HUBUNGAN AGAMA DAN FILSAFAT DI BARAT (Sebuah Survei Sejarah Lintas Periode) Oleh: Biyanto Pendahuluan Menurut catatan

sejarah, filsafat Barat bermula di Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Perkembangan pemikiran ini menandai usaha manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu. Pemikiran Yunani sebagai embrio filsafat Barat berkembang menjadi titik tolak pemikiran Barat abad pertengahan, modern dan masa berikutnya. Disamping menempatkan filsafat sebagai sumber pengetahuan, Barat juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup, meskipun memang harus diakui bahwa hubungan filsafat dan agama mengalami pasang surut. Pada abad pertengahan misalnya dunia Barat didominasi oleh dogmatisme gereja (agama), tetapi abad modern seakan terjadi pembalasan terhadap agama. Peran agama di masa modern digantikan ilmu-ilmu positif. Akibatnya, Barat mengalami kekeringan spiritualisme. Namun selanjutnya, Barat kembali melirik kepada peranan agama agar kehidupan mereka kembali memiliki makna. Makalah ini akan mendiskripsikan hubungan filsafat dan agama di Barat sebagai sebuah survei sejarah lintas periode. 1. Pengertian Agama Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama mengambil berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal, namun dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan rasa "suci", dan agama termasuk dalam kategori "hal yang suci". Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tidak terbatas yang diberikan kepada obyek yang disembah. Hubungan manusia dengan "yang suci" menimbulkan kewajiban, baik untuk melaksanakan maupun meninggalkan sesuatu. Di dalam setiap agama, paling tidak ditemukan empat ciri khas. Pertama, adanya sikap percaya kepada Yang Suci. Kedua, adanya ritualitas yang menunjukkan hubungan dengan Yang Suci. Ketiga, adanya doktrin tentang Yang Suci dan tentang hubungan tersebut. Keempat, adanya sikap yang ditimbulkan oleh ketiga hal tersebut. Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di muka bumi, sesuai dengan asalnya, dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, agama samawi (agama langit), yaitu agama yang dibangun berdasarkan wahyu Allah. Kedua, agama ardli (agama bumi), yaitu agama yang dibangun berdasarkan kreasi manusia. 2. Agama Universal di Barat Sebelum dijelaskan tentang agama universal di Barat, perlu diketahui agama bangsa Yunani secara garis besar. Bangsa Yunani sebelum mengenal dewa-dewa, mereka memuja dan menyembah daya-daya alam, roh nenek moyang dan pimpinan tertinggi

dan India. dan Islam.dari anggota keturunan. kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Periode Athena Hampir bersamaan dengan filsafat atomis. Agama ini menganggap dirinya punya kebenaran penuh tentang realitas. Hal ini terjadi pada tahap permulaan. sebagaimana diceritakan Homerus dan Hesiodes dalam syair-syair mereka. para filosof pra-Socrates berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya. Tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal. Kaum sophis berpendapat bahwa manusia menjadi ukuran kebenaran. yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air. Filosof-filosof ini disebut dengan kaum sophis yang dipelopori oleh Protagoras (485420 SM). Mereka mampu melebur nilai-nilai agama dan moral tradisional tanpa menggantikannya dengan sesuatu yang substansial. Pada masa Yunani kuno. Persia. dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. . segala fenomena menjadi relatif bagi subyektifitas manusia. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. semua teori pengetahuan diragukan. muncul para filosof yang mengalihkan obyek pemikiran manusia dari alam ke arah pemikiran tentang manusia sendiri. Ia mengklaim manusia sebagai ukuran kebenaran dengan istilah "homo mensura". Sementara itu. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. Agama universal yang dimaksud di sini adalah agama Yahudi. Masa Pra-Sokrates Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Jadi. meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. dan nilai. mereka melakukan pemujaan terhadap para dewa yang dipusatkan di gunung Olympia. Mereka menggunakan retorika sebagai alat utama untuk mempertahankan kebenaran. filsafat secara umum sangat dominan. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Menurut Barthelemy. kebenaran hanya berlaku secara individual. Kristen. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Agama dan Filsafat Barat Klasik 1. yaitu terciptanya kekacauan tentang kebenaran. Kemudian. sehingga dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi. Tidak adanya ukuran kebenaran yang bersifat umum berdampak negatif. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir. Secara umum dapat dikatakan. Menurutnya. sehingga pemeluknya merasa berkewajiban menyampaikan kepada semua umat manusia. yaitu pada masa Thales (640-545 SM). pengetahuan. Hal ini terjadi berabad-abad lamanya hingga datangnya agama Yahudi dan Nashara. 2. belum murni bersifat rasional. serta kepercayaan dan doktrin agama diabaikan. agama universal adalah agama yang kepercayaannya disajikan untuk semua umat manusia.

Pemikiran NeoPlatonisme sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat Kristen pada masa berikutnya. Pemikiran tersebut dilanjutkan oleh Plato (429-348 SM). perlu dikemukakan pemikiran seorang filosof yang merumuskan kembali pemikiran Plato. gereja sedang mengadakan konsolidasi diri dan mencoba untuk mengikis habis paganisme. Akibatnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional. Ia tidak menerima kepercayaan yang diabdikan pada sejumlah berhala. Bagi Plato. Puncaknya pada tahun 529 M. kebenaran umum itu ada. bahkan salah seorang murid Plotinus. Doktrin pokok Plotinus adalah tiga realitas. Tujuan berfilsafat (tujuan hidup secara umum) adalah bersatu dengan Tuhan. Pada saat itu. Filsafat rasional dan sains tidak penting. gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. agama dan filsafat sama-sama dominan. peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Tuhan tidak mencipta sesuatu dari yang tidak ada. Kaisar Justianus mengeluarkan undang-undang yang melarang filsafat di Athena. tetapi untuk dirasakan. sehingga Tuhan dijadikan dasar segala sesuatu. orang-orang yang menghidupkan filsafat dimusuhi dan dibunuh. yaitu kebenaran yang diterima setiap orang. Sebelum perjalanan survei tentang agama dan filsafat Barat klasik diakhiri. muncul Aristoteles (384-322 SM) yang meyakini Tuhan yang monoteistik dan kekekalan jiwa manusia. Idealisme metafisiknya. sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Sampai periode ini. Rasa inilah satu-satunya yang dituntun kitab suci. Filsafat Plotinus tumbuh bersamaan dengan munculnya agama Kristen. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. menutup sama sekali ruang gerak filsafat rasional. dan dijadikan dasar oleh para pemuka agama Kristen untuk mempertahankan ajaran-ajaran mereka. Agama dan Filsafat Barat Skolastik Puncak terakhir filsafat Yunani adalah ajaran yang disebut Neo-Platonisme. Menurutnya. yang ajarannya banyak bernuansa nilai-nilai spiritual yang transenden. Karena. Tuhan bukan untuk dipahami. Sejak gereja (agama) mendominasi. Pada saat itu. Aliran ini dikenal dengan NeoPlatonisme yang dirintis oleh Plotinus (205-70 SM). Simplicus. . dan filsafat dianggap sama dengan paganisme. yaitu jiwa (soul). tetapi dari sesuatu yang disebut "Dzat Primordial" yang berisikan seluruh unsur asli alam. akal (nous).Kaum sophis mendapat imbangannya dalam diri seorang alim yang merupakan guru teladan sepanjang jaman (the greatest teacher of all time) yang bernama Socrates (470-399 SM). Selanjutnya. terutama dalam menjawab persoalan agama. Tidak lama kemudian. Menurut Plotinus. Hubungan ketiga unsur tersebut dikenal dengan Plotinus Trinity. namanya adalah ide. gereja membakar habis perpustakaan Iskandaria bersama seluruh isinya. Tuhan adalah realitas yang tertinggi dan paling sempurna. sebab baginya Tuhan adalah tunggal. pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics". Di antara korban kefanatikan agama Kristen adalah Hypatia (370-415). dan Yang baik (The Good). Yang menarik dari pemikiran Plotinus dan Neo-Platonisme adalah pengalihan arah pemikiran dari alam (kosmo sentris) dan manusia (antroposentris) kepada pemikiran tentang Tuhan (theosentris). kebenaran umum itu memang ada.

Perkembangan penalaran tidak dilarang. Sedangkan periode sejarah yang umumnya disebut modern memiliki sudut pandang mental yang berbeda dalam banyak hal. Ini merupakan masalah keagamaan yang harus diselesaikan dengan kepercayaan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan. terutama dalam "Summa Theologia" menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja. Pada abad pertengahan. akal tidak mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah adikodrati. Namun. Karenanya. ia berhasil meloloskan diri dan meminta suaka politik kepada Kaisar Louis IV. Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (10331109). Ia mendapat gelar "The Angelic Doctor". yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. yaitu Tuhan. tetapi harus disesuaikan dan diabdikan pada keyakinan agama. adalah sintesa agama dan . karena banyak pikirannya. sehingga ia terlibat konflik berkepanjangan dengan gereja dan negara.Diantara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus (354-430). Peter Abelardus memberikan status yang lebih tinggi kepada penalaran dari pada iman. Saat itu sulit membedakan mana yang filsafat dan mana yang gereja. terutama kewibawaan gereja semakin memudar. bukan dengan pembuktian. Menurutnya. Menghadapi abad XII. Tuhan harus diterima atas dasar keimanan. karena kepercayaan teologis tidak dapat didemonstrasikan. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). pengetahuan berbeda dengan kepercayaan. Ia menginginkan kebebasan berpikir dengan membalik diktum Augustinus-Anselmus credo ut intelligam dan merumuskan pandangannya sendiri menjadi intelligo ut credom (saya paham supaya saya percaya). Problem utama masa renaissance. Dalil-dalil akal atau filsafat harus dikembangkan dalam upaya memperkuat dalil-dali agama dan mengabdi kepada Tuhan. Puncak kejayaan masa skolastik dicapai melalui pemikiran Thomas Aquinas (12251274). yaitu William Occam (1285-1349). ia tidak begitu disukai dan kemudian dipenjarakan oleh Paus. Pengetahuan didapat melalui indera dan diolah akal. Eropa membuka kembali kebebasan berpikir yang dipelopori oleh Peter Abelardus (1079-1142). yaitu credo ut intelligam (saya percaya agar saya paham). perkembangan alam pikiran di Barat amat terkekang oleh keharusan untuk disesuaikan dengan ajaran agama (doktrin gereja). Masa filsafat modern diawali dengan munculnya renaissance sekitar abad XV dan XVI M. sementara otoritas ilmu pengetahuan semakin kuat. Namun. Menurutnya. Pada tahap akhir masa skolastik terdapat filosof yang berbeda pandangan dengan Thomas Aquinas. dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan. filsafat mencurahkan perhatian terhadap masalah metafisik. Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa. Agama dan Filsafat Barat Modern Di abad pertengahan. Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman. sebagaimana periode skolastik. William Occam merasa membela agama dengan menceraikan ilmu dari teologi. Tulisan-tulisannya menyerang kekuasaan gereja dan teologi Kristen.

Era renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan. yang bersifat politeis. Puncak masa renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme.filsafat dengan arah yang berbeda. kepada agama yang bersifat monoteis. sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu. baik sebagai individu maupun sosial. Menurutnya. yakni kembali menjalin keakraban dengan alam. yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman. sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. yaitu David Hume (1711-1776). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Kemudian muncul aliran Empirisme. Dalam hal ini. Filsafatnya dikenal dengan idealisme absolut yang bersifat monistik. Ia dikenal dengan semboyannya retournous a la nature (kembali ke keadaan asal). karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Hal ini tampak dalam semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada). Di antara filosof masa renaissance adalah Francis Bacon (1561-1626). di antara pemikir zaman aufklarung ada yang memperhatikan masalah agama. pengetahuan manusia merupakan sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori). Menurutnya. yaitu kebenaran akal dan wahyu. baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. akal terlepas dari kungkungan gereja. Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern. karena mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu. Ia berusaha meneliti kemampuan dan batas-batas rasio. filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama. Tokoh lainnya adalah Imanuel Kant (1724-1804). muncul gagasan baru di Inggris. Agama berkembang melalui proses dari yang asli. Meskipun demikian. agama lahir dari hopes and fears (harapan dan penderitaan manusia). Sebagai salah satu konsekwensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan diri dari kungkungan gereja. Ia menentang rasionalisme yang membuat kehidupan menjadi gersang. Kemudian Jean Jacques Rousseau (1712-1778) berjuang melawan dominasi abad pencerahan yang materialistis dan atheis. Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau Filsafat Kritisisme. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Di tengah gegap gempitanya pemikiran rasionalisme dan empirisme. Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). dengan pelopor utamanya. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan. menyelamatkan sains dan agama dari gangguan skeptisisme. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth). Tokoh idealisme lainnya adalah George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Ia memposisikan akal dan rasa pada tempatnya. yaitu seluruh .

Tokoh aliran Materialisme adalah Feurbach (1804-1872). kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Kehidupan manusia ditentukan oleh materi. dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja. dan negara. Tokoh lain aliran ini adalah John Stuart Mill (1806-1873) dan Henry Sidgwick (1838-1900). Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap. Menurut aliran utilitarianis bahwa pilihan terbaik dari berbagai kemungkinan tindakan perorangan maupun kolektif adalah yang paling banyak memberikan kebahagiaan pada banyak orang. yang dikenal dengan Materialisme. Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran. manusia mencipta Wujud yang dapat dijadikan tumpuan harapan yaitu Tuhan. metafisik.S. Ia memandang agama Kristen yang dipahaminya secara panteistik sebagai bentuk terindah dan tertinggi dari segala agama. yakni akal yang absolut (absolut mind). Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Makna semacam inilah yang menjadi dasar aliran Utilitarianisme. kepercayaan menghasilkan kebiasaan. Dengan demikian. Pierce (1839-1914). karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.yang ada merupakan bentuk dari akal yang satu. dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C. kepercayaan adalah aturan bertindak. masyarakat. Jeremy Benthem (1748-1832) dengan pemikiran-pemikirannya mengawali tumbuhnya aliran Utilitarianisme. Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Kebahagiaan diartikan sebagai terwujudnya rasa senang dan selamat atau hilangnya rasa sakit dan was-was. Sementara di Inggris. Ia menyatakan bahwa kepercayaan manusia kepada Allah sebenarnya berasal dari keinginan manusia yang merasa tidak bahagia. Hal ini bukan saja menjadi ukuran moral dan kebenaran. yaitu teologis. Aliran filsafat yang lain adalah Positivisme. dan positif. bukan berasal dari dunia ghaib. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak. sehingga Feurbach menyatakan teologi harus diganti dengan antropologi. segala bentuk dominasi gereja. Agama dan Filsafat Barat Kontemporer Pada awal abad XX. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Karl Marx memandang bahwa manusia itu bebas. tetapi juga menjadi tujuan individu. Dasar-dasar filsafat ini dibangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Lalu. . Sebenarnya. Utility dalam bahasa Inggris berarti kegunaan dan manfaat. Agama sebagai proyeksi kehendak manusia. Menurutnya. tidak terikat dengan yang transendental. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi. Tokoh lain aliran Materialisme adalah Karl Marx (1820-1883) yang menentang segala bentuk spiritualisme. Ia bersama Friederich Engels (1820-1895) membangun pemikiran komunisme pada tahun 1848 dengan manifesto komunisme. Oleh karena itu. di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William James (1842-1910).

sehingga mulai menengok dunia Timur yang kaya nilai-nilai spiritual. jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Menurutnya. tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang mereka anggap suci. juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Sedangkan agama. Tokoh terpenting dalam aliran ini adalah Jean Paul Sartre (1905-1980) yang berpandangan atheistik. untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung. ternyata menyimpan beberapa keretakan yang pada gilirannya menimbulkan reaksi. Periode kontemporer di Barat juga ditandai dengan adanya keinginan yang demikian kuat untuk kembali kepada ajaran agama. seperti lahirnya anti rasionalisme. dan kontemporer. karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. pertengahan. menurutnya.William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup manusia. John Dewey (18591952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman. dewasa ini di Barat terdapat kecenderungan yang demikian kuat terhadap peranan agama. mempunyai arti sebagai perasaan (feelings). maka dapat ditarik dua kesimpulan. humanisme. keagamaan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari sistem spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. @ . modern. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855). Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena. manusia bebas menentukan semuanya untuk dirinya dan untuk seluruh manusia. atau sekurang-kurangnya manusia bukan ciptaan Tuhan. vitalistik. Walaupun rasionalisme Eropa memperoleh kemenangan. Masyarakat modern yang rasionalistik. Tuhan tidak ada. dan materialistik. Agak berbeda dengan William James. Eksistensi manusia mendahului esensinya. tokoh Pragmatisme lainnya. Baginya. Pertama. Kedua. Dengan demikian. meskipun harus diakui bahwa hubungan keduanya mengalami pasang surut. hubungan filsafat dan agama di Barat telah terjadi sejak periode Yunani Klasik. Pada saat yang bersamaan. ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. ternyata hampa spiritual. Kesimpulan Dari uraian terdahulu. Filosof di Barat mulai menyadari bahwa era modern telah melahirkan kehidupan yang kering spiritual dan tidak bermakna. Karena itu. dan lain-lain. Menurutnya. teori dianggap benar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful