PENATALAKSANAAN Penanganan Sebelum di Rumah Sakit Penanganan pasien dengan syok hipovolemik sering dimulai pada tempat kejadian

atau di rumah. Tim yang menangani pasien sebelum ke rumah sakit sebaiknya bekerja mencegah cedera lebih lanjut, membawa pasien ke rumah sakit sesegera mungkin, dan memulai penanganan yang sesuai. Penekanan sumber perdarahan yang tampak dilakukan untuk mencegah kehilangan darah yang lebih lanjut. • Pencegahan cedera lebih lanjut dilakukan pada kebanyakan pasien trauma. Vertebra servikalis harus diimobilisasi, dan pasien harus dibebaskan jika mungkin, dan dipindahkan ke tandu. Fiksasi fraktur dapat meminimalisir kerusakan neurovaskuler dan kehilangan darah. • Meskipun pada kasus tertentu stabilisasi mungkin bermanfaat, transportasi segera pasien ke rumah sakit tetap paling penting pada penanganan awal sebelum di rumah sakit. Penanganan definitif pasien dengan hipovolemik biasanya perlu dilakukan di rumah sakit, dan kadang membutuhkan intervensi bedah. Beberapa keterlambatan pada penanganan seperti terlambat dipindahkan sangat berbahaya. • Intervensi sebelum ke rumah sakit terdiri dari immobilisasi (pada pasien trauma), menjamin jalan napas yang adekuat, menjamin ventilasi, dan memaksimalkan sirkulasi. • Dalam penanganan syok hipovolemik, ventilasi tekanan positif dapat mengurangi aliran balik vena, mengurangi cardiac output, dan memperburuk status/keadaan syok. Walaupun oksigenasi dan ventilasi penting, kelebihan ventilasi tekanan positif dapat merusak pada pasien dengan syok hipovolemik. • Penanganan yang sesuai biasanya dapat dimulai tanpa keterlambatan transportasi. Beberapa prosedur, seperti memulai pemberian infus atau fiksasi ekstremitas, dapat dilakukan ketika pasien sudah dibebaskan. Namun, tindakan yang memperlambat pemindahan pasien sebaiknya ditunda. Keuntungan pemberian cairan intravena segera pada tempat kejadian tidak jelas. Namun, infus intravena dan resusitasi cairan harus dimulai dan dilanjutkan dalam perjalanan ke tempat pelayanan kesehatan. • Pada tahun-tahun terakhir ini, telah terjadi perdebatan tentang penggunaan Military Antishock Trousers (MAST). MAST diperkenalkan tahun1960-an dan berdasarkan banyak kesuksesan yang dilaporkan, hal ini menjadi standar terapi pada penanganan syok hipovolemik sebelum ke rumah sakit pada akhir tahun 1970-an. Pada tahun 1980-an, “American College of Surgeon Commite on Trauma” memasukkan penggunaannya sebagai standar penanganan pasien trauma dengan tanda-tanda dan gejala-gejala syok. Sejak saat itu, penelitian telah gagal untuk menunjukkan perbaikan hasil dengan penggunaan MAST. “American College of Surgeon Commite on Trauma” tidak lama merekomendasikan penggunaan MAST.

Bidang Kegawatdaruratan Tiga tujuan penanganan kegawatdaruratan pasien dengan syok hipovolemik antara lain: (1) memaksimalkan pengantaran oksigen-dilengkapi dengan ventilasi yang adekuat, peningkatan saturasi oksigen darah, dan memperbaiki aliran darah, (2) mengontrol kehilangan darah lebih lanjut, dan (3) resusitasi cairan. • Memaksimalkan penghantaran oksigen

vena sphena. Jika perbaikan yang terjadi tidak bermakna atau tidak ada. dengan tujuan memposisikan janin menjauhi vena cava inferior dan meningkatkan sirkulasi. dan darah O diberikan (darah tipe O rhesus (-) harus diberikan kepada pasien wanita usia subur untuk mencegah sensitasi dan komplikasi lanjut). Ventilasi tekanan positif yang berlebihan dapat berbahaya pada pasien yang mengalami syok hipovolemik dan sebaiknya dihindari. Untuk pasien ini. Faktor yang paling penting dalam melakukannya adalah skill dan pengalaman. Darah yang berasal dari hemothoraks dialirkan melalui selang thorakostomi. o Jika pasien sekarat dan hipotensi berat (syok derajat IV). perdarahan dalam membutuhkan intervensi bedah. Pada pasien dengan trauma. o Sebaiknya dibuat dua jalur intravena berdiameter besar. perdarahan luar harus diatasi dengan menekan sumber perdarahan secara langsung. . antikoagulasi. Fraktur tulang panjang ditangani dengan traksi untuk mengurangi kehilangan darah. Hukum Poeseuille mengatakan bahwa aliran berbanding terbalik dengan panjang kateter infus dan berhubungan langsung dengan diameter. Pedoman pemberian kristaloid dan darah tidak diatur. Kedalaman dan frekuensi pernapasan. harus diperhatikan. • Kontol perdarahan lanjut o Kontrol perdarahan tergantung sumber perdarahan dan sering memerlukan intervensi bedah. Pada anak kurang dari 6 tahun dapat digunakan jalur intraosseus. Sehingga kateter infus intravena yang ideal adalah pendek dan diameternya lebar. Tambahan oksigen dalam jumlah besar dan bantuan ventilator harus diberikan pada semua pasien. filtrasi. Beberapa alat diizinkan untuk koleksi steril. cairan yang pertama digunakan untuk resusitasi adalah kristaloid isotonik. diberikan cairan kristaloid dan darah tipe O. Jika terjadi keadaan patologi (seperti pneumothoraks. seperti Ringer Laktat atau Saline Normal. atau vena tangan. atau pada vena sentralis dengan menggunakan teknik Seldinger. Posisi Trendelenburg juga tidak memperbaiki keadaan kardiopulmonal dan dapat mengganggu pertukaran udara. salah satu contohnya menaikkan kedua kaki pasien sementara cairan diberikan. hemothoraks. Pada penanganan trauma. o Pada jalur intravena. dan respon pasien dinilai. infus kristaloid dilanjutkan dan dipersiapkan darah yang cocok. terapi yang diberikan harus berdasarkan kondisi pasien. infus kristaloid harus dilanjutkan. o Autortransfusi mungkin dilakukan pada beberapa pasien trauma. o Pengadaan infus arteri perlu dipertimbangkan pada pasien dengan perdarahan hebat. harus segera ditangani. o Jika tanda vital sudah kembali normal. Jika digunakan jalur utama vena sentralis maka digunakan kateter infus berdiameter lebar. dan juga suara napas. Contoh lain dari posisi yang bermanfaat adalah memiringkan pasien yang sementara hamil dengan trauma kearah kirinya.o Jalan napas pasien sebaiknya dibebaskan segera dan stabilisasi jika perlu. Posisi Trendelenburg tidak dianjurkan untuk pasien dengan hipotensi karena dikhawatirkan terjadi aspirasi. dan flail chest) yang mengganggu pernapasan. o Posisi pasien dapat digunakan untuk memperbaiki sirkulasi. infus arteri akan memonitoring tekanan darah secara berkala dan juga analisa gas darah. Jika tanda vital membaik sementara. pasien diawasi agar tetap stabil dan darah pasien perlu dikirim untuk dicocokkan. Jalur intravena dapat ditempatkan pada vena antecubiti. diameter lebih penting daripada panjangnya. Bolus awal 1-2 liter pada orang dewasa (20 ml/kgBB pada pasien anak). dan retransfusi darah disediakan.

Banyak cairan telah diteliti untuk digunakan pada resusitasi. H2 Bloker relatif aman. fraksi protein murni. ultrasonografi abdomen darurat perlu utnuk mengidentifikasi adanya aneurisma aorta abdominalis sebelum ahli bedahnya diberitahu. Obat ini membantu kerja vasopressin tanpa efek samping yang signifikan. Penelitian telah menunjukkan akan kebenaran hal ini. hetastarch. seperti ruptur esofagus. albumin. Pada pasien yang berusaia 55 tahun dengan nyeri abdomen. Jika perlu untuk membawa pasien ke rumah sakit lain. o Konsultasi segera dan penanganan yang tepat adalah kuncinya. fresh frozen plasma. Tujuan penanganan kegawatdaruratan adalah untuk menstabilkan keadaan pasien hipovolemik. harus dipertimbangkan untuk penggunaanya secara tetap. dan ulserasi mukosa. gangren. mereka belum menunjukkan perbedaan hasil antara koloid dibandingkan dengan kristaloid. dapat diindikasikan torakotomi emergensi dengan klem menyilang pada aorta diindikasikan untuk menjaga suplai darah ke otak. penggunaan Sengstaken-Blakemore tube dapat dipertimbangkan. asfiksi. dan dextran 70. . penggunaan ini dipertimbangkan hanya sebagai alat sementara pada keadaan yang ekstrim. menentukan penyebab perdarahan. Namun. seperti hipertensi. saline hipertonis. o Pendukung resusitasi koloid membantah bahwa peningkatan tekanan onkotik dengan menggunakan substansi ini akan menurunkan edema pulmonal. aritmia. o Pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal. pembuluh darah pulmonal memungkinkan aliran zat seperti protein antara ruang intertisiel dan ruang intravaskuler. jika petugas unit gawat darurat mengindikasikan telah terjadi cedera yang serius. Vasopressin umumnya dihubungkan dengan reaksi negatif. o Pada pasien dengan perdarahan varises. yaitu: larutan natrium klorida isotonis. ruptur kista. Penggunaan selang ini dikaitkan dengan akibat yang buruk. sebagai contohnya. Balon gaster pertama dikembangkan dan dilanjutkan balon esofagus bila perdarahan berlanjut. dan iskemia miokard atau splanikus. aspirasi. plasenta previa. Oleh karena itu. Setiap pasien harus dievaluasi ketat karena keterlambatan penanganan yang tepat dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. ahli bedah (tim trauma) harus diberitahukan segera tentang kedatangan pasien. solusio plasenta. larutan ringer laktat. o Pada dasarnya penyebab perdarahan akut pada sistem reproduksi (contohnya kehamilan ektopik. vasopressin intravena dan H2 bloker telah digunakan. Tindakan ini hanya bersifat paliatif dan butuh segera dibawa di ruang operasi. dan menyediakan penanganan yang tepat sesegera mungkin. hal ini harus dilakukan segera. pentastarch. Alat ini memiliki balon gaster dan balon esofagus. tetapi tidak terlalu menguntungkan o Infus somatostatin dan ocreotide telah menunjukkan adanya pengurangan perdarahan gastrointestinal yang bersumber dari varises dan ulkus peptikum.o Pada pasien dengan nadi yang tidak teraba di unit gawat darurat atau awal tibanya. • Apakah kristaloid dan koloid merupakan resusitasi terbaik yang dianjurkan masih menjadi masalah dalam diskusi dan penelitian. keguguran) memerlukan intervensi bedah. Oleh karena alasan tersebut. Namun. o Pada pasien trauma. Mempertahankan tekanan hidrostatik pulmoner (< 15 mmHg tampaknya menjadi faktor yang lebih penting dalam mencegah edama paru) o Pendapat lain adalah koloid dalam jumlah sedikit dibutuhkan untuk meningkatkan volume intravaskuler.

Teori ini mengatakan bahwa peningkatan tekanan menyebabkan perdarahan lebih banyak dan merusak bekuan darah yang baru terbentuk. o Penemuan dari penelitian awal menunjukkan bahwa binatang yang mengalami perdarahan telah meningkat angka kelangsungan hidupnya jika binatang ini memperoleh resusitasi cairan. Sebagian besar dari penelitian tersebut menunjukkan adanya peningkatan angka kelangsungan hidup pada hipotensi yang berat dan kasus yang terlambat ditangani. Cannon mengamati dan menandai pasien yang mengalami syok. o Rekomendasi terbaru adalah resusitasi cairan yang agresif dilakukan dengan Ringer Laktat atau Saline Normal pada semua pasien dengan tanda-tanda dan gejala-gejala syok tanpa memperhatikan penyebab yang mendasari. lama perawatan. dibutuhkan penelitian lebih lanjut. . Penelitian di Amerika Serikat dan Jepang gagal menunjukkan perbedaan kombinasi ini jika dibandingkan dengan larutan natrium klorida isotonik atau ringer laktat. pentastarch. • Area yang lain yang menarik tentang resusitasi adalah tujuan untuk mengembalikan volume sirkulasi dan tekanan darah kepada keadaan normal sebelum control perdarahan. tetap dianjurkan untuk menggunakan Saline Normal atau Ringer Laktat.o Larutan koloid sintetik. maka kebanyakan tetap berada pada intravaskuler. tetapi karena strukturnya dan berat molekul yang tinggi. prinsip ini diterapkan secara luas pada masyarakat sipil. tetapi tidak berlebihan? o Meskipun beberapa data menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik 80-90 mmHg mungkin adekuat pada trauma tembus pada badan tanpa adanya cedera kepala. o Selama perang dunia I. dan dextran 70 mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan dengan koloid alami seperti fraksi protein murni. Dia kemudian mengajukan suatu model hipotensi yang dapat terjadi pada perlukaan tubuh. seperti hetastarch. atau kelangsungan hidup. Namun. satu alasan untuk menggunakan kristaloid untuk resusitasi adalah harga cairan tersebut. fresh frozen plasma. Selanjutnya. o Sejak saat itu. dan pada tahun 1970-an. mengurangi edema intertisiel. Di Amerika Serikat. Meskipum secara teoritis menguntungkan. di lain pihak hipotensi berat dapat meningkatkan risiko perfusi otak o Pertanyaan yang belum terjawab dengan sempurna adalah sebagai berikut: mekanisme dan pola cedera yang mana yang disetujui untuk pengisian volume darah sirkulasi? Apakah tekanan darah yang adekuat. Larutan ini mempunyai zat dengan volume yang sama. Tercatat bahwa pasien yang segera mendapatkan penanganan resusitasi yang agresif memperlihatkan hasil yang lebih baik. dengan minimalisasi intensif perdarahan selanjutnya. penelitian gagal menunjukkan perbedaan pada parameter ventilasi. dan albumin. meski ada banyak cairan resusitasi yang dapat digunakan. pada penelitian ini perdarahan dikontol dengan ligasi setelah binatang tersebut mengalami perdarahan. banyak penelitian telah dilakukan untuk menentukan apakah prinsip ini valid pada pasien dengan perdarahan yang tidak terkontrol. resusitasi cairan yang agresif dan akses yang cepat telah dilakukan. hasil tes fungsi paru. o Selama perang Vietnam dan Korea. o Kombinasi salin hipertonis dan dextran juga telah dipelajari sebelumnya karena faktafakta menunjukkan bahwa hal ini dapat meningkatkan kontraktilitas dan sirkulasi jantung. lama penggunaan ventilator.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful