingkatnya rendah dalam struktur pengetahuan, ia berguna bagi manusia. Gunanya terutama untuk memudahkan kehidupan manusia. Teori-teori sains inilah yang diturunkan ke dalam teknologi. Teknologi, agaknya bukanlah sains, teknologi merupakan penerapan teori sains. Atau mungkin juga dapat dikatakan bahwa teknologi itu adalah sains terapan.
Ahmad Tafsir

Selanjutnya. Sebagian orang, tidak begitu banyak, ingin tahu lebih jauh tentang jeruk tadi. Mereka bertanya, "Mengapa jeruk selalu berbuah jeruk?" Untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak dapat melakukan penelitian empiris karena jawabannya tidak terletak pada

22

Pandangan keilmuen UIN

bibit, batang atau daun jeruk. Lantas bagaimana menjawab pertanyaan Kita berpikir. Inilah jalan yang dapat ditempuh. Tidak hams berpikir di kebun jeruk; berpikir itu dapat dilakukan di mana saja. Yang dipikirkan memang jeruk, yaitu mengapa jeruk selalu berbuah jeruk, tetapi yang dipikirkan itu bukanlah jeruk yang empiris; yang dipikirkan itu adalah jeruk yang abstrak, yaitu jeruk pada umumnya. Bila Anda berpikir secara serius, maka akan muncul jawaban. Ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, jeruk selalu berbuah jeruk karena kebetulan. Jadi, secara kebetulan saja jeruk selalu berbuah jeruk. Inilah teori kebetulan yang terkenal itu. Teori ini lemah. Ia dapat ditumbangkan oleh teori kebetulan itu sendiri_ Kedua, jeruk selalu berbuah jeruk karena ada aturan atau hukum yang mengatur agar jeruk selalu berbuah jeruk. Para ahli mengatakan hukum itu ada dalam gen jeruk. Hukum itu tidak kelihatan. Jadi, tidak empiris, tetapi akal mengatakan hukum itu ada dan bekerja. Jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur demildan. Inilah pengetahuan filsafat; ini bukan pengetahuan sains. Kebenaran pengetahuan filsafat hanya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Bila rasional, benar, bila tidak, salah. Kebenarannya tidak pernah dapat dibuktikan secara empiris. Bila ia rasional dan empiris, maka ia berubah menjadi pengetahuan sains. Obyek penelitiannya adalah obyek-obyek yang abstrak, karena obyeknya abstrak, maka temuannya juga abstrak. Paradigmanya ialah paradigma rasional (rational paradigm), metodenya metode rasional (Kerlinger menyebutnya method of reason). Sampai di sini kita sudah mengenal dua macam pengetahuan, yaitu pertama pengetahuan sains yang

23 rasional empiris, dan keduapengetahuanfilsafat yang hanya rasional. (Perlu segera saya ingatkan bahwa ada kalanya pengetahuan filsafat itu berada pada level supra rasional). Kita kembali ke jeruk kita. Jeruk ditanam buahnya jeruk. Ini pengetahuan sains. Jeruk selalu berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur demikian Ini pengetahuan filsafat. Masih ada orang, amat kecil jumlahnya, ingin tahu lebih jauh lagi. Mereka bertanya "Siapa yang membuat hukum itu?" Pertanyaan ini sulit dijawab. Tetapi masih dapat dijawab oleh filsafat. Salah saw teori dalam filsafat mengatakan bahwa hukum itu dibuat oleh alam itu
Ahmad Tafsir

Ahmad Tafsir

24

sendiri secara kebetulan. Teori ini lemah, tadi sudah dikatakan. Teori lain mengatakan hukum itu dibuat oleh Yang Maha Pintar. Ini logis (dalam arti suprarasional). Jadi, teori kedua ini benar secara filsafat. Ini masih pengetahuan filsafat. Yang Maha Pintar itu seringkali disebut Tuhan. Ini masih pengetahuan filsafat. Masih ada orang, yang jumlahnya segelintir saja, ingin tahu lebih jauh lagi. Mereka bertanya "Siapa Tuhan itu, saya ingin mengenal-Nya, saya ingin melihat-Nya, saya ingin belajar langsung kepadaNya"; tuntutan orang-orang "nekad" ini tidak dapat dilayani oleh pengetahuan sains dan tidak juga oleh pengetahuan filsafat. Obyek yang hendak mereka ketahui bukanlah obyek empiris dan tidak juga dapat dijangkau akal rasional. Obyek itu abstraksupra-rasional atau meta-rasional. Kalau begitu bagaimana mengetahuinya? Obyek abstrak-supra-rasional itu dapat diketahui dengan menggunakan rasa, bukan panca indera dan atau akal rasional. Bergson menyebut alat itu intuisi, Kant menyebutnya moral atau akal praktis, filosof muslim seperti Ibnu Sina menyebutnya akal mustafad, shufi-shei muslim menyebutnya galb, &Fug, kadang-kadang dhamir,

Ahmad Tafsir 25 kadang-kadang sirr. Pengetahuan jenis ini memang aneh. Paradigma-

"

nya saya sebut paradigma mistik (mystical paradigm), metodenya saya sebut metode latihan (tiadhah) dan metode yakin (percaya). Pengetahuan jenis ini saya sebut pengetahuan mistik (mistical knowlegde). Kebenarannya pada umumnya tidak dapat dibuktikan secara empiris, selalu tidak terjangkau pembuktian rasional. Sekarang kita memiliki tiga macam pengetahuan, masing-masing memiliki obyek, paradigma, metode dan kriteria. Matrik berikut meringkas uraian di atas. Pengetahuan Manusia
Pengetahuan sains filsafat mistik Obyek
empiris abstrak-rasional abstrak-suprarasional

Paradigma
paradigms sains paradigma rasional paradigma mistik

Metode
metode ilmiah Metode rasional

Kriteria
rasional-empiris Rasional

latihan, percaya rasa.iman,logis, kadang empiris

22

f2andangart Keifmuari VIN

Yang belum diurus di dalam uraian tentang pengetahuan di atas ialah pengetahuan seni (yaitu tentang indah tidak indah) dan etika (tentang balk dan tidak baik). Saya belurn tahu, di rnana kaplingnya dan bagairnana rnengkaplingkannya. Agaknya obyek pengetahuan seni adalah obyek empiris, abstrak-rasional, dan abstrak-supra-rasional; paradigmanya mungkin kumpulan tiga paradigma di atas, rnetodenya juga demikian, dan kriterianya ialah indah tidak indah. Mengenai pengetahuan tentang baik tidak-baik (etika), dugaan saya sampai scat ini, pengetahuan tentang baik tidak-baik itu sama dengan seni tali; ia menggunakan tiga paradigma di atas, metodenya juga demikian, dan ukurannya ialah balk dan tidak balk. Nah, balk dan tidak balk itu pun memiliki persoalan yang tidak sederhana; baik menurut apa? Buruk menurut siapa? Pada zaman (waktu) kapan? Saya menghatap ada ahli lain yang bersedia dan man serta mampu menyempurnakan matrik di atas. Logis dan Rasional Saya mengajarkan filsafat (sebagai dosen) sejak tahun 1970. Sampai dengan sekitar tahun 2000 saya menganggap "yang logis" adalah sama saja dengan "yang rasional." Selama lebih kurang 30 tahun itu, pokoknya, saya tnenyarnakan saja pengertian logis dan rasional. Atau lebih tepat saya katakan saya tidak tabu perbedaannya. Sejak tahun 2001 saya melihat ada perbedaan antara kedua itu. Adanya perbedaan itu dirnulai ketika saya membaca untuk kesekian kalinya buku Kant. Kant antara lain mengatakan bahwa rasional itu sebenarnya sesuatu yang masuk akal sebatas hukum alam. Sebenarnya, tatkala saya rnula-mula membaca Kant kira-kira tahun 1963, dan cukup intensif pada

tahun 1975, kata-kata Kant itu sudah saya temukan. Memang kebingungan telah muncul dalam pikiran saya tatkala memabaca itu tetapi kebingungan itu saya biarkan saja. Tatkala saya menulis uraian ini, yaitu sejak permulaan tahun 2001, saya mulai "mendalami" dua istilah itu. Yang saya temukan ialah seperd uraian berikut ini. Ternyata istilah logis dan rasional merupakan dua istilah yang sangat populer dalam arti dua istilah itu amat sering digunakan orang, baik is kaum terpelajar maupun kaum yang bukan tergolong terpelajar,

Ahmed

resir 23

digunakan orang kota dan jugs orang desa, bahkan anak-anak pun banyak yang sering rnenggunakan kedua istilah itu. Ada orang bercerita kepada seseorang yang lain bahwa ia barn saja mengantarkan temannya yang sakit aneh ke seorang dukun. Dukun mengobadnya dengan cars yang tidak umum dikenal. Lantas orang sakit itu sembuh. Orang yang diceritai itu langsung mengatakan bahwa itu musyrik karena pengobatan itu tidak rasional. Ada anakanak soling bercerita tentang hantu, bahwa ia melihat hantu yang rupanya benini-begini, tingkahnya begini-begini. Kata yang seorang "ah, sudahlah, itu tidak rasional" kadang-kadang ia berkata "ah, sudahlah, itu tidak logis." Apa sih, rasionalnya babi hara_rn? Apa cukup logis untuk menyimpulkan bahwa surga dan neraka itu ada? Lantas ada lagi. `93ila logis oke, bila tidak, nand. dulu." Demikian contoh kalimat yang sering kita dengar clan banyak orang. Apa yang kita dapat? Yang kita dapat ialah (1) memang dua istilah itu popular dalam anti sexing digunakan oleh hampir semua orang dari semua kelas dan golongan, (2) Pengguna istilah itu tidalunempedulikan apakah dua istilah sama persis atau ada persamaan atau sama sekali berbeda. Seperti yang sudah saya katakan tadi, cuek saja terhadap hal itu, saya cende_rung menyamakannya, dalam keadaan tidak tabu bahwa dua istilah itu sebenarnya berbeda, dan itu berlangsung selama lebih kurang 30 tahun, sebagai dosen filsafat. Setahu saya buku-buku pun demikian. Saya berkepentingan memperjelas dan menerangkan perbedaan, itu disebabkan ada implikasi penting dan perbedaan itu sebagaimana kelak akan Anda lihat.

Kant mengatakan bahwa apa yang kita katakan rasional itu ialah sum pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan ukuran hukum alam. Dengan kata lain, menurut Kant rasional itu ialah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam. Teori Kant ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Tatkala Anda mengatakan nabi Ibrahim dibakar tidak hangus, itu adalah hal yang tidak rasional karena menurut hukum alam sesuatu yang dibakar pasti hangus, kecuali bahan itu memang mated yang tidak hangus dibakar, sedangkan Ibrahim itu adalah materi yang hangus dibakar. Tatkala

24

Pandangan Keilmuan 1.1IN

diceritakan bahwa nabi Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, lantas tongkat itu menjadi ular, segera saja Anda mengatakan bahwa itu tidak rasional karena menurut hukum alarn adalah tidak mungkin tongkat dapat berubah menjadi ular Tetapi, pesawat terbang yang beratnya ratusan ton, kok dapat terbang? Ya, karena pesawat itu telah dirancang sesuai dengan hukum alam. Itu rasional. Orang tidak mungkin kebal karena hal itu berlawanan dengan hukum alam. Demikianlah sebagian pernyataan sebagai contoh. Kesimpulannya jelas: (1) Sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau sesuai dengan hukum alam; (2) Yang rasional ialah yang tidak sesuai dengan hukum alam; (3) Kebenaran akal diukur dengan hukum alam. Jadi, di sini, akal itu sempit saja, hanya sebatas hukum alam. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa pemikiran yang rasional sebenarnya belum dapat disebut pemikiran ringkat sangat tinggi. Pemikiran rasional belum mampu mengungkap sesuatu yang tidak dapat diukur dengan hukum alam. Dulu, saya menyangka yang rasional itu amat tinggi kedudukannya, ia dapat mengatasi hukum alam. Ternyata tidaklah demikian. Kebenaran rasional itu tidaklah hebat benar, ia sebatas hukum alam. Kebenaran rasional tidak lebih dari kebenaran sejauh yang ditunjukkan hukum alam. Bagaimana tentang logis? Kebenaran logis terbagi dua, pertama logis-rasional, seperti yang telah diuraikan di atas tadi, kedua logissuprarasional. Logis-supra-rasional ialah pemikiran akal yang kebenarannya hanya mengandalkan argumen, ia tidak diukur dengan hukum alam. Bila argumennya masuk akal maka ia benar, sekalipun melawan hukum alam. Dengan kata lain, ukuran kebenaran logissupra-rasional ialah logika yang ada di dalam susunan argumennya. Kebenaran logis-supra-

rasional itu benar-benar bersifat abstrak. Kebenaran logis-supra-rasional itu ialah kebenaran yang masuk akal sekalipun melawan hukum alam. Nabi Ibrahim dibakar tidak hangus. Ini tidak rasional. Ya, karena ia tidak sesuai dengan hukum alam. Tongkat Musa dilempar jadi ular Ini tidak benar karena tidak rasional, ia melanggar hukum alam. Nabi Ibrahim dibakar tidak hangus. Itu tidak rasional. Tetapi apakah nabi Ibrahim dibakar tidak hangus itu juga tidak logis dalam arti supra-

Ahmad resit'

25

rasional? Tuhan rnetnbuat api. Api itu terdiri atas dua substansi, yaitu apinya dan panasnya. Apinya dibuat oleh Tuhan, panasnya juga dibuat oleh Tuhan. Gika bukan Tuhan yang membuatnya, kita harus memberikan uraian yang kuat untuk menjelaskannya). Sekarang, untuk menyelamatkan utusannya, untuk sesuatu yang sangat penting, Tuhan mengubah sifat api dari panas menjadi dingin. Bolehkah Tuhan berbuat demildan? Ya, boleh saja, Nang yang membuatnya Dia. Masuk akal. Inilah yang logissupra-rasional itu. .Jadi, adalah logis saja api tidak menghanguskan Ibrahim. Jadi, kasus Ibrahim ini adalah kasus yang tidak rasional tetapi logis dalam arti logis-supra rasional. Kesimpulannya ialah: Yang logis ialah yang masuk akal. Terdiri atas yang logis-rasional dan yang Iogissupra-rasional. Kita dapat mernhuat bebarapa ungkapan sebagai berikut: (1) Yang logis ialah yang masuk akal; (2) Yang logis itu mencakup yang rasional dan yang supra-rasional. (3) Yang rasional ialah yang masuk akal dan sesuai dengan hukum alam. (4) Yang supra-rasional ialah yang masuk akal sekalipun tidak sesuai dengan hukum alam. (5) Istilah logis boleh dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional. Beberapa kesirnpulan sebagai itnplikasi konsep logis di atas ialah: (1) Isi al-Qur'an ada yang rasional dan ada yang supra-rasional. (2) Isi al-Qur'an itu semuanya logis; sebagian logis-rasional sebagiannya logis-supra-rasional.

(3) Rumus metode iltniah yang selama ini logicvhypothetico-venficatift dapat diteruskan dengan penjelasan logiko itu harus diartikan rasio. (4) Mazhab Rasionalisme tidak dapat diterima oleh sistem ini; yang dapat diterima ialah mazhab Logisme. B. Pengetahuan Sains Pada bagian ini dibicarakan ontologi, epistemologi, dan aksiologi sains. Uraian mengenai ontologi sains mernbahas hakikat dan struktur sains. Uraian tentang struktur sains tidak terlalu bogus. Hal itu

26

Pandangan Keilmuan

disebabkan oleh begitu banyak mac= sains, karena banyaknya maia banyak yang tidak diketahui. Epistemologi sains difokuskan pada cara kerja metode ih-niah. Sedangkan pembahasan aksiologi sains diutarnakan pada cam sains menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia.

1. Ontologi Sains Di sini dibicarakan hakikat dan struktur gains. Hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya. Struktur sains seharusnya menjelaskan cabang-cabang sains, serta isi setiap cabang itu. Namun di sini hanya dijelaskan cabang-cabang sains dan itu pun tidak lengkap. a. Flakikat Pengetahuan Sains Pada bagian terdahulu telah dijelaskan secara ringkas bahwa pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional empiris. Masalah rasional dan empiris inilah yang dibahas berikut ini. Pertama, masalah rasional. Saya berjalan-jalan di beberapa kampung. Banyak hal yang rnenarik perhatian saya di kampung-kampung itu, satu di antaranya ialah orang-orang di kampung yang satu sehat-sehat, sedang di kampung yang lain banyak yang sakit. Secara pukul rata penduduk kampung yang satu lebih sehat dari pada penduduk kampung yang lain tadi. Ada apa ya? Demikian pertanyaan dalam hati saya.
Kebetulan saya rnengetahui bahwa penduduk kampung yang satu itu memelihara ayam dan mereka memakan telurnya, sedangkan penduduk kampung yang lain tadi juga memelihara ayam tetapi tidak memakan telurnya, mereka rnenjual telurnya. Berdasarkan kenyataan itu saya menduga, kampung yang satu itu penduduknya sehat-sehat karena banyak memakan telur, sedangkan penduduk

kampung yang Iain itu banyak yang saldt karena tidak makan telur. Berdasarkan ini saya menarik hipotesis semakin banyak makan telur akan semakin sehat, atau telur berpengaruh positif terhadap kesehatan. Hipotesis hams berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional. Dalam hal hipotesis yang saya ajukan itu rasionalnya ialah: untuk sehat diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu, logis bila semakin banyak makan telur akan semakin sehat.

Ahmad Tafsir

27

Hipotesis saya itu belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan. Tetapi hipotesis itu telah mencukupi dari segi kerasionalannya. Dengan kata lain hipotesis saya itu rasional. Kata "rasional" di sini menunjukkan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat. K e d ua , m a s a l a h e m p i ri s . H i p o t e s i s s a y a i t u s a y a uj i (kebenarannya) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk menguji hipotesis itu saya gunakan metode eksperimen dengan cara mengambil satu atau dua kampung yang disuruh makan telur secara teratur selama setahun sebagai kelompok eksperimen, dan mengambil satu atau dua kampung yang lain yang tidak boleh makan telur, juga selama setahun itu, sebagai kelompok kontrol. Pada akhir tahun, kesehatan kedua kelompok itu saya periksa. Hasilnya, kampung yang makan telur rata- rata lebih sehat.
,

Sekarang, hipotesis saya semakin banyak makan telur akan semakin sehat atau telur berpengaruh positif terhadap kesehatan terbukti. Setelah terbukti —sebaiknya berkali-kali— maka hipotesis saya tadi berubah menjadi teori. Teori saya bahwa "Semakin banyak makan telur akan semakin sehat" atau "Telur berpengaruh terhadap

kesehatan," adalah teori yang rasional-empiris. Teori seperti inilah yang disebut teori ilmiah(scientific theory). Beginilah teori dal= sains. Cara kerja saya dalam memperoleh teori itu tadi adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus bake metode ilrniah ialah: logico-lypotheticoverificatif (buktikan bahwa itu logis, tank hipotesis, ajukan bukti empiris). Harap dicatat bahwa istilah logico dalam rumus itu adalah logis dalam arti rasional. Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini oleh Fred N. Kerlinger (Foundation of Behavior Research, 1973: 378) dirumuskan dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu disebabkan oleh ini). Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sains berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat. Sains tidak memberikan nilai balk atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak

28

Ahmad Tafsir Pandangan Kerman UIN

29

indah; sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Kenyataan inilah yang menyebabkan ada orang menyangka bahwa sains itu netral. Dalam konteks seperti itu memang ya, tetapi dalam konteks lain belum tentu ya. b. Struktur Sains Dalam garis besarnya sains dibagi dua, yaitu sains kealaman dan sains sosial. Contoh bcrikut ini hendak menjelaskan struktur sains dalam bentuk nama-nama ilmu. Nama ilmu banyak sekali, berikut ditulis beberapa saja di antaranya: 1) Sains Kealaman Astronomi; Fisika: Mekanika, Bunyi, Cahaya dan Optik, Fisika Nuklir; − Kimia: Kimia Organik, Kimia Teknik; Ilmu Bumi: Paleontologi, Ekologi, Geofisika, Geokimia, Mineralogi, Geografi; − Ilmu Hayat: Biofisika, Botani, Zoologi; 2) Sains Sosial − Sosiologi: Sosiologi Komunikasi, Sosiologi Politik, Sosiologi Pendidikan − Antropologi: Antropologi Budaya, Antropologi Ekonomi, Antropologi Politik; − Psikologi: Psikologi Pendidikan, Psikologi Anak, Psikologi Abnormal; Ekonomi: Ekonomi Maim, Ekonomi Lingkungan, Ekonomi Pedesaan; − Politik: Politik Dalam Negeri, Politik Hukum, Politik Internasional Agar sekaligus tampak lengkap, berikut ditambahkan Humaniora. 3) Humaniora Seni: Seth Abstrak, Seni Grafika, Seth Pahat, Seth Tari; − Hukum: Hukum Pidana, Hukum Tata Usaha Negara,

Hukum Adat (mungkin dapat dimasukkan ke Sains Sosial); − Filsafat: Logika, Ethika, Estetika;

Bahasa, Sastra; Agama: Islam, Kristen, Confusius;

Ahmad Tafsir

29

Sejarah: Sejarah Indonesia, Sejarah Dunia (mungkin dapat dimasukkan ke Sains Sosial); Demikian sebagian kecil dari nama ilmu (sains). Ditambahkan juga pengetahuan Humaniora (yang mungkin dapat digolongkan dalam sains sosial) dalam daftar di atas hanyalah dengan tujuan agar tampak lengkap. (Bahan diambil dari Ensiklopedi Indonesia). 2. Epistemologi Sains Pada bagian ini diuraikan obyek pengetahuan sains, cara memperoleh pengetahuan sains dan cara mengukur benar-tidaknya pengetahuan sains. a. Obyek Pengetahuan Sains Obyek pengetahuan sains (yaitu obyek-obyek yang diteliti sains) ialah semua obyek yang empiris. jujun S. Suriasumantri (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, 1994: 105) menyatakan bahwa obyek kajian sains hanyalah obyek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Obyek kajian sains haruslah obyek-obyek yang empiris sebab bukti-bukti yang hams ia temukan adalah bukti-bukti yang empiris. Bukti empiris ini diperlukan untuk menguji bukti rasional yang telah dirumuskan dalam hipotesis. Apakah obyek yang boleh diteliti oleh sains itu bebas? Artinya, apakah sains boleh meneliti apa saja anal empiris? Menurut sains ia boleh meneliti apa saja, ia bebas; menurut filsafat akan tergantung pada filsafat yang mana; menurut agama belurn tentu bebas.

-

Obyek-obyek yang dapat diteliti oleh sains banyak sekali: alam, tetumbuhan, hewan, dan manusia, serta kejadian-kejadian di sekitar alam, tetumbuhan, hewan dan manusia itu; semuanya dapat diteliti oleh sains. Dari penelitian itulah muncul teori-teori sains. Teori-teori itu berkelompok atau dikelompokkan dalam masing-masing cabang sains. Teori-teori yang telah berkelompok itulah yang saya sebut struktur sains, baik cabang-cabang sains maupun isi masingmasing cabang sains tersebut.

Ahmad Tafsir

31

30 Penciangan Keiimuan U1111 b. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains Pengalaman manusia sudah berkembang sejak lama. Yang dapat dicatat dengan bail( ialah sejak tahun 600-an SM. Yang rnula-mula timbul agaknya ialah pengetahuan filsafat dan hampir bersamaan dengan itu berkembang pula pengetahuan sains dan pengetahuan mistik. Perkembangan sains didorong oleh paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alarm Humanisme telah muncul pada zaman Yunani Lama (Yunani Kuno). Sejak zaman dahulu, manusia telah menginginkan adanya aturan untuk mengatur manusia. Tujuannya ialah agar manusia itu hidup teratur. Hidup teratur itu sudah menjadi kebutuhan manusia sejak dahulu. Untuk menjamin tegaknya kehidupan yang teratur itu diperlukan aturan. Manusia juga perlu aturan untuk mengatur alam. Pengalaman manusia menunjukkan bila alam tidak diatur maka alam itu akan menyulitkan kehidupan manusia. Sementara itu manusia tidak mau dipersulit oleh alam. Bahkan sebaiknya dapat— manusia ingin alam itu mempermudab kehidupannya. Karena itu harus ada aturan untuk mengatur alam. Bagaimana membuat aturan untuk mengatur manusia dan alam? Siapa yang dapat membuat aturan itu? °rang Yunani Kuno sudah menemukan: manusia itulah yang membuat aturan itu. Humanisme menyatakan bahwa manusia mampu mengatur dirinya (manusia) dan alam. Jadi, manusia itulah yang hams membuat aturan untuk mengatur manusia dan alam. Bagaimana membuatnya dan apa alatnya? Bila aturan itu dibuat berdasarkan agama atau mitos,

maka akan sulit sekali menghasilkan aturan yang disepakati. Pertama, mitos itu tidak mencukupi untuk dijadikan sumber membuat aturan untuk mengatur manusia, dan kedua, mitos itu amat tidak mencukupi untuk dijadikan sumber membuat aturan untuk mengatur alarm Kalau begitu, apa sumber aturan itu? Kalau dibuat berdasarkan agama? Kesulitannya ialah agama mana? Masing-masing agama menyatakan dirinya benar, yang lain salah Jadi, seandainya aturan itu dibuat berdasarkan agama maka akan banyak orang yang menolaknya. Padahal aturan itu seharusnya

Ahmad Tafsir

31

disepakati oleh semua orang. Begitulah kira-kira mereka berpikir Menurut mereka aturan itu hares dibuat berdasarkan dan bersumber pada sesuatu yang ada pada manusia. Alat itu ialah akal. Mengapa akal? Pertama, karena akal dianggap mampu, kedua, karena akal pada setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan itu ialah logika alami yang ada pada akal setiap manusia Akal itulah alat dan sumber yang paling dapat disepakati. Maka, Humanisme melahirkan Rasionalisme.

Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dicari dengan akal ialah dicari dengan berpikir logis. Diukur dengan akal artinya diuji apakah temuan itu logis atau tidak. Bila logis, benar; bila tidak, salah. Nah, dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dan alam itu dibuat. Ini juga berarti bahwa kebenaran itu bersumber pada akal. Dalam proses pembuatan aturan itu, ternyata temuan akal itu seringkali bertentangan. Kata seseorang in/ logis, tetapi kata orang lain itu logis juga. Padahal itli dan itu itu tidak sama, bahkan kadangkadang bertentangan. Orang-orang sophis pada zaman Yunani Kuno dapat membuktikan bahwa bergerak sama dengan diam, kedua-duanya sama logisnya. Apakah anak panah yang melesat dari busurnya bergerak atau diam? Dua-duanya benar. Apa itu bergerak? Bergerak ialah bila sesuatu pindah tempat. Anak panah itu pindah clan busur ke sasaran. Jadi, anak panah itu bergerak. Anak panah itu dapat juga dibuktikan diam. Diam ialah bila sesuatu pada sesuatu waktu berada pada suatu tempat. Anak panah itu setiap saat berada di suatu tempat. Jadi, anak panah itu diam. Ini pun benar, karena argumennya

juga logis. Jadi, bergerak sama dengan diam, samasama logis. Apa yang diperoleh dari kenyataan itu? Yang diperoleh ialah berpikir logis tidak menjamin diperolehnya kebenaran yang disepakati. Padahal, aturan itu seharusnya disepakati. Kalau begitu diperlukan alat lain. Alat itu ialah Empirisisme. Empirisisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti cmpiris. Dalam hal anak panah tadi, menurut Empirisisme yang benar adalah bergerak, sebab

Ahmad Tafsir

33

32

Pandangan Keiinven W N

secara empiris dapat dibuktikan bahwa anak panah itu bergerak. Coba saja perut Anda menghadang anak panah itu, perut anda akan temhus, benda yang menembus sesuatu haruslah benda yang bergerak. Ya, memang,, sesuatu yang diam tidak akan mampu menembus. Logis juga. Nah dengan Empirisisme inilah aturan (untuk mengatur manusia dan alam) itu dibuat. Tetapi ternyata Empirisisme masih merniliki kekurangan. Kekurangan Empirisisme ialah karena is belum terukur. Empirisisme hanya sampai pada konsep-konsep yang umum. Kata Empirisisme, kopi ini panas, nyala api ini lebih panas, besi yang mendidih ini sangat panas. Kata Empirisisme, kelereng ini kecil, bulan lebih besar, bumi lebih besar lagi, rnatahari sangat besar. Demildanlah seterusnya. Empitisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum. Konsep itu belum operasional, karena belum terukur. Jadi, masih diperlukan alat lain. Alat lain itu ialah Positivisme. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris, yang terukur. "Terukur" inilah sumbangan penting Positivisme. Jadi, hal panas tadi oleh Positivisme dikatakan kopi ini 80 derajat celcius, air mendidih ini 100 derajat celcius, besi mendidih ini 1000 derajat celcius, ini sate meter panjangnya, ini sate ton beratnya, dan seterusnya. Ukuran-ukuran ini operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat. Sebagaimana Anda lihat, aturan untuk mengatur manusia dan aturan untuk mengatur alam yang kita miliki sekarang bersifat pasti dan rinci. Jadi, operasional Bahkan dada dan pinggul sekarang ini ada ukurannya, katanya, ini dalam kerangka ukuran kecantikan. Dengan ukuran ini maka kontes kecantikan dapat dioperasikan. Kehidupan kita sekarang penuh oleh ukuran.

Positivisme sudah dapat disetujui untuk mernulai upaya membuat aturan untuk mengatur manusia dan mengatur alam Kata Positivisme, ajukan logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita masih memerlukan alat lain. Alat lain itu ialah Metode Sayangnya, Metode Ilmiah sebenarnya tidak mengajukan sesuatu yang baru; Metode Ilmiah hanya mengulangi ajaran Positivisme, tetapi lebih operasional. Metode Ilmiah mengatakan, untuk memperoleh pengetahuan yang benar lakukan langkah berikut: logicohjpothetico-verificattil Maksudnya, mula-mula

Ahmad Tafsir

33

buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiric. Dengan rumus Metode Ilmiah inilah kita mernbuat aturan itu. Metode Ilmiah itu secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset. Metode Riset menghasilkan Modelmodel Penelitian. Model-model Penelitian inilah yang menjadi instansi terakhir —dan memang operasional— dalam membuat aturan (untuk mengatur manusia dan alam) tadi. Dengan menggunakan Model Penelitian tertentu kita mengadakan penelitian. Hasil-hasil penelitian itulah yang kita warisi sekarang berupa tumpukan pengetahuan sains dalam berbagai bidang sains. Inilah sebagian dari isi kebudayaan manusia. Isi kebudayaan yang lengkap ialah pengetahuan sains, filsafat dan mistik. Urutan dalam proses terwujudnya aturan seperti yang diuraikan di atas ialah sebagai berikut
Huma1nisme Rasionalisme 1 Empirisme 1 Positivisme Metode Ilmiah Metode Riset 1 Model-model Penelitian 1 1 Aturan untuk Mengatur Manusia Aturan untuk Mengatu r AIam

c. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains Ilmu berisi teori-teori. jika Anda mengarnbil buku Ilmu (Sains) Pendidikan, maka Anda akan menemukan teori-teori tentang pendidikan. Ilmu Bumi membicarakan teori-teori tentang bumi, Ilmu Hayat membahas teori-teori tentang makhluk

hidup. Demikian seterusnya. Jadi, isi ilmu ialah teori. Jadi, jika kita bertanya apa ukuran kebenaran sains, maka yang kita tanya ialah apa ukuran kebenaran teori-teori sains. Ada teori Sains Ekonomi: bila penawaran sedikit, permintaan

Ahmad Tafsir

34

35

Pandangan Keilmuan U!N

banyak, maka harga akan naik. Teori ini sangat kuat, karena kuatnya maka ia ditingkatkan menjadi hukum, disebut hukum penawaran dan perrnintaan. Berdasarkan hukum ini, maka barangkali benar dihipotesiskan: Jika hari hujan terus, mesin pemanas gabah tidak diaktifkan, maka harga betas akan naik. Untuk membuktikan apakah hipotesis itu benar atau salah, kita cukup melakukan dua langkah dan cukup dua langkah saja. Pertama, kita uji apakah teori itu logis? Apakah logis jika hari hujan terus harga gabah akan naik? Jika hari hujan terns, maka orang tidak dapat menjemur padi, penawaran betas akan menurun, jumlah orang yang memerlukan tetap, orang berebutan membeli betas, kesernpatan itu dimanfaatkan pedagang beras untuk memperoleh untung sebesar mungkin, maka harga betas akan naik. Jadi, logislah bila hujan terus harga betas akan naik. Hipotesis itu lobs ujian pertama, uji logika. Kedua, uji empiris. Adakan eksperimen. Buatlah hujan buatan selama mungkin, mesin pemanas gabah tidak diaktifkan, betas dari daerah lain tidak masuk. Periksa pasar. Apakah harga betas naik? Secara logika seharusnya naik. Dalarn kenyataan mungkin saja tidak naik, misalnya karena orang mengganti makannya dengan selain betas. Jika eksperimen itu dikontrol dengan ketat, hipotesis tadi pasti didukung oleh kenyataan. Jika didukung oleh kenyataan (beras naik) maka hipotesis itu menjadi teori, dan teori itu benar, karena ia logis dan empitis. Jika hipotesis terbukti, maka pada saatnya ia menjadi teori. Jika sesuatu teori selalu benar, yaitu

jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma. Agaknya banyak mahasiswa menyangka bahwa hipotesis bersifat mungkin benar mungkin salah, dengan kata lain, hipotesis itu kernungkinan benar atau salahnya sama besar,fi&-fa5. Persangkaan itu salah. Hipotesis (dalam sains) ialah pemyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesis itu salah. Hipotesis benar, bila logis, titik. Ada atau tidak ada bukti empirisnya adalah soal lain. Dori sini tahulah kita bahwa kelogisan suatu hipotesis —juga teori— lebih penting ketimbang bukti empirisnya. Harap dicatat, bahwa kesimpulan ini penting. 3. Aksiologi Sains Pada bagian ini dibicarakan tiga hal saja, pertama kegunaan sains; kedua, cara sains menvelesaikan masalah; ketiga netralitas sains. Sebenarnya, rang kedua itu merupakan contoh aplikasi yang pertama. a. Kegunaan Pengetahuan Sains Apa guna sains? Pertanvaannva sama dengan apa suna pengetahuan iimiah karena sains (ilmu) isinya teori (ilmiah). Secara umum, teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa argumen logis, ini teori filsafat; berupa argumen perasaan atau keyakinan dan kadang-kadang empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik; berupa argumen logis-empiris, ini teori sains. Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori

37 sains: sebagai alat membuat eksplanasi, sebagai alat peramal, dan sebagai alat pengontrol.
Ahmad Tafsir

1)

Teori Sebagai Alat Eksplanasi

Berbagai sains yang ada sampai sekarang ini secara umum berfungsi sebagai alat untuk membuat eksplanasi kenyataan. Menurut T. Jacob (Manusza, Ilmu clan Tek,nologi, 1993: 7-8) sains merupakan suaru sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah masa depan. Bagaimana contohnya? Diakhir 1997 di Indonesia terjadi gejolak moneter, vaitu nilai rupiah semakin murah dibandingkan dengan dolar (kurs rupiah terhadap dolar menurun). Gejala ini telah memberikan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan di Indonesia. Gejalanya ialah harga semakin tinggi. Bagaimana menerangkan gejala ini? Teori-teori ekonomi (mungkin juga politik) dapat menerangkan (mengeksplanasikan) gejala itu. Untuk mudahnya, teori ekonomi mengatakan karena banyaknya utang luar negeri jatuh tempo (harus dibayar), hutang itu harus dibayar dengan dolar, maka banyak sekali orang yang memerlukan dolar, karena banyak orang membeli dolar, maka harga dolar naik dalam rupiah. Ini Baru sebagian gejala itu yang dieksplanasikan. Sekalipun barn sebagian, namun gajala itu telah dapat dipahami ala kadarnya, sesuai dengan apa yang telah dieksplanasikan itu.

Ahmad Tafsir

38

Ada orang tiga bersaudara, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka nakal, sering mabuk, membuat keonaran, sering bolos sekolah, tidak naik kelas, pindah-pindah sekolah. Mereka ditinggal oleh kedua ()rang tuanya, ayah dan ibunya masing-masing kawin lagi dan pindah ke tempat barunya masing-masing. Biaya hidup tiga bersaudara itu bersama pembantu mereka, tidak kurang. Dapatkah Anda membuat ekspianasi mengapa anak-anak itu nakal?
Anda akan dapat menjelaskan (mengeksplanasikan) jika Anda menguasai teori yang mampu menjelaskan gejala (nakal) itu. Menurut teori Sains Pendidikan, anak anak yang orang tuanya cerai (biasanya disebut broken borne), pada umumnya akan berkembang menjadi anak nakal. Penvebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang balk clan kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kcdua orang tua amat penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa.
-

Sebenarnya saga amat tertarik membicarakan topik ini, tetapi kedua contoli itu agaknya mencukupi untuk menjelaskan kegunaan teori sebagai alat membuat eksplanasi.

2) Teori Sebagai Alat Peramal

39 Tatkala membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan "rnengutak-atik" faktor penvebab itu, ilmuwan dapat membuat ramalan. Dalarn bahasa kaum ilmuwan ramalan itu disebut prediksi, untuk membedakannva dari ramalan dukun.
Ahmad Tafsir

Dalam contoh kurs dolar tadi, dengan mullah orang ahli meramal. Misalnya, karena bulan-bulan mendatang hutang luar negeri jatuh tempo semakin banyak, maka diprediksikan kurs rupiah terhadap dolar akan semakin lcmah. Ramalan lain dapat pula dibuat, misalnya, harga barang dan jasa pada bulanbulan mendatang akan naik. Pada contoh dua tadi dapat pula dibuat ramalan. Misainva, pada musim paceklik ini banyak pasangan suami isteri yang cerai, rnaka diramalkan kenakalan remaja akan meningkat. Ramalan lain: akan semakin banyak remaja putus sekolah, akan semakin banyak siswa yang tidak naik kelas. Tepat dan banyaknya ramalan yang dapat dibuat oleh ilmuwan akan ditentukan oleh kekuatan teori vang is gunakan, kepandaian clan kecerdasan; dan ketersediaan data di sekitar gejala itu.

40

Pandangan Keilmuan UIN

3) Teori Sebagai Alat Pengontrol Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan dan kontrol. Ilmuwan, selain mampu membuat ramalan berdasarkan ekspIanasi gejala, juga -12bat membuat kontrol. Kita ambil lagi contoh tadi. Agar kurs rupiah menguat, perlu ditangguhkan pembayaran hutang yang jatuh tempo, jadi, pembayaran utang diundur. Apa yang dikontrol? Yang dikontrol ialah kurs rupiah terhadap dolar agar tidak naik. Kontrolnya ialah kebutuhan terhadap dolar dikurangi dengan cara menangguhkan pembayaran hutang dalam dolar. Agar kontrol lebih efektif sebaiknya kontrol tidak hanva satu macam. Dalam kasus ekonomi ini dapat kita tambah kontrol, umpamanya menangguhkan pembangunan proyek yang memerlukan bahan import. Kontrol sebenarnya merupakan tindakan-tindakan yang diduga dapat mencegah terjadinya gejala yang tidak diharapkan atau gejala yang memang diharapkan. Ayah dan ihu sudah cerai. Dipredisksi: anak-anak mereka akan nakal. Adakah upaya yang efektif agar anak-anak itu tidak nakal? Ada, upaya itulah yang disebut kontrol. Dalam kasus ini mungkin pamannya, bibinya, atau kakeknya, dapat mengganti fungsi ayah dan ibunya mereka. Perbedaan prediksi dan kontrol ialah prediksi bersifat pasif; tatkala ada kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi ini, itu, begini atau begitu. Scdangkan kontrol bersifat aktif; terhadap sesuatu keadaan, kita membuat tindakan atau tindakan-tindakan agar terjadi ini, itu, begini atau begitu. b. Cara Sains Menyelesaikan Masalah

41 Ilmu atau sains —yang isinya teori— dibuat untuk memudahkan kehidupan. Bila kita menghadapi kesulitan (biasanya disebut masalah), kita menghadapi dan menyelesaikan masalah itu dengan menggunakan ilmu (sebenarnya menggunakan teori ilmu).
Ahmad Tafsir

Dahulu orang mengambil air di bawah bukit, orang Sunda menyebutnya di lebak. Tatkala akan mengambil air, orang melalui jalan menurun sambil membawa wadah air. Tatkala pulang is melalui jalan menanjak sambil membawa wadah yang berisi air. Itu menyulitkan kehidupan. Untuk memudahkan, orang membuat sumur. Air tidak lagi

42

Pandangan Keilmuan UIN

harus diambil di lebak. Air dapat diambil dad sumur yang dapat dibuat dekat rumah. Membuat sumur memerlukan ilmu. Tetapi sumur masih menyusahkan karena masih hams menimba, kadang-kadang sumur amat dalam. Orang mencari teori agar air lebih mudah diambil. Lantas orang menggunakan pompa air yang digerakan dengan tangan. Masih susah juga, orang lantas menggunakan mesin. Sekarang air dengan mudah diperoleh, hanya memutar kran. Ilmu memudahkan kehidupan. Sejak kampung itu berdiri ratusan tahun yang lalu, sampai tahuntahun belakangan ini penduduknva hidup dengan tenang. Tidak ada kenakalan. Anak-anak dan remaja begitu baiknya, tidak berkelahi, tidak mabuk-mabukan, tidak mencuri, tidak membohongi orang tuanva. Senang sekali bermukim di kampung itu. Tiba-tiba jalan raga melintasi kampung itu. Listrik dipasang, penduduk mendapat listrik dengan harga murah. Penduduk senang. Beberapa tahun kemudian, anak mereka nakal. Anak remaja sering berkelahi, sering mabuk, sering mencuri, sering membohongi orang tuanya. Penduduk sering bertanya "Mengapa keadaan begini?" Mereka menghadapi masalah. Mereka memanggil ilmuwan, meminta bantuannva untuk lesaikan masalah yang mereka hadapi. Apa yang akan dilakukan oleh ilmuwan itu? Ternvata ia melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, ia mengidentifikasi masalah. Ia ingin tahu seperti apa kenakalan remaja yang ada di kampung itu. Ia ingin tahu lebih dahulus secara persis, misalnya berapa orang, siapa yang nakal, malam atau had apa saja kenakalan itu dilakukan, penvebab mabuk, berkelahi dengan siapa, dan apa penvebabnva, dsb. la ingin tahu sebanvak-banvaknva atau selengkap-

43 lengkapnva tentang kenakalan yang diceritakan oleh orang kampung kepadanya, ia seolah-olah tidak percava begitu saja pada laporan orang kampung tersebut. Ia mengidentifikasi masalah itu. Identifikasi biasanva dilakukan dengan cara mengadakan penelitian. Hasil penelitian itu ia analisis untuk mengetahui secara persis segala sesuatu di seputar kenakalan itu tadi.
Ahmad Tafsir

ia mencari teori tentang sebab-sebab kenakalan remaja. Biasanya ia can dalam literatur. Ia menemukan ada beberapa teori
Kedua,

44

Pandangan Keilmuan UIN

yang menjelaskan sebab-sebab kenakalan remaja. Di antara teori itu ia pilih teori yang diperkirakannya paling tepat untuk menyelesaikan masalah kenakalan remaja di kampung itu. Sekarang ia tahu penyebab kenakalan remaja di kampung itu. Ketiga, ia kembali membaca literatur lagi. Sekarang ia mencari teori yang menjelaskan cara memperbaiki remaja nakal. Dalam buku ia baca, bahwa memperbaiki remaja nakal harus disesuaikan dengan penyebabnya. Ia sudah tahu penyebabnya, maka ia usulkan tindakantindakan yang hams dilakukan oleh pemimpin, guru, organisasi pemuda, ustadz, orang tua remaja dan polisi serta penegak hukum. Demikian biasanya cara ilmuwan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Itu adalah cerita tentang cara sains menyelesaikan masalah. Cara filsafat dan mistik tentu lain lagi. Langkah baku sains dalam menyelesaikan masalah: identifikasi masalah, mencari teori, menetapkan tindakan penyelesaian. Janganlah hendaknya terlalu mengandalkan sains tatkala timbul masalah. Ada dua sebab. Pertama, belum tentu teori sains yang ada mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Teori itu mungkin memadai pada zaman tertentu, digunakan untuk menghadapi masalah yang sama pada zaman yang lain, belum tentu teori itu efektif. Kedua, belum tentu setiap masalah tersedia teori untuk menyelesaikannya. Masalah selalu berkembang lebih cepat daripada perkembangan teori. Ilmu kita ternyata tidak pernah mencukupi untuk menyelesaikan masalah demi masalah yang dihadapkan kepada kita. Apabila sains gagal menyelesaikan suatu masalah yang diajukan kepadanya, maka sebaiknya masalah itu dihadapkan ke filsafat, mungkin filsafat mampu menyelesaikannya. Tentu dengan cara filsafat atau

45 mungkin pengetahuan mistik dapat membantu. Yang terbaik ialah setiap masalah diselesaikan secara bersama-sama oleh sains, filsafat dan mistik yang berkerja secara terpadu.
Ahmad Tafsir

c. Bonus 1) Netralitas Sains Pada tahun 1970-an terjadi polemik antara Mukti Ali (LAIN Yogyakarta) dengan Sadali (ITB). Mukti All menyatakan bahwa sains itu netral, sementara Sadali berpendapat bahwa sains tidak netral.

46

Pandangan Keilmuan UIN

Ternyata Mukti All hanya memancing, ia tidak sungguh-sungguh berpendapat begitu. Dalam ujaran Mukti Ali, waktu itu, sains itu netral, seperti pisau, digunakan untuk apa saja itu terserah penggunanya. Pisau itu dapat digunakan untuk membunuh (salah satu perbuatan jahat) dan dapat juga digunakan untuk perbuatan lain yang baik. Begitulah teori-teori sains, ia dapat digunakan untuk kebaikan dan dapat pula untuk kejahatan. Kira-kira begitulah penegertian sains netral itu. Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dalam kata "sains netral" pengertian itu juga terpakai. Artinya: sains tidak memihak, tidak memihak kebaikan dan tidak memihak kejahatan. Itulah sebabnya istilah sains netral sering diganti dengan istilah sains bebas nilai. Nah bebas nilai (value free) itulah yang disebut sains netral; sedangkan lawannya ialah sains terikat, yaitu terikat nilai (value bound). Sekarang, manakah yang benar, apakah sains seharusnya value free atau value bound? Apakah sains itu sebaiknya bebas nilai atau terikat nilai? Persoalan ini bukanlah persoalan kecil. la persoalan besar karena banyak sekali aspek kehidupan manusia yang diatur secara langsung oleh sains. Jadi, paham bahwa sains itu netral atau sains itu terikat (tidak netral, memihak), akan mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung. Karena itu sebaiknva kita berhati-hati sekali dalam menetapkan paham kita tentang iM. Apa untungnya hila sains netral? Bila sains itu kita anggap netral, atau kita mengatakan bahwa sains sebaiknva netral keuntungannva ialah perkembangan sains akan cepat terjadi. Karena tidak ada N a ng menghambat atau menghalangi tatkala peneliti (1) memilih dan menetapkan obyek yang hendak diteliti, (2) cara meneliti, dan (3) tatkala menggunakan produk penelitian.

47 Orang yang menganggap sains tidak netral, akan dibatasi oleh nilai dalam (1) men-1_1a obvek penelitian, (2) cara meneliti, dan (3) menggunakan hasil penelitian. Tatkala akan meneliti kerja jantung manusia, orang yang beraliran sains tidak netrak akan mengambil —mungkin— jantung kelinci atau jantung hewan lainnva yang paling mirip dengan manusia. Orang yang beraliran sains netral —mungkin— akan mengambil orang gelandangan untuk diambil jantungnya. Orang yang beraliran sains
Ahmad Tafsir

48

Pandangan Keilmuan UIN

value bound, dalam epistemologi akan meneliti jantung itu tidak dengan menyakiti kelinci itu, sementara orang yang menganut sains value free tidak akan mempedulikan apakah obyek penelitian menderita atau tidak. Orang -ang beraliran sains netral akan menggunakan hasil penelitian itu secara bebas, sedang orang yang bermazhab sains terikat akan menggunakan produk itu hanya untuk kebaikan saja. Jadi, persoalan netralitas sains itu terdapat baik pada epistemologi, maupun aksiologi sains. Sebenarnva dalam ontologi pun dernikian. Dalam contoh di atas obyek dan metode penelitian adalah epistemologi„ sedang penggunaan hasil penelitian adalah aksiologi. Ontoioginya ialah teori yang ditemukan itu. Ontologi itu pun netral, ia tidak boleh melawan nilai yang divakini kebenarannya oleh peneliti.

Apa kerugiannya bila kita ambil paham sains netral? Bila kita pilih paham sains netral maka kerugiannya ialah ia akan melawan keyakinan, misalnya kevakinan yang berasal dari agama. Percobaan pada manusia mungkin akan diartikan sebagai penyiksaan kepada manusia. Maka, penganut sains tidak netral akan mernilih obyek penelitian yang mirip dengan manusia. Untuk melihat proses reproduksi, tentu harus ada pertemuan antara sperma dan ovum. Untuk ini peneliti dari kalangan penganut sains netral tidak akan keberatan mengambil sepasang lelaki perempuan yang belum nikah untuk mengadakan hubungan kelamin yang dari situ diamati bertemunya sperma dan ovum. Peneliti yang menganut sains tidak netral akan melakukan itu terhadap pasangan yang telah menikah. Ini pada aspek epistemologi. Yang paling merugikan kehidupan manusia ialah

49 bila paham sains netral itu telah menerapkan pahamnya pada aspek aksiologi. Mereka dapat saja menggunakan hasil penelitian mereka untuk keperluan apa pun tanpa pertimbanagan nilai
Ahmad Tafsir

Paham sains netral sebenarnya telah melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sains. Tadinya sains dibuat untuk membantu manusia dalam menghadapi kesulitan hidupnya. Paham ini sebenarnya telah bermakna bahwa sains itu tidak netaral, sains memihak pada kegunaan membantu manusia menyelesaikan kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Sementara itu, paham sains netral justru akan memberikan tambahan kesulitan bagi manusia. Kata kunci terletak

dalam aksiologi sains, yaitu tatkala peneliti akan membuat teori, sebenarnya ia telah berniat akan membantu manusia menyelesaikan masalah dalam kehidupannya, mengapa justru temuannya menambah masalah bagi manusia? Karena ia menganut sains netral padahal seharusnya ia menganut san tidak netral. Berdasarkan uraian sederhana di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa yang paling bijaksana ialah kita memihak atau memilih paharn bahwa sains tidaklah netral. Sains itu bagian dari kehidupan, scmentara kehidupan ini secara keseluruhan tidaklah netral. Paham sains tidak netral adalah paham yang sesuai dengan ajaran sernua agama dan sesuai pula dengan niat ilmuwan tatkala menciptakan teori sains. Jadi, sebenarnya tidak ada jalan bagi penganut sains netral. Berikut dikutipkan sebagian dari tulisan Prof. Herman Soewardi, guru besar Filsafat Emu Universitas Padjadjaran Bandung. Kutipan ini dapat digunakan untuk menambah bahan pertimbangan dalam rnenentukan apakah sains sebaiknva netral atau tidak nctrai. Menurut Herman Soewardi (Orasi Ilrniah pada Dies Natalis LAIN Sunan Gunung Djati Bandung ke-36 8 April 2004), dari sudut pandang epistemologi, sains rerbagi dua, yaitu Sains Formal dan Sains Emperikal. Menurutnya, Sains Formal itu berada di pikiran kita yang berupa kontemplasi dengan menggunakan simbolsirnbol, merapakan implikasi•implikasi logis yang tidak berkesudahan. Sains Forn-Jal mi netral karena ia berada di dalam kcpala kita dan ia diatur olch hukum-- hukum logika.

Ahmad Tafsir

51

Adaputi Sains Emperikal, is tidak netral. Sains merupakan \vujud konkrct, yaitu ragad rava ini, isinva ialah jalinanjalinan sebab akibat. Sains Hmperikal itu tidak netral karena dibangun oleh pakar berdasarkan paradigma yang menjadi pijakannya, dan pijakannya itu mer.rpakan basil penginderaan terhadap jagad rava. Benar bahwa Sains Emperikal itu terdiri atas logika (jalinan sebab akibat), namun ia dimuiai dari suaru pijakan yang bennacam-macarn Pijakan itu tentulah nilai. Maka sifatnya tidak netral. Tidak netral karena dipengruhi oleh pijakannya itu. Selanjumva Herman Soewardi menambahkan uraian berikut. Barangkali kita menyangka bahwa kausalitas itu di mana-mana sama,

bisanya dirumuskan dalam bentuk proposisi X menyebabkan Y (X — Y). Memang begitu. Namun, bila diamati lebih dalam, ternyata hal itu tidaklah sesederhana itu. Baiklah kita periksa pandangan David Hume, Immanuel Kant, dan Al-Ghazali. David Hume mengatakan bahwa dalam alam pikiran Empiricisme tidak dapat dibenarkan adanya generalisasi sampai munculnya hukum X — Y. Dari suatu kejadian sampai menjadi hukum (teori) diperlukan adanya medium yang berupa reasoning jalinan sebab akibat yang banvak sekali. Dan reasoning itu tidak mungkin. Tidak mungkin karena rumitnya itu. Karena itu, hanyalah kebiasaan orang saja (tidak ada dasar logikanya) untuk menyimpulkan setiap X akan diikuti Y. Pendapat ini terkenal dengan istilah skeptisisme Hume. Jadi, menurut Hume, sebab akibat itu sebenarnya tidaklah diketahui.

Immanuel Kant membantah skeptisisme Hume itu dengan mengatakan bahwa ada pengetahuan bentuk ketiga, vaitu a priori sintetik. Ini, menurut Herman Soewardi, adalah suatu jalinan sintetik yang sudah ada, yang keadaannya itu diterangkan oleh Kant secara transcendental. Inilah medium yang dicari oleh Hume, yang bagi orang Islam jalinan sintetik itu adalah ciptaan Tuhan yang sudah ada sejak semula. Suatu kejadian X — Y sebenarnya terjadi di atas medium itu, kejadian X — Y itulah yang selanjutnya menjadi hukum yang general. Tampak pada kita bahwa dengan mengikuti cara Emperisisme, siapapun tidak akan mampu menunjukkan medium itu. Sehubungan dengan ini Kant mengatakan bahwa Tuhan lah yang menciptakan medium tersebut. Tentang kemahakuasaan Tuhan itu Al-Ghazali mengatakan lebih tandas lagi sehubungan dengan hukum X — Y. Kata Al-Ghazali, kekuatan X menghasilkan Y bukan pada atau milk X itu, melainkan pada atau milik Tuhan. Bila kapas diletakkan di atas api, kekuatan untuk terjadi nya terbakar atau tidak terbakar kapas itu bukan pada api melainkan pada Tuhan. Terbakarnya kapas oleh api merupakan suatu regularitas atau kebiasaan atau adat, adat itu dari Tuhan, namun pada kejadian khusus seperti pada nabi Ibrahim, api tidak membakar. Itu disebabkan karena Tuhan pada waktu itu tidak memberikan kekuatan membakar pada api. Ini merupakan hukum kausalitas yang sangat fundamental, bahwa kekuatan pada penyebab (X) adalah kekuatan

53

Pandangan Keilmuan UlN

Tuhan. Sekarang, istilah yang mendunia untuk menyatakan kekuatan Tuhan itu ialah faktor Z. Kekuatan dari atau pada Tuhan itu, baiklah kita sebut faktor Z, menghasilkan suatu pengertian bahwa kausalitas itu sifatnya berubah dari cukup (sufficient) menjadi tergantung (contingent) pada faktor lain (dalam hal ini Tuhan). Dan kesimpulan itu akan muncul kesimpulan lain, yaitu kausalitas atau linkage menjadi bergeser dari tidak memperhitungkan kehendak Tuhan ke memperhitungkan kehendak Tuhan. Dan sini muncul beberapa pergeseran, yaitu: − dari deterministik (pasti) bergeser ke stokastik (mungkin); − dari sebab akibat terjadi pada waktu yang sama ke sebab akibat terjadi pada waktu yang berlainan; − dari cukup (sufficient) bergeser ke tergantung (contingent) pada faktor Z; − dari niscaya (necessary) bergeser ke berganti (substitutable). Sains Formal dikatakan netral karena hukumhukumnya bukan dibuat oleh manusia. Hukum-hukumnya dibuat oleh Tuhan. Hukum-

54

Pandangan Keilmuan UlN

hukumnya itu ada di dalam kepala

kita. Adapun Sains Emperikal, is tidak netral. Tidak netral karena is dibangun berdasarkan pijakan seseorang pakar yang mungkin berbeda dari pakar lai. Tentang ini Thomas Kuhn memberikan eksplanasi sebagai berikut: KUHN : PENYEMPURNAAN PARADIGMA
DULU KINI KELAK

ANOMALI NORMA L SCIENC E -  KRISIS NORMA L SCIENC E 2

ANOMALI -II KRISIS
,

NORMA

L
SCIENC E 3 !

PARADI GMA

1

PARADI GMA

2

PARADI GMA

3

Ahmad Tafsir

55

Sains Emperikal disebut oleh Kuhn Sains Normal (Normal Science). Sains Normal muncul dari paradigma, yaitu suatu pijakan, dari seseorang pakar. Dalam perkembangannya Sains Normal menghadapi fenomena yank?tidak dapat diterangkan oleh teori sains yang ada, ini disebutnya anomali. Selanjutnya anomali ini menimbulkan krisis (ketidakpercayaan para pakar terhadap teori itu) sehingga akan timbul paradigma barn atau pijakan baru. Inilah perkembangan sains, berubah dari paradigma yang satu ke paradigma yang lain. Karena itu Sains Normal itu tidak netral. Masalah utama Sains Normal ialah masalah penginderaan. Padahal kita tahu bahwa metode andalan —bahkan metode satusatunya— bagi Sains Normal ialah observasi (dalam arti luas), sementara observasi itu sangat mengandalkan penginderaan. Tetapi pada penginderaan inilah kelemahan utama Sains Normal. Menurut cara berpikir Empirisisme penginderaan adalah modal fundamental bagi manusia untuk mengetahui jagad raya. Tetapi, seperti dikatakan Kuhn, yang orang ketahui itu tidaklah bersifat tetap, melainkan sementara dan akan berubah setelah terjadi anomali. Kini pertanyaannya ialah: Mengapa penginderaan itu ada cacatnya sehingga pendapat para pakar itu sering tidak sama dan sering berubah? Ini dijawab oleh Richard Tarnas. Tarnas mengatakan bahwa di depan mata manusia itu ada "lensa" yang memfilter penglihatan, "lensa" itu dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, keterbatasan, trauma, dan harapan. Maka, kata Tarnas, sama dengan Kant, yang ada di benak manusia itu bukanlah jagad raya yang sebenarnya melainkan sesuatu jagad raya ciptaan manusia itu. Karena itu kausalitas yang dibangun oleh akal manusia itu menjadi kausalitas yang terlalu sederhana. Bila manusia mengubah jagad raya

56 Pandangan Keilmuan UlN (jagad raya buatannya), memang manusia akan memperoleh apa yang diharapkannya, akan tetapi seringkali disertai oleh akibat-akibat yang tidak diharapkannya. Kejadian ini (muncul akibat yang tidak diharapkan) disebut antitetikal, dan akibatakibat yang berupa antitetikal inilah yang menimbulkan kerusakan-kerusakan di planet kita seperti bolongnya lapisan ozon.
Kekurangan dalam penginderaan manusia itu, menurut Herman Soewardi, dapat disempurnakan oleh firman Tuhan. Menurut Herman Soewardi, bila Sains Normal itu netral is akan menimbulkan 3R (resah,

Ahmad Tafsir

57

renggut, rusak). Kayaknya sekarang kita telah menyaksikan kebenaran thesis Herman Soewardi itu. Karena itu thesis tersebut perlu mendapat perhatian. 2) Krisis Sains Modern Sains modern ialah sains empirikal, yaitu sains normal menurut Kuhn. Tulisan ini esensinya diambil dan buku Herman Soewardi Tiba Saatnya Islam Kembali Kaffah Kuat dan Berijtihad (Suatu Kognisi Baru tentang Islam), diterbitkan sendiri, Bandung, 1999, Bagian Tiga Bab 14 yang berjudul Tarnas The Crisis ofModern Science. Pada tahun 1993, buku Tarnas yang berjudul The Passion of the Western Mind, terbit. Dalam buku itu ada sebuah Bab yang berjudul The Crisis of Modern Science. Menurut Tarnas, sedikitnya ada enam hal yang menarik perhatian tentang sains modern. Pertama, postulat dasar sains modern ialah spece, matter, causality, dan observation, ternyata semuanya dinyatakan tidak benar. Kedua, dianutnya pendapat Kant bahwa yang orang katakan jagat raya, bukanlah jagad raya yang sebenarnya, tetapi jagad raya sebagaimana diciptakan oleh pikiran manusia. Ketiga, determinisme Newton kehilangan dasar, orang pindah ke stochastic. Keempat, partikel-partikel sub-atomik terbuka untuk interpretsi spiritual. Kelima, adanya uncertainty sebagaimana ditemukan oleh Heisenberg. Keenam, Kerusakan ekologi dan atmosfir yang menyeluruh yang disebut Tarnas planetary ecological crisis. Dan keenam hal yang menarik di atas Tarnas menyimpulkan bahwa orang merasa tahu tentang jagad raya, padahal tidak; tidak ada jaminan orang dapat tahu; yang dikatakan jagad raya sebenarnya

menunjukkan hubungan orang dengan jagad raya itu, atau jagad raya sebagaimana diciptakan oleh orang itu. Tentu raja kesimpulan Tarnas itu sangat menggetarkan. Mengapa sampai demikian? Tarnas menjawab Landasan ilmiah untuk menggambarkan jagad raya dalam sains modern adalah sangat terbatas bahkan landasan itu cukup berbahaya. Maka kita bertanya, bagaimana kelanjutan sains modern itu bila postulat-postulat dasarnya dibuktikan tidak benar, dan terutama, bila landasan ilmiahnya terbatas bahkan berbahaya? Tetapi baiklah kita

58

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

59

lihat lebih rinci mengenai kesalahan-kesalahn sains modern itu. Pertama, tentang space atau jagad raya. Pandangan sekarang yang berlaku ialah bahwa .space itu terbatas tetapi lepas, bentuknya lengkung (tidak liner), sehingga garis edar Bendabenda angkasa berbentuk clips, bukan karena tertarik gravitasi ke arah matahari melainkan memang bentuknya lengkung. Kini, berlaku pandangan empat dimensi space time, bukan hanya tiga seperti pada geometri Eucled.
-

yang sebenarnva, ia adalah jagad raga ciptaan manusia. Inilah pandangan Kant. Sekarang terbukti, penemuan-penemuan pada mekanita kuantum menyokong pandangan Kant itu. Maka, yang dikatakan jagad raya (space) itu hanyalah hubungan manusia dengan jagad raya, atau jagad raya sebagaimana tampak menurut apa yang dipertanyakan oleh manusia. Kedua, tentang matter atau materi. Baik Democritus maupun Newton, memandang materi itu solid. Pandangan sekarang menyatakan materi itu kosong. Mekanika kuantum membuktikannya.
Ketisa, tentang kausalitas. Sains modern menganggap kausalitas itu sederhana. Kini ditemukan bahwa partikel-partikel saling mempengaruhi tanpa dapat ciipahami bagaimana hubungan kausalitas di antara mereka; kausalitas itu kompleks.. Keempat, tentang uncertainty dari Heisenberg. Ternyata observasi terhadap elektron hanya dapat dilakukan terhadap salah sate posisi atau kecepatannya, selain itu observer tidak dapat mengobservasinya tanpa merusaknya. Heisenberg menemukan bahwa gerakan atom tidak dapat keduanya ditetapkan sekaligus, posisi atau

Jagad raya yang kita ketahui bukanlah jagad raya

kecepatannya. Ini mempertanyakan tentang kelemahan observasi. tentang partikel sub-atomik. Capra mendapati bahwa ada semacam kecerdasan elektron, sehingga kini fisika terbuka untuk menerima interpretasi spiritual.
Kelima,

60

Pandangan Keilmuan UlN

Keenam, kerusakan ekologi menyeluruh. Ini adalah tanda-tanda konkret adanva dampak buruk sains, ia merupakan kebalikan dari yang diharapkan dari sains. Dampak itu antara lain berupa kontaminasi air, udara, tanah, efek buruk berganda pada kehidupan tetumbuhan dan hewan, kepunahan berbagai species, kerusakan hutan, erosi tanah, pengurasan air tanah, akumulasi limah yang toksik, efek rumah kaca,

Ahmad Tafsir

61

bolongnya ozon, salah satu ujungnya ialah ekonomi dunia semakin runyam. 3) Pengembangan Ilmu Bila Anda bertemu dengan seseorang yang baru dilantik menjadi rektor sesuatu perguruan tinggi dan Anda bertanya apa program utamanya, maka Anda akan mcndapat jawaban bahwa program utamanva ialah pengembangan ilmu. Tentu saja, karena perguruan tinggi pada umumnya adalah gudang ilmu. Namun, yakinlah Anda banyak orang yang tidak memahami secara tepat apa sebenarnya pengembangan ilmu itu, termasuk banyak juga dari kalangan rektor yang sedang menjabat jabatan rektor. Berikut adalah uraian yang tepat mengenai pengembangan ilmu, bila Anda setuju. Jika Anda membuka Ilmu Bumi, Anda akan melihat bahwa isinya ialah teori tentang bumi; buku Ilmu Hayat isinya ialah teori tentang makhluk hidup; buku Sejarah isinya teori tentang kejadian masa lalu; buku Filsafat isinya teori filsafat, dan begitulah selanjutnya. Jadi, isi ilmu adalah teori. Secara umum teori ialah pendapat yang beralasan. Semakin banyak makan telor akan semakin sehat atau telor berpengaruh positif terhadap kesehatan, adalah teori dalam sains. Bila permintaan meningkat maka harga akan naik, juga adalah teori sains. Menurut Plato, penjaga negara (presiden dan menteri) haruslah filosof dan mereka tidak boleh berkeluarga, jika berkeluarga maka mereka tidak akan Beres menjaga negara. Ini teori filsafat. Jika penduduk suatu negara beriman bertakwa maka Tuhan akan menurunkan berkah bagi mereka dari langit. Ini salah satu teori dalam agama Islam. Jin dapat disuruh melakukan sesuatu. Ini teori dalam pengetahuan mistik. Teori adalah pendapat (yang beralasan).

Karena isi ih-nu adalah teori, maka mengembangkan ilmu adalah mengembangkan teorinya. Ada beberapa kemungkinan dalam mengembangkan teori. Pertama, menyusun teori barn. Dalam hal ini memang belum pernah ada teori yang muncul, lantas seseorang menemukan tcori barn. Kedua, menemukan teori baru untuk mengganti teori lama. Dalam kasus ini, tadinya sudah ada teorinya tetapi karena teori itu sudah tidak mampu menyelesaikan masalah

62

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

63

yang mestinya ia marnnu menyelesaikannya, maka teori itu diganti dengan teori baru. Ketiga, merevisi teori lama. Dalam hal ini peneliti atau pengembang, tidak membatalkan teori lama, tidak juga menggantinya dengan teori baru, ia hanya merevisi, ia hanya menyempurnakan teori lama itu. Keempat, membatalkan teori lama. Ia hanya membatalkan, tidak menggantinya dengan teori barn. Ini aneh: ia mengurangi jumlah teori yang sudah ada, ia membatalkan teori dan tidak menggantinya dengan teori baru, tetapi tetap dikatakan ia mengembangkan ilmu. Bagaimana prosedur serta langkah-langkah pengembangan ilmu akan amat ditentukan oleh jenis ilmunya. Itu memerlukan organisasi, ada managernya. Itu memerlukan biaya tinggi kadangkadang; memerlukan tenaga yang sedikit atau banyak; memerlukan waktu, ada yang sebentar ada yang lama, bahkan ada yang sangat lama. C. Pengetahuan Filsafat Pada bagian ini dibicarakan ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat. Ontologi membicarakan hakikat, obyek dan struktur filsafat. Epistemologi membahas cara memperoleh dan ukuran kebenaran pengetahuan filsafat. Aksiologi mendiskusikan masalah kegunaan filsafat dan cara filsafat rnenyelesaikan masalah yang dihadapi. Dibicarakan juga masalah netralitas filsafat yang akan membahas apakah filsafat titu sebaik-nya netral (value free) atau terikat (i)alue bound). 1. Ontologi Filsafat Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga di sini. Yang dimaksud struktur di sini ialah cabang-cabang

filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan di sini hanavalah cabang-cabang saja, itu pun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan di sini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat. a. Hakikat Pengetahuan Filsafat Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak

64

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

65

dibicarakan lebih dulu; nand bila orang telah banyak mempelajari filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu (Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1966, I: 3). Langeveld juga berpendapat seperti itu. Katanya, setelah orang berfilsafat sendiri, barulah ia maldum apa filsafat itu; makin dalam ia berfilsafat akan semakin mengerti ia apa filsafat itu (Langeveld, Menudju ke Pemikiran Filsafat, 1961: 9). Pendapat Hatta dan Langeveld itu benar, tetapi apa salahnya mencoba menjelaskan pengertian filsafat dalam bentuk suatu uraian. Dari uraian itu diharapkan pembaca mengetahui apa filsafat itu, sekalipun belum lengkap. Dan dari situ akan dapat ditangkap apa itu pengetahuan filsafat. Poedjawijatna (Pembimbing ke yllam Filsafat, 1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Hasbullah Bakry (Sistematik Filsafat, 1971:11) mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnva sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. Definisi Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry menjelaskan sate hal yang penting yaitu bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir. Seperti yang sudah dijelaskan, memang ciri khas filsafat ialah ia diperoleh dengan berpikir dan hasilnya berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empiris). Apa yang diingatkan oleh Hatta dan Langeveld memang ada benarnya. Kita sebenarnva tidak cukup hanya dengan mengatakan filsafat ialah hasil

pemikiran yang tidak empiris, karena pernyataan itu memang belum lengkap. Bertnard Russel menyatakan bahwa filsafat adalah the attempt to answer ultimate question critically 00C Park, Selected Reading in the Philosophy of Education, 1960: 3). D.C. Mulder (Pembimbing ke Dalam Ilmu Filsafat, 1966: 10) mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. William James (1:Ugclopedia of Philosophy, 1967: 219) menyimpulkan bahwa filsafat ialah a collective name for question which have not been answered

66

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

67

to the satirfication of all that have asked them. Namun, dengan mengatakan bahwa filsafat ialah hasil pemikiran yang hanya logis, kita telah menyebutkan intisari filsafat. Telah kami jelaskan (cobaiah lihat kembali matrik itu) bahwa pengetahuan manusia ada tiga macam yaitu pengetahuan rains, pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik; pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Jika anda orang pemula dalam filsafat, pegang saja ini.

b. Struktur Filsafat Hasil berpikir tentang yang ada dan mungkin ada itu tadi telah terkumpul banyak sekali, dalam buku tebal maupun tipis. Setelah disusun secara sistematis, itulah yang disebut sistematika filsafat. Yang inilah yang dimaksud dengan struktur filsafat. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan: ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu); ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu; − epistemologi cara memperoleh pengetahuan itu; − aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu. Ontologi mencakupi banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk di sini, misalnya Logika, Metafisika, Kosmologi, Teologi, Antropologi, Etika, Estetika, Filsafat Pendidikan, Filsafat Hukum dan lain-lain. Epistemologi hanya mencakup satu bidang saja yang disebut Epistemologi yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan filsafat. Ini berlaku bagi setiap cabang filsafat. Sedangkan aksiologi hanya mencakup satu cabang filsafat yaitu Aksiologi yang membicarakan guna pengetahuan filsafat. Ini pun berlaku bagi semua cabang filsafat. Inilah kerangka struktur filsafat.

68

Pandangan Keilmuan UlN

Salah satu filsafat yang masih "baru" ialah Filsafat Perennial. Karena barn, filsafat itu diuraikan ala kadarnya berikut ini. 2. Filsafat Perennial Istilah perennial berasal dari bahasa latin perennis yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris perennial yang berarti kekal (Komaruddin Hidavat dan Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Alasa

Ahmad Tafsir

69

Depan: Perspektif Filsafat Perennial, 1995: 1). Dengan demikian, Filsafat Perennial (Philosophia Perennis) adalah filsafat yang dipandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki, menyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup yang benar, yang menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi besar spiritualitas manusia (lihat Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, 1995: xx). Hakikat itu menjadi inti pembicaraan Filsafat Perennial, yaitu adanya yang suci (The Sacred) atau yang satu (The One) dalam seluruh manifestasinya seperti dalam agama, filsafat, seni, dan sains. Jadi, dalam definisi teknisnya Filsafat Perennial ialah pengetahuan filsafat tentang Yang Selalu Ada (Budy Munawwar Rahman dalam Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, hal xii, xxix).

Berkaitan dengan itu, Aldous Huxley yang dalam pertengahan abad 19 mempopulerkan istilah perennial melalui bukunya The Perennial Philosophy mengemukakan bahwa hakikat Filsafat Perennial, ada tiga yaitu metqfisika, psikologi, dan etika (The Perennial Philosophy, 1945: vii). Metafisika untuk mengetahui adanya hakikat realitas ilahi yang merupakan substansi dunia ini baik yang material, biologis maupun intelektual. Psikologi adalah jalan untuk mengetahui adanya sesuatu dalam din manusia (yaitu soul) yang identik dengan Realitas Ilahi. Dan etika adalah yang meletakan tujuan akhir kehidupan manusia. Dengan demikian, maka Filsafat Perennial memperlihatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini dengan Realitas Ilahi itu. Realitas pengetahuan tersebut hanya dapat dicapai melalui apa yang disebut Plotinus intelek atau soul atau spirit yang jalannya pun hanya melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, simbolsimbol, dan sarana-sarana yang diyakini oleh kalangan perennialis sebagai berasal dari Tuhan

70 Pandangan Keilmuan UlN (lihat Komarudin Hidayat, 1995: xxix).
Pengenalan metafisika lebih dahulu sebelum pengetahuan lainnya mungkin disebabkan karena perkembangan filsafat pada awalnya adalah metafisika, sehingga untuk rnemahami isi alam hares dipahami lebih dahulu N,vujud Tuhan. Mengenai psikologi sebagai hal kedua yang hams dikenali adanya karena kenyataan bahwa Tuhan sebagai tujuan merupakan sesuatu yang tidak terbatas yang hanya dapat diketahui oleh bagian dari unsur "dalam" manusia.

Ahmad Tafsir

71

Atas dasar tersebut dapat dikemukakan bahwa pembicaraan tentang cara mengetahui (epistemologi) obyek Filsafat Perennial sama artinya dengan pembicaraan tentang proses batin manusia menangkap" Realitas Absolut itu. Metafisika. Filsafat Perenial mengatakan bahwa eksistensieksistensi tertata secara hirarkis (Frithjof Schoun, The Trancendent Unity of Religion, 1975: 19). Realitas sclalu saling terkait, jumlahnya meningkat ketika level - nya naik. Semakin tinggi eksistensi semakin real is (Houston Smith, Beyond Post-Modern, 1979: 8). Melalui Filsafat Perennial disadari adanya Yang Infinite di balik kenyataan ini (level of real0). Juga dalam din manusia (level of se!fhood) yang terdiri dari body, mind dan soul, dipercayai adanya yang disebut spirit (roh). Alam semesta dan manusia pada dasarnya hanvalah atau penampakkan Infinite atau Spirit yang dalam Islam disebut al-Hagq (Komarudin Hidayat, 1995: xxxii). Karena adanya dua level ini maka diyakini dunia ini bersifat hirarkis. Tingkat-tingkat eksistensi ini menjelaskan' bahwa tradisi (agama misalnya) adalah jalan yang memberi tahu "kita tentang cara menempuh "pendakian" dan tingkat eksistensi yang lebih rendah, yaitu kehidupan sehari-hari, ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu Tuhan melalui pengalaman mistis atau pengalaman kesatuan.
"

Wujud real ini dapat disamakan dengan klaim Realisme mengenai apa yang tampak nyata. Tetapi real di sini adalah real dengan sendirinya. Bagi orang yang telah terbiasa dengan Rasionalisme atau Empirisme pembedaan ini agak sulit dilakukan. Bukankah manusia sudah real lalu ada realitas lain yang lebih real yang tampak?

Mengenai hal ini Houston Smith mengemukakan alegori Plato sebagai analognya. Mengenai alegori Plato bacalah uraian Plato mengenai manusia gua (cave man) (lihat misalnya dalam Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 1990: 49-50). Di dalam legenda Plato itu orang yang punya bayangan lebih real dari pada bayangannya; memang bayangan orang itu adalah sesuatu yang real, tetapi orang yang punya bayangan adalah lebih real dibandingkan dengan bayangannya. Di dalam alegori itu hendak digambarkan juga (oleh Plato) bahwa manusia yang tidak dilengkapi dengan "cahaya" akan terus berkutat pada bentuk tertentu dan tidak akan tiba pada dimensi yang lebih

72

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

73

tinggi. Hanya dengan "cahaya" itulah manusia akan mampu melihat adanya dimensi lain yang lebih real dari pada ia lihat sekarang. Inti alegori itu adalah untuk menggambarkan kemungkinan adanva sesuatu kchidupan yang lebih tinggi yang sekarang sulit dipahami karena manusia tidak mampu ikut serta dalam penampakannya. Manusia dikelilingi oleh Benda-benda, benda-benda itu membatasi manusia untuk meningkat ke kualitas lebih tinggi. Manusia mampu meningkat ke tingkat lebih tinggi itu dengan kemampuan "cahaya". Dengan demikian, jelaslah bahwa ada hirarki realitas. Realitas tanpa batas hanva dapat diungkapkan melalui citra-citra. Melalui pencitraan itu realitas tanpa batas dapat diukur dalam enam hal yakni energi, durasi, ruang lingkup, kesatuan, nilai penting, dan kebaikan (lihat Komaruddin Hidavat, 1995: 10). Energi atau kekuatan misalnya, merupakan suatu pengaruh yang menyebabkan yang lain memberikan respon atas keberadaannya. William James mengatakan bahwa dikatakan real jika sesuatu menyebabkan kita berkewajiban untuk berurusan dengannya (William James, Some Problems of Philosophy, 1971:101). Suatu wujud dikatakan tak terhingga jika ia memasuki enam kategori di atas. Misalnya jika energi atau power tak terhingga, ia Maha Kuasa; jika durasi tak terhingga, artinya durasinya tak terputus, maka ia Abadi; jika ruang lingkupnya tak terbatas, ia Ada di mana-mana; jika kesatuannya tanpa syarat, ia Murni (tidak memuat apapun); jika nilai pentingnya diutamakan, ia menjadi Mutlak; jika kebaikannya di tonjolkan, ia Maha Sempurna. Kesemuanya itu adalah Tuhan. Pembicaraan mengenai obyek utama Filsafat Perennial tentu akan sulit bila tidak dihubungkan

dengan alam sebagai citraan Tuhan. Tuhan dan alam sesuai dengan hirarkinya masingmasing harus dibicarakan. Pembicaraan ini berakibat pada penciptaan eksistensj yang hirarkis darn atas ke bawah, yang lebih atas berarti lebih real vaitu Godhead atau Yang Tak Terhingga, yaitu Tuhan menyatakan adanva level lebih real bukan berarti level di bawahnya tidak real melainkan kurang real dibandingkan dengan eksistensi level di atasnya.
Psikologi. Manusia adalah makhluk yang mencerminkan alam raya, demikian juga sebaliknya. Manusia suatu saat dapat menjadi makrokosmos pada saat yang lain menjadi mikrokosmos. Kedua

74

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

75

kemungkinan itu akan berpengaruh pada penilaian mana yang lebih balk dalam hirarki kemanusiaan. Yang terbaik dalam diri manusia adalah yang paling "dalam," ia adalah basis dan dasar bagi wujud manusia. Pada basis yang paling dalam inilah kaum sufi menemukan suatu lokus percakapan antara manusia dengan Tuhan (lihat K. Bertens, Sejarab Filsafat Barat Abad XX, 1983: 58). Untuk memahami lebih jauh tentang kondisi "dalam" manusia, Filsafat Perennial melihat dua kecenderungan dalam manusia, yaitu Aku-Obyek (me) yang bersifat terbatas dan Aku-Subyek (I) yang dalam kesadarannya tentang keterbatasan ini mampu membuktikan bahwa dalam dirinya sendiri ia bebas dari keterbatasannya. Filsafat Perennial yang mencoba mencari keabadian, memilih Aku-Subyek yang tak terhingga yang menenggelamkan diri pada pusat diri yang paling dalam, menutup segala permukaan inderawi, persepsi maupun pemikiran, dibungkus dalam kantung jiwa yang bersifat ilahi, sehingga masuk pada suatu pencapaian yang bukan jiwa, bukan personal, melainkan Segala-Diri (all-.rein yang melampaui segala kedirian. Filsafat Perennial menggariskan bahwa di dalam manusia "menginkarnasi" Tuhan yang tak terhingga, jika manusia mampu membuang penutuppenutup akal indrawi, membuang kerangkeng materi dan terbang melampaui ruang dan waktu. Kondisi semacam itulah — mungkin— yang diungkapkan oleh Gabriel Marcel "Semakin dalam aku menjangkau diriku, semakin tampak ia melampaui diriku" (lihat Mathias Harvadi, Membina Hubungan antar Pribadi Berdasarkan Prinsip Partisipasi, Perrekutuan dan Cinta Menurut Gabriel Marcel, 1996: 49-57). IVIanusia mampu menangkap limpahan AkuSubyek yang tak terbatas di saat sedang tenggelam

76 Pandangan Keilmuan UlN dalam tugas yang tidak memberikan sedikit pun perhatian pada kepentingan pribadi. Dalam bahasa IMe tidak ada lagi me yang tersisa. Maqam itu dapat dicapai melalui empat level. Pertama, sebuah kehidupan yang secara primer diidentikkan dengan kesenangan dan kebutuhan fisik (memberi atau menerima, hidup sekedar menghabiskan umur) akan bersifat atau bernilai pinggiran; kedua, seseorang yang dapat mengembangkan perhatian pada akal, ini dapat menjadi diri yang menarik; ketiga, jika manusia dapat beralih pada hati, ia akan menjadi orang balk; keempat, jika ia dapat melewatinya dan sampai ke roh, yang menjaga dari lupa diri dan

Ahmad Tafsir

77

mempertahankan egalitarianisme yakni kepentingan pribadi sama dengan kepentingan orang lain, ia akan menjadi orang sempurna (Houston Smith, 1979: 18). Filsafat Perennial bukan berarti tidak menghargai akal. Namun dalam menghargai akal itu yang dihargai ialah orang yang menggunakannya bukan pada kemampuan akal itu. Etika. Suasana batin tertentu pada tataran psikologis ternyata sanggup menembus sampai kesejatiannya. Itu diperoleh melalui metodemetode tertentu. Metode itu ialah metode yang biasanya digunakan oleh pejalan rnistik atau suluk. Tetapi Filsafat Perennial tidak membahas itu secara rinci. Etika adalah kumpulan petunjuk untuk mengefektifkan usaha transformasi din yang akan memungkinkan untuk mengalami dunia dengan cara barn. Melakukan perubahan, reformasi dan pengaturan akan membawa ke arah kondisi din yang Baru, mencakup bagaimana prinsip-prinsip untuk mengetahui dunia secara lebih sejati dari sekedar penampakkannva apa adanya. Isi etika adalah bentuk-bentuk kerendahhatian, kedermawanan, ketulusan. Kerendahhatian merupakan kapasitas untuk membuat jarak din dengan kepentingan pribadinya, menjauhkan ego sehingga ia dapat melihatnya secara obyektif dan akurat. Tiga kebaikan utama ini masing-masing berkaitan dengan tatanan manusia. Ketulusan adalah kemampuan untuk mengetahui benda-benda secara aktual dan obyektif. Kedermawanan adalah melihat orang lain seperti pada dirinya sendiri, sedangkan kerendahhatian adalah melihat diri sendiri seperti orang lain.

3. Filsafat Pos Modern (Post Modern Philosophy) Di dalam literatur filsafat, biasanya babakan sejarah filsafat dibagi tiga. Pertama, Filsafat Yunani Kuno (Ancient Philosophy) yang didominasi Rasionalisme, kedua, Filsafat Abad Tengah (Middle Ages Philosophy), disebut juga The Dark Ages Philosophy (Filsafat Abad Kegelapan), yang didominasi oleh pemikiran tokoh Kristen, ketzga Filsafat Modern (Modern Philosophy) yang didominasi lagi oleh Rasionalisme. Akhir-akhir in_i agaknya telah muncul babakan keempat, yaitu Filsafat Pasca Modern (Post Modern Philosophy).

78

Pandangan Keilmuan UlN

Ahmad Tafsir

79

Jika periode pertama didominasi rasio, periode kedua didominasi pemikiran tokoh Kristen, periode ketiga didominasi rasio lagi, maka pada periode keernpat itu apa yang mendominasi? Pada itatinYl. filsafat Pasca Modern (anak-anak scring menyebutnya Posmo) mengeritik Filsafat Modern. Orang-orang Posmo mengatakan Filsafat Modern itu harus didekonstruksi. Didekonstruksi artinva dikonstruksi ulang. Karena Filsafat Modern itu didominasi Rasionalisme, maka yang didekonstruksi itu adalah Rasionalisme itu. Rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan akal itulah alat pencari dan pengukur kebenaran. Nah, paham itulah yang didekonstruksi oleh Filsafat Posmo. Sebenarnya, budaya Barat (yang ternyata mengglobal) adalah budava yang secara keseluruhan dibagun berdasarkan Rasionalisme itu. Dan kata Capra, memang hanya berdasarkan Rasionalisme. Pada tahun 1880-an Nietzsche telah menyatakan bahwa budaya Barat (budaya rasional itu) telah berada di pinggir jurang kehancuran, itu disebabkan oleh terlalu mendewakan rasio. Pada tahun 1990-an Cap ra men y atak an bah wa budava Barat itu telah hancur, itu disebabkan oleh terlalu mendewakan rasio. Sepertinva, tokoh-toko Filsafat Posmo itu ingin menyelamatkan budava Barat. Menurut mereka budava Barat dapat diselamatkan bila budava Barat disusun ulang tidak hanya berdasarkan Rasionalisine. Orang-orang Posmo berpendapat bahwa sun - iber kebenaran tidak hanya rasio, ada sumber kebenaran lain selain rasio. agama, misalnva. jika digunakan agama, maka penggunaan rasio telah termasuk di dalarnnva. Kavaknya ada baiknya budaya disusun berdasarkan ajaran agama tetapi harus dipilih agama yang benar-benar berasal dari Tuhan Yang Maha Pintar. 4. Epistemologi Filsafat Epistemologi filsafat membicarakan tiga hal, vaitu obyek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara mernperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat.

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Jika hasil pemikiran itu disusun, maka susunan itulah rang kita c biic Sisteinarika Filsafat. Sistematika atau Struktur -Filsafat dalarn garis besar terd'ri atas ontologi, epistemologi dan aksiologi. isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh obyck apa yang diteliti Jika di memikirkan petadidikan maka jadilah Filsafat Pendiclikan. lika yang dipikirkarnva hukum maka basil:1ra tentulah Filsafati Hubium, dan seterushva. Seberapa luas yang mungkin dapat T.uas se LLsen ua yang ada dan munzikin ada. Inilah Elsa ikirkan i.iicinoetahtianIsafar Ilmu, cist. r,isafat Ichi luas dari obvek sains. Sai.ns haniaa aaerician ik vang tCdi seciangkan filsafat meneliti obrck. yanfa aria den ratunqaa... . masih ada obrek lain theniclaskan sifat kemcndalaman penclitain filsafaLcliblearakan pac apis:aa-nologi filsafat Periu g1 di`iega bahwa rains rnariellai obvekoby,aa yang dan emptrr. yang ada tetapi abstrak (tidak empiris) dapat ditelin sains. Sedari,g'aan filsafat meneki obvek yang ad tetapi absu-ak, adapun yang natIngkin ada, sudah leasahstrak, itu pun iika ada. Cobaiah lihatlagi matrik kita. a, •
-

a.Obyek Filsafat

b.Cara Mernperoleh Pengetahuan Filsafat

Ahmad Tafsir

81

Pertama-tama filosof harus membicarakan (rnempertanggung;awalakan) cara merelea memperoleh pengetahuan filsafat. Yang menvebablaan kita hortnat kepada para filosof antara lain ialah karena ketelitian mereka, sebelum mencari pengetahuan mereka membicarakan lebih dahulu (dan mempertanggungiawabkan) cam memperoleh pengetahuan tersebuu Sifat itu sering kurang dipedulikan kebanyakan .crang. Pada urnumma °rang mementingkan apa rang diperoleh atau diketahui, bukan cara memperoleh atau mengetahuinra. Ini gegabah, para filosof bukan orang yang gegabah. Berfilsafat ialah berpikir. Berpikir itu tentu menggunakan akal. Menjadi persoalan, apa sebenarnya akal itu. John Locke (Sidi Gazalba, Slirtematik,a Fz/cafat, II, 1973: 111) mempersoalkan hal iM. Ia melihat,

pada zamannya akal telah digunakan secara digunakan terlalu bebas, sampai di telah luar batas kemampuan akal. Hasilnya pada masa kekacauan pemikiran filsafat Yunani, itu. akal Sejak 650 SM sampai berakhirnya mendominasi. Selama 1500 tahun sesudahnya, vaitu selama Abad Tengah Kristen, akal harus tunduk pada keyakinan Kristen; akal di bawah, agama (Kristen) mendominasi. Sejak Descartes, tokoh pertama Filsafat Modern, akal kembali mendominasi filsafat. Descartes (1596-1650) dengan cogita ergo sum-nya berusaha melepaskan filsafat dari dominasi agama Kristen. la ingin akal mendominasi filsafat. Sejak ini filsafat didominasi oleh akal. Akal menang lagi. Voltaire telah berhasil memisahkan akal dari iman. Francis Bacon amat yakin pada kekuatan Sains dan Logika. Sains dan Logika dianggap mampu menyelesaikan semua masalah (Will Durant, The S tog of Philosophy, 1959: 254). Condorcet mendukung Bacon: Sains dan Logika itulah yang penting. Kemudian pemikiran ini diikuti pula oleh pernikir Jerman Christian Wolff dan Lessing. Bahkan pemikir-pemikir Prancis mendramatisasi keadaan ini sehingga akal telah dituhankan (lihat Durant, 1959: 254). Spinoza meningkatkan kemampuan akal tatkala ia menyimpulkan bahwa alam semesta ini laksana suatu sistem matematika dan dapat dijelaskan secara a priori dengan cara mendcduksi aksioma-aksioma. Filsafat ini jelas memberikan dukungan kepada kepongahan manusia dalam menggunakan akalnya. Karena itu tidaklah perlu kaget tatkala Hobbes meningkatkan kemampuan akal ini menjadi Atheisme

dan Materialisme yang nonkompromis.

Ahmad Tafsir

83

Sejak Spinoza sampai Diderot, kepingankepingan iman telah tergoler di bawah kaidahkaidah akliah. Helvetius dan Holbach menawarkan idea yang edan itu di Prancis, dan La Mettrie, yang menyatakan manusia itu seperti mesin, menjajakan pemikiran ini di Jerman. Tatkala pada tahun 1784 Lessing mengumumkan bahwa ia menjadi pengikut Spinoza, itu telah cukup sebagai pertanda bahwa iman telah jatuh sampai ke titik nadirnya dan akal telah berjaya (lihat Durant, 1959: 255). David Hume (1711-1776) tidak begitu senang pada keadaan ini. Ia menvatakan bila akal telah menantang manusia, maka akan datang

Ahmad Tafsir

84

waktunya manusia menantang akal. Apa akal itu sebenarnya? Locke (1632-1704) telah meneliti akal. Ia berhasil tampil dengan argumennya tentang kerasionalan agama Kristen. Pengetahuan kita datang dari pengalaman, begitu katanya. Teorinva tabula rasa menjelaskan pandangannya itu. Ia berkesimpulan bahwa yang dapat kita ketahui hanya materi, karena itu materialisme harus diterima. Bila penginderaan adalah asal-usul pemikiran, maka kesimpulannya haruslah materi adalah material jiwa.

Tidak demikian kata Uskup George Berkeley (1684-1753), analisis Locke itu justru membuktikan materi itu sebenarnya tidak ada. David Hume seorang uskup Irlandia berpendapat Lain. Katanva, kita mcngctahui apa jiwa sama dengan kita mengenal materi, vaitu dengan persepsi, jadi secara internal. Kesimpulannva ialah bahwa jiwa itu bukan substansi, suatu organ yang memiliki idea-idea; jiwa sekedar ;uatti llama yang abstrak untuk menyebut rangkaian idea. Hasilnva, Hume sudah menghancurkan mind sebagaimana B'arkeley menghancurkan materi.
Sekarang tidak ada lagi yang tersisa, dan filsafat nienemuk-an dirinya berada di tengah-tengah reruntuhan hasil karvanva sendiri. Jangan kaget bila .Anda mendengar kata-kata begini: No matter never mina'. Semua tin gara.-gara akal. Akal telah digunakan melebihi kapasitasnya. Olen karma itu Locke menyeliciik.i lagi, apa sebenarnva akal Di lain pihak, rnernani Locke berpendapat bahwa kita beium waktunvo membicarakan masalah hakikat sebelum kita mengetahui dengan jeias apa akai itu sebenarnya. Tetabi baiklah, kita terima saja bahwa akal jai ada

85 dan is bekeria berdasarkan suatu cara yang tidak begitu kita kenal. Aturan ketaanya iiselaur Logika. Sejauh akal itu bekerja rnenurut aturan Logika, agaknya kita dapat menerima kebenarannva. llagaimana manusia memperolch pengetahuan filsafati' Dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga obyek pernikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuim-a ialah bagian "di belakang" obvek konkret itu. Dus abstrak juga. Secara mendalam artinya ia hendak mengetahui bagian yang abstrak sesuatu itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya. Kapan pengetahuannya itu dikatakan mendalam? Dikatakan mendalam
Ahmad Tafsir

86

Pandangan Keilmuan U/N

tatkala ia sudah berhenti sampai tanda tanya. Dia tidak dapat maju lagi, di situlah orang berhenti, dan ia telah mengetahui sesuatu itu secara mendalam. Jadi jelas, mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain. Seperti telah disebut di muka, Sains mengetahui sebatas fakta empiris. Ini tidak mendalam. Filsafat ingin mengetahui di belakang sesuatu yang empiris itu. Inilah yang disebut mendalam. Tetapi itu pun mempunyai rentangan. Sejauhmana hal abstrak di belakang fakta empiris itu dapat diketahui oleh seseorang, akan banyak tergantung pada kemampuan berpikir seseorang. Saya misalnya mengetahui bahwa gula rasanya manis (ini pengetahuan empirik); di belakangnya saga mengetahui bahwa itu disebabkan oleh adanya hukum yang mengatur demikian. Ini pengetahuan filsafat, abstrak, tetapi bare satu langkah. Orang lain dapat mengetahui bahwa hukum itu dibuat oleh Yang Maha Pintar. Ini sudah langkah kedua, lebih mendalam daripada sekedar mengetahui adanya hukum. Orang lain masih dapat melangkah ke langkah ketiga, misalnya ia mengetahui bahwa Yang Maha Pintar itu adalah Tuhan, ia masih dapat maju lagi misalnya mengetahui sebagian hakikat Tuhan. Demikianlah, pengetahuan di belakang fakta empiris itu dapat bertingkat-tingkat, dan itu menjelaskan kemendalaman pengetahuan filsafat seseorang. Untuk mudahnya mungkin dapat dikatakan begini: berpikir mendalam ialah berpikir tanpa bukti empirik. Pada uraian di atas kita mengetahui akal itu diperdebatkan oleh ahli akal dan orang-orang yang secara intensif menggunakan akal. Kerja akal, yaitu berpikir mendalam, menghasilkan filsafat. Apakah dengan demikian berarti teori-teori filsafat itu tidak ada gunanya atau nilai kebenarannya amat rendah?

87 Tidak juga. Ya, itulah filsafat, kadang-kadang filsafat diragukan oleh filsafat itu sendiri
Ahmad Tafsir

Jika kita ingin mengetahui sesuatu yang tidak empirik, apa yang kita gunakan? Ya, akal itu. Apapun kelemahan akal, bahkan sekalipun akal amat diragukan hakikat keberadaannya, toh akal telah menghasilkan apa yang disebut filsafat. Kelihatannya, ada saw hal yang penting di sini: janganlah hidup ini digantungkan pada filsafat, janganlah hidup ini ditentukan seluruhnya oleh filsafat, filsafat itu adalah produk akal yang akal itu belum diketahui secara jelas identitasnya.

88

Pandangan Keilmuan U/N

c. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ukuran kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis benar, bila tidak logis, salah. Ada hal yang patut Anda ingat. Anda tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktikan kebenaran filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis dan hanya logis. Bila logis dan empiris, itu adalah pengetahuan sains. Kebenaran teori filsafat ditentukan oleh logis tidaknya teori itu. Ukuran logis tidaknya tersebut akan terlihat pada argumen yang menghasilkan kesimpulan (teori) itu. Fungsi argumen dalam filsafat sangatlah penting, sama dengan Fungsi data pada pengetahuan sains. Argumen itu menjadi kesatuan dengan kongklusi, kongklusi itulah yang disebut teori filsafat. Bobot teori filsafat justru terletak pada kekuatan argumen, bukan pada kehebatan kongklusi. Karena argumen itu menjadi kesatuan dengan kongklusi, maka boleh juga diterima pendapat yang mengatakan bahwa filsafat itu argumen. Kebenaran kongklusi ditentukan 1000/0 oleh argumennya. 5. Aksiologi Pengetahuan Filsafat Di sini diuraikan dua hal, pertama kegunaan pengetahuan filsafat dan kedua cara filsafat menyelasaikan masalah. a. Kegunaan Pengetahuan Filsafat Apa guna pengetahuan filsafat? Atau, apa kegunaan filsafat? Tidak setiap orang perlu mengetahui filsafat. Tetapi orang yang merasa perlu berpartisipasi dalam membangun dunia perlu mengetahui filsafat. Mengapa? Karena dunia dibangun oleh dua kekuatan: agama dan filsafat.

89 Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori filsafat, kedua filsafat sebagai metode pemecahan masalah, ketiga, filsafat sebagai pandangan hidup (philosoply of life). Mengetahui teori-teori filsafat amat perlu karena dunia dibentuk oleh teori-teori itu. Jika Anda tidak senang pada Komunisme maka Anda harus mengetahui Marxisme, karena teori filsafat untuk
Ahmad Tafsir

90

Pandangan Keilmuan U/N

Komunisme itu ada dalam Marxisme. Jika Anda menyenangi ajaran Syi'ah Dua Belas di Iran, maka Anda hendaknya mengetahui filsafat Mulla Shadra. Begitulah kira-kira. Dan jika Anda hendak membentuk dunia, baik dunia besar mitmun dunia kecil (diri sendiri), maka Anda tidak dapat mengelak dari penggunaan teori filsafat. Jadi, mengetahui teori-teori filsafat amadah perlu. Filsafat sebagai teori filsafat juga perlu dipelajari oleh orang yang akan menjadi pengajar dalam bidang filsafat. Yang amat penting juga ialah filsafat sebagai methodology, vaitu cara memecahkan masalah yang dihadapi. Di sini filsafat digunakan sebagai situ cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal. Filsafat selalu mencari sebab terakhir dan dari sudut pandang seluas-luasnya. Hal ini diuraikan pada bagian lain sesudah ini. Filsafat sebagai pandangan hidup tentu perlu juga diketahui. Mengapa —misalnya— salah seorang Presiden Amerika (Bill Clinton, 1998), telah mengaku berzina, dan masyarakatnya tetap banyak yang memberikan dukungan? Mungkinkah hal seperti itu untuk Indonesia? Presiden Indonesia yang mengaku berzina pasti akan dicopot oleh masyarakat Indonesia. Mengapa berbeda? Karena masyarakat Indonesia berbeda pandangan hidupnya dengan masyarakat Amerika. Filsafat sebagai philosophy of life sama dengan agama, dalam hal sama mempengaruhi sikap dan tindakan penganutnya. Bila agama dari Tuhan atau dari langit, maka filsafat (sebagai pandangan hidup) berasal dari pemikiran manusia. Berikut ada makalah kecil yang membahas kegunaan filsafat dalam menentukan philosophy of life. Banyak orang memiliki pandangan hidup, banyak orang yang menganggap philosophy of life itu

Ahmad Tafsir

91

sangat penting dalam menjalani kehidupan.
Kegunaan Filsafat bagi Akidah Akidah adalah bagian dari ajaran Islam yang mengatur cara berkeyakinan. Pusatnya ialah keyakinan kepada Tuhan. Posisinya dalam keseluruhan ajaran Islam sangat penting, merupakan fondasi ajaran Islam secara keseluruhan, di atas akidah itulah keseluruhaan ajaran Islam berchri dan didirikan. Keterangan seperti ini berlaku juga bagi agama selain Islam.

92

Pandangan Keilmuan U/N

Karena kedudukan akidah seperti itu, maka akidah seseorang muslim haruslah kuat, dengan kuat akidah akan kuat pula keislamannva secara keseluruhan. Untuk memperkuat akidah perlu dilakukan sekurang-kurangnya dua hal, Pertama, mengamalkan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh, kedua, mempertajam pengertian tentang ajaran Islam itu. Jadi, akidah dapat diperkuat dengan pengalaman dan pemahaman (ajaran Islam). Dapatkah filsafat memperkuat pemahaman kita tentang Tuhan? Thomas Aquinas (1225-1274) berusaha menyusun argumen logis untuk membuktikan adanya Tuhan. Dalam bukunya Summa Theolosia is berhasil men \-usun lima argumen tentang adanya Tuhan. Pertama, argumen gerak. Alam ini selalu bergerak. Gerak itu tidak mungkin berasal dari alam itu sendiri, gerak itu menunjukan adanya Penggerak. Tuhan adalah Penggerak Pertama. Kedua, argumen kausalitas. Tidak ada sesuatu yang mempunyai penvcbab pada dirinya sendiri, sebab itu harus di luar dirinya. Dalam kenvataannya ada rangkaian penyebab. Penvebab Pertama adalah Tuhan yang tidak memerlukan penyebab yang lain. Ketisa, argum en kemungkinan. Adanya alam ini bersifat mungkin: mungkin ada dan mungkin tidak ada. Kesimpulan diperoleh dari kenyataan alam ini dimulai dari tidak ada, lalu muncul atau ada kemudian berkembang, akhirnya rusak dan hilang atau tidak ada. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa alam ini tidak mungkin selalu ada. Dalam diri alam itu ada dua kemungkinan atau ada dua potensi, yaitu ada dan tidak ada, tetapi dua kemungkinan itu tidak akan muncul bersamaan pada waktu yang sama. Mula-mula alam ini tidak ada, lalu ada. Diperlukan Yang Ada untuk mengubah alam dari tiada menjadi ada, sebab tidak mungkin muncul sesuatu dari dada

93 ke ada secara otomatis. Jadi, Ada Pertama itu harus ada. Akan tetapi Ada Pertama yang harus ada itu dari mana? Kembali lagi kita menghadapi rangkaian penyebab (tasal.r4. Kita harus berhenti pada Ada Pertama yaitu yang Harus Ada.
Ahmad Tafsir

Keempat, argumen tingkatan. Isi alam ini ternyata bertingkattingkat (levels). Ada yang dihormati, lebih dihormati, terhormat. Ada indah, lebih indah, sangat indah, dan seterusnya. Tingkat tertinggi menjadi penyebab tingkat di bawahnya. Api yang mempunyai panas

94

Pandangan Keilmuan U/N

yang tinggi menjadi penyebab panas yang rendah di bawahnya, panas yang rendah menjadi penyebab panas kuku di bawahnya, begitu seterusnya. Yang Maha Sempurna adalah penyebab yang sempurna, yang sempurna adalah penvebab yang kurang sempurna. Yang atas menjadi penyebab yang bawah. Tuhan adalah Yang Tertinggi, Ia Penyebab yang di bawah-Nva. tujuan. Alam ini bergerak menuju sesuatu, padahal mereka tidak tahu tujuan itu. Ada sesuatu Yang Mengatur alam menuju tujuan alam. Itu adalah Tuhan (lihat Ahmad Tafsir, Fi lsafat Umum, 1997: 86-88). Argumen yang dikemukakan Thomas Aquinas itu sebenarnya tidak akan membawa kita memahami Tuhan secara sempurna. Argumen-argumen itu memiliki kelemahan. Karena itu Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal (ia menyebutnva akal teoritis) Tuhan dapat dipahami melalui suara had yang disebut moral. Adanva Tuhan itu bersifat hams, hati saya —kata Kant— yang mengatakan Tuhan hams ada. Kant mengatakan bahwa adanya Tuhan bersifat imperatif. Siapa yang memerintah? Ya, suara hati atau moral itu. Menurut Kant indera dan akal itu terbatas kemampuannya. Indera dan akal (maksudnya: rasio) hanya mampu memasuki daerah fenomena, bila indera masuk ke daerah noumena maka ia akan sesat dalam antinomi, akal bila memasuki daerah noumena ia akan tersesat dalam paralogism. Daerah noumena itu hanya mungkin diarungi oleh akal praktis, demikian kata Kant (lihat Ahmad Tafsir, 1997:159). Akal praktis adalah moral atau suara hati. Menurut Kant akal teoritis (akal rasional) tidak melarang kita mernpercavai Tuhan, kesadaran moral (suara hati) kita memerintahkan untuk mempercayaiNya. Rousseau benar ketika ia mengatakan bahwa di
Kelima, argumen teleologis. Ini adalah argumen

Ahmad Tafsir

95

atas akal rasional di kepala ada perasaan hati; Pascal benar tatkala ia menyatakan bahwa had mempunyai akal miliknya sendiri yang tidak pernah dapat dipahami oleh akal rasional (Will Durant, The Story of Philoshopy, 1959: 278). Argumen-argumen akliah tentang adanya Tuhan, juga tentang yang gaib lainnya, yaitu obvek-obyek metarasional, tidak dapat dipegang kebenarannya; bila akal (rasio) masuk ke daerah ini ia akan tersesat ke

96

Pandangan Keilmuan U/N

dalam paralogisme. Inilah pendirian Kant. Argumen akliah tentang ini lemah. Kant mengemukakan contoh argumen yang sering dikemukakan teolog rasionalis untuk membuktikan adanya Tuhan, vaitu argumen pengaturan alam semesta. Di dalam argumen ini dikatakan bahwa alam ini teratur, yang mengatur adalah Maha Pengatur, yaitu Tuhan. Alam teratur, memang, kata Kant. Banyak isi alam ini yang begitu teratur yang dapat membawa kita kepada kesimpulan adanva Tuhan yang mengaturnya. Akan tetapi, kata Kant, kita juga menyaksikan bahwa alam ini mengandung juga banvak ketidakteraturan, kekacauan, bahkan menyebabkan kesulitan dan kematian. Jadi, terdapat perlawanan. Inilah salah sate contoh paralogisme itu. Kant mengakui bahwa keteraturan itu memang ada bila alam itu dilihat secara keseluruhan, akan tetapi itu pun tidak kuat untuk dijadikan bukti adanya Sang Pengatur. Tuhan tidak dapat dibuktikan adanya dengan akal teoritis (maksudnya rasio). Inilah thesis utama Kant dalam hal ini (lihat lebih jauh Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 1997: 162). Agaknya kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat (dalam hal ini akal logis) dapat berguna untuk memperkuat keimanan, ini menurut sebagian filosof, seperti Thomas Aquinas; tetapi menurut filosof lain, seperti Kant, bukti-bukti akliah (dalam arti rasio) tentang adanya Tuhan sebenarnya lemah, bukti yang kuat adalah suara hati. Suara had itu memerintah, bahkan rasio pun tidak mampu melawannya. Berikut adalah makalah lain yang mengupas kegunaan filsafat bagi pengembanagan hukum islami.
Kegunaan Filsafat bagi Hukum

97 Istilah hukum islami sering rancu. Kadang-kadang hukum islami itu diartikan syari'ah, kadang-kadang fikih (fiqh). Yang dimaksud di sini ialah fikih.
Ahmad Tafsir

Fikih secara bahasa berarti mengetahui. Al-Qur'an menggunakan kata alfiqh dalam pengertian memahami atau paham. Pada zaman Nabi Muhammad saw kata al-fiqb itu tidak hanya berarti paham tentang hukum tetapi paham dalam arti umum. Faqiha artinya paham, mengerti, tahu. Dalam perkembangan terakhir fikih dipahami oleh kalangan

98

Pandangan Keilmuan U/N

pakar ushul alfiqh sebagai hukum praktis hasil ijtihad. Sementara di kalangan pakar fikih, alfiqh dipahami sebagai kumpulan hukum islami yang mencakup semua aspek iyari); baik yang tertuang secara tekstual maupun hasil penalaran erhadap sesuatu teks. Itulah sebabnya di kalangan ahli ushul al fiqh konsep syariah dipahami sebagai teks gar"0 yakni Al-Qur'an dan al-Sunnah yang tetap dan tidak pernah mengalami perubahan.
-

Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada dalam fikih pada garis besarnya mencakup tiga unsur pokok. Pertama, perintah seperti shalat, zakat puasa, dan sebagainya. Kedua, larangan, seperti larangan musyrik, zina dan sebagainya. Kefiga, petunjuk, seperti cara shalat, cara puasa, dan sebagainya. Keseluruhan unsur pokok di atas bila dilihat dan sudut sifatnya, is dapat dibagi dua. Pertama, bersifat tetap, tidak terpengaruh olch kondisi tertentu, seperti sebagian aqidah dan scluruh ibadah mandhah; dalam hal ini ijtihad tidak berlaku padanya. Kedua, yang bersifat dapat bcrubah sesuai dengan kondisi tertentu, inilah bidang ijtihad. Tujuan utama diturunkannya hukum islami (fikih) ialah untuk menciptakan kemaslahatan hidup manusia, yang dimaksud kemaslahatan ialah kebaikan. Jelasnva, pembentukan fikih itu sejalan dengan tuntutan kemaslahatan manusia. Untuk menjamin kemaslahatan itu ditetapkan beberapa asas hukum islarni, vaitu: Adam al haraj, artinya tidak sulit dalam melaksanakannya (QS. 7: 1 57); A/ Tak,hUi; ringan serta mampu dilaksanakan (QS. 2: 286; 4: 28); Al Taysir, mudah sesuai kemampuan (QS. 2: 185;
-

Ahmad Tafsir

99

22: 78). Itu berarti hukum islami dibentuk atas dasar prinsip menghilangkan kesempitan karena kesempitan itu menyebabkan kesulitan. Prinsip lain yang mendasari hukum islami ialah daf al dlarar, menghilangkan bahaya (QS. 2: 25,195; 4: 12; 2: 231). Prinsip lain lagi ialah al ta'assuffi isti final al haqq yakni boleh melakukan sesuatu asal tidak membahayakan yang lain (QS. 2: 223; 65: 6; 7: 31; 5: 87). Dan sini lahirlah kaidah ushul alfiqh yang berbunyi "menolak bahaya didahulukan dari pada mengambil maslahat." Hukum island yang dijadikan aturan beramal ada di dalam fikih
-

100

Pandangan Keilmuan

sebagai kumpulan hukum. Fikih (dalam arti kumpulan hukum) itu dibuat berdasarkan kaidahkaidah hukum (yang berfungsi sebagai teori) yang digunakan dalam menetapkan hukum tersebut.
Ternyata kaidah kaidah pembuatan huk,um (ushul alfiqb) itu dibuat berdasarkan teoriteori filsafat. Karena itu manthiq (mantik, logika) amat penting bagi ulama ushul al fiqh.
-

Selain dalam ushul alfiqh filsafat berguna juga dalam menafsirkan teks dan memberikan kritik ideologi. Dalam menafsirkan teks wahyu atau teks hadis yang akan dijadikan sumber aturan hukum. Misalnya dalam menafsirkan ayatayat Al-Qur'an dan al-Sunnah yang f\ hanniy yang penafsirannya kadangkadang memerlukan to ivil dan penafsiran metaforis; Dalam memberikan kritik ideologi, yakni menggunakan fungsi kritis filsafat. Pemikiran cara filsafat amat diperlukan dalam menganalisis ideologi secara kritis, mempertanyakan dasarnya, memperlihatkan implikasinya dan membuka kedok yang mungkin berada di belakangnya. Dalam hal ini filsafat itu dapat melakukan dua hal. Pertama, kritik terhadap ideologi sainsgan yang akan merusak Islam atau masyarakat Islam, kedua kritik terhadap hukum islami, misalnya mempertanyakan apakah benar hukum itu seperti itu, apakah itu sesuai dengan esensi yang dikandung oleh teks yang dijadikan dasar hukum tersebut.
-

Kesimpulannya, memang benar, filsafat, khususnya filsafat sebagai metodologi, berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum islami.
Kegunaan Filsafat Bagi Bahasa

Disepakati oleh para ahli bahwa bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Terlihat adanya hubungan yang eras antara bahasa dan pikiran. Ahmad

101 Abdurrahman Hamad (Al Alaqab bayn al Lugbah rya al Filer, dar al Ma'rifah al Jami'iyyah, 1985:17) menggambarkan hubungan itu bagaikan satu mata uang yang mempunyai dua sisi. Aristoteles, sebagaimana dikutip Hamad (1985:32) menggambarkan hubungan antara bahasa dan pemikiran (logika) sebagai hubungan antara hitungan dan angka, hubungan itu adalah hubungan interdependen.
-

Ahmad Tafsir

102

Pandangan Keilmuan

Tatkala bahasa berfungsi sebagai alat berpikir ilmiah muncul problem yang serius, ini diselesaikan — antara lain— dengan bantuan filsafat. Begitu juga tatkala pemikiran (filsafat) sampai pada rumusan konsep yang rumit, bahasa juga mengalami persoalan, yaitu bahasa sering kurang mampu menggambarkan isi konsep itu. Bahasa dalam hal ini harus mencari kata dan susunan barn untuk menggambarkan isi konsep itu. Di antara problem yang dihadapi bahasa ialah dalam pemeliharaannva. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan pemakainya. Orang awam sering merusak bahasa, mereka menggunakan bahasa tanpa mengikuti kaidah yang benar. Kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak digunakannya kaidah logika. Logika itu filsafat. Filosof adalah "prototype" orang bijaksana. Orang bijaksana tentu harus menggunakan bahasa yang benar. Bahasa yang benar itu akan mampu mewakili konsep logis yang dibawakannva. Karena itu pada Logika lah kita menemukan kaitan erat antara bahasa dan filsafat. Dan pada Logika pula kita temukan manfaat konkret bahasa. Peran Logika dalam bahasa ialah memperbaiki bahasa, Logika dapat mengetahui kesalahan bahasa. Peran ini diakui oleh Ibrahim Madkur sebagaimana dikutip oleh Ibrahim Samirra'i (HO al Lugah alAlugarran, tt: 18) yang mengatakan bahwa kaidah bahasa —khususnya bahasa Arab, tepatnya Nahwu— telah dipengaruhi oleh Logika Aristoteles dalam beberapa hal.Pertama, mengggunakan kias atau analogi sebagai kaidah dalam Nahwu sebagaimana digunakan dalam I,ogika. Pembagian kata menurut Sibawavh menjadi ism, hurt mungkin dipengaruhi oleh pembagian Aristoteles kata benda, kata keija, dan adat. Kedua, munculnva Nahwu Siryani pada sekolah Nashibayn pada abad ke-

103 6 Masehi bersamaan dengan munculnya pakar Nahwu yang pertama. Kekeliruan dalam berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berpikir. Berikut beberapa contohnya (lihat Mundiri, Logika, 1994: 194). Pertama, kekeliruan karena komposisi. Misalnya kekeliruan dalam menetapkan sifat pada bagian untuk menyifati keseluruhan, seperti "Setiap kapal perang suatu negara telah siap tempur, maka keseluruhan angkatan laut telah siap tempur" atau "Mur ini sangat ringan karena itu mesin ini sangat ringan pula", Kedua, kekeliruan

Ahmad Tafsir

104

Pandangan Keilmuan

dalam pembagian atau devi.ri yaitu kekeliruan kerena menetapkan sifat keseluruhan maka keliru pula dalam menetapkan sifat bagian. Misalnya, "Kompleks perumahan ini dibangun pada daerah yang sangat luas tentulah krmar-kamar tidurnya luas juga", Ketiga, kekeliruan karena tekanan. Ini terjadi dalam pembicaraan tatkala salah dalam memberikan tekanan dalam pengucapan. Misalnya,"Karena kekenyangan ia tertidur", bila tekanan pada kekenyangan ("Karena kekenyangan ia tertidur"), maka arti kalimat itu akan berbeda dari kalimat yang pertama: yang pertama biasa, yang kedua mengejek. Keempat, kekeliruan karena amfiboli. Amfiboli terjadi bila kalimat itu mempunvai arti ganda. Contohnya seperti "Mahasiswa yang duduk di kursi paling depan..." Mahasiswa yang paling depan atau kursinya, duaduanya mungkin.
,

Kesimpulannya ialah filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki. Selain itu perkembangan berpikir atau filsafat akan diikuti oleh perkembangan bahasa. Kata almuru'ah asaInva ialah al-mar'u yang berarti seorang lelaki tulen (al-mar'u al-muktamil). ladi kata itu hanya menunjukan pada seseorang. Tetapi dalam filsafat kata itu sudah mengandung banyak arti seperti potensi, kekuatan, semangat, perasaan lelaki, pemberani, amanah, dan lain-lain. Kata arti awalnya ialah tali, alat pengikat. Kata nabi saw i'qilha ;pa tawakkal, ikat untamu lalu tawakkal. I'qil dari kata aliaql. Dalam filsafat, akal memiliki pengertian jauh lebih luas dari pada itu. Kata akidah (akidah) demikian juga. Contoh-contoh itu menjelaskan bahwa filsafat berhubungan dengan bahasa. Hubungan itu sangat

erat bahkan menjelaskan bahwa perkembangan filsafat mempengaruhi perkembangan bahasa, mungkin juga sebaliknya. Kesimpulannya: filsafat berguna bagi bahasa. b. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia (world view). Dalam hidup kita, kita menghadapi banyak masalah. Masalah artinya kesulitan. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah itu

72

Pandangan Keilmuan UIN

bahwa Rasionalisme itu adalah pemikiran yang salah. Penyelesaian ini mendalam, karena telah menemukan penyebab yang paling asal. Penyelesaian itu juga universal, karena yang akan diperbaiki pada akhirnya kelak bukan hanya persoalan kebebasan seks, hal-hal lain yang merupakan turunan Rasionalisme juga akan dengan sendirinya hilang. c. Bonus 1 ) C a r a O r a n g U m u m Me n i l ai Ada tiga cara orang menilai sesuatu pendapat atau pernyataan. Pertama, ia menilai berdasarkan ketidaktahuannya tentang itu, ketidaktahuannya itulah yang dijadikannya ukuran. Kedua, menilai dcngan menggunakan pendapatnya sebagai ukuran. Ketiga, menilai dengan menggunakan pendapat umumnya pakar sebagai alat ukur. Sebagai contoh, ada orang mengatakan bahwa jin dapat disuruh. Orang tipe pertama langsung menyatakan "itu tidak mungkin" dan alasannya ialah memang ia tidak tahu bahwa jin dapat disuruh melakukan sesuatu. Ketidaktahuannya (dalam hal ini bahwa jin dapat disuruh) lah yang dijadikan alas an menoalak pernyataan itu. Aneh kan? Menolak pendapat dengan alasan ketidaktahuan bahwa itu inemang begitu. Sebenarnya bila kita tidak tahu hanya ada dua hal yang layak dilakukan, jt)ertama, diam, kedua, mempelajarinya. Tipe kedua mengadakan studi tentang jin. Hasil yang ia peroleh rnenyatakan bahwa jin memang tidak dapat disuruh. Nah, pendapatnya inilah yang dijadikan alasan menolak pernyataan tadi (jin dapat disuruh). Cara kedua ini pun masih lemah. Lemah, karena ia sebenarnva tidak punya alasan, mandat, untuk menggunakan pendapatnya sebagai pengukur

73 Pandangan Keilmuan UIN kebenaran sesauatu pernyataan. Dus, ia berpendapat berdasarkan pendapatnya. Tipe ketiga adalah golongan yang sedikit, mereka mempelajari pendapat para ahli bidang jin. Mereka kumpulkan pendapat para pakar jin itu. Berdasarkan pendapat pakar pada umumnya mereka menerima atau menolak pernyataan bahwa jin dapat disuruh. Jadilah orang tipe pertama: diam. Jadilah tipe kedua: mempe lajarinya. Terbaik: jadilah tipe ketiga, yaitu mempelajarinya secara luas

74

Pandangan Keilmuan UIN

dan mendalam, lantas mengemukakan pendapat berdasarkan pendapat pakar pada umumnya dalam bidang itu. 2) Netralitas Filsafat Tatkala menjelaskan netralitas sains kita berkesimpulan seharusnya sains itu tidak netral artinya sains itu seharusnya tidak bebas nialai. Filsafat bagaimana? Ada berbagai hal yan menarik untuk diperhatikan mengenai pertanyaan itu. Pertama, dalam filsafat ada Filsafat Nilai atau Etika. Filsafat Etika adalah cabang filsafat yang khusus membicarakan nilai, yatitu nilai baik-buruk. Karena Etika membicarakan nilai maka pastilah Etika itu tidak bebas nilai Adalah mungkin nilai yang digunakan dalam Etika itu bukan nilai dari agama, tetapi tetap saja ia tidak netral karena ia telah membicarakan buruk dan baik.
Kedua, filsafat itu adalah pemikiran orang, karena pemikiran orang maka tidaklah mungkin orang itu netral dalam berpikir; sekurangkurangnya hasil pemikiran itu telah berpihak pada pemikir itu. Berbeda dengan sains. Peneliti sains tidak berpikir, tcori sains disusun berdasarkan data yang terkumpul bukan disusun berdasarkan pemikiran peneliti. Ketiga, masih ada kemungkinan netralnva filsafat, yaitu pada Logika. Mungkin saja Logika itu netral. Untuk memastikan ini kita dapat menganggap logika itu esensinya sama dengan esensi Matematika. Nah, jika Matematika dapat dianggap netral, maka logika juga dapat netral.

Seandainya Logika kita anggap netral, itu bukan berarti filsafat itu netral, sebab masih menjadi persoalan apakah Logika itu filsafat atau bukan

75

Pandangan Keilmuan UIN

filsafat. jika Anda termasuk yang berpandangan bahwa Logika itu adalah bagian dari filsafat, maka Anda harus berpendapat bahwa sebagian dari filsafat adalah netral. D. Pengetahuan Mistik Pada bagian sebelumnva, kita telah membahas pengetahuan Sains, pengetahuan Filsafat, dan ada pengetahuan Mistik. Pengetahuan Sains adalah pengetahuan yang logis-empiris tentang obyek yang empiris. Pengetahuan Filsafat adalah pengetahuan logic (dan hanya

Ahmad Tafsi

"76

logis) tentang obyek yang abstrak logis. Kata logis di sini dapat dalam arti rasional dapat juga dalam arti supra-rasional. Pengetahuan Mistik adalah pengetahuan supra-rasional tentang obyek yang suprarasional. Berikut ini ditambahkan uraian tentang pengetahuan Mistik tersebut.

1. Ontologi Pengetahuan Mistik Diuraikan di sini hakikat pengetahuan rnistik dan struktur pengetahauan mistik. a. Hakikat Pengetahuan Mistik Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional; ini pengertian yang umum. Adapun pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner's Dictionary of Current English, 1957: 828).
Pengetahuan rnistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris. Di dalam Islam, yang termasuk pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan Tasawuf. Pengetahuan yang diperoleh misalnya tercakup dalam istilah ma'rzfah, al ittihad, atau hula/. Pengetahuan mukasyafah, juga adalah pengetahuan mistik dalam tasawuf yang diperoleh memang bukan melalui jalan indera atau jalan rasio.
-

Kekebalan juga termasuk pengetahuan mistik karena pengetahuan tentang tidak dapat diterangkan melalui logika sebabakibat. Orang dapat kebal karena latihan-latihan tertentu dan

77 Pandangan Keilmuan UIN bekerjanya hasil latihan itu tidak dapat dipahami oleh rasio. Yang tidak dapat dipahami oleh rasio ialah hubungan sebab akibatnya. Tetapi pengetahuan ini (kekebalan) dapat dibuktikan secara empiris. Sufi besar ternyata tidak kagum terhadap kekebalan atau yang sebangsa dengan itu. Pada suatu ketika ada orang yang menyampaikan berita kepada Abu Yazid bahwa si fulan dapat pergi ke Mekah hanya dalam tempo satu malam saja. Abu Yazid menjawab, apa yang harus

Ahmad Tafsi

"78

diherankan, setan juga dalam tempo sekejap dapat pergi dari barat ke timur, padahal is dilaknat Allah. Pada waktu yang lain ada orang yang menvampaikan berita lain kepada Abu Yazid bahwa si fulan dapat berjalan di atas air. Abu Yazid menjawab, ulat pun dapat berjalan di atas air dan bahkan dapat berada di dalam air dan burung dapat terbang di angkasa (Abu al-Siraj al-Thusv, alti_Jima, 1996: 400) Pengetahuan mistik (sebenarnaya pengetahuan yang berstfat mistik) ialah pengetahauan yang suprarasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris. b. Struktur Pengetahuan Mistik Dilihat dari segi sifatnya kita membagi mistik meninc yaitu mistik biasa dan mistik magis. Mistik biasa adalah mistik tanpa kekuatan tertentu, Dalam Islam tnistik yang ini adalah Tasawuf, mistik magis ialah rnistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk mencapai tujuan tertentu. Mistik-magis ini dapat dibagi dua yaitu mistik-magis-putih dan mistik-magis-hitam. Mistikmagis-putih dalam Islam contohnya ialah mukjizat, karamah, ilmu hikmah, sedangkan mistik-magis-hitam contohnya ialah santet dan sebangsanya yang menginduk ke sihir, bahkan bol.eh jadi mistik-magishitam itu dapat disebut sihir saja.
-

Istilan mistik-magis-putih dan mistik-magishitatn digunakan sekedar untuk membedakan kriterianya. Orang menganggap mistikmagis-putih adalah mistik magis yang berasal dart agama langit (Yahudi, Nasrani, Islam), sedangkan mistikmagis-hitam berasal dari luar agama itu. Dalam praktiknya keduanya memiliki kegiatan yang relatif sama, nyaris hanya nilai filsafatnva saja yang berbeda. Kesamaan itu terlihat karena mistik-magisputih menggunakan wirid, do'a sedangkan mistik-

79 Pandangan Keilmuan UIN magis-hitam menggunakan mantra, jampi, yang keduanya pada segi praktik sama. Kemiripan juga terlihat pada segi lain: mistik-magis-putih menggunakan wafag - wafaq dan isim-isim sedangkan mistik-magis-hitam menggunakan rajahrajah dan jimat. 111afaq, i.rim, rajah, jirnat sama menggunakan benda-benda (material) sebagai perwujudan kekuatan supranatural. Perbedaan mendasar ada pada segi filsafatnva. Mistik-magisputih selalu dekat dan bcrhubungan dan bcrsandar pada Tuhan,

Ahmad Tafsi

"80

sehingga dukungan Ilahi sangat menentukan. Hal ini berjalan sejak kenabian, pada nabi magis-putihnya ialah mukjizat, pada pemilik magis putih selain Nabi disebut karamah. Kekuatan supranatural pada nabi ada juga yang ditunjukkan melalui benda seperti mukjizat Nabi Musa. Dalam benda seperti itu telah terdapat kekuatan ilahiah (Ibn Khaldun, Mugaddimah,1986: 690). Rasulullah Saw. pernah menggunakan mistikmagis-putih yaitu tatkala Abu Bakar disengat binatang berbisa di Gua Tsur saat mereka bersembunvi di sana. Rasulullah membacakan beberapa avat almu'aw2vidzatain (surat al-N as dan al-Falaq) kemudian menyemburkarinva pada luka sengatan dan atas izin Allah sembuh seketika. Kcnvataan seperti ini masih dipraktikkan sampai sekarang oleh pemegang mistik-magis-putih yang sering disebut sebagai ahli hikmah. Penvebutan ahli hikmah bagi mereka merupakan suatu esensi yang mendasari kegiatan itu secara filosofis: mereka dekat dengan Tuhan dan mengetahui hikmah kedekatan itu. Ini menjelaskan sebagian dari epistemologi magis putih serta aksiologinya. Nfistik-magis-hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat. Menurut Ibn Khaldun (1986: 684) mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia, kekuatan mereka itu memungkinkan mereka mampu melihat hal-hal gaib, karena dukungan setan dan/atau roh jahat tadi.. jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat digolongkan menjadi tiga.
Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau himmah. Itu disebabkan jiwa mereka telah menyatu dengan jiwa setan atau roh jahat. Para filosof menyebut mereka ini sebagai ahli sihir dan kekuatan mereka luar biasa.

81

Pandangan Keilmuan UIN

Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak benda-benda atau elemen-elemen yang ada di dalamnya, baik benda angkasa atau benda yang ada di bumf. Inilah yang disebut jimat-jimat yang biasa disimbolkan dalam bentuk bendabenda material atau rajah. Ketiga, mereka yang melakukan pengaruh magisnva melalui kekuatan imajinasi sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut kelompok pesulap (sya'had:zah). Uraian itu menjelaskan sebagian dari epistemologi dan aksiologi

Ahmad Tafsi

"82

mistik-magis-hitam. Karena secara filosofis dua kelompok ini berbeda dalam epistemologi dan aksiologi maka maka kita dengan jelas dapat membedakan keduanya. Keduanya menggambarkan realitas manusia: baik dan jahat, mukmin dan kafir, memegang yang bag dan mengambil yang bathil. Maka wajar bila mereka memperoleh sebutan yang satu putih dan yang satu hitam.
Mistik

Putih

Hitam

2. Epistemologi Pengetahuan Mistik Bagaimana pengetahuan Mistik diperoleh? Obyek empiris dapat diketahui Sains, obyek abstrakrasional dapat diketahui Filsafat, sisanya, yaitu yang abstrak-supra-rasional diketahui dengan apa? Dengan Mistik. "Mistik" di sini bukan lagi ka ta sifat tetapi nama, sejajar dengan Sains dan Filsafat. Manusia ingin tahu. Ia ingin tahu apa rasa tebu. Ia cicipi, tahulah is bahwa tebu rasanya manis. Ini pengetahuan empiris. Inilah pengetahuan Sains. Manusia ingin tahu, mengapa air tebu manis. Ia berpikir. Ia temukan bahwa tebu manis karena ada hukum yang mengatur sehingga tebu selalu manis. Ini pengetahuan rasional. Inilah pengetahuan Filsafat. Manusia ingin tahu juga siapa yang membuat hukum yang mengatur tebu selalu manis? Ia temukan Tuhan. Ini masih pengetahuan Filsafat. Manusia juga ada yang ingin tahu Tuhan itu siapa, seperti apa. Ini adalah obyek abstrak-supra-rasional. Jawaban terhadap

83 Pandangan Keilmuan UIN pertanyaan ini adalah pengetahuan Mistik. Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan in diperoleh melalui rasa, melalui had sebagai alat rnerasa. Kalau indera dan rasio

Ahmad Tafsi

"84

adalah alat mengetahui yang ditniliki manusia, maka rasa atau hati, juga adalah alat mengetahui. Manusia laksana radio penerima. Siaran empiris ia terima dan pahami dengan menggunakan alat indera; siaran yang tidak empiris tetapi rasional, ia terima dan pahami melalui akal rasional yang bekerja secara logis. Nah, siaran-siaran yang amat rendah f re kwensi ny a, s ehingga buka n sa ja inde ra ti dak mamp u menangkapnya, akal rasional pun tidak sanggup menangkapnya, dapat ditangkap dengan rasa. Obyek Pengetahuan Mistik Yang menjadi obyek pengetahuan Mistik ialah obyek yang abstrak-supra-rasional, seperti alam gaib termasuk Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dan lain-lain. Termasuk obyek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan Mistik ialah obyekobyek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu obyek-obyek supra-natural (suprarasional), seperti kebal, debus, pelet, pengunaan jin, santet. Anda percaya bahwa debus itu benar-benar ada dan terjadi? Kata Anda, "percaya." Mengertikah Anda bagaimana itu terjadi? Tidak, Anda tidak mengerti bila Anda menggunakan rasio, sebab kekebalan itu tidak rasional. Anda dapat memahaminya melalui pengetahuan Mistik, yaitu jalan supra-rasional. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik Bagaimana memperoleh pengetahuan Mistik? Di atas sudah dikatakan bahwa pengetahuan mistik itu tidak diperoleh melalui indera dan tidak juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa. Immanuel Kant mengatakan itu melalui moral, ada yang mengatakan melalui intuisi, ada juga yang mengatakan melalui insight, al-Ghazali mengatakan melalui dhamir, atau galbu. Ya, sekarang, bagaimana itu diperoleh? b. a.

85

Pandangan Keilmuan UIN

Anda ingin mengetahui bagaimana hakikat Tuhan? Atau sebagian dari hakikat-Nya? Kata kaum sufi, Anda hams menghilangkan sebanyak mungkin unsur nasut pada diri Anda dan memperbesar unsur lahut. Unsur nasut ialah unsur jasmani, unsur lahut ialah unsur rohani. Bila kita tidak lagi terlalu banyak dipengaruhi unsur nasut, maka unsur lahut itu akan dapat berkomunikasi dengan Tuhan, yang Tuhan itu

Ahmad Tafsi

"86

s em uany a /abit/. Untuk thenghilangkan atau mengurangi unsur nasal iru manusia harus membersihkan rohaninya, membersihkan dari nafsu-nafsu jasrnaniah. Ia harus memperkuat rohaninva. Rohaninya akan sensitif atau peka. Caranya antara lain ialah seperti yang diajarkan oleh kaum sufi. Tharigat dalam hal ini adalah cara dalam membersihkan diri. Tivrigat dalam hal ini merupakan epistemologi untuk memperoleh pengetahuan mistik. Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhab. Dari riyaribah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan yang dalam Tasauf disebut ma'nfah. Pengetahauan mistik yang lain, seperti kebal, ba?.: %aimana cam memperolehnya? Sama saja dengan yang di atas atadi vaitu latihan. Umumnya latihan itu adalah latihan batin. Pelet dan santet diperoleh juga dengan metode yang sama. Dapatlah disimpulkan — sekalipun kasar— bahwa epistemologi pengetahauan mistik ialah pelatihan batin.

c. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik Kebenaran sains diukur dengan rasio dan bukti empiris. Bila teori sains rasional dan ada bukti empiris, maka teori itu benar. Ukuran kebenaran pengetahuan filsafat adalah logis. Bila teori filsafat logis, maka itu berarti teori itu benar. Logis berarti masuk akal. Logis dalam filsafat dapat berarti rasional atau supra-rasional.
Kebenaran pengetahuan mistik diukur dengan berbagai ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari Tuhan, maka ukurannya ialah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala Tuhan dalam al-

Qur'an mengatakan bahwa surga neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, sesuatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh melakukan sesuatu pekerjaan. Ya, kepercayaan kita itulah ukuran kebenarannya. Ada kalanya kebenaran sesuatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiris. Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya. Kebal adalah sejenis pengetahuan mistik. Kebenarannva dapat diukur dengan kenyataan empiris

misalnya seseorang memperlihatkan di hadapan orang banvak bahwa is tidak mempan ditusuk jarum. Satu-satunya tanda pengetahuan disebut pengetahuan (bersifat) mistik ialah kita tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat yang ada di dalam sesuatu kejadian mistik. Dalam contoh kebal, kita tidak dapat menjelaskan secara rasional mengapa jarum tidak mampu menembus kulit orang kebal. Jadi, yang bersifat mistik itu ialah "mengapa" nya. Akan lebih merepotkan kita memahami sesuatu teori dalam pengetahuan mistik bila teori itu tidak punya bukti empirik; sulit diterima karena secara rasional tidak terbukti dan bukti empirik pun tidak ada. 4. Aksiologi Pengetahuan Mistik Di sini dibahas kegunaan pengetahuan mistik dan cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah. a. Kegunaan Pengetahuan Mistik Mustahil pengetahuan mistik mendapat pengikut yang begitu banyak dan berkembang sedemikian pesat bila tidak ada gunanya. Uraian tentang kegunaan pengetahuan mistik seharusnya menyangkut mistik biasa, mistik putih, dan mistik hitam. Kegunaannya mencakup area yang sangat luas. Pengetahuan mistik itu amat subyektif, yang paling tahu pengunaannya ialah pemiliknya. Seharusnya kita bertanya kepada salik (pengamal Tasauf), para pengamal ahli hikmah, atau kepada dukun mereka gunakan untuk apa pengetahuannya itu. Secara kasar kita dapat mengetahui bahwa mistik yang biasa digunakan untuk memperkuat keimanan, mistik-magis-putih digunakan untuk

kebaikan, sedangkan mistik-magis-hitam digunakan untuk tujuan jahat. Di kalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat mententramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikrnatan luar biasa tatkala "berjumpa" dengan kekasihnya (Tuhan). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sains dan filsafat. Pemegang mistik-magis putih menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan, seperti untuk pengobatan, mendamaikan suami isteri yang sedang cekcok. Dukun patah tulang

dapat mengobati patah tula.ng sccara mistik (ini mistikmagis-putih) sernentara dokter (pemegang sains) tidak dapat menyelesaikannva. lenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, iebus dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseoranLY sesuai dengan situasi dan tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal Banat digunaltan c clam pertahanan diri, debus dapat digunakan scbagai pertahanan did dan juga unnak pertunjukan hiburan. )cnis ini dapat meningkatkan harga diri. Sernentara mistik-magis hitam, clikatakan hitam, antara lain karena penggun a annya un kejahatan. Keguriaan mistik-mistik ini semakin tergeser nleh produk modern. Pelet tergeser olch " pelet Tepang" alias uang; kekebalan tergeser olch senjata berat, sebab tidak ada orang- kebal terhadap rudal. Agaknya pengetahuan mistik akan terseleksi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan zaman. Mistik yang dapat membawa pada ketenangan batin akan bertahan dan semakin dicari orang. Untuk menilai apakah mistik-magis itu hitam atau putih, kita melihatriva pada segi ontologinva, epistemologinva, dan aksiologinya. Bila pada ontologi terdapat hal-hal yang berlawanan dengan nilai kebaiakan, maka dari segi ontologi mistik-magis itu kita sebut hita.m. Bila pada cara memperolehnva (epistemologi) ada yang berlawanan dengan nilai kebaikan maka kita akan mengatakan mistik-magis itu hitam. Bile dalam penggunaan (aksiologi) nya untuk
,

kejahatan maka kita menyebutnya hitam.

b. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio. itu berlaku untuk mistik putih dan mistik hitam. Uraian berikut menjelaskan secara agak luas cara pengetahuan mistik menyelesaikan masalah (disarikan dari makalah yang ditulis oleh Ajid Thohir). Hampir seluruh masyarakat beragama di dunia mengakui adanya kehidupan mistik, termasuk jenisjenis mistik yang rnengandung kekuatan magis. Jadi, ada dua macam mistik, vaitu mistik yang biasa

92

Pandangan Keilmuan UIN

dan mistik magis. Istilah "mistik" menunjukan pengertian kegiatan spiritual tanpa penggunaan rasio. Ini berlaku bagi dua macam mistik itu. Sedangkan "mistik-magis" adalah kegiatan mistik yang mengandung tujuan-tujuan untuk memperoleh sesuatu yang diingini penggunanya. Mistik-magis itu disebut mistik juga karena sangat mirip dengan aktivitas spiritual vang dilakukan oleh masyarakat beragama (lihat Revmond Firth, Human Types, 1960: 184-185). Aktivitas jiwa manusia yang serba ingin tahu tentang hal-hal di luar dirinva semakin mengukuhkan adanya kehidupan mistik, juga mistik magis (Ibn Miskawaih, Tahokib al-Akhlag, 1994: 35). Sejak masa primitif sampai masa modern ini kenvataannva mistik tetap digunakan sekalipun dalam kondisi tertutup. Islam, sebagai agama yang memiliki nilai-nilai universal bagi kehidupan manusia sebenarnya telah memberi jalan cukup jelas tentang keberadaan mistik yang gaib itu. Masyarakat Islam ketika berhadapan dengan tradisi-tradisi lokal seperti Yunani, Persia, India, warisan Arab Kuno (seperti Ibrani, Kaldea, Survani) yang kaya dengan praktik mistik-magis terdorong dan terilhami untuk memformulasikan kembali kegiatan ini dalam bentuk-bentuk yang selaras dengan nilainilai Islam. Dari sinilah agaknya muncul dan berkembangnya tradisi mistik-magis dalam Islam. Pengetahuan magis yang berkembang di p e n d u d u k Mesopotamia (yang terdiri dari bangsa Syria dan KaIdea) dan bangsa Mesir, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi. Di antara buku-buku yang berisi berbagai informasi tentang pengetahuan magis dan berbagai praktik yang rnereka lakukan ialah al-Falahah al-Nabatkiyyah karya orang Babilonia. Dan buku-buku

seperti itulah dalam dunia Islam muncul buku-buku mistik seperti Mashahif al-Kawakib alSab'ah,KitabThamtham dan sebagainya. Di Timur, Persia, muncul Jabir Ibn Hay yan —juga ilmuwan Kimia— sebagai tokoh yang ahli dalam mengungkap keahlian sihir. Di Barat, Andalusia, muncul Maslamah Ibn Ahmad al-Majrithy sebagai tokoh matematika dan sihir. Dialah yang banyak meringkas manuskrip —tentang ini— dan menvusunnya secara sistematik berikut berbagai metodenya dalam karyanya Ghayat al-Hakim Pat Ibn Khaldun, 1986: 681-683). Tokoh lain yang menyenangi bidang ini masih banyak

Ahmad ratsir

94

seperti .Abu Abbas al-Burly, Abu Bakal- al-Khawarizmy, Abu T. Ian .d al-Ghazalv, Tsabit Ibn Qurrah al-Kharanv, Abu Ma'syar al-I3alkhy, Khalaf Ibn Yusuf al-Dismasany, Salim bin Tsabit al-Baghdadv (alMarzugy, it: 2). Dan sini mundui istiiah baru dalarn dunia rnistik-magis cialam dunia Islai 1 yaitu 'ulum al-Inkmab yang berisi antara lain rahasiarania bumf al-Quran yang mcingandut-i4-.i 1:—:ikuatan rahasia rahasia asma ayat-ayat n ali}:ig;Unva. Tampaknya, pengetanuan rnistik-magia sciain herkernbanizsebagai akibat pengaruh (Ian luar seperti disebnai. di ,tas, juga —paling niendasar— sebagai pengaruh pengetahuan elan perigalaman spiritual mereka. Dapat dikatakan dcrnikian karena :,:cinvataan menunjukan bahwa tokoh-tokoh mistik-magis itu kehanyakart suli-sufi besar. Ibn Kh a i d u n ( illtqaddimali, 1 9 8 1: 66 4 - 69 4 ) c l a n S ih r i s t a ny
,

wa at
tt: 260-262) mengakui bahwa dunia mistik-magis yang menggunakan kekuatan rohaniah selalu muncui dari orang-orang suci (maksudnya sufi) yang selalu mengolah kekuatan spiritualnya. Bagi mereka yang sampai mengalami ka,91, berbagai kekuatan luar dan kondisi alam pun tunduk di bawah tekanan pancarannya. Boleh jadi berbagai potensi dirinya mengembang dan melingkupi hukum alarn sejalan dengan pancaran ilahiyah yang ada dalam dirinya. Dan berbagai kontemplasi dan pengolahan spiritual, para tokoh yang disebut di atas aklairnya mampu merumuskan berbagai formulasi kekuatan rohaniah yang terkandung dalam at-avat al-Quran. Dan setiap pecahan huruf Arab yang terkandung dalarn al-Quran itu, kata al-Svilby, selalu memuji Allah dalam suatu Bahasa tertentu (Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik dalam Islam, 1986: 424) dan is memiliki magis tertentu bila dipraktikkan. Kekuatan alam (aflak) pun akhirnva tunduk di bawah sinar Ilahi dan dukungan-Nva melalui huruf-huruf dan nama-nama indah-Nya. Melalui kalam Ilahi inilah jiwa-jiwa ilahiyah yang aktif di dunia dapat digunakan oleh manusia untuk tujuantujuan yang dikehendakinya. Jiwa-jiwa ilahiyah ini bukan hanya terdapat pada beribu-ribu malaikat-Nya tetapi juga pada roh-roh yang ada dalam alam ini. Di

sinilah hukum alam atau sunnatullah berada pada kekecualian seperti terjadi pada peristiwa mukjizat para nabi.

96

Pandangan Keilmuan

Dengan demikian pada perkembangan selanjutnya dunia n-Listikmagis Islam terbagi menjadi dua kelompok, pertama, mistik-magis dalam bentuk (termasuk menggunakan ayat atau surat AlQuran), kedua, mistik maxis dalam bentuk bendabenda yang telah diformulasikan sedemikan rupa yang biasanya berupa wafaq-ivafaq atau z_rim Trim tertentu. Dalam masyarakat primitif bentuk pertama berupa bacaan mantra dan bentuk kedua fetish.
Cara Kerja Mistik - Magis - Putih

Cara kerja rnistik-magis-putih ialah sebagai berikut. Para ahli hikmah dengan metode karyf telah menemukan bahwa di dalam agama ada muatanmuatan praktis untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah seperti mengatasi sesuatu kebutuhan. Mereka menyadari bahwa kekuatan Tuhan baik yang ada dalam diri-Nya atau yang ada dalarn fittnan-Nva dapat digunakan oleh manusia. Kitab-kitab yang pernah diturunkan pada para rasul memiliki ayat-ayat yang menggambarkan Tuhan sangat berkuasa dalam segala hal. Dengan memanfaatkan janji dan gambaran Tuhan seperti itu ayat-ayat itu digunakan untuk menggugah Tuhan memenuhi janji-Nya. Pada kondisi seperti itu ayatayat al-Qurin atau kitab langit lainnya sering digunakan sebagai perantara menghubungkan manusia dengan Tuhan. Bahkan asma-asma Tuhan sering digunakan para ahli bidang ini untuk merninta sesuai dengan kebutuhannya, misalnya, jika is ingin kaya maka hams diperbanyak menyebut asma Tuhan yang berhubungan dengan kaya seperti kata_yaghany,ya ra.z:zaag, dan lain-lain. Pengertian yang dapat diambil ialah bahwa do'a dan wirid dapat menjembatani manusia dengan

kebutuhannya dan Tuhan yang memihki apa yang dibutuhkan itu. Para ahli hikmah telah mengembangkan teknik-teknik membuat wind dan do'a untuk keperluan seperti itu. Teknik itu dikembangkan dalam apa yang disebut asrar al-huruf (rahasia-rahasia huruf) dan asrar al-asma (rahasia-rahasia narna Tuhan). Dalam pandangan mereka huruf-huruf itu masing-masing memiliki bilangan nilai dan masingmasing huruf memiliki khadam yang berbeda dan juga kekuatan yang berbeda. Bahkan karakter huruf-huruf itu pun berbeda satu sama lainnya. Ada huruf yang berkarakter al-maiyah (air) seperti huruf dal, ha, lam, ain ra, kha, dan ghain; yang memiliki karakter
,

Ahmad Tafsir

98

al-hawa j'ah (udara) seperti Jim, .zaay, kat, karakter althurab!yah (tanah) seperti huruf ba, wax; karakter alnatiah (api) seperti tha, mim, fa. Masing-masing wind atau do'a yang sering ditentukan bilangan dalam pembacaannya, bia anya sesuai dengan kekuatan yang ada di dalam wind atau do'a itu (lihat All Abu Hayuilah al-Marzugy, aljawahir tt: 13,18-19, 52-54). jika seseorang d a p a t a t a u sanggup mempraktikkan wind atau do'a sesuai dengan rumusan maka kekuatan ilahiyah (khadam atau malaikat) akan dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Terlebih jika diikuti oleh jiwa rang bersih, misalnya dengan berpuasa dan tirakat. Cara yang kedua ialah dengan cara memindahkan jiwa-jiwa ilahiyah atau khadam yang ada di dalam huruf-huruf al-Qunin atau yang ada di dalam asma-asma Allah. Cara inilah yang disebut wafaq atau isim. Istilah wafaq berasal dari kata wafaqa (sesuai atau selaras), artinya jiwa-jiwa ilahiyah ditarik sesuai dengan karakternya. jiwa ilahiyah atau khadam hams masuk dan menempati alma atau huruf yang ditulis pada sesuatu Benda, biasanya kulit ari kijang, kulit harimau, atau pada logam (emas dan tembaga). Benda rang digunakan untuk wati.eq inn hams sesuai dengan kebutuhan rnakna huruf atau asma yang digunakan. Kekuatan manusia hams pula diperhitungkan agar sesuai dcngan kekuatan wafaq atau irim yang akan digunakan. U n r u k menghitung kekuatan seseorang ahli hikmah biasanya rnenghliung h-ekuotan yang ada pada narna sescorang dan narna ibu yang rnelahirkannva ,17,4a.q atau zicim harus ditulis dengan menggunakan tirra r(srif:n pada kondisi tertentu. Dalarn pandangan ulama hiktnah, waktu

Ahmad Tafsir

99

Iiki karakter dan potensi. Waktu yang 24 jam itu terbagi olch nt.)Tah kekuatan yang disimbolkan oleh bintang (zodiak): marikb, qamar, sTamc, dan :7brah. Se dap hari peredatan bintang itu mengalami perubahan. Dengan demikian setiap hari merniliki karakter berbeda dalam setup jamnva. Karena itu, maka pare ahli hikmah harus memindahkan kekuatan khadam yang ada dalam sebuah waldq hams hati-hati. Itulah sebahnva hal irti disebut iv60 9/. jadi, pada dasarnya pare ahli itu menggunakan kekuatan supra natural yang ada pada khadam dalam wind atau do'a, walaq atau ticim untuk tujuan tertentu.

100

Pandangan Keilmuan

Cara Kerja Mistik-Magis-Hitam

Cara kerja mistik-magis-hitam telah digambarkan antara lain oleh Ibn Khaldun (1986:686) sebagai berikut. Kita melihat dengan mata kepala sendiri cara seorrng tukang sihir membuat gambar talon korbannya. Digambarkannya dalam bentuk yang ia inginkan, ia rencanakan untuk membuat orang tersebut mengadopsi, baik dalam bentuk simbolsimbol atau nama-nama atau atribut-atribut. Lalu ia bacakan mantra bagi gambar yang diletakkannya sebagai ganti orang yang dituju, secara kongkrit dan simbolik. Selama mengulang-ulang kata-kata buruk itu, ia mengumpulkan air ludah di mulutnya lalu menyemburkannya pada gambar itu. Lalu ia ikatkan bubul pada simbol menurut sasaran yang telah disiapkan tadi. Ia menganggap ikatan buhul itu memiliki kekuatan dan efektif dalam praktik sihir.
Ia meminta jin-jin kafir untuk berpartisipasi agar

mantra itu lebih kuat. Gambar korban dan nama-nama buruk itu memiliki roh jahat. Roh itu dari tukang sihir dengan tiupannya (napasnya) dan melekat pada air ludah yang disemburkannya ke luar. Ia memunculkan lebih banyak roh jahat. Akibatnya, segala sesuatu yang dituju tukang sihir tadi benar-benar terjadi. Kita juga menyaksikan bagaimana orang mempraktikkan sihir. Ada yang menunjuk pada pakaian atau selembar kulit sebagai perantara dan membacakan mantra-mantra. Dan, lihat, sasaran itu putus dan robek. Dia juga menunjuk pada perut kambing di padang rumput, dan usus kambing itu putus.
Pembedaan Mistik - Magis - Putih dan Mistik - Magis - Hitam

Di tengah masyarakat kita mendengar orang membedakan ada ilmu putih ada ilmu hitam. "Ilmu" yang mereka maksud ialah mistikmagis itu. Pada bagian ini, Anda menemukan beberapa contoh "ilmu"

Ahmad Tafsir

101

dimaksud. Tidaklah dengan mudah saya menjawab seandainya Anda bertanya "Apakah ini ilmu putih" atau "Apakah ini ilmu hitam." Seringkali orang mengatakan bahwa "ilmu" ini putuh karena mantranya diambil dari al-Qur'an atau karena matranya menggunakan bahasa Arab. Betulkan demikian? Ada juga yang mengatakan bahwa putih atau hitam itu ditentukan oleh tujuannya, maksudnva, ditentukan oleh untuk apa "ilmu" itu digunakan.

102

Pandangan Keilmuan

Sungguh tidak mudah membuat perbedaan itu. Namun, secara teoritis, perbedaan itu dapat dilihat dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi mistik magis tersebut. Bila pada ontologi (misalnya mantranya) melawan ajaran benar (agama misalnya), maka "ilmu" itu kita golongkan hitam. Misal lain dalam ontologi, teorinya mengatakan bahwa mantra hams ditulis dengan menggunakan darah hail sebagai tintanya. Tentu ini tergolong hitam. Pada segi epistemologinya, seandainya melawan ajaran benar, maka "ilmu" itu kita katakan hitam. Misalnya, untuk mencapai tujuan "ilmu" itu kita harus berlari di tengah kampung dalam keadaan telanjang bulat, atau untuk mencapai tujuan "ilmu" itu seseorang hams memerawani tujuh wanita. Pada segi aksiologi juga demikian. Bila "ilmu" itu digunakan untuk tujuan melawan ajaran benar, maka ia akan aksiologi ia digolongkan hitam. Bila pelet digunakan untuk merekatkan suami isteri, pada segi aksiologi pelet itu putih. Bila pelet itu digunakan untuk memisahkan suami isteri, maka dari segi aksiologi pelet itu termasuk hitam. Suatu ilmu mistik magis haruslah lobos dalam uji ontologi, epistemologi, maupun aksiologinya. Tidak lobos dari salah satu saja berakibat "ilmu" itu dapat digolongkan hitam. Alat pengujinya ialah ajaran kebenaran.
1Vetralitas Pengetahuan Mistik

Sains yang begitu kelihatan netralitasnya, setelah direnungkan ternyata tidak netral. Pengetahua filsafat yang disangka cukup untuk disebut netral, ternyata lebih tidak netral dari pada sains. Pengetahuan mistik dengan mudah dapat dilihat bahwa ia tidak netral.

Ahmad Tafsir

103

Scbagian dari pengetahuan mistik adalah mengenai agama seperti surga, ncraka, tasauf. Bagian ini jelas sekali tidak netral. Isi ilmunya itu sendiri adalah ajaran agama yang jelas tidak netral. Mistik magis (baik yang putih maupun yang hitam) selalu memiliki sifat individualistik, karena itu ia subyektif. Bila subyektif, maka sudah jelas ia bersifat tidak netral. Apakah sebaiknya pengetahuan mistik bebas nilai? Seperti halnya sains dan filsafat, mistik juga harus tidak bebas nilai. Sekalipun kita menginginkan ia bebas nilai toh itu tidak mungkin, karena sifat pengetahuan mistik itu tidak bebas nilai.

104

Pandangan Keilmuan

DAFTAR PUSTAKA
'Abdul Hay Al- Farmawiy, Prof Dr, Al-Bidayah fi Tafsir Al-Mawadhu'iy, AlHadharah Al- 'Arabiyah, Cairo, cetakan II, 1977. Abdul Mun'im al-Namir dalam al-ljtihad, Dar al-Syuruq, Kairo, 1980. Abdul Haft Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam, Maktabah AI-Madrasah, Beirut, 1982. Abdul Jabbar, Al-Qadhi, Tanzih al-Qur'an 'an al-Matha'in, Dar al-Nandhah alHaditsah, Beirut, t.t. Abu Bakar Aceh, H. Prof.Dr., Sejarah Al-Qur' an, Pustaka Antara, Kuala Lumpur, 1973. Ahmad Amin, Fajr AI-Islam, Maktabah AI-Nandah AI-Mishriyah, Kairo, 1975. Ahmad 'Abd Al-Majid, dalam majalah Al-Arabiy, Kuwait, No. 222, Mei 1977. Ahmad, Asy-Syirbashi, Sejarah Tafsir Qur'an, Pustaka Firdaus, Jakarta, Cetakan Pertama, 1985. Ahmad, Ramali, Dr., Med., Peraturan-peraturan Untuk Memelihara Kesehatan Hukum Syara' Islam, Balai Pustaka, Cetakan Ketiga, Jakarta, 1968. AlIrqoni, Manahilul lrfan, Cet. ke-3, Mesir: Isa al-Badi al-Halabi, t.t. AI-Iman Baqir AI-Shadr, Al-Madrasah Al-Qur'aniyyah, Al-Sunan AI-Tarihhiyah fi AI-Qur'an Al-Karim, Dar AI-Ta'aruf, Beirut, 1980. A!-Sayuthi, Al-Itqan fi 'Ulum AI-Qur'an, AI-Azhar, Kairo, Jilid II, 1318 H. AlSuyuthi, Jalal Al-Din, 'Abd AI-Rahman, Al-Itqan fi'Ulum Al-Qur'an, Percetakan AI-Azhar, Mesir, 1318 H. A Ya'kub Matondang, Tafsir Ayat-ayat Kalam Menurut Al-Qadhi Abdul Jabbar, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan Pertama, 1989. Aqqad, "Abbad Mahmud Al-, Al-Falsafah. AI-Qur'aniyyah, Dar Al-Kitab AlLubnaniy, Beirut, 1974. Baqir Ash-Shadr, M., Sejarah Dalam Perspektif AI-Qur'an, Sebuah Analisis, Pustaka Hidayah, Get. Pertama, Jakarta, 1993. Dzahabi Muhammad Husains Al, AI-Tafsir, wa AI-Mufassirun, Dar Al-Kutub AlHadits, Mesir 1961. Ghazali, Abu Hamid, Al-Jawahir AI-Qur'an, Cetakan I, Percetakan Kurdistan, Mesir, t.t. _______, lhya 'ulum Al-Din, Jilid I, AI-Tsaqafah AI-Islamiyah, Kairo, 1336 H. Harun Nasution, Prof. Dr., Islam Ditinjau dari Berbagal Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1979. Hasan Ibrahim Hasan, Dr. Tarikh Al-Islam, Maktabah Al-Nandah Al-Mishriyah, Kairo, 1967. Ibrahim, Muhammad Ismail, Al-Qur'an wa l'jazuh Dar, al-Fikr al-Arabi, Mesir, t. t.. Katsir, 'Imad al-Din Abi al-Fida Tafsir al-Qur'an al-Azhim, AI-Haramain li a!-Thiba'at wa al-Nasyr wa al-Fauzi', Jiddat Singapore, t.t. Malik bin Nabi, Le Phenomena Qyrangue, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh, Abd Al-Sabur Syahin dengan judu! Al-Zhahirat Al-Queaniyah, Dar Al-Fikr, Beirut, t.t.

Maurice Bucaille, Dr., Bibel, Qur'an dan Sains Modern, Bulan Bintang, Jakarta, Cetakan kedua, 1979. Maraghi, Ahmad Musthafa, Al-, Tafsir Al-Maraghi, Al-Halaby, Mesir, 1946. Manna' al-Qattan, Mababits fi Ulumil al-Qur'an, t.t.p: Mansyurat al-Ashr alHaaditys, t.t., Maraghi, Musthafa, Ahmad al, Al-Tafsir Al-Maraghi, Mustafa al-Babi al-Halabi wa 'Auladuhu, Mesir, 1963. M. Quraish Shihab, Prof. Dr., Membumikan al-Qur'an, Mizan, Bandung, cetakan ketiga, 1993. Muhammad Fazi Al-Rahman Anshari, Dr, The Qur'anic Foundation and Structure of Muslim Society: terjemahan Ir. Juniarso dkk. Konsep Masyarakat Islam Modern, Risalah, Bandung, Cet. II. 1984. Muhammad Abduh, Tafsir Juz A.mma, t.t.p., Dar Mathabi' t.t. , Tafsir al-Manar, Kairo, Maktabah al-Qahirah, t.t. Al-Syathibi, Pentingnya Mengetahui Latar belakang turunnya ayat dan tradisi masyarakat Arab pada waktu turunnya al-Qur'an dalam penafsiran" Majalah Asy-Syir'ah, nomor 4, tahun ke XII, 1984, diterbitkan oleh Fakultas Syari'ah IAIN Suka Yogyakarta. Nurcholish, Madjid, Doktrin Islam dan Peradaban, Paramadina, Jakarta, Cetakan Pertama, 1992 Qurthubiy, Muhammad bin Ahmad AI-Anshariy, Al, Al-Jamili Ahkam Al-Qur'an, Dar al-Kitab AI-'Arabiy, Kairo, 1067. Qur'an dan Terjemahannya. Al-, Yayasan Penyelenggara Penerjemahani Penafsir Al-Qur'an, Departemen Agama Republik Indonesia, 1967. Rahman, Fazlur, Islam, Terjemahan, Pustaka Bandung, Cetakan Pertama, 1984. Raziy, Fakhr Al-din, Al-Tafsir Al-Kabir, Al-Muthaba'ah AI-Mishriyyah, Mesir, 1938. Syaltut, Mahmud, Al-Islam 'Adidah wa Syari'ah, Cetakan ill, Dar Al-Qa!am, Mesir 1966. Shabuniy, Muhammad 'Ali Al-, Tafsir Ayat al-Ahkam, Dar al-Calam, Beirut, 1971 Subhi al-Shanin, Dr., Mabahist fi Ulumul al-Qur'an, Beirut, 1973 Thabany, Muhammad Ibn Jarir, Ai-Jami' Al-Bayan fi Tafsir A-Halaby, Mesir, 1954. Thabathaba'iy, Muhammad Husains al-, Tafsir al-Mizan, Cetakan III Dar AlKutub AI-Islamiyyah, 1342 (tahun Persia). Thanthawi, Jauhari Syaikh, Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur 'an al-Karim, Musthafa Babi al-Halabi, Mesir, 1350 H. W Montgomery Watt, Pengantar Studi A!-Qur'an, Rajavva!i Pers. Jakarta, Cetakan Pertama, 1993. Zamakh Syari, Al-, Al-Kasysyaf, Dar al-Ma'rifah, Beirut, t.t.
,

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MENGINTEGRASIKAN ILMU (SAINS TAUHIDULLAH)*
Juhaya S. Praja. A. Pendahuluan Mengapa UIN? Kelahiran Universitas Islam Negeri (UIN) menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 di Indonesia menandakan upaya para cendekiawan Muslim di negeri ini untuk menghilangkan dikhotomi ilmu: ilmu umum dan ilmu agama dan sekaligus mengintegrasikan dalam kesatu paduan. Dikhotomi ilmu ini sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan sosial budaya masvarakat Indonesia. Pengaruh itupun nampak dalam perimbangan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaimana juga berpengaruh pada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sekolah umum dan sekolah Agama.1 Hal ini mempunyai akibat lanjutan, antara lain, mutu lulusan sekolah agama dianggap kelas dua; terjadinya perbedaan sikap dan cara pandang masvarakat terhadap lulusan keclua instirusi pendidikan umum dan agama. Hal ini diikuti dengan kurangnya peluang-peluang untuk mendapatkan posisi dalam struktur birokrasi dan mengisi lapangan kerja bagi lulusan sekolah agama, tetapi kuat bagi lulusan sekolah umum.
Tulisan ini disarikan dari sejumlah tulisan penulis, yaitu: Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia. Penerbit, Teraju, Jakarta, 2002. Harapan dan Masa Depan

UIN Malang, dalam Horizon Pendidian Islam, UIN-Press, Malang 2004; Rekonstruksi Paradigma Ilmu Dalam Islam, Orasi disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Filsafat Hukum Islam pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2000; Sains Tauhidullah, rnakalah disampaikan dalam rangka peringatan 70 Tahun Prof. Dr. Ir. Herman Soewardi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, 2005 ' JUHAYA S. PRAJA, Drs., MA., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Beberapa tahun yang !alp, aloksi APBN untuk anggaran biaya untuk empat belas 1A1N di seluruh Indonesia hanya setara dengan anggaran biaya satu fakultas di universitas negeri

92

Pandangan Keilmuan UIN

Kelahiran UIN juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah Yang dihadapi sejumlah universitas Islam swasta yang telah terlebih dahulu berdiri. Universitas Islam swasta yang selama ini penulis amati belum menyentuh esensi scbuah universitas Islam, terutama dalam mengitegrasikan ilmu. Ada sejumlah universitas Islam tanpa fakultas ilmu agama, atau, fakultas ilmu agama baru dibuka beberapa tahun kemudian.2 Ada pula universitas Islam yang terlahir dan fakultasfakultas ilmu agama Islam, namun kemudian fakultas-fakultas ilmu Agama Islam nampaknya agak terpinggirkan.3 Ada pula universitas Islam dengan tidak menampakan identitas Islam, melainkan menggunakan simbul kedaerahan dengan mini mengembangkan budaya lokal dan memelihara nilai-nilai Islam.4 Berdasarkan kenvataan tersebut, maka UIN diharapkan menjadi universitas masa depan integrasi ilmu bagi kepentingan umat manusia. UIN akan menjadi model universitas Islam yang berdiri di atas landasan warisan sejarah peradaban Islam yang terbukti telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, tulisan ini membahas hal-hal utama sebagai berikut: Pertama, kepeloporan kaum Muslimin dalam mengembangakan universitas sebagai pijakan sejarah; Kedua, mengembangkan ilmu secara universal tanpa dikhotomis ilmu agama ilmu umum sebagai integrator dan penghilang dikhotomi ilmu: agama dan umum; Ketiga, membangun ilmu berdasarkan paradigma-paradigma wahyu dan akal secara terpadu dan integral sehingga tidak tercabut dari akar kescjarahannya dari para pemikir Islam terdahulu; Keempat, membangun kesatupaduan antar disiplin ilmu; dan, membangun universitas berdasarkan atas teori-teori pendidikan Quranik dan kenyataan sejarah umat manusia.

B. Latar Sejarah Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai masa keemasanya pada abad ke-13M. Peradaban yang tinggi itu telah memberikan api semangat yang menerangi Barat sehingga keluar dari
Contohnya Universitas Islam Nusantara (UNINUS) di Bandung Contohnya Universitas Islam Bandung (UNISBA) Contoh Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung yang dalam satatutanya menyatakan berazaskan Islam dengan tujuan memelihara budaya Sunda dan Islam. Bagi masyarakat dan Paguyuban Pasundan, Sunda adalah identik dengan Islam.
2 3

94 Pandangan Keilmuan UIN Abad Kegelapannya menuju Abad Pencerahan. Akan tetapi, setelah Barat memasuki Abad Pencerahan, dunia Islam mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kehidupan. Lembaga-lembaga pendidikan Islam baru mulai terbuka kembali ketika memasuki abad ke-19 yang hingga kini telah melewati lima pase perkembanganya. Pase pertama pendidikan Islam sama sekali tidak terpengaruhi oleh kebudayan Barat. Pase kedua, para pemimpin pembaharu dunia Islam, karena beberapa alasan yang berbeda-beda, membuka lembaga pendidikan yang berbau dan bergaya Barat. Pase ketiga, pendidikan Islam pada masa penjajahan berada di bawah subordinasi dan kepentingan penjajah. Pase keempat, Negara-negara yang barn memperoleh kemerdekaanya membuat unifikasi sistem pendidikan dan memperluas berbagai jenjang dan tingkat pendidikan. Pase kelima, tokohtokoh Islam menyerukan untuk 5 "mengislamkan" pendidikan. Kelima pase perkembangan pendidikan ini bervariasi dan berbeda pelaksnaannya di dunia Islam, di antaranya ada yang telah terlebih dahulu maju dalam satu-dua pase. Kerajaan Usmani telah terlebih dahulu memasuki pase perkembangan pendidikan kedua pada tahun 1773 dengan membuka pendidikan angkatan lautnya; sementara Yaman Utara dan Saudi Arabia baru mulai pase yang sama pada tahun 1950-an. Pemerintah kolonial Belanda memulai pase ketiga sebelum tahun 1800, sementara itu pase yang sama di Siria dan Iraq baru terlaksana setelah Perang Dunia Pertama. Turki dan Irak meraih kemerdekaannya dalam pase keempat perkembangan pendidikan Islam, yakni tahun 1920an. Sementara negara-negara Emirat dan Teluk belum memasuki pase keempat hingga Inggris meninggalkan negeri-negeri tersebut pada tahun 1971.6

Juhaya S. Praja 95 Pase kelima perkembangan pendidikan Islam merupakan tantangan bagi Islmisasi nilai-nilai Islam dalam dunia pendidikan. Pase ini terpicu oleh serangan Israel ke tanah Arab pada tahun 1967, membumbungnya harga minyak dunia yang diikuti perang 1973, dan berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979. Semuanya mendorong revivalisme Islam secara internasional. Kita perlu mencatat, bahwa pendidikan Islam Indonesia yang paling awal berbasis pada pondok
5

Donald Malcolm Reid, Educational Institutions, h.

412 Ibid
6

96 Pandangan Keilmuan UIN pesantren. Setelah Indonesia merdeka, upaya memperbaharui sistem pendidikan terus dilakukan sehingga madrasah pun diperkenalkan ke dunia pondok pesantren, kemudian sekolah dan akhirnya perguruan tinggi. Mengingat sistem pendidikan sekolah dan perguruan tinggi itu mengacu pada sistem pendidikan Barat, tentu saja di sana sini diperlukan penyeseuaian-penyesuaian. C. Kepeloporan Kaum Muslimin Dalam Mengembangkan Universitas Kiranya tidaklah berlebihan jika Stanwood Cobb' menyatakan bahwa universitas pertama di dunia didirikan oleh kaum Muslimin pada abad kesembilan, pertama di Bagdad dan menyusul di Cairo, Fez, Cordoba dan di kota-kota Muslim lainya. Universitas Al-Azhar di Cairo adalah universitas tertua yang ada di dunia hinga dewasa ini. Universitas yang didirikan pada abad kesepuluh ini hingga kini mempertahankan tradisinya sebagai pusat kajian teologi Islam terkemuka di dunia. Universitas Cordova dan Toledo sangat masyhur di kalangan orang-orang Eropa, Para pangeran Krisdani seringkali merawat dirinva di rumah sakit-rumah sakit universitas Islam karena pada scat itu rumah sakit di Eropa tidak memenuhi keperluan mereka. Sejak awal abad ketiga belas berbagai universitas tumbuh di scluruh Eropa: Bologna, Padua, Paris dan Oxford. Di universitasuniversitas tersebut, dan di universitas yang didirikan kemudian, orang-orang Kristen Eropa mempelajari untuk pertama kalinya mata pelajaran yang benarbenar sekuler, seperti astronomi, filsafat, dan ilmu kedokteran, dengan menggunakan buku-buku teks yang diciptakan oleh orang-orang Yunani kuno dan masa Helenis serta buku-buku teks yang diciptakan oleh orang-orang Muslim jenius.8 •

Juhaya S. Praja 97 Stanwood Cobb lebih jauh menyatakan bahwa kerajaan kaum Muslimin diciptakan dengan keinginan kerjasama dengan orangorang Yunani, Persia, Coptis, Kristiani, Magisian, Sabean dan Yahudi. Akan tetapi, bantuan mereka bagi kaum Muslimin tidak dapat menjelaskan apa yang disebut mukjizat ilmu Arab (the miracle of Arabic science).

Stanwood Cobb, Islamic Contribution to Civilization, Avalon Press, Washington, DC., 1963, p. 57
8

Ibid., h. 58

98

Pandangan Keilmuan UIN

Penggunaan kata mukjizat di sini sebagai simbul ketidak mampuannya untuk menyatakan prestrasi yang dicapai kaum Muslimin yang incredible. Konstribusi Arab Muslim bagi peradaban yang luar biasa yang pada saat yang sama dibandingkan dengan pengaruhnya bagi Eropa yang sedang berjuang keluar dari Zaman Kegelapan ada sepuluh bidang ilmu sebagai berikut:. 1. Medical Science. Konstribusi kaum Muslimin bagi Eropa pada abad Tengah terutama dalam bidang ensiklopedi. Para pakar Muslim di bidang ini, antara lain: Al-Razi yang dikenal di Eropa dengan nama Rhazes (865-925) orang Persia yang tinggal di dekat kota Teheran sekarang, menulis ensiklopedi kedokteran yang amat penting Al Hari, yang kemudian dikenal di Eropa dalam bahasa Latin, Continens yang diterbitkan di Sicilia tahun 1297. Ibn Sina yang di Eropa dikenal dengan nama Avicenna (980-1037). Ia adalah salah seorang intlektual jenius terbesar dunia. Pada usia dua puluh satu tahun is telah membaca buku-buku yang ada di perpustakaan Sultan Bukhara. Bukunva Puamin (Canon) yang disajikan kepada dunia adalah kodifikasi pernikiran medik YunaniArab. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerrd dari Cremoa pada abad kedua belas dan menjadi buku teks yang paling terkemuka pada Abad Tengah serta digunakan di sekolah medis seluruh Eropa.
-

2. Chemistry. Ilmu kimia berasal dari bahasa Arab alkimya Yang dikenal pada Abad Tengah Eropa dengan alchemy hingga Abad Pencerahan, istilah ini sinonirn dengan chemistry. Penemuan terpenting sarjana Muslim adalah formula yang dapat merubah metal menjadi emas. Mereka membuat formula untuk membuat tiga acid mineral utama yang digunakan dunia modern: nitric acid, sulphuric acid dan hydrochloric acid. Mereka juga menemukan ilmu

Juhaya S. Praja 99 distilasi, oksidasi dan cristalisasi; juga membuat alkohol. Bapak Klinia Arab adalah Jabir yang dikenal di Eropa dengan nama Geber.

3. Astronomy, Geography, dan Navigasi. Kaum Muslimin mengembangkan ilmu dan keterampilan astronomi, geograpi, dan navigasi serta merumuskannya kedalam struktur pengetahuan

100

Pandangan Keilmuan

praktis. Mereka mampu memanfaatkan sumbersumber Yunani, dan memperkenalkan karya Plotemy ke dalam kehidupan skolastik Eropa. Ahli navigator Muslim memungkinkan Pangeran Henery melatih para pilotny a sehinga dalam waktu cepat dapat mencapai Portugal dengan kapal laut tercepat dan terbaik di Eropa sat itu. Bahkan Colombus pun mustahil mencapai benua Amerika tanpa jasa navigator Muslim, yang dikenal dalam sejarah Islam Amerika, bernama Abdul Majid. 4. Sistem Desimal. Kaum Muslimin berjasa di bidang ini karena menemukan angka nol (0) dalam sistem desimal. Tanpa prestasi ini tidak memungkinkan sains modern berkembang seperti sekarang ini. Morris Kline (Mathematics in Western Culture: Oxford Press) menvatakan bahwa penemuan kaum Muslimin ini memungkinkan anak-anak sekolah dasar dapat dengan mudah belajar matematika. 5. Aliabar. Aljabar adalah bahasa Arab. Berdasarkan warisan Yunani, Aljabar dikembangkan oleh ahli matematika Muslim antara tahun 800-1200 sehingga menjadi alat bantu sains yang sangat penting. Ilmu ini memasuki Eropa melalui Spanvol dan Sicilia. 6. Kertas. Kertas diperkenalkan kepada kaum Muslimin dan Eropa berkat kemenangan bangsa Arab atas Asia dan Afrika pada abad kedelapan. Tahun 751 orang-orang Arab di Samarkand dan tawanan perang dari Cina yang mempunyai keterampilan membuat kertas menjadi instruktur pembuatan kertas yang di Mesir kemudian dikenal dengan papirus. Pembuatan kertas mulai diperkenalkan abad ke-12 di Spanvol. Pakar kertas Muslim di Sicilia mengajarkan pembuatan kertas kepada orang-orang Itali. Sementara pabrik kertas pertama didirikan tahun 1276 di kota Fabriano, Itali dan menvusul di kota-kota lain. Eropa memanfatkan kertas ini untuk mencetak buku dengan diketemukannva mesin cetak tahun

Juhaya S. Praja

1440.

101

7. Bubuk Mesiu. Kaum Muslimin belajar bubuk mesiu dari Cina, akan tetapi mereka memanfatkanya untuk sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang Cina itu sendiri. Mereka memanfaatkanya untuk membuat senjata api. 8. Tekstil. Orang Eropa pada Abad Kegelapan hingga abad Tengah masih menggunakan pakaian dari kulit dan atau bulu hewan.

102

Pandangan Keilmuan

Tentara Perang Salib memperkenalkan pakaian yang dipakai kaum Muslimin. Kaum Muslimin Spanyol dan Sicilia mengajarkan orangorang Kristen membuat tekstil dan mereka pun rnengajarkan cara bertanarn ulat sutera dan memperoduksi kain sutera. Maka pada masa Pencerahan Eropa telah mengenal kain sutera. 0 Produk Agrokultur. Makanan pada Abad Tengah Eropa adalah monoton. Masyarakat Eropa memakan daging, roti yang diguyur wine, atau beer; bawang putih, bawang merah, cartel. Tentara Salib mulai mengenal rneja makan dan nasi yang dimasak dengan berbagai cara. Maka nasi pun menjadi tambahan makanan orang Eropa yang diperkenalkan kaum Muslimim via Spanyol dan Sicilia. Demikian halnya kopi dan gula. Kaum Muslimin belajar dari orang persia dan mengernbangankanya secara besar-besaran di Stria, Spanyol dan Sicilia. Meialui tentara Salib 0,11- yang dalam Bahasa Arab diseliut sukkar diperkenaikan ke Eropa dengan nama .czt,p„ar Minurnan orang Islam diberi manisan gula yang disebut yarab dan dipericca-,aikan ke Eropa dengan sebuta ro p yang diambil dari kata c_ Arab syarab. 10. Mesin (Machine73). Ketika kaum Muslimin Arab menguasai Mesir pada tahun 641 dan mengambil posisi di Aleksandria, mereka menemukan kreativitas orang Yunani, yakni karva Hero, illerbani6iimeneriemahkanya dan mengaplikasikan prinsipprinsipnya ke dalam dua penemuan barn, yaitu kincir air dan kincir angin. Kincir air menumbuhkan irigasi dan waduk. Sedangkan kincir angin pertama dibuat tahun 640 atas perintah Khalifah Umar bin Khattab. Kincir angin ini berkembang kegunaanya bagi pertanian gandum, gula dan pompa air. Kemudian diperkenalkan ke Eropa

103 melalui Maroko dan Spanyol. Secara singkat, peradaban Islam mencatat pengembangan ilmuilmu yang bersifat universal yang didirong oleh semangat keagamaan dalam rangka melaksanakan ajaran Islam yang meliputi, Iman, Islam dan Ihsan.

Juhaya S. Praja

D. Membangun Sains Tauhidullah Berdasarkan Paradigmaparadigma Warisan Intelektual Muslim
Penulis berupaya merumuskan sejumlah paradignua ilmu

104

Pandangan Keilmuan

berdasarkan telaah kritis atas sejumlah karya ulama yang menjadi dasar bagi lahirnya apa yang dapat disebut sains tauhidullah. Dengan kata lain, kelahiran ilmu-ilmu dalam Islam didasarkan atas keinginan menyempurnakan ibadah kepada Allah. Oleh karena itu, sejarah mencatat bahwa ilmu falak (astronomi) adalah ilmu yang pertama kali lahir di dunia Islam dengan tujuan untuk menyelenggarakan ibadah (solat, puasa, dsb) yang waktunya mengikuti peredaran bulan dan matahari. Maka, ilmu astronomi bukanlah ilmu sekuler sebagaimana dalam pandangan Barat, melainkan ilmu tauhidullah. Ia lahir karena dorongan perintah shalat dan puasa. Ilmu ini terpicu kelahirannya, karena tujuannya untuk menyempurnakan manusia dalam beribadah kepada Allah. Paradigma-paradigma tersebut divaraikan secara singkat berikut di bawah ini: 1. Teo ri Te nt a ng Si f a t s e t i ap Il m u: "S ub je kt i v i t a s " d a n "Objektifitas" Teori ini menjadi dasar Ilmu Kalam dan IlmuIlmu lainnya. Teori ini dirumuskan dari Oa'idah "adzimah mutsya'ibah" yang dapat diterjemahkan secara bebas "Teori agung bercabang banyak". 9 Teori ini menvatakan bahwa setiap ilmu memiliki dua sifat. Pertama, sifat tabi' yang dapat diardkan "sifat obyektif"; kedua, sifat matbu' yang dapat diartikan "sifat subyektif'. Selanjutnya disebut Ilmu Obyektif disingkat 10 dan Ilmu subyektif disingkat IS. IO ialah ilmu yang keberadaan obyeknya tidak bergantung kepada ada atau tidak adanya pengetahuan si subyek (manusia) tentang obvek tersebut. Obyek ilmu itu ada, tanpa bergantung kepada apakah is telah diketahui atau belum diketahui oleh si subvek ilmu, yakni manusia.

Keberadaan obyek ilmu agama, seperti105 tentang Allah dan RasulNya, tidak bergantung kepada ada dan tidak adanya pengetahuan manusia tentang adanya Tuhan dan Rasul. Allah ada, baik manusia telah mengetahui keberadaan-Nya, maupun belum. Adanya pengetahuan manusia atau tidak adanya pengetahuan manusia tentang
lbnu Taimittah, ihnu Ushul al-Filth, FATAWA, Juz XIX-XX, Riyadh, al-Mamlakah al-'Arabiyah al-Sa'udiyyah.
9

Juhaya S. Praja

106

Pandangan Keilmuan

keberadaan Allah tidak menyebabkan ada dan tidak adanya Allah. Allah tclah ada dengan sendiri-Nya. Keimanan dan kekufuran manusia kepada Allah tidak berpengatuh bagi keberadaan-Nya. IS ialah ilmu yang -)byeknya tergantung kepada ada dan tidak adanya pengctahuan si subyek (manusia). Ilmu ada jika manusia mengetahui keberadaan ilmu itu. Demikian sebaliknya. Ilmu its tidak ada jika manusia tidak mengetahui keberadaannva. Jika. IS ini diterapkan kepada Allah sebagai "obvek" ilmu, maka Allah adalah Dzat yang Ada dengan sendiri-Nya. Selain diri-Nya adalah makhlukmakhluk-Nya. Sebagairnana halnya perbuatan manusia, seperti duduk, berdiri, makan, bepergian, dan sebagainya yang hanya dapat berwujud apabila ada kehendak manusia, sebagai subyek ilmu, untuk rnewujudkannva. Teori sifat ilmu ini menjadi dasar bagi ilmu kalam atau ilmu tauhid. 2. Tauhidullah: Ilmu Tauhid Dasar Ilmu Keagamaan dan Ilmu Kealaman Walaupun tauhidullah telah menjadi dasar ilmu agama dan kealaman, namun dikhotomi ilmu agama dan umum di kemudian hari mungkin dipengaruhi oleh pembidangan ilmu yang berkenaan dengan agama dan tentang yang ada (kealaman) yang disebut al Vm bi al din iva ai' lm bi al ka'that dalam karya Ibn Taimiyyah. Tauhidullah adalah kelanjutan dan konsekuensi logic dari Teori Sifat Ilmu. Sejarah ilmu-ilmu Islam mengenal al Fiqb al Akbar yang berkonotasi ilmu Tauhid dan al Wm al A.rbgar yang berkonotasi ilmu Ushul Figh. Oleh karena itu, maka secara garis besar ilmu dibagi dua. Pertama, Ilmu Agama atau al-Vm bi al-din. Kedua, ilmu-ilmu kealaman a t a u b i a l ka'inat.1°
-

3. Al-Ruju' Ila Al-Qur'an Wa Al-107 Sunnah: Al-Qur'an dan P e n j e l a s a n n y a M e l a l u i S u n n a h A d a l a h D a l i l y a n g Melahirkan Ide-Ide Keilmuan (Scientific Ideas). Al-Qur'an dan sunnah adalah rujukan ilmu-ilmu Islam. Al10

Juhaya S. Praja

al-Kawakib a! —Azhar syarh al-Fiqh alakbar, Makkah, am-maktabah aI-Tijariyah, (n.d). ibn Taymiyah, al-Suluk, FATAWA, XI, Riyadh, alMamlakah al-'Arabiyah al-Sa'udiyah

AI-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi'i,

108

Pandangan Keilmuan

Qur'an adalah Kitab suci; himpunan wahyu yang merupakan "dalil" ilmu-ilmu. "Dalil" di sini dimaksudkan petunjuk adanya ilmu-ilmu. Bukan ilmu itu sencliri Oleh karena itu, sejarah menunjukkan adanya fakta bahwa al-Qur'an mendorong umatnya untuk menciptakan ideide rains yang manjadi dasar ilmu-ilmu di kemudian hari.11 Ilmu-ilmu Islam dibangun atas dasar kebenarankebanaran yang bersifat otoritatif atau al nagliyat wa al mutaivatirat yakni para pemegang otoritas di bidangnya melalui dara-data yang diteransmisi secara berkesinambungan; data-data empirik atau al tajribat al hissiyah yang meliputi alhadasiyat wa 12 ahmtgarrabat. Ibnu Sina (avicine) membedakan antara pengalaman empirik yang disebut al hadaszjiat dan almularabat. At hadasiyat adalah data-data empirik yang terjadi diluar kemampuan manusia untuk menciptakannya, seperti gerhana, gempa burni, dan sebagainva. Pengalaman empirik yang disebut al mujarabat ialah pengalaman yang dapat diciptakan manusia atau dibuat eksperimen.
-

Iirnu-ilmu Islam pun dibangun atas dasar kebenaran-kebanaran rasional (aqiiyh) yang 13 melahirkan ilmu murni; dan, dibangun pula atas dasar pengetahuan intuitif (al kasyfiyah). Pengetahuan terakhir ini memungkinkan lahirnva ilmu tasawuf amali disamping tasawuf falsafi (filsafat tasawuf) dan tasawuf (tasawuf ilmivah). 14
,

4.

Persesuaian Antara Akal Dengan Wahyu Muwafaqat AlShahih Al-Manqul Lishahih AlMa'qul Pada hakikatnva wahyu dan akal tidak mungkin bertentangan. Wahvu telah benar dengan sendirinya. Argumen akal tentang kebenaran wahyu tidak menjadikan wahyu itu benar. Demikian sebaliknya, argumen akal yang

menyatakan ketidakbenaran wahyu tidak109 menjadikan wahyu itu tidak benar. Namun demikian, apabila
Fuad Sizkin, Tarikh al-Hadlarat wa al-tfium allslamiyah (Sejarah Peradaban dan Ilmu-Ilmu !slam), Riyadh, Universitas King Abdul Aziz; Abu Ya'la, "a/-'Uddah fi Syarh al-`Umdah", dan syarahnya al-Kawkab al-Munir (tiga jilid); Charles Singer, A Short History of Scientific Ideas to 1900, Oxford University Press, 1968. The sources of Islamic Knowledge, Virginia, 1984. M.A.K Lodhi (Ed.), Islamization of Attitudes and Practices in Science and Technology, IIIT and AMSE, Virginia 1404H/1989M. Akbar S. Ahmed, Toward Islamic Antropology, lilT, Virginia, 1986. Ibn Taymiyah, Al-Radd 'ala aI-Manthiqiyin (Sanggahan terhadap Ahli-ahli Logika), Mesir, (n.d); Ibn Sina, al-Hidayah, Kairo, (n.d). 13 Cf. Charles singer, Loc.Cit. Abdul Halim Mahmud, Falsafah al-Tashawwuf, al-Risalat al-Qusyairiyah, Kairo (n.d).
12 "

Juhaya S. Praja

110

Pandangan Keilmuan

akal melakukan penalaran yang valid, maka is akan sesuai dengan wahyu yang ditransmisi secara sahih. Kesahihan proses transmisi data otoritatif melahirkan ilmu tafsir dan ilmu hadis yang kemudian menjadi landasan lainnya dan landasan filsafat Islam. 1 5 5 . P o ko k - P o ko k Agama dan Cabangc a b a n g n y a T e l a h Dijelaskan Rasul: Inna Ushul AI-Din Wa Furu'aha Qad Bayyanaha Al-Rasuli 6 Lapangan kajian ilmu sangat luas. Sementara pokok-pokok ilmu agama telah selesai dan dijelaskan Rsul. Oleh karena itu, dengan berakhirnya tugastugas kerasulan Muhammad, maka berarti bahwa pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya telah dituntaskan oleh Nabi Muhammad Saw. Argumentasi ini didukung pula oleh turunnya avat terakhir yang menyatakan kesempurnaan Islam. Oleh karena itu, maka lahirlah dua kaidah utama ilmu hukum yang meliputi ibadat dan mua'amalat.
Pertama, kaidah hukum ibadat bermuara pada kaidah: Hukum dasar dalam ibadah ialah tidak melakukannya dan hanva mengikuti perintah Allah dan Rasul Nya. Al-ashiu fi al-ibadah al-taniqif wa alittiba'. Kedua, kaidah hukum mu'amalat bermuara pada kaidah yang menyatakan bahwa hukum dasar dalam mu'amalat adalah mubah sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Al-AsIdu Ji almu'amalat al-ibahah hattayadulla al-dalil `ala tahrimih. Kedua kaidah hukum ini memungkinkan pengembangan mu'amalat menjadi sangat elastis dan fleksibel. Sementara dalam bidang ibadah dianggap sudah final, kecuali pada tingkat-tingkat praktisnya.
-

6. Keadilan: Al-Mizan, dan A1-Qisth"17 Keadilan di sini adalah moderasi dan

111 keseimbangan. Maka istilah dalam alQur'an, cilia& dengan al-mizan berhubungan erat dengan
Ibn Taymiyah, Minhaj al-Sunnah, (2 jilid). Najmuddin al-Hanafi, al-Asybah wa al-nadzair, Cf. Jalaluddin al-Suyuthi al-Asybah wa al-Nadzair, Ahmad al-Borneo, Al-Wajiz fi al-Qawa'id al-Fighiyak Ibn Taymiyah, Ma'anj alWushul, (n.d). perhatikan term al-'adl da1an al-Qur'an surat al-nisa':58; al-Nah1:70 dan 90; term al-Mizan dan al-Qisth dalam al-Qur'an surat al-an'am:152; Huud:84-85; al-Hadid: 25; al-Rahman:7-9: term alQisth dalam surat Ali lmran:18; al-Nisa.35 dan al-Maidah:8.
15 17

Juhaya S. Praja

112

Pandangan Keilmuan

makna al-shirat al-mustagim, jalan lurus sebagaimana dimaksudkan surat al-Fatihah ayat terakhir. Maksudnya ialah jalan yang dilalui mereka yang mendapat nikmat Tuhan, yakni para Nabi dan Rasul Allah. Sementara itu, istilah al-Qur'an al-mizan dan al-Firth mengandung makna praktis yakni keadilan dalam kehidupan nyata. Maka, keadilan d a l a m p e ng er ti a n a d a l a h p e r s e s u a i a n - p e r s e s ua i a n, a t a u harmoni, yaitu: 1. Persesuaian antara ucapan dan perbuatan. 2. Persesuaian antara iman, ilmu dan amal. 3. Persesuaian antara kemestian dengan kenyataan atau antara das .rein dengan das 4. Persesuaian antara kemampuan manusia dengan pemenuhan hak dan kewajibannya. Implementasi ilmu sesuai dengan apa yang semestinya dengan apa adanya dalam kerangka prinsip dan praktis keadilan, maka dapat dinyatakan bahwa: 1. Ilmu adalah seni. 2. Ketika ilmu dilaksanakan dalam kenyataan, maka ilmu adalah seni memilih. 3. Ketika hams memilih, maka hams memilih yang terbaik. 4. Ketika harus melaksanakan pilihan, maka melaksanakan pilihan tidak selamanya yang terbaik melainkan memilih yang paling mungkin. 7. Kebenaran Itu Ada Dalam Kenyataan Bukan Dalam Alam Pikiran. "Al-Haqiqah Fi Al-A'yan La Fi AlAdhzhan" Paradigma ketujuh ini boleti juga dinyatakan sebagai prinsip filosofis ilmu yang merupakan kelanjutan dari paradigma sebelurnnya, yakni keadilan. Kebenaran dalam kenyataan ini sangat

113 mendorong berkembangnya ilmu-ilmu empirik. Di samping itu, is mendorong pelaksanaan Islam dan pembangunan masyarakat Islam yang disesuaikan dengan kenyataan-kenyataan sosial. Oleh karena itu, sangat diperlukan (necessay) untuk mengembangkan sociology of religion dan religious sociology dalam rangka pengembangan masyarakat Islam. Religious- sociology mengandung pengertian bahwa sosiologi dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan pranata keagamaan. Sedangkan

Juhaya S. Praja

114 Pandangan Keilmuan sociology of religion adalah kajian sosiologis terhadap fenomena agama.1 8 8. Teori Fitrah (Nadzariyat Al-Fitah). 19 Teori fitrah ini dinimuskan dari al-Qur'an (surat al-Rum:30) yang menyatakan bahwa manusia terlahir dengan ide bawaan yang disebut fitrah. Fitrah itu terdiri dari tiga daya utama, yaitu: 1. Akal (qunixat berfungsi untuk mengenal, mengesakan, dan mencintai Tuhan. 2. Syahwat (qivniat al syabwat) berfungsi untuk menginduksi segala yang menyenangkan. 3. Ghadlab (quwavat algadlaN berfungsi untuk mempertahankan diri. Memfungsikan ide-ide bawaan yang inheren di dalam diri manusia itu rnemerlukan ba.ntuan dari luar dirinya yang bersifat eksternal. Akan tctapi, faktor eksternal yang dapat membantu memfung-sikan ide-ide bawaan itu harus sesuai dengan potensi yang tclah ada secara inheren di dalam diri manusia. Faktor eksternal itu tiada ialah al fitrah allnuna:z5zalah (wahyu). Nisbah antara ide bawaan atau fitrah dengan fitrah inunaf,7:zalab ialah: nisbah rnata dengan cahaya.
-

Sementara itu, alat untuk mengawali perolehan ilmu di dalam diri manusia ialah gall) atau kalbu. Kalbu adalah awal (pusat) kegiatan akal (aql) dan intelektualisasi yang berakhir di otak. alfikr gall2 wa muntabahu al-dimagh. 9. Ilmu-Ilmu Islam dan Misi Manusia "Al-Istikhlaf Wa Isti'mar Al-Ardl Al-lbadah" Bagian akhir ini adalah aspek aksiologi filsafat ilmu-ilmu Islam. Berdasarkan aspek ontologi dan epistemologi ilmu dapat dikctahui bahwa manusia

mernpunyai tugas kekhilafahan115 (vicegerent) yang "mewakili" Tuhan di muka bumi. Manusia dengan segala dayanya, baik yang inheren maupun daya eksternnya mengemban tugas: 1. Menguasai dan mengontrol bumi ini dengan cara membudidayakannya dengan sarana beribadah. 2. Menguasai dan menciptakan peradaban dalam rangka beribadah
William M. Newman, the Social Meaning of Religion, Chicago,Rand McNally Colledge Publishing Company, 1974, p. 11. Disarikan dari karya Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' "Chum al Din dan ibn Taymiyah,
18 19

Juhaya S. Praja

-

Dar' ta'arud al-Aql wa al-Nadi.

116

Pandangan Keilmuan

kepada Allah dengan melaksanakan amar ma'ruf nahyi munkar. Tugas dan fungsi manusia itu tidak akan terwujud kecuali dengan penguasaan atas ilmu dan teknologi. Kesembilan paradigma ilmu di atas dapat dijadikan landasan UIN bagi pengembangan bidangbidang disiplin ilmu yang padu tanpa memilah antara ilmu agama dan ilmu lainya. Tidak ada dikhotomi antara ilmu agama dengan ilmu kealaman dan lainya.2° Gagasan membangun sains Tauhidullah akan menjadi lebih konkrit, dan upaya pengembangan dua pohon ilmu itu menjadi ciri khas Universitas Islam Negeri. (1) Pengembangan Dua Pohon Ilmu secara bersamaan ialah tidak sekedar secara bersamaan, akan tetapi "dalam Kesatu-Paduan". (2) Langkah 2 (ilmu Tauhid), langkah 3 (Scientific Ideas), dan langkah 4 (hubungan antara Akal dan Wahyu) dinyatakan "dalam satu nafas", karena ketiganya itu sangat erat berkaitan dan tidak dipilah pilah. (3) Istilah "ilmu-ilmu Kealaman" diganti dengan "Ilmu atau Sains Empirikal' karena Ihnu Kealaman hanya mencakup sebagai kecil saja dan Ilmu-ilmu Empirikal. Mengapa "Kesatu Paduan". Bila kita mengatakan "secara bersamaan", maka mungkin sekali "pohon A" dan "pohon B" berkembang secara terpisah, bahkan secara bertolak belakang. Bersamaan artinya tak lain adalah "pada waktu yang sama", dan tak perlu ada kaitan di antara keduanya. Inilah pengembangan kedua pohon ilmu itu yang terjadi sekarang, misalnya di "Universitas-universitas Islam". Namun, bila kita mengatakan "dalam kesatupaduan", maka berarti bahwa kedua pohon itu telah

menjadi padu, atau menjadi satu. Dan, saya kira, ilmu itu landasannya satu, yang satu ini diciptakan oleh Allah SWT, namun bercabang, yang kita sebut "diferensiasi". Cabang yang satu disebut "Ilmu Agama", yang bersifat sangat deduktif, sedangkan yang lain lagi disebut "Ilmu (Sains) Empirikal", yang terutama bersifat induktif empirikal. Namun, secara Islami, sains empirikal harus tetap dipandu oleh Tuhan Pencipta, dan tidak boleh
Herman Soewardi (Guru Besar Filsafat Ilmu Universitas Padjadjaran), Upaya Pengembangan Dua Pohon Ilmu Secara Bersamaan, Sebuah Apresiasi terhadap Dua Karya Prof. Dr Juhaya S. Praja "Fiisafat Ilmu" dan "Rekonstruksi Pardigma Ilmu" (Orasi limiah Sabtu, tanggal 1 April 2000, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung)
20

118

Juhaya S. Praja

lepas dari ini. Hal ini akan menjadi jelas dengan uraian-uraian di belakang. Dengan kesatupaduan ini berarti kita memasuki era baru dalam pengembangan ilmu, yang sebetulnya kedua ilmu itu berbeda, bahkan bertolak belakang. Ini tcrjadi karena ilmu kealaman (atau sains empirikal) itu, berkembang di bawah panji-panji positivisme, yang menghilangkan keberadaan Tuhan di bidang sains. Adapun ilmu empirikal sebagaimana telah dikembangkan dulu dalam masa kejayaan Islam (abad 7 s/d abad 13) telah pudar. Maka pengembangan sains empirikal, dalam kurun itu (abad 7-13, "Islamisasi"), lain sekali dengan apa yang terjadi dalam kurun sekarang (abad 14-20, "Westernisasi"). Mengapa hares diucapkan "Dalam Satu Napas"? Sembilan langkah (atau paradigma), kita buat visualisasinya tanpa merubah pengertiannya. Maka skema pohon itu akan menjadi: POHON SAINS TAUHIDULLAH: SATU POHON ILMU YANG BERCABANG

"Obyektifitas" dan "Subyektifitas" Ilmu

2. Ilmu Tauhid 3."Scientific Ideas 4. Wahyu dan Akal

Sains Tauhidullah

Cabang Ilmu Agama 5. 6. 7. 8. 9. (Ilmu Humaniora)

Cabang Ilmu Empirikal

Ilmu Formal (Logika, Matematika, Statistika) Ilmu Sosial

V

Ilmu Kealaman

120

Pandangan Keilmuan U/N

Uraian 1. Sebagai konsekuensi logis dari "kesatu-paduan" ilmu, maka ilmu itu herupa SATU pohon, yang bercabang, ialah Ilmu Agama (dedukrii) dan Ilmu Empirikal (induktif). Ilmu Agarna bentuknya apa yang sekara.ng disel Ilmu Humaniora. Cabang itu adalah Ilmu Agama (Ilmu Humaniora) dan 11rnu Empirikal (Ilmu untuk mengungkapkan keperilakuan, baik manusia atau mikrokosmos maupun jagat raya atau makro-kosrnos). 3. Diantara kedua cabang itu adalah "landasan" ilmu, yang rnembantu ilmu Agarna maupun Ilmu Empirikal. Ilmu ini disebut ilmu Formal, yang terdiri dan sirnbol-simbol yang tidak bertalian dengan alam empirikal, bersifat NETRAL, disebut oleh Plato Innate Inilah yang kita sebut FITRAH Manusia, yang timbul bersama ketika manusia lahir. Kemampuannya luar biasa, apa yang kita sebut AKAT,. Akal bersifat Netral, is hanya mengolah apa yang masuk melalui pengindraan, yang kemudian diolahnya, dan hasilnya dipresentasikan sebagai "ILMU". Karena itu ilmu (terutama Ilmu Emprikal) sangat tergantung kepada pengindraan. Bila jelek, jelek pula presentasinya, dan sebaliknya.

4. Cabang Ilmu Empirikal: inilah ilmu untuk menguak keperilakuan, baik manusia (mikrokosmos) maupun jagat raya (makrokosmos). Prosesnya adalah masukan melalui pengindraan, yang kemudian diolah oleh akal, dan hasilnya dipresentasikan sebagai ilmu empirikal, ialah ilmu tentang keperilakuan (behavior). Ilmu empirikal sangat tergantung dari masukan melalui pengindraan itu. Ternyata pengindraan manusia itu sangat lemah. Kelemahan ini dari segi Ilmu Agama diuraikan oleh Abdurrahmn Habanakoh (1998), dan dan segi SBS diuraikan oleh Kuhn dan Tarnas, dan pakar-pakar lain seperti Wundt dan banyak

eksperimen. Karena itu Ilmu Empirikal yang kini berlaku merupakan ilmu yang "melenceng", karena pengindraan yang tak benar, ini dikatakan oleh Tarnas bahwa di depan mata kita ada sebuah lensa yang dibentuk olch nilai, pengalaman, trauma, dan sebagainya. Inilah sebabnya pokok mengapa akhirnya SBS bermuara pada 3-R itu. 5. Ilmu Empirikal dapat kita simpulkan bahwa "melenceng"nya SBS disebabkan oleh pengindraan yang lemah itu (terutama observasi),

Juhaya S. Praja

122

sehingga manusia tidak mengetahui jagat raga yang sebenarnya. Orang-orang Barat, dengan pernyataan ini, menjadi kalang kabut: bagaimana rnelanjutkan SBS itu sebenarnya. Pakar-pakar Barat menginsyafi tentang hal ini. Namun kaum Muslim tidak perlu terperanjat karena mernang pengindraan itu lemah, karena Tuhan tidak memberikan "delegation of authority" kepada manusia untuk menemukan kebenaran meskipun manusia diberi otak yang cemerlang. Niaka kebenaran sangat tergantung pada pengindraan, dan ternvata kini bahwa apa yang disangka manusia sebagai "benar", karena kelernahan pengindraan ternvata "tak benar" atau "melenceng". Karena itu logislah bahwa untuk bisa sampai kepada KEIVENARAN, pengindraan manusia i harus DIPANDU, cdch Tuhan sendiri. Dimana terdapatnya panduan itu tak lain adalah WANYU, sebagaimana kini terkumpul dalam Idtab suci ALQUR'AN, dengan empirisasinya terdapat di dalam ASSUNNA1--I. Maka, bahwa langkah-langkah atau paradigmia 2, 3, dan 4 harus disebutkan dalam SATU NAFAS, dan nafas ini dapat disebut scbagai Sains Tauhidullah, atau Sains yang dipandu sendiri oleh .Allah SWT, yang kebenarannya dijamm. Karena itu Sains Tauhidullah adalah "Nagliah memandu Aqliah". Mengapa disebut "Sains Empirikal"? Di sini perlu dipertegas bahwa bila disebut Ilmu Kealaman, maka hanya menvangkut keperilakuan jagat raga saia, atau makrokosmos. Maka bila Ilmu Sosial pun ingin termasuk, harus disebut Sains Empirikal ialah ilmu yang mempelajari keperilakuan mikto dan makrokosmos.

Juhaya S. Praja 123 Penting untuk diuraikan adalah bahwa SI3S, dalam mernpelajari mikro dan makrokosmos, telah "melenceng", yang akhirnya bermuara pada 3-R ini adalah hukri empirikal yang tak dapat dibantah, bahwa pengindraan manusia hams DIPANDU oleh Tuhan sendiri, berupa WAHYU, maka Sains Empirikal di masa-masa yang akan datang, yang dipandu itu, adalah Sains Empirikal dengan premis-premis yang bersifat TRANSENDENTAL. Dengan demikian, Sains Empirikai di masa yang akan datang tidak akan lagi berbuat kerusakan dibumi (Q. Ar-Rum 41), karena telah menemukan KORIDOR-KORIDOR yang BALK, dan akan mewujudkan kesejahteraan hidup yang benar-benar

Juhaya S. Praja

124

merupakan kesejahteraan (tidak Resah, tidak Renggut, dan tidak pula Rusak). Inilah Sains Empirikal dimana "Nagliah memandu Agliah". inilah tugas kaum Muslirnin, khusunva Universitas Islam Negeri. Untuk perlu mengembangkan suatu "tafsir baru", yang harus dilakukan bersama oleh pakarpakar ilmu agama Islam serta para pakar di bidang Sains Empirikal, yang dilakukan di dalam suatu "circle". Universitas Islam Negeri sangat berwenang untuk membentuk circle yang 21 dimaksud. D. Teori Pendidikan Quranik: Tarbiyatu Ulil aIalbab (TUA) TUA sebagai Konsep, Teori dan Praktek Ilmu Pendidikan UIN Malang 22 UIN Malang memerlukan konsep pendidikan menyangkut dasar filosofis, arah yang ingin diraih, kualitas proses dan produk yang dicita-citakan, karakteristik komponen pendidikan, serta berbagai pendukung yang diperlukan. Konsep pendidikan yang jelas, utuh dan komprehensif. Apa yang selama mi dijalankan, baru didasarkan pada tradisi dan pedoman legal-formal yang dikeluarkan oleh pemerintah secara garis besar atau pokok-pokoknya saja. Pedoman itu masih memerlukan elaborasi secara detail agar mudah dipahami dan sekaligus berhasil melahirkan ciri khas yang disandang. Sosok manusia TUA adalah orang yang mengedepankan jzkr dan aural shakh. Ia memiliki ilmu yang bias, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas. Landasan Filsafat TUA Konsep manusia: Manusia TUA adalah: 1. Yang bertauhid dengan pegangan pokoknya dua

Juhaya S. Praja

kalimah syahadah. 2. Yang mengedepankan dzikr, fikr dan aural shaleh; 3. Yang memiliki ilmu yang luas, pandangan mata yang tajam, otak yang cerdas, had yang lembut dan semangat serta jiwa pejuang (jihad di jalan Allah) dengan sebenar-benarnva perjuangan.
Sebagai contoh dapat dikemukakan disini tentang turunnya hujan. Hujan adalah air, dan air adalah dasar untuk timbuinya hidup-hidupan (Q. Al Anam; 99), yang selanjutnya menimbulkan hidup-hidupan. zs Disarikan dari Prof. Dr. Imam Suprayogo, Tarbiyatu Ulil Albab: Dzikr, Fikr, dan ama! Sa!eh, Universitas Islam Indonesia-Sudan, Malang, 2002
21

125

126 Pandangan Keilmuan UIN

4. Yang kehadirannya di muka bumi melaksanakan fungsi kepemirnpinan yang mampu menegakkan kebenaran (hak) dan menjauhi kebatilan. 5. Yang orientasi hidupnyi untuk mencapai ridha Allah SWT. 6. Yang sehat jasmani dan rohaninya. 7. Yang mencapai standar "khair an-nas anfa'uhum Ii an-nas. 8. Yang terbebas dari berbagai jenis penyakit ruhani, antara lain: dengki; hasud ; takabbur ; kufur nikmat; pendendam; keras kepala; individualistik; intoleran dan lain-lain. 9. yang mampu mendekatkan diri kepada Allah

Pendekatan TUA: Teori dan Praktek
Materi Pelaksanaan Pembimbin g Tempat Indikator Keberasilan

Dzikir: olah jiwa Sholat berjamaah: wajib dan sunat Khatmul Quran Puasa wajib/sunat Memperbanyak kalimah thoyibah, tasbih, takbir, tahmid, shalawat Fikr Penajaman nalar dan pikir tentang perilaku makro kosmos dan mikro kosmos; interaksi sosial

Individual Berjamaah

Dosen Guru

Mesjid Ma'had Setiap sat dan waktu

Sehat rohani. memiliki sifatsifat mahmudah; bertagarrub kepada Allah; berakhlak mulia

Kuliah: perluasan pengetahuan Penugasan terstruktur: individual dan kelompok Penugasan penelitian individual dan kelompok

Dosen

Memiliki kepakaran di Laboratobidang disiplin rium ilmu Alain yan tertentu memperkuat g keimanan danketakwaan

Kampus

Juhaya S. Praja

127

Amal Shaleh

lbda' binafsik Kebebasan, keterbukaan

Dosen

Kampus dan luar kampus

Memberi manfaat kepada dirinya dan kepada banyak orang

128 Pandangan Keilmuan UIN
Olah Raga Seni Individual Individual dan kelompok Dosen/ pelatih OR Dosen kampus Sehat jasmani

Kampus dan di luar kampus

Memiliki rasa yang halus; rapih

E. Penutup Uraian di atas lebih bersifat masukan dan harapan penulis demi masa depan IAN. Pada bagian terakhir ini penulis ingin menyatakan bahwa pohon keilmuan UIN hendaklah bersifat padu atau berbasis pada sains tauhidullah Pengembangan sains tauhidullah di UIN hendaklah berdasarkan atas: 1. Akar sejarah peradaban Islam, baik berupa kepeloporan umat Islam dalam penvelenggaraan universitas, maupun dalam mengembangkan sains, baik ilmu agama Islam maupun ilmu humaniora dan sains empirikal; 2. Paradigma-paradigma yang dibangun di atas dasar perpaduan antara wahyu dengan akal atau naql yang memandu Diharapkan Universitas Islam Negeri tidak

terjebak oleh pembidangan ilmu yang selama ini didasarkan pada filsafat Barat sekuler vang pada akhirnya hanya akan membelenggu karakteristik keilmuan UIN itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Ya'la, "al-Vddah fi Syarh al-Vmdah'; dan syarahnya al-Kawkab al-Munir (tiga jilid); Akbar S. Ahmed, Toward Islamic Antropology, IIIT, Virginia, 1986. Abdul Halim Mahmud, Falsafah al-Tashawwuf, AI-Qusyairi, al-Risalat al-Qusyairiyah, Kairo (n.d). Ahmad al-Borneo, AI-Wajiz fi al-Qawa'id al-Fiqhiyah; Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi'i, al-Kawakib a! —Azhar syarh alFiqh al-akbar, Makkah, am-Maktabah al-Tijariyah. (n.d). Charles Singer, A Short History of Scientific Ideas to 1900, Oxford University Press, 1968. Fuad Sizkin, Tarikh al-Hadlarat wa al-Islamiyah (Sejarah Peradaban dan limu-Ilmu Islam), Riyadh, Universitas King Abdul Aziz; Herman Soewardi (Guru Besar Filsafat Ilmu Universitas Padjadjaran), Upaya Pengembangan dua Pohon Ilmu Secara Bersamaan, Sebuah Apresiasi terhadap Dua Karya Prof. Dr. Juhaya S. Praja "Filsafat Ilmu" dan "Rekonstruksi Paradigma Ilmu" (Orasi Ilmiah Sabtu, tanggal 1 April 2000, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung) Ibnu Taimiyah, llmu Ushul al-Fiqh, FATAWA, Juz XIX-XX, Riyadh, al-Mamlakah at 'Arabiyah al-Sa'udiyyah. Ibn Taymiyah, al-Suluk, FATAWA, XI, Riyadh, al-Mamlakah al-'arabiyah alSa'udiyah. Ibn Taymiyah, AI-Radd 'ala al-Manthiqiyin (Sanggahan terhadap Ahli-ahli Logika), Mesir, (n.d); Ibn Sina, al-Hidayah, Kairo, (n.d). Ibn Taymiyah, Minhaj al-Sunnah, (2 jilid). Ibn Taymiyah, Ma'arij al-Wushul, (n.d). Ibn Taymiyah, Dar' ta'arud al-Aql wa al-Naql Imam Suprayogo, Prof. Dr., Tarbiyatu Ulil Albab: Dzikr, Fikr, dan Amal Saleh, Universitas Islam Indonesia-Sudan, Malang, 2002. IIIT and AMSE, Islamization of Attitudes and Practices in Science and Technology, Virginia, 1404H/1989M. Jalaluddin al-Suyuthi al-Syafri, al-Asybah wa al-Nadzair, Juhaya S Praja, Filsafat Ilmu Dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia, TerajuMizan, Jakarta, 2002. Juhaya S Praja, Rekonstruksi Paradigma Ilmu Dalam Islam, Orasi disampaikan dalam Pengukuhan Guru Besar Ilmu Filsafat Hukurn Islam Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2000. M.A.K Lodhi (Ed.), The Sources of Islamic Knowledge, Virginia, 1984. Najmuddin al-Hanafi, aI-Asybah wa al-Nadzair, Stanwood Cobb, Islamic Contributios to Civilization, Avalon Press, Washington, DC., 1963, p. 57

William M. Newman, The Social Meaning of Religion, Chicago, Rand McNally College Publishing Company, 1974, p. 11.

KELANJUTAN DARI INTEGRASI ULUMUDDUNYA DAN ULUMUDDIN
Herman Soewardi *

A. Pendahuluuan Tentang dasar-dasar dari integrasi antara Ilmu Agama dan Ilmu Umum telah dipaparkan oleh Prof. Juhaya S. Praja dalam tulisannya yang berjudul "Universitas Islam Negeri (LIN) Mengintegrasikan Ilmu (Sains Tauhidullah)". Seperti Pembaca lihat, dalam hal itu masih ada sate masalah yang belum terpecahkan, ialah bagaimana kelanjutannya setelah pengintegrasian itu terjadi. Kelanjutan ini tak lain adalah "pindah alur" dari premis-premis empirikal (SBS) ke premis-premis transendental. Menurut pandangan saya, kelanjutan itu tak lain berupa masalah teknis belaka. Ini hams dapat kita pecahkan, dan ini mengandung berbagai kesulitan. Memang, sifatnya hanya teknis semata-mata, namun menjangkau berbagai hal yang bersifat fundamental, dan hanya dapat didasarkan dengan bekerjasama erat antara pakar-pakar syari'ah dan non syari'ah. Dalam tulisan ini saya ingin mencoba memberikan gambaran ke arah itu. Hal ini terdiri dari Bayani (tekstual), h fani (intuitif), dan Burhari (logika). Marilah hal ini kita simak bersama. B. Dasar-Dasar Epistemologis Kita terlebih dahulu hams mengerti apa yang

disebut Filsafat Ilmu itu. Macam-macam Ilmu Formal adalah Matematika, Statistik, dan Filsafat Ilmu. Yang disebut terakhir adalah kerangka sebabakibat, disebut pula Form, dengan menggunakan simbolsimbol. Kerangka yang paling sederhana, terdiri dari dua konsep/kejadian atau
HERMAN SOEWARDI, Ir., Dr. Prof., Dosen/Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung.

114

Pandangan Keilmuan U1N

lebih yang berhubungan sebagai S-A, clisebutproposisi. Dan sate ke lain kerangka (proposisi) semuanya bersifat implikatif. Dengan mudah kita ketahui bila penarikan implikasi-implikasi, yang seharusnya bertsifat logis, ternyata tidak logis. Contoh menarik implikasi : 1. Premis : "tak ada gading yang tak retak" 2. Implikasi pertarna : "semua gading retak" 3. Implikasi kedua : "bila tidak retak, maka bukan gading" 4. Implikasi ketiga: " kegadingan itu tampak dari keretakannya" Kita akan segera mengetahui bila implikasi ditarik salah. Contoh lain : silogisme 1. Premis mayor : semua orang akan mad 2. Premis minor : Habibi adalah orang 3.Kesimpulan : Habibi akan mad. Kita akan segera mengetahui kesimpulan yang salah bila kesimpulan itu berbunyi : "Habibi akan hidup selamanya" Juga bila ditarik kesimpulan yang tak berkaitan, atau kesimpulan yang tidak implikatif: "Kekayaan Habibi melimpah ruah", Menarik implikasi adalah pekerjaan logika. Ini merupakan kemampuan manusia yang sudah ada sejak manusia lahir ke bumi. Karena itu kemampuan logika adalah innate ataulitrz)ah. Hanya sayang sekali, kebanyakan orang, tidak membiasakan untuk menggunakan kemampuan pemberian Tuhan itu. Hal ini perlu kita perbaiki bersama.
Fil safat ilmu terbagi atas tiga bagian, vaitu Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Ontologi : m e m p e rm a s a l a h ka n m e ng a p a o ra n g b i s a mengetahui, ialah karena Tuhan menciptakan dalam diri manusia dua macam alat, yaitu Rasio, dan Rasa. Rasio bersemayam dalam

otak, sedangkan Rasa bersemayam dalam Qalbu. Kemampuan Rasio Hukum Inferensi − Identifikasi atau mengenal kembali − Komparasi − Kausal Alat Ukur : I.Q. Kemampuan Rasa Kreatifitas

Herman Soewardi

116

−Rasa −Idealisme Irasional - Etika −Estetika −Keajaiban −Rasa yang disucikan Alat Ukur : ESQ Epistemologi : mempermasalahkan bagaimana sifat-sifat ilmu itu, kemampuan dan keterbatasannya. Kausal adalah hubungan nyata (pengaruhmempengaruhi) antara dua konsep/kejadian. Maka sangat penting artinya untuk aksiologi atau aspek gunalaksana dari Mula-mula kausal dianggap "taken for granted", sampai ilmu melontarkan skeptisismenya Hume dari suatu kejadian "makanan mengenvangkan saya", ia menyangsikan adanya generalisasi (atau hukum) bahwa setiap saya makan, saya akan merasa kenyang", karena antara "makan" dan "kenyang" terlebih dahulu harus diwujudkan medium, secara matematis, yang tak seorangpun mampu merakitnya. Kant mcmecahkan masalah ini dengan menyatakan bahwa medium itu tclah diciptakan oleh Tuhan, sehingga manusia tak perlu merisaukan lagi. Ini adalah prinsip baru, yang bersifat transmendental. Di pihak lain, Popper menentang ilmu dengan "rasionalisme kritikalnya", namun pada dasarnya ia menerima asersi Ilmu bahwa tak ada hukum (dalam sains) yang bisa dibenarkan dengan observasi atau eksperimen. Ilmu mulai dengan pernyataan bahwa segala kesimpulan atau hukum bersifat tentatif, sehingga diterima atau ditolaknya hukum itu hanya dengan uji empirikal. Ini disebutnya "falsification test" Namun Thomas Kuhn membantah pernyataan Popper itu, karena menurut Kuhn tak ada teori yang benar atau semua teori/hukum itu salah (kita akan kembali ke sini).

Herman Soewardi

117

Di lain pihak, al-Ghazali menerima kausalitas sebagai kebiasaan (adah) Tuhan, namun kekuatan yang menjadikan kausalitas itu tetap berada di tangan Tuhan. Bila Tuhan tak memberikan kekuatan itu pada Benda-benda, maka tak akan tcrjadi kausalitas, seperti api tidak membakar Nabi Ibrahim. Hal ini menurut hemat saya, adalah berubahnya pandangan sufficient ke contingent (kita akan kembali ke sini). Kausalitas menjadi lebih canggih. Pertama-tama marilah terlebih dahulu kita bedakan dua buah bentuk ialah Form dan Content.

118

Pandangan Keilmuan U1N

Form bentuk atau kerangka, sedangkan Content acialah wujud kongkrit ya! -Ig oda di dalarn suatu kerano-ka. Di dalan-m upavanva orar..g bf2naktlya terse:Ea:fon-7i erlga H 1 21:1 .i 'J. dari atau
1

talro..] tentanrt iag-ad tava, TienarTah i • i d
a

raya?

n

d

_ r a 9 ataa

.
ap

yq n cy

!..,;.= kS n Zi.) Plaro, "r-s.u na., 17)erniklaniah, di

a, NiasalfJ.:.. i'd-Gliazati, Kant, :Jan tcr.?..k1-3ir tnerivatakan bahyva ii _t'_7 rricri-v‘Ita.;-:..;!.7--1

rnanusia raya rava yang dipertanyakan olch Kuhn paraiiigrna yang terus rnanu..1 tak pC7T1:11: ahli iagat rava yang , ebena.tnya, liar K u h n P e n v c m p ur n a a n P a r a d i g a n a
!
.)

DULU

1

- - - - - - - - - - - - 4

./ N O R M A L \\ / ANOMAL1 CIENC;E ' , ----4- —4- ---0.
,./ i —
I

.

/ NORMAL \\ '
/

,...

Ti !

KIM

1
--iNs
7

r _ _ i_ _ _ _
KELAK
i

NORMAL

/

KR:STS

1

'..
\

A‘NOMAL1 S CI E N O E h - - * - - - - 0 - - - - - 4 , - ; S CI E NCE 2 / KRISiS ‘.
\ 1

P.ARAD!GMA I

PARADIGMA 2

12.";1G rot,.

1'27

-

rfr'd

nakatd an berdas,:.-ka,T, 1-1

H

pasti Katena c cleno an T rt,.ar o teal" 11 \21 karena pada 77.,crld cliscuipurnakan terus.

Herman Soewardi

119

ditangkap oleh Tarnas, bahwa karena alat indra yang cacat, teori yang disusun itu mengandung kesalahan, menjadikan kausalitas terlalu bersifat simplisitas, dan bila diadakan perubahan berdasarkan penglihatan, akan selalu ada hasil ikutan yang bersifat antitetikal (beda bahkan hertentangan dengan harapan semula), vang akhirnya membawa kerusakan-kerusakan di bumi kita ini. Sernua paradigma-paradigma ini akhirnya saga simpulkan seperti dalam gambar dibawah ini
Co-extensive SBS (Sains Barat Sekuler) Phenomena (tanpa bimbingan Tuhan) Sains Tauhidullah Noumena (dengan bimbingan Tuhan) Sequential

KORIDOR BURUK X --> Y, mungkin Yang dimaksud Kira-Kira (uncertainty priciple) tercapai, dan disertai dengan hasil-hasil ikutan yang merusak (antitetikal) KORIDOR BALK Yang dimaksud tercapai, tanpa hasil-hasil ikutan yang merusak.

X --> Y, pasti. (certainly priciple) Ayat-ayat Kauniah

Herman Soewardi Observasi Menghasilkan Linkage Bila ada dua kejadian yang berhubungan secara tetap, maka kemungkinan hubungan itu ada 5 pasang yang disebut "linkage" sebagai berikut: 1. Reversible dan Irreversible ---> Y X ---> Y Y ---> Y/--> 2.Deterministic X --> Y, pasti dan Stochastic X --> Y, mungkin

3. Co — extensive danSequential X --> Y, pada waktu X --> Y, y terjadi pada waktu yang sama belakangan

120

Pandangan Keilmuan U1N

4. Sufficient dan Contingent X --> Y, tak perlu X --> Y, bila ada Z faktor lain 5. Necessary dan Substitutable X --> Y, hams X --> Y, juga begitu, tak bisa lain X --> Z kecuali begitu Dalam hal ini skeptisisme Hume, bahwa "linkage" tak dapat disalahkan atau diterima berdasarkan observasi atau eksperimen, dapat dibenarkan bagi kita, orang-orang beragama, karena tentang ini berada di tangan Tuhan. Beberapa Istilah Spurious : Uji statistik signifikan, tapi tidak ada dasar logikanya. Tautologi : secara empirikal, tak ada sesuatu yang Baru. Penyebab dan Koinsidensi "Verstehen" atau "emphatic undestanding" Vectorpembawa penyakit, bukan penyakit itu sendiri. Esensial dan Pelancar. Deduksi • inferensi dari umum ke khusus Induksi: inferensi dari Khusus ke umum (generalisasi) Analogi: inferensi dari khusus ke khusus (qiyas) Aksiologi Adalah aspek gunalaksana dari ilmu atau cara meningkatkan kualitas hidup manusia. Namun harus selalu terkait dengan epistemologi. Epistemologi Aksiologi X ---> Y----> Bila Y dikehendaki, masukkan X Bila Y tak dikehendaki, keluarkan X

Herman Soewardi

121

C. Masalah Teknis Apa yang menjadi masalah dalam kelanjutan integrasi ilmu ini?

122

Pandangan Keilmuan U1N

Tak lain adalah menetapkan premis-premis, atau pemula berpikir. Sains Tauhidullah berbeda dengan SBS, karena premis-premisnya lain. SBS menggunakan premis empirikal, sedangkan Sains Tauhidullah menggunakan premis transendental. Premis ini sudah pasti benarnya, karma dari Tuhan sendiri. Inilah bimbingan Tuhan kepada manusia, di bidang sains. Karena itu, kita hams "pindah alur", dari premis empirikal ke premis transendental, ialah bimbingan Tuhan. Namun tentu saja, untuk pindah alur ini kita harus mengembangkan suatu metoda, yang terdiri dari Ba):ani (tekstual), ni (intuitif, ilham), dan Burhani (logika). Bayani atau Tekstual Adalah ayat-ayat dari kibat suci Al-Quran, yang merupakan standar kebenaran. Karena itu, bila ayatayat ini dijadikan premispremis sebagai pemula berfikir, dengan sendirinya semua inferensi dari padanva pasti benar pula. Ini sudah biasa dilakukan untuk menetapkan segala keperilakuan manusia yang benar (dalarnlikih) namun saya kira juga demikian pula dengan upaya mengetahui kcperilakuan alam yang benar pula, atau keperilakuan alam dalam koridor-koridor yang baik, yang tidak membawa kerusakan-kerusakan sebagai hasil ikutannya. Bayani atau Tekstual itu merupakan deduksi dari premis-premis yang benar itu. Deduksi didalam inferensi dari umum ke khusus. Khusus artinya suatu tujuan yang ingin ciiraih. Bayani atau Tekstual tidak jelas dengan sendirinya. Karena itu, dijadikan premis-premis sebagai pemula berpikir, terlebih dahulu perlu diberi tafsir yang jelas. Maka kita perlu menyumbangkan

Herman Soewardi

123

metoda tafsir, karena ketentuan Tekstual itu berlaku di segala "space" dan "time". Sejak dulu telah dikembangkan berbagai cara tafsir, seperti kontekstual, tematik dsb. Saya kira, perlu dikembangkan suatu tafsir baru yang dapat disebut tafsir konstraktual, ialah beberapa ayat al- Qur'an yang dijadikan suatu konstrak (bersifat kausal) sehingga dapat diketahui sesuatu sifat keperilakuan alam yang benar. Maurice Bucaille, A. Baiquni, dan saya sendiri pernah mencobanya (lihat tulisantulisannya).

124

Pandangan Keilmuan U1N

Irfani atau. Intuitif/Iiham Bila cara Bayani itu memberikan deduksi, cara Irfani adalah induksi, ialah dengan merrvimpulkan tanda-tanda dari alam raya, yang akan "digahung" men ::a suatu premis dalam mernulai berfikir. Dasarnva adalah Q. Ali imron : 190, 91, yang berarti: 190 Sesungguknya dalam penciptaan langit dan bum:, dan bergantinya malam (Ian slang terdapat tanda-tanda bagi orang-orangyangberakal 191: oran-orang _yang mengingat Allah dalam berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang pencit)taan iangit dan bumi (seranya berkata) : "ya Tuban ka,mi, lidakkah engkau menOtakan ini dengan Maha Suci engkau„ maka pelibaralah kami dari siksa neraka. Avat 190 merupakan perintah Tuhan kepada kita para ilmuwan untuk melakukan observasi kepada alam semesta sehingga kita bisa memaharni keperilakuan alam semesta, sedangkan ayat 191 merupakan svaratnva untuk melakukan observasi terscbut, ialah hams selalu rnengingat Tuhan dalam bcrbagai keadaan, berdiri, duduk atau berbaring. Inilah observasi yang menjamin keberhasilan seorang ilmuwan untuk melihat nomena atau "the thing in itself", yang jadi ternuannya, yang akan membawa is ke koridor-koridor baik, karena dengan nomena ini is akan memperoleh "linkage" yang tepat, sehingga tidak disertai dengan yang bersifat antitetikal yang merusak itu. jelas hal ini menghendaki kita agar menghasilkan metoda untuk melakukan observasi dengan selalu mengingat Tuhan. Burhani atau Logika

Herman Soewardi

125

Bila premis-premis transendental itu, telah diperoleh, baik secara Bayani atau frfani, maka kita lanjutkan dengan inferensi logis seperti biasa (yang sedang kita lakukan). Hukum-hukum inferensi bersifat innate atau fitnjah, atau suatu kemampuan yang sudah ada sejak manusia lahir ke dunia.

D. Penutup Demikianlah kelanjutan integrasi antara ilmuilmu umum dan ilmu agama, atau u/umuddunya dan ulumuddin. Kelanjutan itu adalah masalah teknis untuk memperoleh premis-premis transendental,

ialah premis-premis bimbingan Tuhan kepada manusia di bidang sains. Premis-premis transendental sudah pasti benarnya, sehingga deduksi dari padanya ke sesuatu tujuan yang ingin diraih sudah pasti pula benarnya. Namun k;ta sebelum menghadapi suatu masalah tafsir yang harus kita pecahkan bersama, baik yang bersifat Bayani maupun yang bersifat Irfani, yang memerlukan kerjasama erat antara pakarpakar syari'ah (seperti ahli-ahli tafsir, ahli-ahli fikih dan pakar-pakar non-syari'ah (ahli-ahli di bidang sains formal maupun sains empirikal).•

DAFTAR PUSTAKA
Baiquni, Achmad, 1994, "Al-Qur'an, I/mu Pengetahuan, dan Teknologi", Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta. Bucaille, Maurice, 1979, "Bibel, Qur'an, dan Sains Modern", Bulan Bintang, Jakarta. Etzioni, Amitai, 1961, "A Comparative Analysis of Complex Organizations", The Free Press of Glecoe, New York, USA. Faruqi, Ismail Razi, 1995, "Ai-Tawhid • Its Implications for Thought and Life", International Islamic Publishing House, Herndon, Virginia, USA. Kuhn, Thomas S., 1970, "The Structure of Scientific Revolution", University of Chicago Press, Chicago, USA. Martindale, don, 1960, "The Nature and Types of Sociological Theory", Houghton Mifflin Company, Boston, USA. Safi, Lonay, 1996, "The Foundation of Knowledge", International Islamic University Malaysia. Soewardi, Herman, 1999, "Roda Berputar, Dunia Bergulir. Kognisi Baru tentang Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi", Bakti Mandiri, Bandung. Soewardi, Herman, 2003, "Kedudukan Mata Kuliah UNX 692, Filsafat Ilmu", Bakti Mandiri, Bandung. Tarnas, Richard, 1993, "The Passion of Western Mind", Ballantine Books, New York, USA.

PENGETAHUAN WAHYU DAN INTEGRASINYA DENGAN SAINS PADA UIN
A. Hidayat*

A. jenis-Jenis Pengetahuan Manusia oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana diberi potensi untuk mengetahui dan untuk mengembangkannya. Daya muntuk mengetahui dan memahami, disebut-Nya: pendengaran, penglihatan, akal pikiran akal, intelek). Tuhan berfirman yang artinya:"Allah telah mengeluarkan kamu sekalian dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, lantas Dia menciptakan memfungsikan) al-.Tama (pendengaran), al-abshar (penglihatan), dan al-af idah (akal pikiran, Mehdi Golshani menafsirkan kata fuw'ad sebagai alat mempersepsi dan berpikir; 1999: 133), supaya kalian bersyukur" (Q.,16:78). Dalam, ayat itu ditegaskan manusia ketika lahir tidak mengetahui apapun, barn setelah menerima informasi dari lingkungannya, sedikit demi sedikit ia menambah pengetahuannya seiringan dengan bertambah umur dan luasnya lingkungan hidupnya. Dari pendengaranlah dia mengenal dan mengetahui nama semua manusia dan benda-benda Demikianlah selanjutnya ia menggunakan penglihatan dan akal pikiran hingga akhirnya manusia menjadi makhhuk berbudaya. Katakanlah jenis pengetahuan disebut "Pengetahuan Biasa". Al-Qur'an menginformasikan bahwa di samping

semua manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui ketiga potensi itu, juga ada manusia-manusia tertentu yang diberi daya mengetahui yang unggul yang disebut dalam al-Qur'an sebagai "al-Lubb, (jamaknya, al-Albab) dan orangnya disebut alAlbaab). Mereka melalui perenungan
Bandung

• A. HIDAYAT, MA., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati

124

Pandangan Keilmuan UIN

terhadap ciptaan Tuhan dapat pengetahuan mendalam dan kesadaran yang kuat atas posisinya di alam dan di hadapan Allah Katakanlah pengetahuan yang mereka peroleh adalah pengetahuan: "Hikmah", "Filosofis" atau bahkan "Pengetahuan Filsafat". Setelah dalam waktu puluhan ribu tahun manusia Homo Sapien berkembang (Adam termasuk salah satu jenisnya yang mengalami mutasi genetika dahsyat secara langsung oleh Tuhan hingga diduga dialah yang mula-mula mampu berpikir abstrak dan juga mempunyai pengetahuan nilai dan diangkat menjadi Nabi Pertama), mereka melalui proses "ty and error" menciptakan alat dan mengembangkan tekniknya untuk mengatasi problem-problem mereka, kemudian diteorikan, jadilah sains yang sederhana. Demikianlah kelahirannya apa yang disebut "Pengetahuan Sains". Pengetahuan ini terus berkembang seiring dengan datangnya aneka ragam tantangan dan masalah yang harus dipecahkan manusia. Melalui kreativitas budaya-budaya raksasa seperti Cina, India, Yunani, dan Islam yang mengadakan penelitianpenelitan di berbagai bidang kehidupan, sains terus maju. Pada awalnya, sains bagian integral dari filasafat. Bahkan dalam budaya Timur, yaitu India, Cina, dan Islam, sains terintegrasikan juga dalam agama. Dan, ketika filsafat dan sains Islam diadopsi dan dikembangkan oleh Barat Modern, sains sedikit demi sedikit melepaskaji diri dari filsafat. Bahkan, sains bermusuhan dengan agama, sain sekuler. Sains makin lama makin jauh dari agama, setelah sains mendapat mendapat pijakan yang kuat pada filsafat materalisme, Naturalisme dan Positifisme. Kini Sains telah mengalami revolusi dahsyat dan mengalami spesifikasi yang sangat detil. Dan, berimplikasi pada

kepesatan perkembangan teknologi yang luar biasa. Disamping itu, sains yang asalnya dikembangkan untuk menjawab dan menjelaskan persoalan yang dihadapi manusia dan mengatasinya, ternvata realitas menunjukkan ketidakmampuannya untuk menjawab pertanyaan mendasar seperti: apa tujuan hidup manusia, dari mana asal manusia dan mau kemana setelah man, dan mengatasi problem- problem dasar kemanusiaan seperti cara mencapai kedamain hidup dan mendapatkan kebahagiaan hakiki. Filsafat sekular mencoba menjawabnya. Jawaban yang diberikan malah membikin orang bingung, bahkan gila.

126

Pandangan Keilmuan UIN

Untuk menjawab persoalan-persoalan mendasar itu datanglah pengetahuan yang diberikan wahyu. Pengetahuan wahyu bukan hanya menjawab persoalan besar, juga dari pengetahuan wahyulah datangnya agama. Dan, sebagian besar umat manusia menganut suatu agama, atau suatu aliran kepercyaan yang bersifat inistik, baik dalam lingkungan suatu agama atau di luarnya. Mereka percaya ada Tuhan, ada Ruh, ada kehidupan setelah mad. Mereka hidup bahagia dalam bimbingannya. Mereka percaya bahwa Tuhan ikut campur dalam mengendalikan sejarah dan kehidupan manusia melalui UtusanUtusan-Nya dengan memberinya wahyu al-Risalah atau Nubuw2vah, atau melalui orangorang suci dengan melimpahkan ilham atau wahyu dalam arti umum. Semuanya digunakan untuk membimbing para pengikut mereka. Nabi terakhir Nabi Besar Muhammad SAW, di samping diberi pengetahuan wahyu qurani, juga beserta orang-orang mu'rnin suci diberi pengetahuan langsung dari Allah yang disebut Hadits. Pengetahuan wahvu yang langsung diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw diberi nama Hadits Oudry. Para Utusan itu yang merupakan pendiri suatu agama menvebarkan pengetahuan kewahyuan dari Tuhan kepada para pengikutnya. Sedangkan para Wali orang suci adalah orang-orang yang merupakan pengikut Nabi Saw yang salih dan hidup suci serta selalu medekati Tuhan dan mulahadah melawan nafsu dan setae yang akhirnya oleh Tuhan mereka dilimpahi pengetahuan. Yang banyak diberitakan al-Qur'an adalah para rasul dengan pengetahuan wahyu yang diberikannva. Sedangkan, ceritera tentang orang-orang suci yang diberi ilham sedikit sekali diberitakan. Al-Qur'an juga ada. Diantaranya, disebutkan oleh al-Qur'an bahwa

127 seorang pengikut Nabi Sulaiman diberi " 'llm min al-Kitab", pengetahuan dari al-Kitab (pengetahuan dari Kitab Lauh Mahfuok?) yang dengannya is mampu dalam sekejap membawa singgasana ratu Bilqis dari Aden (Arabia Selatan) ke Palestina yang bejarak 3000 Km. Pengetahuan yang diberikan kepada orang suci itu dapat juga disebut pengetahuan wahyu" (dalam arti ilham), karena pengetahuan itu diberikan Tuhan melalui bisikan gaib (waby anti bahasanya adalah bisikan yang cepat). Jadi, and sempit dari "pengetahuan wahyu" adalah waby risalah, sedangkan dalam arti luasnya mencakup segala pengetahuan ilham yang diberikan kepada para orang yang mensucikan did
A. Hidayat
"

128

Pandangan Keilmuan UIN

yang dapat juga disebut pengetahuan mistik. AiGhazali menamainya ilmu al Mukagafah (Et.: 14)
-

B. Pengetahuan Wahyu: Eksistensi, Urgensi, dan PrinsipPrinsipnya Dan uraian di atas, terungkap bahwa pengetahuan itu ada empat macam yaitu pengetahuan biasa, pengetahuan filsafat, pengetahuan sains, dan pengetahuan wahyu. Di sini, pengetahuan biasa dan pengetahuan filsafat tidak akan di bahas. Pengetahuan biasa tidak ada kaitannya dengan pembahasan ilmu, khususnya ilmu yang akan dikembangkan di UIN, karena hanya bersifat persepsi, walaupun pengetahuan itu bisa penting dalam persoalan politik dan dakwah. Pengetahuan filsafat memang penting dalam pembahasan dan pengembangan ilmu di UIN, akan tetapi penulis pandang uraian mengenai pengetahuan filsa fat sudah cukup memadai makalahmakalah sebelum ini. Fokus tulisan ini tertuju pada pembahasan persoalan pengetahuan Wahyu dan pengetahuan sains atau "ilmu pengetahuan". Karena, pertama kedua-duanya adalah kajian pokok yang penting dan substansial di perguruan tinggi agama. Kedua, adanya persoalan dikhotomi ilmu, yaitu dikhotomi antara "ilmu Agama" dengan "ilmu umum", atau antara agama dengan ilmu yang berdampak pada masalah integrasi iLmu dengan agama yang pemecahannya menjadi tugas akademisi UIN. Ketiga adanya pandangan bahwa dikhotomi biang keladi keterpurukan intelektualitas umat yang berimbas pada keterpurukan di segala bidang. Keempat, dalam "pengetahuan sains terdapat persoalan kontroversial yang tinggi yaitu persoalan objektivitas, bebas nilai, dan juga persoalan islamisasi sains.

129 Adapun persoalan pengetahuan wahyu Queani penting untuk dibahas di sini karena beberapa alasan. Pertama, pengetahuan itu dinyatakan keberadaannya oleh al-Qur'an sendiri. AI-Qur'an menegaskan: Tuhan Yang Maha Pengasih (al Rahman) telah mengajarkan (allama) al-Qur'an (Q.,55:2). Mengajarkan al-Qur'an berarti memberikan atau menyampakan pengetahuan-pengetahuan yang diwahyukan dalam al-Qur'an. Oleh karena itu, "pengetahuan yang diwahvukan" dapat dinamai "Pengetahuan wahyu". Ayat-avat yang memperkuat
A. Hidayat
-

130

Pandangan Keilmuan UIN

adanya pengetahuan wahvu yang diberikan dan diajarkan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Banyak sekali. Diantaranya ayat yang artinya: "Dan Allah telab menurunkan kepadamu kitab, dan hikmah dan Dia mengajarkan kepadamu apaapa yang kamu tidak ketahui"(Q.,4:113) dan "(Utusan Tuhan itu) mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka...." (Q.,2:129; ayat-ayat yang senada dengan ini, Q.,3:164; 62:2; 2:151). Semua ayat itu menyatakan bahwa Rasulullah yu'allim yang artinya memberi ilmu atau mengajarkan ilmu yang ada dalam Kitab Suci al-Qur'an. Ini sama artinya dengan menyampaikan "pengetahuan wahyu" dari Allah kepada ummat manusia. Jadi yang disampaikan dalam al-Qur'an itu tidak dinamai "keyakinan" atau "kepercayaan" tapi disebutnya pengetahuan. Adapun "kepercayaan" adalah sikap dari para individu terhadap pengetahuan yang diberikan Tuhan itu kepada mereka. Oleh karena itu Pengetahuan Wahyu tidak dapat dinamai "kepercayaan".
Kedua, pengetahuan itu adalah sumber, dasar, dan ukuran kebenaran bagi ilmu ilmu keislaman (Dirasat Isiarmiyah, Islamic Studies, Islamic Sciencies). Karena, ilmu-ilmu ini pada dasarnya: menafsirkan, mengembangkan, dan menguraikan pengetahuan wahyu itu secara rind atau menganalisnya dengan menggunakan metodologi yang diakui.
-

Kedga, pengetahuan wahyu adalah objek dari disiplin 'Ulum al- Qur'an dan 'Ulum al-Hadits sedang mengalarni perkembangan yang pesat di seluruh perguruan tinggi terkemuka baik di Barat maupun di Timur. Oleh karena itu, perguruan tinggi Islam lebih wajib untuk mengembangkannya. Jadi, orang yang tidak menganggap pentingnya eksistensi dan signifikansi pengetahuan :Wahyu tidak punva dasar. Keempat,

ini

menunjukkan

ketidaktepatan

131 tnereduksi pengetahuan wahyu menjadi pengetahuan menjadi sejenis pengetahuan mejik atau mitos. Orang-orang sekuler, tnisalnya, menganggap bahwa informasi tentang Nabi-Nabi dalam al-Qur'an atau tentang masyarakat (kaum) bukan pengetahuan sebenamya tapi mitos, lagenda yang tak pernah terjadi dalam realitas sejarah. Atau, mcnganggap pengetahuan wahyu setingkat dengan pengetahuan mejik/mistik, karena sama. sumbernya yaitu dari sesuatu yang bersifat supra-rasional. Padahal, semua itu tidak benar. Keempat pengetahuan wahyu adalah harus dijadikan dasar filosofis dari sains: Fisika, Biologi dan Humaniora.
A. Hidayat

132

Pandangan Keilmuan UIN

Dengan demikian, Pengetahuan Wahyu juga menjadi pijakan bagi Islamisasi sains dan integrasi agama dengan sains. Secara teoritis, arti pengetahuan wahyu yang dapat dikaji adalah pengetahuan yang diwahyukan kepada para utusan Allah yang terdapat dalam kitab suci yang dipercaya penganutnya sebagai punva Kebenaran Mutlak. Akan tetapi, yang dimaksud dengan pengetahuan wahyu dalam bahasan ini adalah pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada manusia melalui Utusan-Nya yang terakhir yaitu Nabi Besar Muhammad Saw. Oleh karena dalam Islam, di camping diakui dan divakini adanya pewahyuan Kitab Suci al-Qur'an al-Karim, juga diakui kewahvuan hadits Nabi Saw. Maka, pengertian pengetahuan wahyu di sini, secara implisit, melingkupi pengetahuan dalam hadits atau sunnah mutawatirah. Pengetahuan dalam hadits ahad yang tidak pasti berasal dart Beliau, maka pengetahuan yang terdapat di dalamnya tidak pasti sebagai pengetahuan wahyu. Walaupun, yang dimaksud dengan pengetahuan wahyu dalam tulisan ini adalah pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada manusia yang ada dalam teks Suci, al-Qur'an dan hadits mutawatir, namun pembahasannya hanya ditujukan pada pengetahuan wahyu yang terdapat dalam al-Qur'an . Karena hadits, termasuk hadits mutawatir, kebanyakannya hanya bersifat penjabaran terhadap pengetahuan yang diungkapkan al-Qur'an. Sedangkan, pengetahuan wahyu dalam arti lugs yang mencakup pengetahuan: ilhami atau laduny, mirtik, dan shufi yang diberikan kepada para "wali" tidak akan dibahas. Karena, al-Qur'an sedikit sekali menyinggungnya dan jenis pengetahuan itu, walau ada, kurang berharga untuk dibahas karena tidak bisa dijadikan acuan keilmuan yang akan dikembangkan di UIN. Kalau di pesantren boleh-boleh saja.

133 Pengetahuan yang diwahyukan Allah SWT. dalam al-Qur'an tak terkira banvaknya. A1-Qur'an sendiri menyatakan: "Tidak ada suatu apapun yang tertinggal dart Kitab al-Qur'an ini". Ayat suci ini menegaskan bahwa pengetahuan yang diwahyukan Allah dalarn al- Qur'an meliputt segala apapun yang ada di dalam realitas. Bahkan di avat lain (QS,18:109) dinyatakan yang artinya, "Seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka lautan itu akan habis sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, walaupun Kami
A. Hidayat

134

Pandangan Keilmuan UIN

datangkan lautan sebesar itu sebagai tinta". Juga dinyatakan dalam ayat lain (Q.,31:27), : "Seandainya di bumi ini setiap pohon dijadikan penapena dan laut dijadikan tinta kemudian didatangkan tujuh lautan lain, maka kalimat-kalimat Allah tidak akan habis. Sesunggunya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana". Para ulama di semua bidang keilmuan Islam mengakui yang dimaksud dengan "Kalimat Allah" itu adalah Kalam-Nya yaitu al-Qur'an . Atas dasar-ayat-ayat yang jelas itu, seluruh ulama Islam sepakat bahwa al-Qur'an adalah gudang segala pengetahuan. Kemudian, banyak dari kalangan mereka yang berusaha mengumpulkan dan mengkategorikan pengetahuan-pengetahuan dalam al-Qur'an itu. Pengkategorian yang baik dan menyeluruh, menurut penulis adalah apa yang dibuat oleh Fazlur Rahman, guru benar pemikiran Islam di University of Chicago, dalam bukunya, Major Themes of the Qur'an (1980). Dia membagi pengetahuan yang diungkapkan al- Qur'an untuk manusia menjadi delapan tema. Semua itu adalah pengetahuan tentang: Tuhan, manusia sebagai individu,
manusia sebagai anggota m asyar akat, alam sem es ta, kena bian dan wahyu, eskatologi, setan dan kejahatan, dan perkembangan lahirnya Umrnat Islam.

A1-Qur'an memberi pengetahuan yang benar tentang Tuhan kepada ummat manusia. Kita tahu siapa Tuhan, bagaimana sifatsifatnya, bagaimana hubungan-Nya dengan makhluk-Nya dan bagaimana perbuatan-Nya; kita tahu semua itu melalui pengetahuan wahyu yang disampaikan Tuhan dalam al-Qur'an (dan juga, sebagian dari Assunnah yang mutawatir), bukan dari ijtihad ulama, bukan hasil pemikiran Ahli Kalam, bukan hasil renungan filosof, lebih-lebih bukan hasil meditasi ahli sufi, atau latihan orang mistik/mejik. Di luar al- Qur'an, tidak ada yang memberi pengetahuan tentang Tuhan secara

A. Hidayat

135

komprehensif dan padu. Al-Qur'an juga memberi pengetahuan yang sempurna tentang manusia sebagai individu, tentang: asal-uasulnya, penciptaannya, tujuan hidupnya, akhir kehidupannya, tugasnya, kewajibannya, hakhaknya, sifat-sifat dasarnya, potensi-potensinya, dan kekurangankekurangannya, seperti: sombong, rakus, suka inkar, suka aniaya, dan cenderung kalah di hadapan nafsunya. Juga, alQur'an memberi

136

Pandangan Keilmuan UIN

pengetahuan bagaimana memperbaikinya dan mengembangkannya ke arah positif. Al-Qur'an juga mendeskripsikan watak-watak manusia sebagai makhluk sosial. Dia memberi pengetahuan tentang sifat-sifat masyarakat manusia, Sunnat Allah yang berlaku di sana, keberhasilan suatu masyarakat, kehancuran suatu kaum. Al-Qur'an juga memberi pengetahuan interaksi sosial bisa melahirkan konflik dan al-Qur'an menunjukkan bagaimana solusinya. Mistik tidak memberi pengetahuan apapun tentang itu. Al-Qur'an memberi pengetahuan tentang alam semesta yang tidak dapat diberikan oleh sains. Dia memberi tahu kita dari mana asal alam ini dan ke mana berakhirnya. Dia memberi pengetahuan bagaimana Tuhan mencipta alam memelihara, dan menghancurkannya serta tujuan penciptaanya. Dia mendeskripsikan prinsip-prinsip perkembangan makhluk biologis, termasuk manusia. Al-Qur'an juga menggambarkan hubungan alam dengan Tuhan dan manusia. Dia menvatakan bahwa alam semesta adalah tunduk kepada taqdir (hukum alam) yang ditentukan Tuhan. Allah membuat hukum keseimbangan yang pasti untuk alam. Alam semesta adalah lambang kekuasaan dan keagungan-Nya. Alam semesta selalu bertasbih kepada-Nya. Sebagian dari tujuan penciptaannya adalah untuk kepentingan manusia. Salah satu pengetahuan yang paling banyak diwahyukan dalam al-Qur'an adalah Eskatologi. AlQur'an memberitahukan: akan adanya Hari Qiamat, kebangkitan manusia, bumi dan langit diganti dengan bumi dan langit yang lain, amal manusia dihitung dan diberi balasan, dan akhirnya kekekalan hidup di akhirat, di surga atau neraka. Tidak yang memberi pengetahuan itu kepada kita kecuali al-Qur'an. Pengetahuan kita tentang hati bukan hasil ijtihad,

A. Hidayat

137

meditasi, atau penelitian ilmiyah. Pengetahuan benar yang tidak mungkin kita dapati melalui pengetahuan selain pengetahuan wahyu adalah pengetahuan tentang makhluk-makhluk gaib. A1-Qur'an memberi tahu tentang jenisnya, sifatnya, dan pekerjaanya. Jenisnya ada malaikat, syaitan, dan jin. Malaikat sifatnva baik; svaitan sifatnya jahat; dan jin ada yang baik dan ada yang jahat. Pekerjaan malaikat mengatur alam, memelihara dan mengawasi manusia serta membisiki kebaikan kepadany a dan

138

Pandangan Keilmuan UIN

mendorongnya untuk melakukannya. Pekerjaan syaitan mendorong manusia melakukan kejahatan. Pekerjaan adalah beribadah dan juga ada yang merusak kehidupan manusia. Pengetahuan mistik bisa saja menjadi salah satu sumbernya. Akan tetapi apa yang diberitahukannya sangat sedikit dan bisa menyesatkan. Al-Qur'an juga sejarah para Nabi, dan terutama sejarah Nabi Muhammad Saw. sendiri. Al-Qur'an memberitahukan bagaimana ummat Islam terbentuk, bagaimana Tuhan membimbingnya; dan bagaimana keberhasilannya. Intinva, pengetahuan wahvu yang disampaikan alQur'an kepada kita sangat prinsipil, esensial, strategis, komprehensif, dan penting yang jadi pedoman dan bimbingan dalam seluruh aspek kehidupan kaum Muslimin. Pengetahuan itu tidak dapat diganti oleh pengetahuan lainnya, baik itu filsafat, maupun sains, lebih-lebih oleh pengetahuan mistik. Dengan kata lain, pengetahuan yang diberikan ketiga pengetahuan tersebut tidak sebanding dalam tingkat kebenarannya, uniyersitalitasnya, dan kekuatan pengeruhnya dengan pengetahuan wahyu. Ditinjau dari sudut lain, pengetahuan wahyu dapat dibagi menjadi dua. Pertama pegetahuan nilai, yaitu pengetahuan tentang baik-buruk, baqbatbil, dan qudus-profan yang ditetapkan al-Qur'an. Pengetahuan ini disebut pengetahuan tbalaby (imperatif) yang melaluinva seorang Mu'min mengetahui apa wajib dilakukan dan apa yang dilarang; apa yang anjurkan dan apa yang boleh dilakukan; apa yang pantas dilakukan dan apa yang tidak pantas; dan apa yang boleh dicapai akal dan apa yang tidak dapat dicapai. Al-Qur'an secara luas mengungkapkan: nilai-nilai universal disamping nilainilai kondisional; nilai-nilai instrinsik disamping nilainilai ekstrinsik; dan nilai-nilai qudus yang tak dapat

139 dijelaskan oleh akal (ta'abbudy) disamping nilai-nilai pro fan yang dapat dianalisis oleh rasio.
A. Hidayat

Yang kedua pengetahuan kbabag, yaitu deskripsi al-Qur'an tentang semua realitas, baik realitas di alam lahir, maupun realitas di gaib. Pengetahuan lahir apa yang diungkapkan al-Qur'an mengenai dunia empirik, mulai dari realitas alam semesta, dunia fisik, dunia biologi beserta proses yang terjadi di dalamnya, dan dunia manusia, mulai karakternya sampai dengan masvarakat dan sejarahnya, termasuk pengendalian dan ikut campur Tuhan dalam semua itu.

140

Pandangan Keilmuan UIN

Adapun pengetahuan tentang alam gaib yang diungkapkan al-Qur'an dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu alam ghaibd~aty, alam ghaib makany, alam ghaib „zamany, dan alam ghaib ramaly. Alam ghaib Day ialah alam gaib yang berupa sub.,tansi seperti Tuhan, malaikat, jin, iblis, dan syaitan, bidadari dan lauh mahfudz. Al= ghaib makany adalah alam gaib yang berupa ruang. Akal tak dapat memastikan bagaimana wujud, lebar, panjang, luas, dan dalamnya ruang yang berupa neraka, surga, langit yang tujuh, dan Sidrah al-Muntaha. 'Alam ghaib .7mani adalah alam gaib yang berkaitan peristiwa-peristiwa dalam waktu. Tidak ada yang tahu kapan manusia dan makhluk-makhluk gaib diciptakan Tuhan. Al-Qur'an memberi tahu peristiwa-peristiwa masa lalu seperti sejarah para Nabi sampai Nabi Isa A.s. Dia juga memberitahu akan terjadi qiamat, tapi tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terjadinya. Jangankan mengetahui waktu qiamat, manusia tidak tahu pasti apa yang terjadi pada dirinya. Alam ghaib amaly adalah dunia gaib yang berkaitan dengan proses. Proses itu bersifat gaib yang hanya diketahui oleh Tuhan, misalnya: proses turunnya al-Qur'an, proses penciptaan alam yang disebut "Kun fa yakun", dan banyak proses- proses yang gaib yang tejadi di alam semesta. Manusia tak mungkin mengetahui alam gaib itu tanpa pemberitahuan dan Tuhan melalui wahyu-Nya. Al-Qur'an yang menyatakan hanya Dialah yang mempunyai kunci-kunci semua alam gaib. Tidak ada yang tahu mengenai alam gaib itu kecuali Allah. Berita gaib diluar apa yang diungkapkan al-Qur'an, biasanya adalah palsu. Syaitan atau jinlah yang melakukannya dengan membisikkan kepada para dukun atau ahli hikmah apa yang akan terjadi atau apa yang sudah terjadi. Oleh karena itu, mempercayai apa lagi melakukan hal tersebut dilarang oleh Islam.

A. Hidayat

141

Pengetahuan wahyu, baik thalaby maupun khabag, ada yang bersifat prinsip-prinsip umum dan ada yang cukup detil. Semua pengetahuan wahyu itu mempunyai kebenaran mutlak karena diberikan oleh Yang Maha Mutlak. Yang dimaksud dengan kebenaran mutlak ialah bahwa kebenaran tersebut tidak bisa diubah di manapun dan kapanpun. Pengetahuan wahyu yang bersifat prinsip (dalil Kully) mencakup semua jenisnya. Bila jenis itu ada delapan yaitu pengetahuan tentang :

142

Pandangan Keilmuan UIN

Tuhan, Alam semesta, manusia sebagai individu , masyarakat, kenabian, eskatologi, makhluk gaib, dan pembentukan ummat generasi Islam awal, maka masing-masing ada prinsipnya. Diantaranya: 1. Tuhan adalah esa yang rnempunyai segala sifat yang sempurna. 2. Tuhan selalu ikut campur pada segala kejadian di alam, walaupun Dia telah membuat hukum yang tetap yang berlaku di dalamnya. 3. Alam semesta diciptakan Tuhan dan tergantung kepadanya. 4. Alam semesta diciptakan tidak dengan sia-sia, tapi punya tujuan. 5. Alam semesta tanda dari keagungan, kekuasaan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Tuhan. 6. Alam semesta mempunyai permulaan dan akan punya nasib akhir. 7. Alam semesta tunduk (aslama) dan selalu bertasbih kepada-Nya 8. Sebagian alam disediakan untuk manusia. 9. Manusia adalah makhluk biologis (hewani) disamping makhluk ruhani. 10. Manusia makhluk yang mempunyai aneka ragam potensi dan masalah. 11. Semua potensi manusia bersifat berkembang tapi punya batas, termasuk potensi akal, dan ruhaninya. 12. Manusia diwajibkan taat pada semua ketentuan Tuhan dan harus bergantung kepada-Nya. 13. Masyarakat manusia hams selalu dalam cahaya bimbingan wahyu. 14. Nilai-nilai yang ditentukan wahyu untuk individu dan masyarakat ada yang bersifat universal dan ada yang kondisional. 15. Sebagian anggota masyarakat cenderung sutra merugikan anggota lain. 16. Anggota masyarakat diharuskan saling

A. Hidayat

143

menolong satu sama lainnya dan dilarang saling tolong untuk kejahatan. 17. Kekayaan tidak boleh beredar hanya dilingkungan orang-orang kaya 18. Ketaatan Kepada Rasulullah Saw. adalah bagian dari ketaatan pada wahyu 19. Wahyu adalah pengetahuan dari Tuhan yang mempunyai kebenaran mutlak dan karenanya wajib ditaati dan dijadikan dasar bagi seluruh aspek kehidupan termasuk kehidupan keilmuan. 20. Semua perbuatan manusia mempunyai akibat, baik di dunia

144

Pandangan Keilmuan UIN

maupun di Akhirat. 21.Ada kekuatan makhluk gaib yaitu syaitan yang mempengaruhi manusia untuk berbuat iahat, disamping potensi nafsu dirinya. 22.Ada kekuatan gaib yang mempengaruhi manusia untuk berbuat baik yaitu malaikat dan fithrah dirinya. Inilah sebagian dari prinsip-prinsip dari pengetahuan wahyu dalam al-Qur'an yang seharusnya menjadi dasar dan sumber keilmuan yang akan dikembangkan di UIN "SGD" Bandung.

C. Struktur Pengetahuan Wahyu Setiap pengetahuan yang bisa dikembangkan harus jelas strukturnya. Pengetahuan wahyu, sebagaimana pengetahuan filsafat dan pengetahuan ilmu, mempunyai struktur. Artinya, pengetahuan wahyu mempunyai ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 1. Ontologi Pengetahuan Wahyu Wilayah pengetahuan mencakup semua realitas, baik alam lahir maupun alam gaib baik berupa informasi, maupun aturan-aturan yang disampaikan Tuhan Rasul-Nya. Pengetahuan wahyu adalah semua pengetahuan Tuhan yang diwahyukan dalam al-Qur'an dan juga dalam Assunnah. Padahal, menurut alQur'an sendiri, "tidak ada sesuatu apapun yang tidak disampai dalam al-Qur'an. Ontologi dalam arti pengetahuan yang diungkapkan al - Qur'an dalam bentuk empirik adalah teks al-Qur'an yang terdiri dari ayat-ayat dan surah-surah.
Dalam al-Qur'an, penggunaan kata "ayat", paling tidak mempunyai tiga kaitan. Pertama, kata "ayat" dikaitkan dengan utusan Tuhan, maka arti dari kata "ayat" itu adalah mu'jizat. Kedua, kata "ayat"

145 dikaitkan dengan alam semesta dan realitas alam di sekitar manusia, maka, arti "ayat" itu ialah simbol atau tanda dari keagungan, kekuasaan dan kesempurnaan Allah. Ketiga, kata "ayat" dikaitkan dengan al-Qur'an, maka arti "ayat" dalam kaitan ini adalah pengetahuan yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw., baik pengetahuan, deskriptif maupun pengetahuan imperatif. Dan sudut kajian pengetahuan, terdapat perbedaan substansial pada kedua pengertian "ayat" itu. Kata "ayat" bila dikaitkan dengan alam dan disebut "ayat kawniyyah" bukanlah pengetahuan dalam dirinya, karena
A. Hidayat

146

Pandangan Keilmuan UIN

alam adalah Benda mad yang tidak berbicara. Sedangkan bila kata "avat" dikaitkan dengan alQur'an dan disebut "ayat Queaniyyah", maka kata "ayat" itu adalah pengetahuan dalam dirinya (knowlodge in its selj9, karena is adalah kumpulan pengetatuan yang bisa "bicara" dan berdialog dengan pembacanya. Kita bisa bertanya kepada al-Qur'an dan dia menjawab. Jadi, "Ayat Kawn .ipah" bukan pengetahuan dan "Ayat Qurian . ipah" adalah pengetahuan yaitu yang saga namai pengetahuan wahyu. Jadi objek dari pengetahuan wahyu adalah ayatayat al-Qur'an dan hadits sahih, terutama hadits mutawatir.
,

2. Epistemologi Pengetahuan Wahyu Secara sederhana konsep epistemologi diartikan sebagai cara untuk memperoleh pengetahuan. Cara memperoleh pengetahuan wahyu, yaitu pengetahuan yang diwahyukan Allah kepada utusan-Nya, melalui dua tahapan atau tingkatan. Pada tahap pertama, pengetahuan itu limpahan Tuhan sebagai anugerah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan diangkat-Nya menjadi utusan-Nya. Pada tahap ini, cara memperoleh pengetahuan wahyu risalah yang diberikan kepada para utusan-Nya, termasuk kepada Rasulullah Muhammad Saw., ada tiga cara sebagaimana dinyatakan al-Qur'an yang artinya: "Tidaklah Allah berbicara dengan seorang manusia kecuali melalui wahyu (bisikan cepat ke dalam had), berbicara di belakang tabir (=terdengar suara tapi tak terlihat yang bicaranya, seperti saat Allah berbicara kepada Nabi Musa di gunung Tursina), atau mengutus seorang utusan (berupa malaikat) yang mewahyukan dengan izin-Nya apa yang kehendak-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Q.42:5 1).

A. Hidayat

147

Ayat-ayat yang diwahyukan itu, dalam hal ini khusus al-Qur'an, disusun sistimatikanya oleh Rasulullah sendiri, ditulis dan dihapal para sehabatnya; pada Masa Khalifah Abu Bakar mulai dibukukan dan sempurna pembukuannya pada masa Khalifah Utsman bin Affan berupa Mashhaf yang final. Setelah pengetahuan wahyu yang berupa kandungan dari ayat dan surah terkumpul dalam sebuah mashhaf, muncullah tahap kedua. Pada tahap ini pengetahuan wahyu sudah menjadi pengetahuan terbuka. Siapa saja berhak mancapai dan memperoleh pengetahuan

148

Pandangan Keilmuan UIN

wahyu yang ada dalam al-Qur'an. Metodenya "alQira'ah" (=membaca dengan memahami) dan tafsir. Pardigmanya "Al-Satniu", "hi al-lughah 21)(1 hi al'atsar" dan "al-Fu'ad", "hi al-raj". Atau, dengan "transfer" dan "akal pikiran". Dan, oleh karena pengetahuan wahyu merupakan kandungan sebuah teks yaitu Mashhaf al-Qur'an, maka metode penelitiannya adalah metode yang biasa digunakan dalam meneliti sebuah teks. Ilmu yang digunakan adalah bisa Semantik, Semiotika, Hermeneutika di samping metode tradisional dalam kajian al-Qur'an. I)engan demikian ilmu bantu yang dapat dipakai untuk memperoleh pengetahuan wahyu dalam al-Qur'an adalah bahasa Arab, ulum al- Qur'an, dan ilmu-ilmu yang berkait dengan isi suatu ayat. Kebenaran pengetahuan wahyu tahap pertama yaitu pengetahuan-pengetahuan, baik yang khabary maupun yang thalaby, yang ada dalam al-Qur'an dan Hadits mutawatir, apa adanya, bersifat Mutlak. Artinya, kebenaran pengetahuan wahyu tidak dapat dikritik atau dinyatakan salah. Siapapun yang mengkritik al-Qur'an dia berhenti jadi orang mukmin. Yang menyalahkan prinsip-prinsip pengetahuan wahyu dipandang tidak mempercayai wahyu itu. Kebenaran pengetahuan wahyu, baik yang bersifat thalaby maupun khabary, tidak bisa dinyatakan salah oleh pengetahuan di luar al-Qur'an. Misalnya, kebenaran dalam ketentuan warisan yang menetapkan bahwa "laki-laki tnempunyai bagian sebanding untuk dua orang perempuan" tidak bisa dinyatakan salah karena bertentangan dengan prinsip Humanisme tentang kesetaraan gender. Akan tetapi, pengetahuan wahyu pada tahap kedua, yaitu pengetahuan wahyu yang dicapai seseorang hasil pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur'an atau tafsirannya mempunyai kebenaran

149 nisbi. Artinya, pemahaman atau tafsiran seseorang terhadap ayat al- Qur'an bisa benar dan bisa pula salah. Ukuran yang dapat dipakai dua macam, yaitu ukuran konservatif dan ukuran progresif. Pertama, ukurannya adalah kesesuaian dengan pendapat para ulama. Makin banyak ulama yang setuju terhadap tafsiran, atau pemahaman terhadap suatu ayat, maka, pemahaman atau tafsiran itu makin mendekati kebenaran mutlak. Kedua, ukurannya adalah ketepatan dan komprehensivitas metode yang digunakan. J adi, makin canggih metode yang digunakan dalam memahami atau menafsirkan alQur'an,
A. Hidayat

150

Pandangan Keilmuan UIN

maka, pemahaman dan penafsiran itu makin mendekati kebenaran mutlak.

3. Aksiologi Pengetahuan Wahyu Pengetahuan wahyu adalah pengetahuan yang terpenting bagi seorang mu'min. Karena, setiap perasaan, pikiran sikap, dan perbuatan dalam keadaan apapun memerlukan pengetahuan wahyu untuk membimbingnya, memberinya pemecahan dan memberinya kekuatan dan membuatnya selamat di Dunia dan di Akhirat. Pengetahuan wahyu lebih penting dibanding dengan pengetahuan sains, karena sains tidak bisa menjawab persoalanpersoalan mendasar tentang hidup, tujuan hidup, Tuhan dan lain sebagainya. Ia lebih penting dibandingkan dengan pengetahuan filsafat, —walaupun filsafat berguna dalam keadaan tertentu dan dalam menata berpikir supaya mendasar dan sistimatis,— karena pengetahuan filsafat bersifat elitis dan sering sekali membuat orang bingung bahkan gila. Oleh kareana itu, filsafatpun memerlukan pengetahuan wahyu dan sebaiknya berpijak pada pengetahuan wahyu agar tidak destruktif. Apalagi bila pengetahuan wahyu dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya.
Ringkasnya, pengetahuan wahyu adalah pengetahuan yang diberikan Allah kepada ummat manusia dalam bentuk rilnya berupa (khususnya) ayat-ayat al-Qur'an yang mempunyai struktur unik yang menjadi sumber, objek, dan dasar dari ilmu-ilmu keilaman serta bisa atau jadi dasar dan bimbingan terhadap ilmu-ilmu umum yaitu ilmu keislaman, ilmu sosial, dan humaniora.

D. Sekilas Tentang Pengetahuan Sains Sains dalam bentuknya yang paling nyata adalah pengetahuan yang didapat dengan metode ilmiah,

151 yaitu metode induktif, dan yang umumnya bisa diverifikatif. Sains yang mempunyai karakter empirik, teoritik, dan kumulatif Games A. Black, 1976:5) dikembangkan melalui kontinuanitas penelitian. Ilmiah juga mempunyai pinsip-prinsip "objectivi ty , relativism, etical persimony, skeptism, and humani ty " (Bierstedt, 1970:16).
A. Hidayat

Menurut Selo Sumarjan, sains dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu: ilmu-ilmu kealaman (natural sciences), ilmu-ilmu kemasya-

152

Pandangan Keilmuan UIN

rakatan (social sciences), dan ilmu-ilmu kemanusian(humaniora) (Sumarjan, 1964:13) Ilmuimu keagamaaan dipandang sebagai bagian dari ilmuilmu humaniora, akan tetapi beberapa ahli ilmu keagamaan memandang ilmu keagamaan terpisah dari ilmu humaniora karma terdapat perbedaan dalam objeknya dengan humaniora. Objek humaniora adalah manusia sebagai makhluk budava, sebagaimana ilmu sosial objeknya manusia sebagai makhluk sosial, sedangkan ilmu-ilmu agama objeknya adalah manusia sebagai makhluk beragama yang mempunyai pikiran perasaan, dan perbuatan yang dihubungkan dengan kepercayaannya kepada dunia gaib. Oleh karena beda objeknya, seharusnya ilmu agama terpisah (bukan bagian) dari humaniora. Ilmuwan sekuler menjadikan ilmu agama bagian dari humaniora, karena mereka memandang agama, dalam seluruh aspeknva, termasuk kebudayaan. Pembagian itu juga mengisyaratkan adanva karakter yang berbeda dari segi tingkatan objektivitas. Tingkat objektivitas itu ditentukan oleh tingkat keterlibatan emosi, pandangan, dan kepentingan ilmuwan dengan ilmu tersebut. Makin terlibat sebuah ilmu dengan kemanusiaan ilmuwan maka makin rendah tingkat keobjektivitasan mungkin dicapai. Dalam urutan kerlibatan itu tampak ilmu agama, terus humaniora, terus ilmu sosial dan ak-hirnya ilmu kealaman. Oleh karena itu, ilmu yang paling sulit untuk objektif adalah ilmu agama dan yang paling mudah objektif adalah ilmu kealaman. Pembahasan tentang pengetahuan ilmu (sains) di sini diarahkan hanya pada beberapa isyu yang berkaitan dengan persoalan integrasi sains dengan agama, dalam hal ini dengan pengetahuan wahyu. Persoalan ontologi, epistemologi, dan aksiologi akan disentuh selama berkaitan persoalan hubungan agama

153 dengan sains. Diantara persoalan itu adalah persoalan objektivitas, dan bebas nilai.
A. Hidayat

Persoalan objektivitas, netral etik, dan islamisasi sains adalah persoalan kontroversial dalam pengetahuan ilmu (sains) karena ada yang memandang untuk sains-sains tertentu netral etik maupun objektivitas adalah tidak mungkin dan juga tidak harus. Sementara kaum positivisme menyatakan bahwa objektivitas dan netralitas bukan raja mungkin bahkan harus di semua bidang keilmuan. Dalam sosiologi, kontroversi itu sangat kuat dan dalam. Akan tetapi kini, kecenderungan umum lebih mengarah pada pandangan

154

Pandangan Keilmuan UIN

bahwa objektivitas seratus persen dalam bidang itu tidak mungkin. Karena itulah ketika Yayasan Carnagi bermaksud meneliti konflik antara kulit putih dan negro Amerika tahun 40-an, mereka tidak menggunakan sosiolog hangsa Amerika, padahal Amerika adalah gudangnya sosiolog terkemuka di dunia, maka mereka percayakan penelitian itu pada sosiolog dan diplomat berkebangsaan Swedia, Lunar Mvrdal. Hasil penelitiannya diterbitkan tahun 1944 dengan topik: An American Dillema. The Nero Problems and Modern Democracy. Mcnurut filosof Inggris terkemuka, seorang perintis ilmu pengetahuan modern, Francis Bacon (1561-1626) dalam bukunya .7.Vovum 07anum, objektivitas itu tidak mungkin dipegang karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dinarnainya "idols", "berhalaherhala", vaitu idols of tribes. idols of cave, idols of market palace, dan idols of Miter erstedt, 1970:17-19). Kontroversi yang lain adalah persoalan netral etik. Pendapat umum di kalangan ilmuwan sekuler, termasuk sosiolog-sosiolog amerika terkemuka, menetapkan mestinva netral etik. Alvin W. Gouldner (1964) menyatakan bahwa mulai dari Talcott Parsons sampai Lundberg telah masuk pada aliansi sccara diam-diam untuk mcngikat kita, terutama sebagai sosiologis pada dogma yang menegaskan : Thou shalt not commit a value judgement " ("Anti-rninotaur. The Mith of a ValueFree Sosiology", dalam The New SocUdog, Horowitz, 1970:196). Namun sosiolog terkemuka sekarang mcmandang `free value" scbagai tak masuk akal. Di camping Gunar Myrdai, tokoh-tokoh sosiolog Amerika seperti C. Wright Mills, Sidney M. Wiliheim (University of New York), Alvin Gouldner (Washington University), Abraham Eddel (University of New York), dan Irving Lois Horowitz, mereka

155 memandang 'free value" dalam penelitian sosial tidak mungkin dilaksanakan. Horowitz (1970:49) memandang "free- value" dalam ilmu sosial sebuah utopia dan juga berbahaya. Karena itu mengaitkan nilai baik buruk dalam penelitian ilmiyah dalam keadaan tertentu suatu keharusan. Karena, bila tidak dikaitkan dengan "nilai baik", penelitian itu akan menjadi alat buruk dan berbahaya di tangan penguasa atau pengusaha. Doktrin "free-value".
A. Hidayat

Oleh karena itu, jelas sekali, jika sains bisa dibebaskan dari sebuah nilai, maka is akan berpijak pada nilai lain. Ketika seorang

156

Pandangan Keilmuan UIN

ilmuwan melepaskan dirinya saat meneliti objek ilmiah dari nilai-nilai moral dan nilai-nilai agama yang percaya pada bimbingan moral wahyu, is akan jatuh pada nilai-nilai yang ditetapkan oleh filsafat naturalisme, materialisme, hedonisme, dan positivisme. Dan, persoalan "objektivitas" dan : "bebas nilai" dalam ilmuilmu sosial demikian juga persoalan "Islamisasi sains" yang merupakan persoalan kontroversial dikalangan cendikiawan Muslim akan dibahas dalam persoalan integrasi keilmuan dalam pemikiran Islam. Kini semuanya berkaitan dengan persoalan integrasi pengetahuan ilmu (sains) dengan agama yang berupa pengetahuan yang diwahyukan Allah untuk manusia yang akan dibahas di bawah ni.

E. Integrasi Sains Dengan Pengetahuan Wahyu Sebelum berbicara mengenai persoalan di atas, ada baiknya disimak dulu pandangan-pandangan yang beredar di beberapa kalangan. Diantaranya, pandangan yang menyatakan bahwa salah satu sebab penting yang membuat kaum Muslimin tidak maju adalah dominannya dikhotomi antara ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum oleh karena itu kedua ilmu itu hams diintegrasikan. Ia mengkambinghitamkan keterpurukan ummat atas dikhotomi antara kedua jenis ilmu itu.
Penulis sepenuhnya tidak setuju dengan pandangan itu, atas dasar alasan-alasan berikut. Pertama, adalah sejarah kebudayaan Islam, khususnya sejarah keilmuan Islam, dikhotomi dalam arti membagi ilmu menjadi dua ilmu yang terpisah, yaitu alDinipah dan al-AqIipah (dikhtomi dalam Macmillan Cotemporay Dictionary

157 diartikan : "division into two parts; Greek: dikhotomia = a cutting into two") sudah dilakukan ulama sebelum Islam mencapai zaman keemasan kebudayaan tanpa menimbulkan masalah. Mereka menyadari bahwa itu, secara metodologis, suatu keharusan. Dengan pemisahan kedua jenis ilmu, kemajuan ilmu tetap bahkan menjadi pesat.
A. Hidayat

Sejarah Islam ketika mundur menunjukkan bahwa bukan dikhotomi antara kedua jenis ilmu itu yang menyebabkan keterpurukan umat yang panjang dalam kebudayaan, akan tetapi ketidak seimbangan penghargaan terhadap kedua jenis ilmu itu. Al Ghazali yang menjadi tokoh "penentu" dalam sejarah intelektual Islam —balk

158

Pandangan Keilmuan UIN

dalam arti positif maupun negatif— kurang aclil dalam mernandang posisi kedua ilmu itu di hadapan Syariah Baginya, yang dimaksud dengan 'Lam Aqliyah adalah filsafat yang mempunyai empat cabang yaitu: 1) Arirtmatik dan Geomaetri, 2) Mantik, 3) Filsafat ketuhanan, dan 4) Fisika yang dia kategorikan menjadi dua yang satu yang bertentangan Syariah dan yang tak bertentangan dengan Syariah. Fisika di luar ilmu kedokteran menurut dia tidak berguna bahkan ada yang dilarang (Al Ghazali, t.t., vol.1:14). Ibn Taimiyah, raksasa lain dalam sejarah intelektual Islam, juga mempunyai pandangan yang sama mengenai hal itu. Dia dalam bukunya Al Radd 'ala alMantiqinin menegaskan bahwa, walaupun ilmufisika dan aritmatika ada gunanya, tetapi is tidak akan membuat muslim masuk surga. Penghargaan yang rendah terhadap ulum aqliyah itu mengakibatkan hilangnya ilmu-ilmu tersebut sedikit demi sedikit dari lembaga pendidikan Islam sebagaimana tercermin dalam sistem pendidikan Islam yang merupakan warisan intelektualitas Al-Ghazali. Kedua, pengintegrasian antara dua ilmu adalah tidak masuk akal Karena masing-masing ilmu sudah punya ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda. Misalnya, tidak mungkin mengintegrasikan ilmu kalam dengan fisika. Karena, objek ilmu Kalam adalah Tuhan dengan segala sifatnya sedangkan objek Fisika adalah benda mati. Ilmu apa namanya dan bagaimana strukturnya, seandainya penggabungan dipaksakan. Mungkin ada orang yang mengatakan bisa hingga lahir misalnya, lahir ilmu Kalam Fisika. Tapi muncul pertanyaan apa objeknya dan bagaimana strukturnya. Itu tidak bisa dijawab karena mustahil. Jangankan pengintegrasian antar ilmu yang berbeda rumpun, dalam satu rumpun yang sama pun seperti antara Ilmu Kalam dengan Fiqih, antara Fisika dengan Biologi, atau Sosiologi dengan Sejarah tidak

A. Hidayat

159

mungkin. Yang ada dalam serumpun itu adalah pinjam teori atau pendekatan yang disebut dengan pendekatan inter disiplin. Misalnya, sejarah dalam penelitiannya sering menggunakan teori sosiologi, atau sebaliknya. Memang, ilmu pra era modern asalnya terintegrasi dalam filsafat. Jadi, kalau begitu, hubungan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu lainnya dibiarkan apa adanya. Itu betul. Kita tak perlu membuat pengintegrasian antara "ilmu umum" (sains) dengan ilmu

160

Pandangan Keilmuan UIN

agama, tetapi yang perlu adalah pengintegrasian antara pengetahuan ilmu (sains, ilmu pengetahuan) dengan agama, hingga pengetahuan ilmu yang a salnya didasarkan pada pandangan Naturalisme, Materalisme, dan Positivisme yang mambuat manusia kehilangan arah dalam hidupnya, menjadi pengetahuan yang didasarkan pada prinsipprinsip ajaran agama yang akan membuat hidup lurus dan benar serta membuatny a bahagia Dunia dan Akhirat. Jadi, yang perlu dikaji adalah hubungan antara agama dengan ilmu. Akan tetapi, ketika dikatakan "agama" diintegrasikan dengan "ilmu-ilmu umum", muncul pertanyaan: "Agama dalam bentuk apa yang harus diintegrasikan dengan ilmu-ilmu umum (sekuler) itu?". Bila kita cermati, tentu yang dimaksud agama di sini adalah "ajaranajarannya" yang terdapat (dalam Islam) pada ayat-ayat al-Qur'an dan Assunnah. Muncul pertanyaan susulan: "Apa hakekat ajaran dalam bentuk ayat-ayat al-Qur'an itu?". Jawaban yang pasti, "Hakekat ajaran dalam avat-avat itu adalah pengetahuan yang diwahyukan Tuhan kepada manusia, balk berupa informasi tentang Tuhan, alam, manusia, dan yang ]ainnya, maupun berupa aturan normatif". Jadi, yang dimaksud integrasi agama dengan ilmu umum adalah integrasi antara pengetahuan wahyu dengan pengetahuan ilmu (sains). Dalam kaitan ini seorang Guru Besar Fisika yang terkemuka di Iran menyatakan bahwa pengetahuan yang diberikan al-Qur'an yang terpenting kepada kita adalah pandangan dunianya yang unik tentang sains dan menyodorkan epistemologi yang juga unik yang bisa mengatasi kekurangan yang terdapat pada sains (1999:116). Dengan kata lain, ketika al-Qur'an diitegrasikan dengan sains, maka al-Qur'an akan memeberi pandangan terhadap dunia yang unik yang berbeda dengan pandangan naturalisme dan materalisme

A. Hidayat

161

dan menyodorkan epistemologi yang lebih tepat daripada epistemologi sains yang ada. Salah satu epistemologi yang ialah dalam menghadapai dan meneliti alam harus menggunakan rasa disamping aka/
(klem).

Ketika kita membicarakan persoalan pengintegrasian pengetahuan ilmu (sains) dengan pengetahuan wahyu, maka, pada hakekatnya, kita masuk pada persoalan islamisasi sains. Karena, islamisasi sains seperti didifinisikan oleh Taha Jabir al-Alwani sebagai "usaha menggabungkan dua pengetahuan (readings), pengetahuan dari wahyu

162

Pandangan Keilmuan UIN

dan pengetahuan dari dunia fisik ke dalam kerangka kerja iatnework) yang kohesif dan integral yang saling mengisi dan menvempurnakan dalam membantu pikiran manusia dengan cerdas dan tercerahkan dalam menyerap makna dan metode untuk membimbing suatu kehidupan yang bermoral dan konstruktif di dunia ini" (dalam, Mona M. Abul Fadl, 1972: 107). Yang dimaksud dengan pengintegrasian antara pengetahuan wahyu dengan pengetahuan ilmu bisa menunjuk beberapa aspek. Pertama, dalam aspek philosofis. Di sini sains dipijakkan titik tolak ontologi, epistemologi, dan aksiologinya pada pengetahuan wahyu yang bersifat prinsip seperti yang telah diungkapkan penulis di atas (h1.70) yang minimal berjumlah 21 buah prinsip. Prinsip-prinsip itu merupakan ajaran dasar dari al-Qur'an yang digunakan sebagai pijakan philosofi dan teorids bagi berbagai disiplin ilmu, mulai dari fisika, biologi, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora. Ind dari Islamisasi (dalam anti yang lebih spesifik, Quranisasi) sains adalah memeliharanya dari semua kejahatan dan pertentangan yang dihasilkan oleh kegemaran pada hanya membaca (meneliti) dunia fisik atau materi dipisahkan dari pengetahuan yang diwahyukan (alAlwani, dalam Mona Abut Fadl, 1993:10 7). Dengan demikian jelas sekali bahwa salah satu tujuan yang terpenting dari islamisasi itu adalah melekatkan sains pada Tuhan dan ajarannya, moral, dan dunia spiritual. Persoalan islamisasi sains itu sangat sulit dan komplek. Pada tataran teori saja masih dalam perdebatan, baik dalam eksistensinya, wilayahnya, maupun kemungkinan-kemungkinannya. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa yang hams diislamkan bukan sainsnya tetapi saintisnya. Tentu

163 saja, itu kurang tepat, dalam kenyataannya problem bukan hanya pada orang tapi pada ilmu, dalam hal ini ilmu yang dipisahkan dari wahyu. Islamisasi sain pada tataran pelaksanaan lebih sulit lagi. Karena, pada tataran kongkrit ini yang dimaksud dengan islamisasi sains itu adalah islamisasi disiplin-disiplin ilmu yang menghasilkan text-books pada level perguruan tinggi (111T,1995:19) bahan ajar untuk mahasiswa. Kita tahu bahwa buku bahan ajar sains Biologi atau fisika (misalnva) yang dipakai di semua tingkatan pendidikan adalah text-books yang mengajarkan materialisme dan
A. Hidayat

164

Pandangan Keilmuan UIN

naturalisme. Oleh karena itu, langkah strategic yang perlu dilakukan UIN ke depan, bukan hanya berkutat pada aspek teoritis dalam mengintegrasikan sains dengan agama (pengetahuan wahyu), tetapi perlu melangkah bagaimana menciptan buku ajar (text books) yang mencerminkan pengintegrasian itu. F. Sekedar Catatan

-

Sebenarnya, di camping mernikirkan pengintegrasian ilmu dengan agama, ada hal penting lain yang perlu dipikirkan dan dicermati secara sungguh-sungguh oleh civitas akademisi di LAIN, yaitu ilmu-ilmu keislaman (Dirasab Islamiyah) sendiri yang banyak rnenganclung masalah. Yang terpenting diantaranya adalah perlunya "sainstifikasi" iimu-ilmu keislaman. Yang dimasud dengan sainstifikasi di sini adalah ilmu-ilmu Islam itu harusnya berkembang dalam seluruh aspeknya sesuai dengan perkembangan tantangan dana masalah yang Lirnbul berbeda dari sate zaman ke zaman lain berdasarkan kajian yang bersifat kritis analitis. Wujud ilmu-ilmu Islam yang ada sekarang adalah wujud yang tidak berubah dan tidak berkembang (atau berubah sedikit) dalam masa yang hampir seribu tahun yang lahir dalam rangka menjawab tantangan dan memecahkan masalah di zaman kehadirannya. Dalam Ilmu kalam, fiqih, dan tasawuf kita melihat di dalamnya wujud archaik (memfosil), baik dasar keilmuannya,

165 maupun pokok bahasan yang ada di dalamnya. Hasil ijtihad ulama yang merupakan jawaban atas tantangan di zamannya masih sering sepenuhnya dipakai oleh kita pada zaman dan tantangan yang berbeda. Hasil ijtihad para pendiri aliran dalam Islam teiah dikuduskan menjadi sesuatu yang tak mungin salah dan tak terpikirkan untuk mengkritiknya. Untuk itu banyak contohnya.•
A. Hidayat

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an al-Kariim Abdullah bin Muhammad bin Ismail, t.t., Matn al-Bukhary, Bairut: Dar al-Kitab alIslamy. Anonim, 1995 Islamization of Knowledge, Herdon Virginia: International of Islamic Thought Bierstedt. Robert, 1970, The Social Order, New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Co. Ltd. Black, A. James and Dean J. Champion, 1976 Method and Issues in Social Research, Toronto : Jhon Wiley & Sons Inc. Dzahabi, Muhammad Husein, al, 1976 Al-Tafsir wa al-Mufassirun, Kaira, t.p. Fazlur Rahman, 1983, Tema Pokok al-Quran, terj. "Major Themes of the Quran", Bandung, Penerbit Pustaka. Gazali, Abu Harmid Muhammad al, T.t., lhya Vlum al-Diin Vol. I Bairut: Dar alMa'rifah Horowitz Irving Louis (ed.), 1970 The Sociology, Essay in Social Science and Social Theory, Oxford: Oxford University Press. Mehdi Goishani, 1999 The Holy Qur'an and the Sciences of Nature. Birmingham University: Insitute of Global Cultural Studies. Mona Abul Fadl (Ed.), 1993 Proceedings Twenty First Annual Conference, The International Institute of Islamic Thought Myrdal, Gunnar, 1981 Objektivitas Penelitian Sosial, terj. "Objectivity in Social Research", Jakarta: LP3ES. Parsons, Talcot, 1964, The Social System, London: Collier-Macmillan Limited. Qadir, C.A., (ed.), 1988 Ilmu Pengetahuan dan Metodenya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Sumarjan, Selo, 1964, Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta: Lembaga Penerbit Universitas Indonesia. Wansbrough, Jhon, 1977, Ouraniq Studies, Sources and Methods of Scriptual Interpretation, Oxford: Oxford University Press. William D. Halsey, (ed.), 1979, Macmillan Contemporary Dictionary, New York: Macmillan Publishing,Co.,Inc.
,

MERAJUT KEMBALI IKATAN ESENSIAL ILMU-ILMU KEISLAMAN MELALUI UIN
A. Darun Setiady* A. Tantangan UIN Era Globalisasi dan Informasi Berbagai perubahan pada era globalisasi dengan ditandai dengan WTO, AFTA, APEC membuat masyarakat di masa depan akan sangat terbuka disertai ketergantungan kultur yang bersifat global. Tenaga kerja terampil dari luar negeri akan masuk ke tanah air. Kecenderungan ini diperkuat oleh laju perkembangan teknologi infottnasi yang dengan mudah dapat diakses dan dapat merubah sikap moral, sosial dan intelektual seseorang dalam waktu cepat. Sektor jasa dan pariwisata akan tumbuh menjadi paradigma baru ekonomi, sedangkan kehidupan sosial politik dan keagamaan akan berubah bentuk dan fungsinva. Kemajuan yang sangat pesat dalam sains dan teknologi pada milenium 3 ini, menjadikan umat Islam harus mawas diri di mana posisi kita sekarang di antara bangsa bangsa di dunia ini. Sejak umat Islam melepaskan kegiatannya dalam pengembangan sains dan teknologi di abad ke-13, kemampuan sains dan teknologi berpindah dari tangan umat Islam ke Eropa Barat, yang sebagai akibat pengalaman sejarah yang pahit memisahkan agama dari politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. IPTEK dikembangkan dalam

suasana yang sekular; kemampuan umat dalam bidang ini semakin merosot; usaha keras yang dilakukan Kesultanan Turki untuk mengejar Eropa Barat dengan mendorong teknologinya menemui kegagalan, karena tidak didukung oleh sains. Turki hanva mendapat teknologi yang cepat menjadi usang, sedangkan Eropa Barat yang menguasai sains sumber
* A. DARUN SETIADY, Drs., M.Si., Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

204

Pandangan Keilmuan UIN

teknologi, selalu memperoleh teknologi baru dari kegiatan sainsnya. Menurut analisis Prof. Abdus Salam, salah seorang tokoh terkemuka bidang sains, yang berasal dari Pakistan, ada empat faktor yang menjerat negara berkembang, sehingga mereka tetap tidak dewasa di dalam bidang sains yang diperlukan untuk teknologi mutakhir. Pemenang Hadiah Nobel untuk bidang fisika tahun 1978 itu menyatakan kurang lebih sebagai berikut: Banyak negara berkembang: 1. Tidak mempunyai komitmen terhadap sains; baik yang terapan, apalagi sains yang murni. 2. Tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan tercapainya kemandirian (self reliance). 3. Tidak mendirikan kerangka institutional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains. 4. Menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains.1 Sebagai akibatnya, maka di sana hanya ditemukan universitas-- universitas yang lemah dan beberapa lembaga riset terapan saja; cacah tenaga ahlinya di masing-masing bidang di bawah ukuran kritis yang lazim diperlukan untuk dapat saling gosok, sedang masyarakat ilmiahnya terisolasi dari sains internasional; pendidikan sains dan teknologinya lemah, dan ini semua terefleksikan dalam pemberian anggaran yang rendah bagi sains, terapan dan murni. Tantangan era globalisasi menuntut respon yang tepat dan cepat dari sistem Pendidikan Islam secara keseluruhan. Jika kaum Muslimin tidak hanya ingin

sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil di depan, maka re-orientasi pemikiran mengenai Pendidikan Islam dan restrukturisasi sistem dan kelembagaan jelas merupakan keniscayaan. Umat Islam tidak boleh berpangku tangan dan menonton dari luar seluruh 2 perkembangan yang terjadi.
Baca Achmad Baiquni, Al-Qur'an llmu Pengetahuan dan Teknologi, Seri Tafsir AI-Qur'an bil Ilmi: 01, PT. Dana Bakti Prima Yasa, Cetakan 5, 1995, h. 137. Pemikiran inilah yang mendorong adanya gagasan tentang pengembangan IAIN (Jakarta,Yogyakarta, Malang, Riau, Bandung, dan Makasar) sebagai pilot proyek menjadi
2

A. Darun Setiady

205

B. Pengembangan LAIN menjadi UIN Salah saw harapan pengembangan LAIN menjadi UIN adalah melahirkan Pendidikan Islam yang ideal dimasa depan. Program reintegrasi epistemologi keilmuan pada gilirannya akan menghilangkan dikotomi antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama disertai ketergantungan kultur yang bersifat global. Perubahan dan pengembangan ini bukan sekedar asal berkembang dan berubah. Diperlukan konsep yang matang dan detail, sehingga tidak mengulangi eksperimen dan pengalaman sejarah yang dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi umum yang didirikan oleh swasta keagamaan. Pengembangan ini berada dalam kerangka dan semangat harmonisasi keilmuan dan keagamaan, bukannya keterpisahan antara keduanya meskipun ada di bawah satu atap kampus. Hal ini penting untuk memberikan landasan moral Islam terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, lingkungan hidup, sosial-ekonomi, dan sosialbudaya, sosial-politik dan sosial-keagamaan di tanah air, sekaligus mengartikulasikan ajaran Islam sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, humaniora dan sosial kontemporer. Mempertimbangkan besarnya tantangan yang dihadapi oleh anak didik dimasa depan dan meningkatnya tuntutan masyarakat akan peran lembaga pendidikan, Perguruan Tinggi Agama Islam di bawah Departemen Agama hams terpanggil untuk melakukan upaya pengembangan akademik dan institusi. Model pengembangan akademik diawali pembukaan program "wider mandate", yang pada waktunya nanti akan mengarah ke perubahan bentuk kelembagaan institut menjadi universitas, khusus untuk beberapa institut yang dipilih secara selektif. Selain alasan diatas, sejak pemberlakuan

kurikulum Madrasah Aliyah 100% sama dengan kurikulum SMU yang penekanannya pada pendidikan umum yang bercirikan Islam. Dengan perubahan tersebut, maka para lulusan madrasah Aliyah yang jumlahnya sangat signifikan,
Universitas Islam Negeri, di bawah Departemen Agama Republik Indonesia yang mencakup bukan hanya Fakultas-fakultas Agama, tetapi juga Fakultas-fakultas Umum dengan corak epistemologi keilmuan dan etika moral keagamaan yang tntegralistik. Dalam konsep ini, Fakultas-fakultas Agama akan tetap dipertahankan seperti adanya sekarang, hanya saja Fakultas Agama yang ada ini dikembangkan dan diperkuat menjadi pusat-pusat kajian-kajian keislaman dengan metodologi dan berbagai pendekatan yang baru.

7'1(.! -

A. Darun Setiady
L IIA ;

207

uga mengalami perubahan orientasi untuk memilih program studi umum di perguruan tinggi, selain program studi agama seperti yang selama ini berjalan. Hanya raja kecenderungan dikotomistik yang berjalan selama ini masih menghantui banyak kalangan dan tidak bisa menolong krisis yang dialami oleh paradignia ilmu-ilmu sekuler maupun ilmu-ilmu keagamaan yang bentuknya yang konvensional. Agama merupakan wahyu Tuhan, yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan hidup balk fisik, sosial maupun budaya. Kitab suci al-Qur'an yang diturunkan merupakan petunjuk etika, moral, akhlak, kebijaksanaan dan dapat menjadi teologi ilmu serta Grand Theory ilmu. Wahyu tidak pernah rnengklaim sebagai ilmu qua ilmu seperti yang seringkali diklaim oleh ilmu-ilmu sekuler. Agama memang mengklaim sebagai sumber kebenaran, etika, hukum, kebijaksanaan, dan sedikit pengetahuan. Agama tidak pernah menjadikan wahyu Tuhan sebagai satu-satunva sumber pengetahuan dan melupakan Tuhan. Menurut pandangan ini, sumber pengetahuan ito dua macam, yaitu yang berasal dari Tuhan dan yang berasal dari manusia. Perpaduan antara keduanya disebut teo antroposentrisme. Modernisme yang menghendaki diferensiasi yang ketat dalam berbagai bidang kehidupan sudah tidak sesuai lagi dengan semangat zaman. Spesialisasi dan penjurusan yang sempit dan dangkal mempersempit jarak pandang atau horizon berpikir. Pada peradaban yang disebut pasta modern perlu ada perubahan. Perubahan dimaksud adalah gerakan resakralisasi, deprivatisasi agama dan ujungnva adalah dediferensiasi (rujuk kembali). Kalau diferensiasi menghendaki pemisahan antara agama dan sektor-

sektor kehidupan lain, maka dediferensiasi iniiah penyatuan kembali agama dengan sektor-sektor kehidupan lain, termasuk agama dan ilmu. Agama menyediakan tolok ukur kebenaran ilmu (daruriyyat; benar, salah), bagaimana ilmu diproduksi (hajyyat; baik, buruk), tujuantujuan ilmu (tahsinipat, manfaat, merugikan) dan dimensi aksiologi dalam epistemologi ini penting untuk digarisbawahi, sebelum manusia keluar mengembangkan ilmu. Selebihnya adalah hak manusia untuk meniikirkan dinamika internal ilmu. Produk keilmuan harus bermanfaat untuk manusia seluruh umat

A. Darun Setiady

207

manusia (rahmatan Paradigma keilmuan baru yang menyatukan, bukan sekedar menggabungkan, wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia (ilmu-ilmu integralistik) tidak akan berakibat mengecilkan peran Tuhar (sekularisme) atau mengucilkan manusia sehingga teralienasi dan dirmya sendiri, dari masyarakat sekitar, dan lingkungan hidup sekitarnya. Diharapkan konsep integralisme dan reintegrasi epistemologi keilmuan UIN akan sekaligus menyelesaikan konflik antar sekularisme ekstrim dan agama-agama yang rigid dan radikal dalam banyak hal.3 Epistemologi keilmuan UIN dapat diilustrasikan sebagai RODA keilmuan yang bercorak integralistik. Tergambar disitu bahwa jarak pandang dan horizon keilmuan integralistik begitu luas (tidak myopic) sekaligus terampil dalam perikehidupan sektor tradisional maupun modern lantaran dikuasainya salah satu ilmu dasar dan keterampilan yang dapat menopang kehidupan era informasi-globalisasi. Disamping itu tergambar sosok yang terampil dalam menangani dan menganalisis isu-isu yang menyentuh kemanusiaan dan keagamaan era modern dan pasca modern dengan dikuasainya berbagai pendekatan baru yang diberikan oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora kontemporer. Di atas segalanya, dalam setiap langkah yang ditempuh, selalu dibarengi landasan etika moral keagamaan yang objektif dan kokoh, karena keberadaan al-Qur'an dan al-Sunnah yang dimaknai secara baru selalu menjadi landasan pijak pandangan hidup (weitanschauung) keberagamaan manusia yang menyatu dalam satu tarikan nafas keilmuan dan keagamaan. Kesemuanya diabdikan untuk kesejahteraan manusia secara bersama-sama tanpa pandang latar belakang etnisitas, agama, ras maupun golongan.

Contoh di bawah akan memberi gambaran tampilan ilmu yang integralistik bersama prototype sosok ilmuan integratif yang dihasilkannya. Contoh dapat diambil dari Ilmu Ekonomi Syari'ah, yang sudah nyata ada praktik penyatuan antara wahyu Tuhan dan temuan pikiran manusia. Ada BMI (Bank Mu'amalat), Bank BNI Syari'ah, Bank Mandiri Syari'ah, Takaful Syari'ah, usaha-usaha agrobisnis, transportasi, kelautan, dan sebagainya. Agama menyediakan etika dalam perilaku ekonomi diantaranya ialah bagi hasil (al-mudharabah), dan kerjasama (al-muyarakah). Disitu terjadi proses objektifikasi dari etika agama menjadi ilmu agama yang dapat bermanfaat bagi orang dari semua penganut agama, nonagama, atau bahkan anti-agama. Dan orang beriman untuk seiuruh manusia (rahmatan lil 'alamin). Kedepan pola kerja keilmuan ini dituntut dapat mernasuki wilayah-wilayah yang lebih luas seperti psikologi, sosiologi, antropoiogi, iingkungan, kesehatan, bio-teknologi, politik, hukum dan peradilan dan begitu seterusnya.
3

A. Darun Setiady

209

C. Konsep Roda Keilmuan Universitas Islam Negeri Mengutip pernyataan Harun Nasution, bahwa ayatayat al-Quran tidak banvak membicarakan coal hidup kemasvarakatan umat mengandung hikmah yan^, besar. Masyarakat bersifat dinamis. Masyarakat senantiasa mengalami perubahan dan berkembang mengikuti peredaran zaman. Peraturan dan hukum mempunyai efek yang mengikat. Kalau peraturan dan hukum absolut yang mangatur masyarakat berjumlah banvak dan rinci, dinamika masyarakat yang dia.tur sistem peraturan dan hukum yang absolut demikian akan menjadi terikat. Dengan kata lain perkembangan masvarakat menjadi terhambat. Dinarnika masvarakat menghendaki agar ayatayat yang mengatur masvarakat jumlahnva sedikit. Di sinilah terletak hikmahnva mengapa ayatavat alQur'an tidak banvak membicarakan soal-soal bidup kemasyarakatan manusia. Soal hidup kemasvarakatan manusia lebih banvak diserahkan Tuhan kepada akal manusia untuk mengaturnya. Yang diberikan Tuhan dalam al-Qur'an ialah dasar-dasar atau patokan-patokan, dan di atas dasardasar dan natokan-patokan inilah umat Islam mengatur hidup kemasyarakatan. Dengan cara demikianlah timbul sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem keuangan Islam, masvarakat Islam dan sebagainya. Tegasnya, meskipun al-Qur'an tidak mengandung sistemsistem ekonomi, keuangan dan sebagainya, itu tidak bcrarti bahwa ekonomi Islam, masyarakat Islam, dan lain-lain itu tidak ada. Semua itu ada, tetapi bukanlah merupakan ajaran absolut yang tidak dapat berubah menurut perkembangan zaman. Semua sistem itu, ekonomi Islam, pemerintahan Islam, masyarakat Islam, dan sebagainya, adalah hasil pemikiran manusia dan dengan demikian merupakan

210 Pandangan Keilmuan kebudayaan, dan olch karena itu dapat berubah dan diubah. Hanva dalam perubahan dan pengubahannya, dasar-dasar dan patokan-patokan yang tercantum dalam al-Qur'an tak boleh dilupakan. Dalam perubahan dan pengubahan, patokan-patokan dan dasar-dasar itu mesh tetap dipegang. Kalau ayat mengenai hidup kemasyarakatan berjumlah 228 dan ayat mengenai ibadah, shalat, puasa, haji dan zakat ada 140, maka ayat mengenai iman kepada Tuhan, Rasul, Kitab, Hari Perhitungan dan Malaikat berjumlah kurang lebih 136, yaitu sesuai keterangan para ahli

A. Darun Setiady

211

bahwa hanya kurang lebih 500 ayat dan seluruh ayat al-Qur'an yang mengandung ketentuan-ketentuan tentang iman, ibadah dan muamalat (hidup kemasyarakatan) sebagaimana dijelaskan di atas. Maka dalam soal doktrin keagamaan pun tidak banyak ayat yang rnengikat kebebasan manusia untuk berpikir. Adapun mengenai ilmu pengetahuan dan fenomena alam memang disinggung oleh avat-ayat al-Qur'an. Ayat-ayat yang dmikian dikenal dengan nama ayat kawntjyab. Jumlahnya tidak banyak. Menurut suatu perkiraan, jumlahnya kurang lebih 750 avat. Pada dasarnya ayat kawntyyah mengandung dorongan agar manusia memperhatikan dan memikirkan alam sekitarnva. Dengan memperhatikan dan rnemikirkan kejadian yang terjadi di alam sekitarnya manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa kejadiankejadian itu seperti turunnva air dari langit membasahi tanah dan menghidupkan tumbuh-tumbuhan, pertukaran malam dengan siang, peredaran bulan dan matahari dan sebagainyatidaklah timbul begitu saja, tetapi mesti diciptakan dan digerakkan oleh suatu zat yang ada di batik materi alam ini, zat yang disebut Allah. Pencipta dan Penggerak alam semesta. Dengan memperhatikan dan mernikirkan hal-hal itu, iman manusia kepada Tuhan akan menjadi tebal. Inilah sebenarnya tujuan ayat kawniyyah, tetapi dalam pada itu disebut juga di dalamnya fenomena alam, tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai prosesnya. Proses itu harus dipikirkan manusia. Jadi kclihatannya kurang tepatlah kalau dikatakan bahwa ayat-ayat alQur'an membahas soal-soai ilmu pengetahuan. Yang tepat barangkall iahh bahwa ada di antara ayat-ayat al-Qur'an yang menvebut fenomena alam yang juga menjadi pembahasan ilmu pengetahuan modern. Dernildan pula halnya dengan teknologi, kalau

212 Pandangan Keilmuan yang dirnaksudkan dengan teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal. A1-Qur'an dalam meriwayatkan kisah umat-umat zaman dahulu juga menvebut hal-hal yang ada hubungannya dengan teknologi. Tetapi bukanlah itu berarti bahwa al-Qur'an membahas soal teknologi, apalagi teknologi modern. Al-Qur'an pada dasarnya adalah buku petunjuk dan pegangan keagamaan, dan dalam keterangan mengenai petunjuk dan pegangan itu, al-Qur'an menvebut hal-hal yang ada hubungannya dengan ilmu

213 Pandangan Keilmuan pengetahuan dan teknologi. Atas dasar uraian itu, Harun Nasution menyatakan, kurang benarlah rasanva untuk berpendapat bahwa al-Qur'an mengandung segalagalanya dan menjelaskan segala-galanya. Tentu timbul perta-nyaan: kalau begitu apa arti ayat-ayat yang telah dikutip dalam permu-laan uraian ini? Untuk jawabnya baiklah kita kembali ke buku-buku tafsir.4 Dari pemaparan para ahli tafsir yang dikutip tafsirannya oleh Harun Nasution melukiskan bahwa al-Qur'an tidaklah mengandung segala-galanya. Yang dimaksud dengan penvempurnaan agama bukanlah penyempurnaannya dengan segala ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem kemasyarakatan manusia dalam segala seginva. Penvempurnaan mengandung arti lain, yaitu dalam arti hukum, ajaran atau dasar agama atau halal serta haram, atau kemenangan Islam. Dalam kondisi yang ada sekarang ini aktivitas keilmuan di LAIN li scluruh tanah air hanya terfokus dan terbatas pada bidang Kalam, Faisafah, Tasawuf, Hadits, Tarikh, Fiqh, Tafsir, Lughah. Itupun boleh disebut hanya terbatas pada ruang gerak humaniora klasik. IAIN pada umumnya belum mampu memasuki diskusi ilmu-ilmu sosial dan humanities kontemporer seperti Antropologi, Sosiologi, Psikologi, Filsafat dengan berbagai pendekatan yang ditawarkannya. Akibatnya, terjadi jurang wawasan keislaman yang tidak terjembatani antara ilmuilmu keislaman k-lasik dan ilmu-ilmu keislaman baru yang telah memanfaatkan analisis ilmu-ilmu sosial dan humaniora kontemporer.5 Kesenjangan wawasan ini cukup berakibat pada dinamika kehidupan sosial keagamaan dalam masyarakat Indonesia mengingat alumni IAIN banyak yang menjadi tokoh di masyarakat.

214

Upaya-upaya untuk menjembatani jurang wawasan tersebut dilakukan oleh Program S2 (Magister) atau S3 (Doktor) tetapi tidak semua IAIN dapat melakukannya. Karena keterbatasan sumber daya tenaga pengajar yang mengerti ilmu-ilmu keislaman sekaligus yang dapat melakukan pun, akan menemui banyak kesulitan karena selain
4

Pandangan Keilmuan

Baca Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan, Bandung, Cetakan I, 1995. h. 25-31. Baru Ilmuwan Muslim Postkolonial antara lain M. Arkoun, Muhammad Abid Nasr Hamid Abu Zaid, Abdullah Ahmed al-Naim, Muhammad Shahrur, disamping Hasan Hanafi, Seyyed Hossein Nasr. Fazlur Rahman dan lain-lain telah menggunakan dan memanfaatkan pisau analisis baru dimaksud. Terjemahan karya-karya mereka ke dalam bahasa Indonesia mulai banyak beredar di tanah air.
5

A. Damn Setiady

211

keterbatasan Sumber Daya Manusia, juga mind set mahasiswa S1 sudah sedemikian kental warna studi teks ldasik-normatif tanpa tersentuh oleh wawasan ilmu sosial maupun humaniora. Isu-isu sosial, politik, ekonomi, keagamaan, militt-r, gender lingkungan. Ilmuilmu sosial humanities kontemporer pasta modern, hampir-hampir tidak tersentuh. Kesulitan ini ke depan akan semakin diperparah dengan realitas di lapangan bahwa ilmu-ilmu agama ini memang tidak dirancang terintegrasi dengan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi bobot keterampilan untuk hidup, bersama-sama alumni perguruan tinggi yang lain. Ilmu-ilmu Kawnigab (Iptek) ini terpisah jauh dari inti ilmu-ilmu Pauliyyah (Teks-naskah), dan kemudian masing-masing berdiri sendiri sendiri, tanpa kontak dan tegur sapa. Sudah barang tentu perkembangan ini merupakan perkembangan yang kurang menguntungkan peserta didik karena dari awal mula telah menyebrang dari pola pokok ajaran al-Qur'an yang sel.alu mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dan ilmu--ilmu agama. Bukankah a/ ulum alkaunivyah, al ulum al insanyyah, al ulurn al disvyah, dan al ulum al tarikhyyah
-

menvatu padu dalam kosa-kosa kata al-Qur'an? D. Mengakhiri Dikotomi Agama dan Ilmu Dalam Praktik Kependidikan Hingga kini, masih kuat anggapan dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa "agama" dan "ilmu" adalah dua entitas yang tidak bisa dipertemukan. Keduanva mempunyai wilayah sendiri-sendiri, terpisah antara satu dan lainnva, baik dari segi objek formal-material, metode penelitian, kriteria kebenaran, peran yang dimainkan oleh

216 Pandangan Keilmuan UIN ilmuan maupun status teori masing-masing bahkan sampai masuk ke institusi penyelenggaranya. Dengan lain ungkapan, ilmu tidak mempedulikan agama dan agama tidak mempedulikan ilmu. Praktik kependidikan dan aktifitas keilmuan di tanah air sekarang ini seperti itulah gambarannya dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat luas. Oleh karenanya, anggapan yang tidak tepat perlu dikoreksi dan diluruskan.6
Baca Ian G. barbour, Issues in Science and Religion, Harper Tourchbooks, NY., 1966, h. 12. Baca pula John Polkinghome, Belief in God in an Age of Science, Yale University Press, New Haden and London, 1998, bab IV, h. 76-100.
6

212

Pandangan Keilmuan UIN

Dalam sejarah hubungan ilmu dan agama di Barat, pemimpin gereja menolak teori heliosentris Galileo atau teori evolusi Darwin. Pernimpin gereja membuat pernyataan-pernyataan yang berada di luar bidang kompetensinya. Sehaliknya Isaac Newton dan tokoh ilmu-ilmu sekuler yang lain menempatkan Tuhan hanya sekedar sebagai penutup sementara lobang kesulitan (to fill gaps) yang tidak terpecahkan dan terjawab oleh teori keilmuan mereka, sampai tiba waktunya diperoleh data yang lebih lengkap atau teori barn vang dapat menjawab kesulitan tersebut. Begitu kesulitan itu terjawab, maka secara otomatis intervensi Tuhan tidak lagi diperlukan. Akhirnva Tuhan dalam henak para ilmuan hanya ibarat pembuat jam (clock maker). Begitu alam semesta ini sclesai diciptakan, Ia tidak peduli lagi dengan alam raya ciptaan-Nya dan alam semesta pun berjalan sendiri secara mekanis tanpa campur rangan tujuan agung ketuhanan. Sementara dalam dunia Islam itu sendiri, pengajaran ilmu-ilmu agama Islam yang normatif-tekstual terlepas dari perkembangan ilmu-ilmu sosial, ekonomi, hukum dan humaniora pada umumnva. Perbedaan itu semakin hari semakin jauh ibarat deret ukur terbalik, dan membawa akibat yang tidal. nyaman bagi kehidupan intern umat beragama. 7 Pola pikir yang serba dikhotornis ini menjadikan manusia terasing dari nilai-nilai spiritualitas moralitas, terasing dari dirinya sendiri, terasing dari keluarga dan masyarakat sekelilingnya, terasing dari lingkungan alam dan ragam hayati yang menopang kehidupannya serta terasing dari denyut nadi lingkungan sosial budaya sekitarnya. Singkatnya, terjadi proses dehumanisiasi secara massif baik pada tataran kehidupan keilmuan maupun keagamaan. Pendidikan dan aktivitas keilmuan di IAIN maupun Perguruan Tinggi Umum di tanah air mirip-mirip

seperti pola kerja keilmuan awal abad renaissance hingga era revolusi informasi, yang sekarang ini muiai diratapi oleh banvak kalangan.8 Had nurani terlepas dari akal sehat. Nafsu serakah menguasai perilaku manusia cerdik pandai. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Alam lingkungan
Kasus yang menimpa Nasr Hamid Abu Zaid di Mesir adalah contoh tipikal terjadinya gap wawasan keilmuan dimaksud lebih lanjut Nasr Hamid Abu Zaid, al-Tafkir fi zamani a/-takfir : Zidda al jahi wa a/-zaif wa alkhurafat, Qahira : Sina li al-nasyr, 1995. Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and the Sacred, Suhail Academy, Lahore, 1988, h. 6,45,85
8

214

Pandangan Keilmuan UIN
A. Darun Setiady

213

rusak berat yang berakibat 3-R (resah, renggut, rusak). 9 Tindakan kekerasan dan mutual distrust mewabah dimana-mana. Jauh sebelumnva, dalam sejarah kependidikan Islam telah pula terpola pengembangan keilinuan yang bercorak integralistikensiklopedik, di satu sisi, yang ditokohi para ilmuan seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, berhadapan dengan pola pengembangan keilrnuan agarna yang .spe.qiikt)arcialistik di sisi lain yang dikembangkan oleh para ahli hadis dan ahli Keterpisahan secara diametral antara keduanya dan sebab-sebab lain yang bersifat pohtis-ekonomis, berakibat pada rendahnva kualitas pendidikan dan kemunduran dunia Islam pada umumnya. Dalam ketiga revolusi peradaban manusia, vaitu revolusi hijau, revolusi industri dan revolusi informasi, tak satupun ilmuan Muslim tercatat namanva dalam lembaran tinta emas pengembang ilmu pengetalauan. Perkembangan dan pertumbuhan ilmu-ilmu sekuler sebagai simbol keberhasilan perguruan tinggi umum dengan berbagai implikasinya pada rataran moral dan etik kehidupan manusia di seiurula dunia di satu pihak, dan perkembangan dan pertumbuhan perguruan tinggi agarna (baca: Islam) yang ham-a menekankan ilmuilmu keagamaan dan teks-teks keislaman normatif-klasik dengan berbagai dampaknya pada penciptaan tenaga trampil dalam dunia ketenagakerjaan di lain pihak, menjadikan kedua-duanya mengalami proses pertumbuhan yang tidak sehat serta membawa dampak negadi bagi kehidupan sosial-budava, sosial-ekonomi, sosialpolitik dan sosial-keagamaan di tanah air. Dari sini tergarnbar bahwa ilmu-ilmu sekuler yang dikembangkan di Perguruan Tinggi Urnum dan ilmuilrnu agama yang diken-ibangkan di Perguruan Tinggi

aV;ama secara tcrpisah seperti yang sekarang ini berjalan sedang terjangkit krisis relevansi (tidak dapat rnemecahkan banyak soal), mengalarni kemandegan dan kebuntuan (tertutup untuk pencarian alternatifalternatif yang lebih mensejahterakan) dan penuh bias-bias kepentingan di sana sini (filosofis, keagamaan, etnis, ekonomis, politik, gender, peradaban). Dari Tatar belakang seperti itu, gerakan rapproachment (kesediaan untuk saling menerima keberadaan yang lain dengan lapang dada) antara dua kubu
Baca karya Herman Soewardi, Roda berputar Dunia Bergulir, Kognisi Baru Tentang TimbulTenggelamnya Sivilisasi, Bakti Mandiri, Bandung, Cetakan 3, 2005.
9

214

Pandangan Keilmuan UIN

keilmuan adalah merupakan keniscayaan. Gerakan rapproachment, untuk dapat menyebutnya juga sebagai gerakan reintegrasi epistemologi keilmuan adalah sesuatu yang mutlak diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan-perkembano-,an yang serba kompleks dan tak terduga pada milenium 3 serta tanggungjawab kemanusiaan bersama secara global dalam mengelola sumberdaya alam yang serba terbatas dan sumber dava manusia yang berkualitas sebagai khalifah fi al ardli. 10 Konsorsium Bidang Ilmu UIN SGD Bandung, secara sadar harus berani mengkaji ulang visi, misi dan paradigma keilmuan yang pernah dibangun IAIN sebelumnya. Begitu juga Perguruan-Perguruan Tinggi Umum yang sudah mapan dan berjalan selama ini. Ide dan usulan perlunva dikembangkan ilmu-ilmu sosial Profetik dan Kajian Agama secara kontekstual di Perguruan Tinggi Umum adalah merupakan tanda adanya keprihatinan yang serius tentang arah pengembangan dan tujuan pembelajaran ilmu-ilmu umum pada perguruan tinggi umum yang telah berjalan selama ini. Bangunan ilmu pengetahuan yang dikotomik antara ilmu pengetahuan umum dan ilrnu pengetahuan agama harus diubah menjadi bangunan keilmuan bare yang lebih integralistik atau paling tidak keduanva bersifat komplementer. Tujuan UIN haruslah diorientasikan pada lahirnva sarjana yang memiliki tiga kemampuan, yaitu kemampuan menganalisis secara akademik, kemampuan melakukan inovasi dan kemampuan memimpin sesuai dengan tuntutan persoalan kemasyarakatan, keilmuan, maupun profesi yang ditekuninya, dalam satu tarikan nafas etos keilmuan dan keagamaan." E. Penutup: Sebuah Harapan Sebelum kita sampai pada kesimpulan tentang

konsepsi yang operasional itu sebaiknva kita menelaah terlebih dahulu dan meng1° Baca Akh. Minhaji & Kamaruzzaman, Masa Depan Pembidangan Ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, Cetakan I, 2003; M. Abdullah, Dkk., Menyatukan Kembali Ilmu-Ilinu Agama dan Umum, Upaya Mempertemukan Epistemologi Islam dan Umum, Suka ress, IAIN SUKA Yogyakarta, 2003; dan Anonimous, Kerangka Dasar Keilmuan & Pengembangan Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Pokja Akademik, UIN Yogyakarta, 2004. 11 Lihat kembali Nanat Fatah Natsir, Model dan Prospek IAIN Sebagai Jendela Akademik Research University, Pidato Rektor pada Dies Natalis ke 36, 8 April 2004; dan Transformasi IAIN Menjadi UIN dalam Upaya Memadukan Ayat-Ayat Qur'aniyyah dan Kawniyyah, Pidato Rektor pada Dies Natalis ke 37, 8 April 2005.

A. Dawn Setiady

216

identifikasi masalah-masalah apa kiranya yang harus dipecahkan dalam forum lokakarya ini untuk dapat mencapai sasaran kita dengan baik. Tidaklah dapat dinungkiri sebagai fakta sejarah, bahwa setelah mengalami zaman keemasan selama kurang lebih 700 tahun secara berturut-turut umat Islam mulai disisihkan di bidang ilmu pengetahuan kealaman atau kauniah oleh bangsa Eropa, kemudian bangsa Amerika, selanjutnya bangsa Jepang, dan kini menempati posisi yang paling lemah. Sebagai akibatnya, ummat Islam lemah dalam teknologi, karena teknologi modern bertumpu pada ilmu kauniah; ia merupakan penerapan ilmu kauniah untuk dapat memanfaatkan clam bagi kesejahteraan, bahkan bagi eksistensi umat. Kita dijajah selama berabad-abad oleh bangsa-bangsa lain; dikuasai dan diperintah serta dieksploitir oleh mereka karena tak mampu menandingi ketnampuan teknologi dan persenjataan bangsa-bangsa tersebut. Akhirnya kita sampai pada suatu konsepsi yang dapat dipergunakan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan bagi pemecahan masalah kelemahan umat dalam ilmu dan teknologi yang sangat dibutuhkan bagi pembangunan bangsa dan negara kita. 1. Kepada setiap muslim perlu diajarkan ilmu secara utuh, baik mereka yang mengikuti jalur pendidikan formal dalam madrasah atau jalur nonformal dalam pondok pesantren. Intensitas dan ketinggian tingkat ilmu oQur'anirah dan ilmu kaivnilyah yang diberikan sudah barang tentu bergantung pada tingkat kemampuan siswa atau murid dan spesialisasi atau kekhususan yang dikehendaki penuntut ilmu.

Sasarannya ialah hilangnya sikap dikotomis pada ummat dan terbinanya manusia yang utuh. Tiap individu paling sedikit harus diajar untuk beribadah sebagai orang Islam dan mengetahui halhal yang esensial dalam agamanya, serta dididik untuk berakhlak sebagai muslim yang baik; kecuali itu paling sedikit ia harus mengetahui peranan umat dalam pengembangan ilmu kawniyyah dan metodologinya seperti. yang diperintahkan dalam al-Qur'an serta mempunyai gambaran mengenai keadaan ilmu kawniyyah masa kini dan penerapannya dalam berbagai bidang. 3. Karena untuk mendidik dan mengajar pada suatu tingkat

218

Pandangan Keilmuen UIN

diperlukan tenaga yang mendapat pendidikan dan pengajaran di tingkat yang lebih tinggi, maka sudah selayaknya usaha ini dilakukan mulai dari atas. Kalau Universitas Al-A zhar di Kairo dan Universitas Raja ,‘bdul Aziz di Jeddah memiliki Fakultas Ilmu Kauniah yaitu Fakultas Sains, mengapa kita tidak dapat melakukan hal sama. Di negeri kita dengan dibinanya dan dikembangkannva ilmu Qur'aniyyah dan ilmu kawnivyah dalam satu universitas integrasinya dapat berjalan lebih cepat, karena dialog dapat dilakukan lebih intensif dan dikotomi lekas hilang. Kecuali itu, suasana kampus yang religius baik bagi pembinaan ilmuwan yang bertaqwa. Apabila ilmuwan itu dari spesialisasi ilmu kauniah maka ia akan menjadi pengabdi Tuhan yang taat juga, dan apabila ia dari spesialisasi ilmu Qur'aniyyah maka akan terpupuk pula pengabdiannya kepada masyarakat dan pandangannya yang meinpunyai cakrawala yang luas. Dengan adanya partisipasi umat dalarn pengembangan ilmu Qur'aniyyah dan ilmu kawniyyah ini maka akan tersedia kaderkader ilmuan, cendekiawan dan ulama yang makin besar jumlahnya yang dapat berperan dalam akselerasi pembangunan. Suatu bangsa yang ingin mencapai kedudukan terhormat dalam bidang ilmu di antara bangsabangsa harus berketetapan had untuk tidak puas berada dalam posisi nomor dua. Ia hams mendorong separoh dari kader ilmiahnya untuk bekerja keras dan rnelewati penggemblengan ilmiah yang tak mengenal lelah. Mereka harus died kesempatan yang luas untuk mengunjungi kelompokkelompok ilmiah di luar negeri dalam pertemuan-pertemuan, mengundang tokoh ilmiah dari luar untuk bekerja sama, dan lainlainnya untuk

menghindarkan kader-kader itu dari isolasi. Sudah barang tentu kegiatan tersebut hams didukung dengan pembiayaan yang wajar. Menurut standar normal bangsa itu hams menggunakan lima sampai sepuluh prosen dari Produk Nasional Brutonya untuk penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi, seperempat sampai sepertiga daripadanya untuk ilmu-ilmu fundamental. Sebagai catatan akhir bahwa dalam perjalanan umat menuju masyarakat madani, proses yang menvertainya akan menimbulkan

A. Dawn Setiady

220

pergeseran nilai dan benturan budaya yang tak dapat dielakkan karena memang budaya santai dari masyarakat agraris yang bertenaga hewani berlainan dengan budaya tepat waktu pada masyarakat industrial yang tenaganya serba mesin; dan nilai-nilai bergeser pada saat wanita, yang sernula sangat terikat dengan rumah dan keluarga, merasa bebas menggunakan kendaraan bermesin sebagai sarana transportasi, dan pesawat telepon sebagai alat komunikasi. Dengan keimanan dan ketaqwaan dapatlah dipilih nilai-nilai bare dan budaya barn yang sesuai dengan ajaran agama. Perubahan sikap mental yang mendasari pola pikir serta pola tindak yang harus menyertai transformasi ini perlu dididikkan sejak dini. Para doyen, guru besar, dalatn kaitan ini, mernainkan peranan penting sebagai unsur pendidik yang disebut dalam paragraf pertama. Kepada para peserta didik pada tingkat pendidikan dasar hams ditanamkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang membawa mereka pada akhlak yang mulia: menghargai dan menghormati orang tua, guru dan lingkungannya serta berani bertanggungjawab dan tidak membohong; sea menjalankan ajaran agama yang diberikan oleh gum sesuai dengan tingkat umur mereka. Kecuali dibekali, dengan kemampuan membaca, menulis, berhitung dan berbahasa vang balk, kepada mereka hams ditanamkan etika kerja: kepatuhan pada peraturan, disiplin, kebersihan, efisien, kejujuran, keterandalan, bekerja keras dan tidak bermalas-malas. Banyak sekali "penyaEt masvarakat kini" yang dapat kita temukan kembali akarnya dalam ketakrnantapan unsur-unsur pendidikan tersebut pada para penyandangnya. Apa yang diinginkan dengan kebangkitan kembali

Islam itu kalau bukan untuk memperoleh kembali kejayaan yang telah terlepas dari tangan tujuh abad yang lalu? Akan tetapi dapatkah kita meraih kebesaran kita kembali? Dapat, asal kita benarbenar mempunyai keinginan yang keras untuk mencapainya, dan mau bekerja keras untuk tujuan itu seperti yang dipersyaratkan dalam ayat 11 surah Ar Ra'd. Kalau kita hanya menginginkan kejayaan di dunia maka kita tiru' bangsa-bangsa barat; kita hanya berusaha menguasai sains dan teknologi untuk menandingi mereka. Tapi kalau yang kita inginkan adalah kejayaan di dunia dan di akhirat, maka kita harus menguasai juga ilmu keagamaan sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw::

222

Pandangan Keilmuan UIN

"Barang siapa menghendaki keberhasilan untuk dunia, maka ia harus memiliki ilmunya; dan barang siapa menghendaki keberhasilan untuk akhirat, maka is harus memiliki ilmunya juga; dan barang siapa menghendaki keduanya, maka ia harus menguasai kedua iltnu itu pula" Semoga Allah Swt. memberkahi kita semua dalam usaha mengembangkan IAIN menjadi UIN guna

meningkatkan kemampuan umat untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya citacita bangsa.•

224

Pandangan Keilmuan UIN

FILOSOFI BERDIRINYA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
Fisher Zulkarnain*

Falsafah Universitas Islam Berdirinya UIN, tidak lepas dari keinginan para pemikir Islam di Indonesia yang tidak menginginkan dikotomi antara ilmu dan agama. Dikotomi, menjadikan salah satu dari keduanya inferior dan superior. Selain itu, munculnya UIN juga untuk mengakomodasi pelajar-pelajar kita yang sekolah di Aliyah yang kebetulan mengambil bidang-bidang non agama, seperti IPA dan Sosial. Dalam hal ini, LAIN sebagai kepanjangan dari Aliyah belum menyediakan fakultas-fakultas yang mereka inginkan.
Berbicara universitas, tentu tidak sama filosofinya, di masa kita membicarakan institut, karena is hanya mempunyai bidang studi yang satu core saja, yaitu, agama. Sedangkan universitas, sudah merangkul berbagai bidang yang tentu saja tidak terbatas dalam bidang agama Baja melainkan sudah memperluas ke bidang-bidang non agama Namun, perlu kita sadari, bahwa UIN lahir dari sebuah institusi agama. Karenanya, core ini masih perlu kita pertahankan. Sebagai muslim yang mendedikasikan did kita dalam bidang agama. Tentu kita tidak ingin akar kita begitu saja lepas. Apalagi kita sama-sama menyadari bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat-ayat gitraniyah dan kaunOiab yang semuanya bersumber dari kitab suci ini. Bagi saya, al-Qur'an menyebarkan kedua ilmu

ini secara simultan, atau dalam bahasa filosofinya, al-Qur'an mengemanasikan kedua ilmu secara serentak. Kedua ilmu ini tidak bisa "dipisahkan" artinya, keduanya mempunyai sumber yang sama. Pemisahan hanya terjadi pada saat dilakukannya spesialisasi keilmuan. Sebagaimana
• T-ISFER ZULKARNAIN, MA., Dr., Dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

220

Pandangan Keilmuan UIN

layaknya sebuah universitas yang mengemanasi menjadi beberapa fakultas yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Namun tidak berarri al-Qur'an mengelaborasi seluruh disiplin ihnu, melainkan secara global menginspirasikan kepada kita. Seperti munculnya ayat-ayat kauniyah dan qur'aniyah, keduanya, bisa dijadikan inspirasi buat kita bahwa al-Qur'an sangat concern terhadap kedua ilmu ini. Sava setuju dengan gagasan simbol roda, sebagai simbol filosofi UIN Sunan Gunung Djati. Ada beberapa alasan yang bisa dijadikan sandaran untuk diambil sebagai simbol, diantaranya: 1. As roda disimbolkan sebagai pemilik segala macam ilmu yaitu Allah. Ia sebagai sumber dan alam ini. Sebagai seorang muslim, tentu kita meyakini hal ini. Kita tidak bisa meyakini sumber ilmu datangnya dari sebuah pemikiran filosofi yang kemudian dieksperimentalkan dalam bentuk empirik. Bagi saga itu adalah sebuah mekanisme mendapatkan ilmu. Sementara pernilik tunggalnya adalah Allah.
2. Lah emya adalah al-Qur'an, yang memancarkan kedua ihnu tersebut, yaitu kawnyah dan aur'aniyab, secara

simultan, Yang keduanya membentuk ilmu-ilmu turunannya lagi, seperti, agama, sains, sosial, arts, teknologi. 3. Ilmu turunan ini kemudian memperluas menjadi beberapa turunan lainnya. Ilmu turunan inilah yang menempati /art-Jan. JumIah jari-jari, bisa disesuaikan dengan fungsi dan kemarnpuannva. 4. Ban roda, adalah simbol, amal shaleh. Artinya, setiap ()rang yang berilmu mesti mengaplikasikan ihnunya sesuai dengan bidangbidang yang mereka pelajari. Jika hal itu dilakukan, artinva, orang ini sudah melaksanakan amalan sholeh. Pengertian sholeh di sini, tidak seperti gambaran "agama" seakan-akan orang yang hanya melakukan ritual keagamaan.

ilmuwan mesti selalu meng-update keilmuannya, dan sudah pasti akan selalu berubah sesuai dengan simbol roda terebut yang selalu berputar. Saya berpendapat filosofi UIN Sunan Gunung Djati, adalah : Metyadikan AhOur'an sebagai sumber inspirasi ilmu. Hal ini, perlu sava tegaskan karena seluruh UIN yang ada sekarang, tidak menyebutkan Al-Qur'an sebagai simbol rujukan.

5. Perputaran roda, adalah simbol aktualitas, karena seorang

222

Pandangan Keilmuan UIN Fisher Zulkamain

221

Adapun misinya adalah: lllelahirkan sagana yang berwawasan keilmuan dan agama. Sebagai ilustrasi saja, di Amerika, sekolah-sekolah seminari yang melahirkan seorang teolog, tidak menerima mahasiswa kecuali jika rnereka lulusan BA dalam bidang-bidang ilmu non agama. Hal ini, bisa difahami agar seorang agamawan tidak terpatri dalam dirinya, hanya dengan dogma dan doktrin yang "rigid", yang pada gilirannya melahirkan seorang yang fanatik. Melainkan mereka sudah benvawasan yang clibekali dengan ilmu pendukung lainnya. Dengan demikian, mereka akan menjacii lebih arif dan bijak dalam menyikapi kehidupan yang complicated ini. E

Motto: Beikir global dan komprehensif.

APRESIASI TERHADAP VISI INTEGRASI KEILMUAN UIN
Rochmat Mulyana *

A. Pendahuluan Patut bersvukur bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung tak lama lagi akan diresmikan sebagai suatu perguruan tinggi Islam yang mcmiliki kewenangan lebih luas daripada status lamanya (LAIN Sunan Gunung Djati). Perubahan nomenklatur ini dapat dipastikan berimplikasi luas pada berbagai kebutuhan pengembangan lembaga, yang salah satunya adalah penyiapan naskah ini sebagai awal peletakan dasar filosofi UIN di masa mendatang. Diyakini bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan menjadi sebuah Universitas Islam terkemuka yang selalu mengusung semangat akademis dan martabat ilmu jika segala potensi yang ada digunakan secara optimal. Sejarah LAIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai perguruan tinggi Islam terbesar di Jawa Barat sesungguhnya menitipkan pecan bahwa pembangunan UIN ke depan merupakan kelanjutan yang tak terceraikan dan jejak masa lampau. Suatu pembaharuan kinerja yang bergelora, semangat akademis yang membara, dan tatanan ilmu pengetahuan yang kokoh karenanya menjadi suatu kemestian yang hams menjadi pusat perhatian bersama. Dalam sejarah kemasyhuran perguruan tinggi di negara maju tampak jelas bahwa peletakan kultur dan subkultur akademis telah menjadi tanggung jawab bersama. Sejarah kemasyhuran lembaga

adalah cermin dari kerjasama yang kokoh yang dibangun diatas prinsip-prinsip penghargaan dan saling menghormati. Hubungan antar sivitas akademika senantiasa mencerminkan kemitraan sejati yang
* ROCHMAT MULYANA, Drs., M.Pd., Dr., Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

224

Pandangan Keilmuan UIN

diikat oleh sebuah kata, yakni profesionalisme. Karenanya, perguruan tinggi menjadi surga bagi para petualang ilmu dan pengembara hikmah dalam proses pendewasaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung sesungguhnva memiliki peluang yang sangat terbuka untuk menjadi lembaga yang terkemuka dan dihormati. Sumber dava manusia yang lebih dari cukup, fasilitas yang lcngkap dan tingkat serapan mahasiswa yang cukup tinggi merupakan peluang yang dapat diberdayakan. Namun disadari pula bahwa salah saru prasyarat penting untuk mencapai kemajuan lembaga adalah adanya keseriusan dan kekompakan dari semua komponen yang terlibat di dalamnya. Untuk ini, dalam rangka membangun kerjasama yang kokoh antar sivitas akademika, UIN memerlukan konsep-konsep penataan yang dapat dijadikan acuan bersama. Di sinllah pentingnya perumusan filosofi lembaga yang akan diusung bersama dikemudian hari. Pada tahap awal, filosofi ini Baru menawarkan elaborasi gagasan tentang konsep integrasi ilmu yang ditawarkan oleh Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS (Rektor LAIN) dan diperkuat oleh Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir (Kctua Konsorsium). Pada tahap berikutnya kita berharap dapat merinci dengan jelas tentang berbagai konstruk pendidikan lainnya seperti konstruk tentang kultur akademik, iklim kerjasama, indikator profil lulusan, dll, yang diperlukan untuk penentuan arah kebijakan lembaga. B. Struktur Keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung tampaknya akan mengemban dua misi sekaligus, is menjadi lembaga tempat berkembangnya ilmu ilmu agama, sekaligus ilmu-ilmu umum. Tanggung jawab ganda sesung-

225 Pandangan Keilmuan UIN guhnya lebih berat ketimbang hams memusatkan pada satu wllayah tradisi keilmuan. Betapa tidak, karakteristik dua ilmu yang berbeda akan berimplikasi pada cara pengembangan yang berbeda pula. Karakteristik ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sebenarnya bagaikan dua sisi uang yang berbeda, namun tidak terpisahkan. Dalam scjarah keilmuan, ilmu-ilmu umum berkembang pesat dalam sebuah tradisi yang disebut intellectus quaerens fidem, yakni suatu tradisi

Rochmat Mulyana

225

pembuktian ayat-ayat Kaunt:yab yang menyandarkan pada obyektivitas dan kebenaran ilmiah. Sementara itu, lit nu-Amu agama telah meluaskan cakupannya dalam tradisi sejarah ilmu yang disebut fides quarens intellectum, yakni perkembangan ilmu yang menyandarkan pada kebenaran akhir (ultimate truth) yang dipesankan langsung oleh Allah Swt melalui ayat-ayatQur'aniyah. Duo jejak sejarah keilmuan di atas, bagaimanapun tidak dapat dihindari saat kita melacak tentang perbedaan dalam cara kerja dan muatan ilmu. Allah Swt telah menegaskan pentingnya dua sisi kehidupan (dunia dan akhirat) sebagai idiom al-Qur'an yang sebenarnya menjelaskan konsep keseimbangan dalam dua isi kepentingan yang berbeda. Seperti dikemukakan dalam Q.S. 28:77 Allah berfirman yang artinya: 'Dan carilah pada apa _yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu me/upakan bagianmu dari ( ke ni km ata n) Aya t i ni de nga n t egas menjelas ka n, konsep keseimbangan yang hams dicapai dengan cara meletakan kekuatan yang sama pada dua sisi yang berdimensi beda. Itulah sebabnya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak menafikan adanya dua karakterisdk ilmu yang lahir dalam tradisi yang berbeda. Penafikan hanya akan berakibat pada penolakan nilai sejarah ilmu atau mungkin menjadi sebuah anakronisme sejarah. Namun perlu dipahami bahwa pembedaan karakterislik ilmu-ilmu umum dan ilmuilmu agama bukan menjadi tujuan akhir dari perumusan filosofi UIN. Pembedaan ilmu hanyalah sebuah cara untuk menghargai keunikan ilmu pada wilayah-nya masingmasing. Dalam konteks kepentingan yang lebih utama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung justru hendak menemukan benang emas antar ilmu yang

227 Pandangan Keilmuan UIN pada gilirannya dapat pemahaman yang lebih utuh.

membimbing

pada

Dalam diskursus kurikulum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, paradigms keilmuan yang lebih utuh its hams dibingkai sesuai dengan fungsi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada masa mendatang yang mampu menopang berbagai perkembangan budaya, tradisi, teknologi dan pembangunan bangsa sebagai tanggung jawab yang harus dipikul. Kekuatan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menopang semua bidang kehidupan ilmu tentu tidak statis. Berbagai upaya perlu dilakukan agar kemajuan budaya, tradisi, teknologi dan pembangunan

bangsa bergerak lebih maju, menyentuh realitas yang diinginkan dan selalu menampilkan identitas keislamannya. Metafora Roda — sebagaimana yang dipaparkan dalam tulisan Prof. Nanat Fatah Nair — itu sesungguhnya tampak menaruh optimisme bahwa integrasi ilmu di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sangat relevan dengan hakikat keterkaitan dan keterikatan ilmu. Ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lainnya bekerjasama secara kompak guna menopang perkembangan zaman. Disparitas perbedaan dalam ilmu pengetahuan hanyalah menjadi warna yang membuat UIN Sunan Gunung Djati Bandung lebih beraneka warna (colo rful) dibanding perguruan tinggi lain yang hanya mengungkap ayat-ayat Kauniyab. Paling tidak, ilmu yang dikembangkan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan selalu memperluas cakrawala cakupannya. Ilmuilmu itu tidak berhenti pada prestasinya yang telah dicapai saat ini, tetapi secara terus-menerus melakukan pembaharuan sesuai dengan perkembangan zaman. Pada dinamika inilah, titik singgung atau arsiran antar ilmu dapat ditemukan secara jelas. Karenanya, nilai iman, ilmu dan aural shaleh sebagai cita-cita luhur yang akan selalu rnenjadi target akhir dari profil lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada posesnya melalui upaya pendidikan yang komplementer, mencakup berbagai ikhtiar untuk membangun situasi kampus yang religius. Ilmu juga menjadi bagian penting dari target akhir profil lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kampus sebagai zona pergumulan para ilmuwan dapat tumbuh subur saat ilmu berkembang dengan pesat.

Sebaliknya, dunia kampus akan menjadi kering dan kurang semangat saat kajian ilmu mengalami kemandegan. Untuk itu, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menaruh harapan besar pada pengembangan ilmu pengetahuan dalam rangka melahirkan generasi `aliman. Indikator kesuburan ilmu pada lulusan tidak hanya diukur oleh ciri-ciri kecerdasan nalar, tetapi juga oleh komitmen dalam rnenggunakan ilmu sebagai pembimbing tingkah laku.

VISI, MISI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN UIN
Iskandar Engku* A. Pendahuluan Masalah Visi, Misi dan Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam masa kini dan abad 21 mendatang, merupakan tema aktual yang perlu dibicarakan. Pembahasan ini akan melibatkan kajian mengenai perkembangan sekarang dan prediksiprediksi berbagai kecenderungan di masa yang akan datang. Kajian-kajian tentang Visi, Misi dan Strategi Pengembangan Perguruan Tmggi Agama Islam di masa kini dan abad mendatang ini menjadi relevan dengan kenyataan bangsa kita yang sedang melaksanakan reformasi dalam berbagai lapangan kehidupan. Perguruan Tinggi Agama Islam selama ini sudah banyak dinikmati oleh masvarakat dalam meningkatkan momentum Pembangunan Nasional.
Dalam upaya Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam ini pada hakikatnya bukan saja peran aktif dari pihak akademisi tetapi juga paritisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam khususnva IAIN bukan milik suatu golongan, melainkan milik seluruh masyarakat. Tanggung jawab pengembangannya terletak pada keterlibatan semua unsur masyarakat dalam memotivasi, mendukung dan mengembangkan secara terorganisir, jujur, transparan dan berkesinambungan.

B. Visi dan Misi Visi berarti penglihatan, daya lihat, atau bisa juga diartikan pandangan, impian atau bavangan menatap masa depan (Kamus Inggris-Indonesia oleh Johan M. Echo dan Hassan Sadily, 1975:631). Pandangan untuk menatap masa depan melalui banvak cara, metoda
• ISKANDAR ENGKU, Drs., Dr., Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

228

Pandangan Keilmuan

dan aktivitas. Dalam hal ini pandangan Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam. Pengertian Visi ini lebih cenderung kepada pandangan seseorang yang dapat menggambarkan bentuk dan realisasi pengembangan yang lebih baik dari masa lalu dan masa kini. Hal ini menunjukkan nuansa yang lebih menjangkau masa depan. Visi Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam adalah gambaran atau prospek yang akan dicapai oleh Perguruan Tinggi tersebut, yaitu terciptanya lembaga pendidikan yang mandiri, netral dan bertanggungjawab untuk keselamatan dunia dan akhirat. Membina dan meningkatkan kualitas kemanusiaan yang beriman dan bertaqwa serta berakhlaqul karimah berdasarkan kepada ajaran Islam. Mencetak kader ulama yang intelek dan intelektualitas yang ulama. Misi berarti tugas atau pemutusan/utusan yang akan dilaksanakan (Kamus Johan M. Echols & Hassan Sadily, h. 383). Misi mempunvai arti penting dalam melaksanakan tugas pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam. Tugas ini direalisasikan dalam bentuk aktivitas keilmuan serta berorientasi kepada kcseirnbangan antara ilmu-iLmu duniawi dan ilmuilmu ukhrawi. Yang iadi masalah, strategis pendidkan yang bagaimana yang dapat mengembangkan sumber daya manusia ke taraf yang lebih merespons mereka dalam memacu diri sebagai kholifah fil ardhi? Kita perlu mengantisipasinva mengingat kondisi pendidikan yang ada dewasa ini kelihatannya belum kondusif untuk pembinaan dan peningkatan sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan era reformasi dan globalisasi. Kondisi internal pendidikan di Indonesia masih

cenderung menunjukkan beberapa gejala antara lain sebagai berikut: 1.. Pendidikan Islam masih terkotak-kotak, belum ada keterpaduan yang serasi antara satuan, jalur, program, dan jenis pendidikan. 2. Belum terwujud keterkaitan yang mantap antara kurikulum dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat dan dunia kerja. 3. Mutu lulusan lembaga pendidikan Islam masih rendah. 4. Kelambanan masyarakat dalam memanfaatkan hasil pendidikan. 5.Kelambanan pendidikan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan. 6. Pembelajaran masih menekankan pelestarian yang telah ada, dan

Iskandar Engku

230

belum mengoptimalkan strategi pembelajaran partisipatif yang mencakup upaya berfikir dan bertindak andsipatif dan partisipatif. 7. Penyelenggaraan pendidikan yang belum berwawasan lingkungan, sehingga Pendidikan berkembang secara eksklusif. Menteri Agama dalam sambutannya pada seminar nasional tentang : "Respons Islam terhadap Transformasi Budaya abad 21" mengatakan bahwa: "Dunia dan masyarakat kita dewasa ini dalam memasuki abad 21 mendatang, merupakan abad transformasi secara besar-besaran. Perubahanperubahan besar, cepat dan radikal dalam berbagai lapangan kehidupan. Dalam hal ini tentu termasuk pengembangan IAIN di masa yang akan datang " (Menag: 29 Maret 1999 di Hotel Hasanah Regensi Bandung). Perubahan yang muncul akibat pengaruh reformasi dan era globalisasi memberi gambaran perlunya segera mendapat perhatian serius. Perguruan Tinggi Agama Islam saat ini memang sudah muiai bergerak maju selangkah dengan adanya perhatian Pemerintah dan lirikan masyarakat. Pengembangan ini terbukti dengan adanya rehabilitasi fisik kampus sehingga lebih menarik minat para orang tua untuk memasukan putera-puterinya ke lembaga pendidikan Islam dewasa ini. Dalam pada itu perubahan fisik hams pula dibarengi dengan perubahan psikis dan mental spiritual, agar para mahasiswa bukan saja berfikir positif, tetapi juga hams dapat berbuat produktif. Sehingga out-put alumnusnya dapat berkualitas. Pengembangan pemikiran rasional seperti halnya pada praktek yang pernah dikembangkan ulamaulama klasik. Pengembangan ilmu agama hams

231 dibarengi dengan ilmu-ilmu yang lainnya. Artinya ilmu agama saja tidak cukup tanpa dibarengi ilmuilmu umum sehingga sating melengkapi antara keduanya. Harun Nasution mengatakan bahwa : "Di tangan para ulama klasik berkembang dengan pesat falsafat, sains, dan ilmu agama, sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Keduanya menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dan diajarkan langsung kepada pesera didik. Maka pendidikan zaman klasik menghasilkan ulamaulama agama yang tidak asing baginya dengan ilmu atrium., dan ulama umum yang tidak asing baginya dengan ilrnu agama." (Harun Nasution, Makalah, 1996:3\!

Iskandar Engku

232

Pandangan Keilmuan

Dengan demikian maka lulusannya bukan saja ulama dalam ilmu agama, tetapi juga sekaligus menguasai sains dan teknologi. Di zaman klasik. Islam diajarkan tidak terdapat dualisme seperti sekarang Mi. Di waktu itu tidak ada sekolah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu umum saja, begitu pula tidak ada madrasah yang hanya memberikan pelajaran agama ansih. Sama halnya di Perguruan Tinggi kurikulumnya mencakup ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Contohnya Universitas Cordova mempunyai Fakultas Astronomi, Fakultas Matematika, dan Fakultas Kedokteran, di samping tetap adanya Fakultas Ushuludin dan Fakultas Syari'ah, Kimia, Astronomi, dan Falsafah. (K. Hitti, History of the Arabs, ed. VIII, London, 1964, p.362). Dengan demikian jelas dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dan dualisme pendidikan antara madrasah dan sekolah umum harus dihapuskan dan sebaiknya diganti dengan kesatuan ilmu dan kesatuan pendidikan. Dengan konsep ini agama Islam dapat diharapkan, kualitas pendidikannya sebagai ulama yang intelelktual dan intelek yang ulama. Di Indonesia akhir-akhir ini telah menuju kearah perubahan ini. Bukti yang menunjukkan bahwa terpilihnya K.H. Abdurahman Wahid sebagai presiden Republik Indonesia yang ke IV, menjadi momentum bangkitnya umat Islam di masa yang akan datang. Hal ini terjadi pada din Rasulullah SAW. dimana beliau sebagai imam di masjid, juga sebagai pemimpin/kepala negara, bahkan menjadi panglima perang. Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam pada hakekatnya diarahkan kepada pencapaian tujuan ajaran Islam yang paripurna.

Iskandar Engku

C. Strategi Pengembangan UIN

233

Untuk mengembangkan sumber daya manusia yang diharapkan cocok dengan tuntutan masa depan, maka perlu melakukan inovasi komprehensif terhadap sistem pendidikan. Salah satu alternatif pengembangan pendidikan berdasarkan sistem pendidikan terpadu. Sistem ini didukung oleh landasan aqidah yang kuat memiliki kelengkapan unsur sistem dan pola operasional yang menyeluruh. Sistem pendidikan terpadu ini harus dilandasi oleh kekuatan yuridis dan bemuansa religius.

234

Pandangan Keilmuan

Yuridisnya berdasarkan pada Undang-undang Dasar Negara dan Garis-garis Besar Haluan Negara yang telah disepakati bersama, serta _ , agama ya ng mapa n. Kual it as pend idika n perlu disesuaikan dengan kemaji,an IPTEK serta tuntutan pembangunan. Perlu pula dikembangkan kerja sama antara dunia pendidikan Islam dengan dunia usaha, dalam rangka pendidikan dan pelatihan untuk pemenuhan tenaga trampil dan profesional. Dan segi religiusnya, maka orientasi pendidikan harus berdasarkan firman Allah SW f. Dalam surat AnNisa ayat 9 dan 58 yaitu : "Mempunyai keturunan yang tidak lemah (tangguh) serta lulus." Surat AlRahman ayat 33 yang menunjukan generasi yang kuat dan memiliki ketrampilan yang cukup, serta surat AlHasyr : 18 yang berorientsi ke masa depan yang lebih baik. Rasulullah SAW. menegaskan dalam haditsnya "Ah:rnuu aulaadakurn fainnahum ma.khluukuuna lizarnaanin ghoiri zamaanikum". Artinya : "Ajarilan anak-anak itu (Generasi yang akan datang) itu, karena mereka itu sesungguhnya adalah makhluk untuk zaman yang berlainan (berbeda) dengan zamanmu". Maksudnya adalah pendidikan yang diberikan kepada anak-anak itu harus berorientasi masa depan, dan bukan hanya pendidikan masa silam, sebab jelas terdapat perbedaan yang prinsipal. Penjabaran strategi pendidikan menurut hadits ini sejalan dengan strategi pembelajaran antisipatif dan partisipatif. Dan strategi pengembangan pendidikan tadi mempunyai 2 (dua) kegiatan yang integral dan simultan, yaitu : 1. Mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan

235 perubahan yang mungkin terjadi di masa depan, setelah mencermati, menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala perubahan yang terdapat dalam lingkungan dan di luar lingkungan sendiri. 2. Belajar secara berkelompok bersama-sama dengan orang lain (partisipatif) melalui cara berfikir positif-progressif (berfikir maju) dan berbuat produktif terhadap kebutuhan dunia kehidupannya. Pengembangan sumber daya manusia ditekankan pada : kemampuan akademik, kemampuan pro fesional dan kemampuan kepemimpinan. Manusia Indonesia harus dilandasi dengan keteguhan iman dan tagwa, berjiwa patriotik membawa kebenaran penuh semangat

Iskandar Engku

236

Pandangan Keilmuan

pengabdian serta memiliki rasa tanggungjawab. Kemampuan tersebut sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia dalam memasuki abad ke-21. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah manusia yang mempunyai etos kerja yaag tinggi, semangat kemandirian, kemauan untuk berprestasi dan memiliki sifat kritis dan berjiwa inovatif. Berkaitan dengan itu Perguruan Tinggi Agama Islam diharapkan mempunyai dua misi khusus yaitu : 1. Mempersiapkan kader/tenaga ahli dalam bidangnya. 2. Mencetak kader pemimpin bangsa di masa depan dan khususnya pemimpin umat Islam. 3. Mempelopori pembinaan akhlaqul karimah di lingkungan kampus khususnya, serta di kalangan masyarakat pada umumnya. Dan kenyataan, sejarah kita mengetahui bahwa di berbagai sektor dan aspek keliidupan bangsa dewasa ini, sebagian pemimpinnya adalah mereka yang pernah mengenyam dunia perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi merupakan ajang persiapan kader pemimpin bangsa. Untuk itulah seharusnva mendapat perhatian pemimpin perguruan tinggi, terutama dalam pengelolaan dan pengembangan aktivitas pembinaan mahasiswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengemban misi Perguruan Tinggi Agama Islam dalam mempersiapkan pemimpin dan sumber daya manusia adalah dengan melaksanakan pembinaan wawasan kepemimpinan dan wawasan keagamaan dan wawasan cinta bangsa. Wawasan kepemimpinan adalah cara pandang dan sikap patriotik yang berkaitan dengan kemampuan menghimpun potensi dan keahlian untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama. Ada tiga ciri wawasan kepemimpinan yang perlu dikembangkan khususnya dalam pembinaan

237 kepemimpinan di Perguruan Tinggi, adalah •

Iskandar Engku

1. Berorientasi jauh ke depan (Visi yang luas). 2. Landasan pola pikir ilmiah. 3. Landasan pola kerja/etos kerja yang sangkil dan mangkus (Efektif dan efisien). Dari ketiga ciri ini merupakan acuan dasar bagi karya-karya kepemimpinan moderen yang rnenuntut kemampuan kompetitif

238

Pandangan Keilmuan

dalam rangka menghadapi persaingan dunia dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dan negara. Perguruan Tinggi Agama Islam yang merupakan wahana bagi ditumbuhkembangkannya pembinaan wawasan kepemimpinan tersebut. Perguruan Tinggi juga adalah "gudang informasi" yang memungkinkan pembinaan wawasan kepemimpinan, keagamaan dan cinta bangsa dapat berkembang dengan baik. Perguruan Tinggi juga merupakan komunitas sosial dan gudang kepakaran yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan, sehingga pola pikir ilmiah yang rasional, obyektif dan inovatif dapat dikembangkan. Namun demikian, potensi perguruan tinggi sebagai wahana pengembangan kepemimpinan tersebut baru dapat direalisasikan apabila perguruan tinggi itu sendiri menjadikan wawasan kepemimpinan, wawasan keagamaan serta wawasan cinta bangsa menjadi acuan dalam pengembangan program dan aktivitasnya. Hal ini berarti bahwa perguruan tinggi harus mampu mengembangkan clirinya sebagai lembaga yang berada di garis depan dalam menghadapi dan memecahkan masalah pembangunan. Perguruan tinggi secara pro aktif, mampu mengembangkan berbagai inovasi dan memanfaatkan peluang bagi tercapainya tujuan pembangunan. Dengan iklim yang demikianlah Perguruan Tinggi Agama Islam dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang dihadapinya. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro telah mengemukakan tentang konsep wawasan keunggulan dalam rangka mengembangkan pendidikan nasional sebagai berikut: 1. Meningkatkan iman dan taqwa. 2.Keahlian dan profesional.

239 3. Karya dancipta 4.Kemandirian dan kewirausahaan 5. Kekeluargaan dan kebersamaan. Pertama, iman dan taqwa; GBHN 1993 mengamanatkan bahwa kehidupan beragama dikembangkan sehingga terbina kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kualitas kerukunan antar umat beragama, serta memperkukuh kesatuan dan persatuan bangsa, meningkatkan amal, dan bersama-sama mem-

Iskandar Engku

240

Pandangan Keilmuan

bangun masyarakat. Salah satu modal dasar yang dimiliki bangsa Indonesia untuk melaksanakan pembangunan ialah kondisi keimanan dan ketaqw2an masyarakat yang tetap dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan ini perlu terus dikembangkan sehingga mampu mendukung semangat untuk berkarya dan sebagai salah satu aspek dari unsur keimanan. Kedua, keahlian dan profesionalitas; penguasaan keahlian dan pro fesionalisme sangat diperlukan untuk mendukung sikap kemandirian. untuk menguasai keahlian perlu ditanamkan motivasi untuk mengeksplorasi lingkungan dan sumber-sumber kekuatan alam yang akan menjadikan manusia tidak tunduk terhadap nasib tetapi menganggap penting usaha dan kemampuannya sendiri untuk selalu melakukan inovasi, perubahan dan penyempurnaan dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk itu maka kemampuan bangsa Indonesia menguasai iptek perlu terus ditingkatkan agar mampu membumidayakan sumber-sumber alam untuk kesejahteraan umat manusia. Dengan keahlian dan penguasaan iptek yang semakin tinggi, maka profesionalisasi dalam pekerjaan akan dapat ditingkatkan sedemikian rupa, sehingga pada gilirannya industri kita menjadi semakin efisien dengan mampu menghasilkan barang dan jasa yang semakin bermutu. Penguasaan keahlian dan pro fesionalisme ini diarahkan pada pengembangan keunggulan kompetitif sehingga mampu menghasilkan barang dan jasa yang lebih unggul dan bersaing dengan menggunakan teknologi mutakhir. Ketiga, Karya dan cipta; didalam menghadapi era persaingan, bangsa Indonesia dituntut untuk dapat menghasilkan karva yang bermutu tinggi dan mampu bersaing dengan karya-karya bangsa lain di

dunia. Kemampuan bangsa Indonesia241 untuk dapat menciptakan produk yang unggul dibentuk dari kekuatan setiap individu untuk menguasai berbagai jenis keterampilan dan keahlian. Kemampuan individu dalam menguasai keterampilan dan keahlian ini bersumber dari satu nilai yang disebut "achievement orientation", vaitu sikap yang selalu berorientasi kepada hasil karya yang bermutu. Orientasi nilai ini akan berwujud mentalitas manusia yang selalu menilai tinggi terhadap hasil karya dan cipta. Dorongan untuk menghasilkan suatu karya adalah kepuasan untuk hasil karya itu sendiri, dan bukan dorongan

Iskandar Engku

242

Pandangan Keilmuan

dalam bentuk lain, seperti mengejar harta, kehonnatan, kekuasaan, dan sebagainya. Keembat, kemandirian dan kewirausahaan; kemandirian bangsa Indonesia dalarn era globalisasi ialah kesiapan bangsa Indonesia untuk menghadapi tantangan masa depan. Kesiapan dalam menghadapi persaingan global, peningkatan nilai tambah. dan transformasi menuju masvarakat industri dapat dibangun melalui penguasaan berbagai keahlian dan keterampilan dalam iptek. Kemandirian itu sendiri adalah suatu sikap yang dibentuk oleh kemampuan individu atau suatu bangsa untuk mengaktualisasikan selin-uh potensinya sehingga dapat menghasilkan sebuah karyanva sendiri untuk pembangunan. Untuk mewujudkan kemandirian bangsa, perlu ditanamkan sikap dan nilai kemandirian pada tingkat individu, yang bersumber dari kemandirian individu dalam menguasai keterampilan keahlian yang diperlukan tidak tergantung kepada orang lain. Sikap kemandirian ini pada gilirannya akan melahirkan jiwa kewirausahaan, dalam arti mampu mengembangkan karya dalam masvarakat tanpa tergantung pihak lain. Dengan ungkapan lain kewirausahaan ialah kemampuan dan etos kerja untuk "menciptakari" kegiatan produktif bagi dirinya dan masyarakat.
Kelima, kekeluargaan dan kebersamaan; masyarakat Indonesia dikenal sebagai negara yang berdasarkan atas kekeluargaan. Dengan demikian upaya peningkatan mutu pendidikan hat-us merupakan usaha bersama di dalam suatu kerja sama khususnya antar kelompok yang seprofesi. Melalui kerja sama ini maka tukar-menukar pengalaman akan terjadi secara berkelanjutan sebagai salah satu wahana penting dalam rangka peningkatan kemampuan mereka secara berkelanjutan.

D. Strategi Kemajuan dan Kemandirian 243

Iskandar Engku

Apabila wawasan kepemimpinan dan keunggulan tersebut dikaitkan dengan pengertian manusia yang berkualitas seperti yang dinyatakan dalam GBHN 1998 yaitu terwujudnya bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin sebagai tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Pada hakikatnya pengertian "maju dan mancliri" dapat dikaji dengan pendekatan sifat dan ciri dalam ketiga peringkat manusia Indonesia, yaitu sebagai individu, masyarakat dan bangsa. Atas dasar

244

Pandangan Keilmuan

pendekatan ini, pengertian manusia yang beriman, maju clan mandiri dapat dikemukakan dalam enam perspektif sebagai berikut: Pertama, manusia Indonesia sebagai individu dapat dikatakan maju apabila ia memiliki alumni perguruan tinggi yang mempunyai kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, sikap dan tingkah lake yang rasional, serta berorientasi ke depan; yang antara lain tercermin dalam kadar penguasa, tanggungjawab dan komitmennya terhadap bidang atau profesi yang diembannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsanya. Ciri individu yang maju antara lain tercermin dalam : I. Motivasi berfikir dan berkarya yang berorientasi pada prestasi keunggulan. 2. Memiliki daya saing dan sekaligus daya bekerjasama yang tinggi. 3. Memiliki motivasi yang besar dalam mengembangkan bakat dan potensi dirinya untuk mencapai keunggulan 4. Berkemampuan daya nalar tinggi dan berprestasi. Kedua, manusia Indonesia sebagai individu dapat disebut mandiri apabila pada dirinya terdapat kemampuan untuk berdiri sendiri secara psikologis, sosial, kultural dan ekonomi. Secara psikologis, ia dapat mengambil keputusan tanpa meletakkan ketergantungan kepada orang lain. Secara sosial, ia mendapat kemerdekaan dari beban ketergantungan kepada orang lain sehingga dapat sederajat dengan individu-individu yang lain dalam hubungan kemasyarakatan. Secara kultural, ia mendapat pengakuan sebagai pribadi yang dapat berdiri sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungan budayanya secara sehat, atas dasar sistem nilai yang ada dilingkungannya. Secara ekonomis, ia dapat memenuhi kebutuhan dasar dan pelengkap

245 lainya tanpa membebani orang lain. Ciri individu yang mandiri antara lain tercermin dalam : 1.Berdisiplin tinggi 2. Kemampuan untuk berprakarsa 3. Kewirausahaan dan keberanian serta ketrampilan 4. Memiliki kemampuan memimpin (management) 5. Memiliki sikap pencapaian perestasi dalam rangka persaingan Ketiga, masyarakat Indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat maju apabila dalam Perguruan Tinggi tersebut terdapat suasana

Iskandar Engku

246

Pandangan Keilmuan

yang kondusif bagi berkembangnya kemampuan alumninya untuk maju dalam memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan teknologi; serta kondusif untuk turnbuhnya sikap dan tingkah laku yang rasional, inovatif, serta berorientasi l-e depan. Kemajuan satu Perguruan Tinggi juga tcrcermin dalam tingkat produktivitas yang tinggi, di samping itu, terdapat kelembagaan yang menampung dan menunjang pengernbangan kemampuan dan sikap maju bagi lulusannya.
Keempat, masvarakat Indonesia dikatakan mandiri apabila. dalam Perguruan Tinggi terdapat suasana yang kondusif bagi berkembangnya sikap mandiri baik secara psikologis, sosial, kultural dan maupun ekonomi. Kemandirian suatu Perguruan Tinggi juga tercermin dalam dua hal, yaitu (1) tingkat partisipasi yang tinggi dari masyarakat dalam segala tingkat kegiatan kemasyarakatan dan pembangunan, serta (2) tingkat pemerataan yang adil dan seimbang. Dengan demikian dalam Perguruan Tinggi yang mandiri juga memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif homogen diukur dengan ukuran distribusi dan pemeratan hasil-hasil pembangunan. Kelima, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang maju apabila bangsa tersebut mampu mewujudkan dorongan kemajuan yang antar lain ditandai dengan tantangan kehidupan kampus yang dinamis, kompetitif, inovatif, memiliki dinamika internal (inner dynamic) yang kuat untuk meraih kemajuankemajuan demi kejayaan masa depan. Menurut GBHN 1998, ciri-ciri kemampuan bangsa yang maju antar lain tercermin dalam:

1. Tingkat pendidikan pendudukanya yang tinggi, dan mempunyai komp et ensi se rt a ta ngg ung jawab yang bes ar te rhad ap pembangunan bangsa.

247 Tingkat kesehatan yang tinggi, yang antara lain tercermin dalam tingginya tingkat harapan hidup (life eNpectang). 3. Tingkat pendapatan yang semakin tinggi dan merata. Di samping kemampuan tersebut, kemajuan suatu bangsa juga dicerminkan oleh sikap dari nisi bangsa tentang masa depannya yang maju dan berkeunggulan di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Keenam, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri apabila bangsa tersebut semakin mampu memelihara kehidupan dan melanjutkan pembangunan secara mandiri, dengan kekuatannya sencliri,

Iskandar Engku

248

Pandangan Keilmuan

yang menurut GBHN 1998 antara lain dicerminkan oleh : 1. Semakin tingginya sumberdaya manusia, yang dicerminkan oleh semakin banyaknya tenaga terampil dan profesional dalam memenuhi kebutuhan pembangunan. 2. Sumber pembiayaan pembangunan dalam negeri semakin mantap, sementara sumber pembiayaan dari luar negeri semakin mengecil. Dapat memenuhi sendiri kebutuhan yang paling pokok bagi bangsa_ atau dapat mengkompensasikannya dengan keunggulan vang schingga tidak ada ketergantungan dengan piliak luar. o Mcm7in, 21 ( a ttlhan tethadap perkernba.rigan clan g,ejol?it durna. pi kernarnpuan tersebui, kemaclitian suatil bangsa j;?.-a
j-T
-

dan visi ban gs a se cara ke seh tru ha n dal am kan dan metrelihara eksistensinva setta dalarn mencapai nembangurtan. rnenuiu cita-cita nasicm31nva. Er(rs.rrpn-.,.e17-1 nengetailuan, kctrampilan, dan ornpok masvatakat dan bangsa sebagai. 71 leflg))C1 11 nva .tc_thadap tar? angan-tantang,an vang nciavas._.,un:1 Kan seluruh potei, bangsa.
7' 1 -;.

0

-

,

'" IL - 1211

Perk d Lrnhangkan dna tracam in CI")) rratcgi kecenclekiaar erbuka.an keterbt...1.,

vaitu (a)

tinggi

clan Tarn

guruan rtawz

kita tneng ,,a:

due sent

etetbukaan dalarn sikap dan ketc1:1,ukaan dan berlikit
keterbukaan, ialah kesediaan untuk nienerima

Iskandar Engku

.orrnasi, gagasan dan nilai-nilai haru yang kort.tuktif. Dengan adanva iceterbukan, kita akan terhindar dari perangkap wawasan sempit yang dapat menghambat upava pembangunan nasional .•;cbagai upava trchingkatkan martabat dan kehidupan ban Asa Dalan a mewujudkan keterbukaan tersebut diburuhkan suasana yang what, Icarenci ketv. -.-1.)71k9an tidak &pat tcrjadi dalam suasana kes
e..)7)

249

menu-in-0,1r

250

Pandangan Keilmuan

rbukaan senantiasa menuntut n.syarat untuk mencapai tujuan pembangunan. Keterbukaan juga menuntut adanya aturan permainan dan etika serta asas-asa , moral sebagai pedoman berfikir dan bertindak. Kedua, keterbukaan berarti bahwa dalam komunikasi sosial di perguruan tinggi senantiasa tersedia peluang dan wahana untuk terjadinya dialog yang lebih baik antara sesama warga perguruan tinggi maupun dengan pihak luar. Berbagai masalah yang dihadapi sering sekali berpangkal dan komunikasi sosial yang macet di antara pihakpihak yang seharusnya terlibat dalam komunikasi. Dalam kaitan ini, keterbukaan dalam komunikasi sosial tidak hanya diartikan sebagai kebebasan dalam menyampaikan pendapat, melainkan juga keterbukaan dalam menerima pendapat orang lain, tanpa diwarnai oleh sikap a-priopri dan buruk sangka (suudhan). Dalam hal ini perlu dikembangkan budaya "Humudhanw (berbaik sangka) kepada siapapun juga.

Dengan dernikian, keterbukaan tidak identik dengan sikap antiketertiban atau anti-kemapanan; malah sebaliknya, keterbukaan seharusnya lebih mendorong kita untuk memelihara stabilitas yang dinamis dan gerak maju dalam keteraturan. Keterbukaan juga harus dilandasi oleh rasionalitas dan obvektifitas. Sebagai ilustrasi misalnya, kritik dalam kontek keterbukaan mestinya lebih ditunjukkan pada program dan didasarkan atas pemikiran rasional dan objektif, dan bukan pada perseorangan atau kelembagaan yang umumnya dilandasi oleh prasangka. Dalam upaya menciptakan keterbukaan, kita perlu hati-hati agar tidak terjebak dalam idiom-idiom yang dapat menyesatkan. Untuk itu, kesetiaan dan keyakinan kepada kebenaran yang hakiki sebagai salah satu ciri kehidupan akademik di perguruan tinggi perlu terus dipupuk dan

Iskandar Engku

dikembangkan.

251

2. Strategi Kecendekiaan Dalam kehidupan akademik di perguruan tinggi adalah wajar berkembang pandangan dan pendapat yang beraneka ragam. Kita mengetahui bahwa kemajuan ilmu pengetahuan hanya mungkin terlaksana melalui sintesis dan paduan perspektif dan argumentasi yang berbeda-beda. Tradisi akademik yang harus kita bangun di

252

Pandangan Keilmuan

perguruan tinggi ialah mengembangkan iklim yang kondusif agar gagasan dan pendapat benar-benar didasarkan atas pemikiran rasional yang didukung oleh bukti yang bisa diuji kebenarannya, dan sebaliknya, kesediaan men Prima gagasan dan pendapat E. Penutup Dengan penerapan Visi, Misi dan Strategi Pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam ini dapat diharapkan adanya perubahan yang mendasar, baik dikalangan akademis maupun di lingkungan masyarakat. Kesadaran terhadap pentingnya keterpaduan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum menjadi alternatif yang paling baik dalam pengembangan perguruan Islam di masa mendatang. Lulusan Perguruan Tinggi Agama Islam ini dapat menciptakan kondisi inovatif di kalangan masyarakat, sehingga bukan raja berguna bagi dirinya, tetapi juga dapat bermanfaat bagi kepentingan nusa, bangsa dan agama secara komprehensif, integral dan simultan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI., AI-Qur'an dan Terjemahnya, 1972

Haekal, M. Riwayat Hidup Muhammad, 1972 Harun Nasution, Prof. DR.: Sekitar Masalah Pengembangan IAIN Menjadi UIN, 1996 Hit. K., History of the Arabs, 1964, Herman Soewardi dan Ahmad Hidayat, Islam Membimbing Sains di Masa Depan, 1995 Johans M. Echols dan Hassan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, 1976 Tarmizi Thaher, Sambutan Menteri Agama R.I. dalam Seminar Nasional : Respons Islam Terhadap Transformasi Budaya Abad 21, 29 Maret 1999

INTEGRASI ILMU AGAMA DALAM SISTEM KURIKULUM UIN
Rachmat Syafe'i * A. Pendahuluan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung merupakan salah sate Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PT SIN) yang memiliki tujuan melaksanakan Tri Darma Perguruan tinggi yakni pendidikan, penelidan dan pengabdian masyarakat. Dan ketiga tujuan itu, pendidikan merupakan prioritas utama dalam pengembangan keilmuan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pengembangan keilmuan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ditujukan untuk menciptakan sumber dava manusia yang berkualitas yakni insan akademik yang memiliki berbagai wawasan, pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang disiplin ilmu. Untuk tercapainya kualitas pendidikan, pengajaran dan produktivitas kegiatan ilmiah di perguruan tingi maka IAIN Sunan Gunung Djati berupaya mengembangkan statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). UIN Sunan Gunung Djati berupaya merancang suatu platform dan strategi pengembangan pendidikan tinggi yang ditujukan untuk menyiapkan sarjana muslim yang memiliki akhlak mulia, kecakapan dan keterampilan akademik, berjiwa professional dalam hal ilmu keislaman sehingga dapat digunakan dalam bekerja, belajar dalam pendidikan lanjut, serta berinteraksi dalam lingkungan social, budaya dan alam sekitar dalam
,

kehidupan bermasyarakat menuju masyarakat belajar, beradab dan cerdas. Untuk mewujudkan UIN Sunan Gunung Djati yang memiliki keunggulan dan kualitas baik dari segi suprastruktur maupun infrastruktur pendidikan tinggi, maka pengembangan UIN dilakukan
RACHMAT SYAFE'I, Lc., MA., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung

242

Pandangan Kaltman UIN

melalui pengintegrasian ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu lainnva. Integrasi ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu lainnya dalam sistem kurikulum UIN Sunan Gunung Djati nantinya diharapkan memiliki kekhususan, sehingga dapat berguna, bermanfaat dan dapat diirnplementasikan dalam kehidupan masyarakat serta mendukung pembangunan nasional di bidang peningkatan kualitas sumber daya manusia. B. Kerangka Dasar Integrasi Emu Diakui atau tidak, dewasa ini, masih terjadi stigma yang paradoks di kalangan pemikir modem baik Muslim maupun Non-Muslim tentang kerangka dasar dan struktur keilmuan. Paradoks yang dimaksud adalah memisahkan kategorisasi antara ilmu agama dengan ilmu umum. Ilmu agama lebih banyak dipahami sebagai keseluruhan bidang ilmu yang dibingkai dalam frame ilmu agama Islam (Islamic Studies) dan bersumber kepada wahyu. Sedangkan ilmu umum difahami sebagai keseluruhan bidang ilmu yang berpangkal pada filsafat dan rasionalitas manusia. Jika melacak akar sejarah perkembangan disiplin ilmu, para pemikir Muslim di abad pertengahan, tepat disaat terjadi kontak peradaban antara Islam dengan Barat, tidak banyak memperdebatkan paradoks kategorisasi ilmu. Hal ini disebabkan adanya suatu harmoni atas integrasi ilmu pengetahuan yang datang dan Barat (Yunani Kuno) dan Islam yang bersumber kepada wahyu. Sehingga, peradaban Islam dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan pada saat itu menunjukkan adanya sinergitas dan integrasi nilai-nilai agama Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Beberapa pemikir dan para ahli saat itu, seperti

Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Kindi dan lainnya tidak menunjukkan perbedaan dalam menyoal pembidangan disiplin ilmu. Sehingga para sejarawan lebih melihat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman keemasan Islam merupakan fakta bahwa itu merupakan tingkat harmonisasi yang paling ideal tentang bagaimana nilai-nilai agama Islam yang bersumber kepada wahyu terintegrasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga menjadi suatu produk peradaban manusia. Inilah sesungguhnya pijakan mendasar mengapa struktur

244

Pandangan Kaltman UIN Rachmat Syafe'i

243

keilmuan UIN perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekhususan pengitegrasikan nilai-nilai agama Islam dengan ilmu-ilmu lainnya. Terlebih lagi, pesatnva perkembangan ilmu pcngetahuan di era globalisasi serta semakin b., tkembangnya studi keislaman, maka, fungsi dan mutu pendidikan tinggi menjadi hal yang sangat penting dan strategis untuk dikembangkan guna menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompeten di bidangnya. Dengan kata lain, pengintegrasian

nilai agama Islam dengan ilmu-ilmu lainnya dalam sistem kurikulum UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan hanya merupakan tuntutan dan kcbutuhan, tetapi akan berdampak positif bagi peran UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat lebih berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan citacita luhur bangsa Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengembangan ilmu UIN SGD Bandung disandarkan kepada landasan berikut: 1. Landasan Yuridis. Secara yuridis, pengembangan keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung didasarkan kepada ketentuan berikut: a. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dijelaskan dalam pasal 3 bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertak-wa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mancliri dan rnenjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kemudian dalam pasal 36

(3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memperhatikan aspek peningkatan iman dan takwa, peningkatan akhlak mulia, peningkatan potensi, kecerdasan dan minas peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agama, dinamika perkembangan global serta persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Adapun dalam pasal 38 (3) disebutkan kurikulum pendidikan

244

Pandangan Kaltman UIN

tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi. b. Kepmendiknas RI No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, memberi keleluasaan kepada pengelola lembaga pendidikan tinggi untuk mengembangkan kurikulum mereka sencliri. Pemerintah hanya memberikan rambu-rambu bagi pedoman pengembangannya. 2. Landasan Teologis didasarkan kepada QS alMujadalah ayat 11 yang berbunyi: "Allah mengangkat derajat orang-orang di antara kamu yaitu mereka yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu keakan ". 3. Landasan Filosofis did asarka n kepada t uj ua n untuk menghilangkan dikotomi ilmu agama dengan ilmu-ilmu lainnya. Integrasi ilmu dalam sistem kurikulum UIN nantinya dapat melahirkan pemahaman yang demokratis, terbuka dan egaliter dalam menyikapi berbagai perubahan, khususnya dalam hal pemahaman agama secara inklusif. 4. Landasan Kultural yaitu UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Jawa Barat berada dalam posisi yang sangat strategis bukan hanya dalam kancah lokal dan regional, tetapi juga populer dalam kancah internasional. Warisan sejarah Bandung yang dikenal dengan van Java menjadikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpeluang menjadi model pendidikan tinggi Islam modern yang qualified. 5. Landasan sosiologis yaitu masyarakat Jawa Barat

dikenal sebagai masyarakat muslim yang dinamis, sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya, terbuka dengan perubahan, dan kritis dalam menyikapi persoalan-persoalan bangsa, termasuk di dalamnya masalah pendidikan. Atas dasar itu, maka UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan memperoleh dukungan yang positif bukan hanya dari masyarakat Jawa Barat, tetapi juga bangsa Indonesia secara keseluruhan.

246

Pandangan Kaltman UIN Rachmat

Syate7245

6. Landasan Psikologis yaitu adanya rasa percaya din yang kuat di kalangan civitas akademika IAIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk mengembangkan diri menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hal ini didukung pula dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang cukup lengkap dan memadai bagi pengembangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung di masa depan. C. Strategi dan Pendekatan Dalam upaya mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmuilmu lainnya, jelas diperlukan suatu strategi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan paradigma UIN. Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam rangka intergrasi ilmu di UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah penerapan sistem Kurikulum Berbasis Komptensi (KBK) yang disesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks UIN, hams diakui bahwa integrasi ilmu sesungguhnya bukan hal yang mudah dilakukan, karena masing-masing disiplin ilmu berpijak pada fondasi keilmuan yang mandiri. Sehingga beberapa program studi dan jurusan UIN nantinya diarahkan pada spesialisasi keilmuan sesuai dengan bidangnya. Berkenaan dengan hal tersebut, maka integrasi ilmu yang dimaksud dalam UIN bukan pada segi pengklasifikasian subyeknya, melainkan pada obyek keilmuannya. Dengan kata lain, nilai-nilai agama dapat ciitransformasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu lainnya. Keadaan semacam ini bukannya tidak mendatangkan resiko, disebabkan bidang-bidang ilmu agama nantinya hanya akan dianggap sebagai pelengkap bidang ilmu lain yang lebih populer dan diminati masyarakat. Pendek kata, jika integrasi ilmu hanya mengutamakan segi obyeknya, maka secara pragmatis akan muncul kecenderungan sikap

"ambivalen" dalam menerima integrasi nilai-nilai agama ke dalam ilmu-ilmu lainnya. Untuk memecahkan kebuntuan metodologi penyatuan ilmu agama dengan ilmu-ilmu lainnya, alangkah lebih baik jika terdapat pemahaman yang sama antar komponen yang terlibat dalam penyusunan kerangka keilmuan UIN dapat merumuskan platform UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang memiliki kekhususan dan berbeda dengan UIN-UIN lainnya. Kekhususan yang dimaksud di sini adalah

246

Pandangan Kaltman UIN

model integrasi ilmu agama dengan lainnya dalam sistem kurikulum UIN nantinya tidak melahirkan paradoks dalam memahami ilmu agama dan ilmu-ilmu non agama. Hal yang perlu dicermati adalah bagaimana UIN Sunan Gunung Djati Bandung nantinya menjadi model Perguruan Tinggi Islam Negeri yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis pada nilai-nilai keislaman. Saiah satu piiihan positif adalah dikembangkannya model Interdis6iplinag and Multidisciplinary Studies Program. Dalam Interdisciplinary and Multidisciplinary Studies Program. pola pendidikan, pembelajaran dan penelitian tidak dilakukan hanva dari satu tinjauan (single perspective) saja, tetapi dapat ditinjau dari berbagai tinjauan (multipmpectives), pendekatan (various method) dan digabungkan (integralkation) dengan bidang ilmu lainnya. Sebagai contoh, Interdisciplinary and Multidisciplinary Studies Program yang ada di Emory University, State University of New York at Binghamton, Harvard University (USA), University of Melbourne dan University of Western Australia (Australia) berhasil mengintegrasikan ilmuilmu syari'ah dengan ilmu hukum melalui Department School o f Law and Human Rights di Fakultas Hukum (J aculty of Law). Di samping itu, hal yang perlu diperhatikan adalah proses pembentukan platform UIN Sunan Gunung Djati juga akan dihadapkan kepada berbagai kendala, di antaranya: I. Kendala internal adalah UIN perlu dilengkapi dengan infrastruktur dan suprastruktur penunjang kegiatan akademik yang memadai, sehingga visi dan misinya dapat diwujudkan sesuai dengan kultur akademik dan lingkungan sosial yang ada. Kendala eksternal adalah perlu dibangun suatu

bentuk interaksi yang positif dengan instansi lainnya yang dapat diajak bekerja sama bagi optimalisasi pencapaian tujuan UIN secara keseluruhan. Untuk mengantisipasi kendala-kendala tersebut, UIN Sunan Gunung Djati Bandung hendaknya mampu membangun jaringan (link) dan kcmitraan (cooperation) dengan institusi lainnya untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan akademik di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Lebih jelasnya, link and cooperation sangat berguna bagi pengembangan dan pengintegrasian ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu

248

Pandangan Kaltman UIN Rachmat Syafe'i

247

lainnva. Selanjutnya, link and connection tersebut diorientasikan untuk mempersiapkan peserta didik dan lulusannva agar memiliki kualitas keilmuan dan keterampilan yang cukup serta memiliki akhlak mulia. Untuk mewujudkan harapan tersebut, UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan mengembangkan penerapan pola KBK dengan tujuan sebagai berikut: 1. Mengembangkan kurikulum IAIN Sunan Gunung Djati Bandung berdasarkan pada kompetensi yang memuat kemampuan akademik ( a c a d e m i c d a n keterampilan hidup (life dengan mengakomodasikan unsur-unsur teoritis-praktis berdasarkan kebutuhankebutuhan nyata (felt need) dan kebutuhan yang diperkirakan (eNpected need) sesuai dengan dinamika kehidupan. Meningkatkan mutu akademik dalam proses pengembangan keilmuan melalui proses pembelajaran yang tidak hanya dikatakan dengan spesifikasi output, tetapi juga dengan proses pembelajaran yang efektif, efisien, produktif, akuntable, serta adaptif dengan perubahan sehingga tercapai academic atmosphere di lingkungan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. 3. Meningkatkan kemampuan intelektual, emosional dan spiritual mahasiswa untuk mewujudkan keunggulan akademik, kemantapan akidah, berakhlak mulia dan mandiri sehingga dapat menumbuhkan kesadaran mahasiswa sebagai seorang muslim, warga negara dan warga masyarakat global (education for nation and global citkenship). 4. Mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan yang rnemadai untuk menunjang penyelenggaraan kegiatan akademik serta pengembangan bakat dan minat mahasiswa.

Berdasarkan gambaran tersebut, secara umum dapat dikatakan di sini bahwa prospektus UIN Sunan Gunung Djati Bandung akan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Namun demikian, sejumlah tantangan dan kendala yang menghambat pengembangan IAIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak dapat dilakukan apabila tidak didukung oleh segenap civitas akademika, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan. Semoga UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dicita-citakan dapat terwujud sesuai dengan harapan.

KERANGKA KEILMUAN UIN
A. Djazuli* A. Dengan menggunakan Nama: Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, yang pertama tama terbayang adalah katakata Universitas yang terdiri dari Fakultas-Fakultas/jurusan dan disiplin ilmu yang dipelajari; Yang kedua: Nama Islam sebagai suatu agama yang pernah memberi sumbangannya dalam perkembangan peradaban manusia didunia ini sebagai rahmatan lil alamin, yang mengembangkan berbagai macam cabang ilmu yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan serta seluruh makhluk Allah dimuka bumi. Dengan niat ibadah kepada Allah dengan tujuan mencapai keridhoan-Nya; Yang ketiga: kata Sunan Gunung Djati membayang dalam pikiran kita seorang ulama yang memiliki karakter pejuang (mujahid), creative (mujtahid) dan kerja keras tanpa lelah menyebarkan dan mempraktekan ajaranajaran Islam. Karakter semacam ini harus dimiliki oleh seluruh civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung
-

B. Masalah yang kedua yang perlu mendapat perhatian dari UIN ini adalah : model manusia macam apa yang akan dihasilkan oleh UIN dalam membentuk dirinya dikemudian hari. Dalam konteks ini perubahan karakter menjadi sangat penting dalam pendidikan di UIN disamping pengajaran; oleh karena itu pandangan hidup muslim perlu ditanamkan, agar tidak terjebak dalam pandangan hidup yang lain seperti materialisme, atau spiritualisme tanpa adanva keseimbangan dalam posisinya sebagai

hamba Allah dan khalifatullah jil ardli. Dalam hal ini karakter mencintai ilmu, kerja keras, pejuang, kreatif dan keterbukaan menjadi sangat penting. Oleh karena itu maka dasar pendidikan dan pengajaran di UIN, harus memanfaatkan dan mengembangkan perlengkapan yang
A. DJAZULI, Drs., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

250

Pandangan Keilmuan UIN

dikaruniakan Allah kepada manusia yaitu wahyu, alam dan potensi manusia, baik aqalnya, perasaannya, intuisinya, imajinasinya; Didalam penterapannva harus terintegrasi antara niat yang lurus, cara yang benar dan tu"Jan yang mulia; Niat, cara dan tujuan ini dilandasi oleh etika, logika dan estetika. C. Imam Dja'far Al-Shodiq memberikan gambaran tentang ilmu yang bisa membawa kepada peradaban manusia masa depan dengan kata-katanya: penerangan hati adalah intinya, kebenaran adalah tujuan utamanya, inspirasi penuntunnya aqal, Tuhan pemberi ilhamnya dan kata-kata manusia pengucapnya (Amer Ali, 226). Untuk melihat kesinambungan keilmuan pada zaman keemasan Islam yang telah memberi saham besar dalam peradaban manusia, kita bisa melirik kepada perguruan Nidhamiyah dan Mustansariah yang didirikan oleh Nidhom al Muluk dan al Mustansir billah. Dar alHikanah (kairo) yang didirikan oleh ilmu-ilmu yang dipelajari diperguruan tinggi tersebut adalah: filsafat, seni dan sastra, astronomi, kedokteran dan bedah, ilmu pasti dan fisika, kimia, sejarah, geografi, geologi, industri, pertanian, perdagangan, ekonomi, politik, sosial, administrasi negara, hukum.
-

Hampir seluruh ilmu yang ada sekarang memiliki akar didalam al-Qur'an dan hadist yang memberi motivasi kepada para ilmuwanilmuwan untuk mengembangkan dan mensistimasir agar memberi manfaat bagi manusia. Penelitian empirik adalah warisan orang Islam yang dimotivasi oleh al-Qur'an yang mengajak berpikir emperik selain dengan berfikir abstrak. Demikian juga

halnya berfikir dengan memperhatikan sebab akibat, perbandingan dan dialektis. Oleh karena itu ilmu yang datang dari Barat tidak dinafikan demikian pula fakultas-fakultasnya, tetapi dianalisis kembali setidaknya tentang falsafah ilmunya dan tujuannya, kemudian diukur dengan menggunakan tolok ukur. Dalil-dalil kulli/universal clan al-Qur'an dan hadist, semangat ajaran Islam, maqosidu syari'ah dan kaidah-kaidah keilmuan Islami. Dengan demikian ilmu yang dikembangkan tidak akan kehilangan arah dan tujuan, sehingga bermanfaat bagi manusia. Pada tahap pertama ini, menurut hemat sava fakultas-fakultas yang perlu didirikan adalah :

A. Djazuli

251

1. Fakultas Adab 2.Fakultas Syari'ah 3.Fakultas Ekonomi 4. Fakultas Da'wah 5.Fakultas Tarbiah 6.Fakultas Usuluddin 7.Fakultas Kedokteran 8.Fakultas Pertanian 9. Fakultas Sospol Dengan paparan ini saga berharap UIN tidak kehilangan makna Islamnya, seperti dialami beberapa lembaga pendidikan Islam, di satu sisi sedangkan di sisi lain beberapa lembaga-lembaga yang tidak memakai label Islam justru melaksanakan semangat Islamnya dalam pendidikannya. Dalam konteks ini UIN dalam jangka panjang dengan landasan al-Qur'an dan hadist tidak hanya melegitimasi ilmu-ilmu yang telah ada seperti sekarang banyak yang dilakukan tapi terutama memberikan motivasi kepada munculnya ilmu-ilmu bare yang bermanfaat kedepan yang rahmatan lil alamin sebagai wujud kiprah manusia yang berfungsi sebagai kbalifatullah flu ardli, atau setidaknya memberi alternatif barn terhadap ilmu yang ada seperti Ekonomi Islam. Dalam hal ini perpustakaan dan laboratorium menjadi penting. Di situlah, para mahasiswa, dosen dan guru besar, tekun mempelajari dan mengembangkan ilmu. Di Universitas Islam di Cordoba pada zaman kekuasaan Daulah Umayah tidak kurang dari dua juta buku di perpustakaannya, suatu jumlah yang sepektakuler pada zamannya. Dua ribu

lima ratus buku diantaranya tentang astronomi.•

POSISI DAN KONTRIBUSI ILMU DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Cik Hasan Bisri*

A. Qur'an Sebagai Sumber Hai manusia, sesungguhnya Kami telah Ilmu mencOtakan kamu dart* seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhga orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takma. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. al-Hujurät: 13).
Apabila firman Allah itu dibaca secara cermat, ada beberapa hal yang dapat dijelaskan. Pertama, dalam ayat itu terdapat beberapa pernyataan. Pernyataan pertama bersifat deskriptif, yang menjelaskan tentang penciptaan dan pengembangbiakan manusia. Allah mencipta ka n ma nusia dart* d ua je ni s ke lam in dan perempuan, kemudian berkembang biak menjadi satuan masyarakat: suku dan bangsa. Pernyataan kedua bersifat preskriptif, yang menentukan keharusan untuk saling mengenal, dalam arti luas. Pernyataan ketiga bersifat evaluatif, yang menetapkan

penilaian tentang derajat manusia menurut pandangan Allah. Pernyataan keempat menunjukkan kedudukan dan posisi Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha
* CIK HASAN BISRI, Drs., MS., Dosen Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

254

Pandangan Keilmuan

Mengenal seluruh aspek kehidupan ciptaan-Nya. Kedua, ayat itu merupakan salah satu dari ribuan ayat qauliah, yang bersifat ideal dan abstrak, tentang salah satu aspek kehidupan manusia. Ia berhubungan dengan ayat lain yang bertebaran dalam berbagai surat, yang dapat disusun dan mencerminkan suatu gagasan. Ayat itu dapat diuji kebenarannya dengan pengujian koherensi dengan ayat iainnya (munasabah ayat). Ia juga dapat diuji dengan pengujian korespondensi dengan ayat kauniah, yang bersifat aktual dan konkret. Berkenaan dengan hal itu, ayat di atas, dan ayat-ayat qauliah lainnya, memberi sinyal untuk dijadikan titik tolak dalam mengembangkan pengetahuan ilmiah. Afzalur Rahman (1994), misalnya, menguraikan secara lengkap tentang berbagai ayat Qur'an sebagai sumber pengetahuan ilmiah. Sementara itu, menurut Ghulsvani (1986:39) di dalam Qur'an, kata al-Vm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali (CI Imaduddin Khalil, 1998: 92). Pengembangan itu dapat an dengan menggunakan cara dan kerangka berpikir tertentu. Hal yang demikian dilakukan oleh Ali Sharicati (1978) dalam menyusun gagasan sosiologi Islam dengan menggunakan cara berpikir dialektis. Ketiga, ayat tersebut, dan seluruh ayat dalam mushaf Qur'an, ditulis dalam bahasa Arab. Hal itu, sekurang-kurangnya, menunjukkan tentang dua hal. Qur'an diturunkan dalam konteks kehidupan manusia, yang dikomunikasikan melalui simbolsimbol yang dapat ditangkap dan diberi makna oleh manusia yang menerimanya. Oleh karena itu, fungsi Qur'an sebagai penjelas, pembeda, dan petunjuk bag,i kehidupan manusia, memiliki signifikansi yang sangat tinggi. Di samping itu, salah satu ciri bahasa Arab adalah lugas dan tanpa hirarki. Ia memiliki potensi, dan terbukti, menjadi bahasa ilmiah. Ia

merupakan salah satu bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah, dan komunikasi antar bangsa pada umumnya, sampai sekarang (bandingkan dengan: bahasa Latin, bahasa Yunani, dan bahasa Sansekerta).
Keempat, manakala ayat tersebut dipilah secara

kronologis, di dalamnya terdapat sesuatu yang menjadi sasaran (subject matter) pengkajian dan dapat dimasukkan ke dalam ranah (domein) pengetahuan ilmiah. Manusia yang diciptakan Allah dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan dapat dipandang sebagai makhluk biologis, yang masuk dalam ranah biologi. Oleh karena laki-laki dan perempuan

Cik Hasan Bisri

256

itu memiliki ciri psikologis tertentu, yang mempunyai arti penting dalam berbagai kehidupan manusia, maka masuk dalam ranah psikologi. Manusia yang dijadikan bersuku-suku dan berbangsabangsa, dapat dipandang 7ebagai makhluk sosial, yang masuk dalam ranah antropologi dan sosiologi. Di dalamnya terdapat struktur dan pola budaya yang dianut, dan dijadikan patokan interaksi oleh masingmasing dalam hubungan antar suku dan bangsa itu. Ketika manusia itu diperintahkan untuk sating mengenal, mulai dari wajah, asal-usul, watak, kepribadian, keyakinan, gagasan, aspirasi, tradisi, dan seterusnya, ia menjadi makhluk yang terikat oleh normanorma dalam berinteraksi. Manusia merupakan pelaku yang terikat oleh norma itu, yang masuk dalam ranah ilmu norma, di antaranya etika dan ilmu hukum. Norma-norma yang dijadikan acuan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia yang sangat beragam —kemudian mengalami differensiasi secara tajam— dikenal sebagai institusi sosial. Selanjutnya, ketika dilakukan pengukuran tentang derajat manusia menurut pandangan Yang Maha Pencipta dan Maim Mengetahui, ia masuk dalam ranah teologi yang menjadi sentral pembicaraan di kalangan para pakar ilmu kalam. Semua ranah pengetahuan ilmiah itu merupakan bagian penting dalam berbagai rumpun ilmu yang dewasa ini dipilah dan dikembangkan. Biologi merupakan bagian dari rumpun ilmu-ilmu alamiah (natural sciences). Psikologi, antropologi, dan sosiologi merupakan bagian dari rumpun ilmu-ilmu sosial (social sciences) atau ilmu-ilmu perilaku manusia (human behavioral sciences). Sedangkan ilmu hukum, etika (bagian dari falsafah), dan ilmu kalam merupakan bagian dari rumpun ilmu-ilmu budaya atau humaniora (humanities), 1 meskipun

Cik Hasan Bisri 257 dewasa ini terdapat kecenderungan ilmu hukum diidentifikasi sebagai bagian dari ilmu-ilmu sosial. Apabila ketiga rumpun ilmu itu dipilah dan ranah pengetahuan ilmiah itu disebut sebagai disiplin atau subdisiplin ilmu, maka mafhum dari ayat di atas menjadi unsur substansi dari disiplin dan subdisiplin ilmu sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 1.

Untuk menghindarkan kesalahpahaman, ketiga rumpun ilmu tersebut berbeda dengan bidang studi yang ditawarkan (bukan paket nasional) dalam penyelenggaraan pendidikan Program Sarjana, yakni Ilmu Alamiah Dasar (IAD), Ilmu Sosial Dasar (ISD), dan Ilmu Budaya Dasar (IBD). Ketiga bidang studi itu diajarkan pada program studi yang bidang keahliannya tidak tercakup dalam ketiga rumpun ilmu di atas.

258 Pandangan Keilmuan Pengelompokkan berbagai disiplin dan subdisiplin ilmu ke dalam tiga rumpun ilmu itu, secara garis besar, bertolak dari sasaran pengkajian masingmasing. Secara teknis, sasaran pengkajian itu, dalam ranah disiplin ilmu, disebut obyek (material dan formal). Sasaran pengkajian ilmu-ilmu alamiah adalah gejala-gejala alamiah; sasaran pengkajian ilmu-ilmu sosial adalah gejala-gejala perilaku manusia; dan sasaran pengkajian ilmu-ilmu budaya adalah gejalagejala rohaniah atau aspek-aspek normatif dalam kehidupan manusia. Ia mencakup keyakinan, nilai, dan kaidah yang dijadikan patokan dalam kehidupan manusia. Seluruh gejala yang dijadikan sasaran pengkajian dari berbagai disiplin ilmu itu adalah gejala kehidupan, di antaranya gejala kehidupan manusia. Atau dengan perkataan lain, sasaran pengkajian itu adalah keseluruhan ciptaan Allah Swt., antara lain, dapat dipahami dari ayat di atas.
Tabel 1: Rumpun Ilmu dan Disiplin (Subdisiplin) Ilmu
Rumpun Ilmu Disiplin (Subdisiplin) Ilmu

1. Ilmu-ilmu Alamiah

1. Biologi 2. Biokimia 3. Botani 1. Psiko lo g i 2. Antropologi 3. So sio log i 1. Ilmu Hukum 2. Etika 3. Ilmu Kalam

2. Ilmu-ilmu Sosial

3. Ilmu-ilmu Budaya (Humaniora)

Oleh karena semua gejala itu ciptaan Allah, maka terikat oleh tata aturan Penciptanya. Gejala alamiah terikat oleh hukum Allah yang pasti, yakni Taqdir (Q.S. al-Furqdri: 2; Yasin: 38-39).2 "Kata 'edam dalam bahasa Arab, satu akar kata dengan `i/m (pengetahuan) dan

Cik Hasan Bisri
2

259

Al-Furcan: 2, "Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumf, dan Dia tidak mempunyai anak dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannnya (taqdir) dengan serapi-rapinya". Yasin: 38-39, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian ketetapan (taqdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah sampai ke manziiah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua".

260

Pandangan Keilmuan

(pertanda). Hal itu menandakan adanya Sang Maha Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa" (Nurcholish Madjid, 1992: 289). Gejala perilaku manusia, atau gejala kehidupan manusia, terikat oleh hukum Allah, yakni Sunnat 7 La 'Q.S. al-Ahz5b: 38, 62; Fdthir: 43; dan alFath: 23).3 Sementara itu, aspek-aspek normatif dalam kehidupan manusia mengacu kepada hukum Allah yang diwahyukan, yakni Syan'ab (Q.S. al-Syfira: 13, al-jätsiyah: 18). 4 Suatu "jalan menuju tempat air (kebahagiaan)", sebagaimana tertuang dalam berbagai perintah (al awdmir) dan larangan (al nawdbij). Ketiga gejala itu masingmasing memiliki sifat dan graduasi jarak dengan manusia, terutama yang melakukan pengkajian terhadap berbagai gejala kehidupan tersebut. "Jarak" ini memiliki arti penting, terutama dalam membedakan antara ilmu (sebagai instrumen kehidupan) dengan nilai dan kaidah sosial (sebagai panduan kehidupan manusia). Di samping itu, "jarak", memiliki makna untuk menjaga dan memelihara tingkat obyektifitas yang melekat pada masing-masing rumpun dan disiplin ilmu.
-

B. Gejala Kehidupan dan Klasifikasi Ilmu Ilmu, atau pengetahuan ilmiah, merupakan salah satu jenis pengetahuan (knowledge) dalam kehidupan manusia. la merupakan pengetahuan sistematis dan taat asas tentang suatu obyek atau sasaran tertentu, yakni gejala alamiah, gejala sosial, dan gejala budava. Gejalagejala tersebut relatif konkret, dalam arti dapat diamati (observable) dan
Al-Ahzáb 38, "Tidak ada sesuatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang teah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya kepada Nabi-nabi yang terdahulu. Dan ketetapan Allah itu merupakan suatu ketetapan yang pasti berlaku"; Al-Ahzáb 62, "Sebagai sunnah Allah yang berlaku bagi orang-orang terdahulu sebelum (kamu), dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat perubahan pada sunnah Allah". Fathir 43, "Karena kesombongan mereka di muka bumi dan rencana mereka yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tidaklah yang mereka nantikan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar". Al-Fath: 23, "Sebagai sunnatullah yang telah barlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan

Cik Hasan Bisri

261

perubahan sunnatullah itu". al-Syura: 13, "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang teiah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah. Amat berat bagi orang-orang musyrik atas agama yang kamu seru kepada mereka Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan orang yang kembali kepada-Nya". al-J'atsiyah: 18, "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas syari'at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

262

Pandangan Keilmuan

dapat diukur (measureable). Misalnya, ketika dua orang anak manusia melakukan perkawinan, ia, dapat diamati dan diukur. Apa yang diucapkan dan dilakukan oleh pasangan itu, dapat dilihat dengan mata dan didengar dengan telinga. Di mana dan kapan perkawinan itu dilakukan, dapat diukur dengan pengukuran ruang (lokasi dan luas) dan waktu (jam, hari, bulan, tahun). Berapa orang yang menghadiri perkawinan itu, dapat diukur dengan pengukuran kualitatif (banyak) dan pengukuran kuantitatif (jumlah orang). Bahkan dapat dipilah, berapa orang laki-laki dan berapa orang perempuan; dan pilahan lain (umur, pekerjaan, tempat tinggal, pendidikan, hubungan kerabat, dan seterusnya). Ketika dilakukan abstraksi terhadap perkawinan itu, dan ia dijadikan obyek ilmu, maka makna perkawinan menjadi bervariasi. Secara biologic, perkawinan dapat dipandang sebagai proses reproduksi yang dilakukan dua manusia yang berbeda jenis kelatnin, laki-laki dan perempuan sehingga jumlah manusia bcrtambah. Secara psikologis, perkawinan dapat dipandang sebagai aktualisasi saling berkasih sayang (mawaddab dan rahmab), antara suami-isteri, yang memiliki ciri-ciri psikologis yang berbeda, dan terjadi saling berharap (mutual expectation) di antara keduanya. Secara antropologis, perkawinan dapat dipandang sebagai wujud perbuatan "yang bermakna" bagi para pelakunya, yang mengacu kepada norma-norma kehidupan dalam komunitas yang bersangkutan. Secara sosiologis, perkawinan dapat dipandang sebagai wujud interaksi sosial antara suami dengan isteri vang berperilaku menurut kedudukan dan peranan masingmasing dalam konteks sistem sosial yang dianut. Secara vuridis, perkawinan dapat dipandang sebagai ikatan keperdataan (sipil) antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai

263 suami isteri, yang berakibat adanya hak dan kewajiban di antara keduanya, termasuk hak-hak kebendaan. Secara teologis, perkawinan dapat dipandang sebagai wujud kepatuhan dan penghambaan manusia kepada Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Pengatur untuk memperoleh keridhaan-Nya.
Cik Hasan Bisri

Manakala gejala-gejala itu dipilah, maka masing memiliki ciri yang melekat pada yang, kemudian, menjadi ciri khas, relasi pengkajinya, dan perkembangan ilmu yang

masingdirinya, dengan meng-

264

Pandangan Keilmuan

abstraksikannya. Gejala alamiah berwujud konkret, sederhana, dan relatif staffs. Pengamatan terhadap gejala itu dapat dilakukan berulangulang. Di samping itu, memiliki jarak yang renggang dengan keyakinan dan nilai yang dianut °lel. manusia, dalam hal ini ilmuwan (Cl van Dalen, 1978: 134-139). Gejala tersebut dapat dikaji secara obyektif dengan pengukuran dan tingkat akurasi yang tinggi. Hal itu didukung oleh sarana berpikir simbolis yang semakin rumit dan pelik, yakni matematika dan statistika. Dewasa ini, ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu alamiah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ta mampu mendeskripsikan, mengeksplanasikan, memprediksikan, bahkan mengontrol berbagai gejala alamiah. Produk kerja ilmiah tentang gejala itu, dapat memberi manfaat dan kemudahan bagi kehidupan manusia. Bahkan menjadi salah satu faktor determinan yang bersifat konstan bagi perubahan masyarakat manusia (Cf. Remmling, 1976: 268). Gejala perilaku atau kehidupan manusia berwujud semi konkret (atau perpaduan antara yang konkret dengan yang abstrak), rumit, dan berubah-ubah. Di samping itu, ia memiliki jarak yang agak rapat dengan nilai dan kaidah yang dianut oleh manusia. Pengkajian terhadap gejala itu dapat dilakukan dengan obyektif, meskipun tidak terhindar dari subyektifitas manusia. Oleh karena itu, pengkajian dapat dilakukan dengan menggunakan pandangan dari "jarak jauh" (etic view/ inner perspective); dan dapat dilakukan dengan menggunakan pandangan dari ``jarak dekat" (emic view/ outer perspective). Berkenaan dengan hal itu, terdapat berbagai sudut pandang yang dapat digunakan hingga muncul beberapa paradigma dan perspektif (mad.zhab) dalam berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial. Dalam disiplin sosiologi, misalnya, dikenal dan berkembang beberapa paradigma, yakni paradigma fakta sosial, paradigma

Cik Hasan Bisri

265

definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial (Lihat: Ritzer, 1975). Selain itu, dikenal beberapa perspektif atau teori besar (grand theory), yakni: struktural-fungsional (structuralfungsionalism), konflik (conflict), pertukaran sosial (social exchange), interaksi simbolis (gmbolic interactionism), dan etnometodologi (Lihat: Alexander, 1987). Gejala rohaniah dalam kehidupan manusia berwujud sangat abstrak, rumit, dan berubah-ubah. Pengamatan terhadap gejala itu sulit dilakukan. Di samping itu, ia tidak memiliki jarak dengan manusia

266

Pandangan Keilmuan

yang melakukan pengkajian terhadap gejala itu. Proses dan produk pengkajian tentang gejala ini sarat dengan nilai dan kaidah yang dianut oleh manusia, yakni pemikir. Oleh karena itu, terjadi keanekaragaman (mukhtalal) penafsiran can pandangan terhadap gejala tersebut termasuk dalam kawasan ontologi dan epistemologinya. Refleksi individual sangat menonjol. Dan, ungkapan proskriptif atau proskriptif tidak dapat dihindarkan. Dalam pengkajian ilmu kalam, misalnya, sulit dibedakan antara produk pengkajian yang obyektif dengan refleksi keyakinan yang dianut oleh pengkajinya itu. Hal itu tampak pula dalam pengkajian berbagai bidang ilmu agama Islam pada umumnya, sehingga perbedaan antara agama dengan ilmu agama amat tipis. Apabila disusun ciri gejala yang dikaji itu mulai dari yang konkrct sampai yang abstrak, maka rumpun dan disiplin ilmu tersusun secara hirarkis, sebagaimana dapat dilihat dalam Gambar 1.5 Dalam gambar itu terdapat beberapa disiplin ilmu dalam masingmasing rumpun, walaupun hanya secara garis besar, dan hanya meliputi ilmu murni (pure science). Selain yang tertera dalam gambar itu terdapat disiplin ilmu lain yang berkembang dalam waktu berabad-abad, terutama dalam rumpun ilmu-ilmu alamiah, antara lain astronorni dan geologi (Lihat: Marginau dan Bergamini, 1964: 86-99). Demikian pula, masing-masing disiplin ilmu itu terdiri atas subdisiplin yang beranekaragam. Biologi misalnya, mencakup antara lain botani dan zoologi, kemudian berkembang berbagai ilmu dasar atau ilmu murni dan ilmu terapan (applied science), di antaranya ilmu pertanian yang kemudian berkembang menjadi kompleks (agro-complex), sebagaimana dikembangkan dalam lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Cik Hasan Bisri
5

267

Pembahasan tentang hirarki ilmu menurut pandangan pemikir Muslim (al-F5r5bi, al-Ghazäli, dan Quthb al-Din al-Syiräzi), lihat: Osman Bakar (1997). Sementara itu, Yunus Gilani (2000: 47-62) mendiskusikan tentang 7 / m 'ultim , and 'ulamC dilengkapi dengan rincian klasifikasi ilmu menurut alF a r t b i , I b n S i n a , d a n Ibn Khaldun.

268

Pandangan Keilmuan

Gambar 1: Hirarki Ilmu Berdasarkan Wujud Obyek Rumpun Ilmu Disiplin Ilmu Wujud Obyek
Ilmu Agama Ilmuilmu Budaya Ilmu Falsafah Abstrak

Ilmu Hukum Biologi IlmuKimia ilmu Alamia Sosial Sosiologi Ilmu-ilmu Fisika

Semi Konkret Konkret

Demikian pula, dalam ilmu-ilmu sosial mencakup berbagai ilmu dasar dan ilmu terapan, termasuk ilmu hukum, yang dewasa ini, berada di antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya. Koentjaraningrat (1977b: 69), misalnya, memilah ilmu-ilmu sosial menjadi dua pilahan, yakni ilmu dasar dan ilmu terapan. Ilmu dasar terdiri atas ilmu sejarah, geografi, linguistik, antropologi, sosiologi, dan psikologi. Sedangkan ilmu terapan terdiri atas ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu administrasi, ilmu komunikasi, ilmu hubungan internasional, ilmu hukum (untuk profesi hukum), dan demografi. Hirarki Obyek ilmu itu merupakan trikotomi yang bersifat kontinum. Yang abstrak berada pada ujung yang paling atas, sementara itu yang konkret berada pada ujung yang paling bawah. Artinya, pengkajian yang abstrak dapat dimulai dan

Cik Hasan Bisri

269

yang konkret. Sebaliknya, pengkajian yang konkret dapat dimulai dari yang abstrak. Seorang pakar fisika murni, Achmad Baiquni, misalnya, dapat menjelaskan kandungan ayat Qur'an tentang hukum Allah (Taqdir), dengan menggunakan disiplin fisika, secara cermat dan meyakinkan.

270

Pandangan Keilmuan

Berdasarkan uraian di atas, Ilmu Agama Islam (IAI), yang dikembangkan dalam lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), di Indonesia, secara umum, merupakan bagian dan rumpun ilmu-ilmu budaya dan ilmu-ilmu social. `Ultim al-qur'cin (C.)_5231 (._91a), Vim al-hadits
, ilmu kalam, ilmu ushul fiqh, ilmu fiqh, dan sejenisnya, masuk dalam rumpun ilmu-ilmu budaya atau humaniora, yang bersifat ideal dan normatif. Sementara itu, sejarah peradaban Islam, ilmu pendidikan Islam dan ilmu dakwah masuk dalam rumpun ilmu-ilmu sosial, yang bersifat aktual dan empiris. Atas perihal tersebut, IAI dapat disebut "pohon ilmu" (science tree),6 di antara dua rumpun, yang memiliki dahan, ranting, bunga, dan buah. Di samping itu, is memiliki jarak yang sangat dekat dengan pengkajinya.

Sejarah peradaban Islam dikelompokkan ke dalam rumpun sosial, didasarkan pada pandangan bahwa obyek ilmu itu adalah peristiwa (interaksi manusia dimensi masa lalu), yang di dalamnya terdiri atas komponen: manusia (tokoh sejarah), tempat, waktu, deskripsi peristiwa, dan eksplanasi peristiwa (faktor pengaruh). Dengan perkataan lain, komponen sejarah mencakup: peristiwa apa, dengan tokoh siapa, kapan terjadi, di mana terjadi, bdgaimana gambaran peristiwa itu, dan mensapa peristiwa itu terjadi. Sementara itu, peradaban Islam lebih ditekankan pada tradisi besar (great tradition atau high culture), bertitiktolak dari pandangan dunia (world view); berpusat di kota yang sedentair dan bersifat majemuk; dilakukan dalam tradisi membaca, berdialog, dan menulis; dan mendapat dukungan dari elite masyarakat. Ilmu pendidikan Islam dikelompokkan ke dalam rumpun ilmuilmu sosial, didasarkan pada pandangan bahwa yang menjadi obyek ilmu itu merupakan

Cik Hasan Bisri 271 upaya yang disengaja dalam mengembangkan potensi individual manusia untuk mencapai tujuan tertentu, yang berbasis pada psikologi perkembangan. Komponen inti yang menjadi sasaran pengkajiannya adalah pendidik, peserta didik, dan materi pendidikan yang bercorak keislaman, yang bermuara dalam kegiatan pendidikan. Oleh karena itu, substansi pendidikan berupa kegiatan pendidikan, yang berkembang menjadi sistem pendidikan, yang diisi
6

Al1

masih dapat didiskusikan lebih lanjut, apakah

lebih tepat diidentifikasi sebagai "disiplin ilmu" atau "bidang kajian" (Islamic studies).

272

Pandangan Keilmuan

oleh pemikiran pendidikan bercorak keislaman, yang bersumber kepada Qur'an dan Hadis. Di camping itu, pendidikan dapat dipandang sebagai peristiwa, proses, dan metode. Berkenaan dengan hal itu, dikenal konsep inti: kegial an pendidikan, proses pendidikan, dan metode pendidikan. Ia, kemudian, menjadi kegiatan belajar mengajar, proses belajar mengajar, metode mengajar, psikologi belajar, evaluasi hasil belajar, dan seterusnya. Sementara itu, ilmu dakwah dikelompokkan ke dalam rumpun ilmu-ilmu sosial didasarkan kepada pandangan bahwa yang menjadi obyek ilmu itu adalah kegiatan penyebarluasan agama Islam dalam kehidupan masyarakat, individual dan kolektif. Ia dapat dirumuskan sebagai: apa diserukan atau disebarkan oleh siapa, kepada siapa, dengan cara bagaimana, melalui media apa, dan untuk apa. Selaras dengan hal itu, Amrullah Ahmad (1995: 4) menyatakan bahwa ilmu dakwah merupakan ilmu sosial (ilmu kemasyarakatan Islam), dengan obyek formal gejala dan kegiatan dakwah Islam. Selanjutnya, ia membagi tiga disiplin utama, yakni disiplin ilmu tabligh (komunikasi dan penyiaran Islam; serta bimbingan dan penyuluhan Islam); disiplin ilmu pengembangan masyarakat Islam; dan disiplin ilmu manajemen dakwah. C. Unsur-Unsur Ilmu Berkenaan dengan uraian di atas, muncul pertanyaan: Apakah semudah dan sesederhana itu dalam penyusunan dan perumusan ilmu yang mencakup berbagai disiplin ilmu? Tentu saja, jawabannva: tidak. Uraian di atas, barn membicarakan salah satu unsur pengetahuan ilmiah, vakni unsur substansi. Dalam ranah falsafah ilmu, unsur itu dapat disebut sebagai landasan ontologi atau hakikat yang ada (67: Jujun S. Suriasumantri,

Cik Hasan Bisri

273

1985: 63-100). Dalam ranah disiplin ilmu, ia dapat disebut sebagai obyek (subject matter), yang terdiri atas obyek material dan obyek formal. Dalam ranah metodologi penelitian, ia dapat disebut sebagai wilavah penelitian (research area). Dan dalam ranah rencana penelitian, ia dapat disebut sebagai fokus penelitian atau masalah penelitian (research problem). Namun tidak dapat disangkal, bahwa pengembangan pengetahuan ilmiah, atau, bahkan, berbagai disiplin ilmu, bertitiktolak dari unsur substansi itu. Manakala unsur substansi telah diketahui dengan jelas, bahkan

274

Pandangan Keilmuan

disusun secara rinci, masih ada unsur lain yang belum terpenuhi, yakni keterangan tentang substansi dan cara menyusun dan merumuskan keterangan mengenai substansi itu. Kedua unsur tersebut dikenal sebagai unsur informasi dan unsur metodologi. Yang dimaksud dengan unsur informasi dalam tulisan ini adalah susunan dan rumusan seluk beluk substansi dalam bentuk pernyataan deskriptif dan abstrak. Sedangkan yang dimaksud dengan unsur metodologi adalah sekumpulan cara kerja, atau metode, dalam penyusunan dan perumusan unsur informasi; bukan pengetahuan tentang metodemetode. Ketiga unsur ilmu itu, secara spesifik menjdi unsur penelitian (Cf. Singarimbun dan Sofian Effendi, 1982:16). Ketiganya merupakan fondamen dan tiang penyangga dalam pelaksanaan cara kerja ilmiah, vakni penelitian, sebagai cara kerja dalam mengembangkan masingmasing disiplin ilmu. Informasi tentang berbagai substansi kehidupan ciptaan Allah dapat disusun dan dirumuskan secara gradual, mulai dari yang konkret: dapat diamati dan dapat diukur, sampai yang abstrak: tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Penyusunan dan perumusan infounasi itu sangat tergantung kepada cam penyusunan dan cara perumusannya. Sedangkan cara penyusunan dan cara perumusan informasi itu, juga, tergantung kepada daya berpikir, cara berpikir (termasuk sarana berpikir yang digunakan), kerangka berpikir, dan cam kerja ilmuwan. Berkenaan dengan unsur informasi itu, muncul beragam jenis dan tingkat informasi tentang kehidupan. Proses abstraksi unsur informasi tentang berbagai aspek dan gejala kehidupan, secara teknis (dalam paradigma penelitian kuantitatif) dikenal sebagai seneralisasi. Sebaliknya, konkretisasi dad yang abstrak dikenal sebagai operasionalisasi. Hal itu dilakukan dengan asas pengaturan tertentu

Cik Hasan Bisri 275 (Lihat: Fuad Hassan dan Koentjaraningrat, 1977:9). Oleh karena itu, dalam khazanah pengetahuan ilmiah dikenal rangkaian informasi, mulai dari yang konkret sampai yang abstrak, yakni fakta, data, konsep, konstruk, variabel (peubah), proposisi, hipotesis, dan teori; bahkan teorema, postulat, aksioma, dan hukum.7

Menurut Wuisman (1996: 186), teorema ialah pernyataan umum yang tidak dapat dianggap benar dengan sendirinya, namun dianggap benar apabila merupakan penurunan logis yang sah

276

Pandangan Keilmuan

Di antara unsur informasi yang paling dikenal dalam kehidupan manusia, pada umumnya, adalah teori. Bahkan, teori seringkali diidentikkan dengan ilmu, atau sebaliknya. Meskipun pandangan itu sangat kcliru. Beragam pandangar rentang teori, sebagaimana dikemukakan oleh Johnson (1981:47), Alexander (1987:2), Campbell (1994:15), Schaefer (1989:9), Satjipto Rahardjo (1998:142), dan Zamroni (1992: 2), menunjukkan bahwa teori merupakan seperangkat proposisi atau pernyataan yang berhubungan secara logis dan dinyatakan secara sistematis. Ia menggambarkan (pada tingkatan generalisasi yang tinggi) dan menjelaskan seperangkat gejala yang dipelajari secara cermat. Dari beragam pandangan itu, dapat dikemukkan berbagai hal tentang teori. Pertama, teori berkenaan dengan unsur substansi, yakni gejala alamiah, gejala sosial, dan gejala budaya. Kedua, teori dirumuskan dalam bentuk pernyataan deskriptif yang tersusun secara sistematis, yang disebut proposisi. Ketiga, proposisi itu menjelaskan hubungan logis (kausal) antara dua konsep atau lebih, yang tercakup dalam gejala di atas. Kcempat, teori dirumuskan oleh para pemikir dan ilmuan sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Ia merupakan peta pemikiran (cognitive map) yang biasanya dihubungkan dengan narna perumusnya. Kelima, teori dapat dirumuskan secara dedukdf, dengan mengacu kepada unsur informasi yang lebih abstrak, hukum, aksioma, dan postulat. Teori juga dapat dirumuskan secara induktif, dengan dukungan data yang dikumpulkan secara tepat dan akurat. Keenam, teori berjenjang: ada teori yang bersifat umum (grand theory, universe theog, inclusive theory); ada yang bersifat spesifik (particular theory, parochial theory, eN-clusive theory); dan ada teori menengah (middlerange theory). Ketujuh, teori memiliki fungsi tertentu, yakni fungsi generalisasi, kerangka

Cik Hasan Bisri 277 penelitian, prediksi (ramalan), dan pengisi kekosongan. Kedelapan, teori dapat dibentuk (theorygenerating) dan diuji (theory testing), yang dilakukan melalui kegiatan penelitian.

Di samping itu, dikenal berbagai cara penentuan sumber informasi, cara pengumpulan informasi, cara penyusunan informasi, cara
dari aksioma atau postulat yang diterima. Postulat ialah yang diasumsikan benar tanpa pengujian terlebih dahulu meskipun terbuka untuk diuji. Aksioma ialah pernyataan umum yang dianggap benar dengan sendirinya, yang berlaku tanpa batas waktu dan tempat tertentu. Sementara itu, hukum ialah pernyataan umum tentang keteraturan-keteraturan yang selalu terjadi dalam bentuk yang sama yang berlaku tanpa batas waktu dan tempat tertentu, yang juga dapat diuji.

278

Pandangan Keilmuan

pengujian informasi, dan cara perumusan informasi. Cara memperoleh informasi dan sejenisnya merupakan cara kerja dalam memahami, kemudian mendesk-ripsikan, menjelaskan, sampai meramalkan dan mengontrol berbagai gejala kehidupan. Oleh karena gejala kehidupan itu semakin rumit dan pelik, maka cara kerja itu pun berkembang dan Beragam. Beragam, dalam arti jenis dan daya efisiensi dan efektifitasnya. Beragam, juga, dalam arti kecocokan dengan jenis dan tingkat informasi tentang kehidupan yang dipahami dan dijelaskan. Dengan pengembangan daya berpikir dan cara berpikir manusia, dewasa ini asas pengaturan pengetahuan yang dilakukan secara konsisten, berkembang beragam unsur metodologi. Ia berkembang mengikuti aiiran pemikiran dalam falsafah ilmu. Atas perihal tersebut, dikembangkan metode ilmiah (scientific- method), atau penalaran ilmiah, yang memadukan cara berpikir deduktif dan induktif. Selanjutnva metode ini dikembangkan menjadi metode penelitian sejalan dengan pengembangan penelitian pada masing-masing disiplin ilmu. Oleh karena itu, dewasa ini hampir masing-masing disiplin ilmu telah memiliki metode penelitian, sebagai salah satu perangkat dalam disiplin ilmu tersebut. Beragam metode penelitian ini mendorong kemunculan ilmu tentang metode-metode, yakni metodologi penelitian. Metode penelitian itu digunakan sesuai dengan karakteristik unsur substansi dan unsur informasi dalam suatu penelitian. Dalam rumpun ilmu-ilmu alamiah berkembang metode eksperimen, dengan beragam model rancangan (design model) ketika penelitian akan dilaksanakan. Sementara itu, dalam rumpun ilmu-ilmu sosial dan humaniora berkembang beranekaragam metode penelitian. Sangat banyak literatur metodologi dan metode penelitian yang

279 dapat dipilih dan digunakan oleh peneliti, mulai dari yang berupa wacana sampai yang siap dijadikan panduan penelitian secara praktis. Ada yang beraliran fenomenologis dan ada pula yang beraliran positivistis; metodologi kualitatif dan metodologi kuantitatif; serta gabungan kualitatifkuantitatif. Di samping itu, instrumen pengukuran dan disain kuisioner memperoleh tempat tersendiri. Beragam literatur itu berkembang dengan cepat, yang memungkinkan kegiatan penelitian semakin meningkat.
Cik Hasan Bisri

Sekedar contoh, dapat dikemukakan beberapa literatur berke-

280

Pandangan Keilmuan

naan dengan unsur metodologi. Pertama, berkenaan dengan metodologi penelitian, sebagaimana dapat dibaca dalam tulisan Kerlinger (1973), Lincoln dan Guba (1985), Moh. Nazir (1988), Kartini Kartono (1990), Noeng Muhadjir '1991), Maleong (1993), Wuisman (1996), dan Brannen (1997). Di dalamnya dibahas tentang metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif. Di samping itu, terdapat himpunan metodologi penelitian agama, sebagaimana disusun oleh Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (Ed., 1991); Mastuhu dan Deden Ridwan (Ed., 1998). Di dalam kedua buku itu dibahas tentang metodologi penelitian agama dari berbagai bidang keahlian, yakni dari kalangan ahli ilmu-ilmu sosial dan humaniora (antropologi, sosiologi, pendidikan, komunikasi, sejarah, falsafah, kebudayaan, hukum Islam, kalam, dan Qur'an). berkenaan dengan berbagai metode penelitian yang bersifat umum, sebagaimana dapat dibaca dalam tulisan Koentjaraningrat (Ed., 1977a), Vredenbregt (1978), dan Isaac dan Michael (1982). Dalam tulisan Koentjaraningrat dihimpun berbagai metode penelitian, khususnya pengumpulan data, yang ditulis oleh beberapa orang ahli berbagai disiplin sosial (antropologi, sosiologi, psikologi, dan sejarah). Sedangkan dalam tulisan Vredenbregt, dibahas tentang beberapa metode penelitian dalam ilmuilmu sosial: studi kasus (case study), survai (survey), analisis isi (content analysis), dan eksperimen.
Kedua,

Ketiga, berkenaan dengan metode penelitian bagi berbagai bidang atau disiplin ilmu. Hal itu tampak dalam tulisan Glaser dan Strauss (1977), metode grounded research di bidang antropologi; Singarimbun dan Sofian Effendi (Ed., 1981), metode survai di bidang kependudukan; Young (1982),

Cik Hasan Bisri

281

metode survai di bidang sosiologi; Jalaluddin Rakhmat (1983), beberapa metode penelitian di bidang komunikasi; Krippendorff (1986), metode penelitian analisis isi di bidang komunikasi; Yin (1987), metode penelitian studi kasus di bidang sosiologi; Winarno Surakhmad (1978) dan Sutrisno Hadi (1979), metode penelitian di bidang pendidikan dengan paradigma kuantitatif; Bogdan dan Bilden, metode penelitian di bidang pendidikan dengan paradigma kualitatif; Hasan Usman (1986) dan Dudung Abdurrahman (1999), penelitian sejarah; Soerjono Soekanto (1984)

282

Pandangan Keilmuan

dan Bambang Sunggono (1998), penelitian hukum; Cik Hasan Bisri (2003 dan 2004), penelitian hukum Islam (filth); dan Sudarto (1996), penelitian falsafah. Keempat, berkenaan dengan pelaksanaan penelitian yang bersifat praktis, yakni rancangan, pengkuran, evaluasi, penyajian data, dan penulisan, di antaranya berupa handbook. Hal itu tampak dalam tulisan Miller (1977), tentang disain penelitian dan pengukuran; Oppenheim (1973); tentang penyusunan kuisioner dan pengukuran sikap; Isaac dan Michael (1982), tentang evaluasi pendidikan dan perilaku manusia; Soumelis (1983), tentang metode dan teknik evaluasi proyek; Denzin dan Lincoln (Ed., 1994), tentang teknik penelitian kualitatif; Zeiscl (1957), tentang penyajian rabel dan gambar; Saleh Saad (1972), tentang penulisan skripsi; Nasution, S. (1977), tentang penulisan disertasi, tesis, dan skripsi; Turabian (1987), tentang penulisan tesis dan disertasi (yang sangat rinci); Sutrisno Hach (1979), tentang penulisan tesis dan skripsi; dan Cik Hasan Bisri (1999), tentang penyusunan rencana penelitian dan penulisan skripsi, khususnya bidang IAI.
Kelima, berkenaan dengan penelitian aksi dan manajemen penelitian. Hal itu tampak dalam tulisan Yusuf Kassam dan Kemal Mustafa (Ed., 1988), tentang penelitian aksi (action research); Cuvno (1990), tentang paket pengajaran manajemen penelitian; dan Epton dan Pearson (1991), tentang manajemen penelitian antardisiplin.

Di samping itu, dalam buku yang telah dikemukakan di atas, dijelaskan tentang berbagai metode penelitian yang belum discbutkan, di antaranya: analisis data sekunder, hermeneutik, developmental, korelasional, dan ex post facto. Pada masing-masing metode penelitian dijelaskan tentang karakteristik dan tahapan kerja penelitian.

283 Apa yang dikemukakan di atas belum mencerminkan sebaran literatur unsur metodologi, terutama dalam rumpun ilmu-ilrnu alamiah, ekonomi, kesenian, dan teknologi; serta literatur statistika, baik inferensial maupun deskripdf. Hal itu menunjukkan bahwa sebaran literatur itu sangat besar dan mencakup berbagai bidang ilmu. Ia merupakan wacana yang dapat dijadikan rujukan untuk menggerakkan kegiatan penelitian, yang pada
Cik Hasan Bisri

ujungnya, untuk menggerakkan pengembangan ilmu.

284

Pandangan Keilmuan

Ketip unsur ilmu di atas merupakan aspek static pada .;lasing- ninasitm., T.Thisur-urisur itu titik cnau dan dilakukiitT.1 cara unsur itu tcticerinin ,i-erfludj..an,

rara cairn is.e6va runi.pun riasingmagi': darrtiah. :;ccata sai nrai mct()dolc.;,:0.-i.va clidiukunc; oich sarana berpik:Ui produk kornpiaLT,si. aTd_a--umpun .-_.)cii-k(in--11,anii2 cal:a keril (07)..cerIta "'it) 1.7) dan p(ircobaan (eXPC11 7116t171 ,,Cara demikian 1menular kepaciL c na kerja beberv2i sesial, set)erti psikologi, ckienc)mi, dart !.-zosioloo-i. Di sarnpinr.-, rn.aviairakt masing-rnasing telah berkenlliati kink dajarnskala maul:\urii Oich karcnr nroduk. penelitia.11 dalatin. runimu• itu Banat disebarluaikaiii masvarakat pendukuripinva.
7
: \

Rurnpun

, Da:am pengerr , bandan iimu dan teknologi yang berskala nasional dan mencaktip berbaga: edsipiin yaks: R.iset Unggu!an Terpaiu (RUT), meliputi: bdang tiotekuslogi, dinamika sus penibahan sosiai, ilmu baharl (mat.sr.ar urns kebum:an, ilmu kimia den proses. ilrnu kelautan, iimu par,gan ;LI teknoioo., hasil kc.;;.13kt-(,7r, d e s hhnindungan lingkundan mbrilinjukkan bahwa sebf..,:as dar: du;:-.5e12s b•donc7 vani1 lo'nu da:am rumour aiam.a;: ondtonegoro 198)

Cik Hasan Bisri

285
-

telash berlang-,ung datam jangka vane pa:117.01g Kuhn yaKs. utoseary' hi - my ncsail se Sr scientific achievements, octneverhent.s that some pa ocular scianttfic community .ackr:ovitedge::: for a rime a suppiyino the rounCatton fsits further practice . ' (peneiihan yang berpegang iegun atas !etih,orestas: Omiah yang te:ah dinapa: pada masa :al.,: preatp...7i :.Trunitas d:nyatakan sebagai pemben fondasi bag: praktik peneiltian seianjutnya)

<E:riapanon cara kerja immian

286

Pandangan Keilmuan

Rumpun ilmu-ilmu sosial berkembang relatif lambat. Sasaran penelitian dalam rumpun ini mengalami perubahan yang sangat cepat, yang tidak selalu dapat diimbangi oleh unsur informasi dan unsur metodologi yang diperlukan. Krisis ekonomi, politik, dan hukum yang dialami oleh masyarakat bangsa Indonesia, misalnya, tidak dapat dijelaskan secara akurat dan tepat, sehingga sulit untuk diperkirakan arah perubahannya. Apalagi, hal itu berbuntut menjadi konflik horizontal. Namun demikian, telah dilakukan upaya untuk mengadaptasi dan memodifikasi cara kerja ilmiah dan disiplin ilmuilmu alamiah, dengan mempertimbangkan karakteristik unsur substansi yang dijadikan sasaran penelitian. Hal itu tampak dalam disiplin psikologi, ilmu ekonomi, dan sosiologi. Pengamatan dan eksperimentasi menjadi cara kerja ilmiah yang dikembangkan dalam psikologi. Penggunaan model matematik, model statistik, dan model teori menjadi cara kerja dalam disiplin ilmu ekonomi. Perumusan dan verifikasi teori dalam sosiologi mengadaptasi pada perkembangan fisika (Lihat: Zetterberg, 1963). Demikian pula, dalam perspektif struktural-fungsional, sistem sosial (dalam sosiologi) dianalogikan dengan organ tubuh (biologi). Dewasa ini, dalam pengkajian ilmu-ilmu sosial terjadi pergeseran dari "aliran" Eropa Kontinental yang bercorak abstrak, menuju ke "aliran" Amerika yang bercorak konkret. Demikian pula sistem ketatanegaraan dan sistem pendidikan (termasuk penjenjangan dan penvelenggaraan administrasi pendidikan tinggi Sistem Kredit Semester) mengalami pergeseran yang serupa.
,

Rumpun ilmu-ilmu budaya berkembang sangat lambat Jarak antara unsur substansi yang begitu rapat dengan nilai dan kaidah yang dianut oleh peneliti, menyulitkan perumusan unsur informasi dan unsur metodologi. Oleh karena itu, tampaknya, arah

287 pengembangannya lebih dititikberatkan pada unsur substansi tanpa diimbangi oleh pengembangan kedua unsur lainnya. Dalam pengembangan
Cik Hasan Bisri

misalnya, dapat dilihat dalam buku daras dan produk penelitian yang disusun berkenaan dengan tugas akhir pendidikan akademis: skripsi, tesis, dan discrtasi. Dalam buku daras lebih ditekankan pada pengembangan unsur substansi; sedangkan unsur informasi dan unsur metodologi boleh dikatakan "kosong" dan terabaikan. Hal itu juga tercermin dalam produk penelitian yang miskin dengan temuan-

288

Pandangan Keilmuan

temuan bare. Dimensi pemeliharaan lebih menonjol daripada dimensi pengembangan. Oleh karena terjadi ketimpangan dalam pengembangan ketiga unsur ilmu itu, khususnya dalam bidang IAI, maka penyeimbangan pengembangannva menjadi tuntutan yang sangat mendesak. Hal itu semakin mendesak, berkenaan dengan pengembangan jenjang pendidikan tinggi, khususnya jenjang pendidikan akademis, vakni: program sarjana, program magister, dan program doktor. Ketiga jenjang pendidikan akademis itu diarahkan, agar lulusannva memiliki kualifikasi sebagai ilmuwan. Bahkan, bagi lulusan strata dua dan strata tiga (pendidikan pascasarjana), diharapkan memenuhi kualifikasi sebagai peneliti vang mancliri dan produktif, yang mengikuti perkembangan bidang keahliannya dan mampu menemukan unsur informasi dan unsur metodologi barn. Selain itu, tuntutan di atas akan semakin diperlukan ketika penvelenggaraan pendidikan tinggi berada dalam pavung organisasi universitas. Akan terjadi persilangan dan persaingan antar berbagai disiplin ilmu dan ketiga rumpun ilmu di atas. Namun demikian, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memenuhi seluruh tuntutan yang sangat mendesak itu. Ia disusun hanya sebagai titik tolak untuk menginventarisasi masalah, yang sebagian jawabannva dikernukakan dalam kesempatan lain. Tentu saja jawahan tersebut masih membutuhkan pendalaman dan dialog lebih lanjut. Ia, hanya menyediakan diri sebagai tawaran dalam batas-batas wacana intelektual, bukan dalam rangka perumusan kebijakan. D. Kontribusi Ilmu Bagi Kehidupan Manusia Dewasa ini ilmu, atau pengetahuan ilmiah,

289 memiliki kemampuan yang meningkat dan memberikan kontribusi bagi pemecahan masalahmasalah kehidupan manusia. Ia dikembangkan melalui kegiatan ilmiah, yakni penelitian, yang diorientasikan pada pengembangan clirinya dan pengembangan kehidupan manusia dan penataan ekosistem. Namun demikian, kemampuan itu tidak secara merata dapat disumbangkan oleh berbagai disiplin ilmu. Disiplin ilmu yang berkemampuan mengkontekstualisasikan dirinya dengan tuntutan kehidupan, is memiliki kontribusi yang sangat besar, bahkan menjadi faktor determinan bagi perubahan kehidupan manusia. Sedangkan disiplin
Cik Hasan Bisri

290

Pandangan Keilmuan

ilmu yang kurang mampu mengkontekstualisasikan dirinya, kurang memberi kontribusi bagi kehidupan manusia, bahkan cenderung ditinggalkan. Sebagai gambaran, relasi antara kehidupan manusia, penelitian, dan ilmu dapat diperagakan dalam Gambar 2.

Gambar 2: Hubungan antara Kehidupan Manusia dengan Ilmu

Pemecahan Masalah dan Pengembangan Kehidupan Manusia Kemampuan masing-masing bidang ilmu itu, berhubungan dengan pengembangan unsur-unsur ilmu di atas. Berkenaan dengan hal itu, apabila penelitian itu akan dilakukan, ada tiga pertanyaan penting yang dapat diajukan. Pertanyaan pertama, apa yang akan diteliti? Apabila pertanyaan itu sudah dijawab, muncul pertanyaan kedua, basairnana penelitian itu akan dilaksanakan? Selanjutnva, apabila kedua pertanyaan itu telah terjawab, dapat diajukan pertanyaan ketiga, untuk apa penelitian itu dilakukan?
Pertanyaan pertama berkenaan dengan masalah penelitian, yang bertitiktolak dari wilayah penelitian

291 (research area). Sedangkan wilayah penelitian berada dalam cakupan dan batasan bidang ilmu tertentu. Ia merupakan unsur substansi, atau sasaran, sebagaimana telah dikemukakan di atas. Pertanyaan kedua berkenaan dengan unsur informasi dan unsur metodologi yang tercakup dalam bidang ilmu itu, yang juga telah disinggung. Sedangkan pertanyaan ketiga berkenaan dengan
Cik Hasan Bisri

292

Pandangan Keilmuan

signifikansi atau manfaat penelitian yang akan dilaksanakan. Secara umum, signifikansi penelitian i terdiri atas dua macam. Pertama, signifikansi ilmiah, yakni manfaat penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan ilrnu yakni pengembangan unsurunsur ilmu. Oleh karena itu, dikenal penelitian murni (pure research) atau penelitian dasar (basic research), yang tercakup dalam penelitian ilmiah (scientific research), yang juga dikenal sebagai penelitian akademis (academic research). Kedua, signifikansi sosial, yakni penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan jasa ilmu bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu, dikenal penelitian terapan (applied research) atau penelitian pengembangan (developmental research), di antaranya penelitian kebijakan (policy research) dan penelitian institusi (institutional research);1° di samping penelitian aksi (action research). Dewasa ini signifikansi penelitian telah mengalami pengembangan yang sangat pesat. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, misalnya, memilah penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan: ilmu dasar, ilmu terapan, teknologi, dan teknik produksi. Ia mencakup berbagai bidang ilmu, termasuk IAI.
,

Signifikansi penelitian tersebut menunjukkan bahwa suatu produk kerja ilmiah bersifat pragmatis. Ia merupakan suatu produk dari suatu proses abstraksi gejala kehidupan (alamiah, sosial, dan budaya) menjadi suatu sistem ilmu, yang kemudian, dipilah menjadi berbagai rumpun, disiplin, dan seterusnya. Selanjutnya, dengan kemampuan menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala itu, is dituntut untuk memberikan kontribusi bagi pemecahan masalah kehidupan, yang sarat dengan nilai-nilai dan kaidah-kaidah sosial yang dianut, serta berbagai sarana yang dapat digunakan. Oleh karena ilmu bersifat pragmatis, maka ilmu menempatkan

Cik Hasan Bisri 293 dirinya sebagai salah satu instrumen yang digunakan untuk memelihara dan mengembangkan kehidupan, baik kehidupan manusia maupun lingkungan alam fisik (biotic dan abiotis).

Ketika ilmu digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan, maka cara kerja ilmiah yang digunakan disesuaikan dengan anatomi dan masalah kehidupan, yang mengacu kepada nilai-nilai dan kaidahDalam pengertian yang luas, penelitian terapan juga bermakna penelitian pengembangan ilmu, di antaranya bagi pengembangan konsep, teori, dan model baru.
10

294

Pandangan Keilmuan

kaidah kehidupan atau kebutuhan yang dianut oleh satuan kehidupan, apakah suatu satuan komunitas kecil, atau suatu satuan masyarakat bangsa, bahkan masyarakat manusia. Satuan komunitas itu dapat berupa komunitas manusia, maupun komunitas tumbuhan dan binatang. Manakala ilmu digunakan untuk memecahkan masalah kehidupan, maka di dalamnya membutuhkan integrasi berbagai unsur ilmu dari disiplin ilmu yang berbeda, yang diorganisasasikan dalam suatu kegiatan penelitian antardisiplin. Atau, tanpa mengintegrasikan unsur ilmu itu, melalui kegiatan penelitian multidisiplin, yang dikoordinasikan oleh suatu kesatuan program penelitian dalam memecahkan suatu masalah kehidupan secara komprehensif. Produk penelitian tersebut dapat berupa model konservasi atau model pengembangan, misalnya, model konservasi sumberdaya air, model konservasi hutan produksi, model konservasi bahasa dan budaya lokal, model konservasi benda bersejarah, model pengembangan varietas unggul baru, model pengembangan ekonomi kerakv atan, model pengembangan hukum, model pengembangan tekonologi tepat guna, dan seterusnya. Dengan demikian, ilmu dapat melahirkan "anak emas" yang berguna dan memberi kemudahan bagi kehidupan, yakni teknologi, baik berupa perangkat lunak maupun perangkat keras. Dewasa ini, penelitian di kalangan akademisi, khususnva di Indonesia, diselenggarakan secara berjenjang. Penelitian di kalangan tenaga pengajar muda lebih diarahkan untuk mengembangkan sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Ia dilakukan dengan pendekatan monodisipliner, untuk memperkaya berbagai unsur yang tercakup dalam disiplin ilmu yang bersangkutan. Hal itu diirnbangi

Cik Hasan Bisri

295

oleh penyelenggaraan pelatihan penelitian, oleh karena bekal pengetahuan dan keterampilan penelitian yang diperoleh dari pendidikan akademis kurang memadai. Sedangkan bagi peneliti yang telah herpengalaman, berpeluang melakukan penelitian yang memiliki signifikansi sebagaimana disebutkan di atas, terutama dengan menggunakan pendekatan interdisipliner atau multidisipliner. Secara preskriptif, penelitian dalam lingkungan perguruan tinggi diharapkan berkemampuan menghasilkan konsep, teori, metodologi, dan model baru, untuk memperkaya ilmu dan teknologi [Lihat: pasal 2 ayat (2) PP Nomor 30

296

Pandangan Keilmuan

Tahun 1990 Jo. PP Nomor 60 Tahun 1999]. Harapan tersebut juga ditujukan kepada IAI, yang dikembangkan dalam lingkungan PTAI. Apakah harapan itu dapat dipenuhi? Jawabannya tergantung %.c.pada kemampuan masyarakat ilmiah, terutama peneliti dan sivitas akademika, dalam mengembangkan ketika unsur ilmu di atas melalui kegiatan panelitian. Selanjutnya, diharapkan, dapat dikembangkan dalam suatu penelitian yang integratif, yakni dalam penelitian antardisiplin atau multidisiplin. Gagasan untuk mengembangkan LAI melalui penelitian itu merupakan hal yang layak, agar IAI memiliki kontribusi yang berarti dalam memecahkan masalah kehidupan, terutama masyarakat bangsa Indonesia, dengan pendekatan keilmuwan. Manakala hal itu dapat dilaksanakan, maka dikotomi "ilmu agama" dengan "ilmu umum" (yang tidak dikenal dalam perbendaharaan ilmu) mengalarni integrasi dalam cara kerja ilmiah. Usaha ke arah pengembangan penelitian antardisiplin atau multidisiplin merupakan salah satu kebutuhan dalam kehidupan masyarakat. Di dalam masyarakat itu, berkembang berbagai keahlian, pekerjaan, kepentingan, dan kebutuhan yang tertumpu dalam interaksi sosial. Dalam proses itu, tumbuh dan berkembang berbagai masalah sosial (social 11 problems), yang membutuhkan pemecahan secara komprehensif. Suatu disiplin ilmu tidak akan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah sosial yang sangat rumit dan pelik. Ia memiliki keterbatasan cara pandang dan cara kerja. Hasil yang diperolehnya berupa pecahan-pecahan yang sporadis dari masalah sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi. Gejala kehidupan manusia merupakan suatu kristalisasi hubungan antara gejala alamiah, gejala sosial, dan gejala budaya. Ia dapat dipilah

Cik Hasan Bisri 297 berdasarkan kategori tertentu untuk kepentingan analisis. Namun ketika muncul masalah, ia membutuhkan pemecahan cara kerja dari berbagai ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan gejala tersebut. Dengan demikian, ilmu hanya berkembang apabila ia bertitik tolak dan mampu mengkontekstualisasikan dirinya, dari dan dengan, kehidupan, dalam hal ini kehidupan manusia,

Pembahasan tentang social problems dalam perspektif sosiologis, dapat dilihat dalam Coleman dan Cressey (1984). Di dalamnya dibahas tentang berbagai masalah: ekonomi, pemerintahan, pendidikan, keluarga, kemiskinan, kependudukan, kelompok minoritas, dan sebagainya.
11

298

Pandangan Keilmuan

sebagai bagian dari ayat-ayat Allah sebagaimana dikemukakan pada awal tulisan. DAFTAR PUSTAKA
Achmad Baiquni. 1996. al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa. Alexander, Jeffrey C. 1987. Twenty Lectures Sociological Theory Since World II. New York: Columbia University. Ali Shari`ati. 1979. On the Sociology of Islam (Translated by Hamid Algar). Berkeley: Mizan Press. Amrullah Ahmad. 1995. "Materi dan Metode Penyajian Disiplin Dakwah Islam dalam Kurikulum IAIN 1995". Makalah disampaikan dalam Orientasi Kurikulum Nasional IAIN dan Topik Intinya, tanggal 18 Mei 1995, di Jakarta. Bambang Sunggono. 1998. Metodologi Penelitian Hukum: Suatu Pengantar, Cetakan Kedua. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Bogdan, Robert C. and Biklen, Sari Knopp. 1992. Qualitative Research for Education: An Introduction and Methods, 2nd Edition. Boston: Allyn and Bacon. Brannen, Julia. 1997. Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif (Diterjemahkan oleh Nuktah Arfawi Kurde), Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, dan Perbandingan (Diterjemahkan oleh F. Budi Hardiman), Cetakan Keenam. Yogyakarta: Kanisius. Cik Hasan Bisri. 1999. Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi, Cetakan Kedua. Ciputat: Logos Wacana Ilmu. _______, 2003. Model Penelitian Fiqh: Paradigma Penelitian Fiqh dan Fiqh Penelitian, Cetakan Pertama. Jakarta: Prenada Media. _______, 2004. Pilar-pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, Cetakan Pertama. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Coleman, James William and Cressey, R. Donald. 1984. Social Problems, Second Edition. New York: Harper & Row, Publishers. Craib, Ian. 1984. Teori-teori Sosial Modern: dari Parsons sampai Habermas, Cetakan Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers. Cuyno, Rogelio V. 1990. Research Management Learning Package: Systematic Managerial Analysis. Los Banos: Carmelo & Baurmann Printing Corp. Denzin, Norman K & Lincoln, Yvonna S. (Editors). 1994. Hanbook of Qualitative Research. California: Sage Publications, Inc. Dudung Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Sejarah, Cetakan Kedua. Ciputat: Logos Wacana Ilmu. Epton, S. R., Payne R. L., Pearson A. W. 1991. Manajemen Riset Antardisiplin (Diterjemahkan oleh Tjun Surjaman), Cetakan Pertama. Bandung: Remaja Rosdakarya. Fuad Hassan dan Koentjaraningrat. 1977. "Beberapa Azas Metodologi Ilmiah", dalam Koentjaraningrat (Redaksi), Metode-metode Penelitian Masyarakat, Cetakan Kedua, hlm. 8-23. Jakarta: Gramedia. Ghulsyani, Mandi. 1988. Filsafat Sains Mmenurut al-Qur'an (Diterjemahkan oleh Agus Effendi), Cetakan Pertama. Bandung: Mizan.

Cik Hasan Bisri

299

Glaser, Barney G. dan Strauss, ArseIm L. 1977. The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine Publishing Company. Hasan Usman. 1986. Metode Penelitian Sejarah (Diterjemahkan oleh Mu'in Umar dkk.). Jakarta: Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/ IAIN. Holy Qur'an (dalam Compact Disc dengan terjemah dalam bahasa Arab Inggris, dan Indonesia, berisi Tafsir Jalalayn, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Qurthubi), Versi 6.31. lmaduddin Khalil. 1998. "al-Qur'an and Modern Science", in Nur A. Fadhil Lubis (Compilator), Introductory Readings on Islamic Studies, First Edition, pp. 50-69. Medan: IAIN Press. Isaac, Stephen, dan Michael, William B. 1982. Handbook in Research and Evaluation for Education and the Behavioral Sciences, 2nd Edition. San Diego, California: Edits Publishers. Jalaluddin Rakhmat. 1985. Metode Penelitian Komunikasi. Cetakan Pertama, Bandung: Remadja Karya. Johnson, Doyle Paul. 1981. Teori Sosiologi: Klasik dan Modem, Jilid I, (Diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang), Cetakan Pertama. Jakarta: Gramedia. Jujun S. Suriasumantri. 1985. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Cetakan Pertama. Jakarta: Sinar Harapan. Kartini Kartono. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial, Cetakan Pertama. Bandung: Mandar Maju. Kerlinger, Fred N. 1972. Foundation of Behavioral Research. New York: Rinehart and Winston Inc. Koentjaraningrat (Redaksi). 1977a. Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Cetakan Kedua. Jakarta: Gramedia. ______, 1977b. "Kemurnian Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab terhadap Masyarakat", dalam Ismid Hadad dan Rusdi Mochtar (Redaksi), Etika ilrnu Pengetahuan & Peningkatan Mutu Kesarjanaan, hlm. 66-76. Jakarta: Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial. Krippendorff, Klaus. 1986. Analisis isi: Pengantar Teori dan Metodologi (Diterjemahkan oleh Farid Wadjidi), Cetakan Pertama. Jakarta: Rajawali Pers. Kuhn, Thomas S. 1970. The Structure of Scientific Revolutions, 2nd Edition. Chicago: The University of Chicago Press. Lincoln, Yvonna S. and Guba, Egon G. 1985. Naturalistic Inquiry. California: Sage Publications Ltd. Maleong, Lexy. 1993. Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Keempat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Marginau, Henri, and Bergamini, David. 1964. The Scientist. New York: Time Corporated. Mastuhu dan Deden Ridwan (Editor). 1998. Tradisi Baru Penelitian Agama Islam: Tinjauan Antardisiplin llmu, Cetakan Pertama. Bandung: Nuansa dan Pusjarlit. Miller, Delbert C. 1977. Handbook Research Design and Social Measurement, 3rd Edition. New York and London: Longman. Moh. Nazir. 1408 H./1988 M. Metode Penelitian, Cetakan Ketiga. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nasution, S. 1977. Buku Penuntun Membuat Disertasi, Thesis, Skripsi, Report, Paper. Bandung: Jemmars. Ndraha, Taliziduhu. 1902, Metodologi Penelitian Pembangunan Desa, Cetakan Pertama.
Jakarta: Bina Aksara.

300

Pandangan Keilmuan

Noeng Muhadjir. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Rake Sarasin. Nurcholish Madjid. 1992. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemoderenan, Cetakan Pertama. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. Oppenheim, A. N. 1973. Questkmatre Design and Attitude Measurement, 4th Reprinted. London: Hainemann. Osman Bakar. 1997. Hirarki llrnu• Membangun Rangka Pikir Islamisasi lirnu Menurut Farabi, al-Ghazali, Quthb al-Din al-Syirazi (Diterjemahkan oleh Purwanto), Cetakan Pertama. Bandung: Mizan. Patton, Michael Quinn. 1989 Qualitative Research Methodes. 10 th Printing: London: Sage Publication. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 115). Remmling, Gunter W., and Campbell, Robert B. 1976. Basic Sociology: An Introduction to the Study of Society. New Jersey: Littlefield, Adams & Co. Ritzer, G. 1975. Sociology: A Multiple Pradigm Science. New York: Harcourt. Brace & World. Saieh Saad. M. 1972. Pedoman Penjusunan Skripsi. Djakarta: Djambatan. Satjipto Rahardjo. 1998. feori dan Metode dalam Sos iologi Huk um". dalam Syamsudin dkk. (Penyunting), Hukum Adat dan Modemisasi Hukum, Cetakan Pertama, hlm. 142-158 Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Schaefer, Richard T. 1989. Sociology (in Collaboration with Robert P. Lamm) 3rd Easton New York: McGraw-Hill, Inc. Senn, Peter R. 1978. "Struktur Ilmu", dalam Jujun S. Suriasumantri (Editor). Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakikat Ilmu, Cetakan Peatama. hlm. 110-128. Jakarta: Gramedia. Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (Penyunting). 1982. Metode Penelitian Surai. Cetakan Pertama. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonorni den Sosial. Soerjono Soekanto. 1984. Pengantar Penelitian Hukum. Cetakan Pertama. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Soumelis, Constantin G. 1983. Project Evaluation: Methodologies and Techniques. Second Impression. Paris: UNESCO. Sudarto. 1996. Metodologi Penelitian Filsafat, Cetakan Pertama. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Sutrisno Hadi. 1979. Bimbingan tvlenulis Skripsi-Thesis (Aid II). Yogyakarta: Yavasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Taufik Abduliah dan M. Rush Karim (Penyunting). 1991. Metodologi Penelitian Agama. Sebuah Pengantar, Cetakan Ketiga. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Tjondronegoro, P. D. dkk. (Penyunting). 1998. Riset Unggulan Terpad.... Seri Kumpulan Abstrak. Jakarta: Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Turabian, Kate, L. 1987. A Manual for Writers of Term Papers, Theses, and Dissertations. Chicago: University of Chicago Press. van Dalen. Deobold B. 1973. "Ilmu-iimu Alam dan Ilmu-ilmu Sosial: Beberaoa Perbedaan", dalam Jujun S. Suriasumantri (Editor), Ilmu Dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, Cetakan Pertama, him 134139. Jakarta: Gramedia. Vredenbregt, J. 1978. Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat, Cetakan Pertama. Jakarta: Gramedia.
.

Winarno Surakhmad. 1978. Dasar dan Teknik Research: Pengantar Metodologi llmiah, Edisi Pertama. Bandung: Tarsito. Wuisman: J.J.J.M. 1996. Penatitian Ilmu-Ilmu Sosial (Jilid 1), Cetakan Pertama. Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Yin, Robert K. 1987. Case Study Research: Design and Methods, 6th Printing. Baverly Hills, London, New Deini: gar e Publications. Young, Pauline V. 1982. Scientific Social Surveys and Research. New Delhi: Prentice Hall of India Private Limited. Yunus Gilani. S. M 2000. "lim, '1.110m, and Ulamä", in Hamdard isiamicus: Quarterly Journal of Studies and Research in Islam, No. 4, Vol. XXIII, October-December 2000, pp. 47-62. Karachi: Bait al-Hikmah. Yusuf Kassam don Kemal Mustafa (Penyunting). 1988. Riset Partisipatori Riset Altematif (Diterjemahkan oleh Umar Basalim dkk.), Cetakan Pertama. Jakarta' Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat. Zamroni. 1992. Pengantar Pengernbangan Teori Sosial, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. Zeisei, Hans. 1957. Say It With Figures (Revised, Fourth Edition). New York, Evanson, and London: Harper & Row Publishers. Zetterberg, Hans L. 1963. On Theory and Verification in Sociology. New Jersey: The Bedminster Press.

EPISTEMOLOGI TAFSIR EMANSIPATORIS DALAM KERANGKA KEILMUAN UIN
* Chozin Nasuha

A. Pendahuluan Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti teori. Jadi epistemologi dapat diartikan sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge). Sedangkan secara tetnainologis berarti:
"epistemology or theory of knowledge is that branch of philosophy which is concerned with the nature and scope of knowledge, its presuppositions and basis, and in general reabilOf of claims to knowledge" (epistemologi merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan sifat dasar dan ruang lingkup pengetahuan, asumsi dasar serta reabilitas umum dari pengetahuan),I Epistemologi juga sexing diartikan sebagai teori dan sistem pengetahuan yang mengarahkan sistem tindakan dan cara pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya.2

Secara umum, pembahasan yang terdapat dalam persoalan epistemologi terietak pada masalah hakikat pengetahuan, validitas keb enaran se rt a sumbe r da n me tode untuk mempe ro le h 3 pengetahuan, di samping juga membicarakan Batasbatas dan kriteria sebuah ilinu pengetahuan. Dengan demikian, epistemologi tafsir emansipatoris dalam penelidan int terfokus pada persoalan hakekat tafsir emansipatoris yang mencakup kriteria, batas-batas, sumber, metode dan validitas tafsir emansipatoris itu

sendiri Berbicara epistemologi tafsir emansipatoris berarti berbicara
CHOZ1N NASUHA, MA., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung. D.W. Hamlyn, "History of Epistemology", dalam Paul Edward (ed.), The Encyclopaedia of Philosophy, (New York: Mac Milian, 1972), h. 8-9. Komaruddin Hidayat, Memaharni Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutik, (Jakarta: Paramaciina, 1996), h. 208. Harold H. Titus, et.ai., Persoalan-persoalan Filsafat, terj H.M. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984). h. 187-188.
2

26

Pandangan Keilmuan UIN

mengenai emansipatorisasi teks yang sangat luas. Tidak hanya teks dalam arti kitab suci tertulis, tetapi juga wilayah ontologis teks yang bermula dari ujaran lisan yang sangat terkait dengan berbagai situasi dan kondisi yang menyertainya. Upaya emansipatorisasi teks kitab suci bisa dilakukan melalui berbagai pendekatan antara lain stilistika, semiotik, linguistik, filologi, artekipal, hermeneu6k, sinkronik-diakronik, fenomenologi, semantik dan lainnya. Semua pendekatan tersebut pada dasarnya bermuara pada pengembangan model tafsir Baru yang dianggap relevan dan representatif untuk menyingkap dimensi progresif-transformatif al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Bagian ini akan dimulai dengan memfokuskan pada persoalan wacana teks dan konteks sebagai landasan awal dalam, pernbentukan titik pandang tafsir ernansipatoris yang mengarah pada konsepsinva mengenai pola bubungan dialektis yang terjadi antara teks (walnu) dan konteks. Karena pandangannya terhadap konsep ini akan berpengaruh kuat pada pandangan selanjutnya terhadap teks terraalma dalam memperlakukan teks itu sendiri sebagai objek kajian. Kajian ini menjadi penting sebab perlu disadari bahwa proses pcwahyuan itu sendiri sejak awal tak pernah bebas dari konteks komunitas, rnelainkan terdiri atas interaksi dinamis di antara keduanva. Adanya proses tadrij al waby (secara harfiah berarti "gradualism", dan berarti "pewahyuan progresiftransforrnatif ') yang terefleksikan pada konsep naskh (pembatalan/"penangguhan" suatu ayat) dan asiiji5
-

(sebab turunnya ayat), membuktikan keniscavaan interaksi dinamis antara teks dan konteks ini.
nu.zzr/

Pembahasan pun selanjutnya mengarah pada wacana paradigmatis yang dijadikan landasan pokok sel.anjutnya (Warn memperlakukan teks al-Qur'an. Dalam tafsir emansipatoris, teks al-Qur'an senantiasa terus-menerus diupayakan untuk bersifat terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, pembebasan, pluralisme, humanitas, tidak diskriminatif dan sensitif gender. Uraian dalam bagian ini kemudian ditutup oleh pembahasan sekitar wacana metodologis yang digunakan tafsir emansipatoris sebagai alat bedah dalam proses pembongkaran paradigma dan perumusan pemikiran yang ditawarkannya. Mulai dari metode historis, hermeneutis, sosiologis, antropologis maupun fenomenologis. Di

28

Pandangan Keilmuan UIN

akhir uraian akan dianalisis juga problem epistemologis dan metodologis yang dihadapi dalam proses pencarian dan perumusan sebuah tafsir emansipatoris, baik berupa problem teologis maupun problem pemikiran yang selama ini berkembang seperti adanya dominasi nalar bayani, akal minimalis, elitis dan dogmatis. B. Wacana Teks dan Konteks Untuk memulai pembahasan ini, terlebih dahulu perlu diajukan sebuah pertanyaan mendasar: Dan mana orang mesti memulai usaha interpretasi alQur'an, dari teks atau dari konteks? Nampaknya sulit untuk menjawab pertanyaan ini, sebab teks dan konteks ibarat dua sisi mata uang yang sama (two side of the same coin), yakni sebuah keniscayaan yang tak dapat dipisahkan. Karenanya teks al-Qur'an pun tidak dapat dipisahkan dari konteksnya. alQur'an, seperti kata Kenneth Cragg, "tak mungkin menjadi wahyu jika tidak pula terkait dengan berbagai peristiwa".4 Atau dalam bahasa Richard C. Martin, "Qur'an tidak beiniakna `sesuatu' di luar konteks sosial-budaya".5 Artinya, al-Qur'an sebagai sebuah teks tertulis tidak muncul dalam sebuah ruang yang hampa. Ia selalu cliliputi oleh berbagai kondisi yang mengiringinya selama periode pewahyuan. Pandangan tersebut otomatis banyak bertentangan dengan pandangan kalangan ortodoks Muslim yang berkembang selama ini. Sebab kalangan ortodoks Muslim seperti tecermin dalam berbagai definisinya tentang al-Qur'an, telah lama memandang adanya relevansi keabadian al-Qur'an yang sama saja dengan al-Qur'an yang terlepas dari ruang dan waktu. Meskipun sejarah al-Qur'an dan interpretasinya telah membuktikan hal sebaliknya, karena siapapun yang concern dengan al-Qur'an sebagai kitab suci

29 fungsional dan kontekstual, akan segera mengetahuinya. Dalam upaya menghubungkan makna al- Qur'an dengan situasi sekarang, kaum Muslim dipaksa untuk menghuChozin Nasuha

Kenneth Cragg, The Event of The Qur'an: Islam and It's Scripture, (London: George Alien & Udwin Ltd., 1971), h. 17. Richard C. Martin, "Understanding the Qur'an in Text and Context", History of Religions, 21 (4), h. 367. Martin dalam artikel ini mengajukan pendekatan baru dalam studi Al-Qur'an. Salah satunya adalah dengan menggunakan teori Speech-Act yang berkaitan dengan dimensi lisan dan sastra dalam situasi pembicara/pendengar yang mendefinisikan Al-Qur'an sebagai tindakan berbicara.
5

30 Pandangan Keilmuan UIN bungkannya dengan beberapa peristiwa historis. 6 Sebab, peristiwa dalam dirinya berada dalam sejarah, sehingga upaya pengkajiannya, mengkaji kualitasnya misalnya, hams hidup dalam sejarah", demikian kata CrIgg.7 Dalam studi al-Qur'an modern, kesadaran adanya interaksi dinamis antara teks al-Qur'an dan konteksnya juga dibicarakan oleh beberapa sarjana alQur'an. Fazlur Rahman misalnya, pernah menvatakan dalam karyanya, Islam, sebuah pandangan radikal tentang al- Qur'an yang kemudian membuatnya terusir dari negerinya sendiri dan mengasingkan diri di Chicago. Rahman misalnya menyatakan: "al- Qur'an merupakan kalam Allah, dan sekaligus — dalam pengertian biasa — kata-kata Nabi Muhammad. AlQur'an secara jelas mengacu pada kedua pengertian tersebut".8 Atau juga pendapatnya bahwa "Wahyu al-Qur'an merupakan respons Ilahi melalui pikiran Nabi terhadap situasi-situasi sosio-moral dan historis masa Nabi".9
"semua

Hal seperti inilah yang nampaknya ingin ditekankan oleh tafsir emansipatoris dalam pertanyaan kritis di atas. Bagaimanapun mesti diakui bahwa teks al-Qur'an sejak terbentuknya pertama kali dalam sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari konteks sejarah itu sendiri. Adalah mustahil teks itu muncul bila tidak disertai penyelarasan dengan reaksi historis manusia tempat teks itu diturunkan.
1. Al Qur'an: Teks dan Konteks Persoalan pertama yang mesti dijawab dalam mendiskusikan persoalan al-Qur'an akhir-akhir ini adalah apakah al-Qur'an itu teks (nash)? Sebab persoalan inilah yang belakangan banyak diperdebatkan kalangan sarjana al-Qur'an, terutama setelah munculnya reaksi para ulama al-Azhar terhadap Nasr Hamid Abu Zayd tentang konsep
-

Chozin Nasuha

tekstualitas al-Qur'an dalam bukunya Math:1m
Nash.1°
6

31
al-

Farid Esack, "Qur'anic Hermeneutics: Problems and Prospects", The Muslim World, Vol LXXXIII, No. 2. 1993, h. 119. Kenneth Cragg, op.cit. Fazlur Rahman, Islam...op.cit., h. 31. Fazlur Rahman, Islam dan Modemitas...op.cit., h. 10. Baru-baru ini, beberapa ulama Muslim menoiak untuk menggunakan kata "teks" untuk alQur'an, termasuk Muhammad Imarah, seorang pemikir sekaligus aktivis Muslim Mesir yang terkenal. Seorang ulama al-Azhar Mesir bahkan memprotes karya AIDO Zayd tersebut dengan mengatakan: "Dalam keseluruhan sejarah Islam, tidak ada seorangpun yang menggunakannya ketika merujuk kata-kata al-Qur'an selain apa yang Tuhan sendiri gunakan dalam al-Qur'an. Tidak
8 9 10

32

Pandangan Keilmuan UIN

Dalam bahasa Arab klasik, kata benda nash berarti menaikkan atau mengangkat sebagaimana dalam contoh nashshat al-naqatu jidaba [unta betina mengangkat lehernya]. Dan makna asli inilah konotasi yang jelas dan penjelasan makna fisik berkembang, sebagaimana dalam contoh munashshat al - arcs (pelaminan pengantin). Konotasi kata munashsha dalam bahasa Arab modern hampir sama. Perkembangan lainnya terjadi dalam bahasa Arab kiasik di mana konotasi kata tersebut beralih dari bidang semantik yang bersifat fisik ke bidang gagasan. Di camping merujuk pada gerakan mengangkat ke posisi yang lebih tinggi dan "platform yang tinggi", makna kata nash berkembang sampai pada makna memperbaiki, meletakkan, menentukan, menetapkan, menyediakan, memutuskan dan menegaskan. Misalnya dalam bidang Tim al-Hadits (pengetahuan tentang hadis Nabi), ungkapan nash al-hadits berarti bahwa raw! (rangkaian transmisi, isnad) apa yang dia laporkan atau beritakan. Dalam `U/iim al-Qur'an (Ilmu-ilmu al-Qur'an) dan Ushill al-Fiqh, kata nash menjadi istilah semantik yang merujuk pada pernyataan al- Qur'an yang sangat jelas dan tidak butuh penjelasan. Berdasarkan pada pernyataan teks al-Qur'an bahwa al-Qur'an mencakup ayat-ayat yang sangat jelas (ayat muhkamat) yang merupakan tulang punggung Kitab tersebut dan ayatavat samar (ayat mutagiibihat) yang hams diinter, pretasikan menurut ayat yang jelas, kedua jenis ayat tersebut kemudian terhagi lagi. Oleh karena itu, terdapat empat tingkatan semantik yang harus dipertimbangkan: yang pertama dan yang paling jelas adalah alnash, kedua dan yang agak jelas adalah aldhahir (nyata) karena terdapat dua kemungkinan untuk maknanya di mana makna dhahirnya lebih tepat. Tingkat ketiga adalah al-mu'annval (metaforis) untuk makna tersembunyinya lebih tepat

33 dibanding dengan yang nampak. Keempat dan merupakan tingkat terakhir adalah al-mujmal (ambigu).ii
Chozin Nasuha

Apakah tafsir emansipatoris setuju dengan pengertian teks seperti didefinisikan kalangan ortodoks itu? Bila melihat uraian
satupun ulama yang pernah berhubungan dengan al-Qur'an sebagai teks, semoga Tuhan memaafkan akan hal ini, karena demikianlah cara orang orientalis Eropa (bukan Islam atau Arab) berhubungan dengan AI-Qur'an". Muhammad Abu Musa, al-Tashwir al-Bayani: Dirasah Tahliliyyah li al-Masa'il aI-Bayan, Edisi kedua, Cairo, 1980, seperti dikutip Ab0 Zayd dalam "Textuality of the Koran", dalam Islam and Europe in Past and Present, NIAS, 1997, h. 43 dan dimuat di www.LRRC.com. Ibid.
11

34 Pandangan Keilmuan UIN mengenai problem teks al-Qur'an dalam sejarah seperti terlihat di awal pembahasan, jawaba_nnya jelas terlihat sangat menolak pengertian teks seperti di atas. Kita mungkin akan lebih setuju dengan definisi bahwa teks adalah keseluruhan teks al-Qur'an, yang muncul dari relasi — dengan meminjam istilah Ferdinand de Saussure — penancla(signi/ier) dan petanda (signifiea) di sekitar manusia. Kenneth Cragg misalnya menyatakan, "Keabadian tidak dapat memasuki ruang waktu tanpa waktu itu sendiri. Ketika wahyu memasuki sejarah, is tidak bisa muncul hanva di sebelah ivarnya saja. Seorang Nabi tidak bisa muncul kecuali dalam sebuah generasi dan sebuah negeri tempat asal Nabi itu. Perintah dari langit tidak dapat menimpa bumi yang vakum".12

2. Redefinisi al-Qur'an Dalam wacana al-Qur'an klasik maupun modern, masih terdapat problem mendasar dalam bidang tafsir. Pertama kali sekali problem hermeneutis yang segera tampak adalah pandangan mendasar (paradigmatis dan ontologis) terhadap al-Qur'an sendiri yang seakanakan terlepas dari konteks historis dan sosio-kulturnva. Definisi al-Qur'an misalnya, yang sejak dulu dirintis oleh Imam alZarkasyi (w. 794 H) dengan al-B urban fi lfim alOur an dan al-Suyiathi (w. 911/1505) dalam alItqan fi ilitm al-Our an hingga sekarang telah dibakukan, dikutip dan diulang-ulang oleh para ulama al- Qur'an. Manna' al-Qaththan, seorang sarjana al-Qur'an modern yang seringkali dijadikan rujukan misalnya, mencantumkan pengertian alQur'an sebagai: "Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang dibacanya menjadi ibadah"
(4:1". 4%143 4 c- . L —L= L ia (.333,411 dill.N-s).13 Pengertian inilah kemudian yang menjadi rujukan utama bagi
4 1 4111 s 1 y

35 mayoritas kaum Muslim dalam memahami al-Qur'an. Konsekuensinya, sebagaimana k-ritik yang dilontarkan Rahman, jelas bahwa definisi tersebut tidak memasukkan setting sosial ketika al- Qur'an diturunkan," sehingga melahirkan perspektif atau pandangan
Chozin Nasuha

Kenneth Cragg, op.cit., h. 112. Manna' al-Qaththan, Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an, (Beirut: Muassasat al-Risaiah, 1976), h. 21 Faztur Rahman mengajukan definisi atau perspektif baru terhadap AI-Qur'an yang memasukkan setting sosial ketika Al-Qur'an diturunkan, yaitu sebagai "korpus ilahi melalui ingatan
12 13

36

Pandangan Keilmuan UIN

mendasar, paradigma dan ontologis yang lebih meletakkan al-Qur'an sebagai korpus tertutup (closed corpus) dan karena itu bersifat transhistoris atau meta-sejarah (fanqa al-kirikh). Kritik terhadap pendefinisian al-Qur'an semacam ini, juga akan mengingatkan kita pada salah satu gagasan Nashr Hamid Abu Zayd, seorang pemikir Arab-Islam dari Mesir, tentang konsep teks (nash). Abu Zayd menganggap teks al-Qur'an sebagai realitas semantik yang terbentuk oleh peradaban Arab selama kurang lebih 23 tahun. Dalam kurun itu, keberadaan teks sangat terkait dengan realitas masyarakat Arab. Dan pergulatan realitas masyarakat arablah, teks kemudian terbentuk.15
Abu Zayd kemudian menyatakan bahwa al-Qur'an adalah teks yang paling dihormati dalam peradaban Islam sebagai peradaban teks dan dari teks inilah kemudian lahir teks-teks hadis dan teks keagamaan lainnya.16 Atau dalam bahasa Richard C. Martin, kehadiran al-Qur'an tidak melemahkan kompleksitas tekstualitas Islam balk pada masa modern maupun klasik, namun tempat yang diduduki al-Qur'an dalam kebudayaan Islam paling menonjol atas teks-teks lainnya.17 Bagi

Zayd, terdapat beberapa argumen untuk membuktikan bahwa al- Qur'an adalah teks. Pertarna, adanya wahyu sebagai tindakan komunikasi yang mencakup pembicara (Allah), penerima (Muhammad), kode komunikasi (Bahasa Arab) dan perantara atau channel Cibril). Kedua, adanya perbedaan antara susunan/struktur al-Qur'an dan urutan pewahyuan. Ketiga, adanya ayat-ayat yang jelas (muhkamat) dan ayat-ayat yang ambigu (mutagabihat).18 Di sini, tampak jelas bahwa Abu Zayd secara radikal sangat rnenekankan model pemahaman dialektis antara teks dan realitas (budaya)

37 pembentuknya. Pertautan antara keduanya menjadi sangat
Chozin Nasuha

dan pikiran Nabi kepada situasi moral-sosial Arab pada masa Nabi, khususnya kepada masalahmasalah masyarakat dagang Mekkah. Lihat Fazlur Rahman, Islam dan Modemitas...op.cit., h. 6. Masa interaksi dan pergumulan ini disebut Abu Zayd sebagai masa penyempurnaan dan pembentukan teks sekaligus masa penataan peradaban. Jadi, pada masa awal ini, teks sekedar menjadi subyek pengungkap peradaban yang statis, tetapi sekaligus berperan besar dalam mewujudkan peradaban. Lihat Zuhairi Misrawi, Ke Arah Rekonstruksi Ilmu-ilmu Al-Qur'an: Membaca Kembali Konsep Teks ala Nashr Hamid Abe) Zayd, dimuat di www.geocities.com/KMNU. Nasr Hamid AbO Zayd, Tekstualitas Al-Qur'an...op.cit., h. 1. Lebih jauh tentang posisi Al-Qur'an dalam teks dan konteks serta kritik post-strukturalis dan dekonstruksionis terhadap tekstualitas dunia agama, lihat Richard C. Martin, "Text and Context in Reference to Islam", Semeia, h. 139. Nasr Hamid AbO Zayd, "The Textuality of Koran"... op.cit.
15 15 17 15

38

Pandangan Keilmuan UIN

penting terutama bagi .AbU Zayd dalam memahami teks. Menurutn-v-a, memahami teks tidak bisa hanya sepenuhnya mempercayai metafisik di balk teks. Kaiau ini dilakukan, pasti mengabaikan metode pemahaman ilmiah mengenai kontekstualitas teks.19 Karenanya dalam uraian selanjutnya, perlu sekali ditekankan berbagai upaya konkret untuk membukdkan dan memberi penegasan akan niiai kontekstualitas teks al-Qur'an, sehingga teks tersebut memungkinkan untuk dipahami dalam konteks kekinian khususnya d a la m ra ng ka m eng ed e p a nka n pl ura l i t a .s , ke a d i l a n d a n pembebasan di masyarakat. C. Wacana Paradigmatis Islam bukanlah agama yang hadir dengan sebuah konsep lengkap sekali jadi. Agama ini berevolusi, berinteraksi dengan masyarakat, dan sesekali mengoreksi sendiri ketentuan iamanya yang sudah ddak cocok dengan dinamika masyarakat di mana agama tin tumbuh dan berkembang. Sebagaimana telah diungkapkan di atas, al- Qur'an merupakan rekaman yang baik dari dinamika ajaran Islam itu sendiri. Kitab suci ini dibuat selama rentang masa lebih dari 23 tahun. Kitab suci ini berisi ajaran dan doktrin yang sebagian besar berurusan dengan orang yang hidup pada saat is diturunkan. Al-Qur'an bukanlah buku yang sudah jadi yang diturunkan fibril kepada Muhammad dan kemudian para sahabat Nabi tinggal menjalankannya. Al-Qur'an "diciptakan" oleh ruang, oleh waktu, oleh interaksi antara Nabi dengan masyarakat Arab. Al-Qur'an adalah kitab yang hidup, yang cepat bereaksi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi kaum Muslim saat itu. Masa 23 tahun adalah waktu yang cukup lama bagi para sahabat Nabi untuk menanti lengkapnya sebuah ajaran suci. Tapi rentang waktu itu akan tak ada artinya bagi manusia yang datang

39 sesudahnya. Terlalu banyak persoalan barn yang muncul, terlalu sedikit bahan rujukan yang dimiliki.
Chozin Nasuha

Berikut ini akan diuraikan mengenai persoalan prinsip--prinsip paradigmatis dalam al-Qur'an yang akan menjadi asumsi dasar dalam tafsir emansipatoris. Prinsip paradigmatis ini penting untuk memper19

Zuhairi Misrawi, op.cit.

Chozin Nasuha

40

tegas posisi al-Qur'an sebagai kitab historis yang mesti dan mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan realitas sehingga kehadirannya dapat dirasakan dan berarti di masyarakat.
1. Al - Qur'an sebagai Teks Terbuka Secara umum, mayoritas kalangan penganut agama Islam memahami teks al-Qur'an sebagai kalam Tuhan yang bersifat aktual dan disampaikan kepada para nabi melalui sebuah proses pewahyuan. Pewahyuan dimaknai sebagai proses komunikasi yang bersifat verbalistik-akustik, dengan tanpa memperbincangkan lagi persoalan ontologis yang mengitari proses tersebut. Pemahaman seperti itu berimplikasi pada munculnya model penafsiran yang didasarkan pada segi narasi (kebahasaan) semata sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan mufassir klasik. Kenyataan seperti itu mengakibatkan munculnya pembungkaman kekayaan tafsir kitab suci. Kitab suci yang semula terbuka, seperti kata Arkoun "Le Coran est tan texte ouvert' (:Ai- Qur'an adalah sebuah teks terbuka),-'° kepada semua tafsir, dibungkarn suaranva menjadi hanya berbunyi satu tafsir semata (monophonic exegesic) yang bercorak ideologic.

Terkait dengan ideologisasi tafsir tersebut, dalam tradisi pemikiran Islam, teks-teks keagamaan yang berkaitan dengan al-Qur'an, Sunnah serta pemikiran keagamaan lainnya yang merupakan hasil ijtihad dan interpretasi para ulama, telah membentuk jaringan ideologi yang dipegang teguh penafsir. Ideologisasi itu selanjutnya melahirkan hegemoni dan klaim kebenaran (truth claim) satu sama lain yang mempunyai konsekuensi yang fatal yaitu runtuhnya tatanan harmoni dalam masyarakat akibat agama kehilangan pesan profetiknya.

41 Padahal secara historis, al-Qur'an, sebagaimana kata Arkoun tersebut, pada awalnya bergerak terbuka dan penuh dengan berbagai kemungkinan pemaknaan. "Bahasa" dan pemikiran" saling berhubungan secara langsung dengan kenyataan hidup. Namun demikian, ketika is ditransformasikan ke dalam teks-teks interpretatif, baik dalam bentuk buku tafsir, filth, maupun tasawuf yang diproduksi pada masa klasik-skolastik, maka banyak berbagai kategori, prinsip, skema dan
Chozin Nasuha
20

Mohammed Arkoun, Nalar Islam dan Nalar

Modem...op.cit., h. 21.

42

Pandangan Keilmuan UIN

proposisi yang memiliki dasar yang bervariatif dan beragam itu lalu dimanfaatkan mufassir atau faqih. Mereka menggunakan kategori dan prinsip ini untuk suatu zaman lain dengan memanfaatkan ayat al- Qur'an. Kemudian kategori dan prinsip ini menjadi argumen dan alat untuk mengungkapkan apa yang dikehendaki mufassir ataulaqih, bukan yang dikehendaki oleh al-Qur'an itu sendiri Dengan kata lain, al- Qur'an pada saat itu tidak menjadi teks yang dipelajari karena dirinya sendiri, melainkan sebagai alat untuk membangun ideologi mufassir atau jaqih itu sendiri. Di sinilah arti penting pembacaan ulang atas alQur'an yang coba ditawarkan oleh tafsir emansipatoris. Tafsir emansipatoris berupaya membuka kembali ruang penafsiran secara bebas dengan mengacu pada momen sosio-historis ujaran al-Qur'an yang masih memungkinkan bcrbagai pcmaknaan tcrhadap al - Qur'an untuk diterima kalangan manapun.
2. Keadilan Misi setiap agama dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarkhi dan ketidakadilan. Jika ada nilai atau norma yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan dan hak asasi secara universal, maka nilai dan norma tersebut harus ditolak, sekalipun itu disandarkan kepada ajaran kitab suci. Karena Tuhan maha Adil, maka tidak mungkin di dalam kitab suci-Nya mengandung konsep-konsep yang tidak mencerminkan keadilan. Jika di dalam pernyataan sebuah kitab suci mengandung unsur ketidakadilan, maka hal itu hams segera diselesaikan dengan melakukan pembacaan ulang secara komprehensif, karena bisa jadi kekeliruan tersebut adalah hasil dari persepsi manusia dalam mendefinisikan sebuah

konsep keadilan. Al-Qur'an menggunakan istilah 'adl dan girth untuk menjelaskan makna keadilan. Oisth berarti "kesamaan", "keadilan", "memberi pada seseorang yang menjadi bagiannya". fAdl berarti "berlaku sama, adil atau tepat". Keduanya dipakai silih berganti dalam alQur'an (QS. alHujurat [49]:9).22 Al-Qur'an menempatkan manusia dan perintah untuk berlaku adil dalam konteks pertanggungjawaban pada Tuhan di
4

1-4
22
+

1_46.4
3... y z.-i.13

dL.).1.1.41...

Chozin Nasuha

44

satu sisi, dan hukum yang bekerja di clam semesta di sisi lain (QS. alNisa [4]: 135).23 'Ad/ dalam bahasa Arab bukan berarti keadilan, tetapi mengandung pengertian yang identik dengan sawyat. Kata itu juga mengandung makna pc ny amarataan (equali:zing) dan kesamaan (levelling). Penyamarataan dan kesamaan ini berlawanan dengan kata d.zulm dan jaw. (kejahatan dan penindasan).24 Qisth mengandung makna `distribusi, angsuran, jarak yang merata,' dan juga kejujuran dan kewajaran'. Taqassata salah satu kata turunannya juga bermakna `distribusi yang merata bagi masyarakat. Dan qirtas, kata turunan lainnya, berarti `keseimbangan berat'. Sehingga kedua kata di dalam al-Qur'an yang digunakan untuk menyatakan keadilan, yakni adl dan girt mengandung makna `distribusi yang merata', termasuk distribusi materi, dan dalam kasus tertentu, penimbunan harta diperbolehkan asal untuk kepentingan sosial.25 Ay at tersebut juga didukung oleh ayat-ayat lainnya yang sesungguhnya mempunyai pengertian yang sama. "...Supaya kekayaan itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya" (QS. al-Hasyr [59]: 7).26 "Mereka menanyakan kepadamu berapa mereka harus menafkahkan. Jawablah, `Kelebihan dari keperluanmu" (QS. alBagarah [2]: 219)27 AlQur'an juga mengecam orang-orang kaya yang suka pamer, dan kehidupan yang seperti ini akan membawa kepada kehancuran. "Dan bila kami bermaksud menghancurkan sebuah kota, Kami berikan perintah kepada orang-orang yang hidup dengan kemewahan supaya patuh, namun mereka melanggar perintah itu. Maka sepantasnyalah berlaku kutukan atas mereka, lalu Kami pun membinasakannya" (QS. al-Isra [17]: 16).28
j

i

&;Lys'""ili

:

4

'

L4311 1

) _};

-

411 ;14,1 1-.A11. ,j4.14i1_,JS I,i.oi L414,111_4 23 1 *C.%.51":1 DI-S '111jti 19-';'_' 9i 191

‘3_,

1

3 1' 5

c.)I L5.'4-111,4 .(135

411-i 1j4:11Lihat Hans Wehr, A Dictionary of Modem Written Arabic, diedit oleh J. Milton Cowan, (London: Mac Donald & Evans Ltd, 1976), h. 506. Ibid., h. 628. *2 4.5 J...4.,11 411i L;5211 chi clef t c 26 Lsq
24 25

4:0
131-

&La
11 1

SILT
1 11

cj,4)

.(7

°‘

11

'9

1

L 1_9

4

1-

4

-211

L.3'U- 4ti_.):?-4 A -44
-

.( 2 1 9 c . . 3 1 . ,, j / 1 4 1 4 1 1 1 (16 :01)41) I yui Lau j. U c J ga1I t4,41. ci..i1470:1_,Lii

a:':

.1" _)-a-- lyr
4 11\C j
3

al

1,11

41

-.0 27

3

28

46

Pandangan Keilmuan UIN

Menurut al-Qur'an, umat Islam dituntut untuk menegakkan keadilan sebagai basis kehidupan sosiopolitik. Karena al-Qur'an sering menyatakan secara spesifik wilayah sosial yang sangat mungkin diselewengkan, seperti soul harta anak yatim, anak yang diadopsi dan lainnya. Al-Qur'an, mempostulatkan ide bahwa keadilan adalah basis penciptaan alam. Keteraturan semesta menurut al-Qur'an dilandasi keadilan dan penyimpangan terhadapnya adalah kekacauan. Karenanya, status quo dalam tatanan masyarakat tertentu, terlepas berapa lama is telah berdiri atau betapapun stabilnya, tak mendapat legitimasi yang instrinsik dalam Islam. Bagi mereka yang memperhatikan al-Qur'an secara teliti, keadilan untuk golongan masyarakat lemah merupakan ajaran Islam yang sangat pokok. AlQur'an mengajarkan kepada umat Islam untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan. "Sungguh Allah mencintai keadilan dan kebaikan,"-'9 kata al-Qur'an. Lebih lanjut disebutkan bahwa kebencian terhadap suatu kaum atau masyarakat tidak boleh menjadikan orang yang beriman sampai berbuat tidak adil, "Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takqa..." (QS. alMa'idah [5]: 8)3° Kita lihat bahwa Allah menyuruh berbuat adil dan kebaikan, juga disebutkan bahwa orang-orang yang beriman dilarang berbuat tidak adil meskipun kepada musuhnya, dan agar tetap memegang keadilan, serta lebih dari itu al-Qur'an menvatakan bahwa keadilan itu lebih dekat kepada takwa. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa al-Qur'an menempatkan keadilan sebagai bagian integral dan takwa. Dengan kata lain, takwa di dalam Islam bukan hanya sebuah konsep

ritualistik, namun juga secara integral dengan keadilan sosial dan ekonomi.

terkait

Al-Qur'an bukan saja menentang penimbunan harta (dalam anti disumbangkan untuk fakir miskin, janda-janda dan anak-anak yatim), namun juga menentang kemewahan dan tindakan yang menghambur,;11


JS

!:1!
,

29

131,1

.(91 :L1- 111) LD."1.13
clai2L 1I
30

.(8 :1,111-1!) ai.z

4.0 19°'13 L594

Chow, Nasuha

293

hamburkan uang (untuk kesenangan dan kemewahan diri sendiri, sementara banyak orang miskin yang membutuhkannya). Keduanya merupakan tindakan jahat, dan makanya mereka mengganggu keseimbangan sosial sehingga terjadi bencana. Maka keadilan dalam al-Qur'an bukan hanya berarti norma hukum (rule of law), namun juga berarti keadilan yang distributif (karena hukum, seperti kata Socrates, seringkali menguntungkan orang yang kaya dan kuat). Keseimbangan sosial hanya dapat dijaga, bila kekayaan sosial dimanfaatkan secara merata untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cara yang wajar. Penumpukan kekayaan dan penggunaannya yang tidak sebagaimana mestinya tidak akan dapat menjaga keseimbangan tersebut. Itu hanya akan mengarah pada kehancuran masyarakat secara total. Sebagaimana telah disebutkan al-Qur'an di atas, kehancuran ini merupakan suatu keniscayaan.
,

Jika orang mengkaji al-Qur'an sebagai sumber ajaran Islam dengan teliti, is akan menjumpai banyak sekali ayat-ayat yang membahas keadilan dalam berbagai aspek yang berbeda. Menurut alQur'an, hanya apa yang telah diusahakannya yang akan diperoleh manusia. "Dan manusia tidak akan mendapatkan kecuali yang diusahakannya," 31 kata al-Qur'an dengan nada mantap. Dengan ungkapan yang pendek itu, seluruh model produksi yang kapitalistik menjadi tidak berlaku. Yang menjadi pemilik sebenarnya adalah produsen, bukan pemilik alat-alat produksi. Apa yang menjadi maksudnya adalah membangun sebuah masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai keadilan dan kejujuran. Karenanya, al-Qur'an dalam situasi keadilan bisa menjadi alat ideologis bagi penentangan melawan

penindasan. Sehingga akibatnya paling tidak berimplikasi pada dua hal. Pertama, orang serta merta tidak bisa mengambil pendekatan objektif terhadap alQur'an ketika clirinya dilengkapi penindasan. Subjektivitas dengan cara menggunakan al- Qur'an sebagai alat perlawanan tak bisa dihindari. Sebab, netralitas atau objektivitas dalam konteks semacam ini sebenarnya adalah dosa yang bertentangan dengan prinsip keadilan. Kedua, pendekatan terhadap al-Qur'an sebagai alat pemberontakan mensyaratkan adanya
.(84

Lei

c)--1

31

38

Pandangan Kerman UIN

komitmen teologis dan ideologis, serta komitmen pada prinsip keadilan. Komitmen ini menjadi landasan dalam perjuangan bersama umat manusia dan kaum tertindas untuk menciptakan tatanan yang berlandaskan keadilan. 3. Pembebasan Pertama kali hadir, al-Qur'an mendampingi Nabi Saw. dalam menghadapi berbagai peroalan dan tantangan misi dakwahnya. Karena itu al-Qur'an tidak diturunkan hanya sekali, tetapi secara bertahap. Tahapan-tahapan itu beradasarkan situasi yang dihadapi Nabi, ini menunjukkan bahwa logika alQur'an adalah induktif, merespon perkembangan realitas. Bukan itu saja, melalui inspirasi al-Qur'an-lah bangsa Arab mengalami loncatan sejarah yang luar biasa, dari bangsa yang nomaden, tidak mengerti menghargai perempuan, barbar, menjadi bangsa yang besar, berekspansi kedua pertiga penjuru dunia, menjadi bangsa superpower, di saat Barat masih primitif. Elan tanggap terhadap perkembangan realitas bahkan membebaskannya dari keterbelengguan dapat dilihat dari berbagai fakta. Dart aspek bahasa dan sastra yang khas al-Qur'an misainya, al- Qur'an menggunakan bahasa Arab dan menawarkan jenis susunan Arab baru yang belum ada pada saat itu. Sastra al-Qur'an yang menandingi jenis sastra puisi (ga'ir) dan prosa (natsr), begitu mempesonakan dan melemahkan kreatifitas sastra Arab saat itu. Ini artinva sastra Arab yang jadi kebanggaan peradaban jahilivah saat itu dikalahkan oleh al-Qur'an, dan dialihkan kepada sastra religius yang lebih transendental. Dengan kehadiran al-Qur'an, berbagai C dan natsr yang terkadang cligunakan sebagai pengungkapan kecabulan dan menjadi sarana saling ejek antar suku mulai

dihancurkan. Ini berarti al-Qur'an membebaskan bangsa Arab dari kegelapan peradaban dan hitamnya kebudayaan. Islam adalah sebuah agama dalam pengertian teknis dan sosialrevolutif menjadi tantangan yang mengancam struktur yang menindas sejak dahulu hingga saat ini di manapun. Tujuan dasarnya adalah persaudaraan universal, kesetaraan, dan keadilan sosial. Pertama, Islam menekankan kesatuan manusia yang ditegaskan dalarn avat al-Qur'an, manusia! Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-

chozin Nasuna

40

suku, supaya kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui" (QS. al-Hujurat [49]: 13). 32 Ayat ini jelas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya kesalehan. Kesalehan menurut al-Qur'an bukan hanya kesalehan ritual, namun juga kesalehan sosial," Berbuatlah adil, karena itu lebih dekat kepada takwa" (QS. al-Ma'idah [5]: 8).33 Kedua, sebagaimana disebutkan dalam ayat tadi, Islam sangat menekankan pada keadilan di semua aspek kehidupan. Dan keadilan ini tidak akan tercipta tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marjinal dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemimpin. A1-Qur'an tidak ragu-ragu untuk mempercayakan kepemimpinan seluruh dunia kepada mustadh'afin, yakni kaum lemah. Menurut al-Qur'an, mereka itu adalah pemimpin dan pewaris dunia (QS. al-Qashash [28]:5).34 Al-Qur'an juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berjuang membebaskan golongan masyarakat lemah dan tertindas. "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang yang tertindas, lakilaki, perempuan dan anak-anak berkata, "Tuhan kami keluarkanlah kami dari kota ini yang penduduknya berbuat dzalim. Berilah kami perlindungan dan pertolongan dari-Mu" (QS. al-Nisa [4]: 75).35 Dan ayat ini kita lihat bahwa al-Qur'an mengungkapkan sebuah teori yang disebut lekerasan yang membebaskan (liberative violence). Para penindas dan eksploisator menganiaya golongan lemah dan dengan seenaknya menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kepentingan

41 mereka. Tidak mungkin kita dapat membebaskan penganiayaan ini tanpa melakukan perlawanan. Di lain ayat, kaum Muslim diperintahkan untuk berperang sampai tidak ada lagi penindasan
chozin Nasuna
sill

a el:61 ``11

e-COySiC.)) 191.312:11 d:11.6,9 14,2'
04.3-11 14

J-C: c (• -il
1 13

"
.(13 :

ye I

I J.1.1.:;
: J
.-

1.31

.

1..1114

(5
C..)°

.(8
y : a

a;j1..).11 _________________L
(:).4

c a r

eI

DI 41 19 19 c5 991 0..4°5 'l 41 1 9 35
-0

c)...1111

33

091_972:4.1131 d119319 0L4.3

4111 cju., alaal L:11

.(75

e

42

Pandangan Kerman UIN

(QS. al-Anfal [8]:39).36 Al-Qur'an dengan tegas mengutuk d.vdm (penindasan) dan perbuatan jahat. Allah dalam firman-Nya tidak menyukai kata-kata yang kasar kecuali oleh orang yang teraniaya (QS. alNisa' [4]: 148).37 Al-Qur'an juga mengecam Fir'aun sebagai (penindas) dan mustakbir (sombong). Allah tidak memberi toleransi pada struktur yang menindas dan menganiaya orang-orang yang lemah, dan penganiayaan ini dilakukan tidak lain kecuali oleh para penindas. Nabi Musa ditunjuk menjadi seorang pemimpin kaum tertindas sebagaimana dinvatakan al-Qur'an dan kemudian mengobarkan api perjuangan untuk membebaskan bangsa Israel yang tertindas. Jika Musa menjadi pembebas bagi bangsa Israel yang tertindas, maka Muhammad adalah pembebas bagi seluruh umat manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat lemah. Nabi Muhammad mengakui hak untuk mengadakan perlawanan pada awal dakwahnya dalam menghadapi saudagar-saudagar Mekah yang kaya dan kuat. Sebelum Muhammad diangkat menjadi nabi, beliau secara aktif ikut ambil bagian dalam hilf alfudad (semacam lembaga bantuan hukum) yang didirikan untuk menegakkan keadilan bagi kaum lemah dan beliau bangga karena ikut bergabung dengan lembaga tersebut. Berdasarkan firman Allah, Nabi Muhammad secara tegas rnengecarn saudagar-saudagar kaya yang menimbun kekayaan, karena nafsu serakah ini mcngarah pada eksploitasi dan penindasan. Seruan nva tersebut sebetulnya ditujukan pada seluruh umat manusia. Nabi kemudian mendirikan bayt al-mal untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat kepada orang-orang yang membutuhkan, fakir-miskin, vatim piatu, janda dan untuk melunasi hutang orang yang

43 tidak bisa rnembayarnya, serta untuk membebaskan budak. Sebenarnva kewajiban negara untuk menjamin kebutuhan hidup golongan masvarakat lemah ini. Namun demikian, aspek liberatif al-Qur'an ini kemudian dikesampingkan dan Islam lebih menekankan pada aspek ritual dan masalah-masalah pribadi sebagaimana diformulasikan para teolog waktu itu. Sayangnya, aspek inilah yang kemudian diterima sebagai tujuan utama umat Islam. Hal itu tidak terjadi pada masa Nabi masih
chozin Nasuna

r

.(39
Usti

C.J31..4u •3.341:)1Jel!C14-11i

j C.) 471
37

r

.(148

L

;Isj

c›.,1) J;11

chozin Nasuna

44

hidup dan beberapa waktu sesudahnya. Aspek-aspek liberatif dalam Islam kemudian terabaikan semenjak munculnya pemerintahan dinasti dan berbagai macam aliran atau sekte.38 Inilah beberapa aspek pembebasan dalam alQur'an. Sebetulnya, masih ada beberapa aspek lain yang tidak dapat dikupas di sini karena keterbatasan ruang. Akhirnya seseorang belumlah dianggap memahami ajaran Islam dan mengungkap intinya, jika mengesampingkan konsep pembebasan, keadilan sosio-ekonomi dan menghargai harkat dan martabat manusia. 4. Pluralisme Pluralisme dapat dijabarkan sebagai pengakuan dan penerimaan, bukan sekadar toleransi, atas keberadaan dan keragaman, baik di antara sesama maupun pada penganut agama lain. Dalam konteks agama beratti penerimaan perbedaan cara menanggapi dorongan, baik yang terlihat maupun tidak, yang ada dalam diri setiap manusia ke arah Yang Transenden.39 Kitab Suci al-Qur'an secara empati menvebutkan, "Untuk tiaptiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalombalah berbuat kebajikan" (QS. alMa'idah [51: 48).40 Tidak seorang pun meragukan ayat ini, bahwa Islam mengakui pluralisme dan tidak ingin menjadikan seluruh manusia beragama Islam. Dengan jelas dikatakan bahwa "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang", dan bahwa "Sekiranya Allah menghendaki,

45 niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja)," namun Dia tidak menghendaki, Dia ingin tahu apakah manusia dapat hidup dengan damai dalam pluralitas agama dan keyakinan; dan bahwa kita seharusnya dapat hidup dalam hamioni dan saling
chozin Nasuna
Lebih jauh tentang aspek pembebasan dalam AIQur'an ini, lihat Ali Asghar Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, terj. Agung Prihantoro, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), h. 23-39. Farid Esack, Qur'an, Liberation & Liberalism ... op.cit., h. 21. 4 (1-4 9 411jii 41c 12".4€-°_,13 "* ° YI:"C:11 "
38

-

-

L of4,14

<1—.1

3

.13 1÷14.1...3

J.S.1 Cg.31

.(48

(.se-11

46

Pandangan Keilmuan UIN

berlomba-lomba dalam kebaikan. Kitab Suci al-Qur'an juga berulang kali menyatakan, "Bagi tiaptiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka amalkan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benarbenar berada pada jalan yang lurus" (QS. al-Hajj [22]: 67)41 ) Di ayat lain disebutkan, "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang is menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." Juga dalam sebuah ayat yang turun di Mekah, al-Qur'an menyatakan: "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku" (QS. al-Kafirun [109]: 6).42 Kita dapat menemukan banyak sekali ayat alQur'an yang sama sekali tidak mengizinkan adanya paksaan dalam agama. "Tidak ada paksaan dalam agama" (QS. al-Baciarah [2]: 256),43 kata al-Qur'an tanpa ragu-ragu. Islam juga dikira menyuruh umatnya untuk merobohkan tempattempat ibadah agama lain dan kemudian menggantikannya dengan masjid. Barangkali beberapa orang yang kurang pengetahuannya, meyakini pernyataan tersebut. Padahal al-Qur'an justru mengajarkan yang sebaliknya, "Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah diroboh kan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, sinagog-sinagog Yahudi dan masjid-masjid yang didalamnva banyak disebut nama Allah" (QS. alHajj [22]: 40).44 Dan ayat tersebut jelaslah bahwa nama Allah disebut di dalam masjid-masjid, sinagog atau gereja

dan bahwa Allah melindungi tempat-tempat ibadah dengan menghalangi sebagian orang terhadap sebagian yang lain, yakni. mereka yang tidak melindungi tempat-tempat ibadah dihalau oleh Allah melalui tangan orang-orang yang
.(67
L-4 1 •; 'L"'1

Lg-1.3,113!
"Li*It4

"

1

'"*"
4.1,1
C..)-.8
111

.C

3,213 c-A .(6 :a9itls)

lc r-s3 42
°1

:_)741

-A "

1

(40 :z-.3 )
1

4_4

1

IJj-

6

" 4:111

.5-191:1

.(256 :*"..)LA) 4r.

:4

44

48

Pandangan Keilmuan UIN Charm Nasuha

299

melindunginya. Sangat jelas Allah melindungi tempat-tempat ibadah itu, dan Dia tentu tidak menghendaki adanya perusakan. Kaum Muslim yang merusak atau setuju dengan perusakan tempattempat ibadah benar-benar bertir.dak melawan ajaran al-Qur'an. Allah akan menghalau mereka dan menghukumnya, karena nama-Nya banyak disebut di dalamnya. 5. Sensitif Gender Selama ini penafsiran al-Qur'an masih sering dijadikan dasar untuk menolak adanya kesetaraan gender. Kitab-kitab tafsir dijadikan referensi dalam mempertahankan status quo dan melegalkan pola hidup patriarkhi yang memberikan hak-hak istimewa kepada laki-laki dan cenderung memojokkan perempuan. Laki-laki dianggap sebagai jenis kelamin utama, dan perempuan sebagai jenis kelamin kedua (the second sex). Anggapan seperti ini mengendap di alam bawah sadar masyarakat dan membentuk etos kerja yang timpang antara kedua jenis hamba Tuhan tersebut. Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa misi utama al-Qur'an adalah untuk membebaskan manusia dari bentuk anarki, ketimpangan dan ketidakaclilan. Al-Qur'an selalu menyerukan keadilan dalam segala hal, termasuk dalam persoalan gender sekalipun. Di dalam Islam ada beberapa kontroversi berkaitan dengan relasi jender, antara lain tentang asal-usul penciptaan perempuan, konsep kewarisan, persaksian, poligami, hak-hak reproduksi, hak talak perempuan, serta peran publik perempuan. Jika kita membaca sepintas ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah tersebut, memang mengesankan adanya ketimpangan atau ketidakadilan terhadap perempuan. Akan tetapi, jika

kita menyimak secara mendalam dengan berbagai metode kebahasaan, baik semiotik, semantik maupun hermeneutik yang disertai dengan pendekatan asbab al nu* maka dapat difahami ayat-ayat tersebut merupakan suatu proses dalam mewujudkan keadilan secara konstruktif di dalam masyarakat. Semua avat al-Qur'an yang berkaitan dengan persoalan tersebut, seperti asalusul kejadian perempuan (QS. Al-Nisa' [4]: 1), kewarisan perempuan (QS. al-Nisa' [4]: 11), persaksian perempuan (QS. al-Baqarah [2]: 282), poligami (QS. AlNisa' [4]: 3 dan al-Nisa' [4): 129), hak talak (QS. al-

44

Pandangan Keilmuan UIN

Baciarah [2]: 231), hak-hak reproduksi (QS. al-Baciarah [2]: 223 dan alNisa' [4]: 23), peran publik perempuan (QS. al-Ahzab [33]: 33) dan hak-hak politik perempuan (QS. al-Nisa' [4]: 34), ternyata turun untuk menanggapi kasus-kasus tertentu yang terjadi di masa Rasulullah Saw. Ini berarn ayat-ayat tersebut bersifat khusus. Menurut Yvonne Yazbeck Haddad, sebagaimana dikatakan Nasaruddin Umar, al-Qur'an adalah sumber nilai yang pertama kali menggagas konsep keadilan jender dalam sejarah panjang umat manusia. Di antara kebudayaan dan peradaban dunia yang hidup pada masa turunnya al-Qur'an, seperti Yunani, Romawi, Yahudi, Persia, Cina, India, Kristen dan Arab (pra-Islam), tidak ada satupun yang menempatkan perempuan lebih terhormat dan lebih bermartabat daripada nilai-nilai yang diperkenalkan oleh alQur'an:45 Ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisis prinsip-prinsip kesetaraan jender dalam al-Qur'an. Variabel-variabel tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba (QS. alHujurat [49]: 13; alNahl [161: 97). Kedua, laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di muka bumi (QS. al-An'am 161: 165). Ketiga, laki-laki dan perempuan menerima perianjian primordial (QS. al-A'raf [7]: 172; al-Isra' [17]: 70). Adam dan Hawa terlibat aktif dalam drama kosrnis; karena keduanva sama-sama diciptakan di surga (QS. alBagarah [2]: 35); keduanva rnendapat kualitas godaan yang sama dare setan (QS. al-A'raf , , 7 0)- keduanva sama-sama tn makan buah khuldi dan keduanva

". y , rnenerirna akibat jatuh ke bumi (QS. al-A'raf HI 22); sama-sama memohon ampun dan diampuni tuhan (QS. al-A'raf ill: 23); dan keduanva mengembangkan keturunan serta saling melengkapi elan saling rnernbutuhkan (QS. al-Bagarah [2]: 187). Ke &n ma, lakilaki dan perempuan sama-sama berpotensi meraih prestasi (QS. 'Ali `It-nran 131: 195; al-Nisa' [4]: 124; Ghafir [40]: 40). Beberapa variabel tersebut di atas, mengisyaratkan konsep kesetaraan jender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa posisi perempuan setara di hadapan Allah Swt. sehingga teks al-Qur'an seridiri secara pinsip memiliki ajaran yang sangat sensitif terhadap
45

Nasaruddin Umar, Qur'an untuk Perempuan,

(Jakarta: JIL dan TUK, 2001), h 3

46

Pandangan Keilmuan UIN Chozin Nasuha

301

kesetaraan jender int Sebab obsesi al-Qur'an sendiri adalah terwujudnya keadilan di dalam masyarakat. Keadilan dalam al-Qur'an mencakup segala segi kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu, al-Qur'an tidak mentolelir segala bentuk peindasan, baik berdasarkan kelompok etnis, warna kulit, suku bangsa, dan kepercayaan maupun yang berdasarkan jenis kelamin. Jika terdapat suatu hasil pemahaman atau penafsiran yang bersifat menindas atau menyalahi nilai-nilai luhur kemanusiaan, maka hasil pemahaman dan penafsiran tersebut terbuka untuk diperdebatkan. D. Wacana Metodologis Menafsirkan al-Qur'an berarti upaya untuk menjelaskan dan mengungkapkan maksud dan kandungan al-Qur'an. Karena objek tafsir adalah alQur'an yang merupakan sumber pertama ajaran Islam sekaligus petunjuk bagi manusia, maka bukan hanya merupakan hal yang diperbolehkan, bahkan lebih dari itu, penafsiran terhadap al- Qur'an merupakan sutau keharusan. Di sisi lain, berkait dengan pemahaman dan penafsiran terhadap teks, persoalan yang paling mendasar adalah metodologinya. Pembahasan metodologi sama artinya dengan pembahasan filsafat pengetahuan atau epistemologi. Suatu ilmu pengetahuan ditentukan oleh objeknya, dan objek itu memastikan pemakaian metode. Karena itu, kajiankajian terhadap aspek metodologis pada dasarnya adalah satu sumbangan yang berharga bagi perkembangan dan kemajuan objek yang dikaji itu sendiri, termasuk al-Qur'an dalam aspek pemahaman dan penafsirannya. Sejalan dengan kebutuhan dan tantangan akan

suatu metode penafsiran yang bercorak induktifemansipatoris sebagaimana dijelaskan di atas, dalam dunia ilmu-ilmu sosial berkembang sebuah ilmu yang dipandang cukup representatif sebagai alat Bantu dalam menuntaskan persoalan realitas dan teks. Metode ini biasa dikenal sebagai fenomenologi. Cara Kerja Fenomenologi Fenomenologi merupakan salah satu cabang filsafat yang banyak

46 Pandangan Keilmuan UIN diadopsi oleh pemikir belakangan dan mempengaruhi para filososf generasi berikutnya, terutama kaum eksistensialis Secara literal fenomenologi berasal dari katafenomenon yang berarti yang nampak.46 Dengan dernikian fenomenologi adalah cabang filsafat yang bermuara pada kajian terhadap realitas. Dengan kata lain kebenaran berrnula dari yang nampak, namun demikan penampakan suatu Benda tersebut tidak serta benar tanpa dikritisi terlebih dahulu. Apakah ia sesuai dengan hakekatnya atau tidak. Dengan kata lain basis metodologis mazhab fenomenologis adalah realitas sentris yang telah mengalami beberapa tahap pengujian. Adapun kerangka kerja yang ditawarkan mazhab ini banyak berkibiat pada Edmund Husserl. Kerangka kerja tersebut memiliki tiga tahapan reduksi (reduction). Pertama, reduksi fenomenologis; atau penvaringan terhadap segala yang nampak dalam pemikiran setelah melihat realitas. Tahapan ini adalah metode khas yang dimiliki mazhab fenomenologis, yaitu sebelum seseorang mengkaji atau menganalisis sesuatu maka ia harus menyimpan segala persepsi pengetahuan baik yang empiris ataupun yang ideal dalam tanda kurung ([ ]), penyimpanan semua persepsi, asumsi dan pengetahuan ini sebagai refleksi dari proses pencapaian objektifitas seorang pemikir dengan menggunakan pendekatan fenomenologis. Sehingga segala sesuatu yang telah lama terasurnsi, teridiologisasi dalam pikiran ataupun tradisi dilepas secara konstan dan absolut. Maka kita akan menemukan sesuatu yang narnpak tersebut dengan segala bentuk dan karakteristiknva. Setelah mengawall dengan proses tersebut, baru bisa menemukan kepada dua tahapan reduksi berikutnya. Demikian juga ketika kita melihat realitas [tradisi manusia] dan realitas teks Kitab Suci, kita harus megeluarkan bahkan membuang beragam asumsi dan penilaian terhadap realitas yang ada dalam

tradisi manusia maupun penilaian yang ada dalam struktur teks Kitab Suci, sehingga kita menemukan kedua realiatas yang benar-benar `tampilan murni' dan objek tersebut independent dengan dirinya sendiri.
Kedua, tahap eidetik; pada tahap ini merupakan pencarian hakekat tetapi tetap menggunakan instrumen tanda kurung ([ ]).
46

Harun Hadiwijono, Sad Sejarah Filsafat Barat 2,

(Yogyakarta, Kanisius), 1997), h.140.

48

Pandangan Keilmuan UIN
Chum Nasuha

303

Dalam tahap ini, semua pengetahuan yang mengikat dengan objek tersebut dimasukkan ke dalam tanda kurung kecuali yang substansi atau inti (eidos), sehingga yang nampak adalah yang substansi dan pemahaman yang dipahami secara konvensional. Maka pada tahap ini proses pencarian hakekat adalah dari realitas, bail( dari realitas teks ataupun realitas social. Di sinilah tafsir emansipatoris berelasi dengan instrumen fenomenologis. Sehingga tafsir emansipatoris sangat membutuhkan instrumen ini. Tahap ketiga, adalah reduksi transendental; dalam tahap ini relasi fenomena dan dunia luar di simpan dalam tanda kurung ([ ]). Dalam tahap ini pun, pencarian pemaknaan puncak dan fenomena yang tampak dilakukan apakah itu dari sisi realitas teks maupun realitas tatanan kehidupan (labenswelt) manusia. Di sinilah posisi pencarian pesan puncak dari teks A lqur'an, setelah menganalisa realitas yang tampak maka dialektika antara teks dan realitas dapat menghasilkan penafsiran puncak yang memberikan pencerahan dan pragmatis. E. Penutup Wacana emansipatoris dalam tafsir al-Qur'an kehadirannya terasa semakin penting mengingat teks suci sebagai pilar sakralitas suatu agama, dalam interpretasinya selama ini cenderung ahistoris dan tidak peka terhadap realitas. Realitas sehari-hari berbicara persoalan A misalnya, sementara kitab suci justru berbicara persoalan B. Hal ini mungkin disebabkan karena secara historis, al-Qur'an turun (nu.* secara bertahap (tadrij) seiring dengan persoalan yang dihadapi Muhammad dalam berdakwah pada waktu dan tempat tertentu. AlQur'an pertama kali turun karena hendak merespon realitas dan dinamikanva. Sementara realitas terus

berkembang dan berubah. Realitas kini, masa modern ini telah jauh berbeda meninggalkan realitas di mana al-Qur'an pertama kali turun. Sementara itu al-Qur'an telah berhenti turun hanya pada masa Nabi, itupun sebatas 22 tahun, sekian bulan dan sekian hari. Al-Qur'an berhenti turun, tetapi bukan berarti berhenti dibaca, ditafsirkan, dan tidak jarang pula dipaksakan agar nampak sesuai dan terkesan mampu menyelesaikan persoalanpersoalan yang sbelumnya tidak dikenali al-Qur'an, karena memang belum muncul pada masa turunnya alQur'an. Kondisi semacam ini

48

Pandangan Keilmuan UIN

bukan hanya terjadi pada teks suci ai-Qur'an, tetapi pada semua teks suci keagamaan. Hampir pada semua teks suci keagamaan mengandung dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Satu sisi berisi ajaran akan kchcnaran agama yang dikandungnva, nilai-nilai luhur dan universalriva. Scrnentara di sisi yang lain, berisi pembenaran ajaran agamanva di at kebenaran ajaran-ajaran agama yang lainnva. Irz terutama bisa pada teks-teks suci agama Setnitis (YahudiNasrani-islam), rang hanTnir sernuanva membenarkan diri sendiri. Bahkan kaiau dibaca lebib teliti lagi, maka tidak sedikit kandungan kitab suci itu hcrutui avat-ayat yang dapat dijadikan legitirnasi untuk memerangi agama yang lain. Doktrin Perang Suci dalam masing-masing agama itu misainva, tentunya sangat terkait erat dengan cara membaca dan menafsirkan avat-ayat perang Periasiran avat-ayat perang yang menyebabk.an perang suci atau perang salib terjadi dalam sejarah, menggiring agama yang pada wainva untuk menyejahterakan manusia dan menyebarkan perdatnaian di bumi (rahmatan lil `alamin) menjadi alat legitimasi untuk rnembunuh sesama manusia. Ini lebih ironis lagi, bila kebutuhan manusia dalam kehidupan yang serba global adalah perdarnaian dunia dan kesatuan global. Maka realitas semacam ini mengharuskan dikembangkannva wacana dialog antaragama. Inilah realitas yang mendesak bagi urnat beragama di era rneleniurn ketiga ini. Bila tidak, maka nasib urnat penvembah Tuhan hanya tinggal cerita. Kebutuhan sernacarn itulah, di antara faktor yang mendesak akan adanya tafsir emansipatoris yang coba ditawarkan dalam penelitian ini. Realitas lainnya yang menuntut adanya sebuah

tafsir emansipatoris adalah krisis ekonomi global dunia saat ini. Sementara di negeri kita sendiri, Indonesia, kemiskinan adalah masalah utama. Al-Qur'an bicara kemiskinan atau orang rniskin, sebagai pihak yang hams di santuni. Ini di antaranya tercerrnin pada potongan ayat yang berbunvi: "al Shadaqatu lii Fuqara zva al Masakin", dan "'Fa La Yadu'u
-

`Ma'am al Miskin". Karena asumsi al-Qur'an, secara singkat terkesan menempatkan si miskin sebagai objek santunan, maka cara menyelesaikan atau mengentaskan kemiskinan juga cenderung bersifat karitatif dan tidak menyentuh akar persoalan kemiskinan yang sebenarnya.
-

50

Pandangan Keilmuan UIN

Chozin Nasuha

305

I3ukankah dalam realitas, °rang miskin bukan hanya terjadi karena dia ditakdirkan miskin, atau karena ia malas bekerja atau sumber daya manusianya lemah, tetapi juga terjadi karena ada pemiskinan dari sistem pemerintahan dan birokrasi negara di mana ia hidup. Kemiskinan itu beragam dalam realitasnya, cara mengentaskannyapun harus dilihat persoalan dasarnya terlebih dahulu. Untuk itu kitab suci yang cenderung simplistis dalam melihat kemiskinan, mesti ditafsirkan secara cerdas dengan semangat emansipatoris yang membebaskan. Inilah beberapa kebutuhan akan adanya sebuah tafsir yang mengerti akan realitas yang dihadapinya serta ramah terhadap berbagai kenyataan pluralitas masyarakat kontemporer sekarang ini. Tawaran tafsir emansipatoris dalam penelitian ini paling udak menjadi semacam proposal bagi penelitian selanjutnya yang lebih tuntas dan mendalam sehingga bisa segera disosialisasikan kehadirannya di masyarakat.

PRINSIP EPISTEMOLOGI QUR'ANI
(Upaya Reintegrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum) All Masrur Abdul Ghaffar*

A. Pendahuluan Menyambut kemungkinan perubahan IAIN Bandung menjadi UIN Bandung, tampaknya memang perlu dan bahkan harus dilakukan diskusi-diskusi dan kajian-kajian serius tentang upaya-upaya penyatuan kembali ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini perlu dilaksanakan agar perubahan IAIN menjadi UIN bukan hanya perubahan nama, tetapi lebih dari itu, is merupakan perubahan paradigma keilmuan yang hendak ditawarkan kepada masyarakat untuk dikembangkan di UIN di masa depan. Disadari atau tidak pemisahan ilmu agama dan ilmu umum ikut andil dalam proses pemisahan agama dari berbagai aspek kehidupan. Agama seolah menjadi milik kyai dan santri; agama menjadi bahan ceramah di mesjid dan majlis taklim, tetapi dunia di luar itu, bergerak terlalu cepat dan pesat meninggalkan para kyai dan santri. Agama akhirnya menjadi ritual tanpa makna (meaningless), karena tidak mampu lagi menggerakkan nurai pemeluknya. Pada gilirannya, agama tidak mampu lagi mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Mengapa semua ini terjadi? Salah satunya adalah karena proses pemisahan agama dari kehidupan masyarakat kita telah terjadi selama berpuluh-puluh tahun. Mungkinkah proses ini dihentikan? Konon, Napoleon pernah mengatakan tidak ada sesuatu yang mustahil

52

Pandangan Keilmuan UIN

dicapai di dunia ini, tetapi tidak ada sesuatu yang mudah diraih di dunia ini. Demi menyatukan ilmu agama dan umum itulah, tulisan ini sedikit mengungkap bagaimana pandangan al-Qur'an tentang epistemologi.
* ALI MASRUR ABDUL GHAFFAR, M.Ag., Dr., Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

52 Pandangan Keilmuan UIN B. Tiga Sarana Memperoleh Pengetahuan Ada tiga daya, menurut al-Qur'an, yang dapat dipakai sebagai sarana untuk memahami kebenaran. Tiga daya itu adalah pikiran (alfikz), akal dan nurani (al-gaib, al-afidah). Ketiga daya ini dipakai dalam konteks dan kapasitas yang berbeda, tetapi saling melengkapi dan dapat mengarah ke transendensi. Proses pemahaman dengan menggunakan daya pikiran (al-filer) terdapat dalam kurang lebih 16 ayat al-Qur'an yang kesemuanya dipakai dalam konteks alam dan manusia dalam dimensi fisiknya. Sedangkan yang memakai kata `aql terdapat dalam kurang lebih 49 ayat, yang digunakan dalam konteks yang lebih luas, dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat konkret, material, spiritual, maupun yang bersifat gaib. Adapun yang memakai kata terdapat dalam kurang lehih 101 ayat yang pada umumnya dipakai dalam kaitannya dengan hal-hal gaib dan spiritul saja. Dengan demikian, baik sarana yang dipakai untuk mencapai kebenaran maupun kebenarannya sendiri berjenjang. Pertama, kebenaran yang berkaitan dengan hal-hal yang fisikal dan material saja, sebuah kebenaran yang dapat dpahami dan dikuasai dengan ratio; kedua, kebenaran berdimensi ganda, yaitu material dan spiritual, yang dapat dipahami dengan menggunakan aql; dan ketz:ga, kebenaran yang sepenuhnya berdimensi gaib dan immaterial yang dapat dimengerti dengan menggunakan algalb. Singkatnya, kebenaran pada alam sernesta dan manusia yang bersfat fisikal dan material dikembangkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi; kebenaran dalam realitas material dan spiritual dikembangkan dalam filsafat. Sedangkan kebenaran yang bersfat spiritual saja dikembangkan dalam ilmu agama.1 Sampai di sini, pertanyaannya adalah apakah

tiga sarana yang disebutkan di atas di LAIN sudah benar-benar digali secara maksimal dan optimal untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran? Dan apakah ilmu pengetahuan, filsafat dan agama sudah benar-benar diajarkan dan dikembangkan di lingkungan IAIN sebagai satu paket sajian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain? Atau malah seringkali terjadi kesalahpahaman antar ketiganya?
Musa Asy'arie "Epistemologi dalam Perspektif Pemikiran Islam," dalam M. Amin Abdullah dkk, Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum (Yogyakarta: SukaPress, 2003) 34 36
-

54

Pandangan Keilmuan UIN

Masrur Abdul Ghaffar

309

All

C. Obyek Kajian Ilmu dan Orientasinya Dalam al-Qur'an dijelaskan pula bahwa ada tiga hal yang menjadi obyek kajian ilmu dan ketiganya merupakan kesatuan perwujudan dari tanda-tanda Tuhan. Tiga hal itu adalah: 1. Ayat-ayat Tuhan yang terdapat dalam alam semesta. 2. Ayat-ayat Tuhan yang ada dalam diri manusia dan sejarah. 3. Ayat-ayat Tuhan yang tersurat dalam kitab suci, seperti al-Qur'an.2 Dari sini, dapat dikatakan bahwa menurut al-Qur'an, tiga daya yang dapat dipakai untuk memahami kebenaran, yairu dan al-qa/b merupakan satu kesatuan organik yang sifatnya berlapis dan berjenjang. Integrasi Iptek, filsafat, dan agama sangat mungkin karena obyek kajiannya mempunyai kesatuan surnber, yaitu ayatayat Tuhan yang ada pada alam semesta, diri manusia dan sejarah, serta yang tersurat dalam kitab suci. Integrasi ketiga tahapan tersebut sebenarnya merupakan wujud integrasi dari perpanjangan avat-ayat Tuhan. Integrasi iptek, filsafat, dan agama merupakan tuntutan realitas kehidupan itu sendiri di mana ketiganya dapat saling melengkapi. Jika iptek digunakan untuk rnemecahkan persolan-persolan yang bersifat teknis, operational, maka filsafat memberikan landasan hakekat dan maknanya terhadap sesuatu hal, memberikan wawasan yang rnetateknis dan metafisik, dan selanjutnya agama memberikan arah dan tujuan yang paling akhir dari hidup manusia agar semua proses itu berjalan sebagai bagian dari penghambaannya kepada Tuhan dalam dimensi spiritual. Inilah maksud dari apa yang dikatakan oleh Kuntowijoyo bahwa ayat al-Qur'an hendaknva dijadikan sebagai grand theory untuk menyelidiki

dan meneliti ayat Tuhan yang terdapat pada alam, diri manusia dan sejarah.3 Sebaliknya, temua-temuan ihniah harus dipakai untuk menjustifikasi kebenaran kalam Tuhan yang tersurat dalam al-Qur'an. Seperti yang terdapat dalam ayat sanuribim ayatina .5 alafaqi 'Eva fl anfusihim hatta yatabayyana lahum annahu al-haqq. Awalam yakfl birabbika annahu `ala kulli syay'in syahid (Quran; surat Hamim alSajdah; 53) Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami yang terdapat di berbagai ufuk dan dalam diri mereka sencliri sampai menjadi jelas bahwa ayat3

Fazlur Rahman. Tema Pokok Al-Qur'an, 51 Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1991).
2

54 Pandangan Keilmuan UIN ay at yang tersurat dalam al-Qur'an adalah benar (alhaq). Belurnkah cukup bahwa Tuhanmu Maha menyaksikan segala sesuatu? Jika penelitian iltniah dilakukan dengan prosedur semacam maka muncullah para ilmuwan yang dalam al-Qur'an disebut sebagai Albab. Yakni orang-orang yang tidak hanya sekedar berdzikir dalam kea.daan duduk, berdiri, dan berbaring, tetapi juga mereka berpikir, rneneliti dan mengkaji alam semesta, diri manusia, dan sejarah. Setelah mereka menemukan kebenaran melal.ui alam, merekapun mengatakan, "Rabbana ma khalaqta hadza bathilan 4 subhanaka faqina `adzab al-nat" Inilah orientasi keilmuan Islam yang akan dikembangkan di UIN nantinya. jika orang Barat mengatakan science for the sake of science (ilmu untuk itruu) atau Part pour Part (seni untuk seni), maka kita harus mengatakan science_ for the search of God (11rnu untuk mencari dan menuju Tuhan).' Karena itulah Cak Nur menulis buku yang berjudul Pintu Pintu Alenztiu Tuhan. Jika tidak demikian halnva, maka yang terjadi adalah sebaliknya, seperti dikatakan oleh Nabi yang bersenjata, Muhammad saw.: Man yazdad `ilman lam yazdad hudan, lam yazdad ruin Allah ilia bu'dan (Al Hadis).
-

Artinya: "Siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunfuknya. maka is akan semakinjauh dart Tuhan." Dengan menggunakan bahasa agama, seperti dikatakan oleh Mukti Ali, bahwa ilmu itu untuk ibadah, bukan untuk berkuasa dan mengeksploitasi alam. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam: Orang mukmin adalah cakrawala hanyut dalam

dirinya, Orang kafir adalah dirinya hanyut dalam cakrawala. Jadi, ilmuwan yang benar adalah ilmuwan yang menggunakan ilmunya untuk mengarahkan masyarakatnya menuju ridha Tuhan, dan bukan ilmuwan yang hanya tergiur oleh hawa nafsu duniawi dan kekuasaan sesaat.
Alu Imran. 190-191 menyatakan, inna fi khalq al-samawat wa al-ardh wakhtilafi al-layl wa alnahar la ayatil albab. Alladina yadzkuruna Allah qiyaman we qu 'udan wa junubihim we yatafakkaruna fi khalq al-samawat wa al-ardh. Rabbana ma khalaqta hadza bathilan subhanaka faqina 'adzab al-nar. 5 Bandingkan dengan Imam Syafi'ie. Konsep ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an (Yogyakarta: Ull Press, 200), 142-147.

56

Pandangan Keilmuan UIN

PARAD1GMA KEILMUAN UIN: RE-INTEGRASI KOHERENSI ILMU DENGAN AKTUALITAS KEHIDUPAN
Ahmad Zayadi*

A. Pendahuluan Perhatian dan pemikiran terhadap masalah pengembangan ilmu selalu muncul sepanjang zaman, karena ilmu pada hakikatnya adalah kebutuhan dasar ummat manusia.) Hal tersebut semakin dirasakan urgen dan kemestiannya pada saat muncul berbagai masalah akibat dari dualisme keilmuan dan operasionalisasinya dalam kehidupan manusia. Inilah yang menimbulkan kesadaran betapa mendesaknya pemecahan persoalan tersebut melalui reorientasi, rekonseptualisasi, dan restrukturisasi ilmu yang berlangsung selania ini sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan ummat, sekaligus mampu menjawab berbagai persoalan aktual yang dihadapinya.
Upaya reorientasi, rekonseptualisasi, restrukturisasi, ke arah reintegrasi ilmu kiranya membutuhkan keberanian serius dari berbagai kalangan, bahkan utamanya dari kalangan akademisi di perguruan tinggi Islam. Kajian atas sejumlah persoalan ontologis, epistemologis dan juga aksiologi ilmu, menjadi sebuah keniscayaan bila tidak ingin terjebak pada pada "pengulangan" tradisi yang tidak memiliki kemampuan menjawab persoalanpersoalan kekinian dan masa depan. Sekalipun

sesungguhnya persoalan yang mendasar bukanlah terletak pada dikotomi dan integrasi, melainkan pada bagaimana menanamkan pemahaman holistik terhadap ajaran Islam yang universal dan kosmoDalam tradisi pesantren diungkapkan sebuah syair "wa kullu man bi ghairi ilmin ya'malu, a'rnaluhu mardudatun la tuqbalu" syair ini merupakan argumen normatif dari pemikiran tradisional yang mendasari pemahaman bahwa berilmu itu merupakan kebutuhan dasar manusia yang beragama. "Berilmu berarti beragama dan beragama berarti berilmu". Artinya, bahwa rahasia kesuksesan sejati adalah terletak pada usaha harmonisasi ilmu dengan agama.

AHMAD ZAYADI, M.Pd., Dr., Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

56

Pandangan Keilmuan UIN

polit. Karena, di dalam ilmu itu sendiri sebenarnya tidak mengenal dikotomi dan disintegrasi, melainkan spesialisasi-spesialisasi yang semakin cepat. Al-Qur'an sendiri tidak pernah mengenal dikotomi, al-Qur'an justru menginstruksikan untuk tafakur (QS. Ali Imran, 189-190) dan tasyakkur (QS. alNahl, 114). Tafakkur mengandung pengertian bahwa Amu merupakan jalan untuk mendekati kebesaran Tuhan melalui realitas ciptaan, sedangkan tasyakkur, berarti memanfaatkan nikmat dan karunia Tuhan dengan akal sehingga kenikmatan itu akan semakin membawa berkah. Dalam pemahaman yang lain, bersyukur berarti memanfaatkan segenap kemampuan secara maksitnal dan positif balk untuk pribadi maupun ma syarakat. Dan orang yang memiliki kemampuan untuk mengharmonikan kedua unsur tersebut — tafakkur dan tasyakkur disebut ulul albab. Dalam konteks yang lain, al-Qur'an juga menginstruksikan untuk dapat mengharmonikan tugas--tugas sebagai abdullah dan khalifah. Sebagai abdullah, manusia harus tunduk, patuh, dan pasrah kepada Tuhan, tetapi, sebagai kbahlah, manusia harus kreatif clan inovatif. Jika disinergikan, maka yang diharapkan adalah manusia yang kreatif dan inovatif, yang dilandasi dengan ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan semata-mata kepada Tuhan. Sikap inipun sesungguhnva adalah perilaku dari ulul albab.

(T lul albab inilah yang menjadi orientasi akhir dari setiap ikhtiar pemberdavaan manusia, yaitu seseorang yang dengan fikir dan dzikirnya, kreativitas dan ketundukannya mampu melahirkan gaga sarigagasan konstruktif bagi peradaban ummat manusia. Karena itu paradigma supermatif perlu direkonstruksi untuk menghasilkan pemahaman yang integralistik. Karena sejatinya suatu sistem

keilmuan itu harus mampu mengharmonikan semua potensi yang dimiliki manusia. Namun perlu diketahui, bahwa ilmu tidaklah bebas nilai melainkan bebas untuk dinilai, sehingga is akan tetap memiliki elan vital dan relevan dengan kebutuhan dan perubahan zaman. B. IAIN ke UIN: Integrasi dan Koherensi Ilmu Dari prototype ului albab itulah, sesungguhnya reintegrasi dan koherensi ilmu dapat direkonstruksi. Dalam konteks UIN, sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional diharapkan juga akan

58

Pandangan Keilmuan UIN

mampu mempertimbangkan perubahan dan transisi sosial, ekonomi, politik nasional (bukan lokal) dan global. Sehingga, diharapkan tidak saja survive tetapi juga dapat memberikan competitive advantage, serta tangguh dalam menghadari perubahan seperti apapun. Dengan melihat kondisi (yang sering diidentikkan dengan keserbaminimalan) yang nyata-nyata terjadi di IAIN, maka pesim_isme, determinasi dan kekhawatiran "banyak orang" atas akan terjadinya perubahan kelembagaan LAIN menjadi UIN sangat bisa dimengerti. Karena, begitu perubahan status itu terjadi ada sejumlah persoalan serius yang akan segera dihadapi, dari mulai persoalan strategic management sampai dengan epistemologi institusi. Pada kerangka manajemen, jangan-jangan perubahan itu tidak lebih sebagai perubahan formal, artifisial, prematur dan in efficient Sedangkan pada epistemologi institusi, UIN akan mengalami kesulitan dalam penataan kurikulum vang akan dibangun. Beban Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan kesulitan akademik pertama yang tak terhindarkan, sekaligus menunjukkan titik lemah perubahan itu.
-

Meski demikian, optimisme yang terukur dan terencana perlu dibangun, sikap pesimis dan deterministik bisa jadi merupakan "perangkap" sehingga tidak memiliki keberanian (bukan kenekatan) untuk mendapatkan peluang yang lebih baik. Secara filosofis, legitimasi keilmuan UIN dengan istilah Islamisasi bukanlah suatu kelemahan dan kekurangan, melainkan suatu bentuk koherensi antara ilmu-ilmu ke-Islaman dengan sains. Atas dasar inilah, maka orientasi dan sistem keilmuan di UIN tidak kemudian mengulangi ambivalensi dikotomis antara ilmu-ilmu tersebut. Model pengintegrasian ilmu-ilmu ke-Islaman

59 dengan sains diungkapkan oleh Imam Tolkhah (2004; 103). Pengintegrasian bukanlah sekedar proses pencampuran biasa, tetapi sebagai proses pelarutan, sebagaimana dalam diagram di bawah ini:
Ahmad Zayadi

Proses Pelarutan Proses Pencampuran A--U A--U X A = materi-materi ke-Islaman U = materi-materi sains X = hasil perpaduan A dan U, berbeda secara substantif maupun

60

Pandangan Keilmuan UIN

Formatif dengan A maupun U Y = hasil pencampuran antara A dan U, secara substantif maupun normatif tidak ada perbedaan antara A dan U semula dengan A dan U dalam Y.
Pemikiran tersebut kiranya mengandaikan suatu bentuk integrasi sejati antara ilmu-ilmu ke-Islarnan dengan rains, yang dapat mensinergikan keduanya secara fleksibel. Kerangka yang lebih operasional, diungkapkan Imam Supravogo, Rektor UIN Malang, — dalam sebuah kesempatan ngobrol dengan beliau—, yang mengilustrasikan model integrasi keiltnuan itu dengan "Pc:bon Keilmuan" yang digambarkan dengan akar yang kuat menghujarn ke bumi, batangnya menjulang ke lang,it, dahan dan rantingnya bercabang ke segala arah. Akarnva dapat berupa alQur'an, al•fdadits, ftlsafat, Bahasa, dan kewarganegaraan. Batangnya berupa alum al-Qur'an, ulum al-Hadits, Ushul Figh, Sirah Nabawivah, Emu Kalam, dan Ilmu ke-Islaman yang mendasar lainnya. Sedangkan dahan din rantingnya dapat bcrupa fakultas, jurusan-jurusan dan program:- program studi, Tntegrasi "Potion Keiltnuan" merupakan satu kesatuan yang utuh secara ketat dan melekat, sehingga akan menghasilkan buala yang segar penuh dengan aroma, yang dapat dinikmati siapa saja dan kapan saja. Dengan melihat model "pohon ke-Iirnuan" sebagairnana yang ditawarkan Imam Suprayovo, maka klasifikasi dan hierarld keilmuonriva kiranva tidak dapat terhindarkan dari istilah yang diungkapkan oieh Imam 'ain dan fardhu kifayah. Akar dan hatang adalab Ian% sedangkan dahan dan ranting adalah fardhu
kilayah,

dengan mainstream, kajian terhadap ilmu-ilrnu Jet- rdhti 'ain lebih dipersempit, disederhanakan, diperpadat balk

Ahmad Zayadi 61 alokasi waktu maupun kerangka kurikulernya. Sedangkan ilmu-ilmufardhu kz/yah hendaknva dipetluas, diperdalarn kajian yang diberikannya, sehingga dapat mengisi "ruangan kosong" bangunan keilmuan UIN. Sebab, jika tidak, kita akan terjebak pada pemahaman lama yang tr.-adisionaliscleterministik yang rnenyatakan; fardhu ain wajib bagi(-2t-r.ua rnaraisia., sedangfardhu kilavah bila salah satu dart mereka telah mengenakannya, maka yang lain gugur dari kewajiban itu. Karena itu, tugas kita adalah mendorong sebanyakbanvaknya agar manusia bersemangat mencari

Ahmad Zayadi

62

dan menunaikan kifayah itu. Dengan struktur dan semangat keilmuan tersebut, maka perubahan LAIN ke UIN akan lebih bisa menempatkan din pada posisi dan peran yang lel- ih strategis, terutama sebagai pelopor dan penggerak pencerdasan maupun ikhtiar memajukan ummat Islam. UIN dicita-citakan sebagai centre of excellent bagi pengembangan ilmu, melahirkan dan membentuk komunitas ulul albab, komunitas ilmiah religius (religious scientific communi), untuk mendukung akses tercapainya baldah thayyibah.

DAFTAR PUSTAKA
A. Malik Fadjar, 1999; Reofientasi Pendidikan Islam, Fajar Dunia, Jakarta. Ahmad Tafsir, 2003; Filsafat Ilmu, Remaja Rosdakarya, Bandung. AM Saefuddin, 1987; Desekularisasi Pemikiran, Mizan, Bandung. Ahmad Zayadi, 2003, Manusia dan Pendidikan, Pusat Studi Pesantren dan Madrasah (PSPM), Bandung. Imam Tholhah, 2004; Membuka Jendela Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta. Imam Suprayogo, 2003, Ngobrol santai tentang persiapan UIN Malang, di Puncak Bogor. Munzir Hitami, 2004, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, Infinite Press, Pekanbaru

Ahmad Zayadi

Riau. Muflih Hasbullah (ed), 2000, Gagasan dan Perdebatan Islamisasi I/mu Pengetahuan, Pustaka Cidesindo, Jakarta.

63

PEN DAPAT PARA AHLI SEKITAR INTEGRASI ILMU-ILMU AGAMA DAN ILMU UMUM
M. Subandi* A. Pendahuluan Sebagai sivitas akademika yang barn menginjak tahun ketiga turut membantu pelaksanaan salah satu program studi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, penulis barn melihat kulit bagian luar dari pelaksanaan dan nuansa hayati pola ilmiah yang tersurat dan tradisi serta ruh ilmiah IAIN Bandung yang tersirat. Untuk mempercepat mengenal orientasi ilmiah di IAIN, pada tahun kedua sejak pennlis berkhidmat di Jurusan Tadris, penulis telah mencoba melakukan pendekatan kegiatan akademik terutama dalam hal dharma penelitian dan pengabdian, dengan berkunjung dua kali ke Balitbang Depag dan Ditjen Kelembagaan Agama Islam serta Direktorat P3M Depdiknas. Adapun untuk mengenal UIN, pada bulan Mei 2004, penulis telah memprakarsai kunjungan studi ke Fakultas Sains dan Teknologi dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta yang diikuti oleh seluruh dosen Prodi. Pendidikan Biologi dan beberapa Ketua Prodi di lingkungan jurusan Tadris. Kunjungan ke Instansi hulu di Depag tersebut, bagi penulis selaku salah seorang pengasuh matakuliah "ilmu umum", cukup memberikan semangat dan prospektif. Adapun ketika berkunjung ke Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian

kepada Masyarakat (DP3M) Depdiknas dengan membawa 10 proposal dari tiga jenis penelitian dosen dan dua buah proposal pengabdian oleh mahasiswa (sesuai dengan panduan yang ditawarkan), ternyata terdapat dualisme diantara pejabat di DP3M itu. Ada pejabat yang mengakses dan ada
M. SUBANDI, Ir., Dr., MP., Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

62

Pandangan Keilmuan UIN

juga yang menutup proposal dan PTAI. Pejabat yang menolak memberikan alasan bahwa pembinaan akademik di LAIN adalah tanggung jawab Departemen Agama termasuk jurusan tadrisnya, kecuali beberapa prodi di ''IN Jakarta. Pengalaman orientasi dan perkenalan ke instansiinstansi lingkup Depag dan Depdiknas tersebut memberikan gambaran tentang struktural dan fungsional kelembagaan ilmiah di LAIN, serta kemungkinan akses atau peluang-peluang pengembangan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yang dapat diikuti oleh civitas akademika IAIN dan UIN. B. Integrasi Ilmu-Ilmu Penulis merasa tidak mampu dan tidak memiliki kompetensi untuk membicarakan permasalahan integrasi ilmu umum dengan agama. Ketidaktahuan/awamnya penulis dalam ilmu agama dan dangkalnya pengetahuan umum yang dimiliki akan menyebabkan kesalahan dalam menentukan metode analisis dan kelirunva pengambilan kesimpulan. Hanya karena gencarnya dakwah Islam menvebarkan pengetahuan agama di masyarakat telah menghasilkan masyarakat yang tidak asing dengan istilah/jargon keagamaan. Ketika penulis menjadi "santri kalong", al-ustadz yang adalah kakek sendiri, sangat petit mentransfer ilmunya, al-jurumah yang tipis itu, satu tahun tidak selesai. Akan tetapi sekarang, masyarakat dapat mempelajari kitab ilmu alat dan ilmu lainnya dengan mudah karena banyak terjemahannya. Banyak orang yang tidak pernah mengalami belajar di pesantren/ sekolah agama masih dalam membicarakan hal keagamaan, tetapi tidak berarti mereka mengetahui persis fungsi, struktur dan cabang-cabang ilmu agama yang

63 Pandangan Keilmuan UIN sebenamya. Disanalah posisi penulis yang tidak fasehat dan tidak memanfaatkan kesempatan waktunva untuk mempelajari ilmu agama secara tertib dan terstruktur. Oleh karena itu, paparan berikut, seyogianya tidak difahami sebagai tulisan seorang integrator yang ahli memadukan ilmu agama dengan ilmu umum, tetapi tidak lebih hanyalah kumpulan apa yang penulis baca dan dengar dalam kurun 3 tahun terakhir ini. Almarhum Harun Nasution dalam Kusmana dan Yudhi Munadi (2002), pernah menyebutkan bahwa yang diperlukan ummat sekarang

64

Pandangan Keilmuan UIN

bukan hanya sarjana yang mumpuni di bidang ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu umum dan teknologinya. Harus diakui, tidak banyak orang yang dapat menguasai dua-duanya secara mumpuni. Hanya orang jenius saja yang dap t melakukannya. Keinginan menyumbangkan sains-teknologi, yang sedikit saya miliki dan yang saya tekuni sejak di sekolah SLTA hingga di perguruan tinggi dan diverifikasi dengan pengalaman empiris ketika kerja di perusahaan, kepada mahasiswa perguruan tinggi Islam, mengharapkan terlahirnya institusi pendidikan yang mengintegrasikan ilmu umum dengan ilmu agama. Selama ini, di Jurusan Tadris, saling mengenal diantara dosen ilmu umum dengan dosen ilmu agama terjadi hanya sewaktu-waktu saja, yaitu pada forum ujian komprehensif mahasiswa. Diskusi singkat terjadi hanya sekedar mengisi waktu, belum terjadi pembicaraan yang intensif atau serius mengenai bagaimana mensintesiskan tesis-tesis ilmu yang ada diantara kami. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam tahun 2004 mengeluarkan kebijakan tahun 2004 yang menyatakan upaya-upaya yang hams dilakukan diantaranya adalah memperluas cakupan kajian Islam secara interdisipliner dan multidisipliner bersamasama dengan ilmu-ilmu umum non-agama, setidaknya sebagiannya atau landasan etikanya. Langkah-langkahnya meliputi: 1. Menggunakan ilmu umum/ilmu bantu yang termasuk ilmu kealaman (sains) dan produk teknologi untuk mengkaji Islam (Islam sebagai objek); 2. Menggunakan ilmu-ilmu keislaman klasik untuk menganalisis ilmu umum dan produknya. Akademisi PTAI dituntut untuk sanggup memberikan sumbangan

65 Pandangan Keilmuan UIN untuk pengembangan dan penyempurnaan disiplin ilmu-ilmu umum; 3. Menjadikan Islam sebagai landasan etika bagi semua disiplin, temtama dalam pengembangannya; 1. Menjadikan Islam atau ilmu-ilmu keislaman sebagai sumber dan landasan epistemologi dalam wujud pengembangan ilmu-ilmu keduaniaan (Islam sebagai subjek). Idealnya 'lash agama menjadi landasan dan pemicu penyusunan ilmu pengetahuan untuk menjawab atau memecahkan permasalahan

M. Subandi

66

mengenai dunia empiris. Dengan ilmu tersebut fenomena alam dapat dikontrol atau diramalkan. Pada era profesional dan spesialisasi bidang, hazanah ilmu/teknologi seseorang menjadi dipersempit atau dipertajam dengan spesialE,,asi bahkan super spesialisasi, seperti halnya pada profesi kedokteran, maka integrasi ilmu agama dengan ilmu umum tampaknya lebih mudah diformulasikan pada landasan aksiologinya, meskipun tidak menutup kemungkinan terdapat nash/ilmu agama yang justru merujuk kepada kasus yang khusus atau sangat khusus (super spesialisasi), seperti perintah pada ayat 17 QS. alGhosiah. Kenapa hewan unta yang hams diperhatikan. Unta adalah hewan vertebrata, termasuk mamalia yang adaptif di daerah padang pasir/kering (xerophitic) dengan sistem pencernaan yang berbeda dari hewan mamalia umumnya. Untuk meneliti kenapa unta tidak mengalami
dehidrasi padahal tidak makan dan tidak minum berharihari di daerah padang pasir yang tingkat

respirasinya (penguapan/ reaksi perombakan) tinggi. Penelitian tentang itu hams dilakukan oleh ahli hewan (.zoology) yang mengambil spesialisasi binatang mamalia dan hams menjadi super-spesialisasi pada sub-binatang xerophitic. Demikian juga spesialisasi di bidang teknologi, jurasan teknik elektro pada strata 1 pun telah dispesialisasikan ke konsentrasi yang lebih tajam menjadi sekurangnya 3 konsentrasi (1. Sistem Tenaga Listrik; 2. Sistem Komputer dan Informatika: 3. Sistem Isyarat dan Elektronika). Selanjutnya konsentrasi-konsentrasi tersebut disubkonsentrasikan lagi (super-spesialisasi), seperti pada konsentrasi Isvarat dan Elektronika terdapat tiga spesialisasi, yaitu : spesialisasi Elektronika, spesialisasi Kendali dan spesialisasi Telekomunikasi.

67

Pandangan Keilmuan UIN

Dengan demikian, ketika sulit mengintegrasikan pada landasan epistemologi maka sekurang-kurangnya pada landasan aksiologilah ruh Islam hams masuk, sehingga akan terbentuk ilmu ekonomi yang "tidak serakah" atau ilmu teknik yang "tidak merusak". Penemuan atau penvusunan ilmu melalui nash atau ilmu-ilmu keislaman ldasik adalah sangat mungkin, mengingat demikian sholehnya (inovatif) ulama-ulama Islam pada masa keemasan dahulu. Boleh jadi sains/teknologi mereka kita kategorikan sebagai tradisional/klasik, tetapi ternyata setelah diuji dengan teknologi modern, teknologi tradisional tersebut dapat memenuhi standar modern, paling tidak

M. Subandi

68

manfaatnya sebagai alternatif. Hal tersebut sering terjadi dalam dunia terapetik/pengobatan atau farmakologi. Ramuan atau formulasi obatobatan tradisional ternyata sering menjadi alternatif yang tidak kalah mujarab oleh obat hasil reknologi farmasi modern. Setelah diteliti secara farmakologi modern ternyata di dalam ramuan tradisional tersebut terdapat komposis zat yang penting untuk kehidupan. Dengan demikian, bentuk integrasi dapat melalui penelusuran sumber ilmu-ilmu keislaman klasik. Integrasi ilmu-ilmu tersebut akan terjadi apabila terdapat struktur atau media yang fasilitatif dan kondusif yang memungkinkan komponen yang akan berintegrasi, menyatu. Selanjutnya adanya sistem yang tepat dan berfungsi, dalam hal ini adalah adanya PBM dengan metode/pendekatan dan formulasi konten kurikulum yang mencirikan integralnya ilmu agama dan ilmu umum didukung dengan konten kokurikuler dan ekstra-kurikuler yang integrative (terbentuk struktur/ piramida ilmu pada program studi), dan yang paling penting adanya pelaku (integratoi), yaitu para staf kependidikan dan staf pendidik yang berperan aktif mengintegrasikan. Meskipun integrasi ilmu itu terjadi pada tataran peserta didik, namun para dosen pun hams memposisikan peran dan fungsinya sebagai integrator. Dosen mata k-uliah umum wajib memiliki wawasan agama yang mencukupi. Demikian juga, dosen ilmu agama wajib memiliki wawasan pengetahuan umum (sesuai jurusan) yang memadai. Pada pelaksanaannya perlu dikondisikan secara sistematis untuk meng-upgrade pengetahuan dan penghayatan ilmu-ilmu agama kepada dosen-dosen ilmu umum. Alasan suatu ilmu/studi diintegrasikan atau

69 Pandangan Keilmuan UIN dikembangkan di PTAI atau dibuka pada lembaga pendidikan tinggi, antara lain karena adanya tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yang berkaitan dengan pembangunan yang sedang berlangsung. Posisi strategis yang dimiliki IAIN/UIN adalah tingginya apresiasi masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Barat kepada IAIN Sunan Gunung Djati Bandung karena reputasi yang baik selama ini. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan akademik harus senantiasa berorientasi pada aspek aksiologis yang berdasarkan pada fungsi pragmatik ilmu bagi masyarakat. Pengembangan akademik,

M. Subandi

70

dalam hal ini integrasi ilmu-ilmu umum dan agama semata dilakukan karena tuntutan empirik-obyektif berkenaan dengan pengembangan masyarakat di mana sesuatu perguruan tinggi berdiri. Pertimbangan ini akan menentukan jenis 'disiplin ilmu umum mana yang akan dikembangkan dan diintegrasikan di LAIN/UIN Bandung yang sesuai dengan kebutuhan di masyarakat Jawa Barat. Karakteristik ekologi LAIN/UIN Bandung dalam beberapa hal berbeda dengan ekologi UIN Jakarta atau Jogyakarta. Sebagai lembaga yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan masyarakat melalui usahausaha pendidikan untuk mempersiapkan masa depan bangsa yang mampu menjawab persoalanpersoalan yang dihadapinya secara profesional, perguruan tinggi memiLiki tanggung jawab moral untuk menyajikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan tersebut. Pola-pola pendidikan dan pengajaran, arah penelitian serta orientasi pengabdiannya kepada masyarakat juga dilakukan dengan tetap mempertimbangkan relevansinya dengan tuntutan masyarakat dengan tidak mengorbankan doktrin atau konsisten pada visi yang dianut. Salah satu ciri kondisi dunia di masa depan adalah hilangnya batas-batas wilayah ekonomi antar negara (pasar bebas), masyarakat global dan teknologi tinggi dengan intrik negatif pada politik, sosial dan budaya, bahkan pada kehidupan agama. Dalam konteks globalisasi ini, LAIN/UIN dituntut bahkan ditantang keberadaannya. Mengingat visi dan misi pendidikannya, IAIN/UIN diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mampu menangkal efek negatif dari globalisasi kehidupan dan kemajuan teknologi melalui pengembangan paradigma

71 Pandangan Keilmuan UIN pendidikan nasional

yaitu: Otonomi, Akreditasi, Akuntabilitas dan Evaluasi. Untuk itu diperlukan pelaksanaan manajemen perguruan tinggi secara lebih professional. Pada tatanan praktis, proses tersebut berkaitan dengan pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung akselerasi pencapaian tujuan yang telah ditetapkannya. Karena itu, pengembangan sistem akademik dan sumber daya manusia pada bidang-bidang yang dibutuhkan, termasuk penguasaan ilmu pengetahuan umum dan teknologi, menjadi sasaran pembangunan yang tidak bisa diabaikan.

M. Subandi

72

C. Penutup Intergrasi ilmu agama dan ilmu umum merupakan sifat ajaran Islam yang tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, kesehatan jasmani dan ohani, kecukupan material dan spiritual. Mencukupi kepentingan akhirat sama pentingnya dengan mencukupi kebutuhan dunia. Cara berpikir integralistik demikian yang menjadi dasar epistemologi struktur jurusan atau fakultas. Dari segi epistemologi, ilmu pengetahuan alam (rains) adalah generalisasi dari fenomena alam yang memenuhi hukum alam. Demikian halnya dengan ilmu sosial, adalah merupakan generalisasi dari fenomena sosial yang sesuai atau memenuhi hukum sosial. Menurut Azyumardi Azra dalam Kusmana dan Yudhi Munadi (2002) ilmu agama Islam seperti Tafsir, Fiqh, Akhlaq dan sebagainya adalah merupakan teorisasi dari nash al-Qur'an dan Hadits yang diproses melalui ijtihad dengan menggunakan metode-metode tertentu. Dalam pandangan Islam, hukum alam (Natural Law) dan nash al-Qur'an adalah ayat-ayat Allah. Berbagai ilmu itu hanya dapat dibedakan dan sebutannya saja, tetapi hakikatnya adalah anugrah Allah. Itulah sebabnya ketika saintis berhasil merumuskan suatu teori, maka teori tersebut sebenarnya hanyalah merupakan temuannya, dan bukan ciptaannya. la hanya menemukan bukan menciptakan. Demikian pula seorang ulama yang mengkaji nash al-Qur'an dan Hadits kemudian mampu melahirkan produk hukum, maka produk hukumnya itu merupakan temuannya, bukan ciptaannya. Islam sebagai rohmatan lil alamin tidak akan terwujud apabila sistem perekonomian dikendalikan oleh pelaku ekonomi non-muslim yang tentu sistem

73 Pandangan Keilmuan UIN ekonominya pun tidak Islami. Demikian juga, pembangunan fisik jika masih dilakukan oleh teknokrat-teknokrat non-muslim. Dari kampus yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan muncul saintis dan teknokrat yang berjiwa dan berahlaq ulama dan ulama-ulama yang beretos saintis/teknokrat. Bukankah kondisi integral itu pernah terjadi di masa kejayaan Islam dahulu. Almarhum Harun Nasution dalam Kusmana dan Yudhi Munadi (2002), pernah menyebutkan Ibnu Rusyd adalah filsuf yang menguasai syari'ah dan sekaligus sebagai seorang dokter

74

Pandangan Keilmuan UIN

yang masyhur. Demikian juga Ibnu Sina dan AlFarabi. Kalau di waktu lampau dapat memunculkan tokoh-tokoh seperti itu, kenapa sekarang tidak/belum terjadi,

DAFTAR PUSTAKA
UIN Syarif Hidayatullah. 2004. Buletin Media Komunikasi dan Informasi Civitas Akademika. Humas UIN Jakarta. Departemen Agama RI. 2004. Kebijakan Tahun 2004 (Peningkatan Kualitas Akademik dan administrasi PTAIN). Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Jakarta. Kusmana dan Yudhi Munadi (Editor) 2002. Proses Penibahan IA/N Menjadi UIN Syarif

75

Pandangan Keilmuan UIN

Hidayatullah Jakarta, Rekaman Media Masa. UIN Jakarta Press.

EPISTEMOLOGI HADITS : A L T A K H R SEBAGAI METODE II STUDI HADITS
Endang Soetari Ad* A. Pendahuluan Hadits Nabi Muhammad SAW. adalah dasar dan pokok ajaran Islam kedua setelah al-Qur'anl, merupakan sumber panduan hidup bagi umat Islam, sebab bersamaan dengan kewajiban mentaati Allah SWT, umat Islam dituntut untuk selalu mengikuti dan mentaati Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari2. Otoritas Hadits bersumber dari pernyataan eksplisit di dalam al- Qur'an, Hadits Nabi bertolak dari kebenaran yang tersurat dan tersirat dalam al-Qur'an dan terkait dengan realitas lingkungan sosial3. Namun, berbeda dengan al-Qur'an yang diyakini kebenarannya dan diakui qath'iy wujudnya, Hadits dalam realitas historis perkembangannya tidaklah semulus al-Qur'an. Berbagai keraguan bahkan penolakan muncul seiring pertumbuhan dan 4 perkembangan Hadits tersebut. Masa pentadwinan Hadits secara resmi yang jaraknya demikian jauh dan masa Rasulullah SAW, kurang lebih seratus tahun setelah kodifikasi alQur'an, apalagi penulisan itu dilakukan pada satu kondisi yang menurut Goldziher dalam masyarakat yang belum memiliki kemampuan cukup untuk memahami dogma, memelihara ritus, dan

ENDANG SOETARI, AD, Drs., M.Si., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Al-Qur'an (Q) Surat (S) 3 Ali 'Imran, ayat (:)132, Hadits Riwayat (HR) Abu Dawud, HR AlHakim dan Abu Hurairah RA QS 53 Al-Najm : 34. QS 3 All 'Imran 164. Musthafa al-Siba'i, Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' allslami, Kairo, Dar al-Kauniyah, h 165
2 3

78

Pandangan Keilmuan U!N

mengembangkan doktrin keagamaan yang kompleks, telah menimbulkan keraguan sebagian orang terhadap keotentikan Hadits. Musibah dalam sejarah periwayatan Hadits dengan terjadinya pemalsuan Hadits dan memben(*akriva jumlah Hadits pada setiap generasi menambah keraguan orang terhadap Hadits, yang memuncak ketika dengan sporadis muncul orang yang mengingkari Hadits yang dikenal dengan golongan inkar al -Sunnab 5 Umat Islam berusaha membela Hadits dan melalui perjuangan para Muhadditsin berhasil memelihara Hadits dan mengantarkannya generasi demi generasi untuk diestafetkan bagi amaliah svari'at Islam sepanjang zaman. Kendati demikian, problematika di atas mengisvaratkan bahwa umat Islam harus berhati-hati dalam menerima Hadits dan menggunakan metode yang tepat dalam memilah dan mcmilih Hadits bagi pengamalannya6.
.

Tuntutan dan keharusan tersebut terkait dengan otentisitas dan validitas Hadits dalam perspektif keilmuan dan reliabilitasnya dalam tataran praktis, baik dalam studi pemahamannya maupun tatbbiq implementasinya. Otentisitas Hadits dipelajari secara konseptual dengan mengkaji esensi Hadits, baik dalam makna teoritiknya maupun dalam realitas ostensif dan unsurunsurnya (ishthilahan, dilalatan, arkanan). Sedangkan validitas dan reliabilitas Hadits diketahui dengan ilmu dirayab yang mengkaji kehujjahan Hadits melalui kaidah tashhih dan ta'amul. Dalam akselerasi studi Hadits kontemporer, metode takhnj dipandang memadai untuk digunakan secara komprehensif untuk mengkaji otentisitas, validitas dan reliabilitas Hadits dalam proses pembelajaran, pemahaman, pengamalan, dan pengembangan Hadits sebagai dasar

79

B. Esensi Hadits Secara teoritik difahami bahwa Hadits adalah "setiap yang idhafah
5

Pandangan Keilmuan U!N

Ignaz Goldziher, An Introduction to Islamic Theology and Law, Jakarta, INIS, 1991, h 35. Mahmud Abu Rayah, Adhwa"ala al-Sunnah alMuhammadiyah, Mesir, Dar al Ma'arif, 1957, h 119. Muhammad Musthafa al-A'zhami, Studies in Early Hadith Literature, Beirut, Maktab Islami, 1968, h 9-12. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, al-Sunnah Qabla al-Tadwin, Kairo, Maktabah Wahbah, h 501515. Hasbi Ash-Shiddiegy, TM, Pokok-Pokok Dirayah Hadits, Jakarta, Bulan Bintang. 1967, h 58. Waciar Ahmed Hualini, Sistem Pembinaan Masyarakat Islam, terjemah Anas Mahyudin, Bandung,
6

Pustaka Salman, 1983, h 63.

80 Pandangan Keilmuan U!N kepada Nabi Muhammad SAW, berupa perkataan, perbuatan, dan sebagainya".7 Dan segi jami' mani'-nya, ta'rif tersebut tidak jami', sebab dalam pembahasan ilmu Hadits, yang idhafah kepada selain Nabi pun, yakni kepada shahaba. tabi'in, bahkan yang idhafah kepada Allah SWT yang bukan al-Qur'an disebut Hadits. Hanya saja namanya berbeda, yang idhafah kepada Nabi disebut Hadits Ma01', kepada shahabat Hadzift Mauquf; kepada tabi'in Hadits Maqthu', dan yang idhafah kepada Allah SWT yang bukan al-Qur'an, disebut Hadits Quds?. Yang mudhaf kepada Nabi sebagai yang dideskripsi dengan "au nahwaha" (dan sebagainya) selain perkataan, perbuatan, dan taqrir, adalah sifat, keadaan, akhlaq, pen hidup, sirah, silsilah, bahkan himmah, keseluruhannya baik sebelum diangkat jadi rasul atau sesudahnya9.
Esensi dan hakikat Hadits tidak bisa difahami hanya dengan ta'rif terminologis, namun mesti diketahui secara nyata dengan ta'rif penunjukkan atau ostensif. Yang dimaksud dengan Hadits secara adalah semua Hadits yang termaktub pada kitab Hadits, yakni diwan hasil dari proses riwayah dan tadwin yang ditekuni oleh para Muhadditsin sampai abad keempat dan kelima Hijriah. Kitab-kitab tersebut adalah kitab Mushannaf yang ditadwin awal abad kedua Hijriah yakni kitab Al-Muwatha' susunan Malik. Kitab-kitab kedua adalah kitab Musnad yang disusun pertengahan abad dua sampai awal abad tiga Hijriah dan selanjutnya, yakni Musnad: Hanafi, Syafi'i, Ahmad, Ya'qub, 'Ubaidillah, Khumaidi, Musaddad, dan A1-Thayalisi. Kitab jenis ketiga adalah kitab Sunan yang disusun pada abad ketiga, empat, dan lima Hijriah, yakni Sunan : Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibn Majah, Darimi, Dailami, Daraquthni, dan Baihaqi. Adapun jenis keempat adalah kitab Shahih

yang disusun abad ketiga dan empat Hijriah, yakni Shahih : Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimah, Ibn jarud, Abu 'Awanah, dan Mustadrak Hakim10.
7

81

Pandangan Keilmuan U!N

Mahmud a!-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadits, Thaba'ah Tsaniyah Mashalahah, 1978, h

14.

Fatkhurrahman, Ikhtisar Mushthalah Hadits, Bandung, AI-Ma'arif, 1991, h 6. Muh. 'Ajjaj alKhathib, Ushul al-Hadits 'Ulumuhu wa Musthalahuhu, Dar at Fikr, 1975, h 17 Hasbi Ash Shiddiegy, TM, Sejarah dan Pengantar llmu Hadits, Jakarta, Bulan Bintang, 1974, h 23. Ibid, h 69-126. Muhammad 'Abd al-'Aziz al-Khuli, Tarikh Funun al-Hadits, Kairo, Mathba'ah al-Istiqamah, h 33-147.
8 9 10

Endang Soetari Ad.

82

Melalui periwayatan, Hadits Nabi Muhammad SAW yang diterima (nag/ 1 tabammul) shahabat dengan mendengar apa yang disabdakan dan melihat perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW, kemudian dipeliharg (dhabth) dalam hafaian, amalan, dan tulisan, untuk kemudian disampaikan (altabrir/ al-ada) kepada shahabat yang lain, atau kepada tabi'in (generasi muslim yang bertemu shahabat dan tidak bertemu Nabi SAW), selanjutnya mengestafetkan kepada tabi' altabi'in melalui proses tahammul wa al-ada, sejak thabagah ini riwavat diisi dengan tadwin resm.i sampai terkoleksinya Hadits pada kitab-kitab Hadits di aims. Melalui teori sistem dari riwayah, maka esensi Hadits difahami dari unsur-unsurnya, yakni rawi, sanad, dan matan. Rawi adalah orang yang meriwayatkan Hadits, yakni yang menerima, memelihara, dan rnenyampaikan Hadits, mulai dari rawi, shahabat, tabi'in, dan selanjutnya sampai rawi terakhir yakni mudawin yang mengkodifikasikan Hadits tersebut. Sanad adalah sandaran Hadits atau sumber pemberitaan (referensi/marvii) Hadits, vakni keseluruhan rawi yang meriwayatkan Hadits tersebut yang dilacak (isnad) mulai dari mudawin, gurunya, gurunya, dan begitu selanjutnya sampai rawi yang pertama kali menerima Hadits dari Nabi Muhammad SAW (asal sanad). Sedangkan matan adalah redaksi (lafazh/teks) Hadits". Ketiga unsur rawi, sanad, dan matan tersebut merupakan arkan yang menunjukkan eksistensi Hadits, dan keseluruhan Hadits pada kitab Hadits tersurat lengkap meliputi unsur-unsur tersebut, dan dinamakan al-masbadir al-asbliyab. Hal ini berbeda dengan al-Qur'an, rukunnya hanya satu, yakni teks atau ayat saja, sebab, mushhaf al- Qur'an sudah dikodifikasi secara tuntas pada masa Rasulullah SAW, sedangkan kitab Hadits tertua ditadwin pada abad kedua

83

Hijriah, seratus tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Jadi kalau matan Hadits yang dikoleksi dalam kitab Hadits tidak disertai rawi dan sanad yang menjadi sumber pemberitaannya, tidak memenuhi unsur/rukun keberadaan Hadits, sebab mudawin tidak bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Dan uraian tentang esensi Hadits, kita dapat mengetahui otentik
11

Pandangan Keilmuan U!N

Fatkhurrahman, op.cit., h 23.

Endang Soetari Ad.

84

tidaknya suatu Hadits, yang ditentukan oleh keberadaan Hadits tersebut pada kitab-kitab Hadits (Al-Mashadir al-Ash4ah), baik kitab Musbannaj; Musnad, Sunan, dan Shahih yang mengkoleksi Hadits lengkap meliputi rawi, sanad dan matan-nya.

C. Kehujjahan Hadits Kehujjahan Hadits adalah kapasitas sebagai manhaj atau panduan amaliah ajaran Islam, sebagai bayan terhadap al-Qur'an dan sebagai dalil yang diistinbathi. Kehujjahan Hadits ditentukan oleh kapasitas kualitasnya dan oleh kapasitas ta'amul/ tathbiq-nya. Kapasitas kualitas dan ta'ammul Hadits ditentukan dengan kaidah Dirayah sebagai pendamping Emu Riwayah12. Berdasarkan kaidah Dirayah, kualitas Hadits terbagi pada maqbuldan mardud. Maqbul artinya diterima sebagai *fah, sedangkan mardud artinya ditolak sebagai hujjah. Sebutan Hadits yang maqbul terdiri dari Hadits Shahih dan Hasan, sedangkan yang mardud disebut Hadits DhaV.
Kaidah keshahihan Hadits adalah rawi yang 'adil dan tam dhabth, sanad yang muttashil, matan yang mau', tidak ada 'illat, dan tidak janggal. Rawi yang 'adil adalah rawi yang taqwa dan muru'ah. Rawi yang tam dhabth yakni sempurna keterpeliharaan shua'ur dan kitabnya, dalam anti kuat daya hafal, daya ingat, dan daya fahamnya, serta tertib dalam memelihara catatan dan kitabnya. Sanad yang muttashil adalah sanad yang bersarnbung yakni rawi murid bertemu (liqa) dengan rawi guru karena hidup sezaman, setempat, dan seprofesi. Matan yang maOit artinya yang idhafah kepada Nabi Muhammad SAW, tidak ber'illat artinya tidak cacat karena sisipan dan perubahan, tidak gack atau janggal artinya tidak bertentangan dengan al-Qur'an dan akal sehat. Hadits Hasan kriterianya sama dengan Hadits

Shahih, kecuali tentang kedhabithan rawi-nya. Untuk Hadits Shahih dipersyaratkan rawwi yang tam dhabth, sedangkan Hadits Hasan dipersyaratkan qalil dhabth, artinva agak dhabth, yang biasanya diukur oleh kapasitas daya hafalnya.

85

Pandangan Keilmuan U!N

Hadits Dhaiif adalah Hadits yang tidak terpenuhi satu syarat atau lebih dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hasan.
Mahmud al-Thahhan, op. cit., h 158.

86 Dalam hal ini rawi-nya tidak 'add atau tidak dhabth, sanad-nya tidak muttashil, matan-nya tidak terdapat Vlat, dan janggal. Rawl yang tidak 'adz./ dan dhabth meliputi rawi yang mendustakan Nabi Muhammad SAW (Maudhu), rawi pendusta (Matruk), raw:* fasiq dan lengah hafalan (Munkar), waham, yak dan ragu-ragu menyelisihi riwayat kepercayaan dengan sisipan (Mudraj), memutarbalik (Maglub), menukar rawi (Mudhtharib), mengubah syakal Muharrat), mengubah titik Mushahhal), rawi majhul tidak dikenal (Mubham), rawi bid'ah (Mardud), rawi yang tidak bail( hafalan sering beda (3-jad. dan karena tua atau sakit (Mukhtalith). Hadits Dharif karena sanad-nya tidak muttashil yakni munfashil karena terputus pada rawi pertama (1.1urval), guru mudawin (Mu'allaq), satu rawi sembarang Munqathi'), dan dua rawi berturutturut (Mu'dhal). Sedangkan Hadits Dhdif yang matannya tidak marfu' (idhafah pada Nabi Muhammad SAW) adalah yang matannya idhafah kepada shahabat (Mauqup dan pada tabi'in Magthur)13
Endang Soetari Ad.
, .

Hadits Shahih dengan kriteria tersebut dinamai Hadits Shahih Lickatihi, begitu juga Hadits Hasan dalam kriteria tersebut dinamai Hadits Hasan Selain yang lickatihi terdapat Hadits Shahih Li,ighairzhi dan Hadits Hasan Lighairihi. Hadits Shahih Lighairihi adalah Hadits Hasan yang dikuatkan oleh muttabi' atau yahid. Muttabi' adalah sanad lain atau sanad yang lebih dari satu alur untuk suatu Hadits. Syahid adalah matan yang lebih dari satu untuk suatu materi yang sauna. Hadits Hasan Lighairihi adalah Hadits Dhay yang dikuatkan oleh muttabi' atau syahid, sepanjang dha'ifnya tidak termasuk Hadits Maudhu' , Matruk, dan Munkar14
.

Dari kaidah tersebut difahami, bahwa bisa terjadi kenaikan kualitas Hadits dari Hasan menjadi Shahih dan dari Dhay menjadi Hasan, karena ada

87

penguat muttabi' dan syahid. Hadits DhaY dikuatkan oleh Hadits DhaY keduanya menjadi Hasan Lighazrihz Hadits Dha'if dikuatkan oleh Hadits Hasan, yang Dha'zi menjadi Hasan
,

Pandangan Keilmuan U!N

yang Hasan tetap Hasan. Hadits DhaY dikuatkan oleh Hadits Shahih, yang Shahih tetap Shahih, yang Dhdif hanva dapat menjadi Hasan Lighairzhi. Perlu difahami, bahwa kualitas maqbul dan mardud dalam
13

Fatkhurahman, op. cit., h 196. Hasbi Ash-Shiddiegy,

Dirayah, op. cit., h 60. Fatkhurahman, op. cit., h 114.
14

88 klasifikasi Shahih, Hasan, dan Dha`if; menurut konvensi Muhadditsin diberlakukan terhadap Hadits dalam kualifikasi Hadits Ahad dan tidak diterapkan bagi Hadits Mutawatir. Hadits Mutawatir sebagai Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang banyak yang setiap thabaqah-nya minimal empat orang (Al-Thiby) yang tidak terkesan dusta dan beritanya mahsus (inderawi) mempunyai derajat yang qath'i, baik wurud maupun dalalahnya, sehingga setara dengan al-Qur'an. Sedangkan Hadits Ahad yang jumlah rawi setiap thabaqah-nya tidak banyak, yakni t ig a (Mayhur), d ua da n s a t u (Gharib) ba ik wurud m a up un dalalah-nya bersifat .zhanny. Sayang, Hadits Mutawatir dengan syarat mahsus dan rawi empat orang setiap thabaqab, sulit ditemukan. Yang ada terbatas pada Hadits Mutawatir yang jumlah empat rawi-nya hanya pada satu atau dua thabaqah, atau jumlah banyaknya bukan bilangan rawi pada sand almashadir al-ashliyah, namun berdasarkan qarinah dan informasi riwayah. Setelah diketahui maqbul mardud-nya masih hams diterapkan kaidah ta'ammul (tathbiq). Sebab Hadits Maqbul bisa ma'mul bih dan bisa ghair ma'mul bib, yang ma'mul bib bisa dipakai, yang ghair ma'mul bib, walau maqbul, tidak bisa dipakai. Hadits maqbul ma'mul bib adalah Hadits yang Muhkam (jelas dan tegas lafazh dan ma'nanya), Hadits Mukhtalif (Hadits Maqbul yang tanakud atau ta'arudh yang dapat dijamaYdikompromikan), Hadits Rajib (yang lebih unggul), dan Hadits Nasikh (yang wurud belakangan). Sedangkan Hadits Maqbul ghair ma'mul bib adalah Hadits Mutagabih (tidak jelas dan tegas lafazh dan ma'nanya), Hadits MagUh (tidak lebih unggul), Hadits Mansukh (wurud duluan), dan Hadits Mutawaqqaffih (Hadits tanakud/ ta'arudh yang tidak bisa dijama', ditarjih, dan dinasakh)15.
Endang Soetari Ad.

Bila kita mendapatkan Hadits Maqbul, Shahih, atau Hasan, dan ternyata hanya ada satu, Ma'mul tidaknya ditentukan apakah muhkam (lafazh dan ma'nanya jelas

89

tegas) atau Mutayabih (lafazh dan ma'nanya tidak jelas). Namun bila ternyata ada Hadits lain tentang tema yang sama yang Maqbul namun isinya tanakud (berbeda) bahkan ta'arudh (bertentangan) maka ditempuh empat jalan/tharigah. Tharigah pertama
15

Pandangan Keilmuan U!N

Ibid., h 126.

90 adalah tharigah jama', yakni mengkompromikan untuk pengamalan keduanya dari segi waktu, orang, dan cara pengamalan. Bila bisa dikompromikan maka kedua-duanya diamalkan, dan disebut Hadits Mukhtalif. Thariqah kedua adalah tharigah tagib, yakni mencari Hadits yang lebih kuat/unggul diantara dua Hadits Maqbul tersebut, baik dari segi rawi, sanad, atau matan, diluar kriteria rawi 'adil dan dhabith, sanad muttashil dan matan yang mau', tidak ber'illat, dan tidak janggal. Bila diantara dua Hadits Magbul ada yang lebih unggul, seperti antara rawi shahabat besar dengan shahabat kecil, sanad ghair mu'an'an vs mu'an'an, matan mutsbit vs nafi', maka yang lebih unggul disebut Rajih diamalkan dan yang satunya Mag .uh tidak diamalkan. Thariqah ketzga adalah thariqah nasakh berdasarkan waktu wurud-nya Hadits. Hadits yang wurud belakangan diamalkan disebut Nasikh sedangkan yang wurud duluan tidak diamalkan disebut Mansukh. Thariqah keempat adalah tharigab tawaquf yakni apabila tidak bisa dijama', ditarjih dan dinasakh maka ditawaqufkan dan tidak diamalkan, disebut Hadits Mutawaqqaffih.
Endang Soetari Ad.

Dan uraian tersebut diketahui bahwa validitas Hadits ditentukan oleh kualitasnya atas dasar rawi yang 'adil dan dhabth, sanad muttashil dan matan yang mau', tidak ada 'illat dan tidak janggal. Sedangkan reliabilitasnya ditentukan oleh kapasitas implementasi/ta'amulnya yang memperhatikan kejelasan lafazh dan ma'na, persesuaian dalil dalam waktu, orang, dan cara pengamalan, dari aspek keunggulan, dan waktu/konteks wurudnya Hadits.

D. Metode Takhrij Secara etimologis al-Takhrij adalah al-istinbath (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti), dan al-taujih (menerangkan)16 . Sepanjang masa perkembangan

Hadits telah dilakukan Takhrij oleh para Muhadditsin dalam konotasi kegiatan yang berbeda-beda : 1. Dalam anti al-ikhraj yang semaksud dengan alriwayah, yakni proses penerimaan, pemeliharaan, dan penyampaian Hadits, sampai ditadwin dalam kitab Hadits. 2. Dalam anti al-istikhraj yang semaksud dengan penukilan atau
Mahmud al-Thahhan, Ushul Al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, Kairo, Dar al-Kutub alSalafiyah, h 9. Abu Muhammad 'Abd al-Mandi ibn 'Abd al-Qadr ibn 'Abd al-Hadi, Thuruqu Takhrij Hadits Rasul Allah. Dar al-l'tisham, h 2. Hamzah 'Abd Allah al-Malibari & Al-'Ukailah, Kaifa Nudarrisu "llm Takhrij al- Hadits, Dar al-Razy, Amman, Yordan, 1998, h 27.
16

91

Pandangan Keilmuan U!N

92 pengutipan Hadits dari suatu kitab dipindahkan dan dihimpun dalam kitab lain. Takhrz/ dalam cara ini antara lain dilakukan oleh para Muhadditsin mutaakhirin yang menghimpun Hadits dalam tema tertentu yang dikutip dari kitab-kitab Hadits, seperti kitab Riyadh al-Shalihin oleh Al-Nawawi, kitab Bulugh al-Maram oleh Al`Asqalani, kitab AlLt./11u' wa al-Magan oleh Fu'ad 'Abd al-Baqi. Kitab Takhrij juga mengutip dan menghimpun HaditsHadits dari kitab tafsir dan lainnya.
Endang Soetari Ad.

3. Dalam arti al-dilalab, yakni penunjukan atau refering suatu Hadits kepada kitab Hadits alMashadir al-Ashliyah dengan pembahasan 7 seperlunyal Dan konotasi Takhrzj pada makna al-dilalah dikembangkan alTakhrij sebagai suatu metode studi Hadits yang jelas esensinya, tekniktekniknya, dan proses kegiatannya atau langkah-langkahnya. Menggunakan ta'rif yang dirumuskan oleh Mahmud al-Thahhan, al-Takhrij adalah "penunjukan Hadits pada tempatnya dalam kitab alMashadir alAshliyah yang mengkoleksinya lengkap dengan sanadnya, kemudian menerangkan kualitas dan pensyarahannya sesuai dengan kebutuhan"' 8 Berdasarkan tairif tersebut maka Takhtij meliputi tiga teknik lengkap dengan kegiatan dan langkah-langkahnya sebagai berikut 1. Al-Tautsig, al-Naql, dan al-Akhrk yakni penelusuran, penukilan, dan pengutipan Hadits dari al-mashadir baik dari kitab Mushannaf; kitab Musnad, Sunan, atau Shahih, dan lainlain, kemudian dihimpun lengkap dengan matan, sanad, dan rawi-nya. Untuk itu dilakukan cara-cara
. .

a. Bila diketahui nama shahabat sebagai raw' yang meriwayatkan pertama kali yang tercantum pada Hadits yang akan ditakhrij, maka

93

Pandangan Keilmuan U!N

penelusuran dan penukilan Hadits menggunakan kitab Musnad, kitab Mu jam, dan kitab Athtraf Kitab Musnad adalah kitab yang disusun berdasarkan urutan nama shahabat. Kitab Mu'jam adalah kitab yang disusun menurut nama shahabat, guru, negeri, dan lainnya yang disusun secara alfabetis, seperti Al-Mu'jam al-Kabir, Al-Mu'jam alAusath, Al-Mu jam al-Shagir
17

Ibid., h 28.

18

Ibid., h 29.

94 (Al-Thabrani),?jam al-Shahabah (Al-Hamdani), dan Mu jam al-Shahabah (Abu Ya'la). Kitab Athtraf adalah kitab yang memuat sebagian matan dengan sistematika mengikuti nama shahabat secara alfabetis, seperti Athraf alShahihain (AlDimasyqi, Al-Wasithi), Al-Asyraf `ala Ma'rifat al-Athraf (Ibn 'Asakir), Tuhfah alAgre0 Mairffah al-Athraf (Al-Mazi). b. Bila diketahui lafazh awal matan Hadits maka pencarian Hadits menggunakan kitab Hadits yang menghimpun Hadits-Hadits populer di masyarakat seperti kitab Al-Tadzkirah fi al-Ahadits alMugtahirah (AlZarkasyi), Al-Durar al-Muntatsirah fi al-Ahadits alMusytaharah (Al-Suyuthi), al-Mansurah fi al-Ahadits alMugtahirah (A1-`As9alani), al-Magashid al-Hasanah fi Bayan Katsir min al-Ahadits Musytahirah 'ala al-Alsinah (Al-Sakhawi). Selain itu digunakan pula kitab yang disusun secara alfabetis seperti Jam? al-Shaghir min Hadits al-Basyir al-Nadzir (al-Suyuthi), dan kitab kunci (Miftah) atau indeks kamus (Fahras) seperti Miftah al- S hahihain (Al-Tauqadi), Fahras li Ahadits Shahih Muslim, Fahras Tartib Ahadits Sunan Ibn Majah, Miftah li Ahadits 11/1uwatha' Malik (Fuad 'Abd al-Baqi)
Endang Soetari Ad.

c. Bila diketahui salah satu lafazh Hadits, maka digunakan kitab petunjuk Al-Mu jam al-Mufahras li Alfah al-Hadits al-Nabawi (Aj Wensinck dan Fuad `Abd al-Bagi). d. Bila diketahui tema (maudhu') Hadits, maka digunakan kitab Mtjtah Kunu.z al-Sunnah (AJ Wensick dan Fu'ad 'Abd al-Baqi), atau langsung mencari pada kitab-kitab Mushannaf yang disusun berdasarkan babbab maudhu' dengan menelaahfahrasat-nya. e. Bila diketahui keadaan Hadits, baik pada sanad atau pada matan, sehingga kita dapat mengetahui kualifikasi Hadits tersebut, apakah Hadits Maudhu', Hadits Mursal, Hadits Qudsi, Hadits ber'illat dan maka kita dapat mencarinya pada

95

kumpulan Hadits-Hadits tersebut, sebab sudah ada kitabnva". f. Dewasa ini dapat melakukan penelusuran Hadits melalui fasilitas CD komputer, sebab telah dihimpun Hadits dalam CD meliputi 9 kitab Hadits (Kutub Tis'ah).
19

Pandangan Keilmuan U!N

Ibid.

Endang Soetari Ad.

96

Dengan fasilitas fungsi pencarian ffind) dan mengakses fungsi kontrol dari program komputer dapat melakukan Takhrij tautsig berdasar lafazh matan, rovi, atau sanad. dan I'tibar Tash-hih adalah menentukan kualitas Hadits dengan menilai rawi, sanad, dan matan menurut kriteria keshahihan dengan menggunakan kaidah ilmu Dirayah. Hadits-Hadits yang telah terhimpun dari basil penelusuran dibuat diagramnya berdasarkan alur dan sanad periwayatannya. Kemudian dinilai 'add dan dhabith-nya rawi berdasarkan kaidah 'ilmu Rija/ dan Jarh wa Ta'dil atau dapat menggunakan kitab himpunan para rawi yang lengkap dengan klasifikasinya, seperti Tahckib al-Tahckib (Al'Asqalani). Muttashilnva sanad dinilai dengan 7/mu Rijal, Tarikh Ruwah, dan Thabagah sehingga diketahui pertalian antara rawi murid dan. rawi guru yang tertera pada sanad. Idhafah-nya matan mudah diketahui dengan melihat lafazh pengantar matan. Adapun tentang 'illat dan iyaknva dianalisis dengan menggunakan `ilmu la/ all - fadits,
Ma' an al-Hadits, Gharib al-Hadits, Fan al-Mubhamat, Tash-hil Iva Tahrif,Nasikh Mansukh, dan lain lain.
-

Untuk melengkapi, pembanding atau substitusi dari Tmly digunakanI' tibar, dalam makna penentuan kualitas Hadits atas dasar petunjuk (yarinah), bail( I'tibar Diwan,I'tibar Syarah atau tibar Fan.I'tibar Diwan adalah menentukan kualitas Hadits atas dasar petunjuk (gafinal) dari jenis kitabnya, sebab menurut Muhadditsin jenis kitab dapat menentukan kualitas Haditsnya. Kitab Shahih Haditsnya shahih, kitab tersebut dinamai Ahjami'al - S habih, setidak-tidaknya shahih menurut mudawinnva. Kitab Sunan Haditsnya mungkin shahih mungkin hasan, mungkin namun dha'ifnya tidak sampai maudhu', matruk, dan munkar. Sedangkan kitab Musnad dan Mushannaf

97

Pandangan Keilmuan U!N

Haditsnya mungkin shahih, hasan, atau dha' if, bahkan bisa maudhu', matruk, dan munkar. Syarah adalah menentukan kualitas Hadits atas dasar petunjuk dari penjelasan kitab iyarah, sebab semua kitab Hadits ada syarahnya, antara lain menjelaskan tentang kualitas Haditsnya. I'tibar Fan adalah menentukan kualitas Hadits dari penjelasan kitab ilmu (Tauhid, Fiqh, Tasawuf) yang menggunakan Hadits sebagai dalil,

Endang Soetari Ad.

98

apalagi kalau yang bersifat komprehensif (muqaranah) seperti kitab Bidayah al-Mujtahid dan Mackahib al-Arba'ah20. 3. Al- Ba.hts dan Syarah Kegiatan ini merupaHn pembahasan dan pensyarahan untuk memahami kandungan ma'na, kapasitas ta'amul implementasinva, asbab wurud (konteks), peran bayan terhadap al-Qur'an, istinbath ahkam, ikhtilaf dan problematika pemahaman dan pengamalannva, baik menurut pensyarah sencliri maupun sepanjang yang telah diungkapkan para ulama terdahulu21 . Dengan uraian di atas, secara konsepsional saya mengembangkan metode Takhrij tidak hanya bertumpu pada proses Takhrij dalam kegiatan Tautsiq (penelusuran dan pencarian Hadits), namun dilanjutkan dengan kegiatan Tash bib dan Syarah. Inovasi tersebut. sebenarnya, sebagai perwujudan dari ta'rif Takhrij menurut AlThahhan yang menggarisbawahi proses al-dilalah (tautsiq) dan bayan martabat al-Hadits inda al Haffah (tash-hih dan syarah). Prosesnya, juga sebenarnya, meliputi yang dideskripsikan oleh Al-Thahhan dalam kitab Ushul al-Takhrij wa Dirasah al-Asanid, bab Ushul alTakhrzi membahas tentang tautsiq, sedangkan bab Dirasah al-Asanid menerangkan tentang Tash-hih dan Syarah. Dengan Tautsiq kita menjadi akrab dengan kitab Hadits dalam kategori al-Mashadir al-Ashliyah, dan mengusahakan penyediaannya di lembaga-lembaga keagamaan, seperti masjid, organisasi dan perguruan Islam. Dengan Tash-hih kita terdorong untuk mendalami kaidahkaidah Dirayah, baik rawi, sanad atau matan, seperti yang telah dibahas dalam 'Ulum al-Hadits. Untuk praktisnya saat ini kita bisa menggunakan kitab himpunan rawi lengkap dengan klasifikasinya seperti kitab Tahakib al Tandtizb.

Dengan Syarah kita mengembangkan pembahasan Hadits dengan menggunakan Naqd alHadits (kritik Hadits) yang bersifat dakhili (matan) dan khariji (rawi dan sanad) dengan kritik tasyaddud (keras), tawassuth (midle) dan tasahul (ringan) dan melakukan Syarah Tahlili (analitik musnad kumulatif) dan Maudhu'i (tematik). Dalam proses studi Hadits di tingkat Perguruan Tinggi, metode Takhrij berkembang setelah dibukanya Program Pascasarjana, sampai
Endang Soetari Ad, Ilmu Hadits, Bandung, Amal Bakti Press, 2000, h 133. Endang Soetari Ad, Problematika Hadits, Amal Bakti Press, 2001, h 136.
20 21

99

Pandangan Keilmuan U!N

100 akhirnya menjadi materi silabi pada mata kuliah 'Ulum al-Hadits, dan menjadi mata kuliah di Program Studi Tafsir dan Hadits, bahkan menjadi konsep unggulan yang mewarnai substansi keilmuan Konsentrasi Hadits Program Magister Ilmu Agama Islam. Anatomi silabi studi Takhrij seyogyanya meliputi teori dan praktek Takhrij, antara lain esensi, histori, metode, langkah, keterampilan, dan manfaat Dalam studi 'Ulum al-Hadits seyogyanya memasukkan Takhrij dalam silabi sehingga anatominya meliputi : ta'rif, unsur, jenis, kualitas, ta'amul, takhrij, tarikh, rutbah tasyri', dan bayan. Dalam studi matan menggunakan pendekatan Takhrij, sehingga anatomi silabinya meliputi : matan dengan syahidnya, terjemah, unsur, jenis, kualitas, ta'amul, maksud, pelajaran, istinbath hukum, problematika pemahaman dan pengamalan, dan kesimpulan. Dalam penggunaan Hadits sebagai dalil yang hams diungkapkan secara tertulis atau lisan, seyogyanya menerapkan prinsip Takhrij. AIAdab fa Kitabah a/-Hadits berdasar kaidah Takhrij terbagi pada empat cara, yakni : (1) Ditulis seluruh rawi, sanad, dan matan, seperti yang dilakukan Muhadditsin pada Kitab al-Mashadir al-Ashliyah, (2) Ditulis sebagian rawi (pertama dan terakhir) sebagian sanad (pertama dan terakhir) dan semua matan, seperti yang dilakukan para Mukharrij pada Kitab Takhrij semisal Bulugh al-Maram oleh Al --`Asqalani, (3) Ditulis sebagian rawi, sebagian sand dan sebagian matan, seperti yang dilakukan untuk kitab Fan (ilmu : Tauhid, Fiqih, Tasawuf, dan lain- lain), (4) Foot note tadwin dan sebagian matan merupakan adab penulisan dan penuturan minimal, semisal "Rawahu Muslim". E. Khulashah

Endang Soetari Ad.

101 Pandangan Keilmuan U!N 1. Metode Takhrij Hadits digunakan untuk mengetahui otentisitas Hadits dengan teknik Tautsiq menelusuri Hadits pada al-Mashadir al Ashliyah, mengetahui validitas dan reliabilitas Hadits dengan Tash-hih, I'tibar, dan Syarah Hadits sehingga makin mantap pemahaman dan pengamalannya bagi pengembangan syari'ah Islam. 2. Dalam proses pembelajaran Hadits, baik mushthalah maupun materinya seyogyanya meliputi dan menggunakan metode takhrij, sehingga silabi studi Mushthalah Hadits meliputi ta'n1; unsur, kualifikasi, kualitas, ta'amul, takhnj, tagn', dan tarikh. Sedangkan

silabi studi Hadits materi meliputi teks, unsur, jenis, kualitas, ta'amul, muradif, terjemah, maksud lafazh, asbab wurud, kandungan pelajaran, istinbath ahkam, problematika pemahaman dan pengamalan, serta kesimpulan. 3. Dalam penggunaan Hadits, secara tertulis atau lisan, diusahakan menerapkan prinsip Takhrij, setidak-tidaknya memuat rujukan standar minimal yakni "Rawahu Mudawwin" untuk menjamin otentisitas dan validitas Hadits secara

INTEGRASI ILMU UMUM DENGAN ILMU AGAMA
Etin Anwar*

A. Pendahuluan Keharmonisan ilmu umum dan agama daiam dunia pendidikan di perguruan tinggi Islam merupakan tuntutan akademik dan kompetensi. Kebutuhan ini muncul seiring dengan derasnya kemajuan ilmu umum terutama dalam bidang teknik modern yang secara umum tidak dikuasai oleh Muslim, baik di perguruan tinggi umum maupun agama. Juga, kesempatan perubahan Sekolah Tingggi Agama Islam Negeri dan Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam. Memang benih-benih gagasan Islamisasi ilmu-ilmu umum telah dimulai secara intensif di belahan dunia Barat oleh pemikir Muslim sejak tahun awal 1970 oleh Ismail Faruqi dan Naquib Alatas. Namun, respon positif dari civitas academika STAIN dan LAIN lebih bergairah di era akhir 1980-an dan awal 1990-an seiring dengan tingginya dinamika wacana keislaman di Indonesia dan kembalinya mahasiswa yang belajar di luar negari (Barat). Arah mengejawantahan integrasi ilmu umum dan agama, bahkan, akhir-akhir ini semakin kencang karena dualisme sistem pendidikan sekuler dan agama dipandang tidak relevan dan bukan halangan untuk menggali dimensi keislaman dari ilmu-ilmu umum atau memadukan ilmu umum dan Islam pada level aksiologis. Mehhat pentingnya integrasi ilmu agama

dan umum, tulisan ini akan mengupas makna integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama, kerangka ilmu umum, konteks pengintegrasian ilmu umum dan agama dan landasan metodologis peintegrasian ilmuilmu agama dan umum.
• ETIN ANWAR, Dra., MA., Dr., Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. M. Dawam Rahardjo, "Strategi Islamisasi Pengetahun," dalam Gagasan dan Perdebatan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, editor Moeflich Hasbullah (Jakarta: Pustaka Sidesinsdo, 2000, xiii.

92

Pandangan Keilmuan UIN

B. Malmo. Integrasi Ilmu Umum Terhadap Agama Integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama sering digembargemborkan sebagai konsep yang tepat dalam perguruan tinggi agama.2 Namun, pengintegrasian ini secara konsep maupun operasionalnva belurn terkupas dengan jelas. Karena ketidakjelasan tersebut, ide integrasi ilmu umum terhadap agama mengundang berbagai asumsiasumsi yang pada dasarnya membicarakan: apa yang dimaksud makna integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama; pada level apakah — ontologism atau aksiologis — integrasi ilmu agama dan umum bisa dilakukan; dan apakah integrasi ilmu umum sama dengan islamisasi. Achmad Ramzy menyatakan integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama bisa dilakukan dengan mengekplorasi al-Qur'an dan hadith untuk menciptakan landasan keilmuan.3 Mekanismenya adalah dengan mengkaji nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan ilmu-ilmu umum atau persoalan-persoalan yang muncul dari persoalan budaya, politik atau ekonomi dalam rangka menciptakan ilmu yang koheren dengan ajaran agama dan memberikan alternatif kebenaran yang bukan hanya kebenaran empiris, tapi bermuara pada al-Quran dan Hadits. Dengan demikian, al-Quran dan Hadits bisa dijadikan tolak ukur untuk "menilai kebenaran dan kesalahan."4 Lain halriva dengan Machasin yang menawarkan tiga fondasi pemikiran dalam memaknai interasi ilmu agama terhadap ilmu agama: kemasukakan, filsafat keislaman dan keindonesiaan.5 Kemasukakalan erat kaitannya dengan metodologi setiap disiplin atau satu aspek keilmuan serta keterbatasan yang dimilikinya. Filosofi keislaman mengacu pada kebutuhan untuk menjabarkan al-Qur'an dan Hadits

dalam dalam rangka menciptakan kerangka keilmuan yang mengusung tugas kekhalifahan manusia dan memaknai tugas tersebut dalam kaitannya dengan kehidupan ukhrawi. Nilai-nilai keindonesian dalam integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama berarti menciptakan keilmuan yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial, ekonomi, budaya yang dihadapi Indonesia. Dengan demikian, integrasi
Achmad Ramzy Tadjoeddin, "Mengintegrasikan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Agama," Perta, vol. VII/No. 01/2004, 34 Ibid., 35. Ibid., 35. Mchasin, "Universitas Islam dan Integrasi Ilmu," Perta, vol. VII/No. 01/2004, 29-31.
2 3 5

94 Pandangan Keilmuan UIN ilmu umum terhadap ilmu agama mampu melahirkan khalifatullah yang efesien dalam memberikan solusi yang keislaman dan keindonesiaan. Kemungkinan integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama bisa diartikan sebagai islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan pengertian ini, semua elemen kaum Muslimin perlu menyamakan langkah dalam mengintegrasikan ilmu-ilmu umum dengan cara menghilangkan halhal yang tidak islami dan menginterpretasikan bahkan mengadopsi komponen keilmuan melalui paradigma yang islami dan norma-norma yang Islam ajarkan.6 Relevansi Islam terhadap nilai-nilai filosofis, metode dan tujuan masing-masing disiplin keilmuan perlu dirumuskan secara jelas. Dengan demikian, kaum cendekiawan bisa menemukan kontradiksi ilmu umum dan agama secara lugas. Kreativitas untuk mekanisme islamisasi ilmu pengetahuan sudah tentu memerlukan waktu yang lama dan menginvestasikan orang-orang pilihan dan bermutu untuk senantiasa menemukan dan menggali ilmu-ilmu umum dan membedahnva dengan visi keislaman dan keindonesiaan. Apapun manna dari integrasi ilmu umum terhadap agama, proses peng-integrasian merupakan keharusan karena (1) dikhotomi ilmu umum dan agama telah memarginalkan ilmu-ilmu agama yang notabene kajian utama pendidikan Islam mulai dari madrasah hingga perguruan tinggi; (2) inferioritas komplek dialami bukan hanya oleh lembaga dan pendanaannva, tetapi juga oleh alumni dan mahasiswa yang terkadang tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk bersaing dengan lulusan umum; (3) kajian ilmu-ilmu agama saja telah melahirkan ilmu yang kurang tanggap terhadap persoalan kekinian yang menghinggapi

95 umat Islam di lokal, regional maupun global, seperti korupsi, nepotisme, demokrasi dan isu-ise kontemporer lainnva; dan (4) adanya inferioritas methodologi ilmu agama dan kebiasaan memperlihatkan metode riset umum (Barat) sebagai pendekatan yang tepat dalam memahami teks-teks keagamaan dan situasi masyarakat Muslim. Untuk mengejawantahan integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama, saya akan terlebih membicarakan yang dimaksudkan ilmu umum.
Etin Anwar
6

Islamization of Knowledge (Virginia: The International Institute of Islamic Thought, 1989), 18.

Islamization of Knowledge Series No. 1,

96

Pandangan Keilmuan UIN

C. Kerangka Ilmu Umum Gagasan intergasi ilmu umum dan agama bukan hal yang baru di lingkungan STAIN, LAIN dan UIN. Sejak pendiriannya, pendidikan tinggi agama Islam telah memadukan ilmu umum dan agama meskipun pada level minimalis. Pada tahun tahun 1970-an, pembaharuan materi pengajaran keislaman di perguruan tinggi Islam banyak dihiasi dengan isu-isu perlunya rasionalisasi studi keislaman sebagaimana dipelopori oleh Harun Nasution dan Mukti Ali. 7 Seperampat abad kemudian, perguruan tinggi Islam nampaknya masih bergelut dengan arah dan bentuk studi keislaman karena adanya suasana vang tidak kondusif terhadap pembumian integrasi ilmu agama dan umum: "pertama, dikotomi yang berkepanjangan antara ilmu agama dan ilmu umum; kedua, keterasingan pengajaran ilmuAmu keagamaan dari realitas kemoderenan; dan ketiga, menjauhnya ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama."8 Barangkali ketiga elemen ini hanya merupakan sebagian kecil dari problematika pendidikan tinggi agama Islam di Indonesia, kenvataan lain seperti rendahnya appresiasi kalangan civitas akademika terhadap dinamika akademik; penghargaan dosen terhadap perannya sebagai pengajar dan peneliti; kesejahteraan para dosen yang kurang memadai sehingga memaksa mereka untuk memiliki dua tiga pekerjaan untuk bisa hidup layak; birokrasi yang berbelit-belit tanpa standar yang jelas; ketidakefektifan pada level administrasi dan gagap teknologi dan perpustakaan. Semua kompleksitas persoalan ini menghambat STAIN dan IAIN dalam mengejawantahan garda pendidikan mahasiswa yang berkualitas, kompetitif, dan marketable untuk lapangan kerja. Bagi para dosen, keadaan di atas menjadi penghambat produktivitas untuk melahirkan dinamika keilmuan dan penelitian yang mampu menjawab tuntutan perubahan baik pada sisi materi

97 perkuliahan, metodologi dan informasi barn melalui penerbitan jurnal yang bermutu.
Etin Anwar

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana perpaduan ilmu umum dan agama bisa direalisasikan pada level konseptual maupun operasional.
Affandi Mukhtar, Tantangan Pembaharuan Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia," Perta, vol. VII/No. 01/2004, 40. Ibid., 41.
8

98

Pandangan Keilmuan UIN

Memang integrasi kedua ilmu ini sexing disuarakan sebagai ketidakmungkinan, tetapi juga sebuah keharusan. Bahkan proses ini merupakan panggilan (calling) dalam sense etika Protestan. Dalam artian, semua kalangan Muslim baik itu perguruan tinggi Islam maupun umum memiliki kesempatan untuk mengintegrasikan ilmu umum pada level ontologis maupun aksiologis dengan nuansa Islami. Namun, harapan yang tinggi nampaknya digantungkan kepada perguruan tinggi Islam untuk menjadi key player dalam pereliasiannya karena studi keislaman menjadi barometer bagi aktualisasi Islam dalam kehidupan sehari-hari maupun intelektualitas yang notabene berbenderakan Islam. Karena Islam dipandang bukan hanya sebagai ilmu tetapi juga perbuatan, maka integrasi ilmu umum bukan hanya melahirkan pengislaman subject matter (pokok pembahasan) dari ilmu umum, tetapi juga penggalian nilai aplikasi moral yang membuat ilmu umum memiliki muatan moral yang islami. Tradisi pewarisan ilmu umum diajarkan sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan biasanya dilaksanakan di bawah kordinasi kementrian pendidikan nasional. Integrasi ilmu umum dalam dunia pendidikan nasional tak lepas dari tersedianya pendidikan rakyat atau yang lebih tinggi dari itu setelah masa penjajahan usai. Perpanjangan sistem dualisme pendidikan ini menunjukkan peninggalan penjajah yang telah mengakar sedemikian rupa. Ketika masih dalam suasana penjajahan, ilmu agama secara informal maupun formal banyak diajarkan melalui lembaga-lembaga agama seperti pesantren, madrasah, majlis taklim dan masjid-masjid. Memang setelah kemerdekaan pada level tertentu ilimu-ilmu diajarkan pada lembaga pendidikan agama mulai diniyah hingga perguruan

99 tinggi agama. Meskipun demikian, pengajaran beberapa ilmu umum yang telah diserap oleh lembaga pendidikan agama masih merupakan barang yang asing dan perlu penyesuaian. Selain itu pengajaran ilmu umum dalam lemabaga pendidikan Islam masih terkesan setengah-setengah yang bisa dilihat dari rendahnya kuantitas siswa dari lembaga pendidikan agama yang diterima di perguruan tinggi umum. Untuk itu, penting artinya untuk mempertanyakan kembali apa yang dimaksudkan ilmu umum dan bagaimana ilmu tersebut bisa diintegrasikan ke dalam ilmu agama.
Etin Anwar

100

Pandangan Keilmuan

Ilmu umum yang seringkali diagung-agungkan dalam disiplin pendidikan sekuler lahir dan besar di Barat. Ilmu-ilmu tersebut pada dasarnya mengakar pada pengalaman dan dirumuskan melalui paradigma yang memang cocok 'intuk kehidupan intelektual dan kehidupan sehari-hari mayarakat sekitarnya. Ilmu ekonomi, misalkan, lahir seiring dengan kompleksitas transaksi dalam bisnis serta implementasinya dalam pencatatan jual beli. Dalam dunia kapitaslisme, ekonomi berputar sekitar menghasilkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya tanpa hams mempertimbangkan apakah metode berbisnis telah etis atau tidak. Sama halnya dengan teknologi yang saat ini dikuasai oleh Barat. Penguasaan teknologi oleh Barat saat ini bagaikan penguasaan ilmu filsafat dan ilmu eksakta lainnya pada abad tiga belas Masehi. Saat itu ilmu sangat kental dengan budaya Islam-nya dan dalam lokalitas masyarakat Islam. Di Barat sendiri, banyak teknologi yang memang cocok untuk dimana inovasi teknologi ditemukan. Misalnya, teknologi pemanas ruangan dan air memang cocok untuk udara yang memiliki empat musim. Jelaslah ilmu umum yang akan diintegrasikan terhadap ilmu agama dalam konteks LAIN dan UIN adalah penyatuan yang ilmu umum yang dominan dalam dunia pendidikan global dengan elemen ilmu agama yang inferior. Kekhawatiran yang mendasar dari integrasi ilmu umum dan agama adalah berkurangnya proporsi pengajaran ilmu agama yang mau tak mau hams dilakukan karena perlu penyesuaian jumlah mata kuliah yang ditawarkan. Kemungkinan lainnya adalah fakultas dan jurusan agama akan berkurang dan kemudian menghilang karena mahasiswa lebih tertarik untuk mengikuti perkuliahan ilmu umum saja. Bila skenario ini yang terjadi, maka LAIN dan UIN kehilangan ciri khas sebagai pusat pengkajian dan pengajaran Islam.

101 Untuk itu perlu kejelasan ilmu umum apa yang kira-kira akan diintegrasikan terhadap ilmu agama. Walaupun bagaimana, ilmu-ilmu umum tidak lepas dari nilai-nilai yang memang tertanam dalam paradigma Barat; sementara ilmu agama berkepentingan untuk menanamkan moralitas Islam. Memang orang Islam memiliki keahlian untuk ilmu Barat tanpa hams ke Barat-baratan. Namun kenyataan menunjukkan bahwa arus globalisasi yang juga merupakan ekses dari pengkiblatan dunia Barat dalam transfer keilmuan, telah merubah
Etin Anwar

102

Pandangan Keilmuan

generasi muda kita, Muslim khususnya, yang sangat permisif dan receftif terhadap budaya popular Barat. Oleh karenanya, bila produk integrasi ilmu umum dan ilmu agama mengedepankan salah satu dan prioritas paradigma Barat dan Islam, maka ilmuilmu Islam akan terimbas oleh ilmu-ilmu Barat. Untuk itu, integrasi Amu umum terhadap ilmu agama hams bertitik tolak pada mempelajari metode dan inti pengajaran ilmu humaniora, ilmu social maupun teknik; kemudian dianalisa oleh paradigma Islam dengan cara melihat interpretasi Islam terhadap ilmu umum yang dipelajari, untuk kemudian melihat relevansinya dalam paradigma ilmu pengetahuan Islami. Namun sudah tentu ada teori-teori keilmuan umum rang tidak akan bisa dicampuri oleh rumusan islami kecuali pada tingkat penggunaannya. Misalkan rumusan teknologi mutakhir nanoteknologi yang digunakan dalam komunikasi jarak jauh clan ilmu kemiliteran hanya bisa dimaknai melalui aplikasi moralitas islam dalam penggunaannya. Bisa dikatakan integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama bisa dilakukan pada tiga tahapan. Pertama, pengislaman ilmu-ilmu umum pada level konsepsi sehingga lahir ilmu-ilmu umum yang berisi kerangka keislaman seperti ekonomi Islam, managemen Islam, psikologi Islam dan lain-lainnya. Pada level ini bisa juga dengan perpaduan mata kuliah untuk major-major umum maupun agama Kedua, adalah membandingkan ilmu-ilmu umum terhadap ilmu agama. Secara umum filsafat modern Barat tidak bisa diislamkan karena mengakar pada pengalaman personal dan interpretasi mereka mengenai kehidupan dan kepercavaan Barat. Filsafat Kant, Fiume, Marx, Hegel dan lainnva tidak bisa diislamkan, tetapi bisa dibandingkan atau dibahas melalui studi perbandingan. Hal ini beriaku juga

103 dengan pelajaran mengenai agama-agama dunia. Agama-agama dunia tidak bisa diislamkan begitu saja, karena agama dunia lahir dalam paradigma dan interpretasi yang memang berkenaan dengan kepercavaan perseorangan. Namun dimensi agama-agama bisa dibandingan dengan dimensi agama Islam. Level yang ketiga adalah islamisasi ilmu umum terutama teknologi dengan mengutamakan aplikasi moral sehingga tidak terjadi penyalahgunaan teknologi. Proses integrasi yang bertahap bukan hal yang baru karena umat Islam terdahulu telah
Etin Anwar

104

Pandangan Keilmuan

membuktikan integrasi ilmu umum dan agama telah membawa umat Islam pada masa kejayaan. D. Konteks Integrasi Ilmu Umum dan Agama Proses penintegrasian ini bukan hal yang barn dalam sejarah Islam. Pada permulaan abad sembilan beberapa Muslim memadukan ilmu umum, dalam hal ini filsafat, terhadap agama Islam. Pemaduan ini bermula ketika penerjemahan teks-teks filsafat dari bahasa Yunani kepada bahasa Arab yang dikomandoi oleh Hunayn B. Ishaq (d. 8730). Proses penerjemahan ini berhasil karena dukungan khalifah alMa'mun (813-833) yang mendirikan Bayt al -Hikmah. 9 Proses penerjemahan ini telah melahirkan para filosof yang mendunia dan membawa pada keemasan peradaban Islam. Para filosof seperti alKindi, Ibn Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rusyd dan lain-lainnva dikenal kebesarannya baik di dunia Islam maupun di Barat. Nama mereka makin banyak dikaji di dunia intelektual Barat seiring dengan berdirinya pusat-pusat studi Islam di Barat. Bahkan boleh dikatakan, semenjak Barat menguasai peradaban banyak manuscript asli mulai dari teologi, kedokteran, astronomi dan lain-lainnya di perpustakaan Barat di banding di negara Timur, seperti Indonesia dan Malaysia yang notabene penduduk mayoritasnya adalah Muslim. Yang menarik dicermati dari proses transfer keilmuan dari tradisi Yunani yang berpusat di Athena and Alexandria adalah semangat keilmuan tanpa infiltrasi budaya. Ketika kedua pusat stuudi filsafat tersebut tutup pada abad ke 5 dan 6 Masehi, para filosof yang masih memiliki komitmen terhadap warisan karya filsafat berpindah-pindah tempat sampai akhirnya pada abad sembilan masuk ke Baghdad. Transfer ini dilakukan oleh para pagan dan kalangan Kristen Nestorian di kerajaan Abasid di

105 Baghdad. ° Meskipun penerjemahan dan transfer ini melibatkan kalangan yang notabene bukan Muslim, kalangan Muslim mengadopsi filsafat sebagai upaya untuk memahami Allah dan sifat-sifatnya, dimensi manusia dan hubungan mereka kepada Tuhan dan clam sekitarnya. Para filosof Muslim memang
Etin Anwar

1

See Marshall G. S. Hodgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, vol. 1, Chicago and London: The University of Chicago Press, 1977, p. 412. Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Cambridge: Cambridge University Press, 1988, PP. 93-4.
g 10

106

Pandangan Keilmuan

menggunakan filsafat untuk memahami seluruh dimensi manusia.11 Filsafat bukan hanya diartikan sebagai upaya untuk memahami aspek metafisik, tetapi juga ilmu-ilmu alam seperti astronomi, matematika, kedokteran, dan fisika. Bahkan mereka menciptakan filsafat sebagai sebuah sistem di mana kaum Muslimin menggunakan filsafat sebagai metoda untuk rasionalisasi agama Islam.12 Di sini, boleh kita katakan, walau warisan tradisi filsafat merupakan ilmu umum dan asing bagi kaum Muslimin abad sembilan yang memiliki semangat keilmuan yang sangat tinggi dalam tradisi Hadits, Fiqh, Qur'an, Tasawuf dan cabang ilmu Islam lainnya, mereka tidak mengadopsi bahasa Yunani, nilai-nilai kemanusian ataupun agamanya. Mereka sangat kreatif dalam menemukan istilah-istilah yang sekiranva bisa sepadan dengan bahasa Yunani. Mereka memang masih menggunakan istilah atau eknikalitas yang tidak sepadan dalarn bahasa Arab.° Boleh dikatakan, integrasi filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, dan seni terhadap agama Islam memperkaya tradisi keilmuan dan mengantar Islam menjadi peradaban paling hebat di dunia pada abad dua belay Masehi. Pelajaran yang bisa nyatakan sekarang dalam setiap proses integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama sudah barang tentu akan melahirkan dinarnika pemikiran yang tidak selalu memuaskan semua kalangan Muslim. Pada sate isi, kita melihat bahwa integrasi ilmu umum terhadap ilmu agama memberikan kekayaan pandang tradisi keilmuan Islam baik itu pada sisi teologis (kalam), metafisik rnistis (tasawuj) dan ilmu hukum (usul aifigh). Di sisi lain ada ekses yang tidak semua kalangan bisa memahami dan menerima dengan baik. Misalkan, ketika Ibn Sina mengemukakan ketidakmungkinan

107 kebangkitan tubuh dan kelestarian dunia, pengetahuan Tuhan mengenai yang universal dan tertentu telah menimbulkan kontroversi yang hangat dijamannya bahkan beradab-abad sesudahnya.14 Ibn Sina bahkan telah dianggap keluar dari Islam karena pendapatnya bertentangan dengan ajaran Islam. Tantangan integrasi umum terhadap agama yang
Etin Anwar

Hodgson, The Venture of Islam, vol. 1, p. 419. Edward W. Said, Covering Islam, revised edition, New York: Vintage Books, 1997, p. 61. F. E. Peters, "The Greek and Syriac Background," in Nasr and Leaman (eds.), History of Islamic Philosophy, Part I, pp. 41-42. Lapidus, A History of Islamic Societies, p. 95.
11 12 13 14

108

Pandangan Keilmuan

terberat terletak pada kenyataan bahwa para pakar keilmuan akan diuji dalam antara pilihan keilmuan dan keimanan. Memang sangat mungkin untuk tetap membiarkan arena yang tidak cocok dengan keimanan Islam untuk berada di jalur yang di luar rel agama. Berkaca dari sejarah, pemaduan antara ilmu agama dan Islam adalah sebuah keniscayaan. Tradisi ilmu Islam pun sekarang ini telah banyak menggunakan analisis-analisis ilmu umum. Hanva saja mungkin para pakar Islam perlu menyikapi mengintegrasi keilmuan antara umum dan Islam secara serius karena; (1) ilmu-ilmu agama dan lembaga keagamaan seringkali dianggap lebih rendah disbanding ilmu umum; (2) kalangan civitas akademika sering dianggap lemah dalam metodelogi penelitian maupun training penelitian; (3) Islam yang seringkali dilihat sebagai tolak ukur moral yang ideal dalam ruang lingkup masvarakat, merupakan kajian studi di kalangan STAIN, UIN dan IAIN sehingga ada perbedaan yang mencolok antara kajian ilmu dna moralitas para civitas akademikanya; (4) harapanharapan yang terpendam dari perguruan tinggi umum agar perguruan tinggi Islam aktif dalam meintegrasikan dua keilmuan yang kacung dianggap dikotomis; dan (5) arah dan pengembangan perguruan tinggi agama menjadi UIN dimana keilmuan umum dan agama merupakan kesatuan vang saling mendukung dalam menciptakan mahasiswa yang berhati Mekkah, berotak German, Kanada, Mesir atau mana saja. Harapan-harapan menciptakan integrasi ilmu umum dan agama ini maka perlu dimulai dengan metodologi yang berlandasakan Tauhid.

E. Landasan Integrasi Ilmu Umum dan Agama 15

109 Ilmu Umurn dan ilmu agama pada dasarnya berbicara mengenai realitas yang sarna, dengan sudut pandang dan titik tolak yang berbeda. Secara gamblang ilmu umum dan agama membicarakan keterkaitan multiple realitas kehidupan manusia dan hal-hal yang berhubungan dengan manusia, baik itu alam baik vang nyata maupun yang gaib. Kesamaan realitas yang menjadi objek keilmuan umum dan Islam merupakan titik keberangkatan yang memungkinkan bagi perkembangan ilmu-ilmu tersebut menyatu dalam satu paradigma ilmu
Etin Anwar

Ada kesamaan antara diskusi al 'Alwani dengan yang dikemukaan penulis. Namun esensi dari diskusi tidak semuanya inti pemikiran al `Alwani.
15

110

Pandangan Keilmuan

umum dan agama. Dalam Islam, realitas yang berbeda-beda dirumuskan dalam satu kesatuan realitas antara yakni macrocosm (alam semesta), microcosm (manusia) dan Tuhan. Konsep yang menjadi titik tolak bagi unifikasi berbagai realitas adalah Tauhid.16 Secara gamblang memang konsep Tauhid berbicara mengenai Dzat Tuhan Satu serta sifat-sifatnya. Namun, konsep ini memperlihatkan kemampuan untuk menjadi perekat sifat-sifat yang berbeda dan terkadang bertentangan dalam satu realitas, namanya Tuhan. Sifat Rahman dan Rabin' (Pengasih dan Penyayang) meskipun bertentangan dengan karakter aljabbar (Maha Pemaksa), semua menerangkan realitas yang sama, yakni sifat Tuhan. Tuhan adalah Maha Satu dalam sifat dan karya-Nya. Betapapun perbedaan yang kita lihat dalam manusia dan alam semesta semua mengacu kepada satu realitas Pencipta. Begitu halnya kekayaan rupa manusia, perilakunya, pilihannya serta keanekaragaman bermuara pada kesatuan realitas sebagai ciptaan Tuhan. Tuhan yang Maha Sam adalah Pencipta dan Muara seluruh kehidupan di alam ini dan alam yang akan datang. Tuhan adalah Penyedia segala sesuatu, Maha Melihat, namun tidak terlihat, dan Maha Mengetahui,17 namun diketahui oleh manusia secara terbatas. Tuhan telah mempercayakan manusia dan membimbing mereka melalui wahyu yang diturunkan oleh-Nya kepada beratus ribu nabinabi dan kemudian disebarluaskan. Tuhan memberikan tanda-tanda kehadiran dan keagungan melalui ayat-ayat kauniyah yang mekanisme keteraturannya telah dirumuskan dalam sunnatullah yang telah teruji. Wahyu dan alam merupakan sumber ilmu dan kebijakan; sehingga, kalau manusia membaca, memahami dan berefleksi kedua sumber tersebut dalam mekanisme tauhid, maka terciptalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, cerdas,

Etin Anwar

dan Islami.

111

Taha J. al 'Alwani, The Islamization of Knowledge: Yesterday and Today (International Institute of Islamic Thought, Virginia, 1995), 34. Ibid., 4.
16

17

112

Pandangan Keilmuan

ALLAH

Al-Qur'an mengajak manusia untuk melihat realitas yang tersurat dan tersurat dengan cara pandang yang kaya. Dalam ar-Rahman 55:1-3 Allah mengajak manusia yang telah dibekali wahyu, panca indera dan alam untuk melihat alam seluruh fenomena sebagai sebuah realitas yang bisa diekspresikan dengan berbagai cara sesuai dengan minat dan bakat. Kesatuan Tuhan sebagai Pencipta alam semesta secara logis menunjukkan adanya realitas yang menyatu dan keterpaduan antara alam, manusia dan Tuhan. Al-Qur'an menyatakan seandainya ada Tuhan lebih dari satu di surga dan alam raya, sudah tentu keduanya akan mengalami kekacauan.18 Unifikasi makhluk-makhluk ciptaan Tuhan sebagai landasan integrasi ilmu umum dan agama mengajarkan akan adanya tujuan dalam segala pengkajian realitas, karena tidak ada pertentangan antara akal dan wahyu. Alam semesta beserta isinva diciptakan dengan satu tujuan yakni ibadah pada Allah dengan bentuk pengabdian yang beranekaragam. Pada saat yang sama setiap ciptaan memiliki tujuan dan kadar yang ditentukan (al-Qur'an, 25:2) sehingga keharmonisan alam dan manusia tetap terjaga. Bagian dari sunnatullah ini adalah alam semesta dan isinya bermuara dari Allah dan akan kemabali pada-Nya.

113 Menjaga keselarasan alam dan sesama manusia yang merupakan unifikasi misi kemanusiaan sebagai khalifatullah adalah landasan yang
Etin Anwar
18

Ibid., 36

114

Pandangan Keilmuan

penting dalam integrasi ilmu umum dan agama. Manusia merupakan elemen yang penting dalam alam raya. Mereka dengan segala kelebihannya memiliki potenti untuk memakmurkan bumi maupun saling menghancurkan sesama manusia dengan pertumpahan darah, peperangan dan ketamakan (alQur'an, 2:30). Meskipun ada potensi negatif dalam din manusia yang bisa menghancurkan kemanusiaan dan peradabannya, manusialah yang diajarkan ilmu pengetahuan tentang dirinya alam semesta dan Tuhannya. Ajaran Tuhan mengenai ilmu pengetahuan adalah pembekalan dalam rangka memakmurkan bumi dan misi manusia sebagai khalifatullah.
,

Erat kaitannya dengan misi kemanusiaan, alQur'an mempertegas posisi manusia dengan menyatakan bahwa manusia memiliki kesamaan asalusul, komposisi fisik, dan kesempatan untuk berlombalomba berbuat kebajikan dan saling menghargai kekayaan perbedaan (al-Qur'an, 4:1). Kesatuan misi manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi mengikat manusia untuk bisa memadukan apa yang Tuhan jabarkan dalam wahyu-Nya dan tanda-tanda yang Tuhan tanamkan pada alam semesta. Dan ini sangat didukung kuat oleh Islam, karena tidak ada pertentangan yang mencolok antara akal dan \vahyu. Justru maksimalisasi potensi rasionalitas dalam penjabaran ilmu umum dengan berlandaskan pada tauhid telah memiliki pengaruh yang besar dalam penguasaan peradaban dan teknologi. Dalam beberapa abad terakhir, kaum lembaga pendidikan Islam berada dalam posisi yang mengedepankan garda ilmu agama yang notabene berdasarkan kewahyuan dan tertinggal dalam ilmuilmu umum. Ketidakseimbangan antara pengajaran

115 ilmu umum dan agama di lembaga pendidikan Islam dan Indonesia umumnya karena pewarisan dikotomi ilmu umum dan agama yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda. Sebagai bagian dari negara Eropa, Belanda berkepentingan untuk melakukan dikotomi Islam dan Umum. lmplikasi yang sangat terasa adalah pengajaran Islam selama kemerdekaan Indonesia sangat terpinggirkan. Lebih parah lagi ilmu-ilmu umum yang diformulasikan di Barat diajarkan kepada generasi Muda Muslim yang kini menjadi sasaran globalisasi informasi dan teknologi. Sehingga makin lengkaplah marginalisasi ilmu agama dalam dunia pendidikan yang mau tak mau dikuasai oleh metode keilmuan yang
Etin Anwar

116

Pandangan Keilmuan

bermuara pada Barat. F. Tantangan dan Harapan Integrasi ilmu umurn terhadap agama merupakan keharusan pengejawantahan keseimbangan tandatanda Tuhan melalui wahyu Ilahi dan kauniyah. Proses ini sangat mungkin untuk dilakukan dalam wacana perubahan LAIN terhadap UIN. Memang, banyak tantangan yang masih perlu dibicarakan. Pertama, mekanisme penyatuan science dan teknologi. Ilmu umum ini lebih banyak bermuara pada fakta-fakta yang bisa berubah-rubah, sementara al-Qur'an berbicara mengenai ilmu secara umum dan kebenaran tidak relatif. Dikhawatirkan, kalau al-Qur'an diinterpretasi dengan ilmu relatif akan menyebabkan perelatifan al-Qur'an. Kedua, integrasi program jurusan ilmu umum dan agama. Bentuk program macam apa yang bisa mengakomodasi keduanya tanpa kehilangan keistimewaan UIN sebagai lembaga pendidikan Islam. Ketiga, penyuguhan jurusan agama yang mernikat mahasiswa. Kenyataan yang telah terjadi bertahun-tahun menunjukkan banyak mahasiswa nasuk IAIN karena tidak diterima atau takut tidak diterima di umum. Sehingga dengan terbukanya jurusan umum maka jurusan akan kekurangan minat atau gulung tikar. Terlepas dari tantangan yang ada, integrasi ilmu agama dan umum merupakan babak barn UIN. Pengintegrasian tersebut diharapkan akan mampu melahirkan manusia Muslim yang kompeten, mampu menjawab tantangan lokal, nasional dan global dan berakhlak mulia. Sudah tentu pribadi seperti ini

merupakan pengejawantahan atas kepercayaan Tauhid dengan kesatuan misi kemanusiaan yang islami dan keindonesiaan. Harapan ini tidak berlebihan selama mekanisme pengajaran, manajemen lembaga, dan rencana strategis IAIN diusung oleh pribadi-pribadi yang mengedepankan kualitas moral dan kompetensi dalam membina mahasiswa dan lembaga.s

118

Pandangan Keilmuan

INTEGRASI SOSIOLOGI
Wardi Bachtiar*

A. Pendahuluan Al-Qur'an adalah Kalam Allah Swt., yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dalam bahasa Arab yang terang guna menjelaskan jalan hidup yang maslahat bagi umat manusia di dunia dan di akhirat. Para mufassir telah menterjemahkan dan menafsirkannya sesuai dengan kemampuannya, dan dari penafsiran itu mereka mengetahui berbagai macam ilmu atau teori. Dengan demikian manusia mempunyai pemahaman tentang al- Qur'an sebagai petunjuk hidup dan kehidupan atau sebagai metoda hidup dan kehidupan. Dengan tafsir al-Qur'an manusia tahu lebih jauh bahwa al-Qur'an mengandung informasi, perintah dan larangan, yang kesemuanya dapat diangkat menjadi ilmu yang harus diterapkan di dalam hidup dan kehidupannya. Tidak ada ayat di dalam al-Qur'an atau jiwa ayatayatnya yang menghalangi kemajuan ilmu, serta tidak ada ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan. Jika ada penemuan manusia yang bertentangan dengan alQur'an, diyakini bahwa itu dikarenakan niat dan metoda penelitiannya yang tidak tepat. Kemajuan ilmu tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan terciptanya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu itu dan sesuai dengan kebenaran

yang hakiki. Al-Qur'an memberikan penjelasan bahwa dengan ilmu, kualitas seorang muslim, dapat meningkat. Para ulama mufassir sering mengemukakan perintah Allah Swt., langsung maupun tidak langsung, kepada manusia untuk berfikir, merenung, menalar, dan meneliti
WARDI BACHTIAR, Drs., MS., Dr., Prof., Dosen/Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

112

Pandangan Keilmuan

(alrosikhuna fil 'ilmi dan ulul albab). Banyak sekali seruan dalam al-Qur'an kepada manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran dikaitkan dengan peringatan, gugatan, atau perintah supaya is berfikir, merenung dan menalar (afala tatafakkarun, afala ta'qilun). Di samping itu Allah pun sering menekankan dalam firmannya betapa besar nilai ilmu dan kedudukan cendikiawan di dalam masyarakat sebagaimana firman Allah yang artinya : Tanyakanlah hai Muhammad : "Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dun mereka yang tidak mengetahui?" (QS. Al-Zumar : 9)

Hubungan antara Ilmu dan al-Qur'an, dapat dipahami dengan menguraikan isi kandungan alQur'an tentang ilmu, dengan menggunakan analisis tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
B. Ontologi Ilmu

1. Pengertian Ilmu Dalam Al-Qur'an, terdapat kata ilmu dengan berbagai ungkapan. Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang berbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Ilmu menjadikan manusia unggul dibanding makluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dalam surat Al-Bagarah ayat; 31 dan 32 yang artinya sebagai berikut : "Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam, nama-nama (bendabenda) semuanya. Kemudian dia mengemukakannya kepada para malaikat seraya berliman "Sebutkanlab kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orangyang benar (menurut dugaanmu)". Mereka (para malaikat) menjawab: "Maha suci Engkau tiada pengetahuan kecuali yang telah engkau giarkan. Sesungulmya

Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Manusia memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannva dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Al-Qur'an dalam berbagai ayatnya banvak menjelaskan tentang kedudukan yang tinggi bagi orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur'an surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut. "...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orangyang diberi ilmu pengetahuan beberapa

114

Pandangan Keilmuan Wardi Bachtiar

369

derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kegakan." Ilmu yang dimiliki Allah sangatlah luas, ilmu Allah meliputi segala sesuatu, dalam Firmannya Allah menjelaskan yang artinya: "Katakanlah kalau sekiranyt: lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebaryak itu pula". (QS. Al-Kahfi : 109). Di dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa seandainya pohonpohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tintanya), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habishabisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Lukman:27). Firman Allah yang artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu." (QS. Thaahaa: 98) Khusus mengenai sosiologi, para ahli sosiologi bisa menjadikan ayat-ayat al-Qur'an sebagai sumber penemuan dan pengembangan sosiologi. Seperti ayat-ayat tentang penciptaan individu Adam, kemudian Hawa dan keturunannya terus hingga ayat yang menyatakan hubungan antar individu, kelompok, lapisan dan satu sama lain saling memerlukan dan sebagainya. 2. Objek Penelitian Objek kajian ilmiah dibagi menjadi dua bagian, yaitu alam materi dan alam non materi, (wujud yang tidak dilihat dengan mata fisik manusia). Allah berfirman (yang artinya) : Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu tidak lihat.

(QS. Al-Haagah 38-39) yang artinya: Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui sebagaimana firmanNya yang artinya: "aa-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh tumbuhan yang (pada tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman : korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda kebesaran (Karns) kepada orang-orang yang mengetahuinya". (QS. AnNahl : 10-11)

114

Pandangan Keilmuan

Firman yang lain yang artinya: `Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir (.raja) sedans tentang (kehidupan akhirat) mereka itu lalai." (QS. Ar-Ruum:7). Dalam ayat lain dinyatakan, yang artinya : "(Dia adalah Tuhan) Yang Mengtahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul." (QS. al-Jin: 26-27) Ilmuwan muslim, khususnya kaum sufi menyebutkan objek ilmu dengan istilah al -hadlarat aglahiyah al -khams (lima kehadiran ilahi) untuk menggambarkan hirarki keseluruhan realitas wujud. Kelima kelompok tersebut adalah 1. Alam nasuth (alam materi); 2. Alam malakut (alam kejiwaan); 3. Alamjabarut (alam run); 4. Alam lahut (sifat-sifat ilahiyah) dan; 5. Alam hahut (wujud zat ilahi) Para ahli Sufi juga mengelompokkan alam ini kepada 20 macam, dimana kesemuanya merupakan objek ilmu, meliputi : 1. Alam yaitu dunia atau alam semesta 2. Alan; al -amr yaitu alam spiritual atau alam perintah. Alam yang di dalamnya tidak ada waktu dan materi. Alam al-amr inilah yang diciptakan Allah tanpa sebab sekunder 3. Alam al -amtsalyaitu alam analogi dan imaji, atau alam imajinasi. 4. Alain al -anfas yaitu alam nafas, kehidupan sendiri dimana nafas terakhir manusia di hisab di alam alanfas ini. 5. Alam al -shayb yaitu alam gaib 6. Alam al -ghayb al -muhaqqaq yaitu alam ghaib yang dibenarkan 7. Alam al -kzah yaitu alam kekuasaan Agung 8. Alain al - Jabarut yaitu alam Tuhan Yang Maha Kuasa. Alam sumber. Ini adalah hakikat Muhammad
,

yang berhubungan dengan tingkatan sifat-sifat. Di dalam alam mini terdapat berbagai kolam atau wadah non-manifestasi yang darinya memancar eksistensi. Kolam ini adalah cahava Muhammad (nur Muhammad) yang karenanya seluruh ciptaan ini diadakan. 9. Alam al - khalq yaitu alam ciptaan yang mengada dalam kedekatannya pada sebab sekunder. Inilah alam kasat mata. 10. Alam al -khqyal yaitu alam imajinasi. Ini adalah sekat (banzakii)

116

Pandangan Keilmuan Ware Bachtiar

371

tempat pertemuan para wali Allah (audiya). Dalam alam ini sang murid bertemu dengan mursyidnya yang menyampaikan berbagai pelajaran secara kuat dan tajam. Di sinilah mereka menerima berbagai intruksi dan petunjuk dari para wali dalam hierarki sufi dan bahkan dari Nabi Muhammad sendiri. 11. Alam al lahut yaitu alam ketuhanan. Ini adalah kekuatan hidup yang meliputi segala sesuatu yang ada. 12. A/am al malakut vaitu alam kerajaan, kekuasaan, kehendak, dan pengetahuan Kerajaan bathiniyah. Alam ini menunjukkan sifatsifat ilahi. 13. Alam al mulk yaitu alam materi, kerajaan lahiriyah, alam peristiwa atau makrokosmos. 14. Alam al nasut yaitu alam pancaindra manusia 15. Alam al shaghir yaitu alam kecil. Alam al shaghir mengandung seluruh alam dalam bentuk laten. Alam ini adalah manusia itu sendiri. 16. A/am al Jyahadah yaitu alam pengalaman sendiri yang bisa diindrai, karat mata. 17. Alam al syahadat yaitu alam kesaksian. Disebut juga alam i gubud. Dalam alam imajinasi inilah segenap ruh terjasadkan dan terlihat oleh para nabi dan para wali dalam berbagai visi. 18. Alam i sufli yaitu alam lebih rendah, alam bendabenda jasmani 19. Alam i ulwi vaitu alam lebih tinggi. Alam ruh. Terdapat hubungan antara alam ruh dengan esensi had manusia. Melalui hubungan ini — yang merupakan rahasia Allah — hati seorang manusia yang disucikan bisa naik kealam spiritual kedka mendengarkan konser spiritual.
-

20. Alamah vaitu tanda. Kosmos (alam) adalah sebuah tanda (alamah) Allah, sebuah bukti (burhan) Allah.

Namun sebuah tanda hanya menunjukkan sesuatu yang terbatas, sehingga kosmos tidak menunjukkan esensi-Nva, hanya pengetahuan bahwa Dia ada. Setiap tanda menunjukan Allah, tapi sebagian besar manusia mengenal Allah hanya dalam tanda tertentu yang membatasi Allah Orang yang mengenal-Nya (ar dan mencinta-Nya (asyig) tidak pernah membatasi Allah. Mereka mengenal Allah dalam setiap alamah.

116

Pandangan Keilmuan

3. Kiasifikasi Ilmu Berlandaskan kepada hadits Nabi, Abu Hamid Al-Ghazali membagi ilmu kepada: a. Ilmu-ilmu yang faralu :nn, yaitu ilmu-ilmu yang berkenaan dengan pelaksanaan kewajibankewajiban syariat Islam yang hams diketahul dengan pasti. b. Ilmu-ilmu yang fardlu kifayah, yaitu ilmu untuk memudahkan urusan hidup di dunia. Selain itu, dia membagi ilmu dilihat dan asalusulnya menjadi ilmu agama (ulum al-Jyr'z) yaitu ilmu yang diajarkan oleh nabi dan wahyu serta ilmu non agama, yaitu ilmu yang tidak diajarkan oleh nabi dan wahyu. Ilmu agama terbagi kepada dua kelompok, yaitu: ilmu yang terpuji (mahmud) dan ilmu yang tercela (mad7uum) yaitu ilmu agama yang menvimpang dari ajaran-ajaran Allah. Ilmu non agama terbagi tiga yaitu yang terpuji (mahmud) seperti kedokteran, yang dibolehkan (mubah) seperti sejarah, dan yang tercela seperti sihir. Ibnu Khaldun dalam mengindikasikan ilmu mengalamt perkembangan pada awalnya, Khaldun membagi ilma dilihat dan sumbernya Al-Qur' an, terdiri dari Ilmu Pengetahuan (sains), Filosofis dan Intelektual Ilmu Pengetahuan (sains) yang disampaikan. Pembagian ilmu dilihat dan urgensinya bagi para pelajar, ilmu terbagi kepada: 1. Ilmu Syari'ah 2. Ilmu filsafat, termasuk ilmu alam dan ilmu ketuhanan 3. Ilmu Alat yang bersifat membantu agama, seperti ilmu bahasa 4. Ilmu alat yang membantu filsafat, seperti ilmu mantiq.

Dan seluruh ilmu tersebut di atas, ilmu yang pertama dan yang utama dimiliki seseorang adalah ilmu ma'rifat kepada Allah (Tuhannya). Atau sering juga ilmu ma'rifat ini disebut ilmu tauhid. ilmu kalam, ilmu ushuluddin, ilmu aqa'id atau theologi. Hal ini berdasarkan fit-man Allah. Setelah ilmu ma'rifat kepada Allah, kemudian ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan yang sedang dijalani, seperti shalat atau ilmu berdagang bagi pedagang. Keterangan ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam al Jarnuji.

118

Pandangan Keilmuan
Warch Bachtiar

373

C. Epistimologi Dalam al-Qur'an surat An-Nahl ayat 78 Allah menggambarkan bahwa ilmu dapat diperoleh dengan pendengaran, penglihatan dan afiidah (had). Firman ters:but bermakna Allah mengeluarkan kamu dan perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan had agar kamu bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk memperoleh pengetahuan). Trial and error, pengamatan, percobaan dan testes kemungkinan (probability) merupakan cara-cara yang digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. Hal itu diungkapkan dalam al-Qur'an, seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir tentang alam raya, melakukan penjelajahan dan sebagainva, kendati hanya berkaitan dengan upaya mengetahui alam materi. Firman Allah dalam surat Yunus ayat 101 yang artinya: Terhatikanlah apayang terdapat di langit dan dibumi." Di samping telinga, mata dan pikiran sebagai sarana meraih ilmu pengetahuan, Al-Qur'an juga menggarisbawahi pentingnya peranan kesucian had. Wahyu dianugrahkan atas kehendak Allah dan berdasar kebijaksanaan-Nya tanpa campur tangan manusia. Sementara filsafat, intuisi dan semacamnya, dapat diraih melalui penyucian had. Dari sini para ilmuwan muslim menekankan pentingnya tazkiyah an nafs (penyucian jiwa) guna memperoleh hidayah (petunjuk/pengajaran Allah), tazkivatuan nalri adalah sebuah metode untuk memperoleh ilmu Allah), karena mereka sadar akan kebenaran fit-man Allah dalam surat al-Atraf ayat 146 yang artinya: "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dart ayat-ayatKu."
-

Orang-orang kafir bisa saja memperoleh ilmu Tuhan namun bukan ilmu yang diridoi-Nya. Yang mereka peroleh itu terbatas pada sebagian fenomena alam, bukan hakikat fenomena. Bukan pula yang berkaitan dengan realitas di luar alam materi. Firman Allah dalam surat al-Rum ayat 7 yang artinya: "Tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dem kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai." Al-Qur'an adalah sumber ilmu pengetahuan yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan. Penjelasan tentang hal tersebut

118

Pandangan Keilmuan U1N

dapat kita temukan dalam al-Qur'an surat Ibrahim ayat 1, surat Thahaa ayat 113, surat An-Nahl ayat 65, 83 dan 90, dan surat AzZumar ayat 9. Para ilmuwan muslim dituntut untuk mengamalkan ilmunya, karena Allah al,an menganugerahkan kepadanya apa yang belum diketahuinya, atau dikenal dengan ilmu laduni atau ilmu dlarury. Ilmu laduni adalah ilmu yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi (pencerahan) atau inspirasi dari Tuhan, atau ada sebagian ulama yang mengistilahkannya dengan istilah ilmu mauhibah. Adanya ilmu laduni dibenarkan oleh al-Qur'an seperti yang diungkapkan dalam surat Kahfi ayat 65 yang artinya: "Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba clan. hamba-hamba Kami, yang Kami anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."
Pada ayat 60 sampai ayat 82 surat al-Kahfi diceritakan tentang ilmu laduni yang dimiliki oleh Nabi Khidir ketika bertemu dengan Nabi Musa, tentang berbagai peristiwa yang terjadi pada saat itu. Nabi Khidir telah mengetahui apa-apa yang belum terjadi. Dari kisah itu diketahui bahwa ilmu laduni diberikan kepada Nabi dan Rasul. Akan tetapi ilmu laduni juga dapat dimiliki oleh selain Nabi dan Rasul dengan syarat orang itu telah mencapai maqam-nya (istilah dalam Ilmu Tasawuf).

Dan sejarah terungkap bahwa ternyata ada orang (yang bukan Nabi dan Rasul) mampu mencapai magam itu dan memiliki ilmu laduni. Ilmu laduni diperoleh melalui nyadlah dan mujahadah, menurut Ibnu Khaldun antara lain dengan zikir, shalat dan puasa. Keterangan di atas diperkuat oleh sabda Rasul Saw

yang artinya: "Barangsiapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya. " Firman Allah dalam surat Al- Baciarah ayat 282 yang artinya: ‘Bertakvalah kepada Allah, nircaya Dia mengajar kamu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Orang yang memiliki ilmu mestinya memiliki sifat dan ciri tertentu, antara lain yang paling utama adalah rasa takut dan kagum kepada Allah Sebagaimana firman Allah dalam surat Fathir ayat 28 yang artinya: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya

120

Pandangan Keilmuan U1N

adalah ulama."
D. Aksiologi

Dalam wahyu pertama surat al-'Alaq ayat 1-5, dapat kita ambil petunjuk tentang pemanfaatan ilmu. Melalui iqra bismi Rabbika, yaitu titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, juga tujuan akhirnya haruslah semata-mata karena mencari keridlaan Allah. Sedangkan tujuan (perantara) dari ilmu antara lain menemukan dan menyingkap berbagai objek (majhulat/ma'lumat). Semboyan "ilmu untuk ilmu" seperti halnya "scni untuk seni" tidak dikenal dan tidak dibenarkan dalam Islam. Apapun ilrnunya, materi pembahasannya harus bismi Rabbik, atau harus bernilai Rabbani. Para ilmuwan dewasa ini banyak yang mengikuti pendapat sebagian ahli bahwa ilmu itu "bebas nilai" harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuwan muslim, itu bila pengertian "bebas nilai" adalah sama dengan sekular. Bila pengertian "bebas nilai itu" bahwa ilmu netral manakala ilmu itu hendak diaplikasikan, maka ada nisi lain yang memerintahkan bahwa ilmu itu wajib digunakan untuk hal-hal yang baik, yang positif; sebagai seorang muslim wajib taat kepada perintah pencipta ilmu itu ialah Allah Swt. sehingga is tidak menganut istilah "bebas nilai" dalam mengaplikasikannya. Adapun manusia akan taat kepada perintah di atas atau tidak maka Allah Swt. tidak memaksa memilih dua pilihan antara syurga dan neraka; bila yang positif/baik dia pilih maka bagiannya syurga, bila yang negatif/buruk dia pilih maka neraka bagiannya. Lembaga Pemikiran Islam Internasional melalui ilmuwannya telah merumuskan tentang "Islamisasi Ilmu", yang berarti memperbaharui basis pemikiran berdasarkan prinsip Islam serta mengarahkannya

Ward; Bachtlar

121

pada mini ilmu menuju hal tertentu yang dibawa Islam. Kaum muslimin hams berusaha menghindari cara berfikir tentang bidang-bidang yang tidak menghasilkan manfaat, apalagi tidak memberikan hasil kecuali menghabiskan energi belaka. Maka atas dasar itu, berfikir atau menggunakan akal untuk mengungkap rahasia alam metafisik, tidak boleh dilakukan. Artinya, hati hams dipergunakan untuk mempelajari alam metafisik.

122

Pandangan Keilmuan U1N

E. Kesimpulan 1. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu dengan berdasarkan alasan yang jelas pula atau pengalaman. 2. Ilmu manusia tidak akan mampu menampung ilmu-Nya tuhan, dengan kata lain ilmu manusia sangat terbatas. 3. Objek ilmu adalah materi dan non materi. 4. Ilmu dapat diperoleh melalui sarana yang diberikan Allah yang merupakan potensi setiap manusia yaitu pendengaran (telinga), penglihatan (mata), dan akal/hati. 5. Ilmu dapat diperoleh secara kasbi dan dengan cara rijadlah mujahadah. 6. Manfaat ilmu sungguh sangat banyak sekali yang diantaranya untuk menemukan dan menyingkap berbagai objek dan tujuan akhirnya adalah mardlatillah.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Hasballah, Ushul al-Tasyri al-Islami, Dar al-Ma'arif, Cairo, 1971. Al-Jarnuji, Taft a! Muta'allim Thariq al-Ta'allum, Penrj. Ally As'ad, Menara Kudus, 1978. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Tiara Garis Creative, Bandung, 2002. Amatullah Amstrong, Khazanah istilah Sufi : Kunci Memasuki Dunia Tasawuf, Mizan Media Utama, Bandung, 2001. Arifin HM, llmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan AI-Qur'an, Gema Insani Press, Jakarta, 2000 Hamzah Ya'qub, Ilmu Ma'rifat : Sumber Kekuatan dan Ketentraman Bathin. CV. Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 2001. Hery Noer Aly, !!mu Pendidikan Islam, PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1999. lbnu Kahldun, Abdurrahman bin Muhammad, Muqadimah Ibn Khaldun, Penj. Ahmadie, Thoha, Pustaka Pirdaus, Jakarta, 2000, cet. Ke-4. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1990. , Ilmu dalam Perspektif, PT. Gramedia, Jakarta, 1984. Mandi Ghulsyani, Filsafaat Sains Menurut AI-Qur'an, Mizan, Bandung, 2001.

Ward; Bachtlar

123

Muhammad al-Ghazali, Berdialog dengan AI-Qur'an : Memahami Pesan Kitab Suci dalam Kehidupan Masa Kini, Mizan, Bandung, 1996. M. Quraisy Shihab, Membumikan AI-Qur'an : Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, 1995.

Ward; Bachtlar

124

______,Wawasan Al-Qur'an : Tafsir Maudlu atas Pelbagai Persoalan Umat,
Mizan, Bandung, 1996. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodeman, Paramadina. Jakarta, 1992, Partap Sing Mehra, Jazir Burhan, Pengantar Logika Tradisional, Binacipta, Bandung, 1998 Pius A Partanto dan M. Dahlan At-Barry, Kamus llmiah Populer, Arkola, Surabaya, 1994

SOSIOLOGI UNTUK UIN
Mudor Effendi
*

Sosiologi merupakan salah satu ilmu, yang termasuk "The Social science" (Ilmu Pengetahuan Sosial), karena objek studinya adalah kehidupan sosial manusia atau yang mempelajari gejala-gejala sosial/ mempelajari hubungan-hubungan sosial. Para ahli sosiologi mendefinisikan sosiologi : 1. Menurut Franklin H. Giddings menggambarkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyangkut gejala-gejala masyarakat; 2. Emile Durkheim menyebut sosiologi sebagai the science of institutions; 3. Max Weber, menyebutnya sosiologi sebagai social action; 4. Albion W. Small, menyebutnya sebagai social process; 5. Robert E. Park, menyebutnya collective behavior; 6. Alvin L. Bertrand, mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan tentang human relationship (ilmu pengetahuan tentang antar hubungan manusia). Dan beberapa pendapat tersebut di atas, substansinya sama, di mana sosiologi itu membicarakan/membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, yang antara lain meliputi ten- tang lembaga sosial, proses sosial, perilaku sosial, interaksi sosial, dsb. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, merupakan ilmu pengetahuan berparadigma ganda, yaitu

Paradigma Fakta Sosial (E. Durkheim), Paradigma Definisi Sosial (Max Weber), dan Paradigma Perilaku Sosial (B.F. Skinner). George Ritzer menjelaskan, sebab terjadinya perbedaan paradigma di antara ahli ilmu sosiologi, yaitu: 1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan tentang apa yang semestinya menjadi sub stansi dari
MUDOR EFFENDI, Drs., MS., Dr., Dosen Fakultas
Syari'ah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

380

Pandangan Keilmuan UIN

cabang ilmu yang dipelajarinya itu berbeda. Dengan demikian, asumsi atau aksiomanya menjadi berbeda antara kelompok ilmuwan yang satu dengan kelompok ilmuwan yang lain, dalam cabang ilmu yang bersangkutan; 2. Sebagai konsekuensi lops dan pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masingmasing komunitas ilmuwan itu berbeda. Pada masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja hanya untuk mempertahankan kebenaran teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan teori dan komunitas ilmuwan yang lain;
-

3. Metode yang dipergunakan untuk memahami substansi ilmu itu juga berbeda di antara komunitas ilmuwan itu. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari gejalagejala/hubungan yang terjadi dalam kehidupan sosial, akan berhadapan dengan berbagai macam gejala sosial, seperti gejala dalam kehidupan keluarga, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, kehidupan hukum, kehidupan pendidikan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu muncullah: 1). Sosiologi Keluarga; 2). Sosiologi Politik; 3). Sosiologi Ekonomi; 4). Sosiologi Hukum; 5). Sosiologi Pendidikan; dan lain sebagainya. Masing-masing bidang sosiologi itu mempelajari aspek-aspek/ gejala-gejala yang terjadi dalam bidangnya. Paradigma yang digunakan oleh para ahli sosiologi untuk membahas bidang-bidang sosiologi tersebut di atas berdasarkan paradigma yang berlaku dalam sosiologi, yaitu paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial, yang kesemuanya didasarkan kepada teori, konsep, dan metode yang bersumber pada falsafah yang digunakan oleh para ahli sosiologi tersebut. Pembahasannya tidak didasarkan kepada sumber ilmu pengetahuan yang

bersumber kepada wahyu Ilahi, karena mereka tidak memahaminya. Padahal dalam wahyu Ilahi pun banyak hal-hal yang menyangkut dengan gejalagejala yang terjadi dalam kehidupan manusia, baik yang berkaitan dengan keluarga, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan lain sebagainya, bahkan lebih lengkap dibandingkan dengan yang bersumber dari falsafah. Pembahasan tentang gejala-gejala sosial yang terjadi dalam

Mudor Effendi

381 129

Nanat Fatah Natsir

kehidupan keluarga, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan yang lainnya, yang dibahas oleh para sosiolog yang didasarkan pada falsafah, baik dalam teori dan konsep yang digunakannya, serta metodenya ada yang sar'a dengan pembahasan yang didasarkan kepada wahyu Ilahi, dan ada yang tidak sesuai. Dengan kenyataan seperti di atas, untuk di UIN kalau sosiologi merupakan salah satu bidang studi yang akan dipelajari oleh para mahasiswa atau dosen, harus dilakukan "integrasi paradigma" dalam mempelajari sosiologi, yaitu menyatukan paradigma yang sudah digunakan di kalangan sosiolog sekuler yang hanya mendasarkan paradigmanya pada rasio, dengan paradigma-paradigma sosiolog Muslim yang mendasarkan paradigmanya pada wahyu Ilahi, sehingga dalam membahas suatu gejala yang terjadi dalam kehidupan sosial akan digunakan teori, konsep, dan metode yang bersumber dari paradigma sekuler, dan paradigma yang agamis (Islam). Seperti kalau kita mempelajari tentang gejala yang terjadi dalam keluarga, kita gunakan teori dan konsep yang digunakan oleh para sosiolog sekuler dan sosiolog Muslim, dengan cara seperti ini bisa saling melengkapi atau bisa juga satu sama lain saling mengevaluasi, yang kemungkinan nantinya akan lahir satu teori dan konsep yang lebih baik iagi, yang bisa digunakan dalam menganalisa gejala-gejala yang terjadi dalarn keluarga. Dan begitulah seterusnya dalam bidang-bidang yang lainnya (ekonomi, politik, hukum, pendidikan. dsb). Untuk keperluan ini diperlukan penyusunan

kurikulum dan silabi yang mengintegrasikan antara paradigma, teori, dan konsep yang berasal dari para sosiolog sekuler dengan para sosiolog Muslim. Bahkan lebih luas, perlu hal seperti ini dilakukan pada bidang-bidang ilmu sosial lainnya, yang akan dipelajari di UIN.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->